Lilya Echa Febriyanti, Mintarto Martosudiro dan Tutung Hadiastono

dokumen-dokumen yang mirip
Aviva Aviolita Parama Putri, M. Martosudiro dan T. Hadiastono

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian Penyiapan tanaman uji

PENGARUH BERBAGAI JENIS EKSTRAK NABATI TERHADAP INFEKSI Cucumber Mosaic Virus (CMV) PADA TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.

Lilik Nur Kholidah, Tutung Hadiastono, Mintarto Martosudiro

BAHAN. bulan Juli diremajakan. pertumbuhan. Gambar 4

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tanaman dan Laboratorium

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian Penyediaan Isolat Fusarium sp. dan Bakteri Aktivator

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penyiapan Tanaman Uji Pemeliharaan dan Penyiapan Suspensi Bakteri Endofit dan PGPR

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Pangan dan Hortikultura Sidoarjo dan Laboratorium Mikrobiologi, Depertemen

BAHAN DAN METODE. Kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2011 sampai Maret 2012 di Rumah Kaca

KETAHANAN LIMA VARIETAS TANAMAN SAWI HIJAU (Brassica juncea L.) TERHADAP INFEKSI Turnip Mosaic Virus (TuMV)

Bioasai Tanaman Kacang Tanah Transgenik terhadap Virus Bilur Kacang Tanah (PStV)

BAHAN DAN METODE. Tabel 1 Kombinasi perlakuan yang dilakukan di lapangan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan Kebun

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas

II. MATERI DAN METODE

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan

Gambar 1 Tanaman uji hasil meriklon (A) anggrek Phalaenopsis, (B) bunga Phalaenopsis yang berwarna putih

BAHAN DAN METODE. Pengambilan sampel tanaman nanas dilakukan di lahan perkebunan PT. Great

BAHAN DAN METODE Tempat dan waktu penelitian Bahan dan Alat Isolasi dan Uji Reaksi Hipersensitif Bakteri Penghasil Siderofor

BAB III METODE PENELITIAN

komersial, pupuk SP 36, pupuk KCl, NaCl, Mannitol, K 2 HPO 4, MgSO 4.7H 2 O,

METODE PENELITIAN. 3 bulan dari bulan Juni sampai dengan bulan September 2016.

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan

BAB III METODE PENELITIAN. faktorial yang terdiri dari dua faktor dengan 4 kali ulangan. Faktor pertama adalah

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dari Bulan April sampai dengan Juni 2013, di

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Botani, Fakultas Matematika dan Ilmu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Labolatorium Lapangan Terpadu Fakultas

BAHAN DAN METODE. Pembiakan P. fluorescens dari Kultur Penyimpanan

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Percobaan akan dilaksanakan di Laboratorium Nematologi dan Rumah Kaca Jurusan Hama

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Perbanyakan Inokulum BCMV Persiapan Lahan dan Tanaman Uji

BAB III METODE PENELITIAN

III. BAHAN DAN METODE

BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan Proteksi

III. BAHAN DAN METODE

bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN

BAB III BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan dari 2 Juni dan 20 Juni 2014, di Balai Laboraturium

III. BAHAN DAN METODE. Tanaman, serta Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas

BAB III METODE PENELITIAN. Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang pada bulan Agustus

III. BAHAN DAN METODE. Jurusan Agroteknologi, Universitas Lampung. Penelitian ini dilaksanakan mulai

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan Penelitian Metode Penelitian Isolasi dan Identifikasi Cendawan Patogen

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis percobaan pada penelitian ini adalah penelitian eksperimental,

III. MATERI DAN METODE

EKSPLORASI Pseudomonad fluorescens DARI PERAKARAN GULMA PUTRI MALU (Mimosa invisa)

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret Oktober 2014 di

METODE PENELITIAN. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.

BAB III METODE PENELITIAN. Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga Surabaya dan

III. METODE PENELITIAN A.

BAB III METODE PENELITIAN

III. BAHAN DAN METODE. Sampel tanah diambil dari daerah di sekitar risosfer tanaman nanas di PT. Great

Vivi Tri Kristyaningrum, M. Martosudiro, dan T. Hadiastono

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh PGPR terhadap Laju Pertambahan Tinggi Tanaman Kedelai

BAB III METODE PENELITIAN. Mikrobiologi Tanah dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Kacang- kacangan dan Umbiumbian

