PENGUJIAN RELAY DIFFERENSIAL GI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB VI. RELE DIFFERENTIAL

Institut Teknologi Padang Jurusan Teknik Elektro BAHAN AJAR SISTEM PROTEKSI TENAGA LISTRIK. TATAP MUKA X&XI. Oleh: Ir. Zulkarnaini, MT.

PENGGUNAAN RELAY DIFFERENSIAL. Relay differensial merupakan suatu relay yang prinsip kerjanya berdasarkan

BAB III PENGAMANAN TRANSFORMATOR TENAGA

BAB II GARDU INDUK 2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI DARI GARDU INDUK. Gambar 2.1 Gardu Induk

BAB I PENDAHULUAN. yang menjadi salah satu penentu kehandalan sebuah sistem. Relay merupakan

BAB III SISTEM PROTEKSI DENGAN RELAI JARAK. terutama untuk masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Kebutuhan tenaga

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN. panasbumi Unit 4 PT Pertamina Geothermal Energi area Kamojang yang. Berikut dibawah ini data yang telah dikumpulkan :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI PERENCANAAN PENGGUNAAN PROTEKSI POWER BUS DI PT. LINDE INDONESIA GRESIK

ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB

III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

STUDI SISTEM PROTEKSI RELE DIFERENSIAL PADA TRANSFORMATOR PT. PLN (PERSERO) KERAMASAN PALEMBANG

Ground Fault Relay and Restricted Earth Faulth Relay

BAB II LANDASAN TEORI

Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

BAB III METODOLOGI. 3.2 Tahap Pelaksanaan Penyusunan Laporan Akhir

BAB III PEMBAHASAN RELAY DEFERENSIAL DAN RELEY DEFERENSIAL GRL 150

Analisa Koordinasi Over Current Relay Dan Ground Fault Relay Di Sistem Proteksi Feeder Gardu Induk 20 kv Jababeka

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. c. Memperkecil bahaya bagi manusia yang ditimbulkan oleh listrik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ANALISA HASIL PENYETINGAN RELAI DIFFERENSIAL

2.2.6 Daerah Proteksi (Protective Zone) Bagian-bagian Sistem Pengaman Rele a. Jenis-jenis Rele b.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

D. Relay Arus Lebih Berarah E. Koordinasi Proteksi Distribusi Tenaga Listrik BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN B. SARAN...

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA BAB I PENDAHULUAN

GT 1.1 PLTGU Grati dan Rele Jarak

BAB IV SISTEM PROTEKSI GENERATOR DENGAN RELAY ARUS LEBIH (OCR)

Analisa Relai Arus Lebih Dan Relai Gangguan Tanah Pada Penyulang LM5 Di Gardu Induk Lamhotma

KOORDINASI SISTEM PROTEKSI OCR DAN GFR TRAFO 60 MVA GI 150 KV JAJAR TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN. atau konsumen, peranan transformator daya pada Gardu Induk Pauh Limo

BAB I PENDAHULUAN. Pada sistem penyaluran tenaga listrik, kita menginginkan agar pemadaman tidak

Studi Perencanaan Penggunaan Proteksi Power Bus di Sistem Kelistrikan Industri Gas

ANALISA SETTING RELAI PENGAMAN AKIBAT REKONFIGURASI PADA PENYULANG BLAHBATUH

Pengujian Relay Arus Lebih Woodward Tipe XI1-I di Laboratorium Jurusan Teknik Elektro

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA. [9] PT. PLN (Persero) UBS P3B REGION JAKARTA BANTEN Pegenalan Gardu Induk. Jakarta : PT. PLN (Persero).

