PLN Dari 1973 Sampai 2005

dokumen-dokumen yang mirip
Data yang disajikan merupakan gabungan antara data PLN Holding dan Anak Perusahaan,

ISSN : NO

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

SISTEM TENAGA LISTRIK

Rencana Pengembangan Energi Baru Terbarukan dan Biaya Pokok Penyediaan Tenaga Listrik Dialog Energi Tahun 2017

Tenaga Uap (PLTU). Salah satu jenis pembangkit PLTU yang menjadi. pemerintah untuk mengatasi defisit energi listrik khususnya di Sumatera Utara.

Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur, 2010, 2014, dan Jumlah Penduduk (ribu)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK

Pemanfaatan Dukungan Pemerintah terhadap PLN dalam Penyediaan Pasokan Listrik Indonesia

Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Politeknik Negeri Sriwijaya BAB I PENDAHULUAN

KABUPATEN NUNUKAN. KOTA TARAKAN Plg. KABUPATEN BULUNGAN kVA KABUPATEN MALINAU

BAB IV GAMBARAN SUBJEK PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISIS

EFISIENSI OPERASIONAL PEMBANGKIT LISTRIK DEMI PENINGKATAN RASIO ELEKTRIFIKASI DAERAH

Analisis Krisis Energi Listrik di Kalimantan Barat

Kebijakan Pemerintah Di Sektor Energi & Ketenagalistrikan

Reka Integra ISSN: Jurusan Teknik Industri Itenas No. 02 Vol. 02 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional April 2014

MENTERI EMERGI DAN SUMBER DAYA MlNEFaAL REPUBblK INDONESIA

LAMPIRAN 1 SURAT PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. sumber daya alam tersebut adalah batubara. Selama beberapa dasawarsa terakhir. kini persediaan minyak bumi sudah mulai menipis.

1. PENDAHULUAN PROSPEK PEMBANGKIT LISTRIK DAUR KOMBINASI GAS UNTUK MENDUKUNG DIVERSIFIKASI ENERGI

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi standar. Sistem distribusi yang dikelola oleh PT. PLN (Persero)

LAPORAN SINGKAT KOMISI VI DPR RI B I D A N G PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN, KOPERASI DAN UKM, BUMN, INVESTASI, BSN DAN KPPU

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional, penyediaan tenaga listrik di

BAB IV STUDI KETERJAMINAN ALIRAN DAYA DAN BIAYA PRODUKSI PLN SUB REGION BALI TAHUN

RENCANA USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK (RUPTL) DAN PROGRAM PEMBANGUNAN PEMBANGKIT MW. Arief Sugiyanto

BAB 1 PENDAHULUAN. Oleh karena itu, berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah untuk

BAB I PENDAHULUAN. Dengan semakin meningkatnya penggunaan energi sejalan dengan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

METODE PENGATURAN PENGGUNAAN TENAGA LISTRIK DALAM UPAYA PENGHEMATAN BAHAN BAKAR PEMBANGKIT DAN ENERGI. Oleh : Widodo *)

Keadaan atau kejadian-kejadian pada masa yang akan datang tidaklah akan selalu sesuai dengan yang diharapkan, oleh karena itu perlu dilakukan suatu

I. PENDAHULUAN. optimal. Salah satu sumberdaya yang ada di Indonesia yaitu sumberdaya energi.

KEBIJAKAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK

PEMBANGUNAN PLTU SKALA KECIL TERSEBAR 14 MW PROGRAM PT.PLN UNTUK MENGATASI KRISIS

BAB III METODE STUDI SEKURITI SISTEM KETERSEDIAAN DAYA DKI JAKARTA & TANGERANG

dan bertempat di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuhan Angin Sibolga digunakan adalah laptop, kalkulator, buku panduan perhitungan NPHR dan

Jakarta, 3 Desember 2009 Divisi Monitoring & Analisis Anggaran Indonesia Corruption Watch (ICW)

OPTIMASI PENAMBAHAN PASOKAN GAS DAN PEMANFAATAN PEMBANGKIT PLTU BATUBARA UNTUK MEMINIMALISASI BIAYA PRODUKSI LISTRIK DI SISTEM JAWA BALI ABSTRAK

Perkembangan Kelistrikan Indonesia dan Kebutuhan Sarjana Teknik Elektro

BAB 1 PENDAHULUAN. ke seluruh wilayah Indonesia. Hal ini diatur dalam UU No 15 tahun Tentang Ketenaga-listrikan pada pasal 1 yang berbunyi:

Studi Pembangunan PLTGU Senoro (2 x 120 MW) Dan Pengaruhnya Terhadap Tarif Listrik Regional di Sulawesi Tengah

BAB II GAMBARAN UMUM PT. PLN ( PERSERO )

BAB III METODE PENULISAN. Dalam metode penulisan, sumber data yang digunakan oleh penulis adalah:

STIKOM SURABAYA BAB II. PROFIL PT PLN (Persero) DISTRIBUSI JAWA TIMUR. 2.1 Sejarah dan perkembangan Sejarah PLN

ANALISIS KEBUTUHAN DAN PENYEDIAAN LISTRIK

listrik di beberapa lokasi/wilayah.

Perencanaan Pembangunan Sistem Kelistrikan, Sebagai Upaya Pemenuhan Kebutuhan Energi Listrik di

HASIL PEMERIKSAAN BPK ATAS KETEPATAN SASARAN REALISASI BELANJA SUBSIDI ENERGI (Tinjauan atas subsidi listrik)

DI INDONESIA TAHUN Pada bagian ini akan diuraikan mengenai gambaran umum kelistrikan di

POKOK-POKOK DALAM PENGATURAN PEMANFAATAN GAS BUMI UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK (Peraturan Menteri ESDM No. 11 Tahun 2017) Jakarta, 10 Februari 2017

Sistem Tenaga Listrik. 4 sks

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

SEMINAR ELEKTRIFIKASI MASA DEPAN DI INDONESIA. Dr. Setiyono Depok, 26 Januari 2015

MANFAAT DEMAND SIDE MANAGEMENT DI SISTEM KELISTRIKAN JAWA-BALI

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan emisi dari bahan bakar fosil memberikan tekanan kepada setiap

SUBSIDI LISTRIK DAN PERMASALAHANNYA

BAB I PENDAHULUAN. Energi listrik merupakan energi yang dihasilkan dari sumber energi lain

ANALISIS RAMALAN KEBUTUHAN BEBAN ENERGI LISTRIK DI REGIONAL SUMATERA UTARA TAHUN DENGAN METODE GABUNGAN

Gambar 1. Rata-rata Proporsi Tiap Jenis Subsidi Terhadap Total Subsidi (%)

Evaluasi Operasi Mingguan Sistem Tenaga Listrik Khatulistiwa Minggu ke-20 Periode Mei 2017

BAB I PENDAHULUAN. Energi adalah bagian yang sangat penting pada aspek sosial dan perkembangan ekonomi pada setiap

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

DUKUNGAN PEMERINTAH TERHADAP PT. PLN (PERSERO)

Pulau Ikonis Energi Terbarukan sebagai Pulau Percontohan Mandiri Energi Terbarukan di Indonesia

ANALISIS PEMANFAATAN ENERGI PADA PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK DI INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

PERBANDINGAN BIAYA PEMBANGKITAN PEMBANGKIT LISTRIK DI INDONESIA

ANALISIS PEMBANGUNAN PLTU MADURA KAPASITAS 2 X 200 MW SEBAGAI PROGRAM MW PT. PLN BAGI PEMENUHAN KEBUTUHAN LISTRIK DI PULAU MADURA

METODE KOEFISIEN ENERGI UNTUK PERAMALAN BEBAN JANGKA PENDEK PADA JARINGAN JAWA MADURA BALI

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PROYEKSI KEBUTUHAN DAYA LISTRIK DI PROPINSI SULAWESI TENGAH TAHUN

BAB III METODE PENELITIAN. fenomena serta hubungan-hubunganya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah

BAB II PROFIL PT PLN (PERSERO) KANTOR INDUK PEMBANGKITAN SUMATERA BAGIAN UTARA. A. Sejarah Ringkas PT PLN (Persero) Kantor Induk KITSBU

ANALISIS PENGARUH KONSERVASI LISTRIK DI SEKTOR RUMAH TANGGA TERHADAP TOTAL KEBUTUHAN LISTRIK DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas yang memegang. peranan sangat vital dalam menggerakkan semua aktivitas ekonomi.

