Rimba Arif Rusmana 1) 1) Jurusan Teknik Elektro ITS, Surabaya 60111,

dokumen-dokumen yang mirip
STUDI PENGEMBANGAN SERTA PENYUSUNAN RENCANA ENERGI DAN KELISTRIKAN DAERAH DENGAN MEMANFAATKAN POTENSI ENERGI DAERAH DI KABUPATEN LAMONGAN JAWA TIMUR

STUDI PEMBANGUNAN PLTA KOLAKA 2 X 1000 KW UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN LISTRIK DI KABUPATEN KOLAKA SULAWESI TENGGARA

listrik di beberapa lokasi/wilayah.

STUDI PEMANFAATAN KOTORAN SAPI UNTUK GENSET LISTRIK BIOGAS, PENERANGAN DAN MEMASAK MENUJU DESA NONGKOJAJAR (KECAMATAN TUTUR) MANDIRI ENERGI.

ANALISIS PEMBANGUNAN PLTU MADURA KAPASITAS 2 X 200 MW SEBAGAI PROGRAM MW PT. PLN BAGI PEMENUHAN KEBUTUHAN LISTRIK DI PULAU MADURA

Satria Duta Ninggar

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

PEMBANGUNAN PLTU SKALA KECIL TERSEBAR 14 MW PROGRAM PT.PLN UNTUK MENGATASI KRISIS

Dosen Pembimbing Ir. Syariffuddin Mahmudsyah, M. Eng Ir. Teguh Yuwono

Studi Perencanaan Pembangunan PLTU Batubara Asam Asam650 MW 10 Unit DalamRangkaInterkoneksi Kalimantan - Jawa. OLEH : Gilang Velano

STUDI PENGEMBANGAN PEMBANGKIT LISTRIK PANAS BUMI (PLTP) DI JAILOLO UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN LISTRIK DI MALUKU UTARA

BAB I PENDAHULUAN. manajemen baik dari sisi demand maupun sisi supply energi. Pada kondisi saat ini

Studi Pembangunan PLTGU Senoro (2 x 120 MW) Dan Pengaruhnya Terhadap Tarif Listrik Regional di Sulawesi Tengah

ABSTRAK. Kata Kunci: RUEKD, EBT, Pembangkit Listrik, Potensi Energi Daerah, Propinsi Jawa Tengah, Kabupaten Sragen.

STUDI PERENCANAAN PLTP 2X2,5 MW UNTUK KETENAGALISTRIKAN DI LEMBATA NUSA TENGGARA TIMUR

STUDI PEMBANGUNAN PLTU KAMBANG 2x100 MW DAN PENGARUHNYA TERHADAP TARIF LISTRIK REGIONAL DI SUMATERA BARAT

OLEH :: INDRA PERMATA KUSUMA

Permasalahan. - Kapasitas terpasang 7,10 MW - Daya mampu 4,92 MW - Beban puncak 31,75 MW - Defisit daya listrik 26,83 MW - BPP sebesar Rp. 1.

BAB I PENDAHULUAN. wilayah Indonesia dan terletak di pulau Jawa bagian tengah. Daerah Istimewa

BIOGAS DARI KOTORAN SAPI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Studi Pembangunan PLTU 2x60 MW di Kabupaten Pulang Pisau berkaitan dengan Krisis Energi di Kalimantan Tengah

Studi Potensi Pemanfaatan Biogas Sebagai Pembangkit Energi Listrik di Dusun Kaliurang Timur, Kelurahan Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta

Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

ENERGI BIOMASSA, BIOGAS & BIOFUEL. Hasbullah, S.Pd, M.T.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 74 TAHUN 2010 TENTANG KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF TERTENTU DI JAWA TIMUR

III. METODE PENELITIAN. hardware Prosesor intel dual core 1,5 GHz, Memory Ram 1 GB DDR3, Hard

STUDI PEMBANGUNAN PLTU TAKALAR 300 MW DI SULAWESI SELATAN DITINJAU DARI ASPEK TEKNIS, EKONOMI DAN LINGKUNGAN.

Studi Pembangunan PLTU Sumbawa Barat 2x7 MW Untuk Memenuhi Kebutuhan Energi Listrik Di Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat

KONSERVASI DAN DIVERSIFIKASI ENERGI DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN ENERGI INDONESIA TAHUN 2040

DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan energi listrik tersebut terus dikembangkan. Kepala Satuan

STRATEGI KEN DALAM MEWUJUDKAN KETAHANAN ENERGI NASIONAL

PENDAHULUAN. Latar Belakang

Oleh: Bayu Permana Indra

STUDI PEMBANGUNAN PLTA MUARA JULOI 284 MW KABUPATEN MURUNG RAYA UNTUK MENGATASI KRISIS LISTRIK DI KALIMANTAN TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. perkiraan kapasitas pembangkit tenaga listrik.(dikutip dalam jurnal Kelistrikan. Indonesia pada Era Millinium oleh Muchlis, 2008:1)

Pemanfaatan Kotoran Sapi untuk Bahan Bakar PLT Biogas 80 KW di Desa Babadan Kecamatan Ngajum Malang

