BAB 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

dokumen-dokumen yang mirip
P D R B 7.24% 8.50% 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.89% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013

BAB 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO

Grafik 1.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau (y o y) Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara ; **) angka sangat sementara

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional

Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDRB Jawa Timur q-to-q Triwulan IV (persen)

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan IV-2012

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012

Analisis Perkembangan Industri

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

BERITA RESMI STATISTIK

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2014

Kondisi Perekonomian Indonesia

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

Ringsek KER Zona Sumbagteng Tw.I-2009 Ekonomi Zona Sumbagteng Melambat Seiring Dengan Melambatnya Permintaan Domestik

Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JANUARI 2002

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK

BAB I GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN KABUPATEN MAJALENGKA

Triwulan III Kajian Ekonomi Regional Banten

BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL

PERKEMBANGAN INFLASI ACEH

No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN IV/2012 DAN TAHUN 2012

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III

Analisis Perkembangan Industri

B O K S. I. Gambaran Umum

KATA PENGANTAR. Ir. M. Tassim Billah, M.Sc.

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BANTEN TRIWULAN II-2014

BAB 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN I-2014

Potensi Kerentanan Ekonomi DKI Jakarta Menghadapi Krisis Keuangan Global 1

BAB I PENDAHULUAN. Pencerminan tingkat inflasi merupakan persentasi kecepatan naiknya harga-harga

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014

COVER DALAM Indikator Ekonomi Kota Ternate 2015 i

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2013

Kata pengantar. Publikasi Data Strategis Kepulauan Riau Tahun merupakan publikasi perdana yang disusun dalam rangka

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan IV-2012

Kajian Ekonomi Regional Banten

BERITA RESMI STATISTIK

PDB per kapita atas dasar harga berlaku selama tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 13,8% (yoy) menjadi Rp30,8 juta atau US$ per tahun.

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan I 2014

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH

PERTUMBUHAN EKONOMI BANTEN TRIWULAN IV TAHUN 2013

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX

INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER

LAPORAN LIAISON. Triwulan I Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2015 diperkirakan masih tumbuh

BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012

1. Tinjauan Umum

Kinerja Perekonomian Indonesia dan Amanat Pasal 44 RUU APBN 2012

Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2011 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 20

BANK INDONESIA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI BALI TRIWULAN II 2014

4. Outlook Perekonomian

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH

PERKEMBANGAN INFLASI ACEH

BPS PROVINSI SULAWESI SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mengambil langkah meningkatkan BI-rate dengan tujuan menarik minat

Analisis Perkembangan Industri

Daftar Isi. Kata Pengantar... i Daftar Isi...ii Daftar Tabel...iv Daftar Grafik... v Daftar Lampiran... vii Tabel Indikator Ekonomi Terpilih

Transkripsi:

BAB 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 1.1. KONDISI UMUM Optimisme pemulihan ekonomi negara-negara mitra dagang utama sedang berlangsung meskipun belum mendorong terjadinya recovery perekonomian Kepulauan Riau di triwulan II 2009. Kontraksi ekonomi diperkirakan melandai dari 0,35% pada triwulan I (angka revisi) menjadi 0,44% (y-o-y) di periode ini. Kinerja ekspor mulai memperlihatkan perbaikan meski masih mencatat pertumbuhan negatif dari 5,5% menjadi 2,15%. Menurunnya investasi fisik secara tajam diidentifikasi sebagai penyebab dominan berlanjutnya kontraksi ekonomi di triwulan II 2009. Di sisi lain, berlangsungnya pemilu presiden cukup memberi stimulus positif terhadap perkembangan konsumsi dan sekaligus mampu menahan laju penurunan lebih lanjut. Sementara itu aspek produksi masih ditandai oleh penurunan aktivitas industri yang diperkirakan kembali berkontraksi 2,94%, dibanding triwulan sebelumnya yang mencatat kontraksi sebesar 2,66%. Selain itu, berlanjutnya perlambatan sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan dari 6,12% menjadi 5,46% turut mempengaruhi buruknya kinerja ekonomi Kepulauan Riau di triwulan ini. Adapun sektor-sektor yang masih mencatat angka pertumbuhan positif antara lain sektor Bangunan, Pengangkutan dan Jasa-jasa. Grafik 1.1. Struktur Perekonomian Kepulauan Riau Tabel 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Sektoral dan Penggunaan (yoy) 2008 2009 I II III IV I* II** KOMPONEN PENGGUNAAN 1. Konsumsi Rumah Tangga 23.04% 17.48% 18.59% 17.45% 11.42% 12.58% 2. Konsumsi Lembaga Swasta 16.74% 11.26% 11.94% 13.91% 30.78% 28.91% 3. Konsumsi Pemerintah 18.06% 13.30% 9.15% 13.01% 7.11% 8.83% 4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 26.50% 34.38% 31.22% 25.72% 16.31% 7.60% 5. Ekspor Barang dan Jasa 7.07% 5.88% 0.60% -1.39% -5.50% -2.15% 6. Impor Barang dan Jasa 12.95% 15.59% 23.46% 19.57% 16.42% 16.77% SEKTOR EKONOMI 1. Pertanian 8.37% 5.78% 2.18% -0.72% 0.08% -0.29% 2. Pertambangan & Penggalian -1.89% -2.99% -2.85% -3.09% -1.29% -1.04% 3. Industri Pengolahan 5.56% 6.35% 4.67% 1.78% -2.66% -2.94% 4. Listrik, Gas & Air Bersih 13.49% 12.34% 5.12% 1.65% -0.73% -0.66% 5. Bangunan 45.93% 42.58% 28.52% 24.03% 14.81% 13.65% 6. Perdagangan, Hotel & Restoran 10.52% 10.37% 8.36% 2.21% -0.87% -0.38% 7. Pengangkutan & Komunikasi 18.56% 16.34% 13.84% 9.64% 5.71% 5.40% 8. Keuangan, Persewaan & Jasa P'an 11.69% 10.69% 9.59% 7.10% 6.12% 5.46% 9. Jasa-Jasa 20.57% 17.47% 14.77% 10.36% 8.29% 9.12% P D R B 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.35% -0.44% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara Triwulan II 2009 5

Melandainya kontraksi ekonomi Kepulauan Riau cukup dipengaruhi oleh sinyalmen positif perkembangan ekonomi Singapura. Pemerintah Singapura mengoreksi indikator ekonomi tahun ini setelah negara itu bangkit dari resesi terburuk sejak kemerdekaannya pada tahun 1965. Kinerja industri elektronik seperti perakitan komponen computer peripherals dan data storage, industri kimia, precision engineering serta sektor konstruksi memperlihatkan perbaikan di akhir semester I tahun 2009. Kontraksi ekonomi semakin moderat dari 9,6% di triwulan I menjadi 3,7%. Laju perekonomian diproyeksi menyusut sekitar 4% - 6% di tahun 2009, lebih optimis dibanding prediksi sebelumnya yang mencapai -9%. Tanda-tanda pemulihan negara tersebut diyakini sebagai indikator membaiknya permintaan di Asia. Kondisi tersebut turut didukung oleh penguatan nilai tukar Rupiah dibarengi dengan penurunan harga gas yang berimbas pada penurunan ongkos produksi. Selanjutnya, tren kenaikan harga minyak selama periode laporan cukup menggerakkan permintaan ekspor Kepulauan Riau. Grafik 1.2. Pertumbuhan Ekonomi Kepri. &Singapura (y-o-y) Grafik 1.3. Perkembangan Kurs IDR terhadap USD dan SGD Sumber : Bank Indonesia Batam & MTI Singapore (diolah) *) Angka Sementara Sumber : Kurs Tengah Bank Indonesia Grafik 1.4. Perkembangan Harga Minyak Dunia Grafik 1.5. Perkembangan Harga Gas Internasional Sumber : Bloomberg Sumber : Bloomberg Triwulan II 2009 6

1.2. SISI PERMINTAAN 1.2.1. Konsumsi Penguatan nilai tukar Rupiah diiringi tekanan inflasi yang terus menurun semakin memberi pengaruh terhadap peningkatan konsumsi secara keseluruhan. Pola konsumsi masyarakat yang meningkat selama masa liburan sekolah menjadi faktor dominan yang mendorong akselerasi pertumbuhan konsumsi rumah tangga di triwulan berjalan. Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh 12,58%, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang meningkat 11,42% (angka revisi). Sejalan dengan tren Nasional, paket-paket stimulus pemerintah untuk mengurangi tekanan akibat krisis mulai direalisasikan di triwulan II 2009. Pengeluaran pemerintah diperkirakan tumbuh 8,83%, relatif meningkat dibanding pertumbuhan di triwulan sebelumnya sebesar 7,11%. Grafik 1.6. Laju Pertumbuhan Konsumsi (y-o-y) Pemilu Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (diolah) Stabilitas perekonomian Nasional sepanjang semester I 2009 cukup didorong oleh adanya pemilu legislatif yang dilanjutkan dengan pemilihan presiden di awal bulan Juli. Aktivitas kampanye partai politik memberi kontribusi yang signifikan dalam mengkompensir laju penurunan konsumsi rumah tangga dan pemerintah di awal tahun 2009. Kondisi tersebut ditunjukkan dengan pesatnya peningkatan konsumsi lembaga swasta nirlaba di periode semester I 2009. Terus berlanjutnya tren penguatan nilai tukar Rupiah direspon dengan meningkatnya impor barang-barang kebutuhan konsumsi masyarakat. Beberapa produk konsumsi yang mengalami kenaikan permintaan antara lain daging-dagingan, ikan, udang, susu, buahbuahan dan sayur-sayuran. Impor produk daging mencatat kenaikan terbesar dari US$ 825 ribu pada bulan April 2009 menjadi US$ 1,5 juta di bulan Mei 2009. Diikuti kenaikan buahbahan dan kacang-kacangan, dari US$ 617 ribu menjadi US$ 935 ribu. Triwulan II 2009 7

Grafik 1.7. Perkembangan Impor Barang Konsumsi Grafik 1.8. Perkembangan Impor Komoditas Konsumsi Sumber : SEKDA - BI Sumber : SEKDA - BI Sementara itu daya beli masyarakat petani diperkirakan relatif menurun sejalan dengan penurunan harga-harga komoditas internasional dan berakhirnya musim panen, terlebih untuk komoditas ikan-ikanan. Berdasarkan hasil pemantauan terhadap harga-harga pedesaan di Provinsi Kepulauan Riau pada bulan April 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mengalami penurunan sebesar 2,92 poin dibanding bulan Maret 2009, dari 103,08 menjadi 100,06. Penyebab utama berasal dari penurunan indeks harga hasil produksi pertanian atau indeks yang diterima petani di sektor perikanan sebesar 8,05 poin, dari 130,72 menjadi 120,19. Grafik 1.9. Perkembangan Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) ` Grafik 1.10. Penjualan Semen di Kepulauan Riau Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau Sumber : Asosiasi Semen Indonesia Untuk konsumsi non makanan, tren peningkatan baru terjadi pada indikator penjualan semen dimana selama bulan Mei dan Juni 2009 mulai memperlihatkan pertumbuhan yang membaik. Sedangkan indikator penjualan kendaraan bermotor masih memperlihatkan tren menurun sampai dengan akhir triwulan II 2009. Bersamaan dengan itu, realisasi kredit perbankan juga belum menunjukkan pemulihan. Hal ini disebabkan hampir Triwulan II 2009 8

40% dari total kredit konsumsi yang disalurkan perbankan di Kepualauan Riau ditujukan untuk pembelian kendaraan bermotor, dan selebihnya untuk pembiayaan KPR dan lain-lain. Grafik 1.11. Penjualan Kendaraan Bermotor Baru Grafik 1.12. Kredit Konsumsi Perbankan Kepri. Sumber : Dinas Pendapatan Daerah (diolah) Sumber : Laporan Bulanan Bank 1.2.2. Investasi Iklim investasi di Kepulauan Riau khususnya kota Batam dianggap masih cukup kondusif, baik oleh investor domestik maupun asing. Status sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dalam bentuk kawasan berikat (bonded zone), selain menghemat biaya dalam bentuk insentif fiskal, juga memberi kemudahan lalu lintas bahan baku dan barang modal. Perlakuan khusus tersebut pada 1 April 2009 ditingkatkan sebagai Free Trade Zone (FTZ) untuk wilayah Batam, Bintan dan Karimun merupakan critical factor bagi provinsi Kepulauan Riau dalam menarik investasi asing dibanding provinsi lainnya di Indonesia. Setelah beroperasi secara efektif sampai dengan pertengahan 19 Juni 2009, investasi asing di Batam mulai menunjukkan perkembangan yang positif dimana pada masa tersebut terdapat aplikasi penanaman modal asing mencapai 11 proyek senilai US$ 6,5 juta dengan daya serap tenaga kerja diperkirakan sebanyak 375 pekerja. Selain itu terdapat dua proyek perluasan dengan nilai investasi US$ 4,9 juta dengan perkiraan penyerapan tenaga kerja sebanyak 391 pekerja. Secara keseluruhan terhitung sejak 1 Januari sampai 19 Juni 2009 telah dikeluarkan persetujuan investasi dari penanaman modal asing sebanyak 40 perusahaan dengan rencana investasi senilai US$ 30,87 juta dan target penyerapan tenaga kerja sebanyak 2.070 orang. Namun demikian, besarnya persetujuan rencana investasi tersebut belum diikuti oleh realisasi proyek dalam bentuk pembangunan fisik. Pertumbuhan investasi Pembentukan Modal tetap Bruto (PMTB) selama triwulan II 2009 diperkirakan sebesar 7,6%, menurun dibanding di triwulan I yang mencatat pertumbuhan sebesar 16,31% (angka revisi). Penurunan angka realisasi investasi tidak terlepas dari ketidakpastian ekonomi di negara- Triwulan II 2009 9

negara prinsipal utama seperti Singapura, AS, Jepang, dan Eropa. Kesulitan finansial yang dialami negara-negara tersebut mempengaruhi langkah ekspansi yang akan dilakukan di wilayah Kepulauan Riau, baik dalam bentuk investasi baru maupun perluasan usaha. Grafik 1.13. Perkembangan Investasi PMTB Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (diolah) Melambatnya investasi PMTB di triwulan II 2009 cukup teridentifikasi dari penurunan nilai impor barang modal (capital goods) yang masuk ke wilayah kepabeanan Kepulauan Riau. Sejak awal tahun 2009, koreksi impor barang modal terus berlangsung sampai dengan bulan Mei 2009. Nilai impor selama bulan April dan Mei 2009 sebesar US$ 644 juta, turun mencapai 45% dibanding periode yang sama tahun 2008 sebesar US$ 1.171 juta. Sementara itu pembiayaan kredit investasi perbankan pada posisi Juni 2009 masih memperlihat perlambatan. Outstanding kredit investasi tercatat sebesar Rp 2,5 triliun atau tumbuh 9,5% dibanding tahun 2008, sedangkan pada posisi triwulan I 2009 masih tumbuh 13,4%. Meski demikian, pertumbuhan kredit investasi selama periode triwulan II relatif stabil dengan kecenderungan meningkat di akhir Juni 2009. Kondisi tersebut mengindikasikan optimisme pengusaha dalam menghadapi kondisi perekonomian ke depan. Melihat banyaknya proyek investasi yang sedang berjalan seperti pembangunan Hotel Aston Internasional, Hotel Harmony One, Batam City Condominium, Apartemen Harris, Kantor Pemerintahan di Pulau Dompak, Water Treatment Plan (WTP) Duriangkang III oleh perusahaan air minum PT. Adhya Tirta Batam, serta lanjutnya pengerjaan proyek-proyek properti residensial perkembangan investasi di Kepulauan Riau ke depan diproyeksi akan tumbuh sebaik kondisi di tahun 2008. Triwulan II 2009 10

Grafik 1.14. Perkembangan Impor Capital Goods Grafik 1.15. Kredit Investasi Perbankan Kepulauan Riau Sumber : SEKDA - BI Sumber : Laporan Bulanan Bank 1.2.3. Ekspor-Impor Resesi yang dialami beberapa negara prinsipal bersamaan dengan menurunnya konsumsi secara global berdampak langsung pada buruknya kinerja ekspor Kepulauan Riau setahun terakhir. Kontraksi ekspor yang terjadi sejak triwulan IV 2008 diperkirakan masih berlanjut di triwulan II 2009 yang mengalami penurunan sebesar 2,15%, lebih optimis dibanding triwulan I yang mencatat kontraksi sebesar 5,5% (angka revisi). Membaiknya kontraksi ekspor berpotensi berlanjut di triwulan selanjutnya seiring proses recovery di negara-negara mitra dagang utama yang terus berjalan. Kondisi tersebut juga ditandai dengan berakselerasinya impor meski dalam level yang sangat terbatas. Grafik 1.16. Pertumbuhan Ekspor dan Impor Kepulauan Riau (y-o-y) Periode Krisis Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (diolah) Ditinjau dari volume perdagangan, arah pembalikan ekspor dipengaruhi oleh meningkatnya ekspor barang-barang dari besi dan baja selama bulan April dan Mei 2009. Barang-barang besi dan baja yang diekspor pada bulan April 2009 sebanyak 20,4 juta Kg atau mengalami kenaikan 1,4% dibanding posisi April 2008. Sedangkan pada bulan Mei 2009 tercatat sebanyak 33,56% atau meningkat 31,6% dibanding tahun sebelumnya. Triwulan II 2009 11

Bersamaan dengan itu impor barang-barang dari besi dan baja serta bahan dasar besi dan baja juga mengalami peningkatan. Kondisi ini dapat dijadikan sebagai indikasi awal adanya optimisme pada industri logam dasar. Di samping itu penyelesaian beberapa proyek konstruksi seperti Hotel Aston Internasional, Batam City Condominium, Apartemen Harris, Water Treatment Plan (WTP) Duriangkang III oleh perusahaan air minum PT. Adhya Tirta Batam yang memiliki kapasitas layanan mencapai 500 liter per detik, serta beberapa proyek properti. Adapun aktivitas industri elektronik dan mesin-mesin diperkirakan belum pulih sebagaimana terlihat dari tren impor dan ekspor yang relatif stagnan selama triwulan laporan. Grafik 1.17. Perkembangan Volume Produk Ekspor Utama Grafik 1.18. Perkembangan Volume Produk Impor Utama Grafik 1.19. Volume Ekspor ke Negara Tujuan Utama Grafik 1.20. Volume Impor dari Negara Asal Utama Sumber : Statistik Ekonomi dan Keuangan Daerah Bank Indonesia Berdasarkan negara tujuan dan asal barang dapat diketahui bahwa pamanfaatan peluang pasar oleh industri-industri manufaktur telah dilakukan secara optimal. Hal ini terlihat dari signifikannya kenaikan ekspor ke Cina, merespon pemulihan ekonomi negara tersebut yang diperkirakan berlangsung lebih cepat dari kekhawatiran banyak pihak. Volume ekspor ke Cina pada bulan April-Mei 2009 rata-rata sebanyak 616 juta Kg, meningkat tajam Triwulan II 2009 12

dibanding rata-rata ekspor selama Januari-Maret 2009 yang tercatat sebanyak 113 juta Kg. Peningkatan ini relatif mengkompensir penurunan ekspor ke Singapura, sebagai pangsa ekspor utama Kepulauan Riau. Indikasi pembalikan ekspor juga terkonfirmasi dari melonjaknya volume peti kemas yang dimuat untuk tujuan internasional pada bulan Juni 2009 yang tercatat sebanyak 6.486 Teus sedangkan di bulan April dan Mei masing-masing tercatat sebesar 4.557 Teus dan 4.321 Teus. Secara keseluruhan, volume Muat kontainer tujuan internasional selama triwulan II 2009 sebanyak 15.364 Teus, sedangakan di triwulan I hanya hanya tercatat sebanyak 14.540 Teus. Selain itu, volume perdagangan dalam negeri juga menunjukkan optimisme sebagai terlihat pada tren kenaikan bongkar-muat kontainer domestik dai pelabuhan utama kota Batam. Grafik 1.21. Aktivitas Peti Kemas Domestik Grafik 1.22. Aktivitas Peti Kemas Internasional Sumber : Otorita Batam, Pelabuhan FTZ Batam : Batu Ampar, Sekupang dan Kabil. 1.3. SISI PENAWARAN Realisasi investasi fisik di sektor industri pengolahan, konstruksi dan pengangkutan diperkirakan masih melambat merespon turunnya pertumbuhan di ketiga sektor tersebut. Sementara itu melandainya tingkat kontraksi ekspor di triwulan ini belum berpengaruh besar terhadap perbaikan kinerja sektor industri. Adapun akselerasi di sektor jasa-jasa diperkirakan ditopang oleh aktivitas ekonomi selama masa pemilu. 1.3.1. Sektor Industri Pengolahan Sektor industri diperkirakan masih mengalami kontraksi pertumbuhan di triwulan II 2009 sekitar 2,94%, lebih intens dibanding triwulan I 2009 yang menurun 2,66% (angka revisi). Perlambatan masih dibayangi oleh ketidakpastian global walaupun beberapa negara Triwulan II 2009 13

mulai merevisi target pertumbuhan secara lebih optimis. Kontribusi penurunan di triwulan ini berasal dari lesunya aktivitas di industri Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya, diikuti oleh industri pengolahan Kayu, serta Logam Dasar Besi dan Baja. Nilai tambah yang dihasilkan dari industri Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya di triwulan II-2009 diperkirakan turun 2,13% atau sekitar Rp 53 milyar dibanding posisi yang sama tahun 2008. Sedangkan industri Kayu dan Logam Dasar (besi dan baja) masing-masing berkontraksi sebesar 11,63% dan 2,7%. Seluruh sub-sektor industri pengolahan lainnya seperti industri Makanan, Tekstil, Kertas, Pupuk, Kimia dan Semen juga masih mengalami pertumbuhan negatif di triwulan laporan. Grafik 1.23. Pertumbuhan Sub-Sektor Industri Pengolahan Tw.I & Tw.II-2009 Grafik 1.24. Pertumbuhan GDP Singapura, Sektor Manufaktur, Konstruksi dan Jasa (yoy) Sumber : BPS Kepulauan Riau, diolah Sumber : MTI Singapore - Juli 2009 *) angka sementara Sektor industri pengolahan di provinsi Kepulauan Riau memiliki keterkaitan dengan beberapa sektor industri manufaktur Singapura, antara lain elektronik, mesin dan alat angkutan. Investasi Singapura mencapai 60% dari US$ 4,86 milyar kumulatif investasi asing yang masuk ke Batam sampai dengan tahun 2008, baik dalam bentuk investasi langsung (foreign direct investment) maupun joint venture. Di triwulan II 2009, Departemen Perindustrian dan Perdagangan Singapura mengestimasi terjadinya kenaikan output di sektor manufaktur, diperlihatkan dengan tingkat kontraksi yang melandai dari -24,3% (revisi) menjadi -1,5%, terutama dipengaruhi oleh peningkatan kinerja industri biomedical dan kenaikan output sektor elektronik terkait dengan inventory restocking. Namun demikian, industri farmasi, industri mesin, serta industri perkapalan dan pengerjaan lepas pantai (offshore engineering) masih akan terkoreksi lebih tajam di triwulan ini. Penurunan kinerja beberapa sektor industri manufaktur tersebut diperkirakan berpengaruh signifikan terhadap lesunya aktivitas industri pengolahan di Kepulauan Riau. Triwulan II 2009 14

