PERENCANAAN PEMILIHAN DAN STRATEGI ALTERNATIF BAHAN BAKU ENERGI BIODISEL SEBAGAI PENGGANTI BAHAN BAKAR MINYAK DENGAN PENDEKATAN AHP - BCR

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam

Penerapan Analytical Hierarchy Process (AHP) Dalam Evaluasi Agen Pangkalan LPG 3 kg

PERUMUSAN STRATEGI KORPORAT PERUSAHAAN CHEMICAL

ANALISIS LOKASI CABANG TERBAIK MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS

PEMILIHAN KONTRAKTOR PERBAIKAN ROTOR DI PEMBANGKIT LISTRIK PT XYZ DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN GOAL PROGRAMMING

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

EFEKTIFITAS PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PEMILIHAN PERANGKAT LUNAK PENGOLAH CITRA DENGAN MENGGUNAKAN EXPERT CHOICE

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT

PENENTUAN DALAM PEMILIHAN JASA PENGIRIMAN BARANG TRANSAKSI E-COMMERCE ONLINE

PEMILIHAN ALTERNATIF PENYEDIAAN BBK DI PT X DENGAN METODE ANP (ANALYTIC NETWORK PROCESS)-BOCR (BENEFIT, OPPORTUNITY, COST DAN RISK)

ANALISIS DATA Metode Pembobotan AHP

MODEL ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PRIORITAS ALOKASI PRODUK

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISA FAKTOR PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI TINGKAT SARJANA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARKI PROCESS)

III METODOLOGI. 3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian Penentuan Metode Destilasi Minyak Pala

PENERAPAN AHP SEBAGAI MODEL SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN RUMAH BERSALIN CONTOH KASUS KOTA PANGKALPINANG

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. BPK-RI Perwakilan Provinsi Lampung didirikan pada tanggal 7 Juni 2006, berdasarkan Surat

PENENTUAN FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN LALULINTAS DI WILAYAH BANDUNG METROPOLITAN AREA

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

BAB 3 METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMILIHAN TYPE SEPEDA MOTOR YAMAHA

IDENTIFIKASI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN ENERGI GEOTERMAL DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN

METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN GALANGAN KAPAL UNTUK PEMBANGUNAN KAPAL TANKER DI PULAU BATAM

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Pujawan dan Erawan (2010) memilih supplier merupakan

MEMILIH METODE ASSESMENT DALAM MATAKULIAH PENERBITAN DAN PEMROGRAMAN WEB MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

Pengertian Metode AHP

III. METODE KAJIAN. Data kajian ini dikumpulkan dengan mengambil sampel. Kabupaten Bogor yang mewakili kota besar, dari bulan Mei sampai November

ANALISA PEMILIHAN ALTERNATIF PROYEK MANAJEMEN AIR DI PT X DENGAN METODE MULTI CRITERIA DECISION MAKING (MCDM)

METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Penelitian. menganalisis data yang berhubungan dengan penelitian.

MancalaAHP: Game Tradisional Mancala Berbasis Analytic Hierarchy Process

METODE PENELITIAN. Kata Kunci analytical hierarchy process, analytic network process, multi criteria decision making, zero one goal programming.

PENDEKATAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PENENTUAN URUTAN PENGERJAAN PESANAN PELANGGAN (STUDI KASUS: PT TEMBAGA MULIA SEMANAN)

Harga Minyak Mentah Dunia 1. PENDAHULUAN

PENERAPAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMILIHAN SCOOTER MATIC

repository.unisba.ac.id DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

ISSN VOL 15, NO 2, OKTOBER 2014

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di KUB Hurip Mandiri Kecamatan Cisolok,

PENENTUAN PRIORITAS ALTERNATIF BOILER UNTUK PEMENUHAN KEBUTUHAN STEAM DI PT. TPC INDO PLASTIC & CHEMICALS

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXV Program Studi MMT-ITS, Surabaya, 30 Juli 2016

III. METODOLOGI KAJIAN

Sistem Penunjang Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing dan Penguji Skipsi Dengan Menggunakan Metode AHP

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB III METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Jenis dan Cara Pengumpulan Data 3.3 Analisis Data

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Perhitungan Contoh Kasus AHP

METODE PENELITIAN. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara

METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DENGAN EXPERT CHOICE DALAM MENUNJANG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERUMAHAN. Warjiyono

