BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
Pengaruh Pemberian Kombinasi Tepung Kayambang (Salvinia molesta) dan Limbah Udang Terfermentasi dalam Ransum terhadap Kualitas Telur Itik

BAB I PENDAHULUAN. untuk mensejahterakan kehidupan makhluknya termasuk manusia agar dapat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. unggas yang lain. Itik mampu mempertahankan produksi telur lebih lama

I. PENDAHULUAN. Ketersediaan telur yang tidak mengenal musim, keunggulan gizi dari telur dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. telurnya. Jenis puyuh yang biasa diternakkan di Indonesia yaitu jenis Coturnix

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Puyuh

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan budidaya ayam arab di Indonesia semakin pesat hal ini

BAB I PENDAHULUAN. peternakan ayam petelur dipengaruhi oleh faktor bibit dan pakan. Pakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unggas air yang cocok untuk dikembangbiakkan di Indonesia. Sistem

PENDAHULUAN. Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus

KAJIAN KEPUSTAKAAN. dengan menggunakan bahan pakan sumber kalsium (ISA, 2009). kerabang maka kalsium dapat diserap sampai 72% (Oderkirk, 2001).

1. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi

11/10/2017. Telur. Titis Sari Kusuma. Ilmu Bahan Makanan-Telur MACAM TELUR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. tercapainya kecukupan gizi masyarakat (Sudaryani, 2003). Telur sebagai sumber

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler termasuk ke dalam ordo Galliformes,familyPhasianidae dan

BAB I PENDAHULUAN. menjadi kendala pada peternak disebabkan mahalnya harga bahan baku, sehingga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Puyuh

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Pemberian Onggok Terfermentasi Bacillus mycoides terhadap

BAB I PENDAHULUAN. Allah Subhanahuwata ala berfirman dalam Al-Qur an. ayat 21 yang menjelaskan tentang penciptaan berbagai jenis hewan

TINJAUAN PUSTAKA. gizi yang lengkap bagi pertumbuhan makhluk hidup baru. Menurut Whitaker and

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan perkembangan ayam broiler sangat dipengaruhi oleh

I. PENDAHULUAN ,8 ton (49,97%) dari total produksi daging (Direktorat Jenderal Peternakan,

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking

I. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. merupakan tempat asal dari itik ini. Itik Tegal memiliki kelebihan dibanding

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 9. Rataan Tebal Cangkang telur puyuh.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Pemberian Campuran Onggok dan Molase Terfermentasi terhadap Koefisien Cerna Bahan Kering (KcBK)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Penggunaan Onggok Kering Terfermentasi Probiotik dalam Ransum Terhadap Konsumsi Pakan Ayam Pedaging

Telur. Titis Sari Kusuma. Ilmu Bahan Makanan-Telur

I. PENDAHULUAN. dengan susunan asam amino lengkap. Secara umum telur ayam ras merupakan

TINJAUAN PUSTAKA. Masyarakat saat ini mengenal tiga tipe ayam yaitu ayam tipe ringan, tipe medium

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia berasal dari Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto Propinsi Jawa

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Telur. telur dihasilkan bobot telur berkisar antara 55,73-62,58 gram.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mampu mencerna serat kasar yang tinggi (Nugraha dkk., 2012). Itik

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat pesat. Populasi ayam pedaging meningkat dari 1,24 milyar ekor pada

TELUR ASIN PENDAHULUAN

ACARA III PEMBUATAN PRODUK DAN UJI KUALITAS PRODUK TELUR A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Telur merupakan salah satu dari beberapa produk yang di

I. PENDAHULUAN. Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012) menunjukkan bahwa konsumsi telur burung

I. PENDAHULUAN. pesat. Perkembangan tersebut diiringi pula dengan semakin meningkatnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menghasilkan daging untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Ternak itik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck) ada juga yang menyebut siput

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. sekaligus dapat memberdayakan ekonomi rakyat terutama di pedesaan.

Lampiran I. Diagram Pembuatan Tepung Limbang Udang Terfermentasi. Limbah udang (kulit) 1000 gram. Dibersihkan dari benda asing

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lokal (Bos sundaicus), sapi Zebu (Bos indicus) dan sapi Eropa (Bos taurus). Sapi

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum. Rataan konsumsi ransum setiap ekor ayam kampung dari masing-masing

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. banyak diminati di kalangan masyarakat, hal ini disebabkan rasa

TINJAUAN PUSTAKA. betina yang umumnya dipanen pada umur 5-6 minggu dengan tujuaan sebagai

Pengertian Bahan Pangan Hewani Dan Nabati Dan Pengolahannya

D. Uraian Pembahasan. Sistem Regulasi Hormonal 1. Tempat produksinya hormone

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Isa Brown, Hysex Brown dan Hyline Lohmann (Rahayu dkk., 2011). Ayam

PENGANTAR. Latar Belakang. Itik lokal di Indonesia merupakan plasma nutfah yang perlu dilestarikan dan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Jumlah dan Bobot Folikel Puyuh Rataan jumlah dan bobot folikel kuning telur puyuh umur 15 minggu disajikan pada Tabel 5.

