BAB II KERANGKA TEORI 2.1 Electronic Business (e-business) 2.1.1 Pengertian Electronic Business (e-business) Menurut Alter (2002) dalam Simarmata (2006:334) e-business adalah praktek pelaksanaan dan pengelolaan proses bisnis utama seperti perancangan produk, pengelolaan pasokan bahan baku, manufaktur, penjualan, pemenuhan pesanan, dan penyediaan servis melalui penggunaan teknologi komunikasi, komputer, dan data yang telah terkomputerisasi. Menurut Huff (2000) dalam Simarmata (2006:334) e-business meliputi semua hal yang harus dilakukan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk melakukan kegiatan bisnis antar organisasi maupun dari organisasi ke konsumen. Menurut Stoole (2000) dalam Simarmata (2006:335) definisi e-business menurut IBM adalah sebuah pendekatan yang aman, fleksibel, dan terintegrasi untuk memberikan nilai bisnis yang berbeda dengan mengkombinasikan sistem dan proses yang menjalankan operasi bisnis utama dengan pemanfaatan teknologi internet.
2.1.2 Dimensi Ruang Lingkup Dalam E-Business Menurut Indrajit (2002) dalam Simarmata (2006:335) untuk dapat menangkap dimensi ruang lingkup pengertian e-business, cara kerap dipakai adalah dengan prinsip 4W (What, Who, Where, Why). 1. Dimensi What Banyak orang mempertukarkan e-business dengan e-commerce. Secara prinsip, pengertian e-business jauh lebih luas dibandingkan e-commerce, bahkan secara filosofis, e-commerce merupakan bagian dari e-business. Jika e-commerce hanya memfokuskan pada aktivitas atau mekanisme transaksi yang dilakukan secara elektronik atau digital maka e-business memiliki wilayah yang jauh lebih luas, termasuk didalamnya : a. Aktivitas relasi antara dua entiti perusahaan b. Interaksi antara perusahaan dengan pelanggannya c. Kolaborasi antara perusahaan dengan para mitra bisnisnya d. Pertukaran informasi antara perusahaan dengan para pesaing usahanya, dan lain sebagainya. 2. Dimensi Who Seperti yang tersirat dalam definisinya, semua pihak atau entiti yang melakukan transaksi dalam sebuah sistem bisnis atau serangkaian bisnis (business process) merupakan pihak-pihak yang berkepentingan dalam ruang lingkup e-business.
Paling tidak ada tujuh klasifikasi entiti yang kerap dipergunakan dalam mengilustrasikan e-business, masing-masing adalah Agent, Business, consumer, device, employee, family dan goverment. Contohnya adalah sebuah aplikasi e-commerce B2C (business to Consumer) yang merupakan mekanisme hubungan perdagangan antara sebuah perusahaan dengan para pelanggannya (end user) atau tipe B2B (business to business) yang merupakan mekanisme hubungan perusahaan dengan mitra bisnisnya. 3. Dimensi Where E-business dapat dilakukan dimana saja, sejauh pihak yang berkepentingan memiliki fasilitas elektronik atau digital sebagai kanal akses (acces channel). Berbeda dengan bisnis konvensional dimana transaksinya biasa dilakukan secara fisik di sekitar perusahaan yang bersangkutan maka di dalam e- business, interaksi dapat dilakukan melalui berbagai kanal akses. Beberapa contoh dapat diutarakan sebagai berikut : a. Di rumah, seorang ibu dapat menggunakan telepon atau webtv untuk berkomunikasi dengan perusahaan penjual produk dan jasa. b. Di kantor, seorang karyawan dapat menggunakan perangkat komputer atau faks. c. Di mobil, seorang mahasiswa dapat menggunakan handphone atau PDA-nya.
d. Di lokasi keramaian seperti mal, toko, atau pasar, masyarakat dapat memanfaatkan ATM, warnet, atau kios-kios telekomunikasi (wartel) untuk melakukan hal yang sama. Dengan kata lain istilah dimana saja untuk melakukan hubungan dengan siapa saja bukanlah sekedar semboyan yang muluk-muluk, tetapi telah menjadi kenyataan di dalam implementasi e-business. 4. Dimensi Why Penerapan konsep e-business secara efektif tidak saja menguntungkan perusahaan karena banyaknya komponen biaya tinggi yang dapat dihemat (cost cutting), tetapi justru memberikan kesempatan perusahaan untuk meningkatkan level pendapatannya (revenue generation) secara langsung maupun tidak langsung. Dengan implementasikan e-business, perusahaan dapat melihat berbagai peluang dan celah bisnis baru yang selama ini belum pernah ditawarkan kepada masyarakat. Di samping itu, terbukti telah banyak perusahaan yang melakukan tranformasi bisnis setelah melihat peluang bisnis baru di dalam menerapkan e-business yang tidak kalah menariknya adalah bahwa dengan menerapkan konsep internetworking, sebuah perusahaan berskala kecil dan menengah dapat dengan mudah bekerja sama dengan perusahaan raksasa untk menawarkan berbagai produk jasa kepada pelanggan. Dapat ditemukan pula sebuah perusahaan berskala kecil (dilihat dari jumlah karyawannya) yang pendapatannya dapat melebihi perusahaan menengah
maupun besar karena menggunakan strategi efektif dalam menerapkan e- business. 2.1.3 Pengukuran E-Business Salah satu alasan perusahaan menerapkan e-business adalah efisiensi. Kriteria penilaian efisiensi dapat didasarkan pada analisis internal perusahaan untuk melihat penerapan e-business terhadap kemampuan perusahaan meningkatkan revenue dan menurunkan biaya operasional. Menurut Phillip Kotler (1999) Simarmata (2006:335) adapun kriteria seberapa jauh perusahaan telah menerapkan e-business dilihat dari beberapa indikator dan setelah diperoleh data maka perlu dilakukan penilaian dengan melakukan pembobotan dari beberapa indikator yang ada. Beberapa kriteria yang ditetapkan adalah sebagai berikut: 1. Customer Value Yang dimaksud customer value adalah nilai-nilai yang diterima oleh konsumen dilihat dari semua aspek nilai-nilai perusahaan yang melekat dalam produk dan atau jasa yang diberikan kepada konsumen. 2. Proses Efisiensi Melihat proses efisiensi suatu perusahaan dalam berbagai bidang industri akan sangat bervariasi. Proses efisiensi sendiri didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan untuk mengoptimalisasi rasio input terhadap output. Pendekatan umum yang bisa digunakan untuk menilai efisiensi adalah dengan melihat kinerja keuangan. Proses efisiensi suatu perusahaan dapat dilihat berdasarkan rasio antara sales dan total jumlah karyawan.
Rasio ini setidaknya menggambarkan efisiensi secara umum di perusahaan, meskipun belum memberikan gambaran secara khusus efisiensi secara mendetail. 3. Inovasi Inovasi dalam bidang teknologi informasi di perusahaan dinilai berdasarkan jenis dan frekuensi penerapan ide atau gagasan baru dalam proses bisnis maupun yang berhubungan langsung dengan produk atau jasa yang diberikan. Inovasi ini ditentukan dalam hitungan satu tahun terakhir. 4. Pengembangan SDM berbasis Teknologi Sumber daya manusia dalam konteks penilaian pelaksanaan e-business di suatu perusahaan adalah sumber daya manusia dalam perusahaan yang dapat menunjang dan mendukung strategi perusahaan dalam menerapkan e-business. Hal yang harus dilakukan adalah melakukan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan karyawan dalam bidang teknologi informasi yang diberikan perusahaan dalam jangka waktu satu tahun. 5. Komitmen Manajemen Terhadap Pengembangan Teknologi Informasi Komitmen ini bisa dilihat dari jumlah investasi yang ditanamkan untuk pengembangan e-business di perusahaan. Komitmen manajemen dalam penilaian ini diartikan sebagai besarnya perhatian manajemen perusahaan terhadap penerapan e-business perusahaan dilihat dari besarnya investasi dalam bidang teknologi informasi. 6. Penggunaan Internet
Tingkat penggunaan internet untuk menunjang implementasi e-business di perusahaan juga merupakan salah satu indikator pelaksanaan e-business. Pendekatan ini dilakukan dengan melihat: a. Tersedianya situs perusahaan. b. Tersedianya transaksi bisnis melalui internet. 2.1.4 Manfaat E-Business Terhadap Perusahaan Terdapat beberapa manfaat e-business bagi perusahaaan yaitu : 1) Efficiency (Efisiensi) a. Perbaikan efisiensi perusahaan (40% (empat puluh persen) biaya operasional utk penciptaan dan penyebaran informasi) b. E-mail, Website, Call Center, VOIP, Sistem Pendukung Keputusan dan lain-lain. 2) Effectiveness (Efektif) a. Penerapan Supply Chain Management meningkatkan efektifitas operasional b. Penerapan ERP (Enterprise Resource Planning) mengintegrasikan aktivitas perusahaan c. Peningkatan kualitas pengambilan keputusan 3) Reach (Jangkauan) a. Perluasan jangkauan dan ruang gerak perusahaan b. Memperluas kerjasama dan cakupan daerah bisnis c. Menembus batas ruang dan waktu
4) Structure (Struktur) a. Struktur bisnis lebih simple dan sederhana b. Virtual Company c. Perubahan perilaku perusahaan dalam berbisnis 5) Opportunity (Peluang) a. Peluang yang besar untuk inovasi perusahaan b. e-marketing, e-financing, e-procurement, e-logistics, e-inventory, dan lain-lain. Ada banyak manfaat e-business bagi perusahaan yaitu memperluas pasar hingga mencakup pasar nasional dan pasar global sehingga perusahaan bisa menjangkau lebih banyak pelanggan, memilih pemasok terbaik, dan menjalin relasi dengan mitra bisnis yang dinilai paling cocok, menekan biaya menyusun, memproses, mendistribusikan, menyimpan, dan mengakses informasi berbasis kertas (paperbased information), memungkinkan perusahaan mewujudkan bisnis yang sangat terspesialisasi, menekan biaya persediaan dan overhead dengan cara memfasilitasi manajemen rantai nilai bertipe pull, yang prosesnya berawal dari pesanan pelanggan dan menggunakan pemanufakturan just-intime (JIT), memungkinkan perusahaan untuk menerapkan mass customization terhadap produk dan jasanya, menekan waktu antara pembayaran dan penerimaan produk atau jasa, meningkatkan produktivitas karyawan melalui rekayasa ulang proses bisnis, menekan biaya telekomunikasi dan manfaat-manfaat lainnya, seperti citra yang lebih baik, layanan pelanggan yang lebih bagus, proses yang lebih sederhana, mitra bisnis yang baru, waktu siklus dan pengiriman yang lebih
singkat, akses terhadap informasi yang lebih luas, biaya transportasi yang lebih murah, dan fleksibilitas yang lebih tinggi (Soegoto,2009: 348). 2.1.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi E-Business Jika dikaji mendalam, perkembangan implementasi konsep e-business di sebuah industri atau negara sangat ditentukan oleh desakan-desakan faktor dari luar (external driving forces). Paling tidak ada empat faktor desakan yang saling berkonvergensi satu dengan lainnya yang secara signifikan akan menentukan percepatan implementasi konsep e-business, yaitu masing-masing (Simarmata, 2006:338) : 1. Custumers Expectations (Harapan Pelanggan) Paradigma baru menekankan pentingnya pelanggan ditempatkan sebagai titik awal atau acuan dari penyusunan bisnis sebuah perusahaan. Dewasa ini seorang pelanggan tidak cukup bisa dipuaskan hanya dengan baiknya kualitas sebuah produk yang ditawarkan, pelanggan yang bersangkutan mengharapkan adanya pelayanan pra dan pasca jual yang baik. 2. Competitive Imperativ (Persaingan) Globalisasi telah membentuk sebuah arena persaingan dunia usaha yang sangat ketat. Hampir semua perusahaan di dunia dapat melakukan kompetisi secara terbuka di lingkungan pasar bebas. Tentu saja hal ini menimbulkan dampak yang sangat besar bagi keberadaan sebuah perusahaan. Pelanggan akan dengan mudahnya membanding-
bandingkan kualitas produk dan pelayanan antar perusahaan dari hari ke hari. Dengan prinsip selalu mencari yang murah, lebih baik, dan lebih cepat, maka secara tidak langsung perusahaan dipaksa untuk menyusun dan mengembangkan sebuah model dan strategi bisnis yang tepat. 3. Deregulation (Regulasi) Harus diakui pula bahwa secara makro deregulasi yang dilakukan oleh pemerintah maupun negara-negara lain telah turut mewarnai bentuk dunia usaha di masa mendatang, terutama yang berkaitan dengan konsep perdagangan bebas antar negara dan industri. Ditiadakannya pajak masuk produk-produk impor, dibebaskannya kuota ekspor produk, disatukannya berbagai mata uang asing (single currency), dialirkannya informasi secara bebas, tentu saja telah memaksa lingkungan dunia usaha menjadi lebih efisien dari masa ke masa. 4. Teknologi Faktor terakhir menentukan dalam mengimplementasikan konsep e- business adalah kemajuan teknologi informasi, yang didominasi oleh percepatan perkembangan teknologi komputer dan telekomunikasi. Fungsi teknologi informal tidak hanya kritikal bagi perkembangan e- business (enabling function), tetapi justru telah menjadi penggerak dari dimungkinkannya pengembangan model-model bisnis baru yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Dengan e-business, aliran informasi dari perusahaan ke pelanggan, pemasok, pemerintah, pemilik modal dan masyarakat haruslah dikelola dengan baik. Pengelolaan informasi pada perusahaan tergantung pada strategi yang diterapkan dan dukungan eksekutif, manajer, dan karyawan. Dengan dukungan sarana dan prasarana maka diharapkan aliran informasi perusahaan akan cepat, tepat dan akurat. Dengan demikian, perusahaan akan dapat mempertahankan hidupnya, memperoleh keuntungan dan dapat berkompetensi dengan sehat. 2.1.6 Jenis-jenis E-Business E-bussines merupakan suatu kegiatan bisnis yang dilakukan secara online atau dengan memanfaatkan internet, kegiatan dalam e-bussines tidak saja terbatas pada masalah transaksi penjualan dan pembelian barang tetapi juga masalahmasalah lain seperti pelayanan konsumen, kolega bisnis dan lain-lain. Dari sisi cakupan inilah yang membedakan antara e-business dan e-commerce dimana e- commerce cakupanya hanya terbatas pada masalah transaksi dan penjualan barang saja. Berikut adalah jenis-jenis e-bussines yang biasa dilakukan: 1. B2B (business to business) adalah bisnis yang dilakukan sebuah perusahaan dengan perusahaan lain (antara perusahaan) baik itu perusahaan yang bergerak pada bidang industri yang sama ataupun berbeda dengan menggunakan media internet. B2B biasa dilakukan untuk menghemat biaya transaksi. Sebagai contoh perusahaan A ingin memesan sejumlah unit komputer pada perusahaan B, maka
perusahaan A dapat mengakses situs resmi perusahaan B dan menuliskan pesanannya. Perusahaan B yang mendapatkan pesan pemesanan barang tersebut akan mengirimkan barang yang dimaksud. Pembayaran biasanya dilakukan berdasarkan kesepakatan sebelumnya. Meskipun tentu saja pemesanan barang ini dapat dilakukan dengan mengangkat telepon. Salah satu contoh perusahaan di Indonesia yang menerapkan konsep B2B adalah situs www.dagang2000.com milik PT Indosat Adimarga dan www.indonesianexport.com milik PT e- Commerce Nusantara. 2. B2C (business to consumer), dapat diartikan sebagai jenis perdagangan elektronik dimana ada sebuah perusahaan (business) yang melakukan penjualan langsung barang-barangnya kepada pembeli (consumer). Kesuksesan dari B2C pada dasarnya dikarenakan faktor penawaran barang kualitas tinggi dengan harga murah dan banyak pula dikarenakan pemberian layanan kepada konsumen yang cukup baik Contoh perusahaan kelas dunia yang telah menerapkan B2C adalah www.amazon.com dan www.wsj.com 3. Business to Administrator, adalah sebuah kegiatan memaanajemen semua aspek bisnis yang dibangun untuk bisa membangun dan mengembangkan bisnis yang dilakukan sesuai dengan sasaran dan tujuan dari pembagun bisnis yang dilakukan. Sebagian besar perusahaan memiliki sebuah kelompok khusus administrator yang
bekerja untuk memastikan hal ini terjadi. Contoh situs yang menggunakan konsep ini adalah www.emagister.net 4. Brokerage, adalah orang yang menyediakan pasar, brokerage memiliki peran dalam mempertemukan dan memfasilitasi transaksi antara penjual dan pembeli. Brokerage sering memainkan peran dalam bisnisto-business (B2B), business-to-konsumen (B2C), atau konsumen-kekonsumen (C2C). Keuntungan didapat oleh brokerage dari komisi yang diberikan oleh pihak yang terlibat dalam transaksi baik itu penjual atau pembeli. Contoh situsnya seperti www.respond.com atau www.paypal.com dan jika di indonesia seperti www.kaskus.co.id, www.tokobagus.com. 5. Seller Driven Market, adalah jenis pasar penjualan elektronik komoditas, dimana dalam pasar ini terjadi kelangkaan komoditas atau barang yang mendasar yang mengakibatkan harga menjadi mahal karena permintaan atas barang atau pasokan yang amat tinggi. Contoh situs yang mengaplikasikan pasar ini adalah www.lelangmurah.com 6. Buyer Driven Market, adalah jenis pasar elektronik yang berlawanan dengan pasar Seller driven market. Dalam pasar ini bisanya terdapat banyak sekali situs atau penjual yang menawarkan sebuah produk yang sama sehingga dengan demikian pembeli memilki kesempatan untuk memilih. Ketika keadaan pasar seperti ini biasanya harga barang yang ditawarkan oleh penjual akan cenderung murah. Contoh situs yang cukup terkenal dengan konsep ini misalnya www.buyers-market.net
2.1.7 Sistem Informasi Sebagai Strategi E-Business Jika pada awalnya sistem informasi diposisikan sebagai alat bantu untuk mengintegrasikan data dan meningkatkan kualitas informasi semata maka kini sistem informasi menjadi strategi bisnis yang sangat hebat. Penerapan sistem informasi ini pada hampir semua bidang usaha bisnis merupakan salah satu strategi untuk menjawab tekanan-tekanan yang dialami oleh perusahaan. Menurut Simarmata (2006:340) banyak manfaat yang dapat dipetik oleh perusahaan dengan pembangunan sistem informasi, antara lain: a. Integrasi data dan informasi Pembangunan sistem informasi apalagi berbasis jaringan komputer, memungkinkan perusahaan untuk mengintegrasikan data dari berbagai sumber. Dari data terintegrasi tersebut, dapat dieksplorasi berbagai macam laporan manajerial yang akan menjadi dasar bagi para manajer untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, dan pengontrolan terhadap kinerja perusahaan baik secara departemental maupun secara keseluruhan. b. Sistem pengorganisasian data memungkinkan sistem bebas redundasi data Pembangunan sistem informasi yang bertumpu pada sistem pengorganisasian data akan menghindarkan sistem dari bahaya duplikasi data atau sering disebut redundasi. Duplikasi data sering kali
mengakibatkan inkonsistensi data. Artinya, perubahan terhadap data yang satu belum tentu akan diikuti dengan perubahan data duplikatnya. c. Meningkatkan kecepatan dan keakuratan penyusunan laporan manajerial. Tuntutan akan ketersediaan laporan manajerial yang standar sering mengakibatkan tekanan psikologis yang sangat tinggi bagi para manajer lini tengah. Hal itu terjadi karena mereka harus menumpulkan semua data yang ada, menganalisis dan mengolah dengan prosedur yang telah ditentukan, dan kemudian menyusun menjadi sebuah laporan manajerial. d. Meningkatkan kualitas produk dan kecepatan layanan konsumen Dalam lingkup persaingan antar perusahaan, faktor-faktor yang menentukan keunggulan satu dari yang lainnya antara lain adalah kualitas produk dan keputusan yang lebih baik, kecepatan layanan, dan harga yang murah. Kualitas produk dan keputusan dapat ditingkatkan melalui pembangunan sistem infomasi. Melalui sistem informasi semua departemen dalam perusahaan akan mendapatkan aliran informasi yang dibutuhkan tepat pada waktunya sehingga kualitas produksi dapat ditingkatkan karena departemen persediaan barang dan departemen produksi dapat memperoleh informasi yang jelas dan tepat dalam waktu singkat.
e. Meningkatkan citra perusahaan Pembangunan sistem informasi akan meningkatkan citra perusahaan dari sudut pandang staf maupun pihak eksternal perusahaan. Layanan konsumen akan sangat cepat dilakukan, sementara tugas staf dalam mengolah ribuan transaksi yang terjadi juga cukup ringan. Kepercayaan masyarakat akan lebih meningkat dan akan mengalirkan simpati yang cukup besar untuk mendorong tingkat pembelian produk perusahaan tersebut. 2.1.8 Langkah Taktis E-Business Terdapat tujuh langkah taktis yang dikemukakan untuk menjalankan bisnis, agar sukses dalam menjalankan e-business, yaitu: 1. Fokus Produk-produk yang dijual di internet harus menjadi bagian fokus dari masing-masing manajer produk. 2. Membuat Banner Berupa Teks Berdasarkan hasil riset, banner iklan berbentuk teks lebih banyak dikunjungi. 3. Menciptakan 2 (dua) Level Afiliasi Dapat membangun distributor penjualan utama dan agen penjualan kedua. Distributor utama mendapatkan komisi lebih besar, misalnya distributor utama mendapat 15% (lima belas persen) dan supplier yang
mengambil dari distributor utama akan mendapat 5-10% (lima sampai sepuluh persen). 4. Memanfaatkan Kekuatan E-Mail Menggunakan e-mail sebagai media pemasaran. Dalam hal ini pemasaran melalu e-mail atas persetujuan dari pihak pelanggan, bukan spamming. 5. Menulis Artikel Kebanyakan penjualan adalah hasil dari proses edukasi atau sosialisasi. 6. Melakukan E-Marketing Tim pemasaran dalam suatu perusahaan harus mengetahui teknikteknik pemasaran secara online, jangan terlalu terpaku dengan memikirkan teknologinya. 7. Melakukan Komunikasi Secara Instan Komunikasi perusahaan dengan pelanggan berlangsung secara cepat, jeda tidak terjadi terlalu lama. Ini dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan kepada perusahaan. 2.2 Kinerja Perusahaan 2.2.1 Pengertian Kinerja Perusahaan Menurut Amstrong (2003) dalam Wibowo (2007:103) kinerja perusahaan adalah sesuatu yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dalam periode tertentu dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dengan melakukan pengelolaan kinerja yang bertujuan untuk mencapai keefektifan organisasi yang meningkat,
hasil yang lebih baik untuk individu dan tim secara keterampilan, kompetensi, komitmen dan motivasi yang lebih tinggi. Menurut Mangkunegara (2006:9) kinerja adalah prestasi yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diberikan kepadanya. Tingkat keberhasilan suatu kinerja meliputi kuantitas kerja, ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan, kualitas kerja yang baik, pemanfaatan waktu dalam bekerja, serta tingkat kesalahan dalam bekerja. Kinerja merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya (Sulistiyani, 2003:223). 2.2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Perusahaan Pembahasan mengenai permasalahan kinerja maka tidak terlepas berbagai macam faktor-faktor yang menyertainya. Timpe (2005:329-330) mengatakan : kinerja adalah kumpulan tiga eleman yang saling berkaitan antara lain: 1. Tingkat keterampilan Keterampilan adalah bahan mentah yang dibawah seseorang karyawan ke tempat kerja: pengetahuan, kemampuan, kecakapan-kecakapan, interpersonal serta kecakapan teknis, karyawan yang tidak memiliki daya kuda yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan mungkin tidak mampu menghasilkan kinerja yang baik. 2. Tingkat upaya Upaya dapat digambarkan sebagai motivasi yang diperlihatkan karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan.
3. Kondisi-kondisi eksternal Meskipun seorang karyawan mempunyai tingkat keterampilan dan upaya yang diperlukan untuk berhasil, karyawan tersebut mungkin saja tidak berhasil. Hal yang diakibatkan oleh kondisi-kondisi yang tidak mendukung yang berada diluar kendali karyawan seperti; buruknya keadaan ekonomi, mesin yang tidak diperbaiki serta kekurangan pasokan. Simanjuntak (2005:172), menyatakan bahwasannya salah satu faktor yang menyebabkan kinerja menjadi rendah adalah hambatan internal yaitu dapat berupa keterbatasan dana, keterbatasan peralatan teknologi, serta kurang efektifnya manajemen dan kepemimpinan. Mangkuprawira (2007:156) menyatakan didalam bukunya, bahwasannya faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja individual adalah pengetahuan, keterampilan, motivasi dan peran. 2.2.3 Pengukuran Kinerja Perusahaan Menurut Robbins (2002:155) mengatakan hampir semua cara pengukuran kinerja perusahaan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1. Kuantitas, yaitu jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai. Pengukuran kuantitatif melibatkan perhitungan keluaran dari proses atau pelaksanaan kegiatan. Ini berkaitan dengan jumlah keluaran yang dihasilkan. 2. Kualitas, yaitu mutu yang harus dihasilkan (baik tidaknya). Pengukuran kualitatif keluaran mencerminkan pengukuran tingkat
kepuasan, yaitu seberapa baik penyelesaiannya. Ini berkaitan dengan bentuk keluaran. 3. Ketepatan waktu, yaitu sesuai tidaknya dengan waktu yang direncanakan. Pengukuran ketepatan waktu merupakan jenis khusus dari pengukuran kuantitatif yang menentukan ketepatan waktu penyelesaian suatu kegiatan. 2.2.4 Tujuan Penilaian Kinerja Perusahaan Tujuan penilaian kinerja adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja organisasi melalui peningkatan kinerja dari sumber daya manusia organisasi. Secara lebih spesifik, tujuan dari penilaian kinerja dikemukakan oleh Mangkunegara (2006:11) sebagai berikut: a. Meningkatkan saling pengertian antara karyawan tentang persyaratan. b. Mencatat dan mengakui hasil kerja seorang karyawan, sehingga mereka termotivasi untuk berbuat yang lebih baik, atau sekurangkurangnya berprestasi sama dengan prestasi terdahulu. c. Memberikan peluang kepada karyawan untuk mendiskusikan keinginan dan aspirasinya dan meningkatkan kepedulian terhadap pekerjaan yang diembannya. d. Mendefinisikan atau merumuskan kembali sasaran masa depan, sehingga karyawan termotivasi untuk berprestasi sesuai dengan potensinya.
e. Memeriksa rencana pelaksanaan dan pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan pelatihan, khusus rencana diklat, dan kemudian menyetujui rencana itu jika tidak ada hal-hal yang perlu dirubah. 2.3 Pengaruh Penerapan E-Business Terhadap Kinerja Perusahaan Pada saat ini inovasi teknologi menjadi faktor penting yang menentukan pertumbuhan ekonomi di samping faktor modal atau investasi dan tenaga kerja. Perkembangan e-business lebih luas dari pemakaian teknologi informasi dan internet. Semua perusahaan merasa perlu membuat Sistem Informasi yang handal, beberapa perusahaan besar merasakan manfaat teknologi informasi dalam hal manajemen operasional. Bahkan di dunia pasar modal, peranan teknologi informasi ini saat diakui pengaruhnya terutama bagi para investor misalnya ketika melakukan transaksi saham, mengakses informasi keuangan dan non keuangan perusahaan yang terdaftar dalam bursa saham di Indonesia (Bursa Efek Indonesia/BEI). Aktivitas vital perusahaan dapat dilakukan melalui e-business misalnya; advertising, marketing, dan lain-lainnya yang bisa memberikan penghematan waktu, mengeliminasi kesalahan atau error, menunjang efektifitas dan efesiensi perusahaan serta penghematan biaya. Perkembangan teknologi informasi Indonesia memicu perusahaan untuk berpikir keras dalam menyesuaikan dan memanfaatkan penerapan teknologi informasi seoptimal mungkin khususnya dalam penerapan e-business dan untuk perusahaan yang melayani Business to Business (B2B) dan Business to Consumer (B2C). E-business dipandang bukan
saja sebagai supporting tools lagi tetapi sudah sebagai competitive advantage bagi perusahaan. Menurut Alter (2002) dalam Simarmata (2006:334) E-business adalah praktek pelaksanaan dan pengelolaan proses bisnis utama seperti perancangan produk, pengelolaan pasokan bahan baku, manufaktur, penjualan, pemenuhan pesanan, dan penyediaan servis melalui penggunaan teknologi komunikasi, komputer, dan data yang telah terkomputerisasi. Sedangkan Menurut Amstrong (2003) dalam Wibowo (2007:103) kinerja perusahaan adalah sesuatu yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dalam periode tertentu dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dengan melakukan pengelolaan kinerja yang bertujuan untuk mencapai keefektifan organisasi yang meningkat, hasil yang lebih baik untuk tim secara keterampilan, kompetensi, komitmen dan motivasi yang lebih tinggi. Dengan adanya penerapan e-business di suatu perusahaan maka akan secara langsung akan memudahkan karyawan dalam melakukan aktifitas kerjanya sehingga sangat berpengaruh kepada kinerja yang baik, efisien dan efektif sehingga dapat tercapainya target perusahaan tersebut yang akan meningkatkan profitabilitas perusahaan. Menurut Simarmata (2006:340) dengan strategi e-business dapat memungkinkan perusahaan untuk mengintegrasikan data dari berbagai sumber. Dari data yang terintegrasi itu, dapat dieksplorasi berbagai macam laporan manajerial yang akan menjadi dasar bagi para manajer untuk melakukan
perencanaan, pengorganisasian, dan pengontrolan terhadap kinerja perusahaan yang baik secara departemental maupun secara keseluruhan. berikut: Berdasarkan uraian tersebut, maka dibuat kerangka pemikiran sebagai E-Business (X) Kinerja Perusahaan (Y) Sumber : E-Business ((Alter,2002) dalam Simarmata (2006:334)) dan Kinerja ((Amstrong, 2003) dalam Wibowo (2007:103)). 2.4 Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, karena rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru berdasarkan pada teori yang relevan. Sedangkan fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Hipotesis penelitian dibedakan menjadi dua jenis yaitu : hipotesis penelitian dan hipotesis stastitik. Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang mengunakan pendekatan kuantitatif. Sedangkan Pada penelititan statistik adalah penelitian yang bekerja berdasarkan sample. Berdasarkan masalah yang diteliti, maka penulis membuat hipotesis sebagai berikut :
1) Hipotesis Alternatif (Ha) Terdapat pengaruh positif Penerapan E Business terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Kasus Pada PT Perkebunan Nusantara III Persero Medan) 2) Hipotesis Nol (Ho) Tidak terdapat pengaruh positif Penerapan E Business terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Kasus Pada PT Perkebunan Nusantara III Persero Medan) 2.5 Definisi Konsep Menurut Prasetyo dan Jannah (2005:67) konsep merupakan suatu gagasan yang dinyatakan dalam suatu simbol atau kata. Pembatasan konsep dalam penelitian tidak saja untuk menghindari salah maksud dalam memahami konsep penelitian, tetapi batasan konsep amat diperlukan untuk penjabaran variabel penelitian maupun indikator variabel (Bungin, 2005:102). Untuk dapat menentukan batasan yang lebih jelas dan juga untuk menyederhanakan pemikiran atas masalah yang sedang penulis teliti, maka peneliti mengemukakan konsepkonsep antara lain: 1. E-business adalah praktek pelaksanaan dan pengelolaan proses bisnis utama seperti perancangan produk, pengelolaan pasokan bahan baku, manufaktur, penjualan, pemenuhan pesanan, dan penyediaan servis melalui penggunaan teknologi komunikasi, komputer, dan data yang telah terkomputerisasi.
2. Kinerja perusahaan adalah sesuatu yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dalam periode tertentu dengan mengacu pada standar yang ditetapkan dengan melakukan pengelolaan kinerja yang bertujuan untuk mencapai kuantitas yang semakin meningkat, kualitas yang terbaik dan tepatnya waktu dalam menyelesaikan pekerjaaan tim. 2.6 Definisi Operasional Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat objek yang didefinisikan dan dapat diamati (Muhammad, 2008:115). Definisi operasional dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Variabel Bebas (X) (independent variable). Atau disebut juga variabel prediktor, merupakan variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variabel terikat dan mempunyai hubungan positif atau negatif (Suharso, 2009:37). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah e- business (X). E-Business memiliki beberapa indikator, yaitu: a. Costumer Value (manfaat bagi Konsumen) 1. Dapat dengan mudah melayani konsumen maupun insvestor 2. Dapat cepat mendapatkan informasi dan menanggapi keluhan konsumen yang berada di distrik b. Proses Efisiensi 1. Dapat cepat dan tepat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan 2. Meningkatkan proses efisiensi sesuai dengan tujuan perusahaan c. Inovasi 1. Menghasilkan ide dan gagasan baru dalam proses bisnis
d. Pengembangan SDM Berbasis Teknologi 1. Melakukan pelatihan untuk dapat menunjang dan mendukung strategi perusahaan dalam menerapkan e-business. e. Komitmen Menerapkan IT 1. Besarnya perhatian manajemen perusahaan terhadap penerapan e-business f. Penggunaan Internet 1. Tingkat Pengunaan Internet yang tinggi 2. Variabel Terikat (Y) Variabel terikat (dependent variable), atau disebut juga variabel kriteria, menjadi perhatian utama (sebagai faktor yang berlaku dalam pengamatan) dan sekaligus menjadi sasaran dalam penelitian (Suharso, 2009:37). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kinerja perusahaan (Y). Kinerja perusahaan memiliki beberapa indikator, yaitu: a. Kualitas 1. Tercapainya standar kualitas yang ditetapkan perusahaan 2. Fasilitas kerja yang mendukung pencapaian kuliatas maksimal b. Kuantitas 1. Produktivitas meningkat c. Ketepatan Waktu 1. Menyelesaikan pekerjaan yang tepat waktu sesuai dengan ketetapan perusahaan
2. Mampu membagi waktu dan menentukan skala prioritas Uraian yang ada dapat disederhanakan dengan bagan sebagai berikut: E-Business (Variabel X) Kinerja Perusahaan (Variabel Y) 1. Costumer Value 2. Proses Efisiensi 3. Inovasi 4. Pengembangan SDM 1. Kualitas 2. Kuantitas 3. Ketepatan Waktu berbasis Teknologi 5. Komitmen Menerapkan IT 6. Penggunaan Internet