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Lokasi dalam penelitian ini adalah kampus utama UPI yaitu Kampus

Pertemuan 9 (AHP) - Mochammad Eko S, S.T

III. METODE PENELITIAN. informasi dari kalangan aparat pemerintah dan orang yang berhubungan erat

BAB VII FORMULASI DAN PEMILIHAN STRATEGI. oleh perusahaan. Pengidentifikasian faktor-faktor eksternal dan internal dilakukan

PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN HANDPHONE TERBAIK DENGAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

Gambar 3. Kerangka pemikiran kajian

Analisa Pemilihan Kualitas Android Jelly Bean Dengan Menggunakan Metode AHP Pendekatan MCDM

PEMILIHAN SUPPLIER ALUMINIUM OLEH MAIN KONTRAKTOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

BAB IV METODE PENELITIAN. keripik pisang Kondang Jaya binaan koperasi BMT Al-Ikhlaas. yang terletak di

PENGEMBANGAN MODEL PENENTUAN PRIORITAS PERENCANAAN TRANSPORTASI JANGKA PANJANG DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN MULTI CRITERIA DECISION MAKING (MCDM)

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PENGEMBANGAN STRATEGI PEMASARAN INDUSTRI KECIL- MENENGAH PRODUK IKAN TERI NASI

ANALISIS SISTEM PEMBAYARAN PERKULIAHAN DI UKRIDA MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

PENGAMBILAN KEPUTUSAN ALTERNATIF ELEMEN FAKTOR TENAGA KERJA GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA DENGAN SWOT DAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS

PENGARUH METODE EVALUASI PENAWARAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH TERHADAP HASIL PEKERJAAN DENGAN PENDEKATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

BAB II LANDASAN TEORI. pengambilan keputusan baik yang maha penting maupun yang sepele.

III. METODE PENELITIAN

Perancangan Penilaian Karyawan di Bank X

BAB 3 METODOLOGI. Universitas Indonesia. Analisis keberadaan..., Marthin Hadi Juliansah, FE UI, 2010.

Sabdo Wicaksono Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Gunadarma, Jakarta

Sistem Pendukung Keputusan Memilih Perguruan Tinggi Swasta di Palembang Sebagai Pilihan Tempat Kuliah

LAMPIRAN II HASIL ANALISA SWOT

JURNAL ILMIAH TEKNIK INDUSTRI

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN PRIORITAS PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI LAMPUNG TENGAH MENGGUNAKAN ANALITICAL HIERARCHY PROCESS

PENENTUAN PRIORITAS PENGEMBANGAN JENIS KEGIATAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DI PT. SPIL DENGAN PENDEKATAN AHP

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di lembaga-lembaga pendidikan dan pemerintah di

INTEGRASI METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DAN GOAL PROGRAMMING DALAM OPTIMASI PEMILIHAN ALTERNATIF PEMASOK DI PT. XYZ INDONESIA POWER

P11 AHP. A. Sidiq P.

Strategi Pemilihan Sistem Operasi Untuk Personal Computer

III. METODE PENELITIAN

PEMILIHAN STRATEGI KEBIJAKAN PEMBINAAN UMKM DI DINAS KUMKM DAN PERDAGANGAN PROVINSI DKI JAKARTA DENGAN METODE AHP DAN TOPSIS

ANALISIS PENERAPAN METODE ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP) UNTUK SELEKSI TENAGA KERJA (Studi Kasus PT. GE Lighting Indonesia Sleman Yogyakarta)

PENENTUAN INTERVAL WAKTU PEMELIHARAAN PENCEGAHAN BERDASARKAN ALOKASI DAN OPTIMASI KEHANDALAN PADA PERALATAN SEKSI PENGGILINGAN E

PENERAPAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) GUNA PEMILIHAN DESAIN PRODUK KURSI SANTAI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Soal-soal Open Ended Bidang Kimia

Pengenalan Metode AHP ( Analytical Hierarchy Process )

III. METODE PENELITIAN

PENENTUAN PRIORITAS KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN DAERAH IRIGASI DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) (185A)

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB III ANP DAN TOPSIS

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK MENENTUKAN MODEL PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN BERBASIS INTERNET

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (STUDI KASUS DI PT. EWINDO BANDUNG)

ISSN : STMIK AMIKOM Yogyakarta, 6-8 Februari 2015

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISIS DAN IMPLEMENTASI PERANGKINGAN PEGAWAI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN SUPERIORITY INDEX

