Wayan Santrayana Maya Rupa

dokumen-dokumen yang mirip
Sambutan Presiden RI pada Peresmian Pesta Kesenian Bali ke-35, Denpasar, 15 Juni 2013 Sabtu, 15 Juni 2013

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN. kebenaran, hal ini terkait sekali dengan realitas.

DESKRIPSI KARYA TARI KREASI S O M Y A. Dipentaskan pada Festival Nasional Tari Tradisional Indonesia di Jakarta Convention Centre 4-8 Juni 2008

KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL

I. PENDAHULUAN. pengalaman dan pengamatan penulis dalam melihat peristiwa yang terjadi

BAB I PENDAHULUAN. karya dihasilkan dari imajinasi dan temporer seniman. Batasan dari cetak tradisional,

Patung dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB III PROSES PENCIPTAAN KARYA. memberikan ingatan segar kembali akan pengalaman-pengalaman kita dimasa

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang GALERI SENI RUPA SINGARAJA

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Raymond Williams dalam Komarudin (2007: 1).

Sambutan Presiden RI pada Pembukaan Pesta Kesenian Bali ke-32, 12 Juni 2010 Sabtu, 12 Juni 2010

PROPOSAL KARYA. PAMERAN SENI RUPA NUSANTARA 2009 MENILIK AKAR Galeri Nasional Indonesia Mei Nama : Sonny Hendrawan

Kuratorial Pameran; On Material(ity) pasir dan semen yang dijual di toko material. Material disini bermaksud on material ; diatas-material.

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB I PENDAHULUAN. dapat dilakukan dengan mudah dan cepat, yakni dengan penggunaan handphone

BAB I PENDAHULUAN. Selain unsur visualisasi, teknik sapuan kuas yang ada di atas kanvas juga

: RISTIYANTO CAHYO WIBOWO. : TEGAL KOPEN RT 19/RW 29 NO.822 BAHAN DAN MEDIA : POTONGAN POTONGAN MAJALAH, DRAWING PEN, PEN COLOUR DI ATAS KERTAS.

BAB I PENDAHULUAN PUSAT PENDIDIKAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL MODERN DI YOGYAKARTA

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB I PENDAHULUAN. secara sadar dengan tujuan untuk menyampaikan ide, pesan, maksud,

3. Bagaimana menciptakan sebuah ruangan yang dapat merangsang emosi yang baik untuk anak dengan menerapkan warna-warna di dalam interior?

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sastra bersumber dari kenyataan yang berupa fakta sosial bagi masyarakat sekaligus sebagai pembaca dapat

BAB I GALERI SENI RUPA DI YOGYAKARTA

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, kiranya. telah cukup menjawab berbagai permasalahan yang diajukan

BAB I PENDAHULUAN Potensi Kota Yogyakarta Sebagai Kota Budaya Dan Seni

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Impressionisme adalah aliran seni yang pada mulanya melakukan

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Ibu adalah wanita yang telah melahirkan seseorang. Sebutan ibu mungkin

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan

DESKRIPSI DUKUH SILADRI. Dipentaskan pada Festival Seni Tradisional Daerah se- MPU di Mataram, Nusa Tenggara Barat 1 Agustus 2010

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mata pencaharian dengan hormat dan jujur. Dalam versi yang lain seni disebut. mempunyai unsur transendental atau spiritual.

III. PROSES PENCIPTAAN

Berbagai Catatan atas Tesis S-2 Grace Samboh PEMETAAN RUANG SENI RUPA YANG MENYATAKAN-DIRI KONTEMPORER DI BALI

BAB I PENDAHULUAN. Seni grafis sudah jarang diminati, terutama yang masih menggunakan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Secara institusional objek sosiologi dan sastra adalah manusia dalam masyarakat,

PENGANTAR HUKUM INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SELASAR SENI RUPA KONTEMPORER DI SURAKARTA (Penekanan Desain Arsitektur Morphosis)

