BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang ikut

BAB I PENDAHULUAN. sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. didasarkan pada penyimpangan kondisi sehat. Pengukuran sebenarnya

BAB I PENDAHULUAN. sudah dimulai sejak 1000 tahun sebelum masehi yaitu dengan perawatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Kualitas hidup terkait dengan kesehatan mulut

ل ق د خ ل ق ن ا ال إ ن س ان ف ي أ ح س ن ت ق و يم

I. PENDAHULUAN. Gigi adalah alat pengunyah dan termasuk dalam sistem pencernaan tubuh

BAB I PENDAHULUAN. wajah yang menarik dan telah menjadi salah satu hal penting di dalam kehidupan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah observational analitik dengan desain

BAB 1 PENDAHULUAN. Struktur penduduk dunia termasuk Indonesia mengalami peningkatan dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. Penampilan fisik mempunyai peranan yang besar dalam interaksi sosial.

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan umum seseorang banyak dipengaruhi oleh kesehatan gigi.

BAB 1 PENDAHULUAN. menunjukkan prevalensi nasional untuk masalah gigi dan mulut di Indonesia

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. fisik dan emosi (Lubis, 2005). Stres fisik dan stres psikis dapat dialami oleh

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit tertinggi ke enam yang

Lampiran 1 BESAR SAMPEL. d2 (N-1) + Z 2 1-α/2. P (1-P) Keterangan: n : Jumlah sampel yang dibutuhkan

BAB I PENDAHULUAN. mulut sejak dini. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai kebersihan mulut

BAB 1 PENDAHULUAN. yang optimal meliputi kesehatan fisik, mental dan sosial. Terdapat pendekatanpendekatan

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan aset berharga, tidak hanya bagi individu tetapi juga

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Karies gigi adalah proses perusakan jaringan keras gigi yang dimulai dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan rongga mulut merupakan bagian penting dalam kehidupan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kehilangan gigi geligi disebabkan oleh faktor penyakit seperti karies dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pengobatan (The World Oral Health Report 2003). Profil Kesehatan Gigi Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan mulut yang buruk memiliki dampak negatif terhadap tampilan wajah,

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Penampilan mulut dan senyum dapat berperan penting dalam. penilaian daya tarik wajah dan memberikan kepercayaan diri terhadap

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Rongga mulut merupakan gambaran dari kesehatan seluruh tubuh, karena

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. cepat di masa yang akan datang terutama di negara-negara berkembang, seperti

Komplikasi Diabetes Mellitus Pada Kesehatan Gigi

1. Mitos: Menyikat gigi beberapa kali sehari merugikan enamel.

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. serta pembinaan kesehatan gigi terutama pada kelompok anak sekolah perlu

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. disebabkan oleh penggunaan susu botol atau cairan lainnya yang termasuk karbohidrat seperti

BAB I PENDAHULUAN. menjadi penerus bangsa sehingga mereka harus dipersiapkan dan. yang sehat jasmani dan rohani, maju, mandiri dan sejahtera menjadi

DEPARTEMEN KEDOKTERAN GIGI PENCEGAHAN/ PENYULUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA PENDERITA TUNANETRA USIA TAHUN ( KUESIONER )

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan sosialnya (Monica, 2007). Perawatan ortodontik merupakan salah

KUALITAS HIDUP REMAJA SMA NEGERI 6 MANADO YANG MENGALAMI MALOKLUSI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kementerian Kesehatan Tahun 2010 prevalensi karies di Indonesia mencapai 60

KUESIONER ORANG TUA EFEK PSIKOSOSIAL PADA ANAK USIA 3-5 TAHUN YANG MEMILIKI KARIES TINGGI DAN KARIES RENDAH. Tanggal Lahir :...

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini masyarakat semakin menyadari akan kebutuhan pelayanan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mukosa mulut yang bersifat kambuhan, merupakan salah satu lesi mulut yang

BAB 2 PROTRUSI DAN OPEN BITE ANTERIOR. 2.1 Definisi Protrusi dan Open Bite Anterior

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tindakan perawatan dalam bidang kedokteran gigi yang paling sering

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. penyakit sistemik. Faktor penyebab dari penyakit gigi dan mulut dipengaruhi oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi dan radang gusi (gingivitis) merupakan penyakit gigi dan

Prosiding SNaPP2015 Kesehatan pissn eissn ¹Yuanita Lely Rachmawati, ²Merlya Balbeid, ³Vareyna Dian Nanda

