BAB I PENDAHULUAN. telah membuat maju peradaban dunia. Penelitian-penelitian yang dilakukan dalam

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 : PENDAHULUAN. penyakit kanker dengan 70% kematian terjadi di negara miskin dan berkembang. Salah satu

BAB 1 : PENDAHULUAN. daerah leher rahim atau mulut rahim, yang merupakan bagian yang terendah dari

BAB 1 PENDAHULUAN. Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servix-uterus suatu daerah pada

BAB I PENDAHULUAN. yang menyangkut kesehatan reproduksi ini, salah satunya adalah kanker

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. paling sering terjadi pada kisaran umur antara tahun.

BAB I PENDAHULUAN. rahim yang terletak antara rahim uterus dengan liang senggama vagina.

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan data International Agency for Research on Cancer (IARC) diketahui

BAB I PENDAHULUAN. pada negara-negara berkembang yang lain. Kanker leher rahim merupakan. Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Pada tahun 2008 Kota Semarang

GLOBAL HEALTH SCIENCE, Volume 2 Issue 3, September 2017 ISSN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. awal (Nadia, 2009). Keterlambatan diagnosa ini akan memperburuk status

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Gambaran masyarakat Indonesia dimasa depan yang ingin dicapai melalui

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan manusia tidak dapat melakukan aktivitas sehari-harinya. Keadaan

BAB I PENDAHULUAN. Kanker leher rahim adalah tumor ganas pada daerah servik (leher rahim)

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya umur harapan hidup sebagai salah satu tujuan

BAB 1 PENDAHULUAN. penderita kanker serviks baru di dunia dengan angka kematian karena kanker ini. sebanyak jiwa per tahun (Emilia, 2010).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 : PENDAHULUAN. dunia. Berdasarkan data GLOBOCAN, International Agency for Research on

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Human Papilloma Virus (HPV). HPV ini ditularkan melalui hubungan

EFEKTIFITAS PENYULUHAN TERHADAP PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR TENTANG KANKER SERVIKS DI WILAYAH UPT PUSKESMAS GAYAMAN MOJOANYAR MOJOKERTO

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Kanker serviks merupakan kanker yang banyak menyerang perempuan.

I. PENDAHULUAN. Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kanker leher rahim (kanker serviks) masih menjadi masalah

No. Responden. I. Identitas Responden a. Nama : b. Umur : c. Pendidikan : SD SMP SMA Perguruan Tinggi. d. Pekerjaan :

BAB 1 PENDAHULUAN. Kesehatan reproduksi wanita merupakan hal yang perlu diperhatikan agar suatu

BAB 1 PENDAHULUAN. serviks uteri. Kanker ini menempati urutan keempat dari seluruh keganasan pada

BAB I PENDAHULUAN kematian per tahun pada tahun Di seluruh dunia rasio mortalitas

BAB I PENDAHULUAN. mematikan bagi wanita baik di negara maju maupun negara berkembang. Pada

BAB I PENDAHULUAN. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization

BAB 1 PENDAHULUAN. dini. 6,8 Deteksi dini kanker serviks meliputi program skrining yang terorganisasi

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN DENGAN PELAKSANAAN DETEKSI DINI KANKER SERVIK MELALUI IVA. Mimatun Nasihah* Sifia Lorna B** ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Kanker sistim reproduksi meliputi kanker serviks, payudara, indung telur,

BAB I PENDAHULUAN. di dunia. Berdasarkan data Internasional Agency For Research on Cancer

BAB I PENDAHULUAN. leher rahim disebabkan oleh infeksi Human Papiloma Virus (HPV). Virus. akan tumbuh menjadi kanker (Depkes, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kanker merupakan istilah umum untuk pertumbuhan sel tidak normal,

BAB I PENDAHULUAN. Kanker merupakan suatu penyakit yang dianggap sebagai masalah besar

dari leher rahim seorang wanita (Kemenkes, 2010). Setiap tahun terdeteksi lebih

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk penelitian asosiatif, yaitu penelitian yang bertujuan

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK WANITA TERHADAP KESADARAN INSPEKSI VISUAL DENGAN ASAM ASETAT (IVA) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JEKULO KUDUS ABSTRAK