BAB 7 PENUTUP. Visi Museum La Galigo belum menyiratkan peran museum sebagai pembentuk identitas Sulawesi Selatan sedangkan misi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Prio Rionggo, 2014 Proses Penciptaan Desain Poster Dengan Tema Bandung Heritage

Pelukis-pelukis Modern Indonesia dalam Perspektif Sosiohistoris

Wisuda XIV Universitas Pendidikan Ganesha

48. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SENI BUDAYA SMA/MA/SMK/MAK

UNDANGAN TERBUKA PAMERAN BESAR SENI RUPA 2016 Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

BAB I PENDAHULUAN. Seni atau art berasal dari kata dalam bahasa latin yaitu ars, yang memiliki arti

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari-hari, kita ketahui terdapat beberapa jenis seni yang di

I. PENDAHULUAN. Tari adalah gerak-gerak dari seluruh bagian tubuh manusia yang disusun selaras

BAB I PENDAHULUAN. menjadi sangat cepat. Begitu pula dengan gaya hidup masyarakat yang juga

2015 ANALISIS DESAIN ALAT MUSIK KERAMIK DI DESA JATISURA KECAMATAN JATIWANGI KABUPATEN MAJALENGKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Latar Belakang Pengadaan Proyek Gambar 1.1. Diagram Kebutuhan Maslow

BAB VI KESIMPULAN. kesenian yang khas. Konsep akan yang indah (beauty) itu sendiri seiring waktu

BAB I PENDAHULUAN. ditentukan oleh bagaimana ia memperoleh pendidikan, perlakuan, dan. kepengasuhan pada awal-awal tahun kehidupannya (Santoso, 2002)

PASAR SENI DI DJOGDJAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Sunda memiliki identitas khas yang ditunjukkan dengan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. a. Langer terkesan dengan pengembangan filsafat ilmu yang berangkat

DESKRIPSI KARYA KRIYA PRODUK BASKOM KAYU

BAB V PEMBAHASAN. Pada bab V ini akan disajikan pembahasan pada produk final hasil

BAB IV PENUTUP. masyarakat Eropa pada umumnya. Semangat revolusi Perancis sangat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SOLO FINE ART SPACE BAB I PENDAHULUAN

DICIPTAKAN OLEH: TJOKORDA UDIANA NINDHIA PEMAYUN

BAB I PENDAHULUAN. Seni lukis ini memiliki keunikan tersendiri dalam pemaknaan karyanya.

BAB I PENDAHULUAN. kontemplasi dan refleksi setelah menyaksikan berbagai fenomena. kehidupan dalam lingkungan sosialnya (Al- Ma ruf 2009: 1).

BHISMA DEWABHARATA (BABAK I)

TOKOH LEGENDA ENDANG DHARMA AYU SEBAGAI GAGASAN BERKARYA DRAWING

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Bagan 3.1 Proses Berkarya Penulis

DESKRIPSI SENDRATARI KOLOSAL BIMA SWARGA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. kebudayaan, maupun lingkungan kehidupan masyarakat. Alam dapat dikatakan. terpisahkan antara manusia dengan lingkungan alam.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia seperti wayang, batik, keris, angklung, reog. Wayang adalah salah satu

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian tradisional pada Masyarakat Banten memiliki berbagai

BAB I PENDAHULUAN. baru, maka keberadaan seni dan budaya dari masa ke masa juga mengalami

A. LATAR BELAKANG MASALAH

RUANG KREASI DESAIN ARSITEKTUR DAN INTERIOR

berpengaruh terhadap gaya melukis, teknik pewarnaan, obyek lukis dan lain sebagainya. Pembuatan setiap karya seni pada dasarnya memiliki tujuan

1) Nilai Religius. Nilai Nilai Gamelan Semara Pagulingan Banjar Teges Kanginan. Kiriman I Ketut Partha, SSKar., M. Si., dosen PS Seni Karawitan

GEDUNG WAYANG ORANG DI SOLO

BAB III METODE PENCIPTAAN. keluar dari kegelisahan tersebut. Ide/gagasan itu muncul didorong oleh keinginan

