BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Daerah penelitian merupakan daerah yang memiliki karakteristik tanah yang mudah meloloskan air. Berdasarkan hasil borring dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi II bahwasanya tanah di sekitar bendung ini adalah pasir halus kelanauan. Ini dipengaruhi oleh sedimen yang terbawa oleh sungai yang mengalir ke bendung tersebut. Sedimen yang terbawa oleh air merupakan tanah yang berbutir halus yang sangat berpotensi terhadap erosi. Butiran halus ini akan terbawa oleh air dan akan terjadi gejala piping, akibatnya terjadi penurunan pada tubuh bendung dan lama-lama bendung akan hancur. Adapun data-data umum bendung adalah sebagai berikut: 1. Dimensi Bendung Panjang bendung : 64,51 m Lebar bendung : 30,26 m Tipe mercu bendung : mercu bulat dengan jari-jari 2 m 2. Data Muka Air pada Bendung Muka air banjir Muka air hulu : +21,63 m Muka air hilir : +16,55 m Beda tinggi muka air di hulu dan di hilir (Hw) : 5,08 m Muka air normal Muka air hulu : +17,07 m Muka air hilir : +12,37 m Beda tinggi muka air di hulu dan di hilir (Hw) : 4,70 m 3. Data Karakteristik Tanah Dalam menghitung rembesan yang terjadi di dasar bendung data mekanika tanah sangat penting untuk menentukan besar dan laju aliran dalam 25
26 tanah. Besarnya rembesan di dasar bendung bergantung pada jenis tanah yang ada di bawahnya. Data-data tersebut diantaranya yaitu berat jenis tanah, berat volume tanah, angka pori, porositas, tegangan efektif, dan kepadatan relatif. Adapun data material yang diperoleh dari Balai Sungai Sulawesi II, yaitu: Kohesi (c) : 0,150 kg/cm 2 Berat jenis tanah (γ) : 2,461 g/cm 3 Berat isi tanah ( γ d ) : 1,153 gr/cm 2 Sudut geser dalam (φ) : 11,5 Pada penelitian ini terdapat dua titik borring, yaitu pada abutment kiri dan pada abutment kanan. Kedua hasil borring tersebut memiliki empat lapisan tanah yang berbeda. Untuk menghitung debit rembesan yang terjadi di dasar bendung ini dilakukan pada bagian kiri dan kanan bendung, karena berdasarkan hasil borring yang diperoleh dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi II kedua hasil borring tersebut memiliki jenis dan tinggi lapisan tanah yang berbeda. Adapun hasil kedua borring tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: a. Titik BH 1 (abutment kanan) Lapisan pertama mulai dari permukaan tanah hingga kedalaman 5 meter terbentuk oleh alluvial endapan limpah banjir sungai (flood deposit), berupa lanau lempungan (clayey silt) berwarna coklat keabuan, plastis dan konsistensi lunak. Lapisan kedua terbentuk oleh pasir (sand), warna abu-abu kecoklatan, butiran pasir berukuran halus sampai sedang diameter 0,08 1,2 mm, densitas relatif agak padu (sligthly dense). Tebal mencapai 3 meter yaitu pada kedalaman 5-8 meter. Lapisan ketiga terbentuk oleh pasir halus lanauan (silty fine sand), warna abu-abu, butiran pasir berukuran halus diameter 0,08 1,0 mm, densitas relatif padu sedang (medium dense), tebal mencapai 5 meter yaitu pada kedalaman 8-13 meter.
27 Lapisan keempat terbentuk oleh pasir kasar (coarse sand), warna abuabu kehitaman, butiran pasir berukuran sedang sampai kasar diameter 0,5 1,6 mm, densitas relatif padu sangat padu (dense very dense), tebal mencapai 7 meter yaitu pada kedalaman 13 20 meter. b. Titik BH 2 (abutment kiri) Lapisan pertama mulai dari permukaan sampai kedalaman 3 meter terbentuk oleh alivial endapan limpah banjir sungai (flood deposit), berupa lanau lempungan (clayey silt) berwarna coklat keabuan, plastis dan konsistensi lunak. Lapisan kedua terbentuk oleh pasir halus lanauan (silty fine sand), berwarna abu-abu, butiran pasir berukuran halus diameter 0,08 1,0 mm, densitas relatif agak lepas (loose). Tebal mencapai 3 meter yaitu pada kedalaman 3-6 meter. Lapisan ketiga terbentuk oleh lempung (clay), berwarna abu-abu kehijauan, sangat plastis dan konsistensi agak kenyal (slightly stiff), tebal mencapai 5,5 meter yaitu pada kedalaman 6 11,5 meter. Lapisan keempat terbentuk oleh pasir kasar (coarse sand), warna abuabu kehitaman, butiran pasir berukuran sedang sampai kasar diameter 0,5 1,6 mm, densitas relatif padu sangat padu (dense very dense), tebal mencapai 8,5 meter yaitu pada kedalaman 11,5 20 meter. 