BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II LANDASAN TEORI. 2.1 Information Technology Service Continuity Management (ITSCM)

BAB I PENDAHULUAN. Kelangsungan bisnis (business continuity) merupakan sebuah hal yang sangat

BAB III METODOLOGI PERANCANGAN. Berikut merupakan bagan kerangka pikir penulisan thesis ini :

Business Continuity Plan & Disaster Recovery Plan. Abdul Aziz

ICT Continuity with Confidence

Business Continuity Management Sistem Pembayaran

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PENGUKURAN RISIKO TI. mengumpulkan data dan mengolah data berdasarkan hasil dari wawancara dengan

PERENCANAAN KEBERLANGSUNGAN BISNIS(BUSINESS CONTINUITY PLAN) TANTRI HIDAYATI SINAGA STT HARAPAN MEDAN

Langkah langkah FRAP. Daftar Risiko. Risk

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PENGUKURAN RISIKO TI

Penerapan ISO 27001:2013 Sistem Manajemen Keamanan Informasi DCN & DCO GSIT BCA

ABSTRAK. Kata Kunci: Disaster Recovery Plan

BUSINESS CONTINUITY PLAN DEPARTEMEN SUMBER DAYA MANUSIA BANK INDONESIA

BAB III METODE PENELITIAN. Keamanan Sistem Akuntansi Enterprise PT. Gresik Cipta Sejahtera Berdasarkan

SERVICE LEVEL AGREEMENT (SLA) LAYANAN TEKNOLOGI INFORMASI

BEST PRACTICES ITG di Perusahaan. Titien S. Sukamto

Disaster Management. Transkrip Minggu 2: Manajemen Bencana, Tanggap Darurat dan Business Continuity Management

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PENGUKURAN RISIKO TI

BUSINESS CONTINUITY PLAN & DISASTER RECOVERY PLAN

Pemboman World Trade Center 1993; perusahaan kecil yang tidak dapat kembali online dan. mereka akhirnya tutup dalam waktu satu tahun

Cobit memiliki 4 Cakupan Domain : 1. Perencanaan dan Organisasi (Plan and organise)

BAB I PENDAHULUAN. Untuk meminimalisasi risiko tersebut, bank diharapkan memiliki Business

Pentingnya Analisa Dampak Bisnis/ Business Impact Analysis (BIA) Bagi Organisasi

TEKNIK AUDIT DATA CENTER DAN DISASTER RECOVERY. Titien S. Sukamto

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan sangat erat kaitannya dengan Teknologi Informasi (TI),

PEMBUATAN DISASTER RECOVERY PLAN (DRP) BERDASARKAN ISO/IEC 24762: 2008 DI ITS SURABAYA (STUDI KASUS DI PUSAT DATA DAN JARINGAN BTSI)

BABI PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi informasi dan sistem informasi (TI/SI) memberikan

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PENGUKURAN RISIKO TI. Sebagaimana individu, perusahaan, dan ekonomi semakin bergantung pada sistem

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Struktur Organisasi dan Prosedur Continuity Planning pada Layanan Akademik Telkom University

EVALUASI KEAMANAN SISTEM INFORMASI. Gentisya Tri Mardiani, S.Kom

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Continuity Management (ITSCM) akan membahas semua aktivitas yang

Tulis yang Anda lewati, Lewati yang Anda tulis..

SISTEM MANAJEMEN INTEGRASI/TERPADU

Introduction to Information Security

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN EVALUASI. Kuesioner yang dibuat mencakup 15 bagian dari IT Risk Management yang. 6. Rencana Kontingensi/Pemulihan Bencana

STANDAR PENYELENGGARAAN TEKNOLOGI INFORMASI BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT DAN BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH

ANALISIS BUSINESS CONTINUITY PLAN (BCP) PADA UNIT PENYELENGGARAAN KLIRING - KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX (SUMATERA UTARA DAN ACEH)

BAB I PENDAHULUAN. Dunia perbankan saat ini telah masuk dalam era digital dan teknologi

PANDUAN AUDIT SISTEM INFORMASI

ABSTRAK. Kata Kunci : Disaster Recovery Plan, Business Continuity Plan, Bencana. Universitas Kristen Maranatha

Perancangan Aplikasi Basis Data. by: Ahmad Syauqi Ahsan

PERENCANAAN MANAJEMEN RESIKO

BAB 3 GAMBARAN UMUM SISTEM INFORMASI YANG SEDANG BERJALAN. Keberadaan Departemen Komunikasi dan Informatika (DepKementrian

