TKS 4209 PENGERTIAN DASAR 4/1/2015

dokumen-dokumen yang mirip
Pengertian dasar. Layout Percobaan & Pengacakan Penyusunan Data Analisis Ragam Perbandingan Rataan. Faktor Taraf Perlakuan (Treatment) Respons

faktornya berbeda, misalnya 2 taraf untuk faktor A dan 3 taraf untuk 2x2x3 maksudnya percobaan faktorial yang terdiri dari 3 faktor dengan taraf

Dimas Rahadian AM, S.TP. M.Sc

Perancangan Percobaan

Berbagai Jenis Rancangan Percobaan

BAB 1 PENDAHULUAN. Beton sebagai salah satu bahan konstruksi banyak dikembangkan dalam

BAB I PENDAHULUAN. macam bangunan konstruksi. Beton memiliki berbagai kelebihan, salah satunya

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Di zaman sekarang, perkembangan ilmu dan teknologi pada setiap bidang

BAB 3 METODOLOGI. Penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi masalah apa saja yang terdapat

Perancangan Percobaan

MATERI II STK 222 PERANCANGAN PERCOBAAN PRINSIP DASAR PERANCANGAN PERCOBAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Zai, dkk (2014), melakukan penelitian Pengaruh Bahan Tambah Silica

JUNAIDI ABDILLAH I WAYAN DODY SEPTIANTA

BAB I PENDAHULUAN. meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Perkembangan yang. perkuatan untuk elemen struktur beton bertulang bangunan.

FAKTOR KEAMANAN (Safety Factor)*

PENGARUH PENAMBAHAN FLY ASH PADA BETON MUTU TINGGI DENGAN SILICA FUME DAN FILLER PASIR KWARSA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SIFAT RHEOLOGY SEMEN PASTA DITINJAU DARI CAMPURAN MATERIAL PENYUSUNNYA DAN PENGGUNAAN SUPERPLASTICIZER

BAB I PENDAHULUAN. Beton merupakan salah satu bahan material yang selalu hampir digunakan pada

KATA KUNCI : rheology, diameter, mortar, fly ash, silica fume, superplasticizer.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH ADITIF SIKACIM TERHADAP CAMPURAN BETON K 350 DITINJAU DARI KUAT TEKAN BETON

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Diferensial Vektor. (Pertemuan V) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kekuatan dari beton tersebut khususnya dalam hal kuat tekan dan

The 1 st INDONESIAN STRUCTURAL ENGINEERING AND MATERIALS SYMPOSIUM Department of Civil Engineering Parahyangan Catholic University

Persamaan Diferensial

Pengaruh Penambahan Admixture Jenis F dan Substitusi Silica Fume terhadap Semen pada Kuat Tekan Awal Self Compacting Concrete

BAB I PENDAHULUAN. dalam dunia konstruksi modern saat ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terbawa selama proses pengendapan. Pasir kuarsa yang juga dikenal dengan nama

BAB 1 PENDAHULUAN. digunakan bahan tambah yang bersifat mineral (additive) yang lebih banyak bersifat

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. dipakai dalam pembangunan. Akibat besarnya penggunaan beton, sementara material

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. agregat pada perbandingan tertentu. Mortar dapat dicetak ke dalam bentuk. yang bervariasi, diantaranya adalah paving block.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERANCANGAN PERCOBAAN

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan bangunan rumah, gedung, sekolah, kantor, dan prasarana lainnya akan

Diferensial Vektor. (Pertemuan II) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PERENCANAAN KONSTRUKSI JALAN RAYA RIGID PAVEMENT (PERKERASAN KAKU)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil pengujian, analisis data, dan. pembahasan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai

Persamaan Diferensial

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. maka telah banyak dipakai jenis beton ringan. Berdasakan SK SNI T

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan agar berat bangunan dapat dikurangi yang berdampak pada efisiensi

