Medical Laboratory Technology Journal

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS KANDUNGAN FORMALIN PADA TAHU PUTIH DI PASAR BERSEHATI KOTA MANADO TAHUN 2017 Regina Sasmita Lakuto*, Rahayu H. Akili*, Woodford B.

KANDUNGAN FORMALIN DALAM BAHAN MAKANAN DI BANDA ACEH*

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau mencegah tumbuhnya mikroorganisme, sehingga tidak terjadi proses

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PRODUSEN DENGAN PENGGUNAAN FORMALIN PADA BAKSO SAPI KILOAN YANG DIJUAL DI PASAR TRADISIONAL DAN MODERN KOTA PONTIANAK

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen.

ANALISIS KUALITATIF FORMALIN PADA TAHU MENTAH YANG DIJUAL DI PASAR KALINDO, TELUK TIRAM DAN TELAWANG BANJARMASIN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia D III Analis Kesehatan Fakultas

Ira Oktaviani Rz Prodi D III Analis Farmasi dan Makanan, Universitas Abdurrab, Jalan Riau Ujung No.73, Pekanbaru

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen.

I PENDAHULUAN. (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat

IDENTIFIKASI KANDUNGAN FORMALIN PADA TAHU YANG DIJUAL DI PASAR SENTRAL KOTA GORONTALO. Sriyanti Dunggio, Herlina Jusuf, Ekawaty Prasetya 1

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Data penetapan kadar larutan baku formaldehid dapat dilihat pada

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pengujian adalah :

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hewan Coba Fakultas Kedokteran

Jurnal Analis Laboratorium Medik, 30/11 (2016), IDENTIFIKASI FORMALIN PADA IKAN ASIN YANG DIPERJUAL BELKAN DI PUSAT PASAR SAMBU MEDAN TAHUN 2015

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III BAHAN DAN CARA KERJA

BAB I PENDAHULUAN. Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 033 tahun 2012 tentang Bahan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Daging ayam merupakan sumber protein hewani yang mudah dimasak

KERACUNAN AKIBAT PENYALAH GUNAAN METANOL

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Termasuk

BAB I PENDAHULUAN. Asam format yang terakumulasi inilah yang menyebabkan toksik. 2. Manifestasi klinis yang paling umum yaitu pada organ mata, sistem

ANALISIS KANDUNGAN FORMALIN PADA MIE BASAH PADA BEBERAPA LOKASI DI KOTA AMBON

LAPORAN PRAKTIKUM METABOLISME GLUKOSA, UREA, DAN TRIGLISERIDA (TEKNIK SPEKTROFOTOMETRI)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dilaksanakan di RSGM UMY dengan tujuan untuk melihat adanya

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah eskperimental

KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN PENURUNAN KADAR FORMALDEHIDA TAHU SETELAH PENGUKUSAN DAN PEREBUSAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. diketahui kandungan airnya. Penetapan kadar air dapat dilakukan beberapa cara.

PENGARUH METODE PRAKTIKUM DENGAN PENDEKATAN LINGKUNGAN TERHADAP HASIL BELAJAR PADA MATERI PEMISAHAN CAMPURAN DI SMP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kegiatan di dalam kehidupannya (Effendi, 2012). Berdasakan definisi dari WHO

ANALISIS KANDUNGAN FORMALIN PADA BERBAGAI JENIS DAGING DI PASAR SWALAYAN KOTA MANADO

Medical Laboratory Technology Journal

The Temperature and Time Influence of Immersion in Water Solvent against Formaldehyde Salted Level Belanak Fish (Mugil cephalus)

BAB III METODE PENELITIAN. pendahuluan berupa uji warna untuk mengetahui golongan senyawa metabolit

INTISARI ANALISIS KUALITATIF FORMALIN PADA IKAN ASINTELANG DARI PRODUSEN DI DESA SIMPANG EMPAT SUNGAI BARU KECAMATAN JORONG KABUPATEN TANAH LAUT

BAB III METODE PENELITIAN

EFEKTIVITAS JUS JAMBU BIJI TERHADAP PERUBAHAN KADAR HB PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BACEM KABUPATEN BLITAR TAHUN 2015

PERBEDAAN KADAR FORMALIN PADA TAHU YANG DIJUAL DI PASAR PUSAT KOTA DENGAN PINGGIRAN KOTA PADANG. Skripsi

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C

Farikha Maharani, Indah Riwayati Universitas Wahid Hasyim, Semarang *

UJI KADAR PROTEIN DAN ORGANOLEPTIK DAGING SAPI REBUS YANG DILUNAKKAN DENGAN SARI BUAH NANAS (Ananas comosus) NASKAH PUBLIKASI

BAB 1 PENDAHULUAN. kedelai yang tinggi protein, sedikit karbohidrat, mempunyai nilai gizi dan

Air dan air limbah Bagian 2: Cara uji kebutuhan oksigen kimiawi (KOK) dengan refluks tertutup secara spektrofotometri

BAB I PENDAHULUAN. Zat gizi dalam makanan yang telah dikenal adalah karbohidrat, lemak,

BAB III METODE PENELITIAN

ABSTRAK UJI SEMIKUANTITATIF FORMALIN DALAM MI BASAH DI PASAR X KOTA BANDUNG TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN. Berbagai usaha dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Misalnya

BAB III METODE PENELITIAN

INTISARI ANALISA KUALITATIF FORMALIN PADA IKAN ASIN BAWAL DAN EBI DENGAN METODE ASAM KROMATOFAT DI PASAR INDRA SARI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan

LAPORAN PRAKTIKUM III PRAKTIKUM METABOLISME GLUKOSA, UREA DAN TRIGLISERIDA (TEKNIK SPEKTROFOTOMETRI)

LAPORAN PRAKTIKUM METABOLISME GLUKOSA, UREA, DAN TRIGLISERIDA (TEKNIK SPEKTROFOTOMETRI)

STUDI KASUS KADAR FORMALIN PADA TAHU DAN KADAR PROTEIN TERLARUT TAHU DI SENTRA INDUSTRI TAHU DUKUH PURWOGONDO KECAMATAN KARTASURA

PEMBERIAN CHITOSAN SEBAGAI BAHAN PENGAWET ALAMI DAN PENGARUHNYA TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN DAN ORGANOLEPTIK PADA BAKSO UDANG

INTISARI ANALISIS KUALITATIF FORMALIN DALAM TAHU MENTAH DI PASAR ANTASARI KECAMATAN BANJARMASIN TENGAH

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah kentang merah dan

BAB IV METODE PENELITIAN

TUGAS II REGULER C AKADEMI ANALIS KESEHATAN NASIONAL SURAKARTA TAHUN AKADEMIK 2011/2012

Pengaruh Boraks, Asam dan Basa Terhadap Pergeseran Panjang Gelombang Ekstrak Air Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn.)

PENGARUH PENGGORENGAN DAN PEMAKAIAN FORMALIN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORI TAHU

Unnes Journal of Public Health

IJMS Indonesian Journal On Medical Science Volume 3 No 2 - Juli 2016

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian yang dilakukan oleh dr.

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Subjek dalam penelitian ini adalah nata de ipomoea. Objek penelitian ini adalah daya adsorpsi direct red Teknis.

PENGARUH LAMA KONTAK KARBON AKTIF TERHADAP PENURUNAN KADAR KESADAHAN AIR SUMUR DI DESA KISMOYOSO KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN BOYOLALI

BAB 1 PENDAHULUAN. oksigen, dan karbon (ACC, 2011). Formalin juga dikenal sebagai formaldehyde,

BAB I PENDAHULUAN. yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Balai Laboratorium Dinas Kesehatan Daerah Provinsi Sumatera Utara yang

I. PENDAHULUAN. Escherichia coli adalah bakteri yang merupakan bagian dari mikroflora yang

Analysis The Blood Ph Level Of Wistar Rats (Rattus Norvegicus) Given Formaldehyde Orally

PENAMBAHAN BAWANG MERAH ( Allium ascalonicum ) UNTUK MENGHAMBAT LAJU PEMBENTUKAN PEROKSIDA DAN IODIUM PADA MINYAK CURAH

BAB 3 METODE DAN BAHAN PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis sayuran sehat yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. yaitu aquades sebagai variabel kontrol dan sebagai variabel pengaruh