BAB III METODOLOGI. benar atau salah. Metode penelitian adalah teknik-teknik spesifik dalam

Transkripsi:

PERENCANAAN PEMILIHAN DAN STRATEGI ALTERNATIF BAHAN BAKU ENERGI BIODISEL SEBAGAI PENGGANTI BAHAN BAKAR MINYAK DENGAN PENDEKATAN AHP - BCR Hakun Wira, Udisubakti Ciptomulyono Program Studi Magister Manajemen Teknologi Bidang Keahlian Manajemen Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus MMT ITS Cokroaminoto, Surabaya Email : Hakun_w_a@yahoo.com ABSTRAK Adanya peningkatan kebutuhan BBM dalam negeri tidak diikuti oleh produksi BBM dalam negeri, sehingga pemerintah mengimpor sebagian kekurangan konsumsi BBM. Besarnya ketergantungan Indonesia pada BBM impor semakin memberatkan pemerintah karena besarnya subsidi yang harus diberikan sebagai akibat adanya kenaikan harga minyak dunia. Hal ini membuat perlu dikembangkan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) terutama biodiesel yang banyak terdapat di Indonesia. Pada penelitian ini akan dikaji pemilihan alternatif bahan baku pembuat biodiesel dengan multi kriteria menggunakan metode AHP dan analisis benefit cost ratio serta menentukan strategi yang digunakan untuk pengembangan bahan baku terpilih dengan metode TOWS. Alternatif bahan baku yang dipilih ada tiga yakni, jarak pagar, kelapa sawit dan kelapa. Kriteria yang digunakan untuk struktur hierarki benefit adalah Ekonomi, Sosial, Ketersediaan bahan baku, dan Lingkungan. Sedangkan untuk struktur hierarki cost adalah harga bahan baku, opportunity cost, processing cost, environmental cost, dan Social Cost. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Jarak Pagar merupakan bahan baku yang tepat untuk dikembangkan menjadi biodiesel dibandingkan dengan kelapa sawit dan kelapa. Ini ditunjukkan dari hasil benefit cost rationya yang lebih besar dari alternatif bahan baku lainnya yakni 1,104.Dari metode TOWS diperoleh sembilan strategi, dan bila dihitung bobot dan rating masing-masing atribut pada strength, weakness, opportunity dan threath didapatkan strategi terletak pada kwadran I yakni strategi progressif. Sehingga dalam penelitian ini dapat disimpulkan jarak pagar layak diimplementasikan terlebih dahulu untuk pengembangan biodiesel dengan strategi yang ekspansif dan memperbesar pertumbuhan bahan baku (progresif agresif). Kata kunci: AHP, Biodiesel, Benefit Cost Ratio, Analisa TOWS PENDAHULUAN Latar Belakang Tidak terkontrol dan terlalu sering harga minyak dunia berfkuktuasi mempunyai dampak terhadap perkembangan kehidupan sosial ekonomi di negara negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini dapat dirasakan dengan adanya kenaikan harga minyak dunia yang telah mencapai US$ 58 perbarel pada Maret 2005 dan harga ini memiliki kecenderungan meningkat pada masa yang akan datang. Disisi lain, terjadi trend penurunan produksi minyak mentah di Indonesia. Produksi minyak mentah perhari pada tahun 2000, 2001, 2002, 2003, dan 2004 adalah 1,4 juta barrel, 1,3 juta A-5-1

