4 III. METODE PENELITIAN.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian di lakukan pada lahan pasca tambang batubara yang tidak reklamasi dan yang direklamasi. Penelitian pada lahan pasca tambang batubara yang tidak direklamasi di lakukan di desa Mangunrejo dan desa Kampung Bali yang terletak di Kecamatan Telukdalam Kabupaten Kutai Kartanegara dan pada lahan pasca tambang batubara yang dilakukan reklamasi di Porodesarood dan Taman Rusa Surya yang berada dalam konsesi milik perusahaan Kaltim Prima Coal (KPC), Kecamatan Sangata, Kabupaten Kutai Timur. Kedua Kabupaten tersebut berada di Provinsi Kalimantan Timur seperti terlihat pada Gambar 15. Lokasi Penelitian Gambar 15. Peta Propinsi Kalimantan Timur. Pemilihan kedua kabupaten tersebut dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: 1. Kedua kabupaten tersebut diatas mempunyai sumber deposit batubara sebesar 0 % dari seluruh cadangan batubara Indonesia, dan saat ini merupakan penambangan terbesar di Indonesia.
44 2. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara mengeluarkan ijin kepada pengusaha atau koperasi untuk melakukan eksploitasi batubara dengan luasan minimal 100 ha s/d < 2500 ha. Dalam implementasi kegiatan di lapangan lahan pasca tambang tidak dilakukan rehabilitasi.. Di Kabupaten Kutai Kartanegara terdapat banyak penambangan illegal. Waktu pelaksanaan penelitian mulai bulan Desember 2005 sampai dengan Desember 2006..2. Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data Jenis data yang akan dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder.2.1. Data Primer Data primer dikumpulkan secara langsung melalui wawancara, pengisian kuesioner, pengukuran, pengamatan dan pengambilan contoh tanah lahan pasca tambang yang tidak direklamasi. a. Data Tanah Data tanah di lahan pasca tambang yang tidak dilakukan reklamasi secara langsung diperoleh dari pengamatan dan pengambilan contoh tanah di lapangan. Contoh tanah di lahan pasca tambang yang tidak dilakukan reklamasi, diambil berdasarkan lamanya waktu ditinggalkan, yaitu: lahan yang ditinggalkan 1 tahun, tahun, 6 tahun dan 9 tahun. Penentuan kurun waktu tersebut berdasarkan hasil pengamatan di lapangan. Pada lahan yang ditinggalkan selama 1 dan 2 tahun hampir tidak terdapat tanda-tanda perbedaan. Perubahan mulai terlihat pada lahan yang telah ditinggalkan selama tahun. Begitu juga lahan yang telah ditinggalkan,4 dan 5 tahun kondisinya hampir sama. Perubahan mulai terlihat pada lahan yang telah ditinggalkan selama 6 tahun. Kondisi yang terlihat di lapangan hampir tidak ada perbedaan antara lahan yang telah ditinggalkan selama 6, 7 dan 8 tahun. Perubahan terlihat pada lahan yang telah ditinggalkan selama 9 tahun. Contoh tanah tersebut dianalisis sifat fisik tanahnya yang meliputi tekstur tanah (pasir,debu,liat) dan sifat kimia meliputi ph, C-organik, N-total, P-tersedia, K, Ca, Mg, Na-tersedia, Al, Fe, Mn dan KTK. Teknik pengambilan contoh tanah dilakukan sebagai berikut : tanah di setiap lokasi diambil sebagai sampel secara acak di tempat, dengan cara komposit pada lapisan tanah sedalam 0 cm s/d 25 cm.
45 b.vegetasi Pengamatan dan pengukuran vegetasi di lahan pasca tambang yang tidak dilakukan reklamasi ditujukan untuk memperoleh data / mendapatkan jumlah dan keragaman jenis vegetasi yang tumbuh pada tiap lahan pasca tambang yang tidak dilakukan reklamasi menurut lamanya waktu. Data vegetasi diperoleh dengan melakukan pengamatan dan penghitungan jenis dan jumlah, dengan menggunakan metode garis berpetak yaitu suatu metode yang terdiri dari jalur sepanjang 20 meter dan lebar 5 meter yang dianggap garis dalam luasan 1 ha, dan bagian di dalamnya dari berbagai ukuran merupakan petak-petak. Struktur pengukuran dibagi seperti pada Gambar 16. A A D D C B B D D C B C B A A Sumber: Indrawan, (200) Gambar 16. Metode Pengukuran Vegetasi di Lahan Pasca Tambang Batubara Rincian penggunaan petak seperti pada Gambar 16 dengan susunan sebagai berikut: untuk tegakan pohon yang berdiameter >5 cm dalam petak ukuran 20 m 2 x 20 m 2 (A). Untuk tingkat tegakan yang berdiameter 10 cm s/d 5 cm pada petak ukuran 10 m 2 x 10 m 2 (B). Untuk tingkat pancang 1,5 cm s/ d 10 cm pada peta dengan ukuran 5 m 2 x 5 m 2 (C), dan terahir untuk tumbuhan bawah yang diukur mulai kecambah s/d ukuran 1,5 cm pada petak dengan ukuran 2 m 2 X 2 m 2 (D). c. Data Lereng Data kemiringan permukaan tanah diperoleh dengan cara melakukan pengukuran dengan alat clinometer dan alat kompas untuk penunjuk arah.
46 Lokasi yang dijadikan sampel dipilih paling sedikit tiga bentuk permukaan tanah (terain), yaitu bentuk yang datar sampai berombak antara 0% s/d 8%, agak bergelombang antara 9% s / d 15% dan berbukit antara 16%- 0% Data ini akan digunakan dalam simulasi, dimana komponen kemiringan lereng berguna untuk merancang penimbunan dan konservasi tanah. d. Data Sosial Budaya dan Ekonomi. Data sosial budaya dan ekonomi dari stakeholder yang dipilih sebagai responden dengan cara : 1. Wawancara dan diskusi dengan substansi yang menyangkut (a) Permasalahan lahan pasca tambang yang tidak dilakukan reklamasi dengan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan (b) Cara mengatasi dampak negatif (c) Cara yang akan dilakukan agar lahan pasca tambang dapat bermanfaat, difungsikan untuk keperluan kehidupan dalam lingkungan yang lestari. 2. Kuesioner dengan materi pertanyaan yang telah disiapkan. Responden terdiri atas kategori : Pertama masyarakat di sekitar pertambangan dan aparat pemerintah di tingkat kecamatan. Kedua responden dari tingkat kabupaten yang terdiri atas anggota legistatif dan birokrat, penyelenggara pemerintahan di tingkat kabupaten. Ketiga responden ditingkat provinsi adalah para pakar dan pelaku bisnis. Cara menentukan responden adalah sebagai berikut: 1. Anggota masyarakat yang keberadaannya di sekitar lokasi obyek penelitian, dilakukan dengan metode random sampling. 2. Responden dari kalangan birokrat, anggota legislatif dan praktisi lapangan dipilih secara sengaja (purposive sampling). Menurut Bourgeois (2002) jumlah responden cukup 8 s/d 15. Responden dipilih yang memahami betul permasalahan yang sedang dibahas. Penelitian ini, jumlah responden dari kecamatan 8 orang, responden dari kabupaten 15 orang dan responden dari provinsi 9 orang.. Pakar dipilih berdasarkan kompetensi di bidang pertambangan batubara, ahli tanah, agroforestri dan perkebunan serta praktisi bisnis yang berkompeten. Responden dipilih dengan sengaja dengan metode expert survey.
