BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
KAYU LAPIS DAN PAPAN BLOK PENGGUNAAN UMUM

BAB IV ANALISIS A1=1.655 L2=10. Gambar 4.1 Struktur 1/2 rangka atap dengan 3 buah kuda-kuda

Kayu lapis untuk kapal dan perahu

Kayu lapis indah jenis jati Bagian 1: Klasifikasi, persyaratan dan penandaan

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1 perbandingan bahan Sifat Beton Baja Kayu. Homogen / Heterogen Homogen Homogen Isotrop / Anisotrop Isotrop Isotrop Anisotrop

Papan partikel SNI Copy SNI ini dibuat oleh BSN untuk Pusat Standardisasi dan Lingkungan Departemen Kehutanan untuk Diseminasi SNI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan

BAB 2 DASAR TEORI. Bab 2 Dasar Teori. TUGAS AKHIR Perencanaan Struktur Show Room 2 Lantai Dasar Perencanaan

Kayu lapis dan papan blok bermuka kertas indah

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kayu gergajian Bagian 1: Istilah dan definisi

Bambu lamina penggunaan umum

Jenis-jenis kayu untuk konstruksi Bangunan

TEKNIK PEMBUATAN BAMBU LAMINASI BERSILANG SEBAGAI BAHAN MEBEL DAN BANGUNAN

VENIR JATI BASAH DAN KAYU LAPIS INDAH JATI

Gambar 5.1. Proses perancangan

V. PENDIMENSIAN BATANG

DAFTAR PUSTAKA. Analisis Harga Satuan Pekerjaan Kota Bandung. Dinas Tata Kota Propinsi Jawa Barat

III. DASAR PERENCANAAN

Sambungan dan Hubungan Konstruksi Kayu

BAB 4 STUDI KASUS. Sandi Nurjaman ( ) 4-1 Delta R Putra ( )

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Badan Standardisasi Nasional (2010) papan partikel merupakan

BAB III LANDASAN TEORI. Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda berkisar antara

PERHITUNGAN PANJANG BATANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Mutu dan Ukuran kayu bangunan

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS)

SIFAT MEKANIK KAYU. Angka rapat dan kekuatan tiap kayu tidak sama Kayu mempunyai 3 sumbu arah sumbu :

(trees). Terdapat perbedaan pengertian antara pohon dan tanam-tanaman

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

PERBANDINGAN BERAT KUDA-KUDA (RANGKA) BAJA JENIS RANGKA HOWE DENGAN RANGKA PRATT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dimana : g = berat jenis kayu kering udara

BABII TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini berisi tentang teori dari beberapa sumber buku seperti buku - buku

PERENCANAAN BATANG MENAHAN TEGANGAN TEKAN

KONSTRUKSI ATAP 12.1 Menggambar Denah dan Rencana Rangka atap

KAJIAN PERENCANAAN KUDA-KUDA BALOK MONOLIT DAN KAYU LAPIS

V. POLA DAN TEHNIK PEMBELAHAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGUJIAN KUAT LENTUR KAYU PROFIL TERSUSUN BENTUK

BAB III METODE PENELITIAN. sesuai dengan SNI no. 03 tahun 2002 untuk masing-masing pengujian. Kayu tersebut diambil

BAB III LANDASAN TEORI Klasifikasi Kayu Kayu Bangunan dibagi dalam 3 (tiga) golongan pemakaian yaitu :

REKAYASA JALAN REL. MODUL 5 : Bantalan PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

PENGETAHUAN DASAR KAYU SEBAGAI BAHAN BANGUNAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SNI MUTU SIRAP DEWAN STANDARDISASI NASIONAL- DSN SNI UDC STANDAR NASIONAL INDONESIA

Kata Kunci : Tegangan batang tarik, Beban kritis terhadap batang tekan

ANALISIS MUTU KAYU BENTUKAN (MOULDING) JATI (Tectona grandis L.f.) PADA INDUSTRI MOULDING DI KOTA KENDARI, SULAWESI TENGGARA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kayu lapis Istilah dan definisi

PENGOLAHAN KAYU (WOOD PROCESSING) Abdurachman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

PEMANFAATAN TEKNOLOGI LAMINASI DALAM PEMBUATAN RUMAH KAYU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERBANDINGAN PERENCANAAN SAMBUNGAN KAYU DENGAN BAUT DAN PAKU BERDASARKAN PKKI 1961 NI-5 DAN SNI 7973:2013

