V. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Nama : Timbangan Bayi. 2. Jenis : Timbangan Bayi Digital. 4. Display : LCD Character 16x2. 5. Dimensi : 30cmx20cmx7cm

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan mulai pada November 2011 hingga Mei Adapun tempat

BAB III PERANCANGAN. Pada bab ini akan menjelaskan perancangan alat yang akan penulis buat.

BAB III PERENCANAAN PERANGKAT KERAS DAN LUNAK

BAB III PERANCANGAN ALAT

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2014 sampai November

IV. ANALISIS PERANCANGAN

TERMOMETER BADAN DIGITAL OUTPUT SUARA BERBASIS MIKROKONTROLLER AVR ATMEGA8535

BAB III METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini dilakukan beberapa langkah untuk mencapai tujuan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan pada Juni 2014 sampai dengan Desember 2014.

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III METODOLOGI PENULISAN

BAB III. Perencanaan Alat

SEBAGAI SENSOR CAHAYA DAN SENSOR SUHU PADA MODEL SISTEM PENGERING OTOMATIS PRODUK PERTANIAN BERBASIS ATMEGA8535

POSITRON, Vol. VI, No. 1 (2016), Hal ISSN :

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a. Nama : Termometer Digital Dengan Output Suara. b. Jenis : Termometer Badan. d. Display : LCD karakter 16x2.

Petunjuk Penggunaan SENSOR GERAK (GSC )

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2015 sampai dengan bulan Juli

3. METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA

Clamp-Meter Pengukur Arus AC Berbasis Mikrokontroller

III. METODE PENELITIAN. Penelitian tugas akhir ini dilaksanakan di Laboratorium Elektronika Dasar

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN ALAT

BAB IV PENGUJIAN PROPELLER DISPLAY

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III DESKRIPSI MASALAH

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN ALAT

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dan perancangan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium Terpadu

BAB III ANALISIS MASALAH DAN RANCANGAN PROGRAM

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB II DASAR TEORI. mikrokontroler yang berbasis chip ATmega328P. Arduino Uno. memiliki 14 digital pin input / output (atau biasa ditulis I/O,

3.2. Tempat Penelitian Penelitian dan pengujian alat dilakukan di lokasi permainan game PT. EMI (Elektronik Megaindo) Plaza Medan Fair.

3. METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Pada proses pembuatan Tugas Akhir ini banyak media-media alat yang

SELF-STABILIZING 2-AXIS MENGGUNAKAN ACCELEROMETER ADXL345 BERBASIS MIKROKONTROLER ATmega8

III. METODE PENELITIAN. Teknik Elektro Universitas Lampung dilaksanakan mulai bulan Desember 2011

BAB III PERANCANGAN SISTEM

RANCANG BANGUN DATA AKUISISI TEMPERATUR 10 KANAL BERBASIS MIKROKONTROLLER AVR ATMEGA16

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI SISTEM

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Sensor MLX 90614[5]

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012 sampai dengan Januari 2013.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III PERANCANGAN Bahan dan Peralatan

BAB III PERANCANGAN SISTEM

RANCANG BANGUN SENSOR PARKIR MOBIL PADA GARASI BERBASIS MIKROKONTROLER ARDUINO MEGA 2560

BAB III PERENCANAAN PERANGKAT KERAS DAN LUNAK

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

3 SENSOR SUHU BERBASIS BAHAN FERROELEKTRIK FILM Ba 0,55 Sr 0,45 TiO 3 (BST) BERBANTUKAN MIKROKONTROLER ATMEGA8535. Pendahuluan

Gambar 3.1 Susunan perangkat keras sistem steel ball magnetic levitation

JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) 1-6 1

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PERANCANGAN ALAT PENGATUR TEMPERATUR AIR PADA SHOWER MENGGUNAKAN KONTROL SUKSESSIVE BERBASIS MIKROKONTROLER

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III PERANCANGAN SISTEM

III. METODE PENELITIAN. Penelitian, perancangan, dan pembuatan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB III PERANCANGAN ALAT

No Output LM 35 (Volt) Termometer Analog ( 0 C) Error ( 0 C) 1 0, , ,27 26,5 0,5 4 0,28 27,5 0,5 5 0, ,