PeGI. Dimensi Infrastruktur

Struktur Organisasi dan Prosedur Continuity Planning pada Layanan Akademik Telkom University

BAB III ANALISIS METODOLOGI

KOMPETENSI DAN PELATIHAN SDM PENGAMPU TI. 10 Urusan. Layanan E-Government

PEDOMAN PEDOMAN. PT JASA MARGA (Persero) Tbk. Nomor Pedoman : P2/DIT/2014/AI Tanggal : 1 Desember 2014

DAFTAR ISI. On System Review Pemeriksaan Prosedur Eksisting untuk Database Backup dan Recovery. PLN Dis Jabar & Banten - LPPM ITB

Sistem Manajemen Keamanan Informasi dan Pengelolaan Risiko. LPSE Provinsi Jawa Barat Rakerna LPSE november 2015

1. Ancaman yang dihadapi perusahaan adalah kehancuran karena bencana alam dan politik, seperti : Kebakaran atau panas yang berlebihan Banjir, gempa

Pertemuan 11 Manajemen Risiko

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini teknologi informasi dan komunikasi berkembang sangat cepat

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN

- 1 - PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 9/15/PBI/2007 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO DALAM PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH BANK UMUM

Model Perusahaan Asuransi: Proteksi dan Teknik Keamanan Sistem Informasi

APPENDIX A. Sumber dan Tujuan. Data. Arus Data. Proses Transformasi. Penyimpanan Data

BAB 4 AUDIT SISTEM INFORMASI. audit dari wawancara dengan manajer yang terkait dan bagian bagian yang

INFRASTRUCTURE SECURITY

MANAJEMEN KEBERLANGSUNGAN USAHA

IMPLEMENTASI KEEPALIVE DISASTER RECOVERY CENTER DENGAN METODE FAILOVER PADA PT SYB JAKARTA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. Berikut ini adalah beberapa teori dan definisi yang terkait dengan Disaster. Recovery yang digunakan dalam tesis ini.

COSO ERM (Enterprise Risk Management)

Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia Agustus 2009

Plainning & Organization

Bab I Pendahuluan I. 1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

KEAMANAN SISTEM INFORMASI

Aulia Febriyanti

Lampiran Checklist Pengendalian Manajemen Operasional. 1 Apakah terhadap seluruh operasi komputer. telah dilakukan penjadwalan sehingga dapat

BAB 4 PEMBAHASAN. Pemetaan ISO Terhadap Business Continuity. Plan dan Disaster Recovery Plan Pada Lembaga

Business Continuity Planning Disaster Recovery Planning

PERANCANGAN PROSEDUR DISASTER RECOVERY PLAN (DRP) ATAS ASET TEKNOLOGI INFORMASI PADA PT. XXX

KERANGKA KENDALI MANAJEMEN (KENDALI UMUM)

PENGENDALIAN KEAMANAN FISIK DAN LOGIS. Titien S. Sukamto

Chapter 10 PENGENDALIAN INTEGRITAS PEMROSESAN DAN KETERSEDIAAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada Bab IV ini akan membahas hasil analisis dalam perencanaan

Pengembangan Rencana Penanggulangan Bencana (Disaster Recovery Planning) untuk Data Center ITB

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Masalah

BAB 4 EVALUASI TERHADAP PENGENDALIAN BENGKEL GAC AUTO SERVICE

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN LANJUTAN. Dea Arri Rajasa, SE., S.Kom

Bab III Kondisi Teknologi Informasi PT. Surveyor Indonesia

MANAGEMENT SOLUTION IT MANAGEMENT CONSULT TING IT MANAGEMENT CONSULTING PT. MULTIMEDIA SOLUSI PRIMA

Taryana Suryana. M.Kom

FRAMEWORK, STANDAR, DAN REGULASI. Titien S. Sukamto

Mengenal COBIT: Framework untuk Tata Kelola TI

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR KEAMANAN JARINGAN

BAB 4 EVALUASI PENGENDALIAN SISTEM INFORMASI PENJUALAN PADA PT. BANGUNAN JAYA. kematangan penerapan sistem informasi pada PT. Bangunan Jaya.

Disaster Recovery Planning

PERANCANGAN DISASTER RECOVERY CENTER (DRC) BERDASARKAN ISO (STUDI KASUS: Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung)

Fungsi Pengelolaan SI

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI Sistem Informasi Sistem informasi adalah sebuah sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang berinteraksi dan bertujuan untuk menghasilkan informasi. Menurut Lauden sistem informasi adalah hubungan dari berbagai komponen yang dikumpulkan, diproses, disimpan dan informasi tersebut disebarkan untuk mendukung pengambilan keputusan untuk membuat analisis dan memberikan gambaran pada sebuah organisasi. Sedangkan menurut Whitten, sistem informasi adalah suatu pengaturan orang-orang, data, proses, dan teknologi informasi yang saling berhubungan untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan dan menyediakan keluaran informasi yang diperlukan untuk mensupport suatu organisasi. Computer Security Computer Security didefinisikan sebagai menjaga dan melindungi perangkat keras, perangkat lunak, jaringan, fasilitas fisik, data dan orang dari bencana (disaster) atau hal yang disengaja. (sumber: Gupta) Tujuan dari computer security adalah menjaga dan melindungi data dari bencana alam/disaster, dengan demikian diperlukan sebuah sistem agar terhindar dari bencana tersebut. Sistem keamanan dari suatu perusahaan harus mempunyai cara untuk menangkal atau meminimalkan/mengurangi resiko yang terjadi, sistem ini harus beroperasi selama 24 jam, 7 hari 6

seminggu, serta harus mempunyai layanan yang konsisten dan benar, demikian juga semua perangkat keras, perangkat lunak dan jaringan harus dalam keadaan prima. Untuk itu perusahaan harus dapat mengetahui disaster atau bencana yang tidak dapat dihindarkan dan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang dapat dialami oleh perusahaan. Berikut ini beberapa terminologi dalam menjaga keamanan informasi : 2.2.1 Kesengajaan atau intentional Kesengajaan yang terjadi disini biasanya dilakukan oleh orang dalam yang memiliki/tidak memiliki hak akses terhadap data. Tindakan-tindakan tersebut antara lain 1. Pencurian data perusahaan/download data 2. Menyadap Password (brute force, dll) 3. Membuka email orang lain 4. Menghapus data perusahaan, merubah data perusahaan 5. Merusak hardware atau software perusahaan, dengan menggunakan virus, spyware dll.

2.2.2 Security Control Menurut Gupta, Security Control adalah kebijakan, prosedur, alat Bantu, teknik, dan metode yang dirancang untuk mengurangi pelanggaran keamanan, pembinasaan sistem, dan kesalahan sistem dari kecelakaan, kesengajaan dan bencana alam (disaster). Sehingga apabila terjadi accident, security control diharapkan dapat mengurangi dampak yang terjadi. Security Control Application Controls Password Smart cards Biometric ID Backups Development Controls Documentation Encryption Firewall Physical Facility Controls Fire Alarms Security Personel Restricted access to a facility Gambar 2.1 Security Control 2.3 Definisi Disaster / Bencana Disaster/Bencana didefinisikan sebagai gangguan dari operasi bisnis yang menghentikan organisasi dalam menyediakan pelayanan bisinisnya yang disebabkan oleh ketiadaan faktorfaktor kritikal seperti : Tenaga Kerja dan keahlian Fasilitas Komunikasi

Power/Daya Akses Informasi Bencana dapat diakibatkan oleh ulah manusia, maupun akibat alam (natural disaster), seringkali tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Untuk itu perlu dibuat sistem yang dapat mengurangi resiko dan kerugian bila bencana terjadi. 2.4 Penyebab Disaster/Bencana Penyebab Suatu kondisi bencana dapat dikategorikan sebagai berikut : 1. Bencana alam a. Angin Topan (Hurricanes) b. Tornado c. Banjir d. Kebakaran 2. Fasilitas a. Listrik b. Air c. Komunikasi d. Gas

3. Manusia a. Sabotase b. Teroris c. Virus d. Kerusuhan 4. Kegagalan peralatan a. Sistem Informasi b. Telekomunikasi c. Mesin Produksi 2.5 Akibat dari bencana/gangguan saat ini 1. Sudut pandang Keuangan (Financial perspective) Bencana atau gangguan akan berdampak pada kelancaran finandal dalam sebuah organisasi. Pengeluaran extra dan kerugian dari cash flow akan berdampak pada modal perusahaan. Pada saat itu waktu akan menjadi musuh utama dalam bisnis. Beban operasional Normal (Normal operating expenses) - Gaji (Saleries) Dengan adanya bencana atau gangguan yang menyebabkan kelangsungan bisnis berhenti dapat meningkatkan beban gaji.

