TOPIK. Konsepsi SISTEM PEMILU

dokumen-dokumen yang mirip
TINJAUAN SINGKAT TENTANG SISTEM PEMILU

NEGARA-NEGARA YANG MELAKUKAN PERUBAHAN SISTEM PEMILU

PEMILU. Oleh : Nur Hidayah

SISTEM PEMILIHAN UMUM

Mengawal Sistem Pemilu Proporsional Terbuka

Sistem Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014 Oleh Husni Kamil Manik (Ketua KPU RI Periode )

Partisipasi Politik dan Pemilihan Umum

SEJARAH PEMILU DUNIA

I. PENDAHULUAN. pemimpin negara dan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi

TINJAUAN PUSTAKA. Pemilihan Umum (Pemilu) adalah proses memilih orang untuk mengisi jabatanjabatan

SISTEM PEMILU DI JERMAN

BAB V PENUTUP. sistem-sistem yang diterapkan dalam penyelenggaraan Pemilu di kedua Pemilu itu

Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang 2011

I. PENDAHULUAN. Pemilihan Umum (Pemilu) di Negara Indonesia merupakan sarana pelaksanaan

I. PENDAHULUAN. memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk menyatakan pendapat

Konsep Hukum dan Demokrasi dilahirkan untuk membendung adanya kesewenang wenangan dari kekuasaan yang mempraktekkan sistem yang absolut dan

BAB I PENDAHULUAN. Pasca reformasi tahun 1998, landasan hukum pemilihan umum (pemilu) berupa Undang-Undang mengalami perubahan besar meskipun terjadi

Pemilu Serentak 2019 dan Penguatan Demokrasi Presidensial di Indonesia. Oleh Syamsuddin Haris

URGENSI UNDANG-UNDANG PEMILU DAN PEMANTAPAN STABILITAS POLITIK 2014

PEMILIHAN UMUM. R. Herlambang Perdana Wiratraman, SH., MA. Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, 6 Juni 2008

BAB I PENDAHULUAN. mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.

USULAN ASOSIASI ILMU POLITIK INDONESIA (AIPI) TERHADAP RUU PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN 1

SISTEM KEPARTAIAN DAN PEMILU. Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Indo Global Mandiri Palembang 2017

Materi Bahasan. n Definisi Partai Politik. n Fungsi Partai Politik. n Sistem Kepartaian. n Aspek Penting dalam Sistem Kepartaian.

BAB I PENDAHULUAN. jumlah suara yang sebanyak-banyaknya, memikat hati kalangan pemilih maupun

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.edu

BAB I PENDAHULUAN. sistem politik-demokratik modern. Pemilu bahkan telah menjadi salah satu

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2003 TENTANG PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN

Pembaruan Parpol Lewat UU

KEWARGANEGARAAN DEMOKRASI : ANTARA TEORI DAN PELAKSANAANNYA DI INDONESIA. Nurohma, S.IP, M.Si. Modul ke: Fakultas FASILKOM

BAB I PENDAHULUAN. hampir seluruh organisasi politik memiliki strategi yang berbeda-beda.

BAHAN AJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

DESAIN SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENSIAL YANG EFEKTIF

I. PENDAHULUAN. memilih sebuah partai politik karena dianggap sebagai representasi dari agama

PERBANDINGAN PENYELENGGARAAN PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF ERA REFORMASI DI INDONESIA

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2003 TENTANG

Berdasarkan Pasal 22E ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pemilu dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia,

KODIFIKASI UNDANG-UNDANG PEMILU

BAB I PENDAHULUAN. dikehendaki. Namun banyak pula yang beranggapan bahwa politik tidak hanya

Sistem Pemilihan Umum

BAB I PENDAHULUAN. Pilgub Jabar telah dilaksanakan pada tanggal 24 Pebruari 2013, yang

PARTISIPASI POLITIK PEMILU

I. PENDAHULUAN. aspirasi dan memilih pemimpin dengan diadakannya pemilihan umum.

BAB I PENDAHULUAN. Banyak ilmuwan politik sepakat bahwa kondisi penting untuk. menyukseskan transisi menuju demokrasi adalah pemilu.