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

PROYEKSI KEBUTUHAN DAYA LISTRIK DI PROPINSI SULAWESI TENGAH TAHUN

STUDI PEMANFAATAN TINJA GAJAH UNTUK GENERATOR LISTRIK BIOGAS DI BALI SAFARI & MARINE PARK KABUPATEN GIANYAR - BALI

NASKAH PUBLIKASI DESAIN SISTEM PARALEL ENERGI LISTRIK ANTARA SEL SURYA DAN PLN UNTUK KEBUTUHAN PENERANGAN RUMAH TANGGA

BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu keharusan yang harus dipenuhi. Ketersediaan energi listrik yang

STUDI PEMANFAATAN BIOGAS SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK 10 KW KELOMPOK TANI MEKARSARI DESA

MATRIKS BUKU I RKP TAHUN 2011

PENDAHULUAN. Latar Belakang

STUDI PEMBANGUNAN PLTU TANAH GROGOT 2X7 MW DI KABUPATEN PASER KALIMANTAN TIMUR DAN PENGARUH TERHADAP TARIF LISTRIK REGIONAL KALIMANTAN TIMUR

BAB 3 PEMODELAN, ASUMSI DAN KASUS

BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya energi adalah kekayaan alam yang bernilai strategis dan

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan

I. PENDAHULUAN. optimal. Salah satu sumberdaya yang ada di Indonesia yaitu sumberdaya energi.

RENCANA UMUM ENERGI DAERAH PROVINSI (RUED-P) JAWA BARAT

KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN ENERGI NASIONAL

Tabel 3.1. Indikator Sasaran dan Target Kinerja

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I Putu Surya Atmaja. Proceeding Seminar Tugas Akhir

PERSIAPAN SUMATERA UTARA DALAM MENYUSUN RENCANA UMUM ENERGI DAERAH (RUED)

BAB I PENDAHULUAN. dan energi gas memang sudah dilakukan sejak dahulu. Pemanfaatan energi. berjuta-juta tahun untuk proses pembentukannya.

REGULASI DAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR ENERGI UNTUK PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah

Analisis Krisis Energi Listrik di Kalimantan Barat

BAB 6 P E N U T U P. Secara ringkas capaian kinerja dari masing-masing kategori dapat dilihat dalam uraian berikut ini.

BAB I PENDAHULUAN. Studi komparansi kinerja..., Askha Kusuma Putra, FT UI, 2008

BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya energi adalah segala sesuatu yang berguna dalam. membangun nilai di dalam kondisi dimana kita menemukannya.

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU, TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI. Disampaikan oleh

Kebijakan. Manajemen Energi Listrik. Oleh: Dr. Giri Wiyono, M.T. Jurusan Pendidikan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

I. PENDAHULUAN. Kelangkaan sumber bahan bakar merupakan masalah yang sering melanda

Oleh : Pressa Perdana S.S Dosen Pembimbing Ir. Syarifuddin Mahmudsyah, M.Eng - Ir. Teguh Yuwonoi -

PEMENUHAN SUMBER TENAGA LISTRIK DI INDONESIA

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

KEBIJAKAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK

KEBIJAKAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI

Pemodelan Kebutuhan Energi Sulawesi Selatan dengan Skenario Energi Baru/Terbarukan

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013

I. PENDAHULUAN. dalam melakukan penggilingan padi, keperluan irigasi, dan kegiatan yang lainnya.

Pulau Ikonis Energi Terbarukan sebagai Pulau Percontohan Mandiri Energi Terbarukan di Indonesia

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I. bergantung pada energi listrik. Sebagaimana telah diketahui untuk memperoleh energi listrik

Nama : Putri Kendaliman Wulandari NPM : Jurusan : Teknik Industri Pembimbing : Dr. Ir. Rakhma Oktavina, M.T Ratih Wulandari, S.T, M.

EFEKTIVITAS KEBIJAKAN FIT (FEED IN TARIFF) ENERGI BARU DAN TERBARUKAN DI INDONESIA. Nanda Avianto Wicaksono dan Arfie Ikhsan Firmansyah

*) Bibit Supardi, S.Pd., MT adalah guru SMAN 3 Klaten dan Alumni S2 Mikrohidro Magister Sistem Teknik UGM.