STUDI PERENCANAAN SISTEM KELISTRIKAN SUMATERA BAGIAN UTARA DENGAN OPSI NUKLIR

PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA TEKNOLOGI KONVERSI ENERGI. Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI

Evaluasi Operasi Mingguan Sistem Tenaga Listrik Khatulistiwa Minggu ke-3 Periode Januari 2017

BAB I PENDAHULUAN. melonjak dengan tinggi dan cepat, khususnya kebutuhan listrik bagi rumah

BAB I PENDAHULUAN. Nama Perusahaan Listrik Negara Profil Perusahaan

OLEH :: INDRA PERMATA KUSUMA

MEDIA ELEKTRIK, Volume 3 Nomor 1, Juni 2008

OPTIMASI PENJADWALAN UNIT PEMBANGKIT THERMAL DENGAN DINAMICS PROGRAMMING

BAB I PENDAHULUAN. perhatian utama saat ini adalah terus meningkatnya konsumsi energi di Indonesia.

UNIVERSITAS INDONESIA STUDI ANALISIS PROGRAM PERCEPATAN MW TAHAP I PADA OPERASI SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI TESIS

PRAKIRAAN KEBUTUHAN BEBAN DAN ENERGI LISTRIK KABUPATEN KENDAL

Evaluasi Operasi Mingguan Sistem Tenaga Listrik Khatulistiwa Minggu ke-6 Periode 3-9 Februari 2017

Transkripsi:

PLN Dari 1973 Sampai 25 Sudaryatno Sudirham Tulisan ini dibuat pada waktu penulis masih aktif sebagai Tenaga Ahli Teknik Dewan Komisaris PT PLN (Persero) 1. Pendahuluan Berikut ini disajikan rangkuman perkembangan PLN dari masa repelita pertama sampai dengan tahun 25 dalam bentuk grafik dan tabel. Rekaman historis ini dapat menjadi ancar-ancar dalam meninjau berbagai perkembangan yang sedang dan akan terjadi. 2. Permintaan dan Penyediaan Energi Listrik Jumlah Pelanggan. Jumlah pelanggan PLN terus meningkat setiap tahun. (Gb.1). Pelanggan 35,, 3,, 25,, 2,, 15,, 1,, 5,, Gb.1. Jumlah Pelanggan 15,157,49 26,433,489 34,559,353 1 2 3 4 5 98 6 3 7 5 Akhir REPELITA & Rumah Tangga Industri Bisnis Umum Jumlah Pada tahun 25 jumlah pelanggan mencapai 34,56 juta, dengan 93 di antaranya adalah dari kelompok pelanggan dengan tarif Rumah Tangga Walaupun jumlah pelanggan terus meningkat, namun mulai tahun 1998 laju pertumbuhan rata-rata per tahunnya menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan pada lima tahun terakhir (21 sampai 25) hanya mencapai 4,4, jauh di bawah laju pertumbuhan pada Repelita-2 (1974 1979) yang 11,56. (Tabel-1). Laju pertumbuhan yang rendah ini terkait dengan rendahnya laju pertumbuhan pembangunan fisik pembangkitan dan jaringan seperti terlihat pada Gb.4. Daya Tersambung. Pertumbuhan daya tersambung untuk berbagai kelompok pelanggan tidak selalu sama (Gb.2.). Tabel-1. Laju Pertumbuhan Rata-Rata per Jumlah Pelanggan [] RT Ind. Bisnis Umum Jumlah Repelita 1 3.5 -.55 7.17 1.75 3.51 Repelita 2 11.64 2.51 13.27 6.28 11.56 Repelita 3 2.62 15.85 1.45 18.21 19.83 Repelita 4 16.45 1.47 8.33 16.93 16.5 Repelita 5 8. 4.2 6.53 1.36 8. Repelita 6 1.97 1.62 11.89 8.94 1.16 (s/d 1998) 21-25 3.75.95 6.5 4.8 4.4 MVA 6, 5, 4, 3, 2, 1, Gb.2. Daya Tersambung 12,234 34,599 5,718 25,7 12,961 1 2 3 4 5 98 6 3 7 5 Akhir REPELITA & Rumah Tangga Industri Bisnis Umum Jumlah Kelompok pelanggan Rumah Tangga, Bisnis, dan kelompok Umum (gedung pemerintah, penerangan jalan umum, sosial) cenderung selalu meningkat. Kelompok pelanggan Industri mengalami penurunan pada 1999, setelah itu meningkat lagi namun dengan laju pertumbuhan rata-rata per tahun yang lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan rata-rata per tahun tertinggi terjadi pada kurun 1979-1984 (Repelita-3) yakni sebesar 2,3, kemudian menurun pada perioda lima tahun berikutnya menjadi 14,83, dan menurun lagi pada lima tahun berikutnya menjadi 8,74. Pada lima tahun terakhir, laju pertumbuhan daya tersambung rata-rata per tahun hanya mencapai 5,48, jauh lebih rendah dari laju pertumbuhan yang dicapai pada Pelita I yang 12,81.(Tabel-2). 1/5