Penataan Ulang Dapil

APLIKASI REAL QUICK COUNT UNTUK PERHITUNGAN CEPAT PEMILUKADA DENGAN MENGGUNAKAN KONSEPTUAL COMPREHENSIVE PARALEL VOTE TABULATION

Dermawan Zebua DEPARTEMEN ILMU POLITIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

Dibacakan oleh: Dr. Ir. Hj. Andi Yuliani Paris, M.Sc. Nomor Anggota : A-183 FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

NASKAH AKADEMIK RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMILIHAN UMUM MAHASISWA PRESIDEN MAHASISWA, ANGGOTA SENAT MAHASISWA KELUARGA MAHASISWA DENGAN RAHMAT

BAB I PENDAHULUAN. dengan kebebasan berpendapat dan kebebasan berserikat, dianggap

BAB I PENDAHULUAN. untuk rakyat (Abraham Lincoln). Demokrasi disebut juga pemerintahan rakyat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pemilu diselenggarakan dengan tujuan untuk memilih wakil rakyat dan

Oleh Dra. Hj. Siti Masrifah, MA (Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa) Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKB 1

SEKILAS PEMILU PARTAI POLITIK PESERTA PEMILU

PERANAN MEDIA MASSA TERHADAP KESADARAN POLITIK MASYARAKAT DI DUSUN WIJILAN WIJIMULYO NANGGULAN KULON PROGO DALAM PEMILIHAN UMUM 9 APRIL 2014 ARTIKEL

PEMANDANGAN UMUM FRAKSI KEBANGKITAN BANGSA DPR RI TERHADAP KETERANGAN PEMERINTAH TENTANG RUU PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DPR/DPRD DAN DPD

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pemilihan umum sebagai sarana demokrasi telah digunakan

BAB I PENDAHULUAN. negara di berikan kebebasan untuk berserikat, berkumpul, serta mengeluarkan

BAB I PENDAHULUAN. negara tersebut ( Dalam prakteknya secara teknis yang

PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN BERDASARKAN SISTEM PRESIDENSIL

II. TINJAUAN PUSTAKA. pemilihan umum. Perilaku memilih dapat ditujukan dalam memberikan suara. Kepala Daerah dalam Pemilukada secara langsung.

I. PENDAHULUAN. Era reformasi telah menghasilkan sejumlah perubahan yang signifikan dalam

Peningkatan Keterwakilan Perempuan dalam Politik pada Pemilu Legislatif Nurul Arifin

PEMILU NASIONAL DAN PEMILU DAERAH

PENGELOLAAN PARTAI POLITIK MENUJU PARTAI POLITIK YANG MODERN DAN PROFESIONAL. Muryanto Amin 1

Antara Harapan dan Kecemasan Menyusup di Celah Sempit Pemilu 2004

LAPORAN HASIL PENELITIAN

Electoral Law. Electoral Process. Electoral Governance

DINAMIKA POLITIK LOKAL SUKSESI PEMILU KEPALA DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dengan Persetujuan Bersama

PENINGKATAN NILAI PARTISIPASI PEMILIH

BAB III PERSAMAAN SISTEM PEMILU INDONESIA-FILIPINA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pemilihan Umum (Pemilu) adalah salah satu cara dalam sistem

BAB I PENDAHULUAN. Pemilihan umum adalah salah satu hak asasi warga negara yang sangat

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pemuda sebagai generasi penerus bangsa idealnya mempunyai peran

Peranan Partai Politik Dalam Meningkatkan Partisipasi Pemilih Dalam Pemilu dan Pilkada. oleh. AA Gde Putra, SH.MH

I. PENDAHULUAN. demokrasi, Sekaligus merupakan ciri khas adanya modernisasi politik. Dalam

Cara Menghitung Perolehan Kursi Parpol dan. Penetapan Caleg Terpilih (1)

BAB I PENDAHULUAN. memperlakukan rakyat sebagai subjek bukan objek pembangunan, sehingga

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) HUKUM PEMILU

I. PENDAHULUAN. Pemilihan umum adalah suatu sarana demokrasi yang digunakan untuk memilih

I. PENDAHULUAN. Pemilu merupakan proses pemilihan orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan

Sindikasi Pemilu dan Demokrasi Jl. Proklamasi No. 65, Jakarta Pusat

PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya)

Transkripsi:

TOPIK Konsepsi SISTEM PEMILU By Andri Rusta Mata Kuliah Sistem Perwakilan Politik Semester Genap 2010/2011 Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Andalas 7 April 2011 1 DEMOKRASI Dalam khasanah ilmu politik, secara umum dapat kita katakan bahwa demokrasi merupakan bentuk pemerintahan dimana formulasi kebijakan, secara langsung atau tidak langsung, amat ditentukan oleh suara terbanyak dari warga masyarakat yang memiliki hak memilih dan dipilih, melalui wadah pembentukan suaranya dalam keadaan bebas dan tanpa paksaan. Dalam rangka mewujudkan demokrasi tersebut, Henry B. Mayo mengemukakan nilai-nilai sebagai berikut: 1. Menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga (institutionalized peaceful settlement of conflict) 2. Menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam suatu masyarakat yang sedang berubah (peaceful change in a changing society) 3. Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur (orderly succession of rulers) 4. Membatasi pemakaian kekerasan sampai minimum (minimum of coercion) 5. Mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman (diversity) 6. Menjamin tegaknya keadilan. 1

Menurut Affan Gaffar, sejumlah ilmuwan politik merumuskan parameter atau indikator-indikator terlaksananya demokrasi pada sebuah negara jika memenuhi beberapa unsur antara lain: 1. Akuntabilitas 2. Rotasi Kekuasaan 3. Rekruitmen politik yang terbuka 4. Pemilihan umum 5. Menikmati hak-hak dasar Dalam suatu negara demokratis pemilihan umum biasanya dilaksanakan secara teratur dan berkesinambungan. Setiap warga negara yang sudah dewasa mempunyai hak untuk memilih dan dipilih serta mempunyai kebebasan untuk menggunakan haknya tersebut sesuai dengan kehendak hati nuraninya. Dalam hal ini mereka mempunyai kebebasan untuk menentukan partai dan atau calon mana yang akan didukungnya tanpa ada rasa takut atau paksaan dari orang lain.para pemilih juga bebas mengikuti segala macam aktivitas pemilihan umum, seperti kegiatan kampanye dan menyaksikan penghitungan suara. PENGERTIAN PEMILIHAN UMUM (PEMILU) Secara universal pemilihan umum adalah lembaga sekaligus proses politik yang memungkinkan terbentuknya pemerintahan perwakilan. Pemilu adalah proses pemilihan orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan tersebut beraneka-ragam, mulai dari presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa. Menurut Dahl merupakan gambaran ideal dan maksimal bagi suatu pemerintahan demokrasi di zaman modern. Pemilu merupakan salah satu usaha untuk mempengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan retorika, public relations, komunikasi massa, lobby dan kegiatan lain-lain. Meskipun agitasi dan propaganda di Negara demokrasi sangat dikecam, namun dalam kampanye pemilihan umum, teknik agitasi dan teknik propaganda banyak juga dipakai oleh para kandidat atau politikus selalu komunikator politik. 2

Dalam Pemilu, para pemilih dalam Pemilu juga disebut konstituen, dan kepada merekalah para peserta Pemilu menawarkan janji-janji dan programprogramnya pada masa kampanye. Kampanye dilakukan selama waktu yang telah ditentukan, menjelang hari pemungutan suara. Setelah pemungutan suara dilakukan, proses penghitungan dimulai.pemenang Pemilu ditentukan oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta, dan disosialisasikan ke para pemilih. ALASAN PENTINGNYA DEMOKRASI DALAM BAGI KEHIDUPAN DEMOKRASI Melalui pemilu memungkinkan suatu komunitas politik melakukan transfer kekuasaan secara damai. Melalui pemilu akan tercipta pelembagaan konflik. Przeworski mencatat bahwa demokrasi merupakan hasil kontingen dari konflik. 3