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mempertahankan produksi telur lebih lama dibandingkan dengan ayam, itik mampu

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan %

1. PENDAHULUAN. Telur itik adalah salah satu pilihan sumber protein hewani yang memiliki rasa

HASIL DAN PEMBAHASAN

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING (lanjutan)

STRUKTUR, KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI TELUR

BAB I PENDAHULUAN. Kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi hewani membuat

I. PENDAHULUAN Latar Belakang Tomat atau dalam bahasa latin disebut Lycopersicum esculentum

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler tidak dibedakan jenis kelamin jantan atau betina, umumnya dipanen

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan bagi

I. PENDAHULUAN. kebutuhan tersebut adalah melalui usaha peternakan ayam pedaging. Ayam

II. TINJAUAN PUSTAKA. sangat lezat, mudah dicerna dan bergizi tinggi. Telur itik umumnya berukuran

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Nutrien

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. masyarakat meningkat pula. Namun, perlu dipikirkan efek samping yang

BAB I PENDAHULUAN. mengandung protein dan zat-zat lainnya seperti lemak, mineral, vitamin yang

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini pengembangan di bidang peternakan dihadapkan pada masalah kebutuhan

I. PENDAHULUAN. seluas seluas hektar dan perairan kolam seluas hektar (Cahyono,

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pakan Penelitian

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Total Protein Darah Ayam Sentul

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Tingkat Energi Protein Ransum terhadap Total Protein Darah Ayam Lokal Jimmy Farm

NUTRISI UNGGAS 11/8/2016. Catootjie L. Nalle, Ph.D. Jurusan Peternakan Program Study Teknologi Pakan Ternak Politeknik Pertanian Negeri Kupang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh pemberian kombinasi tepung kayambang

BAB I PENDAHULUAN. Telur adalah salah satu sumber protein yang dikonsumsi oleh sebagian besar

Pakan ternak. Dibutuhkan oleh ternak untuk : 1. Hidup pokok 2. Pertumbuhan 3. Produksi 4. Mengganti sel yang rusak pada jaringan

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan September - Desember 2015 di

PENDAHULUAN. sebagai penghasil telur dan daging sehingga banyak dibudidayakan oleh

BAB I PENDAHULUAN. Burung puyuh mempunyai potensi besar karena memiliki sifat-sifat dan

BAB I PENDAHULUAN. tercatat sebesar 237 juta jiwa dan diperkirakan bertambah 2 kali lipat jumlahnya. ayam sebagai salah satu sumber protein hewani.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Pemberian Kombinasi Tepung Kayambang (Salvinia molesta) dan Limbah Udang Terfermentasi dalam Ransum Terhadap Ketebalan Kerabang Telur Itik Berdasarkan hasil penelitian dan analisis statistik dengan SPSS 16,0 data penelitian adalah normal, dilanjutkan dengan analisis ANOVA tunggal tentang pengaruh pemberian kombinasi tepung kayambang (Salvinia molesta) dan limbah udang terfermentasi dalam ransum terhadap ketebalan kerabang telur itik diperoleh data yang menunjukkan bahwa F hitung > F tabel 0,01. Hal ini menandakan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata tentang pemberian kombinasi tepung kayambang (Salvinia molesta) dan limbah udang terfermentasi dalam ransum terhadap ketebalan kerabang telur itik (tabel 4.1). Perhitungan selengkapnya dicantumkan pada lampiran 10 dan 11. Tabel 4.1 Ringkasan ANOVA tunggal tentang pengaruh pemberian kombinasi tepung kayambang (Salvinia molesta) dan Limbah Udang Terfermentasi dalam Ransum Terhadap Ketebalan Kerabang Telur Itik. SK db JK KT F hitung F tabel 1% Perlakuan 4 0,00198 0,000495 8,49** 4,89 Galat 15 0,000875 5,83333 Total 19 0,002855 Keterangan **: Berbeda sangat nyata Perbedaan tiap perlakuan tentang pemberian kombinasi tepung kayambang (Salvinia molesta) dan limbah udang terfermentasi dalam ransum terhadap ketebalan kerabang telur itik dapat diketahui melalui uji lanjut dengan uji BNT 0,01 (tabel 4.2). 43