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

ANALISIS ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA PENYULANG 20 KV DENGAN OVER CURRENT RELAY (OCR) DAN GROUND FAULT RELAY (GFR)

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN LAMPIRAN

STUDI KEANDALAN DISTANCE RELAY JARINGAN 150 kv GI TELLO - GI PARE-PARE

BAB III GANGGUAN PADA JARINGAN LISTRIK TEGANGAN MENENGAH

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Jl. Prof. Sudharto, Tembalang, Semarang, Indonesia Abstrak

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Studi Koordinasi Proteksi PT. PJB UP Gresik (PLTGU Blok 3)

ABSTRAK Kata Kunci :

OCR/FGR untuk mendeteksi gangguan fasa-fasa dan fasa-tanah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terhadap kondisi abnormal pada operasi sistem. Fungsi pengaman tenaga listrik antara lain:

Analisis Rele Pengaman Peralatan dan Line Transmisi Switchyard GITET Baru 500kV PT PLN (PERSERO) di Kediri

BAB III SISTEM PROTEKSI TEGANGAN TINGGI

SIMULASI PROTEKSI DAERAH TERBATAS DENGAN MENGGUNAKAN RELAI OMRON MY4N-J12V DC SEBAGAI PENGAMAN TEGANGAN EKSTRA TINGGI DI GARDU INDUK

ANALISIS ARUS INRUSH TERHADAP PENGARUH KINERJA RELAI DIFERENSIAL PADA TRANSFORMATOR 150 KV

Jurnal Teknik Elektro, Universitas Mercu Buana ISSN :

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISA TROUBLE DIFFERENTIAL RELAY TERHADAP TRIP CB ( CIRCUIT BREAKER ) 150 KV TRANSFORMATOR 30 MVA PLTGU PANARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. pernah dilakukan sebagai rujukan penulis guna mendukung penyusunan

BAB IV PEMBAHASAN. P 1 P 2. Gambar 4.1 Rangkaian Pengujian Rasio Trafo Arus S 2 S 1. Alat Uji Arus 220 V

STUDI ANALISIS SETTING BACKUP PROTEKSI PADA SUTT 150 KV GI KAPAL GI PEMECUTAN KELOD AKIBAT UPRATING DAN PENAMBAHAN SALURAN

TRANSFORMATOR ARUS DAN PEMELIHARAAN TRANSFORMATOR ARUS PADA PT. PLN (PERSERO) P3B REGION JAWA TENGAH & DIY UPT SEMARANG GIS 150kV SIMPANG LIMA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Analisis Setting Relay Proteksi Pengaman Arus Lebih Pada Generator (Studi Kasus di PLTU 2X300 MW Cilacap)

SETTING RELAY DIFFERENSIAL PADA GARDU INDUK KALIWUNGU GUNA MENGHINDARI KEGAGALAN PROTEKSI

PEMAKAIAN DAN PEMELIHARAAN TRANSFORMATOR ARUS (CURRENT TRANSFORMER / CT)

STUDI PENYETELAN RELAI DIFERENSIAL PADA TRANSFORMATOR PT CHEVRON PACIFIC INDONESIA

Praktikum SISTEM PROTEKSI

BAB II DASAR TEORI. Sistem proteksi adalah sistem yang memisahkan bagian sistem yang. b. Melepaskan bagian sistem yang terganggu (fault clearing)

BAB II LANDASAN TEORI

TUGAS AKHIR PERANCANGAN SISTEM PROTEKSI LINE CURRENT DIFFERENTIAL UNTUK SKTT 150 KV MENGGUNAKAN RELE GE UR L90

LAPORAN KERJA PRAKTEK. Menengah) / KUBIKEL PADA PT.PLN (Persero) JAKARTA RAYA DAN TANGERANG

Analisis Koordinasi Rele Arus Lebih Pda Incoming dan Penyulang 20 kv Gardu Induk Sengkaling Menggunakan Pola Non Kaskade

PENGUJIAN RELAI ARUS LEBIH / OVER CURRENT RELAY (OCR) DAN RELAI GANGGUAN TANAH / GROUND FAULT RELAY (GFR) PADA SISTEM DISTRIBUSI 2O KV

BAB II LANDASAN TEORI ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN MOTOR STARTING

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (Persero) BAB III TINJAUAN PUSTAKA. 3.1 Pengertian PMCB (Pole Mounted Circuit Breaker)

KOORDINASI RELE ARUS LEBIH DI GARDU INDUK BUKIT SIGUNTANG DENGAN SIMULASI (ETAP 6.00)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TRANSFORMATOR DAYA DAN PENGUBAH SADAPAN BERBEBAN. Tenaga listrik dibangkitkan dipusat pusat listrik (power station) seperti

