BAB IV PANDUAN KONSEP 4.1. Visi Pembangunan Sesuai dengan visi desa Mekarsari yaitu Mewujudkan Masyarakat Desa Mekarsari yang sejahtera baik dalam bidang lingkungan, ekonomi dan sosial. Maka dari itu visi pembangunan kawasan prioritas ini tidak lepas dari visi Desa Mekarsari yaitu Mewujudkan perbaikan kualitas hidup masyarakat melalui penataan lingkungan permukiman yang teratur, aman dan sehat, serta masyarakat yang sejahtera dalam bidang ekonomi dan sosial. Dalam mewujudkan visi tersebut di atas, kawasan prioritas masyarakat secara partisipatif membuat rumusan misi dari kawasan prioritas yang antara lain : 1. Menata lingkungan permukiman yang teratur, aman dan sehat 2. Meningkatkan sarana kesehatan 3. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia 4. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat Adapun tujuan dari pembangunan kawasan prioritas ini adalah sebagai berikut : 1. Tertatanya lingkungan permukiman yang teratur, yang aman, dan sehat pada tahun 2019 2. Adanya peningkatan sarana kesehatan diharapkan kesehatan masyarakat akan meningkat 3. Adanya sistem sanitasi yang baik diharapkan setiap permukiman tidak lagi menggunakan sistem pembuangan limbah rumah tangga dengan cara lama (membuangnya ke koya ) yang tidak sehat pada tahun 2019 4. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya tercipta lingkungan permukiman yang teratur, aman, dan sehat 5. Adanya dukungan dari terciptanya lingkungan permukiman yang teratur, aman dan sehat diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 24 P L P - B K K A B U P A T E N B O G O R
4.2. Konsep Perencanaan Struktur Tata Bangunan dan Lingkungan Dalam penentuan konsep yang akan digunakan untuk merencanakan struktur tata bangunan dan lingkungan maka terlebih dahulu harus mengetahui kondisi eksisting dari kawasan prioritasnya terlebih dahulu. Kondisi eksisting kawasan prioritas dapat diketahui melalui pengumpulan-pengumpulan informasi atau data, pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan cara survey langsung ke lapangan, mengumpulkan dokumen baik berupa foto ataupun dokumen-dokumen dari desa atau bahkan dari dokumen peraturan kabupaten, melakukan wawancara kepada masyarakat maupun pihak desa, dan mengkorelasikan data-data yang sudah ada. Dalam pengumpulan data yang dilakukan maka didapat bahwa kondisi bangunan dan perumahan di kawasan prioritas ini letaknya masih berjauhan sehingga masih banyak ruang terbuka yang tersedia. Penyediaan air bersih di rumah-rumah pada musim hujan masih bisa terpenuhi dengan adanya sumur-sumur gali namun ketika kemarau tiba sumur-sumur tersebut jadi kering dan sebagai solusinya warga menggunakan air dari mata air yang kondisinya belum tertata rapi sehingga pendistribusian air belum maksimal menjangkau masyarakat. Sistem sanitasi di kawasan ini juga masih belum tertata dengan baik, air limbah buangan dari MCK disalurkan langsung ke koya atau empang yang khusus dibuat warga untuk membuang limbah air dari MCK. Empang-empang pembuangan ini dibuat persis sebelahan dengan rumah yang jika diteliti sistem seperti ini sangatlah tidak sehat terutama saat musim hujan tiba air buangan dari empang bisa menyebar kemana-mana. Prinsip pengelolaan air limbah rumah tangga menggunakan pendekatan spasial dengan memperhatikan kepadatan penduduk dan supplai air bersih. Berdasarkan kriteria dari Dirjen Cipta Karya, program UNDP INS/84/505 yang tersaji pada tabel berikut. Kepadatan (jiwa/ha) Tingkat suplai air bersih Rendah < 30 % Sedang (30 60) % Tinggi > 60 % Dasar Penerapan Sistem Pengelolaan Air Limbah Berdasarkan Kepadatan Rendah < 120 Penduduk dan Pelayanan Air Bersih Rendah 121-140 Tinggi 160-179 Tinggi > 179 On-Site Pribadi On-Site Bersama On-Site Komunal On-Site Umum On-Site Pribadi On-Site Bersama Off-Site Off-Site dengan peningkatan dengan peningkatan air air bersih bersih On-Site Pribadi Off-Site Off-Site Off-Site Sumber : Dirjen Cipta Karya, UNDP INS/84/505 Karakteristik dari kawasan prioritas Desa Mekarsari adalah : kepadatan penduduk rendah (< 120 jiwa/ha) dan tingkat suplai air bersih < 30%. Oleh karena itu, sistem pengelolaan air limbah adalah on-site pribadi atau sistem pembuangan setempat. Gambar 7. Kondisi Mata Air di Kawasan Prioritas 25 P L P - B K K A B U P A T E N B O G O R
