BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. diterima oleh dokter gigi adalah gigi berlubang atau karies. Hasil survey

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. yaitu aquades sebagai variabel kontrol dan sebagai variabel pengaruh

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I.PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Permasalahan. bersoda dan minuman ringan tanpa karbonasi. Minuman ringan berkarbonasi

BAB 1 PENDAHULUAN. minuman yang sehat bagi tubuh untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. 1

BAB I PENDAHULUAN. indeks caries 1,0. Hasil riset kesehatan dasar tahun 2007 melaporkan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. karbohidrat dari sisa makanan oleh bakteri dalam mulut. 1

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. gigi dan mulut di Indonesia. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan gigi dan mulut dengan asupan nutrisi (Iacopino, 2008). Diet yang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Erosi gigi adalah luruhnya jaringan keras gigi yang disebabkan oleh asam

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. alat Micro Vickers Hardness Tester. Alat tersebut bekerja dengan cara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 5 HASIL PENELITIAN. Hasil rata rata pengukuran kekerasan pada spesimen adalah sebagai berikut:

The Hardness Difference of Deciduous Tooth Enamel Between Before and After Soaking with Milk, Tea, and Soda

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. sebelum dan sesudah perendaman dengan beberapa jenis sediaan susu telah

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum terjadi di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia. Hal ini berpengaruh pada pola makan dan pemilihan makanan serta

PENDAHULUAN. Permen jelly merupakan makanan semi basah yang biasanya terbuat dari

BAB I PENDAHULUAN. ata terbaru yang dikeluarkan Departemen Kesehatan (Depkes) Republik

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. diperhatikan, khususnya pada pertumbuhan gigi desidui anak. Banyak orang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. cenderung meningkat sebagai akibat meningkatnya konsumsi gula seperti sukrosa.

BAB I PENDAHULUAN. Madu merupakan salah satu sumber makanan yang baik. Asam amino,

BAB 1 PENDAHULUAN. yang lebih bervariasi. Peristiwa ini dapat dilihat dengan konsumsi pada makanan dan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mahkota (crown) dan jembatan (bridge). Mahkota dapat terbuat dari berbagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karies. Hal ini dipengaruhi oleh morfologi dan kandungan mineral penyusun gigi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam bidang kedokteran gigi, masalah kesehatan gigi yang umum terjadi di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KARAKTERISTIK GIGI YANG TERPAPAR ASAM SUNTI (Averrhoa bilimbi L)

BAB II TINJAUAN TEORETIS. renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Tandanya

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling dominan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. langsung pada kavitas gigi dalam sekali kunjungan. Restorasi tidak langsung

BAB I PENDAHULUAN. Konsumsi gula adalah masalah utama yang berhubungan dengan. dan frekuensi mengkonsumsi gula. Makanan yang lengket dan makanan yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Masalah. mengenai , dentin, dan sementum. Penyakit ini disebabkan oleh aktivitas

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. karies gigi (Anitasari dan Endang, 2005). Karies gigi disebabkan oleh faktor

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manfaat yang maksimal, maka ASI harus diberikan sesegera mungkin setelah

BAB 4 METODE PENELITIAN JENIS PENELITIAN Desain: EKSPERIMENTAL LABORATORIK. Kontrol. Perlakuan larutan remineralisasi + Xylitol 20%

BAB I PENDAHULUAN. dan mulut yang memiliki prevalensi tinggi di masyarakat pada semua

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. disebabkan oleh penggunaan susu botol atau cairan lainnya yang termasuk karbohidrat seperti

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan tubuh, baik bagi anak-anak, remaja maupun orang dewasa. 1,2

BAB I PENDAHULUAN. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi masalah gigi dan mulut di atas

BAB I PENDAHULUAN. penanganan secara komprehensif, karena masalah gigi berdimensi luas serta mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. untuk area yang memiliki daerah tekan yang lebih besar (Powers dan

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. seseorang (Herdiyati, 2006 dalam Syafriadi dan Noh, 2014). Diskolorasi gigi

Fase pembentukan gigi ETIOLOGI Streptococcus mutans,

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. masalah dengan kesehatan gigi dan mulutnya. Masyarakat provinsi Daerah

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva yang terbentuk

BAB I PENDAHULUAN. permintaan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi tinggi meningkat.