47 Pertimbangan dan syarat dalam menentukan pakar menggunakan kriteria sebagai berikut: (1) Memiliki reputasi, kedudukan / jabatan dalam kompetensinya pada bidang yang sedang diteliti (2) Kredibilitas yang tidak diragukan, bersedia, dan pernah melihat atau berada di kabupaten / propinsi yang sedang diteliti () Mempunyai pengalaman di bidangnya dan obyektif. Tabel memperlihatkan keterkaitan antara kategori responden, cara penetapan responden, jenis data yang diperlukan dan cara mendapatkan data. Tabel. Keterkaitan kategori responden, cara pemilihan responden, jenis data dan metode Kategori No. Responden 1 Masyarakat sekitar pertambangan Aparat desa & kecamatan Cara pemilian Responden Stratifed Random Sampling Dipilih secara sengaja Jenis data Kondisi Sosekbud Persepsi Masyarakat terhadap pertambangan Batubara Harapan-harapan Metode Kuesioner Wawancara Diskusi 2 Responden tingkat Kabupaten Pelaku bisnis Birokrat Anggota DPRD Dipilih secara sengaja Kontribusi terhadap PAD, ekonomi rakyat, dampak terhadap lingkungan. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap reklamasi Lahan pasca tambang Rencana tata ruang Kabupaten Kuesioner Wawancara Diskusi Responden tingkat Propinsi Pelaku bisnis Birokrat Anggota DPRD Peneliti Dipilih secara sengaja Pandangan terhadap aspekaspek Ekologi, Ekonomi, Sosial Budaya Faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap reklamasi lahan pasca tambang batubara, dan hub pengaruh antar faktor tsb Kuesioner Wawancara Diskusi.2.2. Data Sekunder. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan dari hasil studi literatur termasuk hasil-hasil penelitian sebelumnya sebagai referensi. Jenis data meliputi : a) Data tanah dan data hasil percobaan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi di lokasi yang telah di reklamasi diperoleh dari hasil penelitian oleh
48 KPC. b) Cadangan deposit batubara Provinsi Kalimantan Timur dan di setiap kabupaten, c) Curah hujan rata-rata tiap kabupaten d) Tata guna lahan e) Populasi penduduk f) Produk Domestik Regional Bruto g) Produksi tanaman hortikultur dan Tanaman pangan... Metode Pendekatan Sistem Metode pendekatan sistem merupakan salah satu alat strategi penelitian secara luas, yang menggunakan beberapa konsep dan teknik matematik secara sistematis dan ilmiah untuk memecahkan berbagai permasalahan. Metode pemecahan permasalahan dengan menggunakan pendekatan sistem pada dasarnya melakukan penanganan terhadap unsur yang saling terkait, dinamis dan komplek, melalui penyederhanaan terhadap kerumitan. Tetapi dengan prinsip-prinsip tidak mengabaikan unsur-unsur yang saling mempengaruhi, yang membentuk unjuk kerja sistem keseluruhan. Secara sistematis kerangka penelitian dengan menggunakan metode pendekatan sistem dapat dilihat pada Gambar 17. Kondisi sekarang Existing Condition Stakeholders Need Analysis Fungsi (Sosial,Ekonomi,Lingkungan) Faktor - faktor Kebutuhan Identifikasi Sistem Formulasi Masalah Permodelan Simulasi Prediksi hasil Permodelan yang Terpilih Rekomendasi Gambar 17. Tahapan Kerangka Penelitian dengan Menggunakan Pendekatan Sistem
49 Metode pemecahan masalah dengan pendekatan sistem secara umum aktifitas kerja operasionalnya ditandai dengan dua hal, yaitu (1) Mencari semua faktor penting yang terdapat dalam sistem untuk memperoleh solusi yang baik untuk menyelesaikan masalah, dan (2) Membuat model kuantitatif untuk membantu keputusan secara rasional. Dalam metode pemecahan masalah dengan pendekatan sistem terdapat tahapan yang merupakan kaidah, yaitu : pertama, dilakukan analisis kebutuhan (need assessment) dari stakeholders, kedua perumusan permasalahan, ketiga melakukan analisis variabel-variabel / faktor-faktor yang yang dominan terhadap tujuan (goal) yang dilakukan didalam identifikasi sistem. Keempat, menterjemahkan faktor-faktor yang dominan tersebut kedalam bahasa gambar yang disebut causal loop / sebab akibat yang menyusun struktur model. Kelima membuat diagram alir berdasarkan causal loop. Diagram alir yang akan disimulasikan dengan menggunakan program model sistem dinamis ( program powersim versi tahun 2000). Dari simulasi dinamis tersebut akan didapatkan perilaku dari suatu gejala atau proses yang terjadi didalam sistem, sehingga dapat dilakukan analisis dan peramalan perilaku atau gejala atau proses tersebut di masa yang akan datang. Oleh karena itu, urutan penyelesaian permasalahan yang komplek dengan pendekatan sistem, dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:..1. Analisis Kebutuhan Untuk menjabarkan analisis kebutuhan dari stakeholders perlu didefinisikan dulu tujuan dari penelitian ini. Hal ini sangat penting agar materi pertanyaan yang disusun didalam lembar-lembar kuesioner, atau pada waktu melakukan diskusi dengan pakar lebih terarah. Dengan demikian analisis kebutuhan yang diperoleh dari stakeholders / pelaku sistem melalui pengisian kuesioner, wawancara, diskusi, didapat elemen-elemen yang berhubungan dengan maksud tujuan (goal) secara mendalam. Berdasarkan kajian pustaka dan penelitian di lapangan, stakeholders yang terlibat dalam permasalahan lahan pasca tambang batubara dan pelaku sistem adalah sebagai berikut :
50 a. Masyarakat yang tinggalnya disekitar pertambangan. Yang dimaksud masyarakat yang tinggal disekitar pertambangan adalah yang berjarak tidak lebih dari 1000 meter dari aktifitas eksploitasi tambang batubara, karena masyarakat ini secara langsung dan tidak langsung terkena dampak. b. Pemerintah daerah tingkat II dan jajarannya seperti dinas-dinas yang berkompeten dengan hadirnya pertambangan batubara dan terdapat kaitan dengan tugas pokok didalam instansinya. c. Lembaga legistatif, sebagai lembaga kontrol yang mewakili rakyat terhadap aktifitas dan produk-produk pemerintah kabupaten, sekaligus sebagai lembaga pembuat peraturan daerah. d. Pakar /ahli dibidang pertambangan, tanah, kehutanan dan perkebunan. e. Pelaku bisnis adalah pengusaha atau praktisi di lapangan yang bergerak di bidang pertambangan batubara. Kebutuhan stakeholders / pelaku sistem tersebut diatas biasanya akan berbanding terbalik dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Oleh sebab itu, dari kondisi tersebut dapat disusun formulasi masalah...2. Formulasi Masalah. Menurut Eriyatno (200) formulasi masalah adalah pernyataan yang bertolak belakang antara kebutuhan pelaku sistem, dalam hal ini adalah para stakeholders, dengan kondisi di lapangan saat ini (existing condition). Dalam kasus eksploitasi tambang batubara terbuka yang tidak mengindahkan, kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan. Dimana terdapatnya banyak lahan pasca tambang yang tidak dilakukan rehabilitasi, dan menimbulkan berbagai dampak negatif maka formulasi masalah dapat disusun seperti sebagai berikut: bagaimana lahan pasca tambang batubara yang telah terdegradasi dapat diupayakan untuk dilakukan rehabilitasi melalui reklamasi dengan biaya terjangkau, dan dapat berguna bagi kelangsungan / lestarinya ekologi tetapi juga dapat sebagai sarana produksi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan daerah.
51... Identifikasi Sistem Konsep identifikasi sistem merupakan mata rantai hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyataan khusus dari masalah yang akan diselesaikan untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Hal itu sering digambarkan dalam bentuk diagram lingkar sebab akibat atau causal-loop seperti yang terlihat pada Gambar 18. Kegiatan Penambangan Batubara + Produksi Batubara + Kualitas SDA + + - R Penurunan Kualitas Lahan + Perubahan Kondisi Lingkungan + B + Rehabilitasi Lahan (Proses Reklamasi) Keuntungan + Devisa Negara + Perusahaan Tambang Pengelolaan SDA Berbasis Agroforestri Gambar 18. Causal Loop Kegiatan Penambangan Batubara. Causal loop seperti Gambar 18 dibuat dimaksudkan untuk menelaah sebab akibat dari jalannya proses yang berlangsung yang merupakan gambaran dari struktur model reklamasi lahan pasca tambang batubara yang berbasis agroforestri yang dibuat berdasarkan input-output. Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan berbagai skenario strategi model reklamasi lahan pasca tambang yang dibangun dengan keterkaitannya berbagai dimensi (ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknis, hukum dan kelembagaan)...4. Membuat Model. Tahapan untuk melakukan simulasi model adalah sebagai berikut : Tahap pertama penyusunanan konsep, yaitu melakukan identifikasi variabel-
52 variabel yang berperan yang dapat menimbulkan gejala atau proses. Variabelvariabel tersebut saling berinteraksi, saling berhubungan dan saling ketergantungan. Kondisi ini sebagai dasar untuk menyusun gagasan atau konsep mengenai gejala atau proses yang akan disimulasikan. Tahap kedua pembuatan model, gagasan atau konsep yang dihasilkan tahap pertama dirumuskan sebagai model yang berbentuk uraian rumus atau gambar. Tahap ketiga melakukan simulasi dengan memasukan data ke dalam model, dari kondisi tersebut dapat dipahami perilaku atau proses dalam model. Dalam pelaksanaannya metode pendekatan sistem, sampai dengan menetapkan disain terpilih pada setiap kasus menggunakan beberapa tools. Penelitian ini telah memilih 6 (enam) tools antara lain 1.Multidmentional Scaling (MDS) 2. Analisis prospektif (AP). Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) 4. Analisis Vegetasi 5. Analisis finansial usahatani 6. Analisis tanah...5. Teknik Analisis Data 1. Multi Dimentional scaling (MDS) Keberlanjutan adalah kunci dari pembangunan yang mengeksploitasi sumberdaya alam, namun demikian keberlanjutan sulit diukur manakala menyangkut faktor-faktor ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan hukum secara bersamaan. Oleh karena itu alternatif untuk perhitungan keberlanjutan dari sumberdaya alam, penenilainnya menggunakan MDS, yang merupakan modifikasi dari Rapfish. Rapfish adalah multi-disciplinary rapid appraisal technique untuk meng-evaluasi sustainability of fisheries (Pitcher dan Preikshot, 2001 dalam Hartrisari, 2005). Di Indonesia MDS telah digunakan oleh Fauzi dan Anna (2005) dalam menilai aspek-aspek keberlanjutan ekologi (ecological sustainability), keberlanjutan sosio-ekonomi (socioeconomic sustainability), keberlanjutan sosial budaya (culture sustainability) dan keberlanjutan kelembagaan (institutional sustainability), di perairan teluk Jakarta, tetapi belum pernah ditetapkan untuk menilai lahan pasca tambang batubara. Analisis keberlanjutan terhadap lahan pasca tambang batubara dalam penelitian ini dilengkapi dengan aspek hukum, karena aspek ini merupakan nilai tertinggi ketaatan seseorang atau kelompok masyarakat didalam sistem
5 kelembagaan. Dimensi lain yang perlu dianalisis adalah dari aspek teknologi, hal ini perlu untuk mengetahui sejauh manana kelompok atau masyarakat disekitar pertambangan mengerti tentang upaya mengatasi lahan pasca tambang dengan pengetahuan dan teknologi. Metode penilaian keberlanjutan menggunakan MDS melalui tiga tahapan, yaitu : Tahap pertama, menentukan atribut dari obyek yang sedang dikaji terhadap status keberlanjutan dari masing-masing demensi (ekologi, ekonomi, sosialbudaya, kelembagaan dan teknologi). Untuk menentukan : atribut, jumlah peringkat pada setiap atribut, penetapan skor, berdasarkan kepada tersedianya literatur yang dapat digunakan. Pengalaman empiris yang telah dituangkan dalam jurnal penelitian, atau ditetapkan dari hasil diskusi yang mendalam antara peneliti dan pakar, dan hasil kuesioner dari responden dapat dijadikan sebagai atribut dan penentuan peringkat. Sebagai contoh penentuan peringkat atribut kondisi permukaan tanah pada lahan pasca tambang batubara yang tidak dilakukan rehabilitasi. Hasil diskusi dengan pakar dan melakukan observasi langsung kelapangan, maka peneliti menetapkan penilaian atribut kedalam tiga peringkat yaitu tidak beraturan mudah ter-erosi, tidak sesuai dengan aslinya dan sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi. Pada kasus lahan pasca tambang batubara yang ditinggalkan begitu saja tanpa ada perlakuan rehabilitasi lahan, hasil penentuan peringkat biasanya akan sama diantara para pakar dan praktisi. Hal ini karena pengalaman lapangan dari para praktisi dan banyaknya literatur sangat mendukung dalam menentukan peringkat atribut. Tetapi apabila peneliti merasa terdapat keraguan dari sebuah atribut maka tindakan selanjutnya adalah melakukan pengecekan kelapangan, sebagai contoh, masih pada dimensi ekologi, yaitu atribut sumber-sumber mata air, terdapat dua peringkat tidak terdapat sumber mata air dan terdapat sumber mata air untuk menetapkan peringkat ini, disamping pendapat para pakar dan literatur yang ada, hasil kuesioner dan wawancara peneliti langsung di lapangan dengan warga masyarakat, maka peneliti melakukan pengecekan langsung kelapangan. Begitu pula yang dilakukan pada dimensi-dimensi lainnya, penetapan atribut, peringkat dan skor, adalah hasil
54 diskusi yang mendalam dengan pakar kemudian dilakukan justifikasi di lapangan. Hasilnya ditabulasikan pada format yang telah didisain. Tabel 4 adalah hasil kuesioner dan wawancara serta diskusi dengan para pakar yang dilakukan pada bulan tanggal 15 sampai dengan tanggal 22 Desember 2005 di Provinsi Kalimantan Timur. Hasil seperti pada Tabel 4 tersebut akan digunakan untuk menilai keberlanjutan lahan pasca tambang batubara yang ditinggalkan begitu saja tanpa reklamasi yang terletak di lokasi penelitian. Penilaian dilakukan dari aspek ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi, dan hukum / kelembagaan. Tabel 4. Atribut-atribut dan Skor Keberlanjutan Model Reklamasi Lahan Pasca Tambang Batu Bara Terbuka No 1 Dimensi Ekologi Atribut Kondisi Permukaan tanah Skor Baik Buruk Keterangan (0) tidak beraturan mudah tererosi (1) Tidak sesuai dengan aslinya (2) Sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi. 2 Kondisi morfologi tanah/ susunan fisik,terutama mengenai bentuk profil tanah yang menyatakan ketebalan dan urutan horizon yang ada dalam profil. Tingkat Tanah kesuburan 0 0 (0) susunan fisik tanah tidak dapat untuk mendukung pertumbuhan tanaman (1) tidak terdapat sususunan sifat fisik tanah yang sesuai dengan aslinya (2) terdapat sifat fisik tanah untuk mendukung pertumbuhan dalam jumlah terbatas () terdapat horizon A,B,C, dalam profil tanah memungkinkan tanaman dapat tumbuh (0) tanah tidak subur (1) tanah marginal (2) tanah dengan tingkat kesuburan terbatas () tanah subur 4 5 6 Tingkat Kerusakan Lingkungan/Terestri al Pertumbuhan Vegetasi Ketersediaan Kualitas Air. dan 0 0,1,2 0 0 (0) kerusakan sangat berat tidak terdapat kehidupan biotic dan abiotik (1) kerusakan berat tidak terdapat vegetasi dan sumber-sumber air (2) tingkat kerusakan sedang, bentuk permukaan tanah tidak beraturan () kerusakan sedang (0) tidak terdapat vegetasi tumbuh (1) terdapat pertumbuhan vegetasi, jenis rerumputan (2) terdapat vegetasi dan tanaman lain (0) idak tersedia air (1) tersedia air dengan kualitas dan debit terbatas (2) terdapat air dengan kualitas sedang () terdapat air dengan kualitas bagus
55 Tabel 4 (lanjutan) No 7 8 9 10 11 12 Dimensi Ekologi Atribut Sumber-sumber Mata Air Agroklimat/ Hidrologi Dampak terhadap Kehidupan Manusia dan Satw Program konservasi tanah Tingkat tanah keasaman Proses / waktu suksesi Skor Baik Buruk Keterangan 0,1 1 0 0 0 (0) tidak terdapat sumber mata air(1) terdapat sumber mata air (0)terdapat pergeseran siklus hidrologi (1) agroklimat kering (2) agroklimat sedang () agroklimat basah (0)terdapat dampak negatif (1)tidak berdampak pada kehidupan(2)berdampak positif (0)tidak ada (1) ada tapi tidak berjalan dengan baik (2) berjalan dengan baik (0)sangat asam (1)Sedikit asam (2) basah (0)tidak ada suksesi (1) sangat lambat (2) lambat () cepat No 1 2 Dimensi Ekonomi Atribut Tingkat penyerapan tenaga kerja Kebutuhan biaya untuk reklamasi lahan Skor Baik Buruk Keterangan 0 (0) tidak ada (1) ada, sedikit (2) ada, banyak, (0)sedikit (1) sedang (1)tinggi ()sangat tinggi Prediksi kedepan sebagai sarana usaha yang berbasis lahan. (0) tidak ada1) ada tapi tidak menentu (2) pasti ada 4 Konstribusi terhadap peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di bidang ekonomi 0 (0) menurunkan pendapatan(1) tidak berpengaruh (2)berpengaruh tapi hanya sedikit () berpengaruh banyak 5 Nilai ekonomi lahan 6 Prediksi akan mendorong penghasilan penduduk dari hasil lahan dari sektor pertanian 0 0,1 1 0 (0) sangat rendah (1) rendah (2) sedang () tinggi (0)tidak mendorong (1) mendorong penghasilan
56 Tabel 4 (lanjutan) No 7 8 Dimensi Ekonomi Atribut Dalam kondisi lahan pasca tambang, terdapat kompensasi yang bernilai ekonomi dari pemerintah atau pengusaha tambang batubara. Tersedianya lembaga keuangan pendukung program Skor Baik Buruk Keterangan 0 (0)tidak ada (1)ada, sedikit (2)ada,cukupmemandai()ada,layak (0) tidak tersedia (1) kemungkinan ada (2) terdapat dukungan dana No 1. Dimensi Sosial Budaya Atribut Pengaruh kondisi lahan pasca tambang terhadap nilai-nilai Sosial Budaya Skor Baik Buruk Keterangan (0) terdapat pengaruh buruk (1) tidak terpengaruh (2) terdapat pengaruh baik 2. Pengetahuan terhadap lingkungan setelah adanya aktifitas Tambang Batu Bara (0) tidak ditemukan (1)terdapat aksi dan reaksi (2) ada pengetahuan. Pengaruh terhadap peningkatan Kesejahteraan masyarakat terutama di bidang Kesehatan 2 0 (0)tidak ada (2) terdapat sedikit peningkatan () terdapat peningkatan 4. Pengaruh terhadap peningkatan Kesejahteraan masyarakat terutama di bidang Pendidikan 2 0 (0)tidak ada (2) terdapat sedikit peningkatan () terdapat peningkatan 5. Kesadaran terhadap sumberdaya alam/ lingkungan 0 (0)tidak ada (2) terdapat sedikit peningkatan kesadaran () tinggi tingkat kesadaran 6. Peran Lembaga Swadaya Masyarakat untuk penyelamatan lingkungan (0) tidak ada (1) kecil perannya (2) sangat besar peranannya 7. Bertambahnya LSM penyelamatan terhadap SDA (0) tidak ada (1) ada dalam jumlah sedikit (2) ada dalam jumlah banyak
57 Tabel 5 (lanjutan) Tabel 4 (lanjutan) No 8. 9. 10. 11. 12. Dimensi Sosial Budaya Atribut Peran Lembaga Swadaya Masyarakat di bidang peningkatan kesejahteraan melalui pengelolaan lahan Kesadaran masyarakat untuk merehabilitasi lahan Tingkat keseriusan dalam menyikapi permasalahan lingkungan Jarak lahan dengan komunitas/ permukiman masyarakat Frekwensi konflik kesenjangan Skor Baik Buruk Keterangan,4 0 (0) tidak ada (1) kecil perannya (2) sangat besar peranannya (0) tidak ada(1) terdapat kesadaran (2) terdapat kesadaran dengan program aksi (0) tidak ada(1) terdapat keseriusan (2) terdapat keseriusan dengan program aksi (0)jauh(1)agak jauh(2)agak dekat ()dekat (4)dilokasi permukiman (0) ada konflik frekwensi tinggi (1) rendah (2) tidak ada konflik No. Dimensi Hukum Atribut Skor Baik Buruk Keterangan 1. Ketersediaan aturan adat untuk melestarikan lingkungan (0) tidak ada (1) sedikit ada aturan (2) banyak aturan adat 2. Adanya panutan disegani tokoh yang (0) tidak ada (1) ada dalam jumlah sedikit (2)ada dalam jumlah banyak. 4. 5. 6. 7. Ketersediaan aturan formal dalam pengelolaan lahan Ketersediaan Personil Penegak Hukum Penyuluhan Hukum terhadap lingkungan Keadilan hukum Demokrasi Penentuan Kebijakan dalam dalam (0) tidak ada (1) ada (2) 0 (0)tidak tesedia (1) tersedia dalam jumlah terbatas(2) ada dalam jumlah cukup () banyak (0) tidak ada (1)ada dalam frekuensi yang kurang (2) dalam frekuensi yang cukup 0,1 1 0 (0) tidak ada (1) terdapat keadilan (0)tidak terdapat demokrasi (1)ada demokrasi terbatas (2) demokrasi yang benar
58 Tabel 4 (lanjutan) No. Dimensi Hukum Atribut Skor Baik Buruk Keterangan 8. Kepatuhan terhadap (0)tidak patuh (1)setengah Zonasi dalam patuh(2)patuh RTRWK 9. Kepatuhan terhadap (0)tidak patuh (1) agak patuh (2) hukum yang berlaku patuh 10. Status lahan (0)tidak jelas (1)milik adat(2)milik negara No Dimensi Teknologi Atribut Skor Baik Buruk Keterangan 1. Pengetahuan terhadap rehabilitasi lahan (0)tidak punya pengetahuan (1)sedikit punya pengetahuan (2)punya banyak pengetahuan 2. Pengetahuan Rehabilitasi lahan melalui Reklamasi lahan (0)tidak punya pengetahuan (1)sedikit punya pengetahuan (2)punya banyak pengetahuan. Pengetahuan tentang zat/ sifat-sifat kimia dan sifat fisik tanah sebagai penghalang pertumbuhan tanaman (0)tidak punya pengetahuan (1)sedikit punya pengetahuan (2)punya banyak pengetahuan 5. Teknologi jenis tanah pemilihan (0)tidak punya pengetahuan (1)sedikit punya pengetahuan (2)punya banyak pengetahuan 6. Teknologi pemilihan tanaman untuk keperluan konservasi (0)tidak punya pengetahuan (1)sedikit punya pengetahuan (2)punya banyak pengetahuan 7. 8. Teknologi pembibitan dan penanaman vegetasi Penguasaan Teknologi rehabilitasi lahan untuk tujuan penanaman vegetasi 9. Teknologi pengurukan 10. Teknologi pengolahan lahan pasca tambang (0)tidak punya pengetahuan (1)sedikit punya pengetahuan (2)punya banyak pengetahuan (0)tidak punya pengetahuan (1)sedikit punya pengetahuan (2)punya banyak pengetahuan (0)tidak punya pengetahuan (1)sedikit punya pengetahuan (2)punya banyak pengetahuan (0)tidak punya pengetahuan (1)sedikit punya pengetahuan (2)punya banyak pengetahuan
59 Tabel 4 (lanjutan) No 11. Dimensi Teknologi Atribut Skor Baik Buruk Keterangan Teknologi pembuangan zat-zat asam/ yang mengandung racun terhadap pertumbuhan tanaman 12. Teknologi konservasi Penguasaan teknologi 1. system pengolahan lahan Sumber : Hasil survei Desember 2005. (0)tidak punya pengetahuan (1)sedikit punya pengetahuan (2)punya banyak pengetahuan (0)tidak punya pengetahuan (1)sedikit punya pengetahuan (2)punya banyak pengetahuan (0)tidak punya pengetahuan (1)sedikit punya pengetahuan (2)punya banyak pengetahuan Tahap kedua penilaian terhadap setiap atribut dalam skala ordinal berdasarkan kriteria keberlanjutan di setiap faktor dan analisisnya yang berbasis MDS. Setiap atribut masing-masing dimensi akan diberikan skor yang mencerminkan kondisi keberlanjutan dari dimensi yang sedang diteliti. Pemberian bobot, nilai, skor tersebut berdasarkan pengalaman empiris dan pengamatan di lapangan serta dari beberapa studi literatur yang sudah lazim dipakai pada kasuskasus dampak dari aktifitas pertambangan batubara terbuka dan hubungannya dengan topik yang sedang diteliti yaitu agroforestri. Apabila terjadi perbedaan persepsi yang dapat membuat skor dalam penilaian terhadap atribut dari masing-masing pakar berbeda, maka untuk memilih / menentukan skor yang dipakai, digunakan dua cara : (a) Menggunakan rumus rata-rata geometri dengan rumus n Rumus : (y 1 x y 2 X y...x ke n) Keterangan: n = adalah jumlah pakar y 1,2,.. = nilai/skor yang dari pakar sampai pakar ke n Nilai hasil hitungan akar tersebut yang dipakai atau digunakan untuk menetapkan skor. Apabila terdapat nilai dengan hasil misalnya 2,6 maka dibulatkan ke.
60 (b) Dengan cara Modus, memilih skor yang paling banyak/ paling sering mucul saat penilaian dari pakar. Misalnya penilaian salah satu atribut dari 9 pakar terdapat versi, seperti pada Tabel 6 versi pertama dari pakar menilai atribut yang sama dengan skor 1, versi kedua, terdapat 4 pakar menilai atribut yang sama dengan skor 2, versi ketiga, terdapat 2 pakar menilai dengan atribut yang sama dengan skor. Tabel 5 Memilih Skor yang berbeda dari para pakar dengan cara Modus Jumlah Pakar Skor Versi pakar menilai satu atribut yang sama 4 pakar menilai satu atribut yang sama 2 pakar menilai satu atribut yang sama Jumlah 9 pakar 1 Pertama 2 Kedua Ketiga Tabel 5 diatas adalah contoh untuk menilai skor yang akan dipilih, dalam kolom paling kanan yang dipilih adalah versi kedua (skor 2) karena jumlah pakar yang menilai atribut tersebut paling banyak, yaitu empat orang pakar. Tahap ketiga, dengan bantuan software yang dipilih, pengembangan dari perangkat lunak modifikasi Rafish adalah merupakan pengembangan MDS dalam SPSS untuk proses rotasi, sehingga dapat divisualisasikan melalui dua sumbu X dan sumbu Y. Hasil dari proses rotasi tersebut merupakan penggabungan nilai skor dari masing-masing atribut untuk dianalisis secara multi dimensional atau biasa disebut analisis ordonansi. Dari analisis ordonasi tersebut dapat dilihat posisi setiap atribut yang masuk pada kategori baik / good atau buruk / bad, yang dapat digambarkan pada sumbu horizontal dan vertikal (dalam dua dimensi). Untuk mendapatkan visualisasi secara kongkrit apakah dimensi-dimensi yang sedang dikaji pada posisi buruk / BAD atau baik / GOOD terhadap keberlanjutan maka posisi yang dihasilkan dari hitungan SPSS dilakukan proses rotasi. Dari garis lurus tersebut terlihat nilai-nilai indeks dengan nominal besaran 0% sampai
61 100%, pernyataan nilai-nilai indek dengan status keberlanjutan pada kategori tertentu seperti pada Tabel 6. Tabel 6. Nilai Indek dan Kategori Keberlanjutan NO Nilai Indek Kategori 1 0 % s/d 25 % Buruk 2 26 % s/d 50 % Kurang 51 % s/d 75 % Cukup 4 76 % s/d 100% Baik Untuk mengetahui dimensi mana yang paling berpengaruh terhadap obyek yang sedang diteliti, maka setelah setiap dimensi didapat nilai indeknya, langkah selanjutnya dilakukan perbandingan antar dimensi, yang divisualisasikan dalam bentuk diagram layang-layang (kite diagram) seperti terlihat pada Gambar 19. EKOLOGI KELEMBAGAAN / HUKUM EKONOMI TEKNOLOGI SOSIAL BUDAYA Gambar 19. Ilustrasi indek keberlanjutan dari setiap dimensi pada Rap- Ass-laptabagf dengan MDS. Dari sejumlah atribut dalam setiap dimensi akan dianalisis (analysis sensitivitas) seberapa peka atau tingkat sensitivitasnya obyek yang sedang diteliti, terhadap indek keberlanjutan pada model reklamasi lahan pasca tambang batubara terbuka sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian ini. Pengaruh dari setiap atribut di lihat dalam bentuk perubahan root mean square (RMS) ordinasi, pada skala sustainabilitas yaitu pada sumbu X. Apabila hilangnya salah satu atribut tertentu menunjukan nilai perubahan yang besar dari RMS, dikatakan peranan atribut tersebut sangat signifikan dalam pembentukan nilai indek keberlanjutan.
62 Menurut Fauzi dan Anna (2002) untuk mengetahui kesalahan pembuatan skor atribut dalam MDS yang disebabkan pemahaman kondisi lokasi penelitian, perbedaan opini dari peneliti dengan pendapat lain, dan untuk mengetahui tingginya nilai stress (nilai stress yang diterima jika < 25%). Untuk mengevaluasi pengaruh galat (error) acak pada proses pendugaan nilai ordinasi dari penelitian digunakan analisis Monte Carlo (Fauzi dan Anna, 2002). Secara sistematis tahapan untuk mendapatkan nilai indek keberlanjutan dari model reklamasi lahan pasca tambang batubara terbuka yang berbasis agroforestri dapat dilihat pada Gambar 20. Gambar 20 Tahapan Analisis Rap-Asslaptabat menggunakan MDS 2. Analisis Prospektif Tools ini digunakan untuk mengetahui hubungan keterkaitan dan ketergantungan antar faktor dalam satu atau lebih kasus yang sedang dibahas. Analisis prospektif juga merupakan salah satu tools yang dapat digunakan untuk mengeksplorasi beberapa kemungkinan kondisi dimasa yang akan datang, setelah diperoleh informasi yang cukup mengenai faktor-faktor kunci. Menurut Hartrisari (2002) terdapat tahapan dalam melakukan analisis prospektif. Pertama menentukan faktor kunci untuk masa depan dari sistem yang dikaji. Pada tahap ini
6 dilakukan identifikasi seluruh faktor penting dengan menggunakan faktor variabel, menganalisis pengaruh dan ketergantungan seluruh faktor dan melihat pengaruh timbal balik dengan menggunakan matrik. Kemudian menggambarkan pengaruh dan ketergantungan dari masing-masing faktor kedalam 4 (empat) kuadran utama (seperti pada Gambar 20). Kedua menentukan tujuan strategis dan kepentingan pelaku utama. Ketiga adalah mendefinisikan dan mendeskripsikan sesuatu kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Pada penelitian ini analisis yang pertama dilakukan adalah mengumpulkan data yang diperoleh dari Assessment Stakeholders tentang lahan pasca tambang batubara terbuka yang ditinggalkan begitu saja dengan menggunakan metode Multi Dimentional scaling / MDS. Melalui penilaian skor akan diperoleh sejumlah faktor dalam atribut dari setiap dimensi dalam jumlah yang cukup banyak. Untuk memperoleh faktor yang paling berpengaruh pada model reklamasi lahan pasca tambang batubara terbuka yang berbasis agroforestri berkelanjutan, dengan menggunakan tabel pengaruh langsung dari analisis prospektif, dapat diperoleh penentuan faktor kunci dan tujuan strategis. Tahap selanjutnya menjaring kebutuhan pelaku sistem dengan kuesioner dan wawancara. Setelah diperoleh faktor-faktor melalui tabulasi, maka untuk mendapatkan hubungan dan keterkaitan antar faktor dipakai analisis prospektif. Hasilnya adalah faktor kunci yang paling berpengaruh di level kebutuhan pelaku sistem. Tahapan selanjutnya adalah menganalisis pengaruh dan ketergantungan keterkaitan antar faktor antara hasil MDS (existing condition) dan kebutuhan pelaku sistem (need assessment stakeholders) dengan analisis prospektif. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan faktor yang paling berpengaruh terhadap sistem, sehingga dapat memilih prioritas peningkatan kinerja dari faktor-faktor yang ada. Demikian selanjutnya untuk tahapan-tahapan berikutnya seperti pada Tabel 7.
64 Tabel 7. Pengaruh Langsung Antar Faktor Model Reklamasi Lahan Pasca Tambang Batubara Terbuka berbasis Agroforestri Berkelanjutan Dari Tehadap 1 2 5 5 6 7 8 1 2 4 5 6 7 8 Keterangan :1 8 = faktor penting dalam sistim yang akan dinilai tingkat saling mempengaruhi. Pedoman pengisian adalah sebagai berikut: 1. Dilihat dulu, apakah faktor pada kolom pertama dan faktor pada row /baris pertama ada saling berpengaruh. 2. Beri nilai pada tiap kotak disamping pada kolom dan pada kotak dibawah pada baris tiap-tiap faktor.. Apabila tidak ada pengaruh nilainya 0, dan manakala pengaruhnya kuat beri nilai, dan apabila pengaruhnya kecil beri nilai 1 dan jika pengaruhnya sedang beri nilai 2. Selanjutnya untuk dapat menentukan faktor kunci digunakan software, yang akan memperlihatkan tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor didalam sistem seperti terlihat dalam Gambar 21. Untuk dapat menentukan faktor mana yang dipilih, sebagai faktor utama dalam penyusunan model, faktor-faktor digambarkan kedalam 4 kuadran pengaruh dan ketergantungan, dan faktor penentu terlihat pada kuadran satu.
65 Pengaruh Y Faktor Penentu Input Faktor Penghubung Stake Faktor Bebas Unused Faktor Terikat Output Ketergantungan X Sumber Hartrisari (2002) Gambar 21. Tingkat Pengaruh dan Ketergantungan antar Faktor dalam Sistem. Analisis Dengan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) Pada proses analisis untuk mendapatkan kebijakan dari kegiatan simulasi dinamik, adakalanya terdapat beberapa kemungkinan kebijakan yang salah satunya diantaranya harus dipilih. Untuk menentukan diantara beberapa hasil simulasi yang terbaik atau pada skala prioritas berdasarkan pertimbangan - pertimbangan banyaknya variabel. Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) digunakan untuk menentukan kebijakan hasil simulasi terbaik (pada skala prioritas pertama ) berdasarkan bobot tertinggi. Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) menurut Marimin (2004) merupakan salah satu metode untuk menentukan urutan prioritas alternatif keputusan dengan kriteria jamak. Terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam metode MPE. Pertama, menyusun alternatif-alternatif keputusan yang akan dipilih. Kedua menentukan kriteria, atau perbandingan kriteria yang penting untuk dievaluasi. Selanjutnya menentukan tingkat kepentingan dari setiap kriteria. Ketiga melakukan penilaian terhadap semua alternatif pada setiap kriteria. Keempat menghitung skor atau nilai total setiap alternatif, dan Kelima menentukan urutan skala prioritas dengan jumlah skor tertinggi.
66 Formula perhitungan skor untuk setiap alternatif dengan formula. sebagai berikut : Total nilai (TN i ) = m Ј 1(RK ij ) TKK j dimana : TN i = total nilai alternatif ke-i. RKij = derajat kepentingan relatif kriteria ke-j pada pilihan keputusan i. TKKj = derajat kepentingan kriteria keputusan ke-j; TKKj > 0 bulat. n = jumlah pilihan keputusan, dan m = jumlah kriteria. 4. Analisis Vegetasi Metode garis berpetak (Gambar 14 terdahulu) dimana dalam satu hektar dapat dibagi menjadi 100 petak dengan ukuran 20 meter X 5 meter adalah memudahkan hitungan untuk mendapatkan: 1). Kerapatan = [ Jumlah dari individu : Luas contoh] 2). Kerapatan relatif (%) = { Kerapatan dari suatu Jenis : Kerapatan dari seluruh Jenis} X 100% ). Dominasi = [Jumlah luas bidang dasar: Luas contoh] 4). Dominasi relatif (%) = { Dominasi dari suatu Jenis : Dominasi seluruh Jenis }X100 % 5). Frekwensi = [Jumlah plot diketemukannya suatu jenis: Jumlah seluruh plot] 6). Frekwensi relatif (%) = {Frekwensi dari suatu Jenis : Frekwensi seluruh Jenis} x 100% 7). Nilai indek penting = {Kerapatan relatif + Dominasi relatif + Frekwensi relatif} 5. Analisis Finansial Usahatani Lahan pasca tambang yang telah direklamasi di lokasi Porodesarood dan di lokasi Taman Rusa Surya di kawasan konsesi PT. KPC (Kaltim Prima Coal), dilakukan analisis finansial, yang hasilnya sebagai variabel dalam simulasi. Tanaman pohon dan semusim di lahan pasca tambang batubara sangat tergantung pada lingkungan fisik. Faktor yang sangat mempengaruhi antara lain: kesuburan tanah, kemiringan tanah (terkait dengan erosi), iklim, termasuk ketersediaan air untuk keperluan tanaman. Faktor lain yang terkait dengan nilai
67 produksi antara lain luas tanah yang diusahakan, penggunaan jenis bibit/ benih, pupuk atau obat-obatan, peralatan dan tenaga kerja serta status tanah. Pada penelitian ini faktor produksi yang diasumsikan tetap adalah status tanah, artinya tidak dihitung sebagai variabel. Analisis usahatani ini dilakukan untuk menghitung pendapatan dari hasil pengelolaan lahan dengan sistem agroforestri. Sistem tersebut merupakan gabungan kegiatan penanaman tanaman pangan dan tanaman pohon dilahan yang sama pada waktu yang bersamaan. Kegiatan usaha tersebut dilakukan di lahan pasca tambang batubara setelah reklamasi. Menurut Keown et al. (1996) terdapat tiga metode untuk melakukan analisis usaha /investasi. Pertama metode jangka pengembalian, Payback method / PM. Prinsip metode ini adalah menghitung jangka waktu yang diperlukan untuk menutup kembali jumlah investasi awal suatu proyek. Metode ini tidak mengukur tingkat keuntungan yang diperoleh dari suatu investasi. Oleh karena itu, metode ini terdapat beberapa kelemahan, diantaranya dalam perhitungan neraca CW (cashflow) tidak memperhitungkan arus kas bersih yang diperoleh setelah jangka pengembalian. Kelemahan lainnya tidak memperhatikan perbedaan nilai uang dalam waktu berbeda. Kedua, metode