BAB III ANALISIS MASALAH DAN RANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

Tugas Akhir PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT UKUR JARAK PADA KENDARAAN BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA8535 OLEH : PUTU TIMOR HARTAWAN

METODE PENELITIAN. Teknik Elektro Universitas Lampung dilaksanakan mulai bulan Februari Instrumen dan komponen elektronika yang terdiri atas:

BAB III PERANCANGAN SISTEM

III. METODE PENELITIAN. Universitas Lampung yang dilaksanakan mulai dari bulan Maret 2014.

PERANCANGAN ALAT PENGUKUR BERAT BADAN IDEAL TERINTEGRASI DENGAN WEBSITE BERBASIS MIKROKONTROLER BS2P40 ABSTRAK

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB III PERANCANGAN SISTEM

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Telah direalisasikan alat pendeteksi logam yang terbuat dari induktor

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Pada Bab IV ini menjelaskan tentang spesifikasi sistem, rancang bangun

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS

Gambar 11 Sistem kalibrasi dengan satu sensor.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II DASAR TEORI. Arduino adalah pengendali mikro single-board yang bersifat opensource,

BAB IV PERANCANGAN DAN PENGUJIAN ALAT. Perancangan perangkat keras otomasi alat pengering kerupuk berbasis

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN. Mikrokontroler ATMEGA Telepon Selular User. Gambar 3.1 Diagram Blok Sistem

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB IV PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV CARA KERJA DAN PERANCANGAN SISTEM. ketiga juri diarea pertandingan menekan keypad pada alat pencatat score, setelah

Transkripsi:

V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KALIBRASI ALAT A.1. Kalibrasi Suhu 1. Sensor suhu (LM35) Sensor suhu yang digunakan yaitu sensor IC LM35. Untuk mengetahui nilai keluaran sensor suhu LM35 pengkalibrasian dapat dilakukan dengan menggunakan pemerograman CodeVision AVR. Pada pengkalibrasian didapat hubungan antara keluaran ADC dengan nilai suhu yang ditampilan. 375 Out put Tegangan (mv) 325 275 225 175 125 y = 10x R² = 1 75 25 25 27 29 31 33 35 37 Suhu Termometer ( o C) Gambar 35. Grafik kalibrasi sensor suhu LM35 Dari pengukuran dan perbandingan dengan alat ukur yang telah ada dilaboratorium maka didapat tabel perbandingan nilai dari suhu pada sensor suhu LM35 dengan termometer. Hasil pembacaan sensor suhu LM35 yang dibandingkan dengan termometer didapat grafik dan persamaan di atas. Dari grafik dan persamanan di atas diartiakan bahwa hubungan antara suhu dengan keluaran ADC linier yang mempunyai arti bahwa setiap nilai keluaran 10 milivolt disamakan dengan keluaran suhu 1 o C. Dari data hasil pengujian. Sedangkan kempuan baca dari sensor suhu LM35 berdasarkan spesifikasinya bahwa kempubacaan dari LM35 yaitu dari suhu 1-100 o C. Nilai kepekaan sensor suhu LM35 adalah 10 milivolt, sedangkan nilai perubahan penunjuk suhu dalam derajat Celcius membentuk linier yaitu perubahan suhu yang terukur akan sesuai dengan perubahan tegangan terukur terkalikan 10. Terlihat bahwa terdapat selisih yang cukup kecil antara keluaran dari LM35 dengan pembacaan dari termometer sehingga bisa didapatkan pembacaan sensor suhu LM35 yang bisa dianggap akurat. 49

A.2. Kalibrasi Sensor Kedalaman 3500 3000 2500 y = 49.524x - 13.712 R² = 0.9999 Output Mikrokontroler 2000 1500 1000 500 0 0 10 20 30 40 50 60 70 Jarak Penggaris (cm) Gambar 36. Grafik kalibersai ultrasonik pada suhu 29 o C 3500 Out put mikrokontroler 3000 2500 2000 1500 1000 y = 49.902x - 20.152 R² = 0.9999 500 0 0 10 20 30 40 50 60 70 Jarak Penggaris(cm) Gambar 37. Grafik kalibersai ultrasonik pada suhu 27 o C 50

3500 Out put ADC (bit) 3000 2500 2000 1500 1000 y = 49.902x - 20.152 R² = 0.9999 500 0 0 10 20 30 40 50 60 70 Jarak penggaris (cm) Gambar 38. Grafik kalibersai ultrasonik pada suhu 35 o C 70 Jarak di sensor (cm) 60 50 40 30 20 y = 0.998x - 0.403 R² = 0.9999 10 0 0 10 20 30 40 50 60 70 Jarak di Penggaris (cm) Gambar 39. Grafik kalibrasai ultrasonik pada berbagai suhu 51

Dalam pengujian kali ini, data yang dibandingkan ada 3, yaitu data yg jarak pembacaan ultrasonik, suhu lingkungan, dan jarak penggaris. Pengujian dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu lingkungan dengan pembacaan jarak yang dilakukan oleh sensor ultrasonik. Pengujian dilakukan dengan perbandingan kondisi yaitu di pagi hari, siang hari, dan malam hari. Dari grafik di atas, pengaruh suhu pada pembacaan sensor ultrasonik tidak begitu besar. Yang cukup mencolok pada data di atas adalah perbedaan dari pengukuran jarak ultrasonik dan jarak asli pada pengukuran jarak di bawah 2 cm. Hal ini dikarenakan karakteristik dari sensor itu sendiri yang memang mempunyai batasan minimal pengukuran 2 cm. Di bawah 2 cm, maka error yang dihasilkan akan sangat besar karena dengan jarak yang sangat dekat. A.3. Penguat dan Sensor Gaya Penguat adalah salah satu rangkaian untuk menguatkan sensor yang keluaran tegangannya sangat kecil. Pengkalibrasian penguat diferensial dengan menggunakan beban mati dari 3 kg sebanyak 10 buah. Alat bantu untuk pengkalibrasian yaitu multitester, timbangan, beban mati ukuran 3 kg sebanyak 10 buah. Hasil pengukuran dicatat kemudian dibuat grafik. Hasil dari pengukuran kemudian diubah menjadi persamaan regresi, yang kemudian akan dijadikan rumus untuk mengubah keluaran tegangan menjadi satuan tekan. 1200 1000 y = 35.553x + 9.6705 R² = 1 Ouput Tegangan (V) 800 600 400 200 0 0 5 10 15 20 25 30 35 Input Beban (kg) Gambar 40. Grafik kalibrasi penguat Dalam pengujian kalibrasi penguat didapat hubungan antara massa beban dengan tegangan keluaran dari penguat. Berdasarkan grafik hubungan antara massa beban dengan tegangan berbanding yaitu pada saat massa beban bertambah maka tegangan keluaran akan semakin bertambah. Pertambahan tegangan 52

dan massa beban akan yang mendekati linier akan memperoleh nilai kepekaan penguat. Hubungan antara keluaran tegangan dengan beban mati yaitu y = 28.133x 3.8173. Skala pengukuruan pembacaan yang tetap yaitu kurang lebih 110 milivolt untuk setiap kilogram beban. Hasil kalibrasi penguat ini digunakan untuk pengkondisian sinyal di ADC dengan tegangan referensi sebesar 10 bit. Ketelitian penguat disajikan dalam lampiran 11. Sedangkan ketepatan penguat relatif tetap pada selang beban kemampubacaan penguat bisa mencapai 100 kg. 1000 900 800 y = 204.01x - 23.099 R² = 1 Output ADC (digital) 700 600 500 400 300 200 100 0 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 Input Tegangan (V) Gambar 41. Grafik keluaran ADC Kalibrasi ADC digunakan untuk memperoleh nilai step pada ADC. Pada grafik terlihat hubungan antara keluaran tegangan dengan keluaran ADC secara linier yaitu setiap ADC naik maka nilai keluaran tegangan juga akan naik. Hubungan tersebut menjadi persamaan y=204.01x-23.099. dengan korelasi data mencapai 1. B. HASIL DESAIN PENETROMETER TANAH Penetrometer adalah salah satu alat ukur kekuatan tanah yang dihasilkan dari kerja alat tersebut adalah nilai penetrasi tanah. Pada dasarnya sistem kerja penetrometer adalah memberikan tekanan ke tanah sehingga akan ada timbul reaksi dari tanah nilai reaksi tanah tersebut yang akan menjadi acuan kekuatan tanah. Setiap tanah memiliki kekuatan yang berbeda-beda hal ini terjadi karena beberapa faktor antara lain jenis tanah, suhu lingkungan disekitar tanah, porositas tanah, dan lain sebagianya. Alat penetrometer sudah memiliki banyak jenis yaitu penetrometer analog dan penetrometer digital. Penetrometer analog memilki banyak kekurangan dalam pembacaan nilai kekuatan tanah. Dibutuhkan dua atau tiga orang untuk memperoleh data yang akurat. Hal ini menimbulkan ketidakefesienan dalam memperoleh data. Penetrometer yang akan dibuat pada skripsi ini yaitu penetrometer digital yang dapat 53

mengukur nilai kekuatan tanah dan nilai kedalaman tanah sekaligus. Penetrometer digital ini dapat dioperasikan oleh satu orang saja dengan data yang lebih akurat. Pada penelitian ini telah diracang alat ukur kekuatan tanah yang terdiri dari cone, alat penetrasi tanah digital terbagi menjadi dua rancangan yaitu rancangan mekanik dan ranganan elektronika. Rancangan mekanika alat ukur kekuatan tanah terdiri dari rancangan handle, rancangan, cincin sensor, rancangan batang penetrasi, rancangan cone. Sedangakan rancangan elektronika alat ukur kekuatan tanah terdiri dari rancangan sensor kedalaman, rancangan sensor suhu, rancangan sensor penetrasi, rancangan penguat, dan rancangan mikrokontroler. Hasil rancangan keseluruhan dari alat ukur kekuatan tanah (penetrometer) digital tidak jauh berbeda dengan analisis rancangan keseluruhan. Komponen penyusun alat tersebut terdiri dari komponen mekanis dan komponen penyusun elektronik. Komponen penyusun mekanis terdiri dari handle, cincin gaya, batang penetrometer, cone dan kotak penyimpanan komponen elektronik. Sedangkan komponen penyusun elektronika terdiri dari LCD 2x16, mikrokontroler ATmega 8535, penguat, sensor ultrasonik, LM35, strain gage, dan catu daya. Dimensi alat pengukur kekuatan tanah (penetrometer) digital ini memiliki tinggi 92 cm didesain sesuai dengan tinggi optimal nilai tekan manusia dengan berdasar pada data antropometeri manusia. Silinder penekan terbuat dari stainless stell dengan diamater 12 milimeter dan dapat mengukur kedalaman maksimal sampai 60 centimeter. B.1. Rancangan Mekanik Penetrometer Tanah 1. Handle Handle yang digunakan adalah handle besi silinder ukuran 27 mm dan diproses platting agar tidak mudah berkarat. Dengan panjang silinder 35 centimeter. Handle diberi pelapis busa supaya pada saat memegang alat tidak licin dan agar tidak sakit pada saat memegang handle. Handle dilengkapi dengan sambungan ulir untuk menghubungkan batang penetrometer dengan handle. Diameter ulir yaitu 8 mm dengan menggunakan mur yang kemudian tempelkan dengan menggunakan las listrik. Handle yang digunakan adalah handle yang terbuat dari besi baja yang diplatting. Platting adalah pelapisan logam anti karat yang merupakan bagian dari proses pencroman. Ini bertujuan agar handle tidak mudah berkarat. Selain itu, fungsi platting agar terlihat lebih menarik. Gambar 42. Hasil rancangan handle penetrometer 54

2. Cincin sensor Gambar 43. Cincin strain gage Pembuatan desain cincin untuk meletakkan sensor strain gage mengacu pada perhitungan kebutuhan gaya yang ditekan. Cincin sensor terbuat dari besi baja yang memiliki elastisitas cukup baik. Pada saat proses menekan penetrrometer cincin sensor tidak mengalami deformasi yang berarti sehingga sensor strain gage tidak mengalami perubahan pengukuran. Cincin sensor diberi lubang pada bagian atas dan bawah cincin dengan diameter 8 milimeter, lubang tersebut digunakan untuk menyambungkan batang penetrometer pada bagian bawah cincin dan handle pada bagian atas cincin sensor. Tabel 5. Hasil perhitungan rancangan cincin sensor Simbol Angka Satuan F 980 newton R 0.41 meter ᵋ 3. 0.001 E 2.1 x1011 GPa B 0.015 meter T 0.004 meter Batang penetrasi Gambar 44. Batang penekan penetrometer 55