Struktur dan Konstruksi II

Sambungan Kayu. Sambungan Kayu: Hubungan Kayu:

BAB 4 PENGUJIAN LABORATORIUM

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

DINDING DINDING BATU BUATAN

sipil. Kekuatan kayu sebagai bahan untuk struktur dipengaruhi oleh beberapa Kayu dapat menahan gaya tekan yang berbeda-beda sesuai dengan kelas

TINJAUAN PUSTAKA. sedangkan diameternya mencapai 1 m. Bunga dan buahnya berupa tandan,

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

KAJIAN KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANG BIASA DAN BALOK BETON BERTULANGAN KAYU DAN BAMBU PADA SIMPLE BEAM. Naskah Publikasi

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

Nursyamsu Hidayat, Ph.D.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III LANDASAN TEORI

PEMBUATAN PRODUK BAMBU KOMPOSIT. 1. Dr. Ir. IM Sulastiningsih, M.Sc 2. Prof. Dr. Drs. Adi Santoso, M.Si 3. Dr. Krisdianto, S.Hut., M.

TEKNOLOGI KOMPOSIT KAYU SENGON DENGAN PERKUATAN BAMBU LAMINASI

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

LANDASAN TEORI. Katungau Kalimantan Barat, seorang perencana merasa yakin bahwa dengan

A. GAMBAR ARSITEKTUR.

BAB VI KONSTRUKSI KOLOM

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 3 METODE ANALISIS

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Batang kelapa sawit mempunyai sifat yang berbeda antara bagian pangkal

6. EVALUASI KEKUATAN KOMPONEN

BAB I PENDAHULUAN. salah satu sifat kayu merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan Pada Pelat Lantai

Penelitian sifat-sifat fisika dan mekanika kayu Glugu dan Sengon kawasan. Merapi dalam rangka mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat Merapi

PEMERINTAH KABUPATEN.. DINAS PENDIDIKAN SMKNEGERI. UJIAN AKHIR SEKOLAH TAHUN PELAJARAN :

PERENCANAAN LANTAI KENDARAAN, SANDARAN DAN TROTOAR

PENGARUH VARIASI MODEL TERHADAP RESPONS BEBAN DAN LENDUTAN PADA RANGKA KUDA-KUDA BETON KOMPOSIT TULANGAN BAMBU

MATERI/MODUL MATA PRAKTIKUM

BALOK LAMINASI DARI KAYU KELAPA (Cocos nucifera L)

TKS 4406 Material Technology I

BAB III METODE PENELITIAN

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH SMP SMU MARINA SEMARANG

METODE PENGUJIAN KEPADATAN RINGAN UNTUK TANAH

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB XII DINDING KAYU DAN PLAFON

ANALISA EKONOMIS PERBANDINGAN KAPAL KAYU SISTEM LAMINASI DENGAN SISTEM KONVENSIONAL

KAYU LAMINASI DAN PAPAN SAMBUNG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. lama berkembang sebelum munculnya teknologi beton dan baja. Pengolahan kayu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka (frame) struktural yang

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. DASAR TEORI BALOK MONOLIT Kayu yang dipergunakan untuk macam-macam konstruksi bangunan dan peralatan atau perabotan rumah tangga berasal dari pohon-pohonan yang tumbuhnya tersebar diseluruh dunia dan terdiri dari bermacam-macam jenis. Manusia menggunakan kayu sebagai bahan bangunan, karena kayu mempunyai sifat: cukup keras, ringan, liat/kenyal dan mempunyai daya lentur. Keuntungan penggunaan kayu adalah banyak terdapat dalam jumlah ukuran yang besar, dan mudah dikerjakan. Kurang baiknya bahan kayu adalah: mudah terbakar, kebanyakan jenis kayu tidak awet, bila digunakan pada bangunan atau bagian konstruksi yang kena panas dan hujan, dan kayu dapat terpengaruh oleh iklim. 2.1.1. Berat-Jenis Dan Kekuatan Kayu. Berat jenis kayu ditentukan pada kayu yang telah kering. Arti kering disini adalah keringudara. Kadar kayu kering di Indonesia berkisar antara 12-20% dari kayu kering mutlak. Tabel 2.1 Kelas-Kuat Kayu KELAS KUAT I II III IV V BERAT JENIS (B.J) KERING-UDARA (KADAR-LENGAS +- 15%) Lebih dari 0,90 0,90 0,60 0,60 0,40 0,40 0,30 Kurang dari 0,30 KUAT LENTUR MUTLAK ( KG/CM 2 ) Lebih dari 1100 1100 725 725 500 500 360 Kurang dari 360 KUAT-DESAK MUTLAK ( KG/CM 2 ) Lebih dari 650 650 425 425 300 300 215 Kurang dari 215 II-1

