BAB III SOLUSI BISNIS

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III SOLUSI BISNIS

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

BAB I PENDAHULUAN. lemak, laktosa, mineral, vitamin, dan enzim-enzim (Djaafar dan Rahayu, 2007).

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA

PETUNJUK PENGISIAN KATEGORISASI TINGKAT RISIKO PENILAIAN DAN PENDAFTARAN ULANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian (Kotler dan Amstrong, 2004;283)

BAB IV RENCANA IMPLEMENTASI DAN KEBUTUHAN SUMBER DAYA

SURYA AGRITAMA Volume 4 Nomor 1 Maret 2015

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pasar pada saat ini semakin meningkat sehingga membuat

1. mutu berkecambah biji sangat baik 2. dihasilkan flavour yang lebih baik 3. lebih awet selama penyimpanan

VII ANALISIS TINGKAT KEPENTINGAN DAN TINGKAT KINERJA

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan bahan-bahan yang dapat dikonsumsi sehari-hari untuk. cair. Pangan merupakan istilah sehari-hari yang digunakan untuk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pemasaran merupakan suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Observasi Sejarah Perusahaan

BLANSING PASTEURISASI DAN STERIISASI

Teti Estiasih - THP - FTP - UB

MIKROORGANISME DALAM PENGEMAS ASEPTIK PENGENDALIAN MUTU MIKROORGANISME PANGAN KULIAH MIKROBIOLOGI PANGAN PERTEMUAN KE-12

BAB I PENDAHULUAN. urbanisasi dan peningkatan pendapatan, serta tren kebugaran dan kesehatan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. laktasi oleh hewan dengan tujuan sebagai sumber nutrisi dan memberikan

PENDAHULUAN Latar Belakang

VII. ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN Analisis Tingkat Kepentingan dan Kinerja Terhadap Atribut Susu Sehat (Importance Performance Analysis)

BAB II GAMBARAN UMUM JAPANESE ROLL CAKE

BAB 1 PENDAHULUAN. menggunakan air panas. Susu kedelai berwarna putih seperti susu sapi dan

TEKNOLOGI HASIL TERNAK. Kuliah ke 2

BAB I PENDAHULUAN. kita sebagai bangsa yang dijajah, serba kekurangan dan miskin menggangap

BAB I PENDAHULUAN. Susu adalah bahan pangan yang dikenal kaya akan zat gizi yang

BAB II EKSPLORASI ISU BISNIS

BAB IV RESPONS MIKROBIA TERHADAP SUHU TINGGI

Homogenisasi, Separasi, Susu Steril

STRATEGI DAN TAKTIK KOMUNIKASI PEMASARAN PT ULTRAJAYA MILK INDUSTRY Tbk. UNTUK EDUKASI MENGENAI BAHAN PENGAWET DI DALAM SUSU ULTRA PROYEK AKHIR

TINJAUAN PUSTAKA. Susu

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan masa-masa yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan ekonomi dan industri nasional saat ini

STRATEGI DAN TAKTIK KOMUNIKASI PEMASARAN PT ULTRAJAYA MILK INDUSTRY Tbk. UNTUK EDUKASI MENGENAI MANFAAT SUSU ULTRA DALAM MENCEGAH OSTEOPOROSIS

BAB I PENDAHULUAN. arah pasar konsumen artinya kondisi pasar di tangan konsumen. Konsumen. bebas menggunakan uang yang dimilikinya serta bebas untuk

BAB I PENDAHULUAN. pasar yang dapat memuaskan keinginan maupun kebutuhan. Produk dapat dibedakan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

PENJABARAN RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN Minggu ke-4

Pengawetan dengan Suhu Tinggi

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku Konsumen

PENDAHULUAN. Latar Belakang. suatu negara. Produksi susu menjadi suatu tolak ukur dalam program

II. TINJAUAN PUSTAKA Susu UHT

LEMBAR KUESIONER PENILAIAN SENSORIS PRODUK SUSU UHT FULL CREAM PADA RESPONDEN DEWASA

STRATEGI DAN TAKTIK KOMUNIKASI PEMASARAN PT ULTRAJAYA MILK INDUSTRY Tbk. UNTUK EDUKASI MENGENAI PENGARUH MINUM SUSU ULTRA TERHADAP BERAT BADAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Kita hidup di dunia ini dilengkapi dengan lima indra yaitu penglihatan,

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii MOTTO... iii HALAMAN PERSEMBAHAN... iv ABSTRAKSI... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI...

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. dari kedelai yang melalui proses fermentasi. Berdasarkan data dari BPS, produksi

VI. ANALISIS SIKAP DAN PREFERENSI KONSUMEN MINUMAN PROBIOTIK (YAKULT DAN VITACHARAM)

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan lainnya. Persaingan terjadi pada beberapa sektor baik industri jasa dan

BAB 1 PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kondisi pemasaran produk yang semakin dinamis menyebabkan persaingan ketat

PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TEHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI, DAN ORGANOLEPTIK PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING. (Laporan Penelitian) Oleh

Tidak ada makanan yang steril Mikroorganisme : bakteri, kapang, khamir Bakteri dalam bahan makanan :

PENGERINGAN PENDAHULUAN PRINSIP DAN TUJUAN PENGOLAHAN SECARA PENGERINGAN FAKTOR-FAKTOR PENGERINGAN PERLAKUAN SEBELUM DAN SETELAH PENGERINGAN

TEKNOLOGI MANAJEMEN PENGEMASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gizi yang tinggi seperti protein, lemak, mineral dan beberapa vitamin lainnya

PROPOSAL KEGIATAN PRAKTIK KERJA LAPANG PENGAWASAN MUTU PROSES PRODUKSI SUSU UHT (Ultra High Temperature) DI PT. ULTRA JAYA MILK INDUSTRI BANDUNG

Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK

TINJAUAN PUSTAKA Penelitian Terdahulu

TEKNIK PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN Interaksi Bahan dan Teknologi Pengemasan

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Food SUSU SUSU. Mitos. Minum BISA PACU TINGGI BADAN? Susu BISA GANTIKAN. for Kids. Makanan Utama? pada Bumil. Edisi 6 Juni Vol

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB VIII ANALISIS TINGKAT KEPENTINGAN DAN KINERJA

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Konsumen

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dan merupakan hasil olahan dari kacang kedelai yang kaya akan

BAB III MATERI DAN METODE. super merah dilaksanakan pada bulan Februari - Maret 2017, pengujian overrun,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Lingkungan merupakan sesuatu yang berada disekitar manusia secara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2 ekspor Hasil Perikanan Indonesia. Meskipun sebenarnya telah diterapkan suatu program manajemen mutu terpadu berdasarkan prinsip hazard analysis crit

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan oleh tubuh manusia. Konsumsi Susu pada saat remaja terutama

BAB I PENDAHULUAN. yang hendak dikonsumsi oleh semua masyarakat Indonesia. Keamanan pangan bukan

IX. PENGEMASAN ASEPTIK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Saat ini, plastik banyak digunakan sebagai kemasan makanan dan minuman.

BAB I PENDAHULUAN. lalu. Di negara Swiss terdapat lukisan pada tahun 1850 yang memperlihatkan bahwa

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

BAB I PENDAHULUAN. yang tidak memenuhi syarat, dan terhadap kerugian sebagai akibat produksi,

STRATEGI DAN TAKTIK KOMUNIKASI PEMASARAN PT ULTRAJAYA MILK INDUSTRY Tbk. UNTUK EDUKASI MENGENAI KANDUNGAN GIZI SUSU ULTRA PROYEK AKHIR

BAB I. PENDAHULUAN. gizi yang tinggi yang disekresikan oleh kelenjar mamae dari hewan betina

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, penulis

TEKNIK PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN

Buletin Peternakan Edisi IV 2017 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Sulawesi Selatan

PENGEMASAN INTRODUCTION PASSIVE PACKAGING INTRODUCTION 12/20/2012. Klasifikasi Beberapa Jenis Kemasan :

BAB I PENDAHULUAN. untuk mendapatkan pelanggan baru serta mempertahankan pelanggan yang sudah ada

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN SUSU UHT MEREK REAL GOOD DI KOTA BOGOR. Oleh : YUSTIKA MUHARASTRI A

Transkripsi:

BAB III SOLUSI BISNIS Berdasarkan hasil analisis pada akar permasalahan di Bab II, dapat disimpulkan bahwa permasalahan bagi PT Ultrajaya pada saat ini adalah minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai manfaat dan keunggulan produk susu cair. Hal ini menimbulkan persepsi yang tidak tepat terhadap produk susu cair. Dari Tabel 2.8 dapat dilihat bahwa persepsi mahasiswi mengenai susu cair yang tidak tepat antara lain : Susu cair dianggap memiliki kandungan gizi yang lebih rendah Susu cair dianggap memiliki kandungan bahan pengawet yang lebih banyak Susu cair dianggap kurang dapat mencegah terjadinya osteoporosis Susu cair dianggap lebih dapat memicu kegemukan dibandingkan dengan susu bubuk. Susu cair dianggap kurang dapat bermanfaat bagi kecerdasan otak Susu cair dianggap kurang dapat bermanfaat bagi pertumbuhan tubuh Oleh sebab itu, solusi bisnis yang tepat bagi PT Ultrajaya adalah melakukan edukasi terhadap mahasiswi sebagai calon ibu yang nantinya akan menjadi decision maker dalam pembelian susu. Dalam projek akhir ini akan dibahas mengenai edukasi untuk mengubah persepsi mahasiswi mengenai kandungan bahan pengawet di dalam susu cair. Persepsi yang yang berkembang di masyarakat adalah adanya bahan pengawet di dalam susu cair seperti dapat dilihat pada hasil FGD di bawah ini. 79

Susu cair pasti mengandung bahan pengawet karena semua minuman dalam kemasan pasti berpengawet. Susu bubuk berbentuk padat sehingga akan lebih tahan lama jadi pengawetnya pasti sedikit. (FGD Kelompok III,2007) Dari hasil FGD di atas, dapat dilihat bahwa ibu-ibu memiliki persepsi bahwa susu cair memiliki kandungan bahan pengawet bahkan dianggap kandungan bahan pengawet yang terdapat di dalam susu cair tersebut lebih besar dibandingkan dengan susu bubuk. Hasil ini juga didukung oleh hasil kuesioner yang dibagikan kepada para mahasiswi dimana persepsi mahasiswi juga menganggap bahwa susu cair mengandung bahan pengawet yang lebih banyak dibandingkan dengan susu bubuk. Persepsi yang salah tersebut dapat menjadi salah satu penyebab rendahnya konsumsi susu cair dibandingkan dengan susu bubuk karena masyarakat cenderung mulai takut akan dampak buruk yang diakibatkan oleh bahan pengawet seperti penyakit kanker. Persepsi tersebut dapat berkembang di masyarakat karena masyarakat melakukan generalisasi terhadap semua minuman di Indonesia yang kebanyakan mengandung bahan pengawet dan juga kebanyakan tidak memiliki pengetahuan mengenai UHT dan kemasan aseptik yang digunakan oleh susu cair UHT. Padahal, susu cair yang menggunakan teknologi UHT dan kemasan aseptik tidak mengandung bahan pengawet di dalamnya karena : a) Teknologi UHT dapat membunuh semua mikroorganisme yang terdapat di dalam susu seperti tercantum dalam pernyataan berikut : Untuk susu UHT (ultra high temperature), pengolahan susu segar ini menggunakan pemanasan suhu tinggi (135-145 derajat celcius) dalam waktu yang relatif singakt 2-5 detik. Proses pemasanan seperti itu selain dapat membunuh seluruh mikroorganisme (bakteri pembusuk maupun patogen) dan spora (jamur) juga untuk mencegah kerusakan nilai gizi. Bahkan dengan proses UHT, warna, aroma dan rasa relatif tidak berubah dari aslinya sebagai susu segar. (KeluargaSehat.com, 2004) b) Kemasan aseptik dapat melindungi susu dari lingkungan luar baik mikroorganisme maupun cahaya sehingga susu cair tersebut dapat bertahan lama dan kualitasnya dapat terjaga dengan baik seperti tercantum dalam pernyataan berikut : 80

Teknologi pengemasan aseptic pada 1989, yang menggunakan enam lapis kertas, plastik polyethylene, dan alumunium foil yang mampu melindungi susu dari udara luar, cahaya, kelembaban, aroma luar, dan bakteri. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, n.d.) Oleh karena itu, PT Ultrajaya perlu menyampaikan fakta-fakta tersebut kepada mahasiswi melalui suatu edukasi agar dapat mengubah persepsi mahasiswi yang salah mengenai kandungan bahan pengawet di dalam susu cair. Proses edukasi ini dapat dilakukan melalui beberapa alternatif seperti yang akan dibahas pada subbab selanjutnya. 3.1. Alternatif Solusi Bisnis Produk susu merupakan produk yang berhubungan dengan kesehatan, sehingga tentu saja evaluasi dalam pembelian produk susu akan berbeda dengan evaluasi dalam pembelian produk lain. Pada produk susu, faktor kepercayaan akan sangat berpengaruh pada proses evaluasi pembelian susu. Oleh sebab itu, agar dapat melakukan edukasi yang efektif, maka proses edukasi ini harus dilakukan berdasarkan atribut-atribut yang menjadi pembentuk kepercayaan target edukasi. Dari hasil FGD dan brainstorming, terdapat 14 buah atribut yang dapat membentuk kepercayaan seseorang dalam pemilihan produk susu. Namun, tidak semua atribut tersebut dapat membentuk kepercayaan mahasiswi terhadap produk susu. Untuk segmen mahasiswi ini, atribut-atribut yang dapat membentuk kepercayaan dalam pemilihan produk susu dapat dilihat pada subbab 2.4.1.4 sebelumnya. Urutan atribut-atribut yang dipercaya tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut. Tabel 3.1. Atribut-Atribut Pembentuk Kepercayaan Urutan Atribut yang Dipercaya 1 Pengalaman pribadi 2 Ada pembuktian secara langsung 3 Pendapat ahli 4 Pengalaman orang lain 5 Brand/merek ternama 6 Reputasi produsen yang baik 7 Banyak yang mengkonsumsi 81

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa terdapat tujuh atribut yang dapat membentuk kepercayaan mahasiswi terhadap produk susu. Ketujuh atribut tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alternatif dalam melakukan edukasi terhadap persepsi-persepsi susu cair yang tidak tepat. 3.2. Analisis Solusi Bisnis Berdasarkan data di atas, terdapat tujuh buah alternatif untuk menyampaikan edukasi mengenai kandungan bahan pengawet di dalam susu cair. Dari ketujuh alternatif pembentuk kepercayaan tersebut, tidak semua atribut dapat efektif digunakan dalam mengubah persepsi mahasiswi terhadap kandungan bahan pengawet di dalam susu cair. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis terhadap ketujuh alternatif tersebut. Adapun analisis dari masing-masing alternatif tersebut adalah sebagai berikut : 1. Pengalaman pribadi Pengalaman pribadi diperoleh dari hasil pengalamannya selama menggunakan atau mengkonsumsi suatu produk. Untuk membuktikan bahwa susu cair tidak mengandung bahan pengawet, pengalaman pribadi tidak dapat digunakan karena ada atau tidaknya kandungan bahan pengawet di dalam suatu produk harus dilakukan melalui pengujian. Hal ini akan berbeda apabila dilakukan eksperimen mengenai rasa makanan lewat pengalaman pribadi karena kualitas rasa tersebut dapat diketahui secara langsung hasilnya apakah rasa makanan tersebut enak atau tidak. Oleh karena itu, meskipun pengalaman pribadi menempati urutan pertama dalam hal pembentuk kepercayaan mahasiswi terhadap susu cair, atribut tersebut tidak dapat digunakan untuk mengubah persepsi mahasiswi mengenai kandungan bahan pengawet di dalam susu cair. 2. Ada pembuktian secara langsung Pembuktian secara langsung dapat membentuk kepercayaan seseorang karena orang tersebut terlibat atau melihat secara langsung proses pengujiannya sehingga tidak disangsikan kebenarannya. Untuk pembuktian langsung mengenai kandungan bahan pengawet dapat dilakukan dengan melakukan pengujian. Oleh karena itu, pembuktian secara langsung dapat digunakan oleh 82

PT Ultrajaya untuk mengubah persepsi mahasiswi mengenai kandungan bahan pengawet di dalam susu cair. 3. Pendapat ahli Produk susu merupakan produk yang berpengaruh terhadap kesehatan manusia sehingga seseorang akan percaya kepada pendapat orang-orang yang memang ahli di bidangnya. Oleh karena itu, pendapat ahli tersebut dapat digunakan untuk mengubah persepsi mahasiswi mengenai kandungan bahan pengawet di dalam susu cair. Adapun ahli yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai kandungan bahan pengawet ini adalah ahli dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan ahli gizi. 4. Pengalaman orang lain Pengalaman orang lain merupakan salah satu alternatif cara yang dapat membentuk kepercayaan mahasiswi terhadap produk susu. Hal ini berarti mahasiswi akan cenderung percaya dengan pendapat orang lain yang telah mencoba dan merasakan manfaat dari suatu produk susu. Akan tetapi, untuk mengetahui apakah susu cair tersebut mengandung bahan pengawet atau tidak, diperlukan suatu bukti atau penelitian karena kandungan bahan pengawet tidak dapat diketahui secara langsung oleh orang lain yang telah merasakan produk tersebut. Oleh karena itu, pengalaman orang lain sulit digunakan untuk mengubah persepsi mahasiswi mengenai kandungan bahan pengawet di dalam susu cair. 5. Brand/merek ternama Atribut brand/merek ternama dinilai dapat membentuk kepercayaan mahasiswi terhadap produk susu. Hal ini menggambarkan bahwa mahasiswi akan cenderung percaya pada produk susu yang telah memiliki brand yang terkenal. Brand susu Ultra merupakan brand susu cair yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini terlihat dari hasil FGD yang menggambarkan bahwa semua peserta telah mengetahui brand susu Ultra. Selain itu, brand susu Ultra juga sudah berhasil meraih penghargaan berupa Superbrands. Akan 83

tetapi, atribut brand/merek ternama tersebut tidak dapat digunakan untuk mengedukasi mahasiswi mengenai kandungan pengawet karena lewat brand tersebut mahasiswi tidak dapat mengetahui apakah susu cair tersebut mengandung pengawet atau tidak. 6. Reputasi produsen yang baik Atribut pembentuk kepercayaan ini menggambarkan bahwa mahasiswi akan percaya terhadap produk susu jika produsen telah memiliki reputasi yang baik seperti meraih sertifikat ISO, penghargaan atas kepuasan pelanggan, image yang baik di mata masyarakat karena memiliki kepedulian sosial, dan sebagainya. Akan tetapi, reputasi produsen ini tidak dapat digunakan untuk mengedukasi mahasiswi mengenai kandungan pengawet karena reputasi produsen yang baik tidak dapat membuktikan apakah susu cair tersebut mengandung bahan pengawet atau tidak. 7. Banyak yang mengkonsumsi Atribut pembentuk kepercayaan ini menggambarkan bahwa mahasiswi akan percaya terhadap produk susu jika susu tersebut sudah dikonsumsi oleh banyak orang. Atribut ini dapat digunakan untuk mengubah persepsi mahasiswi mengenai kandungan bahan pengawet di dalam susu cair karena susu cair UHT sudah banyak dikonsumsi di negara-negara lain. Di negaranegara lain, kebanyakan masyarakatnya sudah sadar akan kesehatan sehingga masyarakat tersebut cenderung mengkonsumsi produk-produk yang aman bagi kesehatan seperti produk yang tidak menggunakan bahan pengawet. Dengan tingginya tingkat konsumsi susu cair khususnya susu cair UHT di negara lain dapat digunakan sebagai bukti bahwa susu cair UHT aman dikonsumsi dan baik untuk kesehatan. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dari tujuh buah alternatif pembentuk kepercayaan mahasiswi terhadap produk susu, hanya terdapat tiga buah atribut yang dapat digunakan untuk mengubah persepsi mahasiswi mengenai kandungan 84

bahan pengawet di dalam susu cair yaitu pembuktian secara langsung, pendapat ahli, dan banyak yang mengkonsumsi. 85