BAB V PEMBAHASAN. dapat diketahui bahwa yang mengikuti deteksi dini kanker leher rahim dengan tes

BAB 1 PENDAHULAN. kanker serviks (Cervical cancer) atau kanker leher rahim sudah tidak asing lagi

Promotif, Vol.7 No.1, Juli 2017 Hal 51-59

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. (Emilia, 2010). Pada tahun 2003, WHO menyatakan bahwa kanker merupakan

Analisis Faktor Prilaku Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Metode IVA ( Inspeksi Visual Asam Acetat )

PENGARUH PENGETAHUAN, MOTIVASI DAN DUKUNGAN SUAMI TERHADAP PERILAKU PEMERIKSAAN IVA PADA KELOMPOK WANITA USIA SUBUR DI PUSKESMAS KEDUNGREJO

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pola penyakit saat ini telah mengalami transisi epidemiologi yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Foundation for Woman s Cancer (2013) kanker serviks adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. kanker yang paling tinggi di kalangan perempuan adalah kanker serviks. yang paling beresiko menyebabkan kematian.

BAB I PENDAHULUAN. tercermin dalam program melalui upaya promotif, preventif, kuratif maupun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Menurut WHO kanker leher rahim (serviks) merupakan jenis kanker

1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. kematian. Badan Organisasi Kesehatan Dunia/ World Health Organization

FAKTOR-FAKTOR DETERMINAN DETEKSI DINI KANKER SERVIKS MELALUI METODE PAP SMEAR PADA PASANGAN USIA SUBUR (PUS)

BAB I PENDAHULUAN. rahim yaitu adanya displasia/neoplasia intraepitel serviks (NIS). Penyakit kanker

BAB I PENDAHULUAN. Deteksi Penyakit Kanker Serviks Menggunakan Metode Adaptive Thresholding Berbasis Pengolahan Citra

BAB I PENDAHULUAN. terjadi di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, Karibia, Sub-Sahara

BAB I PENDAHULUAN menyepakati perubahan paradigma dalam pengelolaan masalah

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Kanker serviks (leher rahim) adalah salah satu kanker ganas yang

BAB III METODE PENELITIAN. Menurut Sekaran (2006) subyek ialah satu dari anggota dari sampel,

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP BIDAN MENGENAI TEKNIK INSPEKSI VISUAL ASETAT (IVA) DALAM SKRINING KANKER SERVIKS DI PUSKESMAS KOTA PADANG

BAB I PENDAHULUAN. human papilloma virus (HPV) terutama pada tipe 16 dan 18. Infeksi ini

BAB I PENDAHULUAN. kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini Indonesia menghadapi beban ganda penyakit atau double

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB 4 HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan reproduksi menurut World Health Organization (WHO) adalah

BAB I PENDAHULUAN. informasi namun juga untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

BAB I PENDAHULUAN. dan mendekati pola di Negara maju (Dalimartha, 2004). maupun orang-orang yang sama sekali tidak berpendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. hingga 2030 meneruskan pencapaian Millenium Development Goals (MDGs)

SKRIPSI. Disusun Oleh: Lia Nurjana

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan hak semua manusia yang harus dijaga,

BAB II TINJAUAN TEORI. a. Pengertian Kanker Leher Rahim

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

BAB I PENDAHULUAN. menular (PTM) dapat digolongkan menjadi satu kelompok utama dengan faktor

BAB I PENDAHULUAN. yang disebut sebagai masa pubertas. Pubertas berasal dari kata pubercere yang

TINGKAT PENGETAHUAN PASANGAN USIA SUBUR TENTANG PEMERIKSAAN INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT DI KEBAYANAN TERSO DESA KANDANGSAPI JENAR

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. kanker serviks dengan cara inspeksi visual pada serviks dengan aplikasi asam

BAB I PENDAHULUAN. jaringan tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kanker serviks merupakan kanker yang banyak. menyerang perempuan. Saat ini kanker serviks menduduki

BAB 1 PENDAHULUAN. payudara. Di Indonesia, kanker serviks berada diperingkat kedua. trakea, bronkus, dan paru-paru (8.5%), kanker kolorektal (8.

METODELOGI PENELITIAN. Jenis dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebagai

See & Treat untuk Skrining Lesi Prakanker Serviks

BAB III METODE PENELITIAN. untuk mendukung hasil penelitian. Jenis penelitian yang dilakukan dalam

BAB I PENDAHULUAN. karena hubungan seksual (Manuaba,2010 : 553). Infeksi menular

PENGETAHUAN DAN SIKAP SUAMI TERHADAP ISTRI DALAM PEMERIKSAAN PAP SMEAR DI DESA DUKUHAGUNG KECAMATAN TIKUNG KABUPATEN LAMONGAN

PENGARUH PENYULUHAN KANKER SERVIKS TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP MELAKUKAN PEMERIKSAAN IVA DI DUSUN SAMBEN ARGOMULYO SEDAYU BANTUL

BAB I PENDAHULUAN. biaya. 1 Kanker payudara merupakan kanker yang sering dialami perempuan saat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. didominasi oleh penyakit menular bergeser ke penyakit tidak menular. Salah satu

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan statistika dalam segala bidang ilmu dan kehidupan manusia telah membuat maju peradaban dunia. Penelitian-penelitian yang dilakukan dalam laboratorium maupun penelitian terapan telah membawa perubahan dan kemajuan dunia. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sebagai peran dari statistika (Widiyanto, 2013). Seiring berjalannya waktu, statistika dapat digunakan dalam pengembangan IPTEK. Karena pengembangan IPTEK memiliki tujuan pendekatan modern untuk menyajikan mengenai konsep-konsep dasar dan metode statistik secara lebih jelas dan langsung dapat membantu seseorang didalam pengembangan daya kritik dalam suatu kegiatan pengambilan keputusan dengan menggunakan cara-cara kuantitatif, sejalan dengan banyaknya penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan. Semakin banyak penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan, maka IPTEK pun akan semakin berkembang (Al-Faditya, 2013). Statistik kesehatan sangat bermanfaat untuk kepentingan administratif, seperti merencanakan program pelayanan kesehatan, menentukan alternatif penyelesaian masalah kesehatan, dan melakukan analisis tentang berbagai penyakit selama periode waktu tertentu. Selain itu juga berguna untuk menentukan penyebab timbulnya penyakit baru yang belum diketahui atau untuk menguji manfaat obat bagi penyembuhan penyakit tertentu (Budiarto, 2002).

Dalam bidang apapun termasuk dalam bidang kesehatan, suatu akibat (fenomena masalah kesehatan) tidak mungkin dipengaruhi oleh satu penyebab. Kenyataan yang ada adalah satu akibat pasti dipengaruhi oleh beberapa penyebab (beberapa faktor atau multi faktor), oleh karena itu seorang peneliti dianjurkan untuk menguasai analisis multivariat. Analisis multivariat merupakan analisis yang bertujuan untuk mempelajari hubungan beberapa variabel (lebih dari satu variabel) independen dengan satu atau beberapa variabel dependen (umumnya satu variabel dependen) (Riyanto, 2012). Menurut Widiyanto (2013), analisis jalur (Path Analysis) merupakan salah satu teknik statistika parametrik yang digunakan untuk menguji hubungan antar variabel yang sifatnya kausal. Dalam pengujian hubungan tersebut didasarkan pada teori yang menyatakan variabel itu memiliki hubungan. Kuat lemahnya teori yang digunakan dalam menggambarkan hubungan kausal tersebut menentukan dalam penyusunan diagram jalur dan mempengaruhi hasil dari analisis serta pengimplementasian secara keilmuan. Alat menghitung dari analisis jalur untuk menghasilkan koefisien jalur adalah dengan cara meminjam hitungan analisis korelasi dan regresi sebagai dasar perhitungannya. Perbedaannya dengan hasil analisis korelasi dan regresi terlihat pada hasil dalam tabel coefficient, bahwa analisis korelasi dan regresi hasil yang diambil terletak pada nilai B-nya (constant ada nilainya dan X1, X2, Y dan seterusnya ada nilainya pada kolom B tersebut yang membentuk struktur Ý = a + bx1 + bx2 + bx3 dst), sedangkan analisis jalur pada nilai Beta yang membentuk struktur Y1 = ρy1x1 XXXX + ρy2x2 XXXX + ρy1. ε1 ɛ1 dst) (Riduan, dkk, 2011).

Melalui analisa jalur dapat diketahui besarnya kontribusi yang ditunjukkan oleh koefisien jalur pada setiap diagram jalur (Riduan & Kuncoro, 2011) yang terdiri dari direct causal effects (pengaruh langsung), indirect causal effects (pengaruh tidak langsung), dan total causal effects (total pengaruh) (Sunjoyo dkk, 2013). Salah satu cara untuk melihat hubungan sebab akibat tersebut dapat dilakukan dengan melihat pengaruh pengetahuan dan motivasi terhadap sikap WUS untuk melakukan pemeriksaan IVA. Tes IVA merupakan deteksi dini untuk melihat penyakit Kanker Serviks. Menurut Rasjidi (2009), total jumlah wanita yang didiagnosis kanker serviks di Amerika Serikat pada tahun 1999 adalah 12.900 dengan kematian yang berkaitan dengan kanker sejumlah 4.400, sedangkan jumlah wanita yang mengidap kanker serviks diseluruh dunia sekitar 471.000, dengan angka kematian 215.000. Kebanyakan penderita baru menyadari penyakitnya setelah berada pada Stadium Lanjut, sehingga sebagian sudah tidak dapat tertolong lagi. Hal ini disebabkan kebanyakan dari penderita bahkan tidak mengetahui tentang penyakit ini begitu pula dengan deteksi dininya. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu obyek juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif. Kedua aspek inilah yang akhirnya akan menumbuhkan dorongan/motivasi dan sikap seseorang terhadap obyek tertentu. Semakin banyak aspek positif dari obyek yang diketahui, akan menumbuhkan sikap yang semakin positif pula terhadap obyek tersebut. Dalam analisis jalur ini pengetahuan berperan sebagai variabel eksogenous (Notoatmodjo, 2007).

Dengan mempelajari motivasi maka kita dapat menjelaskan dan memprediksi perilaku seseorang. Jika seseorang sudah memiliki motivasi yang kuat untuk melakukan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, maka perilakunya menjadi konsisten dan dapat diramalkan. Motivasi merupakan sebuah konsep psikologis yang intangible atau tidak kasat mata sehingga kita tidak dapat melihatnya secara kasat mata namun kita dapat mengetahuinya dengan menyimpulkan perilaku, perasaan dan perkataannya ketika mereka ingin mencapai tujuannya. Sehingga motivasi berperan sebagai variabel intervening. Menurut Notoatmodjo (2005), dalam menentukan sikap yang utuh, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Manifestasi sikap tidak dapat dilihat secara langsung namun dapat ditafsirkan terlebih dahulu. Apabila Wanita Usia Subur (WUS) tahu dan mendengar tentang penyakit kanker serviks maka pengetahuan ini akan membuatnya berfikir. Dalam berfikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja, muncul motivasi agar terhindar dari penyakit kanker serviks sehingga wanita tersebut mengambil suatu sikap untuk melakukan Pemeriksaan IVA sebagai deteksi dini penyakit kanker serviks. Ada banyak software yang sering digunakan dalam analisis jalur diantaranya adalah Lisrel, Eqs5, Sepath, Amos, Calis, Liscomp, Mplus dan Ramona. Untuk penelitian ini software yang digunakan adalah Amos dan Lisrel. Kedua software ini memiliki perbedaan, jika Amos merupakan perangkat lunak berbasis visual, maka Lisrel berbasis pemrograman tekstual. Didalam Jurnal Information System Research, penggunaan causal model dengan Lisrel adalah

sekitar 15% dari seluruh data riset berbasis hubungan struktural, dibandingkan total penggunaan Amos dan yang lain hanya sekitar 3%. Menurut Ghozali (2013), Amos dan Lisrel adalah software yang digunakan untuk menyelesaikan model persamaan struktural, jadi kedua software ini akan menghasilkan estimasi parameter yang sama. Bedanya terletak pada penggunaan. Amos dapat digunakan secara grapgical interface (Amos Graphic) artinya hubungan antara variabel bisa digambar langsung dengan simbol elips (variabel laten) atau kotak (variabel observed) sehingga tidak perlu menyusun persamaan regresinya, tetapi Amos dapat juga berangkat dari persamaan dahulu (Amos basic). Amos memiliki kelemahan apabila asumsi multivariat normalitas tidak dipenuhi atau data kita murni ordinal bukan kontinyu, terjadi hubungan moderating antar variabel, maka Amos tidak dapat menyelesaikan hal ini. Sedangkan Lisrel mampu mengatasi semua persoalan tadi sehingga Lisrel dianggap lebih canggih dibanding Amos. Amos merupakan singkatan dari Analisis of Moment Structures yang digunakan sebagai pendekatan umum analisis data dalam model sebab akibat (causal modeling). Dengan menggunakan Amos maka perhitungan yang rumit akan jauh lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan menggunakan perangkat lunak lainnya. Lebih lagi penggunaan Amos akan mempercepat dalam membuat spesifikasi, melihat serta melakukan modifikasi model secara grafik dengan menggunakan tool yang sederhana. Dengan menggunakan Amos, proses perhitungan dan analisis menjadi lebih sederhana bahkan orang-orang awam yang bukan ahli statistik akan dapat menggunakan dan memahami dengan mudah.

Namun Amos juga memiliki kelemahan bila dibandingkan dengan Lisrel yaitu tidak dapat diketahuinya signifikan tidaknya peranan tidak langsung (Widhiarso, 2011). Menurut Chaniago (2008), Lisrel merupakan singkatan dari Linear Structural Relationship juga merupakan program yang banyak digunakan untuk causal modeling. Hal ini disebabkan selain kemampuan Lisrel dalam mengestimasi berbagai masalah dalam model sebab akibat, tampilan Lisrel juga paling informatif dalam menyajikan hasil-hasil statistik. Namun dalam Lisrel ada begitu banyak bahasa perintah sehingga user harus mengetahui bahasa yang digunakan sebagai input. Atas dasar tersebut maka dilakukan penelitian analisis jalur dengan menggunakan aplikasi Amos dan Lisrel untuk melihat pengaplikasian causal modelling secara deskriptif sehingga dapat dilihat model yang fit diantara kedua alat tersebut. Peneliti melakukan pengambilan sampel di Kelurahan Gambir Baru Kisaran untuk melihat pengaruh pengetahuan dan motivasi terhadap sikap Wanita Usia Subur untuk melakukan pemeriksaan IVA menggunakan aplikasi Amos dan Lisrel. Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dan liang senggama (vagina). Munculnya penyakit ini diakibatkan oleh sel dinding (epitel) rahim yang berkembang secara tidak normal. Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti, tapi dari beberapa

penelitian diketahui adanya human papillomavirus (HPV) sebagai penyebab lain dari penyakit ini (Misaroh dan Atikah, 2009). Diperkirakan terdapat 10.370 kasus baru kanker serviks invasif yang didiagnosis di Amerika Serikat pada tahun 2005. Pada tahun yang sama, 3.170 pasien diperkirakan meninggal akibat kanker serviks. Jumlah ini mendekati 1,3% dari kematian akibat kanker pada wanita dan 13% dari kematian akibat kanker ginekologi. Di banyak negara berkembang, kanker serviks merupakan penyebab kematian paling umum di usia reproduktif. Kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak kedua pada wanita dan menjadi penyebab lebih dari 250.000 kematian pada tahun 2005. Kurang lebih 80% kematian tersebut terjadi di negara berkembang. Tanpa penatalaksanaan yang adekuat, diperkirakan kematian akibat kanker serviks akan meningkat 25% dalam 10 tahun mendatang (Rasjidi, 2009). Banyaknya kasus kanker serviks di Indonesia semakin diperparah disebabkan lebih dari 70% kasus yang datang ke rumah sakit berada pada stadium lanjut. Untuk mengatasi hal ini perlu upaya pemecahan masalah dengan metode skrining yang mampu dan memungkinkan untuk dilakukan. Kebijakan penerapan program skrining kanker serviks di Indonesia masih tersangkut dengan banyak kendala, antara lain luasnya wilayah dan juga kurangnya sumber daya manusia sebagai pelaku skrining, khususnya kurangnya tenaga ahli patologi anatomik/sistologi dan stafnya, teknisi sitologi/skriner. Pengobatan kanker serviks pada stadium lebih dini tentu hasilnya akan lebih baik dan mortalitas akan menurun. Dengan masalah yang begitu kompleks akhirnya timbul gagasan untuk

