dokumen-dokumen yang mirip
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Berbasis Masyarakat untuk Hutan Aceh Berkelanjutan Banda Aceh, 19 Maret 2013

MENENTUKAN LAJU EROSI

ANALISA EROSI DAN USAHA KONSERVASI PADA SUB DAS KONTO HULU BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI. A. Metode USLE

Ummi Kalsum 1, Yuswar Yunus 1, T. Ferijal 1* 1 Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala PENDAHULUAN

Teknik Konservasi Waduk

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Analisis karakteristik DTA(Daerah Tangkapan Air ) Opak

PENGEMBANGAN KONSERVASI LAHAN TERHADAP EROSI PARIT/JURANG (GULLY EROSION) PADA SUB DAS LESTI DI KABUPATEN MALANG

STUDI IDENTIFIKASI PENGELOLAAN LAHAN BERDASAR TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) (Studi Kasus Di Sub Das Sani, Das Juwana, Jawa Tengah)

Erosi. Rekayasa Hidrologi

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Karakter Daerah Tangkapan Air Merden

MENENTUKAN PUNCAK EROSI POTENSIAL YANG TERJADI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) LOLI TASIBURI DENGAN MENGGUNAKAN METODE USLEa

BAB III LANDASAN TEORI. Jika dirumuskan dalam suatu persamaan adalah sebagai berikut : R=.(3.1) : curah hujan rata-rata (mm)

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan kebutuhan manusia akibat dari pertambahan jumlah penduduk maka

BAB III LANDASAN TEORI. A. Metode Universal Soil Loss Equation (USLE)

ABSTRACT PREDICTION EROSION, LAND CAPABILITY CLASSIFICATION AND PROPOSED LAND USE IN BATURITI DISTRICT, TABANAN REGENCY, BALI PROVINCE.

BAB I PENDAHULUAN. Lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang dibutuhkan umat

Prosiding SEMINAR NASIONAL. Banda Aceh, 19 Maret 2013

Prosiding Seminar Nasional INACID Mei 2014, Palembang Sumatera Selatan

BAB I PENDAHULUAN. yang lebih baik. Menurut Bocco et all. (2005) pengelolaan sumber daya alam

BAB III LANDASAN TEORI. A. Metode Universal Soil Loss Equation (USLE)

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Hujan memiliki peranan penting terhadap keaadaan tanah di berbagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KAJIAN EROSI TANAH DENGAN PENDEKATAN WISCHMEIER PADA DAS KALIMEJA SUBAIM KECAMATAN WASILE TIMUR KABUPATEN HALMAHERA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur

TINJAUAN PUSTAKA. unsur-unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam tanah, air dan vegetasi serta

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Daerah Aliran Sungai merupakan suatu sistem alam yang menjadi

TINJAUAN PUSTAKA. erosi, tanah atau bagian-bagian tanah pada suatu tempat terkikis dan terangkut

BAB III LANDASAN TEORI. A. Metode MUSLE

ANALISIS LAJU EROSI DAN USAHA KONSERVASI LAHAN DI DAS BOGEL KABUPATEN BLITAR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)

PEMETAAN TINGKAT BAHAYA EROSI BERBASIS LAND USE DAN LAND SLOPE DI SUB DAS KRUENG SIMPO

METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dengan erosi geologi atau geological erosion. Erosi jenis ini tidak berbahaya

KAJIAN TINGKAT BAHAYA EROSI DI SUB-DAS TEWEH, DAS BARITO PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

PENENTUAN TINGKAT KEKRITISAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM DI SUB DAS AEK RAISAN DAN SUB DAS SIPANSIHAPORAS DAS BATANG TORU

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan Penduduk dan Dampaknya terhadap Perkembangan Suatu Wilayah

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Erosi

TINJAUAN PUSTAKA. Daerah Aliran Sungai Asahan. harafiah diartikan sebagai setiap permukaan miring yang mengalirkan air

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Data. B. Data Hujan

POTENSI DAS DELI DALAM MENDUKUNG PERTANIAN BERKELANJUTAN BERDASARKAN EVALUASI KEMAMPUAN PENGGUNAAN LAHAN ABSTRAK

TINJAUAN PUSTAKA. Daerah Aliran Sungai adalah suatu daerah atau wilayah dengan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PEMETAAN TINGKAT BAHAYA EROSI DENGAN METODE USLE (UNIVERSAL SOIL LOSS EQUATION) BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI PULAU SAMOSIR

TINJAUAN PUSTAKA. yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya

PRAKTIKUM RSDAL VI PREDIKSI EROSI DENGAN METODE USLE DAN UPAYA PENGENDALIANNYA

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II FAKTOR PENENTU KEPEKAAN TANAH TERHADAP LONGSOR DAN EROSI

HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DALAM PENGKLASIFIKASIAN BAHAYA EROSI PADA DAS TALAWAAN

ANALISIS EROSI DAN SEDIMENTASI LAHAN DI SUB DAS PANASEN KABUPATEN MINAHASA

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Rd. Indah Nirtha NNPS. Program Studi Teknik Lingkungn Fakultas Teknis Universitas Lambung Mangkurat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGGUNAAN BAHAN ORGANIK SEBAGAI PENGENDALI EROSI DI SUB DAS CIBOJONG KABUPATEN SERANG, BANTEN. Oleh: FANNY IRFANI WULANDARI F

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2014

EI 30 = 6,119 R 1,21 D -0,47 M 0,53 Tabel IV.1 Nilai Indeks Erosivitas Hujan (R)

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...

PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN TERHADAP DEBIT LIMPASAN PADA SUB DAS SEPAUK KABUPATEN SINTANG KALIMANTAN BARAT

Irma Fitria, Dr. Sakka, M.Si, Drs. H. Samsu Arif, M.Si

ANALISIS DAN PEMETAAN DAERAH KRITIS RAWAN BENCANA WILAYAH UPTD SDA TUREN KABUPATEN MALANG

KAJIAN KAWASAN RAWAN BANJIR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DI DAS TAMALATE

PREDIKSI EROSI MENGGUNAKAN METODE USLE DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) WADUK MALAHAYU KECAMATAN BANJARHARJO KABUPATEN BREBES PROVINSI JAWA TENGAH

PREDIKSI TINGKAT BAHAYA EROSI MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI DAERAH TANGKAPAN AIR DANAU WISATA BANDAR KAYANGAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. dahulu dihitung faktor-faktor bahaya erosi yang terjadi di Sub DAS Bekala.