4.2 Perhitungan Rembesan Dalam memperoleh kestabilan suatu bendung banyak faktor yang harus diperhatikan, terutama masalah penurunan yang akan terjadi apabila bendung beroperasi nanti. Penurunan disebabkan oleh besarnya rembesan yang terjadi pada dasar bendung (pondasi bendung). Rembesan yang besar sangat dipengaruhi oleh jenis tanah yang ada pada dasar suatu bendung. Pentingnya pondasi untuk suatu konstruksi bendung, sehingga perlu diadakan peninjauan kembali mengenai masalah rembesan yang terjadi di Bendung Alopohu. Perhitungan rembesan menggunakan cara flownet, karena dianggap lebih mudah dalam perhitungannya. Kemudian perhitungan ini akan dilakukan pada
28 saat muka air banjir dan pada saat muka air normal. Data sekunder yaitu data borring yang dilakukan pada dua titik yaitu pada abutment kiri dan abutment kanan bendung. 4.2.1 Penentuan Nilai Koefisien Permebilitas Penentuan nilai koefisien permeabilitas k dengan cara empiris berdasarkan Tabel 2.2 (Das, 1985) seperti ditunjukkan dalam Tabel 4.1. Tabel 4.1 Penentuan Nilai k untuk Empat Lapisan Tanah di Dasar Bendung Alopohu Jenis Tanah Nilai k (mm/det) Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 Lapisan 4 Abutment kiri Abutment Kanan Abutment kiri Lanau lempungan lanau lempungan (clayey silt) (clayey silt) 10-5 Pasir Halus Lanauan pasir (sand) silty fine sand) lempung (clay) pasir kasar (coarse sand), pasir halus lanauan (silty fine sand), pasir kasar (coarse sand), 10-3 10-5 10 2 Abutment kanan 10-5 10-1 10-3 10 2 Berdasarkan Tabel 4.1 nilai koefisien permeabilitas k sangat bergantung pada jenis tanah. Untuk jenis tanah yang granular memiliki nilai koefisien permeabilitas yang besar, sedangkan untuk tanah yang kohesif dan memiliki ciriciri fisik yang relatif padat nilai koefisien permeabilitasnya kecil. lanau lempungan memiliki nilai koefisien permeabilitas yang sangat kecil yaitu sebesar 10-5 m/detik, dan pasir kasar yang memiliki ciri-ciri fisik yang berbutir dan agak longgar nilai koefisien permeabilitasnya cukup besar yaitu 10 m/detik. 4.2.2 Perhitungan Nilai Koefisien Permeabilitas Ekivalen Arah Horisontal dan Arah Vertikal 1) Abutment kanan Diketahui, H 1 : 5 x 10 3 mm, k 1 : 10-5 mm/detik H 2 : 3 x 10 3 mm, k 2 : 10-1 mm/detik H 3 : 5 x 10 3 mm, k 3 : 10-3 mm/detik
29 H 4 : 7 x 10 3 mm, k 4 : 10 2 mm/detik maka k x = (H 1 x k 1 )+(H 2 x k 2 )+(H 3 x k 3 )+(H 4 x k 4 ) H 1 + H 2 +H 3 +H 4 = k z = 5000 x 0,00001 +(3000 x 0,1)+(5000 x 0,001)+(7000 x 100) = 35.015 mm/detik = 2) Abutment kiri Diketahui, maka k x = H 1 + H 2 +H 3 +H 4 H 1 k + H 2 1 k + H 3 2 k + H 4 3 k 4 5000 +3000 +5000 +7000 5000 +3000 +5000 +7000 5000 0,0000 1 + 3000 + 5000 0,1 0,001 + 7000 100 = 1x10-16 mm/detik H 1 : 3 x 10 3 mm, k 1 : 10-5 mm/detik H 2 : 3 x 10 3 mm, k 2 : 10-3 mm/detik H 3 : 5.5 x 10 3 mm, k 3 : 10-5 mm/detik H 4 : 8.5 x 10 3 mm, k 4 : 10 2 mm/detik = (H 1 x k 1 )+(H 2 x k 2 )+(H 3 x k 3 )+(H 4 x k 4 ) H 1 + H 2 +H 3 +H 4 3000x0,00001 +(300 x0,001)+(5.500x0,00001 )+(8500x100) = 42.5 mm/detik k z = = H 1 + H 2 +H 3 +H 4 H 1 k + H 2 1 k + H 3 2 k + H 4 3 k 4 3000 +3000 +5500 +8500 3000 +3000 +5500 +8500 3000 0,0000 1 + 3000 0,001 + 5500 0,00001 + 8500 100 = 1x 10-20 mm/detik Berdasarkan perhitungan nilai koefisien permeabilitas ekivalen bahwasanya nilai k x harus lebih besar k z, karena rembesan yang terjadi cenderung lebih besar dalam atau sejajar lapisan daripada tegak lurus lapisannya.