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Hasil Uji Kualitatif Formalin dalam sampel Mie basah. Hasil Uji (+/-)

PENGARUH VARIASI WAKTU PERENDAMAN DAN PENAMBAHAN SODA KUE (NaHCO 3 ) TERHADAP KADAR ASAM SIANIDA TEMPE KORO BENGUK

Lampiran 1. Alur Pembuatan Ekstrak Buah Mengkudu. 12 Kg Buah mengkudu dipotong tipis- tipis

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni - November 2011 :

BAB IV METODE PENELITIAN. Biomedik. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pusat Studi Pangan dan

IDENTIFIKASI PENGGUNAAN FORMALIN PADA TAHU PUTIH DI PASAR KEDUNGMUNDU DAN RANDUSARI SEMARANG

DAFTAR ISI II METODOLOGI PENELITIAN III BAHAN DAN ALAT Bahan Alat... 24

LAPORAN PRAKTIKUM Metabolisme Glukosa, Urea dan Trigliserida (Teknik Spektrofotometri)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. kandungan protein nabati dan sangat digemari oleh masyarakat Indonesia.

III. METODOLOGI PENELITIAN di Laboratorium Kimia Analitik dan Kimia Anorganik Jurusan Kimia

VALIDASI METODE ANALISIS FORMALIN SECARA SPEKTROFOTOMETRI SINAR TAMPAK DENGAN PEREAKSI SCHYRVER

dimana a = bobot sampel awal (g); dan b = bobot abu (g)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang berasal dari lemak tumbuhan maupun dari lemak hewan. Minyak goreng tersusun

INTISARI. ANALISIS KUALITATIF FORMALIN PADA EBI dan IKAN TERI MEDAN DI UNIT PASAR SEKTOR II KECAMATAN BANJARMASIN SELATAN

1 atm selama 15 menit

PENGARUH WAKTU PERENDAMAN, PENAMBAHAN SODA KUE, SUHU PEREBUSAN, DAN WAKTU PEREBUSAN PADA PEMBUATAN SUSU BIJI KECIPIR

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENERAPAN EKO-EFISIENSI PADA PROSES PENGEMASAN TAHU DENGAN PENAMBAHAN CHITOSAN UNTUK MEMPERPANJANG MASA SIMPAN TAHU

Transkripsi:

1 (2), 2015, 84-90 Medical Laboratory Technology Journal Available online at : http://ejurnal-analiskesehatan.web.id PERBANDINGAN PENURUNAN KADAR FORMALIN PADA TAHU YANG DIREBUS DAN DIRENDAM AIR PANAS Akhmad Muntaha, Haitami, Nurul Hayati Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jl Mistar Cokrokusumo 4a Banjarbaru e-mail : muntaha123@gmail.com Abstract: Tofu is a food with high protein content and the moisture content reaches 85%, so that it knows can not last long. Manufacturers know still use formaldehyde as a preservative. Handling to reduce formaldehyde levels in the know are soaked in hot water and boiled in boiling water. The purpose of this study was to determine the ratio decreased levels of formaldehyde in the know are boiled and soaked in hot water out. This type of research is True Experiment with posttest study design Only Control Group Design. The population in this study is tofu containing formalin. Then examined by spectrophotometry of formaldehyde levels in most groups as a pretest sample, others are given treatment and formalin levels checked by spectrophotometry. Data were analyzed using the Mann-Whitney test. Results of this study the average levels of formaldehyde in the know before the treatment is 68.668 ppm. Decreased levels of formaldehyde in formalin know after boiling for 10 minutes was 64.77%. Decreased levels of formaldehyde in formalin know with the treatment of immersion in hot water for 10 minutes is 33.1%. Based on statistical tests that have been conducted, it was found a significant difference between the reduced levels of formaldehyde in formalin boiled out and the know formalin soaked in hot water with sig. 0,000. Boiling know formalin reduce levels of formaldehyde greater than soaking out in hot water. Keywords: formaldehyde, you know, boiling, soaking Abstrak: Tahu merupakan bahan pangan dengan kandungan protein yang tinggi dan kadar air mencapai 85%, sehingga tahu tidak dapat bertahan lama. Produsen tahu masih menggunakan formalin sebagai pengawet. Penanganan untuk mengurangi kadar formalin pada tahu yaitu direndam dalam air panas dan direbus dalam air mendidih. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan penurunan kadar formalin pada tahu yang direbus dan tahu yang direndam air panas. Jenis penelitian ini adalah True Eksperiment dengan rancangan penelitian Posttest Only Control Group Design. Populasi pada penelitian ini adalah tahu putih yang diberi formalin. Kemudian dilakukan pemeriksaan kadar formalin secara spektrofotometri pada sebagian kelompok sampel sebagai pretest, sebagian lainnya diberikan perlakuan dan diperiksa kadar formalinnya secara spektrofotometri. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian ini ratarata kadar formalin pada tahu sebelum perlakuan adalah 68,668 ppm. Penurunan kadar formalin pada tahu berformalin setelah direbus selama 10 menit adalah 64,77%. Penurunan kadar formalin pada tahu berformalin dengan perlakuan perendaman dalam air panas selama 10 menit adalah 33,1%. Berdasarkan uji statistik yang telah dilakukan, didapatkan perbedaan yang signifikan antara penurunan kadar formalin pada tahu berformalin yang direbus dan pada tahu berformalin yang direndam dalam air panas dengan nilai sig. sebesar 0,000. Perebusan tahu berformalin menurunkan kadar formalin lebih besar dibandingkan perendaman tahu dalam air panas. Kata kunci: formalin, tahu, perebusan, perendaman

PENDAHULUAN Saat membeli makanan, masyarakat harus teliti dan waspada terhadap makanan yang dijual, baik di pasar tradisional maupun pasar-pasar modern. Saat ini telah banyak dilaporkan penyalahgunaan pengawet yang bukan untuk makanan, tetapi digunakan untuk makanan. Salah satu contohnya adalah formalin. Formalin adalah bahan kimia yang kegunaannya untuk keperluan luar tubuh. Formalin biasanya digunakan sebagai pengawet mayat dan organ-organ makhluk hidup, pembunuh hama, bahan disinfektan dalam industri plastik dan busa, serta untuk sterilisasi ruang. Namun, formalin telah banyak disalahgunakan untuk mengawetkan makanan. Karena efek toksik formalin yang sangat tinggi dan bersifat karsinogenik, maka Badan POM melarang penambahan formalin dalam makanan (Wijaya, 2011). Akibat buruk dari mengonsumsi makanan yang mengandung formalin memang tidak serta merta dapat dirasakan. Tetapi, efek kumulatif penyerapan bahan ini dalam tubuh konsumen sangatlah fatal (Wijaya, 2011). Walaupun penggunaan formalin sebagai pengawet makanan telah dilarang, dan isu penggunaannya pada makanan sudah surut, namun tidak menutup kemungkinan masih a d a n y a p r o d u s e n y a n g t i d a k bertanggungjawab menggunakan formalin sebagai pengawet pada barang dagangannya, salah satu contohnya adalah tahu. Tahu adalah salah satu jenis makanan yang sudah lama dikenal dan sering dijumpai dalam masakan Indonesia. Tahu dibuat dari sari kacang kedelai yang digumpalkan dengan asam cuka, kalsium sulfat, atau glukan delta lakton. Tahu merupakan bahan pangan dengan kandungan protein yang tinggi dan kadar air mencapai 85%, sehingga tahu tidak dapat bertahan lama. Satu hari setelah diproduksi tahu akan mulai rusak (Saptarini dkk, 2011). Jenis tahu yang paling banyak dikonsumsi pada umumnya adalah tahu putih. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Priyanti tahun 2011 tentang uji kualitatif formalin pada tahu yang dijual di pasar swalayan di wilayah Banjarmasin, ditemukan 3 sampel (50 %) tahu positif mengandung formalin dari 6 sampel tahu yang diperiksa. Upaya untuk mengurangi kadar formalin dalam makanan harus dilakukan guna menghindari dampak buruk yang dapat ditimbulkan formalin dalam tubuh. Untuk menghilangkan kadar formalin atau deformalinisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ada tiga cara penanganan untuk mengurangi kadar formalin pada tahu yaitu, direndam air biasa, direndam dalam air panas dan direbus dalam air mendidih (Kusumadina, 2006). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Rachman (2013) tentang pengaruh lama perebusan terhadap penurunan kadar formalin pada tahu didapatkan hasil kadar formalin pada tahu setelah perebusan dalam air dengan variasi waktu dari 5 25 menit, terjadi penurunan kadar formalin (27,89%) dari 8.888,76 ppm menjadi 5.798,48 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa perebusan dapat menurunkan kadar formalin dalam tahu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan penurunan kadar formalin pada tahu yang direbus dan tahu yang direndam air panas. BAHAN DAN METODE Jenis penelitian ini adalah True Eksperiment dengan rancangan Posttest Only Control Group Design Sebagai objek penelitian adalah tahu yang mengandung formalin tanpa intervensi perebusan ataupun perendaman air panas sebagai kelompok pretest dan yang diberi intervensi perebusan dan perendaman air panas masing-masing selama 10 menit sebagai kelompok eksperiment. Bentuk rancangan ini sebagai berikut (Notoatmodjo, 2005): Sampel pada penelitian ini adalah tahu yang mengandung formalin. Penentuan jumlah replikasi sampel pada penelitian ini menggunakan rumus federer, yaitu ( t 1 ) ( r 1) 15 dimana t adalah perlakuan dan r adalah replikasi atau jumlah sampel ( t 1 ) ( r 1) 15 ( 2 1 ) ( r 1) 15 1( r 1) 15 r 1 15 r (15 + 1) r 16

