Karakteristik Komunikator politik 1

dokumen-dokumen yang mirip
Komunikasi Politik dalam Sistem Politik 1

KOMUNIKASI POLITIK MILIK: LELY ARRIANIE

Komunikasi dan Politik 1 Oleh : Adiyana Slamet, S.Ip., M.Si

TINJAUAN MATA KULIAH...

SISTEM POLITIK INDONESIA

Bahan ajar handout Komunikasi Politik (pertemuan 4 ) STUDI KOMUNIKASI POLITIK 1 Oleh: Kamaruddin Hasan 2

Politik & Strategi Nasional

KOMUNIKASI POLITIK R O B B Y M I L A N A, S. I P M I K O M U N I V E R S I TA S M U H A M M A D I YA H J A K A RTA

BAB I PENDAHULUAN. dapat saling bertukar informasi dengan antar sesama, baik di dalam keluarga

PESAN KOMUNIKASI BISNIS MODUL ANALISIS BENTUK BENTUK KOMUNIKASI BISNIS 3.3 A. BENTUK KOMUNIKASI VERBAL 3.4 B. KOMUNIKASI TERTULIS 3.6 C.

PENDAHULUAN Latar Belakang Beras sangat penting dalam memelihara stabilitas ekonomi, politik dan keamanan nasional, karena beras merupakan bahan

BAB I PENDAHULUAN. Seluruh kegiatan politik berlangsung dalam suatu sistem. Politik, salah

BAB I PENDAHULUAN. Peran Berita Politik Dalam Surat Kabar Pikiran Rakyat Terhadap Pengetahuan Politik Mahasiswa Ilmu Sosial se-kota Bandung

PARTISIPASI POLITIK PEMILU

PARTAI POLITIK OLEH: ADIYANA SLAMET. Disampaikan Pada Kuliah Pengantar Ilmu Politik Pertemuan Ke-15 (IK-1,3,4,5)

BAB 1 PENDAHULUAN. Partai Gerindra sebagai realitas sejarah dalam sistem perpolitikan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

USULAN ASOSIASI ILMU POLITIK INDONESIA (AIPI) TERHADAP RUU PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN 1

Sejarah Komunikasi Politik

Komunikasi Politik & Rekrutmen Politik. Pertemuan 11-12

I. PENDAHULUAN. melalui lembaga legislatif atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

PANITIA UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL 2011/ 2012 FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS WARMADEWA

Materi Bahasan. n Definisi Partai Politik. n Fungsi Partai Politik. n Sistem Kepartaian. n Aspek Penting dalam Sistem Kepartaian.

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENGELOLAAN PARTAI POLITIK MENUJU PARTAI POLITIK YANG MODERN DAN PROFESIONAL. Muryanto Amin 1

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

KEBIJAKAN PEMERINTAHAN

DAYA DUKUNG KOMUNIKASI POLITIK ANTAR FRAKSI DALAM PENCAPAIAN EFEKTIVITAS DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. dan pemilihan langsung kepala daerah (Pilkada). Momen-momen politik. berjalannya proses politik di Indonesia.

PERKENALAN PROFIL RINGKAS

BAB I. PENDAHULUAN. oleh rakyat dan untuk rakyat dan merupakan sistem pemerintahan yang. memegang kekuasaan tertinggi (Gatara, 2009: 251).

BAB I PENDAHULUAN. di berbagai media massa baik elektronik maupun cetak semua menyajikan

II. TINJAUAN PUSTAKA. diartikan sebagai rancangan atau buram surat, ide (usul) atau pengertian yang

SISTEM POLITIK INDONESIA. 1. Pengertian Sistem Sistem adalah suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks dan terorganisasi.