PENDUGAAN TINGKAT SEDIMEN DI DUA SUB DAS DENGAN PERSENTASE LUAS PENUTUPAN HUTAN YANG BERBEDA

: Curah hujan rata-rata (mm) : Curah hujan pada masing-masing stasiun (mm) : Banyaknya stasiun hujan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di DAS Hulu Mikro Sumber Brantas, terletak di Desa

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. Wilayahnya meliputi bagian hulu, bagian hilir, bagian pesisir dan dapat berupa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penggunaan Lahan

KAJIAN LAHAN KRITIS SUB DAERAH ALIRAN CI KERUH DI KAWASAN CEKUNGAN BANDUNG

Bab ini berhubungan dengan bab-bab yang terdahulu, khusunya curah hujan dan pengaliran air permukaan (run off).

ARAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN PERENCANAAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DI DAS YEH EMPAS, TABANAN, BALI

Pemetaan Tingkat Bahaya Erosi Sub DAS Petani Sumatera Utara. Mapping Erosion Level in Petani SubWatershed North Sumatera

Yeza Febriani ABSTRACT. Keywords : Erosion prediction, USLE method, Prone Land Movement.

KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN PERHUTANAN SOSIAL

Analisis DAS Sambong Dengan Menggunakan Aplikasi GIS

ANALISIS TINGKAT EROSI TANAH DI KECAMATAN SIANJUR MULA- MULA KABUPATEN SAMOSIR

Pendugaan Erosi Aktual Berdasarkan Metode USLE Melalui Pendekatan Vegetasi, Kemiringan Lereng dan Erodibilitas di Hulu Sub DAS Padang

DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) WALANAE, SULAWESI SELATAN. Oleh Yudo Asmoro, Abstrak

ANALISIS TINGKAT BAHAYA EROSI DAN LAHAN KRITIS DI DAERAH ALIRAN SUNGAI RORAYA PROVINSI SULAWESI TENGGARA 1)

ANALISIS DAN PEMETAAN DAERAH KRITIS RAWAN BENCANA WILAYAH UPTD SDA TUREN KABUPATEN MALANG

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PREDIKSI EROSI DAN SEDIMENTASI DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI KEDUANG KABUPATEN WONOGIRI

PENANGANAN KAWASAN BENCANA LONGSOR DAS WAI RUHU. Steanly R.R. Pattiselanno, M.Ruslin Anwar, A.Wahid Hasyim

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Proses erosi karena kegiatan manusia kebanyakan disebabkan oleh

TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) PADA HUTAN DAN LAHAN KAKAO DI DESA SEJAHTERA, KECAMATAN PALOLO, KABUPATEN SIGI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) UNTUK ANALISA TINGKAT BAHAYA EROSI DAN KEKRITISAN LAHAN PADA DAS BADUNG PROVINSI BALI Saikhul Islam 1, Moh. Sholichin 2, Runi Asmaranto 2 1 Mahasiswa Sarjana Teknik Jurusan Pengairan Universitas Brawijaya 2 Dosen Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Email : is.saikhul.l.am@gmail.com ABSTRAK DAS Badung merupakan salah satu DAS yang berada di Kawasan Strategis Nasional Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (KSN SARBAGITA) dan melintasi 2 (dua) wilayah administrasi dengan pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang tinggi yaitu Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Tata guna lahan yang sebagian besar merupakan pemukiman dan sawah irigasi serta luas hutan yang hanya 1,93 km 2 atau hanya 3,53% dari luas total DAS memungkinkan terjadinya erosi. Metode yang digunakan dalam menghitung laju erosi yang terjadi adalah metode USLE (Universal Soil Loss Equation) dan pengelolaan data-data spasial menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG. Hasil analisis diperoleh erosi sebesar 4,03 316,769 ton/ha/tahun yang berarti terjadi kehilangan tanah sebesar 0,363-28,538 mm/tahun. Berdasarkan analisis tingkat bahaya erosi menurut ketetapan Departemen Kehutanan diketahui tingkat bahaya erosi yang terjadi yaitu, sangat ringan seluas 264,676 ha (4,84 %), ringan : 2319,789 ha (42,422 %), sedang : 414,91 ha (7,587 %), berat : 2416,178 ha (44,184 %), sangat berat : 52,85 ha (0,966 %), sedangkan untuk tingkat kekritisan lahan yaitu, potensial kritis : 2584,465 ha (47,262), %), semi kritis : 414,91 ha (7,587 %), kritis : berat : 2416,178 ha (44,184 %), sangat kritis : 52,85 ha (0,966 %). Sedangkan arahan fungsi kawasan di DAS Badung hanya terdiri dari 1 (satu) kawasan, yaitu Kawasan Budidaya. Kata Kunci : Sistem Informasi Geografis (SIG), Erosi, Tingkat Bahaya Erosi, USLE (Universal Soil Loss Equation), Daerah Aliran Sungai (DAS) ABSTRACT Badung watershed is one of the watershed that located in the National Strategic Areas in Denpasar, Badung, Gianyar and Tabanan (KSN Sarbagita) and across the two (2) administrative area with population growth and high economic in Badung and Denpasar. Land use, mostly residential and irrigated fields and forest that only 1.93 km2 or just 3.53% of the total area of the watershed allows erosion. The method used in calculating the rate of erosion using USLE (Universal Soil Loss Equation) and management of spatial data using Geographic Information System (GIS). The result of analysis obtained erosion value of 4,03 316,769 tons/ha/year, which means loss of land from 0.363 to 28.538 mm / year. Based on the analysis of the level of danger of erosion by the Ministry of Forestry decree known level of erosion that occurs, very light area of 264.676 ha (4.84%), light: 2319.789 ha (42.422%), being: 414.91 ha (7.587%), weight: 2416.178 ha (44.184%), very heavy: 52.85 ha (0.966%), while the critical level of land which, potentially critical: 2584.465 ha (47.262),%), semi-critical: 414, 91 ha (7.587%), Critical: weight: 2416.178 ha (44.184%), very critical: 52.85 ha (0.966%). While landing area function in watershed Badung only consist of 1 (one) area, namely cultivation zone. Key Words : Geographic Information System (GIS), Erosion, Erosion Danger Level, USLE (Universal Soil Loss Equation), Watershed.

