HERNIA INGUINOSKROTAL DAN HIDROKEL SKROTALIS

dokumen-dokumen yang mirip
Sem 9 G M Q 79.3 K6 K6 K6 K6 P5.A3 P5.A3 P5.A3 P5.A5 P5.A5 P5.A Sem 3. Sem 5. Sem 4

PYLORUS STENOSIS HYPERTROPHY

OMPHALOMESENTERIKUS REMNANT

Modul 3. (No. ICOPIM: 5-530)

diafragma lembut melalui dinding abdomen yang lemah disekitar 4) Omfalokel : Protrusi visera intra abdominal kedasa korda umbilical

Atresia Biliaris. 1. Mampu menjelaskan embriologi dan anatomi sistem hepatobiliar.

Modul 5. (No. ICOPIM: 5-530)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Hernia inguinalis lateralis adalah kelainan bedah yang paling sering terjadi pada anak-anak.

APPENDICITIS (ICD X : K35.0)

REPAIR PERFORASI SEDERHANA (No. ICOPIM: 5-467)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. melalui struktur yang secara normal berisi (Ester, 2001).

PRESENTASI KASUS HERNIA SKROTALIS

Modul 23 ORCHIDOPEXI/ORCHIDOTOMI PADA UNDESCENSUS TESTIS (UDT) (No. ICOPIM: 5-624, 5-620)

Hernia Inguinal Dan Hidrokel Pada Anak-Anak. Inguinal Hernia And Hydrocele In Children

Modul 13 OPERASI REPAIR HERNIA DIAFRAGMATIKA TRAUMATIKA (No. ICOPIM: 5-537)

Modul 11. (No. ICOPIM: 5-467)

BAB I KONSEP DASAR. dapat dilewati (Sabiston, 1997: 228). Sedangkan pengertian hernia

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN : POST OP HERNIA INGUINALIS DI BANGSAL ANGGREK RSUD WONOGIRI

BAB I PENDAHULUAN. melalui suatu defek pada fasia dan muskuloaponeuretik dinding perut, secara

Modul 26 DETORSI TESTIS DAN ORCHIDOPEXI (No. ICOPIM: 5-634)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

POLA HERNIA INGUINALIS LATERALIS DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE AGUSTUS 2012 JULI 2014

PENYAKIT HIRSCHSPRUNG

Modul 34 EKSISI LUAS TUMOR DINDING ABDOMEN PADA TUMOR DESMOID & DINDING ABDOMEN YANG LAIN (No. ICOPIM: 5-542)

Modul 4 SIRKUMSISI PADA PHIMOSIS (No. ICOPIM: 5-640)

Yusuf Hakan Çavusoglu. Acute scrotum : Etiology and Management. Ind J Pediatrics 2005;72(3):201-4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan

Modul 9. (No. ICOPIM: 5-461)

Modul 36. ( No. ICOPIM 5-545)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

MODUL KEPANITERAAN KLINIK BEDAH

LAPAROSKOPI PADA NON-PALPABLE TESTIS. Irfan Wahyudi Departemen Urologi RSCM/ FKUI Jakarta

( No. ICOPIM : )

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HIDROKEL DI RUANG BIMA RSUD SANJIWANI GIANYAR

PADA PERFORASI USUS (No. ICOPIM: 5-454)

Modul 2 (ICOPIM 8-835)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.K DENGAN POST OPERASI HERNIOTOMI DI RUANG ANGGREK RS PANDAN ARANG BOYOLALI NASKAH PUBLIKASI

LAPORAN PENDAHULUAN (Hernia Irreponibilis) Oleh:M. Syaiful Islam, S. Kep.

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

RANGKUMAN. Varikokel adalah pelebaran abnormal vena-vena di dalam testis maupun

BAB I PENDAHULUAN. Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm

Modul 16 EKSISI TELEANGIEKTASIS (ICOPIM 5-387)

Sectio Caesarea PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

BAB I PENDAHULUAN. akut di Indonesia (Sjamsuhidayat, 2010 dan Greenberg et al, 2008).

Modul 24 REPOSISI (MILKING) PADA INVAGINASI SALURAN PENCERNAAN (No. ICOPIM: 5-458)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terhadap objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga.

BAB II KONSEP DASAR. dari rongga yang normal melalui lubang kongenital atau didapat.

