Abdul Haris Abdullah PERMASALAHAN

dokumen-dokumen yang mirip
I. PENDAHULUAN. agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

STANDAR DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL

PENDEKATAN SISTEM MODEL CAUSAL LOOP DIAGRAM (CLD) DALAM MEMAHAMI PERMASALAHAN PENERIMAAN KUANTITAS MAHASISWA BARU DI PERGURUAN TINGGI SWASTA

STANDAR DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

STANDAR PENILAIAN PRESTASI KERJA

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan Pendidikan Nasional, dapat dilihat berdasarkan faktor

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN BAU BAU

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan dihadapkan pada tantangan-tantangan yang berat khususnya dalam

STANDAR DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang dinamis dan syarat akan perkembangan, oleh karena itu

BAB I PENDAHULUAN. bisnis dan industri yang bergantung pada kepuasan pelanggan atau konsumen,

Visi Visi Universitas Dhyana Pura adalah Perguruan Tinggi Teladan dan Unggulan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Rohyan Sosiadi, 2013

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN TINGGI DAN PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI

Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul

BEBERAPA CATATAN YANG PERLU DIPERHATIKAN ISI UNDANG-UNDANG PENDIDIKAN TINGGI SEBAGAI PIJAKAN PELAKSANAAN TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN TINGGI DAN PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI AL-KAMAL

BAB I PENDAHULUAN. cukup mendasar, terutama setelah diberlakukannya Undang-Undang Republik

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2014, No.16 2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi adalah pengaturan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia bukan merupakan tugas yang

I. PENDAHULUAN. dan berjalan sepanjang perjalanan umat manusia. Hal ini mengambarkan bahwa

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. pada kemampuan bangsa itu sendiri dalam meningkatkan kualitas sumber daya

I. PENDAHULUAN. Peran serta masyarakat dalam pendidikan pada dasarnya bukan merupakan sesuatu

KERANGKA KERJA SATUAN PENJAMINAN MUTU UNIVERSITAS PADJADJARAN 2016 SATUAN PENJAMINAN MUTU SATUAN PENJAMINAN MUTU UNPAD.

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas tentang: 1) latar belakang penelitian, 2) fokus

STANDAR PENGELOLAAN PEMBELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN. besar dan kecil mempunyai berbagai keragaman. Keragaman itu menjadi

KEBIJAKAN MUTU AKADEMIK

PENERAPAN GOOD GOVERNANCE

BAB I PENDAHULUAN. penelitian, 2) fokus penelitian, 3) tujuan penelitian, 4) kegunaan penelitian, 5)

KONTRIBUSI SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL DALAM PENGEMBANGAN MUTU PERGURUAN TINGGI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada

STANDAR DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Tanggal terbit : 05 Januari 2017

Manual Mutu Proses Bisnis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dunia pendidikan merupakan kehidupan yang penuh dengan tantangan

KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 7 Oktober 2015

[TT2] (MDGs), Education For All (EFA), dan Education for. sasaran-sasaran Millenium Development Goals. Memenuhi komitmen global untuk pencapaian

PROGRAM KERJA BAKAL CALON REKTOR ITS Menuju. Kemandirian, Keunggulan dan Kesejahteraan by : Triwikantoro

PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN DAN PENGGERAK UTAMA PEMBANGUNAN DAERAH

KURIKULUM PENDIDIKAN TINGGI SESUAI KKNI (KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA)

ISU-ISU PENDIDIKAN DIY Oleh Dr. Rochmat Wahab, MA

STANDAR MUTU. Program Studi S1 Teknik Elektro. Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI)

BAB I PENDAHULUAN. diupayakan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan jaman.

BAB III ANALISIS SWOT DAN ASUMSI-ASUMSI

Manual Mutu Sumber Daya Manusia Universitas Sanata Dharma MM.LPM-USD.10

PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2018 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN KEDOKTERAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

U N I V E R S I T A S N E G E R I G O R O N T A L O

BEBERAPA ISU PENTING RUU SISDIKNAS UNTUK ORIENTASI PRAKTEK MANAJEMEN PENDIDIKAN/SEKOLAH DI MASA DEPAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI TESIS

BAB I PENDAHULUAN. strategi pembangunan daerah mulai dari RPJPD , RPJMD ,

BAB I PENDAHULUAN. Menjelang tahun 2020 perekonomian Indonesia akan berubah dan

IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI SUMATERA UTARA. Renova Marpaung. Abstrak. Kata Kunci : Manajemen Mutu, Pembangunan, Pendidikan

AKREDITASI PROGRAM STUDI DOKTOR

PERATURAN DAERAH NO. 07 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Makna yang tersurat dalam rumusan tujuan tersebut

PEDOMAN STANDAR AKADEMIK STMIK SUMEDANG

BAB II PERENCANAAN KINERJA

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. bangsa. Peran pendidikan adalah menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM)

BAB I PENDAHULUAN. Upaya pembangunan pendidikan di Indonesia dilaksanakan dalam berbagai

STANDAR DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pendidikan dianggap sebagai sebagai suatu investasi yang paling berharga

Pendidikan Vokasi Bercirikan Keunggulan Lokal Oleh: Istanto W. Djatmiko Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN (RIP)

RENCANA STRATEGIS PUSAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (P3M) POLITEKNIK NEGERI SEMARANG TAHUN

KERJASAMA INTERNASIONAL PERGURUAN TINGGI: Pengalaman di Universitas Negeri Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. Sistem Pendidikan Nasional, bab IV ayat 5 yang menyebutkan : Setiap warga

AKREDITASI PROGRAM STUDI MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. yang diperoleh adalah tingkat Kompetensi Pedagogik guru-guru SD Negeri di

BAB I PENDAHULUAN. yang berlaku. Kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang direncanakan. diluncurkan kurikulum baru yaitu kurikulum 2013.

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL DALAM UNDANG UNDANG SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003

Peran Sistem Informasi Berbasis TIK dalam Upaya Membangun Good University Governance

BAB I PENDAHULUAN. menunjukkan bahwa pendidikan telah menjadi satu pranata kehidupan sosial yang

2016 PERAN BIMBINGAN KARIR, MOTIVASI MEMASUKI DUNIA KERJA DAN PENGALAMAN PRAKERIN TERHADAP KESIAPAN KERJA SISWA SMK

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

peningkatan SDM berkualitas menjadi sangat penting, Terutama dengan dua hal (teori dan praktek) harus berjalan seiring dan saling melengkapi.

BAB I PENDAHULUAN. pihak. Pendidikan seperti magnet yang sangat kuat karena dapat menarik berbagai

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

ANALISIS SWOT RENSTRA KEMDIKBUD TAHUN (Artikel 24)

PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

RENCANA OPERASIONAL AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN (AKAFARMA) YAYASAN HARAPAN BANGSA BANDA ACEH TAHUN

Transkripsi:

PENDEKATAN ANALISIS SISTEM CAUSAL LOOP DIAGRAM (CLD) DALAM MEMAHAMI UPAYA PEMERINTAH MENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN TINGGI YANG BERKUALITAS Abdul Haris Abdullah PENDAHULUAN Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional 1. Total jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2005 adalah sebesar 213.375.287 jiwa. Jumlah penduduk usia 0-19 tahun adalah sebesar 81.762.113 jiwa dengan rincian 41.882.482 jiwa adalah anak laki-laki dan 39.879.631 adalah anak perempuan. Dengan kata lain, anak usia 0-19 tahun memiliki proporsi sebesar 38,32 persen bila dibandingkan dengan keseluruhan populasi penduduk. Usia 19 tahun adalah adalah usia produktif sekaligus masalah 2. Setiap tahun sekolah lanjutan atas baik SMU maupun SMK sederajat meluluskan siswanya sebanyak dengan jumlah yang terus meningkat. Dari keadaan ini sedikitnya para lulusan tersebut memiliki kehendak melanjutkan studi kejenjang pendidikan tinggi. Input ini adalah merupakan salah satu instrumen input utama dalam rangka memajukan sumber daya manusia Indonesia menjalani sebuah upaya global tentang Millenium Depelopment Goal (MDGs). Partisipasi pendidikan tinggi dalam hal ini tentu amat strategis sekaligus menjadi taktis. Strategis karena kita ingin memiliki SDM yang baik dalam rangka mengejar ketertinggalan dengan negera-negara lain. Taktis karena pendidikan tinggi dituntut mampu melahirkan generasi baru pendidikan tinggi yang sejalan dengan kepentingan pasar kerja dan bersesuaian dengan potensi sumber daya alam kita. Kesadaran starategisnya upaya pemerintah kita barangkali tinggal didorong melalui kebijakan dan regulasi yang fleksibel dalam mencapainya. Tetapi persoalan akan makin rumit ketika implementasi taktis tersebut menjadi tanggung jawab otonom institusi pendidikan tinggi. Karenanya institusi pendidikan tinggi seharusnya serius dalam menterjemahkan kebijakan dan regulasi yang telah diupayakan pemerintah. Kerumitan pemahaman persoalan yang dihadapi membutuhkan kemampuan pemetaan persoalan secara riil dengan beragam cara baik riset ataupun kontrol kualitas yang sungguh-sungguh oleh para pemimpin pendidikan tinggi. PERMASALAHAN 1 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 2 http://www.kotalayakanak.org/dokumen/laporankha/lampirankha3dan4.pdf Pendidikan Untuk Semua (Education For All), Konvensi Hak Anak (Convention on the right of child), Millenium Development Goals (MDGs), World Summit on Sustainable Development

Harapan di atas merupakan tujuan mulia yang patut diapresiasi oleh seluruh komponen bangsa tak terkecuali. Namun harapan membutuhkan tindakan konkrit, strategis serta sistemik, oleh karena itu dalam upaya menuju kepada harapan tersebut kiranya penting memahaminya secara holistik agar kita dapat mengetahui hendaknya dari mana akan dimulai dan sejauh mana harapan tersebut bisa tercapai. Dari identifikasi dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut: 1. Tingkat Pendidikan Penduduk Relatif Masih Rendah. 2. Dinamika perubahan struktur penduduk belum sepenuhnya teratasi dalam pembangunan pendidikan. 3. Masih terdapat kesenjangan tingkat pendidikan yang cukup lebar antar kelompok masyarakat. 4. Fasilitas pelayanan pendidikan khususnya untuk jenjang pendidikan menengah pertama dan yang lebih tinggi belum tersedia secara merata. 5. Kualitas pendidikan relatif masih rendah dan belum mampu memenuhi kebutuhan kompetensi peserta didik. 6. Pembangunan pendidikan belum sepenuhnya dapat meningkatkan kemampuan kewirausahaan lulusan. 7. Pendidikan tinggi masih menghadapi kendala dalam mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi. 8. Manajemen pendidikan belum berjalan efektif dan efisien. Secara sederhana permasalahan kita lihat melalui gambaran Causal Loop Diagram (CLD) sebagai berikut:

Gambar 1 Permasalahan Pendidikan Program Pendidikan Tinggi Pemerintah Program ini ditujukan untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan tinggi baik untuk penduduk laki-laki maupun perempuan yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas yang bermutu tinggi dan relevan terhadap kebutuhan pasar kerja, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan seni sehingga dapat berkontribusi secara optimal pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi 3 : 1. Percepatan transformasi perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) menjadi perguruan tinggi otonom dan akuntabel dengan penyediaan dan pengembangan infrastruktur hukum guna meningkatkan efektivitas, transparansi, akuntabilitas dan transformasi, sehingga tercipta suasana inovatif dan kreatif; 2. Penyediaan dan pengembangan instrumen hukum berupa peraturan perundang-undangan mengenai perguruan tinggi sebagai badan hukum pendidikan yang bersifat nirlaba dan mempunyai kewenangan mengelola sumber daya secara mandiri untuk menyelenggarakan pendidikan; 3. Penyiapan calon pendidik dan tenaga kependidikan dalam jumlah dan mutu yang sesuai untuk mendukung keberhasilan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. 4. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai sesuai dengan kebutuhan belajar mengajar termasuk pendidik dan tenaga kependidikan dengan kualifikasi yang sesuai dengan bidang yang dibutuhkan hingga mencapai keadaan yang memungkinkan meningkatnya kualitas proses pembelajaran dan lulusan perguruan tinggi secara berkelanjutan; 3 www.bappenas.go.id/get-file-server/node/172/

5. Pengembangan kurikulum yang mengacu pada standar nasional dan internasional serta pengembangan bahan ajar yang disesuaikan dengan perkembangan jaman dan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan seni; 6. Penyediaan materi pendidikan dan media pengajaran termasuk buku pelajaran dan jurnal ilmiah dalam dan luar negeri serta materi pelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi; 7. Penyediaan biaya operasional pendidikan dalam bentuk block grant atau imbal swadaya bagi satuan pendidikan tinggi termasuk subsidi bagi peserta didik yang kurang beruntung tetapi mempunyai prestasi akademis yang baik; 8. Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat yang antara lain ditujukan untuk peningkatan kesesuaian pendidikan tinggi dengan kebutuhan masyarakat baik di perdesaan maupun di perkotaan, penerapan otonomi keilmuan yang mendorong perguruan tinggi melaksanakan tugasnya sebagai pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas serta diversifikasi bidang penelitian di lingkungan perguruan tinggi; 9. Peningkatan kerjasama perguruan tinggi dengan dunia usaha, industri dan pemerintah daerah untuk meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dan pengembangan wilayah, termasuk kerjasama dalam pendidikan dan penelitian yang menghasilkan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan seni, dan pemanfaatan hasil penelitian dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bangsa; 10. Penyediaan informasi pendidikan yang memadai yang memungkinkan masyarakat untuk memilih pendidikan sesuai kualitas yang diinginkan; dan 11. Pengembangan kebijakan, melakukan perencanaan, monitoring, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaan pembangunan pendidikan tinggi sejalan dengan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, partisipasi, dan demokratisasi.

Analisis CLD Tentang Model Pendekatan Pada pendekatan sistem yang menggunakan model input-output (SMF) pembahasan masalah lebih banyak ditekankan kepada hubungan yang bersifat statis dari sistem. Model input-output memang dapat mendukung penerapan pendekatan sistem dalam merancang dan memperbaiki berbagai sistem organisasi dan manajemen yang pada umumnya keadaannya relatif stabil. Tetapi untuk permasalahan sosial yang luas dan kompleks dan bersifat dinamis, pendekatan statis SMF kurang memadai. Karena sebagaimana kita ketahui pada umumnya sebagian besar sistem kehidupan tidak dalam keadaan statis dan tidak linier hubungan sebab-akibatnya. Dunia kita dalam keadaan selalu bergerak dan berubah atau dinamis dan dunia kelihatannya seperti dalam keadaan tidak teratur. Tetapi sesungguhnya dibawah permukaan dari keadaan yang tidak teratur itu ada keteraturan. Dalam hal ini yang dimaksud dengan teratur buka berarti tenang, diam, atau baik, tetapi artinya ada suatu kemampuan menyesuaikan diri terhadap pola, bentuk dan strukturnya. Pola dan bentuknya itu diciptakan melalui interaksi atau hubungan yang aktif dari elemen-elemen atau komponen-komponen dari sistem yang bersangkutan. Jadi bila kita mengalami hal yang tidak teratur, kita perlu bertanya pada diri kita, apa yang sesungguhnya yang terjadi dibawah permukaan, dan hubungan atau keterkaitan, serta pola interaksi seperti apa yang menciptakan struktur dibawahnya yang menyebabkan ketidakaturan itu? Pada sistem yang mempunyai hubungan tidak linier memperlihatkan suatu kebergantungan yang sensitif terhadap kondisi awalnya, artinya jika ada kejadian kecil saja pada salah satu bagian sistem akan dapat menyebabkan turbulensi yang besar kepada bagian sistem yang lainnya. Pada sistem adaptif yang kompleks, perubahan terjadi melalui proses adaptasi. Melalui proses ini suatu pola pengaturan diri yang bam atau bentuk akan muncul dipermukaan. Berdasarkan pertimbangan di atas maka dalam kita menganalisis dan mencarikan solusi untuk suatu masalah sosial yang pada umumnya bersifat

