BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V STABILITAS BENDUNG

PERENCANAAN SISTEM DRAINASE STADION BATORO KATONG KABUPATEN PONOROGO

BAB II DESKRIPSI KONDISI LOKASI

BAB III LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II DESKRIPSI KONDISI LOKASI

BAB III LANDASAN TEORI

Rumus Bernoulli untuk aliran dalam tanah : h = z + hw

DESAIN DINDING DIAFRAGMA PADA BASEMENT APARTEMEN THE EAST TOWER ESSENCE ON DARMAWANGSA JAKARTA OLEH : NURFRIDA NASHIRA R.

BAB II KAJIAN TEORI. Untuk menjamin fungsi dan keamanannya, desain rencana. pertimbangkan meliputi hal-hal seperti berikut ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. air. Melalui periode ulang, dapat ditentukan nilai debit rencana. Debit banjir

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB VI PERENCANAAN BANGUNAN UTAMA

BAB V PERENCANAAN DAM PENGENDALI SEDIMEN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kadar air menggunakan tanah terganggu (disturbed), dilakukan

TANYA JAWAB SOAL-SOAL MEKANIKA TANAH DAN TEKNIK PONDASI. 1. Soal : sebutkan 3 bagian yang ada dalam tanah.? Jawab : butiran tanah, air, dan udara.

BAB III METODOLOGI PRA RENCANA STRUKTUR BAWAH

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISIS

BAB III LANDASAN TEORI. batu yang berfungsi untuk tanggul penahan longsor. Langkah perencanaan yang

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh beratnya beban yang harus ditanggung oleh tanah berbutir halus.

III. KUAT GESER TANAH

ANALISIS STABILITAS BENDUNGAN SELOREJO AKIBAT RAPID DRAWDOWN BERDASARKAN HASIL SURVEY ELECTRICAL RESISTIVITY TOMOGRAPHY (ERT)

STUDI PERENCANAAN TEKNIS BANGUNAN PENANGKAP SEDIMEN PADA BENDUNG INGGE KABUATEN SARMI PAPUA ABSTRAK

Stenly Mesak Rumetna NRP : Pembimbing : Ir.Endang Ariani,Dipl. H.E. NIK : ABSTRAK

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN. lapisan tanah dan menentukan jenis pondasi yang paling memadai untuk mendukung

9/14/2016. Jaringan Aliran

6 BAB VI EVALUASI BENDUNG JUWERO

2.8.5 Penurunan Kualitas Udara Penurunan Kualitas Air Kerusakan Permukaan Tanah Sumber dan Macam Bahan Pencemar

MEKANIKA TANAH KLASIFIKASI DARI SIFAT TANAH MODUL 3. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

HUBUNGAN SIFAT FISIK TANAH.

PENGARUH PENAMBAHAN PASIR PADA TANAH LEMPUNG TERHADAP KUAT GESER TANAH

BAB IV ALTERNATIF PEMILIHAN BENTUK SALURAN PINTU AIR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Maksud dan Tujuan Penulisan 1.3 Pembatasan Masalah

BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. tanggul, jalan raya, dan sebagainya. Tetapi, tidak semua tanah mampu mendukung

BAB III LANDASAN TEORI. Boussinesq. Caranya dengan membuat garis penyebaran beban 2V : 1H (2 vertikal

BAB I PENDAHULUAN. diimbangi oleh ketersediaan lahan, pembangunan pada lahan dengan sifat tanah

BAB V PERENCANAAN KONSTRUKSI BENDUNG. dapat memutar turbin generator. Dari pernyataan diatas maka didapat : - Panjang Sungai (L) = 12.

PERENCANAAN BENDUNG. Perhitungan selengkapnya, disajikan dalam lampiran. Gambar 2.1 Sketsa Lebar Mercu Bendung PLTM

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini mengambil lokasi pada Proyek Detail Desain Bendung D.I.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III DATA DAN TINJAUAN DESAIN AWAL

Analisis Stabilitas Lereng Tanah Berbutir Kasar dengan Uji Model Fisik

ANALISIS SEDIMENTASI DI MUARA SUNGAI PANASEN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Perencanaan Bangunan Air. 1. Umum

BAB V HASIL ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB V PERENCANAAN KONTRUKSI BENDUNG. Elevasi mercu bendung untuk perencanaan bangunan bendung Cimandiri

ANALISIS PENGARUH KETINGGIAN TIMBUNAN TERHADAP KESTABILAN LERENG

BAB III METODOLOGI. pondasi tiang mencangkup beberapa tahapan pekerjaan, sebagai tahapan awal