2.1.2. Keawetan Kayu Keawetan kayu serta klasifikasinya berdasarkan percobaan-percobaan, tanpa diadakan pengawetan lebih dulu. Kayu dibiarkan rusak oleh pengaruh air tanah, panas, hujan dan oleh serangga maupun cendawan. Hal-hal yang menentukan klas-keawetan terantum dibawah ini: Lamanya kayu bertahan sebagai tonggak yang ditanam ditanah dan dibiarkan kena hujan dan panas. Lamanya kayu bertahan bila dibiarkan kena hujan dan panas, tetapi tidak berhubungan dengan tanah basah. Lamanya kayu bertahan sebagai konstruksi yang terlindung atau tertutup atap. Diserang rayap. Diserang bubuk. Klasifikasi keawetan kayu berdasarkan a,b,c,d, dan e seperti dalam daftar dibawah ini: Tabel 2.2 Kelas Kewetan Kayu klasifikasi I II III IV V Lama bertahan sebagai tonggak Lebih dari 8 tahun 5 8 tahun 3 5 tahun Kurang dari 3 tahun Cepat sekali rusak Lama bertahan bila dibiarkan terkena hujan dan panas Lebih dari 20 tahun 15 20 tahun 10 15 tahun Kurang dari 10 tahun Cepat rusak Lama bertahan sebagai konstruksi yang terlindung Lama sekali Lama sekali Perlu pengawetan Perlu pengawetan Perlu pengawetan Diserang rayap Diserang Diserang Diserang Diserang bubuk Diserang tak hebat Diserang 2.1.3. Mutu Kayu Berdasarkan Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI), mutu kayu dibedakan dalam mutu A dan mutu B sebagai berikut; II-2

Mutu A : a. Kayu harus kering udara. b. Besarnya mata kayu tidak melebihi 1/6 dari lebar balok dan tak lebih dari 3,5cm. c. Balok tidak boleh mengandung bidang batas global yang lebih besar dari 1/10tinggibalok d. Miring arah serat, tg α, tidak boleh lebih dari 1/10. e. Retak-retak dalam arah radial tidak boleh lebih dari ¼ tebal kayu, dan retak-retak menurut linkaran tahunan tidak boleh melebihi 1/5 tebal kayu. Mutu B: a. Kadar lengas kayu kurang atau sama dengan 30%. b. Besarnya mata kayu tidak melebihi ¼ dari lebar balok dan tak lebih dari 5cm. c. Balok tidak boleh mengandung bidang batas global yang lebih dari 1/10 tinggi balok. d. Miring arah serat, tg α, tidak boleh lebih dari 1/7. e. Retak-retak dalam arah radial tidak boleh lebih dari 1/3 tebal kayu, dan retak- retak menurut linkaran tahunan tidak boleh melebihi ¼ tebal kayu. 2.1.4. Jenis-Jenis Kayu Di Indonesia banyak sekali jenis pohon, kurang lebih 3000 jenis, tetapi baru ±150 pohon yang diselidiki oleh LPPK. Dibawah ini beberapa contoh jenis pohon yang kayunya diperdagangkan sebagi bahan bangunan. A. Jati. Pohon Jati yang terdapat di Indonesia umumnya pulau Jawa dan Madura, berasal dari India dan Burma. Warna kayu tergantung jenisnya. a. Jati kembang, warna kayu oklat atau coklat muda, seratnya tidak lurus, dan bila kayu diketam bentuk urat seperti bunga. b. Jati minyak, warna kayu coklat tua, seratnya agak lurus, hasil ketaman mengkilap seperti beminyak. c. Jati doreng, warna kayu coklat muda, seratnya tidak lurus dan muka hasil ketaman memperlihatkan garis-garis memanjang yang warnanya coklat tua kehitaman. II-3

d. Jati kapur, warna kayu oklat muda, seratnya agak lurus dan pori-porinya mengandung kapur. Kekuatan kayu termasuk kelas-kuat II dan keawetan kayu temasuk kelas-awet I. B. Koromandel ( Coromandel ) Nama lain adalah Ebony, kayu-hitam atau kayu arang. Warnanya ungu dengan garis-garis hitam memanjang. Pohon ini banyak terdapat di Sulawesi dan kepulauan Maluku. Kekuatan maupun Keawetan Kayu termasuk kelas I. Seratnya dapat dikatakan lurus. C.Bedaru Kayu jenis ini di Kalimantan dan Riau disebut juga Bedaru, di Palembang garu-buaya dan Sumatra Barat dan Bengkulu disebut Tusam. Warnanya merah muda kekuningkuningan.kekuatan dan keawetan kelasi. D.Ulin Di Kalimantan dan Palembang juga disebut kayu besi.warnanya coklat-kuning dan lamakelamaan menjadi coklat tua dan hitam. Kekuatan dan Keawetan termasuk kelas I. Karena kayunya keras dan liat, dapat dipergunakan untuk tiang fondasi, gelagar-gelagar, tiangrumah, lantai kayu dan sirap. E.Bengkirai Warna kayu coklat-muda. Nama lain di Kalimantan: Benua,benuas dan enggalam. Kekuatan dan Kewetan kelas I-II. F. Cempaka Di Jabar disebut manglid atau baros, di Jateng cempaka dan di Sumatera disebut medang. Warna kayu coklat kekuning-kuningan. Kekuatan kayu termasuk kelas III dan kewetan kelas II. Baik untuk segala macam pekerjaan kayu, tapi tidak untuk memikul beban berat. II-4

G. Keruing Di Sumatera disebut lagan, di Kalimantan kruen atau tampudau dan di Jateng/Jatim palahlar. Warna kayu coklat agak muda. Kekuatan kayu temasuk kelas I II dan keawetan kelas III. Beberapa produk kayu yang dapat digunakan dalam konstruksi, yaitu: 1. Kayu gergajian Kayu gergajian yang telah dicoba dibuat untuk partisi dinding antara lain kayu karet, mindi, kelapa dan mangium. Partisi dinding yang dibuat dari kayu karet yang diawetkan dengan boron menunjukkan penampilan yang mirip dengan ramin. Sedangkan yang dibuat dari kayu mangium menunjukkan menampilan seperti jati. 2. Kayu lapis Kayu lapis indah yang dibuat dari venir mangium, tusam, mindi dan mimba dapat digunakan untuk dinding dengan penampilan yang cukup bagus. 3. Papan mineral Papan mineral seperti papan gypsum dan papan mineral. Papan semen yang dibuat dari kayu karet, jeungjing ternyata dapat digunakan untuk pembuatan dinding bangunan yang tahan lama. Contoh bangunan yang menggunakan dinding papan semen jeungjing adalah rumah dinas di Kompleks Kehutanan Albizia, Sindang Barang yang dibangun pada tahun 1971, sampai saat ini masih layak huni, demikian pula rumah dinas Kehutanan Rasamala yang dibangun pada tahun 1980-an. 2.1.5. Dimensi Beberapa Jenis Kayu Rakyat Di Pasaran Ukuran kayu rakyat dalam bentuk kayu gergajian bervariasi untuk setiap jenis kayu tertentu seperti kayu mahoni yang biasanya dipakai sebagai bahan mebel, kayu buah sebagai bahan kayu pertukangan dan konstruksi. II-5