sehingga didapatkan jumlah pengulangan pengukuran sampel pada penelitian ini sebanyak 16 kali untuk masing-masing kelompok pretest dan post test. Variabel terikat penelitian adalah kadar formalin tahu. Variabel bebas adalah perebusan tahu dan perendaman tahu dalam air panas. Metode pemeriksaan pada penelitian ini adalah metode asam kromatropat kolorimetri. Perlakuan Pemeriksaan yaitu Kelompok (1) adalah tahu sebanyak 2 potong tanpa proses perebusan dalam air mendidih dan tanpa direndam dalam air panas, didestilasi kemudian ditentukan kadar formalinnya secara spektrofotometer. Kelompok (2) adalah tahu sebanyak 2 potong direbus dalam 200 ml air mendidih selama 10 menit kemudian ditentukan kadar formalinnya secara spektrofotometri. Kelompok (3) adalah tahu sebanyak 2 potong direndam dalam 200 ml air panas dengan suhu awal 70-80 O C selama 10 menit kemudian ditentukan kadar formalinnya secara spektrofotmetri. Data diperoleh dari pengukuran kadar formalin yang dilakukan sebanyak tiga kali perlakuan dengan 16 kali pengulangan yaitu pada tahu awal/tanpa perebusan, tahu yang direbus dalam air mendidih selama 10 menit dan tahu yang direndam dalam air panas selama 10 menit. Hasil data yang diperoleh kemudian ditabulasi, dianalisis, dan diolah secara statistik dengan menggunakan uji Mann-Whitney. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pengukuran kadar formalin diawali dengan pembuatan kurva baku, yang dibuat dengan mengencerkan sederetan larutan standart formalin, kemudian diukur absorbansinya dengan spektrofotometer UV- Vis. Hasil pengukuran absorbansi dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Hasil pengukuran absorbansi larutan baku No. Kadar Larutan Baku (ppm) Absorbansi 1 2 0,096 2 4 0,16 3 6 0,179 4 8 0,206 Hasil pembacaan absorbansi pada Tabel 1. kemudian dimasukkan ke dalam kurva untuk persamaan garis lurus. Dengan memasukkan harga konsentrasi pada sumbu x dan hasil pembacaan absorbansi pada sumbu y, sehingga didapatkan kurva seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 1. Gambar 1 Kurva baku formalin

Dari hasil pengukuran kurva didapatkan persamaan garis lurus y = 0,017x + 0,073 dengan linieritas 0,926. Dimana nilai 0,017 sebagai slope dan nilai 0,073 sebagai intersep. Karena linieritas dari kurva baku tersebut mendekati 1 (0,926), maka kurva ini dapat digunakan untuk penentuan kadar formalin dalam sampel. Hasil pengukuran formalin pada sampel tahu dapat dilihat pada Tabel 2. yang menunjukkan bahwa rata-rata kadar formalin pada tahu tanpa perlakuan perebusan maupun perendaman adalah 68,668 ppm, sedangkan rata-rata kadar formalin pada tahu dengan perebusan dalam air mendidih turun menjadi 24,194 ppm dan rata-rata kadar formalin pada tahu dengan perlakuan perendaman dalam air panas turun menjadi 45,945 ppm. Tabel 2 Hasil pengukuran kadar formalin pada tahu Pengulangan Tanpa Kadar Sampel (ppm) Perebusan dengan Perendaman Dalam Air Perlakuan Air Mendidih Panas 1 71,647 10,938 49,056 2 71,647 20,82 40,584 3 67,411 12,348 38,82 4 68,117 18,702 50,82 5 67,058 15,528 41,292 6 76,588 12,348 46,23 7 80,117 34,584 44,82 8 69,529 32,466 43,41 9 64,235 31,764 44,82 10 64,941 34,584 45,528 11 64,235 6,702 42,702 12 69,176 8,82 58,23 13 68,823 37,41 44,112 14 64,235 37,41 55,764 15 63,176 35,646 49,764 16 67,764 37,044 39,174 Rata-Rata 68,668 24,194 45,945 Penurunan rata-rata kadar formalin pada masing-masing kelompok dapat dilihat pada gambar 2. Gambar 2. Rata-rata kadar formalin masing-masing kelompok Besarnya persentase rata-rata penuruanan kadar formalin pada masing-masing kelompok tahu dapat dilihat pada tabel 3 dan gambar 3

Tabel 4.3 Persentase penurunan kadar formalin No. Perlakuan Sampel Tahu Persentase penurunan kadar formalin 1 Perebusan 64,77% 2 Perendaman 33,1% Gambar 4.3 Persentase penurunan kadar formalin Data hasil pengukuran yang didapat kemudian dilakukan uji-t 2 sampel bebas (independent t-test) untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan (bermakna) antara penurunan kadar formalin tahu dengan perlakuan perebusan dalam air mendidih dengan perlakuan perendaman dalam air panas. syarat uji t untuk kelompok tidak berpasangan adalah sebaran data harus normal dan varians data boleh sama, boleh juga tidak sama. Jika memenuhi syarat (sebaran data normal), maka dipilih uji t tidak berpasangan. Jika tidak memenuhi syarat (sebaran data tidak normal) dilakukan terlebih dahulu transformasi data. Jika variabel baru hasil transformasi mempunyai sebaran data yang normal, maka dipakai uji t tidak berpasangan. Jika variabel baru hasil transformasi mempunyai sebaran data yang tidak normal, maka dipilih uji Mann Whitney (Dahlan, 2004). Data dalam penelitian ini jumlahnya kurang dari kurang dari 50, oleh karena itu yang digunakan untuk uji normalitas adalah Shapiro-Wilk. Dari uji itu diperoleh nilai sig = 0,15 atau sig <0,05 yang artinya data tersebut tidak berdistribusi normal. Setelah dilakukan transformasi data sebanyak 2 kali, nilai sig tetap < 0,05 yaitu 0,000. Karena data tidak berdistribusi normal, walaupun telah dilakukan transformasi data sebanyak 2 kali, maka digunakan uji Mann Whitney dengan menggunakan data awal sebelum di transformasi. Dari hasil uji Mann-Whitney didapatkan nilai sig. sebesar 0,000 yang berarti lebih kecil dari α (0,05) sehingga dapat diartikan ada perbedaan yang bermakna antara penurunan kadar formalin pada tahu yang direbus dengan air mendidih dan tahu yang direndam dalam air panas. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada tahu berformalin yang diberikan perlakuan dengan cara direbus dalam air mendidih dan direndam dalam air panas suhu 70-80 O C masing-masing selama 10 menit, didapatkan persentase rata-rata penurunan kadar formalin pada kelompok yang diperlakukan dengan perebusan sebesar 64,77% dan perlakuan dengan proses

perendaman dalam air panas hanya turun sebesar 33,1%. Berdasarkan uji statistik nonparametrik Mann-Whitney didapatkan Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000, yang berarti nilai signifikasi di bawah 0,05 dan menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna, sehingga Hipotesis (Ha) diterima dan dapat dinyatakan bahwa ada perbedaan penurunan kadar formalin tahu yang direbus dalam air mendidih dengan yang direndam dalam air panas. Pada penelitian sampel diencerkan 1 : 6, yaitu 1 bagian sampel dan 5 bagian aquadest. Hal ini dilakukan karena pada pengukuran destilat sampel tanpa pengenceran hasil larutan yang terbentuk setelah direaksikan dengan asam kromatropat warnanya cukup pekat sehingga tidak bisa diukur absorbansinya pada spektrofotometer. Sebanyak 5ml pereaksi asam kromatropat ini dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 1ml larutan hasil destilasi sambil diaduk. Larutan dimasukkan ke dalam penangas air mendidih selama 15 menit dan diamati perubahan warna yang terjadi. Adanya formaldehid ditunjukkan dengan timbulnya warna ungu terang sampai ungu tua (Rohman, 2007). Terbentuknya warna ungu tua atau violet ini merupakan hasil reaksi secara kondensasi antara formalin (formaldehid) yang mengandung gugus karbonil (C=O) dengan asam kromatropat (Budiarti dkk, 2009). Kadar formalin dalam tahu yang berformalin dapat menurun apabila direbus dalam air mendidih. Pemanasan air dapat mengurangi daya tarik menarik antar molekulmolekul air dan memberikan cukup energi kepada molekul-molekul air itu sehingga dapat mengatasi daya tarik menarik antar molekul. Karena itu daya kelarutan pada bahan yang melibatkan ikatan hidrogen akan meningkat dengan meningkatnya suhu. Dengan perebusan maka molekul formalin akan mudah lepas dari tahu dan menguap di udara karena titik didihnya sebesar 96 O C lebih rendah dari air (Winarno, 2004). Adanya reaksi antara protein dengan gugus formalin membentuk senyawa methylene. Senyawa methylene bisa terurai kembali menjadi protein dan formalin melalui reaksi hidrolisis. Namun reaksi ini tidak terjadi secara spontan karena reaktifitas ion H+ dari air tidak reaktif terhadap senyawa methylene. Dengan demikian diperlukan adanya suatu tambahan energi dan tambahan energi disini berupa panas (Purawisastra, 2011). Pada kelompok tahu berformalin yang diberikan perlakuan perebusan dengan air mendidih selama 10 menit terjadi penurunan kadar formalin yang cukup signifikan. Hal ini karena suhu air rebusan terus meningkat dengan adanya pemanasan, sehingga formalin yang berikatan dengan protein pada tahu mudah larut dan menguap ke udara. Sedangkan untuk kelompok tahu berformalin yang diberikan perlakuan perendaman dalam air panas dengan suhu 70-80 O C penurunan kadar formalinnya tidak terlalu signifikan seperti pada kelompok yang direbus. Hal ini karena, suhu panas rendaman makin menurun selama proses perendaman, sehingga tidak memiliki energi yang cukup besar untuk melarutkan formalin pada tahu dan menguapkannya ke udara. Akibat buruk dari mengonsumsi makanan yang mengandung formalin memang tidak serta merta dapat dirasakan. Tetapi, efek kumulatif penyerapan bahan ini dalam tubuh konsumen sangatlah fatal (Wijaya, 2011). Formaldehid dapat masuk ke dalam tubuh dengan jalan inhalasi uap, kontak langsung dengan larutan yang mengandung formaldehid atau dengan jalan memakan atau meminum makanan yang mengandung formaldehid (Cahyadi, 2009). Formaldehida mempunyai berat molekul yang kecil sehingga mudah diserap melalui saluran pencernaan karena formaldehida mudah larut dalam air. Formaldehida dengan cepat didistribusikan ke otot, usus, hati dan jaringan lain setelah masuk dalam tubuh dan diabsorbsi. Waktu paruhnya di dalam plasma berkisar 1-1,5 menit. Formaldehida diekskresi dalam bentuk asam format yang dikeluarkan melalui ginjal dan dalam bentuk karbondioksida melalui paruparu. Formaldehida akan diubah dengan cepat menjadi asam format melalui enzim formaldehide dehidrogenase yang berada di mitokondria dan sitosol. Namun asam format dimetabolisme menjadi senyawa yang larut

dalam air sehingga dieliminasi melalui ginjal secara lebih lambat, sehingga terakumulasi di dalam darah. Hal ini menyebabkan penurunan kadar bikarbonat dan penurunan ph dalam tubuh, dan mengakibatkan asidosis metabolik. Asam format selanjutnya akan dieliminasi menjadi bentuk 10-formyl-THF melalui enzim formyl-tetrahydrofolate-synthetase yang berkombinasi dengan tetrahydrofolate (THF). 10-formyl-THF selanjutnya diubah menjadi karbondioksida dan air melalui aksi katalitik oleh formyl-thf-dehydrogenase. Semua metabolit dikeluarkan melalui urin, feses dan paru-paru (Katerina, 2012). KESIMPULAN Kesimpulan penelitian ini adalah ratarata kadar formalin pada tahu sebelum dilakukan perlakuan adalah 68,668 ppm. Penurunan kadar formalin pada tahu berformalin setelah direbus selama 10 menit adalah 64,77%. Penurunan kadar formalin pada tahu berformalin dengan perlakuan perendaman dalam air panas selama 10 menit adalah 33,1%. Berdasarkan uji statistik yang telah dilakukan, didapatkan perbedaan yang signifikan antara penurunan kadar formalin pada tahu berformalin yang direbus dan pada tahu berformalin yang direndam dalam air panas. Perebusan tahu berformalin menurunkan kadar formalin lebih besar dibandingkan perendaman tahu dalam air panas. DAFTAR PUSTAKA Budiarti Aqnes, Supriyanti, Siti Musinah, (2009). Pengaruh Perendaman dalam Air Hangat Terhadap Kandungan Formalin Pada Mie Basah Dari Tiga Produsen yang Dijual Di Pasar Johar Semarang, Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang. Cahyadi Wisnu. (2009). Bahan Tambahan Pangan, Bumi Aksara, Jakarta. Dahlan M. Sopiyudin, (2004). Statistika Untuk Kedokteran Dan Kesehatan, PT Arkans, Jakarta. Katerina Sherly. (2012). Pengaruh Peroral Dosis Bertingkat Selama 12 Minggu Terhadap Gambaran Histopatologis Gaster Tikus Wistar, Program Pendidikan Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Karya Tulis Ilmiah. Kusumadina Agnes, (2006). Evaluasi Kadar Formaldehid Tahu pada Beberapa Aras Konsentrasi Formalin dan Suhu Air Rendaman Serta Kondisi Perebusan, Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Skripsi. Notoatmodjo S., (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta. Purawisastra Suryana, Emma Sahara. (2011), Penyerapan Formalin Oleh Beberapa Jenis Bahan Makanan se rta Penghilangannya Melalui Perndaman Dalam Air Panas, Peneliti Pusat Teknologi Terapan Kesehatan dan Epidemiologi Klinik, Badan Litbang Kesehatan, Kemenkes RI. Rohman Abdul, Sumantri, (2007). Analisis Makanan, Gadjah Mada University Press, Jogjakarta. Saptarini Nyi Mekar, Yulia Wardati, Usep Supriyatna, (2011). Deteksi Formalin dalam Tahu di Pasar Tradisional Purwakarta, Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran. Wijaya Desy, (2011). Waspada Zat Aditif Dalam Makananmu, BukuBiru, Jogjakarta. Winarno, F.G., (2004). Kimia Pangan dan Gizi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.