BAB III LANDASAN TEORI. yang ujungnya berbentuk kerucut dengan sudut 60 0 dan dengan luasan ujung 10

PENGARUH PENAMBAHAN PASIR PADA TANAH LEMPUNG TERHADAP KUAT GESER TANAH

Identifikasi Debit Banjir, Desain Teknis dan Kontrol Stabilitas Bendung Pengelak Banjir ABSTRAK

KARAKTERISTIKA ALIRAN DAN BUTIR SEDIMEN

BAB V PERENCANAAN KONSTRUKSI BENDUNG. Elevasi mercu bendung untuk perencanaan bangunan bendung cikopo

AWAL GERAK BUTIR SEDIMEN

BAB III METODOLOGI Tinjauan Umum

I. PENDAHULUAN. berbagai bahan penyusun tanah seperti bahan organik dan bahan mineral lain.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan vital setiap makhluk hidup. Dalam kehidupan

HASIL DAN PEMBAHASAN. (undisturb) dan sampel tanah terganggu (disturb), untuk sampel tanah tidak

ANALISIS STABILITAS TANAH TIMBUNAN DENGAN PERKUATAN SABUT KELAPA

Mekanika Tanah I Norma Puspita, ST. MT.

KESIMPULAN DAN SARAN

BAB IV PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA

Mekanika Tanah 2 Konsep Tegangan Efektif

ABSTRAK. Kata kunci : pondasi, daya dukung, Florida Pier.

ANALISIS STABILITAS LERENG DENGAN PERKUATAN GEOTEKSTIL

MEKANIKA TANAH SIFAT INDEKS PROPERTIS TANAH MODUL 2. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI BAB III METODOLOGI

PERMEABILITAS DAN ALIRAN AIR DALAM TANAH

2/25/2017. Pengertian

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN» KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN ABSTRAK. 1.

BAB V HASIL ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

PERBAIKAN TANAH DASAR JALAN RAYA DENGAN PENAMBAHAN KAPUR. Cut Nuri Badariah, Nasrul, Yudha Hanova

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam dunia konstruksi, tanah menduduki peran yang sangat vital dalam

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

POKOK BAHASAN II KLASIFIKASI TANAH DASAR (SUBGRADE) DENGAN CARA AASHTO

DASAR ILMU TA AH 0 5: : S

BAGIAN 3-2 KLASIFIKASI TANAH

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB IV KRITERIA PERENCANAAN PLTM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dasar-dasar teori yang telah kami rangkum untuk perencanaan ini adalah :

PERTEMUAN KE-4 SEBRIAN MIRDEKLIS BESELLY PUTRA HIDROLIKA TERAPAN. Teknik Pengairan Universitas Brawijaya

BAB VI PERENCANAAN CHECK DAM

Soal Geomekanik Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI

TINJAUAN PERILAKU TINGGI TEKANAN AIR DAN REMBESAN PADA BENDUNG MENGGUNAKAN ALAT PERAGA BENDUNG TANPA TURAP ABSTRACT

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

DISUSUN OLEH : HENY KURNIA AGUSTINE DOSEN PEMBIMBING : Ir. SUWARNO, M.Eng. MUSTA IN ARIF, ST. MT.

DOSEN KONSULTASI : Dr.Ir. RIA ASIH ARYANI SOEMITRO, M.Eng. TRIHANYNDYO RENDY, ST.MT

Permeabilitas dan Rembesan

PRESENTASI TUGAS AKHIR PERENCANAAN BENDUNG TETAP SEMARANGAN KABUPATEN TRENGGALEK PROPINSI JAWA TIMUR KHAIRUL RAHMAN HARKO DISAMPAIKAN OLEH :

BAB III STUDI KASUS. 3.1 Data Teknis

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Daerah penelitian merupakan daerah yang memiliki karakteristik tanah yang mudah meloloskan air. Berdasarkan hasil borring dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi II bahwasanya tanah di sekitar bendung ini adalah pasir halus kelanauan. Ini dipengaruhi oleh sedimen yang terbawa oleh sungai yang mengalir ke bendung tersebut. Sedimen yang terbawa oleh air merupakan tanah yang berbutir halus yang sangat berpotensi terhadap erosi. Butiran halus ini akan terbawa oleh air dan akan terjadi gejala piping, akibatnya terjadi penurunan pada tubuh bendung dan lama-lama bendung akan hancur. Adapun data-data umum bendung adalah sebagai berikut: 1. Dimensi Bendung Panjang bendung : 64,51 m Lebar bendung : 30,26 m Tipe mercu bendung : mercu bulat dengan jari-jari 2 m 2. Data Muka Air pada Bendung Muka air banjir Muka air hulu : +21,63 m Muka air hilir : +16,55 m Beda tinggi muka air di hulu dan di hilir (Hw) : 5,08 m Muka air normal Muka air hulu : +17,07 m Muka air hilir : +12,37 m Beda tinggi muka air di hulu dan di hilir (Hw) : 4,70 m 3. Data Karakteristik Tanah Dalam menghitung rembesan yang terjadi di dasar bendung data mekanika tanah sangat penting untuk menentukan besar dan laju aliran dalam 25

26 tanah. Besarnya rembesan di dasar bendung bergantung pada jenis tanah yang ada di bawahnya. Data-data tersebut diantaranya yaitu berat jenis tanah, berat volume tanah, angka pori, porositas, tegangan efektif, dan kepadatan relatif. Adapun data material yang diperoleh dari Balai Sungai Sulawesi II, yaitu: Kohesi (c) : 0,150 kg/cm 2 Berat jenis tanah (γ) : 2,461 g/cm 3 Berat isi tanah ( γ d ) : 1,153 gr/cm 2 Sudut geser dalam (φ) : 11,5 Pada penelitian ini terdapat dua titik borring, yaitu pada abutment kiri dan pada abutment kanan. Kedua hasil borring tersebut memiliki empat lapisan tanah yang berbeda. Untuk menghitung debit rembesan yang terjadi di dasar bendung ini dilakukan pada bagian kiri dan kanan bendung, karena berdasarkan hasil borring yang diperoleh dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi II kedua hasil borring tersebut memiliki jenis dan tinggi lapisan tanah yang berbeda. Adapun hasil kedua borring tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: a. Titik BH 1 (abutment kanan) Lapisan pertama mulai dari permukaan tanah hingga kedalaman 5 meter terbentuk oleh alluvial endapan limpah banjir sungai (flood deposit), berupa lanau lempungan (clayey silt) berwarna coklat keabuan, plastis dan konsistensi lunak. Lapisan kedua terbentuk oleh pasir (sand), warna abu-abu kecoklatan, butiran pasir berukuran halus sampai sedang diameter 0,08 1,2 mm, densitas relatif agak padu (sligthly dense). Tebal mencapai 3 meter yaitu pada kedalaman 5-8 meter. Lapisan ketiga terbentuk oleh pasir halus lanauan (silty fine sand), warna abu-abu, butiran pasir berukuran halus diameter 0,08 1,0 mm, densitas relatif padu sedang (medium dense), tebal mencapai 5 meter yaitu pada kedalaman 8-13 meter.

27 Lapisan keempat terbentuk oleh pasir kasar (coarse sand), warna abuabu kehitaman, butiran pasir berukuran sedang sampai kasar diameter 0,5 1,6 mm, densitas relatif padu sangat padu (dense very dense), tebal mencapai 7 meter yaitu pada kedalaman 13 20 meter. b. Titik BH 2 (abutment kiri) Lapisan pertama mulai dari permukaan sampai kedalaman 3 meter terbentuk oleh alivial endapan limpah banjir sungai (flood deposit), berupa lanau lempungan (clayey silt) berwarna coklat keabuan, plastis dan konsistensi lunak. Lapisan kedua terbentuk oleh pasir halus lanauan (silty fine sand), berwarna abu-abu, butiran pasir berukuran halus diameter 0,08 1,0 mm, densitas relatif agak lepas (loose). Tebal mencapai 3 meter yaitu pada kedalaman 3-6 meter. Lapisan ketiga terbentuk oleh lempung (clay), berwarna abu-abu kehijauan, sangat plastis dan konsistensi agak kenyal (slightly stiff), tebal mencapai 5,5 meter yaitu pada kedalaman 6 11,5 meter. Lapisan keempat terbentuk oleh pasir kasar (coarse sand), warna abuabu kehitaman, butiran pasir berukuran sedang sampai kasar diameter 0,5 1,6 mm, densitas relatif padu sangat padu (dense very dense), tebal mencapai 8,5 meter yaitu pada kedalaman 11,5 20 meter. 4.2 Perhitungan Rembesan Dalam memperoleh kestabilan suatu bendung banyak faktor yang harus diperhatikan, terutama masalah penurunan yang akan terjadi apabila bendung beroperasi nanti. Penurunan disebabkan oleh besarnya rembesan yang terjadi pada dasar bendung (pondasi bendung). Rembesan yang besar sangat dipengaruhi oleh jenis tanah yang ada pada dasar suatu bendung. Pentingnya pondasi untuk suatu konstruksi bendung, sehingga perlu diadakan peninjauan kembali mengenai masalah rembesan yang terjadi di Bendung Alopohu. Perhitungan rembesan menggunakan cara flownet, karena dianggap lebih mudah dalam perhitungannya. Kemudian perhitungan ini akan dilakukan pada

28 saat muka air banjir dan pada saat muka air normal. Data sekunder yaitu data borring yang dilakukan pada dua titik yaitu pada abutment kiri dan abutment kanan bendung. 4.2.1 Penentuan Nilai Koefisien Permebilitas Penentuan nilai koefisien permeabilitas k dengan cara empiris berdasarkan Tabel 2.2 (Das, 1985) seperti ditunjukkan dalam Tabel 4.1. Tabel 4.1 Penentuan Nilai k untuk Empat Lapisan Tanah di Dasar Bendung Alopohu Jenis Tanah Nilai k (mm/det) Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 Lapisan 4 Abutment kiri Abutment Kanan Abutment kiri Lanau lempungan lanau lempungan (clayey silt) (clayey silt) 10-5 Pasir Halus Lanauan pasir (sand) silty fine sand) lempung (clay) pasir kasar (coarse sand), pasir halus lanauan (silty fine sand), pasir kasar (coarse sand), 10-3 10-5 10 2 Abutment kanan 10-5 10-1 10-3 10 2 Berdasarkan Tabel 4.1 nilai koefisien permeabilitas k sangat bergantung pada jenis tanah. Untuk jenis tanah yang granular memiliki nilai koefisien permeabilitas yang besar, sedangkan untuk tanah yang kohesif dan memiliki ciriciri fisik yang relatif padat nilai koefisien permeabilitasnya kecil. lanau lempungan memiliki nilai koefisien permeabilitas yang sangat kecil yaitu sebesar 10-5 m/detik, dan pasir kasar yang memiliki ciri-ciri fisik yang berbutir dan agak longgar nilai koefisien permeabilitasnya cukup besar yaitu 10 m/detik. 4.2.2 Perhitungan Nilai Koefisien Permeabilitas Ekivalen Arah Horisontal dan Arah Vertikal 1) Abutment kanan Diketahui, H 1 : 5 x 10 3 mm, k 1 : 10-5 mm/detik H 2 : 3 x 10 3 mm, k 2 : 10-1 mm/detik H 3 : 5 x 10 3 mm, k 3 : 10-3 mm/detik

29 H 4 : 7 x 10 3 mm, k 4 : 10 2 mm/detik maka k x = (H 1 x k 1 )+(H 2 x k 2 )+(H 3 x k 3 )+(H 4 x k 4 ) H 1 + H 2 +H 3 +H 4 = k z = 5000 x 0,00001 +(3000 x 0,1)+(5000 x 0,001)+(7000 x 100) = 35.015 mm/detik = 2) Abutment kiri Diketahui, maka k x = H 1 + H 2 +H 3 +H 4 H 1 k + H 2 1 k + H 3 2 k + H 4 3 k 4 5000 +3000 +5000 +7000 5000 +3000 +5000 +7000 5000 0,0000 1 + 3000 + 5000 0,1 0,001 + 7000 100 = 1x10-16 mm/detik H 1 : 3 x 10 3 mm, k 1 : 10-5 mm/detik H 2 : 3 x 10 3 mm, k 2 : 10-3 mm/detik H 3 : 5.5 x 10 3 mm, k 3 : 10-5 mm/detik H 4 : 8.5 x 10 3 mm, k 4 : 10 2 mm/detik = (H 1 x k 1 )+(H 2 x k 2 )+(H 3 x k 3 )+(H 4 x k 4 ) H 1 + H 2 +H 3 +H 4 3000x0,00001 +(300 x0,001)+(5.500x0,00001 )+(8500x100) = 42.5 mm/detik k z = = H 1 + H 2 +H 3 +H 4 H 1 k + H 2 1 k + H 3 2 k + H 4 3 k 4 3000 +3000 +5500 +8500 3000 +3000 +5500 +8500 3000 0,0000 1 + 3000 0,001 + 5500 0,00001 + 8500 100 = 1x 10-20 mm/detik Berdasarkan perhitungan nilai koefisien permeabilitas ekivalen bahwasanya nilai k x harus lebih besar k z, karena rembesan yang terjadi cenderung lebih besar dalam atau sejajar lapisan daripada tegak lurus lapisannya.