PEMANFAATAN RADIASI SINAR GAMMA (Co-60) UNTUK PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN KETAHANAN TANAMAN KEDELAI TERHADAP PENYAKIT PUSTUL DAUN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Penyakit Tanaman Fakultas

BAHA DA METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

I. METODE PENELITIAN. Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari Juni 2011 sampai Januari 2012.

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Plant Physiology and Culture

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAB III METODE PENELITIAN. kentang varietas Granola Kembang yang diambil dari Desa Sumberbrantas,

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilakukan di green house milik UMY dan Laboratorium

BAB III METODE PENELITIAN. diperoleh dari perhitungan kepadatan sel dan uji kadar lipid Scenedesmus sp. tiap

SKRIPSI PENGUJIAN ISOLAT VIRUS YANG DILEMAHKAN DENGAN PEMANASAN UNTUK MELINDUNGI KACANG PANJANG TERHADAP INFEKSI VIRUS MOSAIK

PEMANFAATAN RADIASI SINAR GAMMA (Co-60) UNTUK PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN KETAHANAN TANAMAN KEDELAI TERHADAP PENYAKIT PUSTUL DAUN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Pertanian dan

TATA CARA PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Greenhouse Universitas Muhammadiyah

BAB III METODE PENELITIAN. Faktor I adalah variasi konsentrasi kitosan yang terdiri dari 4 taraf meliputi:

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian

III. METODE PENELITIAN. dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lampung dari bulan Januari sampai

KETAHANAN EMPAT VARIETAS TOMAT (Lycopersicum esculentum MILL.) TERHADAP INFEKSI Tobacco Mosaic Virus (TMV)

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga Maret 2015.

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Gedung

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Tanaman Industri dan Penyegar

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro Fakultas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat + 25

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

BAB III METODE PENELITIAN. mengujikan L. plantarum dan L. fermentum terhadap silase rumput Kalanjana.

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan Proteksi

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat Dan Waktu Penelitian. Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian dilakukan selama

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan di halaman

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan Jurusan

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat

III. MATERI DAN METODE. Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru pada bulan Mei 2013 sampai dengan Juni 2013.

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang populasi bakteri dan keberadaan bakteri gram pada

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Metode Penelitian Perbanyakan Inokulum BCMV Penanaman Tanaman Uji

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian Pra-pengamatan atau survei

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian mengenai penambahan starter ekstrak nanas dengan level berbeda

Transkripsi:

Jurnal HPT Volume 3 Nomor 1 Januari 2015 ISSN : 2338-4336 PENGARUH PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA (PGPR) TERHADAP INFEKSI PEANUT STRIPE VIRUS (PStV), PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L. ) VARIETAS GAJAH Lilya Echa Febriyanti, Mintarto Martosudiro dan Tutung Hadiastono Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang 65145 ABSTRACT The research was done at screenhouse in Jatikerto, Kromengan, Malang and Laboratory of Plant Disease, Departement of Plant Ptotection, Faculty of Agriculture, Brawijaya University from March to September 2014. This research used Completely Randomized Design with eight treatments and three replications. The treatment covered (1) Peanut without PGPR application (control), single isolate application of PGPR (2) B. subtilis,(3) P. fluorescens, and (4) Azotobacter sp., while combination of PGPR (5) B. subtilis and P. fluorescens,(6) B. subtilis and Azotobacter sp.,(7) P. fluorescens and Azotobacter sp., and (8) B. subtilis, P. fluorescens, and Azotobacter sp. The results showed that combination of B. subtilis and P. fluorescens delayed incubation period and decrease the intensity of PStV in peanut. Azotobacter sp. and all combination of PGPR increased the peanut s height. PGPR with single isolate B. subtilis and combination of P. fluorescens and Azotobacter sp.,and combination of B. subtilis, P. fluorescens, and Azotobacter sp. increased amount and wet weight of pods higher than control, but only the peanut which applicated by B. subtilis produced dry weight of pods which higher than control. Keywords: PGPR, Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, Azotobacter sp., PStV, Peanut ABSTRAK Penelitian telah dilaksanakan di screenhouse di Desa Jatikerto Kec. Kromengan Kab. Malang dan Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, dari bulan Maret 2014 sampai September 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan delapan perlakuan dan tiga ulangan. penelitian yaitu (1) kacang tanah yang tidak diaplikasikan PGPR (kontrol), pemberian PGPR isolat tunggal meliputi (2) B. subtilis, (3) P. fluorescens, dan (4) Azotobacter sp., sedangkan PGPR kombinasi meliputi (5) B. subtilis dan P. fluorescens, (6) B. subtilis dan Azotobacter sp.,(7) P. fluorescens dan Azotobacter sp., dan (8) B. subtilis, P. fluorescens, dan Azotobacter sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi B. subtilis dan P. fluorescens dapat memperpanjang masa inkubasi dan menurunkan intensitas PStV tanaman kacang tanah. Azotobacter sp. dan semua kombinasi PGPR dapat meningkatkan tinggi tanaman kacang tanah. PGPR isolat tunggal B. subtilis dan kombinasi P. fluorescens dan Azotobacter sp., serta kombinasi B. subtilis, P. fluorescens, dan Azotobacter sp. dapat meningkatkan jumlah polong dan bobot basah polong kacang tanah, tetapi hanya aplikasi B. subtilis yang dapat meningkatkan bobot kering polong kacang tanah. Kata Kunci: PGPR, Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, Azotobacter sp., PStV, kacang tanah 84