barrel, 1,2 juta barrel, 1,1 juta barrel, dan 0,9 juta barrel. Sedangkan import minyak mentah mengalami trend peningkatan dari tahun ke tahun (Timnas Energi,2005). Adanya trend penurunan produksi minyak mentah dan trend peningkatan import minyak mentah di Indonesia mengakibatkan perlu adanya langkah langkah serius dari pemerintah untuk mengatasi terjadinya krisis energi di masa yang akan datang. Salah satu langkah kebijakan yang dilakukan adalah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, yang kemudian dioperasionalisasikan dalam Instruksi Presiden (Inpres) No 1 Tahun 2006 Tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain, dan Inpres Nomor 2 Tahun 2006 Tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Batu Bara yang dicairkan sebagai Bahan Bakar Lain Pemakaian biofuel memiliki beberapa manfaat yaitu memperbesar basis sumber daya bahan bakar cair, mengurangi import BBM, menguatkan security of supply bahan bakar, meningkatkan kemampuan nasional dalam teknologi pertanian dan industri, mengurangi kecenderungan pemanasan global dan pencemaran udara (bahan bakar ramah lingkungan) serta berpotensi mendorong eksport komoditi baru. Distribusi biofuel tidak memerlukan investasi baru karena dapat memanfaatkan infrastruktur distribusi BBM yang sudah ada sehingga tidak memerlukan biaya distribusi yang besar. Untuk memacu pengembangan potensi biofuel ini supaya lebih efektif dan juga dengan memperhatikan keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh negara kita, maka harus mengetahui bahan alternatif apa yang bisa mendapatkan hasil yang maximal dan dengan biaya yang minimal. Menurut penelitian BBPT, ada lebih dari 40 jenis minyak nabati yang potensial sebagai bahan baku biodiesel di Indonesia, dan yang paling potensial untuk dikembangkan di Indonesia berdasarkan ketersediaan bahan baku di masa sekarang atau yang akan datang adalah kelapa sawit, kelapa dan jarak pagar. Pemilihan alternatif bahan ini mutlak dilakukan disaat krisis energi dan tidak tersedianya dana yang cukup seperti sekarang ini. Pembobotan ini dengan melihat dari sisi ekonomi, sisi ketersediaan bahan baku, sisi sosial dan sisi lingkungan.pemilihan alternatif ini mutlak diperlukan karena sampai saat ini masih belum ada metode yang secara umum digunakan dalam skala pembobotan ini. Permasalahan Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah ; 1. Bagaimana merumuskan prioritas alternatif bahan baku pembuat biodiesel terbaik dengan meninjau dari sisi ekonomi, sosial, ketersediaan bahan baku, dan lingkungan untuk hierarki benefit, sedangkan untuk hierarki cost dilihat dari opprtunity cost, processing cost, harga bahan baku, environmental cost dan social cost. 2. Bagaimana menguji pendekatan pemilihan alternatif bahan baku pembuat biodiesel dengan metode multicriteria decision making. 3. Bagaimana langkah antisipasi yang diambil pemerintah Indonesia terhadap penelitian ini. Tujuan Penelitian Penelitian tentang evaluasi strategi yang akan dilakukan bertujuan untuk: 1. Mengidentifikasi faktor penting yang sesuai sebagai unsur atau elemen struktur hierarki keputusan yang menentukan atau mempengaruhi pengambilan keputusan tentang penentuan bahan alternatif yang terbaik. 2. Menentukan bobot kepentingan atau prioritas unsur atau elemen struktur hierarki untuk pemilihan bahan baku ditinjau dari segi ekonomi, ketersediaan bahan baku, A-5-2

sosial, dan, lingkungan untuk hierarki benefit sedangkan untuk hierarki cost dilihat dari opprtunity cost, processing cost, harga bahan baku, environmental cost dan social cost. 3. Merumuskan strategi bersaing untuk bahan baku biodiesel yang telah dipilih sebagai pengganti BBM dengan metode TOWS. METODA YANG DIGUNAKAN AHP Mengingat ketiga bahan baku tersebut mempunyai untung rugi untuk dikembangkan secara komersiil dan mempunyai permasalahan yang kompleks, maka diperlukan metode AHP dalam melakukan pemilihan bahan baku tersebut.ahp merupakan salah satu metode pengambilan keputusan multikriteria menggunakan skala pengukuran yang luwes, skala rasional hasil dari perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) yang diambil baik dari ukuran aktual maupun dari suatu skala yang mencerminkan kekuatan perasaan dan preferensi/ kepentingan relatif (Saaty,1980) juga untuk membuat perbandingan baik yang bersifat " tangible " atau "intangible" dari suatu kriteria, atribut atau sifat dari masing-masing elemen keputusan (Forman and Peniwati, 1998). Dalam suatu hirarki yang lengkap, setiap elemen keputusan dihubungkan dengan elemen lain pada level yang lebih atas atau level dibawahnya. Dalam gambar 1 dan gambar 2 berikut ditampilkan suatu problem multikriteria yang memiliki empat level hirarki untuk keputusan pemilihan alternatif bahan baku pembuat biodiesel yang terdiri dari dua hierarki yakni hierarki benefit dan cost. Pada level hirarki pertama merepresentasikan objektif (goal) keputusan yang ingin dicapai untuk memilih alternatif bahan baku pembuat biodiesel. Elemen keputusan pada hirarki di level kedua adalah sejumlah atribut atau kriteria untuk evaluasi preferensi keputusan. Pengambil keputusan memperbandingkan preferensi kriteria mana yang lebih penting dari yang lain dengan mengacu pada suatu elemen keputusan di level hirarkis diatasnya. Strategi dan TOWS Strategi adalah game plan untuk menarik dan menyenangkan konsumen, membatasi posisi pasar, mengelola operasi, kompetisi secara sukses, dan mencapai tujuan organisasi. Strategi memiliki tiga tingkat yaitu tingkat korporasi, tingkat bisnis, dan tingkat fungsional. Matriks Threats - Opportunities -Weakness-Strengths(TOWS) merupakan alat pencocokan yang penting yang membantu manajer mengembangkan empat tipe strategi: Strategi SO, Strategi WO, Strategi ST, dan Strategi WT. memcocokkan faktor-faktor eksternal dan internal kunci merupakan bagian sulit terbesar untuk mengembangkan Matriks TOWS dan memerlukan penilaian yang baik, dan tidak ada satu pun kecocokan terbaik.tujuan dari setiap alat pencocokan ini adalah menghasilkan strategi alternatif yang layak, bukan untuk memilih atau menetapkan strategi mana yang terbaik. Oleh karena itu tidak semua strategi yang dikembangkan dalam Matriks TOWS akan dipilih untuk diimplementasikan. A-5-3

