1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO

PEDOMAN DAN TATACARA PERMOHONAN PENANAMAN MODAL

KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2013

GUBERNUR SULAWESI BARAT

PERKA BKPM No. 5 Tahun 2013

PERATURAN DAERAH KOTA BANJARBARU NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KOTA BANJARBARU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANJARBARU,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.508, 2009 BKPM. Permohonan. Penanaman Modal. Pedoman.

BAB II PENGENDALIAN PELAKSANAAN PENANAMAN MODAL DAN PENGATURANNYA DI INDONESIA. A. Pedoman dan Tata Cara Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal

Daya Saing Global Indonesia versi World Economic Forum (WEF) 1. Tulus Tambunan Kadin Indonesia

WALIKOTA PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA PASURUAN NOMOR 1 TAHUN 2014 PENANAMAN MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

INDIKATOR KINERJA UTAMA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL

TUGAS POKOK DAN FUNGSI Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BKPM. Indikator Kinerja Utama. Penetapan.

PENYELENGGARAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (PTSP) SEBAGAI IMPLEMENTASI PERCEPATAN REFORMASI BIROKRASI DI BIDANG PELAYANAN PUBLIK

Strategi dan Kebijakan Investasi di Indonesia Selasa, 25 Maret 2008

PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL

KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL NOMOR 11 TAHUN 2009

Lampiran 1. Pedoman Wawancara dan Hasil Transkip Wawancara. A. Pedoman Wawancara dan Hasil Transkip Wawancara dengan Kepala

PEDOMAN PENGISIAN PENILAIAN STANDAR KUALIFIKASI PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (PTSP

I. PENDAHULUAN. disebut sebagai desentralisasi. Haris dkk (2004: 40) menjelaskan, bahwa

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENANAMAN MODAL

PEDOMAN PENGISIAN PENILAIAN STANDAR KUALIFIKASI PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (PTSP

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PENANAMAN MODAL DI PROVINSI JAWA TENGAH

BAB II BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL (BKPM)

LAMPIRAN I FORMULIR "SELF ASSESSMENT /PENILAIAN MANDIRI" PENYELENGGARAAN FUNGSI PTSP BIDANG PENANAMAN MODAL*) A. IDENTITAS

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN. merumuskan kebijakan pemerintah di bidang penanaman modal, baik dari dalam

BUPATI KEPULAUAN SELAYAR

PENDAHULUAN Latar Belakang

BUPATI WONOGIRI PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN WONOGIRI

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat. Demi mencapai tujuan tersebut, ini adalah kegiatan investasi (penanaman modal).

WALIKOTA PEKALONGAN PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG PENANAMAN MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG PENANAMAN MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. tetap terbuka pada persaingan domestik. Daya saing daerah mencakup aspek yang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

PEMERINTAH KOTA SAMARINDA

KATA PENGANTAR. Bandung, Januari 2015 KEPALA BADAN PENANAMAN MODAL DAN PERIJINAN TERPADU PROVINSI JAWA BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP

BUPATI BANYUWANGI SALINAN

SISTEM PELAYANAN TERPADU: STRATEGI PERBAIKAN IKLIM INVESTASI DI DAERAH (Oleh : Asropi )

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN PURBALINGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN JEPARA

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI BIDANG PENANAMAN MODAL

KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL NOMOR 12 TAHUN 2009

PENGERTIAN. Izin Prinsip Penanaman Modal

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN SUKOHARJO

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI BIDANG PENANAMAN MODAL

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

1. Visi BKPM Terwujudnya Iklim Penanaman Modal Yang Berdaya Saing Untuk Menunjang Kualitas Perekonomian Nasional.

PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANAMAN MODAL

BAB I PENDAHULUAN. Otonomi Daerah merupakan salah satu upaya renovasi yang dilaksanakan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A.

BERITA DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA PERATURAN BUPATI PURWAKARTA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG

UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DI INDONESIA: EVALUASI TERHADAP IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN PUBLIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Prins (1976) Izin( vegunning) adalah keputusan administrasi Negara berupa peraturan

BAB II EKSISTENSI BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL (BKPM) DALAM PENANAMAN MODAL DI INDONESIA. A. Pengertian Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi diartikan juga sebagai peningkatan output masyarakat yang

BAB V RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF

INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT (IKM) PERIODE JANUARI S/D DESEMBER 2016

BAB I PENDAHULUAN LAPORAN SURVEY KEPUASAN MASYARAKAT TAHUN 2016 A. LATAR BELAKANG

STANDAR PELAYANAN NON PERIZINAN

PEMERINTAH KOTA SALATIGA DAFTAR INFORMASI PUBLIK RINGKASAN RENCANA KERJA BADAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU DAN PENANAMAN MODAL KOTA SALATIGA