Dari data yang didapat kawasan prioritas ini masih belum mempunyai sarana sosial yang memadai, pertemuan-pertemuan masih dilakukan di salah satu rumah atau tempat warga sehingga pertemuan menjadi kurang maksimal karena keterbatasan ruang. Kondisi lingkungan yang terdiri dari sungai-sungai kecil yang berfungsi sebagai saluran irigasi, namun kondisi sungai-sungai tersebut belum memiliki TPT atau talud dan sungainya kering ketika kemarau tiba. Gambar 8. Skema Pengelolaan Air Limbah Selain itu masih adanya kandang-kandang ternak di daerah permukiman juga dapat mengganggu kesehatan warga, limbah-limbah ternak masih diolah secara konvensional dengan cara dibuang ke empang, dijadikan pupuk kandang atau dibiarkan begitu saja dibawah kandang. Gambar 10. Kondisi Sungai di kawasan prioritas Selain itu kawasan ini juga memiliki ruang terbuka hijau yang hanya berupa halaman rumah dan lahan pertanian, kawasan ini belum mempunyai ruang terbuka hijau yang khusus diperuntukkan untuk umum. Tata letak perumahan atau bangunan yang ada di kawasan prioritas ini masih individu dan berjauhan oleh sebab itu masih banyak ruang terbuka hijau yang berupa halaman. Rumah-rumah yang ada juga sebagian besar sudah menghadap ke jalan. Namun meskipun demikian masih ada rumah yang tidak layak huni yaitu sekitar 22 rumah. Gambar 9. Kondisi Kandang Ternak 26 P L P - B K K A B U P A T E N B O G O R
Gambar 11. Kondisi Rumah Tidak Layak Huni di Kawasan Prioritas Kondisi lahan pertanian berupa perkebunan pepaya dan peternakan ikan gurame sangat banyak dan berkembang pesat di kawasan ini, hal ini disebabkan oleh adanya program bantuan dan pelatihan-pelatihan yang sering diikuti oleh beberapa orang dan kemudian dikembangkan di kawasan ini. Pengembangan pasarnya juga sudah meluas ke desa-desa lain sehingga hanya perlu penataan yang lebih rapih untuk pertanian ini supaya bisa lebih maju lagi. Selain ikan gurame ada juga yang beternak sapi dan kambing namun lokasi kandang masih berdekatan dengan permukiman sehingga harus ada relokasi kandang yang lokasinya terpusat dan jauh dari permukiman. Masih banyaknya lahan terbuka memungkinkan warga untuk bisa berkumpul atau dievakuasi dengan mudah ketika ada musibah atau bencana. Akses jalan yang juga sudah bisa dilalui oleh kendaraan roda empat juga mempermudah proses evakuasi namun yang jadi masalah adalah kondisi jalan yang masih berupa tanah dan bebatuan mungkin bisa mempersulit akses masuk. Dari data-data tersebut maka dapat dirumuskan potensi yang ada di kawasan prioritas ini adalah perkebunan pepaya dan peternakan ikan gurame. Selain itu permasalahanpermasalahan tata bangunan dan lingkungan di kawasan prioritas ini, di antaranya adalah: distribusian air bersih belum maksimal menjangkau masyarakat, sistem sanitasi masih belum tertata dengan baik, belum mempunyai sarana sosial yang memadai, kondisi sungai yang tidak memiliki TPT atau talud, belum mempunyai ruang terbuka hijau untuk umum, masih terdapat rumah tidak layak huni, masih ada kandang ternak di daerah permukiman kondisi jalan dan sistem utilitas yang masih buruk. Konsep yang akan digunakan untuk merencanakan struktur tata bangunan dan lingkungan pada kawasan prioritas ini yaitu dengan mengikuti program pengembangan desa, jangan sampai perencanaan program pembangunan pada kawasan prioritas berbenturan atau tumpang tindih dengan program desa ataupun program-program lainnya. Konsep dasar dari program ini adalah dengan cara memulainya dari lingkungan yang terkecil baik fisik ataupun non fisik dalam hal ini adalah rumah atau lingkungan keluarga dan pola pikir masyarakat individu, rumah itu sendiri harus memenuhi syarat keselamatan bangunan dan kecukupan minimum luas bangunan serta kesehatan penghuninya. Kriteria rumah layak huni meliputi : a). Memenuhi persyaratan keselamatan bangunan meliputi : 1. struktur bawah/pondasi; 2. struktur tengah/kolom dan balok (Beam); 3. struktur atas. b). Menjamin kesehatan meliputi pencahayaan, penghawaan dan sanitasi c). Memenuhi kecukupan luas minimum 7,2 m 2 /orang sampai dengan 12 m 2 /orang. 27 P L P - B K K A B U P A T E N B O G O R