dinamis ini, kita harus mampu mendekatinya dengan memperlakukannya sebagai suatu sistem yang dinamis dengan hubungan sebab-akibat yang tidak linier. Pendekatan sistem yang dinamis ini (systems dynamics) merupakan aplikasi dari pemikiran kesisteman yang memfokuskan perhatiannya kepada pola hubungan sebab-akibat yang terjadi karena pengaruh umpan balik dari hasil kegiatan atau kondisi dari komponen sistem yang satu terhadap yang lainnya. Dalam hal ini model Causal Loop Diagram (CLD) yang merupakan salah satu dari model sistem dinamis akan lebih tepat digunakan daripada model input-proses-output yang biasa kita gunakan dalam memecahkan masalah organisasi dan manajemen. Melalui model CLD, seluruh komponen atau variabel yang terlibat baik yang internal dan eksternal dari sistem yang bersangkutan diidentifikasikan. Model CLD menjelaskan bagaimana variabel-variabel dari suatu sistem saling berkaitan. CLD sangat berguna untuk melihat masalah keterkaitan sebab-akibat antara elemen-elemen yang berada pada loop yang bersangkutan, pengaruh faktor elemen yang satu dengan yang lain, termasuk apakah pengaruhnya searah atau berlawanan. Model CLD cocok digunakan untuk mendukung pendekatan sistem terhadap masalah-masalah sistem sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Model Causal Loop Diagram atau CLD Model CLD 4 ini walaupun bentuk dan pendekatannya berbeda dengan model input-output, tetapi tetap mengacu kepada konsep dan karakteristik sistem. Yaitu bahwa suatu sistem yang terdiri dari banyak komponen yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi perlu dilihat secara menyeluruh, bahwa peranan feedback baik yang internal maupun eksternal dari suatu sistem sangatlah penting untuk diperhatikan, dan bahwa sistem sangat dipengaruhi oleh lingkungannya, dan sistem akan entropi (kepunahan) bila tidak ada keseimbangan antara input dan outputnya atau jika ia mengabaikan tuntutan dan pengaruh lingkungannya, dan sebagainya. Model CLD adalah model yang menekankan perhatiannya kepada hubungan sebab-akibat antar variabel (komponen) sistem yang digambarkan 4 Billy Tunas, Memahami dan Memecahkan Masalah dengan Pendekatan Sistem, tahun 2007

