BUPATI KOTAWARINGIN BARAT
|
|
|
- Hadian Kusumo
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KOTAWARINGIN BARAT, Menimbang : a. bahwa untuk pengaturan teknis penyelenggaraan administrasi kependudukan di daerah, perlu diatur petunjuk pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 1 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Administrasii Kependudukan; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a di atas, perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 1 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 9) sebagai Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1820); 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019); 3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209); 4. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3474); 5. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886); 6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235); 7. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan perundangundangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negaraa Republik Indonesia Nomor 4389);
2 8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 9. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang kewarganegaraan Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4634); 10. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4674); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1975 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3050); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3730); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 80, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4736); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 16. Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil; 17. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2003 tentang Pedoman Operasional Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah; 18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2006 tentang Jenis dan Bentuk Produk Hukum Daerah; 19. Peraturan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 14 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Yang Menjadi Kewenangan Kabupaten Kotawaringin Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2008 Nomor 14); 20. Peraturan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 18 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2008 Nomor 18, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 3); 21. Peraturan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 1 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan (Lembaran Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2010 Nomor 1)
3 MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Kabupaten Kotawaringin Barat; 2. Pemerintah Kabupaten adalah Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat; 3. Bupati adalah Bupati Kotawaringin Barat; 4. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil adalah Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kotawaringin Barat; 5. UPTD Instansi Pelaksana adalah satuan kerja di tingkat kecamatan yang melaksanakan pelayanan Pencatatan Sipil dengan kewenangan menerbitkan akta; 6. Tempat Perekaman Data Kependudukan, yang selanjutnya disingkat TPDK adalah tempat pelayanan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di Kecamatan yang memiliki fasilitas untuk melakukan perekaman, pengolahan dan kemutakhiran data hasil pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil untuk penerbitan dokumen kependudukan serta penyajian informasi kependudukan; 7. Pejabat Pencatatan Sipil adalah pejabat yang melakukan pencatatan peristiwa penting yang dialami seseorang pada instansi pelaksana yang pengangkatannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; 8. Petugas Registrasi adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas dan tanggung jawab memberikan pelayanan pelaporan peristiwa kependudukan dan peristiwa penting serta pengelolaan dan penyajian data kependudukan di desa/kelurahan; 9. Kecamatan adalah wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah kabupaten; 10. Kelurahan adalah wilayah kerja Lurah sebagai perangkat daerah kabupaten dalam wilayah kerja Kecamatan; 11. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berada di Kabupaten Kotawaringin Barat; 12. Rukun Tetangga dan Rukun Warga, yang selanjutnya disingkat RT dan RW adalah lembaga masyarakat yang dibentuk oleh masyarakat, diakui dan dibina oleh pemerintah untuk memelihara dan melestarikan nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia yang berdasarkan kegotong-royongan dan kekeluargaan serta untuk membantu meningkatkan kelancaran tugas pemerintah, pembangunan dan kemasyarakatan di kelurahan/desa; 13. Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penertiban dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengelolaan informasi Administrasi Kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor lain; -177-
4 14. Penduduk Kabupaten Kotawaringin Barat, yang selanjutnya disebut Penduduk adalah Warga Negara Indonesia dan Orang Asing yang bertempat tinggal di Kabupaten Kotawaringin Barat; 15. Warga Negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai Warga Negara Indonesia; 16. Orang Asing adalah orang bukan Warga Negara Indonesia; 17. Dokumen Kependudukan adalah dokumen resmi yang diterbitkan oleh instansi pelaksana yang mempunyai kekuatan hukum sebagai alat bukti autentik yang dihasilkan dari pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil; 18. Data Kependudukan adalah data perseorangan dan/ atau data agregat yang terstruktur sebagai hasil dari kegiatan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil; 19. Pendaftaran Penduduk adalah pencatatan biodata penduduk, pencatatan atas pelaporan peristiwa kependudukan dan pendataan penduduk rentan administrasi kependudukan serta penerbitan dokumen kependudukan berupa kartu identitas atau surat keterangan kependudukan; 20. Peristiwa Kependudukan adalah kejadian yang dialami penduduk yang harus dilaporkan karena membawa akibat terhadap penerbitan atau perubahan Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk dan/ atau surat keterangan kependudukan lainnya meliputi pindah datang, perubahan alamat serta status tinggal terbatas menjadi tinggal tetap; 21. Nomor Induk Kependudukan, yang selanjutnya disingkat NIK adalah nomor identitas penduduk yang bersifat unik atau khas, tunggal dan melekat pada seseorang yang terdaftar sebagai Penduduk Indonesia; 22. Kartu Keluarga, yang selanjutnya disingkat KK adalah kartu identitas keluarga yang memuat data tentang nama, susunan dan hubungan dalam keluarga, serta identitas anggota keluarga; 23. Kartu Tanda Penduduk, yang selanjutnya disingkat KTP adalah identitas resmi penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan oleh instansi pelaksana yang berlaku di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia; 24. Pencatatan Sipil adalah pencatatan peristiwa penting yang dialami oleh seseorang dalam register pencatatan sipil pada instansi pelaksana; 25. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah pernyataan dan pelaksanaan hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keyakinan yang diwujudkan dengan perilaku ketakwaan dan peribadatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta pengamatan budi luhur yang ajarannya bersumber dari kearifan lokal bangsa Indonesia; 26. Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang selanjutnya disebut Penghayat Kepercayaan adalah setiap orang yang mengakui dan meyakini nilai-nilai penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; 27. Surat Perkawinan Penghayat Kepercayaan adalah bukti terjadinya perkawinan Penghayat Kepercayaan yang dibuat, ditandatangani dan disahkan oleh Pemuka Penghayat Kepercayaan; 28. Peristiwa Penting adalah kejadian yang dialami oleh seseorang meliputi kelahiran, kematian, lahir mati, perkawinan, perceraian, pengakuan anak, pengesahan anak, pengangkatan anak, perubahan nama, dan perubahan status kewarganegaraan. 29. Sistem Informasi Administrasi Kependudukan, yang selanjutnya disingkat SIAK adalah sistem informasi yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memfasilitasi pengelolaan informasi administrasi kependudukan di tingkat Penyelenggara dan Instansi Pelaksana sebagai satu kesatuan; -178-
5 30. Data Pribadi adalah data perseorangan tertentu yang disimpan, dirawat dan dijaga kebenaran serta dilindungi kerahasiaannya; 31. Dokumen Identitas Lainnya adalah dokumen resmi yang diterbitkan oleh Departemen/Lembaga Pemerintah Non Departemen atau Badan Hukum Publik dan Badan Hukum Privat yang terkait dengan identitas penduduk, selain Dokumen Kependudukan; 32. Izin Tinggal Terbatas adalah izin tinggal yang diberikan kepada Orang Asing untuk tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam jangka waktu yang terbatas sesuai dengan ketentuan Peraturan perundang-undangan; 33. Izin Tinggal Tetap adalah izin tinggal yang diberikan kepada Orang Asing untuk tinggal menetap di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan Peraturan perundang-undangan; 34. Database Kependudukan adalah kumpulan berbagai jenis data kependudukan yang tersimpan secara sistematik, terstruktur dan saling berhubungan dengan menggunakan perangkat lunak, perangkat keras dan jaringan komunikasi data; 35. Hak Akses adalah hak yang diberikan oleh Menteri yang bertanggung jawab dalam urusan pemerintahan dalam negeri kepada petugas yang ada pada Penyelenggara dan Instansi pelaksana untuk dapat mengakses database kependudukan sesuai dengan izin yang diberikan; 36. Pengguna Data Pribadi Kependudukan adalah instansi pemerintah dan swasta yang membutuhkan informasi data sesuai dengan bidangnya; 37. Penyidik Pegawai Negeri Sipil adalah Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah; 38. Penyidikan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil untuk mencari serta mengumpulkan bukti, yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana yang terjadi serta menemukan tersangkanya. BAB II PENYELENGGARAAN KEWENANGAN PEMERINTAH KABUPATEN Pasal 2 Penyelenggaraan urusan administrasi kependudukan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten, dilakukan Bupati sesuai dengan kewenangannya dengan : a. mengadakan koordinasi dengan instansi vertikal dan lembaga pemerintah non departemen berkaitan dengan aspek perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi penyelenggaraan administrasi kependudukan; b. mengadakan koordinasi sosialisasi antar instansi vertikal dan lembaga pemerintah non departemen, kerja sama dengan organisasi kemasyarakatan dan perguruan tinggi, sosialisasi iklan layanan masyarakat melalui media cetak dan elektronik, dan komunikasi, informasi dan edukasi kepada seluruh lapisan masyarakat; c. menyelenggarakan kegiatan pelayanan masyarakat di bidang administrasi kependudukan yang dilaksanakan secara terus menerus, cepat dan mudah kepada seluruh penduduk; d. memberikan penugasan kepada desa untuk menyelenggarakan sebagian urusan administrasi kependudukan berasaskan tugas pembantuan disertai pembiayaan, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia; -179-
6 e. melakukan pengelolaan data kependudukan yang bersifat perseorangan, agregat dan data pribadi, dan melakukan penyajian data kependudukan yang valid, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan; f. melakukan koordinasi pengawasan antar instansi terkait melalui rapat koordinasi, konsultasi, pencegahan dan tindakan koreksi. BAB III TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB INSTANSI PELAKSANA Pasal 3 Instansi Pelaksana di daerah adalah Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Pasal 4 Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil bertugas : a. menyediakan dan menyerahkan blangko dokumen kependudukan dan formulir untuk pelayanan pencatatan sipil sesuai dengan kebutuhan; b. meminta laporan pelaksanaan tugas, kewajiban dan kewenangan UPTD Instansi Pelaksana yang berkaitan dengan pelayanan pencatatan sipil; c. melakukan pembinaan, pembimbingan dan supervisi terhadap pelaksanaan tugas, kewajiban dan kewenangan UPTD Instansi Pelaksana; d. melakukan pembinaan, pembimbingan dan supervisi terhadap penugasan kepada desa. Pasal 5 Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil bertanggung jawab dalam : a. pendaftaran peristiwa kependudukan dan pencatatan peristiwa penting; b. pemberian pelayanan yang sama dan profesional kepada setiap penduduk atas pelaporan peristiwa kependudukan dan peristiwa penting; c. penerbitan dokumen kependudukan; d. pendokumentasian hasil pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil; e. menjamin kerahasiaan dan keamanan data atas peristiwa kependudukan dan peristiwa penting; dan f. verifikasi dan validasi data dan informasi yang disampaikan oleh penduduk dalam pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil. Pasal 6 Selain tugas dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 dan 4, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil diharuskan : a. melakukan koordinasi dengan Kantor Departemen Agama Kabupaten dalam memelihara hubungan timbal balik melalui pembinaan masing-masing kepada instansi vertikal dan UPTD Instansi Pelaksana; b. melakukan koordinasi dengan instansi terkait kabupaten dalam penertiban pelayanan administrasi kependudukan; c. meminta dan menerima data kependudukan dari perwakilan Republik Indonesia di luar negeri melalui Bupati; dan d. melakukan koordinasi penyajian data dengan instansi terkait