Modul 1 Pelatihan Strategi Pemenangan Pemilu Untuk Candidate Schools

PEMILU NASIONAL DAN PEMILU DAERAH

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Reformasi telah memberikan posisi tawar yang jauh lebih dominan kepada

PR POLITIK & MARKETING POLITIK. Oleh: Adiyana Slamet, S.IP., M.Si

MODUL DELAPAN KOMUNIKASI POLITIK DAN OPINI PUBLIK

PARTAI POLITIK DAN KEBANGSAAN INDONESIA. Dr. H. Kadri, M.Si

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Reformasi telah membawa perubahan terhadap aspek-aspek kehidupan di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PROGRAM STUDI S1 ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS TANJUNGPURA SIKAP

I. PENDAHULUAN. sebuah tujuan bersama dan cita-cita bersama yang telah disepakati oleh

PEMUTAKHIRAN DATA PEMILIH UNTUK MEWUJUDKAN PEMILU 2019 YANG ADIL DAN BERINTEGRITAS

BAB II LANDASAN TEORI

Komunikasi Politik

BAB I PENDAHULUAN. pesan secara massal, dengan menggunakan alat media massa. Media. massa, menurut De Vito (Nurudin, 2006) merupakan komunikasi yang

BAB I PENDAHULUAN. twitter, facebook, dll untuk mencapai yang mereka inginkan yaitu dukungan dari. antarpribadi, dan organisasi (Tabroni, 2012:158).

Partai Politik dan Kelompok Penekan

DAFTAR RIWAYAT HIDUP CALON ANGGOTA TIM SELEKSI BAWASLU PROVINSI PROVINSI.

Smile Indonesia LOBI LO DAN NEGO DAN SIASI NEGO

2015 MODEL REKRUTMEN PARTAI POLITIK PESERTA PEMILU 2014 (STUDI KASUS DEWAN PIMPINAN DAERAH PARTAI NASDEM KOTA BANDUNG)

BAB I PENDAHULUAN. yang signifikan. Terbukanya arus kebebasan sebagai fondasi dasar dari bangunan demokrasi

BAB I PENDAHULUAN. merumuskan dan menyalurkan kepentingan masyarakat.partai politik juga

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pemilihan Umum (Pemilu) adalah salah satu cara dalam sistem

- 1 - BUPATI KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA PERATURAN BUPATI KEPULAUAN SANGIHE NOMOR 70 TAHUN 2016 TENTANG

L E M B A R AN D A E R A H KABUPATEN BALANGAN NOMOR 12 TAHUN 2007 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 12 TAHUN 2007 T E N T A N G

Komunikasi Politik dan Opini Publik

KOMUNIKASI POLITIK DALAM MEDIA MASSA

KOMUNIKATOR POLITIK 1 Oleh: Kamaruddin Hasan 2. Ragam Komunikator Politik.

BAB I PENDAHULUAN. mendapatkan dukungan teknik-teknik marketing, dalam pasar politik pun diperlukan

I. PENDAHULUAN. pengaruh yang ditimbulkan oleh media massa (Effendy, 2003: 407).

BAB I PENDAHULUAN. hampir seluruh organisasi politik memiliki strategi yang berbeda-beda.

BAB IV PENUTUP. bab sebelumnya, selanjutnya pada bab ini terdapat beberapa poin

BAB I PENDAHULUAN. jumlah suara yang sebanyak-banyaknya, memikat hati kalangan pemilih maupun

BAB I PENDAHULUAN. Pemilihan umum sebagai sarana demokrasi telah digunakan di sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pasal 18 Undang - Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa, Negara Kesatuan

PERS, OPINI PUBLIK, DAN PERUMUSAN KEBIJAKAN PUBLIK

BAB V PENUTUP. dirumuskan kesimpulan sebagaimana berikut: eksekutif dan legislatif hingga ancaman impeachment, maka dari itu

publik pada sektor beras karena tidak memiliki sumber-sumber kekuatan yang cukup memadai untuk melawan kekuatan oligarki politik lama.

BAB I PENDAHULUAN. komunikasi memegang peran penting menurut porsinya masing-masing.

BAB IV PENUTUP. menjadi peserta pemilu sampai cara mereka untuk hadir tidak hanya sekedar menjadi

BAB II KONFIGURASI POLITIK MASA PEMERINTAHAN MEGAWATI Konfigurasi Politik Megawati

Modul Standar untuk digunakan dalam Perkuliahan di Universitas Mercu Buana MODUL PERKULIAHAN MATA KULIAH OPINI PUBLIK BIDANG STUDI PUBLIC RELATIONS

Indonesia Corruption Watch 2014

I. PENDAHULUAN. pemimpin negara dan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi

Lina Miftahul Jannah linamjannah.wordpress.com

BAB VI PENUTUP 1. Kesimpulan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

I. PENDAHULUAN. Hubungan antara pemerintah dengan warga negara atau rakyat selalu berada. terbaik dalam perkembangan organisasi negara modern.

BAB 1 PENDAHULUAN. Pasar modal sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan (atau

UNIT EKSPLANASI KELOMPOK DALAM POLITIK LUAR NEGERI DOSEN : AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI

Peranan Partai Politik Dalam Meningkatkan Partisipasi Pemilih Dalam Pemilu dan Pilkada. oleh. AA Gde Putra, SH.MH

Transkripsi:

Karakteristik Komunikator politik 1 Oleh: Adiyana Slamet 2 Sosiolog J.D. Halloran, seorang pengamat komunikasi massa mengatakan, bahwa banyak studi komunikasi mangabaikan satu karakteristik proses yang penting, yaitu bahwa komunikasi terjadi dalam satu matrik sosial. Situasi tempat komunikasi bermula, berkembang dan berlangsung secara terus-menerus adalah situasi sosial. Hubungan antara komunikator dan khalayak adalah bagian integral dari sistem sosial. Meskipun anggapan ini sederhana, ketidakpekaan banyak ahli teori komunikasi telah mengakibatkan ketakseimbangan (Paul Halmos, 1969 : 7), apa yang dikatakan oleh Hallaron juga berlaku bagi komunikator politik (Nimmo, 1999 : 29). Dalam komunikasi unsur komunikator merupakan bagian integral dan unsur yang sangat menentukan berlangsungnya proses komunikasi. Demikian halnya dengan pemegang kekuasaan, melaksanakan kekuasaan dan penyebaran pengaruh (politik) yang diklasifikasikan dalam komunikator politik utama yang memberi warna dominan terhadap kelangsungan proses komunikasi serta yang mengelola dan mengendalikan simbol-simbol komunikasi. Dalam Bukunya Nimmo (terjemahan Surjaman, 2005 : 16) bahwa komunikator politik ini adalah pols yakni politikus yang hidupnya dari manipulasi komunikasi, kemudian vols yaitu warga negara yang aktif dalam politik berdasarkan paruh waktu (part time) dan sukarela (voluntary). Lebih lanjut Nimmo mengiidentifikasikan tiga katagori komunikator (2005 : 30) atau kalau menurut Laswell (Suwardi, 1995 : 16) membagi komunikator politik secara umum, meliputi : (1) Politikus (Pols); (2) Komunikator profesional (Pros); (3) Aktivis (Vols) Sedangkan komunikator profesional menurut Carey (Suwardi, 1997 : 17) adalah: 1. Seabagai Jurnalis, tugasnya memeberi saran-saran tentang kondisi politik tertentu; 2. Sebagai promotor, yang bertindak sebagai sekretaris pers kepresidenan, konsultan politik pada masa pemilu presiden atau manajer kampanye politik; 3. Sebagai aktivis yang bertindak, sebagai juru bicara dari salah satu interest group serta pemuka pendapat 1 Disampaikan pada kuliah Komunikasi Politik Pertemuan Ke-5 2 Dosen Komunikasi Politik Prodi Komunikasi FISIP UNIKOM