dalam suatu diagram berupa garis lengkung yang berujung tanda panah yang menghubungkan antara komponen sistem yang satu dengan yang lainnya, di mana pada ujung panahnya dibubuhi tanda positif (atau tanda S) dan negatif (atau tanda O), yang menggambarkan pengaruh variabel yang satu dengan yang lainnya yang berubah-ubah secara dinamis sejalan dengan perkembangan waktu. CLD akan dapat membantu kita menjelaskan dinamika hubungan sebab-akibat yang terjadi dalam suatu sistem yang kompleks. Tanda S (sameness) menandakan bahwa jika variabel yang mempengaruhi (sebagai penyebab) berubah (misalnya meningkat) maka variabel yang dipengaruhi (sebagai akibat) akan berubah sesuai dengan arah perubahan variabel yang mem-pengaruhinya tadi (yaitu akan meningkat pula). Sedangkan tanda O (oppositeness) akibatnya adalah berlawanan, artinya bila variabel yang mempengaruhinya meningkat, maka variabel yang dipengaruhinya menurun. Pada CLD panah-panah itu akan membentuk suatu loop dengan diberi tanda R (reinforcing) dan tanda B (balancing). R berarti saling memperkuat atau memperlemah. Keuntungan Model CLD Keuntungan pendekatan sistem dengan menggunakan model CLD ini antara lain adalah: Mendorong kita untuk dapat melihat suatu permasalahan secara menyeluruh, baik dari segi cakupan dan waktu, sehingga dapat mencegah kita dari berpikir yang sempit dan jangka pendek. Melalui gambaran rantai hubungan sebab-akibat pada CLD, membuat model mental kita menjadi lebih eksplisit, kepercayaan dasar kita tentang bagaimana dunia bekerja dan dasar bagaimana kita mengambil keputusan dan tindakan akan menjadi lebih baik. Dengan adanya CLD memungkinkan model mental kita dapat diketahui dan dibandingkan dengan model mental orang lain terhadap perosalan yang dihadapi, sehingga dapat memberikan dasar terwujudnya kerja sama tim yang lebih baik. Jadi CLD memberikan alat yang efektif untuk komunikasi antara anggota tim.

CLD juga akan dapat membantu mengeksplorasi alternatif-alternatif kebijakan dan keputusan sehingga konsekwensi-konsekwensinya dapat diantisipasi lebih dini. Hal ini memungkinkan kita dapat mencegah mengambil keputusan yang terburu-buru, yang kadang-kadang malah menimbulkan bomerang, atau mengambil keputusan yang nantinya akan kita sesalkan. Secara keseluruhan pendekatan sistem dengan menggunakan model CLD memungkinkan kita berada pada posisi yang terbaik untuk mengambil keputusan yang teruji dari berbagai kemungkinan dan perubahan waktu. Petunjuk Memahami Causal Loop Digram (CLD), Sherdood (2002) memberi petunjuk penting dalam memahami CLD untuk suatu permasalahan yaitu: Ketahui batasan dan lingkup masalah; Mulai dari sesuatu (variabel) yang menarik Melalui CLD kita akan dapat mengetahui faktor-faktor atau variabelvariabel apa saja yang terlibat atau terkait dengan masalah yang kita hadapi termasuk hubungan sebab-akibat antar variabel-variabel yang bersangkutan dalam konteks permasalahan tersebut. Kemudian berdasarkan pengetahuan itu, kita akan dapat memilih dan menentukan tindakan apa yang perlu kita lakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi dan dimana seyogyanya tindakan itu harus dumulai, serta konsekwensi apa saja yang akan ditimbulkan bila tindakan itu kita lakukan. Semakin lengkap dan relevan serta terukur variabel-variabel yang dikemukakan oleh CLD itu, semakin tepat pilihan tindakan yang kita ambil. Pembahasan Masalah 1. Kerjasama dengan informasi pendidikan, akuntabilitas, dan kebijakan; Dengan melakukan kerjasama dengan seluruh stakeholder pendidikan maka perguruan tinggi akan meningkatkan penyampaian informasi pendidikan kepada masyarakat pelanggan.kerjasama pula akan meningkatkan tumbuhnay keprcayaan atau akuntabilitas institusi. Kerjasama juga dapat mengkoreksi kebijakan kepada pelanggan pendidikan ataupun masyarakat umum. 2. Tridarma dengan kerjasama PT, akuntabilitas dan kebijakan; Melakasanakan Tridarma pendidikan tinggi dengannya dapat meningkatkan