BAB I PENDAHULUAN. penelitian ini merupakan hasil limbah olahan besi-besi bekas produksi dari PT. Inti General Yaja

Diferensial Vektor. (Pertemuan V) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

BAB 2 LANDASAN TEORI. bebas X yang dihubungkan dengan satu peubah tak bebas Y.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS PERANCANGAN PERCOBAAN 2 MATERI 3: KONSEP NILAI HARAPAN KUADRAT TENGAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. sehingga dapat diamati dan diidentifikasi alasan-alasan perubahan yang terjadi

PENGARUH KOMBINASI SEMEN-FLY ASH DAN VARIASI WATER CONTENT DENGAN PENAMBAHAN SUPERPLASTICIZER TERHADAP KEPADATAN PASTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGGUNAAN DEBU GRANIT SEBAGAI SUBSTITUSI PARSIAL SEMEN PADA BETON MUTU TINGGI

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Beton merupakan unsur yang sangat penting dan paling dominan sebagai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil dari penelitian ini dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu hasil

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI. satu variabel yang disebut variabel tak bebas (dependent variable), pada satu atau

PENGARUH PENGGUNAAN SILICA FUME, FLY ASH DAN SUPERPLASTICIZER PADA BETON MUTU TINGGI MEMADAT MANDIRI

III. PERCOBAAN FAKTORIAL

BAB I PENDAHULUAN. penggunaannya sehingga mendukung terwujudnya pembangunan yang baik.

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah membuat program untuk membangun pembangkit listrik dengan total

Metode Perencanaan Berdasarkan Kondisi Keamanan*

TKS 4003 Matematika II. Nilai Ekstrim. (Extreme Values) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Agus M Soleh, S.Si, MT

PEMANFAATAN ABU SEKAM PADI DENGAN TREATMENT HCL SEBAGAI PENGGANTI SEMEN DALAM PEMBUATAN BETON

KAJIAN TEKNIS DAN EKONOMIS PEMANFAATAN LIMBAH BATU BARA (FLY ASH) PADA PRODUKSI PAVING BLOCK

BAB 2 LANDASAN TEORI. Istilah regresi pertama kali diperkenalkan oleh Francis Galton. Menurut Galton,

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP - MADURA

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. serapan air batako yang telah dilakukan antara lain:

Percobaan Dua Faktor: Percobaan Faktorial. Arum Handini Primandari, M.Sc.

APLIKASI METODE ANALYSIS OF VARIANCE (ANOVA) UNTUK MENGKAJI PENGARUH PENAMBAHAN SILICA FUME TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK MORTAR ABSTRAK

KETAHANAN DI LINGKUNGAN ASAM, KUAT TEKAN DAN PENYUSUTAN BETON DENGAN 100% FLY ASH PADA JANGKA PANJANG

PEMBUATAN ULTRA HIGH STRENGTH CONCRETE DENGAN MATERIAL LOKAL

BAB I PENDAHULUAN. penyusunnya yang mudah di dapat, dan juga tahan lama. Beton ringan adalah beton yang memiliki berat jenis yang lebih ringan dari

BAB I PENDAHULUAN. dapat digunakan untuk inferensi statistika. Metode bootstrap mengesampingkan

Masyita Dewi Koraia ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

THE INFLUENCE OF INITIAL PRESSURE ON THE CONCRETE COMPRESSIVE STRENGTH. Lina Flaviana Tilik, Maulid M. Iqbal, Rosidawani Firdaus ABSTRACT

BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Pengertian Ekonometrika. 1.2 Ekonometrika Merupakan Suatu Ilmu

Heru Indra Siregar NRP : Pembimbing : Ny. Winarni Hadipratomo, Ir. FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

PERANCANGAN PERCOBAAN (EXPERIMENTAL DESIGN)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pembangunan konstruksi bangunan di Indonesia telah berkembang dengan

Pengaruh Interaksi dan Nilai Interaksi pada Percobaan Faktorial (Review) ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Self Compacting Concrete (Beton memadat Mandiri) adalah campuran

BAB I Pendahuluan. 1. Mengetahui pengertian penelitian metode regresi. 2. Mengetahui contoh pengolahan data menggunakan metode regresi.