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari pulau

BAB I PENDAHULUAN. Interaksi manusia dan lingkungan hidupnya merupakan suatu proses yang

renewable energy and technology solutions

PERENCANAAN URUSAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012

Optimasi Pola Tanam Menggunakan Program Linier (Waduk Batu Tegi, Das Way Sekampung, Lampung)

Fira Nafiri ( )

BAB 4 SIMULASI DAN ANALISIS

BAB I PENDAHULUAN. terjamah oleh fasilitas pelayanan energi listrik, dikarenakan terbatasnya pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. listrik yang semakin meningkat sehingga diperlukan energy alternatif untuk energi

PENGEMBANGAN ENERGI BARU TERBARUKAN

Transkripsi:

Studi Penyusunan Rencana Energi dan Kelistrikan Daerah Di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Propinsi Sulawesi Utara. Study of arrangement of energy and district s electricity planning in North Bolaang Mongondow Regency North Sulawesi Province Rimba Arif Rusmana ) ) Jurusan Teknik Elektro ITS, Surabaya 60, email: junggle.boy2000@gmail.com Abstrak : Pada tugas akhir ini, dilakukan analisis rencana energi dan kelistrikan daerah pada Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Propinsi Sulawesi Utara. Tujuan yang ingin dicapai pada tugas akhir ini adalah pedoman dasar bagi Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dalam menyusun kebijakan pembangunan dan pengembangan energi dan kelistrikan dengan memanfaatkan potensi energi terbarukan yang ada. Metode yang digunakan antara lain pengumpulan data, pengolahan data, serta penganalisisan energi dan ketenagalistrikan. Kata kunci: Energi Terbarukan, RUEKD, Konservasi Energi, Ramah Lingkungan. I. PENDAHULUAN IV. Latar Belakang Besarnya laju pertumbuhan ekonomi yang sedemikian pesat menyebabkan tingkat pertumbuhan kebutuhan energi dan tenaga listrik di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara semakin besar. Kebutuhan tenaga listrik di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara selama ini disuplai oleh PT. PLN (Persero) Sub Sistem Bolaang Mongondow Utara, sedang kebutuhan energi (BBM) di suplai oleh Pertamina unit Pemasaran. Rasio elektrifikasi Kabupaten Bolaang mongondow Utara saat ini 58.64%. Disamping itu, kebutuhan BBM untuk masyarakat terus meningkat. Hal ini tentunya membutuhkan perencana energi dan ketenagalistrikan yang lebih komperhensif dan integral, sehingga mampu mememenuhi kebutuhan masyarakat. I.2 Perumusan Masalah Permasalahan yang dibahas akan dibatasi pada hal-hal berikut:. Kondisi eksisting ketenagalistrikan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. 2. Kondisi Indeks Pembangunan Manusia, resuksi shortfall, tingkat pendidikan, pengeluaran perkapita, dan rasio elektrifikasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara belum diketahui dan potensi pembangunan juga belum diketahui. 3. Peramalan kebutuhan energi listrik hingga 5 tahun mendatang. 4. Penganalisisan Ketersediaan energi baru terbarukan. Pembahasan mengenai energi baru terbarukan dan potensinya 5. Harga jual energi terbarukan yang ada. 6. Penganalisisan keputusan pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara terkait pembangunan pembangkit untuk pemenuhan kebutuhan listrik yang akan datang. 7. Kebijakan pemerintah dalam penggunaan energi untuk masa mendatang di setiap sektor. Pembahasan dari sisi teknis dibatasi hanya menjelaskan mengenai prinsip kerja dan penggunaan energi baru terbarukan. Pembahasan dari sisi ekonomi dibatasi hanya membahas mengenai harga jual dan kemampuan daya beli energi listrik yang bersumber dari energi baru terbarukan. I.3 Tujuan Tujuan dari tugas akhir ini antara lain:. Mencari suatu rujukan tentang sumber energi terbarukan dan kebutuhan energi makro yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara sebagai acuan penyusunan Rencana Induk Energi dan Ketenagalistrikan. 2. Memberikan gambaran peluang investasi pengembangan energi dan kelistrikan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara 3. Sebagai masukan dalam pemenuhan energi listrik di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang mengalami krisis. 4. Mendapatkan kajian tentang Penyusunan Rencana Induk Energi dan Ketenagalistrikan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara sesuai dengan potensi yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara sesuai dengan UU No.30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. 5. Mencari suatu rujukan tentang sumber energi terbarukan dan kebutuhan energi makro yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara sebagai acuan Penyusunan Rencana Induk Energi dan Ketenagalistrikan. 6. mendapat pedoman dasar bagi Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dalam menyusun kebijakan pembangunan dan pengembangan energi dan kelistrikan. II. TEORI PENUNJANG II. Peramalan kebutuhan energy dan listrik dengan Metode Regresi Linier Berganda Regresi adalah salah satu metode untuk membuat persamaan garis (kurva) secara matematis yang paling mewakili hubungan antara X dan Y. persamaan garis ini disebut sebagai persamaan regresi.