44 Tabel 4.2 Ringkasan BNT 0,01 tentang Pengaruh Pemberian Kombinasi Tepung Kayambang (Salvinia molesta) dan Limbah Udang Terfermentasi dalam Ransum terhadap Ketebalan Kerabang Telur Itik Perlakuan Rata- rata (mm) ± sd Notasi BNT 1% P0 0,450 ± 0,00816 a P1 0,460 ± 0,00816 ab P4 0,473 ± 0,00957 b P2 0,475 ± 0,00577 b P3 0,475 ± 0,00577 b Keterangan: angka yang didampingi oleh huruf yang sama tidak berbeda sangat nyata pada taraf 0,01 Berdasarkan notasi BNT 0,01 menunjukkan bahwa tebal kerabang telur itik pada P0 sebagai kontrol (tanpa kombinasi tepung kayambang dan limbah udang terfermentasi) tidak berbeda sangat nyata dengan P1. Sedangkan ketebalan telur pada perlakuan P2, P3 dan P4 sangat berbeda nyata dengan P0. Hasil dari data notasi BNT 0,01 pada tabel 4.2 dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan pengaruh pemberian tepung kayambang dan limbah udang terfermentasi dalam ransum terhadap ketebalan kerabang telur. Hasil Perlakuan P2 (0,475 mm) dengan konsentrasi tepung kayambang terfermentasi 15% dan tepung limbah udang 10% dan P3 (0,475 mm) dengan konsentrasi 10% tepung kayambang terfermentasi dan 15% tepung limbah udang terfermentasi mampu meningkatkan ketebalan kerabang telur dengan optimal. Hal ini diduga kombinasi tepung kayambang dan tepung limbah udang terfermentasi mengandung kalsium tinggi yang mempengaruhi kandungan kalsium dalam ransum, sehingga mampu meningkatkan ketebalan kerabang telur. Sebagaimana yang diungkapakan Mirzah (2007) bahwa tepung limbah udang mengandung protein kasar 38,98%, lemak 4,12%, kalsium 14,63%, fosfor 1,75%.

Ketebalan kerabang (mm) 45 Suharno (2010) menyatakan bahwa tepung limbah udang merupakan bahan pakan itik yang berkualitas baik karena mengandung mineral-mineral penting, seperti kalsium dan fosfor. Grafik Rataan Ketebalan Kerabang 0,48 0,475 0,47 0,465 0,46 0,455 0,45 0,445 0,44 0,435 P0 P1 P2 P3 P4 Perlakuan Rata- rata Gambar 4.1 Grafik Rataan Ketebalan Kerabang Telur Itik Keterangan: P0 = (Kontrol) P1 = Kombinasi Tepung Kayambang terfermentasi 20% + Tepung Limbah Udang terfermentasi 5% pada ransum P2 = Kombinasi Tepung Kayambang terfermentasi 15% + Tepung Limbah Udang terfermentasi 10% pada ransum P3 = Kombinasi Tepung Kayambang terfermentasi 10% + Tepung Limbah Udang terfermentasi 15% pada ransum P4 = Kombinasi Tepung Kayambang terfermentasi 5% + Tepung Limbah Udang terfermentasi 20% pada ransum Grafik ketebalan kerabang telur sebagaimana terlihat pada gambar 4.1 menunjukkan bahwa kerabang telur yang paling tebal terdapat pada perlakuan P2 dan P3. Berarti kombinasi tepung kayambang terfermentasi dengan konsentrasi 15% dan 10% serta tepung limbah udang terfermentasi dengan konsentrasi 10% dan 15% mampu meningkatkan ketebalan kerabang telur sebesar 0,475 mm. Apabila dilihat dari kandungan protein dan serat kasar pada ransum maka hasil terbaik terdapat pada P2 (0,475 mm), meskipun hasil rataan tebal kerabang

46 telur P2 dan P3 sama (0,475 mm), karena P2 mengandung protein (15,165%) dan serat kasar (8,28%) lebih rendah daripada P3 dengan kandungan protein (17,701%) dan serat kasar (8,75%) yang terkandung dalam ransum. Hal ini menunjukkan bahwa ransum pada P2 sudah memenuhi kebutuhan pembentukan kerabang telur sehingga dapat diaplikasikan oleh para peternak itik petelur karena dapat menekan biaya pakan. Suprijatna (2008) menyatakan bahwa itik petelur membutuhkan nutrisi makanan dengan kandungan protein 15-17%, serat kasar 6-9% dan energi metabolisme 2,900 kkal. Kerabang telur tersusun atas kalsium karbonat dan fosfor seperti yang diungkapkan Garry (2009) bahwa kerabang telur mengandung 95% kalsium dalam bentuk kalsium karbonat dan sisanya magnesium, fosfor, natrium, kalium, seng, mangan, dan tembaga. Suharno (2010) menyatakan bahwa itik pada masa produksi membutuhkan ransum dengan kandungan protein 16 18%, energi 2.700 kkal/kg, kalsium 2,90 3,25% dan fosfor 0,47%. Pemberian kalsium dan fosfor sangat penting bagi itik bertelur untuk membuat kulit telur. Rataan tebal kerabang yang didapat berkisar antara 0,45 0,48 mm hasil tersebut menunjukkan bahwa ketebalan kerabang telur masih dalam ukuran normal sebagaimana yang diungkapkan Romanoff dan Romanofff (1963) bahwa tebal kerabang secara normal berkisar 0,3 0,5 mm. Semakin tebal kerabang telur maka semakin baik kualitas pada telur konsumsi. Hal ini akan mempengaruhi pori-pori kerabang telur yang semakin rapat sehingga mampu mengurangi kehilangan kelembapan dan menghambat masuknya bakteri.

