S. Patimah*, Abun**, dan R. H. Supratman**

dokumen-dokumen yang mirip
Pengaruh Imbangan Energi dan Protein Ransum terhadap Energi Metabolis dan Retensi Nitrogen Ayam Broiler

PengaruhImbanganEnergidan Protein RansumterhadapKecernaanBahanKeringdan Protein KasarpadaAyam Broiler. Oleh

Tepung Ampas Tahu Dalam Ransum, Performa Ayam Sentul... Dede Yusuf Kadasyah

Pengaruh Pemberian Tepung Buah Mengkudu Rizki

BAB III MATERI DAN METODE. November 2015 di Kandang Ayam Fakultas Peternakan dan Pertanian,

Pengaruh Penggunaan...Trisno Marojahan Aruan

Pengaruh Lanjutan Substitusi Ampas Tahu pada Pakan Basal (BR-2) Terhadap Penampilan Ayam Broiler Umur 4-6 Minggu (Fase Finisher)

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG AMPAS TAHU DI DALAM RANSUM TERHADAP BOBOT POTONG, BOBOT KARKAS DAN INCOME OVER FEED COST AYAM SENTUL

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. kelompok perlakuan dan setiap kelompok diulang sebanyak 5 kali sehingga setiap

PEMANFAATAN TEPUNG LIMBAH ROTI DALAM RANSUM AYAM BROILER DAN IMPLIKASINYA TERHADAP EFISIENSI RANSUM SERTA

PENGARUH TINGKAT PROTEIN RANSUM TERHADAP BOBOT POTONG, PERSENTASE KARKAS DAN LEMAK ABDOMINAL PUYUH JANTAN

Animal Agriculture Journal 3(3): , Oktober 2014 On Line at :

Yunilas* *) Staf Pengajar Prog. Studi Peternakan, FP USU.

PENAMPILAN PRODUKSI AYAM BROILER YANG DIBERI TEPUNG GAMBIR (Uncaria Gambir Roxb) SEBAGAI FEED ADDITIVE DALAM PAKAN.

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan dalam penelitian adalah ayam kampung jenis sentul

Pengaruh Penambahan Tepung Kunyit...Rafinzyah Umay Adha

PENDAHULUAN. sebagai penghasil telur dan daging sehingga banyak dibudidayakan oleh

EFEKTIVITAS PEMBERIAN TEPUNG KENCUR

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

EFEK PENGGUNAAN KONSENTRAT PABRIKAN DAN BUATAN SENDIRI DALAM RANSUM BABI STARTER TERHADAP EFISIENSI PENGGUNAAN RANSUM. S.N.

I. PENDAHULUAN. dan perkembangan pengetahuan masyarakat tentang gizi. Tingkat konsumsi

JANHUS Journal of Animal Husbandry Science Jurnal Ilmu Peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Garut ISSN :

Animal Agriculture Journal, Vol. 2. No. 1, 2013, p Online at :

Afriansyah Nugraha*, Yuli Andriani**, Yuniar Mulyani**

OBJEK DAN METODE PENELITIAN. tradisional Babah Kuya yang terletak di pasar baru. Pasak bumi yang digunakan

Nilai Kecernaan Protein Ransum yang Mengandung Bungkil Biji Jarak (Ricinus communis, Linn) Terfermentasi pada Ayam Broiler (Tjitjah Aisjah)

PENGARUH PENAMBAHAN SARI BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi) SEBAGAI ACIDIFIER TERHADAP EFISIENSI RANSUM PADA BABI STARTER

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang diamati dalam penelitian ini adalah ayam broiler strain cobb

I. PENDAHULUAN. Perkembangan populasi ternak unggas di Indonesia semakin hari semakin

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang pemanfaatan tepung olahan biji alpukat sebagai

Pengaruh Tingkat Penambahan Tepung Daun Singkong dalam Ransum Komersial terhadap Performa Broiler Strain CP 707

