dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN UMUM PLTU SURALAYA

IV. GAMBARAN UMUM PLTU DI INDONESIA

BAB II TINJAUAN UMUM PLTU SURALAYA

LAPORAN KERJA PRAKTEK 8

BAB III DASAR TEORI SISTEM PLTU

SISTEM PENGUKURAN KUANTITAS BATUBARA PADA INSTALASI PENYALURAN BAHAN BAKAR

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO KONSENTRASI TEKNIK ELEKTRONIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS GUNADARMA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

BAB I TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

Steam Power Plant. Siklus Uap Proses Pada PLTU Komponen PLTU Kelebihan dan Kekurangan PLTU

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. PT. PLN Pembangkitan Tenaga Lisrik Jawa Bali I (PT. PLN PJB I) dan pada

Prinsip kerja PLTG dapat dijelaskan melalui gambar dibawah ini : Gambar 1.1. Skema PLTG

BAB II ISI. 2.1 Komponen Penting PLTU Penanganan Batubara

BAB III SISTEM PLTGU UBP TANJUNG PRIOK

BAB 3 STUDI KASUS 3.1 DEFINISI BOILER

SISTEM KONTROL PADA HIGH PRESSURE TURBINE BYPASS VALVE. Oleh: Meilia Safitri (L2F008061) Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Efisiensi PLTU batubara

KONVERSI ENERGI PANAS BUMI HASBULLAH, MT

Permasalahan. - Kapasitas terpasang 7,10 MW - Daya mampu 4,92 MW - Beban puncak 31,75 MW - Defisit daya listrik 26,83 MW - BPP sebesar Rp. 1.

Pengoperasian pltu. Simple, Inspiring, Performing,

SEJARAH DAN STRUKTUR ORGANISASI PT INDONESIA POWER

Dosen Pembimbing : Ir. Teguh Yuwono Ir. Syariffuddin M, M.Eng. Oleh : ADITASA PRATAMA NRP :

MODUL V-C PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS UAP (PLTGU)

BAB I PENDAHULUAN. BAB I Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. PLTU adalah jenis pembangkit listrik tenaga termal yang banyak digunakan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Apa itu PLTU? Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) adalah pembangkit yang mengandalkan energi kinetik dari uap untuk menghasilkan energi listrik.

ANALISIS PENGARUH KANDUNGAN KARBON TETAP PADA BATUBARA TERHADAP EFISIENSI KETEL UAP PLTU TANJUNG JATI B UNIT 2

BAB III PENGUMPULAN DATA. Pusat Listrik Tenaga Uap ( PLTU ) Muara Karang terletak ditepi pantai

ANALISIS PEMBANGUNAN PLTU MADURA KAPASITAS 2 X 200 MW SEBAGAI PROGRAM MW PT. PLN BAGI PEMENUHAN KEBUTUHAN LISTRIK DI PULAU MADURA

ANALISIS PERHITUNGAN DAYA TURBIN YANG DIHASILKAN DAN EFISIENSI TURBIN UAP PADA UNIT 1 DAN UNIT 2 DI PT. INDONESIA POWER UBOH UJP BANTEN 3 LONTAR

BAB IV HASIL PENELITIAN, PEMBAHASAN, DAN PEMECAHAN MASALAH. sepenuhnya dimiliki oleh PT PLN (Persero). PT Indonesia power (selanjutnya disebut

Pratama Akbar Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS

BAB II TINJAUAN UMUM PT. PJB (PEMBAKITAN JAWA BALI) UP MUARA KARANG

DAFTAR PUSTAKA. Banjarmasin. (pp. 1-2). Banjarmasin. Kelautan ITS Surabaya. (pp. 2). Surabaya. Sciences Conference, The Netherlands.

BAB II LANDASAN TEORI

Bagian dan Cara Kerja PLTU

BAB III ELECTROSTATIC PRECIPITATOR

BAB II PROFIL UNIT PEMBANGKITAN MUARA KARANG

1. Bagian Utama Boiler

SESSION 12 POWER PLANT OPERATION

PLTU (PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP)

BAB III LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. Energi listrik merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam

MAKALAH PEMBANGKIT LISRIK TENAGA UAP

GLOSSARY STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG JASA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TENAGA LISTRIK

BAB III PLTU BANTEN 3 LONTAR

SISTEM TENAGA LISTRIK

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai

EFISIENSI OPERASIONAL PEMBANGKIT LISTRIK DEMI PENINGKATAN RASIO ELEKTRIFIKASI DAERAH

ANALISA PEMBEBANAN DAN BIAYA PRODUKSI ENERGI LISTRIK PADA PLTU BATUBARA

BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

ANALISIS KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP ( PLTU ) UNIT 3 DAN 4 GRESIK

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2008

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

ANALISIS PERUBAHAN TEKANAN VAKUM KONDENSOR TERHADAP KINERJA KONDENSOR DI PLTU TANJUNG JATI B UNIT 1

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

MODUL 5A PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU)

1. PENDAHULUAN PROSPEK PEMBANGKIT LISTRIK DAUR KOMBINASI GAS UNTUK MENDUKUNG DIVERSIFIKASI ENERGI

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2008

MODUL 3 TEKNIK TENAGA LISTRIK PRODUKSI ENERGI LISTRIK (1)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Oleh : Pressa Perdana S.S Dosen Pembimbing Ir. Syarifuddin Mahmudsyah, M.Eng - Ir. Teguh Yuwonoi -

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Pembangunan fisik PLTU ini dimulai sejak tahun 2001 (Lot I: Site Preparation).