BAB 1 PENDAHULUAN. ini. Anak sekolah dasar memiliki kerentanan yang tinggi terkena karies,

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. turut berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang. Berdasarkan hasil

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang hidup dengan perilaku dan lingkungan sehat,

BAB I PENDAHULUAN. sosial emosional. Masa remaja dimulai dari kira-kira usia 10 sampai 13 tahun dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Jumlah perokok di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

CROSSBITE ANTERIOR. gigi anterior rahang atas yang lebih ke lingual daripada gigi anterior rahang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. empat tipe, yaitu atrisi, abrasi, erosi, dan abfraksi. Keempat tipe tersebut memiliki

BAB 1 PENDAHULUAN. (SKRT, 2004), prevalensi karies di Indonesia mencapai 90,05%. 1 Riset Kesehatan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Awal Kanker Rongga Mulut; Jangan Sepelekan Sariawan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kehilangan gigi menyebabkan pengaruh psikologis, resorpsi tulang

BAB 1 PENDAHULUAN. Kesehatan mulut merupakan hal penting untuk kesehatan secara umum dan kualitas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. periodontal seperti gingiva, ligament periodontal dan tulang alveolar. 1 Penyakit

"KAJIAN KEBUTUHAN MASYARAKAT AKAN PELAYANAN KESEHATAN GIGI SEBAGAI DASAR PERTIMBANGAN REVISI STANDAR PENDIDIKAN-STANDAR KOMPETENSI DOKTER GIGI"

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. adalah anak yang mengalami gangguan fisik atau biasa disebut tuna daksa.

Gambaran Status Karies Gigi Pada Mahasiswa Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Jakarta 1,2008

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan mukosa rongga mulut dapat disebabkan oleh banyak hal, antara lain

BAB I PENDAHULUAN. beberapa komponen penting, yaitu sendi temporomandibula, otot

BAB V HASIL PENELITIAN

Lampiran I LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBYEK PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tahun. Selama masa pembelajaran, mahasiswa diharapkan dapat menguasai

DAMPAK KESEHATAN RONGGA MULUT TERHADAP KUALITAS HIDUP MENGGUNAKAN INDEKS OIDP PADA SISWA SMP AL-AZHAR MEDAN

Sri Junita Nainggolan Jurusan Keperawatan Gigi Politeknik Kesehatan Kemenkes Medan. Abstrak

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) tahun 2013

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Skizofrenia merupakan sindroma klinis yang berubah-ubah dan sangat

BAB II KEADAAN JARINGAN GIGI SETELAH PERAWATAN ENDODONTIK. endodontik. Pengetahuan tentang anatomi gigi sangat diperlukan untuk mencapai

BAB I PENDAHULUAN. orang dewasa terdapat gigi tetap. Pertumbuhan gigi pertama dimulai pada

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu jenis maloklusi yang sering dikeluhkan oleh pasien-pasien

Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan/Kesehatan Gigi Masyarakat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kebersihan mulut merupakan hal yang sangatlah penting. Beberapa masalah

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu faktor penting untuk mencapai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pencegahan dan manajemen yang efektif untuk penyakit sistemik. Pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan

KARTU PENCATATAN ASUHAN KEPERAWATAN GIGI DAN MULUT

BAB 1 PENDAHULUAN. menumbuhkan kepercayaan diri seseorang. Gigi dengan susunan yang rapi dan

Gambar 1. Anatomi Palatum 12

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesehatan Rongga Mulut Masalah kesehatan rongga mulut diketahui sebagai faktor penting yang berdampak negatif terhadap kehidupan sehari-hari dan mempengaruhi kualitas hidup karena dapat mempengaruhi seseorang untuk menikmati hidup dan bersosialisasi. 4 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa penyakit mulut dapat menyebabkan rasa sakit, penderitaan, kendala psikologis, dan, gangguan dalam berinteraksi sosial. 4 Feitosa et al. menemukan bahwa karies gigi, yang merupakan masalah utama di masyarakat akan menyebabkan gangguan mengunyah, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, gangguan tidur, perubahan perilaku, dan kinerja sekolah yang rendah. Selain itu, kesehatan mulut yang buruk pada anak-anak dapat mengganggu kesejahteraan keluarga karena orang tua merasa bersalah terhadap masalah anak-anak mereka sehingga mereka memiliki ketidakhadiran kerja dan biaya perawatan gigi. 4 Di Brazil, Cortes et al. menunjukkan bahwa anak-anak sekolah yang mengalami traumatik pada gigi anterior dan tidak dirawat, akan mengalami dampak sosial yang lebih tinggi pada kehidupan sehari-hari mereka daripada anak-anak tanpa traumatik pada gigi anterior. Dampak negatif pada anak yang mengalami fraktur gigi anterior mengalami kesulitan makan, membersihkan gigi, tersenyum, tertawa tanpa malu, mempertahankan keadaan emosional yang stabil, dan ketidaknyamanan berinteraksi sosial dibandingkan dengan anak-anak yg tidak memiliki cedera traumatik anterior. 4 Selain gigi fraktur, lesi jaringan lunak, maloklusi, dan fluorosis gigi juga merupakan masalah gigi yang dijumpai pada remaja, tetapi masih sedikit dilakukan