Parameter yang digunakan dalam perhitungan antara lain:. Pertumbuhan jumlah pelanggan rumah tangga 2. Pertumbuhan jumlah pelanggan bidang bisnis 3. Pertumbuhan jumlah pelanggan bidang industri 4. Pertumbuhan jumlah pelanggan publik 5. Pertumbuhan jumlah penduduk 6. Peningkatan PDRB suatu wilayah 7. Energi yang terjual Persamaan pada metode regresi multivariabel (regresi linear berganda), yaitu : Y i =β 0 +β X i +β 2 X 2i +.+β k X ki...() dimana : Y i β k : Konsumsi Energi Listrik pada Tahun i : Nilai dugaan yang akan dicari X ki : Nilai variabel / peubah Data dari beberapa tahun yang lalu disusun dalam matriks. Dengan demikian dapat dicari nilai estimasi (nilai dugaan) yang akan digunakan untuk perhitungan peramalan beban untuk tahun-tahun yang akan dating dengan persamaan matriks berikut: β =(X T X) - X T Y...(2) dimana : Y : Konsumsi Energi Listrik pada Tahun β : Nilai dugaan yang akan dicari X : Nilai variabel / peubah II.2 POTENSI ENERGI TERBARUKAN II.2. Energi Biogas Limbah peternakan merupakan salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas. Biogas merupakan sebuah proses produksi gas bio dari material organik dengan bantuan bakteri. Energi yang terkandung dalam biogas tergantung dari konsentrasi metana (CH 4 ). Tabel Kandungan Bahan Kering dan Volume Gas yang dihasilkan Setiap Jenis kotoran Jenis Banyak Kandungan Biogas Tinja BK (%) (m 3 /kg.bk) (Kg/hari) Sapi 28 20 0,023-0,040 Kambing/domba,3 26 0,040-0,059 Ayam 0,8 28 0,065-0,6 Itik 0,34 38 0,065-0,6 Babi,3 26 0,040-0,059 Manusia 0,25-0,4 23 0,020-0,028 Produksi kotoran tiap hari: Sapi dengan populasi N ekor dengan rata-rata produksi kotoran tiap harinya 28 kg/hari (tabel ) maka produksi kotoran sapi adalah: N x 28 = M kg/hari Sedangkan kandungan bahan kering untuk kotoran sapi 20% maka kandungan bahan kering total untuk kotoran sapi adalah: M x 0,2 = O kg.bk Maka potensi biogas dari kotoran sapi adalah: O x 0,03 = P m 3 Dengan demikian potensi biogas dari kotoran sapi di Kecamatan Sangkub dapat menghasilkan energi listrik sebesar : P m 3 x,25 KWh = Q KWh/hari Energi listrik dalam satu tahun = Q x 365 = R kwh/tahun II.2.2 Energi Angin Potensi energi angin untuk setiap daerah potensi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 3 berikut : 8 365 LDP P 00 3 Pa 0,5 v 000 a t = ς dengan : Pa = Potensi Energi Angin dalam kwh/tahun a...(3) 6 = 27 ς = Densitas Udara =,8 kg/m 2 V = kecepatan angin dalam m/detik LDP = Luas (Daerah Potensi) P = Prosentase luas DP yang dipergunakan untuk energi angin a l = Luas tangkapan angin dalam m 2 = ¼πD 2 D = Diameter rotor blade a t = Luas lahan yang dibutuhkan untuk (satu) turbin angin dalam m 2 II.2.3 Energi Surya Dengan mengetahui radiasi rata-rata suatu daerah bisa dihitung potensi radiasi di suatu tempat dengan persamaan berikut: p Ps = Rs LDP...(4) 00 dengan: Ps = Potensi energi surya (MW) Rs = Radiasi harian rata-rata (kw/m 2 ) LDP = Luas daerah potensi (m 2 ) P = Prosentase daerah potensi (%) Jika daya potensi energi radiasi dalam MW dihitung dengan asumsi bahwa dalam hari energi radiasi selama 8 jam (/3 hari) Maka persamaan (4) menjadi persamaan berikut : p Rs LDP Ps= 00...(5) 8 Jadi dalam setahun energi radiasi yang diterima oleh suatu daerah potensi bisa dihitung dengan persamaan berikut: = p Ps Rs LDP 00 365...(6) II.2.4 Energi Gelombang Laut Energi yang dikandung oleh gelombang laut merupakan penjumlahan dari energi kinetik dan energi potensial Besarnya kandungan energi gelombang dinyatakan dengan persamaan berikut :