Tabel 2.3 Ukuran penampang balok untuk rangka dinding yang biasa digunakan Balok Ukuran penampang (cm) Untuk bantalan 6/8, 8/8, 8/10, 10/10, 10/12, 12/12 Untuk dinding 8/12, 10/12, 10/14, 12/14, 12/16 Kuda-kuda penopang 8/8, 8/10, 10/10, 10/12, 12/12, 12/14 Tiang 8/8, 10/10, 12/12 Palang 6/8, 8/8, 8/10, 10/10, 10/12, 12/12 Sumber : SK SNIS 1990. Departemen PU Dalam beberapa hal ukuran tersebut sangat sulit diperoleh di pasaran, hal ini karena untuk memperoleh ukuran yang sesuai standard dan persyaratan perhitungan gaya, maka diperlukan ketelitian yang tinggi sejak saat penggergajian yang memperhitungkan adanya kadar air dan penyusutan arah. Selain itu kayu yang digergaji yang umumnya berasal dari hutan rakyat, berdiameter kecil dengan mutu batang yang kurang bagus (bengkok dan porsi gubalnya tinggi). 2.1.6. Teori pembebanan Beban Mati (D) Beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu struktur atap yang bersifat tetap, termasuk segala unsur tambahan, penyelesaian-penyelesaian, mesin-mesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari struktur itu. Yang diakibatkan oleh berat konstruksi permanen seperti berat sendiri, berat gording, penutup atap (metal roof), dan plafond. Dalam analisis, semua beban diatas dijadikan beban terpusat. Dalam Peraturan Muatan Indonesia (PMI), beban mati atap ditetapkan 50 kg/m2, sudah berikut genteng, gording, kaso. Karena jarak antar kuda-kuda adalah 10 m, maka diambil nilai beban yang ditransfer ke portal kanan dan kirinya dengan pembagian 1 : 1 dari tengah bentang. Dengan demikian, beban maksimum dipikul oleh kuda-kuda yang berada di tengah bentang, yang secara total menahan beban sepanjang 10 m per satuan lebar. Maka beban II-6

atap yang telah diketahui dikonversikan menjadi beban garis kemudian beban mati tsb dikonversikan menjadi beban titik yang letaknya pada join atas batang batang vertikal. P D = q m x L 2 x (a/cos α) Plafond Diambil berat Plafond adalah 18 kg/m 2, beban ini merata pada bidang datar rangka kudakuda. Beban Hidup (L) Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu struktur, khusus pada atap ke dalam beban hidup termasuk beban yang berasal dari air hujan, baik akibat genangan maupun akibat tekanan jatuh (energi kinetik) butiran air dan beban yang ditimbulkan selama perawatan oleh pekerja, peralatan dan material atau selama penggunaan biasa oleh orang dan benda bergerak. Beban orang yang merupakan beban hidup(la) menurut PMI adalah sebesar 100 kg yang diletakkan di joint rangka atap searah dengan arah sumbu global (arah gravitasi). P = 100kg Beban Angin (W) Beban ini merupakan beban tidak permanen yang bekerja pada rangka atap yang disebabkan adanya selisih tekanan udara. Pada beban angin ini terbagi atas tekanan tiup dan tekanan isap. Beban angin yang diperhitungkan dalam struktur rangka atap berdasarkan PMI adalah sebesar 25 kg/m2. Berdasarkan koefisien angin dengan atap segi-tiga dengan sudut kemiringan α sebagai maka: Koefisien angin tiup pada atap (di pihak angin α < 65 ) = (0.02α 0.4) Koefisien angin hisap pada atap (di belakang angin untuk semua α ) II-7

= 0.4 beban yang menentukan adalah P = 25 kg/m 2 Maka gaya tiup dan isap oleh angin dapat dihitung sebagai berikut : Gaya tiup pada atap = (0.02α 0.4)P. L 2 kg/m Gaya isap pada atap = - 0.4. P. L 2 kg/m Beban diatas masih merupakan beban merata pada bidang miring, jadi perlu dijadikan beban titik. Dimana beban angin ini bekerja tegak lurus terhadap bidang kontak. Karena beban angin ada yang bertanda positif dan negatif maka yang terjadi adalah bidang miring atap menerima tekanan angin tiup dan tekanan angin isap. 2.1.7. Rumus Desain Untuk menghitung tegangan yang terjadi pada batang tekan dapat ditentukan dengan rumus di bawah ini : σ = tk // P. ω A dimana ω adalah angka tekuk yang nilainya berdasarkan λ. Dimana k.l λ = i Untuk struktur truss (sendi-sendi), k =1 i = I A II-8

2.2. DASAR TEORI KAYU LAPIS 2.2.1 Teknologi perekatan Dari kayu yang berasal dari tanaman rakyat telah dihasilkan beberapa produk perekatan yang mempunyai prospek untuk dikembangkan, antara lain kayu lapis indah, glulam, papan partikel, papan mineral dan papan blok. 1. Kayu lapis indah Kayu lapis indah adalah kayu lapis yang permukaannya diberi lapisan venir dan kertas bercorak indah. Kayu lapis indah yang dibuat dari venir kayu manii, gmelina, mimba dan mangium mutunya memenuhi standar Indonesia. 2. Glulam Glulam yang lebih dikenal sebagai balok lamina merupakan suatu balok yang diperoleh dari perekatan papan gergajian yang berdimensi lebih kecil yang direkat sejajar serat sehingga diperoleh balok dengan ukuran yang lebih besar. Balok lamina telah lama digunakan oleh masyarakat. Di Indonesia sendiri glulam digunakan pada konstruksi bangunan (contohnya aula di ITB) dan Kapal Patroli Cepat (Fast Patrol Boat, FPB-28). Penelitian mengenai glulam dari kayu gmelina, mangium, karet, sengon telah dilakukan dengan menggunakan perekat tannin resorsinol formaldehida (TRF) dan lignin resorsinol formaldehida (LRF), menunjukkan bahwa perekat TRF cukup baik (memenuhi standar JAS dan SNI) untuk kayu lamina kecuali untuk mangium. Untuk jenis ini perekat LRF meunjukkan hasil yang lebih baik. Balok lamina yang dihasilkan setara dengan kayu kelas kuat II. 3. Papan partikel Papan partikel dapat dibuat dari jenis-jenis kayu hutan rakyat antara lain, mangium dan sengon bahkan bambu dalam bentuk chip atau berupa serbuk. Papan partikel juga dapat dibuat secara komposit dari serbuk gergaji kayu sengon untuk penggunaan di luar ruangan dan dalam ruangan yang berkelembaban tinggi dengan menggunakan perekat berbasis tanin maupun isocianat. Ditinjau dari emisi formaldehida maupun kestabilan dimensi terhadap II-9

pengaruh kelembaban tinggi dan keteguhan rekat internalnya, papan partikel komposit sengon aman digunakan sebagai komponen rumah baik di dalam ruangan khususnya plafon, penyekat ataupun sebagai dinding yang tidak terlalu menahan beban. Gambar 2.1. Contoh produk papan partikel komposit sengon 4. Papan mineral Beberapa jenis papan mineral telah dikenal digunakan sebagai penyekat ruangan seperti papan gypsum, papan wol kayu. Papan wol kayu dari kayu sengon yang dibuat telah dicoba untuk dinding di perumahan dan kantor. 5. Papan blok Papan blok, yang merupakan kayu lapis berintikan kayu gergajian telah digunakan baik sebagai penyekat dinding atau cetakan beton. 6. Balok kotak Balok kotak (box beam) yang dibuat dari kayu meranti berbentuk kaso (sebagai sayap=flange) dan kayu lapis dan papan partikel (sebagai badan =web pada kiri dan kanan balok) ukuran b x h x L = 9.1 x 20 x 244 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balok kotak yang dihasilkan mempunyai MOE-flatewise berkisar antara 29.004 kg/cm2 54.031 kg/cm2; MOE-edgewise antara 60.234 kg/cm2 90.167 kg/cm2; Nilai MOR 61 kg/cm2 290 kg/cm2. Secara teknis gelagar kotak ini dapat dikembangkan sebagai kayu konstruksi dimana bahan komponen penyusun banyak tersedia. II-10

2.2.2 Klasifikasi Tipe kayu lapis dan papan blok Kayu lapis dan papan blok penggunaan umum diklasifikasikan menjadi 4 tipe berdasarkan kekuatan ikatan perekatnya yaitu: o Tipe Eksterior I, adalah kayu lapis dan papan blok yang dalam penggunaannya tahan terhadap cuaca dalam waktu relatif lama. o Tipe Eksterior II, adalah kayu lapis dan papan blok yang dalam penggunaannya tahan terhadap cuaca dalam waktu relatif pendek. o Tipe Interior I, adalah kayu lapis dan papan blok yang dalam penggunaannya hanya tahan terhadap kelembaban udara tinggi. o Tipe Interior II, adalah kayu lapis dan papan blok yang dalam penggunaannya hanya tahan terhadap kelembaban udara rendah 2.2.3 Syarat Mutu Syarat umum: o adanya delaminasi dan lepuh. o Pada lapisan dalam adanya cacat berupa mata kayu sehat/busuk, lubang gerek, kulit tersisip, kantung damar, damar basah, perubahan warna, pecah, tambalan, permukaan kasar, sambungan, sisipan dan cacat lain asalkan tidak mempengaruhi permukaan kayu lapis. Syarat khusus: o Syarat khusus mutu penampilan lapisan muka tercantum pada Tabel 2.6. Tabel 2.4 Persyaratan mutu lapisan muka No. Cacat Mutu A B C D 1 CACAT ALAMI 1.1. Mata kayu II-11

