BAB I TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV PROSEDUR KERJA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada pembuatan dispersi padat dengan berbagai perbandingan

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

Peningkatan Kelarutan dan Laju Disolusi Glimepirid dengan Koformer Asam Malonat Melalui Metode Kokristalisasi dan Kimia Komputasi

4 Hasil dan Pembahasan

Praperlakuan Bahan Baku Glimepirid Melalui Metode Kokristalisasi Untuk Meningkatkan Kelarutan dan Laju Disolusi

LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN MUDA

KARAKTERISASI KOKRISTAL PARASETAMOL ASAM SUKSINAT MELALUI METODE SOLVENT DROP GRINDING

UNIVERSITAS INDONESIA PENGARUH SUHU PEMBENTUKAN KRISTAL TERHADAP KARAKTERISTIK KOKRISTAL ASAM MEFENAMAT DENGAN ASAM TARTRAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH METODE PEMBENTUKAN KOKRISTAL TERHADAP LAJU PELARUTAN KARBAMAZEPIN MENGGUNAKAN ASAM SUKSINAT SEBAGAI KOFORMER SKRIPSI FIENDA TRIANI

PENGARUH METODE PEMBENTUKAN KOKRISTAL TERHADAP LAJU PELARUTAN KARBAMAZEPIN MENGGUNAKAN ASAM TARTRAT SEBAGAI KOFORMER SKRIPSI RIZKIANNA

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Peningkatan Stabilitas Asam dari Omeprazol dengan Teknik Kokristalisasi Menggunakan Koformer Natrium Karbonat

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Bahan Baku Ibuprofen

SPEKTROSKOPI INFRA RED & SERAPAN ATOM

Titik Leleh dan Titik Didih

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5 Komposisi poliblen PGA dengan PLA (b) Komposisi PGA (%) PLA (%)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian Penelitian yang telah dilakukan bertujuan untuk menentukan waktu aging

4 Hasil dan pembahasan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas

BAB III METODE PENELITIAN. Tahapan Penelitian dan karakterisasi FT-IR dilaksanakan di Laboratorium

Prosiding Farmasi ISSN:

HASIL DAN PEMBAHASAN. didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 20%, 30%, 40%, dan 50%. Kemudian larutan yang dihasilkan diendapkan

MAKALAH FABRIKASI DAN KARAKTERISASI XRD (X-RAY DIFRACTOMETER)

4 Hasil dan Pembahasan

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN

BAB III BAHAN, ALAT DAN CARA KERJA

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. M yang berupa cairan berwarna hijau jernih (Gambar 4.1.(a)) ke permukaan Al 2 O 3

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. hal ini memiliki nilai konduktifitas yang memadai sebagai komponen sensor gas

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

Komponen Materi. Kimia Dasar 1 Sukisman Purtadi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

HASIL DAN PEMBAHASAN. Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC)

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Raman merupakan teknik pembiasan sinar yang memiliki berbagai

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer.

4. Hasil dan Pembahasan

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. ( Rata-rata titik lelehnya lebih rendah 5 o C dan range temperaturnya berubah menjadi 4 o C dari 0,3 o C )

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH TEMPERATUR PADA PROSES PEMBUATAN ASAM OKSALAT DARI AMPAS TEBU. Oleh : Dra. ZULTINIAR,MSi Nip : DIBIAYAI OLEH

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)

dengan panjang a. Ukuran kristal dapat ditentukan dengan menggunakan Persamaan Debye Scherrer. Dilanjutkan dengan sintering pada suhu

HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan dan Ekstraksi Sampel Uji Aktivitas dan Pemilihan Ekstrak Terbaik Buah Andaliman

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk

Tabel 3.1 Efisiensi proses kalsinasi cangkang telur ayam pada suhu 1000 o C selama 5 jam Massa cangkang telur ayam. Sesudah kalsinasi (g)

Spektroskopi Difraksi Sinar-X (X-ray difraction/xrd)

PENINGKATAN KELARUTAN DAN LAJU DISOLUSI GLIMEPIRID MELALUI METODE KOKRISTALISASI

4. Hasil dan Pembahasan

+ + MODUL PRAKTIKUM FISIKA MODERN DIFRAKSI SINAR X

KARAKTERISASI PADATAN HASIL PROSES KOKRISTALISASI ASAM MEFENAMAT MENGGUNAKAN METODE PENGUAPAN PELARUT

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini akan dibahas tentang sintesis katalis Pt/Zr-MMT dan

ALAT ANALISA. Pendahuluan. Alat Analisa di Bidang Kimia

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV. karakterisasi sampel kontrol, serta karakterisasi sampel komposit. 4.1 Sintesis Kolagen dari Tendon Sapi ( Boss sondaicus )

PENGARUH MILLING TERHADAP LAJU DISOLUSI CAMPURAN METAMPIRON-FENILBUTASON (7:3)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,

METODE X-RAY. Manfaat dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :

Peningkatan Kelarutan dan Laju Disolusi Glimepirid Menggunakan Metode Dispersi Padat dengan Matriks Polietilen Glikol 4000 (Peg-4000)

DAFTAR ISI. HALAMAN PENGESAHAN... i. LEMBAR PERSEMBAHAN... ii. KATA PENGANTAR... iii. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR TABEL... ix. DAFTAR LAMPIRAN...

Berdasarkan interaksi yang terjadi, dikembangkan teknik-teknik analisis kimia yang memanfaatkan sifat dari interaksi.

Oleh: Dhadhang Wahyu Kurniawan 4/16/2013 1

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Spektrofotometri Inframerah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakterisasi mikroskopik yang pertama dilakukan adalah analisis

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis proses preparasi, aktivasi dan modifikasi terhadap zeolit

KARAKTERISASI DIFRAKSI SINAR X DAN APLIKASINYA PADA DEFECT KRISTAL OLEH: MARIA OKTAFIANI JURUSAN FISIKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil percobaan pendahuluan, ditentukan lima formula

3 Metodologi penelitian

Metodologi Penelitian

Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. analisis komposisi unsur (EDX) dilakukan di. Laboratorium Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir (PTBIN) Batan Serpong,

HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III EKSPERIMEN. 1. Bahan dan Alat

4 Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB III METODE PENELITIAN. bulan Agustus 2011 sampai bulan Januari tahun Tempat penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pragel pati singkong yang dibuat menghasilkan serbuk agak kasar

Prosiding Farmasi ISSN:

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

Bab III Metodologi Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pori

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Juni 2013 di

Transkripsi:

BAB I TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Tinjauan Bahan Aktif dan Koformer 1.1.1 Glimepirid (GMP) GMP merupakan golongan sulfonilurea generasi ketiga yang digunakan dalam pengobatan diabetes melitus tipe II. Memiliki bobot molekul 490,617 dengan rumus molekul C 24 H 34 N 4 O 5 S dan struktur kimia sebagai berikut (USP 30 th Ed., 2007 ; Sweetman, 2007 ; Massimo, 2003). Gambar I.1 Struktur Kimia GMP (Sweetman 6 th Ed.,2009) Senyawa ini berupa sebuk kristalin putih, tidak berbau, titik lebur 207 0 C, bersifat asam lemah (pka 6,2). GMP termasuk ke dalam obat kelas II dalam Biopharmaceutical Classification System (BCS), dimana obat ini memiliki kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi (Biswal dkk., 2009). GMP praktis tidak larut dalam air, sukar larut dalam metanol, etanol, etilasetat, dan aseton, agak sukar larut dalam diklormetan, larut dalam dimetilformamida (Sweetman, 2007). 3

4 1.1.2 Asam Tartrat (AT) Gambar I.2 Struktur Kimia AT (Wouters, Rome, Quere, 2011:373). Asam tartrat (AT) merupakan kristal putih atau hampir putih, tidak berbau dan rasa sangat asam. Senyawa ini memiliki rumus kimia C 4 H 6 O 6, memiliki berat molekul 150,09 dan titik lebur berada pada rentang 171 174 0 C, dengan pka 4,25 (Wouters, Rome, Quere, 2011:373). Pada suhu 20 0 C asam tartrat larut dalam 1:0,75 bagian air, 1:2,5 bagian etanol 95%, 1:1,7 bagian metanol, larut dalam gliserin; larut dalam 1:0,5 bagian air dengan suhu 100 0 C dan praktis tidak larut dalam kloroform. AT digunakan sebagai bahan tambahan pangan sebagai asidulan dan pemberi rasa, sedangkan dalam bidang farmasi AT digunakan sebagai koformer yang berfungsi meningkatkan kelarutan dan laju disolusi dalam kokristalisasi (Rowe, Sheskey dan Quinn, 2009: 733). Dilihat dari struktur kimianya, AT memiliki empat donor dan enam akseptor ikatan hidrogen sehingga dapat digunakan sebagai koformer dalam proses kokristalisasi (Wouters, Rome, Quere, 2011:373). Dalam penelitian sebelumnya, AT digunakan sebagai koformer dalam proses kokristalisasi dengan piridin betain, dimana terjadi pembentukan ikatan hidrogen antara gugus hidroksil

5 yang berasal dari asam tartrat dengan gugus karboksilat yang berasal dari piridin betain (Dega-Szafran, Dutkiewiez, 2010). Selain itu, telah dilakukan pembuatan kokristal karbamazepin dan AT dengan peningkatan kelarutan yang signifikan (Rizkianna, 2012). 1.2 Kokristal Kokristal merupakan material padat, terdiri dari dua atau lebih molekul padat yang membentuk satu kisi kristal yang berbeda dengan dihubungkan oleh ikatan antarmolekul seperti ikatan hidrogen dan Van der Waals (Zaini, et al., 2011:205). Pembentukan kokristal melibatkan penggabungan zat aktif obat dengan molekul lain yang dapat diterima secara farmasi dalam sebuah kisi kristal. Untuk dapat membentuk kokristal, zat aktif yang digunakan harus memiliki gugusan yang mampu berikatan secara nonkovalen dengan koformer. Koformer atau disebut juga sebagai agen kokristalisasi yang digunakan harus memiliki sifat tidak toksik, inert secara farmakologi, mudah larut dalam air, dapat berikatan secara nonkovalen misalnya ikatan hidrogen dengan senyawa obat, dapat meningkatkan kelarutan obat dalam air, kompatibel secara kimia dengan obat dan tidak membentuk ikatan kompleks dengan obat. Koformer dapat berupa zat tambahan pada makanan, pengawet, eksipien farmasi dan zat aktif yang lain (Yadav, et al., 2009). Beberapa contoh koformer yang sering digunakan dalam kokristalisasi diantaranya sakarin, turunan asam trikarboksilat (asam fumarat, asam suksinat, asam tartrat) dan amida (Rizkianna, 2012: 6).

6 Kokristalisasi dilakukan untuk memperbaiki sifat fisikokimia seperti laju pelarutan dan ketersediaan hayati obat-obat yang sukar larut. Kokristalisasi menghasilkan kokristal dengan sifat fisikokimia yang lebih unggul (Zaini, et al., 2011: 205). Fase multi-kristal yang dihasilkan pada kokristal akan mempertahankan aktivitas instrinsik zat aktif dalam obat namun disisi lain memiliki sifat fisikokimia yang berbeda (Mirza, Miroshnyk, Heinamaki dan Yiruusi, 2008 ). 1.3 Metode Pembentukan Kokristal Beberapa teknik umum yang sering digunakan dalam pembentukan kokristal : 1.3.1 Metode Penggilingan a. Penggilingan Padat Neat Grinding (NG) Metode ini dilakukan dengan mencampurkan kedua komponen penyusun kokristal secara bersama-sama lalu menggerusnya secara manual menggunakan lumping dan alu atau secara mekanik dengan ball mill atau vibratory mill (Qiao, 2011: 6). b. Penggilingan dengan Tetesan Pelarut Solvent Drop Grinding (SDG) Metode ini mirip dengan metode NG, perbedaanya adalah penambahan sejumlah kecil pelarut selama proses penggilingan. Penambahan sedikit pelarut dapat meningkatkan laju pembentukan kokristal. Pelarut yang digunakan dalam metode ini setidaknya harus dapat melarutkan salah satu komponen dalam kokristal (Qiao et al, 2011: 6-7).

7 1.3.2 Metode Pelarutan a. Metode Penguapan Pelarut Solvent Evaporation (SE) Metode ini merupakan metode yang paling sering dilakukan dalam pembuatan kokristal. Dua komponen (bahan aktif dan koformer) dengan perbandingan stoikiometri yang telah ditentukan dilarutkan dalam pelarut atau campuran pelarut, kemudian dilakukan penguapan pelarut untuk mencapai keadaan lewat jenuh sehingga dihasilkan kokristal. Prinsipnya adalah ketika dua molekul berbeda berada dalam satu kelompok yang dihubungkan oleh adanya ikatan hidrogen, maka akan lebih mudah melarut dibandingkan dengan molekul tunggalnya (Chandramouli et al, 2012: 96). b. Metode Reaksi Kristalisasi- Crystallization Reaction Metode ini dilakukan dengan menambahkan sejumlah komponen zat ke dalam larutan zat lain yang sudah jenuh atau mendekati jenuh sehingga larutan akan menjadi lewat jenuh dan terjadi proses kokristalisasi yang menghasilkan kokristal. Metode ini efektif untuk larutan dengan konsentrasi komponen yang tidak ekuivalen dan satu komponen larutan menjadi lewat jenuh dengan penambahan komponen lainnya (Qiao et al, 2011: 6). c. Metode Pendinginan- Cooling Crystallization Metode ini melibatkan suhu dalam proses kokristalisasi. Dimana sejumlah besar komponen yang merupakan zat aktif dan koformer dilarutkan dalam pelarut atau campuran pelarut yang kemudian dipanaskan untuk memastikan kedua komponen tersebut benar-benar larut. Kemudian larutan didinginkan untuk memperoleh keadaan lewat jenuh. Kokristal akan mengendap saat larutan

8 mencapai keadaan lewat jenuh. Metode ini cocok untuk pembuatan kokristal dalam jumlah besar (Qiao et al, 2011). 1.3.3 Metode Pelelehan Melting Method Metode ini dilakukan dengan meleburkan bahan aktif farmasi dan koformer secara bersamaan kemudian didinginkan hingga kristal terbentuk (Chandramouli et al, 2012: 96). I.4 Metode Karakterisasi 1.4.1 Differential Sanning Calorimetry (DSC) DSC digunakan untuk mempelajari perubahan termodinamika dari suatu material saat dipanaskan. DSC dapat mengidentifikasi terjadinya transisi polimorfik, pelelehan dan desolvasi atau dehidratasi yang ditunjukan dengan puncak endotermik (titik lebur) dan eksotermik pada termogram (Giron, 1995:1-59). DSC merupakan metode analisis yang melibatkan pengukuran aliran panas yang diterima (endotermik) atau dilepaskan (eksotermik) dalam sampel sebagai fungsi dari waktu atau temperatur sistem. Instrumen DSC dengan desain double furnace memiliki dua pinggan identik masing-masing untuk sampel dan pembanding. Kedua pinggan dipanaskan dengan laju pemanasan tertentu. Untuk menjaga laju pemanasan atau temperatur agar pada kedua sistem sama, pada saat terjadi proses endotermik seperti pelelehan dibutuhkan energi termal yang lebih tinggi pada sampel dibanding dengan pembanding. Sedangkan pada eksotermik seperti rekristalisasi, dibutuhkan energi termal yang lebih rendah. Data yang diperoleh dari analisis menggunakan

9 DSC diantaranya energi termal dan data titik leleh. Perbedaan aliran energi termal pada sampel dengan pembanding inilah yang dibuat plot sebagai fungsi temperatur atau waktu menjadi termogram (Saunders dan Gabbot, 2011). 1.4.2 Powder X-Ray Diffraction (PXRD) Sinar X merupakan spektrum gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 1000-0,1Å. Sinar X dapat dihasilkan dengan memanaskan filamen (katoda) sebagai sumber elektron yang kemudian ditembakkan dengan tegangan 40-50 kv menuju anode yang biasanya berupa logam Cu, Mo, Cr atau Ag. Sinar- X akan dihamburkan ketika berinteraksi dengan elektron dalam suatu atom dan terjadi interferensi dari hamburan tersebut. Intensitas hamburan bergantung pada jumlah elekron dalam atom dan sudut hamburan. Pada metode PXRD, radiasi sinar X monokromatik yang ditembakan menuju serbuk sampel akan dihamburkan oleh sebagian serbuk, sehingga akan dihasilkan pola difraksi satu dimensi. Skala horizontal yang biasanya digunakan adalah 2θ (theta). Instrumen PXRD terdiri atas sumber sinar-x, tempat sampel, detektor dan sistem untuk mengubah sudut θ. Sampel ditembak dengan sinar- X dengan sudut θ dan berkas sinar yang dihamburkan akan dideteksi oleh detektor pada jarak 2θ. Pengukuran dilakukan dengan meningkatkan sudut θ dimana nilai sudut detektor tetap sebesar 2θ (Darusman, 2014: 9-12). Hasil dari analisis menggunakan PXRD diantaranya adalah pola difraksi sinar X dan persen kristalinitas. Tiap bentuk kristal dari senyawa bersifat unik dan menghasilkan pola difraksi yang unik pula, sehingga pola difraksi merupakan