Melalui pendekatan sistem politik, maka terdapat dua aktor komunikasi (komunkator), pertama di struktur kekuasaan atau komunikator suprastruktur. Kedua di infrastruktur atau komunikator infrastruktur. Komunikator suprastruktur dikualifikasikan ke dalam dua level komunikator, yaitu komunikator utama dan komunikator pelaksana atau yang menangani masalah khusus. Dan Nimmo dalam judul buku Political Communication and Public Opinion in America (Harun dan Sumarno, 2006: 44-46) mengangkat pendapat James Rossenau dalam kaitan level nasional dan masalah khusus menggunakan istilah sebagai berikut: (1) Komunikator yang menangani masalah nasional digunakan istilah Governmental opinion makers atau disebut pembentuk opini pemerintah yang menangani masalah national multy issue maters yaitu menangani berbagai masalah nasional atau berlevel nasional, yang terdiri dari executive official yaitu para pejabat pemerintah dari mulai presiden sampai kabinet atau kementerian termasuk pimpinan departemen dengan seluruh jajarannya (eksekutif), kemudian jajaran legislatif yaitu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Yudikatif sebagai badan peradilan. (2) Komunikator yang menangani masalah khusus yang disebut single issue opinion makers yaitu asisten atau sekretaris dan staff ahli dari departemen (3) Selain komunikator utama, ada juga komunikator pelaksana yaitu para pejabat yang berada di posisi provinsi dan kabupaten/kotamadya yang akan merealisasikan dan meneruskan program pemerintah pusat sampai ketingkat daerah Nimmo (1999 : 28) menyebutkan bahwa semua orang adalah komunikator politik, siapapun yang dalam setting politik adalah komunikator politik. Hal ini terbentang mulai dari level terbawah (rakyat) sampai level atas (elit). Proses komunkasi politik menjadi begitu serba mencakup dan luas sehingga setiap orang mempunyai potensi untuk menjadi komunikator politik. Selanjutnya komunikator infrastruktur yang mempunyai fungsi politik (input) yaitu memberikan respon dari umpan balik atas kebijakan publik (public policy) yang dikeluarkan (output) oleh suprastruktur. Respon yang diberikan infrastruktur adalah berupa

tuntutan dan dukungan yang akan mempengaruhi proses pembuatan keputusan (decision making process) di konversi (diolah dan diracik) menjadi bahan pertimbangan atau alternatif untuk membuat kebijakan. Dalam proses sistem politik tersebut diungkap oleh G.A. Almond dan S. Coleman dikualifikasikan ke dalam lima kelompok, yaitu : (1) Partai politik (political party) (2) Kelompok kepentingan (interest group) (3) Kelompok penekan (pressure group) (4) Tokoh politik (political figure) (5) Alat-alat komunikasi politik (political communication tools) Kelima kelompok komunikator infrastruktur tersebut sangat berpengaruh terhadap situasi kehidupan politik, karena mereka memiliki kemampuan menggerakan massa dan mampu untuk memobilisasi pendapat umum agar berpihak kepada mereka. Karena itu elitelit suprastruktur sangat berkepentingan untuk saling berhubungan dan menjalin komunikasi dengan komunikator infrastruktur terutama dalam kepentingan untuk mempertahankan kekuasaannya. Kelompok komunikator infrastruktur tersebut selalu berusaha untuk mendapatkan dukungan masyarakat pada waktu terjadi pergeseran atau pergantian elit kekuasaan seperti pada pemilihan umum dan pemilihan kepala negara dan kepala daerah. Namun katagori politikus, tidak selalu berada di wilayah infrastruktur politk sebagaimana L.W. Dobb. Karena di wilayah supratruktur politik sendiri, ada beberapa peran dan posisi yang ditempati oleh politkus, seperti di lembaga legislatif (DPR/DPRD) yang sebelum dan sedang mereka menjabat berprofesi sebagai politikus atau aktifis dari kader partai politik. Bahkan di lembaga eksekutif dalam katagori jabatan politis, seperti presiden, gubernur dan bupati dengan sistem pemilihan langsung yang berasal dari partai politik, baik kader asli partai politik atau partai politik sendiri yang meminang seseorang untuk dijagokan. Termasuk menteri-menteri ditempati oleh para kader partai politik sebagai pembagian kue kekuasaan dari elit terpilih. Sebagaimana menurut Nimmo (2005 : 30-32) bahwa politikus adalah seseorang yang bercita-cita untuk dan atau memegang jabatan pemerintah harus dan memang berkomunikasi tentang politik, bahkan Nimmo mengesampingkan apakah seseorang tersebut dipilih, ditunjuk, atau pejabat karier

sekalipun, termasuk tidak mengindahkan apakah jabatan utama sebagai eksekutif, legislatif atau yudikatif. Dalam kewenangannya politikus yaitu berkomunikasi sebagai wakil dari kelompok yang mengajukan dan melindungi kepentingan politik. Politikus sebagai komunikator politik memainkan peran sosial yang utama, terutama dalam proses pembentukan opini publik. Politisi atau politikus berkomunikasi sebagai wakil suatu kelompok dan pesan-pesan politikus itu adalah untuk mengajukan dan atau melindungi tujuan kepentingan politik. Artinya. komunikator politik mewakili kepentingan kelompok, dengan mencari pengaruh lewat komunikasi. Baik lewat media massa, orasi, pertemuan dan rapat dalam kampanye, kinerja tim sukses dan lain sebagainya. Sebagaimana menurut Nimmo (dalam Arrianie, 2006 : 28) bahwa: Politisi sebagai komunikator politik memainkan peran sosial yang utama, terutama dalam proses pembentukan opini publik. Politisi atau politikus berkomunikasi sebagai wakil suatu kelompok dan pesan-pesan politikus itu adalah untuk mengajukan dan untuk melindungi tujuan kepentingan politik. Artinya, komunikator politik mewakili kepentingan kelompok, sehingga jika dirangkum, maka politikus mencari pengaruh lewat komunikasi. Lebih lanjut L.W. Dobb (Harun dan Sumarno, 2006 : 55-57) menjelaskan tentang politikus (jamak) atau politisi (tunggal), bahwa dalam kenyataan empiris para politisi berada pada dua struktur politik yaitu di infrastruktur politik (fungsi input) yaitu di dalam lima katagori komunikator infrastruktur yang telah disebutkan diatas. Namun yang paling bisa terditeksi politikus berada di sebuah partai politik (parpol) karena kepentingan dan aktualisasinya lebih kongkrit atau istilahnya melakukan politik praktis. Kemudian politisi di suprastruktur politik (fungsi output) yaitu berada di posisi legislatif (DPR) atau di eksekutif (kabinet), yang sebenarnya mereka berasal dari politikus yang mendapat kesempatan duduk di legislatif dan eksekutif sebagai hasil dari kemenangan pemilihan umum atau hasil dari komitmen, konsensus dan pembagian kekuasaan dari penguasa kepada partai politik dalam menjaga kelanggengan kekuasaan. Maka dalam istilah politik ada koalisi atau gabungan dua kekuatan, seperti di Indonesia contohnya ada istilah kabinet pelangi atau kabinet gotong royong yang memiliki makna bahwa sekalipun kedudukan kekuasaan puncak yaitu presiden dan wakil presiden direbut oleh salah satu partai, namun dalam membentuk kabinet atau kementerian dipetakan dan

ditawarkan dan dibagikan kepada partai-partai lain yang dahulu menjadi pesaing dalam pemilihan umum. Hal tersebut dilakukan bagi kepentingan untuk menjaga stabilitas pemerintahan, menghindari oposisi dan untuk mempertahankan kekuasaan. Adapun politisi infrastruktur politik dapat dikualifikasikan ke dalam : (1) Politisi yang bergabung kedalam wadah partai politik; (2) Politisi yang menekuni perkembangan dan peristiwa politik atau biasa disebut pengamat politik; (3) Politisi yang mengembangkan konsep dan pemikiran melalui tulisan-tulisan dan hasil penelitian disebut juga dengan ilmuan politik; (4) Politisi yang tergabung dalam suatu asosiasi yang memiliki latar belakang keilmuan politik seperti Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Sedangkan menurut Elihu Katz (dalam Harsono, 1997 :17) ada dua tipe politikus yaitu : (1) Wakil rakyat atau partisan, ciri-cirinya mencari prestise, kemudahan-kemudahan atau kekuasaan yang diperjuangkan oleh kelompok; (2) Idiolog atau Policy Formulator, yang memperjuangkan nilai-nilai seseorang untuk suatu perubahan dan pembaharuan secara revolusioner Kemudian menurut Friedich Nietsche bahwa ada keprihatinan dimana politikus hanyalah aktor yang menciptakan citra ideal untuk diri mereka sendiri, dan citra adalah suatu integrasi mental yang halus dari berbagai sifat yang diproyeksikan oleh orang itu, kemudian dipersepsi dan diinterpretasikan oleh rakyat menurut kepercayaan, nilai dan pengharapan mereka. Nimmo (Arrianie, 2006 : 30) mengungkapkan bahwa kebanyakan politisi mendapat kesulitan besar untuk bisa dikenal bahkan untuk mempunyai citra. Maka karena itulah politisi dengan berbagai upaya untuk memperoleh citra positif.