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang DAS Badung adalah DAS yang berlokasi di bagian selatan provinsi Bali dan terletak pada 8 32'24.92'' 8 44'48.88'' LS dan 115 12'2.54'' 115 12'39.06" BT. Menurut Peraturan Presiden No.45 Tahun 2011 DAS Badung merupakan salah satu DAS yang berada di Kawasan Strategis Nasional Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (KSN SARBAGITA) dan melintasi 2 wilayah administrasi dengan pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang tinggi yaitu Kabupaten Badung dan Kota Denpasar yang terdiri dari 6 Kecamatan dan 36 desa yang memiliki kondisi fisik dan sosial yang beragam. Balai Wilayah Sungai Bali-Penida yang secara geografis terletak pada DAS Badung berupaya melakukan kajian pada strategis tersebut dan pada kegiatan Penyusunan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air Tahap I diketahui luas hutan pada DAS Badung hanya 3,53% dari luas total DAS Badung 54,684 km 2. Kondisi ini dapat menjadi lebih parah apabila melihat kondisi DAS Badung yang terletak pada daerah yang memiliki pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang tinggi serta masih belum optimalnya manajemen pengelolaan dan pemberdayaan masyarakat (Community Empowerment). 1.2. Identifikasi Masalah Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pusat Regional Lingkungan Hidup (Pusreg LH) Bali-Nusra dan Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PPLH) UNUD pada tahun 2009 menyatakan bahwa daya dukung lahan dan air DAS Badung telah berada dalam kondisi defisit yang disebabkan oleh bertambahnya jumlah penduduk yang disertai dengan berkurangnya lahan-lahan yang bersifat sebagai penyerap air. Dengan kondisi tata guna lahan yang sebagian besar merupakan pemukiman dan sawah irigasi dan kondisi hutan yang luasnya semakin berkurang memungkinkan terjadinya erosi yang apabila tidak dilakukan upaya rehabilitasi akan memperburuk kondisi DAS di masa yang akan datang. Berdasarkan uraian di atas bisa diambil kesimpulan bahwa perlu dilakukan upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah pada DAS Badung serta diperlukan pula suatu perencanaan pengelolaan dan teknik konservasi yang terpadu sehingga dapat terpenuhinya penggunaan kebutuhan sekarang dan kebutuhan yang akan datang. 1.3. Tujuan dan Manfaat Adapun tujuan dan manfaat dari studi ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui berapa besarnya laju erosi, tingkat bahaya erosi, kekritisan lahan serta arahan fungsi kawasan yang seharusnya pada DAS Badung. 2. Untuk mengetahui pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam usaha perencanaan dan pengelolaan DAS yang berkelanjutan. 3. Sebagai referensi dalam pengendalian dan usaha konservasi di DAS Badung. 4. Sebagai referensi bagi instansi terkait dalam melaksanakan konservasi tanah dan rekomendasi arahan rehabilitasi lahan pada DAS lainnya. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Erosi Erosi adalah suatu proses di mana tanah dihancurkan (detached) dan kemudian dipindahkan ke tempat lain oleh kekuatan air, angin atau gravitasi. Di Indonesia erosi yang terpenting adalah disebabkan oleh air (Hardjowigeno, 1987:128). Sedangkan menurut Arsyad (2006:42) erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkatnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh suatu media alami. Proses terjadinya erosi bermula dengan hancurnya agregat tanah oleh air

hujan yang jatuh ke bumi dan penghancuran agregat tanah tersebut kemudian dipercepat dengan adanya daya penghancuran dan daya urai dari air hujan itu sendiri. Hancurnya agregat ini kemudian menyumbat pori-pori tanah sehingga mengakibatkan berkurangnya infiltrasi sehingga air akan mengalir dipermukaan tanah yang kemudian disebut dengan limpasan permukaan (run off), aliran air ini nantinya akan mengikis dan mengangkut partikel-partikel yang telah dihancurkan. Selanjutnya jika tenaga aliran permukaan tersebut sudah tidak mampu lagi untuk mengangkut bahan-bahan hancuran tersebut maka bahan yang terangkut ini diendapkan. Perhitungan besarnya erosi dalam studi ini menggunakan rumus USLE (United Soil Loss Equitment) yaitu : A = R. K. LS. CP Di mana : A : laju erosi lahan (ton/ha/thn) R : indeks erosivitas hujan (KJ/ha) K : indeks erodibilitas tanah LS : faktor panjang dan kemiringan lahan CP : faktor tanaman dan pengelolaan lahan A. Faktor Erosivitas Hujan Erosivitas hujan adalah tenaga pendorong yang menyebabkan terkelupasnya dan terangkutnya partikelpartikel tanah ke tempat yang lebih rendah. Erosivitas hujan sebagian terjadi karena pengaruh jatuhan butir-butir hujan langsung di atas tanah dan sebagian lagi karena aliran air di atas permukaan tanah. Nilai R yang merupakan daya rusak hujan, dapat ditetukan dengan persamaan penduga yang telah disusun oleh Bols (1978) berdasarkan data hujan Indonesia: : EI 30 = 6,119(RAIN) 1,21. (DAYS) 0,47. (MAXP) 0,53 Dengan : EI30 = erosivitas hujan rata-rata tahunan (KJ/ha) RAIN = curah hujan rata-rata tahunan (cm) DAYS =jumlah hari hujan rata-rata pertahun (hari) MAXP = curah hujan maksimum rata-rata dalam 24 jam per bulan untuk kurun waktu satu tahun (cm) B. Indeks Erodibilitas Tanah Erodibilitas adalah kepekaan tanah terhadap daya menghancurkan dan penghanyutan oleh air curahan hujan, dengan kata lain erodibilitas adalah kepekaan suatu tanah untuk mengalami peristiwa erosi. Jika nilai K (faktor erodibilitas) suatu tanah tanah tersebut tinggi maka tanah itu peka atau mudah terkena erosi dan jika nilai K tanah itu rendah berarti daya tahan tanah itu kuat atau resisten terhadap erosi. Faktor erodibilitas tanah menunjukan resisten partikel tanah terhadap pengelupasan dan transportasi partikel-partikel tanah oleh adanya energi kinetik air hujan. Meskipun resistensi tersebut di atas akan bergantung pada topografi, kemiringan lereng dan besarnya gangguan oleh manusia. Besarnya erodibilitas atau resistensi tanah juga dibentuk oleh karakteristik tanah seperti ; tekstur tanah, stabilitas agregat tanah, kapasitas infiltrasi dan kandungan bahan organik (Asdak, 2007). C. Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng Topografi berperan dalam menentukan kecepatan dan volume limpasan permukaan. Dua unsur topografi yang berpengaruh terhadap erosi adalah panjang lereng dan kemiringan lereng (Arsyad, 1983 dalam Utomo, 1989: 34). Semakin panjang lereng, maka volume kelebihan air yang berakumulasi di atasnya menjadi lebih besar dan kemudian semua akan turun dengan volume dan kecepatan meningkat. Pengaruh panjang lereng menurut pakar sangat bervariasi tergantung keadaan tanahnya. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kemiringan lereng lebih penting daripada panjang lereng, karena pergerakan air serta kemampuannya memecahkan dan membawa partikel tanah akan bertambah dengan bertambahnya sudut ketajaman lereng.

