PENGELOMPOKAN PESERTA DIDIK

dokumen-dokumen yang mirip
MANAJEMEN PESERTA DIDIK

MANAJEMEN PESERTA DIDIK MANAJEMEN / ADMINISTRASI PENDIDIKAN/SEKOLAH MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN MPD. Manajemen Kesiswaan (Peserta Didik)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. relevan dan (3) Kerangka Konsep Penelitian. Kajian teoritis di bab ini berisi

SISTEM PENGELOMPOKAN PESERTA DIDIK DI SEKOLAH DASAR NEGERI

SISTEM PENGELOMPOKAN PESERTA DIDIK DI SEKOLAH DASAR NEGERI. M. Ghulaman Zakia

untuk pencapaian tujuan pembelajaran di sekolah. kontrol, perencanaan dan administrasi kesiswaan (student body). Di sekolah, baik


BAB II KAJIAN TEORI. Sehubungan dengan keberhasilan belajar, Slameto (1991: 62) berpendapat. bahwa ada 2 faktor yang mempengaruhi belajar siswa.

MODEL STAD (STUDENT TEAM-ACHIEVEMENT DIVISIONS) BERBASIS TUGAS TERSTRUKTUR BERKONTRAK PADA PEMBELAJARAN MATA KULIAH UMUM BAHASA INDONESIA

PENERAPAN PENGELOMPOKAN SISWA BERDASARKAN PRESTASI DI JENJANG SEKOLAH DASAR. Doddy Hendro Wibowo. Abstract

DEIKSIS - JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Freudenhal (dalam Zulkardi, 2001:3) menekankan bahwa. dalam matematika. Aktivitas matematika ini dikenal juga sebagai

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teori Pengertian Belajar Menurut Nasution (1982 : 2) belajar adalah perubahan tingkah laku akibat pengalaman

DAFTAR ISI. II. PEMBELAJARAN PENGAYAAN A. Pembelajaran Menurut SNP... B. Hakikat Pembelajaran Pengayaan... C. Jenis Pembelajaran Pengayaan...

BAB III METODE PENELITIAN. yang difokuskan pada situasi kelas yang dikenal dengan classroom action

BAB I PENDAHULUAN. menjadi manusia seutuhnya baik secara jasmani maupun rohani seperti yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembukaan UUD 1945 dijelaskan bahwa salah satu tujuan dari

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya

BAB I PENDAHULUAN. diri menjadi multi kompetensi manusia harus melewati proses pendidikan yang

II. KAJIAN PUSTAKA. al (dalam Karuru, 2005), pembelajaran kooperatif turut menambah unsurunsur

Asia Muhammadiyah 1 dan Syamsu Rijal 2 1. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Makassar 2. Alumni Jurusan Biologi FMIPA UNM.

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN NHT PADA PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI SIKAP SISWA TERHADAP MATEMATIKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. membujuk, menganalisis asumsi dan melakukan penelitian ilmiah. Berpikir kritis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn MELALUI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING TOGETHER

BAHAN AJAR Kompetensi Dasar Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) TOPIK-2: Proses Pembelajaran dalam PJJ

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) DALAM PEMBELAJARAN SENI TARI DI SMP NEGERI 3 BUKITTINGGI

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS. baik dari segi kognitif, psikomotorik maupun afektif.

BAB II PERSEPSI PENGELOMPOKAN PESERTA DIDIK DAN MOTIVASI BELAJAR PAI SISWA

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. pengamat maupun dari peneliti sendiri berdasarkan fokus penelitian

BAB II KAJIAN TEORI. dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. dasar itu khususnya adalah pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang

BAB II KAJIAN TEORITIK. A. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis. dalam tugas yang metode solusinya tidak diketahui sebelumnya.

UPAYA PEMBERDAYAAN PESERTA DIDIK ISTIMEWA MELALUI PROGRAM AKSELERASI OLEH PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang lebih silih asah, silih asih dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang bersifat reflektif

BAB II KAJIAN TEORI. 1. Tinjauan Tentang Problem Based Instruction (PBI)

SILABUS MATA PELAJARAN: ANTROPOLOGI (PEMINATAN BAHASA)

PENERAPAN TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA TENTANG BILANGAN PECAHAN SISWA KELAS V SD

MANAJEMEN PESERTA DIDIK

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dengan NPSN: Data peserta didik di SMA N 1 Purwodadi untuk

BAB II KAJIAN PUSTAKA. (dalam Ruminiati, 2007), bahwa pembelajaran adalah suatu proses dimana

ETIK UMB. Antara Minat, Bakat, dan Kerja Keras. Yani Pratomo, S.S, M.Si. Sistem Informasi. Modul ke: Fakultas Ilmu Komputer.

BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan bidang ilmu yang memiliki kedudukan penting

II. TINJAUAN PUSTAKA. menjalankan pembelajaran di kelas. Ngalimun (2013: 28) mengatakan bahwa

Peningkatan Hasil Belajar, Pembelajaran Kooperatif, Team Assisted Individualization

Tes bagian yg integral dari pengukuran.pengukuran hanya bagian dari evaluasi

BELAJAR KELOMPOK/KOOPERATIF

Kelompok Materi : Materi Pokok

JURNAL KREATIVITAS BELAJAR SISWA KELAS VIII DITINJAU DARI PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI ALJABAR DENGAN MEDIA UBIN ALJABAR

Oleh: Via Vandella*, Yulia Haryono**, Alfi Yunita**

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

V. SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. 1. Implementasi media pembelajaran berbasis audio visual di program studi

BAB I PENDAHULUAN. tingkah laku pada diri pribadinya. Perubahan tingkah laku inilah yang

Abas. Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan PMIPA FKIP UNIB ABSTRAK

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN TGT PADA STANDAR KOMPETENSI PERBAIKAN SISTEM PENGAPIAN SISWA KELAS XI TKR 3 SMK NEGERI 6 PURWOREJO TAHUN AJARAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Lokasi penelitian ini adalah SDN 2 Ponelo tepatnya berlokasi di Jl Otiola kecamatan

Pendahuluan. Meris et al., Meningkatkan Kemampuan Menulis...

II. TINJAUAN PUSTAKA. siswa memahami konsep-konsep yang sulit dalam pemecahan masalah.

BAB I PENDAHULUAN. tenaga profesional untuk menanganinya (Mangunsong,2009:3). Adapun pengertian tentang peserta didik berkebutuhan khusus menurut

BAB I PENDAHULUAN. (IPTEK) dari masa ke masa semakin pesat. Fenomena ini mengakibatkan

PP No 19 Tahun 2005 (PASAL 19, AYAT 1)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari kehidupan manusia, bahkan sejak manusia lahir sampai akhir hayat.

PEMBELAJARAN KELAS RANGKAP (MULTIGRADE TEACHING) OLEH: ASEP SURYANA,M.Pd.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas. sumber daya manusia. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Negeri 2 Teupah Barat Kabupaten Simeulue Tahun Pelajaran 2014/2015. Oleh: PARIOTO, S.Pd 1 ABSTRAK

PENINGKATAN KREATIVITAS BERMAIN MUSIK ANSAMBEL. Erlin Sofiyanti

Proyek Perintis Sekolah Pembangunan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengalaman dan latihan terjadi melalui interaksi antara individual dan

BAB I PENDAHULUAN. dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri,

Transkripsi:

PENGELOMPOKAN PESERTA DIDIK

Latar Belakang Pengelompokan atau lazim dikenal dengan grouping didasarkan atas pandangan bahwa di samping peserta didik tersebut mempunyai kesamaan, juga mempunyai perbedaan. Kesamaan-kesamaan yang ada pada peserta didik melahirkan pemikiran penempatan pada kelompok yang sama, sementara perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik melahirkan pemikiran pengelompokan mereka pada kelompok yang berbeda. Pengelompokan juga didasarkan atas pandangan bahwa siswa terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Karena pertumbuhan dan perkembangan itu berbeda secara individual, artinya siswa bertumbuh dan berkembang menurut kecepatannya sendiri, maka individu itu menjadi unik.

Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik satu dengan yang lain berbeda. Agar perkembangan peserta didik yang cepat tidak mengganggu peserta didik yang lambat dan sebaliknya (peserta didik yang lambat tidak mengganggu yang cepat), maka dilakukanlah pengelompokan peserta didik. Tidak jarang dalam pengajaran yang menggunakan sistem klasikal, peserta didik yang lambat, tidak akan dapat mengejar peserta didik yang cepat.

Pengertian Pengelompokan atau grouping adalah pengelompokan peserta didik berdasarkan karakteristik-karakteristiknya. Karakteristik demikian perlu digolongkan, agar mereka berada dalam kondisi yang sama. Adanya kondisi yang sama ini bisa memudahkan pemberian layanan yang sama. Oleh karena itu, pengelompokan (grouping) ini lazim dengan istilah pengklasifikasian (classification). Dengan adanya pengelompokan peserta didik juga akan mudah dikenali. Sebab, tidak jarang, peserta didik di dalam kelas, berada dalam keadaan heterogen dan bukannya homogen. Tentu, heterogenitas demikian, seberapa pun dapat diketahui tingkatannya sangat bergantung kemampuan diskriminan alat ukur yang digunakan untuk membedakan. Semakin tinggi tingkat kemampuan membedakan alat ukut yang dipergunakan, semakin tinggi pula tingkat heterogenitas peserta didik yang ada di sekolah.

Tujuan pengelompokan bukan dimaksudkan untuk mengotak-kotakkan peserta didik, melainkan justru bermaksud membantu mereka agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Adanya pengelompokkan siswa menurut Duke & Canady (1991) bertujuan untuk menjamin siswa mendapatkan akses sesuai dengan kebutuhan, bakat, & kemampuan siswa

Pengelompokkan berdasarkan sifat populasi (heterogen & homogen) Unsur homogen siswa: Prestasi Proses ujian Perbedaan perlakuan Sekolah (dalam hal ini guru) melakukan analisa kebutuhan siswa yang berbeda2 tersebut dalam setiap populasi

Isu Persamaan (pengelompokkan homogen): Pengelompokkan homogen banyak protes Guru memerhatikan kelompok tinggi daripada bawah Guru lebih memuji kelompok tinggi daripada kelompok bawah Kelompok heterogen akan lebih efektif belajar, jika dikelola dengan baik & bijak. Faktor psikologis dari adanya masalah pengelompokkan: Kelompok bawah telah terkonsep sebagai siswa yang bodoh Pola pikir siswa tinggi lebih dari siswa bawah Siswa lebih suka dikelompokkan dengan siswa lain yang berkemampuan sama

Pengelompokkan dapat berubah, seiring dengan kedinamisan situasi belajar, dan pertumbuhan dan perkembangan siswa. Dampak pengelompokkan thd prestasi belajar siswa: Jika pengelompokkan tidak dikelola dengan baik dapat menurunkan prestasi siswa pada kelompok bawah (faktor yang sudah terkonsep, minder, diejek teman, & merespons negatif) Pengelompokkan homogen menunjukkan hasil positif bagi siswa yang berbakat Pengelompokkan bergantung pada persepsi & sikap guru

Pengelompokkan tidak dapat dipaksakan, dimaksudkan untuk menjamin siswa tiap individu. Semua kelompok harus diperhatikan. Sehingga perlu penyadaran kepada siswa (peserta didik) dalam semua kelompok: Kelompok tinggi: bukan karena untuk meningkatkan gengsi tetapi memfasilitasi siswa untuk maju, tidak terhambat oleh siswa yang kurang mampu. Kelompok rendah: bakatnya diasah & dikembangkan agar lebih baik & berguna bagi siswa.

Dasar Pengelompokan Ada berbagai pengelompokan siswa, antara lain: Pengelompokan dalam kelas-kelas Pengelompokan berdasarkan bidang studi Pengelompokan berdasarkan spesialisasi Pengelompokan dalam sistem kredit Pengelompokan berdasarkan kemampuan Pengelompokan berdasarkan minat

Yeager (1949) menyatakan dalam mengelompokkan peserta didik dapat didasarkan kepada: Fungsi Integrasi, yaitu pengelompokan yang didasarkan atas kesamaankesamaan yang ada pada peserta didik. Pengelompokan ini didasarkan menurut jenis kelamin, umur dan sebagainya. Pengelompokan berdasarkan fungsi ini menghasilkan pembelajaran yang bersifat klasikal. Fungsi perbedaan, yaitu pengelompokan peserta didik didasarkan kepada perbedaan-perbedaan yang ada dalam individu peserta didik, seperti minat, bakat, kemampuan dan sebagainya. Pengelompokan berdasarkan fungsi ini menghasilkan pembelajaran individual.

Soetopo (1982) mengemukakan empat dasar pengelompokan peserta didik, yaitu: friendship grouping adalah pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas kesukaan memilih teman. Masing-masing peserta didik diberi kesempatan untuk memilih anggota kelompoknya sendiri serta menetapkan orang-orang yang dijadikan sebagai pemimpin kelompoknya. Achievement grouping adalah suatu pengelompokan yang didasarkan atas prestasi peserta didik. Aptitude grouping adalah suatu pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas kemampuan dan bakat mereka. Attention or interest grouping adalah pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas perhatian mereka atau minat mereka. Pengelompokan demikian dilakukan, oleh karena tidak semua peserta didik yang berbakat mengenai sesuatu dan sekaligus juga meminatinya. Tidak semua peserta didik yang mampu sesuatu sekaligus juga meminatinya. Intelegence grouping adalah pengelompokan yang didasarkan atas hasil tes kecerdasan atau intelegensi.

Jenis Pengelompokan Mitchun dalam Imron (2012) mengemukakan dua jenis pengelompokan peserta didik, yaitu: ability grouping adalah pengelompokan berdasarkan kemampuan di dalam setting sekolah. pengelompokan di mana peserta didik yang pandai dikumpulkan dengan yang pandai, yang kurang pandai dikumpulkan dengan yang kurang pandai. sub-grouping with in the class adalah pengelompokan dalam setting kelas. pengelompkan di mana peserta didik pada masing-masing kelas, dibagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil. Pengelompokan ini juga memberi kesempatan kepada masing-masing individu untuk masuk ke dalam lebih dari satu kelompok.

Ada beberapa macam kelompok kecil di dalam kelas ini, yaitu: interest grouping adalah pengelompokan yang didasarkan atas minat peserta didik. Peserta didik yang berminat pada pokok bahasan tertentu, pada kegiatan tertentu, pada topik tertentu atau tema tertentu, membentuk ke dalam suatu kelompok. special need grouping, adalah pengelompokan berdasarkan kebutuhankebutuhan khusus peserta didik. Peserta didik yang sebenarnya sudah tergabung dalam kelompok-kelompok, dapat membentuk kelompok baru untuk belajar ketrampilan khusus. team grouping adalah suatu kelompok yang terbentuk karena dua atau lebih peserta didik ingin bekerja dan belajar bersama untuk memecahkan masalahmasalah khusus. tutorial grouping adalah suatu pengelompokan di mana peserta didik bersamasama dengan guru merencanakan kegiatan-kegiatan kelompoknya. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh kelompok bersama dengan guru tersebut, telah disepakati terlebih dahulu. Antara kelompok satu dengan yang lain bisa berbeda kegiatannya, karena mereka sama-sama mempunyai otonomi untuk menentukan kelompoknya masing-masing. research grouping adalah sutu pengelompokan di mana dua atau lebih peserta didik menggarap suatu topik penelitian untuk dilaporkan di depan kelas. Bagaimana cara penggarapan, penyajian serta sistem kerja yang dipergunakan bergantung kepada kesepakatan anggota kelompok.

full-class grouping adalah suatu pengelompokan di mana peserta didik secara bersama-sama mempelahari dan mendapatkan pengalaman di bidang seni. Misalnya saja, kelompok yang berlatih drama, musik, tari dan sebagainya. combined class grouping adalah suatu pengelompokan di mana dua atau lebih kelas yang dikumpulkan dalam suatu ruangan untuk bersama-sama menyaksikan pemutaran film, slide, TV dan media audio visual lainnya.

Menurut Regan (1996), ada 7 macam pengelompokan yang didasarkan atas realitas pendidikan di sekolah dasar, yaitu: the non grade elementary school adalah sekolah dasar tanpa tingkat. Sekolah dasar tanpa tingkat ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk mengambil mata pelajaran berdasarkan kemampuan masing-masing individu peserta didiknya. Bahkan peserta didik dapat mengambil mata pelajaran yang mungkin sama dengan mereka yang angkatan masuknya tidak sama. Multi-grade and Multi-age grouping adalah pengelompokan yang multi tingkat dan multi usia. Pengelompokan demikian dapat terjadi pada sekolah-sekolah yang menggunankan sistem tingkat. Pada pengelompokan demikian, peserta didik berbeda usianya, dikelompokkan dalam tempat yang sama. Mereka berinteraksi dan belajar bersama-sama. the dual progress plan grouping adalah sistem pengelompokan kemajuan rangkap. Sistem pengelompokan demmikian dimaksudkan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan kemampuan individual di setiap umur dan setiap tingkat. Masing-masing peserta didik diberi kesempatan untuk mengerjakan tugas-tugas guru sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

self-contained classroom adalah penempatan sekelompok peserta didik oleh seorang guru. Sedangkan sekelompok peserta didik yang lain ditempatkan pada guru lainnya. team teaching adalah pengelompokan yang di dalamnya terdapat sekelompok peserta didik yang diajarkan oleh guru secara tim. Dalam pembelajaran ini, guru lebih membatasi diri pada kapasitas keahliannya, dan sama sekali tidak mengajarkan apa yang ada di luar keahliannya. Hal demikian dapat terjadi, oleh karena tidak jarang satu mata pelajaran atau bidang studi, membutuhkan keahliannya yang bermacam-macam. departementalisasi adalah suatu sistem pengelompokan peserta didik, yang di dalamnya guru hanya mengkhususkan diri pada mata pelajaran tertentu. Oleh karena guru hanya mengkhususkan diri pada mata pelajaran tertentu, maka yang mereka ajarkan hanyalah mata pelajaran tertentu juga. ability grouping adalah pengelompokan berdasarkan kemampuan peserta didik. Peserta didik yang mempunyai tingkat kemampuan yang sama ditempatkan pada kelompok yang sama. Peserta didik yang sama-sama tinggi kemampuannya ditempatkan pada kelompok yang kemampuannya tinggi, sementara peserta didik yang kemampuannya rendah ditempatkan dalam kelompok peserta didik yang berkemampuan rendah.