Febriyanti et al., Pengaruh Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR)... PENDAHULUAN Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) adalah salah satu komoditi pangan di Indonesia yang bernilai ekonomi tinggi. Kacang tanah mengandung lemak (40,50%), protein (27%), karbohidrat dan vitamin (A, B, C, D, E dan K) (Deptan, 2012). Salah satu penyakit penting pada tanaman kacang tanah adalah Peanut Stripe Virus (PStV). Penyakit ini tersebar di seluruh areal pertanaman kacang tanah di Indonesia (Saleh et al. 1989). Kehilangan hasil yang disebabkan oleh virus PStV dapat mencapai 52,9% (Sudarsono et al. 1997). Teknologi pengendalian yang aman untuk mengendalikan virus adalah pemanfaatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). PGPR adalah sekumpulan bakteri yang berkoloni dan hidup di akar tanaman. Peran PGPR antara lain sebagai perangsang pertumbuhan (biostimulan), penyedia hara (biofertilizer) dan pengendali patogen (bioprotektan) (Millan, 2007). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan Bacillus subtilis, P. fluorescens, Azotobacter sp. dan kombinasinya terhadap serangan PStV, pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah. BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Pelaksanaan Penelitian dilaksanakan di screenhouse Desa Jatikerto Kec. Kromengan Kab. Malang dan Laboratorium Penyakit, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Waktu penelitian dari bulan Maret 2014 sampai September 2014. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah gunting, timbangan, mortar dan penumbuk, cawan petri, mikropipet, pipet, autoklaf, beaker glass (vol. 100 ml, vol.250 ml, vol. 500 ml), tabung reaksi, rak tabung reaksi, bunsen, laminar air flow, kompor listrik, panci, spatula, polybag (40x40 cm), mistar (cm), hand counter, gembor dan kamera. Bahan yang digunakan adalah inokulum PStV dari lapang, benih kacang tanah varietas Gajah, karborundum 600 mesh, buffer Phosphat 0,01 M ph 7, tanah, kompos, formalin 5%, PGPR koleksi Laboratorium Bakteriologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (bakteri ubtilis, P. fluorescens dan Azotobacter sp.), tanaman indikator (Chenopodium amaranticolor dan Phaseolus vulgaris), sampel tanah, alkohol 70%, media NA, media King s B, media Ashby, kapas, kain kasa, plastik wrapping, aluminium foil, dan aquades. Metode Penelitian Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dalam rancangan ini terdapat 8 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Adapun perlakuan yang digunakan adalah (1) tanaman kacang tanah yang tidak diaplikasi PGPR (kontrol), (2) diaplikasi bakteri Bacillus subtilis, (3) diaplikasi bakteri Pseudomonas fluorescens, (4) diaplikasi bakteri Azotobacter sp., (5) diaplikasi kombinasi bakteri B. subtilis dan P. fluorescens, (6) diaplikasi kombinasi bakteri B. subtilis dan Azotobacter sp., (7) diaplikasi kombinasi bakteri PGPR P. fluorescens dan Azotobacter sp., serta (8) diaplikasi kombinasi bakteri B. subtilis, P. fluorescens, dan Azotobacter sp. Persiapan Penelitian Penyediaan Inokulum dan Identifikasi PStV Inokulum PStV yang berasal dari lapang diinokulasikan secara mekanis pada tanaman indikator Chenopodium amaranticolor dan Phaseolus vulgaris. 85

Jurnal HPT Volume 3 Nomor 1 Januari 2015 Persiapan Media Tanam Tanah yang akan digunakan sebagai media tanam, terlebih dahulu disterilkan dengan menggunakan formalin 5%. Setelah itu tanah ditutup dengan plastik selama 7 hari dan dibolak-balik selama 3 hari sekali kemudian tanah dikering anginkan selama 7 hari. Tanah yang sudah siap digunakan lalu dipindahkan ke dalam polybag (40x40 cm) yang sudah dicampur dengan kompos. Perbandingan tanah dan kompos yang digunakan adalah 2 : 1. Penyediaan Bakteri PGPR Isolat bakteri PGPR yang didapatkan berasal dari koleksi Laboratorium Penyakit, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas Brawijaya Malang. Bakteri yang digunakan yaitu Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens dan Azotobacter sp. Pelaksanaan Penelitian Aplikasi PGPR Benih kacang tanah yang digunakan terlebih dahulu direndam di dalam aquades selama 24 jam. Benih kacang tanah perlakuan PGPR, direndam di dalam suspensi PGPR selama kurang lebih 30 menit (Ashrafuzzaman et al. 2009) dan kemudian ditanam pada media tanam. Pembuatan Sap Daun tanaman kacang tanah yang menampakkan gejala infeksi PStV dicuci dan dipotong-potong. Kemudian diambil sebanyak 5 gram dan ditumbuk dengan mortar. Setelah daun hancur ditambahkan larutan buffer phospat 0,01 M ph 7 sebanyak 10 ml. Lalu dilakukan penyaringan dengan kain kasa. Setelah didapatkan sap kasarnya kemudian diinokulasikan ke tanaman indikator dan tanaman uji. Inokulasi PStV pada Tanaman Uji Inokulasi pada tanaman kacang tanah dilakukan pada tanaman berumur 7 hari setelah tanam (hst). Sebelum diinokulasi, permukaan daun terlebih dahulu dilukai dengan mengoleskan karborundum 600 mesh. Kemudian sap dioleskan menggunakan jari pada permukaan daun. Sisa karborundum yang masih melekat pada permukaan daun tanaman uji kemudian dibilas mengunakan aquades. Monitoring Pertumbuhan PGPR pada Perakaran Monitoring pertumbuhan PGPR pada perakaran tanaman kacang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah PGPR yang telah diaplikasikan masih tumbuh di dalam perakaran tanaman. Dengan demikian maka akan diketahui bahwa PGPR tersebut adalah faktor yang berperan penting terhadap intensitas serangan PStV, pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah. Setelah itu dilakukan isolasi bakteri dan perhitungan koloni bakteri yang dihasilkan. Menurut Sumarsih dan Haryanto (2012) bahwa pengambilan sampel tanah dilakukan pada 30 hari setelah tanam (hst). Isolasi bakteri yang dilakukan adalah dengan menggunakan teknik pengenceran bertingkat yang selanjutnya dilakukan teknik isolasi metode tuang (pour plate) (Anonim, 2014). Hal yang pertama kali disiapkan adalah 7 tabung reaksi. Tabung pertama diisi dengan 10 ml aquades. Tabung kedua dan selanjutnya hingga tabung ketujuh diisi dengan 9 ml aquades. Sampel tanah yang mengandung bakteri dimasukkan ke dalam tabung pertama secara aseptis. Dari tabung pertama diambil 1 ml suspensi dan kemudian pindahkan ke tabung kedua. Suspensi selanjutnya dikocok hingga menjadi homogen. Dari tabung kedua lalu pindahkan lagi 1 ml ke tabung ketiga dan untuk tabung berikutnya dilakukan cara yang sama hingga pada tabung ketujuh. Metode tuang (pour plate) adalah metode isolasi bakteri setelah dilakukan 86