kerjasama antar PT, meningkatkan akuntabilitas atau kepercayaan masyarakat dan dapat melahirkan meningkatnya kebijakan yang memperhatikan kepentingan pengguna perguruan tinggi. 3. ICT dengan partisipasi, demokratisasi, materi pendidikan, penyiapan calon pendidik; Information comunication technology (ICT) yang memadai akan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan institusi. ICT juga dapat mendorong tumbuhnya demokratisasi, menignkatkan pemahaman dan, kedalaman, dan keluasan materipendidikan kepada mahasiswa. ICT juga menjadi sebuah komunikasi yang baik dalam peningkatan rekrutmen tenaga pendidikan di lingkungan institusi perguruan tinggi. 4. Materi pendidikan dengan penyiapan calon pendidik dan demokratisasi; 5. Kurikulum dengan materi pendidikan, dan penyiapan penyiapan calon pendidik; 6. Sarana dan prasarana dengan kurikulum dan penyiapan calon pendidik; 7. Instrumen hukum dengan demokratisasi dan penyiapan calon pendidik; 8. Percepatan transformasi dengan demokratisasi dan instrumen hukum; 9. Transparansi dengan demokratisasi dan percepatan transformasi; 10. Pengawasan dengan demokratisasi dan evaluasi; 11. Evaluasi dengan kebijakan dan perencanaan; 12. Monitoring dengan evaluasi dan kebijakan; 13. Perencanaan dengan akuntabilitas dan monitoring; 14. Kebijakan dengan akuntabilitas, perencanaan, percepatan transformasi.

Gambar 2 Causal Loop Diagram Bahasan Masalah Gambar 3 Visi Pendidikan Berkualitas Penutup 1. Kesimpulan 1. Dengan memahami hasil identifikasi Model Sistem Causal Loop Diagram (CLD) nampak jelas bagi kita dari mana dan akan kemanakah arah kebijakan pembangunan bidang pendidikan khususnya usaha pemerataan akses pendidikan yang berkualitas di Indonesia. 2. Dengan pendekatan sistem ini pula bahwa sesungguhnya apa yang akan dilakukan dan dari mana akan dimulai usaha pemerataan pendidikan berkualitas kita sudah dapat menebaknnya dengan tingkat akurasi mengikuti urut-urutan dari identifikasi yang telah ada.

3. Pendekatan Model Causal Loop Diagram (CLD) sekalipun telah membantu melakukan identifikasi sistemik, namun perlu lagi untuk dilanjutkan dengan model-model lain untuk dapatnya sebuah analisis sistem bersinergi menjawab masalah yang sesungguhnya. Misalnya analisis sistem dengan pendekatan Venn Diagram sebagai kelanjutan untuk memahami varian-varian yang ada dengan mengontrolnya memberikan angka-angka matematis yang dapat dikalkulasi, sehingga akan tiba pada pemilihan keputusan menangani masalah secara tepat. 2. Saran 1. Kepada pemerintah kebijakan-kebijakan yang selalu diproduk baiknya dianalisis dengan pendekatan sistem agar apa yang menjadi kebijakan antar departemen dapat bersinergi dan tidak nampak tumpang tindih atau mengalami ambigui di masyarakat. 2. Kepada para akademisi pemikir dan sekaligus penyelaras bagi kehidupan berbangsa penting untuk memberikan sumbangan yang benar-benar logis agar usaha bersama untuk kesejahteraan rakyat selalu membumi dan jauh dari sengketa politik-politikan. 3. Analisis sistem baiknya menjadi mata pembelajaran untuk para pengambil kebijakan di negeri ini sebelum melaksanakan tugas kenegaraan. DAFTAR PUSTAKA 1. Billy Tunas, Memahami dan Memecahkan Masalah dengan Pendekatan Sistem, tahun 2007 2. Pendidikan Untuk Semua (Education For All), Konvensi Hak Anak (Convention on the right of child), Millenium Development Goals (MDGs), World Summit on Sustainable Development 3. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional