BAB II TELAAH PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
MENINGKATKAN PARTISIPASI MAHASISWA DALAM PERKULIAHAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI. Ramadhon (2013) dalam skripsinya yang berjudul Efektivitas Program

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. katanya, kata partisipasi berasal dari kata bahasa Inggris participation yang berarti

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BEBERAPA MODEL EVALUASI PENDIDIKAN (Disarikan dari Seminar Mata Kuliah Evaluasi Pendidikan) Oleh Sofyan Zaibaski

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan

1. Penetapan dan penyediaan informasi yang bermanfaat untuk menilai keputusan alternatif;

A. Pengertian Evaluasi Program

Teori dan Praktek Evaluasi Program DIAN PERMATASARI K.D

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam peningkatan

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI DESA TOLOMBUKAN SATU KECAMATAN PASAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA

II. TINJAUAN PUSTAKA. nilai budaya, memberikan manfaat/benefit kepada masyarakat pengelola, dan

EVALUASI menurut Suharsimi Arikunto menyebutkan bahwa: Evaluasi merupakan kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang

Kedudukan Evaluasi Program dan Hasil Belajar Oleh: Novrianti Yusuf,M.Pd

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN UJI SERTIFIKASI KOMPETENSI KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN

PEDOMAN WAWANCARA UNTUK ORANG TUA PESERTA DIDIK PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI SD NEGERI KAUMAN KIDUL SALATIGA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEMALANG NOMOR 2 TAHUN 2007 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

BAB III METODE PENELITIAN

CONTEXT INPUT PROCESS PRODUCT (CIPP): MODEL EVALUASI LAYANAN INFORMASI

Oleh : Dr. Amat Jaedun, M.Pd. Dosen Fakultas Teknik UNY Ka.Puslit Dikdasmen, Lemlit UNY

BAB IV RANCANGAN STUDI EFEKTIVITAS PROYEK

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kajian Teori Tentang Program Muatan Lokal Keterampilan. 1. Pengertian Muatan Lokal Keterampilan

Dinamika Sosial Dalam Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah Untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Pada Satuan Pendidikan Pada Era Otonomi Daerah

PERSEPSI PETANI TERHADAP KINERJA KEMITRAAN KELOMPOK TANI DENGAN PERUSAHAAN EKSPORTIR PD RAMA PUTRA

CIPP (Context, Input, Process, Product) Oleh : Hasim Asngari NIM :

TEST, PENGUKURAN, ASSESMEN, EVALUASI

RANCANGAN STUDI EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PROYEK PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

BAB II KAJIAN TEORI...

EVALUASI PROGRAM LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL DI SMAN 46 JAKARTA SELATAN

III. METODE PENELITIAN. pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologik, yaitu

EVALUASI PEMBELAJARAN TEMATIK DI SEKOLAH DASAR NEGERI 158 WATALLIPU KECAMATAN DONRI-DONRI KABUPATEN SOPPENG

INSTRUMEN EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI. banyak di lakukan orang, diantaranya adalah:

Mengapa Evaluasi Program?

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Topik Bahasan. Mengapa Evaluasi Program?

EVALUASI PROGRAM PELATIHAN KOMPUTER DI BALAI LATIHAN KERJA KABUPATEN KULON PROGO SKRIPSI

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA TAHUN 2013

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DESA SUKAMERTA KECAMATAN RAWAMERTA KABUPATEN KARAWANG

BAB I PENDAHULUAN. dalam melakukan segala aktifitas di berbagai bidang. Sesuai dengan UUD 1945

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KESIAPAN SEKOLAH DALAM PENERAPAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DI SEKOLAH DASAR ISLAM AL HILAL RAWA LUMBU, BEKASI Tahun Ajaran 2008/2009

PEMERINTAH KABUPATEN MELAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN MELAWI NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

EVALUASI PROSES BELAJAR MENGAJAR MATA PELAJARAN GAMBAR TEKNIK JURUSAN TEKNIK FABRIKASI LOGAM DI SMK N 1 SEYEGAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Persaingan usaha yang semakin ketat dewasa ini menuntut

BAB II KAJIAN TEORI Supervisi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

I. PENDAHULUAN. penerima program pembangunan karena hanya dengan adanya partisipasi dari

I. PENDAHULUAN. Peran serta masyarakat dalam pendidikan pada dasarnya bukan merupakan sesuatu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. siswa. Berdasarkan program pendidikan tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar,

BAB I PENDAHULUAN. Efektivitas proses..., Hani Khotijah Susilowati, FISIP UI, Universitas Indonesia

EVALUASI PROGRAM LAYANAN PERPUSTAKAAN DI SDN KARANGREJO 2 KECAMATAN BONANG KABUPATEN DEMAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lahirnya Undang-undang No. 22 tahun 1999 yang direvisi dengan

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. dan inovatif dengan mempertimbangkan faktor-faktor ekstern organisasi yang. tujuan organisasi secara efektif dan efisien.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

VI. SIMPULAN DAN SARAN. pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa : Non Pemerintah Dalam Penetapan dan Penyusunan RKPD

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian evaluatif yang dirancang untuk memperoleh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Evaluasi pembelajaran yang dilakukan selama ini kadang-kadang hanya

27/01/2015 AKUNTANSI MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK. Akuntansi Manajemen Sektor Publik PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. semuannya dirumuskan oleh Pemerintah. perencana tentang keberadaan pendidikan.

STUDI EVALUASI TENTANG PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING DITINJAU DARI STANDAR PROSES PADA SEKOLAH TUNAS DAUD DENPASAR

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Instrumen EVALUASI PROGRAM Bimbingan dan Konseling

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH. DAFTAR ISI.. vi DAFTAR TABEL.. DAFTAR GAMBAR. A. Latar Belakang Masalah.

BAB III METODE PENELITIAN. merumuskan masalah sampai dengan menarik kesimpulan (Purwanto,

DESAIN EVALUASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN MODEL CIPP PADA KEJAR PAKET B

BAB I PENDAHULUAN. mengamanatkan bahwa pemerintah daerah, yang mengatur dan mengurus

PENELITIAN EVALUATIF SEBAGAI SALAH SATU MODEL PENELITIAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN. (Suatu Kajian Konseptual) Sri Kantun

2015 ANALISIS PROGRAM DIKLAT PARTICIPATORY RURAL APPRAISAL (PERENCANAAN PARTISIPATIF) DI BALAI DIKLAT KEHUTANAN KADIPATEN

Transkripsi:

BAB II TELAAH PUSTAKA 2.1 Definisi Evaluasi Terdapat beberapa definisi tentang evaluasi berdasarkan para ahli, Menurut Ralph W.Tyler dalam (Wirawan 2012:80) mendefinisikan evaluasi sebagai process of determining to what extent the educational objective are actually being realized. Evaluasi merupakan proses menentukan sampai seberapa jauh tujuan pendidikan sesungguhnya dapat dicapai. Sedangkan menurut Strufflebeam dan Shinkfield evaluasi merupakan proses menyediakan informasi yang dapat membantu membuat keputusan dan meningkatkan pemahaman terhadap fenomena. (Widoyoko,2012:2). Pengertian evaluasi juga didefinisikan oleh Komite Studi Nasional tentang Evaluasi yaitu proses pemilihan pengumpulan, analisis, dam penyajian informasi yang dapat digunakan dalam pengambilan sebuah keputusan serta penyusunan program selanjutnya. (Widoyoko,2012:4). Definisi lain tentang evaluasi menurut Suchman dalam Suharsimi dan Cepi (2004:1) adalah proses menentukan hasil dari beberapa kegiatan yang telah direncanakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan kegiatan tersebut 9

tercapai.dari beberapa pengertian tentang evaluasi dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan proses penilaian sebuah kegiatan yang telah direncanakan dengan cara mengumpulkan informasi yang ada guna mengambil sebuah keputusan, memperbaiki kegiatan yang selanjutnya serta mengetahui kegiatan tersebut sesuai dengan tujuan yang akan dicapai atau tidak. 10 Evaluasi proses meneliti dan menilai apakah layanan program telah dilaksanakan seperti yang direncanakan. Evaluasi ini juga menilai mengenai strategi pelaksanaan program Evaluasi manfaat meneliti, menilai dan menentukan apakah program telah menghasilkan perubahan yang diharapkan. Evaluasi akibat mengukur apakah klien yang mendapat layanan berubah 2.2. Tujuan Evaluasi Evaluasi dilaksanakan untuk mencapai beberapa tujuan sesuai dengan objek evaluasinya. Tujuan melaksanakan evaluasi antara lain: a. Mengukur pengaruh program terhadap masyarakat. b. Menilai apakah program telah dilaksanakan sesuai dengan rencana. c. Mengukur apakah pelaksanaan program sesuai dengan standar

d. Evaluasi program dapat mengidentifikasi dan menemukan mana dimensi program yang jalan, mana yang tidak berjalan. e. Pengambangan staf program. f. Memenuhi ketentuan undang-undang. g. Akredetasi program h. Mengukur cost effectiveness dan cost efficiency. i. Mengambil keputusan mengenai program. 2.3. Model-model evaluasi Terdapat beberapa model evaluasi yang telah dikembangkan oleh para ahli yang dapat digunakan sebagai acuan mengevaluasi sebuah program. Model-model evaluasi program diantaranya : Goal Oriented Evaluation Model, Goal Free Evaluation Model, Formatif Summatif Evaluation Model, Countenance Evaluation Model, Responsive Evaluation Model, CSE-UCLA (Center for the Study of Evaluation and University of California in Los Angels) Evaluation Model, CIPP (Context, Input, Process, Product) Evaluation Model, dan Discrepancy Model, dalam hal ini penulis memilih CIPP Evaluation Model.(Suharsimi Arikunto,2010 : 40). 2.3.1 Pengertian Model Evaluasi CIPP 11

Model evaluasi ini dikembangkan oleh Stufflebeam,dkk pada tahun 1967 di Ohio State University. Model CIPP ini merupakan sebuah singkatan dari kata Context, Input, Process, dan Product. Model CIPP merupakan model yang memandang program yang dievaluasi sabagai sebuah sistem. (Suharsimi Arikunto, 2010:45). Menurut Stufflebeam, konsep dari CIPP memiliki tujuan penting dari evaluasi adalah bukan membuktikan tetapi memperbaiki. (Widoyoko, 2012 : 181). Dalam hal ini jika evaluator sebagai pelaksana maka evaluator harus menganalisis dari tiap-tiap komponen yang ada. Komponen-komponen tersebut yaitu : 1. Evaluasi Konteks (Context) Evaluasi konteks merupakan evaluasi yang menggambarkan secara rinci yaitu : a. lingkungan program, b. kebutuhan yang tidak terpenuhi, c. karakteristik populasi dan sampel yang dilayani dan tujuan proyek. 2. Evaluasi Masukan(Input) Evaluasi masukan membantu mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, rencana apa 12

dan strategi untuk mencapai tujuan, bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya. 3. Evaluasi Proses (Process) Evaluasi proses untuk mengetahui sejauh mana rencana yang telah diterapkan dan komponen apa yang perlu diperbaiki. 4. Evaluasi Produk atau Hasil (Product) Evaluasi produk merupakan penilaian yang dilakukan untuk mengukur keberhasilan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. 2.4. Partisipasi Masyarakat 2.4.1. Definisi Partisipasi H.A.R.Tilaar, (2009:287) mengungkapkan partisipasi adalah sebagai wujud dari keinginan untuk mengembangkan demokrasi melalui proses desentralisasi dimana diupayakan antara lain perlunya perencanaan dari bawah (bottom-up) dengan mengikutsertakan masyarakat dalam proses perencanaan dan pembangunan masyarakatnya. Menurut Sundariningrum dalam Sugiyah (2001: 38) mengklasifikasikan partisipasi menjadi 2 (dua) berdasarkan cara keterlibatannya, yaitu : 13

a. Partisipasi Langsung Partisipasi yang terjadi apabila individu menampilkan kegiatan tertentu dalam proses partisipasi. Partisipasi ini terjadi apabila setiap orang dapat mengajukan pandangan, membahas pokok permasalahan, mengajukan keberatan terhadap keinginan orang lain atau terhadap ucapannya. b. Partisipasi tidak langsung Partisipasi yang terjadi apabila individu mendelegasikan hak partisipasinya. Cohen dan Uphoff yang dikutip oleh Siti Irene Astuti D (2011: 61-63) membedakan patisipasi menjadi empat jenis, yaitu pertama, partisipasi dalam pengambilan keputusan. Kedua, partisipasi dalam pelaksanaan. Ketiga, partisipasi dalam pengambilan pemanfaatan. Dan Keempat, partisipasi dalam evaluasi. Pertama, partisipasi dalam pengambilan keputusan. Partisipasi ini terutama berkaitan dengan penentuan alternatif dengan masyarakat berkaitan dengan gagasan atau ide yang menyangkut kepentingan bersama. Wujud partisipasi dalam pengambilan keputusan ini antara lain seperti ikut menyumbangkan gagasan 14

atau pemikiran, kehadiran dalam rapat, diskusi dan tanggapan atau penolakan terhadap program yang ditawarkan. Kedua, partisipasi dalam pelaksanaan meliputi menggerakkan sumber daya dana, kegiatan administrasi, koordinasi dan penjabaran program. Partisipasi dalam pelaksanaan merupakan kelanjutan dalam rencana yang telah digagas sebelumnya baik yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan maupun tujuan. Ketiga, partisipasi dalam pengambilan manfaat. Partisipasi dalam pengambilan manfaat tidak lepas dari hasil pelaksanaan yang telah dicapai baik yang berkaitan dengan kualitas maupun kuantitas. Dari segi kualitas dapat dilihat dari output, sedangkan dari segi kuantitas dapat dilihat dari presentase keberhasilan program. Keempat, partisipasi dalam evaluasi. Partisipasi dalam evaluasi ini berkaitan dengan pelaksanaan pogram yang sudah direncanakan sebelumnya. Partisipasi dalam evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui ketercapaian program yang sudah direncanakan sebelumnya. 15

2.4.2. Bentuk Partisipasi Bentuk partisipasi menurut Effendi yang dikutip oleh Dwiningrum (2011: 58), terbagi atas 3 bentuk yaitu : a. Partisipasi Vertikal Partisipasi vertikal terjadi dalam bentuk kondisi tertentu masyarakat terlibat atau mengambil bagian dalam suatu program pihak lain, dalam hubungan dimana masyarakat berada sebagai status bawahan, pengikut, atau klien. b. Partisipasi Horizontal Partisipasi horizontal, masyarakat mempunyai prakarsa dimana setiap anggota atau kelompok masyarakat berpartisipasi horizontal satu dengan yang lainnya. 2.4.3. Hubungan Sekolah dan Masyarakat Sekolah merupakan lembaga formal yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dan lingkungannya. Sebaliknya, masyarakat juga tidak dapat dipisahkan dari sekolah, dapat dikatakan demikian karena keduanya memiliki kepentingan yang saling berhubungan, sekolah merupakan lembaga formal yang diberikan tugas untuk 16

mendidik, melatih, dan membimbing generasi penerus bagi peranannya di masa yang akan datang, dan masyarakat,merupakan pengguna jasa pendidikan tersebut. Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan bentuk komunikasi ekstern yang dilakukan atas dasar kesamaan tanggung jawab dan tujuan. Masyarakat merupakan kelompok dan individu-individu yang berusaha menyelenggarakan pendidikan atau membantu usaha-usaha pendidikan (Mulyasa, 2012:147). Menurut Mulyasa (2012:148) Tujuan sekolah memiliki hubungan dengan msyarakat antara lain : a. Demi kepentingan sekolah, Berdasarkan dimensi kepentingan sekolah, hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk memelihara kelangsungan hidup sekolah, meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, memperlancar kegiatan belajar mengajar, dan memperoleh bantuan dan dukungan dari masyarakat dalam rangka pengembangan dan pelaksanaan program-program sekolah. 17

b. Kebutuhan Masyarakat 18 Berdasarkan dimensi kebutuhan masyarakat, tujuan pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah untuk memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperoleh kemajuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapai masyarakat, menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat, memperoleh kembali anggota-anggota masayarakat yang terampil dan makin meningkat kemampuannya. Hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan program bersama bagi pembinaan peserta didik, dapat mengurangi dan mencegah kemungkinan anak berbuat nakal karena program yang padat dan menarik tidak member kesempatan atau kemungkinan kepada peserta didik untuk berbuat yang kurang baik (Mulyasa,2012:149). 2.5. Mutu Pendidikan 2.5.1 Mutu Pendidikan Mutu pendidikan menurut Permendiknas nomor 63 tahun 2009 adalah tingkat kecerdasan kehidupan bangsa yang dapat diraih dari penerapan Sistem Pendidikan Nasional, selain

mutu pendidikan, perlu ditetapkan pula penjaminan mutu pendidikan. Penjaminan mutu pendidikan merupakan kegiatan yang sistemik dan terpadu oleh satuan atau program pendidikan, pemerintah daerah, pemerintah, dan masyarakat untuk menaiikan tingkat kecerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan. Arcaro (2007:75) mengembangkan definisi mengenai mutu yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan adalah suatu proses terstruktur untuk memperbaiki keluaran yang dihasilkan. Menurut Dzaujak Ahmad (1996) mutu pendidikan adalah kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut. Dari beberapa pendapat tentang mutu diatas, dapat disimpulkan bahwa mutu pendidikan adalah proses perbaikan dari segi input, proses maupun output dari sebuah organisasi. 19

2.5.2 Indikator Mutu Pendidikan Menurut Nurhasan (1994) indikator atau kriteria yang dapat dijadikan acuan mutu pendidikan adalah : 1. Peserta didik dan lingkungan. 2. Instrumen input, yaitu alat berinteraksi dengan (peserta didik). 3. Proses pendidikan 4. Hasil langsung pendidikan, hasil langsung ini merupakan hasil yang dipakai sebagai tolok ukur mutu pendidikan pada suatu lembaga pendidikan. 5. Hasil akhir lembaga pendidikan. 2.6 Penelitian yang Relevan Penelitian Amir Daud menemukan bahwa Peran serta masyarakat dalam pengendalian mutu pendidikan masih kurang. Hal ini didukung oleh sejumlah data, yaitu: 1) hanya sekitar 45% komite sekolah yang selalu berperan secara aktif, 2) hanya sekitar 36% tokoh masyarakat yang menyatakan bahwa selalu terlibat secara langsung dalam perencanaan program sekolah, pelaksanaan program, penggalangan sumber dana, memberi bantuan baik berupa tenaga,dana maupun bahan, serta terlibat aktif dalam bentuk pemikiran. 20

Namun demikian, masih terdapat 11% tokoh masyarakat yang tidak pernah terlibat atau diikutsertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan, serta pertanggungjawaban program dan kualitas pendidikan di sekolah; (3) hanya sekitar 35% orang tua siswa yang selalu terlibat. secara langsung dalam perencanaan program sekolah, pelaksanaan program, penggalangan sumber dana, memberi bantuan baik berupa tenaga, dana maupun bahan, serta terlibat aktif dalam bentuk pemikiran. Dalam penelitian Muhamad Munadi (2008) yang berjudul Partisipasi Masyarakat dalam Pengambilan Kebijakan Publik Bidang Pendidikan di Kota Surakarta menemukan bahwa Kebijakan publik bidang pendidikan yang dibuat selama kurun 2005-2006 di Kota Surakarta telah mengupayakan partisipasi masyarakat dalam pembuatannya, tetapi partisipasinya masih mendasarkan pada aturan yang mewajibkannya. Kebijakan publik bidang pendidikan yang dibuat selama kurun 2005 2006 di Kota Surakarta adalah alokasi anggaran pendidikan di APBD dan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pendidikan. Wujud partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik pada alokasi 21

anggaran pendidikan pada APBD mendasarkan pada model bottom up dari mulai Musyawarah rencana membangun kelurahan (musrenbangkel), musyawarah rencana membangun kecamatan (musrenbangcam) dan musyawarah rencana membangun kota(musrenbangkot). Proses ini ditutup dengan public hearing dalam pembahasan APBD dalam bentuk RAPBD sebelum disahkan. 22

2.7 Kerangka Berfikir Berikut akan disajikan kerangka berfikir untuk mengevaluasi partisipasi masyarakat dalam peningkatan mutu pendidikan di SD Negeri Kauman Kidul Salatiga. Program Peningkatan Mutu Pendidikan SD Kesimpulan dan saran Contex t Objek yang dievaluasi : - Program sekolah - Lingkungan sekolah - Kebutuhan Sekolah - Latar Belakang Orang tua peserta didik. Pengumpulan Data : - Observasi - Wawancara - Dokumentasi Data dianalisis Judgement Input Objek yang dievaluasi : Sarana prasarana - Pendanaan Pengumpulan Data : - Observasi - Wawancara - Dokumentasi Data dianalisis Judgement Process Objek yang dievaluasi : Implementasi program sekolah Pengumpulan Data : - Wawancara - Dokumentasi Data dianalisis Judgement Product Objek yang dievaluasi : - Hasil program sekolah Pengumpulan Data : - Observasi - Wawancara - Dokumentas i Data dianalisis Judgement 23

24 Gambar 2.1 Kerangka Berfikir Evaluasi Partisipasi Masyarakat dalam Peningkatan Mutu Pendidikan