47 Mineral esensial bagi ternak karena dibutuhkan untuk metabolisme dalam tubuh, namun tubuh ternak tidak dapat menghasilkan mineral sendiri. Salah satu sumber mineral itu terdapat pada pakan yang dikonsumsi yang diperoleh dari hijauan. Kandungan mineral dalam hijauan dipengaruhi oleh kandungan mineral dalam air, tanah dan udara di sekitar tempat tumbuhnya hijauan tersebut (Irma, 2012). Menurut penelitian Irma (2012) Salvinia molesta mengandung mineral Na 0.93 ± 0,004, daun muda 1,20 ± 0,003 sedangkan kalsium mengandung 1,25 ± 0,002, daun muda 2,11. Rosani (2002) melaporkan kandungan gizi Salvinia molesta adalah sebagai berikut; protein kasar15,.9 %, lemak kasar 2,1 %, serat kasar 16,8 %, kalsium 1,27 %, fosfor 0,001%, lisin 0,611%, methionin 0,765%, dan sistein 0,724%. Peneliti yang sama selanjutnya melakukan percobaan menggunakan itik lokal jantan umur 4-8 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Salvinia molesta dapat digunakan sampai 10 % dalam ransum itik tersebut. Peran dari kalsium karbonat (CaCO3) yang ditimbun didalam matriks organik yang berisi protein dan mukopolisakarida juga dapat mempengaruhi ketebalan kerabang telur. Matriks protein ini dapat diperoleh melalui bahan makanan yang dikonsumsi unggas seperti yang terdapat dalam tepung limbah udang dan tepung kayambang terfermentasi (Nuryadi, 2000). Mekanisme kalsium dalam meningkatkan ketebalan kerabang dimulai dari ransum yang mengandung kombinasi tepung kayambang dan tepung limbah udang terfermentasi masuk ke mulut menuju ke gizzard kemudian menuju saluran usus halus. Kalsium diserap di duodenum dan jejunum proksimal oleh protein

48 pengikat kalsium yang disintesis sebagai respon terhadap kerja 1,25 dihidroksikolekalsiferol. Kerja kalsium melalui reseptor protein intrasel (kalmodulin) yang mengikat ion-ion kalsium bila konsentrasinya meningkat sebagai respon terhadap stimulus. Bila kalsium dengan kadar 10 20% terikat pada kalmodulin maka dapat mengatur aktivitas sejumlah besar enzim, termasuk berperan membentuk kerabang yang tebal dan kuat (Rahayu, 2003). Setelah kalsium dicerna dalam sistem pencernaan kemudian masuk menuju sistem reproduksi untuk pembentukan telur yang dimulai dengan pelepasan kuning telur (ovum) kemudian masuk ke dalam infundibulum, selanjutnya kalsium dalam ransum mulai berpengaruh pada isthmus untuk pembentukan kulit telur tahap pertama. Pada saat ini telur yang tidak berkulit dilapisi oleh serat- serat protein berjala halus (keratin) yang membentuk bagian dalam. Pada waktu telur itu bergerak maju melalui istmus, dibutuhkan lapisan kedua yang lebih kasar dari serat- serat protein yang merupakan membrane luar, kemudian menjadi titik permulaan dari pembentukan kulit telur. Selanjutnya lapisan seperti kerucut kulit telur dibentuk pada lapisan luar setelah telur itu melewati belokan isthmus-uterin (Prastiwi, 2009). Sumber utama ion karbonat berasal dari adanya CO2 dalam darah hasil metabolisme dari sel yang terdapat pada uterus dengan adanya H2O keduanya dirombak oleh enzim carbonic anhydrase yang dihasilkan pada sel mukosa uterus menjadi ion bikarbonat kemudian menjadi ion karbonat setelah ion hydrogen terlepas selanjutnya ion kalsium dan ion karbonat bergabung membentuk kalsium

49 karbonat (CaCO3) yang digunakan untuk membentuk kerabang telur (Latifa, 2007). Gambar 4.2 Proses Pembentukan Kerabang Telur (Suprijatna, 2008) Proses penutupan seluruh kuning telur dan putih telur oleh kerabang telur terjadi di uterus setelah itu kerabang telur akan ditutupi oleh selaput halus (kutikula) penutup pori pori kulit telur. Ada dua pigmen yang berperan dalam pembentukan warna kerabang telur yaitu porphyrins yang berasal dari hemoglobin yang responsif untuk menghasilkan warna kulit telur yang kecoklatan dan pigmen sianin yang responsif untuk menghasilkan warna kulit teur biru dan hijau (kebanyakan pada kulit telur itik), pembentukan kerabang berakhir dengan terbentuknya kutikula yang disekresikan oleh mukosa uterus berupa material organik dan juga mukus untuk membentuk lapisan selubung menyelimuti telur yang akan mengurangi kehilangan kelembapan dan mencegah masuknya bakteri ke dalam kulit telur serta mempermudah perputaran telur keluar dari vagina (Rasyaf, 2007).

50 4.2 Pengaruh Pemberian Kombinasi Tepung Kayambang (Salvinia molesta) dan Limbah Udang Terfermentasi dalam Ransum terhadap Warna Kuning Telur Itik Berdasarkan hasil penelitian dan analisis statistik data penelitian merupakan data normal dan dilanjutkan dengan analisis ANOVA tunggal tentang pengaruh pemberian kombinasi tepung kayambang (Salvinia molesta) dan limbah udang terfermentasi dalam ransum terhadap warna kuning telur itik diperoleh data yang menunjukkan bahwa F hitung > F tabel 0,01. Hal ini menandakan bahwa terdapat perbedaan pengaruh sangat nyata pada pemberian kombinasi tepung kayambang (Salvinia molesta) dan limbah udang terfermentasi terhadap warna kuning telur itik (tabel 4.3). Perhitungan selengkapnya dicantumkan pada lampiran 10 dan 11. Tabel 4.3 Ringkasan ANOVA Tunggal tentang Pengaruh Pemberian Kombinasi Tepung Kayambang (Salvinia molesta) dan Limbah Udang Terfermentasi dalam Ransum terhadap Warna Kuning Telur Itik. SK Db JK KT F hitung F tabel 1% Perlakuan 4 20,3 5,075 17,911** 4,89 Galat 15 4,25 0,2833 Total 19 24,55 Keterangan: ** Berbeda sangat nyata Perbedaan tiap perlakuan tentang pengaruh pemberian kombinasi tepung kayambang dan limbah udang terfermentasi diketahui melalui uji lanjut dengan BNT 0,01 (tabel 4.4). Berdasarkan notasi BNT 0,01 menunjukkan bahwa skor warna kuning telur itik pada P0 sebagai kontrol (tanpa kombinasi tepung kayambang dan limbah udang terfermentasi) tidak berbeda sangat nyata dengan P1. Warna kuning telur P4 tidak berbeda sangat nyata dengan P1. Sedangkan P2 dan P3 menghasilkan skor warna kuning telur yang sama dan warna kuning telur P0 berbeda sangat nyata dengan P2 dan P3.

51 Tabel 4.4 Ringkasan BNT 1% tentang Pengaruh Pemberian Kombinasi Tepung Kayambang dan Limbah Udang Terfermentasi dalam Ransum terhadap Warna Kuning Telur Itik Perlakuan Rata rata Notasi P0 7,75 ± 0,500 a P1 8,75 ± 0,500 ab P4 9,50 ± 0,500 bc P2 10,25 ± 0,577 c P3 10,50 ± 0,577 c Keterangan: Angka yang didampingi dengan huruf yang sama tidak berbeda sangat nyata pada taraf signifikan 0,01 Gambar 4.3 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengaruh pemberian tepung kayambang dan limbah udang terfermentasi dalam ransum terhadap warna kuning telur. Gambar tersebut menggambarkan hasil warna kuning telur terbaik terdapat pada perlakuan P3 (10,50) dengan konsentrasi tepung kayambang 10% dan tepung limbah udang terfermentasi 15%. Sebagaimana dikatakan oleh Sudaryani (2003) bahwa kuning telur yang baik berkisar 9-12. Diduga ransum memiliki kandungan pigmen yang mampu meningkatkan warna kuning telur. Sebagaimana yang dinyatakan Winarno (2002) warna atau pigmen yang terdapat dalam kuning telur sangat dipengaruhi oleh jenis pigmen yang terdapat dalam pakan yang dikonsumsi, dalam pigmen xantofil terkandung banyak karoten, semakin tinggi kandungan karoten akan menyebabkan warna kuning telur semakin tua. Secara umum karotenid mempunyai sifat yang larut dalam lemak. Betakaroten merupakan salah satu komponen karotenoid yang banyak ditemukan dalam tanaman (Winarsih, 2007).

52 a. b c. d f e. Gambar 4.3 Hasil Pengamatan Warna Kuning Telur Tiap Perlakuan Keterangan: a. P0 = (Kontrol) dengan skor warna kuning telur 7,75. b. P1 = Kombinasi Tepung Kayambang terfermentasi 20% + Tepung Limbah Udang terfermentasi 5% pada ransum dengan skor warna kuning telur 8,75. c. P2 = Kombinasi Tepung Kayambang terfermentasi 15% + Tepung Limbah Udang terfermentasi 10% pada ransum dengan skor warna kuning telur 10,25. d. P3 = Kombinasi Tepung Kayambang terfermentasi 10% + Tepung Limbah Udang terfermentasi 15% pada ransum dengn skor warna kuning telur 10,50. e. P4 = Kombinasi Tepung Kayambang terfermentasi 5% + Tepung Limbah Udang terfermentasi 20% pada ransum dengan skor warna kuning 9,50. f. yolk colour fan

53 Hasil analisis penelitian Juliambarwati (2012) menunjukkan bahwa penggunaan tepung limbah udang sebanyak 9% dalam ransum dapat meningkatkan skor warna yolk dari 6,94 menjadi 7,79. Begitu juga penelitian yang dilakukan Sahara (2011) bahwa pemberian kepala udang 9% memberikan indeks warna kuning telur terbaik dengan skor 10. Agro (2013) menyatakan bahwa warna kuning telur dipengaruhi zat-zat yang terkandung dalam ransum seperti xanthofil, betacaroten, klorofil dan cytosan. Menurut Kurniawan (2010) melaporkan bahwa tumbuhan akuatik salvinia molesta memiliki kandungan klorofil total dan karotenoid lebih tinggi yaitu 2,50 daripada C. Demersum (2,22). Menurut Chung (2002) menambahkan bahwa tipe dan jumlah pigmen karotenoid yang dikonsumsi unggas petelur merupakan faktor utama dalam pigmentasi kuning telur. Poultry Indonesia (2007) menyatakan bahwa limbah udang mengandung 45,29% protein kasar, 17,59% serat kasar, 6,62% lemak, 18,65% abu dan 13,69% betakaroten. Penggunaan produk kaya karotenoid dalam ransum unggas dapat menghasilkan telur rendah kolesterol (Efandi, 2011). Hidayati (2011) menyatakan bahwa betakaroten dapat menghambat kerja enzim aseti-koa yang berperan dalam proses biosintesis kolesterol. Perkembangan folikel ovarium dirangsang oleh folicle stimulating hormone (FSH) dari kelenjar pituitari anterior, ovarium yang sedang berkembang mulai mensekresikan hormon estrogen dan progesteron. Estrogen meningkatkan sekresi bahan bahan yang diperlukan untuk pembuatan telur dan progesteron menyebabkan terlepasnya luteinizing hormone (LH) dari pituitari anterior yang

54 akan menyebabkan terlepasnya sebuah yolk yang telah masak dari ovarium. Progesteron juga penting untuk menjalankan fungsi oviduk. Ketika yolk turun melalui oviduk, bahan bahan telur lainnya dibentuk disini (Suprijtna, 2008). Kuning telur (yolk) pertama menjadi dewasa karena sebagian besar bahan yolk yang diproduksi di hati dialirkan oleh darah langsung ke yolk. Satu atau dua hari kemudian, yolk kedua mulai berkembang dan seterusnya, sampai pada saat telur pertama dikeluarkan sekitar 5 10 yolk sedang dalam proses perkembangan. Setiap yolk menjadi dewasa membutuhkan waktu 10 11 hari. Pada awalnya, penimbunan bahan yolk sangat lambat dan warnanya terang. Akhirnya, ovum mencapai diameter 6 mm pada saat pertumbuhannya mencapai tingkat terbesar dan diameter bertambah sekitar 4 mm setiap hari. Selama periode yang singkat, sekitar 7 hari sebelum ovulsi 95 99% material yolk ditambahkan. Pigmen pemberi warna kuning telur yang ada dalam ransum secara fisiologis akan diserap oleh organ pencernaan usus halus dan diedarkan ke organ target yang membutuhkan (Sahara, 2011). Bahan pewarna yolk adalah xanthophyl, suatu pigmen karoten dari pakan yang dimakan unggas. Pigmen tersebut ditransfer ke dalam aliran darah dan yolk. Akibatnya, pigmen lebih banyak ditimbun di dalam yolk selama unggas makan daripada selama waktu gelap bila ayam tidak makan. Hal ini mengakibatkan timbulnya lapisan terang dan gelap pada bahan yolk, tergantung pada pigmen yang tersedia dalam pakan. Sekitar 7 11 lingkaran atau lapisan dibentuk oleh setiap butir yolk (Suprijatna, 2008). Sudaryani (2003) melaporkan bahwa warna kuning telur lebih berpengaruh pada

55 selera konsumen dan secara umum konsumen lebih menyukai kuning telur dengan warna kuning kemerahan dengan skor antara 11-13. 4.3 Pengaruh Pemberian Kombinasi Tepung Kayambang (Salvinia molesta) dan Limbah Udang Terfermentasi dalam Ransum terhadap Kadar Protein Telur Itik Berdasarkan hasil penelitian dan analisis statistik data penelitian menunjukkan data normal, sehingga dapat dilanjutkan dengan ANOVA tunggal tentang pengaruh pemberian kombinasi tepung kayambang (Salvinia molesta) dan limbah udang terfermentasi dalam ransum terhadap kadar protein telur itik diperoleh data yang menunjukkan bahwa F hitung > F tabel 0,01. Hal ini menandakan bahwa terdapat perbedaan sangat nyata pengaruh pemberian kombinasi tepung kayambang (Salvinia molesta) dan limbah udang terfermentasi terhadap kadar protein telur itik (tabel 4.5). Perhitungan selengkapnya dicantumkan pada lampiran 10 dan 11. Perbedaan tiap perlakuan tentang pengaruh pemberian kombinasi tepung kayambang dan limbah udang terfermentasi diketahui melalui uji lanjut dengan BNT 0,01 (tabel 4.6). Tabel 4.5 Ringkasan ANOVA Tunggal tentang Pengaruh Pemberian Kombinasi Tepung Kayambang (Salvinia molesta) dan Limbah Udang Terfermentasi dalam Ransum terhadap Kadar Protein Telur Itik. SK Db JK KT F hitung F tabel 1% Perlakuan 4 13,65524 3,41381 80,52895** 4,89 Galat 15 0,635885 0,042392 Total 19 14,29113 Keterangan **: Berbeda sangat nyata Hasil data notasi BNT 0,01 tersebut dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh pemberian kombinasi tepung kayambang (Salvinia molesta) dan limbah udang terfermentasi dalam ransum terhadap kadar protein telur itik. Berdasarkan

56 hasil analisis BNT 0,01 yang tercantum pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa P1(kontrol) memiliki kadar protein telur yang lebih rendah daripada P1, P2, P3, dan P4. Adapun kandungan protein telur yang sama terdapat pada perlakuan P2 dan P4. Kandungan protein telur tertinggi ditemukan pada P3 dengan perlakuan kombinasi tepung kayambang terfermentasi konsentrasi 10% dan tepung limbah udang terfermentasi 15%, diduga dalam penelitian ini kandungan protein ransum setiap perlakuan berbeda sehingga mampu mempegaruhi peningkatan protein dalam telur. Tabel 4.6 Ringkasan BNT 1% tentang Pengaruh Pemberian Kombinasi Tepung Kayambang dan Limbah Udang Terfermentasi dalam Ransum terhadap Kadar Protein Telur Itik Perlakuan Rata- rata (%) ± sd Notasi P0 27,0072 ± 0,23890 a P1 27,6583 ± 0,21731 b P4 28,4950 ± 0,13973 c P2 28,7988 ± 0,18103 c P3 29,3262 ± 0,23531 d Keterangan: Angka yang didampingi dengan huruf yang sama pada kolom yang tidak berbeda sangat nyata pada taraf signifikan 0,01. Kadar protein telur itik yang terlihat pada gambar 4.4 menunjukkan grafik terus meningkat pada P0 sampai P3, namun pada P4 grafik menurun. Hal ini diduga ransum pada P4 mengandung protein dan serat kasar melebihi kadar kebutuhan itik petelur yaitu protein sebesar (20,23%) dan serat kasar (9,23%), sehingga itik kesulitan dalam mencerna dan menyerap nutrisi. Akibatnya kadar protein P4 (28,495) dalam telur lebih rendah daripada P2 (28,79). Suharno (2010) menyatakan bahwa Itik pada masa produksi membutuhkan ransum dengan kandungan protein 16-18%, energi 2.700 kkal/kg, kalsium 2,90-3,25%, dan fosfor

kadar protein (%) 57 0,47%. Sedangkan serat kasar yang dibutuhkan itik masa produksi 6-9% (Suprijatna, 2008). Grafik Rataan Kadar Protein Telur 30 29,5 29 28,5 28 27,5 27 26,5 26 25,5 P0 P1 P2 P3 P4 Perlakuan rata- rata Gambar 4.4 Grafik Rataan Kadar Protein Telur Itik Keterangan: P0 = (Kontrol) P1 = Kombinasi Tepung Kayambang terfermentasi 20% + Tepung Limbah Udang terfermentasi 5% pada ransum P2 = Kombinasi Tepung Kayambang terfermentasi 15% + Tepung Limbah Udang terfermentasi 10% pada ransum P3 = Kombinasi Tepung Kayambang terfermentasi 10% + Tepung Limbah Udang terfermentasi 15% pada ransum P4 = Kombinasi Tepung Kayambang terfermentasi 5% + Tepung Limbah Udang terfermentasi 20% pada ransum Berdasarkan hasil analisis uji proksimat tepung kayambang yang telah difermentasi memiliki kadar protein yang meningkat dari 8,61% menjadi 9,79% dan serat kasar dari 12,19% menurun menjadi 8,32%. Sedangkan tepung limbah udang yang difermentasi dari 58,19% meningkat menjadi 60,50%. Perlakuan P3 dengan kadar protein (17,70) dan serat kasar (8,75) dalam ransum perlakuan mampu menghasilkan kadar protein telur terbaik dengan sebanyak (29,3262%) dengan konsentrasi 15% tepung limbah udang terfermentasi dan10% tepung kayambang terfermentasi. Sebagaimana yang diungkapkan

58 Antoni (2003) menyatakan bahwa peningkatan taraf protein dari 12% sampai 18% dapat meningkatkan protein telur. Ini diduga kandungan protein dan serat kasar didalam pakan berpengaruh terhadap komposisi protein dalam telur. Rosani (2002) melaporkan bahwa kandungan gizi Salvinia molesta adalah sebagai berikut; protein kasar15,9%, lemak kasar 2,1%, serat kasar16,8 %, calsium 1,27%, posfor 0,001%, lisin 0,611%, methionin 0,765%, dan sistein 0,724%. Poultry Indonesia (2007) menunjukkan bahwa limbah udang mengandung 45,29% protein kasar, 17,59% serat kasar, 6,62% lemak, 18,65% abu dan 13,69% betakaroten. Kandungan protein telur tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (29,33) dengan konsentrasi tepung kayambang 10% dan tepung limbah udang terfermentasi 15%. Hal ini berbeda dengan penelitian Marganov (2003) bahwa tepung cangkang udang dapat digunakan sampai 12% didalam ransum ayam petelur dan maksimal 10% didalam ransum ayam pedaging. Perbedaan pengaruh pemberian kombinasi tepung kayambang dan limbah udang terfermentasi terhadap kadar protein telur diduga terkait dengan mekanisme dan proses metabolisme protein dalam di dalam tubuh. Mekanisme protein terhadap peningkatan kadar protein telur dimulai saat ransum memasuki proventriculus dimana terdapat cairan berupa zat anorganik yaitu HCL, NaCl, KCL, dan fosfat, sedangkan zat organic berupa enzim peptin, rennin dan lipase, adanya asam HCl ini menyebabkan cairan dalam lambung bersifat asam dengan ph antara 1,0 dan 2,0 yang berfungsi untuk membuat ph yang baik untuk proses pemecahan molekul protein oleh enzim pepsin dengan cara hidrolisis (Poedjiadi,