2 ρ g H E =...(7) 2 dengan : E = Energi gelombang ( J m ) ρ = Berat jenis air kg = 025 3 m H = Tinggi gelombang (m) G = Gravitasi bumi = 9,8 m 2 dt Sedangkan daya gelombang dinyatakan dengan persamaan berikut: 2 2 ρ g H T P =...(8) 8π dengan : P = Daya gelombang (W/m) T = Perioda gelombang (det) Selanjutnya untuk mengetahui besar energi gelombang dalam jangka waktu setahun hasil tersebut dikalikan dengan 8760 dengan asumsi bahwa ombak secara kontinyu ada. Untuk mendapatkan potensi gelombang pada suatu DP, digunakan nilai asumsi. Nilai-nilai asumsi yang dipergunakan dalam perhitungan potensi angin yang menyebabkan gelombang yaitu panjang garis pantai (PP) dan besarnya prosentase panjang garis pantai yang dipergunakan untuk gelombang (P). Dengan demikian, persamaan (8) menjadi persamaan berikut: 2 2 ρ g H T 24 365 PP P P =...(9) 8π 000 00 dengan : PP = Panjang garis pantai P = Prosentase panjang garis pantai = % III. ENERGI DAN KETENAGALISTRIKAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA III.. Konsumsi Energi Listrik Jumlah pelanggan listrik sektor rumah tangga terus mengalami kenaikan setiap tahun. Selain itu, sektor bisnis dan sosial juga mengalami kenaikan. Tabel 2. Data jumlah pelanggan dan energi terjual setiap sektor di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Jumlah Pelanggan Energi Tahun Rumah Terjual Bisnis Industri Publik Total Tangga (Mwh) 999 32.075.66 56 978 34.275 55.29 2000 32.89.94 55.006 35.46 57.994 200 33.706.223 53.034 36.06 60.877 2002 34.328.205 50.088 36.67 63.599 2003 35.099.23 50.060 37.440 66.080 2004 36.308.462 50.22 38.942 70.435 2005 37.583.32 46.44 40.094 72.98 2006 37.793.343 45.6 40.342 74.945 2007 38.489.378 43.20 4.20 77.964 2008 39.86.42 42.235 4.875 80.848 Konsumsi energi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara adalah 6,3474% dari konsumsi energi Propinsi Sulawesi Utara. Konsumsi energi listrik Kabupaten Bolaang Mongondow Utara setiap tahun semakin bertambah. Begitu juga jumlah pelanggannya, setiap tahun bertambah. Hal ini mengindikasikan bahwa Kabupaten Bolaang Mongondow Utara merupakan daerah yang akan terus berkembang. Jumlah penduduk Kabupaten Bolaang Mongondow Utara adalah 69.358 jiwa. Konsumsi energi listrik bernilai 80.848.000 kwh Dengan demikian, dapat diketahui konsumsi energi listrik perkapita Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dengan persamaan berikut: 80.848.000 kwh Energi perkapita = 69.358 = 65,66 kwh perkapita Dapat dilihat bahwa konsumsi energi perkapita Kabupaten Bolaang Mongondow Utara berada diatas energi perkapita Propinsi Sulawesi Utara yang hanya 582,42 kwh. III.2. Pendapatan Regional Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku Kabupaten Bolaang Mongondow Utara tahun 2007 terhitung sebesar 480 Miliyar Rupiah. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara tahun 2007 sebesar 6,8 persen. IV. ANALISIS PERENCANAAN ENERGI DAN KETENAGALISTRIKAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA IV. Analisis Human Development Indeks dengan Energi dan Kelistrikan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara merupakan daerah dimana rencana pemanfaatan energi alternatif dilakukan. Dari penyusunan IPM di atas dapat diketahui beberapa hal antara lain :. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara mempunyai IPM Tinggi yaitu 7,84 dan reduksi shortfallnya rendah yaitu,66 sehingga memungkinkan dilakukan pembangunan di berbagai sektor. 2. Tingkat pendidikan di daerah ini tergolong rendah dan dibawah rata-rata yaitu 8,3 sehingga kurang mendukung proses pembangunan. 3. Tingkat perekonomian di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara kurang baik, pengeluaran perkapita di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara bernilai Rp. 620.30,00. diharapkan dengan adanya pemanfaatan energi terbarukan dapat lebih meningkatkan perekonomian di berbagai sektor. 4. Rasio Elektrifikasi rendah yaitu 58.42% dibandingkan dengan rasio elektrifikasi Sulawesi Utara yang bernilai 60,5% dan Indonesia yang bernilai 62,42%. Dengan demikian perlu ada pemanfaatan sumber energi alternatif di daerah ini yang akan meningkatkan rasio elektrifikasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara karena masih banyak rumah tangga yang belum dialiri listrik.

