Morfologi Spasial Hunian di Desa Wisata Sendangduwur Kabupaten Lamongan

dokumen-dokumen yang mirip
Sirkulasi Bangunan Rumah Tinggal Kampung Kauman Kota Malang

SUMBU POLA RUANG DALAM RUMAH TINGGAL DI KAWASAN PECINAN KOTA BATU

POLA RUANG DALAM RUMAH PANGGONG DI KAMPUNG BONTANG KUALA

PERUBAHAN POLA RUANG DALAM PADA HOME INDUSTRY SARUNG TENUN SAMARINDA DI KECAMATAN SAMARINDA SEBERANG

Perubahan Pola Tata Ruang Unit Hunian pada Rusunawa Bayuangga di Kota Probolinggo

TATA LETAK RUANG HUNIAN-USAHA PADA RUMAH LAMA MILIK PENGUSAHA BATIK KALANGBRET TULUNGAGUNG

KARAKTER SPASIAL BANGUNAN KOLONIAL RUMAH DINAS BAKORWIL KOTA MADIUN

KARAKTER SPASIAL BANGUNAN STASIUN KERETA API SOLO JEBRES

Morfologi Spasial Lingkungan di Kawasan Malabar-Merbabu Malang

KARAKTERISTIK SPASIAL BANGUNAN GEREJA IMMANUEL JAKARTA

IDENTIFIKASI POLA TATA RUANG RUMAH PRODUKTIF BATIK DI LASEM, JAWA TENGAH

Morfologi Spasial Kompleks Perumahan Karyawan Pabrik Gula Wonolangan, Probolinggo

TERITORI RUANG PADA RUMAH PRODUKTIF BATIK DI KAUMAN, PEKALONGAN JAWA TENGAH

Metodologi Penelitian (RA ) : Ir. Purwanita Setijanti. M.Sc. Ph.D : Ir. Muhammad Faqih. M.SA.Ph.D. Bagoes Soeprijono Soegiono

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.

Perubahan Konsep Dapur Hunian Akibat Kebutuhan Pengguna pada Perumahan (Studi Kasus: Perumahan Vila Bukit Tidar Malang)

POLA TATA RUANG DALAM RUMAH TINGGAL MASA KOLONIAL DI KIDUL DALEM MALANG

KARAKTER SPASIAL BANGUNAN UTAMA KOMPLEKS ASRAMA KOREM 081/DSJ MADIUN (EKS MIDDELBARE BOSCHBOUWSCHOOL TE MADIOEN)

PENGGUNAAN RUANG PADA USAHA BATIK TULIS DI KAMPUNG BATIK JETIS SIDOARJO

KARAKTER SPASIAL BANGUNAN KOLONIAL PROTESTANCHE KERK (GEREJA MERAH)-PROBOLINGGO

Bentuk dan Konstruksi Bangunan Rumah Nelayan Rumput Laut, Kabupaten Bantaeng

BAB 4 PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Aktivitas Pengrajin Gerabah di Desa Pagelaran

Morfologi Spasial Fasilitas Penginapan PTPN XII Kebun Blawan dan Kalisat Jampit Bondowoso

BAB 6 HASIL PERANCANGAN. konsep Hibridisasi arsitektur candi zaman Isana sampai Rajasa, adalah candi jawa

BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki

PENATAAN RUANG DAGANG PADA RANCANGAN KEMBALI PASAR SUKUN KOTA MALANG

ADAPTASI SPASIAL PENGHUNI RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DABAG SLEMAN YOGYAKARTA

KARAKTER SPASIAL BANGUNAN KANTOR BAKORWIL IV JATIM PAMEKASAN

Peranan Ibu Rumah Tangga Terhadap Terciptanya Ruang Publik Di Kawasan Padat Penduduk Pattingalloang Makassar

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Terbentuknya Ruang Komunal dalam Aktivitas Accidental di Dukuh Krajan, Kromengan,Kabupaten Malang