30 4.2.3 Hitungan Rembesan dengan Cara Flownet pada saat Muka Air Banjir Perhitungan rembesan di dasar bendung Alopohu pada saat muka air banjir untuk bagian abutment kiri dan abutment kanan seperti ditunjukkan dalam Gambar 4.1 dan Gambar 4.2. Diketahui, Beda tinggi muka air di hulu dan di hilir (Hw) : 5.08 x 10 3 mm k x abutment kanan : 35.015 mm/detik k Z abutment kanan : 1x10-16 mm/detik k x abutment kiri : 42.5 mm/detik k Z abutment kiri : 1x10-20 mm/detik Nf : 3 Nd : 28

Gambar 4.1 Jaring Arus pada Abutment Kanan untuk Muka Air Banjir 31

Gambar 4.2 Jaring Arus pada Abutment Kiri untuk Muka Air Banjir 32

33 maka nilai Q untuk abutment kanan adalah: Q = H w k x k z Nf Nd = 3.22 x10-5 mm 3 /detik dan untuk abutment kiri yaitu: Q = H w k x k z Nf Nd = 3.54 x 10-7 mm 3 /detik Rekapitulasi hitungan nilai Q pada saat muka air banjir ditunjukkan dalam Tabel 4.2. Tabel 4.2 Rekapitulasi Nilai Rembesan Saat Muka Air Banjir No Deskripsi lokasi Nf Nd Hw (mm) k x (mm/det) k z (mm/det) Q (mm 3 /det) 1 Abutment 3 28 5.08x10 3 35.015 1x10-16 3.22 x10-5 kanan 2 Abutment kiri 3 28 5.08x10 3 42.5 1x10-20 3.54 x 10-7 4.2.4 Hitungan Rembesan dengan Cara Flownet pada saat Muka Air Normal Perhitungan rembesan di dasar bendung Alopohu pada saat muka air banjir untuk bagian abutment kiri dan abutment kanan seperti ditunjukkan dalam Gambar 4.1 dan Gambar 4.2. Diketahui, Beda tinggi muka air di hulu dan di hilir (Hw) : 4.70 x 10 3 mm k x abutment kanan : 35.015 mm/detik k Z abutment kanan : 1x10-16 mm/detik k x abutment kiri : 42.5 mm/detik k Z abutment kiri : 1x10-20 mm/detik Nf : 3 Nd : 28

Gambar 4.3 Jaring Arus pada Abutment Kiri untuk Muka Air Normal 34

Gambar 4.4 Jaring Arus pada Abutment Kanan untuk Muka Air Normal 35

36 Diketahui, H w k x abutment kanan k Z abutment kanan k x abutment kiri k Z abutment kiri Nf : 3 Nd : 28 : 4.70 x 10 3 mm : 35.015 mm/detik : 1x10-16 mm/detik : 42.5 mm/detik : 1x10-20 mm/detik maka nilai Q untuk abutment kanan adalah: Q dan untuk abutment kiri yaitu: = Hw k x k z Nf Nd = 2.97 x10-5 mm 3 /detik Nf Q = Hw k x k z Nd = 3.28 x 10-7 mm 3 /detik Rekapitulasi hitungan nilai Q pada saat muka air normal ditunjukkan dalam Tabel 4.3. Tabel 4.3 Rekapitulasi Nilai Rembesan Saat Muka Air Normal No Deskripsi lokasi 1 Abutment kanan 2 Abutment kiri Nf Nd H w (mm) k x (mm/det ) k z (mm/det) Q (mm 3 /det) 3 28 4,70*10 3 35,015 1x10-16 2.97 x10-5 3 28 4,70*10 3 42,5 1x10-20 3.28 x 10-7 4.3 Perhitungan Bahaya piping Hitungan faktor aman dari bahaya piping dihitung berdasarkan cara Lane, adalah sebagai berikut: 1. Pada saat muka air banjir Jumlah panjang horisontal (ΣL h ) : 64,51 m (lihat lampiran 1) Jumlah panjang vertikal (ΣL v ) : 43,15 m (lihat lampiran 1) Muka air hulu : 21,63 m Muka air hilir : 16,55 m Hw : 5,08 m

37 L w = WCR = Σ L h 3 = 64,51 3 = 64,65 m L w H 1 H 2 = 64,65 5.08 + Σ L v + 43,15 = 12,72 6...ok (aman) 2. Pada saat muka air normal Jumlah panjang horisontal (ΣL h ) : 64,51 m (lihat lampiran 1) Jumlah panjang vertikal (ΣL v ) : 43,15 m (lihat lampiran 1) Muka air hulu Muka air hilir Hw : 17 07 m : 12,37 m : 4,70 m L w = Σ L h 3 + Σ L v = 64,51 3 = 64,65 m + 43,15 WCR = L w H 1 H 2 = 64,65 4.70 = 13 75 6...ok (aman) Berdasarkan perhitungan bahaya piping dengan metode Lane bahwa bendung Alopohu aman terhadap bahaya piping.