30 4.2.3 Hitungan Rembesan dengan Cara Flownet pada saat Muka Air Banjir Perhitungan rembesan di dasar bendung Alopohu pada saat muka air banjir untuk bagian abutment kiri dan abutment kanan seperti ditunjukkan dalam Gambar 4.1 dan Gambar 4.2. Diketahui, Beda tinggi muka air di hulu dan di hilir (Hw) : 5.08 x 10 3 mm k x abutment kanan : 35.015 mm/detik k Z abutment kanan : 1x10-16 mm/detik k x abutment kiri : 42.5 mm/detik k Z abutment kiri : 1x10-20 mm/detik Nf : 3 Nd : 28
Gambar 4.1 Jaring Arus pada Abutment Kanan untuk Muka Air Banjir 31
Gambar 4.2 Jaring Arus pada Abutment Kiri untuk Muka Air Banjir 32
33 maka nilai Q untuk abutment kanan adalah: Q = H w k x k z Nf Nd = 3.22 x10-5 mm 3 /detik dan untuk abutment kiri yaitu: Q = H w k x k z Nf Nd = 3.54 x 10-7 mm 3 /detik Rekapitulasi hitungan nilai Q pada saat muka air banjir ditunjukkan dalam Tabel 4.2. Tabel 4.2 Rekapitulasi Nilai Rembesan Saat Muka Air Banjir No Deskripsi lokasi Nf Nd Hw (mm) k x (mm/det) k z (mm/det) Q (mm 3 /det) 1 Abutment 3 28 5.08x10 3 35.015 1x10-16 3.22 x10-5 kanan 2 Abutment kiri 3 28 5.08x10 3 42.5 1x10-20 3.54 x 10-7 4.2.4 Hitungan Rembesan dengan Cara Flownet pada saat Muka Air Normal Perhitungan rembesan di dasar bendung Alopohu pada saat muka air banjir untuk bagian abutment kiri dan abutment kanan seperti ditunjukkan dalam Gambar 4.1 dan Gambar 4.2. Diketahui, Beda tinggi muka air di hulu dan di hilir (Hw) : 4.70 x 10 3 mm k x abutment kanan : 35.015 mm/detik k Z abutment kanan : 1x10-16 mm/detik k x abutment kiri : 42.5 mm/detik k Z abutment kiri : 1x10-20 mm/detik Nf : 3 Nd : 28
Gambar 4.3 Jaring Arus pada Abutment Kiri untuk Muka Air Normal 34
Gambar 4.4 Jaring Arus pada Abutment Kanan untuk Muka Air Normal 35
36 Diketahui, H w k x abutment kanan k Z abutment kanan k x abutment kiri k Z abutment kiri Nf : 3 Nd : 28 : 4.70 x 10 3 mm : 35.015 mm/detik : 1x10-16 mm/detik : 42.5 mm/detik : 1x10-20 mm/detik maka nilai Q untuk abutment kanan adalah: Q dan untuk abutment kiri yaitu: = Hw k x k z Nf Nd = 2.97 x10-5 mm 3 /detik Nf Q = Hw k x k z Nd = 3.28 x 10-7 mm 3 /detik Rekapitulasi hitungan nilai Q pada saat muka air normal ditunjukkan dalam Tabel 4.3. Tabel 4.3 Rekapitulasi Nilai Rembesan Saat Muka Air Normal No Deskripsi lokasi 1 Abutment kanan 2 Abutment kiri Nf Nd H w (mm) k x (mm/det ) k z (mm/det) Q (mm 3 /det) 3 28 4,70*10 3 35,015 1x10-16 2.97 x10-5 3 28 4,70*10 3 42,5 1x10-20 3.28 x 10-7 4.3 Perhitungan Bahaya piping Hitungan faktor aman dari bahaya piping dihitung berdasarkan cara Lane, adalah sebagai berikut: 1. Pada saat muka air banjir Jumlah panjang horisontal (ΣL h ) : 64,51 m (lihat lampiran 1) Jumlah panjang vertikal (ΣL v ) : 43,15 m (lihat lampiran 1) Muka air hulu : 21,63 m Muka air hilir : 16,55 m Hw : 5,08 m
37 L w = WCR = Σ L h 3 = 64,51 3 = 64,65 m L w H 1 H 2 = 64,65 5.08 + Σ L v + 43,15 = 12,72 6...ok (aman) 2. Pada saat muka air normal Jumlah panjang horisontal (ΣL h ) : 64,51 m (lihat lampiran 1) Jumlah panjang vertikal (ΣL v ) : 43,15 m (lihat lampiran 1) Muka air hulu Muka air hilir Hw : 17 07 m : 12,37 m : 4,70 m L w = Σ L h 3 + Σ L v = 64,51 3 = 64,65 m + 43,15 WCR = L w H 1 H 2 = 64,65 4.70 = 13 75 6...ok (aman) Berdasarkan perhitungan bahaya piping dengan metode Lane bahwa bendung Alopohu aman terhadap bahaya piping.