Persamaan Diferensial

PRAKTIKUM RANCANGAN PERCOBAAN KATA PENGANTAR

Transkripsi:

TKS 4209 Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya PENGERTIAN DASAR FAKTOR : adalah variabel yang dikontrol oleh peneliti yang disimbolkan dengan huruf kapital (X), dan disebut juga dengan variabel bebas (independent variable). Misal : faktor penggunaan bahan tambah (additive) pada campuran beton yang disimbolkan dengan huruf A. TARAF/LEVEL : faktor terdiri dari beberapa taraf/level dan biasanya disimbolkan dengan huruf kecil yang dikombinasikan dengan subscript angka. Misal : 3 taraf/level dari faktor bahan tambah adalah a 1, a 2, a 3. 1

PENGERTIAN DASAR (lanjutan) PERLAKUAN : merupakan taraf/level dari faktor atau kombinasi taraf/level dari faktor. Untuk Faktor Tunggal : Perlakuan = Taraf/Level Faktor Misal : a 1, a 2, a 3 Faktor > 1 : Perlakuan = Kombinasi dari masing-masing Taraf/Level Faktor Misal : a 1 n 1, a 1 n 2, a 1 n 3,, a i n j PENGERTIAN DASAR (lanjutan) RESPONS : adalah variabel yang merupakan sifat atau parameter dari satuan percobaan yang akan diteliti (Y), dan disebut juga dengan variabel tak bebas (dependent variable) yang berupa gejala atau respons yang muncul akibat adanya faktor (variabel bebas). Misal : nilai kuat tekan beton akibat adanya faktor penggunaan bahan tambah pada campuran. 2

CONTOH KASUS Kasus Penelitian Faktor Tunggal : Perbedaan nilai kuat tekan akibat penggunaan jenis bahan tambah yang berbeda pada campuran beton. Faktor Jenis Bahan Tambah (A) Respons Nilai Kuat Tekan (Y) Piropilit (a 1 ) Zeolit (a 2 ) Kaolin (a 3 ) Silika (a 4 ) Perlakuan : taraf faktor (4 buah), a 1, a 2, a 3, dan a 4 Taraf/Level : 4 buah A CONTOH KASUS (lanjutan) Kasus Penelitian Faktorial : Perbedaan nilai kuat tekan akibat penggunaan jenis bahan tambah dan jenis semen yang berbeda pada campuran beton. Faktor Jenis Bahan Tambah (A) Jenis Semen (C) OPC (c 1 ) PPC (c 2 ) Taraf/Level C : 2 buah Respons Nilai Kuat Tekan (Y) Perlakuan : Kombinasi taraf faktor (4 x 2 = 8 buah), a 1 c 1, a 1 c 2, a 2 c 1,, a 4 c 2 Piropilit (a 1 ) Zeolit (a 2 ) Kaolin (a 3 ) Silika (a 4 ) Taraf/Level A : 4 buah 3