Grafik 1.25. Perkembangan Nilai Impor Utama Sektor Industri Pengolahan Grafik 1.26. Perkembangan Volume Impor Utama Sektor Industri Pengolahan Sumber : SEKDA - BI Sumber : SEKDA - BI Perkembangan volume ekspor dan impor produk utama sektor Industri Pengolahan (termasuk Kawasan Berikat) cukup mengkonfirmasi kondisi tersebut. Impor bahan baku elektronik, mesin-mesin dan perlengkapan kantor masih berjalan stagnan, sejalan dengan pola ekspornya. Di lain pihak, impor perlengkapan transportasi dan barang kimia memperlihatkan peningkatan selama bulan April dan Mei 2009, yang diperkirakan berpengaruh positif terhadap peningkatan ekspor produk-produk tersebut di triwulan selanjutnya. Aspek pembiayaan perbankan juga memperlihatkan pola konvergen dengan penurunan output industri manufaktur. Melambatnya pertumbuhan kredit untuk sektor industri masih berlanjut di triwulan II-2009. Grafik 1.27. Perkembangan Kredit Sektor Industri Pengolahan Sumber : Laporan Bulanan Bank 1.3.2. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Meningkatnya konsumsi masyarakat dan pemerintah bersamaan dengan lalu lintas barang di pelabuhan yang semakin lancar berimplikasi positif dalam mendorong aktivitas Triwulan II 2009 15

sektor perdagangan, baik perdagangan besar maupun eceran. Di triwulan II, penurunan output sektor Perdagangan diperkirakan lebih moderat dibanding triwulan sebelumnya, dari - 1,48% (angka revisi) menjadi -0,76%. Arah membaiknya kinerja sektor Perdagangan dikonfirmasi oleh kenaikan volume bongkar-muat kontainer di 3 pelabuhan Free Trade Zone (FTZ) kota Batam, baik domestik maupun internasional, sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Grafik 1.28. Pertumbuhan PDRB Sub-sektor Perdagangan, Hotel & Restoran Grafik 1.29. Pertumbuhan Kredit Sektor Distribusi, Perdagangan Eceran, Hotel & Restoran Sumber : BPS Kepulauan Riau, diolah Sumber : Laporan Bulanan Bank Adapun perbaikan kinerja industri perhotelan dan restoran diperkirakan masih tertahan merespon perlambatan di sektor-sektor ekonomi lainnya. Sejak pemberlakuan regulasi bebas fiskal bersamaan dengan menurunnya daya beli domestik dan global akibat krisis finansial, aktivitas sektor hotel dan restoran terus menurun. Kondisi ini diperparah dengan merebaknya virus H1N1 di Singapura dengan penemuan mencapai 89 kasus sampai akhir Juni 2009. Pertumbuhan output industri perhotelan diperkirakan menurun dari 2,28% menjadi 1,59% pada triwulan laporan. Sedangkan industri Restoran diproyeksi melambat dari 1,71% menjadi 1,28%. Perkembangan di sisi pembiayaan cukup sejalan dengan prakiraan makro tersebut. Kontraksi pertumbuhan kredit untuk kegiatan usaha perdagangan eceran pada posisi Juni 2009 melandai dibanding posisi triwulan I 2009, dari -5,29% menjadi -3,77%. Sementara pertumbuhan kredit untuk sektor hotel dan restoran terus menurun hingga berkontraksi sebesar 8,04% di triwulan laporan, sedangkan di triwulan sebelumnya masih mencatat pertumbuhan sebesar 2,53%. Permintaan atas pembiayaan sektor-sektor tersebut mulai memperlihatkan tren meningkat di bulan Juni 2009, setelah bulan Mei sebelumnya mengalami kondisi terburuk sejak provinsi Kepulauan Riau berdiri pada tahun 2002. Belum pulihnya industri Perhotelan di Kepulauan Riau terlihat dari penurunan tingkat hunian (occupancy rate) selama tahun 2009. Tingkat hunian hotel berbintang di bulan Mei Triwulan II 2009 16

2009 relatif meningkat dibanding bulan sebelumnya dari 35,57% menjadi 39,22%. Namun jauh menurun dibanding tingkat hunian di bulan Mei 2008 diperkirakan sebesar 46,17%. Grafik 1.30. Tingkat Hunian Hotel Berbintang (occ.rate) Grafik 1.31. Volume Penumpang (Domestik & Int l) yang Datang Melalui Bandara Hang Nadim Batam Sumber : BPS Kepulauan Riau, diolah Sumber : Otorita Batam, Bandara Hang Nadim - Batam Tabel 1.2. Pangsa Wisatawan Mancanegara yang Berkunjung ke Kepulauan Riau Kebangsaan Pangsa (%) May-08 Apr-09 May-09 Singapura 55.47% 53.95% 55.62% Malaysia 16.28% 14.93% 15.64% Korea Selatan 6.59% 3.61% 3.11% Jepang 2.50% 2.75% 2.77% India 3.49% 3.04% 3.57% Inggris 2.16% 2.62% 2.40% China 1.52% 1.93% 1.73% Australia 1.55% 2.23% 1.78% Amerika Serikat 1.35% 1.38% 1.53% Jerman 0.71% 0.91% 0.78% Taiwan 0.61% 0.69% 0.44% Belanda 0.43% 0.47% 0.51% Lainnya 7.34% 11.49% 10.10% Jumlah Wisman 140.033 118.938 121.379 Sumber : BPS Kepulauan Riau Kondisi ini sejalan dengan indikator jumlah kunjungan melalui bandara Hang Nadim Batam yang mulai memperlihatkan tren meningkat dalam 2 bulan terakhir. Adapun komposisi wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke wilayah Kepualuan Riau tidak banyak mengalami perubahan. Pangsa kunjungan wisman yang berasal dari Singapura kembali meningkat, dimana pada bulan Februari 2009 sebanyak 42,6%, di akhir Mei 2009 telah mencapai 55,62%. Namun secara keseluruhan, kunjungan wisman ke wilayah Kepulauan Riau di bulan Mei turun sekitar 13% dibanding tahun sebelumnya, dari 140.333 orang menjadi 121.379 orang. Berdasarkan data realisasi kunjungan wisman selama bulan April dan Mei 2009, merebaknya virus H1N1 belum berpengaruh terhadap kondisi pariwisata di Kepulauan Riau. Triwulan II 2009 17

1.3.3. Sektor Bangunan Sektor bangunan di Kepulauan Riau diperkirakan mulai pulih memasuki akhir triwulan II 2009 sebagaimana diindikasikan oleh indikator pertumbuhan kredit sektor konstruksi dan properti yang bergerak naik di bulan Juni 2009. Pembangunan beberapa proyek konstruksi baik properti residensial, hotel, apartemen/kondominium, dan berbagai sarana publik lainnya menahan laju perlambatan sektor bangunan yang diperkirakan tumbuh 13,65% di triwulan ini. Sektor bangunan sempat mengalami masa booming sejak semester II tahun 2007 sampai dengan akhir tahun 2008 dengan tingkat pertumbuhan rata-rata di atas 30%, sebelum akhirnya terkoreksi tajam di triwulan I 2009 yang tumbuh 14,81% (angka revisi). Penyaluran kredit konstruksi pada posisi Juni 2009 tercatat sebesar Rp 927 milyar atau naik 19,7% (yoy), jauh menurun dibanding posisi triwulan I yang masih tumbuh sebesar 33,48%. Tingkat pertumbuhan terendah diperkirakan terjadi pada bulan Mei 2009 yang hanya mencatat pertumbuhan sebesar 16%. Grafik 1.32. Perkembangan Sektor Bangunan Grafik 1.33. Perkembangan Kredit Konstuksi Sumber : BPS Kepulauan Riau Sumber : Laporan Bulanan Bank Optimisme juga didorong oleh meningkatnya realisasi pengadaan semen di Kepulauan Riau sepanjang periode April - Juni 2009. Konsumsi semen di bulan Juni tercatat sekitar 66 ribu ton atau meningkat 8,9% dibanding posisi yang sama tahun 2008. Sedangkan di bulan Maret sampai dengan Mei 2009 mengalami kontraksi pertumbuhan yang cukup besar. Namun secara triwulan, konsumsi semen selama triwulan II menurun dibanding triwulan I, dari 181 ribu ton menjadi 166 ribu ton. Berdasarkan indikator impor komoditi utama sektor bangunan dapat diketahui bahwa terdapat tren kenaikan impor produk besi, baja, kayu dan furniture. Sementara impor keramik cenderung menurun dibanding bulan-bulan sebelumnya. Berbagai indikator sektor riil tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar aktivitas sektor bangunan masih Triwulan II 2009 18

didorong oleh kegiatan konstruksi, sedangkan sektor properti diperkirakan baru berakselerasi di akhir tahun 2009. Grafik 1.34. Volume Penjualan Semen di Kepulauan Riau Grafik 1.35. Perkembangan Volume Impor Utama Sektor Bangunan Sumber : Asosiasi Semen Indonesia Sumber : SEKDA - BI Pertumbuhan sektor properti yang masih tertahan terkonfirmasi dari indikator pembiayaan perbankan lokal. Total kredit properti yang disalurkan Bank Umum dan BPR di Kepulauan Riau pada posisi Juni 2009 sebesar Rp 3,31 triliun atau naik 13,8%, terkoreksi dibanding posisi triwulan I tumbuh 17,6% (yoy). Perlambatan sebagian besar berasal dari menurunnya pertumbuhan kredit pemilikian rumah (KPR) tipe di atas 70 m 2, dari 46% di posisi Maret menjadi 20,2% di bulan Juni 2009. Adapun penurunan KPR untuk tipe 70 m 2 relatif kecil, dari 18% menjadi 16,2%. Grafik 1.36. Perkembangan KPR Type <70m 2 Grafik 1.37. Perkembangan KPR Type >70m 2 Sumber : Laporan Bulanan Bank Tingginya persaingan untuk rumah tipe sederhana akibat jumlah rumah bersubsidi yang dibangun telah melebihi kebutuhan (over supply) berdampak pada penurunan harga rumah yang dijual. Namun demikian penurunan harga tersebut belum direspon dengan meningkatnya permintaan KPR rumah tipe < 70 m 2. Sebaliknya, rumah mewah diperkirakan mengalami kenaikan harga di triwulan II ini akibat kenaikan relatif harga bahan bangunan Triwulan II 2009 19

ditambah penurunan suku bunga KPR perbankan yang masih tertahan. Kondisi tersebut diduga sebagai salah satu penyebab tajamnya koreksi pertumbuhan KPR perbankan untuk tipe > 70 m 2. 1.3.4. Pertambangan dan Penggalian Kinerja sektor Pertambangan dan Penggalian terus membaik dipengaruhi oleh meningkatnya output yang dihasilkan dari aktivitas pertambangan minyak dan gas (migas). Kontraksi pertumbuhan semakin melandai dari -1,29% (angka revisi) pada triwulan I 2009 menjadi -1,04% di periode laporan. Sejalan dengan itu, kontraksi output yang berasal dari aktivitas pertambangan migas terus mengecil dari -2,13% menjadi -1,77%. Peningkatan kinerja sektor pertambangan belum dipengaruhi oleh faktor fundamental, namun lebih karena tren kenaikan harga minyak dunia. Asesmen tersebut didasarkan pada realisasi lifting minyak dan gas yang cenderung stagnan selama bulan April- Juni 2009. Grafik 1.38. Pertumbuhan PDRB Sub Sektor Pertambangan Migas & Non Migas, serta Penggalian Grafik 1.39. Pertumbuhan Kredit Sub Sektor Pertambangan Migas, Bijih Logam & Lainnya Sumber : BPS Kepulauan Riau Sumber : Laporan Bulanan Bank Sebagai penghasil minyak utama yakni sebesar 65% dari total produksi minyak Kepulauan Riau, produksi yang dihasilkan lapangan minyak Belanak berkontribusi besar terhadap nilai tambah perekonomian yang mampu dihasilkan dari sektor migas Kepulauan Riau. Hasil produksi dari blok tersebut relatif menurun di triwulan II, seiring dengan tingginya angka pencapaian produksi sampai dengan bulan Juni 2009 sebesar 97,2% dari prognosa lifting tahun 2009 yang ditetapkan sebesar 8.935 ribu barel. Sementara itu akumulasi realisasi lifting minyak di lapangan Belida dan Kerapu tercatat masih cukup rendah, masingmasing sebesar 34% dan 37%. Secara agregat, pencapaian total produksi minyak Kepulauan Riau selama semester I 2009 diperkirakan sebesar 12,1 juta barel, atau 59% dari prognosa tahun 2009 yang ditetapkan sebesar 20,51 juta barel. Triwulan II 2009 20

Grafik 1.40. Perkembangan Lifting Minyak Kepri Grafik 1.41. Perkembangan Lifting Gas Kepulauan Riau Sumber : ESDM Dirjen Minyak & Gas Bumi Sumber : ESDM Dirjen Minyak & Gas Bumi Adapun pencapaian lifting gas Kepulauan Riau selama periode semester I tahun 2009 tergolong cukup optimal. Total produksi gas dari lapangan gas Conoco Phillips selama Januari-Juni 2009 tercatat sebesar 76 juta MMBTU atau 60,7% dari target produksi 2009. Sedangkan pencapaian lifting gas dari lapangan gas Kakap dan Premier Oil masing-masing sekitar 43,5$ dan 60,7%. Implikasinya, total produksi gas dari wilayah Kepulauan Riau selama semester I 2009 mencapai 111 juta MMBTU, atau 58,7% dari target lifting gas untuk tahun 2009 sebesar 189 juta MMBTU. 1.3.5. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Stagnasi sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan di periode ini dipengaruhi oleh turunnya kinerja industri perbankan. Pertumbuhan output diperkirakan melambat dari 6,12% (angka revisi) di triwulan I 2009 menjadi 5,46%, dimana laju pertumbuhan industri perbankan juga diproyeksi turun dari 6,83% menjadi 6,03%. Kinerja perbankan regional Kepulauan Riau masih dibayangi oleh ketidakpastian dunia usaha yang berimplikasi pada turunnya pertumbuhan kredit dari 23,9% menjadi 16,8%. Outstanding kredit yang disalurkan per posisi Juni 2009 mencapai Rp 11,4 triliun. Bersamaan dengan itu laju pertumbuhan dana juga menurun dari 24,8% menjadi 18,8%. Di tengah penurunan tersebut terdapat pertambahan dana dalam jumlah signifikan selama bulan Juni 2009 mencapai Rp 503 milyar, berselang berakhirnya pemilihan Legislatif menuju pemilihan umum Presiden Indonesia. Triwulan II 2009 21

Grafik 1.42. Pertumbuhan PDRB Sub-Sektor Bank, LKBB, Sewa Bangunan & Jasa Perusahaan Grafik 1.43. Pertumbuhan Aset, DPK & Kredit Perbankan Kepulauan Riau Sumber : BPS Kepulauan Riau, diolah Sumber : Laporan Bulanan Bank Dampak krisis terhadap resiko perbankan terlihat mulai mereda di akhir triwulan II. Tingkat kredit bermasalah (NPL s) turun menjadi 2,72%, dibanding triwulan I sebesar 2,91%. Penurunan BI Rate mulai direspon perbankan dengan meningkatkan fungsi intermediasi dalam penyaluran kredit. Imbasnya, rasio LDR meningkat hampir 2%, dari 63,9% menjadi 65,8%. Grafik 1.44. Perkembangan LDR & NPL Perbankan Grafik 1.45. Perkembangan Kredit Sektor Jasa Dunia Usaha Sumber : Laporan Bulanan Bank Sumber : Laporan Bulanan Bank Sementara itu aktivitas di sektor jasa perusahaan semakin menurun dari -2,01% menjadi -2,16%. Melambatnya aktivitas sektor riil berkorelasi langsung terhadap industri jasa pendukung. Kontraksi output industri jasa perusahaan tercermin dari turunnya pertumbuhan kredit sampai dengan akhir triwulan II. Laju penurunan semakin intens hingga mencapai - 7,73%. 1.3.6. Sektor Lainnya Pertumbuhan sektor-sektor ekonomi lainnya yang dihitung dalam PDRB juga mengalami tingkat koreksi yang lebih landai dibanding periode-periode sebelumnya. Triwulan II 2009 22

Berbagai isu terkait seperti kebijakan bebas fiskal dan wabah virus H1N1 diduga mempengaruhi mobilitas sumber daya. Imbasnya, sektor Pengangkutan dan Komunikasi tumbuh melambat dari 5,71% menjadi 5,4% di triwulan laporan. Sementara itu tren penurunan harga komoditas dan tekanan inflasi, serta berkahirnya musim panen komoditas perikanan berkorelasi negatif terhadap pendapatan masyarakat petani. Output sektor Pertanian diproyeksi turun 2,15%, lebih besar dibanding penurunan di triwulan I 2009 sebesar 1,8%. Berbagai indikator penting yang terkait dengan asesmen tersebut antara lain jumlah kunjungan kapal di pelabuhan, ekspor komoditas pertanian, produksi dan produktivitas sektor tanaman pangan, serta pertumbuhan kredit perbankan cukup menggambarkan kondisi yang terjadi selama triwulan II 2009. Grafik 1.46. Jumlah Kunjungan Kapal Barang (bendera Indonesia & bendera Asing) Grafik 1.47. Pertumbuhan Kredit Sub-sektor Pengangkutan, Biro Perjalanan & Komunikasi Sumber : Otorita Batam, Pelabuhan Batu Ampar, Kabil dan Sekupang Batam Sumber : SEKDA - BI Grafik 1.48. Perkembangan Ekspor Komoditas Ikan, Udang dan Kepiting Grafik 1.49. Pertumbuhan Kredit Sub-sektor Tanaman Pangan, Perikanan & Peternakan Sumber : SEKDA - BI Sumber : Laporan Bulanan Bank (BU+BPR) Triwulan II 2009 23

