BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. bersama, belajar dari profesi kesehatan lain, dan mempelajari peran masingmasing

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V PEMBAHASAN. A. Pembahasan keterkaitan antara kategori attachment, patient-centered

Bab II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan, dari, dan tentang satu sama lain untuk meningkatkan kolaborasi

BAB I PENDAHULUAN. menunjang kinerja setelah lepas dari institusi pendidikan (Barr, 2010)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Pembelajaran IPE berbasis komunitas memberikan dampak positif dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan melibatkan sekelompok mahasiswa atau profesi kesehatan yang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. antar profesi kesehatan (IPE) pada bulan September 2013 setelah melalui

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berbahaya, salah satunya medical error atau kesalahnan medis. Di satu sisi

BAB 1 PENDAHULUAN. medical error antara % dari jumlah pasien dengan %. Medical

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Kesiapan (readiness) terhadapinteprofesional Education (IPE)

BAB 1 PENDAHULUAN. sistem pelayanan kesehatan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan

Pendekatan Interprofessional Collaborative Practice dalam Perawatan Pasien Katastropik

BAB 1 PENDAHULUAN. tradisional yang berbasis silo dimana setiap tenaga kesehatan tidak mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. Pelayanan yang bermutu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pharmaceutical care menggeser paradigma praktik kefarmasian dari drug

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengalaman masa lalu, pendidikan, situasi psikis waktu itu, pengaruh

BAB I DEFINISI BAB II A. DEFINISI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kepuasan pasien adalah suatu perasaan pasien yang timbul akibat kinerja

BAB I PENDAHULUAN. kerawanan terjadi kesalahan medik (medical error). Kasus kematian akibat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terfragmentasi dan kebutuhan kesehatan masyarakat tidak terpenuhi. Tenaga

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. memegang tanggung jawab paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka

BAB I PENDAHULUAN. produk atau harapan-harapannya. Kotler (1997: 36). Meningkatnya derajat

Interprofessional Education: Sebuah Ulasan Singkat. Zakka Zayd Zhullatullah Jayadisastra. Staff Kajian Medical Education and Profession (MEP) ISMKI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Etika Profesi dan Pendidikan Interprofesional

TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN DI APOTEK INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SRAGEN SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN orang meninggal pertahun akibat medication error. Medication error

TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN DI APOTEK INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT ISLAM AMAL SEHAT SRAGEN SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. serta kualitas pelayanan kesehatan (Majumdar, et al., 1998; Steinert, 2005).

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pelanggan terbagi menjadi dua jenis, yaitu: fungsi atau pemakaian suatu produk. atribut yang bersifat tidak berwujud.

BAB I PENDAHULUAN. diberikan kepada klien oleh suatu tim multi disiplin. Tim pelayanan kesehatan

BAB 1 : PENDAHULUAN. kesehatan di era global. Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebuah rekomendasi dari WHO (2010) yang bertema Framework For Action On

BAB I PENDAHULUAN. menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Penyelenggaraan yang bersifat

PERSEPSI DOSEN STIKES AISYIYAH SURAKARTA TERHADAP INTER PROFESIONAL EDUCATION (IPE)

HUBUNGAN KOMPETENSI ASUHAN KEHAMILAN MAHASISWA D III KEBIDANAN DENGAN KEPUASAN PASIEN PADA PRAKTIK KLINIK KEBIDANAN

BAB I PENDAHULUAN. adalah profesi kesehatan yang berfokus pada individu,

PANDUAN PELAKSANAAN MANAJER PELAYANAN PASIEN RUMAH SAKIT (HOSPITAL CASE MANAGER)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organization (WHO) menyatakan setiap menit seorang wanita

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan, di Amerika Serikat penyebab kematian nomer tiga pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif ditujukan

BAB I PENDAHULUAN. pengajar dan peserta didik dalam mencapai tujuan learning outcome.

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kualitas Layanan Kesehatan

MODUL KETRAMPILAN KOMUNIKASI INTER-PROFESI

SMART PHARMACY ADVANCING PHARMACY PRACTICE AND EDUCATION IN INDONESIA KUTA - BALI, APRIL 2018 TRAIN-THE-TRAINER WORKSHOP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Persyaratan. Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran KEVIN PIETER TOMAN G FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau perilaku kepada atau untuk individu atau kelompok melalui antisipasi

Emiliana Tarigan Staf Pengajar STIK Sint Carolus Jakarta

SKEMA GRAND DESIGN LAM-PTKes

BAB I PENDAHULUAN Sistem pelayanan kesehatan yang semula berorientasi pada pembayaran

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BEBERAPA MODEL KEBUTUHAN KONSUMEN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah proses komunikasi interprofesional dan pembuatan keputusan yang

PEDOMAN AKADEMIK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA BAB IV PENYELENGGARAAN PEMBELAJARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kedudukan sosial. Teori peran menggambarkan interaksi sosial dalam. dimasyarakat yang ditetapkan oleh budaya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. muncul. Konsep tersebut adalah : akses, biaya dan mutu. Tentu saja akses

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penderita gangguan jiwa di dunia pada tahun 2001 adalah 450 juta jiwa, menurut

PEDOMAN MANAJER PELAYANAN PASIEN RUMAH SAKIT (CASE MANAGER)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kepuasan menurut Kamus Bahasa Indonesia (2005) adalah puas ; merasa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Upaya pembangunan keluarga sejahtera dan pemberdayaan bidan tidak

kedokteran keluarga, salah satunya adalah patient centered care. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan kurikulum pendidikan Sarjana Keperawatan atau Ners yang

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. tentang diagnosa, melakukan kerjasama dalam asuhan kesehatan, saling

BAB I PENDAHULUAN UKDW. tersebut mempengaruhi kondisi perkembangan dunia bisnis. Setiap

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kabupaten yang melaksanakan upaya penyuluhan, penanganan kasus-kasus

BAB II LANDASAN TEORI A. TINJAUAN PUSTAKA. dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. Rumah sakit merupakan suatu institusi yang terintegrasi dalam pelayanan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kerangka Kompetensi Kepemimpinan Klinik

PT. AR. MUHAMAD RUMAH SAKIT AR. BUNDA JL. ANGKATAN 45 KEL. GUNUNG IBUL TELP. (0713) FAX. (0713) PRABUMULIH SUM - SEL 31121

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Pendahuluan. Kualitas pelayanan telah menjadi kunci keberhasilan bagi organisasi jasa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Manusia adalah mahkluk biologis, psikologis, sosial,

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Interprofessional education a. Definisi interprofessional education Centre for the Advancement of Interprofessional Education (CAIPE, 2002) menyebutkan, IPE terjadi ketika dua atau lebih profesi kesehatan belajar bersama, belajar dari profesi kesehatan lain, dan mempelajari peran masing-masing profesi kesehatan untuk meningkatkan kemampuan kolaborasi dan kualitas pelayanan kesehatan. IPE adalah suatu pelaksanaan pembelajaran yang diikuti oleh dua atau lebih profesi yang berbeda untuk meningkatkan kolaborasi dan kualitas pelayanan dan pelakasanaanya dapat dilakukan dalam semua pembelajaran, baik itu tahap sarjana maupun tahap pendidikan klinik untuk menciptakan tenaga kesehatan yang profesional (Lee et al., 2009). IPE adalah metode pembelajaran yang interaktif, berbasis kelompok, yang dilakukan dengan menciptakan suasana belajar berkolaborasi untuk mewujudkan praktik yang berkolaborasi, dan juga untuk menyampaikan pemahaman mengenai interpersonal, kelompok, organisasi dan hubungan antar organisasi sebagai proses profesionalisasi (Clifton et al., 2006). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Broers (2009) praktek kolaborasi antar profesi didefinisikan sebagai beragam profesi yang bekerja bersama sebagai suatu tim yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kesehatan pasien/klien dengan saling mengerti 6