BUPATI HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( S O P ) IZIN TRAYEK PADA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA,

PENILAIAN STANDAR KUALIFIKASI PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (PTSP) DI BIDANG PENANAMAN MODAL

2011, No Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republi

2011, No Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republi

Transkripsi:

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merupakan salah satu instansi pemerintah yang mempunyai peranan penting dalam memberikan pelayanan publik terkait dengan penanaman modal. BKPM dibentuk dengan maksud untuk menerapkan secara efektif penegakan hukum terhadap penanaman modal asing maupun dalam negeri. Tugas BKPM yaitu melaksanakan koordinasi kebijakan dan pelayanan perizinan dan non perizinan di bidang penanaman modal berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelayanan perizinan di bidang penanaman modal yang dilakukan di BKPM meliputi Pendaftaran Penanaman Modal, Izin Prinsip Penanaman Modal, Izin Prinsip Perluasan Penanaman Modal, Izin Prinsip Perubahan Penanaman Modal, Izin Usaha, Izin Usaha Perluasan, Izin Usaha Penggabungan Perusahaan Penanaman Modal (merger) dan Izin Usaha Perubahan. Sedangkan pelayanan non perizinan di bidang penanaman modal mencakup fasilitas bea masuk atas impor mesin, fasilitas bea masuk atas impor barang dan bahan, usulan untuk mendapatkan fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) badan, Angka Pengenal Importir Produsen (API-P), Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA), Rekomendasi Visa Untuk Bekerja (TA. 01) Izin Memperkerjakan Tenaga kerja Asing (IMTA) dan layanan informasi. Dalam memberikan pelayanan perizinan dan non perizinan penanaman modal tersebut, BKPM mengacu pada Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) yang diatur tersendiri dalam Peraturan Kepala BKPM No. 12 Tahun 2009 tentang Pedoman Tata Cara Permohonan Penanaman Modal. Gagasan akan perlunya efisiensi birokrasi, transparansi proses dan biaya, serta peningkatan kualitas pelayanan, jelas didasari oleh pemikiran bahwa aparatur Pemerintah akan dihadapkan pada suatu kondisi objektif yang menuntut daya saing (competitiveness) serta kecepatan dan keakuratan (effectiveness) dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Terlebih lagi jika diingat bahwa sumber daya yang dimiliki oleh birokrasi tetap terbatas, sementara tuntutan masyarakat terhadap jasa pelayanan umum (public service) semakin meningkat.

2 Hasil survei Doing Business 2011 yang dilaksanakan oleh World Bank/IFC, menunjukkan posisi Indonesia yang turun menjadi posisi 121 yang sebelumnya di posisi 115 dari 183 negara. Indonesia di bandingkan dengan negara-negara ASEAN berada pada urutan keenam atau berada di bawah Singapura (1), Thailand (19), Malaysia (21), Vietnam (78) dan Brunei Darussalam (112). Menurunnya peringkat Indonesia dalam survei Doing Business 2011 terkait dengan kurangnya ketersediaan infrastruktur dan belum terpadunya koordinasi birokrasi pusat dan daerah. Studi yang dilakukan oleh World Bank tersebut menunjukkan birokrasi Indonesia sangat rumit yang dimulai dari prosedur untuk memulai penanaman modal baru, pengurusan perizinan, pertanahan, ekspor-impor, sampai dengan pengurusan pembayaran pajak. Hasil survei peringkat daya saing yang dilakukan World Economic Forum (WEF) tahun 2010 menunjukkan Indonesia berada pada peringkat 44 dari 132 negara. WEF mengukur daya saing suatu negara berdasarkan sejumlah faktor daya saing, termasuk kelembagaan, infrastruktur, kesehatan dan pendidikan, ukuran pasar dan lingkungan makroekonomi. Berdasarkan hasil survei tersebut, selain infrastruktur, institusi kelembagaan menjadi salah satu titik lemah yang menonjol dalam penilaian daya saing di Indonesia. Gambar 1 menunjukkan bahwa faktor utama yang menjadi permasalahan daya saing di Indonesia yaitu inefisensi birokrasi pemerintah (16,2%). Sumber : Anonim, The Global Competitiveness Report 2010-2011 2010 World Economic Forum Gambar 1 Faktor- faktor permasalahan daya saing di Indonesia. Ketidakmampuan Pemerintah dalam memberikan kualitas pelayanan yang baik sebagai salah satu upaya peningkatan daya saing, disebabkan oleh beberapa

3 faktor antara lain sistem birokrasi yang berbelit-belit, lambatnya proses pelayanan, biaya yang tidak transparan, tidak tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang dapat bekerja secara professional pada bidangnya, sarana dan fasilitas yang kurang memadai serta kondisi lingkungan yang kurang mendukung. Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan aparatur pemerintah perlu mendapat perhatian yang serius bagi semua kalangan yang berkompeten dalam pelayanan masyarakat, karena hal tersebut telah menjadi paradigma baru dalam manajemen pelayanan publik yang transparan, cepat, akurat, efisien, akuntabilitas, fleksibel dan responsif terhadap keinginan dunia usaha. Menyikapi permasalahan tersebut, Pemerintah terus berupaya mewujudkan peningkatan iklim investasi yang kondusif antara lain dengan adanya deregulasi dan perubahan birokrasi, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai serta kebijakan ekonomi makro yang tepat. Terbitnya Peraturan Presiden No. 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal, merupakan langkah nyata yang dilakukan Pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi di Indonesia. Sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di bidang penanaman modal tersebut merupakan kebijakan yang diperintahkan oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. PTSP dimaksudkan untuk membantu penanam modal dalam memperoleh kemudahan pelayanan, fasilitas fiskal, dan informasi mengenai penanaman modal. PTSP merupakan upaya penyederhanaan birokrasi dan mempermudah proses perizinan penanaman modal dengan meringkas beberapa prosedur perizinan dimana kewenangan izin di berbagai instansi sektoral dipangkas dan dilimpahkan agar menjadi satu pintu. Penyederhanaan proses perizinan tersebut akan mendorong peningkatan transparansi prosedur untuk memulai usaha dengan meniadakan biaya tidak resmi dan meningkatkan kepastian hukum. Sesuai dengan Perpres No. 27 Tahun 2009 tersebut, penyelenggaraan PTSP di bidang penanaman modal oleh Pemerintah Pusat dilakukan oleh BKPM. Maka dari itu, BKPM memiliki peran yang cukup penting dalam memberikan pelayanan perizinan dan non perizinan di bidang penanaman modal yang berkualitas. Gambar 2 menunjukkan proses pelayanan perizinan penanaman modal di unit PTSP BKPM.

4 Pengguna Jasa/ calon Investor Mencermati ketentuan dalam Daftar Negatif Investasi - Apakah bidang usahanya terbuka? - Adakah syarat rekomendasi? - Apakah bidang usaha yang akan diajukan termasukbidang usaha yang bisa mendapatkan fasilitas? Pengisian Formulir Permohonan (dilampiri dengan semua persyaratan) Self Assessment (Check List) Permohonan dikembalikan karena belum lengkap dan benar dengan diberi catatan kekurangan data dll. Tanda terima permohonan Tidak Front Office (FO) Penelitian formulir permohonan dan lampiran oleh petugas FO Ya Permohonan diterima Lengkap dan benar Administrasi Administrasi penomoran Surat Persetujuan/Perizinan Back Office Proses penerbitan Surat Persetujuan/Perizinan sesuai dengan SOP yang ada Sumber : Website BKPM Gambar 2 Mekanisme proses pelayanan perizinan penanaman modal di PTSP BKPM Sebelum melakukan proses perizinan penanaman modal, pengguna jasa/calon investor harus mencermati terlebih dahulu aturan-aturan yang ada dalam Daftar Negatif Investasi (DNI), kemudian melakukan pengisian formulir permohonan dengan melampirkan semua persyaratan yang ada dan melakukan self assessment atas kelengkapan persyaratan yang ditentukan tersebut. Proses pelayanan penanaman modal di unit PTSP BKPM diawali dengan proses pengecekan isi formulir permohonan dan kelengkapan lampiran serta verifikasi dokumen oleh bagian front office. Apabila dokumen-dokumen yang dibutuhkan belum lengkap, maka permohonan akan dikembalikan ke pengguna jasa/calon investor. Sedangkan apabila dokumen-dokumen yang dibutuhkan sudah lengkap dan benar, petugas front office akan memberikan tanda terima dan selanjutnya dokumen tersebut di distribusikan ke bagian back office untuk dibuatkan Surat Persetujuan/Perizinan. Setiap jenis perizinan memiliki SOP yang berbeda sesuai dengan Peraturan Kepala BKPM No. 12 Tahun 2009. Setelah Surat Persetujuan/Perizinan selesai dikerjakan, proses selanjutnya yaitu penomoran surat yang dilakukan oleh bagian Tata Usaha. Pengambilan Surat

5 Persetujuan/Perizinan oleh pengguna jasa/calon investor harus disertai dengan tanda terima yang telah diberikan sebelumnya. Dalam memberikan pelayanan penanaman modal tersebut, masih banyak keluhan yang disampaikan oleh para pengguna jasa. Salah satu keluhan yang sering terdengar dari para pengguna jasa pelayanan penanaman modal di BKPM yaitu permasalahan antrian yang cukup panjang, dimana para pengunjung harus mengantri dengan waktu yang cukup lama untuk melakukan verifikasi dokumen di front office. Hal tersebut terkadang disebabkan karena adanya pengguna jasa mengajukan dokumen perizinan lebih dari satu perusahaan sehingga membuat para pengguna jasa lainnya harus menunggu lebih lama. Saat ini belum ada bagian khusus yang menangani keluhan pengguna jasa. Penyampaian keluhan pengguna jasa biasanya dilakukan melalui email BKPM, bahkan ada beberapa pihak yang menyampaikan keluhan langsung ke email Pejabat BKPM. Belum adanya bagian khusus yang menangani keluhan pengguna jasa tersebut menjadi permasalahan BKPM dalam menangani keluhan-keluhan yang ada. Untuk memenuhi harapan pengguna jasa pelayanan tersebut, BKPM perlu melakukan evaluasi terhadap kinerja pelayanan yang telah diberikan, salah satunya dengan melakukan pengukuran kepuasan pengguna jasa terhadap pelayanan penanaman modal di BKPM. Hasil evaluasi tersebut dapat dijadikan dasar oleh BKPM untuk meningkatkan kualitas pelayanan penanaman modal. 1.2 Rumusan Masalah BKPM merupakan salah satu lembaga pemerintah yang mempunyai peran strategis dalam penanaman modal sektor riil di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di Bidang Penanaman Modal, BKPM merupakan penyelenggara PTSP Pemerintah Pusat. Peraturan Presiden tersebut merupakan kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah dalam rangka melakukan perbaikan kualitas pelayanan dengan penyederhaan sistem pelayanan perizinan penanaman modal di Indonesia. Secara internal, BKPM belum pernah melakukan pengukuran tingkat kepuasan pengguna jasa terhadap kinerja PTSP BKPM. Adanya keluhan yang disampaikan oleh pengguna jasa merupakan salah satu indikasi kurang optimalnya

6 pelayanan yang diberikan oleh BKPM. Jenis keluhan yang ada antara lain permasalahan lamanya antrian yang merupakan aspek krusial yang perlu dicari solusinya. Belum adanya bagian khusus yang menangani keluhan pengguna jasa menjadi kendala BKPM dalam menangani keluhan-keluhan yang ada. Pengukuran tingkat kepuasan pengguna jasa pelayanan di BKPM merupakan indikator untuk mengetahui kinerja pelayanan dalam memberikan pelayanan prima (service excellence). Perlu adanya gambaran atas kinerja pelayanan yang telah diberikan oleh BKPM kepada para pengguna jasa, sehingga BKPM dapat melakukan evaluasi dan peningkatan kualitas pelayanan perizinan penanaman modal secara terus-menerus. 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang muncul, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Mengukur tingkat kepuasan pengguna jasa terhadap pelayanan perizinan penanaman modal di PTSP BKPM. b. Melakukan pengukuran secara mikro beberapa aspek utama yang terkait dengan waktu pelayanan perizinan penanaman modal di PTSP BKPM. c. Menganalisis faktor-faktor yang memiliki kontribusi dalam mencerminkan tingkat kepuasan pengguna jasa pada pelayanan perizinan penanaman modal di PTSP BKPM. d. Merumuskan strategi yang dapat gunakan BKPM untuk meningkatkan kualitas pelayanan perizinan penanaman modal. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : a. Memberikan informasi dan pengetahuan mengenai sistem pelayanan perizinan penanaman modal di PTSP BKPM. b. Sebagai informasi dan masukan bagi BKPM dalam menentukan strategi untuk meningkatkan kualitas pelayanan perizinan penanaman modal. c. Bagi peneliti, penelitian ini bermanfaat sebagai sarana pengembangan wawasan dalam mengukur tingkat kepuasan pengguna jasa terhadap sistem pelayanan perizinan penanaman modal di BKPM.

7 d. Sebagai referensi dan bahan pembanding bagi pihak-pihak yang berkepentingan, terutama dalam keperluan penelitian mengenai pengukuran tingkat kepuasan pelanggan terhadap jasa pelayanan publik. 1.5 Ruang Lingkup Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada pengukuran tingkat kepuasan pengguna jasa pelayanan perizinan penanaman modal di PTSP BKPM.

Untuk Selengkapnya Tersedia di Perpustakaan MB-IPB 8