Sehat ï ½ < 25 mm, 4 ï ½ < 45 mm, 6 bh, dibatasi, dibatasi, bh, tersebar, tersebar, diamplas tersebar, rata Busuk ï ½ < 15 mm, 6 bh, ï ½ < 25 mm, dibatasi, tersebar, didempul tersebar, 1.2. Lubang Gerek bulat ï ½ < 1 mm, 5 ï ½ < 2 mm, dibatasi, dibatasi, bh, tersebar, tersebar, tersebar,, bebas dari pinggiran hitam Gerek panjang ï ½ < 1 mm x 10 dibatasi, dibatasi, mm jumlah 4 kali tersebar, luas permukaan kayu lapis dalam m2, tersebar, diamplas rata Lubang ï ½ < 1 mm, 5 ï ½ < 2 mm, dibatasi, dibatasi, lainnya bh, tersebar, tersebar, tersebar,, bebas dari pinggiran hitam 1.3. Kantung Diperkenankan, Diperkenankan, Diperkenankan, Diperkenankan damar/kulit didempul didempul didempul tersisip II-12

1.4. Damar basah Sedikit dibatasi, asal tidak mengganggu penggunaan 1.5. Perubahan < 5% luas < 10% luas dibatasi warna permukaan permukaan 1.6. Lapuk Tidka Sedikit Sedikit 1.7. Retak Panjang < 50 mm, Panjang < 100 dibatasi melintang seperti rambut mm, seperti rambut 2. CACAT TEKNIS 2.1. Pecah < 2 mm x 250 < 2 mm x 600 mm, < 5 mm x 1/3 p, < 5 mm x 1/2 mm, atau < 3 atau < 3 mm x 350 p, mm x 200 mm mm tiap ujung < 3 tiap ujung < 2 bh, bh, 2.2. Tambalan < 5 mm x 60 < 10 mm x 220 mm, 1 bh, rapat, mm, 1 bh, warna sesuai rapat, warna sesuai 2.3. Permukaan Sedikit, dibatasi, kasar 2.4. Sambungan < 2 bh, rapat, Diperkenankan, Diperkenankan, Diperkenankan warna sesuai, rapat, warna sesuai, rapat, arah serat arah serat arah serat sejajar sejajar sisi kayu sejajar sisi kayu sisi kayu lapis lapis II-13

lapis 2.5. Sisipan < 10 mm x 150 < 20 mm x 200 mm, dibatasi, dibatasi, mm, 1 bh, 1 bh, rapat, warna rapat, warna rapat rapat, warna sesuai, dipinggir sesuai sesuai, kayu lapis dipinggir kayu lapis 2.6. Cacat pisau < 1 mm, halus mencolok, tidak mengganggu penggunaan 2.7. Cacat kempa Sedikit, mencolok, Diperkenankan, 2.8. Cacat amplas Sedikit 2.9. Goresan Diperbaiki, halus & rata mencolok 2.10. Noda perekat Sedikit kertas, oli atau mencolok minyak 2.11. Ketebalan Sedikit tidak rata 2.12. Potongan Diperbaiki, Sedikit kasar halus II-14

Syarat khusus mutu penampilan lapisan dalam tercantum pada Tabel 2.5. Tabel 2.5 Persyaratan mutu lapisan dalam No. C a c a t M u t u A B C D 1. Tumpang tindih < 5 mm x 100 < 5 mm x 150 mm, 1 bh mm, 2 bh 2. Celah < 2 mm, tidak < 3 mm, tidak < 5 mm tampak pada tampak pada muka muka 3. Ukuran panjang < 3 mm x 12 < 5 mm x 20 mm, mm, 1 bh 2 bh Syarat minimal mutu penampilan lapisan belakang tercantum pada Tabel 2.6. Tabel 2.6 Persyaratan minimal mutu lapisan belakang No. C a c a t Syarat Mutu 1. CACAT ALAMI 1.1 Mata kayu : - sehat - busuk 1.2 Lubang : - gerek bulat - gerek panjang - lainnya dibatasi dibatasi dibatasi dibatasi dibatasi 1.3 Kulit tersisip/kantung damar Diperkenankan 1.4 Damar basah Diperkenankan, asal tidak mengganggu penggunaan II-15