penelitian pada keadaan tersebut karena beberapa penelitian memfokuskan terhadap fungsi, sosial, dan emosional pada anak-anak. 4 2.2 Kualitas hidup Berdasarkan perspektif kesehatan, kualitas hidup mengacu pada kehidupan sosial, emosional dan kesejahteraan pasien, sedangkan WHO mendefinisikannya sebagai dampak dari penyakit dan pengobatan terhadap kecacatan dan fungsi seharihari. Sehat biasanya dihubungkan dengan tidak adanya penyakit (diseases), keluhan sakit (illness) dan tidak ada gangguan dalam menjalankan peranan sosial seharihari. 11 Menurut WHO, kesehatan bukan hanya merupakan ada tidaknya suatu penyakit, tetapi juga meliputi kesehatan fisik, psikologi, dan kesejahteraan sosial. Slade dan S pencer mengembangkan indeks berskala untuk mengukur dampak sosial gangguan rongga mulut. Indikator ini selanjutnya menjadi alat ukur terhadap besarnya pengaruh ketidakseimbangan keadaan rongga mulut terhadap fungsi sosial dan psikologis pada seseorang individu yang dikelompokkan ke dalam 7 dimensi dampak sosial yaitu keterbatasan fungsi, nyeri fisik, ketidaknyamanan psikis, ketidakmampuan fisik, ketidakmampuan psikis, ketidakmampuan sosial dan hambatan. 6 Kesehatan juga bertujuan meningkatkan kualitas hidup. Untuk menggambarkan status kesehatan rongga mulut harus mencakup ada tidaknya penyakit, fungsi fisik (pengunyahan), fungsi psikis (rasa malu), fungsi sosial (peranan sosial sehari-hari), dan kepuasan terhadap dirinya. Untuk lebih menjelaskan definisi sehat dalam pengertian positif maka konsep sehat dihubungkan dengan kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan (health releted quality of life). 6,11 Kualitas hidup (quality of life) didefinisikan sebagai persepsi individual tentang kondisi kehidupannya dalam konteks sistem budaya dan nilai di mana mereka tinggal dan berhubungan dengan tujuan, harapan dan perhatiannya. Kesehatan rongga mulut dihubungkan dengan kualitas hidup didefinisikan sebagai

mati. 13 Karies gigi disebabkan banyak faktor seperti host atau tuan rumah, agen atau persepsi seseorang bagaimana kesehatan rongga mulut mempengaruhi kualitas hidup dan kesehatan secara keseluruhan dari individu tersebut. 12 2.2.1 Karies dan kualitas hidup anak Karies adalah kerusakan yang terbatas pada jaringan gigi mulai dari email gigi hingga menjalar ke dentin. Proses karies ditandai dengan terjadinya demineralisasi pada jaringan keras gigi, diikuti dengan kerusakan bahan organiknya. Proses ini ditandai timbulnya white spot pada permukaan gigi. Penjalaran karies mula-mula terjadi pada email. Bila tidak segera dibersihkan dan ditambal, karies akan menjalar ke bawah hingga sampai ke ruang pulpa yang berisi saraf dan pembuluh darah, sehingga menimbulkan rasa sakit dan akhirnya gigi tersebut bisa mikroorganisme, substrat atau diet dan faktor waktu. Beberapa faktor risiko karies adalah pengalaman karies, penggunaan fluor, oral higine, jumlah bakteri, saliva, pola makan, umur, jenis kelamin, sosial ekonomi. 13 Klasifikasi angka keparahan karies gigi menurut WHO: sangat rendah 0,0-1,1, rendah 1,2-2,6, cukup 2,7-4,4, tinggi 4,5-6,5, sangat tinggi >6,5 tinggi. 14 Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 dilaporkan bahwa prevalensi karies di Indonesia telah mencapai 90,05% dengan ratarata indeks DMFT sebesar 4,85 yang berarti sebagian besar penduduk indonesia menderita karies gigi. Angka ini tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara berkembang. 13 Di Indonesia, penelitian Situmorang pada tahun 2005 didapat bahwa, kelompok orang dewasa dengan jumlah pengalaman karies gigi lebih tinggi (DMFT>3) mempunyai risiko 5,29 kali dan lebih sering mengalami gangguan kualitas hidup. Karies yang tinggi dapat mengurangi kualitas hidup seorang anak, mereka merasakan sakit, ketidaknyamanan, profil wajah yang tidak harmonis, infeksi akut serta kronis, gangguan makan dan tidur. 5