Hierarki Benefit dalam pemilihan bahan baku Ekonomi Sosial Ketersediaan Lingkungan 1.1 Effisiensi Mesin 2.1 Pro Growth 3.1 Cadangan 4.1 Reduced Emission 1.2 Material Saving 2.2 Pro Job 3.2 Produktivitas 4.2 Reduced Liability 1.3 1.4 Energy Saving Daya Jual 2.3 Pro Poor 3.3 Lokasi 4.3 Dampak terhadap Kesehatan Kelapa Sawit Jarak Pagar Kelapa Gambar 1 Model Struktur Hierarki Benefit Pemilihan Bahan Baku Hierarki Cost dalam pemilihan bahan baku Harga Bahan Baku Opportunity cost Operating cost Social Cost Environmental Cost 1.1 Biaya pmbelian 1.2 Biaya Pengangkutan Kelapa Sawit Jarak Pagar Kelapa Gambar 2 Model Struktur Hierarki Benefit Pemilihan Bahan Baku A-5-4

HASIL DISKUSI ANALISIS AHP dan BENEFIT COST RATIO Analisa metode AHP ini dilakukan dengan membentuk dua hierarki yakni hierarki benefit dan cost dengan tiga level, yakni level I tujuan, level II kriteria, dan level III sub kriteria. Tujuan dari hierarki ini adalah pemilihan bahan baku terbaik pembuat biodiesel berdasarkan kriteria yang ada. Sedangkan level II ini untuk hierarki benefit terdiri dari empat kriteria yakni : 1. Kiteria eknomi Kriteria ini melihat manfaat dari segi finansial/ ekonomi. 2. Kriteria sosial Kriteria ini dengan melihat manfaat dari sisi sosial, misal pemilihan alternatif bahan baku ini bisa memperkejakan banyak orang. 3. Kriteria ketersediaan Bahan Baku Kriteria ini melihat manfaat dari sisi ketersediaan bahan baku tersebut dalam jangka panjang bila diproduksi secara komersial. 4. Kriteria lingkungan Kriteria ini dengan melihat dari sisi lingkungan. Apakah bahan baku yang digunakan sebagai pembuat biodisel nantinya memiliki dampak yang jelek terhadap lingkungan atau tidak. Kalau berdampak jelek maka kemungkinan besar tidak dipilih. Untuk hierarki cost terdiri dari 5 kriteria,yakni: 1. Kriteria harga bahan baku Kriteria ini dengan melihat harga dasar bahan baku dari petani. Kriteria ini berdampak langsung terhadap harga biodiesel yang akan dihasilkan. Bila harga bahan baku semakin tinggi maka biodiesel yang dihasilkan akan semakin tinggi juga harganya dan hal ini akan semakin sulit bersaing dengan solar. 2. Kriteria opportunity cost kriteria ini dengan melihat biaya yang terjadi apabila bahan itu tidak dipakai sebagai pembuat biodiesel apakah nilai produknya lebih tinggi atau lebih rendah daripada produk biodiesel yang dihasilkan 3. Kriteria processing cost biaya yang timbul untuk memproses bahan baku alternatif tersebut menjadi biodiesel. Biaya ini dengan melihat mulai dari bahan baku tersebut ditanam sampai menjadi biodiesel. 4. Kriteria environmental cost Kriteria ini dengan melihat biaya yang timbul akibat pencemaran yang diakibatkan oleh bahan baku tersebut mulai dari proses penanaman hingga setelah dipakai sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Biaya ini dihitung dengan melihat effek dari bahan baku tersebut terhadap lingkungan sekitarnya dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. 5. Kriteria social cost Kriteria ini dengan melihat biaya yang timbul sebagai akibat pengaruh adanya bahan baku tersebut mulai dari penanaman hingga diproses menjadi biodiesel terhadap masyarakat sekitar baik yang terlibat ataupun tidak. Misalnya dalam proses pengolahan bahan baku tersebut apakah mengeluarkan bau yang dapat mengganngu aktivitas kehidupan masyarakat disana. Untuk level III adalah subkriteria, dimana pada hierarki benefit pada kriteria ekonomi ada 5 subkriteria yakni effisiensi mesin, material saving, energi saving, dan A-5-5

daya jual. Sedangkan untuk kriteria sosial ada 3 subkriteria yakni pro growth, pro job, dan pro poor. Untuk kriteria ketersediaan bahan baku ada 3 subkriteria yakni cadangan bahan baku,, produktivitas dan lokasi. Kriteria lingkungan ada 3 subkriteria yakni reduced liability, reduced emission, dan dampak terhadap kesehatan. Sedangkan untuk hierarki cost, subkriteria hanya terdapat pada kriteria harga bahan baku yakni subkriteria biaya pembelian dan biaya pengangkutan. Setelah tersusun hierarki kemudian dibuat kuesioner bandingan berpasangan untuk masing-masing faktor. Untuk mengisii kuesioner ini dipilih orang yang betulbetul berpengalaman ( expert) terhadap biodiesel yakni dari BPPT yang mewakili pemerintah, FBI yang mewakili praktisi, dan IPB yang mewakili akademisi.setelah pengisian kuesioner kemudian dengan bantuan software expert choice versi 9.0 dapat diperoleh bobot masing-masing kriteria dan subkriteria. Bobot yang dihasilkan ini harus dilihat apakah sudah konsisten atau belum. Dalam prakteknya, preferensi seseorang sering mengalami ketidakkonsistenan. Hal tersebut menyebabkan hubungan pada matriks berpasangan menyimpang dari keadaan yang sebenarnya, sehingga matriks tersebut tidak konsisten sempurna. Untuk mengetahui konsistensi penilaian yang dilakukan oleh pihak pakar biodiesel tersebut, maka perlu dilakukan perhitungan Consistency Ratio (CR). Formulasi yang digunakan adalah sebagai berikut : CR CI RI di mana: CI = consistency index RI = ratio index Batasan diterima tidaknya konsistensi suatu matriks ini mengacu pada batas toleransi inkonsistensi yang dinyatakan sebagai konsistensi rasio 10%, seperti yang direkomendasikan Saaty sebagai tingkat "acceptable consistency ratio" (Saaty, 1990 dan Saaty,1994-a) Setelah didapatkan bobot dan konsistensi rationya dibawah 10%,maka didapatkan hasil seperti yang dirangkum pada tabel 2. Pada tabel tersebut didapatkan bahwa alternatif jarak pagar memiliki nilai tertinggi dihitung benefit cost rationya sebesar 1,104, disusul kelapa sawit (0,987) dan kelapa (0,925). Dari has il ini dapat disimpulkan bahwa jarak pagar layak diimplementasikan terlebih dahulu sebagai bahan baku pembuat biodiesel. Tabel 2 Sintesa Atribut, Sub atribut, Alternatif untuk Hierarki Benefit Alternatif Sub Kriteria Bobot Sintesis Alternatif Sub Kriteria Bobot Sintesis Sawit Effisiensi Mesin 0,11 0,036 Sawit Cadangan 0,109 0,0752 Material Saving 0,11 0,066 Produktivitas 0,135 0,081 Energy Saving 0,11 0,036 Lokasi 0,086 0,061 Daya Jual 0,11 0,036 Jarak Cadangan 0,109 0,0218 Jarak Effisiensi Mesin 0,11 0,036 Produktivitas 0,135 0,027 Material Saving 0,11 0,022 Lokasi 0,086 0,012 Energy Saving 0,11 0,036 Kelapa Cadangan 0,109 0,0120 Daya Jual 0,11 0,036 Produktivitas 0,135 0,027 Kelapa Effisiensi Mesin 0,11 0,036 Lokasi 0,086 0,013 Material Saving 0,11 0,022 Sawit Liability 0,04 0,013 Energy Saving 0,11 0,036 Emisi 0,04 0,013 Daya Jual 0,11 0,036 Dampak 0,04 0,010 A-5-6