- Sewa (Rent) Beban sewa akan bertambah besar karena terjadinya disaster/bencana. Beban Besar (Large extraordinary expenses) - Penggantian peralatan (Equipment replacement) - Fasilitas Sementara (Temporary facility) Keuntungan/Aliran uang berhenti (Revenue/cash flow stops) Nilai Equity akan melemah (Equity position weakened) 2. Sumber Tenaga kerja (Human Resources) Saat ini perusahaan cenderung hanya memiliki sedikit tenaga kerja, maka hilangnya tenaga kerja pada saat disaster/bencana dapat mengakibatkan efek yang besar. - Downsizing - Pelatihan ulang (Re-enginering) - Outsourcing 3. Meningkatnya kompetisi sejalan dengan Global economy (Increasing Competition in a Global Economy) Pada saat terjadi disaster/bencana maka kompetisi perusahaan-perusahaan semakin meningkat yaitu dari pelayanan/service level yang diberikan, karena setiap perusahaan

akan terus meningkatkan pelayanannya. Tentunya perusahaan yang tidak siap dengan keadaan ini dapat kehilangan customernya. (lost costumer don t return). 4. Meningkatnya penggunaan teknologi (Increasing use of technology) Perusahaan akan menjadi sangat bergantung pada teknologi, apabila terjadi bencana maka teknologi yang biasa digunakan berubah menjadi manual. Sehingga kebutuhan akan teknologi tersebut dapat menjadi kebutuhan yang luar biasa penting. Teknologi tersebut seperti : - Faks/(Fax) - Pesan suara/(voice mail) - Jaringan lokal dan WAN (Local and wide area networks) - Sistem pengambilan keputusan (Decision support systems) - Akses Internet (Internet Access) - 5. Hutang terhadap ketidaktersedianya produk / pelayanan (Liabilities Associated with not providing products/services) Menejemen bertanggung jawab dalam memastikan kelangsungan bisnis sehingga pemulihan bencana/gangguan (disaster recovery) harus direncanakan dengan matang. Sehingga tidak terjadi adanya penalty dari perusahaan lain atau hal-hal yang tidak diinginkan. - Penalties associated with not meeting delivery schedules

- Shareholder/Board of directors new expectations 2.6 Rencana kelangsungan Bisnis (Business Continuity Plan) Business Continuity Plan adalah kebijakan dan prosedur yang memuat rangkaian kegiatan terencana dan terkoordinir mengenai langkah-langkah pengurangan resiko, penanganan dampak gangguan/bencana dan proses pemulihan agar kegiatan operasional Bank dan pelayanan kepada nasabah tetap berjalan. (sumber : Peraturan Bank Indonesia No.9/15/PBI/2007 tentang Penerapan Manajemen Resiko dalam penggunaan Teknologi Informasi oleh Bank Umum) Business Continuity Plan adalah proses yang dirancang untuk mengurangi resiko dalam sebuah organisasi bisnis. (sumber : ISACA) Business Continuity Plan adalah sekumpulan prosedur dan sumber informasi yang digunakan untuk memulihkan kegiatan operasional bisnis apabila terjadi gangguan/bencana. (sumber : James C. Barnes, A Guide to Business Continuity Planning)

2.7 BCM Lifecycle BCM Lifecycle: 1. BCM programme management 2. Understanding the organization 3. Determining BCM Strategy 4. Developing & Implementing BCM Response 5. Exercising, Maintaining & Reviewing 6. Embedding BCM in the organization s culture The BCM lifecycle (BS-25999-1; 2006) Gambar 2.2 BCM Lifecycle 2.8 Proses Business Continuity Plan FFIEC (Federal Financial Institutions Examination Council) mendorong agar institusi keuangan (financial institution) mengadopsi suatu siklus yaitu pendekatan proses oriented menjadi business continuity planning. Terdapat 4 proses dalam business continuity planning, yaitu : 1. Analisis dampak bisnis (Business Impact Analysis) 2. Identifikasi Resiko (Risk Assessment) 3. Menejemen Resiko (Risk Management) 4. Pemantauan Resiko dan ujicoba (Risk Monitoring and testing)