Grafik 1.50. Produksi Padi, Jagung & Kacang Tanah Grafik 1.51. Produktivitas Padi, Jagung & Kacang Tanah Sumber : BPS Kepulauan Riau *Angka Tetap ; **Angka Ramalan Sumber : BPS Kepulauan Riau *Angka Tetap ; **Angka Ramalan Triwulan II 2009 24

BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI REGIONAL 2.1 INFLASI KOTA BATAM 2.1.1. Kondisi Umum Laju inflasi Kota Batam pada triwulan II 2009 tercatat relatif rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Krisis keuangan global juga mempengaruhi terhadap rendahnya permintaan sehingga berpengaruh pada turunnya harga di wilayah Kota Batam. Selain itu, turunnya harga komoditas dunia serta peningktan supply barang kebutuhan pokok dari wilayah pemasok juga ikut mempengaruhi rendahnya laju inflasi di Kota Batam. Sampai dengan triwulan II 2009 laju inflasi tahun kalender Kota Batam tercatat sebesar 0,21% (ytd) jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun 2008 yang tercatat sebesar 5,94% (ytd). Melanjutkan trend triwulan-triwulan sebelumnya, laju inflasi Batam pada triwulan II 2009 juga berada di bawah laju inflasi nasional. Secara tahunan inflasi Kota Batam tercatat sebesar 2,52% (yoy) di bawah angka inflasi tahunan nasional yang tercatat sebesar 3,65% (yoy). Turunnya harga komoditas dunia serta berakhirnya musim utara di akhir triwulan I 2009 ikut berpengaruh pada rendahnya laju inflasi di Kota Batam pada triwulan II 2009. Grafik 2.1 Perkembangan Laju Inflasi Tahunan Batam & Nasional Sumber : BPS data diolah Triwulan II 2009 25

2.1.2. Inflasi Triwulanan Jika pada triwulan awal 2009 Kota Batam mengalami inflasi yang relatif tinggi ecara triwulanan yaitu sebesar 0,65% (qtq) maka, pada triwulan II 2009 Kota Batam mengalami deflasi atau penurunan harga sebesar 0,43% (qtq). Penurunan harga pada triwulan laporan tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan harga yang terjadi di bulan April 2009 yang mengalami deflasi sebesar 0,61% (mtm). Sedangkan pada bulan Mei dan Juni 2009 Kota Batam mengalami inflasi masing-masing sebesar 0,03% (mtm) dan 0,15% (mtm). Deflasi yang cukup tinggi di bulan April 2009 terutama dipengaruhi oleh penurunan harga yang terjadi di kelompok bahan makanan khususnya sub kelompok ikan segar. Pengaruh musiman sangat berpengaruh pada penurunan harga yang terjadi di bulan ini. Berakhirnya musim utara menyebabkan aktivitas pelayaran dan distribusi barang kembali lancar. Para nelayan juga dapat kembali melaut dengan hasil yang jauh lebih besar dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Bertiupnya angin utara di bulan Januari dan Februari yang menyebabkan mereka tidak bisa melaut pada bulan-bulan tersebut berdampak pada peningkatan jumlah ikan di laut. Melimpahnya jumlah ikan segar di laut menyebabkan pasokan ikan untuk memenuhi kebutuhan ikan masyarakat Kota Batam terpenuhi bahkan cenderung mengalami surplus. Kelebihan pasokan ikan segar ini mengakibatkan penurunan harga ikan baik di level distributor maupun di level konsumen. Mengingat share ikan segar khususnya dan bahan makanan pada umumnya yang cukup besar dalam pembentukan harga di Kota Batam, penurunan harga ikan segar ini berpengaruh cukup besar sehingga Kota Batam mengalami deflasi di bulan April 2009. Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Triwulanan Kota Batam KELOMPOK Triwulan I -2009 Triwulan II -2009 Inflasi Sumbangan Inflasi Sumbangan I Bahan Makanan 1,02 0,24-1,93-0,46 II Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 3,57 0,57 1,17 0,19 III Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar 0,30 0,08 0,16 0,04 IV Sandang 5,48 0,38-3,56-0,25 V Kesehatan 0,34 0,02 1,38 0,06 VI Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 0,20 0,01 0,00 0 VII Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan -3,36-0,65-0,03-0,01 Sumber : BPS (diolah) INFLASI 0.65-0,43 Berdasarkan kontribusinya, pada triwulan II 2009 kelompok bahan makanan menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan angka kontribusi sebesar 0,46% (qtq). Pada triwulan laporan kelompok ini mengalami penurunan harga sebesar 1,93% (qtq). Penurunan harga Triwulan II 2009 26

yang terjadi di kelompok bahan makanan diikuti oleh penurunan harga kelompok sandang dengan kontribusi sebesar 0,25% (qtq) dan angka deflasi sebesar 3,56% (qtq). Sementara itu kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan masih melanjutkan trend penurunan harga sebagai akibat dampak dari penurunan BBM dengan kontribusi deflasi sebesar 0,01% (qtq) dengan penurunan harga sebesar 0,03% (qtq). Sementara tiga kelompok tersebut di atas mengalami penurunan harga, tiga kelompok lainnya mengalami kenaikan harga dengan kontribusi yang tidak sebesar tiga kelompok yang mengalami penurunan harga. Kelompok yang menyumbang inflasi tertinggi pada triwulan II 2009 adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dengan kontribusi inflasi sebesar 0,19% (qtq) dan angka inflasi sebesar 1,17% (qtq). Kelompok berikutnya yang mengalami kenaikan harga adalah kelompok kesehatan dengan kontribusi inflasi sebesar 0,06% (qtq) dan angka inflasi sebesar 1,38% (qtq). Pada triwulan II 2009, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar menyumbang kontribusi inflasi sebesar 0,04% (qtq) dengan angka inflasi sebesar 0,16% (qtq). Sementara itu, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada triwulan II 2009 tidak mengalami perubahan harga. Meskipun demikian, pada triwulan berikutnya kelompok ini diperkirakan akan mengalami kenaikan harga terkait dengan dimulainya tahun ajaran baru sekolah. 2.1.3. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang Secara total, Kota Batam pada triwulan II 2009 mengalami deflasi sebesar 0,43% (qtq) berlawanan arah dengan triwulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,65% (qtq). Deflasi pada triwulan laporan terutama dipengaruhi oleh deflasi yang terjadi di bulan April 2009 yang dipengaruhi oleh penurunan harga dari kelompok bahan makanan khususnya sub kelompok ikan segar. Sub kelompok ikan segar mengalami penurunan harga terkait dengan berakhirnya musim utara sehingga pasokan ikan segar mengalami peningkatan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Grafik 2.2. Inflasi Kota Batam Berdasarkan Kelompok Sumber : BPS data diolah Triwulan II 2009 27

2.1.3.1. Bahan Makanan Kelompok bahan makanan di Kota Batam pada triwulan II 2009 mengalami deflasi sebesar 1,93% (qtq) dengan sumbangan deflasi sebesar 0,46% (qtq). Sub kelompok yang mengalami deflasi terbesar adalah sub kelompok sayur-sayuran yang mengalami deflasi sebesar 10,01% (qtq). Deflasi sub kelompok sayur-sayuran yang terjadi pada triwulan II 2009 terutama disumbang oleh deflasi yang terjadi di bulan April 2009 sebesar 13,87% (mtm). Berakhirnya musim utara yang menyebabkan gelombang laut kembali tenang mengakibatkan distribusi sayur-sayuran yang sebagian besar didatangkan dari luar Pulau Batam kembali lancar. Sementara itu sub kelompok ikan segar mengalami deflasi sebesar 7,41% (qtq) yang disebabkan oleh cuaca yang mendukung untuk pelayaran pencarian ikan. Musim utara yang bertiup selama bulan Januari dan Februari menyebabkan nelayan tidak melaut pada bulan tersebut sehingga jumlah ikan yang ada di laut mengalami peningkatan yang cukup tajam. Peningkatan supply ikan segar tersebut berdampak pada penurunan harga sub kelompok ini baik di level distributor maupun konsumen. Grafik 2.3. Prakiraan Kecepatan Angin & Tinggi Gelombang Laut di Indonesia FORECAST APRIL 2009 VALID : 17-24/04/2009 00 UTC FORECAST MEI 2009 VALID : 13-20/05/2009 00 UTC Selain sub kelompok sayur-sayuran dan sub kelompok ikan segar, sub kelompok bumbu-bumbuan juga mengalami penurunan harga yang cukup besar. Sub kelompok ini Triwulan II 2009 28

mengalami penurunan harga sebesar 5,02% (qtq). berbeda dengan sub kelompok sayursayuran dan sub kelompok ikan segar dimana deflasi terjadi pada bulan April 2009, sub kelompok bumbu-bumbuan secara konsisten terus mengalami penurunan harga secara konsisten selama tiga bulan. Selain faktor distribusi yang telah lancar, upaya pemerintah dalam rangka pembudidayaan tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Batam juga ikut mempengaruhi peningkatan supply beberapa komoditas di kelompok bumbu-bumbuan. Budidaya cabai merah yang dikembangkan di Sei Temiang dengan dukungan Dinas Pertanian Kota Batam cukup berpengaruh pada penurunan harga komoditas ini sehingga ikut menurunkan pembentukan harga komoditas ini di Kota Batam. Sementara itu sub kelompok daging pada triwulan laporan juga mengalami penurunan harga sebesar 1,54% (qtq). Penurunan harga yang terjadi pada kelompok sub kelompok daging juga diikuti oleh sub kelompok padi-padian yang mengalami deflasi sebesar 0,27% (qtq). Sebagaimana dengan tiga sub kelompok di atas, dua sub kelompok ini juga mengalami penurunan harga akibat distribusi yang mulai lancar karena cuaca yang sudah mulai kondusif untuk pelayaran. Meskipun secara umum kelompok bahan makanan mengalami penurunan harga, namun ada beberapa sub kelompok yang mengalami penurunan harga. Sub kelompok lemak dan minyak mengalami inflasi tertinggi dengan angka inflasi sebesar 5,27% (qtq). Sub kelompok buah-buahan mengalami kenaikan harga sebesar 4,25% (qtq) yang diikuti oleh sub kelompok ikan diawetkan dengan angka inflasi sebesar 3,62% (qtq). Sementara itu sub kelompok telur dan susu mengalami inflasi sebesar 1,17% (qtq) diikuti oleh sub kelompok oleh kacang-kacangan yang mengalami inflasi sebesar 0,22% (qtq). 2.1.3.2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada triwulan II 2009 mengalami inflasi sebesar 1,17% (qtq). Ketiga sub kelompok yang ada pada kelompok ini mengalami inflasi. Sub kelompok yang mengalami inflasi tertinggi adalah sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol yang mengalami inflasi sebesar 2,84% (qtq). Sedangkan sub kelompok minuman tidak beralkohol mengalami inflasi sebesar 1,18% (qtq). Sementara itu, sub kelompok makanan jadi mengalami terendah dalam kelompok ini dengan angka inflasi sebesar 0,48% (qtq). Triwulan II 2009 29

2.1.3.3. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada triwulan laporan mengalami kenaikan harga sebesar 0,16% (qtq). Inflasi tertinggi dialami oleh sub kelompok perlengkapan rumah tangga yang mengalami inflasi sebesar 1,63% (qtq) yang diikuti sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga dengan angka inflasi sebesar 0,93% (qtq) dan sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air yang mengalami inflasi sebesar 0,16% (qtq). Berbeda dengan triwulan sebelumnya, sub kelompok biaya tempat tinggal pada triwulan II 2009 mengalami deflasi sebesar 0,15% (qtq). Penurunan harga pada sub kelompok ini terjadi secara konsisten selama tiga bulan berturut-turut selama triwulan II 2009. 2.1.3.4. Kelompok Sandang Kelompok sandang pada triwulan II 2009 mengalami deflasi sebesar 3,56% (qtq). Penurunan harga pada kelompok ini dipengaruhi oleh penurunan harga yang terjadi pada sub kelompok barang pribadi dan sandang lain dengan angka deflasi sebesar 10,56% (qtq). Penurunan harga harga sub kelompok ini terutama disebabkan oleh penurunan harga komoditas emas. Komoditas emas mengalami penurunan harga mengikuti penurunan harga emas internasional setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi. Sementara itu tiga sub kelompok lain dalam kelompok ini melanjutkan tren sebelumnya tetap mengalami kenaikan harga. Sub kelompok sandang laki-laki tercatat mengalami kenaikan harga sebesar 0,29% (qtq) diikuti oleh sub kelompok sandang wanita yang mengalami kenaikan harga sebesar 0,16% (qtq). Sementara itu sub kelompok sandang anak-anak pada triwulan ini tercatat relatif stabil dan mengalami kenaikan pada bulan Mei dengan angka inflasi yang relatif rendah yaitu sebesar 0,08% (mtm). Sementara itu pada bulan April dan Juni sub kelompok ini tidak mengalami kenaikan harga sehingga secara triwulanan sub kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,08% (qtq). 2.1.3.5. Kelompok Kesehatan Kelompok kesehatan pada triwulan laporan mengalami inflasi sebesar 1,38% (qtq) yang berasal dari sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetik yang mengalami inflasi sebesar 2,29% (qtq). Sementara itu sub kelompok jasa kesehatan dan sub kelompok obatobatan mengalami inflasi dengan angka inflasi masing-masing sebesar 0,84% (qtq) dan Triwulan II 2009 30

0,61% (qtq). Sementara itu sub kelompok jasa perawatan jasmani pada triwulan II 2009 tidak mengalami perubahan harga. 2.1.3.6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada triwulan II 2009 tidak mengalami perubahan harga. Meskipun demikian kelompok ini pada triwulan III 2009 diperkirakan akan mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi terkait dengan dibukanya tahun ajaran baru bagi sekolah maupun perguruan tinggi. 2.1.3.7. Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan Masih melanjutkan trend triwulan sebelumnya kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada triwulan II 2009 juga mengalami penurunan harga dengan angka deflasi sebesar 0,03% (qtq) yang berasal dari sub kelompok transportasi yang mengalami penurunan harga sebesar 0,06% (qtq). Penurunan harga yang dialami sub kelompok ini merupakan efek dari kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM pada bulan Desember 2008. Berbeda dengan sub kelompok transportasi, sub kelompok komunikasi dan pengiriman pada triwulan ini justru mengalami kenaikan harga meskipun tidak terlalu besar dengan angka inflasi sebesar 0,02% (qtq). Sementara itu sub kelompok sarana penunjang transportasidan sub kelompok jasa keuangan pada triwulan II 2009 tidak mengalami perubahan harga. 2.2 INFLASI KOTA TANJUNG PINANG 2.2.1. Kondisi Umum Searah dengan yang terjadi secara nasional maupun beberapa kota lainnya, laju inflasi Kota Tanjung Pinang pada triwulan II 2009 mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Laju inflasi Kota Tanjung Pinang di triwulan II 2009 tercatat sebesar 4,13% (yoy) jauh lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I 2009 yang tercatat sebesar 10,28% (yoy). Melanjutkan trend triwulan sebelumnya, inflasi tahunan Kota Tanjung Pinang pada triwulan II 2009 tetap lebih tinggi dibanding angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,65% (yoy). Triwulan II 2009 31

Grafik 2.4. Inflasi Kota Tanjung Pinang Berdasarkan Kelompok Barang Sumber : BPS data diolah Meskipun pada triwulan II 2009 laju inflasi Kota Tanjung Pinang relatif rendah, namun secara trend inflasi Kota Tanjung Pinang ini masih relatif tinggi. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh economic of scale Kota Tanjung Pinang yang masih terbatas. Sejak peralihan ibukota Provinsi Kepulauan Riau dari Kota Batam ke Kota Tanjung Pinang, banyak terjadi pergerakan penduduk dan kegiatan ekonomi dari Kota Batam ke Kota Tanjung Pinang. Oleh karena itu, terjadi peningkatan permintaan terhadap kebutuhan pokok masyarakat baik untuk konsumsi maupun sebagai bahan baku distribusi. Karena supply barang-barang kebutuhan pokok tersebut ke Kota Tanjung Pinang masih cukup terbatas, sehingga terjadi kenaikan harga yang masih cukup tinggi di Kota Tanjung Pinang. 2.2.2. Inflasi Triwulanan Secara triwulanan, Kota Tanjung Pinang pada triwulan II 2009 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,72% (qtq) berlawanan arah dengan triwulan I 2009 yang mengalami inflasi sebesar 0,33% (qtq). Sebagaimana yang terjadi di Kota Batam, penurunan harga pada triwulan II 2009 ini dipengaruhi oleh penurunan harga yang terjadi di kelompok bahan makanan yang mengalami deflasi sebesar 4,2% (qtq) dengan sumbangan deflasi sebesar 1,14% (qtq). Triwulan II 2009 32

Grafik 2.5. Inflasi Kota Tanjung Pinang dan Inflasi Kelompok Bahan Makanan Sumber : BPS data diolah Berakhirnya musim utara yang mengakibatkan gelombang tinggi mengakibatkan distribusi barang kebutuhan masyarakat Kota Tanjung Pinang yang didatangkan dari Pulau Jawa dan Pulau Sumatera kembali lancar. Hal ini berakibat pada penurunan harga beberapa barang kebutuhan masyarakat seperti bumbu-bumbuan terutama cabai merah yang didatangkan dari Pulau Jawa. Berakhirnya musim utara juga berdampak pada peningkatan jumlah ikan di laut karena selama musim utara yaitu pada bulan Januari dan Februari nelayan tidak bisa melaut sehingga stock ikan di laut relatif cukup banyka. Hal ini berakibat pada tingginya supply ikan segar di Kota Tanjung Pinang yang mengakibatkan penurunan harga ikan segar baik pada level distributor maupun konsumen akhir. Tabel 2.2. Perkembangan Inflasi Triwulanan Kota Tanjung Pinang KELOMPOK Triwulan I -2009 Triwulan II -2009 Inflasi Sumbangan Inflasi Sumbangan I Bahan Makanan 0,48 0,1-4,2-1,14 II Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 1,73 0,38 2 0,45 III Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar -0,06-0,02-0,07-0,01 IV Sandang 4,66 0,26-2,04-0,13 V Kesehatan 0,8 0,03 2,07 0,08 VI Pendidikan, Rekreasi & Olahraga -0,17 0 0,2 0,01 VII Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan -2,61-0,42 0,15 0,02 Sumber : BPS (diolah) INFLASI 0,33-0,72 Selain kelompok bahan makanan, kelompok sandang pada triwulan laporan juga mengalami deflasi dengan angka deflasi sebesar 2,04% (qtq) dan sumbangan deflasi sebesar 0,13% (qtq) diikuti kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar yang mengalami Triwulan II 2009 33