B. Jumlah Peserta Pameran Guru yang diikutkan dalam kegiatan pameran secara keseluruhan akan

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

LAPORAN REKTOR ISI DENPASAR SIDANG TERBUKA SENAT ISI DENPASAR

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: ENERJIK. PENCIPTA : IDA AYU GEDE ARTAYANI. S.Sn, M. Sn

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

DESKRIPSI TARI TABUH TUAK OLEH : I Gede Oka Surya Negara,SST.,M.Sn

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penciptaan Adi Khadafi, 2013

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Tahun 2013

KARYA ILMIAH: KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: MELASTI PENCIPTA: A.A Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si. Art Exhibition

BAB I PENDAHULUAN. Jika kita berbicara tentang peradaban manusia, tidaklah akan lepas dari persoalan seni dan

II. KAJIAN PUSTAKA. A. Sumber Pustaka. sangat cemerlang dan sangat indah. Untuk menjadi kupu-kupu yang. Kupu-kupu memiliki banyak jenis dan memiliki

BAB I PENDAHULUAN. Melalui perjalanan panjang sejarah, seni sebagai bidang khusus dalam pemahamannya telah mengalami banyak perubahan.

2015 PENCIPTAAN KARAKTER SUPERHERO SEBAGAI SUMBER GAGASAN BERKARYA SENI LUKIS

Transkripsi:

Solo Painting Exhibition Wayan Santrayana Maya Rupa Maya Rupa 1

Kata Sambutan Maya Rupa Om Swastiastu (Kesadaran Garis Wayan Santrayana) Membuka lembaran baru ditahun 2016, Santrian Gallery mempersembahkan sebuah pameran yang menampilkan karyakarya teranyar pelukis yang juga merupakan seorang pendidik I Wayan Santrayana. Ia adalah sosok guru seni rupa yang memiliki idealism tinggi, karena selain disibukkan dengan kegiatan mengajar di sekolah menengah seni rupa tangannya tidak pernah berhenti untuk selalu mengoreskan drawing, melukis di kanvas. Setiap tahun Ia selalu melahirkan karya-karya yang mewakili rekam jejaknya sebagai pelukis yang tetap produktif. Seperti karya-karya yang hadir sekarang ini, merupakan cipta karsa periode terakhirnya yang diberi tajuk Maya Rupa, dengan bangga kami hadirkan kehadapan khalayak apresian semua. Sudah menjadi visi kami, Santrian Gallery untuk selalu memberi ruang apresiasi bagi perkembangan seni rupa Bali. Ini adalah wujud darma bakti kami kepada medan sosial seni rupa Bali yang sangat kaya akan kosa rupa yang membentang dari kosa rupa tradisi, modern, dan seni rupa hari ini (kontemporer). Sejak awal berdiri hingga sekarang, para perupa baik individu maupun berkelompok, baik yang muda maupun yang sudah lama malang melintang dalam percaturan seni rupa lokal, nasional bahkan internasional. Telah silih berganti kami persilakan untuk mempresentasikan hasil-hasil pencapaian kreatif mereka kehadapan apresiatornya. Tak hanya perupa Bali, Indonesia, tapi juga dari negeri manca. Terakhir kata, kami ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat hingga menjadikan program pameran ini dapat terselenggara dengan baik. Om Shanti, Shanti, Shanti, Om Owner Santrian Gallery Ida Bagus Gede Sidarta Putra Oleh: I Wayan Seriyoga Parta Membuat karya seni memang bukan hanya sekedar perkara teknis semata, tetapi juga menyangkut perkara ide, pemikiran dan imajinasi. Dengan itu, soal apa yang akan dituangkan atau dilukis menjadi perkara yang terpenting bagi seorang seniman. Hal yang dituangkan adalah ide (ide-ide kreatif), ide tersebut datang dari imajinasi dan diolah di dalam pikiran. Dan bagi seniman yang terpenting adalah melahirkan pemikiran yang kreatif-imajinatif. Dalam pemikiran kreatif seniman akan mengutak-atik sebuah ide dan tak berhenti untuk mengimajinasikannya, atau dengan kata lain mensimulasikannya di dalam pikiran. Dari pergutan itu kemudian lahir menjadi daya kreativitas yang selanjutnya akan menuntun seorang seniman mewujudkan ide tersebut hingga mewujud di dalam karyanya. Sebagai seorang seniman, pergulatan kreatif itulah yang dijalani Wayan Santrayana dalam ruang dan waktu yang pernah putus. Dimanapun, dalam kesempatan apapun, (ia yang di sekolah diberi mandat untuk mengajar kelas drawing (sketsa) senantiasa selalu mengoreskan material pensil, drawing pen di kertas yang selalu setia menemaninya. Dalam kehidupannya, Santrayana telah mampu membuat medan tersendiri bagi gerak laku kreativitasnya. Dalam suatu waktu dan kesempatan dia akan selalu bisa menyempatkan diri khusuk dalam menuangkan ide-imajinasinya sembari juga terus mengulatkannya di dalam pikiran. Perjalanan kreativitasnya dalam seni lukis terbilang panjang, tercatat pameran bersama telah dia ikuti sejak tahun 1986 dan tahun 1993 ia telah memberanikan diri untuk tampil secara tunggal di Art Center Denpasar. Dalam penggalian bahasa visual Santrayana memulai dengan mengangkat figur ikonik yang bersumber dari bahasa rupa wayang. Penulis seni rupa Hardiman menjelaskan soal pemilihan berdasarkan dengan cara wimba Bali tersebut dengan menguraikan aspek visual dalam karya Santrayana. 2 Maya Rupa Maya Rupa 3

Menurut Hardiman hal itu dapat diperiksa dari penggambaran objek figur yang badannya tampak menghadap ke depan, kaki tampak menyamping, dan kepala tampak tiga perempat. Penyusunan objekobjek ini mengikuti juga cara penyusunan dalam tradisi wayang. Kecenderungan eksplorasi rupa yang berkarakteristik wayang itu dilakoni sejak awal tahun 1990an. Santrayana yang pernah mengenyam medan kreatif Yogyakarta rupanya mendapat spirit dari diskursus kebudayaan nasional. Hingga tahun 1990an karakter kebudayaan nasional dirumuskan dari mengidentifikasi puncak-puncak kebudayaan sukusuku bangsa daerah. Wayang menempati posisi penting dalam konstelasi konseptual tersebut, terlebih kebudayaan Bali yang sudah lama berhasil menjadi benchmarks bagi model pengembangan lanskap kebudayaan tradisi dalam kondisi modernitas. Penggalian ikon-ikon sebagai penanda identitas kebudayaan menjadi spirit penting bagi ekpslorasi karya-karya seniman kala itu, termasuk juga mendasari laku kreativitas Santrayana. Membawa senimanseniman Indonesia termasuk Santrayana pada mencarian ikonik yang dikembangkan dari ikonografi wayang. Dalam kerangka konseptual arus besar itu, ia terbilang cukup jeli dalam mengolah dan mengauisisi ikografi kolektif itu menjadi karekter ikon pribadi yang diinjeksikan dengan tema-tema sosial masyarakat Bali. Tema-tema sosial digali dari kebudayaan pramodern, kehidupan bertani, nelayan serta kehidupan dalam lingkup kebudayaan tradisional Bali yang erat berkaitan dengan ritual dan upacara. Tema-tema itu cukup sentral kala itu karena Bali dan Indonesia tengah mengalami proses modernisasi yang bergerak dengan laju yang pesat, melalui perangkat-perangkat modernitas. Laku kreatif yang dijalani Santrayana tidak secara frontal mempersoalkan dinamika proses tengah terjadi yang oleh beberapa seniman ditanggapi secara kritis dan banal. Ia sepertinya memilih jalan yang lebih personal dengan khusuk pada eksplorasi bahasa rupa, sembari terus merekam arus perubahan yang disematkan dalam tema-tema karyanya. Perjalanan kreativitasnya tidak hanya berhenti di sana, semenjak paruh akhir dekade pertama tahun 2000an terjadi pergerakan dalam pemikiran kreatif Santrayana. Secara perlahan mulai muncul sebuah geliat pemikiran yang kemudian menggeser pencarian kreatif yang telah dilakoni sebelumnya. Dalam pencarian kreatif fase berikutnya Santrayana mulai menggeser subject matter karyanya, dari tematika diproyeksikan ke luar, menjadi penggalian ke dalam diri. Hal ini sejalan dengan kesadaran eksplorasi bahasa visual yang sebelumnya menyandarkan diri pada bentuk ikonik-wayang, berikutnya beralih pada kesadaran nir-bentuk. Dalam menapaki proses kreativitasnya kini, ia mencoba menghayati potensi elemen paling pendasar dari rupa yaitu garis. Ia mulai menyadari bahwa garis adalah bagian terpenting dari laku kreativitas yang dijalaninya setiap hari, seperti telah disebutkan di awal. Kesehariannya selama ini begitu lekat dengan garis, setiap saat, setiap kesempatan, tangannya selalu menggoreskan garis dalam kertas. Dan selama puluhan tahun di Sekolah Menengah Seni Rupa ia telah mengajarkan cara mengoreskan garis kepada murid-muridnya, dan dengan intens ia juga turut mempraktekkan langsung, memberi contoh pada para muridnya. Proses yang panjang dan intens tersebut kini mendapat saluran dalam ruang kesadaran baru, Santrayana menyatakan konsepnya itu sebagai usaha membahasarupakan alur pikiran atau jalan pikiran manusia yang sejatinya penuh dengan misteri. Ia menjelaskan pikiran manusia senantiasa menjadi menarik untuk digali lebih dalam, karena semua hal di dunia ini dimulai dari hasil pemikiran-pemikiran yang senantiasa bergerak dinamis, dan tidak pernah berhenti. Dan ia pun membiarkan pemikirannya berjalan sembari mengoreskan garis melalui warna, di dalam proses itu ia berusaha mengangkat pikiran alam bawah sadar yang lebih spontan dan tidak terbatasi dengan struktur linier bahasa. Dalam konsep De Saussure struktur bahasa tersebut terdiri langue dan parole, jika disederhanakan bisa dikatakan terdiri dari sistem dan fenomen. Secara struktural kedua aspek itu saling berelasi sehingga menghasilkan makna di alam kesadaran (conscious). Namun para bagi para pemikir lain (post-strukturalis), terutama dari disiplin psikoanalisa struktur linier bahasa bukan satu-satunya struktur pemaknaan dalam kehidupan ini, banyak struktur yang lain. Salah satunya adalah struktur bawah sadar (subsonscious) yang justru tidak linier, dan berdasarkan penelitian tokohnya Sigmund Freud struktur bawah sadar bahkan berpengaruh besar pada kedasaran manusia. 4 Maya Rupa Maya Rupa 5

Pikiran manusia digerakkan dalam mekanisme kesadaran (conscious), walaupun sebagaian besar aspek kesadaran tersebut dipengaruh oleh alam bawah sadar seperti tesis Freud. Pergolakan tentang peran pikiran dalam diri manusia telah dibahas sejak lama dalam agama dan filsafat, di dalam diskursus agama dan filsafat tubuh manusia dipisahkan antara badan dan jiwa. Tubuh sebagai badan diidentifikasi sebagai penggerak utama kehidupan manusia, tetapi jiwa juga bagian penting. Bahkan agama menyatakan tubuh sebagai jiwa adalah bagian yang paling murni yang disebut sebagai roh. Badan sangat dipengaruhi oleh pikiran, pergulatan Santrayana juga menyentuh pada diskursus tersebut, dalam penghayatan spiritualitasnya ia menyatakan perasaan kasih sayang, mencintai, benci, iri, sedih, sengsara, kebijaksanaan, merupakan perwujudan Maya Rupa pikiran. Pernyataan itu dapat dimaknai sebagai akumulasi dari pergulatan subjektif yang dijalani Santrayana selama ini. Sebagai seniman pergulatan ini kemudian menemukan relasi dalam eksplorasi rupa yang dijalaninya sejak beberapa tahun belakangan. Mewujud dalam kreativitas rupa yang diberi judul sebagai Maya Rupa. Bagi penulis, konsepsi perihal maya tersebut merupakan sebuah usaha untuk men-subject matter-kan pikiran, yang melahirkan eksplorasi nir-bentuk (abstraksi). Pencarian yang mengarah pada esensi rupa ini tidak harus dimaknai sebagai eksplorasi ensensialistik seperti yang dilakoni oleh kaum formalisme Barat di abad lalu. Eksplorasi Santrayana berjalan beriringan antara eksplorasi nilai artistik dan nilai penghayatan makna-makna yang subjektif. Penghayatannya telah menjadi bagian yang sangat subjektif dalam diri dan dunia kreativitasnya. Gelaran pameran tunggalnya kali ini adalah sebuah upaya untuk menawarkan nilai penghayatan subjektif tersebut, kehadapan subjek-subjek lain yaitu para apresian. Maka dari itu, pameran ini tidak hanya menjadi ajang untuk karya dan pencapaian estetik semata, di dalamnya juga terjadi sirkulasi komunikasi intersubjetif yang bersandar dari karya itu sendiri. Yogyakarta, Maret 2016 Maya Rupa Sebuah Kesadaran Awal dari Proses Panjang Wayan Santrayana Maya rupa yaitu sebuah konsep mengenai usaha membahasarupakan alur pikiran atau jalan pikiran manusia yang sejatinya penuh dengan misteri. Pikiran manusia senantiasa menjadi menarik untuk digali lebih dalam, karena semua hal di dunia ini dimulai dari hasil pemikiran-pemikiran yang senantiasa bergerak dinamis, dan tidak pernah berhenti tersebut. Tidak jarang pikiran yang dinamis tersebut menjadi liar dan tidak terkendali, saat ia bertemu dengan materi atau objek yang lainnya sehingga membentuk lahirnya sebuah objek baru. Pikiran akan menentukan bagaimana rupa seorang manusia yang dapat dilihat dengan kasat mata. Perasaan kasih sayang, mencintai, benci, iri, sedih, sengsara, kebijaksanaan, merupakan perwujudan Maya Rupa pikiran. Maya Rupa pikiran menentukan apakah seorang manusia akan menjadi manusia yang baik dan bijak? Atau apakah seorang manusia tersebut akan menjadi seorang yang buruk dan serakah? Kembali lagi, baik dan buruk tersebut adalah merupakan hasil persepsi yang dijustifikasi oleh pikiran manusia. Begitulah cara kerja pikiran dalam membentuk dan melahirkan suatu hal di dunia ini, dan begitu pula pikiran yang memberi penilaian dan apresiasi terhadap objek tersebut. Saya berusaha mengangkat misteri tentang bagaimana cara kerja pikiran manusia lewat garis-garis yang seolah tidak berarah dalam lukisan saya. Namun jika diperhatikan, ketika satu garis dengan garis yang lainnya bertemu maupun berseberangan akan membentuk suatu bentuk rupa-rupa baru. Persepsi orang yang berbeda akan mengantarkan setiap orang pada pencarian dan penemuan rupa yang berbeda pula ketika melihat karya Maya Rupa tersebut. 6 Maya Rupa Maya Rupa 7

MAYA RUPA I, 2015, 150 x 300 cm, acrylic on canvas 8 Maya Rupa Maya Rupa 9

MAYA RUPA II, 2015, 150 x 300 cm, acrylic on canvas MAYA RUPA III, 2015, 150 x 300 cm, acrylic on canvas 10 Maya Rupa Maya Rupa 11

MAYA RUPA IV, 2015, 140 x 240 cm, acrylic on canvas 12 Maya Rupa Maya Rupa 13

Teka Teki I, 2015, 120 x 130 cm, acrylic on canvas Teka Teki II, 2015, 120 x 130 cm, acrylic on canvas 14 Maya Rupa Maya Rupa 15

Testimonial Senggama Bumi, 2015, 120 x 130 cm, acrylic on canvas 16 Maya Rupa Maya Rupa 17

I Wayan Santrayana, S.Pd, M.Pd TTL : 29 September 1965 Alamat : Jl. Ida Bagus Japa, Br. Pagutan Kaja, Batubulan, Gianyar-Bali Pekerjaan : Guru Seni Lukis di SMKN 1 Sukawati (SMSR) E-mail : wayan.santrayana@gmail.com Phone : 081-337-644-027 PENGALAMAN PAMERAN Pameran Bersama: 1986 Pameran Bersama Para Seniman Muda di Taman Budaya Denpasar 1992 Pameran Pesta Seni Denpasar 1992 Pameran Bersama Camps Group di Hotel Campuan Ubud 1992 Pameran Dalam Rangka Dies Natalis STSI 1992 Pameran Seni Rupa 4 Kota Di Bandung 1992 Pameran Bersama Sanggar Dewata Indonesia di Museum Gunarsa 1993 Pameran di Hotel Nusa Dua Beach 1997 Pemaran Bersama di Museum Ratna Warta Ubud 1998 Pameran Bersama di Lugano Switerland 2000 Pameran Bersama Sanggar Dewata Menyambut Millenium 2000 Pameran Menyambut Kunjungan Para Menteri Pendidikan Asea di Ruang Pameran SMKN. 1 Sukawati ( SMSR) 2006 Pameran Gema Perdamaian Bersama Komunitas Tamiang Bali 2007 Pameran Voice Of Peace From Bali di Brussel ( Belgia) 2007 Pameran Seniman Peduli Di Multi Art Gallery, Nusa Dua 2007 Pameran Bersama di Gedung Pers Pancasila Jakarta. 2008 Pemeran Bersama di BCC ( Bali Classic Centre) Ubud 2008 Finalis Festival Seni Internasional 2008 di Yogyakarta 2008 Pameran Festival Seni Nasional di Gedung Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 2009 Pameran Bersama 50 Tahun Sanggar Bambu, Yogyakarta 2009 Pameran Gebrak Guru Gambar, Yogyakarta 2010 Pameran Edu Art Expo 2010, Solo 2014 Pameran Seni Rupa Tingkat Nasional V, Geledah Kreasi Guru Seni 2014, Taman Budaya, Yogyakarta. 2015 Pameran Seni Rupa Tingkat Nasional VI, Pro Eduart Expressio, Taman Budaya, Yogyakarta 2015 Pameran Tutur Nyatur, Bentara Budaya Bali Pameran Tunggal: 1993 Pameran Tunggal di Art Center Denpasar 1994 Pameran Tunggal di Museum Bali 2000 Pemeran Tunggal di Bali International Convention Centre Sheraton Nusa Indah Nusa Dua 2006 Pameran Tunggal di Ganesha Gallery, Four Season Hotel Jimbaran, Bali 2007 Pameran Tunggal di Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi) 18 Maya Rupa Maya Rupa 19

CHOLOPON Texts : I Wayan Seriyoga Parta Design & Layout : D ANSWER Production Photography : Artist Collection Edition : 100 copies All right reserved. No part of this catalog may be reproduced or transmitted in any formsor means, electronic or mechanical, including any information storage and retrieval system, without the prior permission in writing from the publisher. Ucapan Terima Kasih: - Bhakti dan syukur pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, berkat Beliau-lah pameran ini dapat terselenggara. - Terima kasih kepada Griya Santrian Gallery and Resort atas kesempatan kerjasamanya. -Terima kasih kepada Saudara Dollar Astawa atas bantuan untuk memfasilitasi pameran ini. -Terima kasih kepada bli Nyoman Erawan atas kesediaanya membuka pameran ini. - Saudara Wayan Seriyoga Parta atas kesediaanya menulis dan kuratorial pameran ini di sela kesibukannya yang begitu padat. -Keluargaku tercinta yang selama ini senantiasa memberi dukungan dan semangat untuk berkarya. semoga semua berbahagia 20 Maya Rupa