Kemiringan mempengaruhi kecepatan dan volume limpasan permukaan. Pada dasarnya makin curam suatu lereng, jadi prosentase kemiringan semakin tinggi, maka semakin cepat laju limpasan. Lebih lanjut dengan semakin singkatnya waktu untuk infiltrasi, volume limpasan permukaan juga semakin besar. Jadi dengan meningkatnya prosentase kemiringan, erosi akan semakin besar (Utomo, 1994:53). D. Faktor Pengelolaan Tanaman dan Konservasi Tanah (CP) Indeks pengelolaan tanaman (C) dapat diartikan sebagai rasio tanah yang tererosi pada suatu jenis pengelolaan tanaman pada sebidang lahan terhadap tanah yang tererosi pada lahan yang sama tanpa ada tanaman. Nilai C untuk suatu jenis pengelolaan tanaman tergantung dari jenis, kombinasi, kerapatan, panen dan rotasi tanaman. Indeks pengelolaan lahan (P) adalah rasio tanah yang tererosi pada suatu jenis pengelolaan lahan terhadap tanah yang tererosi pada lahan yang sama tanpa praktek pengelolaan lahan atau konservasi tanah apapun. Nilai P dipengaruhi oleh campur tangan manusia terhadap lahan yang bersangkutan seperti misalnya teras, rorak, pengelolaan tanah dan sebagainya. Besaran nilai CP ditentukan berdasarkan keanekaragaman bentuk tata guna lahan dilapangan (berdasarkan peta tata guna lahan dan orientasi lapangan). Nilainya ditentukan berdasarkan hasil penelitian yang telah ada atau modifikasinya. 2.2. Tingkat Bahaya Erosi dan Kekritisan Lahan Tingkat bahaya erosi merupakan tingkat ancaman kerusakan yang diakibatkan oleh erosi pada suatu lahan. Tingkat bahaya erosi (TBE) diperoleh dengan cara membandingkan tingkat erosi pada suatu unit lahan dengan kedalaman efektif. Semakin dangkal solum tanahnya berarti semakin sedikit tanah yang boleh tererosi, sehingga tingkat bahaya erosinya pada tanah dengan kedalaman solum yang dangkal sudah masuk pada kategori berat meskipun tanah yang hilang atau tererosi belum terlalu besar. Dalam studi ini penentuan tingkat kekritisan lahan dilihat dari tingkat bahaya erosi yang terjadi Tabel 1. Kriteria Penetapan Tingkat Solum Tanah (cm) Dalam > 90 Sedang 60-90 Dangkal 30-60 Sangat Dangkal < 30 Bahaya Erosi Sumber : Departemen Kehutanan (1998) dalam Utomo, 1994:59) Keterangan : SR B R SB S Kelas Bahaya Erosi I II III IV V Erosi (ton/ha/tahun) < 15 15-60 60-180 180-480 > 480 SR R S B SB R S B SB SB S B SB SB SB B SB SB SB SB = Sangat Ringan = Berat = Ringan = Sangat Berat = Sedang 2.3. Arahan Penggunaan Lahan Arahan penggunaan lahan ditetapkan berdasarkan kriteria dan tata cara penetapan hutan lindung dan hutan produksi yang adalah berkaitan dengan karakteristik fisik DAS berikut ini (Asdak, 2007) : 1. Kemiringan lereng. 2. Jenis tanah menurut kepekaannya terhadap erosi. 3. Curah hujan rata-rata. Kemiringan lereng dapat ditentukan dengan melihat garis-garis kontur pada peta topografi. Hasil interpretasi kemiringan lereng inti ini kemudian dipetakan (peta kemiringan lereng). Jenis tanah diperoleh dari interpretasi peta tanah tinjau dari DAS atau sub-das yang menjadi kajian. Penetapan penggunaan lahan setiap satuan lahan ke dalam suatu kawasan fungsional dilakukan dengan menjumlahkan nilai skor ketiga faktor tersebut di atas dengan mempertimbangkan keadaan setempat. Dengan cara demikian,

dapat dihasilkan kawasan lindung, kawasan penyangga, kawasan budidaya. Berikut ini adalah kriteria yang digunakan oleh BRLKT ( Balai Lahan dan Konservasi Tanah, Departemen Kehutanan ) untuk menentukan status kawasan berdasarkan fungsinya : a. Kawasan Lindung Satuan lahan dengan jumlah skor ketiga faktor fisiknya sama dengan atau lebih besar dari 175 dan memenuhi salah satu atau beberapa syarat di bawah ini : 1. Mempunyai kemiringan lereng > 45%. 2. Tanah dengan klasifikasi sangat rawan erosi dan mempunyai kemiringan lereng > 15%. 3. Merupakan jalur pengamanan aliran sungai, minimal 100 m di kiri- kanan alur sungai. 4. Merupakan pelindung mata air, yaitu 200 m dari pusat mata air. 5. Berada pada ketinggian > 2.000 m dpl. 6. Guna kepentingan khusus dan ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan lindung. b. Kawasan Penyangga Satuan lahan dengan jumlah skor ketiga faktor fisik antara 125 174 serta memenuhi kriteria umum sebagi berikut: 1. Keadaan fisik areal memungkinkan untuk dilakukan budidaya pertanian secara ekonomis. 2. Lokasinya secara ekonomis mudah dikembangkan sebagai kawasan penyangga. 3. Tidak merugikan dari segi ekologi/lingkungan hidup. c. Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan Satuan lahan dengan jumlah skor ketiga faktor fisik < 124 serta sesuai untuk dikembangkan usaha tani tanaman tahunan seperti hutan produksi tetap, hutan tanaman industri, hutan rakyat, perkebunan dan tanaman buahbuahan. Selain itu, areal tersebut harus memenuhi kriteria umum untuk kawasan penyangga. 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Lokasi Studi Lokasi pelaksanaan studi ini adalah DAS Badung yang berlokasi pada 8 32'24.92'' 8 44'48.88'' LS dan 115 12'2.54'' 115 12'39.06" BT melintasi 2 Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten Badung dan Kota Denpasar, 6 Kecamatan dan 36 desa yang memiliki kondisi fisik dan sosial yang beragam. DAS Badung merupakan daerah berpola hujan monsun (Aldrian dan Susanto, 2003 dalam As-syakur dkk., 2008) dengan rata-rata curah hujan tahunan mencapai 1921,86 mm. DAS Badung memiliki luas sebesar 54,684 km 2 dan bermuara di Waduk Estuary. 3.2. Data Data-data yang diperlukan antara lain : 1. Peta, yang digunakan antara lain : a. Peta topografi. b. Peta tata guna lahan c. Peta solum tanah d. Peta lokasi stasiun hujan e. Peta jenis tanah 2. Data hidrologi, yang diperlukan antara lain : a. Data curah hujan 15 tahun (Tahun 2000-2014). 3.3. Langkah-langkah Penyelesaian Studi Langkah-langkah pengerjaan studi ini adalah sebagai berikut: 1. Menghitung besarnya laju erosi pada masing-masing unit lahan dengan menggunakan metode USLE dengan bantuan perangkat lunak ArcMap 10.0 dengan tahapan sebagai berikut : a. Menghitung nilai erosivitas hujan (R) pada masing-masing stasiun hujan dengan menggunakan metode bols, untuk selanjutnya mencari sebaran erosivitas pada

DAS dengan metode interpolasi Inverse Distance Weighting (IDW). b. Menentukan nilai CP berdasarkan peta tata guna lahan. c. Menetukan nilai K berdasarkan peta jenis tanah. d. Menetukan nilai LS berdasarkan peta kemiringan lereng. e. Mengkonversi polygon nilai R, CP, K dan LS ke dalam bentuk raster. f. Menghitung Nilai Erosi (A) dengan mengalikan semua faktor (R, K, LS, CP) dengan bantuan perangkat lunak ArcMap 10.0. 2. Menentukan tingkat bahaya erosi dengan melakukan overlay antara peta laju erosi dan peta kedalaman solum tanah. 3. Menentukan kekritisan lahan berdasarkan hasil analisis tingkat bahaya erosi. 4. Melakukan analisis arahan fungsi kawasan dengan melakukan skoring terhadap faktor-faktor yang berpengaruh, yaitu : kemiringan lereng, jenis tanah menurut kepekaannya terhadap erosi dan curah hujan rata-rata. 5. Menentukan rekomendasi penggunaan lahan dan usaha konservasi berdasarkan arahan fungsi kawasan. 6. Menghitung besarnya laju erosi pada penggunaan lahan baru setelah setelah adanya tindakan konservasi. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Erosi A. Indeks Erosivitas Hujan Dari hasil perhitungan diketahui bahwa nilai erosivitas terendah adalah antara 1.347,5-1530,5 KJ/ha dengan luas daerah pengaruh 830,199 ha dan erosivitas tertinggi yaitu antara 2.240,9-2.432,4 KJ/ha dengan luas daerah pengaruh sebesar 1508,424 ha. Sedangkan erosivitas antara 2.006,9-2.240,9 KJ/ha mempunyai daerah pengaruh paling luas yaitu 2230,971 ha. N o Tabel 2. Erosivitas DAS Badung Porsen Erosivitas Luas tase (KJ/ha) (ha) (%) 1 1.347,5-1530,5 830,199 15,18 2 1530,5-1.751,7 548,439 10,03 3 1.751,7-2.007 350,370 6,41 4 2.007-2.241 2230,971 40,79 5 2.241-2.432,4 1508,424 27,58 Luas 5468,403 100 Sumber : Perhitungan B. Faktor Erodibilitas Tanah Dari peta jenis tanah diketahui bahwa jenis tanah di DAS Badung didominasi oleh jenis tanah latosol cokelat kuningan dengan luas sebesar 5428,905 ha (99,28 %) dan memiliki nilai erodibilatas sebesar 0,082 (0,72 %), sedangkan jenis tanah yang lain yaitu tanah latosol kemerahan kekuningan dan litosol seluas 39,498 ha dengan nilai erodibilitas sebesar 0,064. Tabel 2. Faktor Erodibilitas Tanah DAS Badung Jenis Tanah Nilai K Luas Porse ntase (ha) (%) Cokelat 0,082 5428,905 99,28 Kemerahan 0,064 39,498 0,72 dan Litosol Luas 5468,403 100 C. Faktor LS Dari hasil analisis spasial pada data topografi diketahui bahwa kemiringan lereng di DAS Badung didominasi oleh daerah dengan kemiringan lereng yang datar yaitu 0-5 % seluas 5258,055 ha, sedangkan daerah dengan kemiringan landai (5-15 %) seluas 202,739 ha dan daerah dengan kemiringan lereng sedikit curam (15 17,47 %) hanya memiliki luas sebesar 7,609 ha. Hal ini dikarenakan letak

DAS Badung yang berada di daerah pantai yang cenderung datar dan merupakan daerah perkotaan yang padat dengan didominasi oleh pemukiman. Tabel 3. Nilai Faktor LS N o Kelas Lereng (%) Nilai LS Luas Porsent ase (ha) (%) 1 0 5 0,25 5258,055 96,15 2 5 15 1,2 202,739 3,71 3 15 17,47 4,25 7,609 0,14 Luas 5468,403 100 D. Faktor CP Tabel 4. Faktor CP N o Pengguna an Lahan Nilai CP Luas Porsentase (ha) (%) 4 Belukar/Se mak 0,300 16,108 0,29 5 Tanah Berbatu 1,000 12,237 0,22 6 Pasir Darat 1,000 24,065 0,44 7 Empang 0,050 223,412 4,09 9 Hutan Rawa 0,030 229,866 4,20 10 Kebun/Per kebunan 0,400 696,655 12,74 11 Pemukima n 0,600 1986,48 36,33 12 Rumput/Ta nah kosong 0,300 135,262 2,47 14 Sawah Irigasi 0,050 2140,284 39,14 15 Tegalan/La dang 0,750 4,034 0,07 Total 5468,403 100 Dari peta tata guna lahan diketahui penggunaan lahan pada DAS Badung didominasi oleh tipe penggunaan lahan sawah irigasi seluas 2140,284 ha dengan nilai CP 0,05 dan tipe penggunaan pemukiman seluas 1986,48 ha dengan nilai CP 0,6. E. Perhitungan Laju Erosi Perhitungan laju erosi dilakukan dengan perkalian semua faktor yang berpengaruh terhadap erosi (R, K, LS dan CP). Dalam studi ini perkalian semua faktor tersebut dilakukan dengan bantuan perangkat lunak ArcGIS 10.0 menggunakan toolsboxes raster calculator dengan terlebih mengkonversi peta polygon ke dalam bentuk raster. Tabel 5. Laju Erosi DAS Badung Porse Laju Erosi Luas ntase No ton/ha/t mm/tahun Ha (%) ahun 4,033-0,363-1 2625,686 48,02 24,882 2,242 24,882-2,242-2 1122,023 20,52 3 4 5 88,656 88,656-148,751 148,751-234,599 234,599-316,769 7,987 7,989-13,401 13,401-21,135 21,135-28,538 1662,499 30,40 54,156 0,99 4,039 0,07 Total 5468,403 100 Dari hasil perhitungan dengan metode USLE diketahui bahwa nilai laju erosi terendah yang terjadi adalah sebesar 4,033 ton/ha/tahun atau setara dengan kehilangan tanah sebesar 0,363 mm/tahun dan nilai laju erosi tertinggi adalah sebesar 316,769 ton/ha/thn atau setara dengan kehilangan tanah sebesar 28,538 mm/tahun. Erosi pada DAS Badung didominasi oleh erosi dengan nilai 4,033-24,882 ton/ha/tahun atau setara dengan kehilangan tanah sebesar 0,363-2,242 mm/tahun dengan luas wilayah 2625,686 ha yang tersebar pada DAS bagian hulu seluas 841,797 ha, DAS bagian tengah seluas 857,675 ha dan DAS bagian hilir seluas 926,214, sedangkan erosi dengan nilai 234,599-316,769 ton/ha/tahun atau setara dengan kehilangan tanah sebesar 21,135-28,538 mm/tahun mempunyai wilayah paling sedikit yaitu seluas 4,039 ha dan hanya terjadi di DAS bagian tengah, hal ini karena kondisi topografi di yang lebih curam dibandingkan dengan bagian das lainnya yaitu antara 15 -

35 % sehingga menghasilkan nilai LS yang lebih besar, selain itu nilai erosivitas di DAS bagian tengah cukup tinggi yaitu > 2000 KJ/ha. 4.2. Tingkat Bahaya Erosi dan Kekritisan Lahan Tingkat bahaya erosi merupakan tingkat ancaman kerusakan yang diakibatkan oleh erosi pada suatu lahan. Klasifikasi tingkat bahaya erosi dalam studi ini didapatkan dengan membandingkan nilai laju erosi dengan kedalaman solum tanah. Semakin dangkal solum tanahnya berarti semakin sedikit tanah yang boleh tererosi, sehingga tingkat bahaya erosinya pada tanah dengan kedalaman solum yang dangkal sudah masuk pada kategori berat meskipun tanah yang hilang atau tererosi belum terlalu besar. Sedangkan dalam menentukan tingkat kekritisan lahan dapat dilihat dari tingkat bahaya erosi dengan melihat pada kriteria kriteria yang telah ditentukan Tabel 6. Tingkat Bahaya Erosi dan Kekritisan Lahan Laju Tingkat Tingkat Luas Porse Solum No Erosi Bahaya Kekritisan (ha) ntase (cm) ton/ha/thn Erosi Lahan Hulu Tengah Hilir Jumlah (%) Sangat - - 264,676 264,676 4,84 1 < 15 > 90 Ringan Potensial 60-90 Ringan Kritis 837,743 828,68 642,212 2308,635 42,22 > 90 Ringan - - 11,154 11,154 0,20 2 15-60 60-90 Sedang 177,418 128,044 71,812 377,274 6,90 Semi kritis > 90 Sedang - - 37,636 37,636 0,69 3 60-180 60 90 Berat Kritis 370,643 1474,48 571,055 2416,178 44,18 Sangat Sangat 4 180-480 60 90 0,251 52,599-52,850 0,97 Berat Kritis Total 5468,403 100 Dari hasil analisis tingkat bahaya erosi diketahui bahwa tingkat bahaya erosi yang terjadi pada DAS Badung didominasi oleh tingkat bahaya erosi berat dengan luas sebesar 2416,178 ha, tingkat bahaya erosi berat (kritis) terjadi pada DAS bagian hulu seluas 370,643 ha, DAS bagian tengah seluas 1474,480 ha dan DAS bagian hilir seluas 571,055 ha. Hal ini disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah tata guna lahan terutama di DAS bagian tengah yang didominasi oleh pemukiman dan daerah terbangun seperti gedung yang padat sehingga menyebabkan tingginya laju erosi yang terjadi yaitu antara 60 180 ton/ha/tahun. Tingkat bahaya erosi sangat berat (sangat kritis) terjadi pada wilayah seluas 52,850 ha dan tersebar di DAS bagian hulu seluas 0,251 ha dan DAS bagian tengah seluas 52,599 ha. 4.3. Arahan Fungsi Kawasan dan Usaha Konservasi A. Penentuan Skor Kemiringan Lereng Dari data diketahui bahwa DAS Badung memiliki kemiringan lereng antara 0 17,47 % yang terbagi menjadi 3 (tiga) kelas yaitu kelas I (0 8 %) dengan nilai skor 20, kelas II (8 15 %) dengan nilai skor 40 dan kelas III (15 25 %) dengan nilai skor 60. B. Penentuan Skor Intensitas Hujan Dari hasil interpolasi diketahui curah hujan yang terjadi pada DAS Badung adalah 18,35 27,9 mm/tahun dan terbagi menjadi 2 (dua) kelas yaitu, kelas II (13,6 27,7 mm/tahun) dengan nilai skor 20, kelas