Tabel 2 Sintesa Atribut, Sub atribut, Alternatif untuk Hierarki Benefit (lanjutan) Alternatif Sub Kriteria Bobot Sintesis Alternatif Sub Kriteria Bobot Sintesis Sawit Pro Growth 0,04 0,022 Jarak Liability 0,04 0.013 Pro Job 0,05 0,0114 Emisi 0,04 0,013 Pro Poor 0,03 0,0165 Dampak 0,04 0,013 Jarak Pro Growth 0,04 0,008 Kelapa Liability 0,04 0,013 Pro Job 0,05 0,0141 Emisi 0,04 0,013 Pro Poor 0,03 0,0205 Dampak 0,04 0,017 Kelapa Pro Growth 0,04 0,01 Pro Job 0,05 0,0045 Pro Poor 0,03 0,013 Tabel 3 Sintesa Atribut, Sub atribut, Alternatif untuk Hierarki Cost Alternatif Kriteria / Sub Kriteria Bobot Sintesis Sawit Biaya Pembelian 0,12 0,077 Biaya Pengangkutan 0,12 0,0696 Opportunity cost 0,25 0,1375 Processing cost 0,22 0,0902 Environmental cost 0,16 0,053 Social cost 0,14 0,046 Jarak Biaya Pembelian 0,12 0,020 Biaya Pengangkutan 0,12 0,0228 Opportunity cost 0,25 0,0525 Processing cost 0,22 0,0572 Environmental cost 0,16 0,053 Social cost 0,14 0,046 Kelapa Biaya Pembelian 0,12 0,024 Biaya Pengangkutan 0,12 0,0276 Opportunity cost 0,25 0,060 Processing cost 0,22 0,0726 Environmental cost 0,16 0,053 Social cost 0,14 0,046 Sumber : Hasil Pengolahan Data Dengan Software Expert Choice Jarak pagar menempati prioritas utama disebabkan tanaman ini memiliki biaya yang terkecil pada atribut yang memiliki bobot prioritas yang signifikan pada hierarki cost yaitupada atribut opportunity cost (0,21), dan processing cost (0,26) dapat dilihat pada tabel 4.3. Pada opportunity cost bisa lebih rendah, karena jarak pagar ini bukan merupakan tanaman pangan sehingga tidak ada biaya akibat adanya peluang yang hilang karena dijadikan sebagai bahan baku biodiesel (Sony Solistia,2006). Sedangkan untuk processing cost bisa rendah disebabkan karena tanaman jarak pagar ini tidak memerlukan perawatan khusus dan tidak memerlukan proses tranestrifikasi /esterifikasi dalam pengolahan menjadi biodiesel sehingga biaya pengolahan menjadi lebih murah (Tim gabungan BPPT, 2005). ANALISA SENSITIVITAS Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, dilakukan analisa sensitivitas terhadap prioritas kriteria dalam pemilihan alternatif bahan baku pembuat biodiesel, dalam hal ini untuk hierarki benefit, faktornya yakni ekonomi dan ketersediaan bahan baku. Sedangkan untuk hierarki cost faktornya adalah harga bahan baku, opportunity A-5-7