59 2006). Selanjutnya masuk ke gizzard untuk membantu proses pencernaan protein pada usus halus. Protein yang terdapat dalam makanan dicerna dalam lambung dan usus menjadi asam-asam amino, yang diarbsorbsi dan dibawa oleh darah ke hati. Sebagian diedarkan ke dalam jaringan-jaringan yang mempengaruhi protein dalam albumin saat di magnum, sehingga penambahan protein dapat meningkatkan protein dalam telur (Poedjiadi, 2006). Asam amino yang diserap dari kombinasi tepung kayambang dan limbah udang terfermentasi di dalam usus halus oleh darah ditrasportasi menuju ovarium dalam proses pembentukan telur. Proses pembentukan telur dimulai dari pelepasan kuning telur (ovum) pada ovarium kemudian menuju infundibulum, setelah itu ke magnum yang mensekresikan 50% dari albumin kental dan 10% albumin protein (Rasyaf, 2007). Protein yang terkandung dalam telur merupakan salah satu indikator penting untuk menentukan kualitas telur. Kandungan protein telur dipengaruhi olek tingkat protein dalam ransum. Tingkat zat-zat makanan dalam ransum harus diperhatikan, karena tingkat asam-asam amino non-esensial yang harus dicukupi dalam ransum untuk memenuhi kebutuhan itik untuk mensintesis protein tubuh dan telur secara efesien dan ekonomis (Wahju, 2004). Asam amino esensial merupakan asam amino yang dibutuhkan tubuh, tetapi tidak dapat diproduksi tubuh dalam jumlah yang memadai. Kebutuhan asam amino bagi anak- anak relatif lebih besar daripada orang dewasa. Makanan yang mengandung protein hewani misalnya daging, susu, keju, telur dan ikan

60 (Poedjiadi, 2006). Kandungan telur menurut Wahju (2004), sebutir telur segar mengandung 66% air, 12% protein, 10% lemak, 1% karbohidrat, dan 11% abu. Telur yang mengandung protein tinggi sangat baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, seperti yang tercantum dalam al-quran surat al- Baqarah [2]:168 : ي نا أ ي ه نا النهناس كلوا مهمنا في األ ر ض ح ال ال ط ي بنا و ال ت تهبعوا خطو ات ال هشي ط نا ه ل كم ع دو م ب ين Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu (Qs. al Baqarah [2]:168). Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia dianjurkan untuk mengkonsumsi makananan yang halal dan baik. Makanan yang baik adalah makanan yang mengandung gizi yang dibutuhkan oleh tubuh salah satunya mengandung sumber protein. Sebagaimana diungkapkan ash Shiddieqy (2000) makanlah sebagian makanan yang terdapat di bumi, baik dari jenis tumbuhan maupun hewan termasuk telur. Makanan boleh dimakan dengan syarat makanan itu baik (bersih, sehat) dan bukan milik orang lain. Begitu juga pendapat ad- Dimasyqi (2000) bahwa semua makanan yang ada dibumi yaitu yang dihalalkan bagi mereka dan tidak membahayakan tubuh serta akal mereka, sebagai karunia dari Allah SWT. Kata ط ي بنا dari segi bahasa berarti baik, lezat, menentramkan, paling utama dan sehat. Makna dari konteks ini adalah makanan yang tidak kotor dari dzatnya, rusak (kadaluarsa), tidak bercampur dengan najis. Thayyib dari makanan

61 merupakan makanan yang sehat, aman tidak membahayakan fisik dan akal, mengundang selera yang memakannya (Shihab, 2001). Makanan yang halal otomatis baik namun, makanan yang baik belum tentu halal. Oleh karena itu kata thoyyib dalam al-quran selalu dirangkaikan dengan kata halal. Makanan yang halal dan baik adalah makanan yang memiliki zat gizi yang cukup dan seimbang (proporsional) yang berarti sesuai dengan kebutuhan pemakan, seperti telur. Telur yang dikonsumsi harus memiliki kualitas yang baik dapat dilihat melalui warna kuning telur semakin oranye maka kadar kolesterol dalam telur semakin rendah, ketebalan telur semakin tebal akan menghambat bakteri masuk dalam telur dan juga memiliki kadar protein yang tinggi, serta tidak mengandung shubhat (keraguan tentang kehalalannya). Sehingga telur yang dimakan mampu memenuhi kebutuhan nutrisi bagi manusia.