N o 1 2 3 4 5 III (20,7 27,7 mm/tahun) dengan nilai skor 30 dan kelas IV (27,7 34,8 mm/tahun) dengan nilai skor 40. C. Skor Jenis Tanah Jenis tanah pada DAS Badung adalah latosol sehingga memiliki skor 30. Jenis Tanah Cokelat Tabel 8. Skor Arahan Fungsi Kawasan Selanjutnya dilakukan skoring dengan melakukan overlay ketiga peta di atas sehingga didapatkan skor arahan fungsi kawasan. Kemiringan Curah Skor Skor Arahan Skor Lereng Skor Luas Porsen Hujan Curah Fungsi Fungsi tase Tanah Lereng (%) (mm/tahun) Hujan Kawasan Kawasan (ha) (%) Kawasan 30 0 8 20 13,6-20,7 20 70 Budidaya Tanaman 130,540 2,39 Semusim Kemerahan dan Litosol 30 0 8 20 20,7-27,7 30 80 Cokelat Cokelat Cokelat Cokelat 30 0 8 20 27-34,6 40 90 30 0-15 40 20,7-27,7 30 100 30 15-25 60 20,7-27,7 30 120 Dari hasil skoring yang dilakukan untuk mengetahui arahan fungsi kawasan yang seharusnya pada DAS Badung berdasarkan tata cara penetapan fungsi kawasan menurut Departemen Kehutanan diketahui bahwa skor tertinggi yang diperoleh sebesar 120 dan skor terendah sebesar 70 sehingga arahan fungsi kawasan yang seharusnya pada DAS Badung adalah kawasan budidaya, arahan fungsi kawasan ini mencakup keseluruhan DAS Badung. Hal ini disebabkan karena kondisi DAS Badung yang landai serta curah hujan harian rata-rata yang rendah dan jenis tanah pada DAS Badung yang tidak beragam sehingga memiliki skor yang rendah. Kawasan Budidaya Tanaman Semusim 4880,544 89,25 Kawasan Budidaya Tanaman Semusim 377,575 6,90 Kawasan Budidaya Tanaman 72,001 1,32 Semusim Kawasan Budidaya Tanaman 7,743 0,14 Tahunan Total 5468,403 100 Berdasarkan arahan fungsi kawasan yang telah diperoleh maka ditentukan arahan konservasi yang akan dilakukan Berdasarkan hasil skoring untuk menentukan arahan fungsi kawasan dapat dilakukan beberapa alternatif kegiatan konservasi secara vegetatif sesuai dengan fungsi kawasan yang seharusnya, contohnya pada kawasan budidaya tanaman semusim kegiatan konservasi lahan dapat dilakukan dengan melakukan proses alih guna lahan terutama lahan yang berada pada kondisi kritis dan sangat kritis diganti dengan dengan tata guna lahan yang dapat menurunkan laju erosi pada lahan (memiliki nilai CP lebih rendah dari penggunaan lahan

awal) sehingga diharapkan proses konservasi pada lahan dapat berjalan dengan baik dan laju erosi pada lahan mengalami penurunan. Contoh penggunaan lahan yang dapat digunakan adalah kebun campuran Tabel 7. Arahan Konservasi Lahan No Fungsi Kawasan Alternatif Kegiatan 1 Kawasan budidaya tahunan Pohon penyekat api Reboisasi Perkebunan Hutan/kebun rakyat. 2 Kawasan budidaya semusim Agroforestry Tanaman dalam jalur Tanaman dalam kontur Kebun campuran (Kerapatan tinggi, sedang, rendah) 4.4. Perhitungan Laju Erosi Penggunaan Lahan Baru No Luas Nilai Erosi Kelas Solum TBE Lahan Lama Lahan Baru Erosi (ton/ha/thn) (cm) (ha) (%) Baru (%) Sangat 1 < 15 Kelas I > 90 Ringan 264,676 4,84 264,676 4,84 60-90 Ringan 2308,635 42,22 2378,395 43,49 2 15-60 Kelas II > 90 Ringan 11,154 0,20 11,154 0,20 60-90 Sedang 377,274 6,90 470,189 8,60 3 60-180 Kelas III > 90 Sedang 37,636 0,69 37,636 0,69 60-90 Berat 2416,178 44,18 2254,257 41,22 4 180-480 Kelas IV 60-90 Sangat Berat 52,850 0,97 52,096 0,95 Total 5468,403 100 5468,403 100 Dari hasil analisis tingkat bahaya erosi pada lahan baru diketahui bahwa luas lahan dengan kategori tingkat bahaya erosi sangat berat berkurang dari semula seluas 52,85 ha (0,97 %) menjadi 52,096 ha (0,95 %) dari luas total DAS Badung. Pada lahan dengan kategori tingkat bahaya erosi berat juga terjadi penurunan dari semula seluas 2416,178 ha (44,18 %) menjadi 2254,257 ha (41,22 %) dari luas total DAS. Hal ini menunjukkan terjadinya penurunan laju erosi setelah dilakukannya perubahan penggunaan lahan dari perkebunan menjadi kebun campuran dengan tingkat kerapatan tinggi pada lahan yang sebelumnya berada dalam kategori TBE berat dan sangat berat.