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. prevalensi yang terus meningkat akibat fenomena perubahan diet (Roberson dkk.,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin (SIKMR) ionomer kaca. Waktu kerja yang singkat dan waktu pengerasan yang lama pada

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kismis adalah buah anggur (Vitis vinivera L.) yang dikeringkan dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Saliva merupakan cairan rongga mulut yang memiliki peran penting dalam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. bahan baku utamanya yaitu susu. Kandungan nutrisi yang tinggi pada keju

BAB 1 PENDAHULUAN. (SKRT, 2004), prevalensi karies di Indonesia mencapai 90,05%. 1 Riset Kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. adalah atrisi, abrasi, abfraksi, fraktur dan erosi.walaupun kata-kata ini mempunyai

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit gigi dan mulut merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi di

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Mulut memiliki lebih dari 700 spesies bakteri yang hidup di dalamnya dan. hampir seluruhnya merupakan flora normal atau komensal.

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi atau yang biasanya dikenal masyarakat sebagai gigi berlubang,

BAB III METODE PENELITIAN. peneliti memberi perlakuan terhadap sampel penelitian, dan perubahan yang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2013 menunjukkan urutan pertama pasien

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. kesehatan, terutama masalah kesehatan gigi dan mulut. Kebanyakan masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks yang terdiri atas

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 2004, didapatkan bahwa prevalensi karies di Indonesia mencapai 85%-99%.3

BAB I PENDAHULUAN. Streptococus mutans yang menyebabkan ph (potensial of hydrogen) plak rendah

BAB 1 PENDAHULUAN. ini. Anak sekolah dasar memiliki kerentanan yang tinggi terkena karies,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. cukup tinggi. Menurut hasil Riskesdas tahun 2013, indeks DMF-T Indonesia

I. PENDAHULUAN. nilai gizi yang sempurna ini merupakan medium yang sangat baik bagi

BAB 1 PENDAHULUAN. saliva yaitu dengan ph (potensial of hydrogen). Derajat keasaman ph dan

BAB I PENDAHULUAN. virus, bakteri, dan lain-lain yang bersifat normal maupun patogen. Di dalam

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. permukaan gigi yang tidak bersifat self cleansing (membersihkan gigi), self cleansing

BAB I PENDAHULUAN. lengkung rahang dan kadang-kadang terdapat rotasi gigi. 1 Gigi berjejal merupakan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat difermentasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Berbagai macam bakteri ini yang

BAB I PENDAHULUAN. mulut sejak dini. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai kebersihan mulut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. dapat dialami oleh setiap orang, dapat timbul pada satu permukaan gigi atau lebih dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Makanan kariogenik menjadi makanan kegemaran anak karena bentuknya

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. kesehatan gigi dan makanan sehat cenderung dapat menjaga perilaku hidup sehat.

Ind. J. Chem. Res, 2014, 1, Pengaruh Minuman Bersoda Terhadap Demineralisasi Gigi Dengan Penambahan Natrium Fluorida Ruslan*

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Struktur Gigi Desidui Gigi desidui atau lebih dikenal dengan gigi susu adalah gigi yang pertama kali muncul di rongga mulut. Gigi desidui sudah mulai berkembang pada usia empat bulan dalam kandungan. Pertumbuhan gigi desidui dimulai dengan tahap kalsifikasi mahkota dan disusul dengan kalsifikasi akar (Weiss & Scheid, 2012). Struktur gigi dilihat secara melintang, terdiri dari email, dentin, dan pulpa, yang dimana email dan dentin terbentuk oleh beberapa mineral yang melindungi pulpa (Panigoro, dkk., 2015). Gigi desidui sendiri mempunyai waktu yang relatif singkat dalam rongga mulut anak, sebelum akhirnya digantikan oleh gigi-gigi permanen. Gigi insisivus desidui dan gigi kaninus desidui memiliki pengganti gigi permanen yang tetap, sedangkan gigi molar desidui akan digantikan dengan gigi premolar permanen (Beek, 1996). Email gigi merupakan struktur gigi yang mengalami proses mineralisasi yang tinggi, tetapi rentan terhadap asam, baik asam yang langsung dari makanan atau minuman maupun asam yang terbentuk dari proses fermentasi karbohidrat oleh mikroorganisme (Panigoro, dkk., 2015). Email gigi desidui diketahui 10

11 lebih permeabel dan lebih mudah terabrasi, tetapi derajat permeabilitas akan berkurang setelah akar mulai teresorbsi. Kedalaman dari email gigi desidui pun lebih konsisten dan lebih tipis daripada gigi permanen, dengan kira-kira ketebalan 0,5 mm sampai 1,00 mm, sedangkan ketebalan email gigi permanen kurang lebih 2,5 mm (Beek, 1996). Hal-hal seperti yang sudah disebutkan di atas inilah yang menyebabkan rasio terjadinya demineralisasi pada gigi desidui lebih tinggi dibandingkan dengan gigi permanen (Kidd, dkk., 2008). Gambar 1. Waktu Erupsi Gigi Desidui (Sumber : http://www.audydental.com/wp- content/uploads/2014/09/tabel-pertumbuhan-gigi-susu-dan-gigi- Tetap-Pada-Anak.jpg)

12 2. Demineralisasi dan Remineralisasi Gigi a. Pengertian demineralisasi dan remineralisasi Demineralisasi adalah berkurangnya kadar garam-garam anorganik dan mineral pada tulang atau email gigi secara bertahap (Dolan, 2008). Demineralisasi pada email itu sendiri ditandai dengan adanya kerusakan permukaan dan penurunan kekerasan mikro permukaan email (Syafira, dkk., 2012). Menurut penyebabnya, demineralisasi dibagi menjadi dua yaitu demineralisasi yang melibatkan bakteri secara langsung dan demineralisasi yang melibatkan zat asam (Mount, 2005). Menurut Prasetyo pada tahun 2005, demineralisasi yang melibatkan bakteri secara langsung mengacu pada proses terjadinya karies, sedangkan yang dimaksud demineralisasi yang melibatkan zat asam mengacu pada erosi gigi. Kehilangan unsur-unsur mineral pada gigi ini bersifat reversibel atau masih dapat kembali seperti semula melalui proses remineralisasi yang artinya pemasukan kembali mineral-mineral pada gigi yang hilang seperti ion kalsium, kalium, dan fluor (Adyatmaka, 2008). b. Erosi dan Karies Erosi dan karies mempunyai suatu kesamaan yaitu terjadinya kerusakan pada permukaan email gigi atau demineralisasi yang disebabkan oleh asam, tetapi yang membedakan adalah jenis asamnya,

13 dimana erosi melibatkan asam yang terpapar langsung dari makanan atau minuman, sedangkan karies melibatkan asam hasil dari metabolisme mikroorganisme dalam rongga mulut (Prasetyo, 2005). Definisi erosi sendiri adalah kehilangan mineral-mineral penting struktur gigi yang terjadi secara terus menerus dikarenakan paparan zat asam secara langsung baik asam yang berasal dari dalam tubuh (intrinsik) maupun dari luar tubuh (ekstrinsik) tanpa adanya keterlibatan mikroorganisme. Contoh asam yang berasal dari dalam tubuh adalah asam lambung yang dapat berkontak secara langsung dengan gigi pada keadaan muntah atau biasanya pada penderita bulimia, sedangkan asam yang berasal dari luar tubuh adalah asam yang berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumsi, serta aktivitas lainnya seperti pada saat berenang (Silva, dkk., 2011). Berdasarkan pada perbedaan yang telah disebutkan tersebut, karies memiliki beberapa faktor penting dalam pembentukannya, beberapa faktor pembentuk karies, yang pertama yaitu substrat. Karbohidrat tergolong salah satu contoh dari substrat. Karbohidrat dapat berupa sukrosa dan glukosa yang nantinya akan difermentasikan oleh bakteri menjadi asam. Kedua, bakteri sebagai agen pembentuk asam. Bakteri yang sering menjadi inisiator dari terjadinya demineralisasi email adalah Streptococcus mutans dan Streptococcus sobrinus, walaupun demikian Streptococcus mutans diyakini sebagai