1.5 Perubahan warna dibatasi 1.6 Lapuk Sedikit 2. CACAT TEKNIS 2.1 Pecah < 5 mm x 1/2 p 2.2 Tambalan < 110 mm x 220 mm, 1 bh, rapat, warna sesuai 2.3 Permukaan kasar dibatasi 2.4 Sambungan Diperkenankan 2.5 Sisipan dibatasi, rapat 2.6 Cacat pisau mencolok, tidak mengganggu penggunaan 2.7 Cacat kempa Diperkenankan 2.8 Cacat amplas Sedikit 2.9 Goresan mencolok 2.10 Noda perekat, kertas, oli atau minyak mencolok 2.11 Ketebalan tidak rata Sedikit 2.12 Potongan kasar Sedikit Kadar air Kadar air kayu lapis dan papan blok penggunaan umum tidak lebih dari 14%. Keteguhan rekat Keteguhan rekat pada kayu lapis penggunaan umum untuk setiap tipenya harus sesuai dengan persyaratan pada Tabel 2.7. II-16

Tabel 2.7 Persyaratan keteguhan rekat kayu lapis No. Nilai keteguhan rekat ratarata (kg/cm2) Kerusakan kayu rata-rata (%) 1. > 7 dipersyaratkan 2. 3,5 - < 7 > 50 Keteguhan rekat pada papan blok penggunaan umum harus lulus uji sesuai dengan tipenya. 2.2.4 Syarat Ukuran Sistem satuan ukuran Sistem satuan ukuran yang diterapkan adalah sistem satuan internasional (SI). Alat ukur Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kayu lapis dikalibrasi oleh instansi yang berwenang. Dimensi o Panjang, lebar dan tebal adalah dimensi nominal yang dinyatakan dalam satuan mm. o Kesikuan dinyatakan dengan selisih panjang kedua diagonal dalam satuan mm. o Toleransi dimensi untuk semua ukuran kayu lapis penggunaan umum disyaratkan seperti tercantum pada Tabel 2.8. II-17

Tabel 2.8 Toleransi dimensi kayu lapis dan papan blok No. Ukuran Toleransi 1. Panjang - 0,00 mm, + 1,6 mm 2. Lebar - 0,00 mm, + 1,6 mm 3. Tebal : < 6 mm > 6 mm + 5% + 3% 4. Kesikuan < 3 mm 2.2.5 Rumus Desain Dalam perencanaan kuda-kuda dengan kayu lapis, secara umum rumus yang digunakan hampir sama dengan balok monolit, hanya terdapat beberapa perbedaan saja. Berikut ini rumus yang digunakan dalam perencanaan kayu lapis: Akibat terjadi gaya tekan pada suatu batang akan menyebabkan terjadi tekuk. Sehingga dalam merencanakan batang tekan selain memperhitungkan kuat tekan, bahaya tekuk juga harus diperhitungkan agar nantinya struktur tidak mengalami kegagalan. Karena bila tekuk yang terjadi melebihi toleransi akan dapat menimbulkan masalah. Asumsi : Kayu yang dipakai adalah kayu dimana serat searah dengan gaya tekan yang terjadi pada batang P P Gambar 2.2 Profil kayu tekan Kayu Lapis Untuk menghitung tegangan yang terjadi pada batang tekan dapat ditentukan dengan rumus di bawah ini : II-18

σ = tk // P. ω A dimana ω adalah angka tekuk yang nilainya berdasarkan λ. Dimana k.l λ = i Untuk struktur truss (sendi-sendi), k =1 i = I A Cek Kuat Geser Ww D = * P 60 τ D * S y max = τ max = 12 kg / b * I y cm 2 Gaya geser yang dipikul klos (L) L = D * S I y y L 1 Desain paku yang diperlukan Diameter paku: dn 1 tk 7 L( syarat) = 8dn L( tersedia) = Ln tk L( tersedia) > L( syarat) OK! Paku 1 irisan N 1 500dn = 1+ dn 2 II-19

Paku 2 irisan N 2 = 2N 1 Kontrol tegangan yang terjadi: Batang penyambung dibebani sentris An ` σ = 80 % * Ab S An _ tk // = < σ tk // = 85 kg / cm Batang induk dibebani secara eksentris 2 Per batang S 2 An = 80 % * Ab σ S / 2 An _ tk // = 1.5 < σ tk // = 85 kg / cm 2 Jumlah paku yang dibutuhkan = N L II-20