5. PENUTUP 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan untuk menjawab rumusan masalah diperoleh beberapa hasil antara lain sebagai berikut : 1. Berdasarkan hasil perhitungan laju erosi menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) diketahui laju erosi pada DAS Badung adalah sebesar 4,033-316,769 ton/ha/tahun atau setara dengan kehilangan tanah sebesar 0,363-28,538 mm/tahun. Berdasarkan ketetapan Departemen Kehutanan laju erosi di DAS Badung terbagi dalam empat kelas yaitu : a. Kelas I dengan luas sebesar 2592,996 ha atau 47,418 % dari luas total DAS. b. Kelas II dengan luas sebesar 387,85 ha atau 7,088 % dari luas total DAS. c. Kelas III dengan luas sebesar 2434,122 ha atau 44,512 % dari luas total DAS. d. Kelas IV dengan luas sebesar 53,705 ha atau 0,982 % dari luas total DAS. 2. Tingkat bahaya erosi yang terjadi di DAS Badung adalah sebagai berikut : a. Tingkat bahaya erosi sangat ringan dengan luas sebesar 264,676 ha atau 4,84 % dari luas total DAS b. Tingkat bahaya erosi ringan dengan luas sebesar 2319,789 ha atau 42,422 % dari luas total DAS. c. Tingkat bahaya erosi sedang dengan luas sebesar 414,91 ha atau 7,587 % dari luas total DAS. d. Tingkat bahaya erosi berat dengan luas sebesar 2416,178 ha atau 44,184 % dari luas total DAS. e. Tingkat bahaya erosi sangat berat dengan luas sebesar 52,85 ha atau 0,966 % dari luas total DAS. 3. Berdasarkan hasil analisis TBE yang dilakukan untuk menentukan tingkat kekritisan lahan diketahui kondisi kekritisan lahan pada DAS Badung adalah sebagai berikut : a. Potensial kritis dengan luas sebesar 2584,465 ha atau 47,06 % dari luas total DAS. b. Semi kritis dengan luas sebesar 414,91 ha atau 7,59 % dari luas total DAS. c. Kritis dengan luas sebesar 2416,178 ha atau 44,18 % dari luas total DAS. d. Sangat Kritis dengan luas sebesar 52,85 ha atau 0,97 % dari luas total DAS. 4. Analisis fungsi kawasan menunjukkan bahwa fungsi kawasan pada seluruh DAS Badung merupakan kawasan budidaya dengan skor <124 dan usaha konservasi secara vegetatif yang bisa dilakukan untuk menurunkan laju erosi adalah mengganti penggunaan lahan yang berada pada kondisi kritis dengan penggunaan lahan yang memiliki nilai CP lebih rendah, antara lain adalah reboisasi, kebun rakyat, kebun campuran. 5. Penurunan laju erosi pada tata guna lahan baru ditunjukkan dengan analisis tingkat bahaya erosi, dimana dari hasil analisis tingkat bahaya erosi pada lahan baru diketahui bahwa luas lahan dengan kategori tingkat bahaya erosi sangat berat berkurang dari semula seluas 52,85 ha (0,97 %) menjadi 52,096 ha (0,95 %) dari luas total DAS Badung. Pada lahan dengan kategori tingkat bahaya erosi berat juga terjadi penurunan dari semula seluas 2416,178 ha (44,18 %) menjadi 2254,257 ha (41,22 %) dari luas total DAS. Hal ini menunjukkan terjadinya penurunan laju erosi setelah dilakukannya perubahan penggunaan lahan dari perkebunan menjadi kebun campuran dengan tingkat kerapatan tinggi pada lahan yang sebelumnya berada dalam kategori TBE berat dan sangat berat.

5.2. Saran Melihat kondisi dan permasalahan yang terjadi maka dapat diberikan beberapa saran antara lain : 1. Untuk mengurangi laju erosi yang terjadi pada DAS serta untuk mencegah bertambah parahnya kondisi DAS pada masa yang akan datang maka diperlukan upaya pengendalian erosi lahan berupa penataan kawasan DAS dimana pengendalian erosi dapat dilakukan secara teknis/struktur maupun non teknis. 2. Perlu adanya kerjasama dan koordinasi yang baik dari pihak-pihak yang berkepentingan yaitu pemerintah dan masyarakat terutama dalam hal pemanfaatan lahan agar bahaya akan erosi dapat diminimalisir sehingga kelestarian DAS dapat terjaga. 3. Perlu dilakukan penataan serta rencana pembangunan daerah kota yang berbasis pada konservasi tanah dan air sehingga kelestarian tanah dan air dapat terjaga. 4. Pada studi yang akan datang perlu dilakukan perhitungan erosi dengan metode-metode lain seperti MUSLE (Modified Universal Soil Loss Equation) untuk mendapatkan nilai erosi yang terjadi karena limpasan permukaan sehingga keberhasilan upaya pengendalian erosi pada DAS dapat dilakukan secara maksimal. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2012. Statistik Kehutanan Indonesia 2011. Jakarta : Kementerian Kehutanan Arsyad S., 2006. Konservasi Tanah dan Air. Bogor : IPB Press. Asdak, C. 2004. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Asdak, C. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. As-syakur, AR., dkk. Studi Perubahan Penggunaan Lahan di Das Badung.Jurnal Tidak Diterbitkan. Bali : Universitas Udayana. BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Badung. 2008. Badung Dalam Angka 2008. Katalog BPS : 1102001.5103 Ma wa, Jannatul. 2014. Studi Pendugaan Sisa Usia Guna Waduk Sengguruh Dengan Pendekatan Erosi dan Sedimentasi. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas Brawijaya. Marantieno, Adinda Vignezwari Jannatul. 2014. Dampak Pertambangan Pasir dan Kesesuaian Fungsi Kawasan DAS Rejali Kabupaten Lumajang. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas Brawijaya Permana, Bias Angga. 2010.Identifikasi Lahan Kritis dan Arahan Fungsi Lahan Daerah Aliran Sungai Sampean. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang : Universitas Brawijaya Malang. Prahasta, Eddy. 2002. Sistem Informasi Geografis. Informatika Bandung. Prahasta, Eddy. 2007. Sistem Informasi Geografis. Informatika Bandung. Prasetyo, Arif. 2011. Modul Dasar ARGIS 10, Aplikasi Pengelolaan Sumberdaya Alam. Bogor : Fakultas Kehutanan IPB Pusreg Bali-Nusra dan PPLH UNUD. 2009. Kajian Daya Dukung Lingkungan Daerah Aliran Sungai Badung. Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Bali-Nusra dab Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Udayana. Denpasar Suripin,2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Andi Offset. Yogyakarta. Utomo, Wani Hadi.1994. Erosi dan Konservasi Tanah. IKIP. Malang.