14 bakteri yang paling berperan dalam proses demineralisasi pada email gigi (Manton, dkk., 2008). Ketiga, host atau keadaan dari gigi-geligi itu sendiri. Faktor keempat adalah waktu, diperlukan untuk awal proses karies yaitu demineralisasi permukaan gigi oleh asam yang ditimbulkan dari fermentasi substrat oleh bakteri (Bakar, 2012). c. Proses demineralisasi dan remineralisasi gigi Demineralisasi gigi dapat terjadi karena paparan zat asam secara langsung maupun zat asam yang terbentuk dari hasil metabolisme mikroorganisme dalam rongga mulut dalam kurun waktu tertentu (Panigoro, dkk., 2015). Demineralisasi itu sendiri dapat terjadi apabila lingkungan dalam rongga mulut berada pada ph dibawah 5,5, karena pada ph yang rendah ini akan meningkatkan konsentrasi ion hidrogen yang dapat merusak ikatan hidroksiapatit yang terkandung pada email gigi (Prasetyo, 2005). Demineralisasi ini adalah sebuah proses penguraian berbagai mineral pada email gigi, terutama kalsium yang menjadi mineral utama dalam struktur gigi (Panigoro, dkk., 2015). Beberapa mineral penting ini jika dibiarkan berdifusi keluar dari struktur gigi secara terus menerus akan terbentuk lubang pada gigi (Adyatmaka, 2008). Selain proses demineralisasi, terdapat juga proses remineralisasi yaitu proses kembalinya mineral-mineral penting pembentuk gigi,

15 contohnya kalsium dan fosfat, menjadi ikatan hidroksiapatit pada email gigi yang merupakan proses penting yang memiliki pengaruh signifikan pada kekerasan gigi (Widyaningtyas, dkk., 2014). 3. Jenis Minuman Jenis minuman digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu jenis minuman keras yang mengandung alkohol dan jenis minuman ringan yang tidak mengandung alkohol. Umumnya, minuman kesukaan anak tergolong dari jenis minuman yang tidak mengandung alkohol atau minuman ringan. Minuman ringan itu sendiri terbagi menjadi dua golongan, yaitu minuman ringan tidak berkarbonasi dan minuman berkarbonasi (Chandra, 2009). a. Susu Susu adalah salah satu contoh dari minuman-minuman yang senang dikonsumsi anak-anak. Susu tergolong jenis minuman ringan tidak berkarbonasi. Susu adalah minuman yang sering diberikan orang tua pada anak dan juga digemari oleh anak. Sediaoetama dalam bukunya Ilmu Gizi untuk makasiswa dan profesi (2004) menggolongkan susu menjadi beberapa jenis. Jenis yang pertama yaitu susu segar, yaitu susu hasil pemerasan dari sapi secara langsung tanpa ditambahkan zat-zat lain ataupun mengalami pengolahan. Jenis yang kedua adalah susu asam atau lebih dikenal dengan yoghurt.

16 Yoghurt dihasilkan dari pengolahan susu segar yang diasamkan menggunakan bakteri Lactobacillus sp. Susu skim adalah jenis yang ketiga. Susu skim mengandung energi yang lebih rendah dibandingkan dengan jenis susu lainnya, dikarenakan kandungan lemak yang terdapat dalam susu ini telah diambil untuk dijadikan bahan pembuatan mentega. Susu termasuk minuman anti kariogenik, dikarenakan kandungan kalsiumnya yang cukup tinggi dibandingkan kandungan mineral lainnya. Dibandingkan dengan kandungan glukosa yang terkandung dalam susu pun, mineral kalsium jumlahnya jauh lebih tinggi, sehingga susu digolongkan sebagai minuman anti kariogenik (Legowo, 2002). b. Teh Teh merupakan salah satu bahan minuman yang diambil dari pucuk muda daun teh (Camellia sinensis) (Towaha, 2013). Teh diklasifikasikan menjadi 4 jenis, yaitu teh hijau (green tea), teh hitam (black tea), teh oolong (oolong tea), dan teh putih (white tea). Teh adalah jenis minuman yang paling banyak dikonsumsi setelah air putih, karena teh memiliki efek yang menyegarkan bagi peminumnya (BALITTRI, 2012).

17 Kandungan kimia dalam daun teh dapat digolongkan menjadi 4 golongan, yang pertama yaitu golongan fenol, golongan bukan fenol, golongan aromatik dan golongan enzim. Golongan fenol terdiri katekin dan flavanol. Golongan bukan fenol termasuk karbohidrat yang terdiri dari sukrosa, glukosa, dan fruktosa. Kandungan lain yang terdapat pada golongan bukan fenol adalah alkaloid, asam-asam amino, klorofil dan zat warna lainnya, asam organik seperti asam oksalat, asam suksinat, asam malat, dan asam sitrat. Selain kandungan tersebut, teh juga memiliki kandungan mineral. Jenis mineral yang terkandung seperti Na, K, Mg, Ca, F, Zn, Mn, Cu, dan Se. Kandungan mineral F (Fluor) lebih banyak dibandingkan dengan kandungan mineral lainnya, yang memiliki fungsi penting dalam menguatkan dan mempertahankan gigi agar gigi terlindungi dari karies. Golongan aromatik dalam teh ini mempunyai peran penting dalam menentukan kualitas teh. Banyak macam senyawa aromatik yang sudah teridentifikasi di dalam kandungan teh, salah satu contoh dari senyawa aromatik tersebut adalah linalool. Golongan enzim yang terkandung dalam teh seperti invertase, protease, amilase, dan peroksidase. Enzim-enzim yang terkandung dalam teh tersebut berperan sebagai biokatalisator untuk setiap reaksi kimia yang terjadi di dalam tanaman (Towaha, 2013).

18 c. Soda Selain susu, minuman yang digemari anak-anak adalah minuman berkarbonasi atau minuman bersoda. Soda mengandung CO2 yang dapat menimbulkan sensasi segar saat diminum, tetapi juga dapat menimbulkan suasana asam dalam mulut (Setyaningsih & Wibisono, 2010). Kandungan dari soda sebagian besar adalah air berkarbonasi tersebut, bahan pemanis, pewarna, zat asam, dan bahan pengawet. Bahan pemanis yang digunakan pada pembuatan soda ini terdiri dari dua jenis bahan pemanis, yang pertama adalah pemanis natural yaitu gula pasir, dan pemanis buatan atau sintetik yaitu sakarin. Zat pewarna digunakan untuk menambah daya tarik dari minuman bersoda. Kandungan zat asam dalam soda berfungsi sebagai memberikan rasa asam pada minuman sekaligus sebagai pengawet. Beberapa contoh asam yang digunakan adalah asam malat, asam sitrat dan asam fumarat (Chandra, 2009). 4. Uji Kekerasan Email Berbagai macam kandungan yang terdapat di dalam tiga jenis minuman tersebut memiliki efek masing-masing terhadap kekerasan lapisan email gigi.

19 Kekerasan pada suatu material diartikan sebagai kemampuan suatu material tertentu untuk menahan penetrasi suatu benda keras (indenter). Nilai suatu kekerasan tergantung pada metode yang digunakan untuk mengevaluasi tingkat kekerasan tersebut (McCabe & Walls, 2008). Sejumlah tes yang sering digunakan untuk menguji kekerasan suatu material pada kedokteran gigi adalah Barcol, Brinell, Rockwell, Shore, Vickers, dan Knoop (Anusavice, 2003). Metode Brinell menggunakan indenter berbentuk seperti bola, metode Vickers dan Knoop menggunakan indenter berbentuk piramid, sedangkan metode Rockwell menggunakan indenter berbentuk kerucut (Noort, 2007). Metode Brinell atau dapat disingkat BHN (Brinell Hardness Number), metode ini adalah suatu metode lama yang sudah sering digunakan untuk mengukur kekerasan bahan metal dan alloy yang sering digunakan dalam kedokteran gigi. Contohnya seperti kawat, kekerasan tumpatan bahan amalgam, dan lain sebagainya (Powers & Sakaguchi, 2006). Metode Rockwell mengukur kedalaman dari jejas penetrasi dari indenter. Indenter yang digunakan pada metode Rockwell berupa kerucut atau bola yang mempunyai beberapa ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur berbagai jenis material. Satuan ukur yang digunakan untuk metode Rockwell adalah RHN. Satu kelemahan dari metode Rockwell yaitu

20 memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan metode lain. Kekurangan yang sama dari metode Brinell dan Rockwell adalah keduanya tidak dapat digunakan untuk mengukur kekerasan dari material yang mempunya sifat mudah pecah (Anusavice, 2003). Metode Knoop dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pengujian kekerasan menggunakan mikro-indentasi. Satuan ukur yang digunakan adalah KHN (Knoop Hardness Number). Metode ini cocok jika digunakan untuk menguji kekerasan dari meterial berbahan plastik tipis atau lembaran metal, metode ini juga cocok untuk menguji suatu material yang mempunyai sifat brittle atau mudah pecah (Powers & Sakaguchi, 2006) Penggunaan metode Vickers menggunakan indenter yang berbentuk kotak seperti basis sebuah piramid. Metode ini hampir sama dengan metode Knoop, dapat menguji kekerasan material yang mempunyai sifat mudah pecah seperti struktur gigi (email dan dentin). Metode ini juga sangat berguna untuk menguji kekerasan material yang sangat keras dengan area yang kecil (Powers & Sakaguchi, 2006).

21 Gambar 2. Penampang Indenter (Sumber : Applied Dental Material, McCabe & Walls, 2008) Gambar 2 menunjukkan penampang indenter dari metode Brinell, Vickers, dan Knoop. Penampang metode Vickers yang terlihat semakin ke kanan semakin mengecil tersebut menandakan bahwa semakin kecil penampang yang terlihat menandakan semakin keras suatu benda yang diuji, begitu pula sebaliknya. Metode yang terakhir dari uji kekerasan ini adalah Shore dan Barcol. Metode ini biasa digunakan untuk menguji material berbahan dasar karet atau plastik pada dental material (Anusavice, 2003). Contohnya seperti menentukan kekerasan dari elastomer. Kesimpulannya, dari keenam jenis pengukuran kekerasan tersebut dapat digolongkan menjadi 2 golongan yaitu Macro Hardness Tester yaitu metode Rockwell dan Brinell dan golongan Micro Hardness Tester yaitu

22 metode Knoop dan Vickers. Pengukuran yang sesuai untuk mengukur atau menguji tingkat kekerasan lapisan email gigi adalah menggunakan Micro Hardness Tester menggunakan metode Vickers.

23 B. Landasan Teori Gigi desidui adalah gigi yang pertama kali muncul di dalam rongga mulut anak, yang nantinya akan digantikan dengan gigi permanen. Gigi desidui memiliki beberapa struktur yang berbeda dengan gigi permanen, pada gigi desidui memiliki ketebalan lapisan email yang lebih tipis dari gigi permanen. Hal ini yang menyebabkan beberapa contoh minuman yang digemari anak seperti susu, teh, dan soda yang kandungan dari masingmasing minuman tersebut dapat mempengaruhi kekerasan lapisan email gigi desidui. Bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh dari ketiga jenis minuman tersebut pada lapisan email gigi desidui, maka dilakukan pengukuran kekerasan lapisan email sebelum dan sesudah gigi desidui mendapatkan perlakuan. Pengukuran lapisan email gigi desidui dapat menggunakan uji kekerasan Micro Vickers Hardness Tester. Uji kekerasan menggunakan Micro Vickers Hardness Tester inilah yang cocok untuk mengukur kekerasan email dibandingkan menggunakan metode uji kekerasan lainnya. Setelah uji kekerasan dilakukan dapat diketahui ada atau tidaknya perbedaan pada kekerasan email. Adanya pengaruh salah satu kandungan dari beberapa minuman tersebut, yang dapat mengurangi kekerasan email gigi desidui.

24 C. Kerangka Konsep Gigi Desidui Terdemineralisasi Jenis demineralisasi Melibatkan Bakteri Melibatkan Zat Asam Erosi Gigi Substrat Susu Teh Soda Kalsium Fluor Zat Asam Glukosa Asam Organik Mempengaruhi kekerasan email gigi desidui : Variabel yang tidak diteliti : Variabel diteliti Menyebabkan perbedaan kekerasan email gigi desidui Gambar 3. Kerangka Konsep

25 D. Hipotesis Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, maka hipotesis pada penelitian ini adalah : Terdapat perbedaan kekerasan email gigi desidui antara sebelum dan sesudah dilakukan perendaman dengan beberapa jenis minuman yang diteliti yaitu susu, teh, dan soda.