Gambar 2.1 Skema Sistem Tenaga Listrik (3)

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB III DEFINISI DAN PRINSIP KERJA TRAFO ARUS (CT)

Penentuan Setting Rele Arus Lebih Generator dan Rele Diferensial Transformator Unit 4 PLTA Cirata II

STUDI KOORDINASI RELE PENGAMAN PADA SISTEM BUSBAR DI GARDU INDUK KAPAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS KOORDINASI SETTING RELAY PENGAMAN AKIBAT UPRATING TRANSFORMATOR DI GARDU INDUK GIANYAR

Rifgy Said Bamatraf Dosen Pembimbing Dr. Ir. Margo Pujiantara, MT Dr. Dedet Chandra Riawan, ST., M.Eng.

STUDI PENGARUH UPRATING SALURAN TRANSMISI TEGANGAN TINGGI 150 kv TERHADAP SETTING RELE JARAK ANTARA GI KAPAL GI PADANG SAMBIAN GI PESANGGARAN

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

EVALUASI EKSPANSI JARINGAN TEGANGAN MENENGAH 20 kv GI SOLO BARU

TUGAS AKHIR ANALISA DAN SOLUSI KEGAGALAN SISTEM PROTEKSI ARUS LEBIH PADA GARDU DISTRIBUSI JTU5 FEEDER ARSITEK

dalam sistem sendirinya dan gangguan dari luar. Penyebab gangguan dari dalam

BAB II LANDASAN TEORI

Sidang Tugas Akhir (Genap ) Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro ITS

BAB 1 PENDAHULUAN. Tahun-tahun belakangan ini, terjadi peningkatan penggunaan komponen

BAB 3 RELE PROTEKSI PADA SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI

Transkripsi:

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 9 No. 2 Mei 2013 ; 74-79 PENGUJIAN RELAY DIFFERENSIAL GI Hery Setijasa Jurusan Teknik Elektro Polines Jln. Prof. Sudarto Tembalang Semarang abstrak Salah satu peralatan proteksi yang digunakan di Gardu Induk adalah Relai Differensial yang digunakan untuk memproteksi Transformator. Relai differensial adalah relai yang bekerja berdasarkan Hukum Kirchof, dimana arus yang masuk pada suatu titik sama dengan arus yang keluar dari titik tersebut. Yang dimaksud titik pada proteksi differensial adalah daerah pengamanan, dalam hal ini dibatasi oleh dua buah trafo arus. Relai ini sangat selektif sehingga biasanya tidak perlu dikoordinasikan dengan relai proteksi lainnya, dan bekerjanya sangat cepat,tidak memerlukan waktu. Proteksi diferensial merupakan salah satu pelindung utama pada transformator daya. Oleh karena itu untuk menjaga keandalannya,dilakukan pemeliharaan dan pengujian pada relai Differensial. Pengujian ini dilakukan untuk Mengetahui apakah relai masih dalam kondisi standar. Kata Kunci : Gardu Induk, Sistem Proteksi Transformator, Relai differensial 1.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PLN sebagai Perusahaan Listrik Negara berusaha untuk menyuplai energi listrik yang ada dengan seoptimal mungkin seiring dengan semakin meningkatnya konsumen energi listrik di Indonesia. Pertambahan beban yang terjadi di Indonesia terutama pada wilayah P3B Jawa Bali sangatlah pesat. Oleh karena itu keandalan dan keefisienan dalam penyuplaian tenaga listrik untuk konsumen harus terjaga. Untuk menjaga suplai daya listrik ke konsumen tetap terjaga efisiensinya dan keandalannya, maka seluruh lingkup jaringan listrik harus diproteksi dengan baik. Peralatan proteksi harus bisa menjaga wilayah gangguan hanya pada wilayah yang terkena gangguan saja dan tidak menyebabkan terganggunya wilayah lainnya yang tidak terkena gangguan. Salah satu peralatan proteksi yang digunakan di Gardu Induk adalah Relai Differensial yang digunakan untuk memproteksi Transformator. Relai ini akan bekerja bila terdapat gangguan pada daerah di sekitar Transformator dalam ruang lingkup yang diproteksi oleh relai Differensial. 1.2 Tujuan Untuk mengetahui prinsip kerja dan pengujian relai differensial yang digunakan untuk memproteksi Transformator pada Gardu Induk Pudak Payung. 1.3 Pembatasan Masalah Dalam laporan ini penulis membatasi masalah pada pembahasan mengenai pengujian pada relai Differensial yang digunakan untuk memproteksi transformator I 60 MVA 150 kv / 20 kv Gardu Induk Pudak Payung. II. RELAI DIFFERENSIAL Relay differensial adalah relay yang bekerja berdasarkan Hukum Kirchof, dimana arus yang masuk pada suatu titik sama dengan arus yang keluar dari titik tersebut. Yang dimaksud titik pada proteksi differensial adalah daerah pengamanan, dalam hal ini dibatasi oleh dua buah trafo arus. Proteksi diferensial merupakan salah satu pelindung utama pada transformator daya. Relai ini sangat selektif sehingga biasanya tidak perlu dikoordinasikan dengan relai proteksi lainnya, dan bekerjanya sangat cepat,tidak memerlukan waktu. 2.1. Prinsip Dasar Relai Differensial Prinsip kerja relai proteksi diferensial adalah membandingkan dua vektor arus atau 74

Pengujian Relay Differensial Gi lebih yang masuk ke relai (lihat gambar 3.3), apa bila pada sisi primer trafo arus(ct1) dialiri arus I1, maka pada sisi primer trafo arus (CT2) akan mengalir arus I2, pada saat yang sama sisi sekunder kedua trafo arus (CT1 dan CT2), akan mengalir arus i1 dan i2 yang besarnya tergantung dari rasio yang terpasang, jika besarnya i1 = i2 maka relai tidak bekerja, karena tidak ada selisih arus ( i = 0), tetapi jika besarnya arus i1 i2 maka relai akan bekerja, karena adanya selisih arus ( i 0). Selisih arus ini disebut arus diferensial. arus inilah yang menjadi dasar bekerjanya relai diferensial. Dalam keadaan normal (tidak ada gangguan), arus yang mengalir kerelaii pengaman sama dengan nol, arus hanya bersikulasi dalam sirkit sekunder kedua trafo arus (CT). Untuk daerah pengamanan dari relai diferensial dibatasi antara dua buah CT (lihat gambar 3.3.) (Hery Setijasa) Jika relai differensial dipasang sebagai proteksi suatu peralatan dan terjadii gangguan didaerah pengamanannya maka relai diferensial harus bekerja, seperti terlihat pada gambar3.4, pada saat CT 1 mengalir arus I 1 maka pada CT 2 tidak ada arus yang mengalir (I 2 = 0), disebabkan karena arus gangguan mengalir pada titik gangguan sehingga pada CT 2 tidak ada arus yang mengalir, maka disisi sekunderr CT 2 tidak ada arus yang mengalir (i 2 = 0) yang mengakibatkan i 1 i 2 ( 1 0) sehingga relai diferensial bekerja. C T KAWASAN I 1 Alat yang C T i 1 i 2 = 0 I 2 = 0 KAWASAN PENGAMANAN i 0 CT 1 I 1 Alat yang CT 2 I 2 diproteksi i 1 i 2 I = 0 Gambar 1. Gambar sederhana relai diferensial unbias Agar relai diferensial dalam kondisi normal (tidak terjadi gangguan) relai tidak bekerja, maka persyaratannya adalah sebagai berikut : 1. CT 1 dan CT 2 (maupun ACT nya) harus mem punyai rasio sedemikian sehingga besar arus i 1 = i 2 2. Sambungan dan polaritas CT 1 dan CT 2 maupun ACT nya harus benar. 2.2.Kerja Proteksi Relai Diferensial Jika Terjadi Gangguan a. jika terjadi gangguan didalam daerah pengamanannya Gambar 2. Relai diferensial jika terjadi ganguan didalam daerah pengamanan b. Jika terjadi gangguan diluar daerah pengamanan Apabila terjadinya gangguan diluar daerah pengamanannya maka relai diferensial tidak bekerja lihat gambar 3.5, pada saat sisi primer kedua CT dialiri arus I 1 dan I 2, dengan adanya rasio CT 1 dan CT 2 yang sedemikian, maka besar arus yang mengalir pada sekunder CT 1 dan CT 2 yang menuju relai besarnya sama (i 1 = i 2 ) atau dengan kata lain tidak ada selisih arus yang mengalir pada relai sehingga relai tidak bekerja, karena sirkulasi arus gangguan diluar daerah pengamanan kerja relai diferensial tidak mempengaruhi arus yang mengalir pada kedua CT yang terpasang pada peralatan yang diproteksi, karena apa bila pada arus primer CT! dan CT 2 mengalir arus gangguan dengan adanya perbandingan rasio trafo arus pada sisi sekunder juga akan mengalir arus gangguan yang besarnya i 1 = i 2 75

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 9 No. 2 Mei 2013 ; 74-79 sehingga relai diferensiall tidak bekerja karena tidak ada perbandingan arus ( i = 0). KAWASAN PENGAMANAN CT 1 I 1 CT 2 I 2 Alat yang i 1 i 2 Gambar 3.relai diferensial jika terjadi gangguan diluar daerah pengamanannya. 2.3.Tiga Kesulitan Utama Relai Differensial Unbias a. Karakteristik CT Pada saat gangguan eksternal,karakteristik CT yang tidak sama akan menghasilkan tegangan pada masing masing sekunder Ct tidak sama. Juga panjang kabel kontrol sekunder CT tidak sama b. Perubahan rasio akibat On Load Tap Changer Arus sisi sekunder CT dapat dibuat match hanya pada satu titik dari rentang pengubahan tap. Pada posisi lain akan timbul arus tak seimbang. c. Magnitising Inrush Current Arus ini muncul disisi primer dan condong mengerjakan relai. 2.4.Untuk Membuat Relai Stabil 1. kesulitan (a) dan (b) diatasi dengan relai diferensial persentase atau bias. 2. kesulitan (c) diatasi dengan harmonic restraint. i 2.5.Relai Diferensial Bias ( Percentage Relai Diferensial ) Pada saat kondisi normal (tidak ada gangguan) didalam daerah pengaman an, ada kemungkinan muncul arus tidak seimbang ( i ) sehingga relai pengaman salah kerja. Penyebab timbulnya arus tidak seimbang ( i ) lihat gambar 3.4, dapat disebabkan oleh : a. Karakteristik kelengkungan magnetik dari CT 1 dan CT 2, terutama pada arus hubung singkat yang besar yang menyebabkan arus sekunder tidak lagi linier terhadap arus primer karena kejenuhan CT. b. Perubahan posisi tap changer trafo tenaga Inrush Current i 1 - i 2 Ideal i 2 i 1 CT1 CT2 Gambar 4. gambar knee point dari trafo arus Dengan melihat adanya perbedaan arus ( i ) diantara kedua CT yang terpasang, dibuatlah relai differensial jenis persentase yang mempunyai karakteristik kerja mengikuti kemungkinan terjadi i. Untuk mencegah arus gangguan (I F ) yang besar diluar daerah pengamanannya maka pada relaii diferensial dipasang kumparan penahan (restrain) pada kedua sisinya dapat dilihat dalam gambar 3.5, kumparan penahan inilah yang menahan relai tidak bekerja apa bila terjadi arus gangguan yang besar, karena makin besar arus gangguan yang melewati relai makin besar pula kopel penahan yang dihasilkan oleh kumparan penahan sehingga relai tidak bekerja. 2.6.Relai Diferensial High Impedance Relai diferensial Impedansi tinggi yang digunakan sebagai proteksi gangguan tanah ( restricted earth fault = REF ). Dalam keadaan tertentu relai diferensial hanya dapat mengamankan sebagian kumparan ( 40%) saja pada saat terjadi gangguan tanah internal dan sebagian lainnya ( 60%) tidak i i =Perbedaan arus sekunder CT1 dan CT2 i = i 1 - i 2 IF 76

Pengujian Relay Differensial Gi terproteksi. Terbatasnya sensitivitas relai differensial dalam mendeteksi gangguan tanah tersebut menyebabkan proteksi diferensial perlu ditunjang oleh proteksi gangguan tanah terbatas (Restricted fault relay). 2.6.1. Aplikasi Relai ini hanya mendeteksi gangguan tanah yang terjadi didalam : - Trafo tenaga yang disambung bintang - Generator. - Busbar Relai ini tidak bekerja bila gangguan diluar daerah pengamanan, dan memberikan perintah trip tanpa tunda waktu. Syarat relai diferensial impedansi tinggi untuk proteksi REF: - Rasio CT line harus sama dengan rasio CT Earth - Tegangan lutut CT harus lebih besar dari tegangan setting relai REF. 2.6.2. Prinsip Kerja Relai ini tidak bekerja bila gangguan diluar daerah pengamanan, dan memberikan perintah trip tanpa tunda waktu.bila terjadi gangguan di F(seperti pada gambar 8), dalam hal ini akan muncul arus IF dan IoF pada sisi primer CT 1 dan CT 2, maka disisi sekunder CT 1 dan CT 2 akan mengalir loop arus if dan i o F. Loop ini tidak menimbulkan tegangan drop (dv) pada resistor non linear (Rnl), sehingga relai REF tidak bekerja. Trafo Daya Kawasan Proteksi CT 1 (Hery Setijasa) Bila terjadi gangguan di F 1 (seperti pada gambar 9), dalam hal ini akan muncul loop arus IoF pada sisi primer dan loop arus iof pada sisi sekunder CT 2, sedangkan pada CT 1 tidak ada loop arus, karena tidak ada arus yang mengalir pada CT 1. Trafo Daya I o F CT 2 Gambar 6. gambar relai REF jika terjadi gangguan didalam daerah pengaman Loop arus iof ini yang menimbulkan tegangan drop (dv) pada rangkaian sehingga relai REF bekerja. Resistor non linear (Rnl) berfungsi megamankan relai apa bila terjadi tegangan yang melampaui kapasitas kemapuan relai (burden relai) akibat adanya gangguan. III.PENGUJIAN RELAI DIFFERENSIAL Kawasan Proteksi F 1 IF = 0 i o F CT if = 0 REF 3.1.Rangkaian Pengujian Relai Differensial 3.1.1. Pengujian Arus Pick Up Minimum Dan Waktu Kerja Relai Resister non lionier IF if F CT I o F i o F REF Gambar 5. gambar relai REF jika terjadi gangguan diluar daerah pengamanan. Resister non lionier Gambar 7. Rangkaian Pengujian Pick up dan Waktu Kerja 77