Bahkan karies yang parah juga dapat meningkatkan risiko untuk diopname, sehingga anak tidak dapat hadir di sekolah dan dapat mempengaruhi proses pembelajaran anak. 5 2.2.2 Stomatitis Aphthous Recurrent (RAS) dan kualitas hidup RAS terbagi atas 3 jenis : minor (Miras), mayor (Maras), dan herpetiform (HU) atau borok. Minor Reccurent Stomatitis (Miras) mempengaruhi sekitar 80% penderita RAS, dan ditandai dengan ulkus yang dangkal, bulat atau oval biasanya kurang dari 5 mm, dengan warna putih abu-abu dengan adanya pseudomembran yang diselimuti oleh eritematosa tipis. Miras biasanya terjadi pada bagin labial dan bukal mukosa dan dasar mulut, tetapi jarang pada pada gingiva, langit-langit, atau dorsum lidah. Lesi ini sembuh dalam waktu 10-14 hari tanpa bekas luka. Filed et al. menyatakan miras adalah bentuk paling umum terjadidari masa kanak-kanak. 9 Mayor Reccurent Stomatitis (Maras) adalah bentuk RAS yang langkah, dikenal juga sebagai Peridenitis Mukosa Necrotica Recurrens. Lesi ini oval dan dapat melebihi 1 sampai 3 cm. Maras biasanya timbul di daerah bibir, langit-langit dan tenggorokan, tetapi maras juga dapat timbul pada seluruh daerah rongga mulut. Scully dan Porter menyatakan luka pada Maras bertahan sampai 6 minggu dan seringkali sembuh dengan jaringan parut. Maras biasanya memiliki onset setelah pubertas, bertahan hingga 20 tahun. 9,15 Bentu RAS yang paling umum juga dijumpai adalah herpetiform (HU), ditandai banyak luka kecil dan berulang. Borok ini menimbulkan rasa sakit, dan dapat meluas ke seluruh rongga mulut. Kadang-kadang bisa timbul 100 bisul pada waktu tertentu, masing-masing berukuran 2-3 mm, meskipun mereka cenderung menyatu, besar dan tidak teratur. Lehner, Scully dan Petter menyatakan HU mungkin memiliki kecenderungan dijumpai pada perempuan dan memiliki usia lanjut. 9,15 Etiologi RAS ini belum jelas, perubahan yang mudah dilihat tetapi tidak terbukti adanya penyakit autoimmun atau reaksi immunologi klasik. Mungkin berupa

perubahan respons cell-mediated immune dan reaksi silang dengan Streptokokus sanguis. Faktor-faktor predisposising pada penyakit ini adalah kekurangan haemanitik (zat besi, folat atau vitamin B 12 ). Pada 10% kasus, dijumpai adanya hubungan dengan tahap luteal mentruasi (jarang ditemukan), stres, alergi makanan (kemungkinan besar) dan AIDS. 15 Menurut penelitian Sudaduang Krisdapong, Aubrey Sheiham dan Tsakos, anak yang memiliki RAS pada usia 12 tahun sebanyak 79,8% dan usia 15 tahun sebanyak 86,8%, masing-masing memiliki dampak pada makan sebanyak 81,0%, membersihkan gigi 84,4% dan stabilitas emosional 60,3%. 16 2.2.3 Maloklusi dan kualitas hidup Penyakit maupun kelainan gigi dan mulut dapat mempengaruhi berbagai fungsi rongga mulut, salah satunya kelainan susunan gigi atau yang disebut maloklusi. Maloklusi merupakan kelainan gigi yang menduduki posisi kedua setelah penyakit karies gigi. Maloklusi adalah salah satu kelainan dentofasial yang kebanyakan bersifat morfogenik dan merupakan masalah dibidang kesehatan gigi dan akan terus menerus meningkat sehingga penelitian-penelitian dibidang ilmu kedokteran gigi masih tetap diperlukan. 10 Faktor-faktor yang dapat menyebabkan maloklusi adalah kelainan gigi yaitu kelainan letak, ukuran, bentuk, dan jumlah gigi dan ciri-ciri. Yang termasuk maloklusi adalah gigi berjejal (crowded), gingsul (kaninus ektopik), gigi tonggos (disto oklusi), gigitan menyilang (crossbite) dan gigi jarang (diastema). Hal ini dapat memberikan efek terhadap penampilan estetis, berbicara atau kenyamanan dalam mengunyah. 10,17 Maloklusi dapat mengakibatkan beberapa gangguan atau hambatan dalam diri penderitanya. Dilihat dari segi fungsi, gigi crowded amat sulit dibersihkan dengan menyikat gigi, kondisi ini dapat menyebabkan gigi berlubang (caries) dan penyakit gusi (ginggivitis) bahkan kerusakan jaringan pendukung gigi (periodontitis) sehingga gigi menjadi goyang dan terpaksa harus dicabut. Bila dilihat dari segi