Kombinasi Pemberian Starbio dan EM-4 Melalui Pakan dan Air Minum terhadap Performan Itik Lokal Umur 1-6 Minggu

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pakan Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH PENAMBAHAN CAMPURAN HERBAL DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN PROTEIN KASAR DAN RETENSI NITROGEN PADA AYAM BROILER SKRIPSI ANDIKA LISTIYANTI

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. starter sampai finisher (1-35 hari) sebanyak 100 ekor dan koefisien variasi kurang

SUBSITUSI DEDAK DENGAN POD KAKAO YANG DIFERMENTASI DENGAN Aspergillus niger TERHADAP PERFORMANS BROILER UMUR 6 MINGGU

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan September - Desember 2015 di

PEMANFAATAN STARBIO TERHADAP KINERJA PRODUKSI PADA AYAM PEDAGING FASE STARTER

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

PENGGUNAAN TEPUNG DAGING DAN TULANG SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PROTEIN HEWANI PADA PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) ABSTRAK

I. PENDAHULUAN. Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012) menunjukkan bahwa konsumsi telur burung

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang pengaruh penggunaan tepung daun katuk (Sauropus

PERSENTASE KARKAS AYAM PEDAGING YANG DIBERI TEPUNG CACING TANAH SEBAGAI SUPLEMEN PAKAN PENGGANTI ANTIBIOTIK

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang Pengaruh Penggunaan Limbah Ikan Bandeng (Chanos

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang Pengaruh PenambahanProbiotik Rhizopus oryzae

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu dari 12 September 2014 sampai

BROILER SKRIPSI. Oleh

KANDUNGAN LEMAK KASAR, BETN, KALSIUM DAN PHOSPOR FESES AYAM YANG DIFERMENTASI BAKTERI Lactobacillus sp

I. PENDAHULUAN. pengetahuan masyarakat tentang gizi yang meningkat. Penduduk Indonesia

MATERI DAN METODE. Materi

PEMAKAIAN ONGGOK FERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMA AYAM BURAS PERIODE PERTUMBUHAN

PEMANFAATAN AMPAS SAGU FERMENTASI DAN NON FERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP KARKAS AYAM KAMPUNG (Gallus domesticus) UMUR 12 MINGGU

Pengaruh Penggunaan Zeolit dalam Ransum terhadap Konsumsi Ransum, Pertumbuhan, dan Persentase Karkas Kelinci Lokal Jantan

Animal Agriculture Journal 3(2): , Juli 2014 On Line at :

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Pengaruh Penggunaan Gathot (Ketela

BAB III MATERI DAN METODE. Laut (Gracilaria verrucosa) terhadapproduksi Karkas Puyuh (Cotunix cotunix

PENGARUH IMBANGAN ENERGI DAN PROTEIN RANSUM TERHADAP BOBOT KARKAS DAN BOBOT LEMAK ABDOMINAL AYAM BROILER UMUR 3-5 MINGGU

I. PENDAHULUAN. hasil produksi pengembangan ayam broiler akan semakin tinggi.

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. hewan adalah bakteri. Mikroorganisme tersebut memiliki peranan yang positif

PENGARUH PERENDAMAN NaOH DAN PEREBUSAN BIJI SORGHUM TERHADAP KINERJA BROILER

Nilai Energi Metabolis dan Retensi Nitrogen Ransum...Setyo Parmesta

BAB I PENDAHULUAN. untuk mensejahterakan kehidupan makhluknya termasuk manusia agar dapat

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ayam petelur yang digunakan adalah ayam petelur yang berumur 27

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum. Rataan konsumsi ransum setiap ekor ayam kampung dari masing-masing

Performan Ayam Pedaging yang Diberi Probiotik dan Prebiotik dalam Ransum (Performances of Broilers That Given Probiotics and Prebiotics in the Ration)