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 9 No. 2 Mei 2013 ; 74-79 3.1.2. Pengujian Slope ( V % ) 11. Saklar Main Ammeter Range diset lebih besar dari arus uji Lebih bs Dari arus uji. 12. Voltage Relai Test diset pada SetNorm Set Norm. 13. Saklar Output # 1 / # 2 diset pada Output#1 78 Gambar 8. Rangkaian Pengujian Slope 3.1.3. Pengujian Harmonic Retraint Gambar 9. Rangkaian Pengujian Harmonic Restraint 3.2.Item Pengujan : 1. Arus kerja minimum dan waktu kerja 2. Sope Karakteristik relai 3. Harmonic restraint 3.3. Prosedur pengujian 3.3.1. Posisikan kontrol dari alat uji : 1. 01 Saklar Power On. 2. Saklar Timer Operation Selector pada Atas No MOM,Bawah Cont. yang atas pada NO MAIN yang bawah 3. Main Control = Nol pada Timer Nol. 4. Saklar Aux Power pada INT 5. Hidupkan alat iji dan tekan INT. tombol Initiate, 5. Saklar Range Volt Meter = 300 maka relai akan bekerja 300. dan timer akan 6. Saklar Voltmeter Selector EXT AC. mencatat waktu kerja. 7. Saklar Aux Selector VERN 6. Matikan alat uji. 8. Aux Control di set pada Nol NOL. 9. Saklar AC Range di set pada 10 A 10 A. 10. Saklar DC Range di set lebih besar dari arus uji 3.3.2. Pengujian Arus kerja minimum (Pick Up). 1. Hubungkan alat uji Multi Amp dengan sumber tegangan 220 Volt, dan yakinkan bahwa alat uji dalam keadaan mati ( Off ). 2. Hubungkan kumparan kerja dan salah satu kumparan penahan ( Restraint ) dari relai ke output #1 dari alat uji. 3. Hubungkan terminal kontak relai dari alat uji ke kontak trip dari relai 4. Pilih Range Ammeter lebih besar dari arus yang diukur ( Arus Uji ). 5. Posisikan saklar Time Operation Selector yang atas pada NO MAINT dan yang bawah pada posisi Cont. 6. Hidupkan alat uji, dan lampu tanda akan menyala. 7. Tekan saklar Initiate 8. Putar Main Control untuk menambah arus output, sampai relai pick up, dan lampu akan menyala dan catat hasilnya pada blangko uji. Aux Control akan mengatur arus yang halus. 9. Putar Main Control ke posisi nol, dan matikan alat uji. 3.3.3. Pengujian Karakteristik Waktu. 1. Hidupkan alat uji. 2. Tekan tombol Initiate putar main control sampai relai pick-up. 3. Matikan alat uji. 4. Putar saklar Timer Operation Selector Lebih besar.

Pengujian Relay Differensial Gi 3.3.4. Pengujian Slope ( Karakteristik ). 1. Hubungkan output # 1 dari alat uji pada kumparan penahan dan dipasang pada tap 0 80 V, 12,5 A. 2. Hubungkan kumparan kerja dan salah satu kumparan penahan dari relai ke output AC # 3. tanda dari kedua output bisa dijadikan satu. 3. Hubungkan kontak relai dari alat uji kekontak trip relai ( Perhatikan gambar ). 4. Pilih main range dari ammeter lebih besar dari arus uji. 5. Putar Aux Selector switch pada posisi 24 AC 3. 6. Putar timer Operation Selector yang atas pada NO MAIN dan yang bawah pada CONT. 7. Hidupkan alat uji dan tekan Initiate 8. Tekan main control untuk menambah output # 1, dan Aux Control untuk menambah output # 3 sampai relai bekerja. 9. Catat kedua besaran ini pada balangko uji, dan ulangi untuk besaran yang lain. 10. Matikan alat uji. (Hery Setijasa) b. Pengujian relai Differensial dilakukan dengan berdasarkan pada wiring diagram dan SOP yang berlaku. c. Pada waktu melakukan pengujian tetap menggunakan aturan keselamatan K3 untuk menghindari adanya kecelakaan. DAFTAR PUSTAKA 1. -,2006. Relai Differensial KBCH (GEC).IBAA. 2. Jamaah Firdaus,Ahmad. 2009. Proteksi Sistem Tenaga Listrik. Semarang. Politeknik Negeri Semarang. 3. Yudha, Hendra Marta, 2008, Proteksi Rele:Prinsip dan Aplikasi,Palembang. Universitas Sriwijaya. 4. -.2006. Proteksi Penghantar. PT.PLN (Persero) P3B. IV.PENUTUP 4.1. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat penulis ambil dari magang yang dilaksanakan di APP Semarang, Basecamp Semarang, dan Basecamp Kudus adalah sebagai berikut : a. Relai differensial merupakan salah satu relai yang digunakan untuk memproteksi Transformator tenaga b. Pengujian relai differensial digunakan untuk mengetahui kondisi bekerjanya rele dalam kondisi yang masih standar. c. Pengujian 2 tahunan relai differensial pada GI Pudak Payung menunjukkan hasil yang baik dan sesuai dengan setting 4.2.Saran Setelah menyeleseikan magang di PT PLN (Persero) APP SEMARANG, penulis ingin menyampaikan saran, antara lain sebagai berikut: a. Pengujian relai Differensial dilakukan dengan seksama dan teliti agar didapatkan hasil data yang akurat. 79