Dengan terciptanya lingkungan terkecil berupa rumah layak huni yang memenuhi syarat keselamatan bangunan dan kecukupan minimum luas bangunan serta kesehatan penghuninya maka diharapkan dapat merubah pola pikir masyarakat ke arah yang lebih baik terhadap lingkungan yang lebih besar. Sehingga ada kesadaran dari masyarakat untuk menciptakan lingkungan permukiman yang teratur, aman dan sehat dengan sendirinya. Setelah pola pikir masyarakat menjadi lebih baik maka diharapkan masalah-masalah yang ada saat ini dapat berangsur teratasi. Ruang terbuka publik yang direncanakan diarahkan pada area yang mudah dalam segi pencapaian dan juga dianggap strategis untuk mendukung kegiatan sirkulasi pengguna rumah tinggal ini pada umumnya. Penetapan lokasi ruang terbuka publik tentunya juga tidak terlepas dari beberapa faktor pendukung yaitu antara lain : Memiliki area yang cukup luas. Memiliki jarak pandang yang cukup luas terhadap kawasan-kawasan disekitarnya. Memiliki sifat publik sehingga keberadaanya tidak mengganggu aktifitas-aktifitas disekitarnya. Memiliki akses yang cukup mudah untuk dicapai. Memiliki jarak yang cukup ideal terhadap jalur sirkulasi (koridor). Dilengkapi dengan elemen-elemen lansekap yang dapat membuat ruang terbuka menjadi nyaman. Ditumbuhi dengan tanaman ataupun elemen vegetasi. Dengan melihat faktor-faktor pendukung di atas, maka perencanaan ruang terbuka publik di kawasan permukiman kawasan prioritas diharapkan dapat digunakan dengan baik guna memberikan peranan interaksi sosial masyarakat secara efektif dan optimal. Dari kriteriakriteria di atas, kawasan prioritas Desa Mekarsari ini memiliki lahan yang akan dihibahkan selama 10 tahun dari salahsatu warga untuk digunakan sebagai ruang terbuka publik yang didalamnya akan difungsikan sebagai taman, ruang terbuka hijau, dan sarana sosial untuk kepentingan umum. 4.3. Konsep Penataan Perancangan Kawasan Dasar dari konsep penataan perancangan kawasan prioritas di Desa Mekarsar tidak lepas dari tujuan program PLPBK yaitu menata lingkungan permukiman yang teratur, aman dan sehat yang sesuai dengan aturan dan sosial budaya yang ada. Dari masalah-masalah dan potensi yang ada pada kawasan prioritas Desa Mekarsari maka didapat antara lain : Perlunya sistem pendistribusian air bersih yang dapat menjangkau masyarakat luas. Perbaikan sistem sanitasi dengan dibangunnya MCK umum dan sistem pembuangan limbah rumah tangga yang baik dan sehat. Pembangunan sarana sosial dan ruang terbuka hijau sebagai tempat untuk interaksi masyarakat. Pembuatan TPT atau talud pada sungai-sungai yang melintasi kawasan prioritas. Restrukturisasi atau renovasi rumah tidak layak huni menjadi rumah sehat. Pembangunan kandang komunal yang jauh dari permukiman warga. Peningkatan jalan dan perbaikan sistem utilitasnya. 4.4. Blok Penataan Kawasan Program Penanganannya Penataan kawasan prioritas di Desa Mekarsari dipusatkan menjadi satu blok, hal ini dikarenakan kegiatan-kegiatan atau program-program yang akan dilaksanakan pada kawasan prioritas ini sudah terfokus kepada satu RT yaitu RT 04 RW 03 Desa Mekarsari. Programprogram penanganannya antara lain : 1. Penataan rumah hijau 2. Pembangunan MCK umum 3. Peningkatan jalan lokal dan jalan lingkungan 4. Perbaikan drainase 5. Pembangunan ruang terbuka publik 6. Pipanisasi air bersih 7. Pembangunan Penerangan Jalan Umum (PJU) 8. Perbaikan TPT 9. Pembangunan kandang komunal 28 P L P - B K K A B U P A T E N B O G O R
29 P L P - B K K A B U P A T E N B O G O R
Penataan bangunan perumahan Penataan drainase dan TPT 30 P L P - B K K A B U P A T E N B O G O R