Pengaruh Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) dalam Ransum Babi Starter terhadap Kecernaan Energi dan Protein. Samosir, Jerisco, M

KADAR KOLESTEROL SERUM DARAH AYAM PETELUR YANG DIBERI AIR REBUSAN DAUN SIRIH SKRIPSI TEFI HARUMAN HANAFIAH

PENGARUH PENAMBAHAN BAKTERI ASAM LAKTAT DAN VITAMIN E DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN PROTEIN, RETENSI KALSIUM DAN FOSFOR PADA AYAM KEDU

I. PENDAHULUAN. ayam broiler. Ayam broiler merupakan jenis unggas yang berkarakteristik diantara

PERFORMA AYAM BROILER YANG DIBERI RANSUM BERBASIS JAGUNG DAN BUNGKIL KEDELAI DENGAN SUPLEMENTASI DL-METIONIN SKRIPSI HANI AH

KEBUTUHAN NUTRISI ITI PEDAGING : SUPRIANTO NIM : I

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG TEMU KUNCI (Boesenbergia pandurata ROXB.) DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMANS PADA AYAM BROILER SKRIPSI.

Efektifitas Berbagai Probiotik Kemasan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Burung Puyuh (Coturnix coturnix japonica)

Pengaruh Pengaturan Waktu Pemberian Air Minum yang Berbeda Temperatur terhadap Performan Ayam Petelur Periode Grower.

NILAI ENERGI METABOLIS RANSUM AYAM BROILER PERIODE FINISHER YANG DISUPLEMENTASI DENGAN DL-METIONIN SKRIPSI JULIAN ADITYA PRATAMA

KECERNAAN BAHAN KERING, BAHAN ORGANIK, DAN PROTEIN KASAR RANSUM YANG MENGANDUNG TEPUNG LIMBAH IKAN GABUS PASIR

I. PENDAHULUAN. Bakteri merupakan mikroorganisme yang hidup di air, udara, tanah dan. makhluk hidup. Umumnya bakteri hidup secara berkoloni dan hidup

HASIL DAN PEMBAHASAN. Peubah* Konsumsi Ekstrak Daun Konsumsi Saponin

BAB III MATERI DAN METODE. Merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap Performa Burung Puyuh Betina Umur 16

Animal Agriculture Journal 4(2): , Juli 2015 On Line at :

I. PENDAHULUAN. Peternakan broiler merupakan salah satu sektor usaha peternakan yang

Ade Trisna*), Nuraini**)

PENGARUH PEMBERIAN TINGKAT PROTEIN RANSUM PADA FASE GROWER TERHADAP PERTUMBUHAN PUYUH (Coturnix coturnix japonica)

PEMBERIAN PAKAN TERBATAS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERFORMA AYAM PETELUR TIPE MEDIUM PADA FASE PRODUKSI KEDUA

BAB III METODE PENELITIAN. Ayam Pedaging dan Konversi Pakan ini merupakan penelitian penelitian. ransum yang digunakan yaitu 0%, 10%, 15% dan 20%.

PENGARUH LEVEL LIMBAH UDANG PRODUK FERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP BIOLOGICAL VALUE PADA AYAM KAMPUNG

ENERGI METABOLIS DAN EFISIENSI PENGGUNAAN ENERGI RANSUM AYAM BROILER YANG MENGANDUNG LIMBAH RESTORAN SEBAGAI PENGGANTI DEDAK PADI

PERFORMAN PRODUKSI AYAM PEDAGING YANG DIBERI PENAMBAHAN TEPUNG KUNYIT (Curcuma domestica Val.) DALAM RANSUM

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2004

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. mulai fase starter sampai finisher (1-45 hari) sebanyak 100 ekor. Ayam dibagi

PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG KETELA RAMBAT (Ipomea Batatas L) SEBAGAI SUMBER ENERGI TERHADAP PENAMPILAN PRODUKSI AYAM PEDAGING FASE FINISHER