FAKTOR TUNGGAL VS FAKTORIAL Sebagai ilustrasi, misal ada tiga orang peneliti ingin mengetahui perbedaan nilai kuat tekan beton akibat pemberian dosis bahan tambah Silika Fume (SF) dan Fly Ash (FA) yang berbeda dengan menggunakan dasar RAK. Peneliti I : Dosis SF (FA = 0%) 0, 1.5, 3.0 %/m 3 Peneliti II : Dosis SF (FA = 15%) 0, 1.5, 3.0 %/m 3 Peneliti III : Dosis SF (FA = 30%) 0, 1.5, 3.0 %/m 3 Percobaan tersebut merupakan Percobaan Faktor Tunggal, perlakuannya adalah 3 dosis SF (0, 1.5, 3.0 %/m 3 ) yang diaplikasikan pada berbagai persentase FA (terdapat tiga kali percobaan). FAKTOR TUNGGAL VS FAKTORIAL (lanjutan) Hasil Pengamatan : Peneliti ke : Silika Fume (SF) 0 1.5 3.0 #1 : FA - 0%/m 3 24.0 26.0 25.5 #2 : FA - 15%/m 3 24.5 26.5 26.0 #3 : FA - 30%/m 3 25.0 27.0 27.2 Kesimpulan yang bisa diambil bersifat parsial, hanya berlaku terhadap dosis penambahan SF pada kondisi dasar FA tertentu. Peneliti I : nilai kuat tekan tertinggi (26.0 MPa) diperoleh pada dosis SF = 1.5% dengan kondisi FA = 0%. Peneliti II : nilai kuat tekan tertinggi (26.5 MPa) diperoleh pada dosis SF = 1.5% dengan kondisi FA = 15%. Peneliti III : nilai kuat tekan tertinggi (27.2 MPa) diperoleh pada dosis SF = 3.0% dengan kondisi FA = 30%. 4

FAKTOR TUNGGAL VS FAKTORIAL (lanjutan) Dari kesimpulan tersebut akan muncul pertanyaan selanjutnya, yaitu : 1. Bagaimana cara memilih kombinasi penambahan SF dan FA yang terbaik pada campuran beton? 2. Pada dosis berapakah penambahan SF dan FA yang memberikan hasil nilai kuat tekan tertinggi? Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, maka PERCOBAAN FAKTORIAL diperlukan! PERCOBAAN FAKTORIAL Jika percobaan dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu faktor, maka dinamakan dengan Percobaan Faktorial. Faktorial bukan merupakan rancangan, tetapi merupakan susunan perlakuan. Percobaan faktorial adalah suatu percobaan yang perlakuannya terdiri atas semua kemungkinan kombinasi taraf dari beberapa faktor. Percobaan dengan menggunakan f buah faktor dengan t taraf untuk setiap faktornya disimbolkan dengan percobaan faktorial f t. 5

PERCOBAAN FAKTORIAL (lanjutan) Percobaan faktorial 2 2 sering juga ditulis dalam bentuk percobaan faktorial 2 G 2. Penggunaan simbol percobaan faktorial m G n untuk percobaan faktorial dimana taraf masing-masing faktornya berbeda. Percobaan faktorial 2 G 3, artinya percobaan faktorial yang terdiri dari 2 faktor (A dan B) dengan 2 taraf untuk faktor A dan 3 taraf untuk faktor B. Contoh lain, percobaan faktorial 2 G 2 G 3, artinya percobaan faktorial yang terdiri dari 3 faktor (A, B, dan C) dengan 2 taraf untuk faktor A, 2 taraf untuk faktor B, dan 3 taraf untuk faktor C. PERCOBAAN FAKTORIAL (lanjutan) Tujuan dari percobaan faktorial adalah untuk melihat interaksi antara faktor yang diteliti : Adakalanya kedua faktor saling sinergi terhadap respons (positif), namun adakalanya juga salah satu faktor justru menghambat kinerja faktor yang lain (negatif). Adanya kedua mekanisme tersebut cenderung meningkatkan pengaruh interaksi antar kedua faktor. 6

INTERAKSI INTERAKSI adalah mengukur kegagalan dari pengaruh salah satu faktor untuk tetap sama pada setiap taraf faktor lainnya atau secara sederhana, interaksi antar faktor adalah apakah pengaruh dari faktor tertentu tergantung pada taraf faktor lainnya. Interaksi dapat disebabkan karena perbedaan gradien dari respons. Interaksi dapat disebabkan karena perbedaan arah dari respons. INTERAKSI (lanjutan) Pengaruh sederhana (simple effect), se B sama pada setiap taraf A, maka kedua faktor tersebut saling bebas (independent) dan dikatakan tidak ada interaksi. 7

INTERAKSI (lanjutan) Pengaruh sederhana (simple effect), se B berbeda pada setiap taraf A, sehingga kedua faktor tersebut tidak saling bebas (dependent) dan dikatakan terjadi interaksi. INTERAKSI (lanjutan) Pengaruh sederhana, se (single effect) Fly Ash Silika Fume (S) se S Rerata F (F) s 1 s 2 s 2 s 1 f 1 40 48 44 8 (se S, f 1 ) f 2 42 51 46,5 9 (se S, f 2 ) Rerata F 41 49,5 45,5 8,5 (me S) se F f 2 f 1 2 (se F, s 1 ) 3 (se F, s 2 ) 2,5 (me F) se F pada s 1 = f 2 s 1 f 1 s 1 = 42 40 = 2 se F pada s 2 = f 2 s 2 f 1 s 2 = 51 48 = 3 se S pada f 1 = s 2 f 1 s 1 f 1 = 48 40 = 8 se S pada f 2 = s 2 f 2 s 1 f 2 = 51 42 = 9 8

INTERAKSI (lanjutan) Pengaruh utama, me (main effect) Fly Ash Silika Fume (S) (F) Rerata F se S s s 2 s 1 s 2 1 f 1 40 48 44 8 (se S, f 1 ) f 2 42 51 46,5 9 (se S, f 2 ) Rerata F 41 49,5 45,5 8,5 (me S) se F f 2 f 1 2 (se F, s 1 ) 3 (se F, s 2 ) 2,5 (me F) me F = 0.5(se F pada s 1 + se F pada s 2 ) = 0.5((f 2 s 1 f 1 s 1 ) + (f 2 s 2 f 1 s 2 )) = 0,5((42 40) + (51 48)) = 0,5(2 + 3) = 2,5 me S = 0.5(se S pada f 1 + se S pada f 2 ) = 0.5((s 2 f 1 s 1 f 1 ) + (s 2 f 2 s 1 f 2 )) = 0,5((48 40) + (51 42)) = 0,5(8 + 9) = 8,5 INTERAKSI (lanjutan) Pengaruh interaksi, ie (interaction effect) Fly Ash Silika Fume (S) (F) Rerata F se S s s 2 s 1 s 2 1 f 1 40 48 44 8 (se S, f 1 ) f 2 42 51 46,5 9 (se S, f 2 ) Rerata F 41 49,5 45,5 8,5 (me S) se F f 2 f 1 2 (se F, s 1 ) 3 (se F, s 2 ) 2,5 (me F) ie S G F = 0.5((s 2 f 1 s 1 f 1 ) (s 2 f 2 s 1 f 2 )) = 0,5((48 40) (51 42)) = 0,5(8 9) = 0,5 ie F G S = 0.5((f 2 s 1 f 1 s 1 ) (f 2 s 2 f 1 s 2 )) = 0,5((42 40) (51 48)) = 0,5(2 3) = 0,5 9

KEUNTUNGAN FAKTORIAL Lebih efisien dalam menggunakan sumber-sumber yang ada. Informasi yang diperoleh lebih komprehensif, karena bisa mempelajari pengaruh utama dan interaksi. Hasil percobaan dapat diterapkan dalam suatu kondisi yang lebih luas, karena telah menggunakan kombinasi dari berbagai faktor. KERUGIAN FAKTORIAL Analisis statistika menjadi lebih kompleks. Terdapat kesulitan dalam menyediakan satuan percobaan yang relatif homogen. Pengaruh dari kombinasi perlakuan tertentu mungkin tidak berarti apa-apa, sehingga terjadi pemborosan sumber daya yang ada. 10

TERIMA KASIH DAN SEMOGA LANCAR STUDINYA! 11