pareparekota.bps.go.id

dokumen-dokumen yang mirip
Katalog :


INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT K O T A K U P A N G /

Boleh dikutip dengan mencantumkan sumbernya

KABUPATEN ACEH UTARA. Katalog BPS : BADAN PUSAT STATISTIK

KERJASAMA BAPPEDA KABUPATEN SEMARANG BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN SEMARANG

Katalog BPS : BADAN PUSAT STATISTIK KOTA MAKASSAR

BUKU SAKU DATA DAN INDIKATOR SOSIAL SUMATERA SELATAN

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT KABUPATEN PASER TAHUN : Bappeda Kabupaten Paser bekerjasama dengan. Badan Pusat Statistik Kabupaten Paser

Indeks Pembangunan Manusia

KERJASAMA : BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA BANDUNG DENGAN BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN. Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan. Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Paser dan

madiunkota.bps.go.id

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BUPATI KABUPATEN BANYUASIN... KATA PENGANTAR BAPPEDA KABUPATEN BANYUASIN... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. KONDISI UMUM KOTA MAKASSAR. Luas Kota Makassar sekitar 175,77 km 2, terletak di bagian Barat

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT KOTA KUPANG 2011

(Sakernas), Proyeksi Penduduk Indonesia, hasil Sensus Penduduk (SP), Pendataan Potensi Desa/Kelurahan, Survei Industri Mikro dan Kecil serta sumber

Katalog BPS : Badan Pusat Statistik Kab. Tapanuli Tengah Jl. N. Daulay, Pandan Telp. (0631)

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR 2014

INIJIKATDR RAKYAT. ~~QI!i. l~e~ejaht&raan. Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Pekalongan dengan Badan Pusat Statistik Kota Pekalongan

Publikasi Indikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Mamuju merupakan publikasi tahunan yang diterbitkan BPS Kabupaten Mamuju. Publikasi ini memuat


BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

3.1. Kualitas Sumberdaya Manusia

RINGKASAN EKSEKUTIF HASIL PENDATAAN SUSENAS Jumlah (1) (2) (3) (4) Penduduk yang Mengalami keluhan Sakit. Angka Kesakitan 23,93 21,38 22,67

Indikator Kesejahteraan Rakyat Kota Tual

PENDAHULUAN Latar Belakang

Katalog BPS :


Ketenagakerjaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Katalog BPS :

Kata pengantar. Tanjungpinang, September 2014 Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau

STATISTIK GENDER 2011

No. Katalog :

ANALISIS KESEJAHTERAAN RAKYAT KALIMANTAN TENGAH 2013

Katalog : pareparekota.bps.go.id

Katalog BPS: Katalog BPS:

Katalog BPS:

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT PANDEGLANG

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT KOTA BONTANG KOTA BONTANG

Penduduk: Usia: Status Perkawinan: Anak Lahir Hidup:


BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT

BAB III GAMBARAN UMUM KABUPATEN SUBANG

Indikator Kesejahteraan Rakyat 2014

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT PANDEGLANG

Katalog BPS :


KATALOG DALAM TERBITAN INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT TAHUN 2017

Data Sosial Ekonomi Kepulauan Riau 2012

Kata pengantar. Tanjungpinang, Oktober 2013 Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau

STATISTIK DAERAH KECAMATAN BACUKIKI BARAT 2012

Profil LANSIA Jawa tengah 2014


Katalog BPS : STATISTIK DAERAH KECAMATAN RANCASARI BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BANDUNG

INDIKATOR KETENAGAKERJAAN

STATISTIK DAERAH KECAMATAN WAY JEPARA TAHUN 2015

STATISTIK DAERAH KECAMATAN RANCASARI 2016 ISSN : - No. Publikasi : Katalog BPS : Ukuran Buku : 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman

Profile Perempuan Indonesia

PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI DI INDONESIA 2013

STATISTIK SOSIAL DAN KEPENDUDUKAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2016

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian

STATISTIK DAERAH KECAMATAN TOMMO 2012 BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN MAMUJU

Sambutan... i Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii Daftar Tabel.. iv Daftar Gambar.. iv

FORMULIR PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS STIKES HANG TUAH SURABAYA

STATISTIK PENDUDUK LANJUT USIA SUMATERA SELATAN

BAB VI KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN RUMAHTANGGA PETANI PESERTA PROGRAM PEMBERDAYAAN PETANI MELALUI TEKNOLOGI DAN INFORMASI PERTANIAN (P3TIP)

STATISTIK KEPENDUDUKAN KALIMANTAN TENGAH 2013



Katalog BPS: TAHUN 2010 KERJASAMA BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN BANDUNG DENGAN BAPPEDA KABUPATEN BANDUNG

PENDAHULUAN SUMBER DATA

Katalog BPS

BAB III GAMBARAN UMUM KABUPATEN SUBANG

Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Kor, 2013

Katalog BPS : BADAN PUSAT STATISTIK KOTA PALANGKA RAYA

STATISTIK DAERAH KECAMATAN PEGANDON 2016

KATALOG BPS BADANPUSATSTATISTIK KABUPATENACEHSELATAN


STATISTIK DAERAH KECAMATAN JEKAN RAYA 2013

Kecamatan Bojongloa Kaler

RINGKASAN SDKI 2007 PROVINSI SULAWESI BARAT

Katalog BPS :

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT.

Keadaan Sosial Ekonomi dan Kependudukan Kota Balikpapan Tahun 2015

Transkripsi:

INDIKATOR SOSIAL KOTA PAREPARE TAHUN 2015 ISSN : 2460-2450 Nomor Publikasi : 73720.1503 Katalog BPS : 4102004.7372 Ukuran Buku : 21 cm x 15 cm Jumlah Halaman : 87 Naskah : Seksi Statistik Sosial BPS Kota Parepare Penyunting : Seksi Statistik Sosial BPS Kota Parepare Gambar Kulit : Seksi Statistik Sosial BPS Kota Parepare Diterbitan Oleh : Badan Pusat Statistik Kota Parepare Dicetak Oleh : Catatan : Boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya. ii

KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Penyusunan Buku Indikator Sosial Kota Parepare 2015 ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran tingkat kesejahteraan yang telah dicapai di Kota Parepare. Selain itu juga diharapkan sebagai bahan dalam perencanaan dan evaluasi pembangunan khususnya dibidang sosial. Banyak jenis dan ragam data Statistik yang dapat dijadikan tolok ukur tingkat kesejahteraan. Buku ini menyajikan data dari berbagai sektor yang umumnya digunakan sebagai bahan dan dasar informasi untuk perencanaan, pengambilan keputusan dan evaluasi dari serangkaian program dan kegiatan pembangunan yang telah, atau akan dilaksanakan. Disadari bahwa publikasi ini belum sepenuhnya memuaskan semua konsumen data saran yang konstruktif kami harapkan untuk penyempurnaan publikasi berikutnya. Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah berpartisipasi secara langsung maupun tidak langsung sehingga publikasi ini dapat diterbitkan. Semoga penyajian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Parepare, 30 September 2015 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA PAREPARE Kepala, Ir. ARI PRIHANDINI, M. Si NIP : 19680222 199401 2 001 iii

DAFTAR ISI DAFTAR ISI KATALOG..... KATA PENGANTAR.. DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GRAFIK... Halaman ii iii iv vii x BAB I PENDAHULUAN...... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Ruang Lingkup 2 1.3. Tujuan.... 3 1.4. Metodologi... 3 1.5. Sumber Data..... 4 1.6. Konsep dan Definisi... 5 1.6.1 Rumahtangga dan Anggota Rumahtangga........ 5 1.6.2 Status Perkawinan... 7 1.6.3 Fertilitas dan Keluarga Berencana. 8 1.6.4 Pendidikan...... 8 1.6.5 Angkatan Kerja..... 9 1.6.6 Perumahan.... 11 1.6.7 Konsumsi/Pengeluaran.... 13 BAB II KEPENDUDUKAN... 14 2.1. Ciri-ciri Penduduk... 16 2.2. Pertumbuhan Penduduk... 18 iv

DAFTAR ISI 2.3. Komposisi Penduduk... 18 2.4. Status Perkawinan... 21 BAB III FERTILITAS DAN KELURGA BERENCANA. 24 3.1. Jumlah Anak Yang Dilahirkan Hidup 25 3.2. Keluarga Berencana.... 27 BAB IV PENDIDIKAN... 31 4.1. Kepandaian Membaca dan Menulis 31 4.2. Partisipasi Sekolah 32 4.3. Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan... 34 BAB V KESEHATAN... 37 5.1. Keluhan Utama Kesehatan 38 5.2. Penolong Persalinan. 40 5.3. Pemberian Air Susu Ibu (ASI). 42 BAB VI KETENAGAKERJAAN 44 6.1. Penduduk Menurut Kegiatan Utama 45 6.2. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja 48 6.3. Pertumbuhan Angkatan Kerja.... 51 6.4. Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha... 52 6.5. Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama 54 v

DAFTAR ISI BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP 57 7.1. Luas dan Jenis Lantai Bangunan Tempat Tinggal 58 7.2. Fasilitas Perumahan... 64 BAB VIII PENGELUARAN DAN KONSUMSI RUMAHTANGGA 71 vi

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Penduduk Kota Parepare Tahun 2013 dan 2014... 16 Tabel 2.2 Pertumbuhan Penduduk Kota Parepare 2014 18 Tabel 2.3 Komposisi Penduduk Kota Parepare Menurut Kelompok Umur dan Angka Beban Ketergantungan Tahun 2010 dan 2014 21 Tabel 2.4 Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Keatas Menurut Status Perkawinan dan Jenis Kelamin Di Kota Parepare Tahun 2014.. 22 Tabel 3.1 Persentase Wanita Usia 10 Tahun Keatas Yang Pernah Kawin Menurut Jumlah Anak Lahir Hidup Di Kota Parepare Tahun 2010 dan 2014.. 26 Tabel 3.2 Penduduk Perempuan Berstatus Kawin Usia 15-49 Tahun Menerut Pemakaian Alat KB Di Kota Parepare Tahun 2014. 28 Tabel 4.1 Persentase Penduduk Usia 7 12 Tahun Tabel 4.2 Menurut Partisipasi Sekolah Tahun 2014 34 Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Keatas Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Tahun 2014 35 Tabel 5.1 Jumlah Penduduk Yang Mengalami Keluhan Kesehatan Di Kota Parepare Tahun 2014 39 Tabel 5.2 Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Di Kota Parepare Tahun 2014 41 vii

DAFTAR ISI Tabel 5.3 Tabel 6.1 Persentase Anak Usia 2 4 Tahun Yang Pernah Disusui Menurut Lamanya Disusui Di Kota Parepare Tahun 2012 2014 43 Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Kegiatan Utama Selama Seminggu Yang Lalu dan Jenis Kelamin Di Kota Parepare Tahun 2014.. 47 Tabel 6.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Usia 15 Tahun Ke Atas Di Kota Parepare Tahun 2012 2014 49 Tabel 6.3 Pertumbuhan Penduduk Angkatan Kerja Di Kota Parepare Tahun 2012 2014 51 Tabel 6.4 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Kerja Utama Di Kota Parepare Tahun 2014... 53 Tabel 6.5 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Di Kota Parepare Tahun 2014... 55 Tabel 7.1 Tabel 7.2 Tabel 7.3 Persentase Rumah tangga Menurut Luas Lantai Di Kota Parepare Tahun 2012 2014... 60 Persentase Rumah tangga Menurut Jenis Dinding Terluas Di Kota Parepare Tahun 2012 2014 61 Persentase Rumah tangga Menurut Atap Terluas Di Kota Parepare Tahun 2012 2014... 63 Tabel 7.4 Persentase Rumah tangga Menurut Sumber Penerangan Di Kota Parepare Tahun 2012 2014 65 viii

DAFTAR ISI Tabel 7.5 Persentase Rumah tangga yang Menggunakan Air Minum Layak di Kota Parepare... 67 Tabel 7.6 Persentase Rumah tangga Menurut Tempat Penampungan Akhir Di Kota Parepare Tahun 2012 2014 70 Tabel 8.1 Persentase Penduduk Menurut Total Pengeluaran Di Kota Parepare Tahun 2014 72 ix

DAFTAR ISI DAFTAR GRAFIK Grafik 1 Penduduk Kota Parepare Tahun 2013 2014.. 17 Grafik 2 Persentase Penduduk Kota Parepare Menurut Status Perkawinan Tahun 2014 23 Grafik 3 Persentase Wanita Usia 10 Tahun Ke atas Yang Pernah Kawin Menurut Jumlah Anak Lahir Hidup Tahun 2010 dan 2014 27 Grafik 4 Penduduk Perempuan Berstatus Kawin Usia 15-49 Tahun Menurut Pemakaian Alat KB Di Kota Parepare Tahun 2014 30 Grafik 5 Persentase Penduduk Usia 7 12 Tahun Menurut Partisipasi Sekolah Tahun 2014 34 Grafik 6 Persentase Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Yang Ditamatkan Tahun 2014 36 Grafik 7 Persentase Penduduk Menurut Keluhan Kesehatan Di Kota Parepare Tahun 2014 39 Grafik 8 Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Di Kota Parepare Tahun 2014 41 Grafik 9 Persentase Balita Yang Pernah Disusui Menurut Lamanya Disusui Di Kota Parepare Tahun 2014... 43 Grafik 10 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Kegiatan Utama Selama Seminggu Yang Lalu dan Jenis Kelamin Di Kota Parepare Tahun 2014 48 Grafik 11 TPAK Usia 15 Tahun Keatas Tahun 2012 2014... 50 Grafik 12 Pertumbuhan Angkatan Kerja Di Kota Parepare Tahun 2012 dan 2014 52 x

DAFTAR ISI Grafik 13 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Kerja Utama Di Kota Parepare Tahun 2014..... 53 Grafik 14 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Utama Di Kota Parepare Tahun 2014..... 56 Grafik 15 Persentase Rumah tangga Menurut Luas Lantai Di Kota Parepare Tahun 2013... 60 Grafik 16 Persentase Rumah tangga Menurut Jenis Dinding Terluas Di Kota Parepare Tahun 2014 61 Grafik 17 Persentase Rumah tangga Menurut Atap Terluas Di Kota Parepare Tahun 2014 63 Grafik 18 Persentase Rumah tangga Menurut Sumber Penerangan Di Kota Parepare Tahun 2014 65 Grafik 19 Persentase Rumah tangga yang Menggunakan Air Minum Layak Di Kota Parepare Tahun 2014 68 Grafik 20 Grafik 21 Persentase Rumah tangga Menurut Tempat Penampungan Akhir Di Kota Parepare Tahun 2014 70 Persentase Penduduk Menurut Golongan Total Pengeluaran Di Kota Parepare Tahun 2014 73 xi

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan yang dilaksanakan secara berkesinambungan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, tingkat kesejahteraan masyarakat pada periode waktu tertentu, perlu dievaluasi dengan melihat perubahan berbagai indikator sosial yang ada. Perubahan indikator sosial yang ada akan menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat pada periode tersebut. Hasil evaluasi pembangunan tersebut, juga dapat dijadikan faktor koreksi dalam rencana pembangunan ke depan agar sasarannya lebih tajam dan berhasil guna. Publikasi Indikator Sosial Kota Parepare Tahun 2015, yang berisi data hasil pengolahan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2014 diharapkan dapat memberikan masukan berupa informasi bagi pemerintah daerah mengenai kondisi dan perkembangan kesejahteraan sosial di Kota Parepare dalam keadaan pertengahan tahun 2014. Penyajian informasi itu dibuat dalam bentuk tabulasi dan ulasan singkat yang mudah dipahami. Berbagai indikator 1

BAB I PENDAHULUAN kesejahteraan sosial yang dimaksud meliputi aspek sosial kependudukan, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perumahan, dan pengeluaran konsumsi. Menyadari perlunya data dan informasi dalam evaluasi pembangunan, maka BPS berusaha untuk menyediakan data statistik yang berkesinambungan guna menopang perencanaan pembangunan, baik secara sektoral maupun lintas sektoral. Salah satu diantaranya adalah BPS melakukan kegiatan Susenas sehingga penyusunan Indikator Sosial Kota Parepare dapat dilakukan setiap tahun. 1.2. Ruang Lingkup Susenas merupakan survei rumahtangga dengan lingkup nasional yang dilakukan secara sampel dan tersebar di seluruh wilayah kabupaten/ kota, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Rumahtangga sampel itu dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu sampel kor (data inti) dan sampel modul (data sasaran). Data yang dihasilkan dari sampel kor cukup representatif untuk disajikan sampai dengan tingkat kabupaten/ kota (tidak dibedakan menurut tipe daerah), sedangkan sampel modul hanya cukup representatif untuk 2

BAB I PENDAHULUAN disajikan sampai dengan tingkat propinsi dan dapat dibedakan menurut tipe daerah (perkotaan/ perdesaan). Rumahtangga yang tinggal dalam blok sensus khusus dan rumahtangga khusus yang tinggal pada blok sensus biasa tidak dipilih sebagai sampel. Data pokok/ inti (Kor), dikumpulkan dari seluruh rumahtangga terpilih sampel dan dicacah menggunakan daftar VSEN14.K. 1.3. Tujuan Indikator Sosial Kota Parepare Tahun 2015 dimaksudkan untuk memberikan gambaran dan informasi mengenai perkembangan demografi, serta sosial ekonomi masyarakat secara umum. Gambaran tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil pembangunan, yang dapat menjadi bahan masukan dalam penyusunan kebijakan (rencana pembangunan) pada masa yang akan datang. 1.4. Metodologi Penulisan Indikator Sosial Kota Parepare Tahun 2015 sebagian besar menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan dilengkapi dengan data pendukung 3

BAB I PENDAHULUAN lainnya, berupa data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait. Pembahasan mengenai berbagai indikator dilakukan secara deskriptif berupa ulasan singkat dari berbagai kecenderungan data yang ada melalui tabel maupun grafik. Penggunaan data Susenas pada level Wilayah Kabupaten/ Kota sudah memenuhi persyaratan minimum mengenai besarnya rancangan jumlah sampel (sampling design), yang memang telah dirancang untuk bisa dilakukan estimasi sampai pada level Wilayah Kabupaten/Kota. Indikator Sosial Kota Parepare Tahun 2015 memuat sembilan pokok bahasan yaitu: pendahuluan, kependudukan, fertilitas dan keluarga berencana, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perumahan, indeks pembangunan manusia, dan indikator lainnya. 1.5. Sumber Data Seperti yang telah disinggung di atas, sumber data utama Indikator Sosial Kota Parepare Tahun 2015 adalah hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2014. Sampel rumahtangga di Kota Parepare tersebar secara proporsional dengan jumlah rumahtangga di seluruh wilayah 4

BAB I PENDAHULUAN Kecamatan. Selain itu, dilengkapi dengan data pendukung lainnya yang dianggap relevan dengan pembahasan. 1.6. Konsep dan Definisi 1.6.1 Rumahtangga dan Anggota Rumahtangga Rumahtangga dibedakan menjadi dua, yaitu rumahtangga biasa dan rumahtangga khusus. a. Rumahtangga Biasa adalah seorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik/ bangunan sensus dan biasanya makan bersama dari satu dapur. Yang dimaksud dengan makan dari satu dapur adalah mengurus kebutuhan sehari-hari bersama menjadi satu. Ada bermacam-macam bentuk rumahtangga biasa diantaranya : 1) Orang yang tinggal bersama istri dan anaknya; 2) Orang yang menyewa kamar atau sebagian bangunan sensus dan mengurus makannya sendiri 3) Keluarga yang terpisah di dua bangunan sensus, tetapi makannya dari satu dapur, asal kedua bangunan sensus tersebut masih dalam satu segmen; 5

BAB I PENDAHULUAN 4) Rumahtangga yang menerima pondokan dengan makan (indekos) yang pemondokannya kurang dari 10 orang; 5) Pengurus asrama, panti asuhan, Lembaga Pemasyarakatan dan sejenisnya yang tinggal sendiri maupun bersama anak, istri serta anggota rumahtangga lainnya, makan dari satu dapur yang terpisah dari lembaga yang diurusnya; 6) Masing-masing orang yang bersama-sama menyewa kamar atau sebagian bangunan sensus tetapi mengurus makannya sendiri-sendiri. b. Rumahtangga Khusus yaitu orang-orang yang tinggal di asrama, tangsi, panti asuhan, lembaga pemasyarakatan, rumah tahanan, dan sekelompok orang mondok dengan makan (indekos) dan berjumlah 10 orang atau lebih. Rumahtangga khusus ini tidak dicakup dalam Susenas. Anggota Rumahtangga adalah semua orang yang biasanya bertempat tinggal di suatu rumahtangga, baik yang berada di rumah pada saat pencacahan maupun sementara tidak ada. Anggota rumahtangga yang telah bepergian 6 bulan atau lebih, dan anggota rumahtangga yang bepergian kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan pindah/ akan meninggalkan rumah 6 bulan atau lebih, tidak dianggap sebagai anggota 6

BAB I PENDAHULUAN rumahtangga. Orang yang telah tinggal di suatu rumahtangga 6 bulan atau lebih atau yang tinggal di suatu rumahtangga kurang dari 6 bulan tetapi berniat menetap di rumahtangga tersebut dianggap sebagai anggota rumahtangga. 1.6.2. Status Perkawinan Kawin adalah mempunyai istri (bagi laki-laki) atau suami (bagi perempuan) pada saat pencacahan, baik tinggal bersama maupun pisah. Dalam hal ini yang dicakup tidak saja mereka yang kawin sah secara hukum (adat, negara, dsb), tetapi juga mereka yang hidup bersama dan masyarakat sekitar menganggap sebagai suami istri. Cerai Hidup adalah berpisah sebagai suami istri karena bercerai atau belum kawin lagi. Dalam hal ini termasuk mereka yang mengaku cerai walaupun belum resmi secara hukum. Sebaliknya tidak termasuk mereka yang hanya hidup terpisah tetapi masih berstatus kawin, misalnya suami/ istri ditinggalkan oleh istri/ suami ke tempat lain karena sekolah, bekerja, mencari pekerjaan, atau untuk keperluan lain. Wanita yang mengaku belum pernah kawin tetapi pernah hamil, dianggap cerai hidup. 7

BAB I PENDAHULUAN Cerai mati adalah ditinggal mati oleh suami atau istri dan belum kawin lagi. 1.6.3. Fertilitas Dan Keluarga Berencana Anak lahir hidup adalah anak yang pada waktu dilahirkan menunjukkan tanda-tanda kehidupan walaupun mungkin hanya beberapa saat saja, seperti jantung berdenyut, bernafas, dan menangis. Anak yang pada waktu lahir tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan disebut lahir mati. 1.6.4. Pendidikan Sekolah adalah kegiatan bersekolah di sekolah formal mulai dari pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, termasuk pendidikan yang disamakan. Tidak/ belum pernah sekolah adalah tidak atau belum pernah bersekolah di sekolah formal, misalnya tamat/ belum tamat Taman Kanak-kanak tetapi tidak melanjutkan ke Sekolah Dasar. Masih bersekolah adalah sedang mengikuti pendidikan di pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. 8

BAB I PENDAHULUAN Tidak bersekolah lagi adalah pernah mengikuti pendidikan dasar, menengah, atau tinggi tetapi pada saat pencacahan tidak bersekolah lagi. Tamat sekolah adalah menyelesaikan pelajaran pada kelas atau tingkat terakhir suatu jenjang sekolah di sekolah, negeri maupun swasta dengan mendapatkan tanda tamat/ ijazah. Orang yang belum mengikuti pelajaran pada kelas tertinggi tetapi telah mengikuti ujian dan lulus dianggap tamat sekolah. 1.6.5. Angkatan Kerja Angkatan kerja adalah mereka yang berumur 10 tahun keatas dan selama seminggu yang lalu mempunyai pekerjaan, baik bekerja maupun sementara tidak bekerja karena suatu hal, seperti sedang menunggu panen, sedang cuti, dan sedang menunggu pekerjaan berikutnya (pekerja bebas profesional seperti dukun dan dalang). Disamping itu mereka yang tidak mempunyai pekerjaan tetapi sedang mencari pekerjaan atau mengharapkan dapat pekerjaan juga termasuk dalam kelompok angkatan kerja. 9

BAB I PENDAHULUAN Bukan angkatan kerja adalah mereka yang berumur 10 tahun keatas dan selama seminggu yang lalu hanya bersekolah, mengurus rumahtangga, dan tidak melakukan suatu kegiatan yang dapat dimasukkan dalam kategori bekerja, sementara tidak bekerja atau mencari pekerjaan. Bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan selama paling sedikit satu jam dalam seminggu berturut-turut dan tidak boleh terputus (termasuk pekerja keluarga tanpa upah yang membantu dalam usaha/ kegiatan ekonomi). Punya Pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja adalah mempunyai pekerjaan tetapi selama seminggu yang lalu tidak bekerja karena suatu sebab, seperti sakit, cuti, menunggu panen, mogok, termasuk menunggu pekerjaan bagi yang sudah diterima bekerja tetapi selama seminggu yang lalu belum mulai bekerja. 10

BAB I PENDAHULUAN 1.6.6 Perumahan Luas Lantai adalah luas lantai yang ditempati dan digunakan untuk keperluan sehari-hari. Bagian-bagian yang digunakan bukan untuk keperluan sehari-hari tidak dimasukkan dalam perhitungan luas lantai, seperti lumbung padi, kandang ternak, jemuran, dan warung (sebatas atap). Dinding adalah sisi luar/ miring batas dari suatu bangunan atau penyekat dengan rumahtangga/ bangunan lain. Atap adalah penutup bagian atas bangunan yang melindungi orang yang mendiami dibawahnya dari teriknya matahari, hujan, dan sebagainya. Untuk bangunan bertingkat, atap yang dimaksud adalah bagian teratas dari bangunan tersebut. Air ledeng adalah sumber air yang berasal dari air yang telah diproses menjadi jernih sebelum dialirkan kepada konsumen melalui suatu instalasi berupa saluran air minum. Air sumur/ perigi terlindung adalah bila lingkaran sumur/ perigi tersebut dilindungi oleh tembok paling sedikit setinggi 0,8 meter di atas tanah dan sedalam 3 meter di bawah tanah dan di sekitar mulut sumur ada lantai semen sejauh 1 meter dari lingkaran mulut sumur/ perigi. 11

BAB I PENDAHULUAN Air pompa adalah air tanah yang cara pengambilannya dengan menggunakan pompa tangan, pompa listrik, atau kincir angin termasuk sumur artesis. Mata Air adalah sumber air di permukaan tanah di mana air timbul dengan sendirinya. Dikategorikan terlindung bila mata air tersebut terlindung dari bekas pakai, bekas mandi, mencuci, dan sebagainya. Tempat Pembuangan Air Besar adalah tempat duduk/ jongkok yang digunakan di WC/ kakus. Leher Angsa adalah jamban/ kakus yang di bawah dudukannya terdapat saluran berbentuk huruf "U" (seperti leher angsa) dengan maksud menampung air untuk menahan agar bau tinja tidak keluar. Plengsengan adalah jamban/ kakus yang di bawah dudukannya tidak ada saluran langsung ke tempat pembuangan kotoran. Tangki adalah tempat pembuangan akhir yang berupa bak penampungan terbuat dari pasangan batu/ bata atau beton, baik mempunyai bak resapan maupun tidak. 12

BAB I PENDAHULUAN 1.6.7. Konsumsi/Pengeluaran Pengeluaran rata-rata per kapita sebulan adalah rata-rata biaya yang dikeluarkan rumahtangga sebulan untuk konsumsi semua anggota rumahtangga dibagi dengan banyaknya anggota rumahtangga. Pengeluaran atau konsumsi rumahtangga dibedakan menjadi dua yaitu Konsumsi makanan dan Bukan/ Non makanan tanpa memperhatikan asal barang dan terbatas pada pengeluaran untuk kebutuhan rumahtangga saja. 13

BAB II KEPENDUDUKAN BAB II KEPENDUDUKAN Peranan penduduk dalam pembangunan meliputi dua aspek, yaitu sebagai pelaku pembangunan dan sasaran pembangunan. Oleh karena itu, permasalahan dalam kependudukan sangat kompleks dan sepanjang zaman permasalahan itu tidak ada habis-habisnya. Persoalan pertumbuhan penduduk di suatu wilayah mungkin dapat diatasi, akan tetapi persoalan yang lain belum tentu bisa teratasi dalam waktu bersamaan, karena kebutuhan penduduk yang semakin kompleks dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Pembangunan yang dilaksanakan bertujuan untuk menyediakan kebutuhan sandang, pangan, dan papan sebagai kebutuhan dasar, juga penyediaan berbagai fasilitas pendidikan, kesehatan, dan sarana sosial lainnya yang memadai (cukup) dan merata dalam rangka peningkatan kesejahteraan. Untuk mengakomodir kebutuhan tersebut, pemerintah telah menaruh perhatian yang besar melalui berbagai program dan kegiatan. Program dan kegiatan yang sangat menonjol, yaitu adanya bantuan operasional sekolah, 14

BAB II KEPENDUDUKAN bantuan beras untuk orang miskin, dan asuransi kesehatan untuk orang miskin. Penduduk sebagai pelaksana pembangunan merupakan modal tenaga kerja yang dituntut mempunyai kualitas sumber daya manusia (SDM) yang tinggi. Pengembangan SDM melalui jalur pendidikan formal dan non-formal perlu terus dipantau dan dilakukan evaluasi mengenai sistim pendidikan yang ada. Kota Parepare merupakan salah satu dari 24 Kabupaten/ Kota yang ada di wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Memiliki luas wilayah 99,33 Km 2, terbagi dalam 4 wilayah kecamatan dan 22 kelurahan. Kota Parepare terletak di bagian tengah propinsi Sulawesi Selatan yang berbatasan dengan: Sebelah Utara : Kabupaten Pinrang Sebelah Timur Sebelah Barat Sebelah Selatan : Kabupaten Sidrap : Selat Makassar : Kabupaten Barru 15

BAB II KEPENDUDUKAN 2.1. Ciri-ciri Penduduk Hasil Proyeksi Penduduk Kota Parepare pada pertengahan tahun 2014 menunjukkan bahwa penduduk Kota Parepare berjumlah 136.903 jiwa. Jumlah tersebut terdiri dari laki-laki 67.217 jiwa dan perempuan 69.686 jiwa. Dengan demikian, jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari jumlah penduduk laki-laki dengan perbandingan jenis kelamin (sex rasio) sebesar 96,46, yang berarti bahwa setiap 100 jiwa penduduk perempuan terdapat 96 jiwa penduduk laki-laki. Tabel 2.1. Penduduk Kota Parepare Tahun 2010 dan 2014 Uraian Tahun 2013 2014 (1) (2) (3) 1. Jumlah Penduduk 135.200 136.903 Laki-laki 66.274 67.217 Perempuan 68.926 69.686 2. Rasio Jenis Kelamin 96,15 96,46 3. Jumlah Rumah Tangga 30.213 30.596 Laju Pertumbuhan 4. Penduduk Eksponensial 1,50 1,44 5. Kepadatan Penduduk 1.361 1.378 Sumber : Susenas 2013 dan 2014 16

BAB II KEPENDUDUKAN Penduduk ini tersebar pada 4 kecamatan terdiri dari 22 kelurahan dengan total luas wilayah 99,33 km², sehingga kepadatan penduduk di Kota Parepare sekitar 1.378 jiwa per km². Grafik 1. Penduduk Kota Parepare Tahun 2013 dan 2014 17

BAB II KEPENDUDUKAN 2.2. Pertumbuhan Penduduk Usaha untuk menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk selalu menjurus kepada pengkajian bagaimana cara menurunkan tingkat fertilitas, sebab upaya ini merupakan salah satu komponen utama yang berpengaruh terhadap banyaknya penduduk. Laju pertumbuhan penduduk Kota Parepare untuk tahun 2013 sebesar 1,50 persen. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2014 adalah sebesar 1,44 persen. Tabel 2.2. Pertumbuhan Penduduk Kota Parepare Tahun 2010 dan 2014 Wilayah Jumlah penduduk Pertumbuhan 2010 2014 (%) (1) (2) (3) (4) Kota Parepare 129.262 136.903 1,44 Sumber : Susenas 2010 dan 2014 2.3. Komposisi Penduduk Komposisi penduduk di suatu wilayah akan memberikan gambaran bahwa penduduk di wilayah tersebut 18

BAB II KEPENDUDUKAN termasuk usia muda atau tidak. Di negara-negara sedang berkembang, biasanya penduduknya tergolong usia muda. Disebut penduduk usia muda jika melebihi 40 persen penduduknya berusia kurang dari 15 tahun. Sedangkan di Negara maju biasanya penduduknya tergolong usia tua. Disebut penduduk usia tua jika lebih dari 10 persen penduduknya berusia 65 tahun ke atas. Berdasarkan kriteria tersebut, dan dengan mencermati Tabel 2.3, dapat dilihat bahwa penduduk Kota Parepare tidak tergolong usia muda karena persentase penduduk umur (0-14 tahun) kurang dari 40 persen. Kota Parepare juga tidak dapat dikategorikan sebagai wilayah yang berpenduduk usia tua karena pada tahun 2014 persentase penduduk yang berusia 65 tahun ke atas di bawah 10 persen. Pada tahun 2014, terjadi peningkatan jumlah pada ketiga kelompok umur ini. Namun jika dilihat dari segi proporsinya, terjadi penurunan proporsi untuk penduduk usia muda, dimana pada tahun 2010, proporsi penduduk usia muda sebesar 30,41 persen, menurun pada tahun 2014 menjadi 29,09 persen. Sementara untuk penduduk usia produktif dan usia tua mengalami peningkatan proporsi pada tahun 2014, yang awalnya pada tahun 2010 masing-masing sebesar 65,29 persen dan 4,30 persen, pada tahun 2014 masing-masing menjadi 66,33 persen dan 4,57 persen. 19

BAB II KEPENDUDUKAN Dengan mengetahui struktur umur penduduk seperti di atas, kita dapat mengukur besarnya dependency ratio (Angka Beban Ketergantungan), yang selanjutnya disebut beban ketergantungan. Beban ketergantungan merupakan perbandingan antara jumlah penduduk yang secara ekonomis tidak produktif (usia 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) dengan jumlah penduduk yang secara ekonomis dianggap produktif (usia 15-64 tahun). Sehingga semakin kecil porsi penduduk yang berusia non-produktif, maka semakin kecil pula angka beban ketergantungan itu dan sebaliknya semakin besar porsi penduduk berusia non-produktif, maka semakin besar pula angka beban ketergantungan tersebut. Beban ketergantungan penduduk Kota Parepare pada tahun 2010 sekitar 53,16 persen dan angka itu menurun menjadi 50,75 persen pada tahun 2014. Angka tersebut pada tahun 2014 memberikan gambaran bahwa setiap 100 penduduk produktif di Kota Parepare harus menanggung secara ekonomis sekitar 50 atau 51 penduduk usia tidak produktif. 20

BAB II KEPENDUDUKAN Tabel 2.3. Komposisi Penduduk Kota Parepare Menurut Kelompok Umur Dan Angka Beban Ketergantungan Tahun 2010 dan 2014 Kelompok 2010 2014 Umur (Tahun) Jumlah Persen Jumlah Persen (1) (2) (3) (2) (3) 0-14 39.305 30,41 39.829 29,09 15-64 84.398 65,29 90.814 66,33 65+ 5.559 4,30 6.260 4,57 Jumlah 129.262 100,00 136.903 100,00 ABK 53,16 50,75 Sumber : Susenas 2010 dan 2014 2.4. Status Perkawinan Perkawinan yang dimaksud disini adalah pernikahan yang dilakukan secara sah/ resmi maupun yang hanya dalam ikatan konseptual bagi penduduk yang telah berusia 10 tahun ke atas. Status perkawinan dibagi empat, yaitu: (1) belum kawin, (2) kawin, (3) cerai hidup, dan (4) cerai mati, seperti pada Tabel 2.4 dan Grafik 2 berikut ini: Tampak bahwa pada tahun 2014 proporsi penduduk laki-laki yang berstatus belum kawin sebesar 43,65 persen dari total penduduk laki-laki usia 10 tahun ke atas (67.217 21

BAB II KEPENDUDUKAN jiwa). Hal yang sama untuk status kawin sebesar 52,70 persen, cerai hidup 1,88 persen, dan cerai mati 1,77 persen. Sementara itu, porsi penduduk perempuan yang berstatus belum kawin 34,28 persen dari total penduduk perempuan usia 10 tahun ke atas (69.686 jiwa). Hal yang sama untuk status kawin sebesar 51,12 persen, cerai hidup 3,75 persen, dan cerai mati 10,85 persen. Tabel 2.4. Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Keatas Menurut Status Perkawinan Dan Jenis Kelamin Di Kota Parepare Tahun 2014 Status Laki-laki dan Laki-laki Perempuan Perkawinan Perempuan (1) (2) (3) (2) Belum Kawin 43,65 34,28 38,84 Kawin 52,70 51,12 51,88 Cerai Hidup 1,88 3,75 2,84 Cerai Mati 1,77 10,85 6,44 Jumlah 100,00 100,00 100,00 Sumber : Susenas 2014 22

BAB II KEPENDUDUKAN Grafik 2. Persentase Penduduk Kota Parepare Menurut Status Perkawinan Tahun 2014 23

BAB III FERTILITAS DAN KELUARGA BERENCANA BAB III FERTILITAS DAN KELUARGA BERENCANA Tingkat kelahiran (fertilitas) dan kematian (mortalitas) serta perpindahan (migration) merupakan faktor utama dalam demografi yang dapat menambah atau mengurangi jumlah penduduk secara alami. Kelahiran dan kematian merupakan dua komponen yang berlawanan dimana kelahiran sebagai komponen yang akan menambah jumlah penduduk dan kematian sebagai komponen yang akan mengurangi jumlah penduduk. Sedangkan migrasi merupakan komponen yang bisa menambah atau mengurangi jumlah penduduk. Jika migrasi masuk lebih besar daripada migrasi keluar, maka jumlah penduduk akan bertambah dan sebaliknya. Namun sangat disayangkan, data migrasi dan kematian merupakan data yang langka dibandingkan dengan data fertilitas. Ini terjadi karena registrasi penduduk belum dapat berjalan seperti yang diharapkan, sementara data hasil survei dan sensus kurang banyak menyinggung soal kematian dan migrasi dibanding dengan kelahiran. Berdasarkan data hasil survei maupun sensus menunjukkan bahwa tingkat kematian bayi telah menurun dan tingkat harapan hidup penduduk telah meningkat. Ini merupakan 24

BAB III FERTILITAS DAN KELUARGA BERENCANA cerminan semakin baiknya taraf kesehatan penduduk. Pada gilirannya keadaan ini akan berdampak terhadap peningkatan jumlah penduduk. Ditambah lagi dengan arus urbanisasi ke Kota Parepare yang tampaknya terus meningkat, maka peningkatan tajam jumlah penduduk mungkin akan terjadi. Langkah yang diambil untuk menanggulangi masalah ini antara lain adalah dengan menekan tingkat kelahiran dan penjarangan kelahiran. Proses ini diaktualisasikan dengan cara mengajak masyarakat, khususnya Pasangan Usia Subur untuk ikut berperan aktif dalam gerakan Keluarga Berencana. Gerakan ini bukan sekedar untuk menekan laju pertumbuhan penduduk tetapi lebih dari itu adalah untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. 3.1. Jumlah Anak Yang Dilahirkan Hidup Tingkat fertilitas diantaranya ditunjukkan oleh data jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh wanita pernah kawin. Jika dilihat dari jumlah anak yang dilahirkan oleh wanita pernah kawin, nampak bahwa wanita pernah kawin ditahun 2014 yang mempunyai anak lahir hidup sekitar 1 orang sebesar 18,09 persen, meningkat dibanding tahun 2010 yaitu 17,39 persen. Disisi lain wanita pernah kawin yang mempunyai anak 5 orang atau lebih pada tahun 2010 sekitar 24,94 persen, menurun 25

BAB III FERTILITAS DAN KELUARGA BERENCANA menjadi 19,47 persen pada tahun 2014. Hal ini mengindikasikan bahwa pasangan suami istri semakin sadar akan pentingnya kualitas anak yang dimiliki, sehingga lebih memilih untuk memiliki anak yang lebih sedikit namun berkualitas, daripada memiliki banyak anak dengan kualitas seadanya. Tabel 3.1. Persentase Wanita Usia 10 Tahun Keatas Yang Pernah Kawin Menurut Jumlah Anak Lahir Hidup Di Kota Parepare Tahun 2010 dan 2014 Jumlah Anak Lahir Tahun Hidup 2010 2014 (1) (2) (3) 0 9,14 8,28 1 17,39 18,09 2 18,90 23,52 3 16,92 13,97 4 12,71 16,67 5+ 24,94 19,47 Total 100,00 100,00 Sumber : Susenas 2010 dan 2014 26

BAB III FERTILITAS DAN KELUARGA BERENCANA Grafik 3. Persentase Wanita Usia 10 Tahun Keatas Yang Pernah Kawin Menurut Jumlah Anak Lahir Hidup, Tahun 2010 dan 2013 Sumber : Susenas 2010 dan 2014 3.2. Keluarga Berencana Dari sekian banyak program pemerintah, keluarga berencana merupakan salah satu program yang bertujuan selain untuk menurunkan (menekan) tingkat fertilitas, juga untuk meningkatkan taraf kesejahteraan rumah tangga. Semakin banyak akseptor KB diharapkan tingkat fertilitas akan semakin rendah dan taraf kesejahteraan ibu dan anak semakin baik. 27

BAB III FERTILITAS DAN KELUARGA BERENCANA Tabel 3.2. Penduduk Perempuan Berstatus Kawin Usia 15-49 Tahun Menurut Pemakaian Alat KB Di Kota Parepare Tahun 2014 Jenis Alat KB Persentase (%) (1) (2) MOW/ Tubektomi 4,27 MOP/ Vasektomi 0,47 AKDR/ IUD 4,92 Suntikan 34,80 Pil 37,33 Kondom 1,70 Susuk KB 8,18 Tradisional 8,33 Total 100,00 Sumber : Susenas 2014 Tabel 3.2 menyajikan persentase wanita umur 15-49 tahun yang berstatus kawin menurut alat/ cara Keluarga Berencana yang sedang digunakan. Pemakaian jenis kontrasepsi seperti MOW + MOP, AKDR/ IUD, Suntikan, Susuk KB, dan Lainnya terlihat lebih rendah persentasenya jika dibandingkan dengan persentase 28

BAB III FERTILITAS DAN KELUARGA BERENCANA penggunaan jenis kontrasepsi Suntikan dan Pil KB. Penggunaan Pil meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun 2014 penggunaan Pil KB menduduki peringkat pertama, yaitu sebesar 37,33 persen, diikuti penggunaan Suntikan sebesar 34,80 persen, Susuk KB sebesar 8,18 persen, MOW, MOP, AKDR/ IUD dan Tradisional masing-masing sebesar 4,27 persen, 0,47 persen, 4,92 persen dan 8,33 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat, khususnya perempuan di Kota Parepare masih kurang. Mereka tidak mengetahui akan keunggulan cara KB baik dengan AKDR/ IUDR maupun MOW+MOP. Oleh karena itu perlu adanya peningkatan sosialisasi kepada masyarakat akan fungsi dan pentingnya KB. Pemerintah juga perlu menambah kaderkader KB berpengalaman dan berdedikasi tinggi sampai tingkat kecamatan dan kelurahan agar daerah yang terisolir dan terpencil pun bisa dilayani. 29

BAB III FERTILITAS DAN KELUARGA BERENCANA Grafik 4. Persentase Penduduk Perempuan Berstatus Kawin Usia 15-49 Tahun Menurut Pemakaian Alat KB Di Kota Parepare, Tahun 2014 Kondom 2% Suntikan 35% Pil 37% AKRD/IUD 5% Other 18% MOW/Tubektomi MOP/Vasektomi Susuk KB 8% Tradisional 8% 30

BAB IV PENDIDIKAN BAB IV PENDIDIKAN Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM). Sejak awal Repelita pemerintah telah berupaya melaksanakan pembangunan di bidang pendidikan secara lebih terarah dan menyeluruh. Untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat, maka telah dicanangkan program wajib belajar dari 6 tahun menjadi 9 tahun (SD + SLTP). Usaha ini merupakan langkah nyata untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, karena makin tinggi tingkat pendidikan diharapkan makin baik kualitas Sumber Daya Manusianya. 4.1. Kepandaian Membaca dan Menulis. Kepandaian membaca dan menulis adalah merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendasar pada saat ini. Tanpa kepandaian tersebut sulit rasanya untuk dapat mengikuti laju pembangunan nasional yang penyebaran informasinya paling banyak melalui media surat kabar/ Majalah. Ciri mendasar tingkat kesejahteraan dibidang pendidikan tercermin dari jumlah penduduk yang mempunyai kemampuan 31

BAB IV PENDIDIKAN membaca dan menulis, yang merupakan kualitas kecerdasan seseorang untuk dapat mengikuti perkembangan yang terjadi di sekelilingnya. Walaupun disadari bahwa potensi kualitas tersebut berbeda pada masing-masing individu berdasarkan kemampuan-nya. Seseorang dikatakan buta huruf apabila tidak dapat membaca dan menulis kalimat yang sederhana baik dalam huruf latin maupun dalam huruf lainnya seperti lontar (Aksara Bugis), Arab, dan sejenisnya. Tingkat melek huruf di Kota Parepare pada Tahun 2014 mencapai 95,52 persen dari penduduk usia 15 tahun keatas yang berarti masih terdapat 4,48 persen yang masih berstatus buta huruf. Pola umum lainnya dari ciri pendidikan, proporsi wanita yang buta huruf lebih besar dibanding dengan laki-laki. Walaupun peranan wanita pada beberapa tahun belakangan ini sudah lebih ditingkatkan namun masih banyak diantaranya belum dapat mengenyam pendidikan. Hal ini diduga disebabkan oleh masalah budaya maupun latar belakang sosial ekonomi lainnya. 4.2. Partisipasi sekolah. Tingkat pendidikan memberikan cerminan tentang tingkat kemampuan dan pengetahuan seseorang, semakin tinggi tingkat 32

BAB IV PENDIDIKAN pendidikan yang dimiliki seseorang maka akan semakin tinggi pula kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya. Angka partisipasi sekolah menunjukkan besarnya keikutsertaan penduduk di setiap jenjang pendidikan yang diduduki. Dari tabel dibawah ini, menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Sekolah Penduduk Usia 7 12 Tahun di Kota Parepare pada tahun 2014 sekitar 98,93 persen atau meningkat sekitar 0,16 persen dibanding dengan tahun sebelumnya. Angka partisipasi sekolah ini juga menunjukkan bahwa masih ada sekitar 1,07 persen penduduk usia 7 12 Tahun yang tidak/ belum bersekolah. Dari Tabel tersebut juga terlihat bahwa sekitar 31,74 persen Penduduk Usia 5 6 Tahun sudah mulai mengikuti pendidikan formal. Sementara, angka partisipasi sekolah untuk Penduduk Usia 16 18 Tahun sekitar 76,66 persen, yang berarti bahwa terdapat 23,34 persen Penduduk Usia 16 18 Tahun yang tidak bersekolah. 33

BAB IV PENDIDIKAN Tabel 4.1 Angka Partisipasi Sekolah Penduduk Usia 5 18 Tahun menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kota Parepare Tahun 2014 Kelompok Umur (Tahun) Laki-laki Perempuan Total Penduduk (1) (2) (3) (4) 5-6 36,90 27,85 31,74 7-12 98,10 100,00 98,93 13-15 98,52 96,47 97,52 16-18 74,87 78,32 76,66 Sumber: Susenas 2014 4.3. Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Tingkat pendidikan merupakan salah satu indikator penentu kualitas Sumber Daya Manusia di suatu daerah. Dengan semakin banyaknya penduduk yang mempunyai tingkat pendidikan yang memadai dapat dikatakan Sumber Daya Manusia sudah cukup baik. Dari Tabel 4.2. terlihat bahwa terdapat 10,50 persen penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak memiliki ijazah, baik karena tidak/ blum pernah bersekolah maupun yang belum tamat SD. Penduduk yang berpendidikan tamat SLTA Tahun 2014 sebesar 30,34 persen, sedangkan yang tamat SLTA Kejuruan 34

BAB IV PENDIDIKAN sebesar 7,21 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat masih lebih memilih SLTA umum dibanding SLTA kejuruan. Penduduk yang tamat Diploma I/ II, Akademi/ Diploma III, dan Universitas/ Diploma IV meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013 persentase penduduk yang tamat Diploma I/ II dan Diploma IV/ S1/ S2/ S3, masing-masing sebesar 0,71 persen dan 11,36 persen. Sementara untuk jenjang pendidikan Akademi/ Diploma III sebesar 1,63 persen, angka ini menunjukkan terjadi sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu Tabel 4.2. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan di Kota Parepare Tahun 2014 Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Jenis Kelamin Total Ditamatkan Laki-laki Perempuan Penduduk (1) (2) (3) (4) Tidak/ Belum Memiliki Ijazah 9,18 11,71 10,50 SD/ MI 16,84 15,74 16,27 SLTP/ MTs 22,19 21,79 21,98 SLTA 32,49 28,37 30,34 SLTA Kejuruan 7,29 7,14 7,21 Diploma I/ II 0,53 0,87 0,71 Akademi/ Diploma III 1,10 2,12 1,63 Diploma IV/ S1/ S2/ S3 10,38 12,26 11,36 Total 100,00 100,00 100,00 Sumber : SUSENAS 2014 35

BAB IV PENDIDIKAN Grafik 6. Persentase Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Yang Ditamatkan, Tahun 2013 36

BAB V KESEHATAN BAB V KESEHATAN Bidang kesehatan adalah salah satu tujuan dari pembangunan nasional, dengan terciptanya taraf hidup sehat bagi setiap penduduk yang lebih baik dari waktu ke waktu. Peningkatan derajat kesehatan merupakan salah satu indikasi peningkatan kesejahteraan penduduk. Pembangunan di bidang kesehatan bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara merata kepada seluruh lapisan masyarakat. Berbagai upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sudah banyak dilakukan oleh pemerintah, antara lain berupa penyuluhan kesehatan dan penyediaan fasilitas seperti puskesmas, posyandu, pos obat desa, pondok bersalin desa serta penyediaan fasilitas air bersih. Upaya tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan peran aktif masyarakat terutama pada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah dan masyarakat yang tinggal di daerah terpencil yang sulit dijangkau oleh pelayanan kesehatan masyarakat. Untuk melihat sejauh mana keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dalam rangka upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat, dalam bab ini disajikan beberapa indikator 37

BAB V KESEHATAN kesehatan berdasarkan hasil Susenas 2014, diantaranya ialah keluhan utama kesehatan, penolong persalinan, dan pemberian ASI. 5.1. Keluhan Utama Kesehatan Keluhan kesehatan adalah keadaan seseorang yang mengalami gangguan kesehatan atau kejiwaan. Keluhan kesehatan yang umumnya timbul (dirasakan), adalah panas, batuk, pilek, mencret, muntah/berak, sakit gigi, kejang-kejang dan kecelakaan. Dari 136.903 penduduk Kota Parepare tahun 2014 yang mengalami gangguan kesehatan ada sekitar 29,33 persen. Ini berarti sekitar 70,67 persen tidak pernah mengalami gangguan kesehatan. Dari tabel 5.1. tampak bahwa jenis-jenis keluhan utama kesehatan yang dialami penduduk adalah batuk, pilek, dan panas. Batuk (34,85 persen), pilek (sekitar 30,68 persen), dan panas (26,21 persen). Sedangkan sakit kepala (8,88 Persen), diare (3,76 Persen), sakit gigi (3,35 persen), dan asma (3,18 Persen). Sedangkan sakit lainnya sekitar (39,76 persen). 38

BAB V KESEHATAN Tabel 5.1. Jumlah Penduduk Yang Mengalami Keluhan Kesehatan Di Kota Parepare, Tahun 2014 Keluhan Utama Kesehatan Laki-laki Perempuan Total Penduduk (1) (2) (3) (4) Panas 25,53 26,84 26,21 Batuk 42,34 27,79 34,85 Pilek 34,38 27,19 30,68 Asma/ Sesak Napas 2,24 4,07 3,18 Diare 3,17 4,32 3,76 Sakit Kepala 7,32 10,34 8,88 Sakit Gigi 2,54 4,11 3,35 Sakit Lainnya 32,89 46,25 39,76 Sumber: Susenas 2014 Grafik 7. Persentase Penduduk Menurut Keluhan Kesehatan Di Kota Parepare Tahun 2013 39

BAB V KESEHATAN 5.2. Penolong Persalinan Penolong persalinan dapat dijadikan indikator dibidang kesehatan terutama dalam kaitannya dengan kesehatan ibu dan anaknya serta mutu pelayanan kesehatan secaras umum. Artinya, tempat persalinan yang khusus disertai dengan peralatan yang baik dan ditolong oleh petugas yang terampil, keadaannya akan lebih baik dibanding misalnya dengan tempat bersalin di rumah, dengan peralatan sederhana dan ditolong oleh tenaga non medis. Tabel 5.2. menunjukkan, bahwa penolong persalinan terakhir di Kota Parepare hanya dilakukan oleh tenaga medis, yaitu, dokter dan bidan, di mana tenaga bidan merupakan penolong persalinan terakhir utama, yaitu sekitar 73,74 persen pada tahun 2014, persentase ini menunjukkan adanya peningkatan dibanding tahun 2013 yang sekitar 66,15 persen. Sementara, persalinan yang dilakukan oleh tenaga dukun sudah tidak ada. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat Kota Parepare akan kesehatan, terutama kesehatan ibu dan anak semakin meningkat jika dibandingkan dengan keadaan satu tahun yang lalu. 40

BAB V KESEHATAN Tabel 5.2. Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Di Kota Parepare, Tahun 2014 Pertama Terakhir Penolong Kelahiran Total Total Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Penduduk Penduduk (1) (2) (3) (4) (2) (3) (4) Dokter 29,38 30,20 29,78 29,40 22,90 26,26 Bidan 69,86 69,80 69,83 70,60 77,10 73,74 Tenaga Medis Lain 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Dukun 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Famili 0,75 0,00 0,39 0,00 0,00 0,00 Lainnya 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Total 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber : Susenas 2014 Grafik 8. Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Di Kota Parepare Tahun 2013 80,00 70,00 60,00 50,00 % 73,74 69,83 40,00 30,00 29,78 26,26 20,00 10,00 0,00 Dokter Bidan Tenaga Medis Lain 0,00 0,00 0,00 0,00 0,39 0,00 0, Dukun Famili La 41

BAB V KESEHATAN 5.3. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Pemberian ASI terhadap bayi merupakan salah satu program Pemerintah dibidang kesehatan. ASI merupakan makanan tunggal untuk bayi yang paling baik karena mengandung semua zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuhnya, sehingga pada gilirannya sangat berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh, pertumbuhan dan perkembangan bayi. Di Kota Parepare tahun 2014, persentase anak 2-4 tahun yang hanya di beri ASI saja sebesar 60,31 persen. Mengamati tabel 5.3. tampak bahwa lebih sepertiga balita di Kota Parepare diberi ASI selama 6-23 bulan, yaitu sekitar 42,70 persen dan sekitar 52,16 persen balita disusui hingga umur 2 tahun atau lebih. 42

BAB V KESEHATAN Tabel 5.3. Persentase Anak Usia 2 4 Tahun Yang Pernah Disusui Menurut Lamanya Disusui Di Kota Parepare Tahun 2012 2014 Lamanya Disusui (Bulan) Laki-laki Perempuan Total Penduduk (1) (2) (3) (4) 5 19,84 11,27 15,88 6-11 12,22 15,58 13,77 12-17 17,48 16,18 16,88 18-23 13,98 9,80 12,05 24+ 36,48 47,18 41,42 Total 100,00 100,00 100,00 Sumber : Susenas 2012 2014 Grafik 9. Persentase Balita Yang Pernah Disusui Menurut Lamanya Disusui Di Kota Parepare Tahun 2014 43

BAB VI KETENAGAKERJAAN BAB VI KETENAGAKERJAAN Keputusan wajib belajar merupakan langkah tepat bagi pencapaian tujuan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Perintisan wajib belajar 9 tahun ditujukan pada penduduk kelompok usia 6-15 tahun, juga mencerminkan niat pemerintah untuk meningkatkan kualitas ketersediaan tenaga kerja dimasa mendatang. Secara internasional berdasarkan konsep dari Perserikatan Bangsa Bangsa, penduduk usia 15-64 tahun dikelompokkan sebagai tenaga kerja (Man Power), sedangkan di Indonesia menggolongkan penduduk usia 15 tahun keatas sebagai tenaga kerja. Batasan ini didasarkan pada kenyataan terdapat banyak penduduk usia 15 tahun keatas yang bekerja. Melalui konsep Labour Force Approach dari bagian penduduk, tenaga kerja dapat digolongkan mereka yang termasuk angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Yang termasuk angkatan kerja adalah mereka yang bekerja (untuk menghasilkan barang dan jasa) maupun yang belum (sedang mencari pekerjaan). Tenaga kerja yang tidak termasuk angkatan kerja yaitu mencakup mereka yang sedang bersekolah, mengurus rumahtangga, tidak mampu melakukan kegiatan dan lainnya. 44

BAB VI KETENAGAKERJAAN Informasi ketenagakerjaan ini sangat penting terutama untuk perencanaan dan evaluasi pembangunan. Pembangunan ketenagakerjaan diharapkan tidak hanya mengatasi masalah pengangguran tetapi juga sekaligus meningkatkan taraf kesejahteraan para tenaga kerja dan peningkatan produktifitas secara makro. Dalam ketenagakerjaan dikenal berbagai indikator seperti Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), Tingkat Kesempatan Kerja (TKK), Tingkat Pengangguran (TP), distribusi pekerja menurut sektor usaha, dan sebagainya. 6.1. Penduduk Menurut Kegiatan Utama Tabel 6.1. menyajikan persentase penduduk usia 15 tahun keatas menurut jenis kelamin dan kegiatan utama seminggu yang lalu di Kota Parepare tahun 2014. Tabel ini menunjukkan bahwa dari seluruh penduduk angkatan kerja sekitar 92,93 persen penduduk usia 15 tahun keatas tergolong bekerja dan sekitar 7,07 persen yang sedang mencari pekerjaan. Defenisi bekerja yang dimaksud disini adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan selama paling sedikit satu jam berturut-turut selama seminggu yang lalu (termasuk pekerja keluarga tanpa upah yang membantu suatu usaha atau kegiatan ekonomi). 45

BAB VI KETENAGAKERJAAN Termasuk dalam kategori bekerja adalah mereka yang mempunyai pekerjaan tetap, tetapi sementara ini tidak bekerja karena sesuatu sebab seperti sakit, cuti, menunggu panen, mogok atau sedang tugas belajar. Sedangkan yang dimaksud mencari pekerjaan adalah mereka yang tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan, termasuk juga mereka yang sudah pernah bekerja karena sesuatu hal berhenti atau diberhentikan dan sedang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan. Usaha mencari pekerjaan ini tidak terbatas pada seminggu yang lalu masih mengharapkan pekerjaan tetapi juga termasuk mereka yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan dan yang permohonannya telah lebih dari seminggu yang lalu. Jika diamati menurut jenis kelamin, tampak perbedaan yang sangat mencolok, khususnya pada angkatan kerja yang bekerja dan bukan angkatan kerja yang mengurus rumahtangga. Laki-laki yang tergolong usia kerja, lebih dari 70 persen yang bekerja, sedangkan perempuan yang bekerja hanya sekitar 43,07 persen. Tampak juga bahwa perempuan lebih banyak mengurus rumah tangga, yaitu sekitar 36,25 persen. Sedangkan proporsi sekolah untuk laki-laki yaitu sekitar 13,06 persen sedangkan perempuan sedikit lebih banyak, yaitu sekitar 13,46 persen. Hal 46

BAB VI KETENAGAKERJAAN ini sekaligus memberikan gambaran bahwa kesetaraan gender belum berlaku sepenuhnya pada masyarakat Kota Parepare sangat terlihat fenomena bahwa laki-laki adalah pencari nafkah, sedangkan wanita lebih banyak mengurus rumah tangga daripada harus pergi bekerja untuk mencari nafkah. Tabel 6.1. JumlahPenduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Kegiatan Utama Selama Seminggu Yang Lalu Dan Jenis Kelamin di Kota Parepare, Tahun 2014 Kegiatan Utama Laki-laki Perempuan Total Penduduk (1) (2) (3) (4) Angkatan Kerja - Bekerja 33.159 21.653 54.812 - Mencari Pekerjaan 2.182 1.984 4.166 Bukan Angkatan Kerja - Sekolah 6.140 6.766 12.906 - Mengurus RT 1.527 18.226 19.753 - Lainnya 4.012 1.647 5.659 Jumlah 47.020 50.276 97.296 Sumber : Sakernas 2014 47

BAB VI KETENAGAKERJAAN Grafik 10. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Kegiatan Utama Selama Seminggu Yang Lalu Dan Jenis Kelamin di Kota Parepare, Tahun 2014 6.2. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah merupakan indikator untuk mengetahui keterlibatan penduduk usia kerja dalam pasar kerja. TPAK adalah perbandingan penduduk yang bekerja dan penduduk yang sedang mencari pekerjaan, atau mempersiapkan usaha (penganggur) terhadap penduduk usia kerja (15 tahun ke atas). Angka tersebut memberikan gambaran kepada kita seberapa besar angkatan kerja yang tersedia di suatu daerah. 48

BAB VI KETENAGAKERJAAN Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Kota Parepare tahun 2012 dan tahun 2013 memperlihatkan adanya fluktuasi, di mana setelah terjadi penurunan di tahun 2013, mengalami peningkatan kembali di Tahun 2014, yaitu dari 57,72 persen di Tahun 2013 menjadi 60,62 persen di Tahun 2014. Tabel 6.2. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Usia 15 Tahun Keatas Di Kota Parepare Tahun 2012 2014 Tingkat Tahun Angkatan Kerja (TPAK) Penduduk Usia Partisipasi Kerja Angkatan Kerja (1) (2) (3) (4) 2012 54.095 89.600 60,37 2013 53.678 93.005 57,72 2014 58.978 97.296 60,62 Sumber : Sakernas 2012 2014 49

BAB VI KETENAGAKERJAAN Grafik 11. TPAK Usia 15 Tahun Ke Atas di Kota Parepare Tahun 2012 2014 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja 61,00 60,50 60,00 59,50 59,00 58,50 58,00 57,50 57,00 56,50 56,00 60,37 57,72 60,62 2012 2013 2014 Tahun 50

BAB VI KETENAGAKERJAAN 6.3. Pertumbuhan Angkatan Kerja Selain berdasarkan pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang menunjukkan besarnya angkatan kerja yang tersedia dibandingkan dengan besarnya penduduk usia kerja, masalah ketenagakerjaan juga tidak terlepas dari tingginya angka pertumbuhan angkatan kerja dari tahun ke tahun yang cenderung terus meningkat. Tabel 6.3. menunjukkan bahwa pertumbuhan angkatan kerja di Kota Parepare pada tahun 2014 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, di mana pertumbuhan angkatan kerja sekitar 9,87 persen pertahun. Tabel 6.3. Pertumbuhan Penduduk Angkatan Kerja Di Kota Parepare Tahun 2012 2014 Tahun Jumlah Angkatan Kerja Pertumbuhan (1) (2) (3) 2012 54.095 2,06 2013 53.678 (0,77) 2014 58.978 9,87 Sumber : Sakernas 2012 2014 51

BAB VI KETENAGAKERJAAN Grafik 12. Pertumbuhan Angkatan Kerja Di Kota Parepare Tahun 2012 2014 6.4. Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama. Dari total penduduk yang bekerja di Kota Parepare selama tahun 2014, hampir sebagian bekerja di Sektor Perdagangan yaitu sekitar 37,69 persen, Sektor Jasa Kemasyarakatan 30,84 Persen, Sektor Industri Pengolahan sekitar 7,25 Persen sedangkan Sektor Pertanian hanya sekitar 2,56 persen. 52

BAB VI KETENAGAKERJAAN Tabel 6.4. Persentase Penduduk 15 Tahun Ke atas yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama Di Kota Parepare Tahun 2014 1 Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan, dan Perikanan Jumlah Penduduk Persentase (6) (7) 1.405 2,56 2 Industri 3.973 7,25 3 4 Lapangan Pekerjaan Utama (1) Perdagangan, Rumah Makan, dan Jasa Akomodasi Jasa Kemasyarakatan, Sosial, dan Perorangan 20.657 37,69 16.904 30,84 5 Lainnya 11.873 21,66 Jumlah Sumber : Sakernas 2014 54.812 100,00 Grafik 13. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama di Kota Parepare, Tahun 2014 Lainnya 22% Jasa-jasa 31% Pertanian 2% Industri 7% Perdagangan 38% 53

BAB VI KETENAGAKERJAAN 6.5. Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama Status pekerjaan utama adalah jenis kedudukan seseorang dalam pekerjaannya. Status pekerjaan diklasifikasikan sebagai berusaha sendiri tanpa bantuan orang lain, berusaha dibantu oleh anggota rumah tangga atau buruh tidak tetap, berusaha dengan buruh tetap, buruh/karyawan swasta/bumn/pemerintah, pekerja bebas di pertanian, pekerja bebas di non pertanian dan pekerja keluarga/lainnya. Grafik 14 memperlihatkan data mengenai persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja menurut status pekerjaan utama Tahun 2014. Terlihat bahwa persentase terbesar status pekerja di Kota Parepare adalah buruh/ karyawan, yaitu sebesar 45,37 persen, disusul berusaha sendiri tanpa bantuan orang lain sebesar 15,85 persen. Untuk pekerja keluarga menduduki urutan ketiga 12,73 persen, disusul berusaha dibantu buruh tidak tetap 12,42 persen, pekerja bebas sebesar 9,47 persen dan terakhir berusaha dibantu buruh tetap 4,13 persen. 54

BAB VI KETENAGAKERJAAN Tabel 6.5 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Yang Bekerja menurut Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Kota Parepare, Tahun 2014 Status Pekerjaan Utama (1) Laki-laki Perempuan Total Penduduk (2) (3) (4) 1 Berusaha Sendiri Tanpa Bantuan Orang Lain 6,514 2,177 8,691 2 Berusaha Dibantu Buruh Tidak Tetap 3,212 3,596 6,808 3 Berusaha Dibantu Buruh Tetap 1,270 997 2,267 4 Buruh/ Karyawan 15,865 9,005 24,870 5 Pekerja Bebas 4,142 1,053 5,195 6 Pekerja Keluarga/ Tidak Dibayar 2,156 4,825 6,981 Jumlah 33,159 21,653 54,812 Sumber : Sakernas 2014 Jika diamati menurut jenis kelamin, keadaan yang menarik adalah pekerja keluarga. Persentase pekerja keluarga berjenis kelamin perempuan lebih besar dibanding laki-laki, masing-masing 14,55 persen dan 6,50 persen. Keadaan ini mungkin karena umumnya pekerja keluarga tidak memerlukan persyaratan khusus sehingga hal ini lebih banyak didominasi oleh kaum wanita. 55

BAB VI KETENAGAKERJAAN Grafik 14. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Yang Bekerja menurut Status Pekerjaan Utama di Kota Parepare, Tahun 2014 Pekerja Keluarga/Tidak Dibayar 12,73% Pekerja Bebas 9,47% Buruh/Karyawan 45,37% Berusaha Sendiri 15,85% Berusaha Dibantu Buruh Tidak Tetap 12,42% Berusaha Dibantu Buruh Tetap 4,13% 56

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP Perumahan merupakan kebutuhan pokok penduduk disamping sandang dan pangan. Keadaan perumahan dan lingkungan hidup dapat dijadikan indikator tingkat kesejahteraan masyarakat, khususnya kesehatan masyarakat. Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan untuk memenuhi kebutuhan perumahan bagi masyarakat, maka pembangunan perumahan baik itu melalui Perum Perumnas atau yang lain berjalan cepat khususnya di wilayah Kota Parepare. Kualitas perumahan yang memenuhi standar kenyamanan tampaknya semakin dibutuhkan, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, karena selain berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah juga berfungsi sebagai wahana untuk melakukan kegiatan sosial, ekonomi, kebudayaan dan agama. Fasilitas rumah yang tidak memadai dan kondisi lingkungan yang tidak sehat sangat berpengaruh terhadap kesehatan dari penghuni rumah tersebut. Fasilitas rumah disini tidak sepenuhnya diartikan dengan perabot rumah tangga, tetapi lebih menitikberatkan pada jenis lantai, dinding dan atap serta penerangan. Sementara dari segi kesehatan lingkungan 57

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP akan dibahas mengenai sumber air minum, sumber penerangan, dan tempat buang air besar. Pada publikasi Tahun 2015 ini, ada indikator yang masih menyajikan data beberapa tahun sebelumnya. Hal ini ditujukan sebagai pembanding untuk mengetahui perubahan dari tahun ke tahun. Data tersebut antara lain data mengenai Jenis Dinding Terluas, Jenis Atap Terluas, Sumber Penerangan, dan Tempat Penampungan akhir. 7.1. Luas Lantai, Jenis Dinding, dan Jenis Atap Bangunan Tempat Tinggal Luas lantai dan jenis bahan bangunan, merupakan unsur penting dalam menciptakan kondisi kenyamanan dan kesehatan bagi penghuninya. Diperkirakan semakin luas lantai hunian dan semakin baik kualitas bahan bangunan yang digunakan akan menciptakan kondisi yang semakin nyaman dan sehat bagi penghuninya. Tabel 7.1. menyajikan keadaan rumahtangga menurut luas lantai, tahun 2012 hingga 2014. Pada tabel ini luas lantai dibagi dalam lima kelompok, kurang dari 20 m 2, 20-49 m 2, 50-99 m 2, 100-149 m 2 dan 150 m 2 atau lebih. Tabel 7.1. menunjukkan bahwa pada tahun 2014 sebagian besar luas 58

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP lantai rumah yang dihuni berkisar antara 50-99 m 2 (37,70 persen rumah tangga) dan 20-49 m 2 (31,35 persen rumah tangga). Sementara itu rumah tangga yang menempati rumah yang luas lantai diatas 100 m 2 atau lebih, sekitar 26,75 persen dan sekitar 4,19 persen rumah tangga yang masih menempati tempat tinggal kurang dari 20 m 2. Kelompok terakhir ini umumnya mempunyai status ekonomi rendah dan tinggal di daerah kumuh perkotaan serta bekerja disektor informal. Dengan melihat kondisi rumahtangga menurut luas lantai, tampaknya masih perlu perhatian khusus dari pihakpihak terkait. Perhatian terutama ditujukan bagi rumah tangga dengan luas lantai yang relatif sempit (<20 m 2 ). Walaupun disadari luas lantai yang sempit belum tentu akan memberikan suasana kurang nyaman bagi penghuninya, karena tergantung dari banyaknya anggota rumah tangga menghuni rumah tersebut. Rata-rata luas lantai per anggota rumah tangga akan memberikan gambaran yang lebih baik tentang kondisi suatu rumah. Meskipun demikian tanpa ukuran inipun rata-rata luas lantai yang sempit ternyata juga dihuni oleh anggota rumah tangga yang banyak. 59

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP Tabel 7.1. Persentase Rumah tangga Menurut Luas Lantai Di Kota Parepare, Tahun 2012 2014 Luas Lantai (m 2 ) 2012 2013 2014 (1) (2) (3) (4) < 20 5,91 2,57 4,19 20-49 35,29 32,41 31,35 50-99 38,77 40,83 37,70 100-149 11,50 14,72 15,33 150+ 8,53 9,47 11,42 Total 100,00 100,00 100,00 Sumber : Susenas 2012 2014 Grafik 15. Persentase Rumah tangga Menurut Luas Lantai Di Kota Parepare Tahun 2014 60

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP Tabel 7.2. Persentase Rumah tangga Menurut Jenis Dinding Terluas Di Kota Parepare, Tahun 2012 2014 Jenis Dinding 2012 2013 2014 (1) (2) (3) (4) Tembok 41,75 37,94 45,96 Kayu 35,59 27,37 25,16 Bambu 5,74 3,43 4,01 Lainnya 16,92 31,26 24,87 Total 100,00 100,00 100,00 Sumber : Susenas 2012 2014 Grafik 16. Persentase Rumah tangga Menurut Jenis Dinding Terluas Di Kota Parepare Tahun 2014 61

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP Keadaan rumahtangga menurut dinding terluas, tahun 2012 2014 disajikan pada Tabel 7.2. Pada tabel ini jenis dinding terluas dibagi dalam empat kelompok, yaitu tembok, kayu, bambu, dan lainnya. Tabel 7.2. menunjukkan sebagian besar jenis dinding terluas yang dihuni pada Tahun 2014 sudah berupa tembok yaitu sebesar 45,96 persen, berupa kayu sebesar 25,16 persen, berupa bambu 4,01 persen dan lainnya sebesar 24,87 persen. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar dinding terluas disetiap rumahtangga di Kota Parepare sudah merupakan dinding yang permanen karena sudah berupa tembok. Atap adalah penutup bagian atas suatu bangunan sehingga seseorang yang mendiami terlindung dari terik matahari, hujan, dan sebagainya. Untuk jenis bangunan bertingkat, yang dimaksud atap disini adalah bagian yang paling atas dari bangunan tersebut. 62

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP Tabel 7.3. Persentase Rumah tangga Menurut Jenis Atap Terluas Di Kota Parepare, Tahun 2012 2014 Jenis Dinding 2012 2013 2014 (1) (2) (3) (4) Beton 4,50 4,41 4,33 Sirap 0,28 0,20 0,22 Seng/ Asbes 92,53 92,77 89,67 Genteng 1,36 2,48 5,79 Ijuk 0,23 0,00 0,00 Lainnya 1,10 0,13 0,00 Total 100,00 100,00 100,00 Sumber : Susenas 2012 2014 Grafik 17. Persentase Rumah tangga Menurut Jenis Atap Terluas Di Kota Parepare, Tahun 2014 63

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP Selain jenis lantai dan dinding, jenis atap tempat tinggal juga merupakan salah satu indikator kelayakan perumahan dari suatu rumah tangga yang pada akhirnya akan menunjukkan bagaimana tingkat kesejahteraan dari rumah tangga itu sendiri. Jenis atap yang digunakan oleh rumah tangga di Kota Parepare ditahun 2014 sebagian besar dari bahan seng/asbes, yaitu persentasenya sekitar 89,67 persen. 7.2. Fasilitas Perumahan Fasilitas perumahan yang digunakan untuk mengukur derajat kesejahteraan antara lain sumber penerangan, sumber air minum dan tempat buang air besar. Sumber penerangan merupakan hal penting dalam kenyamanan tempat tinggal. Keberadaan listrik sebagai sumber penerangan dan kebutuhan operasional peralatan rumahtangga seperti radio, televisi, kulkas, alat masak dan sebagainya. Fasilitas listrik juga banyak memberikan efisiensi dan produktivitas pada pemakainya. Namun sayangnya belum semua rumah tangga dapat memanfaatkan listrik karena berbagai alasan seperti daerahnya belum masuk aliran listrik, tidak mampu dan alasan lain. Sumber penerangan yang 64

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP dijadikan bahasan dalam sub-bab ini terdiri dari listrik PLN dan Non PLN, Petromak/Aladin, Pelita/Senter/Obor dan lainnya yang keadaannya disajikan pada Tabel 7.4. Tabel 7.4. Persentase Rumah tangga Menurut Sumber Penerangan Di Kota Parepare, Tahun 2012 2014 Sumber Penerangan 2012 2013 2014 (1) (2) (3) (4) Listrik PLN 99,09 99,41 99,60 Listrik Non-PLN 0,13 0,00 0,17 Petromak/ Aladin 0,00 0,20 0,23 Pelita/ Sentir/ Obor 0,78 0,39 0,00 Lainnya 0,00 0,00 0,00 Total 100,00 100,00 100,00 Sumber : Susenas 2012 2014 Grafik 18. Persentase Rumah tangga menurut Sumber Penerangan di Kota Parepare, Tahun 2014 65

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP Disadari bahwa listrik banyak memberikan efisiensi dan produktifitas pada pemakainya. Hampir seluruh rumah tangga di Kota Parepare sudah menggunakan listrik sebagai sumber penerangan. Dari 30.596 rumah tangga, sekitar 99,60 persen diantaranya sudah menggunakan sumber penerangan listrik PLN. Sisanya sekitar 0,40 persen rumah tangga menggunakan sumber penerangan lain, seperti listrik Non PLN dan petromak/aladin. Sarana listrik yang disediakan oleh pemerintah (PLN) dan swasta sudah menjangkau seluruh wilayah Kota Parepare. Kemungkinan rumah tangga yang belum menggunakan listrik sebagai sumber penerangan disebabkan oleh faktor kesulitan ekonomi rumah tangga. Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia, setiap rumahtangga pasti memerlukan air untuk kebutuhan rumah tangganya, baik untuk air minum maupun untuk keperluan rumah tangga lainnya, seperti untuk memasak, mencuci dan lain sebagainya. Kebutuhan akan air bersih, terutama untuk bahan baku air minum yang berkualitas, bila ditinjau dari segi kesehatan dirasakan semakin hari semakin penting. Ini mengingat semakin tingginya permintaan akan air bersih oleh rumah 66

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP tangga, yang tidak dapat diimbangi penyediaannya oleh alam secara memadai, mengingat daya dukung sumber daya alam yang terbatas. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat kualitas air minum yang dikonsumsi rumah tangga adalah dengan melihat sumber air minum yang digunakan oleh rumah tangga tersebut. Tahun 2014, sebagian besar rumah tangga di Kota Parepare menggunakan air kemasan/air isi ulang sebagai air yang layak diminum. Tabel 7.5. Persentase Rumah tangga yang Menggunakan Air Minum Layak di Kota Parepare Tahun 2013 dan 2014 Air Minum Layak 2013 2014 (1) (2) (3) Air Bersih/ Air Hujan 42,32 35,79 Tidak 11,71 8,74 Air Kemasan/ Isi Ulang 45,97 55,47 Total 100,00 100,00 Sumber : Susenas 2013 dan 2014 67

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP Grafik 19. Persentase Rumah tangga yang Menggunakan Air Minum Layak di Kota Parepare Tahun 2014 Kepedulian masyarakat terhadap kesehatan salah satunya dapat dilihat dari penggunaan tempat buang air besar. Semakin tinggi kesadaran masyarakat terhadap pemeliharaan kesehatan biasanya ditandai dengan semakin baik kualitas tempat buang air besar yang digunakan. Pemanfaatan tempat buang air besar yang memenuhi standar kesehatan adalah tempat buang air besar dengan menggunakan tangki septik. Menurut penggunaannya bisa sendiri atau bersama dengan beberapa rumah tangga. Disisi lain ada juga rumah tangga yang menggunakan kolam, sungai, lobang tanah, pantai dan lainnya. Pada Tabel 7.6. 68

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP menunjukkan kondisi tempat buang air besar di Kota Parepare pada tahun 2012 hingga 2014. Tampak bahwa kondisi tempat buang air besar di Kota Parepare sudah cukup baik. Ini antara lain ditandai dengan meningkatnya persentase rumah tangga yang menggunakan tangki sebagai tempat penampungan akhir dari 92,70 persen pada 2012 menjadi 93,60 persen pada 2013, dan pada Tahun 2014 meningkat menjadi 93,94 persen. Namun demikian ternyata masih ada sekitar 1,49 persen rumah tangga yang menggunakan lapang/kebun dan sekitar 1,59 persen yang menggunakan lobang tanah sebagai tempat pembuangan air besar, yakni membuang kotoran tanah lapang/kebun dan ke lobang yang tidak ditembok. Perlu mendapat perhatian bahwa pembuangan tinja dengan cara demikian dapat mencemari lingkungan terutama sumber air minum. 69

BAB VII PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP Tabel 7.6. Persentase Rumah tangga menurut Tempat Penampungan Akhir di Kota Parepare Tahun 2012 2014 Tempat Penampungan Akhir 2012 2013 2014 (1) (2) (3) (4) Tangki 92,70 93,60 93,94 Kolam/ Sawah 0,52 0,11 0,23 Sungai/ Danau 0,13 1,12 1,40 Lobang Tanah 2,09 0,90 1,59 Lapang/ Kebun 3,98 3,62 1,49 Lainnya 0,58 0,65 1,35 Total 100,00 100,00 100,00 Sumber : Susenas 2012 2014 Grafik 20. Persentase Rumah tangga menurut Tempat Penampungan Akhir di Kota Parepare, Tahun 2014 70

BAB VIII PENGELUARAN KONSUMSI PENDUDUK BAB VIII PENGELUARAN KONSUMSI PENDUDUK Tingkat kesejahteraan masyarakat antara lain juga bisa digambarkan oleh besarnya tingkat pendapatan yang diterima. Sayangnya data pendapatan yang akurat sulit diperoleh sehingga pendekatan yang digunakan adalah pengeluaran konsumsi rumahtangga. Pengeluaran konsumsi penduduk per bulan adalah salah satu indikator untuk melihat sejauh mana tingkat ekonomi suatu masyarakat. Semakin tinggi pengeluaran untuk konsumsi dapat dikatakan semakin baik pula tingkat ekonomi masyarakat. Tingginya pengeluaran penduduk dapat dilihat dari besarnya rata-rata pengeluaran penduduk per bulan. Dengan adanya data pengeluaran konsumsi penduduk, selain untuk melihat tingkat ekonomi masyarakat, juga dapat menjelaskan bagaimana distribusinya terhadap masing-masing penduduk, apakah ada perbedaan yang cukup besar antara penduduk yang berpengeluaran terkecil dengan penduduk yang berpengeluaran paling besar. 71

BAB VIII PENGELUARAN KONSUMSI PENDUDUK Tabel 8.1. Persentase Penduduk menurut Golongan Total Pengeluaran Perbulan di Kota Parepare, Tahun 2014 Golongan Total Pengeluaran Persentase Penduduk (1) (2) < 100.000 0,00 100.000-149.999 0,27 150.000-199.999 1,18 200.000-299.999 15,10 300.000-499.999 30,40 500.000-749.999 14,72 750.000-999.999 12,39 1.000.000 25,94 Total 100,00 Sumber : Susenas 2014 Pada Tabel 8.1 dan Grafik 22 tampak bahwa pada tahun 2014 tingkat pengeluaran konsumsi penduduk di Kota Parepare masih ada yang berada di bawah Rp. 150.000/ bulan yaitu sebesar 0,27 persen. Persentase terbesar terdapat pada golongan pengeluaran Rp. 300.000 499.999/bulan, yaitu sekitar 30,40 persen. Ternyata pengeluaran 1.000.000/ bulan 72

BAB VIII PENGELUARAN KONSUMSI PENDUDUK menempati perinkat kedua, dimana terdapat sekitar 25,94 persen. Dengan melihat data tersebut, dapat dikatakan tingkat ekonomi masyarakat di Kota Parepare pada tahun 2014 secara umum sudah baik dan layak walaupun demikian masih ada sebagian kecil masyarakat Kota Parepare yang masih memiliki penghasilan jauh dari layak. Grafik 21. Persentase Penduduk menurut Golongan Total Pengeluaran di Kota Parepare, Tahun 2014 100.000-149.999 0,27% Other 53% 150.000-199.999 1,18% 200.000-299.999 15,10% 300.000-499.999 30,40% 500.000-749.999 14,72 750.000-999.999 12,39% >=1.000.000 25,94% 73