Febriyanti et al., Pengaruh Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR)... pengenceran bertingkat. Langkah pertama yang dilakukan adalah 1 ml suspensi bakteri diteteskan ke dalam cawan Petri kosong secara aseptis. Media yang masih cair (>45 0 C) dituangkan kedalam cawan Petri dan kemudian dihomogenkan dengan cara diputar. Selanjutnya diinkubasi selama 24 jam. Setelah itu dilakukan perhitungan koloni bakteri dengan teknik Total Plate Count (TPC). Adapun cawan yang dipilih adalah sesuai dengan kaidah statistik yaitu berisi 30-300 koloni. Jumlah organisme yang terdapat dalam sampel asal dihitung dengan cara mengalikan jumlah koloni yang terbentuk dengan faktor pengenceran pada cawan yang bersangkutan (Anonim, 2014). Pemeliharaan Tanaman Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, penyiangan gulma dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Variabel Pengamatan 1. Masa Inkubasi Pengamatan masa inkubasi dan gejala penyakit dilakukan setiap hari sejak hari pertama setelah inokulasi PStV. Pengamatan dilakukan sampai munculnya gejala pertama pada semua perlakuan. 2. Intensitas Serangan Perhitungan intensitas serangan PStV menggunakan rumus : I = ( ) x 100% Keterangan : I : Intensitas serangan N :jumlah daun dalam tiap kategori serangan V : nilai skala tiap kategori serangan N : banyaknya daun yang diamati Z : nilai skala dari kategori serangan tertinggi Tabel 1. Skala serangan menurut Dolores (1996) Skor Kategori Serangan 0 Tanaman tidak menunjukkan gejala virus (sehat) 1 Tanaman menunjukkan gejala mosaik sangat ringan, atau tidak ada penyebaran sistemik 2 Tanaman menunjukkan gejala mosaik sedang 3 Tanaman menunjukkan gejala mosaik atau belang berat tanpa penciutan atau kelainan bentuk daun 4 Gejala mosaik atau belang berat dengan penciutan atau kelainan bentuk daun 5 Gejala mosaik atau belang sangat berat dengan penciutan atau kelainan bentuk daun yang parah, kerdil, atau mati 3. Tinggi Tanaman Pengamatan tinggi tanaman dilakukan dengan cara mengukur tanaman dari pangkal batang sampai ujung kanopi menggunakan mistar (cm). 4. Jumlah Daun Perhitungan jumlah daun dilakukan dengan cara menghitung helai daun pada setiap tanaman menggunakan handcounter. 5. Produksi Tanaman Pengamatan produksi tanaman meliputi perhitungan jumlah polong, bobot basah polong, bobot kering polong dan jumlah biji per tanaman. Pada parameter bobot kering polong dilakukan pengeringan dengan suhu 80 0 C selama 2x24 jam. Analisis Data Data pengamatan yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan uji F pada taraf 5%. Apabila terdapat pengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%. 87

Jurnal HPT Volume 3 Nomor 1 Januari 2015 HASIL DAN PEMBAHASAN Reaksi Tanaman Indikator terhadap PStV Tabel 2. Masa Inkubasi dan Bentuk Gejala PStV pada Tanaman Indikator Tanaman Indikator Chenopodium amaranticolor Phaseolus vulgaris Masa Inkubasi (HSI) Gejala 10 Lesio lokal 5 Klorosis Berdasarkan hasil pengamatan gejala infeksi Peanut Stripe Virus, terdapat perbedaan masa inkubasi dan gejala yang muncul pada tanaman indikator Chenopodium amaranticolor dan Phaseolus vulgaris (Tabel 2 ). Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi virus PStV pada Chenopodium amaranticolor bergejala lesio lokal, sedangkan pada Phaseolus vulgaris muncul gejala klorosis. Hal ini sesuai dengan penelitian Avivi (2005) bahwa Chenopodium amaranticolor yang diinokulasi PStV menujukkan gejala lesio lokal. Pengaruh PGPR terhadap Masa Inkubasi PStV pada Tanaman Kacang Tanah Berdasarkan hasil analisis ragam terhadap masa inkubasi serangan PStV pada tanaman kacang tanah menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap perlakuan pemberian PGPR (Tabel 3). Berdasarkan data pada tabel 3 menunjukkan bahwa hanya perlakuan kombinasi bakteri B. subtilis dan P. fluorescens yang berbeda nyata dengan perlakuan kontrol tanpa PGPR. Pada perlakuan tanpa PGPR (kontrol) didapatkan hasil rerata masa inkubasi adalah 21,67 hsi. Masa inkubasi PStV pada perlakuan kombinasi bakteri B. subtilis dan P. fluorescens adalah 30,33 hsi, artinya pemberian kedua bakteri tersebut mampu memperpanjang masa inkubasi PStV pada tanaman kacang tanah. Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh penelitian Aviolita (2013) bahwa pemberian kombinasi bakteri B. subtilis dan P. fluorescens mampu memperlambat gejala infeksi Soybean Mosaic Virus (SMV) pada tanaman kedelai (35,33 hsi). Tabel 3. Masa Inkubasi (hari) PStV Tanaman Kacang Tanah (hari) Kontrol (tanpa PGPR) 21,67 ab Bacillus subtilis () 22,67 ab Pseudomonas fluorescens () 27,00 abc Azotobacter sp. (Az) 20,67 a 30,33 c 28,67 bc 23,00 ab + Az 23,67 abc Keterangan : Angka yang diikuti tanda huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Duncan pada taraf 5%. Pengaruh PGPR terhadap Intensitas Serangan PStV pada Tanaman Kacang Tanah Berdasarkan hasil analisis ragam terhadap serangan PStV pada tanaman kacang tanah menunjukkan berbeda nyata. (Tabel 4). Berdasarkan data pada tabel 4 menunjukkan hanya perlakuan kombinasi bakteri ubtilis dan luorescens yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa PGPR (kontrol). Rerata intensitas serangan PStV pada perlakuan kontrol adalah 7,15 %. Pada perlakuan kombinasi bakteri ubtilis dan luorescens memiliki rerata intensitas serangan PStV yang lebih rendah (3,24 %), dengan demikian maka pemberian kedua bakteri tersebut secara bersamaan dapat menurunkan intensitas serangan PStV pada tanaman kacang tanah. 88

Febriyanti et al., Pengaruh Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR)... Tabel 4. Intensitas Serangan (%) PStV pada Tanaman Kacang Tanah (%) Kontrol (tanpa PGPR) 7,15 bc 4,16 ab 3,75 ab Az 9,35 c 3,24 a 5,04 ab 4,58 ab + Az 4,71 ab Keterangan : Angka yang diikuti tanda huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Duncan pada taraf 5%. Data ditransformasi ke Arc Sin x untuk keperluan analisis statistik. Pengaruh PGPR terhadap Pertumbuhan Tanaman Kacang Tanah Tinggi Tanaman Berdasarkan hasil pengamatan tinggi tanaman menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antar perlakuan tanpa PGPR (kontrol) dengan perlakuan isolat tunggal bakteri Azotobacter sp. dan semua kombinasi bakteri PGPR (Tabel 5). Tabel 5. Rata-Rata Pengaruh Aplikasi PGPR terhadap Tinggi Tanaman (cm) Kacang Tanah (cm) Kontrol (tanpa PGPR) 21,67 a 23,00 ab 22,67 ab A) 24,00 b 24,00 b 24,00 b 24,00 b + Az 24,00 b Keterangan : Angka yang diikuti tanda huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Duncan pada taraf 5%. Berdasarkan data pada tabel 5 menunjukkan bahwa tinggi tanaman kacang tanah yang diaplikasi isolat tunggal bakteri Azotobacter sp. dan diaplikasi semua perlakuan kombinasi bakteri PGPR adalah lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan tanpa PGPR (kontrol). Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan isolat tunggal bakteri Azotobacter sp. dan perlakuan semua kombinasi bakteri PGPR mampu meningkatkan tinggi tanaman kacang tanah. Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh penelitian Maria (2010) bahwa PGPR mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman cabai. Jumlah Daun Pengamatan jumlah daun menunjukkan perbedaan yang tidak nyata antara perlakuan kontrol (tanpa PGPR) dengan perlakuan PGPR. Hal ini menunjukkan bahwa PGPR tidak mampu meningkatkan jumlah daun pada tanaman kacang tanah. Dengan demikian maka perlakuan PGPR dan perlakuan kontrol tanpa PGPR menghasilkan jumlah daun yang tidak berbeda. Hal ini bertolak belakang dengan hasil penelitian Maria (2010) bahwa pada tanaman cabai yang diberikan perlakuan PGPR mempunyai jumlah daun yang lebih banyak jika dibandingkan perlakuan tanpa PGPR. Pengaruh PGPR terhadap Produksi Tanaman Kacang Tanah Jumlah Polong Hasil analisis ragam terhadap jumlah polong yang dihasilkan kacang tanah menunjukkan perbedaan yang nyata antara perlakuan kontrol (tanpa PGPR) dengan perlakuan PGPR (Tabel 6). Berdasarkan data pada tabel 6 menunjukkan bahwa hanya perlakuan isolat tunggal B. subtilis, kombinasi bakteri P. fluorescens dan Azotobacter sp. serta kombinasi bakteri B. subtilis, P. fluorescens dan Azotobacter sp. yang menunjukkan perbedaan nyata dengan perlakuan tanpa PGPR (kontrol). Hal ini membuktikan bahwa isolat tunggal B. subtilis, kombinasi bakteri P. fluorescens dan Azotobacter sp. serta kombinasi 89

Jurnal HPT Volume 3 Nomor 1 Januari 2015 bakteri B. subtilis, P. fluorescens dan Azotobacter sp. mampu meningkatkan jumlah polong. Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh penelitian Aviolita (2013) yang menujukkan bahwa perlakuan PGPR tanpa inokulasi SMV dapat meningkatkan hasil produksi jumlah polong kedelai sebanyak 42,46%. Penelitian Maria (2010) menunjukkan hasil bertolak belakang, dimana perlakuan PGPR tidak mampu meningkatkan jumlah buah cabai. Tabel 6. Rata-Rata Pengaruh Aplikasi PGPR terhadap Jumlah Polong (buah) Kacang Tanah (buah) Kontrol (tanpa PGPR) 11,00 a 18,00 cd 12,00 abc Az 13,67 abcd 11,67 ab 12,67 abcd 17,67 bcd + Az 18,67 d Keterangan : Angka yang diikuti tanda huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Duncan pada taraf 5%. Bobot Basah Polong Berdasarkan hasil analisis sidik ragam terhadap bobot basah polong pada semua perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata antara perlakuan kontrol (tanpa PGPR) dengan perlakuan PGPR (Tabel 7). Berdasarkan data pada tabel 7 menunjukkan bahwa hanya perlakuan isolat tunggal B. subtilis, kombinasi bakteri P. fluorescens dan Azotobacter sp. serta kombinasi bakteri B. subtilis, P. fluorescens dan Azotobacter sp. yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa PGPR (kontrol). Hal ini membuktikan bahwa isolat tunggal B. subtilis, kombinasi bakteri P. fluorescens dan Azotobacter sp. serta kombinasi bakteri B. subtilis, P. fluorescens dan Azotobacter sp. mampu meningkatkan bobot basah polong kacang tanah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Maria (2010) yang menunjukkan bahwa perlakuan PGPR umumnya dapat menghasilkan bobot buah cabai yang lebih tinggi jika dibandingkan tanaman cabai tanpa perlakuan PGPR. Tabel 7. Rata-Rata Pengaruh Aplikasi PGPR terhadap Bobot Basah Polong (gram) Kacang Tanah (gram) Kontrol (tanpa PGPR) 18,99 a 35,04 d 23,27 abc Az 21,93 ab 23,40 abc 22,28 ab 29,83 bcd + Az 33,10 cd Keterangan : Angka yang diikuti tanda huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Duncan pada taraf 5%. Bobot Kering Polong Berdasarkan pengamatan bobot kering polong didapatkan hanya perlakuan isolat tunggal B. subtilis yang berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (tanpa PGPR) (Tabel 8). Tabel 8. Rata-Rata Pengaruh Aplikasi PGPR terhadap Bobot Kering Polong (gram) Kacang Tanah (gram) Kontrol (tanpa PGPR) 12.13 ab 18.41 c 10.60 a Az 12.74 ab 12.36 ab 12.38 ab 17.71 bc + Az 16.71 Bc Keterangan : Angka yang diikuti tanda huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Duncan pada taraf 5%. 90

Febriyanti et al., Pengaruh Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR)... Berdasarkan data pada tabel 8 menunjukkan bahwa hanya perlakuan isolat tunggal B. subtilis yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa PGPR (kontrol). Rerata bobot kering B. subtilis nyata lebih banyak (18,41 gram) jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol (12,13 gram), artinya perlakuan isolat tunggal B. subtilis dapat meningkatkan bobot kering polong kacang tanah. Jumlah Biji per Tanaman Hasil pengamatan jumlah biji per tanaman menunjukkan perbedaan yang tidak nyata antara perlakuan PGPR dengan perlakuan kontrol tanpa PGPR, artinya pemberian PGPR tidak mampu meningkatkan jumlah biji per tanaman kacang tanah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Aviolita (2013) yang menunjukkan bahwa perlakuan PGPR tidak mempengaruhi jumlah biji yang dihasilkan oleh tanaman kedelai. Pertumbuhan PGPR pada Perakaran Tanaman Kacang Tanah Monitoring pertumbuhan PGPR pada perakaran tanaman kacang tanah bertujuan untuk mengetahui apakah bakteri PGPR yang diaplikasikan masih tumbuh di dalam perakaran tanaman. Pengambilan sampel tanah dilakukan ketika tanaman berumur 2 minggu setelah tanam. Perhitungan jumlah koloni dilakukan pada 1x24 jam atau 2x24 jam setelah isolasi bakteri. Hasil pengamatan didapatkan bahwa pada masing-masing perlakuan bakteri PGPR mempunyai jumlah koloni atau kerapatan yang berbeda-beda (Tabel 9). Berdasarkan data pada tabel 9 menunjukkan bahwa bakteri PGPR yang diaplikasikan memang tumbuh pada perakaran tanaman kacang tanah, sehingga dapat diasumsikan bahwa PGPR tersebut adalah faktor penting yang berperan dalam menekan infeksi serangan PStV, pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah. Tabel 9. Hasil pengamatan jumlah koloni bakteri PGPR Kerapatan bakteri (cfu/ml) 1,25 x 10 12 2,10 x 10 12 Az 7,6 x 10 11 8,9 x 10 11 + 2,45 x 10 12 8,4 x 10 11 + 9,2 x 10 11 2,36 x 10 12 + 9,6 x 10 11 +Az 7,8 x 10 11 + 6,7 x 10 11 + 8,4 x 10 11 KESIMPULAN Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh yaitu : 1. Kombinasi bakteri B. subtilis dan P. fluorescens dapat meningkatkan masa inkubasi Peanut Stripe Virus (PStV) dan menurunkan intensitas serangan PStV pada tanaman kacang tanah. 2. Isolat tunggal bakteri Azotobacter sp. dan semua kombinasi B. subtilis, P. fluorescens, dan Azotobacter sp. dapat meningkatkan tinggi tanaman kacang tanah. 3. Isolat tunggal bakteri B. subtilis, kombinasi bakteri P. fluorescens dan Azotobacter sp. serta kombinasi B. subtilis, P. fluorescens dan Azotobacter dapat meningkatkan jumlah polong dan bobot basah polong kacang tanah. 4. Isolat tunggal bakteri B. subtilis dapat meningkatkan bobot kering polong kacang tanah. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2014. Definisi, Prinsip, Kelebihan dan Kekurangan Cawan Gores dan Cawan Tuang. http://definisi-prinsip-kelebihandan-kekurangan-cawan gores-dan cawan tuang.blogspot.com Diunduh pada 21 Februari 2014 Ashrafuzzaman, et al. 2009. Efficiency of Plant Growth Promoting 91

Jurnal HPT Volume 3 Nomor 1 Januari 2015 Rhizobacteria (PGPR) for the Enhancement of Rice Growth. African Journal of Biotechnology. 8 (7):1247-1252 Aviolita, A., Martosudiro, M., Hadiastono, T. 2013. Pengaruh Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) terhadap Infeksi Soybean Mosaic Virus (SMV), Pertumbuhan dan Produksi pada Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) varietas Wilis.(skripsi).Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang. Deptan, 2012. Road Map Peningkatan Produksi Tanaman Kacang Tanah Tahun 2010-2014.Jakarta. 73 hlm. Dolores, L.M. 1996. Management of Pepper Viruses. In AVNET-II Final Workshop Proceedings. AVDRC. Tainan, Taiwan. Hlm.334-342 Manzila,I. Jumanto, Wardoyo,A. Wawan.?. Bioasai Tanaman kacang Tanah Transgenik terhadap Virus Bilur Kacang Tanah (PStV). Prosiding Seminar Hasil Penelitian Rintisan dan Bioteknologi Tanaman. Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Hlm. 179-183 Maria, S. 2010. Pengaruh Aplikasi Bakteri Perakaran Pemacu Pertumbuhan Tanaman pada Tiga Genotipe Cabai (Capsicum annum L.) terhadap Pertumbuhan Tanaman serta Kejadian Penyakit Penting Cabai.. (skripsi).jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor Millan, Mc. S. 2007. Promoting Growth With PGPR. The Canadian Organic Grower. Hlm.32-34 Saleh, N dan Baliadi, Y.1989. Pengaruh Jarak Tanam terhadap Perkembangan Penyakit Virus Belang Hasil Kacang Tanah. Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbi-umbian. Malang. Hlm. 41-42 Sudarsono, W., Winartodan Ilyas, S.1997. Pengaruh Infeksi Dua Isolat PStV terhadap Hasil dan Kualitas Benih Kacang Tanah. CV Banteng dan Komodo Sumarsih, S., dan Haryanto, D. 2012. Pseudomonas fluorescens and pseudomonas putidato to Promote Growth of Jatropha curcas Seedling Root. The Journal of Tropical Life Science. 2(2): 53-57 92