Tabel-2. Laju Pertumbuhan Rata-Rata per Daya Tersambung [] RT Ind. Bisnis Umum Jumlah Repelita 1 1.81 18.24 9.33 8.6 12.81 Repelita 2 2.1 18.18 16.9 1.13 17.97 Repelita 3 21.69 13.79 2.12 35.72 2.3 Repelita 4 15.3 17.4 12.42 1.7 14.83 Repelita 5 8.27 9.5 12.18 3.68 8.74 Repelita 6 (s/d 1998) 11.93 5.9 14.2 5.43 9.81 21-25 6.11 2.62 7.64 7.34 5.48 Pada tahun 25 beban tersambung kelompok pelanggan Rumah Tangga mencapai 25.7 MVA dan kelompok Bisnis mencapai 9.321 MVA. Jumlah keduanya mencapai 34.328 MVA yang menjadi komponen penentu tingginya beban puncak (malam hari). Sementara itu pertumbuhan daya tersambung pelanggan Industri tidak cukup besar, hanya mencapai 12.961 MVA pada tahun 25 sehingga daya tersambung total menjadi 5.718 MVA. 3. Produksi dan Sarana Fisik Produksi. Produksi (total) tahunan terus meningkat namun dengan laju yang terus menurun.(gb.3). 14, 12, 1, 8, 6, 4, 2, Gb.3. Produksi 25,623 77,95 127,367 1 2 3 4 5 98 6 3 7 5 Akhir REPELITA & Laju pertumbuhan rata-rata per tahun tertinggi tercapai pada masa Repelita-3 sebesar 18.53, menurun pada lima tahun berikutnya menjadi 13,86 dan menurun lagi menjadi 12,76. Pada lima tahun terakhir, laju pertumbuhan rata-rata per tahun produksi hanya mencapai 6.42. (Tabel-3). Tabel-3. Laju Pertumbuhan Rata-Rata per Produksi [] Repelita 2 3 4 5 6 (s/d 1999) 1 5 13.74 18.53 13.86 12.76 1.92 6.42 Produksi (total) terdiri dari produksi sendiri yang persentasenya terus menurun dan pembelian energi yang persentasenya terus meningkat. Pada tahun 25 produksi sendiri mencapai 77 dan pembelian energi mencapai 23 dari produksi total. (Tabel 4). Tabel-4. Pertumbuhan Produksi Prod Sendiri Energi Beli Total tumbuh tumbuh 1998 77,93 74,421 3,482 1999 84,775 8,23 7.5 4,752 36.5 2 93,326 83,54 4.3 9,822 16.7 21 11,654 87,635 4.9 14,19 42.7 22 18,361 88,69.5 2,292 44.7 23 112,972 9,166 2.4 22,86 12.4 24 12,244 93,113 3.3 27,132 19. 25 127,37 98,177 5.4 29,193 7.6 Sarana Fisik. Sarana fisik PLN untuk menyediakan energi listrik terdiri dari pembangkitan, jaringan transmisi, dan jaringan distribusi. Semenjak krisis 1997, pertumbuhan sarana fisik tersebut sangat rendah. Pertumbuhan daya tersambung dan produksi tidak diimbangi dengan pertumbuhan kapasitas terpasang melainkan dipenuhi dengan pertumbuhan pembelian energi. Jumlah kapasitas terpasang hanya bertambah sebesar 3,2 dari 1998 sampai 25. (Gb.4). 25, 2, 15, 1, 5, Gb.4.a. Kapasitas Terpasang 3,935 Gb.4.b. Distribusi Kapasitas Terpasang 15.62 3.86 73.9 8,529.57 13,6 3,411 4.56 16,19.43 2,581 6,77 6,9 6,77.5 21,24 6,282 1 2 3 4 5 98 6 3 7 5 Akhir PELITA & PLTA PLTU PLTG PLTGU PLTP PLTD Jumlah.55 2/5

Melihat kenyataan bahwa kapasitas terpasang antara 1999 sampai 25 hampir tidak ada perubahan, maka komposisi pembangkit pada 25 tidak akan jauh berbeda dengan komposisi pada tahun 1999, yaitu PLTU 32,9, PLTGU 3,5, PLTA 14,6, PLTD 12,9, PLTG 7,4, dan PLTP 1,7, dengan sekitar 74 melayani beban di Jawa.(Tabel-5). Tabel-5. Persentase Kapasitas Terpasang (1999) Luar Jawa Jawa Indonesia PLTA 3.3 11.63 14.67 PLTU 3.75 29.19 32.94 PLTG 2.87 4.5 7.38 PLTGU 4.28 26.29 3.57 PLTP. 1.75 1.75 PLTD 12.17.53 12.7 Total 26.1 73.9 1. Pertumbuhan jaringan tidak mengimbangi peningkatan jumlah pelanggan. Semenjak 22 hampir tidak ada penambahan jaringan distribusi, walaupun ada peningkatan jaringan transmisi.(gb.5.a dan Gb.5.b). kms 35, 3, 25, 2, 15, 1, MVA 5, Gb.5.a. Jaringan Transmisi dan Distribusi 26,93 23,573 19,849 1994 1996 1998 2 22 24 6, 5, 4, 29,189 3, 16,937 2, 1, Transmisi [kms] JTM [kms/1] JTR [kms/1] Gb.5.b. Gardu Induk dan Gardu Distribusi 46,964 GI [MVA] 3,723 22,81 27,442 5,485 52,565 26,29 27,585 27,585 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2 21 22 23 24 25 GD [MVA] Hubungan antara produksi bruto dengan kapasitas terpasang dinyatakan dengan faktor kapasitas, sedangkan hubungan antara produksi netto dengan beban puncak dinyatakan dengan faktor beban, dan hubungan antara beban puncak dengan daya tersambung dinyatakan dengan faktor permintaan. Gb.6. memperlihatkan perubahan ketiga faktor tersebut dari tahun 1994. Pada tahun 25 produksi sendiri adalah 98,177 dan pembelian energi 29,193. Kapasitas terpasang adalah 22,73 dan ini memberikan faktor kapasitas 5,77. Gb.6. Faktor Kapasitas, Faktor Beban, Faktor Permintaan 8. 7. 6. 5. 4. 3. 2. 1.. 1994 1996 1998 2 22 24 Faktor Kapasitas Faktor Beban Faktor Permintaan 3. Pemakaian Sumber Energi Primer Konsumsi bahan bakar per kwh (Specific Fuel Consumption - SFC) bervariasi dari tahun ke tahun. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir dilaporkan SFC seperti terlihat dalam Tabel-6. Tabel-6. Specific Fuel Consumption BBM (liter/kwh) Batubara (kg/kwh) Gas Alam (MSCF/kWh) 2.284.47.9 21.284.476.9 22.2847.4748.85 23.2776.4787.86 24.275.4845.88 25.2732.5169.93 Dalam sepuluh tahun terakhir ini produksi dengan menggunakan bahan bakar minyak (BBM) cenderung meningkat sedangkan produksi dengan menggunakan gas alam terus menurun. (Gb.7.a dan Gb.7.b). 4, 35, 3, 25, 2, 15, 1, 5, Gb.7.a. Komposisi Produksi Energi 1994 1996 1998 2 22 24 BBM Tenaga Air Batu Bara Panas Bumi Gas Alam Pembelian Sewa Diesel 3/5

45. 4. 35. 3. 25. 2. 15. 1. 5. Gb.7.b. Pemakaian Energi Primer. 1994 1996 1998 2 22 24 BBM Tenaga Air Batu Bara Panas Bumi Gas Alam Pada tahun 1998. penggunaan BBM berjumlah 17,94 dibandingan dengan 33 penggunaan gas alam. Dengan komposisi jenis pembangkit yang tak jauh berbeda, situasi itu berbalik pada tahun 25, di mana penggunaan BBM menjadi 28,69 dibandingkan dengan 12,2 penggunaan gas alam. 4. Mutu dan Keandalan Lama gangguan per pelanggan (SAIDI) dan jumlah gangguan per pelanggan (SAIFI) dalam lima tahun terakhir terlihat dalam Tabel-7. Penyebab naiknya SAIDI dan SAIFI pada tahun 25 masih perlu dikaji lebih mendalam. SAIDI dan SAIFI selain tergantung dari kondisi jaringan, dipengaruhi juga oleh kondisi lingkungan (faktor alam). Tabel-7. SAIDI dan SAIFI SAIDI [jam/plg] SAIFI [kali/plg] 21 17.48 18.24 22 14.35 14.17 23 1.9 12.51 24 9.43 11.78 25 15.77 12.68 5. Susut Energi Di Jaringan Dalam penyaluran dan distribusi energi terjadi susut energi di jaringan. Karena penjualan energi terus meningkat sedangkan jaringan praktis tidak mengalami perubahan maka pembebanan jaringan akan terus meningkat pula. Hal ini akan menyebabkan meningkatnya susut energi di jaringan. Sebelum tahun 21 persentase susut di jaringan distribusi berada di bawah 1. Mulai 21 persentase susut energi terus meningkat sampai 23. Susut ini merupakan jumlah dari susut teknik (yang terjadi secara alamiah) dan susut nonteknik (pemakaian secara tidak syah, kekeliruan administratif). (Tabel-8). Penurunan susut nonteknik akan menurunkan perentase susut total tetapi tidak menurunkan susut teknik secara signifikan. Upaya penurunan susut yang telah dilakukan mampu menurunkan persentase susut pada 24. Audit energi yang dilakukan oleh Gugus Tugas Audit Susut yang dibentuk pada 25 menyebutkan bahwa persentase susut di jaringan pada 24 adalah 12.84, turun lebih dari 4 dari tahun sebelumnya. Tabel-8. Susut Energi di Jaringan [] Transmisi Distribusi 1994 2.75 9.63 1995 2.86 9.47 1996 2.82 9.7 1997 2.47 9.62 1998 1.35 9.89 1999 2.59 9.62 2 2.56 9.8 21 2.38 11.14 22 2.59 13.87 23 2.49 14.64 24 11,29 (LM); 12,84 (GT Audit) 25 11,54 (LM) Dalam tulisan sebelumnya penulis melakukan estimasi susut jaringan distribusi menggunakan metoda Rasio TM/TR dengan menggunakan data realisasi energi tahun 24. Hasil estimasi memperlihatkan bahwa jika tingkat keberhasilan upaya penurunan susut nonteknik mencapai 7, maka susut jaringan distribusi akan mencapai 11,3 terhadap input di jaringan distribusi. Jika susut di saluran transmisi bisa dipertahankan pada tingkat 2 terhadap input jaringan transmisi, maka pada kondisi jaringan yang ada pada tahun 24 dan dengan pola pembebanan yang berlangsung pada waktu itu, susut jaringan diperkirakan akan berada di sekitar nilai 13. Angka ini tidak jauh dari angka yang diberikan oleh Gugus Tugas Audit yaitu 12,84. Susut total bisa di bawah 12 jika tingkat keberhasilan penurunan susut nonteknik di atas 7. 6. Diskusi Paparan di atas memperlihatkan bahwa jumlah pelanggan dan daya tersambung terus meningkat walaupun dengan laju yang lebih rendah dibandingkan dengan laju yang dicapai sebelum tahun 1998. Pertumbuhan tersebut dipenuhi melalui produksi sendiri dan pembelian energi, namun tidak terimbangi oleh pertumbuhan jaringan. Hal ini akan meningkatkan pembebanan jaringan transmisi dan distribusi dengan akibat akan meningkatkan susut energi di jaringan dan dikhawatirkan akan juga menurunkan mutu dan keandalan sistem. Tanpa pembenahan jaringan distribusi, susut energi total di jaringan diperkirakan akan berada di sekitar angka 12. Persoalan susut energi di jaringan yang selalu mendapat banyak 4/5

perhatian sesungguhnya terkait dengan permasalahan seluruh sistem, tidak berdiri sendiri. Oleh karena itu pembenahan jaringan seharusnya tidak semata-mata didasari oleh upaya penurunan susut energi di jaringan. Pada masa sebelum krisis 1997, laju pertumbuhan daya tersambung mencapai angka tertinggi pada kurun 1979-1984 (Repelita-3) dan setelah itu laju pertumbuhan terus menurun. Jika dilihat laju pertumbuhan daya tersambung per kelompok pelanggan, laju pertumbuhan kelompok Rumah Tangga, Bisnis, dan Umum pada lima tahun terakhir masih relatif tinggi dibandingkan dengan kelompok Industri. Pertumbuhan dunia Industri terlihat melambat dan untuk lima tahun ke depan belum terlihat jelas tanda-tanda akan meningkat. Dengan demikian maka laju pertumbuhan produksi untuk lima tahun ke depan diperkirakan masih akan mengikuti laju pertumbuhan saat ini yaitu sekitar 6,4 per tahun. Pengembangan sistem penyediaan energi listrik biasanya didasarkan pada ramalan pertumbuhan beban. Hal ini sesuai dengan karakter industri energi listrik untuk memenuhi permintaan beban. Dalam ulasan berikut, pengembangan sistem didasarkan pada kemampuan internal yang sudah pernah terwujud yaitu pertumbuhan produksi. Dengan laju pertumbuhan 6,4 per tahun, produksi total pada tahun 21 akan mencapai 174.. Produksi ini akan dipenuhi dengan produksi sendiri dan pembelian energi. Jika laju pertumbauhan pembelian energi dapat dipertahankan pada tingkat 7 per tahun, maka pembelian energi pada tahun 21 akan mencapai 41. sehingga produksi sendiri harus mencapai 133. Dengan faktor kapasitas 5, produksi sendiri ini memerlukan kapasitas terpasang 3.3. Karena pada tahun 25 terdapat kapasitas terpasang 21.24 maka diperlukan penambahan kapasitas sekitar 9.. Apabila laju pertumbuhan pembelian energi bisa diperbesar, misalnya sampai 1 per tahun, maka tambahan kapasitas terpasang yang diperlukan adalah 6.85. Jika laju pertumbuhan pembelian energi bisa mencapai 12 per tahun, tambahan kapasitas terpasang yang diperlukan adalah 5.84. Penambahan kapasitas pembangkit yang telah direncanakan untuk beroperasi pada lima tahun mendatang adalah sejumlah 2.714, masih lebih kecil dari tambahan kapasitas yang diperlukan. (Tabel- 9). Penambahan daya terpasang yang cukup besar dalam kurun waktu lima tahunan, sudah pernah terjadi. Dalam Repelita-5 terjadi penambahan daya terpasang 5. dan pada Repelita-6 5.8. Penambahan 5.8 pada masa Repelita-6 itu didampingi dengan penambahan JTM 73.37 kms, JTR 12.7 kms, dan gardu distribusi 9.85 MVA. Penambahan dan pembenahan jaringan distribusi harus dilakukan pada tahun-tahun mendatang. Tidak saja untuk keperluan penyaluran tambahan daya, tetapi juga untuk memperbaiki persentase susut energi di jaringan distribusi serta mutu dan keandalan sistem. Tabel-9. Tambahan Kapasitas Pembangkit Total Jawa Luar Jawa Hidro Thermal Hidro Thermal 26 1,45 15 74 29 27 4 2 2 28 95 72 3 2 29 19 19 21 3 3 TOTAL 2,714 1,675 1,39 Anjuran penghematan pemakaian energi perlu terus dilakukan disertai upaya manajemen sisi permintaan. Pada tahun 25 pemakaian energi pelanggan rumah tangga rata-rata per hari adalah 3,5 kwh. Jika setiap pelanggan rumah tangga dapat berkontribusi menghemat penggunaan listrik,4 kwh per hari maka tigapuluh juta pelanggan rumah tangga akan berkontribusi penghematan energi setara dengan 3,3 juta liter BBM per hari. Sebagai perbandingan, pemakaian BBM pada tahun 1999 di mana produksi menggunakan BBM masih kira-kira setengah dari produksi menggunakan gas alam, jumlah BBM yang digunakan adalah 4,7 juta kiloliter. Penghematan pemakaian listrik hendaknya bisa difahami oleh pelanggan sebagai upaya penghematan penggunaan sumber energi primer. 7. Referensi Data-data dalam tulisan ini diambil dari Buku Statistik PLN 1999 ISSN 852-8179 No. 121.722 dan Laporan Manajemen PLN tahun 2 s/d 25. Jakarta, Rabu, 2 Agustus 26. Catatan: Tulisan ini dibuat pada waktu penulis masih aktif sebagai Tenaga Ahli Teknik Dewan Komisaris PT PLN (Persero) 5/5