IV.2 Peramalan Kebutuhan Listrik Metode regresi linier digunakan dalam peramalan kebutuhan listrik Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Perkiraan konsumsi energi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara hingga tahun 2025 dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3 Proyeksi Kebutuhan beban Kab. Bolaang Mongondow Utara Tahun Energi terjual (MWH) 2009 83.732 200 86.59 20 89.450 202 92.309 203 95.68 204 98.028 205 00.887 206 03.746 207 06.605 208 09.464 209 2.323 2020 5.82 202 8.04 2022 20.900 2023 23.760 2024 26.69 2025 29.478 Tabel 4 Proyeksi Konsumsi energi listrik per sector pelanggan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara KONSUMSI ENERGI LISTRIK PER SEKTOR (MWH) Tahun Rumah Tangga Bisnis Industri Publik Jumlah 2009 66.7,36 8.967,85 290.78 7.778,76 83.732 200 69.223,6 9.43,36 296.96 7.95,47 86.59 20 7.734,97 9.38,88 296.96 8.24,7 89.450 202 74.246,78 9.494,39 303.5 8.296,87 92.309 203 76.758,58 9.669,9 303.5 8.469,57 95.68 204 79.270,39 9.845,42 303.5 8.642,28 98.028 205 8.782,20 0.020,94 309.34 8.84,98 00.887 206 84.294,00 0.96,45 309.34 8.987,68 03.746 207 86.805,8 0.37,97 35.52 9.60,39 06.605 208 89.37,6 0.547,48 35.52 9.333,09 09.464 209 9.829,42 0.723,00 32.7 9.505,79 2.323 2020 94.34,23 0.898,5 32.7 9.678,49 5.82 202 96.853,03.074,03 327.90 9.85,20 8.04 2022 99.364,84.249,54 327.90 0.023,90 20.900 2023 0.876,65.425,06 334.08 0.96,60 23.760 2024 04.388,45.600,57 334.08 0.369,3 26.69 2025 06.900,26.776,09 340.27 0.542,0 29.478 IV.3 Analisis beban puncak Peningkatan kebutuhan energi listrik setiap tahun, Pada tahun 2025 energi yang dibutuhkan untuk melayani kebutuhan beban di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara sebesar 29.478 MWh. Daya (beban puncak) yang dibutuhkan untuk tahun 2025 adalah sebesar 29.478/8760 = 5 MW, ( tahun = 8760 jam). Terlihat bahwa mulai tahun 2009 sampai tahun 2025, kebutuhan energi listrik di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara terus mengalami kenaikan dengan laju pertambahan 2,22%. Diperlukan pembangunan pembangkitpembangkit baru guna mengatasi kebutuhan energi listrik di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara untuk tahun-tahun mendatang. IV.4 Analisis Potensi Energi dan Ketenagalistrikan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Potensi energi tidak terbarukan di Bolaang Mongondow Utara masih belum ditemukan. Disamping itu tidak ada juga perusahaan penggilingan minyak bumi, pengolahan gas bumi, barang-barang dari hasil penggilingan minyak bumi. Energi terbarukan yang dibahas sebagai energi input pembangkit listrik antara lain energi biogas, energi angin, energi matahari dan gelombang laut. Energi yang digunakan sebagai pengganti energi primer adalah energi biomassa. Sumber energi biomassa bisa berupa sampah hasil pertanian dan sampah rumah tangga. Potensi energi terbarukan yang ada dapat dihitung dengan menggunakan persamaan-persamaan dalam pemanfaatan energi terbarukan. Berikut perhitungan potensi energi terbarukan yang ada.. Potensi Energi Biogas Jumlah populasi ternak di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara cukup banyak untuk dikumpulkan kotorannya kemudian dijadikan bahan baku untuk membuat biogas. Berdasarkan rumus yang ada pada bagian dua proceeding ini, dilakukan perhitungan. Kemudian didapatkan potensi energi total dan energi di setiap kecamatan yang dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5 Potensi Energi Biogas di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Listrik Terbangkit Kecamatan Potensi (kw) Daya (kw) Energi pertahun (MWh) Sangkub 6.597 4.979 43.65,723 Bintauna 7.773 5.332 46.706,582 Bolang Itang Timur 2.042 6.33 55.298,603 Bolang Itang Barat 5.56 4.655 40.775,770 Kaidipang 2.374 3.72 32.59,286 Pinogaluman 8.756 5.627 49.289,654 Bolmog Utara 02.057 30.67 268.205,67 2. Potensi Energi Gelombang Laut Kabupaten Bolaang Monogndow Utara memiliki wilayah garis pantai di sebelah utara wilayah Kabupaten Bolaang Monogndow Utara dengan total panjang garis pantai ± 40 km. wilayah Kabupaten Bolaang Monogndow Utara memiliki rata-rata tinggi gelombang,75 m dengan periode 0 detik. Digunakan prosentase panjang garis

pantai %. Dengan demikian dapat dihitung potensi energi gelombang laut sebagai berikut. 2 2 025 9,8,75 0 P = 8 3,4 P = 480.056,62 W/m Selanjutnya untuk mengetahui besar energi gelombang dalam jangka waktu setahun hasil tersebut dikalikan dengan 8760 dengan asumsi bahwa ombak secara kontinyu ada. 24 365 40 P = 480,056 = 6,82 MWh/tahun 000 00 Gambar Peta Kab. Bolaang Mongondow Utara 3. Potensi Energi Surya Radiasi Harian Rata-rata energi surya Kabupaten Bolaang Mongondow Utara adalah 5, kw/m 2 sedangkan luas daerah yang berpotensi energi surya sebesar % dari total luas Kabupaten Bolaang Mongondow Utara,.856,9 km 2, sedangkan durasi radiasi matahari ke bumi diasumsikan selama 8 jam perhari. didapatkan: Ps = 5,.856,9 = 94.7 MW 00 Jika daya potensi energi radiasi dalam MW dihitung dengan asumsi bahwa dalam hari energi radiasi selama 8 jam: 94.7 Ps = MW =,84 MW 8 Jadi dalam setahun energi radiasi yang diterima oleh suatu daerah potensi bisa dihitung: Ps =,84 365= 4,32 GWh. 4. Potensi Energi Angin Kecepatan rata-rata angin di Kabupaten Bolaang Monogndow Utara sebesar 2, knot. Perhitungan potensi tenaga angin dilakukan dengan asumsi Diameter rotor blade yang digunakan 3 m sehingga luas tangkapan angin untuk satu buah turbin angin sebesar 7,068 m 2 Luas daerah yang dibutuhkan untuk satu turbin angin adalah 5 5 m 2 Energi angin perhari diperoleh selama 8 jam (/3 hari) Prosentase daerah potensi yang digunakan adalah % luas Kecamatan Pinogaluman, Kecamatan Kadipang, Kecamatan Bintauna, dan Kecamatan Sangkub. Berikut perhitungan berdasarkan rumus:.7 6 8 365 Pa = 0,5,8.0 00 7,068 27 000 5 5 Pa = 32.549 kwh/tahun Kapasitas PLT Angin = 3,756 kw. 5. Potensi Energi Biomassa Potensi Energi Biomassa yang ada di Kabupaten Bolaang Monogndow Utara sangat besar. Produksi minyak nabati setiap tahun sebesar 27.820 ton dengan luas lahan 6.695 Ha sebagian produknya dapat digunakan untuk bahan baku pembuatan biodiesel. Produksi jagung 27.504 ton/tahun, ubi kayu 3.682 ton/tahun, dan ubi jalar 2.283 ton/tahun sebagian dapat digunakan untuk bahan baku pembuatan bioetanol. Perhitungan potensi energi dilakukan sesuai dengan persamaan yang ada pada bagian kedua proceeding ini. Hasil yang didaptkan dengan menggunakan 20% hasil produksi tahunan bahan baku yang ada yaitu Bioethanol 2.380,097 kliter dan biodiesel 4.385,8 kliter pertahun nya Data hasil perhitungan potensi energi tebarukan terdapat pada tabel 6. Tabel 6 potensi energi terbarukan Kab. Bolaang Mongondow Utara Jenis Energi Sumber Daya Kapasitas Terpasang Biogas 02.057 MWh 25 MW Gelombang Laut 6,82 MWh 92 kw Tenaga Surya 4,23 GWh,84 MW Tenaga Angin 32,55 MWh 3,7 kw IV.5 Analisis Aspek Ekonomi Harga jual energi terbarukan yang ada di Kabupaten Bolaang Monogndow Utara dapat dilihat pada tabel 7. Harga jual ini diperoleh dengan melakukan perhitungan menggunakan persamaanpersamaan untuk melakukan analisis ekonomi. Daya beli energi listrik masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara bernilai Rp..092,-/kWh. Sharing pendanaan dapat dilakukan sehingga dapat menekan biaya pembangkitan energi listrik setiap kwh. Hasil yang didaptkan dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 7 Sharing Pendanaan Harga Jual Energi Listrik Jenis Energi Biogas Angin Gelombang Laut Surya Sharing Total Cost Biaya Pendanaan (Rp./kWh) Pembangkitan Pem. Mas. (US$/kW) i=6% i=9% i=2% (%) (%) ket 80 20 760 30 308 35 70 30 665 32 32 333 Layak 60 40 570 322 335 350 80 20.760 299 34 332 Tidak 70 30.540 323 346 372 Layak 60 40.320 348 378 43 80 20 4.400 472 50 554 70 30 3.850 533 590 656 Tidak Layak 60 40.380 962.50.370 80 20 6.60 50 554 66 Tidak 70 30 5.390 587 666 758 Layak 60 40 2.30.87.450.758

IV.6 Analisis Keputusan Pemanfaatan Energi Terbarukan Penentuan keputusan perlu dilakukan skala proiritas pembangunan pembangkit pertama untuk pemenuhan kebutuhan lokal dan untuk tujuan jangka panjang. Aspek yang perlu ada antara lain aspek teknis, aspek lingkungan, dan aspek ekonomis. Aspek teknis meliputi cadangan bahan baku dan penguasaan teknologi. Aspek lingkungan meliputi penanganan limbah, penanggulangan bila terjadi pencemaran, dan akibat pencemaran terhadap makhluk hidup. Berdasarkan skala prioritas dapat disusun pengembangan dan pemanfaatan energi pada tabel 8. Tabel 8 Hasil Analisis Keputusan Prioritas Pemanfaatan Energi Terbarukan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Jenis Teknis Lingkungan Ekonomis Energi A B A B C Total Prioritas Biogas +0 +5 +5 +5 +5 +5 +35 I Angin -5 +5-0 +0 +0 +0 +20 IV Surya +0-5 -0 +0 +0 +0 +25 II Gel. Laut +5-5 -5 +0 +0 +0 +25 III V. PENUTUP IV. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:. Saat ini beban puncak di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara 2,9 MW dan belum ada pembangkit listrik sama sekali untuk menunjang pembangunan yang ada. 2. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara mempunyai IPM rata-rata sebesar 7,68 reduksi shortfall sebesar sebesar,66 tingkat pendidikan sebesar 8,3%, pengeluaran perkapita sebesar Rp. 620.30,00 dan rasio elektrifikasi sebesar 58,64%. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara berpotensi untuk melakukan pembangunan di berbagai sektor dan untuk mencapai rasio elektrifikasi 00% harus dibangun pembangkit baru. 3. Berdasarkan peramalan konsumsi energi listrik hingga 2025, pembangunan pembangkit energi listrik menggunakan EBT Biogas dengan kapasitas 25 MW mampu memenuhi kebutuhan listrik Kabupaten Bolaang Mongondow Utara pada tahun 202 dengan biaya awal 26 miliyar rupiah. Harga jual energi PLT biogas Rp 35,2/kWh dengan suku bunga 2% dan sharing pendanaan pemerintah 80% dan masyarakat 20%. 4. Jumlah energi biogas yang ada dapat digunakan untuk membangun PLT Biogas dengan kapasitas 25 MW. Jumlah energi angin yang ada dapat digunakan sebagai bahan baku PLT Angin dengan kapasitas 3,7 kw. Energi gelombang laut dapat digunakan untuk membangkitkan listrik dengan PLT Gel.Laut yang berkapasitas 92 kw. Energi surya yang tersedia dapat digunakan untuk PLT Surya,8 MW di Kecamatan Bolaang Mongondow Utara. Disamping itu, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara mampu memproduksi Bioethanol 2.380,097 kliter dan biodiesel 4.385,8 kliter pertahun. 5. Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dapat memutuskan membangun PLT Biogas dengan kapasitas 25 MW. 6. Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dapat memutuskan membangun PLT Biogas jika dilihat dari sisi teknis dan ekonomis. Disamping itu, dapat dilakukan diversifikasi pemakaian BBM ke BBN. Misalnya, Solar digantikan dengan biosolar dengan merek dagang B5 yang merupakan campuran dari biodiesel dan solar. Sedangkan premium dapat digantikan dengan Biopremium yang merupakan campuran dari premium dengan Bioethanol dengan merek dagang E5. 7. Program Diversifikasi BBM menjadi BBN pada tiap sektor berbeda beda. Sektor Rumah tangga misalnya, lebih ditekankan pada penggantian pemakaian BBM dari 44 % menjadi 40% BBM dan BBN sebanyak 20%. Pemakaian kerosin menjadi LPG (0%) dan biogas (7%). Sektor transportasi akan ditekankan pada penggantian pemakaian BBM berupa Premium dan solar dari 44% menjadi 30% ditambah BBN dengan nilai 30% berupa biopremium dan biosolar. Sektor Industri pemakaian BBM premium dan solar sebanyak 44% turun menjadi 30% ditambah BBN biosolar dan biopremium sebanyak 23%. IV.2 Saran Perlu adanya koordinasi antara pemerintahan dengan penyedia listrik nasional tentang harga energi primer, sehingga kebijakan yang diambil tidak memberatkan salah satu pihak. 2 Strategi pembangunan ketenagalistrikan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara haruslah mengutamakan pembangkit yang memanfaatkan energi dengan efisien, ekonomis, serta ramah lingkungan. Sehingga membawa suasana kondusif bagi pengusahaan ketenagalistrikan daerah. Serta sedapat mungkin memberi peluang lapangan kerja seluas-luasnya bagi masyarakat sekitar. 3 Masih perlu eksplorasi energi baru terbarukan lebih lanjut, sehingga potensi energi yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit, untuk meningkatkan perekonomian di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. DAFTAR PUSTAKA [] Mahmudsyah, Syariffuddin, Ir. M.Eng., dan Anam, Sjamsjul, Ir., Diktat Kuliah : Manajemen Sistem Energi, Teknik Elektro - FTI ITS,

Surabaya, 996. [2] Badan Koordinasi Energi Nasional, Kebijaksanaan Umum Bidang Energi, Departemen Pertambangan dan Energi, Jakarta, September 99. [3] Badan Koordinasi Energi Nasionat, Kebyaksanaan Umum Bidang Energi, Departemen Pertambangan dan Energi, Jakarta, 27 Juli 2000. [4] Majalah Elektro Indonesia, Pengembangan Energi Terbarukan Sebagai Energi Aditif di Indonesia, Elektro Online dan Indosat Net, 997. 4 [5]..., Human Development Index, UNDP (United Nation Developmen Program) 2008, 2009 [6]..., Bolaang Mongondow Utara Dalam Angka, Badan Pusat Statistik dan Pemerintah Sulawesi Utara 200, http://sulut.bps.go.id [7]..., Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2008-2027, Departemen Energi dan Sumber daya mineral, 2008 [8]..., Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, http://bolmutkab.go.id VII RIWAYAT HIDUP Rimba Arif Rusmana dilahirkan di Kediri, 5 Oktober 988. Penulis adalah putra kedua dari tiga bersaudara. Penulis memulai jenjang pendidikannya di SDN Pucang I Sidoarjo, SLTP Negeri 5 Sidoarjo, serta SMA Negeri Sidoarjo hingga lulus tahun 2005. Pada tahun yang sama, penulis masuk ke Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS lewat jalur SPMB dan mengambil bidang studi Teknik Sistem Tenaga. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif sebagai asisten untuk Praktikum Konversi Tenaga Listrik di Laboratorium Konversi Energi Listrik.