BAB V. KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

POLA PERKEMBANGAN PERMUKIMAN KAMPUNG ASSEGAF PALEMBANG

Morfologi Ruang Kawasan Kerajinan Bubut Kayu di Kampung Wisata Kota Blitar

BAB 3 METODOLOGI PERANCANGAN

Gigih Juangdita

Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1 metro.koranpendidikan.com, diakses pada 1 Maret 2013, pukul WIB

5 BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

- BAB III - TINJAUAN KHUSUS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KAJIAN PERKEMBANGAN KOTA BATANG BERDASARKAN STRUKTUR RUANG KOTA TUGAS AKHIR

PEKALONGAN BATIK CENTER

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAGIAN 1 PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

III. METODOLOGI 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Pengertian Judul Penataan Lingkungan Permukiman : Berbasis : Komunitas :

INTEGRASI RUANG PAMER DAN RUANG WORKSHOP STUDIO PERUPA (STUDI KASUS: BLOK B PASAR SENI ANCOL)

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB III METODOLOGI. 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

1 Mundofar_ BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Rusun Rancacili: Rumah Produksi Kolektif

PENATAAN POLA TATA RUANG DALAM PASAR LEGI TRADISIONAL KOTA BLITAR

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang.

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB III ANALISIS. RINI SUGIARTI, S.Ars Gambar 10. Denah Dan Ukuran Bangunan Eksisting (Sumber : Data Penulis, 2017)

BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Karakteristik Spasial Area Masuk Utama pada Bangunan Stasiun (Studi Kasus: Stasiun-Stasiun di Wilayah Malang)

Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 4 KONSEP PERANCANGAN

BAB V HASIL RANCANGAN

Geo Image 1 (1) (2012) Geo Image.

Minggu 2 STUDI BANDING

BAB V KAJIAN TEORI. Pengembangan Batik adalah arsitektur neo vernakular. Ide dalam. penggunaan tema arsitektur neo vernakular diawali dari adanya

BAB VII KESIMPULAN, SARAN DAN KONTRIBUSI TEORI

BENTUKAN VISUAL ARSITEKTUR RUMAH SINOM DI KELURAHAN KERTOSARI PONOROGO

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB III METODE PERANCANGAN. Metode yang digunakan dalam perancangan Sentral Wisata Kerajinan

TIPOLOGI WAJAH BANGUNAN RUMAH KUNO DI DESA SEMPALWADAK KABUPATEN MALANG

Komparasi Dimensi dan Perabot Ruang Tidur Rumah Pribadi dan Rumah Kost di Banjarbaru

Eksplorasi Karakteristik Pembangunan Ekonomi Desa Melalui Unsur-Unsur Budaya Universal di Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang

Pola Perilaku Lansia Pada Ruang Dalam Panti Sosial Tresna Werdha Puspakarma Mataram

POLA RUANG DALAM BANUA TONGKONAN DAN BANUA BARUNG- BARUNG DI DUSUN TONGA, KELURAHAN PANTA'NAKAN LOLO, TORAJA UTARA

BAB VI HASIL RANCANGAN. perancangan tapak dan bangunan. Dalam penerapannya, terjadi ketidaksesuaian

BAB III METODE PERANCANGAN. Dalam metode perancangan ini, berisi tentang kajian penelitian-penelitian

PENERAPAN SIMBIOSIS RUANG PADA TEMPAT TINGGAL DULU DAN KINI SEBAGAI KONSEP RANCANG RUMAH SUSUN DI KEDIRI

BAB II PEMROGRAMAN. Perkotaan di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat,

RELOKASI TERMINAL PENUMPANG KAPAL LAUT TANJUNG PRIOK DI ANCOL TIMUR

BAB VI HASIL PERANCANGAN. simbolisme dari kalimat Minazh zhulumati ilan nur pada surat Al Baqarah 257.