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. jenis sentul dengan umur 1 hari (day old chick) yang diperoleh dari Balai

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum. Tabel 8. Rataan Konsumsi Ransum Per Ekor Puyuh Selama Penelitian

Pengaruh Lumpur Sawit Fermentasi dalam Ransum Terhadap Performa Ayam Kampung Periode Grower

Transkripsi:

PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK KULIT JENGKOL (Pithecellobium jiringa (Jack) Prain) DALAM RANSUM TERHADAP JUMLAH KOLONI BAKTERI Escherichia coli DAN Lactobacillus sp. PADA USUS HALUS AYAM BROILER S. Patimah*, Abun**, dan R. H. Supratman** *Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran ** Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Email : cichicuwit3@yahoo.co.id ABSTRAK Penelitian dilaksanakan di Kandang Unggas Laboratorium Produksi Ternak Unggas serta Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas, Non-Ruminansia dan Industri Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran dari tanggal 19 April sampai 24 Mei 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah bakteri Escherichia coli dan Lactobacillus sp. pada usus halus ayam broiler yang diberi perlakuan ransum dengan penambahan ekstrak kulit jengkol (EKJ). Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL).Terdapat empat perlakuan persentase EKJ yaitu : (1) R0= ransum basal (tanpa penambahan EKJ), (2) R1= ransum basal + 0,01% EKJ, (3) R2= ransum basal + 0,02% EKJ, (4) R3= ransum basal + 0,03% EKJ. Setiap perlakuan diulang lima kali. Hasil penelitian diperoleh bahwa EKJ dalam ransum berpengaruh terhadap penurunan bakteri E. coli, namun tidak mempengaruhi terhadap jumlah bakteri Lactobacillus sp.. Penggunaan EKJ pada tingkat 0,02% merupakan dosis optimal dalam menghambat pertumbuhan E. coli. Kata kunci : Ransum, Ekstrak Kulit Jengkol, Escherichia coli, Lactobacillus sp., usus halus. ABSTRACT The research had been conducted in Poultry Farm Laboratory of Poultry, and Laboratory of Poultry, Non-Ruminant Nutrition and Feed Industry Faculty of Animal Husbandry, Padjadjaran University from 19 April until 24 May 2012. The aim of this research to determine the number of bacteria Escherichia coli and Lactobacillus sp. the small intestine of broiler chickens fed rations treated with the addition of jengkol pericarp extract. The experimental design of this research was Completely Randomized Design (CRD). The treatments was four percentages of jengkol pericarp extract such as: (1) R0 = basal ration (without the addition of jengkol pericarp extract), (2) R1 = basal ration + 0.01% jengkol pericarp extract, (3) R2 = basal ration + 0, 02% jengkol pericarp extract, (4) R3 = basal ration + 0.03% jengkol pericarp extract. Each treatment repeated five times. This results showed that jengkol pericarp extract in the ration were affected on bacterial reduction of E. coli, but were not affected on the bacteria Lactobacillus sp.. The use of jengkol pericarp extract at a rate of 0.02% is the optimal dose in inhibiting the growth of E. coli. Keywords: Ration, jengkol pericarp extract, Escherichia coli, Lactobacillus sp, small intestine. PENDAHULUAN Pemberian antibiotik pada ternak dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan atau meningkatkan produktivitas dan kesehatan ternak sehingga meningkatkan