7 BAB IV TEMPAT PEREKAMAN DATA KEPENDUDUKAN (TPDK) Pasal 7 (1) TPDK berfungsi melakukan perekaman, pengolahan dan kemutakhiran data hasil pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil serta penyajian informasi kependudukan di kecamatan sampai dengan terbentuknya UPTD Instansi Pelaksana. (2) Pembentukan TPDK ditetapkan dengan Keputusan Bupati. BAB V Pejabat Pencatatan Sipil, Petugas Registrasi DAN PETUGAS YANG DIBERIKAN HAK AKSES Pasal 8 (1) Pejabat Pencatatan Sipil mempunyai kewenangan melakukan verifikasi kebenaran data, melakukan pembuktian pencatatan atas nama jabatannya, mencatat data dalam register akta Pencatatan Sipil, menerbitkan kutipan akta Pencatatan Sipil, dan membuat catatan pinggir pada akta-akta Pencatatan Sipil. (2) Pengangkatan dan pemberhentian Pejabat Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Peraturan Menteri. Pasal 9 (1) Petugas Registrasi bertugas membantu Kepala Desa/ Lurah dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dalam Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil. (2) Petugas Registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan Bupati dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi persyaratan. Pasal 10 (1) Petugas yang diberikan hak akses adalah Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi persyaratan : a. pada penyelenggara kabupaten memiliki pangkat/ golongan paling rendah Pengatur Tingkat I (II/d); b. pada instansi pelaksana memiliki pangkat/ golongan paling rendah Pengatur (II/c); c. memiliki Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) dengan predikat baik; d. memiliki kompetensi yang cukup di bidang pranata komputer; dan e. memiliki dedikasi dan tanggung jawab terhadap tugasnya. (2) Pemberian dan pencabutan hak akses untuk petugas pada penyelenggara kabupaten dan instansi pelaksana diusulkan oleh Bupati kepada Menteri melalui Gubernur
8 BAB VI Nomor Induk Kependudukan (NIK) Pasal 11 (1) NIK terdiri dari 16 (enam belas) digit terdiri atas : a. 6 (enam) digit pertama merupakan kode wilayah provinsi, kabupaten dan kecamatan tempat tinggal pada saat mendaftar; b. 6 (enam) digit kedua adalah tanggal, bulan dan tahun kelahiran dan khusus untuk perempuan tanggal lahirnya ditambah angka 40; dan c. 4 (empat) digit terakhir merupakan nomor (2) 16 (enam belas) digit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diletakkan pada posisi mendatar. Pasal 12 (1) NIK sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta berlaku seumur hidup dan selamanya, tidak berubah dan tidak mengikuti perubahan domisili. (2) NIK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan setelah dilakukan pencatatan biodata penduduk. (3) Penerbitan NIK bagi bayi yang lahir di luar wilayah administrasi domisili, dilakukan setelah pencatatan biodata penduduk pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. BAB V Pencatatan dan Penerbitan Biodata Penduduk, Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Bagian Kesatu Pencatatan dan Penerbitan Biodata Penduduk Pasal 13 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia wajib melapor kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melalui Kepala Desa/ Lurah dan Camat untuk dicatatkan biodatanya. (2) Warga Negara Indonesia yang datang dari luar negeri karena pindah, orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas dan orang asing yang memiliki izin tinggal tetap, wajib melapor ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil untuk dicatatkan biodatanya. (3) Pencatatan biodata penduduk dilakukan sebagai dasar pengisian dan pemutakhiran database kependudukan. Pasal 14 (1) Pencatatan biodata penduduk Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (1) dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. Surat Pengantar dari RT dan RW; b. Dokumen Kependudukan yang dimiliki, antara lain : 1. Kutipan Akta Kelahiran; 2. Ijazah atau Surat Tanda Tamat Belajar (STTB); 3. Kartu Keluarga (KK); -182-
9 4. Kartu Tanda Penduduk (KTP); 5. Kutipan Akta Perkawinan/Kutipan akta Pernikahan; atau 6. Kutipan Akta Perceraian c. Surat Keterangan Kepala suku/ Adat setempat, khusus bagi komunitas terpencil/ suku terasing. (2) Pencatatan biodata penduduk bagi Warga Negara Indonesia yang datang dari luar negeri karena pindah sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (2) dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. Paspor; b. Dokumen pengganti paspor. (3) Pencatatan biodata penduduk bagi orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (2) dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. Paspor; b. Kartu Izin Tinggal Terbatas, dan c. Buku Pengawasan orang asing. (4) Pencatatan biodata penduduk bagi orang asing yang memiliki izin tinggal tetap sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (2) dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. Paspor; b. Kartu Izin Tinggal Tetap; dan c. Buku Pengawasan orang asing. Pasal 15 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (1) untuk pencatatan biodatanya wajib membawa persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat (1). (2) Pencatatan biodata penduduk di desa/kelurahan dilakukan dengan tata cara : a. Penduduk mengisi dan menandatangani formulir biodata penduduk Warga Negara Indonesia; b. Petugas Registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting; c. Petugas Registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; d. Kepala Desa/ Lurah menandatangani formulir biodata penduduk; e. Petugas Registrasi menyampaikan formulir biodata penduduk kepada Camat. (3) Pencatatan biodata penduduk di kecamatan dilakukan dengan tata cara : a. Petugas Registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; b. Camat menandatangani formulir biodata penduduk; c. Petugas Registrasi menyampaikan formulir biodata penduduk kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagai dasar untuk penerbitan dokumen biodata penduduk. (4) Penerbitan biodata penduduk Warga Negara Indonesia oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dilakukan dengan tata cara : a. Petugas Registrasi melakukan verifikasi dan validasi formulir biodata penduduk serta merekam data ke dalam database kependudukan untuk mendapatkan NIK; -183-
10 b. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani dokumen biodata penduduk setelah yang bersangkutan mendapatkan NIK dengan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK). Pasal 16 (1) Warga Negara Indonesia yang datang dari luar negeri karena pindah sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (2) untuk pencatatan biodatanya wajib membawa persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat (2). (2) Pencatatan biodata penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara : a. Penduduk mengisi dan menandatangani formulir biodata penduduk Warga Negara Indonesia; b. Petugas Registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; c. Petugas Registrasi menandatangani formulir biodata penduduk dan merekam ke dalam database kependudukan untuk mendapatkan NIK. (3) Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani biodata penduduk setelah yang bersangkutan mendapatkan NIK dengan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK). Pasal 17 (1) Orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas dan orang asing yang memiliki izin tinggal tetap sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (2) untuk pencatatan biodatanya wajib membawa persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat (3) dan (4). (2) Pencatatan biodata orang asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara : a. Orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas mengisi dan menandatangani Formulir biodata orang asing tinggal terbatas; b. Orang asing yang memiliki izin tinggal tetap mengisi dan menandatangi Formulir biodata orang asing tinggal tetap; c. Petugas Registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; d. Petugas Registrasi menandatangani formulir biodata orang asing dan merekam ke dalam database kependudukan untuk mendapatkan NIK. (3) Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani biodata orang asing setelah yang bersangkutan mendapatkan NIK dengan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK). Pasal 18 (1) Dalam hal terjadi perubahan biodata, penduduk wajib melaporkan kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil untuk dicatatkan perubahan biodatanya. (2) Pencatatan perubahan biodata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menggunakan : a. Surat Pernyataan Perubahan Data Kependudukan; b. Formulir Perubahan Biodata Penduduk Warga Negara Indonesia; c. Formulir Perubahan Biodata Orang Asing Tinggal Terbatas; atau d. Formulir Perubahan Biodata Orang Asing Tinggal Tetap
11 (3) Pencatatan perubahan biodata penduduk Warga Negara Indonesia di desa/kelurahan dilakukan dengan tata cara : a. Penduduk mengisi dan menandatangani Surat Pernyataan Perubahan Data Kependudukan dan Formulir Perubahan Biodata Penduduk Warga Negara Indonesia; b. Petugas Registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting; c. Petugas Registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; d. Kepala Desa/Lurah menandatangani formulir perubahan biodata penduduk; e. Petugas Registrasi menyampaikan Surat Pernyataan Perubahan Data Kependudukan dan Formulir Perubahan Biodata Penduduk Warga Negara Indonesia kepada Camat. (4) Pencatatan perubahan biodata penduduk di kecamatan dilakukan dengan tata cara: a. Petugas Registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; b. Camat menandatangani Formulir Perubahan Biodata Penduduk Warga Negara Indonesia; c. Petugas Registrasi menyampaikan Formulir Perubahan Biodata Penduduk Warga Negara Indonesia kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. (5) Pencatatan perubahan biodata penduduk Warga Negara Indonesia di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dilakukan dengan tata cara melakukan verifikasi dan validasi data penduduk dan merekam data ke database kependudukan. (6) Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani biodata penduduk Warga Negara Indonesia yang telah diubah. (7) Pencatatan biodata penduduk bagi orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas dan orang asing yang memiliki izin tinggal tetap di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dilakukan dengan tata cara : a. Orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas mengisi dan menandatangi Surat Pernyataan Perubahan Data Kependudukan dan Formulir Perubahan Biodata orang asing tinggal terbatas; b. Orang asing yang memiliki izin tinggal tetap mengisi dan menandatangi Surat Pernyataan Perubahan Data Kependudukan dan Formulir Perubahan Biodata orang asing tinggal tetap; c. Petugas Registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; d. Petugas Registrasi menandatangani Formulir Perubahan Biodata orang asing dan merekam ke dalam database kependudukan. (8) Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani biodata orang asing yang telah diubah. Pasal 19 Perubahan biodata penduduk yang mengalami peristiwa penting di luar wilayah Republik Indonesia wajib dilaporkan kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak kembali ke daerah. Bagian Kedua Penerbitan Kartu Keluarga (KK) Pasal 20 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia wajib melaporkan susunan keluarganya kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melalui Kepala Desa/Lurah dan Camat. (2) Orang Asing yang memiliki izin tinggal tetap wajib melaporkan susunan keluarganya kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
12 (3) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) sebagai dasar untuk penerbitan KK. Pasal 21 (1) Penerbitan KK baru bagi penduduk sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 ayat (1) dan (2) dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. Izin Tinggal Tetap bagi Orang Asing; b. Fotocopy atau menunjukkan Kutipan Akta Nikah/ Kutipan akta Perkawinan; c. Surat Keterangan Pindah/ Surat Keterangan Pindah Datang; atau d. Surat Keterangan Datang dari Luar Negeri bagi Warga Negara Indonesia yang datang dari luar negeri karena pindah. (2) Perubahan KK karena penambahan anggota keluarga dalam KK bagi penduduk yang mengalami kelahiran dilakukan setelah memenuhi syarat berupa: a. KK lama; dan b. Kutipan Akta Kelahiran. (3) Perubahan KK karena penambahan anggota keluarga untuk menumpang ke dalam KK bagi penduduk Warga Negara Indonesia dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. KK lama; b. KK yang akan ditumpangi; c. Surat Keterangan Pindah Datang; dan/ atau d. Surat Keterangan Datang dari Luar Negeri bagi Warga Negara Indonesia yang datang dari luar negeri karena pindah. (4) Perubahan KK karena penambahan anggota keluarga bagi orang asing yang memiliki izin tinggal tetap untuk menumpang ke dalam KK Warga Negara Indonesia atau orang asing dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. KK lama atau KK yang ditumpangi; b. Paspor; c. Izin tinggal tetap; dan d. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) bagi orang asing tinggal tetap. (5) Perubahan KK karena pengurangan anggota keluarga dalam KK bagi penduduk dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. KK lama; b. Surat Keterangan Kematian; atau c. Izin tinggal tetap; dan d. Surat Keterangan Pindah/ Surat Keterangan Pindah Datang. (6) Perubahan KK karena hilang atau rusak bagi penduduk dilakukan setelah memenuhi syarat berupa: a. Surat Keterangan Kehilangan dari Kepala Desa/Lurah; b. KK yang rusak; c. Fotocopy atau menunjukkan dokumen kependudukan dari salah satu anggota keluarga; atau d. dokumen keimigrasian bagi orang asing
13 Pasal 22 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 ayat (1) wajib melaporkan kepada Kepala Desa/Lurah dengan menyerahkan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21. (2) Proses penerbitan atau perubahan KK di desa/kelurahan dilakukan dengan tata cara: a. Penduduk mengisi dan menandatangani formulir permohonan KK; b. Petugas Registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting; c. Petugas Registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; d. Kepala Desa/Lurah menandatangani formulir permohonan KK; dan e. Kepala Desa/Lurah/Petugas Registrasi meneruskan berkas formulir permohonan KK kepada Camat sebagai dasar proses penerbitan atau perubahan KK di kecamatan. (3) Proses penerbitan atau perubahan KK di kecamatan dilakukan dengan tata cara : a. Petugas Registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; b. Camat menandatangani formulir permohonan KK; c. Petugas Registrasi menyampaikan formulir permohonan KK yang dilampiri kelengkapan berkas persyaratan kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. (4) Penerbitan atau perubahan KK di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dilakukan dengan tata cara : a. Petugas Registrasi melakukan perekaman data ke dalam database kependudukan; dan b. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani KK. Pasal 23 (1) Orang asing yang memiliki izin tinggal tetap sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 ayat (2) wajib melaporkan kepada Kepala Desa/Lurah dengan menyerahkan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21. (2) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil memproses penerbitan atau perubahan KK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan tata cara : a. Penduduk mengisi dan menandatangani formulir permohonan KK; b. Petugas Registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; c. Petugas Registrasi menandatangani formulir permohonan KK; e. Petugas Registrasi melakukan perekaman data ke dalam database kependudukan. (3) Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani KK. Bagian Ketiga Penerbitan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pasal 24 (1) Penerbitan KTP baru bagi penduduk Warga Negara Indonesia dilakukan setelah memenuhi syarat berupa: a. telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau sudah kawin atau pernah kawin; b. Surat Pengantar RT/RW dan Kepala Desa/Lurah; c. Fotocopy : 1. KK; -187-
14 2. Kutipan Akta Nikah/Akta Kawin bagi penduduk yang belum berusia 17 (tujuh belas) tahun; 3. Kutipan Akta Kelahiran; dan d. Surat Keterangan Datang dari Luar Negeri yang diterbitkan oleh instansi pelaksana bagi Warga Negara Indonesia yang datang dari luar negeri karena pindah. (2) Penerbitan KTP baru bagi orang asing yang memiliki izin tinggal tetap dilakukan setelah memenuhi syarat berupa: a. telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau sudah kawin atau pernah kawin; b. Fotocopy : 1. KK; 2. Kutipan Akta Nikah/ Akta Kawin bagi penduduk yang belum berusia 17 (tujuh belas) tahun; 3. Kutipan Akta Kelahiran; 4. Paspor dan Izin Tinggal Tetap; dan d. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Pasal 25 (1) Penerbitan KTP karena hilang atau rusak bagi penduduk Warga Negara Indonesia atau orang asing yang memiliki izin tinggal tetap, dilakukan setelah memenuhi syarat berupa: a. Surat Keterangan Kehilangan dari Kepolisian atau KTP yang rusak; b. fotocopy KK; c. Paspor dan Izin Tinggal Tetap bagi orang asing. (2) Penerbitan KTP karena pindah datang bagi penduduk Warga Negara Indonesia atau Orang Asing yang memiliki izin tinggal tetap, dilakukan setelah memenuhi syarat berupa: a. Surat Keterangan Pindah/Surat Keterangan Pindah Datang; b. Surat Keterangan Datang dari Luar Negeri yang diterbitkan bagi Warga Negara Indonesia yang datang dari luar negeri karena pindah. (3) Penerbitan KTP karena perpanjangan bagi penduduk Warga Negara Indonesia atau Orang Asing yang memiliki izin tinggal tetap, dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. fotocopy KK; b. KTP lama; c. fotocopy paspor, izin tinggal tetap dan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) bagi Orang Asing yang memiliki izin tinggal tetap. (4) Penerbitan KTP karena adanya perubahan data bagi penduduk Warga Negara Indonesia atau Orang Asing yang memiliki izin tinggal tetap, dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. fotocopy KK; b. KTP lama; c. surat keterangan bukti perubahan peristiwa kependudukan dan peristiwa penting. Pasal 26 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 24 ayat (1) wajib melapor kepada Kepala Desa/Lurah dengan menyerahkan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 24 ayat (1) dan pasal
15 (2) Proses penerbitan KTP di Desa/Kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara: a. penduduk mengisi dan menandatangani formulir permohonan KTP Warga Negara Indonesia; b. petugas registrasi mencatat dalam buku harian peristiwa kependudukan dan peristiwa penting; c. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data; d. Kepala Desa/Lurah menandatangani formulir permohonan KTP; e. petugas registrasi menyerahkan formulir permohonan KTP kepada penduduk untuk dilaporkan kepada Camat. (3) Proses penerbitan KTP di Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e, dilakukan dengan tata cara : a. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; b. Camat menandatangani formulir permohonan KTP; c. petugas registrasi menyampaikan formulir permohonan KTP yang dilampiri dengan kelengkapan berkas persyaratan kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagai dasar penerbitan KTP. (4) Penerbitan KTP di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c, dilakukan dengan tata cara : a. petugas registrasi melakukan perekaman data ke dalam database kependudukan; b. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani KTP. Pasal 27 (1) Orang Asing yang memiliki izin tinggal tetap sebagaimana dimaksud dalam pasal 24 ayat (2) wajib melapor kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan membawa persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 24 ayat (2) dan pasal 25. (2) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil memproses penerbitan KTP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan tata cara : a. orang asing yang memiliki izin tinggal tetap mengisi dan menandatangani formulir permohonan KTP Orang Asing; b. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; c. petugas registrasi melakukan perekaman data ke dalam database kependudukan; d. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani KTP. Pasal 28 Dalam hal KTP diterbitkan karena perpanjangan, maka KTP lama ditarik oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Pasal 29 (1) Dalam KTP dimuat pas Photo berwarna dari penduduk yang bersangkutan, dengan ketentuan : a. penduduk yang lahir tahun ganjil, maka latar belakang pas Photo berwarna merah; b. penduduk yang lahir tahun genap, maka latar belakang pas Photo berwarna biru
16 (2) Pas Photo sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berukuran 2 x 3 cm dengan ketentuan 70 % tampak wajah dan untuk penduduk wanita yang beragama Islam/ Muslimah dapat menggunakan jilbab. BAB VI Pendaftaran Peristiwa Kependudukan Bagian Kesatu Pendaftaran Pindah Datang Penduduk Warga Negara Indonesia dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Paragraf 1 Umum Pasal 30 (1) Persyaratan dan tata cara pendaftaran perpindahan penduduk Warga Negara Indonesia dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya di daerah dilakukan dengan memperhatikan klasifikasi perpindahan penduduk. (2) Klasifikasi perpindahan penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri dari : a. dalam satu desa/ kelurahan; b. antar desa/ kelurahan dalam satu kecamatan; c. antar kecamatan dalam kabupaten; d. antar kabupaten/ kota dalam propinsi; e. antar propinsi. Pasal 31 (1) Pelaporan pendaftaran perpindahan penduduk Warga Negara Indonesia dilakukan dengan memenuhi syarat berupa surat pengantar RT/ RW, KK dan KTP untuk mendapatkan Surat Keterangan Pindah. (2) Pada saat diserahkan Surat Keterangan Pindah kepada penduduk, maka KTP yang bersangkutan dicabut dan dimusnahkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. (3) Surat Keterangan Pindah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku selama 30 (tiga puluh) hari kerja dan berlaku sebagai pengganti KTP selama KTP baru belum diterbitkan. Paragraf 2 Pendaftaran Pindah dalam satu Desa/ Kelurahan Pasal 32 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia yang bermaksud pindah dengan klasifikasi perpindahan dalam satu desa/ kelurahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 30 ayat (2) huruf a melapor kepada Kepala Desa/ Lurah dengan memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 31. (2) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia di Desa/ Kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara : -190-
17 a. penduduk mengisi dan menandatangani Formulir Permohonan Pindah; b. petugas registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting; c. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; d. Kepala Desa/ Lurah atas nama Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani Surat Keterangan Pindah Datang; e. petugas registrasi mencatat dalam Buku Induk Penduduk dan Buku Mutasi Penduduk. (3) Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sebagai dasar untuk : a. proses perubahan KK bagi kepala/ anggota keluarga dalam KK yang tidak pindah; b. proses penerbitan KK dan KTP dengan alamat baru; c. perekaman dalam database kependudukan. Paragraf 3 Pendaftaran Pindah antar Desa/ Kelurahan dalam satu Kecamatan Pasal 33 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia yang bermaksud pindah dengan klasifikasi perpindahan antar Desa/ Kelurahan dalam satu Kecamatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 30 ayat (2) huruf b melapor kepada Kepala Desa/ Lurah dengan memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 31. (2) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia di desa/ kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara : a. penduduk mengisi dan menandatangani Formulir Permohonan Pindah; b. petugas registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting; c. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; d. Kepala Desa/ Lurah atas nama Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani Surat Keterangan Pindah; e. petugas registrasi mencatat dalam Buku Induk Penduduk dan Buku Mutasi Penduduk; f. Surat Keterangan Pindah sebagaimana dimaksud pada huruf d diserahkan kepada penduduk untuk dilaporkan kepada Kepala Desa/ Lurah tujuan. (3) Surat Keterangan Pindah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sebagai dasar untuk : a. proses perubahan KK bagi kepala/ anggota keluarga dalam KK yang tidak pindah; b. perekaman dalam database kependudukan. Pasal 34 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 33 melaporkan kedatangannya kepada Kepala Desa/ Lurah di tempat tujuan dengan menunjukkan Surat Keterangan Pindah. (2) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia di desa/ kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara : a. penduduk mengisi dan menandatangani Formulir Permohonan Pindah Datang untuk mendapatkan Surat Keterangan Pindah Datang; -191-
18 b. petugas registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting; c. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; d. Kepala Desa/ Lurah atas nama Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani Surat Keterangan Pindah Datang; (3) Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d digunakan sebagai dasar untuk : a. proses penerbitan KK dan KTP dengan alamat baru; b. perekaman dalam database kependudukan. Paragraf 4 Pendaftaran Pindah antar Kecamatan dalam Kabupaten Pasal 35 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia yang bermaksud pindah dengan klasifikasi perpindahan antar kecamatan dalam kabupaten sebagaimana dimaksud dalam pasal 30 ayat (2) huruf c melapor kepada Kepala Desa/ Lurah dengan memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 31. (2) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia di desa/ kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara : a. penduduk mengisi dan menandatangani Formulir Permohonan Pindah; b. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; c. petugas registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting; d. Kepala Desa/ Lurah mengetahui dan membubuhkan tanda tangan pada Surat Pengantar dari RT/ RW; e. petugas registrasi mencatat dalam Buku Induk Penduduk dan Buku Mutasi Penduduk; f. Kepala Desa/ Lurah/ petugas registrasi meneruskan berkas Formulir Permohonan Pindah sebagaimana dimaksud pada huruf a dan Surat Pengantar dari RT/ RW sebagaimana dimaksud pada huruf d kepada Camat. (3) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia di kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f dilakukan dengan tata cara : a. petugas melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; b. Camat atas nama Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani Surat Keterangan Pindah; c. Surat Keterangan Pindah sebagaimana dimaksud pada huruf b diserahkan kepada penduduk untuk dilaporkan ke daerah tujuan. (4) Surat Keterangan Pindah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b digunakan sebagai dasar untuk : a. proses perubahan KK bagi kepala/ anggota keluarga dalam KK yang tidak pindah; b. perekaman dalam database kependudukan. Pasal 36 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 35 melaporkan kedatangannya kepada Kepala Desa/ Lurah di tempat tujuan dengan menunjukkan Surat Keterangan Pindah
19 (2) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia di desa/ kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara : a. penduduk mengisi dan menandatangani Formulir Permohonan Pindah Datang; b. petugas registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting; c. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; d. Kepala Desa/ Lurah menandatangani dan meneruskan Formulir Permohonan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada huruf a kepada Camat; (3) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia di Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d dilakukan dengan tata cara : a. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; b. Camat atas nama Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani Surat Keterangan Pindah Datang. (4) Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b digunakan sebagai dasar untuk : a. proses penerbitan KK dan KTP dengan alamat baru; b. perekaman dalam database kependudukan. Paragraf 5 Pendaftaran Pindah antar Kabupaten/ Kota dalam Propinsi serta antar Propinsi Pasal 37 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia yang bermaksud pindah dengan klasifikasi perpindahan antar Kabupaten/ Kota dalam Propinsi serta antar Propinsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 30 ayat (2) huruf d dan e melapor kepada Kepala Desa/ Lurah dengan memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 31. (2) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia di Desa/ Kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara : a. penduduk mengisi dan menandatangani Formulir Permohonan Pindah; b. petugas registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting; c. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; d. Kepala Desa/ Lurah menandatangani Surat Pengantar Pindah antar Kabupaten/ Kota atau antar Propinsi; e. petugas registrasi mencatat dalam Buku Induk Penduduk dan Buku Mutasi Penduduk; f. Kepala Desa/ Lurah/ petugas registrasi meneruskan berkas Formulir Permohonan Pindah sebagaimana dimaksud pada huruf a dan Surat Pengantar Pindah sebagaimana dimaksud pada huruf d kepada Camat. (3) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia di Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f dilakukan dengan tata cara : a. petugas melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; b. Camat menandatangani Surat Pengantar Pindah antar Kabupaten/ Kota atau antar Propinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f; c. petugas registrasi menyampaikan Formulir Permohonan Pindah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f dan Surat Pengantar Pindah sebagaimana dimaksud pada huruf b kepada Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
20 (4) Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani Surat Keterangan Pindah serta menyerahkan kepada penduduk untuk dilaporkan ke Daerah tujuan. (5) Surat Keterangan Pindah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) digunakan sebagai dasar untuk : a. proses perubahan KK bagi kepala/ anggota keluarga dalam KK yang tidak pindah; b. perekaman ke dalam database kependudukan. Pasal 38 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia dari luar daerah yang bermaksud pindah ke daerah wajib melaporkan kedatangannya kepada Kepala Desa/ Lurah dengan menunjukkan Surat Keterangan Pindah. (2) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di Desa/ Kelurahan dilakukan dengan tata cara : a. penduduk mengisi dan menandatangani Formulir Permohonan Pindah Datang; b. petugas registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting; c. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; d. Kepala Desa/ Lurah menandatangani dan meneruskan Formulir Permohonan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada huruf a kepada Camat; (3) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di Kecamatan dilakukan dengan tata cara : a. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; b. Camat menandatangani Formulir Permohonan Pindah Datang dan menyampaikan kepada Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagai dasar penerbitan Surat Keterangan Pindah Datang. (4) Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani Surat Keterangan Pindah Datang. (5) Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) digunakan sebagai dasar untuk : a. proses penerbitan KK dan KTP dengan alamat baru; b. perekaman dalam database kependudukan. Bagian Kedua Pendaftaran Penduduk yang Bertransmigrasi Pasal 39 Persyaratan pelaporan pendaftaran penduduk yang akan bertransmigrasi (transmigrasi lokal) meliputi : a. Surat Pengantar RT/ RW; b. KK; c. KTP; d. Kartu Seleksi Calon Transmigran; e. Surat Pemberitahuan Pemberangkatan
21 Pasal 40 Pelaporan penduduk yang bertransmigrasi di daerah dibantu oleh instansi yang menangani urusan transmigrasi. Bagian Ketiga Pendaftaran Pindah Datang Orang Asing dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 41 (1) Persyaratan dan tata cara perpindahan orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas dan orang asing yang memiliki izin tinggal tetap dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dilakukan dengan memperhatikan klasifikasi perpindahan orang asing. (2) Klasifikasi perpindahan orang asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri dari : a. dalam Kabupaten; b. antar Kabupaten/ Kota dalam Propinsi; c. antar Propinsi. Pasal 42 (1) Pelaporan pendaftaran pindah datang orang asing yang memiliki izin tinggal tetap di daerah dilakukan dengan memenuhi syarat berupa : a. KK; b. KTP untuk orang asing; c. fotocopy paspor dengan menunjukkan aslinya; d. fotocopy Kartu Izin Tinggal Tetap; e. menunjukkan Buku Pengawasan Orang Asing; f. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). (2) Pelaporan pendaftaran pindah datang orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas di daerah dilakukan dengan memenuhi syarat berupa : a. Surat Keterangan Tempat Tinggal; b. fotocopy paspor dengan menunjukkan aslinya; c. fotocopy Kartu Izin Tinggal Terbatas; d. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Pasal 43 (1) Orang Asing yang memiliki izin tinggal terbatas atau Orang asing yang memiliki izin tinggal tetap yang bermaksud pindah dengan klasifikasi perpindahan dalam Kabupaten sebagaimana dimaksud dalam pasal 41 ayat (2) huruf a melapor kepada Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan membawa persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 42. (2) Pendaftaran orang asing di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara : a. orang asing mengisi dan menandatangani Formulir Surat Keterangan Pindah Datang; b. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data; c. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menandatangani Surat Keterangan Pindah Datang; -195-
22 d. petugas merekam data dalam database kependudukan; e. petugas menyampaikan lembar kedua Surat Keterangan Pindah Datang kepada Kepala Desa/ Lurah tempat tinggal asal. (3) Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c digunakan sebagai dasar : a. perubahan KK bagi kepala/ anggota keluarga dalam KK yang tidak pindah; b. penerbitan Surat Keterangan Tempat Tinggal dengan alamat baru bagi orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas; c. penerbitan KK dan KTP dengan alamat baru bagi orang asing yang memiliki izin tinggal tetap. (4) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menyampaikan data pindah datang orang asing kepada Camat dan Kepala Desa/ Lurah. Pasal 44 (1) Orang Asing yang memiliki izin tinggal terbatas atau Orang asing yang memiliki izin tinggal tetap yang bermaksud pindah dengan klasifikasi perpindahan antar Kabupaten/ Kota dalam Propinsi dan antar Propinsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 41 ayat (2) huruf b dan c melapor kepada Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan membawa persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 42. (2) Pendaftaran orang asing di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara : a. orang asing mengisi dan menandatangani Formulir Surat Keterangan Pindah Datang; b. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data; c. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menandatangani Surat Keterangan Pindah Datang dan menyerahkan kepada orang asing untuk dilaporkan ke daerah tujuan; d. petugas merekam data dalam database kependudukan. (3) Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c digunakan sebagai dasar perubahan KK bagi kepala/ anggota keluarga dalam KK yang tidak pindah. Pasal 45 (1) Orang Asing yang memiliki izin tinggal terbatas atau Orang asing yang memiliki izin tinggal tetap yang bermaksud pindah ke daerah wajib melaporkan kedatangannya kepada Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan menyerahkan Surat Keterangan Pindah Datang. (2) Pendaftaran orang asing di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara : a. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data; b. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menandatangani Surat Keterangan Pindah Datang; c. petugas merekam data dalam database kependudukan. (3) Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b digunakan sebagai dasar : a. penerbitan KK dan KTP dengan alamat baru bagi orang asing yang memiliki izin tinggal tetap; -196-
23 b. penerbitan Surat Keterangan Tempat Tinggal dengan alamat baru bagi orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas. (4) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menyampaikan data pindah datang orang asing kepada Camat dan Kepala Desa/ Lurah. Bagian Keempat Pendaftaran Pindah Datang Antar Negara Paragraf 1 Klasifikasi Perpindahan Penduduk Pasal 46 Perpindahan penduduk antar Negara, meliputi klasifikasi : a. Penduduk Warga Negara Indonesia pindah ke luar negeri untuk menetap dalam jangka waktu 1 (satu) tahun atau lebih berturut-turut; b. Warga Negara Indonesia datang dari luar negeri karena pindah dan menetap di Indonesia; c. Orang asing datang dari luar negeri dengan izin tinggal terbatas; d. Orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas atau izin tinggal tetap yang akan pindah ke luar negeri. Paragraf 2 Persyaratan yang harus dipenuhi oleh Penduduk yang akan pindah Pasal 47 (1) Pendaftaran bagi penduduk Warga Negara Indonesia yang akan pindah ke Luar Negeri sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 huruf a dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. Surat Pengantar pindah dari RT/ RW; b. KK; c. KTP. (2) Pendaftaran bagi Warga Negara Indonesia yang datang dari luar negeri sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 huruf b dilakukan dengan memenuhi syarat berupa paspor atau dokumen pengganti paspor. (3) Pendaftaran bagi orang asing yang datang dari luar negeri sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 huruf c dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. paspor; b. izin tinggal terbatas. (4) Pendaftaran bagi orang asing yang akan pindah ke luar negeri sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 huruf d dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. KK dan KTP bagi orang asing yang memiliki izin tinggal tetap; b. Surat Keterangan Tempat Tinggal bagi orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas
24 Paragraf 3 Pendaftaran Penduduk Warga Negara Indonesia yang akan pindah ke Luar Negeri Pasal 48 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia yang akan pindah ke luar negeri sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 huruf a melapor kepada Kepala Desa/ Lurah dengan membawa syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 47 ayat (1). (2) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di Desa/ Kelurahan, dilakukan dengan tata cara : a. penduduk mengisi dan menandatangani formulir Surat Pengantar Pindah ke Luar Negeri; b. petugas registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting; c. petugas registrasi melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; d. Kepala Desa/ Lurah mengetahui dan menandatangani serta meneruskan Surat Pengantar Pindah ke Luar Negeri sebagaimana dimaksud pada huruf a kepada Camat; e. petugas registrasi mencatat dalam Buku Induk Penduduk dan Buku Mutasi Penduduk. (3) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di kecamatan, dilakukan dengan tata cara : a. Surat Pengantar Pindah ke Luar Negeri dari penduduk diketahui Camat dengan membubuhkan tanda tangan; b. petugas melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; c. petugas meneruskan Surat Pengantar Pindah ke Luar Negeri kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; d. petugas registrasi merekam data dalam database kependudukan. (4) Pendaftaran penduduk Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (3) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, dilakukan dengan tata cara : a. petugas menerima Surat Pengantar Pindah ke Luar Negeri dari penduduk disertai persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 47 huruf b dan c; b. petugas melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; c. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani Surat Keterangan Pindah ke Luar Negeri; d. petugas registrasi mencabut KTP penduduk yang telah mendapat Surat Keterangan Pindah ke Luar Negeri. (5) Dalam hal satu keluarga pindah ke luar negeri, maka KK penduduk yang pindah dicabut oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. (6) Dalam hal satu orang atau beberapa orang dari satu keluarga pindah ke luar negeri, maka Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melakukan perubahan KK bagi anggota keluarga yang tinggal. (7) Surat Keterangan Pindah ke luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c digunakan untuk pengurusan paspor dan pelaporan pada perwakilan Republik Indonesia negara tujuan
25 Paragraf 4 Pendaftaran Warga Negara Indonesia yang datang dari luar negeri Pasal 49 (1) Warga Negara Indonesia yang datang dari luar negeri sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 huruf b wajib melapor kepada Kepala Desa/ Lurah dengan membawa syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 47 ayat (2). (2) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melakukan pendaftaran Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan tata cara : a. Warga Negara Indonesia mengisi dan menandatangani formulir Surat Keterangan Datang dari Luar Negeri; b. petugas melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; c. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani Surat Keterangan Datang dari Luar Negeri, KK dan KTP; d. petugas merekam data dalam database kependudukan. (3) Warga Negara Indonesia yang telah mendapatkan KK dan KTP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c wajib melaporkan kedatangannya kepada Camat, Kepala Desa/ Lurah dan RT/ RW tempat domisili dengan menyerahkan Surat Keterangan Datang dari Luar Negeri. (4) Kepala Desa/ Lurah melakukan pendaftaran Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan cara petugas registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting, Buku Induk Penduduk dan Buku Mutasi Penduduk. Paragraf 5 Pendaftaran Orang Asing yang datang dari Luar Negeri Pasal 50 (1) Orang Asing yang datang dari Luar Negeri sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 huruf c wajib melapor kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan membawa syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 47 ayat (3). (2) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melakukan pendaftaran orang asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan tata cara : a. orang asing mengisi dan menandatangani formulir Pendaftaran Orang Asing Tinggal Terbatas; b. petugas melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; c. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani Surat Keterangan Tempat Tinggal; d. petugas merekam data dalam database kependudukan. (3) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menyampaikan data pindah datang orang asing kepada Camat dan Kepala Desa/ Lurah. (4) Kepala Desa/ Lurah melakukan pendaftaran orang asing sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan cara petugas registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting, Buku Induk Penduduk dan Buku Mutasi Penduduk
26 Pasal 51 (1) Orang Asing yang memiliki izin tinggal terbatas yang berubah status menjadi izin tinggal tetap wajib melapor kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan membawa persyaratan : a. paspor; b. Surat Keterangan Tempat Tinggal; c. Kartu Izin Tinggal Tetap; d. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). (2) Pendaftaran orang asing di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dilakukan dengan tata cara : a. orang asing mengisi dan menandatangani formulir Pendaftaran Orang Asing Tinggal Tetap; b. petugas melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; c. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dan menandatangani KK dan KTP orang asing; d. petugas registrasi merekam data dalam database kependudukan. (3) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menyampaikan data pindah datang orang asing kepada Camat dan Kepala Desa/ Lurah. (4) Kepala Desa/ Lurah melakukan pendaftaran orang asing sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan cara petugas registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting, Buku Induk Penduduk dan Buku Mutasi Penduduk. Paragraf 6 Pendaftaran Orang Asing yang akan pindah ke Luar Negeri Pasal 52 (1) Orang asing yang akan pindah ke luar negeri sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 huruf d wajib melapor kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan membawa persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 47 ayat (4). (2) Pendaftaran orang asing di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara : a. orang asing mengisi dan menandatangani formulir Keterangan Pindah ke luar negeri; b. petugas melakukan verifikasi dan validasi data penduduk; c. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menyimpan KK dan KTP orang asing atau Surat Keterangan Tempat Tinggal dari orang asing yang akan pindah; d. petugas merekam data dalam database kependudukan; e. petugas menyampaikan formulir Keterangan Pindah ke luar negeri kepada Camat dan Kepala Desa/ Lurah tempat domisili. (3) Kepala Desa/ Lurah melakukan pendaftaran orang asing yang telah pindah ke luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dengan cara petugas registrasi mencatat dalam Buku Harian Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting, Buku Induk Penduduk dan Buku Mutasi Penduduk
27 Bagian Kelima Pendataan Penduduk Rentan Administrasi Kependudukan Pasal 53 Pendataan penduduk rentan administrasi kependudukan, meliputi klasifikasi : a. penduduk korban bencana alam; b. penduduk korban bencana sosial; c. orang terlantar; d. komunitas terpencil. Pasal 54 (1) Pendataan penduduk korban bencana alam dan korban bencana sosial sebagaimana dimaksud dalam pasal 53 huruf a dan b, dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan menyediakan : a. formulir pernyataan kehilangan dokumen kependudukan; b. formulir pendataan; c. dokumen kependudukan yang tercatat dalam data kependudukan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. (2) Pendataan orang terlantar sebagaimana dimaksud dalam pasal 53 huruf c, dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan menyediakan : a. formulir pernyataan tidak memiliki dokumen kependudukan; b. formulir pendataan. (3) Pendataan komunitas terpencil sebagaimana dimaksud dalam pasal 53 huruf d, dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan menyediakan: a. formulir keterangan atau pengakuan dari Kepala Suku/ Kepala Adat setempat; b. formulir pendataan. (4) Untuk pendataan penduduk rentan administrasi kependudukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2), (3) dan (4) dibentuk Tim Pendataan yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati. Pasal 55 (1) Pendataan penduduk korban bencana alam dan korban bencana sosial sebagaimana dimaksud dalam pasal 54 ayat (1), dilakukan dengan tata cara : a. mendatangi penduduk di tempat penampungan sementara; b. mengisi formulir pendataan untuk ditandatangani penduduk; c. melakukan verifikasi dan validasi; d. mencatat dan merekam data penduduk untuk disampaikan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; e. membantu proses penerbitan Surat Keterangan Pengganti Tanda Identitas dan Surat Keterangan Pencatatan Sipil. (2) Pendataan orang terlantar sebagaimana dimaksud dalam pasal 54 ayat (2), dilakukan dengan tata cara : a. membuat data lokasi orang terlantar; b. mendatangi orang terlantar; c. mengisikan formulir pendataan untuk ditandatangani penduduk; -201-
28 d. melakukan verifikasi dan validasi; e. mencatat dan merekam data penduduk untuk disampaikan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; f. membantu proses penerbitan Surat Keterangan Orang Terlantar. (3) Pendataan komunitas terpencil sebagaimana dimaksud dalam pasal 54 ayat (3), dilakukan dengan tata cara : a. mendatangi komunitas terpencil; b. mengisikan formulir pendataan untuk ditandatangani penduduk; c. melakukan verifikasi dan validasi; d. mencatat dan merekam data penduduk untuk disampaikan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; e. membantu proses penerbitan Surat Keterangan Tanda Komunitas. (4) Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menandatangani Surat Keterangan Pengganti Tanda Identitas, Surat Keterangan Pencatatan Sipil, Surat Keterangan Orang Terlantar dan Surat Keterangan Orang Terlantar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, ayat (2) huruf f dan ayat (3) huruf e. (5) Surat Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) menjadi dasar bagi Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan dokumen kependudukan sesuai peraturan perundang-undangan. Bagian Keenam Pelaporan Penduduk Yang Tidak Mampu Mendaftarkan Sendiri Pasal 56 (1) Penduduk yang dikategorikan tidak mampu mendaftarkan sendiri terhadap peristiwa kependudukan yang menyangkut dirinya sendiri adalah penduduk yang tidak mampu mendaftarkan sendiri karena : a. faktor umur (jompo/ uzur); b. sakit keras; c. cacat fisik; atau d. cacat mental. (2) Penduduk yang tidak mampu melakukan pelaporan sendiri dalam pendaftaran penduduk dapat dibantu oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau meminta bantuan kepada orang lain (keluarganya atau orang yang diberi kuasa). (3) Pelaporan penduduk yang tidak mampu mendaftarkan sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan pengisian formulir yang telah ditetapkan. BAB VII PENCATATAN SIPIL Bagian Kesatu Pencatatan Kelahiran Paragraf 1 Pencatatan Kelahiran untuk Pelaporan Kelahiran yang tidak melampaui batas waktu 60 hari -202-
29 Pasal 57 (1) Setiap peristiwa kelahiran di daerah dicatatkan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. (2) Pencatatan peristiwa kelahiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan : a. tempat domisili ibunya bagi penduduk Warga Negara Indonesia; b. di luar tempat domisili ibunya bagi penduduk Warga Negara Indonesia; c. tempat domisili ibunya bagi penduduk orang asing; d. di luar tempat domisili ibunya bagi penduduk Warga Negara Indonesia; e. orang asing pemegang izin kunjungan; f. anak yang tidak diketahui asal-usulnya atau keberadaan orang tuanya. Pasal 58 (1) Pencatatan kelahiran sebagaimana dimaksud dalam pasal 57 ayat (2) huruf a dan b dilakukan dengan memenuhi syarat : a. Surat Kelahiran dari dokter/ bidan/ penolong kelahiran; b. nama dan identitas saksi kelahiran; c. KK orang tua; d. KTP orang tua; e. Kutipan Akta Nikah/ Akta Perkawinan orang tua. (2) Dalam hal pelaporan kelahiran tidak disertai Kutipan Akta Nikah/ Akta Perkawinan orang tua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e maka pencatatan kelahiran tetap dilaksanakan. (3) Pencatatan kelahiran orang asing sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, d dan e, dilakukan dengan memenuhi syarat berupa : a. Surat Kelahiran dari dokter/ bidan/ penolong kelahiran; b. Kutipan Akta Nikah/ Akta Perkawinan orang tua; c. KK dan KTP orang tua bagi pemegang izin tinggal tetap; d. Surat Keterangan Tempat Tinggal orang tua bagi pemegang izin tinggal terbatas; e. paspor bagi pemegang izin kunjungan. (4) Persyaratan pencatatan kelahiran anak yang tidak diketahui asal-usulnya atau keberadaan orang tuanya sebagaimana dimaksud dalam pasal 57 ayat (2) huruf f, adalah dengan melampirkan Berita Acara Pemeriksaan dari Kepolisian. Pasal 59 (1) Pencatatan kelahiran Penduduk Warga Negara Indonesia dengan memperhatikan tempat domisili ibunya sebagaimana dimaksud dalam pasal 57 ayat (2) huruf a, dilakukan dengan tata cara : a. Penduduk Warga Negara Indonesia mengisi formulir Surat Keterangan Kelahiran dengan menunjukkan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 58 ayat (1) kepada petugas registrasi di Kantor Desa/ Kelurahan; b. formulir Surat Keterangan Kelahiran sebagaimana dimaksud pada huruf a ditandatangani oleh pemohon dan diketahui oleh Kepala Desa/ Lurah; c. Kepala Desa/ Lurah berkewajiban meneruskan formulir Surat Keterangan Kelahiran kepada UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil untuk diterbitkan Kutipan Akta Kelahiran; -203-
30 d. Pejabat pencatatan sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil/ UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat dalam register akta kelahiran dan menerbitkan kutipan akta kelahiran dan menyampaikan kepada Kepala Desa/ Lurah atau pemohon. (2) Dalam hal UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c tidak ada, maka Kepala Desa/ Lurah wajib menyampaikan formulir Surat Keterangan Kelahiran sebagaimana dimaksud pada huruf b ke Kantor Kecamatan. (3) Camat wajib meneruskan formulir Surat Keterangan Kelahiran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Pasal 60 Pencatatan kelahiran Penduduk Warga Negara Indonesia dengan memperhatikan di luar tempat domisili ibunya sebagaimana dimaksud dalam pasal 57 ayat (2) huruf b, dilakukan dengan tata cara : a. Penduduk Warga Negara Indonesia mengisi formulir Surat Keterangan Kelahiran dengan menyerahkan surat kelahiran dokter/ bidan/ penolong kelahiran dan menunjukkan KTP ibu atau bapaknya kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; b. Pejabat pencatatan sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat dalam register akta kelahiran dan menerbitkan kutipan akta kelahiran. Pasal 61 Pencatatan kelahiran Penduduk orang asing sebagaimana dimaksud dalam pasal 57 ayat (2) huruf c dan d, dilakukan dengan tata cara : a. Penduduk orang asing mengisi formulir Surat Keterangan Kelahiran dengan menyerahkan surat kelahiran dokter/ bidan/ penolong kelahiran dan menunjukkan KTP ibu atau bapaknya kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; b. Pejabat pencatatan sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat dalam register akta kelahiran dan menerbitkan kutipan akta kelahiran. Pasal 62 Pencatatan kelahiran orang asing pemegang izin kunjungan sebagaimana dimaksud dalam pasal 57 ayat (2) huruf e, dilakukan dengan tata cara : a. orang asing mengisi formulir Surat Keterangan Kelahiran dengan menyerahkan surat kelahiran dokter/ bidan/ penolong kelahiran dan paspor kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; b. Pejabat pencatatan sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat dalam register akta kelahiran dan menerbitkan kutipan akta kelahiran. Pasal 63 Dalam hal terjadi peristiwa kelahiran orang asing yang tidak termasuk dalam lingkup kelahiran sebagaimana dimaksud dalam pasal 57 ayat (2) maka dapat diberikan Surat Keterangan Tanda Lahir oleh Kepala Klinik/ dokter/ bidan pada klinik tempat kelahiran atau Kepala Bandar Udara/ Kepala Pelabuhan/ Nakhoda kapal berbendera Indonesia/ Pilot pesawat terbang Indonesia
31 Pasal 64 Pencatatan kelahiran anak yang tidak diketahui asal-usulnya atau keberadaan orang tuanya, dilakukan dengan tata cara : a. pelapor/ pemohon mengisi formulir Surat Keterangan Kelahiran di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan menyertakan Berita Acara Pemeriksaan dari Kepolisian; b. Pejabat pencatatan sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat dalam register akta kelahiran dan menerbitkan kutipan akta kelahiran. Paragraf 2 Pencatatan Kelahiran untuk Pelaporan Kelahiran yang melampaui batas waktu 60 hari dan 1 tahun Pasal 65 (1) Pencatatan pelaporan kelahiran yang melampaui batas waktu 60 (enam puluh) hari sampai dengan 1 (satu) tahun sejak tanggal kelahiran, dilakukan sesuai dengan ketentuan mengenai persyaratan pencatatan kelahiran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 setelah mendapatkan persetujuan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. (2) Tata cara pencatatan pelaporan kelahiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku ketentuan mengenai tata cara pencatatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59, 60, 61 dan 62. Pasal 66 (1) Pencatatan pelaporan kelahiran yang melampaui batas waktu 1 (satu) tahun sejak tanggal kelahiran, dilakukan sesuai dengan ketentuan mengenai persyaratan pencatatan kelahiran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 setelah mendapatkan penetapan Pengadilan Negeri. (2) Tata cara pencatatan pelaporan kelahiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku ketentuan mengenai tata cara pencatatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59, 60, 61 dan 62. Paragraf 3 Pelaporan Pencatatan Kelahiran di Luar Wilayah Negara Kesatuan Indonesia dan Kelahiran di atas Kapal Laut/ Pesawat terbang Pasal 67 Warga Negara Indonesia yang lahir di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia setelah kembali ke daerah, maka orang tua/ walinya wajib melapor kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan membawa bukti pelaporan/ pencatatan kelahiran dari luar negeri. Pasal 68 (1) Kelahiran Warga Negara Indonesia di atas kapal laut atau pesawat terbang dengan tujuan/ singgah ke daerah, maka orang tuanya/ nakhoda/ kapten pesawat/ kepala bandar udara/ kepala pelabuhan wajib melaporkan kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil berdasarkan keterangan kelahiran dari nakhoda kapal laut atau kapten pesawat terbang. (2) Warga Negara Indonesia yang lahir di atas kapal laut atau pesawat terbang di mana tempat tujuan/ singgah kapal laut atau pesawat terbang berada di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, apabila Warga Negara Indonesia tersebut kembali ke daerah, maka orang tua/ walinya wajib melapor kepada Dinas Kependudukan dan -205-
32 Pencatatan Sipil dengan membawa bukti pelaporan/ pencatatan kelahiran dari luar negeri. Paragraf 4 Pencatatan Lahir Mati Pasal 69 (1) Pencatatan pelaporan lahir mati, dilakukan dengan memenuhi syarat : a. surat pengantar RT dan RW; b. keterangan lahir mati dari dokter/ bidan/ penolong kelahiran. (2) Berdasarkan pencatatan pelaporan lahir mati sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Kepala Desa/ Lurah menerbitkan dan menandatangani Surat Keterangan Lahir Mati atas nama Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. (3) Kepala Desa/ Lurah berkewajiban mengirim Surat Keterangan Lahir Mati kepada Petugas perekaman data kependudukan di kecamatan. (4) Pencatatan pelaporan lahir mati Orang Asing dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Bagian Kedua Pencatatan Perkawinan Paragraf 1 Perkawinan di Daerah Pasal 70 (1) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan maka pencatatan perkawinan untuk penduduk yang beragama Islam dilakukan oleh KUA Kec. sehingga Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil berkewajiban untuk melakukan koordinasi secara periodik untuk mendapatkan data hasil pencatatan KUA Kec. atas peristiwa perkawinan tersebut guna direkam ke dalam database kependudukan. (2) Pencatatan perkawinan untuk penduduk selain yang beragama Islam dilakukan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil tempat terjadinya perkawinan. (3) Pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan dengan memenuhi syarat berupa: a. Surat keterangan telah terjadinya perkawinan dari pemuka agama/ pendeta atau surat perkawinan Penghayat Kepercayaan yang ditandatangani oleh Pemuka Penghayat Kepercayaan; b. KTP suami dan istri; c. Pas foto suami dan istri; d. Kutipan Akta Kelahiran suami dan istri; e. Paspor bagi suami atau istri Orang Asing. (4) Pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan tata cara: a. Pasangan suami dan istri mengisi formulir pencatatan perkawinan pada UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3);
33 b. Pejabat Pencatatan Sipil pada UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Perkawinan dan menerbitkan Kutipan Akta Perkawinan; c. Kutipan Akta Perkawinan sebagaimana dimaksud pada huruf b diberikan kepada masing-masing suami dan istri. Pasal 71 Pencatatan perkawinan berdasarkan penetapan pengadilan dilakukan dengan cara menunjukkan penetapan pengadilan. Paragraf 2 Pelaporan Pencatatan Perkawinan di Luar Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 72 Warga Negara Indonesia yang melangsungkan perkawinan di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, setelah kembali di daerah wajib melapor kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di tempat domisili dengan membawa bukti pelaporan/ pencatatan perkawinan di luar negeri dan Kutipan Akta Perkawinan. Paragraf 3 Pencatatan Pembatalan Perkawinan Pasal 73 (1) Pencatatan pembatalan perkawinan dilakukan dengan menyerahkan salinan putusan pengadilan mengenai pembatalan perkawinan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan Kutipan Akta Perkawinan. (2) Pencatatan pembatalan perkawinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dilakukan dengan tata cara: a. pasangan suami dan istri yang perkawinannya dibatalkan, mengisi Formulir Pencatatan Pembatalan Perkawinan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1); b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencabut Kutipan Akta Perkawinan dan memberikan catatan pinggir pada Register Akta Perkawinan serta menerbitkan Surat Keterangan Pembatalan Perkawinan; (3) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencatat dan merekam dalam database kependudukan. Bagian Ketiga Pencatatan Perceraian Paragraf 1 Pencatatan Perceraian di Daerah Pasal
34 (1) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan maka pencatatan perceraian untuk penduduk yang beragama Islam dilakukan oleh KUA Kec, sehingga Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil berkewajiban untuk melakukan koordinasi secara periodik untuk mendapatkan data hasil pencatatan KUAKec atas peristiwa perceraian tersebut guna direkam ke dalam database kependudukan. (2) Pencatatan perceraian untuk penduduk selain yang beragama Islam dilakukan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. (3) Pencatatan perceraian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan dengan menyerahkan salinan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dan Kutipan Akta Perkawinan. (4) Pencatatan perceraian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan dengan tata cara: a. pasangan suami dan istri yang bercerai mengisi Formulir Pencatatan Perceraian pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau pada UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan melampirkan salinan putusan pengadilan dan Kutipan Akta Perkawinan sebagaimana dimaksud pada ayat (3); b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Perceraian, memberikan catatan pinggir pada Register Akta Perkawinan dan mencabut Kutipan Akta Perkawinan serta menerbitkan Kutipan Akta Perceraian; c. Kutipan Akta Perceraian sebagaimana dimaksud pada huruf b diberikan kepada masing-masing suami dan istri yang bercerai. (5) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a mencatat dan merekam dalam database kependudukan. Paragraf 2 Pelaporan Pencatatan Perceraian di Luar Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 75 Penduduk Warga Negara Indonesia yang melakukan perceraian di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, setelah kembali di daerah wajib melapor ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di tempat domisili dengan membawa bukti pelaporan/ pencatatan perceraian di luar negeri. Paragraf 3 Pencatatan Pembatalan Perceraian Pasal 76 (1) Pencatatan pembatalan perceraian dilakukan dengan menyerahkan salinan putusan pengadilan mengenai pembatalan perceraian yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dan Kutipan Akta Perceraian. (2) Pencatatan pembatalan perceraian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan tata cara : -208-
35 a. pasangan suami dan istri yang perceraiannya dibatalkan, mengisi Formulir Pencatatan Pembatalan Perceraian pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2); b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil memberikan catatan pinggir dan mencabut Kutipan Akta Perceraian, serta menerbitkan Surat Keterangan Pembatalan Perceraian. (3) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a mencatat dan merekam dalam database kependudukan. Bagian Keempat Pencatatan Kematian Pasal 77 (1) Pencatatan kematian dilakukan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di tempat terjadinya kematian. (2) Pencatatan kematian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memenuhi syarat berupa: a. Surat Pengantar dari RT dan RW untuk mendapatkan Surat Keterangan Kepala Desa/ Lurah; dan/ atau b. Keterangan kematian dari dokter/ paramedis. (3) Pencatatan kematian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan tata cara: a. pelapor mengisi dan menyerahkan Formulir Pelaporan Kematian dengan melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada petugas registrasi di Kantor Desa/Kelurahan untuk diteruskan kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; b. Kepala Desa/ Lurah menerbitkan Surat Keterangan Kematian dan disampaikan kepada pelapor/ yang bersangkutan untuk digunakan seperlunya; c. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Kematian dan menerbitkan Kutipan Akta Kematian. Pasal 78 (1) Pencatatan kematian bagi Orang Asing dilakukan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di tempat terjadinya kematian. (2) Pencatatan kematian bagi Orang Asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memenuhi syarat berupa : a. Keterangan Kematian dari dokter/ paramedis; b. fotokopi KK dan KTP bagi Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap; c. fotokopi Surat Keterangan Tempat Tinggal bagi Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas; d. fotokopi Paspor bagi Orang Asing yang memiliki Izin Kunjungan. (3) Pencatatan kematian bagi Orang Asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan tata cara : -209-
36 a. pelapor mengisi dan menyerahkan Formulir Pelaporan Kematian dengan melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Kematian dan menerbitkan Kutipan Akta Kematian. Pasal 79 (1) Pencatatan pelaporan kematian seseorang yang hilang atau mati yang tidak ditemukan jenazahnya dan/atau tidak jelas identitasnya dicatat pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di tempat tinggal pelapor. (2) Pencatatan pelaporan kematian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memenuhi syarat berupa : a. KK; b. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK); c. salinan penetapan pengadilan mengenai kematian yang hilang atau tidak diketahui jenazahnya. (3) Pencatatan kematian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan tata cara : a. Pelapor mengisi dan menyerahkan Formulir Pelaporan Kematian dengan melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Kematian dan menerbitkan Kutipan Akta Kematian; c. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat dan merekam dalam database kependudukan. (4) Dalam hal pelaporan kematian seseorang yang ditemukan jenazahnya tetapi tidak diketahui identitasnya dicatat oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di tempat di ketemukan jenazahnya. (5) Pencatatan pelaporan kematian sebagaimana dimaksud pada ayat (4), dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil berdasarkan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). (6) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (5) menerbitkan Surat Keterangan Kematian. Bagian Kelima Pencatatan Pengangkatan Anak, Pengakuan Anak dan Pengesahan Anak Paragraf 1 Pencatatan Pengangkatan Anak di Daerah Pasal
37 (1) Pencatatan pelaporan pengangkatan anak dilakukan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil selaku instansi pelaksana yang menerbitkan Akta Kelahiran di daerah. (2) Pencatatan pengangkatan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memenuhi syarat berupa fotokopi : a. penetapan pengadilan tentang pengangkatan anak; b. Kutipan Akta Kelahiran; c. KTP pemohon; d. KK pemohon. (3) Pencatatan pengangkatan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan tata cara : a. pemohon mengisi dan menyerahkan Formulir Pelaporan Pengangkatan Anak dengan melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; b. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat dan merekam ke dalam database kependudukan; c. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil memberikan catatan pinggir pada Register Akta Kelahiran dan Kutipan Akta Kelahiran Anak. Paragraf 2 Pelaporan Pencatatan Pengangkatan Anak Warga Negara Asing oleh Warga Negara Indonesia di Luar Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 81 (1) Pengangkatan Anak Warga Negara Asing oleh Warga Negara Indonesia di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, wajib dilaporkan kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di tempat tinggalnya setelah kembali di daerah untuk direkam dalam database kependudukan. (2) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mengukuhkan Surat Keterangan Pengangkatan Anak yang diterbitkan oleh Pejabat Konsuler. Paragraf 3 Pencatatan Pengakuan Anak Pasal 82 (1) Pencatatan pelaporan pengakuan anak dilakukan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang menerbitkan Kutipan Akta Kelahiran. (2) Pencatatan pengakuan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan memenuhi syarat berupa : a. Surat Pengantar dari RT/ RW dan diketahui Kepala Desa/ Lurah; b. Surat Pengakuan Anak dari ayah biologis yang disetujui oleh ibu kandung; c. Kutipan Akta Kelahiran; dan d. fotokopi KK dan KTP ayah biologis dan ibu kandung
38 (3) Pencatatan pelaporan pengakuan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan tata cara: a. Pelapor mengisi dan menyerahkan Formulir Pelaporan Pengakuan Anak dengan melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat dalam Register Akta Pengakuan Anak dan menerbitkan Kutipan Akta Pengakuan Anak; c. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil membuat catatan pinggir pada register Akta Kelahiran dan Kutipan Akta Kelahiran; d. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada huruf b dan huruf c merekam data pengakuan anak dalam database kependudukan. Paragraf 4 Pencatatan Pengesahan Anak Pasal 83 (1) Pencatatan pelaporan pengesahan anak dilakukan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil tempat tinggal pemohon. (2) Pencatatan pengesahan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memenuhi syarat berupa : a. Surat Pengantar dari RT/ RW dan diketahui Kepala Desa/ Lurah; b. Kutipan Akta Kelahiran; c. fotokopi Kutipan Akta Perkawinan; d. fotokopi KK; e. fotokopi KTP pemohon. (3) Pencatatan pengesahan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan tata cara : a. pemohon mengisi dan menyerahkan Formulir Pelaporan Pengesahan Anak dengan melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat pada register Akta Perkawinan dan membuat catatan pinggir pada Register Akta Kelahiran dan Kutipan Akta Kelahiran; c. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada huruf b merekam data pengesahan anak dalam database kependudukan
39 Bagian Keenam Pencatatan Perubahan Nama Pasal 84 (1) Pencatatan pelaporan perubahan nama dilakukan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil selaku instansi pelaksana yang menerbitkan Akta Pencatatan Sipil. (2) Pencatatan perubahan nama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memenuhi syarat berupa: a. salinan penetapan Pengadilan Negeri tentang perubahan nama; b. Kutipan Akta Catatan Sipil; c. Kutipan Akta Perkawinan bagi yang sudah kawin; d. fotokopi KK; dan e. fotokopi KTP. (3) Pencatatan pelaporan perubahan nama sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan tata cara: a. pemohon mengisi dan menyerahkan Formulir Pelaporan Perubahan Nama dengan melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil membuat catatan pinggir pada register akta catatan sipil dan kutipan akta catatan sipil; c. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada huruf b merekam data perubahan nama dalam database kependudukan. Bagian Ketujuh Pencatatan Perubahan Status Kewarganegaraan Pasal 85 (1) Pencatatan pelaporan perubahan status kewarganegaraan dari Warga Negara Asing menjadi Warga Negara Indonesia dilakukan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di tempat peristiwa perubahan status kewarganegaraan. (2) Pencatatan perubahan status kewarganegaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memenuhi syarat berupa : a. salinan Keputusan Presiden mengenai Perubahan Status Kewarganegaraan menjadi Warga Negara Indonesia atau salinan Keputusan Menteri yang bidang tugasnya meliputi urusan kewarganegaraan; b. Kutipan Akta Catatan Sipil; c. Kutipan Akta Perkawinan bagi yang sudah kawin; d. fotokopi KK; e. fotokopi KTP; f. fotokopi Paspor. (3) Pencatatan perubahan status kewarganegaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan tata cara : -213-
40 a. pemohon mengisi dan menyerahkan Formulir Pelaporan Perubahan Status Kewarganegaraan dengan melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil membuat catatan pinggir pada register akta catatan sipil dan kutipan akta catatan sipil; c. Pejabat pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil merekam data perubahan status kewarganegaraan sebagaimana dimaksud pada huruf b dalam database kependudukan. Pasal 86 (1) Dalam hal anak yang berkewarganegaraan ganda paling lambat 3 (tiga) tahun setelah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin harus menyatakan memilih salah satu kewarganegaraannya, dan wajib melapor ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. (2) Waktu pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal batas waktu yang ditentukan berdasarkan Peraturan perundang-undangan untuk memilih berakhir. (3) Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengembalikan KTP dan menyerahkan KK serta Akta Catatan Sipil untuk diubah oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. (4) Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil membuat catatan pinggir pada register akta catatan sipil dan kutipan akta catatan sipil serta mencabut KTP serta mengeluarkan data anak tersebut dari KK. (5) Pejabat pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil merekam data perubahan status kewarganegaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dalam database kependudukan. Pasal 87 Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil wajib membuat catatan pinggir pada Register Akta Pencatatan Sipil dan Kutipan Akta Pencatatan Sipil Warga Negara Indonesia yang melakukan perubahan status kewarganegaraan di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (menjadi warga negara asing/ negara lain) setelah menerima data perubahan status kewarganegaraan (yang diterbitkan Pejabat Konsuler) dari Departemen Dalam Negeri. Bagian Kedelapan Pencatatan Peristiwa Penting Lainnya Pasal 88 (1) Pencatatan pelaporan peristiwa penting lainnya dilakukan oleh pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil tempat terjadinya peristiwa penting lainnya. (2) Peristiwa penting lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain perubahan jenis kelamin
41 (3) Pencatatan peristiwa penting lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memenuhi syarat berupa: a. penetapan pengadilan mengenai peristiwa penting lainnya; b. KTP dan KK yang bersangkutan; dan c. Akta Pencatatan Sipil yang berkaitan peristiwa penting lainnya. (4) Pencatatan peristiwa penting lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan tata cara : a. pelapor mengisi dan menyerahkan Formulir Pencatatan Peristiwa Penting Lainnya dengan melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil; b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melakukan verifikasi dan validasi berkas pelaporan peristiwa penting lainnya, dan mencatat serta merekam dalam register peristiwa penting lainnya pada database kependudukan; c. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil membuat catatan pinggir pada Register Akta Pencatatan Sipil dan Kutipan Akta Pencatatan Sipil. Bagian Kesembilan Pelaporan Penduduk Yang Tidak Mampu Melaporkan Sendiri Pasal 89 (1) Penduduk yang tidak mampu melakukan pelaporan sendiri dalam pencatatan sipil dapat dibantu oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau meminta bantuan kepada orang lain. (2) Penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penduduk yang tidak mampu karena faktor umur, sakit keras, cacat fisik atau cacat mental. (3) Orang lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah keluarganya atau orang yang diberi kuasa. Pasal 90 Pelaporan penduduk yang tidak mampu sebagaimana dimaksud dalam pasal 89 ayat (1), dilakukan dengan pengisian formulir yang telah ditetapkan. Bagian Kesepuluh Pembetulan dan Pembatalan Akta Pencatatan Sipil Paragraf 1 Pencatatan Pembetulan Akta Pencatatan Sipil Pasal 91 (1) Pembetulan akta pencatatan sipil dilakukan oleh pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan -215-
42 Sipil yang menerbitkan Akta Pencatatan Sipil baik inisiatif Pejabat Pencatatan Sipil atau diminta oleh penduduk. (2) Pembetulan akta pencatatan sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) karena kesalahan tulis redaksional dan belum diserahkan kepada pemegang, dilakukan dengan mengacu pada : a. dokumen autentik yang menjadi persyaratan penerbitan akta pencatatan sipil; b. dokumen di mana terdapat kesalahan tulis redaksional. (3) Pembetulan akta pencatatan sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) karena kesalahan tulis redaksional yang telah diserahkan kepada pemegang, dilakukan setelah memenuhi syarat berupa : a. dokumen autentik yang menjadi persyaratan penerbitan akta pencatatan sipil; b. kutipan akta di mana terdapat kesalahan tulis redaksional. Pasal 92 Pembetulan akta pencatatan sipil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 ayat (3), dilakukan oleh Pejabat Pencatatan Sipil dengan tata cara : a. mengisi dan menyerahkan formulir pembetulan akta pencatatan sipil dengan melampirkan dokumen di mana terdapat kesalahan tulis redaksional dan menunjukkan dokumen autentik yang menjadi persyaratan penerbitan pencatatan sipil; b. Pejabat pencatatan sipil membuat akta pencatatan sipil baru untuk menggantikan akta pencatatan sipil di mana terdapat kesalahan tulis redaksional, dan menarik serta mencabut akta pencatatan sipil lama dari pemohon; c. Pejabat pencatatan sipil membuat catatan pinggir pada register akta pencatatan sipil yang dicabut sebagaimana dimaksud pada huruf b mengenai alasan penggantian dan pencabutan akta pencatatan sipil. Paragraf 2 Pencatatan Pembatalan Akta Pencatatan Sipil Pasal 93 (1) Pencatatan Pembatalan Akta Pencatatan Sipil dilakukan oleh Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang menerbitkan Akta Pencatatan Sipil. (2) Pencatatan Pembatalan Akta Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan syarat adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (3) Pencatatan Pembatalan Akta Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara : a. membuat catatan pinggir pada Register Akta Pencatatan Sipil; b. menarik dan mencabut Kutipan Akta Pencatatan Sipil; dan c. menerbitkan Akta Pencatatan Sipil sesuai dengan perintah putusan pengadilan
43 BAB VIII PELAPORAN TAMU Pasal 94 (1) Setiap penduduk yang kedatangan tamu dari luar daerah lebih dari 2 x 24 jam wajib melapor kepada Kepala Desa/ Lurah melalui RT/ RW setempat sejak tanggal kedatangan. (2) Pelaporan tamu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) tamu atau bukti identitas diri lain yang sah. (3) Pelaporan tamu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh Kepala Keluarga untuk tamu rumah dan pemilik hotel/ penginapan untuk tamu hotel/ penginapan. (4) Dalam hal terdapat tamu yang mencurigakan/ diduga pelaku tindak pidana kejahatan maka Ketua RT/ RW atau Kepala Desa/ Lurah wajib memberitahukan kepada kepolisian setempat. BAB IX PENETAPAN DENDA ADMINISTRATIF DAN BIAYA PELAYANAN Pasal 95 (1) Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil maka denda administratif dapat ditetapkan sebagai berikut : a. pelaporan kelahiran dan kematian yang melampaui batas waktu untuk orang asing dikenai denda administratif sebesar Rp ,- (dua ratus ribu rupiah); b. pelaporan kelahiran dan kematian yang melampau batas waktu untuk Warga Negara Indonesia dikenai denda administratif sebesar Rp ,- (seratus ribu rupiah); c. bepergian tidak membawa KTP untuk orang asing yang memiliki izin tinggal tetap/ Surat Keterangan Tempat Tinggal untuk orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas dikenai denda administratif sebesar Rp ,- (lima puluh ribu rupiah); d. bepergian tidak membawa KTP untuk Warga Negara Indonesia dikenai denda administratif sebesar Rp ,- (sepuluh ribu rupiah). (2) Pelanggaran kedua kali untuk : a. orang asing yang memiliki izin tinggal tetap yang bepergian tidak membawa KTP/ orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas Surat Keterangan Tempat Tinggal untuk orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas dikenai denda administratif sebesar Rp ,- (tujuh puluh lima ribu rupiah); b. Warga Negara Indonesia yang bepergian tidak membawa KTP dikenai denda administratif sebesar Rp ,- (dua puluh lima ribu rupiah). (3) Pelanggaran ketiga kali dan seterusnya untuk : a. orang asing yang memiliki izin tinggal tetap yang bepergian tidak membawa KTP/ orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas Surat Keterangan Tempat Tinggal untuk orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas dikenai denda administratif sebesar Rp ,- (seratus ribu rupiah); b. Warga Negara Indonesia yang bepergian tidak membawa KTP dikenai denda administratif sebesar Rp ,- (lima puluh ribu rupiah)
44 Pasal 96 (1) Biaya pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil adalah berdasarkan penetapan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 7 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 7 Tahun 2000 tentang Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akte Catatan Sipil. (2) Dalam hal terjadi perubahan/ pencabutan terhadap Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka biaya pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil berpedoman pada Peraturan Daerah yang menggantikan peraturan daerah tersebut. BAB X OPERASI YUSTISI Pasal 97 (1) Dalam rangka penindakan terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 95 ayat (1) huruf c dan d, ayat (2) dan ayat (3) maka dilakukan operasi yustisi (sistem peradilan di tempat) pada tempat-tempat keramaian/ jalan umum yang di koordinasi oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. (2) Operasi yustisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan melibatkan unsur terkait antara lain hakim pengadilan negeri, kepolisian, Dinas Perhubungan, Satuan Polisi Pamong Praja dan Bagian Hukum Sekretariat Daerah. (3) Setiap pelaksanaan kegiatan operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik POLRI serta didampingi oleh Tim Pembina PPNS BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 98 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Bupati ini, maka Keputusan Bupati Kotawaringin Barat Nomor 28 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 7 Tahun 2002 tentang Kependudukan (Lembaran Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2002 Nomor 6 Seri D) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 99 Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat
45 Ditetapkan di Pangkalan Bun pada tanggal 1 Mei 2010 BUPATI KOTAWARINGIN BARAT, ttd. Dr. H. UJANG ISKANDAR, S.T, M.Si Diundangkan di Pangkalan Bun Pada tanggal 1 Mei 2010 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT, ttd. Drs. A. RIDUANSYAH. H, M.Si NIP BERITA DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT TAHUN 2010 NOMOR
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 3 TAHUN 2009 SERI : E NOMOR : 1
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 3 TAHUN 2009 SERI : E NOMOR : 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
PERATURAN BUPATI TANGERANG TENTANG TATA CARA DAN PERSAYARATAN PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA DAN PERSAYARATAN PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANGERANG, Menimbang : a. bahwa Penyelenggaraan
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL
PERATURAN PRESIDEN NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:
BUPATI GUNUNGKIDUL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GUNUNGKIDUL,
BUPATI GUNUNGKIDUL PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 26 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN NOMOR : 5 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN NOMOR : 5 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN ASAHAN DENGAN RAHMAT
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARO NOMOR 03 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARO,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARO NOMOR 03 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARO, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah
PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG
PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GRESIK Menimbang
WALIKOTA BLITAR PERATURAN WALIKOTA BLITAR NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG
1 WALIKOTA BLITAR PERATURAN WALIKOTA BLITAR NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DI KOTA BLITAR WALIKOTA BLITAR, Menimbang : bahwa dalam rangka
PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKAMARA NOMOR 02 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKAMARA NOMOR 02 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKAMARA, Menimbang : a. bahwa untuk memberikan perlindungan,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 7 TAHUN 2010 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN KABUPATEN LANDAK
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 7 TAHUN 2010 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN KABUPATEN LANDAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LANDAK, Menimbang : a. bahwa dalam
PEMERINTAH KABUPATEN MUSI RAWAS
PEMERINTAH KABUPATEN MUSI RAWAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI RAWAS NOMOR 19 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUSI RAWAS, Menimbang
BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG
BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK
PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MALANG
SALINAN NOMOR 7/E, 2009 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MALANG WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa
TENTANG BUPATI PATI,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 14 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal
BUPATI BANDUNG BARAT PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN
1 BUPATI BANDUNG BARAT PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN Menimbang : a. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG
LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 177 TAHUN : 2014 PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 177 TAHUN : 2014 PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KOTA CIMAHI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA
BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN MAGELANG
BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG, Menimbang
PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SRAGEN, Menimbang : a. bahwa untuk memberikan perlindungan,
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LD. 12 2009 R PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GARUT, Menimbang
PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO
PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO, Menimbang :
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2009 NOMOR 1 SERI E
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2009 NOMOR 1 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2009 NOMOR : 14 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 14 TAHUN 2009 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2009 NOMOR : 14 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 14 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CILEGON,
. PEMERINTAH KABUPATEN BOYOLALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN
. PEMERINTAH KABUPATEN BOYOLALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BOYOLALI, Menimbang : a.
PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2012
PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang : Mengingat
PEMERINTAH KABUPATEN TORAJA UTARA
PEMERINTAH KABUPATEN TORAJA UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TORAJA UTARA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PENGGANTIAN BIAYA CETAK KARTU TANDA PENDUDUK DAN AKTA CATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG. Nomor 07 Tahun 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 07 TAHUN 2010 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG Nomor 07 Tahun 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 07 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG
PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN BELITUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang
BUPATI SIGI PROVINSI SULAWESI TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIGI NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG
BUPATI SIGI PROVINSI SULAWESI TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIGI NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN PEMERINTAH
BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 99 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PENDUDUK KABUPATEN SIDOARJO
BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 99 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PENDUDUK KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, Menimbang
PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN
PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUDUS, Menimbang : a. bahwa untuk
BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO
BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 49 TAHUN : 2010 SERI : E PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 65 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR 3 TAHUN 2010
BUPATI BANTUL PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 51 TAHUN 2008 TENTANG
1 BUPATI BANTUL PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 51 TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN BUPATI BANTUL,
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2011
NOMOR 1 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG
LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2008 NOMOR 5 PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 2 TAHUN 2008 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN Menimbang : a. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA KEDIRI PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 56 TAHUN 2009
WALIKOTA KEDIRI PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 56 TAHUN 2009 T E N T A N G PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN RETRIBUSI
WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 85 TAHUN 2007 TENTANG
WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 85 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN
BUPATI BANYUMAS. PERATURAN BUPATI BANYUMAS NOMOR: co TAR04 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL
BUPATI BANYUMAS PERATURAN BUPATI BANYUMAS NOMOR: co TAR04 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL 2O BUPATI BANYUMAS, Menimbang a. bahwa untuk melaksanakan
BERITA DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 5 TAHUN 2010 PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG
BERITA DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 5 TAHUN 2010 PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN DAN PETUNJUK TEKNIS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 13 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 13 TAHUN 2013
LEMBARAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 13 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. b.
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN NOMOR 16 TAHUN 2010
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN NOMOR 16 TAHUN 2010 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN PENYELENGGARAAN SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN
PERATURAN BUPATI PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PANDEGLANG,
PERATURAN BUPATI PANDEGLANG NOMOR 21 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAYANAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PANDEGLANG, Menimbang : Mengingat
BUPATI TANA TORAJA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN
BUPATI TANA TORAJA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANA TORAJA, Menimbang : Mengingat
BUPATI DHARMASRAYA PERATURAN DAERAH KABUPATEN DHARMASRAYA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN
BUPATI DHARMASRAYA PERATURAN DAERAH KABUPATEN DHARMASRAYA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI DHARMASRAYA, Menimbang : a. bahwa
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASER NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL DI KABUPATEN PASER
Menimbang Mengingat : : PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASER NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL DI KABUPATEN PASER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
BUPATI SINTANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT
BUPATI SINTANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINTANG NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SINTANG, Menimbang : a. bahwa untuk
PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA TENGAH
PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA TENGAH SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 15 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA
PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKULU SELATAN NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG
PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKULU SELATAN NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKULU
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 2 TAHUN 2011 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 2 TAHUN 2011 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLUNGKUNG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberian
WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG
WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 9 TAHUN 2009 SERI C.3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 9 TAHUN 2009 SERI C.3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
BUPATI TANAH DATAR PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG
SALINAN BUPATI TANAH DATAR PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN
LEMBARAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 05 TAHUN 2010
LEMBARAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 05 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 05 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA
PEMERINTAH KOTA SURABAYA
PEMERINTAH KOTA SURABAYA SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a.
PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR
PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPULAUAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUARA ENIM NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUARA ENIM NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUARA ENIM, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan kependudukan
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
BUPATI BONDOWOSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL
BUPATI BONDOWOSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BONDOWOSO, Menimbang
PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS
PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SAMBAS, Menimbang : a. bahwa
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 2 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 2 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN KABUPATEN SUMEDANG SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN
PEMERINTAH KABUPATEN MALINAU
PEMERINTAH KABUPATEN MALINAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALINAU NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DI KABUPATEN MALINAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK
PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN DEMAK NOMOR 5 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN DAN RETRIBUSI PELAYANAN PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 13 TAHUN TENTANG PENYELENGGARAAN KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 13 TAHUN TENTANG PENYELENGGARAAN KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SERANG, Menimbang : a. Bahwa memperhatikan perkembangan
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGASEM NOMOR 2 TAHUN 2012 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGASEM NOMOR 2 TAHUN 2012 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGASEM, Menimbang : a. bahwa Pemerintah Kabupaten
PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG
PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TAPANULI