Batang penetrasi menggunakan stainless steel ukuran 12 mm dengan panajang 70 centimeter. Penggunaan stainless steel ini karena batang penetrasi akan bersentuhan langsung dengan tanah sehingga memerlukan bahan yang anti karat. Stainless steel adalah bahan yang memiliki pelapis anti karat yang baik. Batang penekan dengan ukuran 70 centimeter terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama dengan panjang batang penekan sebesar 30 centimeter, dan bagian kedua memiliki panjang 29 centimeter dan bagaian ketiga dengan panjang 10 centimeter. Pembagian panjang batang penekan pada alat penetrometer ini bertujuan agar mudah dalam pengemasan. 4. Cone Gambar 45. Cone penetrometer Cone yang dibuat berbentuk kerucut dengan luas diameter luar 2 cm 2 dan terdapat ulir di bagian pangkal cone yang digunakan untuk menghubungkan dengan batang penetrometer. Bahan yang digunakan untuk pembuatan cone terbuat dari stainless steel. B.2. Elektronika Alat Ukur Kekuatan Tanah 1. Sensor kedalaman Gambar 46. Sensor ultrasonik Sensor yang digunakan adalah sensor DT-Sense ultrasonik ranger yang memiliki jarak dari 2 cm sampai dengan 3 m. Penampilan data sensor kedalaman menggunakan satuan centimeter dengan kedalaman maksimal 70 cm. 56

Sistem kerja dari sensor ultrasonik adalah mengirim pulsa ke jarak yang dinginkan kemudian memantulkan sesuai dengan jarak yang dikirim. Sensor yang sudah diprogram akan menentukan jarak secara otomatis yang akan ditampilkan di layar LCD. Pada saat percobaan dilapangan jarak yang dihasilkan selalu berubah. Hal ini disebabkan karena ada beberapa faktor antara lain. Alat yang selalu bergerak dan lahan yang diukur tidak terlalu rata. Untuk mengatasi tersebut kehandalan operator diutamakan. Sensor suhu digunakan untuk memperhitungkan pengaruh perubahan suhu terhadap kecepatan dari pancaran gelombang ultrasonik dari sensor ultrasonik yang digunakan. Berdasarkan teori tentang kecepatan suara, keceptan suara pada udara dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain yaitu perubahan suhu dari udara karena sensor akan ditempatkan di ruangan terbuka yang terkena panas matahari langsung. Dalam pengujian, data yang dibandingkan yaitu data yang jarak pembacaan ultrasonik murni dengan suhu lingkungan dan data pembacaan pada penggaris. perbedaan antara pembacaan sensor ultrasonik murni terhadapa suhu mempunyai perbedaan yang tidak begitu besar. Pengujian didapat kepekaan sensor ultrasonik sampai kedalaman 70 cm, dengan nilai ketepatan rata-rata 0.83% dan nilai ketelitian rata-rata mencapai 1.07%. Yang cukup mencolok pada data di atas adalah perbedaan dari pengukuran jarak ultrasonik dan jarak asli pada pengukuran jarak di bawah 2 cm. Hal ini dikarenakan karakteristik dari sensor ultrasonik itu sendiri yang memang mempunyai batasan minimal pengukuran 2 cm. Di bawah 2 cm, maka error yang dihasilkan akan sangat besar karena dengan jarak yang sangat dekat, gelombang ultrasonik yang dipancarkan oleh transmitter telah dipantulkan terlebih dahulu sebelum bisa di deteksi sensor ultrasonik. Faktor lain dari kesalahan pembacaan data sensor ultrasonik yaitu getaran pada saat pengambilan data dilapangan. Data kedalaman sensor ultrasonik mengalami perubahan yang sangat darastis. 2. Gaya( Strain gage) Rangkaian cincin tranduser membentuk cincin dengan diameter yang khusus dirancang penetrometer sistem tekan. Cincin tranduser diberi lubang bagian atas dan bagian bawah dengan tujuan untuk menyambungkan bagian handle dengan cincin dan menyambungkan batang penetrometer dengan cincin tranduser. Pelubangan untuk menghubungkan antara cincin gaya dengan batang penghubung harus tegak lurus hal ini bertujuan agar gaya tekan dan gaya tarik tidak mengalami perubahan sudut gaya tekan. Untuk memperoleh nilai penetrasi tanah diperlukan sensor strain gage. Sensor strain gage di letakkan di cincin tranduser yang terbuat dari besi baja. Desain cincin sensor gaya ini apa bila di tekan atau ditarik akan menghasilkan kelenturan dan kerutan. Kelenturuan dan kerutan ini akan dibaca oleh sensor strain gage. cincin tranduser diberi dua sensor strain gage yang memiliki hambatan 240 ohm, setiap satu strain gage memilki hambatan 120 ohm Sistem kerja strain gage adalah mengirimkan hasil hambatan yang disebabkan oleh tegangan atau regangan yang dilakukan oleh cincin gaya. jenis material dan dimensi cincin gaya berpengaruh langsung terhadap hasil keluaran sensor strain gage. Strain gage yang dipasang di bagian luar dan bagian dalam cincin akan merespon perubahan elastisitas cincin tranduser. Pada saat penempelan sensor strain gage menggunakan lem power glue karena lem tersebut dapat merekatkan sensor sangat kencang. Posisi penekanan strain gage sangat berpengaruh dari keluaran. Kepekaan strain gage tersebut dibuat sampai 100 kg, dengan nilai ketepatan alat dan ketelitian alat mencapai 8.94 %, 12.33%. 57

Gambar 47. Sensor strain gage 3. Layar LCD LCD yang digunakan untuk penelitian adalah LCD 2x16. LCD tersubut dihubungkan ke mikrokontroler pada PORTC. Untuk mengetahui LCD yang kondisi LCD maka dilakukan penyetelan terlebih dahulu, kemudian dimasukkan program sebagai berikut: Gambar 48. Penyetingan CodeVision AVR Penyetingan CodeWizard AVR berfungsi untuk menentukan port yang akan dihubungkan dengan LCD dan jensi lcd yang akan digunakan pada gambar di atas menunjukan bahwa penyetelan dengan menggunakan LCD dengan 16 karakter dan menggunakan port C pada mikrokontroler sebagai penghubung dengan LCD. 58

Gambar 49. LCD 2x16 LCD yang digunakan untuk penelitian adalah LCD 2x16. LCD tersebut dihubungkan ke mikrokontroler pada PORTC. Program yang digunakan adalah codevisionavr dengan menggunakan perintah lcd_gotoxy(0,0). Perintah lcd_gotoxy(0,0) menunjukan bahwa data akan ditampilkan pada kolom 0 dan baris ke-0. LCD ini digunakan untuk menampilkan data secara visual dari pembacaan sensor gaya, sensor suhu, dan sensor kedalaman. Modul LCD 2x16 menampilkan hasil olahan data oleh mikrokontroler dalam bentuk karakter. Penampilan data lewat LCD mempermudah pengguna melihat data secara visual. 4. Mikrokontroler Gambar 50. Mikrokontroler ATmega 8535 Komponen utama pada rangkain elektronika alat ukur kekuatan tanah adalah mikrokontroler yang berfungsi mengontrol sistem yang menghubungkan antara sensor gaya, sensor jarak, sensor suhu, data flash memory, dan layar LCD. Mikrokontroler yang digunakan adalah tipe DT Low Cosh ATmega 8535 dengan menerima input tegangan 9 volt. Input tegangan tersebut kemudian akan diproses oleh IC yang diprogram menggunakan software CodeVision AVR yang akan mengontrol sensor suhu, jarak dan sensor kedalaman. Sensor suhu LM35 dihubungkan pada ADC PORT A pin 7 dan sumber daya dari sensor suhu LM35 dihubungkan dengan sumber daya 5 Volt pada mikrokontroler. Sensor suhu tersebut kemudian dubah sinyal dari analog ke digital. 59

Sensor kedalaman DT ultrasonik ranger dihubungkan dengan mikrokontroler pada PORT B. Pembacaan waktu tempuh dari pemantulan ultrasonik akan dibaca dan diprogram oleh mikrokontroler menjadi satuan jarak. Sensor gaya strain gage yang telah dikuatkan oleh penguat dihubungkan pada PORT A pada pin 2 dan sumber tegangan pada pada penguat tersebut dihubungkan dengan daya 9 Volt pada mikrokontroler. Kalibrasi penguat akan dikondisikan sinyalnya oleh ADC dan diolah lebih lanjut dengan mikrokontroler untuk mengubah keluaran dengan menjadi keluaran gaya. Sensor suhu, sensor kedalaman, dan sensor gaya dibaca oleh mikrokontroler selama 400 ms sekali. Dari pembacaan semua sensor oleh mikrokontroler kemudian ditampilkan oleh LCD untuk visualisasi data dan data pembacaan kemudian disimpan ke dalam data flash memory. 5. Penguat Gambar 51. Penguat diferensial Rangkaian penguat yang di rancang dapat menguatkan 2100 kali dengan keluaran maksimal 5 volt. Penguat yang diracang dengan menggunakan prinsip difrensial yang menggunakan IC LM358 sebanyak 2 buah pembuatan layout penguat sesuai pada analisa rancangan penguat. Penguat menggunakan dua trimpot dengan ukuran 1 kiloohm dan 5 kiloohm. Trimpot 1 kiloohm digunakan untuk mengatur perbesaran keluaran penguat diferensial. Sedangkan trimpot ukuran 5 kilo ohm digunakan untuk memberi balance pada jembatan Wheatstone. Keluaran penguat akan diolah ke mikrokontroler pada PORT A pin 2. 6. Data flash Data yang telah ditampilakan di layar LCD data dapat disimpan juga dengan mengunakan EMS Data Flash memory. EMS Data flash memory adalah modul memori non-volatile (flash) yang memiliki kapasitas 4.325.376 bit (2048 page x 264 byte x 8 bit). Modul ini memiliki antarmuka SPI dan dapat digunakan untuk menyimpan berbagai jenis data digital. Sistem penyimpanan data flash ini saat pengambilan data penetrometer, data akan ditampilkan dilayar LCD, data yang sudah diambil akan disimpan ke data flash. Dengan bantuan kabel transfer data akan dimasukkan ke layar komputer melalui program pembacaan port Visual Basic 60

Gambar 52. EMS Data flash memory. 7. Sensor suhu Gambar 53. Rangkain sensor suhu LM35 Ada banyak macam sensor suhu yang dapat digunakan. Pemilihan sensor tersebut tergantung dari kebutuhan dan nilai ekonomisnya. Pada penelitian ini sensor yang digunakan adalah sensor suhu LM35. Data yang diinginkan adalah suhu lingkungan sehingga dari segi kebutuhan LM35 adalah yang paling tepat dari pada sensor suhu yang lain karena LM35 harganya murah dan dapat mengukur suhu dari 0 o C sampai 100 o C. Pemasangan LM35 dilapisi dengan lem pada bagian kaki. Hal ini bertujuan agar pada saat pengambilan data tidak terjadi gangguan. Kaki-kaki LM35 apabila terkena air maka keluaran suhunya akan tidak sesuai. Kekurangan sensor suhu dengan menggunakan LM35 adalah pada saat pengukuran suhu ekstrim untuk kembali keposisi suhu semula (suhu normal) akan membutuhkan waktu yang lama. 8. Kotak penyimpanan elektronika Elektronika merupakan bahan yang sangat rentan terhadap kondisi lingkungan untuk itu perlu adanya pelindungan untuk mencegah terjadinya kerusakan yang disebabkan oleh faktor lingkungan. Bahan untuk untuk membuat kotak penyimpanan menggunakan akrilik. 61

Gambar 54. Kotak penetrometer 9. Software Penerima data Pembacaan data berupa nilai suhu, tekanan, dan kedalaman yang telah di tampilkan di LCD kemudian akan disimpan di flash memory, supaya data dapat di catat oleh pengguna alat. Data yang disimpan di flash memory akan dikirim ke program pembacaan port data tersebut sehingga dapat ditampilkan ke komputer. Program pembacaan port ini terdiri banyak menu antara lain: menu pembacaan USB PORT, pembacaan kecepatan pengiriman data, koneksi komputer dengan alat, disconnect, dan penghapusan layar. Untuk menampilkan data ke microsoft word yaitu ketika data sudah ditampilkan di layar program pembacaan port kemudian tekan tool cut, kemudian masuk perintah paste. Gambar 55. Tampilan pembacaan port 62

C. KELEMAHAN DESAIN PENETROMETER DIGITAL Rancangan penetrometer digital yang dilengkapi dengan sensor suhu, sensor kedalaman, dan sensor gaya yang mempunyai beberapa kelemahan antara lain: 1. Handle yang diplatting ternyata gampang mengelupas sehingga handle yang tidak terlapisi akhirnya berkarat. Untuk itu, agar lebih tahan lagi proses pemolesan adalah yang terbaik. Selain itu, pada saat penekanan penetrometer pada saat handle basah akan menyulitkan proses penekanan ini akan berakibat kurang optimalnya kerja penetrometer. Untuk mencegah dampak tersebut rancangan handle ditambah dengan lapisan busa agar tidak licin dan terluka pada saat pengoperasian alat penetrometer. 2. Apabila ada pengaruh sudut akan berakibat kurang akuratnya nilai penetrasi tanah. Penyambungan antara handle dengan cincin akan sangat mempengaruhi nilai penetrasi. Apabila cincin gaya dengan handle sejajar maka akan berpengaruh pada nilai tekan antara cincin bagian kanan dan cincin bagian kiri ini disebabkan tekanan cincin bagian kanan dan cincin bagian kiri memperoleh tekanan yang berbeda. 3. Pada saat sensor di posisi sejajar dengan tangan kanan keluaran dari sensor strain gage sangat besar akan tetapi pada saat penekanan pada tangan kiri hasil yang dikeluarkan sangat berbeda dari penekanan pada tangan kanan. Hal ini disebabkan karena hasil strain yang dihasilkan sangat berbeda atau tidak seimbang. Untuk meminimalisasi kesalahan tersebut sensor di letakkan di bagian depan handle atau sejajar dengan arah pandangan. Cincin gaya dipasangkan di bagian depan handle. Dengan peletakkan demikian tekanan yang diperoleh tidak tergantung pada tekanan tangan kanan dan tekanan tangan kiri. 4. Batang penekan pada penetrometer digital yang dirancang dapat mengukur kedalaman hingga 60 centimeter. Batang penekan terbuat dari stainless steel dengan diameter 12 milimeter ini. Bahan stainless steel ini sangat tepat untuk mencegah terjadinya karat. Akan tetapi pada saat melakukan penekanan pada tanah ada butiran-butiran tanah yang menempel pada batang penekan ini akan mengakibatkan perkaratan pada batang penekan. Untuk mencegah terjadinya perkaratan perlu adanya pembersihan batang penekan setelah digunakan. 5. Kotak penyimpanan komponen elektronika kurang kompak sehingga pada saat penekanan komponen elektronika goyang hal ini akan sangat menggangu. 6. Pada saat terjadi getaran data sensor ultrasonik yang diperoleh tidak sesuai atau terjadi penyimpangan sangat jauh. Penguat dengan menggunakan IC LM358 kurang stabil, selalu berubah ubah hal ini akan mempengaruhi ketepatan dalam memperoleh data nilai penetrasi tanah. Rangkain penguat menggunakan IC LM358 ini banyak mengalami kendala pada saat dihubungkan dengan sensor strain gage. pada saat pengujian dilapangan keluaran sensor strain gage yang dikuatkan sedikit terjadi ketidakstabilan pada saat tidak ditekan akan tetapi pada saat dilakukan penekanan keluaran data cukup stabil. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal anatara lain noise dari IC LM358 cukup tinggi dan dan perangkaian penguat yang kurang baik. 7. Pengiriman data dari software pembacaan port ke microsoft word dengan menggunakan perintah copypaste kurang praktis pada saat dilapangan. 8. Pada saat sensor ultrasonik dilakukan pengujian lapangan, apabila bidang pantul miring maka pembacaan ultrasonik akan tidak stabil. 9. Pembacaan sensor strain gage dipengaruhi oleh penguat, pada saat pembacaan digital kurang stabil hal ini dimungkinkan karena penguat kurang stabil dan kuat arus baterai kurang stabil. 63