efisiensi produksi. Padahal, pemakaian antibiotik sintetis dalam kurun waktu yang lama dapat menimbulkan resistensi bakteri terhadap antibiotik dan juga dapat meninggalkan residu yang dapat memicu masalah kesehatan pada manusia yang mengonsumsinya. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengganti antibiotik sintetis sebagai imbuhan pakan adalah dengan memanfaatkan senyawa aktif yang terkandung dalam tanaman jengkol (Pithecellobium jiringa (Jack) Prain). Kulit dari buah jengkol termasuk limbah di pasar tradisional dan tidak memberikan nilai ekonomis. Padahal, menurut Rahayu dan Pukan (1998) kulit jengkol mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, glikosida dan steroid/triterpenoid yang dapat berfungsi sebagai antibakteri. Bila diberikan sesuai dengan kadar yang mampu ditoleransi oleh ternak, senyawa-senyawa ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen dalam saluran pencernaan sehingga mampu mengoptimalkan proses penyerapan nutrient dan menjaga kesehatan ternak. Menurut Food and Agriculture Organization (2005), batas penggunaan saponin dalam ransum adalah 3,7 g/kg, sedangkan untuk tannin, kandungan di atas 0,5% dalam ransum dapat menghambat pertumbuhan dan energi yang tersedia dalam pakan, menurunkan ketersediaan protein dan tingkat kematian yang tinggi (4% lebih). Telah lama diketahui bahwa pada saluran pencernaan terdapat mikroorganisme normal yang berpotensi menjadi patogen seperti bakteri Escherichia coli. Mikroba tersebut dapat merugikan ternak melalui beberapa cara seperti menghasilkan toksin, memanfaatkan nutrient esensial untuk pertumbuhan unggas, dan menekan pertumbuhan mikroba yang membantu dalam proses pencernaan seperti Lactobacilus sp. Lactobacillus sp. cukup berperan dalam membantu proses pencernaan sehingga keberadaannya perlu diperhatikan. Hubungan antara mikrobial dan metabolik saluran pencernaan masih sedikit dipelajari. Secara tidak langsung, keseimbangan mikroflora saluran pencernaan dapat menjaga kondisi optimal saluran pencernaan sehingga mengefisienkan dalam proses pencernaan dan penyerapan nutrien. Dalam kesehatan hewan, rasio jumlah mikroorganisme pada kelompok bakteri tersebut adalah penting (Abun, 2008). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak kulit jengkol terhadap jumlah koloni bakteri E. coli dan Lactobacillus sp. pada usus halus pada ayam broiler serta mendapatkan dosis optimal ekstrak kulit jengkol yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan mempertahankan jumlah koloni bakteri Lactobacillus sp. pada usus halus ayam broiler. Informasi yang diperoleh dapat menambah informasi ilmiah yang bermanfaat bagi peternak tentang penggunaan/pemanfaatan kulit jengkol sebagai antibakteri herbal pada ransum ayam broiler yang dapat memperbaiki pertumbuhan. MATERI DAN METODE Penelitian menggunakan DOC ayam broiler strain cobb sebanyak 100 ekor (straight run) yang ditempatkan pada 20 petak kandang sistem litter beralaskan sekam. Setiap ternak percobaan ditimbang dan dihitung koefisien variasinya dengan besar KV 6,854%. Adapun pengambilan sampel dilakukan dari 20 ekor ayam yang masing-masing memiliki bobot badan mendekati bobot rata-rata kandang. Ransum disusun dengan kandungan protein sebesar 23% dan energi metabolis ransum sebesar 3200 kkal/kg (NRC, 1994). Ransum percobaan merupakan ransum basal yang diberi tambahan ekstrak kulit jengkol (EKJ) dengan berbagai dosis dan mulai diberikan sejak ayam umur sehari. Adapun susunan ransum percobaan yang digunakan yaitu R0 (ransum basal (0% EKJ)), R1 (ransum basal + 0,01% EKJ), R2 (ransum basal + 0,02% EKJ), R3 (ransum basal + 0,03% EKJ). Peubah yang diamati adalah jumlah koloni bakteri E. coli dan Lactobacillus sp. Pengambilan sampel untuk menghitung jumlah koloni bakteri saluran pencernaan

dilakukan dengan mengeluarkan lumen dari usus halus dengan menyedot isi usus halus menggunakan spluit sebanyak 1 ml. Selanjutnya sesegera mungkin dilakukan pengujian perhitungan koloni saluran pencernaan dengan metode hitungan cawan (Total Plate Count) menurut SNI (2008). Pengukuran bakteri E.coli menggunakan media Mac Conkey dengan ciri spesifik koloni berwarna merah muda berbentuk cembung. Pengukuran bakteri Lactobacillus sp. menggunakan media Man Rugosa Sharp Agar (MRSA) dengan ciri spesifik koloni berwarna kekuningan. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 4 perlakuan tingkat penambahan EKJ dengan 5 kali ulangan. Data dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA), dan untuk melihat adanya pengaruh perbedaan di antara perlakuan dilakukan uji jarak Duncan (Gaspersz, 1995). Tabel 1. Formulasi Ransum serta Kandungan Nutrien dan Energi Metabolis Ransum Basal Bahan Pakan Formula (%) Nutrient Ransum Basal Kandungan Dedak halus Jagung kuning Tepung ikan Minyak kelapa Bungkil kelapa Bungkil kedelai Tepung tulang Premix DL Methionin 0,90 56,10 6,86 4,00 3,60 26,80 1,20 0,50 0,06 Energi metabolis (kkal/kg) Protein kasar (%) Lemak kasar (%) Serat kasar (%) Kalsium (%) Posfor (%) Lysine (%) Methionin (%) 3200,46 23,07 7,76 3,53 0,85 0,53 1,29 0,48 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil perhitungan jumlah bakteri Escherichia coli dan Lactobacillus sp. usus halus yang telah diberi perlakuan penambahan EKJ dalam ransum ayam, disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2. Rataan Jumlah Bakteri Escherichia coli dan Lactobacillus sp Usus Halus pada Berbagai Perlakuan Peubah Yang Diamati Perlakuan R0 R1 R2 R3 Rataan Jumlah Escherichia coli (CFU/ml) 1,44b 1,13ab 0,61a 0,67a Rataan Jumlah Lactobacillus sp. (CFU/ml) 0,96a 1,27a 1,75a 0,83a Ket. : R0 = ransum basal (0% EKJ), R1 = ransum basal + 0,01% EKJ, R2 = ransum basal + 0,02% EKJ, R3 = ransum basal + 0,03% EKJ Hasil uji jarak berganda Duncan pengaruh perlakuan terhadap jumlah bakteri E. coli menunjukkan bahwa perlakuan R0 nyata lebih tinggi dibanding dengan perlakuan R2 (0,02% EKJ) dan R3 (0,03% EKJ). Hal ini berarti terdapat perbedaan jumlah bakteri Escherichia coli di antara ayam yang diberi ransum perlakuan R0 (0% EKJ) dengan ayam yang diberi ransum perlakuan penambahan EKJ sebanyak 0,02% (R2) dan 0,03% (R3). Perbedaan ini disebabkan oleh adanya aktivitas senyawa aktif dalam ransum yang mengandung EKJ (R2 dan R3) terhadap bakteri E. coli. Menurut Rahayu dan Pukan (1998), dalam kulit jengkol terkandung senyawa kimia yaitu alkaloid, steroid/triterpenoid, saponin, flavonoid dan tannin yang bersifat sebagai antibakteri. Davidson dan Branen (1993) menyatakan bahwa tanin mempunyai aktivitas antibakteri terhadap E. coli. Lokasi utama aktivitas tannin pada

mikroorganisme yang sensitif diperkirakan adalah pada dinding sel, karena tannin mengakibatkan pleomorfisme pada mikroorganisme yang ukurannya bertambah besar tanpa membelah diri. Reaksi tannin tersebut dengan dinding sel mengakibatkan rusaknya permeabilitas dinding sel (Mc. Leod, 1974 dalam Farida 1998). Perbedaan jumlah bakteri E. coli dengan kontrol diperoleh pada perlakuan penambahan ekstrak kulit jengkol sebanyak 0,02% (R2). Antara R2 dengan R3 tidak memperlihatkan perbedaan terhadap jumlah bakteri E. coli. Hal ini memberi gambaran bahwa ekstrak kulit jengkol yang efektif untuk menghambat jumlah bakteri E. coli adalah sebanyak 0,02%. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penambahan ekstrak kulit jengkol sampai tingkat 0,03% dalam ransum terdapat pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap total bakteri Lactobacillus sp. usus. Hal ini berarti diantara perlakuan penambahan ekstrak kulit jengkol tidak menyebabkan perubahan jumlah bakteri Lactobacillus sp. secara nyata. Hal ini memberi arti bahwa senyawa aktif dalam ekstrak kulit jengkol tidak menghambat pertumbuhan bakteri Lactobacillus sp. Menurut Todar (2000), berdasarkan spektrum kerjanya, terdapat dua golongan antibakteri yaitu antibakteri spektrum luas dan antibakteri spektrum sempit. Antibakteri spektrum sempit, bekerja terhadap beberapa jenis bakteri saja. Antibakteri spektrum luas, bekerja terhadap lebih banyak bakteri, baik gram negatif maupun gram positif serta jamur. Pada penelitian ini, senyawa aktif dalam ekstrak kulit jengkol dapat menghambat bakteri E. coli, namun tidak mempengaruhi bakteri Lactobacillus sp.. Hal ini memberi kejelasan bahwa aktivitas senyawa aktif dalam ekstrak kulit jengkol spesifik terhadap satu jenis bakteri yaitu bakteri E. coli yang merupakan bakteri dari golongan Gram negatif dan tidak berpengaruh terhadap bakteri Lactobacillus sp. KESIMPULAN Penambahan ekstrak kulit jengkol dalam ransum berpengaruh terhadap penurunan bakteri E. coli, namun tidak mempengaruhi terhadap jumlah bakteri Lactobacillus sp.. Penggunaan ekstrak kulit jengkol pada tingkat 0,02% merupakan dosis optimal dalam menghambat pertumbuhan E. coli dan mempertahankan jumlah bakteri Lactobacillus sp.. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini melalui Program Kreatifitas Mahasiswa bidang Penelitian. DAFTAR PUSTAKA Abun. 2008. Hubungan Mikroflora dengan Metabolisme dalam Saluran Pencernaan Unggas dan Monogastrik. Makalah Ilmiah. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung. Davidson, P. M., and A. L. Branen. 1993. Antimicrobials In Food. Marcel Dekker Inc, New York. Farida, Wartika Rosa dkk. 1998. Tanin dan Pengaruhnya pada Ternak. Jurnal Peternakan dan Lingkungan vol. 06 no. 3 Oktober 2000. Food and Agriculture Organization. 2005. Endogenous and Exogenous Feed Toxins.http://www.fao.org/docrep/a rticle/agrippa/659_en_10.htm3top OfPage2005. (Diakses 2 Januari 2012) Gaspersz, V. 1995. Teknik Analisa dalam Percobaan, Jilid 1. Tarsito. Bandung.

National Research Council. 1994. Nutrient Requirement of Poultry. National Academy Press, Washington. Rahayu, E. S. & K. K. Pukan. 1998. Kandungan Senyawa Alelokemi Kulit Buah Jengkol dan Pengaruhnya terhadap Beberapa Gulma Padi. Karya Ilmiah. FMIPA IKIP Semarang, Semarang. Standar Nasional Indonesia. 2008. Metode Pengujian Cemaran Mikrobia dalam Daging, Telur dan Susu Serta Hasil Olahannya, SNI 2897:2008. www.bsn.go.id/files/170441/genaps nibuku/bab10.pdf. (Diakses tanggal 14 November 2011) Todar. K. 2000. Antibiotic. http: //lecturer.ukdw/ichira/antibiotic.ht ml. (Diakses 07 Juli 2012).