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV: TINJAUAN KHUSUS PROYEK

PENERAPAN UKIRAN MADURA PADA INTERIOR GALERI BATIK DI BANGKALAN PLAZA MADURA

Hubungan Karakteristik Penduduk dengan Pemilihan Ruang Publik di Kampung Luar Batang, Jakarta Utara

MUSEUM BATIK JAWA TENGAH DI KOTA SEMARANG

BAB IV ANALISA PERENCANAAN

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

PENERAPAN KONSEP HIJAB PADA RUMAH TINGGAL PERKOTAAN

Integrasi Budaya dan Alam dalam Preservasi Candi Gambarwetan

BAB III TINJAUAN KHUSUS

Penerapan Konsep Defensible Space Pada Hunian Vertikal

Teritorialitas Masyarakat Perumahan Menengah ke Bawah

Transkripsi:

Morfologi Spasial Hunian di Desa Wisata Sendangduwur Kabupaten Lamongan Meirinda Putri Aristyani 1, Lisa Dwi Wulandari 2, Sri Utami 2 1 Mahasiswa Jurusan Arsitektur/Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya 2 Dosen Jurusan Arsitektur/Fakultas Teknik, Universitas Barwijaya Alamat Email penulis : putriaristyani@gmail.com ABSTRAK Desa Sendangduwur merupakan salah satu desa sebagai penghasil batik tulis di Jawa Timur. Tahun 2006 Dinas Koperasi Perdagangan dan Industri bersama masyarakat Sendangduwur menggalakkan kembali dan mempromosikan batik tulis khas desa Sendangduwur hingga dijadikan sebagai produk unggulan Kabupaten Lamongan. Menyebabkan peningkatan jumlah pengrajin batik tulis dan munculnya ruang usaha pada hunian masyarakat desa Sendangduwur dan mempengaruhi spasial hunian masyarakat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui morfologi spasial hunian di desa wisata Sendangduwur Kabupaten Lamongan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan morfologi diakronik untuk menganalisis variabel penelitian. Hasil penelitian yang didapatkan berupa perubahan spasial hunian akibat penambahan showroom dan/atau workspace pada zona publik dan semipublik pada spasial hunian. Perubahan pada spasial hunian in dikarenakan kebutuhan untuk meningkatkan perekonomian dan identitas diri pemilik hunian. Kata kunci: Morfologi, spasial hunian ABSTRACT Sendangduwur village is one of the village as a producer of batik in East Java. In 2006 the Department of Trade and Industry Cooperation with the community of Sendangduwur encourage and promote batik Sendangduwur serve as a superior product Lamongan. Causes an increase the number of batik artisans and the increase of business space in residential and rural communities Sendangduwur affect residential spatial. The purpose of this study was to determine the spatial morphology of residential in tourist village Sendangduwur Lamongan. The method used is descriptive and diachronic approach to analyze the morphology of the study variables. Research results obtained in the form of spatial changes in residential due to the addition of a showroom and / or workspace in a public zone and semi-public zone on spatial residential. Changes in the spatial residential in due to the need to improve the economy and the identity owner residential. Keywords: morphology, residential spatial 1. Pendahuluan Desa Sendangduwur merupakan desa yang merupakan salah satu desa penghasil kerajinan batik tulis di Jawa Timur. Kerajinan batik tulis yang ada di desa Sendangduwur merupakan ajaran Sunan ketika menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, Kabupaten Lamongan khususnya. Kerajinan batik tulis Sendangduwur ini merupakan kesenian turun temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Batik tulis Sendangduwur dalam perkembangannya, di sekitar tahun 1980 sempat mengalami kemunduran, sehingga hanya sedikit pengrajin batik tulis yang tetap bertahan. Setelah lama mengalami penurunan minat terhadap batik tulis