7 batasan yang ada pada masing-masing profesi kesehatan. Interprofessional Collaboration (IPC) adalah proses dalam mengembangkan dan mempertahankan hubungan kerja yang efektif antara pelajar, praktisi, pasien/ klien/ keluarga serta masyarakat untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan. b. Tujuan interprofessional education Tujuan IPE adalah praktik kolaborasi antar profesi, dimana melibatkan berbagai profesi dalam pembelajaran tentang bagaimana bekerjasama dengan memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk berkolaborasi secara efektif (Sargeant, 2009). Implementasi IPE di bidang kesehatan dilaksanakan kepada mahasiswa dengan tujuan untuk menanamkan kompetensi-kompetensi IPE sejak dini dengan retensi bertahap, sehingga ketika mahasiswa berada di lapangan diharapkan dapat mengutamakan keselamatan pasien dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bersama profesi kesehatan yang lain (Buring et al., 2009). c. Manfaat interprofessional education World Health Organization (2010) menyajikan hasil penelitian di 42 negara tentang dampak dari penerapan praktek kolaborasi dalam dunia kesehatan menunjukkan hasil bahwa praktek kolaborasi dapat meningkatkan keterjangkauan serta koordinasi layanan kesehatan, penggunaan sumber daya klinis spesifik yang sesuai, outcome kesehatan bagi penyakit kronis, dan pelayanan serta keselamatan pasien. WHO (2010) juga menjelaskan praktek kolaborasi dapat menurunkan komplikasi yang

8 dialami pasien, jangka waktu rawat inap, ketegangan dan konflik di antara pemberi layanan (caregivers), biaya rumah sakit, rata-rata clinical error, dan rata-rata jumlah kematian pasien. Framework for Action on Interprofessional Education & Collaborative Practice, WHO (2010) menjelaskan IPE berpotensi menghasilkan berbagai manfaat dalam beberapa aspek yaitu kerjasama tim meliputi mampu untuk menjadi pemimpin tim dan anggota tim, mengetahui hambatan untuk kerja sama tim; peran dan tanggung jawab meliputi pemahaman peran sendiri, tanggung jawab dan keahlian, dan orang-orang dari jenis petugas kesehatan lain; komunikasi meliputi pengekspresikan pendapat seseorang kompeten untuk rekan, mendengarkan anggota tim; belajar dan refleksi kritis meliputi cermin kritis pada hubungan sendiri dalam tim, mentransfer IPE untuk pengaturan kerja; hubungan dengan pasien, dan mengakui kebutuhan pasien meliputi bekerja sama dalam kepentingan terbaik dari pasien, terlibat dengan pasien, keluarga mereka, penjaga dan masyarakat sebagai mitra dalam manajemen perawatan; praktek etis meliputi pemahaman pandangan stereotip dari petugas kesehatan lain yang dimiliki oleh diri dan orang lain, mengakui bahwa setiap tenaga kesehatan memiliki pandangan yang samasama sah dan penting. Proses IPE membentuk proses komunikasi, tukar pikiran, proses belajar, sampai kemudian menemukan sesuatu yang bermanfaat antar para pekerja profesi kesehatan yang berbeda dalam rangka penyelesaian suatu masalah

9 atau untuk peningkatan kualitas kesehatan (Thistlethwaite dan Moran, 2010). d. Kompetensi interprofessional education Barr (1998) menjabarkan kompetensi kolaborasi, yaitu: 1) memahami peran, tanggung jawab dan kompetensi profesi lain dengan jelas, 2) bekerja dengan profesi lain untuk memecahkan konflik dalam memutuskan perawatan dan pengobatan pasien, 3) bekerja dengan profesi lain untuk mengkaji, merencanakan, dan memantau perawatan pasien, 4) menoleransi perbedaan, kesalahpahaman dan kekurangan profesi lain, 5) memfasilitasi pertemuan interprofessional, dan 6) memasuki hubungan saling tergantung dengan profesi kesehatan lain. American College of Clinical Pharmacy (ACCP) (2009) membagi kompetensi untuk IPE terdiri atas empat bagian yaitu pengetahuan, keterampilan, orientasi tim, dan kemampuan tim yang dijabarkan pada tabel 2.1. e. Pengaruh persepsi pada interprofessional education Buku Acuan Umum CFHC-IPE (Tim CFHC-IPE, 2014) menyatakan keefektifan komunikasi antar profesi dipengaruhi oleh persepsi, lingkungan, dan pengetahuan. Persepsi yaitu suatu pandangan pribadi atas hal-hal yang telah terjadi. Persepsi terbentuk melalui apa yang diharapkan dan pengalaman. Perbedaan persepsi antar profesi yang berinteraksi akan menimbulkan kendala dalam komunikasi.

10 Tabel 2.1 Kompetensi untuk IPE No Kompetensi utama Komponen kompetensi IPE IPE 1. Kompetensi pengetahuan Strategi koordinasi Model berbagi tugas/ pengkajian situasi Kebiaasaan karakter bekerja dalam tim Pengetahuan terhadap tujuan tim Tanggung jawab tugas spesifik 2 Kompetensi keterampilan Pemantauan kinerja secara bersama-sama Fleksibilitas/ penyesuaian Dukungan/ perilaku saling mendukung Kepemimpinan tim Pemecahan konflik Umpan balik Komunikasi/ pertukaran informasi 3 Kompetensi sikap orientasi tim (moral) Kemajuan bersama Berbagi pandangan/ tujuan 4 Kompetensi kemampuan tim Kepaduan tim Saling percaya Orientasi bersama Kepentingan bekerja tim Sumber: American College of Clinical Pharmacy (ACCP), 2009 f. Interprofessional education kedokteran komunitas Perkembangan IPE di Indonesia, Dikti Kemendikbud RI membentuk program HPEQ yang diberi dana oleh bank dunia untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia melalui peningkatan kualitas institusi pendidikan tinggi bidang kesehatan dengan menerapkan IPE pada mahasiswa sejak tahap pendidikan tinggi. Dalam Permenkes 75/2014 dijelaskan bahwa visi pelayanan kesehatan primer saat ini adalah comprehensive primary health care yang mana dalam implementasinya dilakukan intervensi IPC pada pelayanan kesehatan primer. Saat ini kementerian kesehatan membentuk sebuah program nusantara sehat dalam rangka meningkatkan Interprofessional Collaboration pada 120 pelayanan

11 kesehatan primer di Indonesia terutama di perbatasan. Adapun beberapa contoh universitas di Indonesia yang sudah mengembangkan IPE di bidang kesehatan yaitu di Universitas Indonesia sudah diterapkan kurikulum IPE melalui modul kolaborasi dan kerjasama tim kesehatan Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK) Universitas Indonesia, pada Universitas Gadjah Mada didapatkan buku acuan umum Community and Family Health Care - Interprofessional Educatiom (CFHC-IPE), dan pada Universitas Hasanuddin didapatkan modul 1000 hari kehidupan untuk menunjang ilmu IPE (Taher, 2015). WHO mengemukakan pada intinya penerapan IPE dalam suatu negara dapat dilakukan melalui dua mekanisme, yaitu educator mechanism dan curricula mechanism. Secara umum, IPE mengandung beberapa elemen yang harus dimiliki agar konsep pembelajaran ini dapat dilaksanakan dalam pendidikan profesi kesehatan di Indoensia yaitu kolaborasi, komunikasi yang saling menghormati, refleksi, penerapan pengetahuan dan keterampilan, pengalaman dalam tim antar profesi. Mahasiswa merupakan elemen penting dalam IPE serta modal awal untuk terjadinya praktek kolaborasi di suatu negara. Untuk mampu terlibat dalam IPE atau untuk dapat memperkenalkan IPE seluas mungkin dalam pendidikan kesehatan di Indonesia, mahasiswa setidaknya memahami elemen-elemen yang diperlukan dalam pelaksanaan IPE sehingga mampu membekali dirinya dengan elemen-elemen tersebut (HPEQ Project-Dikti, 2011).

12 g. Model interprofessional education di fk uns Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret sedang menjalani program pilot Interprofessional Education. Sebelum program pilot IPE ini diimplementasikan di lapangan, mahasiswa yang berpartisipasi harus melalui tahap persiapan yaitu melalui aktivitas pembelajaran. Aktivitas pembelajaran ini merupakan media bagi mahasiswa dalam mempelajari konsep IPE, peran fungsi dan tugas masing-masing profesi dalam IPE, manajemen tim dan manajemen proyek, juga community assessment, kedokteran keluarga, dan post natal care. Aktivitas pembelajaran ini menggunakan metode diskusi kasus dan tutorial. Aktivitas pembelajaran ini juga diimplementasikan dalam bentuk role play dan community health project sebagai media bagi mahasiswa mempelajari komunikasi efektif dan memperdalam community assessment, manajemen tim, dan manajemen proyek (Pamungkasari et al., 2015). Diskusi kasus bertujuan untuk menjelaskan peran dan tanggung jawab dari masing-masing mahasiswa profesi kedokteran dan kebidanan agar mahasiswa mampu mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman dari profesi lain yang sesuai dengan kondisi pasien dan pelayanan kesehatan masyarakat. Diskusi tutorial bertujuan untuk menjelaskan tentang manajemen tim dan manajemen proyek antar profesi kesehatan. Diskusi tutorial bertujuan agar mahasiswa mampu bekerja secara kooperatif dengan penyedia pelayanan kesehatan, pasien atau masyarakat, agar mahasiswa mampu menerapkan pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien dan

13 komunitas dan juga agar mahasiswa mampu memahami konsep dan implementasi kedokteran keluarga. Selanjutnya implementasi IPE di FK UNS dilakukan melalui kegiatan IPE yaitu dengan mengadaptasi dari metode Brigdes et al. (Pamungkasari et al., 2015) di wahana komunitas yang telah dipilih, dengan tahap-tahap sebagai berikut: a. Mengidentifikasi stakeholder dalam komunitas b. Pendekatan di komunitas c. Melakukan penilaian kebutuhan komunitas lokal d. Perencanaan proyek pada masing-masing perspektif e. Fokus proyek f. Pelaksanaan proyek g. Refleksi Implementasi pembelajaran IPE ini diterapkan metode role play dan community health project yang memiliki tujuan pembelajaran sebagai berikut: a. Mahasiswa mampu berkomunikasi tentang pentingnya kerja tim pada konteks patient-centered dan community-focused. b. Mahasiswa mampu mengorganisasikan dan mengkomunikasikan informasi kepada pasien, keluarga dan anggota tim dengan jelas. c. Mahasiswa mampu bekerja secara kooperatif dengan penyedia pelayanan kesehatan, pasien/ masyarakat yang menerima pelayanan

14 kesehatan serta pihak lain yang berkontribusi dalam pencegahan penyakit dan pelayanan kesehatan. d. Mahasiswa mampu menerapkan konsep pelayanan berpusat pada pasien dan komunitas. e. Mahasiswa mampu berkomunikasi dengan antar anggota tim untuk mengklarifikasi tanggung jawab masing-masing anggota tim dalam melakukan pengelolaan kesehatan pasien dan komunitas (Pamungkasari et al., 2015). 2. Kualitas pelayanan kesehatan a. Definisi kualitas pelayanan kesehatan Kualitas adalah derajat yang dicapai oleh karateristik yang inheren dalam memenuhi persyaratan (Lupiyoadi, 2006). Menurut Kotler (1999) pengertian dari pelayanan yaitu setiap kegiatan atau manfaat yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak pula berakibat kepemilikan sesuatu. Kualitas pelayanan merupakan ukuran penilaian menyeluruh atas tingkat suatu pelayanan yang baik (Lupiyoadi, 2006). b. Penilaian kualitas pelayanan Parasuraman et al. (1998) menyebutkan penilaian kualitas pelayanan dapat dilihat melalui 5 aspek yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance, empathy yang mana assurance dan empathy meliputi communication, credibility, security, competence, courtesy, understanding, dan access. Pada tangibles, dimensi ini mengukur fasilitas fisik, peralatan