Kanker Serviks. Cervical Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

Modul 11 BEDAH TKV FIKSASI INTERNAL IGA ( KLIPING KOSTA ) (ICOPIM 5-790, 792)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Manual Keterampilan Pemeriksaan Apendisitis dan Hernia

Modul 18 Bedah TKV EKSISI HEMANGIOMA (ICOPIM 5-884)

GASTROSTOMI TEMPORER ( No. ICOPIM 5-431)

Modul 26 PENUTUPAN STOMA (TUTUP KOLOSTOMI / ILEOSTOMI) ( No. ICOPIM 5-465)

VENTRICULO PERITONEAL SHUNTING (VPS) : PERBANDINGAN ANTARA VPS TERPANDU LAPAROSKOPI & VPS DENGAN TEKNIK BEDAH TERBUKA KONVENSIONAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN : PRE DAN POST HERNIORAPHY LATERALIS (DEKSTRA) DI RUANG FLAMBOYAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PANDANARANG BOYOLALI

Instruksi Kerja OvarioHisterectomy

Modul 29 Bedah Digestif DRAINASE ABSES APENDIK ( No. ICOPIM 5-471)

KARYA TULIS ILMIAH. ASUHAN KEPERAWATAN PASCA OPERASI HERNIA SKROTALIS DEXTRA PADA Tn. D DI RUANG WIJAYA KUSUMARSUD KRATON PEKALONGAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA UNDESCENDED TESTIS UNDESCENDED TESTIS, DIAGNOSIS AND TREATMENT

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS

BEBAN KERJA FISIK DAN USIA MENYEBABKAN HERNIA INGUINALIS (Physical Work load and Age with the Incidence of Inguinal Hernia)


b. Petugas melakukan anamnesa pada pasien e. Petugas melakukan pemeriksaan tekanan darah f. Petugas mengukur suhu tubuh pasien

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Apendisitis adalah suatu peradangan pada apendiks, suatu organ

BAB 1 PENDAHULUAN. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang

riwayat personal-sosial

KARAKTERISTIK PENDERITA HERNIA INGUINALIS YANG DIRAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM ANUTAPURA PALU TAHUN 2012 Indri Mayasari Sesa 1, Asri Ahram Efendi 2

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. ditemukan dalam masyarakat, terutama pada wanita dan usia lanjut. Walaupun penyakit ini

KONSEP TEORI. 1. Pengertian

BAB I KONSEP DASAR. saluran usus (Price, 1997 : 502). Obserfasi usus aiau illeus adalah obstruksi

SIRKUMSISI TUJUAN PEMBELAJARAN

Fistula Urethra Batasan Gambaran Klinis Diagnosa Penatalaksanaan

Modul 1 EKSISI TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER (ICOPIM )

Modul 7 EKSKOKLEASI KISTA RAHANG (ICOPIM 5-243)

I. PENDAHULUAN. sikap yang biasa saja oleh penderita, oleh karena tidak memberikan keluhan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN POST OPERASI HERNIA INGUINALIS LATERALIS DI RSUD SUKOHARJO

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. walaupun pemeriksaan untuk apendisitis semakin canggih namun masih sering terjadi

Modul 1 BIOPSI INSISIONAL DAN EKSISIONAL ( NO.ICOPIM : 1-501,502,599 )

Nova Faradilla, S. Ked Yayan A. Israr, S. Ked

BAB I PENDAHULUAN. jalan operasi atau sectio caesarea hal ini disebabkan karena ibu memandang

Modul 20 RESEKSI/ EKSISI ANEURISMA PERIFER (No. ICOPIM: 5-382)

Perawatan Luka Post Operasi Sectio Caesarea. Fitri Yuliana, SST

BAB 4 HASIL. Grafik 4.1. Frekuensi Pasien Berdasarkan Diagnosis. 20 Universitas Indonesia. Karakteristik pasien...,eylin, FK UI.

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Obat Penyakit Diabetes dan Berbagai Komplikasi Neuropati

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. terletak antara vulva dan anus. Perineum terdiri dari otot dan fascia urogenitalis

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

Transkripsi:

HERNIA INGUINOSKROTAL DAN HIDROKEL SKROTALIS Tujuan 1. Tujuan Umum Setelah menyelesaikan modul ini peserta didik memahami dan mengerti tentang embriologi, anatomi, topografi, serta patologi dan patogenesis hernia ingunoskrotalis dan hidrokel; mampu menegakkan diagnosis, melakukan persiapan pra operatif, melakukan tindakan operasi herniorraphy dan hidrokel, perawatan pasca operasi, dan penanganan komplikasi. 2. Tujuan Khusus 1. Mampu menjelaskan embriologi,anatomi dan topografi daerah inguinoskrotal 2. Mampu menjelaskan patologi dan patogenesis hernia inguinoskrotalis dan hidrokel 3. Mampu menjelaskan gejala dan tanda klinis untuk diagnosis hernia inguinoskrotalis dan hidrokel 4. Mampu membuat diagnosis hernia inguinoskrotal dan hidrokel 5. Mampu menjelaskan komplikasi hernia inguinoskrotalis dan hidrokel 6. Mampu menjelaskan penanganan dan indikasi operasi hernia inguinoskrotalis dan hidrokel 7. Mampu melakukan tindakan operasi pada henia inguinoskrotalis dan ligasi tinggi pada hidrokel 8. Mampu melakukan perawatan perioperatif dan mengatasi komplikasinya A. Pendahuluan Hernia inguinoskrotalis adalah protrusi dari abdominal viscus ke dalam kantung peritoneum (processus vaginalis) ke kanalis inguinalis. Hernia inguinoskrotalis lebih sering terjadi pada usia 1 tahun, dimana 1/3 kasus terjadi pada usia 6 bulan. Insidensi ini meningkat pada bayi premature, penderita Ehlers-Danlos syndrome, exstrophy bladder, dan hirocephalus dengan VP shunt. Sekitar 60% hernia inguinoskrotalis terjadi di sisi sebelah kanan, sedangkan sekitar 10% bilateral. Hidrokel adalah akumulasi cairan pada skrotum di luar testis. Disebut funikokel bila terjadi akumulasi pada funniculus spermaticus. Hidrokel dibagi menjadi 2 yaitu hidrokel komunikans dan non komunikans, terminology ini berdasarkan ada tidaknya hubungan dengan intraabdomen. Hidrokel pada anak umumnya adalah tipe komunikans karena hampir selalu diakibatkan karena tidak terjadinya obliterasi prosesus vaginalis. 1

