PERSYARATAN & KETENTUAN MOTIVATOR MANDIRI

dokumen-dokumen yang mirip
BUPATI LOMBOK UTARA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT. PERATURAN BUPATI LOMBOK UTARA NOMOR : Tahun 2015 TENTANG

BAHAGIA BELAJAR BAHAGIA MINAT MEMBANGUN KARAKTER BELAJAR ANAK GENERASI PEMBELAJAR MANDIRI SEPANJANG HAYAT TUJUAN HIDUP MANUSIA

WALIKOTA BANJARMASIN

TATA CARA PEMILIHAN KEPALA DESA DI KABUPATEN KEDIRI

TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

PARAMADINA FELLOWSHIP 2014 ( PF 2014 ) Untuk Anda yang memiliki kecerdasan emosional, berjiwa kepemimpinan, mudah bersosialisasi, dan beretika tinggi.

Pedoman Bantuan Beasiswa Uji Kompetensi

PERJANJIAN KERJASAMA PEMBELIAN LAHAN (BERTAHAP)

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA

NOMOR 26 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU PADA SATUAN PENDIDIKAN DI KOTA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI SEMARANG PROPINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI SEMARANG NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG IZIN USAHA MIKRO BUPATI SEMARANG,

BAGIAN HUKUM SETDA KABUPATEN INDRAMAYU

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM. Ujian Penyesuaian. Ijazah. Administrasi. Pelaksanaan. Pedoman.

BERITA DAERAH KOTA BEKASI PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 40 TAHUN 2013 TENTANG

TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG PENGISIAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA

PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 27 TAHUN 2009 T E N T A N G PENYELENGGARAAN PERIZINAN BURSA KERJA LUAR NEGERI DI KABUPATEN BANTUL BUPATI BANTUL,

BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI NOMOR : PER.19/MEN/V/2006 TENTANG PELAKSANAAN PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN

BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA RUMAH KOS

PARAMADINA FELLOWSHIP 2011 ( PF 2011 )

TENTANG TATA CARA PENERBITAN SURAT KETERANGAN MISKIN UNTUK PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DAN BIDANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

PEDOMAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN PASCASARJANA S3 (DOKTOR) UNIDA GONTOR. Pasal 1. Persyaratan Administrasi dan Akademik

BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN, PELANTIKAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERJANJIAN KERJASAMA PENGELOLAAN LAHAN (BERTAHAP SESUAI PENJUALAN KAVLING)

TENTANG TATA CARA PENERBITAN SURAT KETERANGAN MISKIN UNTUK PELAYANAN BIDANG KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI NOMOR : PER.19/MEN/V/2006

BUPATI GUNUNGKIDUL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GUNUNGKIDUL,

Peraturan Kepala BNP2TKI Nomor Per 28/KA-BNP2TKI/VII/2007 tentang Bursa Kerja Luar Negeri Senin, 04 Agustus 2008 KEPALA BADAN NASIONAL PENEMPATAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dengan Persetujuan Bersama

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 03 TAHUN 2010 T E N T A N G

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 49 TAHUN 2015 TENTANG

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG

WALIKOTA YOGYAKARTA PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB SEKOLAH

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 7 TAHUN 2018 TENTANG PEDOMAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU

PARAMADINA SOCIAL RESPONSIBILITY 2018 (PSR 2018)

BUPATI KUDUS TENTANG PENGELOLAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA (RUSUNAWA) BUPATI KUDUS,

PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 34 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU

TENTANG BELANJA DANA HIBAH PENYELENGGARAAN PEMILIHAN BUPATI DAN WAKIL BUPATI KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT TAHUN 2017

PEMERINTAH KOTA BATU

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN

BUPATI LAMONGAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI LAMONGAN NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG

FORMULIR PENDAFTARAN INSTITUT KOPERASI INDONESIA CALON MAHASISWA PROGRAM SARJANA PENGUSAHA MANDIRI MELALUI PROGRAM MAGANG KE JEPANG IDENTITAS

PERATURAN BUPATI TANGERANG TENTANG TATA CARA DAN PERSAYARATAN PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 43 TAHUN 2010 TENTANG DISPENSASI DALAM PELAYANAN PENDAFTARAN PENDUDUK WARGA NEGARA INDONESIA

BAB I KETENTUAN UMUM BAB II PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM DAN PROSEDUR TETAP PEMAKAIAN FASILITAS TERMINAL PADA DINAS PERHUBUNGAN KOTA MALANG

PROGRAM SARJANA (S1) PENDIDIKAN Tahun Akademik 2009 / 2010

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENCALONAN, PEMILIHAN, PELANTIKAN DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DESA

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

FORMULIR PENDAFTARAN INSTITUT KOPERASI INDONESIA CALON MAHASISWA PROGRAM SARJANA PENGUSAHA MANDIRI MELALUI PROGRAM MAGANG KE JEPANG IDENTITAS

BUPATI BANDUNG BARAT PROVINSI JAWA BARAT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO

Penerimaan mahasiswa baru STIKES Panakkukang Makassar Prodi S.1 Keperawatan dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :

2016, No Mengingat : Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nom

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 108 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN POLA PENGELOLAAN KAMAR MANDI/WC UMUM MILIK PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA

Pendataan Penerima KJP 2017 Tahap 1

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 85 TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 44 TAHUN 2012 TENTANG BANTUAN UANG DUKA BAGI KELUARGA PENDUDUK MISKIN KABUPATEN SUKOHARJO

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 5 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENCALONAN, PENGANGKATAN, DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA

NOMOR: PEDOMAN PEMBERIAN BEASISWA PENDIDIKAN TINGGI PROGRAM MAGISTER KONSENTRASI TATA KELOLA PEMILIHAN UMUM DI LINGKUNGAN KOMISI PEMILIHAN UMUM

PERATURAN WALIKOTA MEDAN NOMOR 26 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN DIREKSI PERUSAHAAN DAERAH KOTA MEDAN

PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT

II. KEDUDUKAN, KEANGGOTAAN, TUGAS DAN KEWAJIBAN PPK, PPS, KPPS DAN PPDP

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR 4 TAHUN 2017 TENTANG

2016, No sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2015 tentang Perubahan Ketujuh Belas atas Peraturan Pemer

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 23 TAHUN 2012 TENTANG

SALINAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN TUBAN KEPUTUSAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN TUBAN. NOMOR : 11/Kpts/KPU Kab /2010 TENTANG

PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 04 TAHUN 2010 TENTANG RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT

BERITA DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 19 TAHUN 2013 PERATURAN WALIKOTA DEPOK

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA,

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS DIPONEGORO NOMOR 320/UN7.P/HK/2018

WALIKOTA YOGYAKARTA PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB SEKOLAH

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah;

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 25 TAHUN 2016 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN

PERATURAN BUPATI BEKASI NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN RUKUN TETANGGA (RT) DAN RUKUN WARGA (RW) DI KABUPATEN BEKASI

TENTANG REKTOR UNIVERSITAS DIPONEGORO,

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 99 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PENDUDUK KABUPATEN SIDOARJO

Penjelasan Pengisian Dan Pengembalian Formulir Data Ulang 2018

KEPALA DESA WONOSARI KECAMATAN WONOSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL PERATURAN DESA NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG

PEMBERIAN NIK (NOMOR INDUK KARYAWAN) Kemudahan dan kelancaran proses administrasi karyawana di Personalia.

Transkripsi:

PERSYARATAN & KETENTUAN MOTIVATOR MANDIRI Bab I MENJADI MOTIVATOR MANDIRI UNTUK MEMBANGUN NEGERI Mukadimah Bahwa kata bimba -- (b-i-m-b-a) -- yang ditulis dengan bi huruf kecil dan MBA huruf besar mengandung arti bi berarti bimbingan, M berarti minat, B berarti baca dan belajar, dan A berarti anak. Jadi secara harfiah kata bimba berarti bimbingan Minat Baca dan Belajar Anak. Satuan pendidikan bimba-aiueo merupakan satuan pendidikan anak usia dini yang khusus memberikan materi pendidikan kebimbaan. Kedudukan pendidikan kebimbaan merupakan bagian dari pendidikan anak usia dini secara luas, dalam arti bahwa, satuan penyelenggara pendidikan anak usia dini dan taman kanak-kanak yang telah berkembang selama ini menawarkan substansi pembelajaran yang lengkap baik dari aspek afektif, kognitif dan psikomotorik, sementara bimba mengisi substansi yang lebih khusus. Yaitu, pendidikan yang khusus menekankan pada pembentukan karakter MINAT baca dan MINAT belajar anak sejak usia dini. Berdasarkan minat baca dan minat belajar yang sudah ditumbuhkan sejak usia dini ini, diharapkan sumber daya manusia Indonesia memiliki kemauan dan kemampuan belajar di manapun dan kapanpun. Salah satu misi Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (YPAI) adalah menyebarluaskan MINAT baca dan MINAT belajar anak kepada masyarakat umum sebanyak mungkin anak usia dini di seluruh Indonesia. Salah satu tumpuan penting dari pencapaian misi ini tidak lain adalah motivator mandiri. Bahwa motivator mandiri memiliki kedudukan dan peranan yang sangat strategis dalam penyelenggaraan satuan pendidikan bimba-aiueo, dan karena itu tidak berlebihan bila menjadi motivator mandiri akan memberikan sumbangsih yang luar biasa besar dalam pembangunan bangsa. Bab II MEMBANGUN BANGSA ITU MEMBANGUN MINAT BACA DAN BELAJAR Pasal 1 1. Menjadi motivator mandiri dimaksudkan untuk turut serta membangun negeri melalui pembangunan karakter MINAT baca dan MINAT belajar anak sejak usia dini. 2. Menjadi motivator mandiri dalam pembangunan karakter MINAT baca dan MINAT

belajar anak sejak usia dini dilakukan berdasarkan sistem pendidikan kebimbaan baik yang berupa prinsip umum kegiatan belajar mengajar, metode dan tahapan pengajaran, bahan ajar, logo dan merek bimba-aiueo. Pasal 2 1. Motivator mandiri menyelenggarakan pendidikan kebimbaan dengan bertumpu pada metode, bahan ajar dan cara belajar dan mengajar yang telah dibakukan dengan berprinsip pada fun learning, small step system dan individual system. 2. Motivator mandiri menyelenggarakan pendidikan kebimbaan untuk menumbuhkan MINAT baca dan MINAT belajar anak, dengan berpedoman pada standar bahwa anak usia dini 3 (tiga) tahun dalam 72 (tujuhpuluh dua) jam pertama dapat membaca kata sederhana tanpa harus dibantu di rumah. Bab III MENJADI CALON MOTIVATOR MANDIRI SEPENUH HATI Bagian Pertama Umum Pasal 3 1. Menjadi motivator mandiri harus dilandasi oleh niat yang sepenuh hati untuk mengabdikan diri pada pendidikan anak-anak khususnya yang menekankan pada pembangunan karakter MINAT baca dan MINAT belajar anak. 2. Menjadi motivator mandiri harus dilandasi oleh niat yang sepenuh hati untuk melakukan kerjasama kemitraan dalam lingkup dan sesuai dengan peraturan organisasi di lingkungan Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (YPAI). 3. Menjadi motivator mandiri harus dilandasi oleh niat yang sepenuh hati untuk mengetahui, mengerti dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan kebimbaan. Bagian Kedua Persyaratan Dasar Pasal 4

1. Calon motivator mandiri sekurang-kurangnya memiliki pendidikan minimal SMA atau yang sederajat. 2. Calon motivator mandiri sekurang-kurangnya berusia 18 (delapanbelas) tahun. Bagian Ketiga Persyaratan Ruang Belajar Pasal 5 1. Calon motivator mandiri menyediakan minimal 1 (satu) tempat dengan 1 (satu) ruang kelas ukuran minimal 9 (sembilan) meter persegi. 2. Calon motivator mandiri menjamin kebersihan tempat tersebut yang dilengkapi dengan sirkulasi udara, pencahayaan yang baik, serta kamar mandi / WC yang memadai. Bagian Keempat Ketentuan Tentang Wilayah dan Data Kewilayahan Pasal 6 1. Calon motivator mandiri mengajukan wilayah penyelenggaraan pendidikan kebimbaan yang berbasis wilayah Rukun Warga (RW). 2. Calon motivator mandiri menyediakan data kewilayahan pada Rukun Warga (RW) tersebut pada Pasal 6 (enam) Ayat (1) meliputi jumlah Rukun Tetangga (RT), jumlah warga dan perkiraan jumlah anak usia dini (3 6) tahun. Bagian Kelima Pendaftaran Pasal 7 1. Calon motivator mandiri mengajukan Surat Permohonan pendaftaran dalam formulir yang telah disediakan oleh Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (YPAI). 2. Formulir pendaftaran sebagaimana dimaksud pada Pasal 7 (tujuh) Ayat (1) dilengkapi dengan : a. Foto Copy KTP (Kartu Tanda Penduduk) calon motivator. b. Foto Copy KK (Kartu Keluarga) calon motivator. c. Foto Copy STTB (Surat Tanda Tamat Belajar) Pendidikan Terakhir calon motivator.

d. Pas Foto Diri calon motivator terbaru ukuran 4 x 6 sebanyak 2 (dua) lembar. e. Amplop Folio warna cokelat. 3. Biaya pendaftaran sebagaimana dimaksud pada Pasal 7 (tujuh) Ayat 1 (satu) selama 6 (enam) bulan sebesar Rp. 3.500,- (tigaribu limaratus rupiah) dikalikan jumlah Rukun Tetangga (RT) dikalikan 6 (enam). Bagian Keenam Seleksi Pasal 8 1. Setiap calon motivator mandiri akan menjalani : a. Seleksi administrasi b. Seleksi kelayakan pribadi melalui beberapa tes, yaitu psikotes, dialog dan wawancara. 2. Pendaftaran dan seleksi calon motivator mandiri dilaksanakan setiap hari sepanjang tahun. Bagian Ketujuh Penerimaan Pasal 9 1. Calon motivator yang lulus seleksi administrasi dan seleksi kelayakan pribadi ditetapkan sebagai calon motivator mandiri yang siap dilatih. 2. Penetapan diterima atau tidaknya calon motivator mandiri dilakukan oleh Tim Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (YPAI). Bagian Kedelapan Pelatihan Dasar Pasal 10 1. Setiap calon motivator mandiri sebelum membuka satuan penyelengara pendidikan bimba-alueo wajib mengikuti pelatihan dasar calon motivator mandiri. 2. Pelatihan dasar diselenggarakan oleh Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (YPAI) atau Pengelola Wilayah. 3. Penyelenggaraan pelatihan dasar dapat dilaksanakan secara tatap muka atau dengan sistem belajar jarak jauh (distance learning) dengan menggunakan teknologi informasi dan multi media.

Pasal 11 1. Calon motivator harus mengikuti dengan sungguh-sungguh seluruh tahapan pelatihan tentang sistem dan metode pendidikan kebimbaan. 2. Calon motivator menanggung seluruh biaya konsumsi, transportasi dan akomodasi selama mengikuti pelatihan. Bab IV MENJADI MOTIVATOR MANDIRI YANG PEDULI DAN BERTANGGUNGJAWAB Bagian Pertama Ketentuan Tentang Bahan Ajar Pasal 12 1. Motivator mandiri adalah calon motivator yang telah memenuhi semua persyaratan calon motivator termasuk mengikuti pelatihan dasar dan menandatangani dokumen motivator mandiri ini. 2. Motivator mandiri yang telah menandatangani dokumen motivator mandiri berhak menggunakan, memanfaatkan dan melaksanakan sistem, metode, modul materi, logo dan merek bimba-aiueo hanya pada wilayah Rukun Warga (RW) sesuai yang telah ditetapkan. Pasal 13 1. Motivator berhak membeli bahan ajar pendidikan kebimbaan sesuai kebutuhan kepada Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (YPAI) atau perwakilan yang ditunjuk. 2. Motivator tidak diperkenankan menggandakan bahan ajar pendidikan kebimbaan tanpa ijin tertulis dari Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (YPAI). 3. Motivator sebaiknya menyediakan peralatan dan perlengkapan kelas sesuai dengan standar bimba-aiueo. Bagian Kedua Ketentuan Tentang SPP Pasal 14 Besarnya SPP ditentukan oleh motivator mandiri atas persetujuan Pengelola Wilayah atau kantor pusat bimba-alueo.

Bagian Ketiga Ketentuan Tentang Pelaporan Pasal 15 Motivator mandiri wajib membuat laporan tertulis tentang pertumbuhan jumlah siswa secara berkala dengan standar pelaporan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (YPAI). Bagian Keempat Ketentuan Tentang Biaya Pengembangan Pasal 16 Motivator mandiri wajib membayar biaya pengembangan setiap bulan sebesar 10% (sepuluh per seratus) dari tarif SPP dikalikan jumlah siswa. Bagian Kelima Ketentuan Tentang Monitoring dan Evaluasi Pasal 17 1. Motivator mandiri melakukan pengawasan dan evaluasi atas penerapan sistem dan metode pendidikan kebimbaan secara mandiri. 2. Motivator mandiri mengijinkan manajemen bimba-aiueo untuk setiap saat melakukan evaluasi, pengawasan dan pemeriksaan secara langsung pada unit-unit tempat diterapkannya sistem dan metode pendidikan bimba-aiueo. Bagian Keenam Ketentuan Tentang Pelatihan Lanjutan Pasal 18 1. Pelatihan lanjutan atau tambahan bagi motivator mandiri akan diselenggarakan oleh Pengelola Wilayah secara berkala. 2. Pelatihan lanjutan atau tambahan dapat dilakukan secara serentak dan tatap muka di suatu tempat dengan pelatih (trainer) yang ditunjuk. 3. Pelatihan lanjutan atau tambahan dapat juga dilakukan di tempat atau pada satuan pendidikan bimba-alueo masing-masing dengan cara belajar jarak jauh (distance learning).

Bagian Ketujuh Ketentuan Tentang Pendidikan Lanjut Pasal 19 1. Motivator mandiri dapat mengikuti pendidikan lanjut terutama pada Sekolah Tinggi Keguruan dan Pendidikan bimba-aiueo. 2. Ketentuan tentang pendidikan lanjut sebagaimana dimaksud pada Pasal 19 (sembilanbelas) Ayat (1) diatur dalam peraturan tersendiri. Bagian Kedelapan Ketentuan Tentang Pendaftaran Ulang Wilayah Pasal 20 1. Motivator mandiri melakukan pendaftaran ulang selambat-lambatnya tanggal 5 (lima) pada setiap bulan Januari dan Juli wilayah Rukun Warga (RW) yang menjadi area tanggungjawabnya. 2. Pendaftaran ulang tersebut pada Pasal 20 (duapuluh) Ayat (1) disertai dengan biaya sebesar Rp. 3.500,- (tigaribu limaratus rupiah) dikalikan jumlah Rukun Tetangga (RT) dikalikan 6 (enam). Bagian Kesembilan Ketentuan Lain-Lain Pasal 21 1. Motivator tidak diperkenankan merubah dan menambah tampilan, konsep, isi maupun bentuk dari sistem, metode, modul, materi, logo dan merek bimba- AIUEO. 2. Pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 21 (duapuluh satu) Ayat (1) dan akan mengakibatkan berakhirnya kerjasama kemitraan. 3. Pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 20 (duapuluh) Ayat (1), Ayat (2) dan Pasal 21 (duapuluh satu) Ayat (2) selain akan mengakibatkan berakhirnya kerjasama kemitraan juga akan mengakibatkan timbulnya tuntutan dari Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (YPAI) sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia. 4. Semua bentuk pemalsuan atas data dan atau informasi yang diberikan juga akan mengakibatkan berakhirnya kerjasama kemitraan.

5. Dalam hal berakhirnya kerjasama kemitraan, baik karena pelanggaran atas ketentuan maupun karena sebab-sebab lain, maka berakhir pula penggunaan, pemanfaatan sistem, metode, modul materi, logo dan merek bimba-aiueo. Bab V PENUTUP Pasal 22 Demikianlah dokumen motivator mandiri ini telah dipahami, dimengerti, dan disetujui motivator mandiri serta ditandatangani oleh motivator mandiri dan pihak Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (YPAI), untuk wilayah kerja sebagai berikut: A MOTIVATOR MANDIRI 1 Propinsi 2 Kabupaten/Kota 3 Kecamatan 4 Desa/Kelurahan 5 Kampung 6 Rukun Warga 7 Rukun Tetangga 8 Nama Motivator Mandiri B YPAI Pejabat Pusat Pejabat Wilayah C TANGGAL Mengerti & memahami Calon Motivator Mandiri Mengetahui Kordinator Wilayah Nama :... Nama :... Tanggal : Tanggal :