BAB I PENDAHULUAN. Dalam proses PLTU dibutuhkan fresh water yang di dapat dari proses

BIDANG JASA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TENAGA LISTRIK

ANALISA EFISIENSI PERFORMA HRSG ( Heat Recovery Steam Generation ) PADA PLTGU. Bambang Setyoko * ) Abstracts

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Studi Pembangunan PLTU 2x60 MW di Kabupaten Pulang Pisau berkaitan dengan Krisis Energi di Kalimantan Tengah

Pembangkit Listrik Tenaga Air dan Uap (PLTA & PLTU)

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG)

BAB I PENDAHULUAN. Kinerja perusahaan selalu dapat terukur, bila perusahaan tersebut memiliki

BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN

SEMINAR ELEKTRIFIKASI MASA DEPAN DI INDONESIA. Dr. Setiyono Depok, 26 Januari 2015

F. Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) 1. Prinsip Kerja

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik seluruh Indonesia (Statistik Ketenagalistrikan 2014, 2015)

BAB II LANDASAN TEORI

PEMELIHARAAN CB DAN ROTATING DIODA, SERTA SISTEM OPERASI PADA PLTU UNIT 3 PT INDONESIA POWER UBP SEMARANG

RKL-RPL RENCANA PEMBANGUNAN DAN PENGOPERASIAN PLTU TANJUNG JATI B UNIT 5 DAN 6 (2 X MW) DI KABUPATEN JEPARA, PROVINSI JAWA TENGAH

BAB III DESKRIPSI TEMPAT PLA DAN PELAKASANAAN PLA

BAB II PROFIL DAN PROSES BISNIS PT PELINDO III (PERSERO) pendiriannya dituangkan dalam PP No.19 Tahun 1960.

Kata Kunci : PLC, ZEN OMRON, HP Bypass Turbine System, pompa hidrolik

MAKALAH PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG)

ANALISA HEAT RATE DENGAN VARIASI BEBAN PADA PLTU PAITON BARU (UNIT 9)

BAB I PENDAHULUAN. Turbin uap berfungsi untuk mengubah energi panas yang terkandung. menghasilkan putaran (energi mekanik).

ANALISA PERHITUNGAN EFISIENSI TURBINE GENERATOR QFSN B UNIT 10 dan 20 PT. PJB UBJOM PLTU REMBANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. modern ini, Indonesia sudah banyak mengembangkan kegiatan pendirian unit -

Kata Kunci : PLTMH, Sudut Nozzle, Debit Air, Torsi, Efisiensi

Memahami sistem pembangkitan tenaga listrik sesuai dengan sumber energi yang tersedia

Analisis Pengaruh Rasio Reheat Pressure dengan Main Steam Pressure terhadap Performa Pembangkit dengan Simulasi Cycle-Tempo

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. relatif antara putaran rotor dengan medan putar (rotating magnetic field) yang dihasilkan

Kajian Potensi Kerugian Akibat Penggunaan BBM pada PLTG dan PLTGU di Sistem Jawa Bali

Transkripsi:

BAB II PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Singkat PT. Indonesia Power PT.Indonesia Power merupakan salah satu anak perusahan PT. PLN (Persero) yang dahulu bernama PLN Pembangkit Tenaga Listrik Jawa Bali (PJB I), menjalankan bisnis utama di bidang pembangkitan tenaga listrik Jawa Bali serta memasok sekitar 30% - 40% dari kebutuhan tenaga listrik Jawa- Bali. Diawali dengan berdirinya Paiton Swasta I, yang dipertegas dengan dikeluarkannya Kepres. No. 37 Tahun 1992, tentang pemanfaatan sumber dana swasta melalui pembangkit-pembangkit listrik swasta. Pada akhir tahun 1993, Menteri Pertambangan dan Energi menerbitkan kerangka dasar kebijakan (sasaran dan kebijakan sub sektor ketenagalistrikan) yang merupakan pedoman jangka panjang restrukturisasi sektor ketenagalistrikan. Sebagai tahap awal, pada tahun 1994 PLN diubah statusnya dari Perum menjadi Persero. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 3 Oktober 1995, PLN (Persero) membentuk dua anak perusahaan dengan tujuan untuk memisahkan misi sosial dan misi komersial dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu: 1. PT PLN PJB I yang pada tanggal 3 Oktober 2000 berganti nama menjadi PT. Indonesai Power yang berpusat di Jakarta. 2. PT. Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-Bali yang berpusat di Surabaya. PT. Indonesia Power memiliki sejumlah unit pembangkit dan fasilitas pendukungnya. Pembangkit-pembangkit tersebut memanfaatkan teknologi modern berbasis komputer dengan menggunakan beragam jenis energi yaitu air, minyak bumi, batubara, gas alam, dan lain sebagainya. Namun demikian, dari pembangkit-pembangkit tersebut ada pula pembangkit yang termasuk paling tua di Indonesia seperti PLTA Plengan, PLTA Ubrug, PLTA Ketenger, dan sejumlah PLTA lainnya yang dibangun tahun 1920-an dan sampai sekarang masih beroperasi. 5

Dari hal tersebut diatas, maka dapat dipandang berdasarkan sejarahnya pada dasarnya usia PT. Indonesia Power sama dengan keberadaan listrik di Indonesia. Pembangkit-pembangkit yang dimiliki oleh PT. Indonesia Power sama dengan keberadaan listrik di Indonesia. Pembangkit-pembangkit yang dimiliki oleh PT. Indonesia Power adalah sebagai berikut: Tabel 2.1 Kapasitas Terpasang Per-unit Bisnis Pembangkit Unit Bisnis Pembangkitan dan Pemeliharaan Indonesia Power di wilayah Jawa Bali meliputi: Unit Bisnis Kapasitas Terpasang Jenis Pembangkit Lokasi UBP Suralaya 3.400,00 MW PLTU Merak UBP Priok 1.348,08 MW PLTU, PLTGU, PLTD Jakarta UBP Saguling 797,36 MW PLTA Bandung UBP Kamojang 375,00 MW PLTP Garut UBP Semarang 1.408,93 MW PLTU, PLTG, PLTGU Semarang UBP Mrica 309,74 MW PLTA, PLTM, PLTMH Banjarnegara UBP Perak Grati 864,08 MW PLTU, PLTG, PLTGU Pasuruan UBP Bali 432,67 MW PLTD, PLTG Bali UB Pemeliharaan Jakarta Pembangkit milik Indonesia Power di sebagian wilayah Sumatra meliputi: Pembangkit Kapasitas Terpasang Jenis Pembangkit Lokasi Indralaya 1 45,00 MW PLTG Palembang Keramasan 18,00 MW PLTG Palembang Jambi 18,00 MW PLTG Jambi Dengan daya terpasang sebesar 8.921,19 MW, PT. Indonesia Power menjadi pemasok listrik terbesar di Indonesia dan terbesar ketiga di Dunia. Beroperasinya PLTU Suralaya diharapkan akan menambah kapasitas dan keandalan tenaga listrik di Pulau Jawa-Bali yang terhubung dalam sistem interkoneksi se Jawa dan Bali, dan juga untuk mensukseskan program pemerintah dalam rangka untuk penganekaragaman sumber energi primer untuk pembangkit tenaga listrik sehingga lebih menghemat BBM, juga untuk meningkatkan kemampuan bangsa Indonesia dalam menyerap teknologi 6

maju, penyediaan lapangan kerja, peningkatan taraf hidup masyarakat, dan pengembangan wilayah sekitarnya sekaligus meningkatkan produksi dalam negeri. PLTU Suralaya dibangun melalui tiga tahapan seperti di jelaskan pada tabel di bawah ini : Tabel 2.2 Tahap Pembangunan PLTU Suralaya N o ITEM UNIT 1 UNIT 2 UNIT 3 UNIT 4 UNIT 5 UNIT 6 UNIT 7 1 CONSTRUCTION 1980 1984 1994 2 FIRST FIRING 26-05-84 11-03-85 28-05-88 04-02-89 22-06-96 26-01-97 14-07-97 3 SYNCHRONIZE 24-08-84 11-06-85 25-08-88 24-04-89 16-12-96 26-03-97 19-09-97 4 5 COMMERCIAL OPERATION LOUNCHING BY PRESIDENT 04-04-85 26-03-86 06-02-89 06-11-89 25-06-97 11-09-97 19-12-97 10-08-1985 17-05-1990 Dalam pembangunannya secara keseluruhan dibangun oleh PLN Proyek Induk Pembangkit Termal Jawa Barat dan Jakarta Raya dengan Konsultan asing dari Montreal Engineering Company (Monenco) Canada untuk unit 1-4 sedangkan untuk unit 5-7 dari Black & Veatch International (BVI) Amerika Serikat. Pada tahun 2012 Indonesia Power melebarkan sayap keseluruh Indonesia dengan mengembangkan portofolio melalui pengembangan Usaha Jasa Operation & Maintenance (O&M) diluar sistem Jawa dan Bali serta Pembangkit Energi Terbarukan yang ramah lingkungan. Pengembangan ini sebagai dasar kekuatan masa depan Perusahaan menjadi kekuatan untuk menerangi Indonesia. Ditahun 2013, Indonesia Power focus pada pelaksanaan beberapa program strategis yang diprioritaskan dalam upaya mendukung pencapaian sasaran perusahaan yang dilakukan dengan benar, cepat, dan fokus pada hasil terbaik yaitu antara lain meningkatkan availability pembangkit melalui implementasi asset management, meningkatkan pemanfaatan energi primer non BBM, mengembangkan pembangkit baru yang berbahan bakar terbarukan dan non BBM, mengembangkan bisnis baru jasa O&M, serta mengurangi ketergantungan spare parts dari pemasok OEM. 7

Dibawah ini adalah beberapa pembangkit yang masuk dalam program diversifikasi energi 10.000 MW tahap pertama yang sudah diterima dari PLN kepada Indonesia Power sebagai salah satu Unit Bisnis Operasi dan Pemeliharaan Indonesia Power, dimana penambahan tersebut telah ditetapkan melalui Keputusan Direksi Indonesia Power No: 62.K/010/IP/2013 pada tanggal 20 Maret 2013. Tabel 2.3 Daftar Pembangkit UBOH/UJP PT.INDONESIA POWER Unit Bisnis dan Pemeliharaan Indonesia Power meliputi: Unit Bisnis Operasi & Pemeliharaan Kapasitas Terpasang Jenis Pembangkit Lokasi OBOH PLTU Banten 1 Suralaya 600,00 MW PLTU Merak UBOH PLTU Banten 2 Labuan 625,00 MW PLTU Pandeglang UBOH PLTU Banten 3 Lontar 945,00 MW PLTU Tangerang UBOH PLTU Jawa Barat 2 Pelabuhan Ratu 1.050,00 MW PLTU Sukabumi UBOH PLTU 2 Jawa Tengah Adipala 660,00 MW PLTU Cilacap B. Visi, Misi, Motto dan Tujuan PT. Indonesia Power 1. Visi Menjadi Perusahaan energi terpercaya yang tumbuh berkelanjutan. 2. Misi Menyelenggarakan bisnis pembangkitan tenaga listrik dan jasa terkait yang bersahabat dengan lingkungan. 3. Motto Trust Us For Power Excellent. 4. Tujuan Untuk menyelenggarakan usaha ketenagalistrikan berdasarkan prinsip industri dan niaga yang sehat dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas. 8

C. Budaya Perusahaan Untuk mewujudkan Visi Perusahaan dan mencapai Target RJPP maka PT Indonesia Power memetakan keunggulan-keunggulan yang dimilikinya yang dirumuskan menjadi suatu Budaya Perusahaan yang disebut Indonesia Power Way. Dengan melaksanakan Indonesia Power Way, maka kami yakin bahwa Indonesia Power dapat mewujudkan keunggulannya dan menjadi long run sustainable company. Indonesia Power Way yang telah diluncurkan pada tanggal 3 Oktober 2011 didasari dengan The Way We Think IP-HaPPPI yang disebut sebagai Nilai-nilai Budaya Perusahaan yang diwujudkan dalam pekerjaan sehari-hari dalam bentuk The Way We Act dan The Way We Do Business. Semua hal ini akan membentuk keunggulan Indonesia Power, yaitu Terdepan dalam penyediaan energi listrik berbagai jenis pembangkit dengan kinerja excellent melalui proses prima oleh SDM profesional yang menjamin terwujudnya long run sustainable company. Sebagai kelengkapan Indonesia Power Way, untuk memudahkan dalam implementasinya maka Indonesia Power Way juga diturunkan dalam arahan-arahan yang lebih rinci menyangkut suatu hal yang lebih spesifik, misalnya peraturan, manual, SOP, instruksi kerja, peraturan-peraturan kepegawaian, dan sebagainya. 9

Gambar 2.1 Building Block IP Way 1. The Way We Think IP-HAPPI a. Integritas Sikap moral yang mewujudkan tekad untuk memberikan yang terbaik kepada perusahaan. b. Profesional Menguasai pengetahuan, ketrampilan, dan kode etik sesuai bidang. c. Harmoni Serasi, selaras, seimbang, dalam: Pengembangan kualitas pribadi, Hubungan dengan stakeholder (pihak terkait), Hubungan dengan lingkungan hidup. 10

d. Pelayanan Prima Memberi pelayanan yang memenuhi kepuasan melebihi harapan stakeholder. e. Peduli Peka-tanggap dan bertindak untuk melayani stakeholder serta memelihara lingkungan sekitar. f. Pembelajar Terus menerus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta kualitas diri yang mencakup fisik, mental, sosial, agama, dan kemudian berbagi dengan orang lain. g. Inovatif Terus menerus dan berkesinambungan menghasilkan gagasan baru dalam usaha melakukan pembaharuan untuk penyempurnaan baik proses maupun produk dengan tujuan peningkatan kinerja. 2. The Way We Act a. Proaktif dan Pantang Menyerah Menunjukkan inisiatif dan antisipasi dalam bertindak, dengan orientasi pada perubahan ke arah yang senantiasa lebih baik, dilandasi keyakinan untuk mampu mengatasi setiap tantangan yang dihadapi. b. Saling Percaya dan Bekerjasama Bertindak secara kolektif dilandasi semangat sinergi untuk saling mendukung dan mengisi dengan memberikan seluruh pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki untuk memperoleh hasil terbaik pada setiap pekerjaan. c. Fokus pada Perbaikan Proses dan Hasil Setiap tindakan berlandaskan pada siklus pengelolaan kinerja (plan-do-check-action) untuk mencapai standar hasil kerja yang prima. 11

d. Fokus pada Pelanggan Memenuhi kebutuhan pelanggan melebihi standar yang diharapkan dalam koridor etika bisnis yang sehat. Pelanggan eksternal antara lain mencakup pengguna jasa (customer) dan supplier. Pelanggan internal antara lain mencakup atasan, bawahan dan rekan kerja. e. Mengutamakan Safety & Green Komitmen dan tindakan yang konsisten untuk memerhatikan, kesehatan, keamanan dan keselamatan kerja, serta pelestarian lingkungan bagi kelangsungan jangka panjang perusahaan. 3. The Way We Do Business a. Leadership Excellence Menerapkan paradigma jangka panjang yang memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Melakukan walk through dan melihat sendiri untuk memahami situasi sebenarnya. Walk the talk, dan menjadi role model. b. Business Process Excellence Menggunakan proses yang lean, mengalir, dan efisien, untuk menjamin ketepatan kualitas, waktu dan biaya serta mengutamakan K3. Mengelola risiko dalam setiap kegiatan perusahaan. c. People Excellence Menerapkan pengembangan SDM berbasis kompetensi untuk memberikan nilai tambah kepada perusahaan. 12

Menciptakan SDM yang memiliki kemampuan istimewa untuk meningkatkan kompetensi inti perusahaan yang kompetitif, dengan mengedepankan teamwork untuk memenangkan persaingan. Menerapkan budaya yang kuat dan religius dimana nilai-nilai perusahaan diinternalisasi secara konsisten sehingga tercemin dalam perilaku. d. Learning Organization Konsistensi untuk menuntaskan permasalahan hingga ke akarnya untuk mencegah kegagalan berulang. Membudayakan knowledge sharing untuk membangun proses prima Mengambil keputusan melalui konsensus dan mengimplementasikan dengan cepat dan konsisten. Memanfaatkan kesalahan yang terjadi di organisasi sebagai sarana pembelajaran untuk menghindari kesalahan berulang. Mendorong inovasi dalan perbaikan proses untuk peningkatan kinerja. e. Customer & Supplier Relationship Menciptakan nilai bagi pelanggan untuk membangun customer engagement. Membangun sinergi yang saling menghargai dengan mitra strategis untuk mendukung kinerja excellent. f. Stakeholder & Social Responsibility Memegang teguh etika bisnis dalam setiap interaksi dengan stakeholder (pihak-pihak terkait). Menggali pemanfaatan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Menciptakan nilai bagi masyarakat dan lingkungan. 13

D. Makna Bentuk dan Warna Logo Logo mencerminkan identitas dari PT. Indonesia Power sebagai Power Utility Company terbesar di Indonesia. Gambar 2.2. Logo PT. Indonesia Power. 1. Bentuk a. INDONESIA dan POWER ditampilkan dengan menggunakan dasar jenis huruf FUTURA BOOK / REGULAR dan FUTURA BOLD menandakan font yang kuat dan tegas. b. Aplikasi bentuk kilatan petir pada huruf O melambangkan TENAGA LISTRIK yang merupakan lingkup usaha utama perusahaan. c. Titik / bulatan merah (red dot) diujung kilatan petir merupakan simbol perusahaan yang telah digunakan sejak masih bernama PT. PLN PJB I. Titik ini merupakan simbol yang digunakan di sebagian besar materi komunikasi perusahaan. Dengan simbol yang kecil ini, diharapkan identitas perusahaan dapat langsung terwakili. 2. Warna a. Merah Merah, diaplikasikan pada kata INDONESIA, menunjukkan identitas yang kuat dan kokoh sebagai pemilik sumber daya untuk memproduksi tenaga listrik, guna dimanfaatkan di Indonesia dan juga di luar negeri. b. Biru Biru, diaplikasikan pada kata POWER. Pada dasarnya warna biru menggambarkan sifat pintar dan bijaksana, dengan aplikasi pada kata POWER, maka warna ini menunjukkan produk tenaga listrik yang dihasilkan perusahaan memiliki ciri-ciri: Berteknologi tinggi. 14

Efisien. Aman. Ramah lingkungan. E. Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Suralaya 1. Sejarah UBP Suralaya Pada waktu terjadinya krisis energi yang melanda dunia tahun 1973 dan pada saat itu terjadi embargo minyak oleh negara-negara Arab terhadapa Amerika Serikat dan negara-negara Industri lainnya dan disusul keputusan OPEC (organisasi negara-negara pengekspor minyak) untuk menaikan BBM lima kali lipat. Belajar dari pengalaman maka Pemerintah mencari sumber energi pengganti BBM Pemerintah menyadari akan ketergantungan pada BBM serta gas alam dan uranium yang akan habis 40-80 tahun lagi salah satu jalan yang ditempuh adalah pengalihan kepada batubara. Dalam rangka memenuhi peningkatan kebutuhan akan tenaga listrik khususnya di pulau Jawa sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah serta untuk meningkatkan pemanfaatan sumber eneri primer dan diversifikasi sumber energi primer untuk pembangkit tenaga listrik, maka PLTU Suralaya dibangun dengan menggunakan batubara sebagai bahan bakar utama yang merupakan sumber energi primer kelima disamping energi air, minyak bumi dan panas bumi. PLTU Suralaya pembangunannya dilakukan dalam 3 (tiga) tahap yang seluruhnya berjumlah 7 unit : Tahap I : Membangun dua unit PLTU, yaitu unit 1 dan 2 yang masing-masing berkapasitas 400 MW. Dimana pembangunannya dimulai pada bulan Mei 1980 sampai dengan bulan Juni 1985 dan telah beroperasi sejak tahun 1984, tepatnya pada tanggal 4 April 1984 untuk unit 1 dan 26 Maret 1985 untuk unit 2. Tahap II : Membangun dua unit PLTU yaitu unit 3 dan 4 yang masing-masing berkapasitas 400 MW. Dimana 15

pembangunannya dimulai paada bulan Juni 1985 dan berakhir sampai dengan bulan Desember 1989. dan telah beroperasi sejak 6 Februari 1989 untuk unit 3 dan 6 November 1989 untuk unit 4. Tahap III : Membangun tiga unit PLTU, yaitu 5, 6 dan 7 yang masing-masing berkapasitas 600 MW. Pembangunannya dimulai sejak bulan Januari 1993 dan telah beroperasi pada bulan Oktober 1996 untuk 5. Untuk unit 6 pada bulan April 1997 dan Oktober 1997 untuk unit 7. Dalam pembangunannya secara keseluruhan dibangun oleh PLN Proyek Induk Pembangkit Therma Jawa Barat dan Jakarta Raya dengan Konsultan asing dari Montreal Engeneering Company (Monenco) Canada untuk unit 1 s/d 4 sedangkan untuk unit 5 s/d 7 dari Black & Veatch International ( BVI ) Amerika Serikat. Dalam melaksanakan pembangunan Proyek PLTU Suralaya dibantu oleh beberapa kontraktor lokal dan kontraktor asing. 2. Lokasi PLTU Suralaya PLTU Suralaya terletak di desa Suralaya, Kecamatan Pulo Merak, Serang, Banten 120 km ke arah barat dari Jakarta menuju Pelabuhan Penyeberangan Merak dan 7 Km kearah utara dari Pelabuhan Penyeberangan Merak tersebut. Gambar 2.3. Lokasi PLTU Suralaya Luas area PLTU Suralaya adalah ±254 ha, terdiri dari : 16

Tabel 2.4 Luas Area PLTU Suralaya Area Nama Lokasi Luas (Ha) A Gedung Sentral 30 B Ash Valley 8 C Kompleks Perumahan 30 D Coal Yard 20 E Tempat Penyimpanan Alat-alat Berat 2 F Switch Yard 6,3 G Gedung Kantor 6,3 H Sisanya berupa tanah dan perbukitan 157,4 Jumlah 254 Gambar 2.4. Layout PLTU Suralaya 17

3. Strutur Organisasi Strutur organisasi merupakan suatu gambaran secara skematis yang menjelaskan tentang hubungan kerja, pembagian kerja, serta tanggung jawab dan wewenang dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan semula. PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya, secara struktural pucuk pimpinannya dipegang oleh seorang General Manajer yang dibantu oleh Deputi General Manajer dan Manajer Bidang. Gambar 2.5. Struktur Organisasi PT. Indonesia Power UBP Suralaya 18

4. Proses Produksi Tenaga Listrik PLTU PLTU Suralaya telah direncanakan dan dibangun untuk menggunakan batubara sebagai bahan bakar utamanya. Sedangkan sebagai bahan bakar cadangan menggunakan bahan bakar residu, Main Fuel Oil (MFO) dan juga menggunakan solar, High Speed Diesel (HSD) sebagai bahan bakar Ignitor pada penyalaan awal dengan bantuan udara panas bertekanan. Batubara diperoleh dari tambang Bukit Asam, Sumatera Selatan dari jenis Subbituminious dengan nilai kalor 5000-5500 kkal/kg. Gambar 2.6. Rute Transportasi Batubara dari Tanjung Enim ke PLTU Suralaya Transportasi batubara dari mulut tambang Tanjung Enim ke pelabuhan Tarahan dilakukan dengan kereta api. Selanjutnya dibawa dengan kapal laut ke Jetty Suralaya. Batubara dibongkar dari kapal di Coal Jetty menggunakan Ship Unloader Serbuk batubara ini dicampur dengan udara panas dari Primary Air Fan (8) dibawa ke Coal Burner (9) yang menyemburkan batubara tersebut ke dalam ruang bakar untuk proses pembakaran dipindahkan ke hopper diangkut dengan conveyor, menuju temporary stock melalui: ke Coal Feeder (6) yang mengatur jumlah aliran ke Pulverizer (7) dimana batubara digiling menjadi serbuk halus. untuk proses pembakaran dan terbakar seperti gas untuk mengubah air menjadi uap Telescopic Chute (2) atau dengan menggunakan Stacker/Reclaimer (1) ditransfer malalui Junction House (3) ke Scrapper Conveyor (4) lalu ke Coal Bunker (5) 19