melakukan skrining kanker serviks dengan metode yang lebih sederhana yaitu dengan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) (Delima, 2011). Hingga kini metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) sering diterapkan oleh banyak pihak sebagai metode yang relatif murah, namun tetap mampu mendeteksi kanker serviks dengan akurat. Menurut Ketua YKI (Yayasan Kanker Indonesia) Pusat Nila Moeloek mengatakan, Tes IVA jauh lebih murah dibandingkan papsmear. Jika tes papsmear menghabiskan biaya hingga Rp 50.000, tes IVA hanya berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000. Akurasi tes IVA juga hampir sama dengan tes papsmear. Bahkan, tes IVA sudah dapat mendeteksi sel pre-kanker. Ketua YKI ini juga menuturkan, Sejatinya tidak ada metode yang 100 persen akurat, namun tes IVA sudah bisa mencapai akurasi 70 persen. Ini tentu sudah cukup baik daripada tidak sama sekali. Kelurahan Gambir Baru merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kota Kisaran Kabupaten Asahan. Dari survey pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Gambir Baru terdapat 1960 WUS di Kelurahan ini. Kelurahan Gambir Baru terdiri dari 7 Lingkungan yaitu Lingkungan I, Lingkungan II, Lingkungan III, Lingkungan IV, Lingkungan V, Lingkungan VI dan Lingkungan VII. Atas dasar uraian-uraian tersebut perlu kiranya dilakukan kajian untuk mengetahui peran statistik khususnya Analisis Jalur untuk melihat pengaruh pengetahuan dan motivasi terhadap sikap WUS untuk melakukan pemeriksaan IVA menggunakan aplikasi Amos dan Lisrel di Kelurahan Gambir Baru Kisaran.

1.2 Perumusan Masalah Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: Bagaimana hasil penerapan analisis jalur untuk melihat besarnya pengaruh pengetahuan dan motivasi terhadap sikap Wanita Usia Subur (WUS) untuk melakukan Pemeriksaan IVA menggunakan aplikasi Amos dan Lisrel di Kelurahan Gambir Baru Kisaran periode November 2013. 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Menerapkan analisis jalur untuk melihat besarnya pengaruh pengetahuan dan motivasi terhadap sikap Wanita Usia Subur (WUS) untuk melakukan Pemeriksaan IVA menggunakan aplikasi Amos dan Lisrel di Kelurahan Gambir Baru Kisaran tahun 2013. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan terhadap motivasi Wanita Usia Subur (WUS) untuk melakukan pemeriksaan IVA menggunakan aplikasi Amos dan Lisrel di Kelurahan Gambir Baru Kisaran tahun 2013. 2. Untuk mengetahui pengaruh motivasi terhadap sikap Wanita Usia Subur (WUS) untuk melakukan pemeriksaan IVA menggunakan aplikasi Amos dan Lisrel di Kelurahan Gambir Baru Kisaran tahun 2013. 3. Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan terhadap sikap Wanita Usia Subur (WUS) untuk melakukan pemeriksaan IVA menggunakan aplikasi Amos dan Lisrel di Kelurahan Gambir Baru Kisaran tahun 2013.

1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi masyarakat khususnya Wanita Usia Subur (WUS) untuk lebih menambah wawasan tentang deteksi dini Kanker Serviks dengan Pemeriksaan IVA. 2. Bagi peneliti sebagai bahan pembelajaran dan penambah pengetahuan serta memahami kajian penerapan Analisis Jalur dalam teori dan praktek di lapangan menggunakan aplikasi Amos dan Lisrel. 3. Sebagai bahan masukan atau sumber informasi bagi peneliti lain.