hasil pengembalian atas harta ARRM (Accounting rate of return method), prinsip dari metode ini menilai suatu proyek investasi dengan memperhatikan rasio antara rata-rata laba bersih dengan jumlah modal yang ditanam. Kelemahan metode ini tidak memperhatikan pengaruh waktu terhadap nilai uang. Ketiga, metode arus kas diskonto DCF (Discounted cash flow), metode ini untuk menjawab kelemahan kedua metode terdahulu, pada prinsipnya mempertimbangkan faktor waktu yang membuat nilai nominal uang berbeda setiap waktu, karena mempertimbangkan faktor tersebut maka dikenal dengan nama TVM (Time Value of Money). Dalam perkembangannya, metode ini telah disempurnakan dengan memperhitungkan nilai sekarang dalam kondisi bersih atau NPV (Net Present Value). Nilai NPV sama dengan nilai NCF (Net Cash Flows) saat ini dikurangi nilai investasi saat ini, dan memperhitungkan discount rate yang sedang berlaku dari kedua nilai tersebut. Discounted cash flow method digunakan untuk keperluan analisis usaha dibidang agroforestri. Hal ini karena dalam perhitungannya memperhatikan rate
68 kas diskonto, dimana nilai nominal uang disetiap waktu akan disesuaikan dengan nilai pasar saat itu. Pertimbangan lain, karena agroforestri seperti telah dijelaskan pada bagian ini, terdiri lebih dari satu jenis tanaman yang akan ditanam, terdapat perbedaan umur diantara berbagai jenis tanaman pada saat akan dipanen / dipungut hasilnya. Nilai investasi sewaktu menanam sampai dengan memungut hasil terdapat beda waktu dan terdapat perbedaan nominal nilai uang. Oleh karena itu, perhitungan nilai diskonto dalam persen selalu dihitung. Kelebihan lain dari metode NPV untuk digunakan analisis pengelolaan lahan dengan sistem agroforestri adalah selalu diperhatikannya pengaruh waktu terhadap nilai uang, artinya nilai uang berbeda dalam waktu yang berbeda. Hal ini yang membuat analisis dengan metode NPV cocok untuk usaha dibidang agroforestri. Variabel yang dihitung dalam analisis usahatani adalah nilai modal yang dikeluarkan dan nilai perolehan hasil produksi tiap hektar dari setiap jenis tanaman dengan memperhitungkan nilai diskonto tiap tahun. Hal ini dilakukan berdasarkan harga yang berlaku di pasar pada saat perhitungan dilakukan. Untuk membantu menyusun kebijakan yang akan diambil, diperlukan metode manfaat dan biaya. Salah satunya adalah penggunaan Rasio Manfaat Biaya, BCR (Benefit Cost Ratio) yang paling cocok dari sudut pandang masyarakat serta menggunakan tingkat potongan / discount rate yang sesuai Metode ini menurut Baumol (1974) dalam Keown et al. (1996) merupakan alat untuk menyusun kebijakan, dimana para pengambil keputusan dapat memilih berbagai alternatif yang saling bersaing. Metode ini merupakan salah satu penerapan ekonomi kesejahteraan modern. Tujuannya tidak lain untuk memperbaiki efisiensi ekonomi alokasi sumberdaya alam, sehingga pendugaan nilai bersih sekarang / Net Present Value (NPV) dari skenario pengelolaan dapat dihitung dengan suatu formula menurut Barton(1994) dalam Keown et al. (1996) adalah sebagai berikut. 1.Net Present Value. NPV = (Bt-Ct) / (1+ r) t 2.Internal Rate of Return.Benefit Cost Ratio. IRR = i + NPV (i - i ). NPV - NPV BCR = [Bt / (1+ r) t ] / [ Ct / (1+ r) t ]
69 NPV adalah nilai bersih sekarang / Net Present Value, Bt adalah keuntungan yang diperoleh / Benefit dihitung sekarang, Ct adalah biaya / Cost yang dihitung sekarang, sedangkan i adalah discount rate yang dianggap dekat dengan nilai IRR yang benar. Kemudian dihitung NPV dari arus benefit dan biaya. Jika hasil NPV tersebut negatif, berarti nilai i (pertama) terlalu tinggi sehingga dipilih nilai percobaan i (kedua) yang lebih rendah. Jika sebaliknya NPV positif maka diketahui nilai i (pertama) terlalu rendah sehingga dipilih nilai percobaan i (kedua) yang lebih tinggi. Nilai percobaan pertama untuk discount rate dilambangkan i yang kedua dengan i, nilai NPV pertama dilambangkan dengan NPV dan yang kedua dengan NPV. Rumus / formula tersebut diatas digunakan dalam proses pengambilan keputusan, kriterianya adalah: manakala BCR > 1 dan NPV > 0 maka alternatif pengelolaan lahan dengan sistem agroforestri dapat dilaksanakan karena sangat menguntungkan. 6. Analisis Tanah Analisis data tanah (dari lahan yang tidak direklamasi) dilakukan di laboratorium, dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik sifat fisik dan kimia tanah berdasarkan lamanya waktu ditinggalkan ditiap lokasi. Analisis meliputi sifat fisik tanah yaitu tekstur tanah (pasir,debu,liat) dan sifat kimia tanah yaitu ph, C-organik, N-total, P-tersedia, K, Ca, Mg, Na-tersedia, Al, Fe, Mn dan KTK, sedangkan untuk mengetahui perbedaan sifat fisik dan kimia dari masing-masing lokasi berdasarkan lamanya lahan ditinggalkan, dilakukan dengan Uji-t. Untuk mengetahui perubahan dan hubungan antara lamanya waktu setelah lahan ditambang dengan sifat fisik dan kimia tanah pada berbagai waktu digunakan persamaan regresi dari masing-masing parameter sifat tanah dengan persamaan: Yі = µ + ß Xі (linier) Yі = µ + ß Xі + є Xі 2 (kuadratik). Keterangan. Yі = sifat fisik dan kimia tanah pada tahun ke i setelah penambangan. µ = Konstanta (rataan total nilai pengamatan)
70 ß = Koefisien regresi yang menunjukan pengaruh perubahan Xі satu satuan terhadap Yі Xі = Waktu setelah ditambang (tahun i setelah penambangan). Є = Koefisien regresi pengaruh perubahan Xі 2 satu satuan terhadap Yі. Model kuadratik merupakan alternatif dari model linier, dan akan dipilih salah satu yang berdaya ramal lebih baik.