Udara pembakaran yang digunakan pada ruang bakar dipasok dari Forced Draft Fan (FDF) (10) melalui Air Heater (11) limbah berupa abu yang jatuh ke bagian bawah Boiler secara periodik dikeluarkan dan dikirim ke Ash Valley. Gas hasil pembakaran dihisap keluar dari Boiler oleh Induce Draft Fan (IDF) (12) dilewatkan Electric Precipitator (13) yang menyerap 99,5% abu terbang dan debu dengan sistem elektroda Gas dihembuskan ke udara melalui cerobong/stack (14) Abu dan debu diambil dengan alat pneumatic gravity conveyor yang digunakan sebagai material bahan bangunan Panas dari pembakaran bahan bakar, diserap oleh pipa pipa penguap (water walls) menjadi uap jenuh kemudian dipanaskan di Super Heater (SH) (15) yang menghasilkan uap kering uap tersebut dialirkan ke Turbin tekanan tinggi High Pressure Turbine (16) Tenaga dari uap mendorong sudu-sudu turbin dan membuat turbin berputar uap dikembalikan kedalam Boiler untuk dipanaskan ulang di Reheater (17) guna menambah kualitas panas uap uap tersebut digunakan kembali di Intermediate Pressure (IP) Turbine (18) dan Low Pressure (LP) Turbine (19). uap bekas dikembalikan menjadi air di Condenser (23) dengan pendinginan air laut / Sea Water (26) yang dipasok oleh Circulating Water Pump (32). Air dipompakan dari condenser dengan menggunakan Condensate Extraction Pump (24) awalnya dipanaskan melalui Low Pressure Heater (25) dinaikkan ke Deaerator (27) untuk menghilangkan gas-gas yang terkandung didalam air Air tersebut kemudian dipompakan oleh Boiler Feed Pump (28) melalui High Pressure Heater (29) dimana air tersebut dipanaskan lebih lanjut sebelum masuk kedalam Boiler pada Economizer (30) kemudian air masuk ke Steam Drum (31) Siklus air dan uap ini berulang secara terus menerus selama unit beroperasi 20

Poros turbin dikopel dengan Rotor Generator (20), dibuatlah magnetasi dengan Brushless Excitation System dengan demikian Stator Generator (21) akan membangkitkan tenaga listrik dengan tegangan 23 kv Listrik yang dihasilkan disalurkan ke Generator Transformer (22) untuk dinaikan tegangannya menjadi 500 kv disalurkan ke sistem jaringan terpadu (Interkoneksi) se- Jawa-Bali melalui saluran udara tegangan extra tinggi 500 kv Gambar 2.7. Produksi Tenaga Listrik PLTU Suralaya Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Stacker Reclaimer Telescopic Chute Junction House Scraper Conveyor Coal Bunker Coal Feeder Pulverizer Primary Air Fan Coal Burner Forced Draft Fan Air heater Induced Draft Fan Electrostatic Precipitator Stack Superheater High Pressure Turbine 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. Reheater Intermediate Pressure Turbin Low Pressure Turbine Rotor Generator Stator Generator Generator Transformer Condenser Condensate Excraction Pump Low Pressure Heater Sea Water Deaerator Boiller Feed Pump High Pressure Heater Economizer Steam Drum Circulating Water Pump 21

5. Dampak Lingkungan Untuk menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan, dilakukan pengendalian dan pemantauan secara terus menerus agar memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh Pemerintah dalam hal ini Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 02/MENLH/1988 tanggal 19-01-1988 tentang Nilai Ambang Batas dan no. 13/MENLH/3/1995 tanggal 07-03-1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak. Untuk itu PLTU Suralaya dilengkapi peralatan antara lain : a. Electrostatic Precipitator, yaitu alat penangkap abu hasil sisa pembakaran dengan efisiensi 99,5%. b. Cerobong asap setinggi 218 m dan 275 m, agar kandungan debu dan gas sisa pembakaran sampai ground level masih dibawah ambang batas. c. Sewage Treatment dan Neutralizing Basin yaitu pengolahan limbah cair agar air buangan tidak mencemari lingkungan. d. Peredam suara untuk mengurangi kebisingan oleh suara mesin produksi. Di unit 5-7 kebisingan suara mencapai 85-90 db. e. Alat-alat pemantau lingkungan hidup yang ditempatkan di sekitar PLTU Suralaya. f. CW Discharge Cannel sepanjang 1,9 km dengan sistem saluran terbuka. g. Pemasangan Stack Emmision. h. Penggunaan Low NOx Burners. F. Data Teknik Komponen Utama PLTU Suralaya Unit 1 4. 1. Ketel ( Boiler ) Pabrik pembuat : Babcock & Wilcox, Canada Tipe : Natural Circulation Single Drum Radiant Wall Outdoor Kapasitas : 1168 ton uap/jam Tekanan uap keluar superheater : 174 kg/cm 2 Suhu uap keluar superheater : 540 o C 22