deflasi sebesar 0,07% (qtq) dengan sumbangan deflasi sebesar 0,01% (qtq). Deflasi yang dialami oleh kelompok sandang terutama dipengaruhi oleh penurunan harga emas yang mengikuti pergerakan harga emas yang sedang mengalami trend penurunan setelah pada triwulan I 2009 mengalami peningkatan harga yang cukup tinggi. Sementara itu kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada triwulan II 2009 mengalami inflasi sebesar 2% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,45% (qtq). Inflasi yang dialami oleh kelompok makanan jadi diikuti oleh kelompok kesehatan yang juga mengalami inflasi 2,07% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,08% (qtq). Sedangkan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada triwulan II 2009 mengalami inflasi yang relatif rendah yaitu sebesar 0,15% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,02% (qtq). Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga di Kota Tanjung Pinang pada triwulan laporan mengalami kenaikan harga sebesar 0,20% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,01% (qtq). 2.1.3. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang 2.1.3.1. Bahan Makanan Kelompok bahan makanan di Kota Tanjung Pinang pada triwulan II 2009 mengalami deflasi sebesar 0,72% (qtq). Sebagian besar sub kelompok yang terdapat pada kelompok bahan makanan ini mengalami deflasi dua sub kelompok mengalami inflasi dan satu sub kelompok tidak mengalami perubahan harga. Dua sub kelompk yang mengalami inflasi adalah sub kelompok lemak dan minyak dan sub kelompok sayur-sayuran yang mengalami inflasi masing-masing sebesar 5% (qtq) dan 1,87% (qtq). Sementara itu sub kelompok yang tidak mengalami perubahan harga adalah sub kelompok kacang-kacangan. Sub kelompok ini secara konsisten tidak mengalami perubahan harga sejak awal tahun 2009. Setelah pada triwulan I 2009 sub kelompok bumbu-bumbuan mengalami inflasi yang cukup tinggi bahkan terbesar di kelompok bahan makanan, sub kelompok bumbu-bumbuan pada triwulan II mengalami deflasi yang cukup tinggi yaitu sebesar 12,97% (qtq). Sementara itu sub kelompok yang memberikan kontribusi deflasi terbesar kedua adalah sub kelompok ikan segar dengan angka deflasi sebesar 12,89% (qtq). Sebagaimana telah dikemukakan di atas, cuaca yang kondusif untuk pelayaran baik untuk kepentingan distribusi barang kebutuhan pokok khususnya bumbu-bumbuan maupun untuk kepentingan nelayan mencari ikan berpengaruh besar terhadap deflasi yang terjadi pada dua sub kelompok tersebut. Sub kelompok lain yang mengalami deflasi pada triwulan laporan adalah sub kelompok daging dengan angka deflasi sebesar 2,59% (qtq). Searah dengan sub kelompok Triwulan II 2009 34

daging dan hasil-hasilnya, sub kelompok buah-buahan juga mengalami deflasi sebesar 1,07% (qtq) diikuti oleh sub kelompok padi-padian dengan angka deflasi sebesar 0,76% (qtq). Sementara itu sub kelompok ikan diawetkan pada triwulan laporan juga mengalami penurunan harga sebesar 0,6% (qtq) yang diikuti oleh sub kelompok telur, susu dan hasilnya yang mengalami deflasi sebesar 0,46% (qtq). 2.1.3.2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada triwulan II 2009 mengalami inflasi sebesar 2% (qtq). Inflasi tertinggi dialami oleh sub kelompok makanan jadi yang mengalami inflasi sebesar 2,90% (qtq) diikuti sub kelompok minuman tidak beralkohol dengan angka inflasi sebesar 0,77% (qtq) dan sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol mengalami inflasi sebesar 0,5% (qtq). 2.1.3.3. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada triwulan laporan mengalami penurunan harga sebesar 0,07% (qtq) yang dipengaruhi penurunan harga pada sub kelompok biaya tempat tinggal serta sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air dengan angka deflasi masing-masing 0,14% (qtq) dan 0,45% (qtq). Sementara itu dua sub kelompok lain dalam kelompok ini mengalami kenaikan harga yaitu sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga dengan angka inflasi sebesar 1,02% (qtq) dan sub kelompok perlengkapan rumah tangga dengan angka inflasi sebesar 0,64% (qtq). 2.1.3.4. Kelompok Sandang Pada triwulan II 2009 kelompok sandang mengalami deflasi paling besar dibandingkan dengan kelompok lain yaitu sebesar 2,04% (qtq). Penurunan harga yang dialami oleh kelompok sandang sangat dipengaruhi oleh penurunan harga yang dialami oleh sub kelompok barang pribadi dan sandang lain dengan angka deflasi sebesar 6,25% (qtq). Penurunan harga yang cukup besar inggi pada sub kelompok ini dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas emas. Harga emas mengalami penurunan sebagai akibat penurunan harga emas internasional setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi. Sub kelompok lain yang mengalami deflasi adalah sub kelompok sandang anak-anak yang pada triwulan laporan mengalami penurunan sebesar 0,04% (qtq). Pada triwulan II Triwulan II 2009 35

2009 sub kelompok sandang anak-anak mengalami penurunan harga secara konsisten selama tiga bulan berturut-turut meski dengan besaran yang tidak terlalu signifikan. Sementara itu sub kelompok sandang laki-laki dan sub kelompok sandang wanita pada triwulan I 2009 tidak mengalami kenaikan harga. 2.1.3.5. Kelompok Kesehatan Kelompok kesehatan pada triwulan laporan mengalami inflasi sebesar 2,07% (qtq) yang berasal dari sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetika yang mengalami inflasi sebesar 3,18% (qtq). Setelah secara konsisten tidak mengalami perubahan harga sejak bulan triwulan II 2008, sub kelompok jasa kesehatan pada triwulan II 2009 akhinya mengalami kenaikan harga dengan angka inflasi sebesar 1,25% (qtq) diikuti oleh sub kelompok obatobatan dengan angka inflasi sebesar 1,07% (qtq). Sementara itu sub kelompok jasa perawatan jasmani pada triwulan II 2009 tidak mengalami perubahan harga. 2.1.3.6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada triwulan II 2009 relatif tidak mengalami perubahan harga. Kenaikan harga pada kelompok ini hanya terjadi pada bulan Mei 2009 yang dialami oleh sub kelompok rekreasi sebesar 0,89% (mtm). Melanjutkan trend triwulan sebelumya, tiga sub kelompok lainnya yaitu sub kelompok kursus-kursus, sub kelompok perlengkapan/peralatan pendidikan dan sub kelompok olahraga tidak mengalami perubahan harga. Oleh karena itu secara triwulanan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahrga tercatat mengalami inflasi sebesar 0,2% (qtq). 2.1.3.7. Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan Setelah pada dua triwulan mengalami penurunan harga berturut-turut sebagai dampak kebijakan penurunan harga BBM oleh pemerintah, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada triwulan II 2009 mengalami kenaikan harga sebesar 0,15% (qtq). Sub kelompok sarana penunjang transportasi mengalami kenaikan harga tertinggi dengan angka inflasi sebesar 0,56% (qtq). Sedangkan sub kelompok transportasi yang pada triwulan sebelumnya masih menunjukkan penurunan harga akibat penurunan Triwulan II 2009 36

harga BBM, pada triwulan ini mulai menunjukkan kenaikan harga dengan angka inflasi sebesar 0,19% (qtq). Sementara itu sub kelompok komunikasi yang pada triwulan-triwulan sebelumnya selalu mengalami kenaikan harga pada triwulan II 2009 mulai mengalami penurunan harga dengan angka deflasi sebesar 0,03% (qtq). Sedangkan kelompok jasa keuangan melanjutkan trend sejak triwulan IV 2008 secara konsisten selama sepuluh bulan berturut-turut tidak mengalami perubahan harga. Triwulan II 2009 37

BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN REGIONAL 3.1 KONDISI UMUM Kondisi perbankan di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 menunjukkan pergerakan yang relatif stabil terhadap periode sebelumnya. Beberapa indikator-indikator perbankan, seperti total aset, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang pada triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan secara triwulanan, pada triwulan laporan mengalami penurunan. Sebaliknya, penyaluran kredit oleh perbankan yang triwulan sebelumnya mengalami penurunan pada triwulan II 2009 mengalami pertumbuhan positif. Grafik. 3.1. Perkembangan Indikator Perbankan Sumber : Bank Indonesia Total asset perbankan di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 tercatat sebesar Rp21,31 triliun atau mengalami penurunan sebesar Rp18,30 miliar (0,09%) dibandingkan triwulan I 2009 yang tercatat sebesar Rp21,33 miliar. Namun secara tahunan total asset perbankan di Provinsi Kepuluauan Riau pada triwulan II 2009 mengalami peningkatan Rp3,92 triliun (22,54%) dibandingkan posisi yang sama tahun 2008 yang tercatat sebesar Rp17,39 triliun. Sementara itu, total DPK yang dihimpun oleh perbankan di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 juga mengalami penurunan sebesar Rp81,87 miliar (0,47%) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp17,40 triliun sehingga menjadi Rp17,32 triliun. Namun secara tahunan DPK perbankan mengalami peningkatan sebesar Rp2,74 triliun (18,83%) dibandingkan posisi triwulan II 2008 yang tercatat sebesar Rp14,57 triliun. Triwulan II 2009 38

Setelah pada triwulan sebelumnya penyaluran kredit yang dilakukan oleh perbankan di Provinsi Kepulauan Riau sempat mengalami sedikit penurunan, pada triwulan laporan penyaluran kredit perbankan di Provinsi Kepulauan Riau mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan di Provinsi Kepulauan Riau semakin berjalan dengan baik yang juga dapat dibaca sebagai salah satu bentuk optimisme kalangan perbankan terhadap prospek ekonomi Provinsi Kepulauan Riau meskipun pada triwulan laporan masih mengalami pertumbuhan yang negatif. Pada triwulan II 2009, penyaluran kredit di Provinsi Kepulauan Riau oleh perbankan tercatat sebesar Rp11,39 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp268,67 miliar (2,42%) dibandingkan triwulan I 2009 yang tercatat sebesar Rp11,39 triliun. Sedangkan secara tahunan penyaluran kredit perbankan di Provinsi Kepulauan Riau mengalami peningkatan sebesar Rp1,63 triliun (16,80%) dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp9,75 triliun. Akibatnya, LDR perbankan Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Jika pada triwulan I 2009 LDR perbankan Provinsi Kepulauan Riau tercatat sebesar 63,91% maka pada triwulan II 2009 LDR perbankan tercatat sebesar 65,76%. 3.2. KONDISI BANK UMUM Sebagaimana yang terjadi pada indikator perbankan secara keseluruhan, indikator industri bank umum juga menunjukkan pergerakan serupa. Total asset dan DPK bank umum pada triwulan II 2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sementara itu penyaluran kredit oleh bank umum di wilayah kerja KBI Batam mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan I 2009. Grafik 3.2. Perkembangan Total Asset, Kredit, DPK dan LDR Bank Umum Grafik 3.3. Perkembangan Kredit dan NPL s Bank Umum Sumber : Bank Indonesia Triwulan II 2009 39

Jumlah jaringan kantor cabang bank umum di wilayah Provinsi Kepulauan Riau tercatat sebanyak 47 kantor cabang pada triwulan II 2009 atau mengalami pertambahan 1 kantor cabang dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu Bank BTPN Batam. Tabel 3.1 Perkembangan Indikator Bank Umum (juta rupiah) Periode 2008 2009 Indikator Tw.2 Tw.3 Tw.4 Tw.1 Tw.2 1. Jaringan BU 45 45 46 46 47 a. Batam 29 29 29 29 30 b. Tj. Pinang 13 13 14 14 14 c. Karimun 2 2 2 2 2 d. Natuna 1 1 1 1 1 2. Total Asset 16.709.890 17.600.675 19.898.329 20.242.439 20.190.189 a. Batam 12.319.472 12.891.294 14.478.579 14.578.187 14.708.872 b. Tj. Pinang 3.619.643 3.830.760 4.392.858 4.621.290 4.583.737 c. Dati II lain 770.775 878.621 1.026.892 1.042.962 897.580 3. Total DPK 14.071.918 14.446.343 16.332.781 16.601.580 16.504.267 a. Batam 9.873.065 9.966.579 11.249.163 11.245.003 11.333.963 b. Tj. Pinang 3.442.043 3.609.408 4.067.217 4.328.898 4.288.931 c. Dati II lain 756.810 870.356 1.016.401 1.027.679 881.373 4. Total Kredit 9.291.399 9.944.195 10.653.877 10.529.216 10.748.302 a. Batam 7.623.089 8.139.988 8.729.088 8.512.180 8.568.486 b. Tj. Pinang 1.319.883 1.423.511 1.539.970 1.622.192 1.736.256 c. Dati II lain 348.427 380.696 384.819 394.844 443.560 5. LDR (%) 66,03 68,84 65,23 63.42 65.12 a. Batam 77,21 81,67 77,6 77.73 75.60 b. Tj. Pinang 38,35 39,44 37,86 37.47 40.48 c. Karimun 41,65 39,89 38,41 38.32 41.72 d. Natuna 59,59 54,34 36,83 38.63 83.06 6. NPLs (%) 2,33 2,94 2,60 2.96 2.79 a. Batam 2,14 2,96 2,76 3.15 2.61 b. Tj. Pinang 3,21 2,64 2,04 2.44 4.07 c. Karimun 4,84 5,29 1,72 1.47 1.76 d. Natuna 0 0 0 0.04 0.18 Sumber : Bank Indonesia 3.2.1. Total Asset Bank Umum Pada triwulan II 2009 total asset bank umum tercatat sebesar Rp20,19 triliun atau mengalami penurunan sebesar Rp52,25 miliar (0,26%) dibanding triwulan I 2009 yang tercatat sebesar Rp20,24 triliun. Namun secara tahunan pada triwulan II 2009 terjadi peningkatan total asset bank umum di Provinsi Kepulauan Riau sebesar Rp3,48 triliun (20,83%) terhadap posisi yang sama tahun sebelumnya. Triwulan II 2009 40

Berdasarkan Dati II, kegiatan bank umum masih terkonsentrasi di Kota Batam, dimana jumlah total asset bank umum sebagian besar masih tetap terhimpun di Kota Batam. Total asset bank umum yang ada di Kota Batam pada triwulan II 2009 sebesar Rp14,70 triliun atau 72,85% dari seluruh total asset bank umum di Kepulauan Riau. Sedangkan total asset yang berhasil dihimpun oleh bank umum di Tanjung Pinang sebesar Rp4,58 triliun atau 22,70% dari seluruh asset perbankan di Kepulauan Riau. Sementara itu total asset perbankan di wilayah Kepulauan Riau (Tanjung Uban, Tanjung Balai Karimun, dan Natuna) sebesar Rp897,58 miliar (4,44%). Diagram 3.1. Share Asset Bank Umum Grafik 3.4. Perkembangan Asset Bank Umum Sumber : Bank Indonesia Sumber : Bank Indonesia Penurunan total asset bank umum yang terjadi di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 terutama dipengaruhi oleh penurunan total asset yang terjadi di Tanjung Uban, Tanjung Balai Karimun dan Natuna yang turun sebesar Rp145,38 miliar (13,94%) dan penurunan yang terjadi di Kota Tanjung Pinang sebesar Rp37,55 miliar (0,81%). Sedangkan total asset bank umum di Kota Batam justru mengalami peningkatan sebesar Rp130,69 miliar (0,90%) dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara tahunan, total asset perbankan di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 mengalami peningkatan sebesar Rp3,48 triliun (20,83%). Peningkatan ini dipengaruhi oleh peningkatan total asset perbankan yang terjadi di seluruh kota maupun kabupaten. Total asset perbankan di Kota Batam mengalami peningkatan sebesar Rp2,39 triliun (19,40%) diikuti oleh total asset perbankan di Kota Tanjung Pinang yang mengalami peningkatan Rp964,09 miliar (26,64%). Total asset di Tanjung Uban, Tanjung Balai Karimun dan Natuna secara tahuna juga mengalami pergerakan yang sama dengan Kota Batam dan Kota Tanjung Pinang. Total asset perbankan di wilayah ini mengalami peningkatan sebesar Rp126,81 miliar (16,45%). Triwulan II 2009 41

3.2.2. Dana Pihak Ketiga Bank Umum Pada triwulan II 2009, secara triwulanan jumlah dana masyarakat yang dihimpun oleh bank umum mengalami penurunan sebesar Rp97,31 miliar (0,59%) menjadi sebesar Rp16,50 triliun. Penurunan DPK bank umum pada triwulan II 2009 sebagian besar disumbangkan oleh penurunan simpanan dalam bentuk giro yang turun Rp312,66 miliar (4,52%) dibandingkan triwulan sebelumnya sehingga tercatat sebesar Rp6,60 triliun dan penurunan simpanan dalam bentuk deposito yang turun sebesar Rp30,90 miliar (0,80%). Sementara itu simpanan dalam bentuk tabungan secara triwulanan justru mengalami peningkatan sebesar Rp246,25 miliar (4,24%). Peningkatan simpanan dalam bentuk tabungan ini searah dengan peningkatan yang terjadi pada kredit. Hal ini terjadi karena rekening tabungan biasanya digunakan untuk rekening penampung bagi pencairan kredit. Grafik 3.5. Perkembangan DPK Bank Umum Diagram 3.2. Share DPK Bank Umum Sumber : Bank Indonesia Meskipun mengalami penurunan, secara nominal porsi simpanan giro masih merupakan jenis simpanan terbesar (39,97%) diantara dua jenis simpanan lain dengan nilai nominal sebesar RpRp6,59 triliun. Porsi simpanan jenis tabungan tercatat sebesar Rp6,05 triliun (36,68%). Sedangkan simpanan dalam bentuk deposito tercatat sebesar Rp3,85 triliun (23,34%). Dominasi sektor industri dan sektor perdagangan pada perekonomian Kota Batam turut mempengaruhi jenis transaksi perbankan di Provinsi Kepulauan Riau. Kebutuhan masyarakat akan dana likuid serta transaksi ekonomi yang membutuhkan waktu singkat menyebabkan simpanan berbentuk giro memiliki porsi terbesar terhadap total simpanan masyarakat di perbankan. 3.2.3. Kredit Bank Umum Jumlah kredit yang disalurkan oleh bank umum di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia Batam pada triwulan II 2009 tercatat sebesar Rp10,75 triliun atau naik sebesar Rp219,09 miliar (2,08%) dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan jumlah kredit yang Triwulan II 2009 42

disalukan oleh bank umum tersebut berakibat pada peningkatan tingkat LDR (Loan to Deposit Ratio) bank umum di Provinsi Kepulauan Riau dari 63,42% pada triwulan I 2009 menjadi 65,12% pada triwulan laporan. Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit yang disalurkan di wilayah kerja KBI Batam sebagian besar digunakan untuk kredit konsumsi sebesar Rp4,54 triliun atau 42,29% dari total kredit yang diberikan. Sedangkan kredit untuk modal kerja dan investasi masing-masing sebesar Rp3,76 triliun (34,99%) dan Rp2,44 triliun (22,71%). Grafik 3.6. Perkembangan Kredit Jenis Penggunaan Bank Umum Diagram 3.3. Kredit Jenis Penggunaan Bank Umum Sumber : Bank Indonesia Dari segi pertumbuhan, jenis kredit yang mengalami peningkatan pada triwulan II 2009 adalah kredit konsumsi yang mengalami peningkatan sebesar Rp231,01 miliar (5,35%) terhadap triwulan I 2009. Sedangkan secara tahunan kredit konsumsi mengalami peningkatan sebesar Rp840,31 miliar (22,68%). Searah dengan kredit konsumsi, kredit modal kerja pada triwulan I 2009 juga mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Kredit modal kerja pada triwulan II 2009 meningkat sebesar Rp13,29 miliar (0,35%). Sedangkan secara tahunan kredit modal kerja mengalami peningkatan sebesar Rp420,50 miliar (12,59%). Sementara itu, kredit investasi pada triwulan laporan justru mengalami penurunan sebesar Rp25,21 miliar (1,02%) terhadap triwulan I 2009. Namun secara tahunan kredit investasi pada triwulan I 2009 mengalami peningkatan sebesar Rp196,09 miliar (8,73%). NPL bank umum di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 menunjukkan penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. NPL bank umum menurun dari 2,96% pada triwulan I 2009 menjadi 2,79% pada triwulan laporan. Triwulan II 2009 43

3.2.4. Kredit UMKM Bank Umum Searah dengan yang terjadi pada total kredit bank umum, penyaluran kredit UMKM pada triwulan II 2009 juga mengalami peningkatan. Jika pada triwulan I 2009 penyaluran kredit UMKM tercatat sebesar Rp5,64 triliun, pada triwulan II 2009 kredit UMKM bank umum turun menjadi sebesar Rp5,81 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp165,06 miliar (2,92%). Sedangkan secara tahunan kredit UMKM bank umum pada triwulan II 2009 mengalami peningkatan sebesar Rp821,81 miliar (15,54%). Grafik 3.7 Perkembangan Kredit UMKM dan Share terhadap Total Kredit Sumber : Bank Indonesia Sementara itu jika dilihat dari share kredit UMKM, menunjukkan trend penurunan dari awal tahun 2009. Namun pada triwulan II 2009 nampak telah menunjukkan kenaikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Jika pada triwulan I 2009 share kredit UMKM tercatat sebesar 53,61% maka pada triwulan II 2009 share kredit UMKM mengalami peningkatan menjadi 54,05%. Peningkatan share kredit UMKM ini merupakan salah satu bentuk perhatian kalangan perbankan terhadap pengembangan bisnis berskala kecil dan mikro di wilayah Provinsi Kepulauan Riau. 3.3 BANK PERKREDITAN RAKYAT Sebagai daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi cukup tinggi dan pergerakan ekonomi yang cukup dinamis, Provinsi Kepulauan Riau menarik minat investor untuk menanamkan modalnya untuk diinvestasikan pada bisnis perbankan, khususnya BPR. Triwulan II 2009 44