cost, processing cost, environmental cost, dan social cost Analisa sensitivitas ini dilakukan dengan cara trial dan error pada masing-masing kriteria. Dalam perhitungan kriteria untuk hierarki benefit menunjukkan bahwa kriteria ekonomi dan ketersediaan bahan baku tersebut menjadi kriteria yang paling penting. Untuk hierarki cost masing-masing kriteria memiliki bobot yang hampir sama sehingga semua kriteria digunakan dalam analisa ini. Dari hasil analisa sensitivitas alternatif kelapa sawit bisa menempati prioritas utama menggeser jarak pagar pada perubahan bobot kriteria ketersediaan bahan baku sebesar 0,4, processing cost sebesar 0,75, environmental cost sebesar 0,35, social cost sebesar 0,3. Sedangkan alternatif kelapa bisa menempati peringkat kedua menggeser kelapa sawit pada perubahan bobot kriteria ekonomi sebesar 0,6, harga bahan baku sebesar 0,3. PERUMUSAN STRATEGI Setelah didapatkan alternatif jarak pagar sebagai prioritas utama maka perlu dilakukan perumusan strategi untuk mengembangkan jarak pagar sebagai bahan baku biodiesel kedepannya. Pengembangan strategi ini dilakukan dengan bantuan matriks TOWS, dimana ditentukan terlebih dahulu faktor eksternal dan faktor internal yang mempengaruhi pengembangan jarak pagar. Hasil pengolahan dengan menggunakan Matriks TOWS diperoleh sembilan alternatif strategi. Strategi ini diperoleh dari strategi SO tiga strategi, strategi WO dua strategi, strategi ST dua strategi dan strategi WT dua strategi. Dari 9 strategi tersebut dicari bobotnya dan ratingnya masing-masing strategi (Tarek khalil,2000). Kemudian dengan pembobotan menggunakan AHP 1 level dan rating didapatkan nilai total skor kekuatan kelemahan dan total skor (peluang ancaman) yang akan diletakkan pada kwadran yang tepat ( Ciptomulyono, 2006). Dari total skor (kekuatan kelemahan) = 1,644 dan total skor (peluang ancaman) = 1,573, maka dari variabel tersebut bila diletakkan pada kwadran akan terletak pada kwadran I yakni strategi progresif seperti yang digambarkan pada Gambar 1. Jadi dalam pengembangan jarak pagar ini supaya dapat berjalan dengan baik dilakukan dengan cara melakukan ekspansi dan memperbesar pertumbuhan dari bahan baku tersebut dengan cara memberi porsi lahan lebih luas lagi untuk penanaman jarak pagar dan untuk meningkatkan produktivitas dari tanaman jarak pagar ini diperlukan bibit unggul supaya dihasilkan biji yang banyak dengan rendemen minyak yang tinggi O (1,644, 1,573) W S T Gambar 1 Posisi Strategi pada Grafik SWOT A-5-8

KESIMPULAN Berdasarkan analisis dan interpretasi dalam penelitian ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Ada sembilan faktor penting yang mempengaruhi dalam pemilihan alternatif bahan baku pembuat biodiesel yang terbagi dalam dua struktur hierarki yakni dalam hierarki benefit ada empat kriteria yaitu ekonomi, sosial, ketersediaan bahan baku, dan lingkungan. Sedangkan untuk hierarki cost ada lima kriteria yakni harga bahan baku, opportunity cost, processing cost, environmental cost, dan social cost. 2. Dengan bantuan software expert choice 9.0 dan analisis benefit cost ratio didapatkan bahwa jarak pagar merupakan alternatif terbaik dari dua alternatif lainnya. Begitu juga pengembangan strategi kedepannya untuk jarak pagar dengan bantuan metode TOWS, Jarakpagar ini berada pada kwadran I sehingga tidakperlu ragu-ragu dalam pengembangan bahan baku dan memperbesar pertumbuhannya dengan cara memberi lahan yang lebih luas untuk penanaman jarak pagar dan menyediakan bibit unggul agar produktivitas biodiesel yang dihasilkan semakin tinggi. DAFTAR PUSTAKA Ciptomulyono, U. (2006), Pendekatan Kuantitatif SWOT, Lecture Handout: Management Teknologi, MMT ITS, Surabaya. Khalil, T (2000) Management of Technology, Mc Grawhill, Newyork Saaty, T. L. (1980) The Analytic Hierarchy Process, McGraw Hill, New York. Saaty, T.L. (1994 -a). Fundamental of Decision Making and Priority Theory with The Analytic Hierarchy Process. RWS Publication, Pittsburg PA. Saaty, T. L. (1990). "Eigenvector and logarithmic least squares". European Journal of Operational Research 48, 156-160 Sony, S (2006) Keekonomian Pemanfaatan Biodiesel, Focus Group Discussion BPPT, Jakarta. Tim Gabungan BPPT (2006) Pengantar Diskusi Forum Group Discussion II, BPPT, Jakarta. A-5-9

A-5-10