Tekanan uap keluar reheater : 39,9 kg/cm 2 Bahan bakar utama : Batubara Bahan bakar cadangan : Minyak residu Bahan bakar untuk penyalaan awal : Minyak solar 2. Turbin Pabrik pembuat : Mitsubishi Heavy Industries, Japan Tipe : Tandem Compound Double Exhaust Kapasitas : 400 MW Tekanan uap masuk : 169 kg/cm 2 Temperatur uap masuk : 538 o C Tekanan uap keluar : 56 mmhg Kecepatan putaran : 3000 rpm Jumlah tingkat : 3 tingkat - Turbin tekanan tinggi : 12 sudu - Turbin tekanan menengah : 10 sudu - Turbin tekanan rendah 1 : 2 x 8 sudu - Turbin tekanan rendah 2 : 2 x 8 sudu 3. Generator Pabrik pembuat : Mitsubishi Electric Corporation, Japan Kecepatan putaran : 3000 rpm Jumlah fasa : 3 Frekuensi : 50 Hz Tegangan : 23 kv KVA keluaran : 471 MVA kw : 400.350 kw Arus : 11.823 A Faktor daya : 0,85 Rasio hubung singkat : 0,5 Media pendingin : Gas Hidrogen Tekanan gas H 2 : 4 kg/cm 2 Volume gas : 80 m 3 23

Tegangan penguat medan : 500 V Kumparan : Y 4. Sistem Eksitasi a. Penguat Medan Tanpa Sikat (Brushless Exciter) Pabrik pembuat : Mitsubishi Electric Corporation, Japan Tipe : Totally enclosed kw keluaran : 2400 kw Tegangan : 500 V Arus : 4800 A Kecepatan putaran : 3000 rpm b. Penyearah (Rotating rectifier) Pabrik pembuat : Mitsubishi Electric Corporation, Japan Tipe : Penyearah silicon (silicon rectifier) kw keluaran : 2400 kw Tegangan : 500 V Arus : 400 A c. Penguat Medan AC (AC Exciter) Pabrik pembuat : Mitsubishi Electric Corporation, Japan Tipe : Rotating Armature kva keluaran : 2700 kva Tegangan : 410 V Jumlah fasa : 3 Frekuensi : 250 Hz d. Penguat Medan Bantu (Pilot Exciter) Pabrik pembuat : Mitsubishi Electric Corporation, Japan Tipe : Permanet Magnetic Field kva keluaran : 30 kva Tegangan : 170 V Arus : 102 A Frekuensi : 400 Hz Jumlah fasa : 3 24

Faktor daya : 0,95 e. Lain-lain Dioda silicon : SR 200 DM Sekering : 1200 A, 1 detik Kondenser : 0,6 µf 5. Pulverizer (Penggiling Batubara) Pabrik pembuat : Babcock & Wilcox, Canada Tipe : MPS-89 Kapasitas : 63.000 kg/jam Kelembaban batubara : 23,6% Kelembutan hasil penggilingan : 200 Mesh Kecepatan putaran : 23,5 rpm Motor penggerak : 522 kw/6 kv/706 A/ 50 Hz 6. Pompa Pengisi Ketel (Boiler Feedwater Pump) Pabrik pembuat : Ingersollrand, Canada Tipe : 65 CHTA 5 stage Kapasitas : 725 ton/jam N.P.S.H : 22,2 m Tekanan : 216 kg/cm 2 Motor penggerak : 6338,5 kw/6 kv/50 Hz/3 fasa 7. Pompa Air Pendingin Pabrik pembuat : Mitsubishi Heavy Industries, Japan Tipe : Vertical Mixed Flow Kapasitas : 31.500 m 3 /jam Discharge head : 12,5 m Tekanan : 0,8 kg/cm 2 Motor penggerak : 1300 kw/6 kv/50 Hz/3 fasa 8. Transformator Generator Pabrik pembuat : Mitsubishi Electric Corporation, Japan Tipe : Oil Immersed Two Winding Out door Daya semu : 282.000/376.000/470.000 kva 25

Tegangan primer : 23 kv Arus primer : 7080/9440/11.800 A Tegangan skunder : 500 kv Arus skunder : 326/434/543 A Frekuensi : 50 Hz Jumlah fasa : 3 Uji tegangan tinggi saluran : 1550 kv Uji tegangan rendah : 125 kv Uji tegangan netral : 125 kv Prosentasi impedansi : 11,66 11,69 % 9. Penangkap Abu (Electrostatic Precipitator) Pabrik pembuat : Wheelabarator, Canada Jumlah aliran gas : 1.347.823 Nm 3 /jam Temperatur gas : 195 o C Kecepatan aliran gas : 1,47 m/detik Tipe elektroda : Isodyne & Star Type-Unit 1&2, Coil-Unit 3&4 Tegangan elektroda : 55 kv DC Arus elektroda : 1250 1700 ma Efisiensi :99,5 % Jumlah abu hasil penangkapan : 11,2 ton/jam 10. Cerobong (Stack) Jumlah : 2 buah (4 unit) Tinggi : 200 m Diameter luar bagian bawah : 22,3 m Diameter luar bagian atas : 14 m Diameter pipa saluran gas buang : 5,5 m Suhu gas masuk cerobong : ± 140 o C Kecepatan aliran gas : ± 2 m/detik Material cerobong : Beton dan di bagian dalamnya terdapat 2 pipa aluran gas berdiameter 5,5 m. 26