muncul permasalahan klaim kesenian batik tulis oleh negara lain, oleh karena itu pemerintah Republik Indonesia menggalakkan kembali menggunakan produk dan kesenian khas indonesia, batik tulis khususnya. Tahun 2006 Dinas Koperasi Perdagangan dan Industri bersama masyarakat Sendangduwur menggalakkan kembali dan mempromosikan batik tulis khas desa Sendangduwur hingga dijadikan sebagai produk unggulan Kabupaten Lamongan. Dijadikannya batik tulis Sendangduwur sebagai produk unggulan Kabupaten Lamongan menyebabkan peningkatan jumlah pengrajin batik tulis dan munculnya ruang usaha pada hunian masyarakat desa Sendangduwur. Adanya ruang usaha pada hunian masyarakat desa menyebabkan munculnya fungsi lain dari hunian, bukan hanya sebagai tempat tinggal tapi juga difungsikan sebagai ruang usaha. Menurut Silas (1993, dalam Osman dan Amin, 2012) menyebutkan bahwa hunian dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu rumah saja yang digunakan sebagai tempat tinggal dan rumah produktif yang digunakan sebagai kegiatan perekonomian. Rumah produktif dapat dikelompokkan menjadi 3 tipe yaitu, tipe campuran (menggunakan ruang hunian sebagai ruang usaha), tipe berimbang (menggunakan ruang lain dalam hunian sebagai ruang usaha) dan tipe terpisah (menggunakan ruang lain di luar ruang hunian). Perkembangan fungsi hunian ini mempengaruhi spasial hunian yang meliputi fungsi ruang, dimensi ruang, zonasi dan pola sirkulasi pada spasial hunian. Rumah juga merupakan kebutuhan dasar manusia akan tempat yang dapat meningkatkan kesejahteraan penghuni di dalamnya karena pembangunan ekonomi, sosial budaya dan bidang-bidang yang lain dapat ditunjang dari sebuah rumah atau hunian. Pada kebudayaan Jawa hunian dikelompokkan sesuai status sosial pemiliknya yang dapat mempengaruhi tata ruang pada hunian (Cahyandari, 2012). Tata ruang dalam hunian dapat diketahui dari fungsi ruang (fungsi sosialisasi/permukiman, fungsi peristirahatan dan fungsi pendukung/pelayanan), sumbu ruang dan zona ruang (Purnamasari, 2009). Menurut Ronald (1990. Dalam Redanti, 2011) zona merupakan pemisahan ruang sesuai fungsi ruang pada rumah untuk membedakan dengan keadaan di sekitarnya. Pemisahan ruang pada hunian Jawa dapat dikelompokkan menjadi ruang publik, semi-publik, semi-privat dan privat sesuai fungsi dan pengguna ruang dalam hunian. Perubahan pada hunian juga memberikan dampak secara tidak langsung pada desa Sendangduwur baik dari perubahan dominasi fungsi hunian (mengalami penurunan atau pertambahan jumlah hunian pengrajin) maupun pola tata guna lahannya. Perubahan pada spasial hunian dapat diungkapkan dengan perubahan dimensi, perubahan dengan pengurangan dan perubahan dengan penambahan yang merupakan wujud perkembangan pola pikir dan inovasi baru (Ching, 2008). Perkembangan pola pikir pengguna akibat kebutuhan dasar penghuni baik keinginan dari diri atau menyesuaikan dengan perkembangan zaman hingga perubahan hunian untuk perbaikan perekonomian penghuni merupakan perubahan spasial hunian secara non-fisik. Menurut Doxiadis (1968) hunian merupakan salah satu pembentuk permukiman sebagai tempat manusia tinggal (shell). Berkembangnya fungsi hunian menyebabkan dijadikannya hunian masyarakat sebagai objek wisata belanja yang menarik. Tahun 2012 desa Sendangduwur diresmikan sebagai desa tujuan wisata karena adanya karakteristik khusus pada permukiman desanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis morfologi spasial pada hunian masyarakat desa Sendangduwur sesuai penggunaan hunian yang berkembang menjadi huian usaha serta dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan dan penataan pada spasial hunian yang berkembang menjadi hunian

usaha agar tidak terjadi pencampuran aktifitas dan menimbulkan ketidak nyamanan dalam berhuni maupun aktifitas produksi pada hunian. 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode deskriptif ini untuk menggambarkan kondisi spasial hunian, dengan melalui tahap observasi, wawancara dan dokumentasi. Pendekatan yang dipakai pada penelitian ini adalah diakronik yang merupakan sebuah metode analisis yang dapat digunakan untukmengkaji suatu objek amatan waktu ke waktu. Lokasi dan objek penelitian merupakan hunian masyarakat desa wisata Sendangduwur yang mengalami perubahan pada spasial huniannya akibat aktifitas produksi kerajinan batik tulis. Pemilihan sampel hunian pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling sesuai kriteria yang telah ditentukan. Tahapan pada penelitian ini mencakup tahap pengumpulan data, tahap analisis data, tahap sintesis data dan kesimpulan. Tahap pengumpulan data meliputi pengumpulan data secara primer dan pengumpulan data secara sekunder serta penetapan variabel penelitian. Pengumpulan data secara primer dilakukan dengan observasi lokasi penelitian, wawancara kepada responden sebagai calon maupun sampel terpilih dan dokumentasi hasil wawancara dan observasi sebagai data pendukung pada tahap analisis. Sedangkan pengumpulan data secara sekunder didapatkan dari instansi terkait yang memiliki data yang berkaitan dengan penelitian. Pada tahap analisis morfologi spasial hunian menggunakan pendekatan diakronik dengan membandingkan kondisi spasial awal hunian dibangun dengan tahun 2015 untuk mengetahui bentuk perubahan yang terjadi pada spasial hunian sesuai variabel yang telah ditentukan. Variabel penelitian yang digunakan adalah tata letak ruang dalam hunian (fungsi ruang, dimensi ruang dan zona ruang) dan sirkulasi pada spasial hunian (fungsi sirkulasi dan konfigurasi sirkulasi). Tahapan sintesis data merupakan simpulan analisis yang telah dilakukan. 3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Identifikasi dan Analisis Morfologi Spasial Hunian Desa Sendangduwur merupakan desa yang berbatasan langsung dengan pesisir utara Laut Jawa yang berada di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Dalam perkembangannya, desa Sendangduwur mengalami penambahan fungsi bangunan sebagai hunian usaha kerajinan batik tulis akibat penggalakan produk asli Indonesia berupa batik tulis. Dominasi hunian yang bergerak pada kerajinan batik tulis menjadikan desa Sendangduwur sebagai tujuan wisata dengan hunian pengrajin sebagai objek wisata yang dinilai menarik untuk dikunjungi. Dominasi fungsi hunian sebagai hunian usaha pada desa sendangduwur dapat ditemui hampir pada seluruh bagian desa, namun dalam persebarannya tidak merata. Hunian-hunian tersebut tersebar pada desa Sendangduwur yang terbagi menjadi 6 RT pada 2 RW. Kriteria hunian yang dijadikan sebagai sampel penelitian adalah hunian masyarakat Sendangduwur yang mengalami perubahan pada spasial huniannya dengan menambahkan ruang usaha baik berupa workspace dan/atau showroom. Berdasarkan kriteria pemilihan sampel tersebut, diperoleh 11 unit hunian yang memenuhi kriteria sebagai sampel penelitian (Gambar 1).

Gambar 1. Persebaran sampel hunian Morfologi pada spasial hunian dapat dilihat dari beberapa aspek sesuai variabel penelitian yang telah ditentukan, antara lain : 1) Fungsi ruang Fungsi hunian pada desa Sendangduwur sebelum berkembang menjadi desa wisata merupakan hunian biasa. Fungsi ruang pada huniannya sesuai kebutuhan dan sifat dasar ruang sebagai ruang sosialisasi (ruang tamu, ruang keluarga dan teras), ruang istirahat (kamar mandi dan kamar tidur) dan ruang pelayanan/pendukung (dapur, ruang makan, gudang dan garasi). Perubahan pada spasial sampel hunian ini berupa penambahan ruang usaha atau perubahan fungsi ruang dalam hunian menjadi ruang usaha dapat berupa workspace dan/atau showroom. Perubahan fungsi ruang pada beberapa sampel hunian yang menambah workspace ditunjukkan cenderung menambahkan ruang secara horizontal maupun vertikal atau mengganti fungsi ruang pendukung/pelayanan (dapur). Perubahan fungsi ruang pada beberapa sampel hunian yang menambah showroom ditunjukkan dengan mengganti fungsi ruang sosialisasi (ruang tamu) menjadi ruang usaha. Perubahan pada fungsi ruang hunian mempengaruhi fungsi umum hunian menjadi hunian usaha dan menyebabkan pengurangan fungsi-fungsi dasar ruang hunian. Pengurangan fungsi ruang pendukung maupun ruang sosialisasi digunakan untuk pengembangan usaha hunian yang bergerak di bidang kerajinan batik tulis untuk meningkatkan perekonomian penghuninya. Denah awal hunian Denah tahun 2015 Denah awal hunian Denah tahun 2015 Hunian sampel 11 Hunian sampel 3 Gambar 2. Fungsi ruang

2) Dimensi ruang Pada hunian yang dijadikan sampel pada penelitian ini terdapat ruang-ruang pembentuk hunian yang memiliki dimensi panjang dan lebar yang membentuk besaran ruang sesuai kebutuhan pengguna ruang. Dimensi pada spasial sampel hunian di desa Sendangduwur menggunakan 30%-40% dari tapak hunian yang sebagian besar ruang pada spasial huniannya digunakan sebagai tempat berhuni. Perubahan dimensi ruang pada beberapa sampel hunian dikarenakan adanya penambahan ruang secara horizontal ke arah samping dan/atau belakang hunian yang memiliki kelebihan ruang luar pada tapak hunian. Penambahan ruang pada hunian menyebabkan dimensi hunian meningkat mencapai 40%- 60% dari tapak hunian. Pada beberapa sampel hunian tidak terdapat perubahan pada dimensi spasial huniannya karena pada sampel hunian tersebut hanya melakukan perubahan fungsi ruang. Pergantian fungsi ruang ini menyebabkan dimensi spasial dalam hunian mengalami perubahan baik penambahan maupun pengurangan area pada fungsi ruang tertentu. Denah awal hunian Denah tahun 2015 Denah awal hunian Denah tahun 2015 Hunian sampel 11 Hunian sampel 3 Gambar 3. Dimensi ruang 3) Zona ruang Zona ruang pada spasial sampel hunian sebelum berkembang terbagi menjadi zona publik yang tersusun dari ruang sosialisasi, zona semipublik yang tersusus dari ruang pendukung/pelayanan dan zona privat yang tersusun dari ruang istirahat. Pembangian zona pada spasial sampel hunian juga dibedakan sesuai pengguna ruang dalam hunian, penghuni dan/atau pengunjung/tamu. Perubahan zona yang ditemukan pada beberapa sampel hunian umumnya pada bagian samping dan/atau belakang hunian berupa ruang luar hunian atau dapur menjadi perluasan zona semipublik. Hal ini dikarenakan terjadi perubahan fungsi ruang dengan menambahkan ruang berupa workspace yang digunakan oleh selain penghuni (pekerja). Perubahan zona juga ditemukan pada beberapa sampel hunian dengan penambahan zona publik pada bagian depan hunian karena terdapat penambahan berupa ruang pamer atau showroom. Sedangkan ruang-ruang pembentuk zona privat hunian cenderung mengalami pengurangan. Pengurangan zona privat ini dikarenakan penggunaan ruang penyusun zona privat menjadi ruang penyusun zona semipublik.

Denah awal hunian Denah tahun 2015 Denah awal hunian Denah tahun 2015 Hunian sampel 11 Hunian sampel 3 Gambar 4. Zona ruang 4) Sirkulasi Pada hunian yang dijadikan sampel pada penelitian ini sebelum berubah menjadi hunian usaha sirkulasinya lebih difungsikan oleh penghuni dengan bentuk konfigurasi sirkulasi linier bercabang. Perubahan sirkulasi pada spasial hunian dapat dilihat dari fungsi sirkulasi dan konfigurasi sirkulasi pada spasial hunian. Perubahan fungsi sirkulasi ini ditunjukkan dengan penambahan fungsi sirkulasi bagi pekerja dan/atau pengunjung pada hunian. Perubahan sirkulasi pada spasial hunian dengan penambahan fungsi sirkulasi tidak menyebabkan perubahan konfigurasi sirkulasi pada spasial hunian. Konfigurasi sirkulasi yang terbentuk merupakan kombinasi bentuk sirkulasi linier bercabang dengan konfigurasi sirkulasi radial yang memanfaatkan ruang luar hunian sebagai pusat sirkulasi dan penghubung antar ruang luar hunian dengan ruang dalam hunian. Keterangan : Sirkulasi penghuni Sirkulasi pekerja Sirkulasi pengunjung/tamu Denah awal hunian Denah tahun 2015 Denah awal hunian Denah tahun 2015 Hunian sampel 11 Hunian sampel 3 Gambar 5. Sirkulasi Hasil analisis pada seluruh sampel hunian didapatkan perubahan pada spasial hunian. perubahan pada spasial hunian dapat dilihat dari perubahan fungsi ruang, dimensi ruang, zona ruang dan sirkulasi. Perubahan pada spasial hunian pada seluruh sampel hunian karena kebutuhan penghuni untuk melakukan kegiatan produksi batik tulis. Pemenuhan kebutuhan ini ditunjukkan dengan penambahan workspace yang memanfaatkan ruang yang ada maupun menambahkan ruang pada bagian samping dan/atau belakang hunian. Perubahan pada spasial hunian juga untuk meningkatkan perekonomian keluarga dengan mempromosikan kerajinan batik tulis. Oleh karena itu, pada beberapa sampel hunian yang

bergerak pada usaha kerajinan batik tulis melakukan penambahan showroom pada spasial huniannya. 3.2 Sintesis Morfologi Spasial Hunian Hasil analisis pembahasan mengenai identifikasi dan analisis morfologi spasial hunian di desa Sendangduwur Kabupaten Lamongan diperoleh hasil sintesis sebagai berikut: Tabel 1. Sintesis morfologi spasial hunian Variabel Fungsi Dimensi Zona Sirkulasi Keterangan Perubahan fungsi ruang pada hunian cenderung menambah maupun mengganti fungsi ruang menjadi ruang usaha baik berupa workspace dan/atau showroom yang menyebabkan fungsi dasar hunian mengalami perubahan dengan pengurangan maupun penambahan jenis ruang serta menyebabkan fungsi umum hunian berubah menjadi hunian usaha. Adanya penambahan fungsi ruang pada spasial sampel hunian dengan menambah ruang secara horizontal ke arah samping, depan dan belakang hunian menyebabkan dimensi hunian meningkat hingga 40%-60% untuk hunian yang memiliki sisa ruang luar tapak hunian. Selain itu perubahan fungsi ruang pada hunian menyebabkan perubahan dimensi pada fungsi ruang tertentu, namun tidak menyebabkan perubahan dimensi hunian, biasa terjadi pada hunian yang telah menggunakan tapak huniannya secara maksimal. Perubahan zona hunian cenderung mengalami penambahan dengan perluasan zona semipublik pada bagian samping dan belakang hunian dengan memanfaatkan ruang luar tapak hunian atau ruang hunian yang ada. Serta penambahan dengan perluasan zona publik pada bagian depan hunian dengan mengganti fungsi ruang sosialisasi menjadi ruang usaha berupa showroom. Perubahan sirkulasi pada spasial sampel hunian dengan penambahan fungsi sirkulasi bagi pekerja dan pengunjung yang dikarenakan adanya ruang dengan fungsi lain selain untuk berhuni. Namun, penambahan ruang pada hunian tidak menyebabkan konfigurasi sirkulasi berubah tetap berupa linier bercabang dan dikombinasikan dengan konfigurasi sirkulasi radial yang menggunakan ruang luar tapak hunian sebagai pusat sirkulasi. 4. Kesimpulan Morfologi spasial hunian di desa Sendangduwur dapat diketahui sesuai variabel penelitian yang telah ditentukan, yaitu fungsi ruang, dimensi ruang, zona ruang dan sirkulasi. Perubahan pada fungsi ruang cenderung menambahkan showroom dan/atau workspace yang menjadikan hunian sebagai hunian usaha. Penambahan ruang yang menggunakan ruang luar tapak hunian menyebabkan penambahan dimensi hunian ke arah samping, depan dan belakang hunian. Sehingga zona ruang pada spasial hunian mengalami perubahan dengan penambahan area pada zona publik dan zona semipublik. Perubahan pada spasial hunian sampel hunian juga mempengaruhi sirkulasi pada spasial hunian yang ditunjukkan pada penambahan fungsi sirkulasi dan adanya kombinasi konfigurasi sirkulasi pada spasial hunian. Perubahan yang terjadi pada sampel hunian ini dikarenakan kebutuhan pengembangan usaha batik tulis dan keinginan untuk meningkatkan perekonomian keluarga melalui kerajinan batik tulis. Adanya faktor pendorong perubahan pada spasial hunian dimungkinkan bertambahnya hunian usaha pada desa Sendangduwur. Adanya kemungkinan tersebut maka dalam perkembangannya diperlukan kesiapan dalam menata hunian masyarakat agar tercipta keselarasan dalam permukiman sebagai fungsi hunian dan fungsi usaha.

Daftar Pustaka Cahyandari, G. O. I, 2012, Tata Ruang dan Elemen Arsitektur pada Rumah Jawa di Yogyakarta sebagai Wujud Kategori Pola Aktivitas dalam Rumah Tangga, Jurnal Arsitektur KOMPOSISI, Volume 10 Nomor 2 Oktober Tahun 2012, hlm. 102-118 Ching, F. D. 2008. Arsitektur Bentuk, Ruang dan Tatanan. Edisi ketiga. Cetakan I. Terjemahan Hanggan Situmorang. Jakarta: Penerbit Erlangga. Redanti, O. A. A. 2011. Pola Spasial Permukiman Pengrajin Reog Ponorogo (Studi Kasus: Kelurahan Tambakbayan Ponorogo). Skripsi tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya. Osman, W.W. & Amin S. 2012. Rumah Produktif: sebagai Tempat Tinggal dan Tempat Bekerja di Permukiman Komunitas Pengrajin Emas (Pola Pemanfaatan Ruang pada Usaha Rumah Tangga). Prosiding 2012 Hasil Penelitian Fakultas Teknik Grup Teknik Arsitektur: TA12-1 TA12-10. Makassar: Universitas Hasanuddin. Purnamasari, L. S., Antariksa, & Noviani Suryasari. 2009. Pola Tata Ruang Dalam Rumah Tinggal Masa Kolonial di Kidul Dalem Malang. Jurnal Arsitektur. III (1):40-53. Malang: Universitas Brawijaya. Ulfa, S. M., Antariksa, & Ema Yunita Titisari. 2011. Pola Tata Ruang Rumah Tinggal Kuno Desa Bakung Kecamatan Udanwaru Blitar. E-Journal. Volume 4 Nomor 1 Maret, hlm. 39-54.