TUJUAN PEMILU Menurut Ramlan Surbakti: 1. Sebagai mekanisme untuk menyeleksi para pemimpin pemerintahan dan alternatif kebijakan umum 2. Pemilihan umum merupakan mekanisme untuk memindahkan konflik kepentingan dari masyarakat kepada badan-badan perwakilan rakyat agar integrasi masyarakat tetap terjamin 3. Sebagai sarana mobilisasi dan atau/menggalang dukungan rakyat terhadap negara dan pemerintahan dengan jalan ikut serta dalam proses politik. FUNGSI PEMILIHAN UMUM Pemilu adalah sebuah mekanisme politik untuk mengartikulasi aspirasi dan kepentingan warga negara. Setidaknya ada empat fungsi pemilu yang terpenting; 1. Legitimasi politik, 2. Terciptanya perwakilan politik 3. Sirkulasi elit politik 4. Pendidikan politik 4

FUNGSI LEGITIMASI Ada tiga alasan mengapa pemilu bisa menjadi sarana legitimasi politik: Melalui pemilu pemerintah bisa meyakinkan atau setidaknya memperbaharui kesepakatan-kesepakatan politik dengan rakyat Melalui pemilu pemerintah dapat mempengaruhi perilaku rakyat atau warganegara (pemilu bisa jadi alat kooptasi pemerintah untuk meningkatkan respon rakyat terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuatnya Pemerintah dapat mengandalkan kesepakatan dengan rakyat dibandingkan dengan paksaan (Fungsi ini merupakan kebutuhan rakyat, dalam rangka mengevaluasi maupun mengontrol perilaku pemerintah dan program serta kebijakan yang dihasilkan Hanna F. Pitkin membagi dua tipe perwakilan: Tipe delegasi atau utusan yaitu wakil yang memperoleh mandat dari rakyat, sehingga merasa terikat dengan aspirasi dan kepentingan rakyat Tipe independen, yaitu wakil yang tidak terikat pada aspirasi dan kepentingan rakyat pemilih. FUNGSI PERWAKILAN POLITIK Fungsi ini merupakan kebutuhan rakyat, dalam rangka mengevaluasi maupun mengontrol perilaku pemerintah dan program serta kebijakan yang dihasilkan. Pemilu merupakan mekanisme demokratis bagi rakyat untuk menentukan wakil-wakil yang dapat dipercaya dalam pemerintahan dan lembaga legislatif 5

FUNGSI SIRKULASI ELIT Keterkaitan pemilu dengan sirkulasi elit didasarkan pada asumsi bahwa elit berasal dari dan bertugas mewakili rakyat luas. Pemilu merupakan jalur dan sarana langsung untuk mendapatkan posisi sebagai elit penguasa Kolabinska mengembangkan tiga tipologi sirkulasi elit: Elit yang berasal dari segmen elit penguasa itu sendiri- jadi hanya berganti kedudukan sebagai penguasa. Elit yang berasal dari warga non elit yang direkrut atau mendapatkan posisi sebagai elit penguasa Elit baru yang memenangkan pertarungan dengan elit penguasa, kemudian menggantikan yang kalah FUNGSI PENDIDIKAN POLITIK Pemilihan umum merupakan salah satu bentuk pendidikan politik rakyat yang bersifat langsung, terbuka dan massal. Pemilu diharapkan dapat mencerdaskan pemahaman politik dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai demokrasi. 6

Pengertian Sistem Pemilu adalah suatu prosedur yang diatur dalam organisasi (negara) yang dengannya seluruh atau sebagain anggota organisasi tersebut memilih sejumlah orang untuk menduduki jabatan dalam organisasi itu sendiri; Sistem Pemilu adalah metode yang mengatur dan memungkinkan warga negara untuk memilih para wakil rakyat diantara mereka sendiri; 7 April 2011 13 Catatan : Metode, artinya berhubungan dg prosedur dan aturan mengubah (mentransformasi) suara menjadi kursi di lembaga perwakilan; Mereka sendiri; maksudnya pihak yang memilih maupun yg hendak dipilih merupakan bagian dari satu entitas yang sama; 7 April 2011 14 7

Elemen Sistem Pemilu : Electoral Law, yakni aturan main berdasarkan prinsip2 demokrasi yang harus ditaati setiap kontestan pemilu; apakah Plural Mayority, Proporsional Representation; Electoral Process; metode atau aturan untuk mentransfer suara pemilih menjadi kursi di lembaga perwakilan; 7 April 2011 15 Fungsi Pemilihan Sebagai prosedur untuk memberikan legitimasi atau mengabsahkan penugasan seseorang pada jabatan tertentu dalam pemerintahan; Sebagai sarana partisipasi individu untuk memberikan otoritas absah (legitimate authority) kepada mereka yg terpilih; Bagi sebagian negara, pemilu dilakukan penguasa dg tujuan untuk melakukan kontrol atas perbedaan pendapat; Bagi sebagian negara lain, pemilu hanya ritual utk memobilisasi massa untuk mengabsahkan strategi persatuan nasional; 7 April 2011 16 8

Indikator Menilai Sistem Pemilu Akuntabilitas (accountability) Keterwakilan (representativeness) Keadilan (fairness) Persamaan hak tiap pemilih (equality) Lokalitas (locality) Dapat dilaksanakan (Reliable) Mudah dihitung (Numerikal) 7 April 2011 17 Kriteria Memilih Sistem Pemilu Mengandung Elemen Demokrasi; Ada keseimbangan; Dampak terhadap Sistem Pemilu, 7 April 2011 18 9

Pemilu yang kompetitif bisa dibangun atas tiga komponen Berikut Adanya hak pilih universal bagi orang dewasa tanpa membedakan jenis kelamin, ras, suku, agama, etnis, faham, keturunan, kekayaan dll. Adanya proses pemilihan yang adil. Seperti adanya jaminan kerahasiaan, jaminan penghitungan suara yang terbuka, tidak ada kecurangan dalam proses pemilihan, tidak adanya kekerasan, tidak adanya intimidasi khususnya pada proses pemilihan atau pencoblosan. Adanya hak khususnya bagi partai politik untuk mengorganisasi dan mengajukan kandidat sehingga para pemilih mempunyai banyak pilihan untuk memilih di antara para calo yang berbeda secara kelompok maupun programnya. Elemen Demokrasi : Menjamin terbentuknya parlemen yang representatif; Terbentuknya pemilu yang mudah diaskses dan bermakna; Tersedianya ruang utk konsiliasi; Memfasilitasi terbentuknya pemerintahan yang stabil dan efisien; Menjaga akuntabilitas dan representasi pemerintahan; Memperbesar cross-cutting diantara partai politik; Mendorong adanya sebuah oposisi di parlemen; Adanya dukungan kapasitas biaya dan administrasi; 7 April 2011 20 10

Elemen Demokrasi : Ensuring a representative parliament; Making elections accesible and meaningful; Providing incentives for conciliation; Facilitating stable and efficiency government; Holding the government and representatives accountable Encouraging cross-cutting political parties; Promoting a parliamentary opposition; Cost and administrative capacity; 7 April 2011 21 Keseimbangan : Pengaruh pemilih untuk perkokoh parpol; Kesederhanaan sistem dg peluang berinovasi; Solusi jangka pendek dg stabilitas jangka panjang; Bangun sistem pemilu berdasarkan sistem yg pernah ada tanpa terpenjara dimensi historis sistem tsb; Sistem pemilu bukan solusi untuk semua permasalahan politik; 7 April 2011 22 11

Dampak ke Sistem Politik Tingkat proporsionalitas (hubungan antara rakyat dg wakil terpilih) Format kabinet yg akan dibentuk; Bentuk sistem kepartaian; Akuntabilitas pemerintahan (yg menyangkut konsensus/konfrontasi dlm legislatif dan eksekutif) Tingkat partisipasi warga masyarakat; Mengubah tampilan atau wajah demokrasi 7 April 2011 23 Jenis-jenis Sistem Pemilu Ben Reilly dan Andres Reynolds (2001) mengelompokkan ratusan jenis sistem pemilu (dari 212 negara) menjadi tiga kategori : 1. Sistem Mayoritas-pluralitas (Sistem Non-Proporsional), dengan varian2 : a. First Past the Post (FPTP) b. Block Vote (BV) c. Alternative Vote (AV) d. Two-Round System (TRS) 2. Sistem Semi Proporsional, dengan varian : a. Sistem Paralel; b. Limited Vote (LV); c. Single Non-Transferable (SNTV); 3. Sistem Proporsional; a. Representasi Proporsional Daftar (RP Daftar) b. Mixed Member Proportional (MMP); 7 April 2011 c. Single Transferable Vote (STV) 24 12

Tiga Kubu Utama dalam Sistem Pemilu PLURAL MAYORITY SEMI POPORSIONAL REPRESENTATION PROPORSIONAL REPRESENTATION Pilih Langsung Pilih Lewat Wakil Rakyat 7 April 2011 25 KELUARGA BESAR SISTEM PEMILU PLURALITY - MAJORITY SEMI PROPORTIONAL REPRESENTATION PROPORTIONAL REPRESENTATION FIRST PAST THE POST (FPTP) BLOCK VOTE (BV) ALTERNATIVE VOTE (AV) TWO ROUND SYSTEM (TRS) PARALLEL SYSTEM (PS) SINGLE NON- TRANSFERABLE VOTE (SNTV) LIST PR SINGLE TRANSFERABLE VOTE (STV) MIXED MEMBER PROPORTIONAL (MMP) 13

Jumlah dan Persentase Pengguna Sistem Pemilu 4% 36% 46% Distrik (88 negara) Mixed (27 negara) 14% Proporsional (68 negara) Lainnya (7 negara) Dua Bentuk Sistem Pemilu yang Dominan Single Member Constituency/Sistem Distrik; Multi Member Constituency/ Sistem Proporsional Representation; 7 April 2011 28 14

Single-Member Constituency (Sistem Distrik) Satu daerah pemilihan disebut distrik (kesatuan geografis yg kecil) Satu distrik memilih satu wakil; Jumlah wakil ditentukan oleh jumlah distrik Calon yg menang dalam satu distrik merupakan calon yg mendapat suara terbanyak Suara yg diberikan kepada calon lain dianggap hilang 7 April 2011 29 Keuntungan Sistem Distrik Wakil lebih dikenal dan mempunyai hubungan yg erat dg penduduk; Calon lebih terdorong memperjuangkan kepentingan distrik; Mendorong terciptanya integrasi dan kerjasama antar partai politik; Mengurangi terbentuknya partai baru; Mempermudah terciptanya pemerintahan yg stabil; Sistem sangat sederhana dan mudah dilaksanakan; 7 April 2011 30 15

Kelemahan sistem distrik Kurang memperhitungkan adanya partai kecil dan golongan minoritas; Jumlah suara yg kalah tidak diperhitungkan; Kurang representatif, karena calon yg kalah kehilangan suara para pendukungnya; 7 April 2011 31 Multi-member Constituency (Sistem Proporsional) Negara dibagi atas beberapa daerah pemilihan yang lebih besar daripada distrik; Jumlah wakil dalam setiap daerah pemilihan ditentukan oleh jumlah penduduk dibagi 400.000 (1: 400.000) Wakil terpilih ditentukan oleh jumlah suara yg diperoleh masing2 parpol setelah dibagi bilangan pembagi (BPP); Setiap suara yg diperoleh parpol selalu dihitung dan dapat ditambahkan untuk menggenapkan suara parpol yg sama di daerah pemilihan lainnya; Sistem ini sering dikombinasikan dg Sistem Daftar (List System) yg berisi daftar calon yg diajukan partai; 7 April 2011 32 16

Sistem Proporsional Kelebihan Kekurangan Sistem Distrik Kelebihan Kekurangan 17

First Past The Post (FPTP) Sistem tipe ini secara menonjol diterapkan di Inggris dan daerah-daerah bekas jajahannya. Sistem ini didasarkan pada distrik-distrik wakil tunggal satu wakil dipilih dari setiap daerah pemilihan. Pemenang di setiap daerah pemilihan merupakan kandidat yang mendapatkan suara terbanyak. Block Vote dan Party Block Vote Sistem-sistem Block Vote diterapkan di Bermuda, Maldives, Kuwait, Mauritius dan Palestina, sementara sistem Party Block Vote diterapkan di Djibouti, Lebanon, Tunisia dan Senegal, dan untuk sebagian besar distrik di Singapura. Block Vote merupakan bentuk FPTP dalam distrik wakil majemuk. Biasanya,pemilih dapat memilih sebanyak kandidat yang ada. Maka, apabila ada 5 wakil yang harus dipilih, tiaptiap pemilih dapat memilih sampai lima kandidat. Kandidat pemenang di setiap distrik adalah pemenang suara tertinggi n, dimana n adalah jumlah kursi untuk dipilih. 18

Alternative Vote (Preferential Voting atau AV) Diterapkan di Australia, dan di Nauru dalam bentuk yang telah dimodifikasi.sistem ini juga pernah diterapkan di Fiji, hanya sekali, pada tahun 1999, danjuga di Papua Nugini dari tahun 1964 sampai 1975, ketika masih berada dibawah administrasi Australia. Pada sistem full preferential voting, para pemilih harus mengurutkan semua kandidat sesuai urutan preferensi mereka (1,2,3,4, dan seterusnya). Pada sistem optional preferential voting, para pemilih memiliki pilihan untuk menandai hanya satu kandidat atau memilih mengurutkan beberapa atau semua kandidat. Pada sistem ticket voting pemilih memilih sebuah partai politik, dan preferensi pemilih akan sama dengan urutan preferensi yang telah ditentukan partai yangbersangkutan, yang diumumkan oleh semua partai politik kepada pelaksana pemilu sebelum hari pemilihan. Pemenangnya adalah kandidat dengan perolehan 50% + 1 dari suara sah yang ada di distrik yang bersangkutan. Apabila ketentuan ini tidak tercapai dari preferensi pertama para pemilih, maka kandidat dengan jumlah pilihan pertama yang terendah akan disingkirkan, dan pilihan kedua yang ditandai di kertas suara kandidat tersebut dibagikan ke kandidat lainnya. Proses eliminasi kandidat dengan jumlah suara terendah dan membagikan kertas suaranya kepada kandidat lain yang tertinggal, dimana kepada mereka pemilih telah menentukan pilihan berikutnya, berlanjut sampai seorang kandidat memperoleh 50% + 1 total suara. 19

Sistem Representasi Proporsional (RP) Sistem ini meliputi: Representasi Proporsional Daftar (List Proportional Representation) Mixed Member Proportional (MMP) Single Transferable Vote (STV) Representasi Proporsional Daftar (RP Daftar) Sejumlah bentuk RP Daftar diterapkan di sekitar 70 negara. Semua bentuk RP Karakteristik umum sebagai berikut: 1. Partai memberikan daftar kandidat yang sama jumlahnya dengan kursi yang tersedia di daerah pemilihan 2. Para pemilih memilih untuk satu partai. Jumlah kursi yang diperoleh tiap-tiap partai ditentukan oleh dan secara langsung berkaitan dengan proporsi jumlah suara yang diperolehnya di daerah pemilihan yang bersangkutan. 20

Mixed Member Proportional (MMP) Diterapkan di Jerman, Selandia Baru, Mexico, Bolivia, Italia, dan lainlain. Pemilih mendapatkan dua surat suara yang berbeda, atau satu surat suara yang terdiri dari dua sistem pemilihan: satu untuk pilihan partai (biasanya secara nasional), yang lain untuk kandidat di daerah pemilihan mereka (distrik lokal). Dimungkinkan adanya rasio yang berbeda-beda dari kursi representasi proporsional terhadap kursi daerah pemilihan biasanya, antara 25 % - 50 % kursi merupakan kursi representasi proporsional. Bagian tiap-tiap partai dari keseluruhan jumlah kursi dalam badan legislatif secara langsung ditentukan berdasarkan proporsi suara pemilihan RP. Ketentuan khusus mungkin dibutuhkan, termasuk jumlah parlemen yang fleksibel, untuk menangani situasi dimana kursi yang dimenangkan sebuah partai dari distrik melebihi jumlah kursi yang diperolehnya dari persentase suara RP. Keuntungan Sistem Proporsional Setiap suara yg diperoleh parpol selalu dihitung dan tidak ada yg hilang; Golongan/parpol yang mendapat suara kecil tetap dapat menemptkan wakilnya di parlemen; Cocok untuk masyarakat yg heterogen; 7 April 2011 42 21

Kelemahan Sistem Proporsional Karena calon diajukan oleh parpol maka mereka lebih terikat kepada partai; Kurang loyal terhadap para pemilihnya di daerah; Peranan partai lebih menonjol; Mempermudah fragmentasi partai dan menimbulkan banyak partai baru; Cenderung mempertajam perbedaan dalam masyarakat; Mempersulit terbentuknya pemerintahan yang stabil; 7 April 2011 43 Isu yang sering menimbulkan perdebatan dalam Sistem Distrik : Terjadi fenomena over and under representation; Membagi daerah pemilihan/distrik pemilihan secara tepat; Terjadinya penyesuaian distrik secara periodik apabila terjadi perpindahan penduduk (yang mengakibatkan ketidakmerataan penduduk); Partai berkuasa cenderung menggambar kembali peta politik yg menguntungkan distribusi suara partainya (atau diistilahkan sbg Gerry mandering ) ket.: Istilah ini diciptakan Asosiasi Press di USA utk menyebut Gubernur Massachusett,1812, Elbridge Gerry yg punya kebiasaan mengatur kembali peta distrik pemilihan agar menang kembali dalam pemilu berikutnya. Perilaku ini disamakan dg jenis binatang salamander (bunglon). 7 April 2011 44 22

Fenomena Over & Under Representation dalam Sistem Distrik Distrik Perolehan Suara Perolehan Kursi Partai X Partai Y Partai X Partai Y A 50.000 40.000 1 - B 30.000 70.000-1 C 40.000 30.000 1 - D 20.000 40.000-1 E 20.000 10.000 1 - Jumlah 160.000 190.000 3 2 7 April 2011 45 penentuan partai politik untuk Pemilu 2009 1. partai yang berbadan hukum langsung mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk melakukan verifikasi partai. Jika lolos verifikasi, maka partai tersebut dapat maju dalam Pemilu 2009. 2. partai yang memiliki kursi di DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) secara otomatis menjadi kontestan Pemilu 2009. Artinya, 16 partai yang saat ini memiliki kursi di DPR otomatis menjadi peserta Pemilu 2009. 3. partai yang tidak memiliki kursi di DPR (jumlahnya ada 8 partai) langsung mendaftar ke KPU untuk melakukan verifikasi partai dan jika lolos, maka berhak maju ke Pemilu 2009. Pengaturan demikian sebenarnya hanya menguntungkan partai partai politik (parpol) besar saja. 23

Penetapan perolehan kursi Penentuan perolehan suara ditentukan berdasar partai politik yang memenuhi ambang batas 2,5 % dari jumlah suara sah secara nasional. Kemudian, ditentukan bilangan pembagi pemilih (BPP) dengan cara membagi jumlah suara sah Parpol Peserta Pemilu dengan jumlah kursi di suatu daerah pemilihan. 1. Tahap pertama, membagi jumlah suara sah yang diperoleh parpol dengan BPP. 2. Tahap kedua, jika masih ada sisa kursi, maka diberikan kepada parpol yang memperoleh suara sekurang-kurangnya 50 %. 3. Tahap ketiga, jika masih terdapat sisa kursi dari tahap kedua, maka seluruh sisa suara dikumpulkan di provinsi untuk menentukan BPP DPR yang baru di provinsi yang bersangkutan. penetapan calon anggota legislatif Ditentukan berdasarkan perolehan suara 30 % dari BPP, jika tidak terpenuhi, akan ditentukan oleh jumlah suara terbanyak yang didapatkan kandidat. Dalam penentuan calon terpilih ini menunjukkan bahwa sebenarnya sistem pemilu yang ditawarkan UU Pemilu yang baru ini merupakan kombinasi sistem proporsional setengah terbuka dan proporsional terbuka, dan mungkin yang lebih dominan adalah proporsional setengah terbuka. Hal ini berarti tidak berbeda dengan UU Pemilu sebelumnya yang menggunakan sistem proporsional setengah terbuka. 24

Sumber : Amal, Ichlasul (ed), Teori-Teori Mutakhir Partai Politik, (edisi revisi), PT. Tiara Wacana, Yogyakarta, 1996. Riswanda Imawan, Koalisi Partai dan Kebijakan Publik, Handout Kuliah, S2 Program Magister Ilmu Politik, Pascasarjana UGM, Yogyakarta, 2005. 7 April 2011 49 7 April 2011 50 25