fungsi fisik, maloklusi yang berlebihan pada tulang penunjang dan jaringan gusi. Kesulitan dalam menggerakkan tulang rahang (gangguan otot dan nyeri), gangguan sendi temporomandibular yang dapat menimbulkan sakit kepala. Apabila dilihat fungsi psikis, maloklusi dapat mempengaruhi estetis dan penampilan seseorang. Penampilan wajah yang tidak menarik mempunyai dampak yang tidak menguntungkan pada perkembangan psikologis seseorang, apalagi pada saat remaja. Dampak sosial maloklusi dapat mempengaruhi kejelasan berbicara seseorang. Apabila maloklusinya disto oklusi akan terjadi hambatan pengucapan hurup p, b dan m. Apabila maloklusinya mesio oklusi akan terjadi hambatan pengucapan s, z, t dan n. 17 2.2.4 Pengukuran Kualitas Hidup Ada beberapa macam kuesioner yang digunakan untuk mengukur kualitas hidup antara lain (Tabel 1) 4 : 1. Oral Health Impact Profile (OHIP) Slade GD dan Spencer AJ melakukan riset untuk pengembangan dan pengujian Oral Health Impact Profil (OHIP) yang terdiri atas 49 pertanyaan (OHIP- 49) dan kemudian diringkas menjadi 14 pertanyaan (OHIP-14) untuk mengukur persepsi individu mengenai status kesehatan rongga mulut yang dihubungkan dengan kualitas hidup. 2. Oral Impact on Daily Performance (OIDP) Guerunpong mengadaptasi OIDP yang terdiri atas 8 item untuk anak usia 11-12 tahun yang bertujuan mengevaluasi dampak kesehatan mulut pada kemampuan anak untuk melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk pengukuran dimensi fisik, psikologis dan sosial. 4 Skor dari dampak masalah kesehatan rongga mulut terhadap beberapa aktivitas di ukur dari skor keparahan dan frekuensi. Hasil skor untuk satu dampak intensitas berkisar 0-9. Ukuran skor dampak intesitas: 1 1. Sangat parah: jumlah skor 9 (keparahan skor 3 x frekuensi skor 3)

2. Parah : jumlah skor 6 (keparahan skor 2 x frekuensi skor 3 /keparahan skor 3 x frekuensi 2) 3. Cukup : jumlah skor 3-4 (keparahan skor 2 x frekuensi skor 2 / keparahan skor 3 x frekuensi skor 1) 4. Rendah : jumlah skor 2 (keparahan skor 2 x frekuensi skor 1) 5. Sangat rendah : jumlah skor 1 (keparahan skor 1 x frekuensi skor 1) 3. The Early Childhood Oral Health Impact Scale (ECOHIS) Locker menggunakan indeks ECOHIS untuk mengukur penyakit, kecacatan, keterbatasan fungsional dan kerugian sosial yang saling berhubungan tetapi dapat dimodifikasi oleh kondisi psikologis dan sosial yang berbeda-beda. 4. The Child Perceptions Questionnare (CPQ 11-14) Foster menggunakan indeks untuk mengukur sejauh mana dampak kesehatan rongga mulut terhadap kualitas hidup yang dilaporkan pada anak-anak. Indeks ini terdiri atas 37 pertanyaan yang di kategorikan atas 4 kelompok yaitu gejala oral, keterbatasan fungsional, kesejateraan emosional dan sosial yang baik. Tabel 1. Karakteristik beberapa instrumen untuk menilai dampak kesehatan mulut pada kualitas hidup anak-anak. 7 Penelitian Kota Indeks Umur Jumlah Dimensi Kualitas Hidup Broder et al., 2005 (32). Guerunpon g et al., 2004 (34) Jokovic et al., 2002 (10) Foster Page et al., 2005 (8) USA COHIP 8-14 tahun Thaila nd Canad a New Zeala nd Child- OIDP 11-12 tahun COHQOL 6-14 tahun CPQ11-14 11-14 tahun item 34 item Gejala oral, fungsi kesejahteran, emosional, harga diri dan harapan 8 item Kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan kinerja, psikologi, fisik, dan sosial. 14 item Kegiatan keluarga, keuangan, konflik dalam keluarga, dan emosi dari orang tua 37 item Gejala oral, keterbatasan fungsional, kesejahteran emosional, sosial dan kesejahteraan

Talekar et al., 2005 (9) USA ECOHIS 2-5 tahun Orang tua 4item/ anak 9item fungsional, psikologis, dan kondisi sosial Berbagai indeks digunakan untuk menentukan hubungan kualitas hidup dengan kesehatan mulut. Oral Health Impact Performance (OHIP) dan Oral impact on Daily Performance (OIDP) diadaptasi untuk digunakan pada anak-anak. Child- OIDP (Child-Oral Impact on daily Performance) digunakan untuk perencanaan masyarakat didukung program penyuluhan kesehatan untuk anak-anak. 4 Indikator ini menggunakan dua langkah: 4 Langkah pertama terdiri atas menentukan masalah kesehatan rongga mulut yang diikuti dengan menjawab daftar pertanyaan yang berisi sebagian besar tentang kondisi patologis rongga mulut yang terjadi selama masa kanak-kanak. Langkah kedua terdiri atas mengevaluasi dampak kondisi rongga mulut pada kualitas hidup anak melalui pengisian kuesioner yang dibantu dengan wawancara tunggal dari indikator Child-OIDP yang berfokus pada delapan bidang yaitu: mengunyah, berbicara, kebersihan mulut, relaksasi (termasuk tidur), tersenyum, emosional (termasuk kelas kehadiran dan belajar di rumah) dan hubungan sosial yang baik. 4 2.3 Karakteristik anak usia SMP Pada umumnya masyarakat lebih mengagumi atau menyanjung seseorang yang mempunyai penampilan wajah yang menarik dan daya tarik itu dipandang sebagai sesuatu yng berhubungan dengan status sosial, harga diri dan kedudukan sosial yang sukses. Mengingat banyaknya masalah yang ditimbulkan akibat kesehatan rongga mulut pada anak remaja SMP, yang mementingkan penampilan estetis dan perkembangan untuk kehidupan sosial dengan teman sebayanya dalam rangka mencari identitas diri, maka diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari pada anak remaja. 18

Fase-fase masa remaja (pubertas) menurut Monks dkk. yaitu antara umur 12 21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun termasuk masa remaja awal, 15-18 tahun termasuk masa remaja pertengahan, 18-21 tahun termasuk masa remaja akhir. Ketrampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri menjadi semakin penting manakala anak sudah menginjak masa remaja. Hal ini disebabkan karena pada masa remaja individu sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dimana pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial akan sangat menentukan. 18 Kegagalan remaja dalam menguasai ketrampilan-ketrampilan sosial akan menyebabkan dia sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya sehingga dapat menyebabkan rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku yang kurang normatif (misalnya asosial ataupun anti sosial), dan bahkan dalam perkembangan yang lebih ekstrim bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, dan tindakan kekerasan. 18 Secara umum penampilan sering diidentikkan dengan manifestasi dari kepribadian seseorang, namun sebenarnya tidak. Apa yang tampil tidak selalu mengambarkan pribadi yang sebenarnya (bukan aku yang sebenarnya). Dalam hal ini amatlah penting bagi remaja untuk tidak menilai seseorang berdasarkan penampilan semata, sehingga orang yang memiliki penampilan tidak menarik cenderung dikucilkan. 18

2.4 Kerangka Konsep Maloklusi - Protrusi - Retrusi - Prognasi Kesehatan rongga mulut -Retrognasi -Diastema anterior -Diastema posterior -Crowdeed anterior -Crossbite anterior -Crossbite posterior Kualitas hidup -Dimensi fungsi fisik -Dimensi psikososial Baik Cukup Buruk Sariawan Abses Gigi persistensi DMFT