Diagnosis hernia inguinoskrotalis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis didapatkan benjolan rekuren di inguinal yang dapat mencapai skrotum yang hilang timbul yang secara gradual dapat membesar dan menjadi persisten, dan menjadi sulit untuk direduksi. Bila terjadi inkarserata, penderita akan mengeluhkan nyeri pada benjolan di inguinal, muntah, dan perut kembung. Pada keadaan strangulata, ditemukan tanda tanda peritonitis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan benjolan di inguinal, yang dapat sampai ke skrotum, yang lebih menonjol saat peningkatan tekanan intra abdomen (menangis, mengedan, tertawa) dan ditemukan silk glove sign atau penebalan dari cord pada palpasi di daerah inguinal pada hernia inguinoskrotalis yang tidak tampak saat pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang untuk membantu diagnosis adalah USG inguinal. Penatalaksanaan hernia inguinoskrotalis reponible dilakukan segera setelah diagnosis ditegakkan. Pada keadaan inkarserata dilakukan terapi konservatif dengan dekompresi abdomen, penderita dalam posisi Trendelenburg, dan diberikan diazepam 1 mg/kg BB per rectal. Bila hernia menghilang direncanakan herniorraphy elektif, sedangkan bila tidak mengilang dapat dilakukan reduksi manual (taxis). Apabila reduksi manual gagal dilakukan herniorraphy emergency. Pada keadaan stragulata langsung dilakukan herniorraphy emergency. 2

Algoritma Hernia inguinoskrotal Reducible Non Reducible Herniorraphy elektif Segera setelah diagnosis ditegakkan As soon as possible Inkarserasi Konservatif (NGT, posisi Trendelenburg, Diazepam 1mg/kgbb per rectal) Strangulasi Herniorraphy emergency Tidak berhasil Berhasil Reduksi manual (taxis) Herniorraphy elektif 48 jam setelah reduksi spontan Tidak berhasil Berhasil Herniorraphy emergency Hidrokel pada anak dimana disebabkan tidak sempurnanya obliterasi prosesus vaginalis mengakibatkan cairan peritoneum terperangkap di dalam lumen prosesus. Penyempitan lumen ini menjadi klep satu arah sehingga cairan tidak dapat masuk kembali ke intraabdomen. Dari anamnesa didapatkan riwayat pembengkakan pada daerah skrotum atau inguinal yang tidak disertai nyeri. 3

Pada pemeriksaan ditemukan massa kistik pada daerah inguinal atau scrotal di luar testis yang memberikan hasil positif pada tes transiluminasi. Diagnosis hidrokel ditunjang dengan pemeriksaan lain seperti USG daerah inguinal dan skrotum. Lebih dari 90% kasus hidrokel terjadi obliterasi secara spontan tetapi bila tidak ada resolusi setelah usia 2 tahun dan atau hidrokel yang besar, pembedahan dengan ligasi tinggi menjadi pilihan terapi. B. Menegakkan diagnosis Hernia inguinalis a) Anamnesis : benjolan rekuren di inguinal yang dapat mencapai skrotum yang hilang timbul, yang secara gradual dapat membesar dan menjadi persisten, dan menjadi sulit untuk direduksi. b) Pemeriksaan fisik: didapatkan benjolan di inguinal, yang dapat sampai ke skrotum, yang lebih menonjol saat peningkatan tekanan intra abdomen (menangis, mengedan, tertawa) dan ditemukan Silk glove sign atau penebalan dari cord pada palpasi di daerah inguinal pada hernia inguinoskrotalis yang unreliable c) Pemeriksaan penunjang : USG inguinal Hidrokel a) Anamnesa: benjolan kistik pada skrotum atau inguinal b) Pemeriksaan fisik: massa kistik di skrotum atau di inguinal di luar testis yang memberikan hasil positif pada pemeriksaan transiluminasi. c) Pemeriksaan penunjang: USG inguinal dan skrotum C. Pengelolaan Penderita : a. Persiapan operasi 1. Inform Consent 2. Puasa dilakukan 4-6 jam sebelum pembedahaan 3. Antibiotik prabedah diberikan secara rutin. 4. Pada hernia inguinoskrotal inkarserata dilakukan pemasangan IV line, dekompresi abdomen, penderita dalam posisi trendelenburg, dan diberikan diazepam 1 mg/kg BB per rectal. 4

b. Tehnik Operasi Herniorraphy Penderita dalam posisi supine dan dilakukan anestesi umum dan dapat ditambah dengan blok kaudal. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada lapangan operasi. Lapangan operasi ditutup dengan doek steril. Dilakukan sayatan transversal kulit inguinal di daerah lateral tuberkulum pubis. Lemak subkutan dan fascia Scarpa dibuka, dengan forceps Adson. Aponeurosis otot obliqus eksternus dan cincin eksternus diekspos dengan gunting tumpul atau kauter, cincin inguinal eksternus tidak dibuka kecuali pada anak yang lebih tua dan remaja. Fascia spermatikus eksternus dan kremaster dipisahkan dengan diseksi tumpul. Kantung hernia terlihat, dan dipisahkan dari vas dan pembuluh darah. Hemostat dipasang pada bagian fundus kantung. Kantung dipotong dan diputar untuk mereduksi isinya ke dalam rongga abdomen. Sendok dapat digunakan untuk menjaga agar vas dan pembuluh darah terpisah dari leher kantung. Kantung di jahit dengan benang PGA 4/0 pada cincin interna yang ditandai oleh bantalan lemak ekstraperitoneal. Bagian kantung dibawah jahitan biasanya dieksisi. Lemak subkutan diaproksimasi dengan menggunakan 2 atau 3 jahitan benang absorbable 4/0 dan kulit ditutup dengan jahitan kontinu subkutikular dengan benang absorbable 5/0. Ligasi tinggi Penderita dalam posisi supine dan dilakukan anestesi umum dan dapat ditambah dengan blok kaudal. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada lapangan operasi.lapangan operasi ditutup dengan doek steril. Dilakukan sayatan transversal kulit inguinal di daerah lateral tuberkulum pubis ± 2 cm. Lemak subkutan dan fascia Scarpa dibuka, dengan forceps Adson. Aponeurosis otot obliqus eksternus dan cincin eksternus diekspos dengan gunting tumpul atau kauter, cincin inguinal eksternus tidak dibuka kecuali pada anak yang lebih tua dan remaja. Fascia spermatikus eksternus dan kremaster dipisahkan dengan diseksi tumpul. Kantung hernia terlihat, dan dipisahkan dari vas dan pembuluh darah. Hemostat dipasang pada bagian fundus kantung. Kantung dipotong dan diputar untuk mereduksi isinya ke dalam rongga abdomen. Sendok dapat digunakan untuk menjaga agar vas dan pembuluh darah terpisah dari leher kantung. Kantung di jahit dengan benang PGA 4/0 pada cincin interna yang ditandai oleh bantalan lemak ekstraperitoneal. Bagian kantung dibawah jahitan biasanya dieksisi. Lemak subkutan diaproksimasi dengan menggunakan 2 atau 3 jahitan benang absorbable 4/0 dan kulit ditutup dengan jahitan kontinu subkutikular dengan benang absorbable 5/0 5

c. Pasca bedah Komplikasi operasi herrniorrhaphy dan hidrokel: Perdarahan Infeksi luka operasi Cedera usus Cedera vesica urinaria Cedera vas deferen Cedera saraf D. Referensi 1. Grosfeld JL, O Neill JA, Fonkalsrud EW, Coran AG. Inguinal Hernias and Hydrocele dalam Pediatric Surgery. 6t h ed. 2006. pg 1179-1182 2. O Neill JA, Grosfeld JL, Fonkalsrud EW, Coran AG, Caldamore AA. Disorders of Inguinal Canal dalam Principles of Pediatric Surgery. 2 nd ed. pg 437-450 3. Ashcraft, Holcomb KW, Murphy GW, Patrick J. Inguinal Hernias and Hydrocele dalam Pediatric Sugery. 4 th ed. 2005. pg 697-706 4. P. Puri, M. Holwarth. Pediatric Surgery. 2006. pg 139-152 5. Ziegler MM, Azizkhan RG, Weber TR. Inguinal and Femoral Hernia. Dalam Operative Pediatric Surgery. McGraw-Hill. 2003. p. 543-554 6

7