Keempat proses diatas merepresentasikan suatu siklus berlanjut yang perlu ditingkatkan dari waktu ke waktu berdasarkan perubahan dari ancaman potensial, operasi bisnis, rekomendasi audit, dan hasil test. Sebagai tambahan, proses ini sebaiknya mencakup tiap-tiap kritikal fungsi bisnis dan teknologi yang mendukungnya. Seperti kebijakan, standarisasi, dan proses yang terintegrasi kedalam keseluruhan proses rencana kelangsungan bisnis (business continuity plan). 2.8.1 Analisis dampak bisnis (Business Impact Analysis) Business Impact Analysis adalah landasan awal dalam proses penyusunan BCP melalui proses identifikasi dampak bisnis, identifikasi aktivitas yang kritikal, penentuan target waktu pemulihan, dan pengukuran standar operasi minimal yang dibutuhkan. Tujuan dari Analisis dampak bisnis (business impact analysis) ini adalah untuk mendapatkan : - Informasi yang menyeluruh mengenai fungsi organisasi dan business process - Informasi kepada manajemen mengenai Recovery Time Objective - Informasi mengenai kebutuhan minimal dalam penyelenggaraan organisasi (minimum resources) Metodologi yang digunakan adalah : - Identifikasi business process - Interdependensi antar business process dan tingkat kritikal business process - Identifikasi kebutuhan minimum

- Menetapkan Recovery Time Objective (RTO) melalui metodologi Enterprise Risk Management dan Business Impact Analysis. adalah : Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Analisis dampak bisnis (business impact analysis) - Tingkat kritikal dan ketergantungan antar proses bisnis serta prioritisasi - Tingkat ketergantungan terhadap pihak penyedia jasa TI/Non Ti - Tingkat Recovery Time Objectives dan Recovery Point Objectives - Tingkat minimum Reource Reuquirement - Identifikasi dampak potensial dari suatu kejadian - Dampak Disaster terhadap seluruh fungsi bisnis - Jalur komunikasi yang dibutuhkan untuk berjalannya pemulihan - Kemampuan dan kemampuan petugas (termasuk petugas pengganti) - Pertimbangan dampak hukum dan pemenuhan ketentuan terkait. 2.8.2 Target Waktu Pemulihan (Recovery Time Objectives) ditanyakan : Dalam menentukan Target waktu pemulihan (RTO) maka beberapa hal yang perlu

Berapa lama perusahaan dapat bekerja apabila terjadi disaster/bencana? Sesegera apa perusahaan membutuhkan proses pemulihan? Segera (Immediately) Dalam jam (Within hours) Satu hari (today) Satu minggu (This week) Tidak memerlukan (Never) Impact <2 hr < 8 hr < 2 Days < 1 weeks Less than $1000 $1001 to $ 10000 $10001 to $100000 $100001 to $500000 Over $ 500 Last IT Back up (RPO) Disaster (Loss Data) Recovery Time Objective (RTO) Recovery Time Work Lost Escalation Clear Backlog Gambar 2.3 Recovery Time Objective 2.8.3 Identifikasi Resiko (Risk Assessment) Maksud dari identifikasi resiko adalah proses identifikasi resiko yang dihadapi suatu organisasi, identifikasi terhadap fungsi kritikal untuk menjamin kelangsungan operasional bisnis, serta memperoleh gambaran dalam pengendalian bisnis fungsi untuk mengurangi resiko kerugian apabila terjadi gangguan. Resiko Operasional adalah potensi seluruh gangguan dalam proses operasional suatu organisasi atau perusahaan yang menyebabkan kerugian dimasa yang akan datang (future losses) atau terjadi fluktuasi pendapatan dimasa yang akan datang.

Tujuan dilakukannya risk assessment adalah sebagai berikut : Menentukan tingkat resiko dari berbagai jenis resiko. Menentukan pengendalian dari jenis resiko. Mengukur dampak dan kuantitas berbagai jenis resiko. Menentukan kebjakan dalam rangka mengambil keputusan terhadap resiko yang berdampak besar. Cakupan Resiko Risk Assesment : Operasional Proses Operasional Sumber Daya Manusia Operasional Sistem Teknologi Informasi Faktor Eksternal Proses dan Prosedur Risk Assessment A. Identifikasi Resiko Mengetahui dimana saja resiko berada Mengetahui penyebab timbulnya resiko Mengetahui metode yang digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan dan penyebab resiko Mengetahui pengendalian yang ada bila resiko itu terjadi. Kuantitatif : analisis berdasarkan angkaangka nyata (nilai financial) terhadap biaya pembangunan keamanan dan besarnya kerugian yang terjadi Kualitatif : Sebuah analisis yang menentukan resiko tantangan organisasi dimana penilaian tersebut dilakukan berdasarkan institusi, tingkat keahlian dalam menilai jumlah resiko yang mungkin terjadi dan potensi kerusakannya B. Pengukuran Resiko

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Risk Assessment Membuat prioritisasi kemungkinan gangguan yang terjadi berdasarkan tingkat kerusakan dan kemungkinan terjadinya. Membuat suatu gap analysis dengan membandingkan BCP atau DRP atau Contingency Plan yang dimiliki saat ini dengan hasil Risk Assessment Melakukan analisis resiko yang akan timbul bagi perusahaan dan stakeholders akibat adanya gangguan atau bencana. 2.8.4 Menejemen Resiko (Risk Management) Menejemen resiko adalah langkah ketiga dalam proses rencana kelangsungan bisnis (business continuity plan). Menejemen resiko adalah proses mengidentifikasi, menaksir, dan mengurangi resiko-resiko sampai pada batas yang dapat diterima melalui pengembangan (development), implementasi (implementation) dan maintenance. Rencana kelangsungan bisnis (Business continuity plan) harus : Berdasar kepada Business impact analysis dan risk assessment yang telah ditelaah. Didokumentasikan dalam program yang tertulis Telah diperiksa dan disetujui oleh senior management paling tidak setahun sekali.

Terbuka untuk karyawan. Dikelola dengan baik ketika proses pengembangan dan pemeliharaan dari BCP dilakukan oleh pihak ketiga. (outsource) Perhatian khusus terhadap langkah yang harus diambil pada saat terjadi gangguan. Fleksikbel merespon ancaman yang tidak terduga dan perubahan kondisi internal. Fokus terhadap efek yang dihasilkan oleh ancaman yang dapat mengganggu operasional bisnis. Dikembangkan berdasarkan asumsi yang masuk akal dan analisis yang saling berkaitan Efektif dalam meminimalkan gangguan dari service dan kerugian financial melalui implementasi BCP. 2.8.5 Risk Monitoring and Testing Risk monitoring and testing adalah langkah terahkir dalam proses rencana kelangsungan bisnis (business continuity plan). Risk monitoring dan testing memastikan bahwa BCP dalam sebuah perusahaan dapat berjalan dengan baik melalui : Penggabungan BIA and risk assessment ke dalam BCP dan testing program; Pengembangan program testing perusahaan. Penetapan dari aturan dan tanggung jawab dalam implementasi testing program

Evaluasi dari testing program dan hasil test oleh menejemen senior dan unit kerja. Penilaian dari testing program dan hasil testing oleh pihak independent. Revisi dari BCP dan testing program berdasarkan perubahan operasi bisnis, audit, dan rekomendasi dari pemeriksaan dan hasil test. 2.9 Prosedur Minimal BCP (Business Continuity Plan) Berdasarkan sumber yang diperoleh dari Bank Indonesia Cakupan Minimal Prosedur BCP Prosedur tanggap darurat (immediate steps) untuk mengenadilakan krisis Komponen Prose Prosedur pemulihan seperti backup hardware dan informasi penting, back-up site, dan relokasi pegawai saat disaster Prosedur pemulihan bisnis (business recovery) yang menjabarkan tanggung jawab dan tugas secara rinci masing-masing tim (continuity team) Prosedur sinkronisasi data di main site dan backup site Personil Teknologi Komponen Prosedur Pemulihan Sistem Dan bisnis Dokumentasi Sistem dan data Back-up Business Recovery Center DRC Gambar 2.4 Cakupan Minimal Prosedur BCP Komponen Prosedur Pemulihan Sistem dan bisnis

2.10 Disaster Recovery Center Disaster Recovery Center (DRC) adalah fasilitas pengganti pada saat Pusat Data (Data center) mengalami gangguan atau tidak dapat berfungsi antara lain karena tidak adanya aliran listrik ke ruang komputer, kebakaran, ledakan atau kerusakan pada komputer, yang digunakan sementara waktu selama dilakukannya pemulihan pusat data bank untuk menjaga kelangsungan kegiatan usaha (business continuity). Sumber : Bank Indonesia. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi DRC Ditempatkan pada lokasi terpisah dari Data center dengan memperhatikan resiko geografis : - Jangkauan geografis atas gangguan/bencana dan dampaknya - Analisis resiko mengenai geografis yang berbeda (gempa, petir) dan infrastruktur yang berebeda (jaringan komunikasi) dan fasilitas lain Kondisi rentannya lokasi dengan kemungkinanan huru-hara dan kerusuhan Memiliki pasokan listrik dan sarana telekomunikasi yang dapat menjamin operasi Sistem di DRC harus kompatibel dengan sisitem di Data center dan diseusaikan jika terjadi perubahan di Data center Merupakan Restricted Area Memperhitungkan waktu tempuh untuk terjaminnya proses recovery.