10 suatu sidik jari senyawa yang khas. Oleh karena itu difraksi sinar X merupakan teknik yang dapat dipilih untuk mengidentifikasi bentuk polimorfisme yang berbeda. Sedangkan persen kristalinitas menggambarkan seberapa banyak puncak-puncak tajam yang terdapat pada pola difraksi. Semakin banyak puncak tajam maka menunjukan bentuk yang semakin bersifat kristalin. 1.4.3 Fourier Transform Infra Red (FT-IR). Analisis gugus fungsi dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer Fourier Transform Infra Red (FT-IR). Pemilihan FT-IR didasarkan atas kemampuan analisisnya yang sangat cepat dan mempunyai kepekaan yang tinggi sehingga dapat memantau seluruh daerah spektrum infra merah dari setiap puncak yang terelusi dengan kecepatan tinggi. Daerah inframerah dibagi menjadi 3 sub daerah yaitu : 1. Sub daerah inframerah dekat (λ = 780 nm 2,5µm; v = 14290 4000 cm -1 ) 2. Sub daerah inframerah sedang (λ = 2,5µm 1,5 µm ; v = 4000 666 cm -1 ) 3. Sub daerah inframerah jauh (λ = 15µm 50 µm ; v = 666-200 cm -1 ) Biasanya dalam spektrum inframerah terdapat banyak puncak, artinya puncak yang ada jauh lebih banyak daripada puncak yang diharapkan dari vibrasi pokok, sehingga perlu diperhatikan letaknya (frekuensinya), bentuk (melebar atau tajam) dan intensitas (kuat atau lemah). FT-IR sering digunakan untuk karakterisasi interaksi obat-koformer di dalam kokristal. Interaksi dari radiasi elektromagnetik dengan resonansi vibrasi atau rotasi dalam struktur molekul merupakan mekanisme dari alat ini. Data FT- IR dapat menghasilkan spektrum dari kokristal. Adanya perubahan bentuk

11 spektrum masing-masing dari obat dan koformer dengan kokristal yang terbentuk. Hal yang dapat menyebabkan perubahan spektrum inframerah adalah munculnya ikatan hidrogen pada kokristal yang sebelumnya tidak ada pada spektrum serapan baik obat dan koformer. Ikatan hidrogen pada gugus karbonil akan memperpanjang ikatan C=O. Akibatnya kekuatan ikatan C = O berkurang, sehingga pita vibrasinya muncul pada frekuensi yang lebih rendah (Harmita, 2006:47-48). I.5 Kelarutan dan Laju Disolusi Kelarutan secara kuantitatif didefinisikan sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif merupakan interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler yang homogen (Martin,1990). Disolusi, secara fisikokimia adalah proses dimana zat padat memasuki fasa pelarut untuk menghasilkan suatu larutan. Uji disolusi digunakan untuk berbagai alasan dalam pengembangan produk baru, untuk pengawasan mutu dan untuk membantu menentukan ketersediaan hayati suatu obat. Absorpsi obat dari tempat ekstravaskular dipengaruhi oleh sifat fisikokimia produk obat. Untuk obat dengan kelarutan rendah dalam air, laju pelarutan seringkali merupakan tahap paling lambat, dan menjadi tahapan penentu kecepatan absorpsi untuk mencapai bioavabilitas obat (Shargel dan Yu, 2005). Kecepatan pelarutan memberikan informasi tentang profil proses melarut per

12 satuan waktu. Hukum yang mendasarinya telah ditemukan oleh Noyes dan Whitney sejak tahun 1897 dan diformulasikan secara matematik sebagai berikut: Keterangan: D S h v Cs Ct = Kecepatan pelarutan / laju disolusi (perubahan per satuan waktu) = Koefisien difusi bahan obat dalam bahan pelarut (lapisan difusi) = Luas permukaan = Tebal lapisan difusi yang mengelilingi partikel bahan obat = Volume larutan = Kelarutan (konsentrasi jenuh bahan dalam bahan pelarut) = Konsentrasi zat terlarut pada waktu t Dari persamaan matematis diatas, dua parameter yang dapat diukur secara efektif untuk meningkatkan laju disolusi obat secara signifikan adalah luas permukaan (S) dan kelarutan (Cs). Kedua parameter tersebut dapat dikendalikan, mudah diukur dan telah diteliti secara luas. Modifikasi pada tebal lapisan difusi (h) atau koefisien difusi (D) tidak praktis dan kurang berguna dari sudut pandang bioavaibilitas obat. Ketebalan lapisan difusi hanya dapat dikurangi dengan meningkatkan secara dramatis laju pengadukan, kondisi tersebut tidak relevan dan aplikatif pada lingkungan in vivo. Demikian juga dengan koefisien difusi yang merupakan fungsi temperatur, diameter molekul dan viskositas medium. Semua parameter tersebut konstan dibawah kondisi in vivo. Oleh karena itu metode yang direkomendasikan untuk meningkatkan laju disolusi secara efektif adalah peningkatan kelarutan atau luas permukaan (Abdou, 1989).