Adapun alasan investor tersebut memilih BPR karena bisnis BPR tidak terlalu membutuhkan modal besar dan proses pendiriannya tidak terlalu rumit. KETERANGAN Tabel 3.2 Perkembangan Indikator Bpr (dalam jutaan rupiah) 2008 2009 Tw.2 Tw.3 Tw.4 Tw.1 Tw.2 TOTAL ASSET 680.641 776.379 918.784 1.086.223 1.120,17 TOTAL DANA 504.879 564.556 660.973 801.204 816,64 a. Tabungan 44.805 51.715 63.749 82.123 102,99 b. Deposito 460.073 512.841 597.224 719.079 713,65 TOTAL KREDIT 461.337 538.346 563.476 593.136 642,73 a. Investasi 40.208 50.540 52.551 54.784 61,32 b. Modal Kerja 108.041 128.903 128.638 134.479 143,82 c. Konsumsi 313.088 358.903 382.287 403.873 437,59 Sumber : Bank Indonesia Sampai dengan triwulan II 2009 jumlah kantor Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tercatat ada 26 kantor BPR dan 3 (tiga) kantor cabang BPR atau terjadi penambahan 2 (dua) BPR yaitu BPR Karimun Sejahtera dan BPR Harapan Bunda Batam. Perkembangan BPR yang sudah beroperasi juga tergolong cukup baik yang ditunjukkan oleh kenaikan share beberapa indikator kinerja BPR terhadap perbankan di Provinsi Kepulauan Riau secara keseluruhan. Grafik 3.8. Share Asset BPR Terhadap Perbankan Grafik 3.9. Share Kredit BPR Terhadap Perbankan Sumber : Bank Indonesia Dilihat dari total asset, share asset BPR terhadap total asset perbankan di Provinsi Kepulauan Riau mengalami peningkatan secara gradual tiap triwulan. Pada triwulan II 2009 terjadi peningkatan yang cukup tinggi. Jika pada triwulan I 2009 share asset BPR terhadap total asset perbankan di Provinsi Kepulauan Riau tercatat 5,09% maka pada triwulan II 2009 share total asset BPR Provinsi Kepulauan Riau terhadap perbankan provinsi Kepulauan Riau Triwulan II 2009 45

tercatat sebesar 5,26%. Peningkatan share ini terjadi karena total asset BPR terus mengalami pertumbuhan secara konsisten sedangkan total asset bank umum justru mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Selain itu peningkatan asset share asset BPR tersebut tidak lepas dari tingkat pertambahan BPR baru yang cukup tinggi. Adanya peningkatan jumlah BPR tersebut memberikan masyarakat lebih banyak pilihan dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan baik konsumsi, investasi maupun modal kerja. Penambahan jumlah BPR tersebut juga dapat ikut serta mendorong pertumbuhan sektor usaha domesitik khususnya koperasi dan UMKM. Dari sisi pembiayaan, share kredit BPR terhadap total kredit perbankan di Provinsi Kepulauan Riau juga mengalami peningkatan terhadap triwulan I 2009. Pada triwulan II 2009 share kredit BPR terhadap total kredit perbankan tercatat sebesar 5,98% lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,33%. Peningkatan share kredit ini dipengaruhi oleh peningkatan kredit yang disalurkan oleh BPR lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan kredit bank umum. 3.3.1. Total Asset Bank Perkreditan Rakyat Total asset BPR yang berada di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia Batam sampai dengan triwulan II 2009 terus melanjutkan trend peningkatan. Sampai dengan triwulan II 2009, total asset BPR mengalami peningkatan sebesar Rp33,94 miliar (3,12%) menjadi sebesar Rp1,12 triliun dibanding triwulan I 2009 yang tercatat sebesar Rp1,09 miliar. Secara tahunan total asset BPR mengalami peningkatan sebesar Rp439,53 miliar (64,58%) dibanding posisi yang sama pada tahun 2008. Grafik 3.10. Perkembangan Asset BPR Sumber : Bank Indonesia Triwulan II 2009 46

3.2.5. DPK Bank Perkreditan Rakyat Sebagaimana indikator BPR yang lain, total dana yang berhasil dihimpun oleh BPR pada triwulan laporan meningkat dengan triwulan sebelumnya. Jika pada triwulan I 2009 total dana yang dihimpun BPR tercatat sebesar Rp801,20 miliar, maka pada triwulan II 2009 DPK BPR meningkat menjadi Rp816,64 miliar atau naik sebesar Rp15,44 miliar (1,93%). Secara tahunan dana yang berhasil dihimpun oleh BPR mengalami peningkatan sebesar Rp311,76 miliar (61,75%). Sebagaimana karakteristik BPR, sebagian besar dana masyarakat yang dihimpun oleh BPR disimpan dalam bentuk deposito. Sedangkan simpanan dalam bentuk tabungan biasanya digunakan oleh nasabah untuk proses pencairan kredit. Dana simpanan dalam bentuk deposito yang dihimpun oleh BPR di Provinsi Kepulauan Riau tercatat sebesar Rp713,65 miliar atau 87,39% dari seluruh total DPK BPR. Sedangkan 10,61% disimpan dalam bentuk tabungan sebesar Rp102,99 miliar. Grafik 3.11. Perkembangan DPK BPR Diagram 3.4. Share DPK BPR Sumber : Bank Indonesia Simpanan dalam bentuk deposito pada triwulan II 2009 mengalami penurunan sebesar Rp5,42 miliar (0,75%) dibandingkan triwulan sebelumnya. Sedangkan secara tahunan simpanan dalam bentuk deposito di BPR mengalami peningkatan sebesar Rp253,58 miliar (55,12%). Secara triwulanan simpanan dalam bentuk tabungan mengalami peningkatan sebesar Rp20,86 miliar (25,40%) dibandingkan triwulan I 2009. Sedangkan secara tahunan simpanan dalam bentuk tabungan mengalami peningkatan yang cukup tinggi yaitu sebesar Rp58,18 miliar (129,85%) dibandingkan posisi yang sama tahun 2008. Peningkatan jumlah tabungan ini searah dengan peningkatan kredit karena rekening tabungan digunakan untuk menampung pencairan kredit yang dilakukan oleh BPR kepada nasabahnya. Triwulan II 2009 47

3.6. Kredit Bank Perkreditan Rakyat Searah dengan penyaluran kredit bank umum yang mengalami peningkatan, penyaluran kredit yang dilakukan oleh BPR kepada masyarakat pada triwulan II 2009 juga mengalami peningkatan dibandingkan triwulan I 2009. Jumlah kredit yang disalurkan oleh 26 BPR yang beroperasi di wilayah Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 tercatat sebesar Rp642,73 miliar atau meningkat Rp49,59 miliar (8,36%) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp593,14 miliar. Sementara itu secara tahunan kredit BPR di Provinsi Kepulauan Riau mengalami peningkatan sebesar Rp181,39 miliar (39,32%) dibandingkan triwulan II 2008 yang tercatat sebesar Rp461,34 miliar. Grafik 3.12.. Perkembangan DPK BPR Diagram 3.5. Share Kredit BPR Sumber : Bank Indonesia Penyaluran kredit yang dilakukan oleh BPR di wilayah kerja KBI Batam sebagian besar digunakan untuk keperluan konsumsi. Kredit untuk konsumsi yang disalurkan BPR di wilayah kerja KBI Batam pada triwulan II 2009 tercatat sebesar Rp437,58 miliar atau 68,08% dari seluruh total kredit yang diberikan oleh BPR. Sementara kredit untuk modal kerja yang diberikan BPR di Provinsi Kepulauan Riau sebesar Rp143,82 miliar atau 22,38% dari seluruh total kredit yang diberikan oleh BPR. Sedangkan porsi kredit investasi adalah sebesar Rp61,32 miliar (9,54%). Kredit konsumsi BPR di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 mengalami peningkatan sebesar Rp33,71 miliar (8,35%) dibandingkan triwulan I 2009 yang tercatat sebesar Rp403,87 miliar. Sementara itu secara tahunan kredit konsumsi BPR mengalami peningkatan sebesar Rp124,50 miliar (39,76%) dibandingkan posisi yang sama tahun 2008. Kredit modal kerja yang disalurkan BPR di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 mengalami peningkatan sebesar Rp9,34 miliar (6,95%) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp108,04 miliar. Sedangkan secara tahunan kredit modal Triwulan II 2009 48

kerja BPR mengalami peningkatan sebesar Rp35,78 miliar (33,12%) dibandingkan posisi triwulan II 2008. Sementara itu kredit investasi yang disalurkan oleh BPR kepada masyarakat Provinsi Kepulauan Riau sampai dengan triwulan II 2009 mengalami peningkatan sebesar Rp6,53 miliar (11,93%) dibandingkan triwulan I 2009 yang tercatat sebesar Rp54,78 miliar. Secara tahunan kredit investasi BPR di Provinsi Kepulauan Riau mengalami peningkatan sebesar Rp21,11 miliar (52,50%) terhadap posisi yang sama tahun 2008 yang tercatat sebesar Rp40,21 miliar. Besarnya kredit BPR untuk keperluan konsumsi mencerminkan intermediasi yang dilakukan BPR terhadap dunia usaha masih belum optimal. Sebagian besar BPR di Provinsi Kepulauan Riau menyalurkan kredit untuk keperluan pembelian mobil dan beberapa untuk pembelian rumah atau ruko. Sedangkan porsi yang untuk kredit produktif terutama pemberdayaan UMKM masih kurang optimal. Hal ini perlu digalakkan mengingat sebagaimana diamanatkan oleh ketentuan keberadaan BPR adalah sebagai lembaga pembiayaan sektor-sektor produktif untuk UMKM dan Koperasi. Grafik 3.13. Perkembangan Kredit dan NPLs BPR Sumber : Bank Indonesia Sementara itu, NPLs kredit yang diberikan oleh BPR sampai dengan triwulan II 2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. NPLs kredit BPR pada triwulan laporan tercatat sebesar 1,48% lebih rendah dibandingkan dengan triwulan IV 2008 yang tercatat sebesar 2,10%. Peningkatan kredit yang cukup tinggi ikut mempengaruhi penurunan NPLs BPR di Provinsi Kepulauan Riau karena kredit baru cenderung lebih lancar daripada kredit lama. Triwulan II 2009 49

BAB 4 PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH 4.1 TARGET APBD TAHUN BERJALAN APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) merupakan sarana yang strategis dan mutlak untuk menyelenggarakan roda pemerintahan dan pembangunan guna menyediakan pelayanan publik, meningkatkan kesejahteraan serta melindungi hak-hak masyarakat. Terkait dengan itu, pemerintah daerah cukup menyadari bahwa krisis keuangan global akan berdampak pada kondisi perekonomian regional Kepulauan Riau. Karenanya kebijakan-kebijakan yang menjadi prioritas pembangunan di tahun 2009 diupayakan dapat menjadi instrumen pendorong yang memacu pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan disahkannya APBD Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai daerah pemekaran terbaru maka total APBD T.A. 2009 untuk seluruh kabupaten/kota di provinsi Kepulauan Riau mencapai Rp 6,97 triliun, atau meningkat sekitar 35% dari APBD tahun 2008 yang tercatat sebesar Rp 5,15 triliun. Sekitar 76% dari anggaran pengeluaran tersebut diperkirakan bersumber dari sisi penerimaan yang ditargetkan sebesar Rp 5,34 triliun, naik mencapai 27,7% dibanding tahun 2008. Tabel 4.1. Perkembangan Total APBD Provinsi Kepulauan Riau Tahun Anggaran 2007 s.d. 2009 2007 2008 % % 2009* 2007-2008 2008-2009 PENDAPATAN 4,815,445 4,178,569-13.2% 5,336,421 27.7% BAGIAN PENDAPATAN ASLI DAERAH 598,897 952,217 59.0% 1,050,396 10.3% DANA PERIMBANGAN 3,969,281 2,903,001-26.9% 4,089,414 40.9% LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH 247,267 323,351 30.8% 196,611-39.2% BELANJA 6,220,533 5,155,325-17.1% 6,973,402 35.3% BELANJA TIDAK LANGSUNG 1,687,938 1,959,360 16.1% 2,574,573 31.4% - Belanja subsidi 35,044 79,218 126.1% 123,996 56.5% - Belanja hibah 87,153 61,420-29.5% 157,308 156.1% - Belanja bantuan sosial 240,368 194,997-18.9% 240,188 23.2% BELANJA LANGSUNG 4,532,595 3,195,965-29.5% 4,398,829 37.6% - Belanja pegawai 616,802 400,679-35.0% 607,547 51.6% - Belanja barang dan jasa 1,477,486 1,330,753-9.9% 1,617,929 21.6% - Belanja modal 2,438,307 1,464,533-39.9% 2,173,353 48.4% SURPLUS/(DEFISIT) (1,405,088) (976,756) -30.5% (1,635,981) 67.5% Sumber : Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK), diolah *) termasuk Kabupaten Kepulauan Anambas Triwulan II 2009 50

Kenaikan target penerimaan antara lain dipengaruhi oleh penyesuaian harga komoditas internasional, sehingga dana perimbangan yang diterima atas pemanfaatan sumber daya alam yang ada di daerah relatif meningkat. Pos Dana Perimbangan ditargetkan sebesar Rp 4,09 triliun atau meningkat 40,9%, dari Rp 2,9 triliun di tahun 2008. Alokasi APBN tersebut diberikan dalam bentuk Dana Sektoral sekitar Rp 1,35 triliun, Dana Dekonsentrasi Rp 234,8 miliar, Dana Tugas Pembantuan sekitar Rp82,5 miliar, Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp 1,56 triliun, serta Dana Alokasi Khusus (DAK) sekitar Rp 224,2 miliar. Meningkatnya APBD 2009 ini diharapkan mampu menjadi penopang pertumbuhan provinsi Kepulauan Riau di tengah kontraksi perekonomian yang terjadi dalam 2 kuartal terakhir. Pemerintahan provinsi memperoleh dana DAU terbesar yakni mencapai Rp 403,13 milyar atau 25,9% dari total alokasi DAU oleh pemerintah pusat. Sedangkan kota Batam mendapatkan DAU sebesar Rp 279,66 M. Selanjutnya kota Tanjungpinang memperoleh Rp 229,3 miliar, kabupaten Karimun Rp 183,9 M, kabupaten Lingga Rp 178,5 M, kabupaten Bintan Rp 161,2 miliar, kabupaten Natuna sebesar Rp 90,3 milyar, dan kabupaten Kepulauan Anambas mendapat Rp 33 miliar. Tabel 4.2. Perkembangan APBD Kabupaten dan Kota di Provinsi Kepulauan Riau T.A. 2009 JENIS ANGGARAN Provinsi Kep. Riau Kabupaten Karimun Kabupaten Bintan Kabupaten Lingga Kab. Kep. Anambas Total Kep.Riau Pendapatan Asli Daerah 424,686 223,613 132,761 13,793 184,208 41,955 29,380 0 1,050,396 Pajak daerah 407,182 191,458 115,970 3,607 136,932 12,986 2,000 0 870,135 Retribusi daerah 3,550 12,235 2,075 241 39,141 12,442 1,880 0 71,564 Hasil pengelolaan kekayaan yang dipisahkan 680 1,720 7,000 3,600 1,355 3,190 0 0 17,545 Lain-lain PAD yang sah 13,274 18,200 7,716 6,345 6,780 13,337 25,500 0 91,152 Dana Perimbangan 905,314 322,485 345,328 715,196 758,330 504,506 285,177 253,078 4,089,414 Dana bagi hasil pajak/bukan pajak 481,250 105,294 163,088 585,937 362,576 239,982 70,652 215,966 2,224,745 Dana alokasi umum 403,132 183,940 161,220 90,285 279,663 229,303 178,517 33,015 1,559,075 Dana alokasi khusus 20,932 33,251 21,020 38,974 34,651 35,221 36,008 4,097 224,154 Lain-lain 0 0 0 0 81,440 0 0 0 81,440 Lain-lain pendapatan daerah yang sah 0 10,225 22,202 10,380 64,068 33,095 40,000 16,641 196,611 TOTAL PENDAPATAN 1,330,000 556,323 500,291 739,369 1,006,606 579,556 354,557 269,719 5,336,421 Belanja tidak langsung 460,302 352,957 265,642 402,075 473,815 323,684 184,662 111,436 2,574,573 Belanja pegawai 174,549 273,717 201,670 213,180 388,193 269,324 134,181 88,696 1,743,510 Belanja subsidi 0 0 0 88,344 32,318 0 2,334 1,000 123,996 Belanja hibah 44,948 20,930 14,940 27,345 18,930 16,300 13,915 0 157,308 Belanja bantuan sosial 66,505 22,600 17,369 36,648 25,030 33,060 21,176 17,800 240,188 Belanja bagi hasil kpd Prop/Kab/Kota/Desa 168,800 0 0 0 4,344 1,000 9,056 0 183,200 Belanja bantuan keu. kpd Prop/Kab/Kota/Desa 5,000 34,710 29,663 34,558 0 2,500 0 1,940 108,371 Belanja tidak terduga 500 1,000 2,000 2,000 5,000 1,500 4,000 2,000 18,000 Belanja langsung 1,175,698 544,423 428,229 597,294 730,927 315,890 446,904 159,464 4,398,829 Belanja pegawai 198,747 86,001 50,279 60,861 98,878 46,876 48,527 17,378 607,547 Belanja barang dan jasa 340,085 180,117 132,607 265,377 276,259 177,170 147,507 98,807 1,617,929 Belanja modal 636,866 278,305 245,343 271,056 355,790 91,844 250,870 43,279 2,173,353 TOTAL BELANJA 1,636,000 897,380 693,871 999,369 1,204,742 639,574 631,566 270,900 6,973,402 SURPLUS/(DEFISIT) (306,000) (341,057) (193,580) (260,000) (198,136) (60,018) (277,009) (1,181) (1,636,981) - Penerimaan Pembiayaan Daerah 310,000 341,207 196,580 260,000 200,136 60,018 262,353 1,181 1,631,475 - Pengeluaran Pembiayaan Daerah 4,000 150 3,000 0 2,000 0 3,675 0 12,825 Sumber : Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK), diolah Kabupaten Natuna Kota Batam Kota Tj. Pinang Triwulan II 2009 51

Selain DAU, pemerintah pusat juga telah menyiapkan anggaran untuk RTSM (Rumah Tangga Sangat Miskin). Dengan dana ini, sekitar 10 ribu kepala keluarga rumah tangga sangat miskin (RTSM) di Kepulauan Riau akan mendapatkan alokasi dari APBN senilai Rp 20 miliar untuk jangka waktu enam tahun ke depan. Selama program tersebut berlangsung, setiap warga yakni ibu dan anak mendapat Rp 800 ribu sampai Rp 2,2 juta per tahun yang diserahkan tiap tahun dalam bentuk tunai dan fasilitas sarana kesehatan. Terkait dengan upaya antisipasi dampak krisis global di Kepulauan Riau, Pemerintah Pusat telah mengalokasikan stimulus fiskal untuk pembangunan infrastruktur senilai Rp 60 miliar. Untuk stimulus infrastruktur ini, provinsi Kepulauan Riau mendapatkan alokasi dana di atas provinsi lain. Stimulus fiskal itu diharapkan dapat membantu perekonomian masyarakat yang terkena krisis ekonomi. Stimulus itu dianggarkan untuk pembangunan Pelabuhan Malarko di Karimun senilai Rp 20 miliar, pembangunan fasilitas Pelabuhan Dompak dianggarkan Rp 15 miliar, dukungan ekspansi sektor riil Departemen Perdagangan di Kabupaten Kepulauan Anambas senilai Rp 10 miliar dan di Karimun Rp 15 miliar. Program tersebut sudah disahkan Panitia Anggaran DPR-RI dan segera dilaksanakan akhir Maret ini. 4.2. TINGKAT PENYERAPAN APBD HISTORIS Secara keseluruhan kemampuan penyerapan anggaran oleh pemerintah kabupaten dan kota belum optimal. Tingkat penyerapan anggaran dalam 3 tahun terakhir diperkirakan semakin menurun. Penyerapan anggaran belanja di tahun 2006 sempat melampaui target pengeluaran dengan tingkat realisasi sekitar 102,7%, didorong tingginya penyerapan di kabupaten Bintan, Karimun, dan kota Tanjungpinang. Namun di tahun 2007 turun menjadi 87,8%, dan di tahun 2008 diperkirakan hanya terserap sebesar 86,3%. Grafik 4.1. Tingkat Penyerapan APBD Total Provinsi Kepulauan Riau Grafik 4.2. Tingkat Penyerapan APBD Masing-Masing Kab./Kota di Provinsi Kepulauan Riau Sumber : DJPK, diolah Sumber : DJPK, diolah Triwulan II 2009 52

Adapun daerah yang memiliki tingkat penyerapan anggaran belanja tertinggi adalah kabupaten Bintan, dimana realisasi belanja di tahun 2008 diperkirakan sebesar Rp 663 milyar, yang berarti mencapai 127,9% dari target 2008 sebesar Rp 518,3 milyar. Pengelolaan keuangan yang cukup optimal juga ditunjukkan oleh kabupaten Karimun. Realisasi anggaran selama kurun waktu tahun 2005-2007 melampaui target APBD yang ditetapkan. Bahkan pada tahun 2007, tingkat penyerapan anggaran tercatat sebesar 162,7%. Namun di tahun 2008, tingkat penyerapan anggaran menurun drastis menjadi 80,2%. Adapun tingkat penyerapan anggaran terendah terjadi pada kabupaten Natuna, dimana pada tahun 2007 hanya terealisasi sebesar 73,5%, dan di tahun 2008 diperkirakan sedikit meningkat menjadi 75% dari ta rget APBD TA.2008 yang disetujui sebesar Rp 1,04 triliun. Antisipasi pemerintah dalam merespon lesunya aktivitas ekonomi akibat krisis global antara lain terlihat dari kenaikan pos Belanja Modal mencapai Rp 709 milyar atau 48,4% dibanding tahun sebelumnya, serta belanja Barang dan Jasa yang meningkat 21,6 %. Hal ini diharapkan dapat mendorong kontribusinya terhadap pembentukan PDRB di sisi Konsumsi dan Investasi yang mengalami penurunan signifikan di tahun 2008. Di samping itu, keberpihakan pemerintah pada masyarakat kecil (ekonomi lemah) ditunjukkan dengan meningkatnya pos belanja Subsidi, Hibah, dan Bantuan Sosial yang masing-masing sekitar Rp 45 milyar (56,5%), Rp 96 milyar (156,1%), dan Rp 45 milyar (23,2%). Terkait dengan itu, kontribusinya terhadap total APBD juga relatif meningkat di tahun 2009. Grafik 4.3. Rasio Konsumsi dan Investasi Pemerintah terhadap PDRB Kepulauan Riau Gambar 4.1. Rasio Belanja Sosial, Hibah dan Subsidi terhadap Total APBD Kepulauan Riau Sumber : DJPK dan BPS Kepulauan Riau, diolah Sumber : DJPK, diolah Dengan demikian, partisipasi aktif pemerintah daerah Kepulauan Riau menjadi semakin penting dalam menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi wilayahnya sejalan dengan target pertumbuhan Nasional tahun 2009. Percepatan realisasi belanja secara proporsional diyakini mampu memberi stimulus positif bagi penciptaaan lapangan kerja guna Triwulan II 2009 53

meminimalisir dampak krisis yang semakin intens dirasakan pada triwulan II-2009 ini, yang diperkirakan masih akan berlangsung di triwulan mendatang. 4.3 APBD PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU Secara ringkas beberapa kebijakan prioritas pembangunan Provinsi Kepulauan Riau tahun 2009 adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan Kualitas di Bidang Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan; 2. Mendorong peningkatan perekonomian daerah dan penurunan jumlah penduduk miskin. 3. Peningkatan infrastruktur dalam rangka mengurangi kesenjangan pembangunan antar daerah dan melanjutkan pembangunan sarana dan prasarana perkantoran Pemerintah Provinsi; 4. Peningkatan kemampuan keuangan daerah. 5. Mewujudkan tata kepemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa (Good and Clean Government); 6. Meningkatkan keamanan dan ketertiban dalam rangka menghadapi Pemilu 2009. 7. Peningkatan kehidupan beragama, memajukan budaya, kesenian dan peningkatan peranan perempuan Untuk melaksanakan berbagai kebijakan tersebut telah disusun sejumlah program dan kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2009 mendatang. Untuk membiayai program dan kegiatan tersebut maka APBD Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2009 ditargetkan sebesar Rp 1,64 triliun, yang berasal dari Pendapatan Daerah sebesar Rp 1,33 triliun serta dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) sebesar Rp 310 milyar, terdiri dari Sisa Anggaran Lebih (SAL) tahun 2008 sebesar Rp 190 milyar dan kelebihan pendapatan tahun 2008 sebesar Rp 37 milyar. APBD tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar 18,12% jika dibandingkan dengan APBD Tahun 2008. Kenaikan tersebut dikarenakan terjadinya kenaikan pada target Pendapatan Daerah sebesar 10,35% dibandingkan tahun 2008, dan besarnya estimasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) yang dianggarkan pada RAPBD tahun 2009 yaitu sebesar 13,68% dari APBD 2008. Target penerimaan Pendapatan Daerah Provinsi Kepulauan Riau pada Tahun 2009 direncanakan berasal dari Pajak Daerah sebesar Rp 407,18 milyar, Retribusi Daerah Rp 3,55 Triwulan II 2009 54

milyar, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan (PT. Pembangunan Kepri) sebesar Rp 680 juta dan Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah sebesar Rp 13,27 milyar, serta porsi Dana Perimbangan sebesar Rp 905,31 milyar. Sampai saat ini penerimaan Pajak Daerah masih bertumpu pada sektor Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB) yang memberikan kontribusi sebesar 99,6% dari total target Pajak Daerah. Peningkatan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dimungkinkan karena adanya kenaikan jumlah kendaraan bermotor, kebijakan pemutihan dan penyuluhan kepada wajib pajak. Sedangkan kenaikan komponen Retribusi Daerah diatas 100% diperkirakan sejalan dengan mulai diterapkannya Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah. 4.3.3. Realisasi Penerimaan Penerimaan pemerintah sampai dengan bulan Mei 2009 diperkirakan sebesar Rp 385 milyar atau 28,98% dari target penerimaan sebesar Rp 1,33 triliun. Sumbangan penerimaan terbesar berasal dari pencairan Dana Alokasi Umum (DAU) senilai Rp 201,57 milyar yang teralisasi secara proporsional. Selain itu penerimaan dari Pajak Daerah sebesar Rp 149,42 milyar juga memberi kontribusi signifikan terhadap penerimaan tahun berjalan. Realisasi penerimaan yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) sampai dengan bulan Mei diperkirakan sebesar Rp 162 milyar atau 36,3% dari target PAD tahun 2009. Rendahnya tingkat realisasi diduga karena tidak disetujuinya beberapa rancangan Peraturan Daerah (ranperda) terkait dengan optimalisasi sumber-sumber penerimaan di daerah. Kondisi tersebut jug tercermin dari rendahnya penerimaan yang berasal dari Retribusi Daerah, dimana sampai bulan Mei hanya terealisasi sebersar Rp 944,38 milyar, atau 26,6%. Triwulan II 2009 55

Tabel 4.3. Perkembangan Realisasi Penerimaan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau Jan Mei 2009 TARGET TA. 2009 JENIS PENERIMAAN Jan 09 Feb 09 Mar 09 Apr 09 Mei 2009 Total Pencapaian (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (%) 1. PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah 407,182,211,139 30,361,614,060 28,968,679,631 27,148,292,076 36,057,881,532 26,885,825,006 149,422,292,305 36.70% Retribusi Daerah 3,550,000,000 144,621,700 199,933,875 399,223,372 119,675,950 80,925,000 944,379,897 26.60% Retribusi Jasa Umum 2,130,000,000 94,336,700 134,928,875 285,261,312 7,992,500 3,980,000 526,499,387 24.72% Retribusi Jasa Usaha 1,420,000,000 50,285,000 65,005,000 113,962,060 111,683,450 76,945,000 417,880,510 29.43% Lain lain Pendapatan Asli Daerah 13,274,294,104 7,777,874,987 972,512,467 993,830,508 1,146,425,345 1,190,106,498 12,080,749,805 91.01% TOTAL PAD 424,006,505,243 38,284,110,747 30,141,125,973 28,541,345,956 37,323,982,827 28,156,856,504 162,447,422,007 38.31% 2. DANA PERIMBANGAN Bagi Hasil Pajak / Bukan Pajak 185,871,207,341 1,986,166,658 864,063,464 1,379,207,194 1,525,060,718 1,408,969,097 7,163,467,131 3.85% Bagi Hasil Pajak 99,000,000,000 1,330,511,539 206,374,364 224,035,662 267,053,105 287,136,482 2,315,111,152 2.34% Bagi Hasil Bukan Pajak 16,607,427,341 655,655,119 657,689,100 1,155,171,532 1,258,007,613 1,121,832,615 4,848,355,979 29.19% Pajak Penghasilan Orang Pribadi 70,263,780,000 0 0 0 0 0 0 0.00% Bagi Hasil Bukan Pajak 295,378,807,416 0 0 1,383,218,447 12,732,369,800 0 14,115,588,247 4.78% Dana Alokasi Umum 403,132,480,000 67,188,748,000 33,594,374,000 33,594,374,000 33,594,374,000 33,594,374,000 201,566,244,000 50.00% Dana Alokasi Khusus 20,931,000,000 0 0 0 0 0 0 0.00% TOTAL DANA PERIMBANGAN 905,313,494,757 69,174,914,658 34,458,437,464 36,356,799,641 47,851,804,518 35,003,343,097 222,845,299,378 24.62% TOTAL PENERIMAAN DAERAH 1,329,320,000,000 107,459,025,405 64,599,563,437 64,898,145,597 85,175,787,345 63,160,199,601 385,292,721,385 28.98% Sumber : Badan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aset Daerah 4.3.3. Realisasi Belanja Adapun penyerapan anggaran belanja Pemerintah Provinsi sampai dengan bulan Juni 2009 lebih tinggi baik dibandingkan sisi penerimaan. Anggaran belanja yang terserap diperkirakan sebesar Rp 637,61 milyar atau 38,97% dari target APBD sebesar Rp 1,64 triliun. Namun demikian, penyerapan anggaran selama periode triwulan II 2009 ini relative lebih baik dibanding triwulan I yang baru terserap sekitar 14% dari target yang ditetapkan. Tabel 4.4. Perkembangan Realisasi Pengeluaran Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau Tw.II 2009 TARGET TA. 2008 JENIS PENGELUARAN Jan 09 Feb 09 Mar 09 Apr 09 Mei 2009 Jun 09 Total Pencapaian (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (%) 1. BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai 174,549,153,245 5,014,542,353 10,992,056,366 10,037,640,437 14,528,624,733 9,466,822,862 20,542,773,657 102,169,162,054 58.53% Belanja Subsidi 0 0 0 0 0 0 871,704,000 Belanja Hibah 44,947,814,000 0 1,800,000,000 5,222,978,400 7,763,000,000 4,106,500,000 2,129,000,000 30,311,005,000 67.44% Belanja Bantuan Sosial 66,505,000,000 0 4,640,800,000 7,541,333,000 8,613,250,000 5,723,280,000 2,745,850,000 35,986,094,000 54.11% Belanja Bagi Hasil kpd Provinsi/Ka 168,800,000,000 0 8,243,421,369 0 0 0 2,410,208,900 2,410,208,900 1.43% Belanja Bantuan Keuangan kpd Pr 5,000,000,000 0 0 2,500,000,000 0 0 0 0 0.00% Belanja Tidak Terduga 500,000,000 0 0 0 0 0 0 0 0.00% TOTAL BELANJA TIDAK LANGSUN 460,301,967,245 5,014,542,353 25,676,277,735 25,301,951,837 30,904,874,733 19,296,602,862 27,827,832,557 171,748,173,954 37.31% 0 2. BELANJA LANGSUNG 0 Belanja Pegawai 198,746,557,593 13,274,525,140 18,383,101,826 23,713,054,393 6,977,306,405 7,092,399,216 55,179,631,451 92,962,391,465 46.77% Belanja Barang dan Jasa 340,085,093,262 40,350,991,566 61,702,018,296 86,088,762,523 26,032,409,704 29,094,326,842 23,119,281,065 164,334,780,134 48.32% Belanja Modal 636,866,381,900 14,340,968,375 19,805,400,579 25,393,135,871 102,527,467,777 29,667,456,380 50,981,968,651 208,570,028,679 32.75% TOTAL BELANJA LANGSUNG 1,175,698,032,755 67,966,485,081 99,890,520,701 135,194,952,787 135,537,183,886 65,854,182,438 129,280,881,167 465,867,200,278 39.62% TOTAL PENGELUARAN 1,636,000,000,000 119,132,197,712 170,737,583,636 228,913,816,589 166,442,058,619 85,150,785,300 157,108,713,724 637,615,374,232 38.97% Sumber : Badan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aset Daerah Triwulan II 2009 56

Perhatian pemerintah provinsi terhadap dampak krisis global semakin tercermin dari tingginya penyerapan anggaran pada pos belanja Subsidi, Hibah dan Bantuan Sosial. Pemerintah provinsi telah mengeluarkan dana sebesar Rp 871,7 juta untuk Belanja subsidi yang sebelumnya tidak ditargetkan. Untuk belanja Hibah, anggaran yang telah teralisasi mencapai Rp 30,31 milyar atau 67,4%. Sementara untuk belanja Bantuan Sosial sebesar Rp 35,98 milyar, yang berarti 54,1% dari target yang ditetapkan. Adapun realisasi belanja konsumsi pemerintah tergolong cukup optimal. Total belanja Barang dan Jasa sampai dengan bulan Juni 2009 diperkirkan sebesar Rp 164,33 milyar atau 48,3%. Di lain pihak, pengeluaran investasi pemerintah belum proporsional dengan tingkat realisasi sebesar 32,8%. Secara keseluruhan, pos belanja tidak langsung menyerap 37,3%, sedangkan pos belanja tidak langsung baru terealisasi sekitar 39,6% dari target masingmasing yang ditetapkan untuk tahun 2009. Belum optimalnya tingkat realisasi disebabkan beberapa proyek yang belum terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan. 4.4. BERITA PERKEMBANGAN APBD PEMERINTAHAN KOTA/KABUPATEN LAINNYA Penerimaan APBD kota Batam tahun 2009 diperkirakan minus sekitar Rp 18 miliar setelah beberapa Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) terkait pemasukan dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum mendapat persetujuan dari Legislatif. Ranperda tersebut antara lain rancangan penerimaan dari retribusi Reklame, Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Menara Tower Terpadu (MTT), dan sumber lainnya. Tertundanya pengesahan disebabkan beberapa faktor teknis seperti belum selesainya Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), fatwa planologi, dan tarif retribusi bangunan yang belum disepakati. Dari target penerimaan di pos APBD, sektor MTT seharusnya dapat memberi pemasukan sekitar Rp 5 miliar, target dari izin IMB sekitar Rp 7 miliar, izin retribusi dari Dinas KP2 sekitar Rp 4,7 miliar, izin pengelolaan limbah Rp700 juta, dan izin reklame rencananya menuyumbang pemasukan sekitar Rp 1,7 miliar. Terkait pembangunan infrastruktur jalan di Kota Batam, Pemerintah Kota (Pemko) Batam merespons keluhan berbagai pihak dengan secara langsung melakukan pembenahan dan pembangunan di lokasi-lokasi yang memang sudah dialokasikan dalam perencanaan pembangunan tahun 2009. Untuk mengatasi kerusakan jalan seluruh Batam, Pemko menganggarkan dana sebesar Rp 108 miliar yang terdiri dari pengendalian banjir dan pembangunan drainase di delapan lokasi dengan anggaran sebesar Rp14,711 miliar. Delapan lokasi tersebut adalah bangunan pelintas di Jalan Soeprapto, Perumahan Villa Mukakuning, Saluran sekunder Sagulung Sentosa, bangunan pelintas dan saluran kawasan Muka Kuning Triwulan II 2009 57

(MKGR), bangunan pelintas belakang Pandawa, Saluran Sekunder kavling Sagulung Berseri, Drainase Bengkong Asrama PLTD, RW 10, Drainase perum Putri, Batuaji, serta bangunan pelintas depan DC Mall Jodoh. Bila melihat dari tingkat penyerapan anggaran historis, kota Batam yang diharapkan menjadi lokomotif pertumbuhan provinsi Kepulauan Riau tidak pernah mencapai tingkat realisasi optimal sejak tahun 2002. Penyerapan anggaran belanja rata-rata hanya sebesar 85,2%. Di tahun 2008, dari target APBD yang telah disahkan sebesar Rp 858 milyar diperkirakan hanya terserap sekitar 86,7%. Grafik 4.4. Tingkat Penyerapan Anggaran Belanja & Kontribusi thp PDRB Kepulauan Riau Sumber : DJPK dan BPS Kepulauan Riau (diolah) Sementara itu untuk Kabupaten Bintan, APBD Tahun Anggaran 2009 yang disahkan mencapai Rp 693,87 milyar. Namun berdasarkan kemampuan pendapatannya diperkirakan hanya terkumpul sekitar Rp 500,29 miliar. Karena itu APBD Bintan 2009 mengalami defisit sampai Rp 193 miliar. Untuk menutup defisit tersebut digunakan dana Silpa pada APBD 2008 lalu yang jumlahnya mencapai Rp 195,58 miliar. Besarnya dana Silpa historis dimana pada tahun 2007 juga tersisa sebesar Rp 187 miliar dan di tahun 2006 mencapai lebih dari Rp 100 miliar menunjukkan rendahnya daya serap pembangunan kabupaten yang berpenduduk sekitar 130 ribu jiwa ini. Prioritas pembangunan daerah pada tahun anggaran 2009 ini akan diarahkan kepada percepatan pembangunan ekonomi dan infrastruktur serta peningkatan aksesibilitas dan kualitas pendidikan masyarakat, serta bidang kesehatan guna menanggulangi kemiskinan pada hampir 75% masyarakatnya yang berada di daerah pedesaan. Selain peningkatan pembangunan ekonomi masyarakat, pengalokasian anggaran dalam APBD 2009 juga diprioritaskan untuk percepatan pembangunan ibukota, pembangunan fisik kantor Bupati dan DPRD Bintan (pola multi years) serta sejumlah perkantoran dinas dan badan. Pemantapan Triwulan II 2009 58

kinerja pemerintahan daerah guna peningkatan pelayan publik, perbaikan perilaku masyarakat dan penguatan budaya daerah juga menjadi skala prioritas yang menjadi perhatian. Penanganan kemiskinan yang akan dijalankan dengan pola pemberdayaan ekonomi masyarakat mengacu pada banyaknya kantung-kantung kemiskinan di wilayah Bintan, antara lain berada di Teluk Bintan, Mantang dan Kecamatan Bintan Pesisir. Sedangkan bagi Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai wilayah pemekaran baru, Total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) perdana yang disahkan mencapai Rp 270,9 miliar. APBD tersebut terdiri atas anggaran belanja langsung sebesar Rp 111,3 miliar atau 41,14% dari total APBD, sedangkan untuk belanja langsung dialokasikan sekitar Rp 159 Miliar (58,86%). Porsi belanja langsung atau belanja proyek yang relatif lebih besar disesuaikan dengan tujuan awal pembangunan Anambas untuk mengutamakan pembangunan infrastruktur. Lebih rinci, alokasi terbesar diberikan untuk wilayah Siantan yang mencapai 23,4% dari anggaran. Alokasi ini khususnya untuk membangun Siantan sebagai Ibukota Anambas sesuai dengan amanat Undang-undang. Sedangkan untuk Jemaja, alokasi dana pembangunan infrastuktur akan diberikan sebesar 15,8%. Sementara untuk Kecamatan Siantan Tengah, Pemerintah Kabupaten akan mengalokasikan dana sebesar 12,4%, dan Kecamatan Siantan Selatan dialokasikan sekitar 10,8%, serta terakhir pembangunan kecamatan Siantan Timur dikucurkan dana sebesar 10,9% dari total anggaran belanja langsung. Untuk sektor yang pembangunan yang akan didahulukan mengacu kepada kebijakan provinsi dimana sektor pendidikan menjadi prioritas. Setelah sektor pendidikan, prioritas lainnya adalah sektor kesehatan serta sektor infrastruktur dan bangunan. Secara keseluruhan, penyerapan APBD di wilayah Kepualauan Riau diperkirakan mengalami deviasi dari target proporsional yang seharusnya. Kondisi ini salah satunya disebabkan karena tertundanya pengesahan APBD yang sangat lazim terjadi, akibat prosesnya sendiri yang seringkali berjalan tidak sesuai dengan kalender anggaran yang telah ditetapkan. Beberapa tahap yang seharusnya dilakukan secara beruntun, seperti misalnya penyusunan kebijakan umum anggaran dan instruksi anggaran bagi dinas, pada kenyataannya dilakukan secara bersamaan. Kadang rancangan anggaran sudah dalam tahap review sementara kebijakan umum anggaran belum lagi disahkan. Triwulan II 2009 59

Meskipun menurut peraturan, anggaran harus sudah disahkan pada akhir Desember untuk tahun anggaran yang dimulai bulan Januari, namun pihak Eksekutif baru mengajukan rancangan anggaran kepada pihak Legislatif (DPRD) pada bulan Pebruari. Sementara itu DPRD membutuhkan paling tidak dua bulan untuk review rancangan anggaran tersebut guna memastikan anggaran telah mencerminkan kebutuhan dan prioritas masyarakat. Konsekuensinya, pemerintah daerah tidak dapat mendanai proyek-proyek dengan tepat waktu. Kualitas beberapa proyek menjadi jauh berkurang jika keterlambatan pengesahan anggaran menyebabkan tidak tersedianya waktu yang memadai untuk merencanakan dan melakukan proyek bersangkutan. Untuk mempercepat proses pengesahan anggaran, baik pihak legislatif maupun eksekutif harus melakukan pendekatan yang tegas dalam menerapkan langkah-langkah yang diperlukan bagi penyelesaian proses APBD secara efisien dan tepat waktu. Triwulan II 2009 60

BAB 5 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN 5.1. PENGEDARAN UANG KARTAL Perkembangan aliran uang yang masuk (inflow) dan keluar (outflow) Kantor Bank Indonesia Batam pada triwulan II 2009 ditandai dengan angka outflow yang mengalami peningkatan namun angka inflow menunjukkan trend penurunan. Pada triwulan II 2009 terjadi outflow sebesar Rp759,19 miliar atau naik sebesar Rp176,65 miliar (30,30%) dibandingkan triwulan I 2009 yang tercatat sebesar Rp Rp582,64 miliar. Grafik 5.1. Perkembangan Inflow Outflow Sementara itu inflow ke Kantor Bank Indonesia Batam tercatat sebesar Rp61,73 milyar atau mengalami penurunan sebesar Rp103,68% (62,68%) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp165,41 miliar. Sehingga melanjutkan trend sebelumnya dimana Kantor Bank Indonesia Batam selalu mengalami outflow, pada triwulan laporan net outflow tercatat sebesar Rp697,46 miliar. Hal ini merupakan sesuai dengan pola outflow di KBI Batam yang selalu mengalami penurunan di triwulan awal tahun dan kemudian mulai menunjukkan peningkatan di triwulan-triwulan berikutnya. Penarikan tertinggi biasanya terjadi di triwulan akhir tahun yang biasanya bertepatan dengan tahun baru dan perayaan hari raya keagamaan (Natal dan Imlek). Triwulan II 2009 61

KETERANGAN Tabel 5.1 Perkembangan Uang Kartal (dalam milyar rupiah) 2007 2008 2009 Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Inflow 47,68 214,06 59,97 60,95 64,57 278,55 165,41 61,73 Outflow 851,82 1.208,18 405,16 791,49 1.527,09 1.496,47 582,64 759,19 Net 804,14 994,12 345,19 730,54 1.462,53 1.217,92 417,23 697,46 Sumber: Bank Indonesia 5.1.1. Penyediaan Uang Kartal Layak Edar Peracikan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam melaksanakan kebijakan uang bersih (clean money policy) yaitu Bank Indonesia senantiasa menyediakan uang rupiah dalam kondisi yang layak kepada masyarakat. Di samping itu, Bank Indonesia juga memberikan pelayanan kepada perbankan dan masyarakat untuk kegiatan setoran, penarikan dan penukaran untuk pecahan besar ke pecahan kecil serta untuk uang rupiah lusuh. Selama triwulan II 2009, jumlah UTLE yang diracik di KBI Batam Rp34,08 milyar atau mengalami penurunan sebesar Rp4,45 miliar (11,55%) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp38,53 miliar. Penurunan jumlah UTLE yang diracik oleh KBI Batam berbanding lurus dengan penurunan inflow yang berasal dari setoran bank-bank yang berada di wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Grafik 5.2. Perkembangan UTLE Triwulan II 2009 62

5.2. LALU LINTAS PEMBAYARAN GIRAL 5.2.1. Kliring Lokal Untuk wilayah kerja Kantor Bank Indonesia Batam, terdapat 3 (tiga) wilayah kliring lokal, yaitu: di Kantor Bank Indonesia Batam untuk wilayah Kota Batam, PT. Bank Mandiri untuk wilayah Tanjung Pinang, dan PT. BNI untuk wilayah Tanjung Balai Karimun. Nilai transaksi melalui sistem kliring lokal di wilayah Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 mencapai Rp2,55 triliun dengan jumlah warkat sebanyak 105.943 lembar. Nilai total kliring tersebut menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp2,59 triliun dengan jumlah warkat sebanyak 101.670 lembar. Grafik 5.3. Perputaran Kliring Grafik 5.4. Penolakan Cek/BG Kosong Sementara itu, penolakan Cek/BG kosong di wilayah kerja KBI Batam pada triwulan II 2009 tercatat sebesar Rp56,45 milyar dengan jumlah warkat sebanyak 2.036 lembar. Jumlah ini relatif stabil dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp56,98 miliar dengan jumlah warkat 1.812 lembar. Keterangan Tabel 5.2 Perkembangan Kliring Lokal 2008 2009 Tw.1 Tw.2 Tw.3 Tw.4 Tw.1 Tw.2 Perputaran Kliring Lembar 104.027 108.574 111.429 102.838 101.670 105.943 Nominal (Rp Miliar) 2.456 2.719 2.964 2.742 2.597 2.549 Penolakan Cek/BG Kosong Lembar 1.873 1.770 1.986 2.160 1.812 2.036 Nominal (Rp Miliar) 47,16 71,27 49,34 56,80 56.98 56,45 Sumber: Bank Indonesia Triwulan II 2009 63

5.2.2. Transaksi BI-RTGS Transaksi masyarakat melalui sarana Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (RTGS) di Provinsi Kepulauan Riau baik secara nominal maupun sencara volume masih didominasi transaksi yang terjadi di Kota Batam. Transaksi BI-RTGS selama triwulan II 2009 yang berasal dari Kota Batam tercatat sebesar Rp4,66 triliun atau 82,79% dari total seluruh transaksi BI-RTGS yang berasal dari Provinsi Kepulauan Riau. Sedangkan transaksi yang berasal dari Kabupaten Tanjung Balai Karimun dan Kota Tanjung Pinang masing-masing tercatat sebesar Rp407,96 milyar dan Rp561,85 milyar dengan share masing-masing 7,24% dan 9,97%. Sementara itu, transaksi BI-RTGS yang masuk ke Kota Batam selama triwulan II 2009 tercatat sebesar Rp6,11 triliun atau 84,49% dari seluruh transaksi BI-RTGS yang masuk ke Provinsi Kepulauan Riau. Transaksi BI-RTGS yang masuk ke Kabupaten Bintan tercatat sebesar Rp2,66 triliun dengan share 0,04%. Sementara itu transaksi BI-RTGS yang masuk ke Kabupaten Natuna tercatat sebesar Rp35,35 miliar dengan share sebesar 0,49%. Sedangkan transaksi BI-RTGS yang masuk ke Kota Tanjung Pinang dan Kabupaten Tanjung Balai tercatat sebesar Rp307,89 miliar dan Rp777,09 miliar dengan share masing-masing sebesar 4,25% dan 10,74%. Tabel 5.3 Perkembangan BI-RTGS Tw. I 2009 FROM TO FROM - TO Region Nilai Nilai Nilai Volume Volume (Milyar Rp) (Milyar Rp) (Milyar Rp) Volume BATAM 4.663,74 9.168 6.115,56 12.372 2.992,78 4.967 BINTAN - - 2,66 23 - - NATUNA - - 35,35 51 - - TANJUNG BALAI 407,96 1.459 307,89 873 25,60 44 TANJUNGPINANG 561,85 995 777,09 1.321 358,29 675 Sumber: Bank Indonesia 5.3. UANG PALSU Jumlah uang rupiah palsu yang dilaporkan ke Bank Indonesia Batam pada triwulan II 2009 berjumlah Rp2.030.000,00 dengan jumlah lembar sebanyak 37 lembar. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan I 2009 yang tercatat sebesar Rp1.180.000,00 dengan jumlah lembar sebanyak 20 lembar. Triwulan II 2009 64

Tabel 5.4. Perkembangan Uang Palsu Pecahan Tw. I 2009 Tw. II 2009 Nominal Lembar Nominal Lembar 100.000 500.000 5 500.000 5 50.000 650.000 13 1.500.000 30 20.000 20.000 1 20.0000 1 10.000 10.000 1 10.000 1 5.000 - - - - 1.000 - - - - 1.180.000 20 2.030.000 37 Sumber: Bank Indonesia Berdasarkan jenis pecahan, uang kertas rupiah palsu pecahan Rp100.000,00 dilaporkan sebanyak 5 lembar, uang kertas rupiah palsu pecahan Rp50.000,00 dilaporkan sebanyak 30 lembar, uang kertas rupiah palsu pecahan Rp20.000,00 dilaporkan sebanyak 1 lembar, uang kertas rupiah palsu pecahan Rp10.000,00 dilaporkan sebanyak 1 lembar. Diagram 5.1. Prosentase Pecahan Uang Palsu Nominal Lembar Terkait dengan uang palsu yang beredar di masyarakat, Bank Indonesia Batam terus melakukan berbagai upaya untuk menekan peredarannya, antara lain dengan melakukan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah kepada berbagai kalangan (perbankan, pelajar, mahasiswa, masyarakat umum). Selain itu, Kantor Bank Indonesia Batam juga memasang iklan layanan masyarakat tentang ciri-ciri keaslian uang rupiah di beberapa media, salah satunya adalah di bioskop yang ada di Kota Batam. Triwulan II 2009 65

BAB 6 PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN 6.1. KETENAGAKERJAAN Sampai dengan bulan Februari 2009 jumlah angkatan kerja di Provinsi Kepulauan Riau mencapai 666.000 orang atau mengalami peningkatan sebanyak 2.510 orang (0,38%) dibandingkan bulan Agustus 2009. Dari total agkatan kerja pada Februari 2009 tersebut sebanyak 616.273 orang telah bekerja atau mengalami peningkatan sebanyak 3.606 orang (0,59%) terhadap bulan Agustus 2008. Sebagai catatan, data ketenagakerjaan dirilis oleh Badan Pusat Statistik setahun dua kali yaitu bulan Februari dan Agustus. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional sampai dengan Februari 2009 52.237 orang tercatat sebagai pengangguran atau mengalami penurunan sebanyak 1.096 orang (2,06%). Tingkat pertumbuhan orang yang bekerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan angkatan kerja dan pertumbuhan pengangguran ini menunjukkan lapangan kerja yang ada di Provinsi Kepulauan Riau masih dapat menampung angkatan kerja meskipun belum maksimal. Grafik 6.1. Perkembangan Penduduk Angkatan Kerja Grafik 6.2. Perkembangan Penduduk Bukan Angkatan Kerja Sumber : BPS data diolah Triwulan II 2009 66

Jumlah bukan angkatan kerja di Provinsi Kepulauan Riau sampai dengan Februari 2009 mengalami peningkatan dibandingkan dengan Agustus 2008. Jumlah bukan angkatan kerja mengalami peningkatan sebanyak 22.143 orang (6,48%) sehingga tercatat sebanyak 363.914 orang. Peningkatan jumlah bukan angkatan kerja terutama disebabkan karena terjadinya peningkatan bukan angkatan kerja yang mengurus rumah tangga mengalami kenaikan sebesar 13.304 orang (5,34%) dibandingkan data Agustus 2008. Sedangkan jumlah penduduk yang masih sekolah mengalami peningkatan sebesar 4.945 orang (8,16%). Tabel 6.1. Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan Seminggu yang Lalu URAIAN Feb. 07 Agt. 07 Feb. 08 Agt. 08 Feb. 09 Bekerja 583.155 535.797 597.159 612.667 616.273 Angkatan kerja Pengangguran 56.708 53.077 55.378 53.333 52.237 Total 639.863 588.874 652.537 666.000 668.510 Sekolah 67.247 75.895 72.455 60.596 65.541 Bukan Angkatan Kerja Mengurus RT 192.966 234.848 240.225 249.224 262.528 Lainnya 23.486 34.059 29.314 31.951 35.845 Sumber : BPS, Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional 2006,2007,2008 Total 293.699 344.802 341.994 341.771 363.914 Tingkat partisipasi angkatan kerja sampai dengan Februari 2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan Agustus 2008. Jika pada Agustus 2008 tingkat partisipasi angkatan kerja di Provinsi Kepulauan Riau tercatat sebesar 66,09%, maka pada Februari 2009 tingkat partisipasi angkatan kerja tersebut mengalami penurunan menjadi sebesar 64,75%. Triwulan II 2009 67

Grafik 6.3. Tingkat Pengangguran Terbuka dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Sumber : BPS data diolah Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan Agustus 2008. Pada Februari 2009 tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 7,81%, lebih rendah dibandingkan dengan tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2008 yang tercatat sebesar 8,01%. Dilihat dari lapangan usahanya, jumlah pekerja di Provinsi Kepulauan Riau masih terkonsentrasi di sektor industri dengan total pekerja sebanyak 223.902 orang atau 36,33% dari total pekerja di Provinsi Kepulauan Riau. Penduduk yang bekerja di sektor ini mengalami peningkatan sebanyak 3.487 orang atau 4,30% dibandingkan bulan Agustus 2008. Sektor yang cukup dominan dalam menyerap pekerja berikutnya adalah sektor perdagangan dengan jumlah pekerja sebanyak 99.241 orang (16,10%). Pekerja di sektor ini pada bulan Februari 2009 mengalami penurunan sebanyak 25.579 (20,49%) dibandingkan bulan Agustus 2008. Sementara itu sektor jasa kemasyarakatan menyerap tenaga kerja sebanyak 97.634 orang (15,84%). Jumlah pekerja pada sektor ini mengalami peningkatan 6.314 orang (6,91%) dibandingkan dengan Agustus 2008. Sedangkan sektor pertanian menyerap tenaga kerja sebanyak 84.626 orang atau 13,73% dari total pekerja di Provinsi Kepulauan Riau. Pekerja di sektor ini pada bulan Februari 2009 mengalami peningkatan sebanyak 3.487 orang (4,30%) dibandingkan Agustus 2008. Triwulan II 2009 68

Grafik 6.4. Perkembangan Pekerja Sektoral Diagram 6.1. Share Pekerja Sektoral Sumber : BPS data diolah Menurut status pekerjaan utamanya, jumlah penduduk berusia di atas 15 tahun di Provinsi Kepulauan Riau sebagian besar berkerja sebagai karyawan dengan jumlah 374.251 orang atau 60,73% dari total penduduk yang bekerja di Provinsi Kepulauan Riau. Jumlah karyawan pada bulan Februari 2009 mengalami peningkatan sebanyak 25.640 orang (7,35%) dibandingkan bulan Agustus 2008. Sedangkan penduduk yang bekerja sebagai wiraswasta tercatat sebanyak 135.220 (21,94%) atau mengalami penurunan sebanyak 14.916 orang (9,93%). Grafik 6.5. Perkembangan Pekerja menurut Grafik 6.5. Perkembangan Status Pekerja menurut Status Diagram 6.2. Share Pekerja menurut Status Diagram 6.2. Share Pekerja menurut Status Sumber : BPS data diolah Triwulan II 2009 69

6.2. KESEJAHTERAAN 6.2.1. Kemiskinan Jumlah dan persentase penduduk miskin di Provinsi Kepulauan Riau sampai dengan posisi Maret 2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan posisi yang sama tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin di Provinsi Kepulauan Riau pada Maret 2009 tercatat sebesar 128.210 orang atau mengalami penurunan sebesar 8.190 orang (6%). Sedangkan prosentase penduduk miskin pada tahun 2009 juga mengalami penurunan sebesar 0,91% menjadi 8,27% dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 9,18%. Grafik 6.6. Jumlah Penduduk Miskin di Provinsi Kepulauan Riau Sumber : BPS data diolah Jumlah penduduk miskin yang tinggal di daerah perdesaan mengalami penurunan sebesar 1.470 orang (2,19%) menjadi 65.630 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 67.140 orang. Sedangkan jumlah penduduk miskin yang tinggal di perkotaan tercatat 62.580 orang atau mengalami penurunan 6.620 orang (9,57%) dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 69.200 orang Triwulan II 2009 70

Tabel 6.2. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Provinsi Kepulauan Riau Indikator Perkotaan Pedesaan Total 2008 2009 2008 2009 2008 2009 Jumlah Penduduk Miskin (000 org) 69,22 62,58 67,14 65,63 136,36 128,21 Presentase Penduduk Miskin 8,81 7,63 9,60 8,98 9,18 8,27 Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau 6.2.2. Perubahan Garis Kemiskinan Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan. Pada tahun 2009 garis kemiskinan di Provinsi Kepulauan Riau mengalami peningkatan 8,29% menjadi Rp283.965,00 per kapita per bulan dibandingkan dengan tahun 2008 yang tercatat Rp262.232 per kapita per bulan. Pada periode yang sama garis kemiskinan daerah perkotaan mengalami peningkatan sebesar 6,45% sedangkan garis kemiskinan di wilayah pedesaan mengalami peningkatan sekitar 10,86%. Tabel 6.3. Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bln) Indikator Perkotaan Pedesaan Total 2008 2009 2008 2009 2008 2009 Makanan 190 752 203 114 176 030 194 404 183 815 199 011 Bukan Makanan 98 789 105 096 55 551 62 339 78 417 84 954 Total 289 541 308 210 231 581 256 742 262 232 283 965 Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Peranan GKM terhadap GK pada tahun 2009 tercatat sebesar 70,08% atau mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan perananan pada tahun 2008 yang tercatat sebesar 70,10%. Penurunan tersebut dipengaruhi Triwulan II 2009 71

oleh turunnya peranan GKM terhadap GK di pedesaan yang turun dari 76,01% menjadi 75,72%. Komoditi makanan yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras. Pada bulan Maret 2009, sumbangan pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan sebesar 37,7 % di perdesaan dan 23,6 % di perkotaan. Selain beras, barang-barang kebutuhan pokok lain yang berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan adalah gula pasir (8,4% di perdesaan, 4,4% di perkotaan), mie instan (5,7% di perdesaan, 4,2 % di perkotaan), telur (3,8% di perdesaan, 5,9% di perkotaan) dan minyak goreng (1,2% di perdesaan, 1,4% di perkotaan). Tabel 6.4. Peranan Komoditi terhadap Garis Kemiskinan Komoditi Perdesaan (%) Perkotaan (%) Makanan a. Beras 37,7 23,6 b. Gula Pasir 8,4 4,4 c. Mie Instan 4,2 5,7 d. Telur 3,8 5,9 e. Minyak goreng 1,2 1,4 Non Makanan a. Perumahan 31,9 27,0 b. Listrik 7,9 12,5 c. Angkutan 11,1 8,0 d. Minyak Tanah 5,0 6,0 Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau Untuk komoditi bukan makanan, biaya perumahan mempunyai peranan yang cukup besar terhadap Garis Kemiskinan yaitu 31,9% di pedesaan dan 27% di perkotaan. Biaya yang dikeluarkan untuk listrik sebesar 12,5%, angkutan 8% dan minyak tanah 12,5% mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk daerah perkotaan. Sementara itu, di perdesaan pengaruh untuk komoditi bukan makanan menunjukkan perbedaan yang cukup besar dibandingkan dengan wilayah perkotaan, terutama untuk perumahan dan angkutan. Triwulan II 2009 72

Grafik 6.7. Share Makanan terhadap Garis Kemiskinan Grafik 6.8. Share Bukan Makanan terhadap Garis Kemiskinan Sumber : BPS data diolah 6.2.3. Indeks Kedalaman Kemiskinan Dan Indeks Keparahan Kemiskinan Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Pada periode 2009, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P 1 ) menunjukkan kecenderungan menurun dibandingkan tahun sebelumnya dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P 2 ) menunjukkan kecenderungan meningkat dibandingkan periode 2008. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 2,07 menjadi 2,02. Hal yang berbeda terjadi pada Indeks Keparahan Kemiskinan yang naik dari 0,72 menjadi 0,77 pada periode yang sama (Tabel 3). Penurunan Indeks Kedalaman Kemiskinan mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan. Sedangkan kenaikan Indeks Keparahan Kemiskinan mengindikasikan bahwa rata-rata dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin semakin melebar. Triwulan II 2009 73

Tabel 6.5. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P 1 ) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P 2 ) Indeks Kedalaman Kemiskinan (P 1) Tahun Kota Desa Kota + Desa Maret 2008 1,88 2,29 2,07 Maret 2009 2,75 1,20 2,02 Indeks Keparahan Kemiskinan (P 2) Maret 2008 0,59 0,87 0,72 Maret 2009 1,19 0,30 0,77 Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau Indeks Kedalaman Kemiskinan daerah perkotaan naik dari 1,88 pada tahun 2008 menjadi 2,75 pada 2009. Sementara Indeks Keparahan Kemiskinan juga mengalami kenaikan, dari 0,59 pada tahun 2008 menjadi 1,19 pada tahun 2009. Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin daerah perkotaan cenderung makin menjauh dari garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin daerah perkotaan semakin membesar. Grafik 6.9. Share Makanan terhadap Garis Kemiskinan Grafik 6.10. Share Bukan Makanan terhadap Garis Kemiskinan Sumber : BPS data diolah Indeks Kedalaman Kemiskinan daerah perdesaan turun dari 2,29 pada tahun 2008 menjadi 1,20 pada tahun 2009. Sementara Indeks Keparahan Kemiskinan mengalami penurunan yang signifikan, yaitu dari 0,87 pada tahun 2008 menjadi Triwulan II 2009 74

0,30 pada tahun 2009. Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin daerah perdesaan cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin daerah perdesaan semakin berkurang. Pada tahun 2009, Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan daerah perdesaan lebih kecil dari perkotaan. Dapat disimpulkan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin daerah perdesaan lebih dekat dari garis kemiskinan dibanding perkotaan daerah, dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin perdesaan lebih menyempit dibanding daerah perkotaan. Triwulan II 2009 75

BAB 7 PROSPEK PEREKONOMIAN DAN INFLASI REGIONAL Sentimen positif dari faktor eksternal cukup membayangi perkiraan kondisi ekonomi Kepulauan Riau ke depan. Beberapa negara telah merevisi proyeksi ekonominya menjadi lebih optimis setelah di kuartal II 2009 memperlihatkan laju kontraksi yang melambat. IMF bahkan memperkirakan Cina dan India berpeluang pulih lebih cepat menyusul pencairan dana stimulus makroekonomi dan masuknya arus modal lebih cepat dari harapan. Adapun Singapura, sebagai mitra dagang terbesar provinsi ini juga menunjukkan tanda-tanda pembalikan dari resesi terbesar yang pernah terjadi sejak kemerdekaannya pada tahun 1965. Pemerintah Singapura mengkoreksi pertumbuhan ekonomi tahun 2009 menjadi sekitar 4% - 6%, lebih optimis dibanding prediksi sebelumnya yang mencapai -9%. Kondisi tersebut diharapkan mendorong permintaan ekspor dan konsumsi Kepulauan Riau di triwulan III 2009 mendatang. Sejalan dengan itu, output yang dihasilkan dari sektor industri dan perdagangan diperkirakan mengalami laju kontraksi yang semakin melambat. Grafik 7.1. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap US Dollar dan Singapore Dollar Grafik 7.2. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat dan Singapura proyeksi Sumber : Kurs Tengah Bank Indonesia Sumber : IMF & berbagai sumber Grafik 7.3. Proyeksi Harga Minyak Mentah WTI Grafik 7.4. Proyeksi Harga Gas Alam Internasional proyeksi proyeksi Sumber : www.marketvector.com Sumber : www.marketvector.com Triwulan II 2009 76

Sementara laju inflasi dipastikan semakin menurun didukung stabilitas nilai tukar Rupiah dan harga komoditas internasional selama periode mendatang. Tekanan di sisi supply diperkirakan berkurang dengan semakin lancarnya arus barang dan kondisi cuaca yang relatif baik selama triwulan mendatang. 7.1. PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI Perlambatan ekonomi Kepulauan Riau di triwulan III 2009 diperkirakan melandai pada kisaran -0,39% s/d. 0,26% (y-o-y). Optimisme lebih dipengaruhi oleh kondisi ekstenal yang mulai menunjukkan pemulihan dari krisis global. Namun demikian, ketidakpastian kondisi permintaan global masih membayangi perkiraan di triwulan mendatang, tercermin dari level kontraksi yang cukup besar dibanding triwulan sebelumnya. Perekonomian sepanjang tahun 2009 diproyeksi bergerak antara -0,2% sampai dengan 1%. Determinan penguatan ekonomi diperkirakan berasal daya beli masyarakat yang semakin pulih disertai peningkatan konsumsi pemerintah menjelang akhir tahun. Selain itu, kinerja ekspor juga diproyeksi membaik merespon arah recovery perekonomian global. Tabel 7.1. Proyeksi Laju Pertumbuhan Triwulan III 2009 berdasarkan Sektor Ekonomi & Komponen Penggunaan 2008 III IV I* II** 2009 III (P) KOMPONEN PENGGUNAAN 1. Konsumsi Rumah Tangga 18.59% 17.45% 11.42% 12.58% 12.59% 13.24% 2. Konsumsi Lembaga Swasta 11.94% 13.91% 30.78% 28.91% 17.48% 18.12% 3. Konsumsi Pemerintah 9.15% 13.01% 7.11% 8.83% 9.61% 10.25% 4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 31.22% 25.72% 16.31% 7.60% 5.59% 6.24% 5. Ekspor Barang dan Jasa 0.60% -1.39% -5.50% -2.15% -2.19% -1.55% 6. Impor Barang dan Jasa 23.46% 19.57% 16.42% 16.77% 16.46% 17.10% SEKTOR EKONOMI 1. Pertanian 2.18% -0.72% 0.08% -0.29% -0.24% 0.40% 2. Pertambangan & Penggalian -2.85% -3.09% -1.29% -1.04% -1.28% -0.64% 3. Industri Pengolahan 4.67% 1.78% -2.66% -2.94% -2.67% -2.02% 4. Listrik, Gas & Air Bersih 5.12% 1.65% -0.73% -0.66% -0.68% -0.03% 5. Bangunan 28.52% 24.03% 14.81% 13.65% 13.42% 14.06% 6. Perdagangan, Hotel & Restoran 8.36% 2.21% -0.87% -0.38% -0.47% 0.18% 7. Pengangkutan & Komunikasi 13.84% 9.64% 5.71% 5.40% 4.69% 5.34% 8. Keuangan, Persewaan & Jasa P'an 9.59% 7.10% 6.12% 5.46% 5.09% 5.73% 9. Jasa-Jasa 14.77% 10.36% 8.29% 9.12% 8.86% 9.51% P D R B 6.52% 3.05% -0.35% -0.44% -0.39% 0.26% Sumber : Bank Indonesia Batam, Juli 2009 Laju pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga diperkirakan meningkat dari 12,58% di triwulan II menjadi sekitar 12,59% - 13,24%. Kondisi ini didorong oleh kenaikan pengeluaran masyarakat selama musim liburan sekolah dan perkuliahan yang jatuh antara bulan Juni sampai dengan Agustus 2009. Selain itu pemulihan daya beli akan semakin terasa Triwulan II 2009 77

Sumber : Otorita Batam, Pelabuhan Batam Ket.: Pelabuhan Batam meliputi pelabuhan Batu Ampar, Sekupang dan Kabil. seiring tren penguatan nilai tukar Rupiah. Sementara itu berakhirnya pemilihan umum akan mempengaruhi penurunan laju pertumbuhan Konsumsi Swasta Nirlaba yang diproyeksi sekitar 17,48% - 18,12%. Sedangkan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah di triwulan III 2009 diestimasi antara 9,61% -10,25%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya yang diperkirakan sebesar 8,83%. Pencairan anggaran belanja dipastikan meningkat menutupi rendahnya tingkat penyerapan anggaran periode berjalan, serta rencana realisasi beberapa proyek pembangunan/pemeliharaan yang dibiayai oleh APBD. Penetapan status Batam, Bintan dan Karimun sebagai kawasan FTZ (Free Trade Zone) memberi sinyal positif bagi para investor yang akan berinvestasi di wilayah Kepulauan Riau. Komitmen investasi berpeluang tumbuh memasuki semester II 2009 ini, namun belum diikuti oleh meningkatnya realisasi dalam bentuk investasi fisik. Laju perlambatan Investasi PMTB diperkirakan berlanjut menjadi sekitar 5,59% - 6,24%, relatif melandai dibanding triwulan II yang tumbuh 7,6%. Beberapa proyek investasi domestik seperti pembangunan pusat pemerintahan di Pulau Dompak, pembangunan Hotel Aston Internasional, Apartemen Harmony One, Batam City Condominium, serta beberapa proyek perumahan residensial merupakan faktor penopang pertumbuhan investasi di triwulan mendatang. Adapun kontraksi pertumbuhan ekspor Kepulauan Riau diperkirakan semakin mengecil dengan level penurunan antara 2,19% - 1,55%. Membaiknya kinerja ekspor terutama dipengaruhi oleh optimisme proyeksi ekonomi Singapura dan Amerika Serikat sebagai pangsa ekspor terbesar provinsi ini. Berbagai konsensus dan survei mengkonfirmasi hal tersebut. Sedangkan di tingkat domestik, optimisme terlihat dari tren kenaikan jumlah bongkar-muat kontainer di pelabuhan FTZ pada bulan Juni 2009, baik untuk tujuan domestik maupun internasional. Grafik 7.5. Aktivitas Peti Kemas Domestik Grafik 7.6. Aktivitas Peti Kemas Internasional Sumber : Otorita Batam, Pelabuhan Batam Ket.: Pelabuhan Batam meliputi pelabuhan Batu Ampar, Sekupang dan Kabil. Triwulan II 2009 78

Respon di sektor riil ditandainya dengan bergeraknya sektor-sektor utama yang menopang pembangunan ekonomi di Kepulauan Riau. Tumbuhnya konsumsi dan ekspor mendorong peningkatan kinerja sektor Industri Pengolahan, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, serta sektor Bangunan, meski kenaikannya diperkirakan masih sangat terbatas. Hal tersebut cukup dipengaruhi oleh ketidakpastian sektor eksternal antara lain terlihat dari hasil survei Hudson terhadap kondisi ekonomi Singapura kepada 700 eksekutif yang berasal dari berbagai bidang. Secara keseluruhan, terdapat 26% responden yang optimis memandang kondisi ekonomi ke depan, 60% berekspektasi kondisi ekonomi stagnan, sedangkan 14% sisanya cenderung pesimis. Diagram 7.1. Survei Ekspektasi Bisnis Q3-2009 Sumber : The Hudson Report - Singapore, Juli 2009 Output yang dihasilkan dari aktivitas Industri Manufaktur diperkirakan turun antara - 2,67% sampai -2,02% dibanding output di periode yang sama tahun 2008. Angka perkiraan tersebut lebih optimis dibanding penurunan di triwulan II 2009 yang mencapai 2,94%. Kinerja industri elektronik seperti perakitan komponen computer peripherals dan data storage, industri kimia, serta di bidang precision engineering berpotensi meningkat menyusul kenaikan output sektor manufaktur Singapura yang ditopang oleh sektor-sektor tersebut. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran diproyeksi tumbuh antara -0,47% sampai 0,18%, lebih optimis dibanding triwulan II 2009 yang mengalami kontraksi mencapai 0,38%. Meningkatnya aktivitas perdagangan cukup dikonfirmasi oleh indikator kenaikan arus barang di pelabuhan FTZ-Batam. Sementara kenaikan relatif output sektor Pertambangan dan Penggalian didorong oleh proyeksi lifting minyak yang meningkat secara signifikan di bulan Agustus 2009. Peningkatan produksi minyak sebagian besar disumbang dari blok Belanak dan blok Belida milik Conoco Phillips, serta hasil eksplorasi minyak di lapangan Kerapu milik Star Energy. Triwulan II 2009 79

Grafik 7.7. Pertumbuhan GDP Singapura, Sektor Manufaktur, Konstruksi dan Jasa (yoy) Grafik 7.8. Perkembangan Lifting Minyak dan Gas Bumi Provinsi Kepulauan Riau Sumber : MTI Singapore - Juli 2009 *) angka sementara Sumber : ESDM Dirjen Minyak & Gas Bumi Adapun kinerja sektor bangunan di triwulan III 2009 berpeluang meningkat menyusul berjalannya berbagai proyek konstruksi besar di wilayah Kepulauan Riau. Laju pertumbuhan sektor Bangunan diperkirakan berkisar 13,42% - 14,06%, sedangkan di triwulan II diestimasi sebesar 13,65%. Proyek konstruksi besar yang mulai berjalan adalah pembangunan jaringan kabel serat optik laut dan darat yang menghubungkan Batam-Dumai dan Dumai-Malaka sepanjang 380 km dengan nilai investasi mencapai US$ 40 juta. Selain itu masih terdapat beberapa proyek konstruksi seperti pembangunan pusat pemerintahan Pulau Dompak, Hotel Aston Internasional, Apartemen Harmony One, Batam City Condominium, apartemen bersubsidi Batam Centre Park (BCP) - Tower C, Water Treatment Plan (WTP), dan pengerjaan beberapa proyek infrastruktur pemerintah, serta properti residensial. Grafik 7.9. Angka Ramalan Produksi Padi, Jagung dan Kacang Tanah Grafik 7.10. Perkembangan Ekpor Komoditas Ikan-ikanan dan Hasil Laut Lainnya Sumber : BPS Kepulauan Riau Sumber : SEKDA - BI Sebaliknya output sektor Pengangkutan dan Komunikasi, serta sektor Keuangan Persewaan dan Jasa Perusahaan diperkirakan cenderung stagnan di triwulan mendatang. Di sektor angkutan, kondisi tersebut masih dipengaruhi oleh menurunnya industri pariwisata akibat krisis ditambah isu flu A-H1N1. Sedangkan pertumbuhan industri keuangan Triwulan II 2009 80

Perbankan diperkirakan masih tertahan akibat lambatnya penurunan suku bunga perbankan merespon penurunan BI Rate sebesar 250 bps selama Januari Juli 2009. Pertumbuhan kredit diperkirakan baru berakselerasi di kuartal akhir tahun 2009. Terakhir, sektor pertanian diproyeksi tumbuh antara -0,24% sampai dengan 0,4%. Jika dibanding triwulan II yang berkontraksi 0,29%, meningkatnya hasil produksi pertanian diperkirakan terjadi pada sub sektor tanaman pangan. Indikator ARAM (angka ramalan) dari Badan Pusat Statistik memperlihatkan tren peningkatan produksi padi, jagung dan kacang tanah selama bulan Mei Agustus 2009. Selain itu juga didorong oleh aktivitas sub-sektor perikanan sebagaimana diindikasikan oleh tren meningkatnya hasil ekspor ikan dan hasilhasil laut di akhir periode sebelumnya. 7.2. PROSPEK INFLASI Memperhatikan kecenderungan pergerakan indikator ekonomi wilayah Provinsi Kepulauan Riau serta berdasarkan pemantauan pada hal-hal yang dapat memberikan pengaruh bagi pergerakan dimaksud seperti dampak musiman, pengaruh alam serta perkembangan terkini mengenai perekonomian global triwulan II 2009, prospek inflasi pada periode triwulan III 2009 di Kota Batam dan Kota Tanjung Pinang diperkirakan tetap mengalami kenaikan harga dengan level yang lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II 2009. Grafik 7.11 Estimasi Inflasi Umum Kota Batam Kota Batam pada triwulan III 2009 diperkirakan akan tetap mengalami inflasi pada kisaran 4,42% - 5,13% (yoy). Sementara itu inflasi tahun kalender diperkirakan akan berada Triwulan II 2009 81

pada kisaran 0,87% - 3,57% (ytd). Sementara itu inflasi Kota Tanjung Pinang pada triwulan II 2009 diperkirakan akan mengalami kenaikan pada kisaran 8,21% - 9,42% (yoy). Sedangkan inflasi tahun kalender diperkirakan akan berada pada kisaran 1,17% - 2,49% (ytd). 7.1.2 Prospek Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang Kelompok bahan makanan pada triwulan III 2009 diperkirakan akan mengalami kenaikan harga di Kota Batam dengan angka inflasi rata-rata sekitar 0,26% - 0,37% (mtm) setiap bulannya. Sementara itu untuk Kota Tanjung Pinang, rata-rata angka inflasi pada triwulan III 2009 diperkirakan berada pada kisaran 1,32% -1,69% (mtm). Grafik 7.12 Estimasi Inflasi Bahan Makanan Grafik 7.13 Estimasi Inflasi Makanan Jadi Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau di Kota Batam pada triwulan III 2009 diperkirakan akan mengalami angka rata-rata inflasi pada kisaran 0,11% - 0,27% (mtm). Sedangkan untuk Kota Tanjung Pinang angka rata-rata inflasi sampai dengan triwulan III 2009 inflasi diperkirakan akan berada pada kisaran 0,59% -0,68% (mtm). Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar di Kota Batam pada triwulan III 2009 diperkirakan akan mengalami rata-rata angka inflasi pada kisaran 0,15% - 0,27% (mtm). Sementara itu di Kota Tanjung Pinang diperkirakan angka rata-rata inflasi kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar antara 0,09% -0,13% (mtm). Sementara itu rata-rata inflasi kelompok sandang di Kota Batam pada triwulan III 2009 diperkirakan berada pada kisaran 0,69% - 1,19% (mtm). Sedangkan di Kota Tanjung Pinang rata-rata inflasi kelompok sandang pada triwulan III 2009 diperkirakan berada pada kisaran 0,45% - 0,54% (mtm). Triwulan II 2009 82

Grafik 7.14 Estimasi Inflasi Perumahan Grafik 7.15 Estimasi Inflasi Sandang Kelompok kesehatan di Kota Batam pada triwulan III 2009 diperkirakan akan mengalami rata-rata angka inflasi pada kisaran 0,61% - 0,71% (mtm). Rata-rata angka inflasi Kota Tanjung Pinang pada triwulan III 2009 diperkirakan akan berada pada kisaran 0,62% - 0,76% (mtm). Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga di Kota Batam pada triwulan III 2009 diperkirakan akan mengalami rata-rata inflasi dengan kisaran 0,36% - 0,56% (mtm). Sementara itu di Kota Tanjung Pinang kelompok ini diperkirakan akan mengalami inflasi dengan rata-rata 0,01% - 0,03% (mtm). Kenaikan harga kelompok ini pada triwulan III 2009 diperkirakan akan disumbang oleh kelompok pendidikan terkait dibukanya tahun ajaran baru tahun 2009 yang jatuh pada bulan Juli. Pada bulan tersebut diperkirakan kelompok pendidikan akan mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi dibandingkan dengan bulanbulan sebelumnya. Grafik 7.16 Estimasi Inflasi Kesehatan Grafik 7.17 Estimasi Inflasi Pendidikan Kelompok tranportasi, komunikasi dan jasa keuangan di Kota Batam pada triwulan III 2009 diperkirakan akan terus melanjutkan trend kenaikan harga. Dampak dampak kebijakan penurunan BBM oleh pemerintah sudah mulai tidak terasa pada triwulan III 2009. Pada Triwulan II 2009 83

tiwulan III 2009 kelompok ini di Kota Batam diperkirakan akan mengalami inflasi dengan rata-rata 0,66% - 0,72% (mtm) setiap bulannya. Searah dengan yang terjadi di Kota Batam kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan di Kota Tanjung Pinang diperkirakan akan mengalami inflasi dengan kisaran 0,05% - 0,15% (mtm). Grafik 7.18 Estimasi Inflasi Transportasi Kota Batam Grafik 7.19 Estimasi Inflasi Transportasi Kota Tanjung Pinang Triwulan II 2009 84