15 dan penampilan personil. Reliability mengukur kemampuan untuk melakukan layanan yang dijanjikan tepat dan memuaskan. Responsiveness mengukur kemauan untuk membantu penerima pelayanan dan memberikan layanan yang cepat. Assurance mengukur pengetahuan dan kesopanan pemberi pelayan dan kemampuan pemberi pelayanan untuk menciptakan kepercayaan dan keyakinan penerima pelayanan. Empathy mengukur rasa peduli dan perhatian pemberi pelayanan terhadap penerima pelayanan. 3. Persepsi a. Definisi persepsi Menurut Walgito (2002) persepsi merupakan suatu proses yang dilalui oleh penginderaan, yaitu merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptornya. Setelah itu, stimulus akan diteruskan ke pusat susunan saraf yaitu otak, dan terjadilah proses psikologis, sehingga individu menyadari apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar. Persepsi adalah proses diterimanya rangsangan melalui panca indera dengan didahului oleh perhatian sehingga individu mampu mengetahui, mengartikan, dan menghayati tentang hal yang di amati, baik yang ada diluar maupun didalam diri individu (Sunaryo, 2004). Menurut HPEQ-Project Dikti (2012), persepsi adalah suatu proses mengorganisasi dan menginterpretasi informasi yang diterima oleh panca indra sensori, tidak hanya melihat dan mendengar secara fisik saja namun juga terhadap maksud dari pola sebuah informasi yang didapatkan.

16 b. Macam-macam persepsi Sunaryo (2004) menyebutkan dua macam persepsi, pertama yaitu external perception yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsang yang datang dari luar individu. Kedua yaitu self perception yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsang yang datang dari dalam diri individu. Dalam hal ini yang menjadi obyek adalah dirinya sendiri. c. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi Arikunto (2004), menyatakan bahwa persepsi dipengaruhi faktor-faktor yaitu ciri khas objek stimulus yang memberikan nilai bagi orang yang mempersiapkannya dan seberapa jauh objek tertentu dapat menyenangkan bagi seseorang; faktor-faktor pribadi termasuk di dalamnya ciri khas individu, seperti taraf kecerdasan, minat, emosional dan lain sebagainya; faktor pengaruh kelompok, artinya respon orang lain di lingkungannya dapat memberikan arah kesuatu tingkah laku; faktor perbedaan latar belakang tingkah laku kultural (kebiasaan). d. Evaluasi pembelajaran interprofessional education melalui persepsi pasien Dolan (2013) menyebutkan bahwa penilaian hasil dari pengalaman pembelajaran IPE ini dapat dilihat melalui pemahaman tentang sikap tenaga kesehatan terhadap kolaborasi tim kesehatan dan masing-masing tenaga kesehatan mengerti peran masing-masing tenaga kesehatan merupakan tolak ukur dalam efektifitas educational interventions. Heinemann et al. (Hyer et al., 2000) merupakan penemu skala Attitudes Toward Health Care

17 Teams yang mana skala ini bertujuan dalam melihat sikap, perspektif, opini terhadap kolaborasi dalam tim kesehatan. Skala memiliki 20 pernyataan yaitu 14 pernyataan untuk kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan dan dan 6 pernyataan menilai pemahaman tentang peran masing-masing tenaga kesehatan. Dengan mengacu melalui 14 pernyataan skala ini dapat dilakukan penilaian persepsi pasien dan masyarakat terhadap kualitas pelayanan yang diberikan tim kesehatan dengan kolaborasi berdasarkan IPE (Dolan, 2013).

18 B. Kerangka Pemikiran IPE Berbasis Komunitas Kompetensi IPE Proses Pembelajaran Tim IPE 1. Pengetahuan 2. Keterampilan 3. Orientasi Tim 4. Kemampuan Tim Pembelajaran Kolaborasi Efektif 1. Peningkatan koordinasi layanan kesehatan 2. Sumber daya, waktu, dan biaya perawatan yang efisien 3. Penurunan angka komplikasi 4. Penurunan angka clinical error 5. Penurunan angka kematian pasien 6. Meningkatnya hubungan antara pasien dan caregivers Pembelajaran tentang Pelayanan Berpusat pada Pasien dan Komunitas Pembelajaran tentang Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan