BAB II STUDI PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 3 STUDI LAPANGAN. Gambar 3.1 Kerangka pemikiran studi lapangan. pelaksanaannya segala sesuatu perlu direncanakan dengan tepat dan cermat.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 STUDI PUSTAKA. 2.1 Pengertian, Prinsip Kerja, Serta Penggunaan Tower Crane Pada

BAB II PEMBAHASAN MATERI. dalam setiap industri modern. Desain mesin pemindah bahan yang beragam

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. sesuai dengan fungsi masing-masing peralatan. Adapun alat-alat yang dipergunakan

BAB I PENDAHULUAN. tersebut menimbulkan masalah bagi para pekerja dibidang kontruksi. Karena

BAB IV PERALATAN YANG DIGUNAKAN. Pada setiap pelaksanaan proyek konstruksi, alat-alat menjadi faktor yang sangat

BAB 1 PENDAHULUAN. Crane konstruksi pertama kali diciptakan oleh orang Yunani kuno dan didukung

TUGAS AKHIR PERBANDINGAN BIAYA DAN WAKTU PEMAKAIAN ALAT BERAT TOWER CRANE DAN MOBIL CRANE PADA PROYEK RUMAH SAKIT. Oleh : Muhammad Ridha


BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT ALAT. Proyek Menara Sentraya dilakukan oleh PT. Pionir Beton Industri

Dosen Pembimbing : Tri Joko Wahyu Adi, ST, MT, PhD Yusroniya Eka Putri, ST, MT ARIEF HADI PRANATA

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR EFISIENSI TATA LETAK FASILITAS DAN PENGGUNAAN ALAT BERAT PADA PROYEK GEDUNG BERTINGKAT

BAB V PERALATAN DAN MATERIAL

BAB 4 STUDI KASUS. Untuk studi kasus mengenai tinjauan jumlah tower crane yang digunakan pada

BAB II STUDI PUSTAKA

TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN. tinggi dapat menghasilkan struktur yang memenuhi syarat kekuatan, ketahanan,

PROGRAM PERHITUNGAN EFEKTIVITAS WAKTU DAN BIAYA PEMAKAIAN TOWER CRANE

BAB IV METODE PENGECORAN KOLOM, DINDING CORE WALL, BALOK DAN PLAT LANTAI APARTEMENT GREEN BAY PLUIT LANTAI 15 - LANTAI 25

4- PEKERJAAN PERSIAPAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ALAT DAN BAHAN

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. manajemen yang baik untuk menunjang kelancaran

Selamat Datang MANDOR PEMBESIAN/ PENULANGAN BETON 1.1

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. lift di cor 2 lantai diatas level plat lantai. Alasan menggunakan metode perlakuan core sebagai kolom adalah :

PENGERTIAN CRANE. 1. Crane Beroda Crawler


BAB IV TINJAUAN KONDISI PROYEK ALAT DAN BAHAN BANGUNAN

MEKANISME KERJA JIB CRANE

BAB II STUDI PUSTAKA

TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Kolom merupakan suatu elemen struktur yang memikul beban Drop Panel dan

BAB VII TINJAUAN KHUSUS CORE WALL

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL. Dalam setiap pekerjaan proyek konstruksi selalu diperlukan peralatan guna

LAPORAN KERJA PRAKTEK PELAKSANAAN PEKERJAAN CORE WALL PADA PROYEK BRANZ SIMATUPANG APARTMENT

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

PELAKSANAAN PEKERJAAN CORE LIFT DAN PELAT LANTAI PADA PROYEK TOWER C APARTEMEN THE ASPEN PEAK RESIDENCES, FATMAWATI, JAKARTA SELATAN

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR ATAS

Oleh : AGUSTINA DWI ATMAJI NRP DAHNIAR ADE AYU R NRP


BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Penyediaan dan pemenuhan bahan bangunan serta alat kerja pada suatu proyek

ANALISIS PRODUKTIVITAS CONCRETE PUMP PADA PROYEK BANGUNAN TINGGI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ALAT DAN BAHAN PELAKSANAAN. Pada proyek Lexington Residences hampir semua item pekerjaan menggunakan

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN

BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK

BAB VI KEMAJUAN PEKERJAAN DAN PENGENDALIAN PROYEK

BAB VIl TINJAUAN KHUSUS (KOLOM UTAMA) pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan

BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI

BAB V METODE PELAKSANAAN STRUKTUR ATAS. dalam mencapai sasaran pelaksanaan proyek konstruksi. Dimana sasaran proyek

BAB IV: PENGAMATAN PROYEK

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Proyek konstruksi telah menjadi kompleks pada beberapa tahun terakhir ini. Hal ini

BAB V PERALATAN DAN MATERIAL

Perbandingan Produktivitas Static Tower Crane dan Mobile Crane dengan Modifikasi Posisi Titik Supply

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Konsep perencanaan pembangunan proyek Apartmen Chadstone-Cikarang

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pada prinsipnya, pekerjaan struktur atas sebuah bangunan terdiri terdiri dari

BAB VII MANAJEMEN RESIKO. Dalam setiap pekerjaan pasti kita menemukan berbagai

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN. Dalam melaksanakan suatu proyek konstruksi, diperlukan adanya suatu

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. bangunan yang bermutu agar tahap konstruksi dapat berjalan dengan lancar dan

BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) ISSN: ( Print) D-131

ALAT PENGANGKAT CRANE INDRA IRAWAN

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. arus vertical dan horizontal dalam struktur organisasi untuk menghindari

BAB VIII TAHAP PELAKSANAAN

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL. Dalam melaksanakan proyek pembangunan dapat dipastikan digunakan alat-alat

Selamat Datang MANDOR PEMBESIAN/ PENULANGAN BETON 1.1

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT ALAT YANG DIGUNAKAN

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Vittoria Residences Apartement terdiri dari 3 tower dengan : c. Podium 5 lantai, dengan 1 lantai semi basement

BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI BASEMENT

BAB VII TINJAUAN PELAKSANAAN PEKERJAAN CORE WALL

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengetahuan Umum Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) diberikan sebagai dasar pemikiran lebih lanjut.

BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PEKERJAAN PELAT LANTAI UNTUK TOWER D DI PROYEK PURI MANSION APARTMENT. beton bertulang sebagai bahan utamanya.

BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PEMBESARAN KOLOM DAN METODE PELAKSANAAN SHEARWALL. terlebih dahulu dan mengacu pada gambar kerja atau shopdrawing.

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. terhitung mulai dari tanggal 07 Oktober 2013 sampai dengan 07 Desember 2013

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH

BAB VI KEMAJUAN PEKERJAAN DAN PENGENDALIAN PROYEK. diperlukan untuk menjaga kualitas struktur agar sesuai dengan spesifikasi yang

MODEL PENGUKURAN TINGKAT KESELAMATAN KERJA PENGGUNAAN TOWER CRANE. KATA KUNCI: tower crane, keselamatan kerja, model pengukuran

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH METODE PELAKSANAAN SHEAR WALL DAN CORE WALL

BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI KOLOM DAN BALOK. perencanaan dalam bentuk gambar shop drawing. Gambar shop

ANALISA WAKTU PENGECORAN PADA LANTAI EMPAT PROYEK GEDUNG SEKOLAH DI SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN. Setelah mengikuti kegiatan Kerja Praktek pada Pembangunan Proyek

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. bagi wisatawan yang ingin berlibur atau wisatawan yang ingin melakukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. pengamatan struktur plat lantai, pengamatan struktur core lift.

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL

RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN METODE PELAKSANAAN PADA PROYEK PEMBANGUNAN JEMBATAN LAMNYONG KOTA BANDA ACEH

PERBANDINGAN PRODUKTIVITAS LUFFING CRANE DENGAN HAMMER HEAD CRANE PADA PROYEK HIGH RISE BUILDING STUDI KASUS: MENARA ASTRA PROJECT, JAKARTA

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN

Transkripsi:

BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Suatu proyek dikatakan sukses apabila kontraktor berhasil mendapatkan laba maksimum dan owner mendapatkan hasil yang memuaskan serta tepat waktu dalam penyelesaiannya (Nunnaly, S.W., 2000). Salah satu yang menentukan kesuksesan suatu proyek adalah produktivitas. Produktivitas memiliki bermacam macam arti, masing masing bidang pengetahuan memiliki pengertian yang berlainan tentang produktivitas, adapun berbagai macam pengertian produktivitas adalah sebagai berikut: Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan produktivitas sebagai kemampuan untuk menghasilkan sesuatu. Sedangkan Kosmatka S.H. (1992) menyatakan bahwa produktivitas adalah rasio antara kegiatan (output) dan masukan (input). Saat ini proyek konstruksi bangunan bertingkat semakin berkembang, dalam pelaksanaanya segala sesuatu perlu direncanakan dengan tepat dan cermat. Salah satunya adalah perencanaan penggunaan peralatan konstruksi yang tepat agar dapat menunjang kelancaran pelaksanaan di lapangan. Dalam pemilihan alat konstruksi yang penting adalah mengidentifikasi alat untuk mengetahui fungsi serta cara pengoperasiannya dan dapat memperkirakan produktifitas dan efisiensi kerja alat. Salah satu alat yang sering digunakan pada proyek bangunan bertingkat adalah tower crane. Alat ini digunakan sebagai alat pemindah material dari satu tempat ke tempat yang lain baik secara vertical maupun horizontal. Tower crane banyak digunakan karena ketinggian Tower crane dapat disesuaikan dengan tunggi bangunan dan juga memiliki jarak jangkauan yang luas. Penempatan Tower Crane ini harus mendapat perhatian karena berhubungan langsung dengan fasilitas dan sarana yang ada di lokasi proyek. Jika terdapat kekeliruan dalam penempatan, maka akan terjadi penurunan produktifitas dan efisiensi yang berdampak pada waktu dan biaya. Jadi dalam penelitian ini, kita akan mengambil Tower Crane sebagai bahasan dalam penelitian ini. Efisiensi Tata Letak Fasilitas dan Penggunaan Alat Berat Pada Proyek Gedung II 1

2.2 Bagian-bagian Tower Crane Jenis Tower Crane bermacam-macam dengan ukuran ditentukan oleh panjang jib atau boom. Tower Crane memiliki beberapa bagian utama yaitu jib atau boom, hoist, trolley, dan seling : 1. Jib atau boom merupakan lengan Tower Crane yang terdiri dari elemenelemen besi yang tersusun dalam system rangka batang. Panjang jib menentukan maksimum panjang jangkauan horizontal Tower Crane dan kapasitas beban maksimum tergantung pada jenis Tower Crane yang digunakan. 2. Counter jib berfungsi sebagai jib penyeimbang terhadap boom yang terpasang. Counter jib dilengkapi dengan counterweight yang berfungsi sebagai beban yang melawan beban yang diangkat oleh Tower Crane. 3. Hoist merupakan bagian Tower Crane yang berfungsi sebagai alat vertikal 4. Trolley merupakan bagian Tower Crane yang berfungsi sebagai alat horizontal 5. Seling merupakan bagian Tower Crane berupa kabel baja dan merupakan bagian dari hoist Gambar 2.1 Bagian-bagian Tower Crane Efisiensi Tata Letak Fasilitas dan Penggunaan Alat Berat Pada Proyek Gedung II 2

2.3 Jenis-jenis Tower Crane Jenis Tower Crane yang sering digunakan adalah free-standing tower crane dan tied-in tower crane (Gary and Little, 1985). 2.3.1 Free-standing tower crane Tower Crane ini tidak diikatkan dengan struktur bangunann dan letaknya berada pada luar bangunann (gambar 2.2). hal ini dimasudkan untuk memudahkan mobile crane untuk membantu dalam pemasangan dan pembongkaran Tower Crane, waktu ideal yang diperlukan untuk pemasangan dan pembongkaran masing-masing dua hari. Badan Tower Crane berdiri dan diangker diatas pondasi yang telah dihitung oleh engineer, pondasi dibuat dengan memperhitungkann beban yang bekerja seperti beban muatan, beban sendiri, dan beban angin sehingga bahaya guling akibat beban- beban tersebut dapat dihindari. Ketinggian Tower Crane ini dibatasi hingga 100 meter diatas permukaan tanah. Gambar 2..2 Free-standing tower crane 2.3.2 Tower Tied-in Tower Crane Bila ketinggian diatas 100 m diatas permukaan tanah, maka badan Crane harus diikat padaa titik ketinggian tertentu ke struktur bangunan. Efisiensii Tata Letak Fasilitas dan Penggunaan Alat Berat Pada Proyek Gedung II 3

Pengikatan menggunakan besi baja yang berfungsi untuk mengurangi panjang tekuk badan Tower Crane akibat beban angin. Gambar 2.3 Tied-in tower crane 2.4 Pemilihan Tower Crane Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan Tower Crane antara lain : 1. Spesifikasi alat : berisi data-data spesifikasi alat yang dikeluarkan oleh pabrik yang memproduksi alat Tower Crane tersebut seperti ketinggian Tower Crane, dan letak beban maksimum pada jangkauan jib. 2. Kondisi proyek : merupakan gambaran umum dari proyek yang dikerjakan seperti luas area proyek, ketinggian bangunan, luas bangunan dan karakterisitik material yang akan diangkut oleh Tower Crane. 2.5 Penggunaan Tower Crane Tower Crane dapat mengangkat berbagai jenis material, namunn ada batasan beban maksimum. Batasan dalam pengangkutan beban ini tergantung pada jenis dan tipe Tower Crane yang digunakan. Tower memindahkan Crane padaa proyek konstruksi bangunan bertingkat digunakan untuk material, material yang akan dipindahkan oleh Tower Crane telah Efisiensii Tata Letak Fasilitas dan Penggunaan Alat Berat Pada Proyek Gedung II 4

disiapkan pada tempat-tempat tertentu (workshop) dan akan dipindahkan oleh Tower Crane sesuai dengan jadwal kerja Tower Crane yang telah dibuat oleh project manager. Material yang akan dipindahkan, antara lain scaffolding, multiplex, besi beton. Tower Crane juga digunakan untuk pengecoran kolom. Campuran beton dari truck mixer dituangkan kedalam bucket, kemudian bucket tersebut diangkut oleh Tower Crane ke tempat tujuan pengecoran. Bagian dasar bucket dilengkapi dengan katup dan saluran untuk mengalirkan campuran beton kedalam bekisting. 2.6 Produktifitas Tower Crane Secara umum, produktifitas adalah / hasil kerja (output) dibagi dengan satuan kerja sumber daya manusia / alat (input). Produktifitas = Pada proyek konstruksi produktifitas alat adalah hasil kerja dari sebuah alat per satuan waktu. Satuan produktifitas Tower Crane tergantung pada pekerjaan yang dilakukan. Produktifitas Tower Crane sangat dipengaruhi oleh waktu siklus. Waktu siklus adalah waktu yang diperlukan Tower Crane untuk melakukan satu kali putaran yang terdiri dari gerakan vertical (hoist), horizontal (trolley), dan berputar (swing), dimana ketiga gerakan utama ini terdiri dari enam tahap pekerjaan yaitu mengikat material, mengangkat, memutar, menurunkan dan melepas material sampai kembali lagi menuju lokasi persediaan material (Varma, 1979). Waktu siklus meliputi waktu tetap (fix time), dan waktu variable (variable time). Waktu tetap meliputi waktu mengikat dan melepas material yang tergantung pada jenis material yang diangkat, untuk setiap pekerjaan memiliki waktu tetap yang berbeda misalnya waktu untuk mengikat tulangan berbeda dengan waktu untuk mengikat bekesting. Waktu variable tergantung pada jarak tempuh Tower Crane yaitu waktu tempuh vertical tergantung tinggi angkat, waktu tempuh rotasi tergantung pada sudut putar, dan waktu horizontal tergantung pada jarak titik tujuan dari sumber material. Efisiensi Tata Letak Fasilitas dan Penggunaan Alat Berat Pada Proyek Gedung II 5

2.7 Jarak Tempuh 2.7.1 Jarak Tempuh Vertikal (Dv) Jarak tempuh vertical Tower Crane adalah jarak toatal yang ditempuh oleh hoist secara vertical. Jarak tempuh vertical meliputi jarak tempuh vertical angkat (Tva) dan jarak tempuh vertical kembali (Tvk). Jarak tempuh vertical untuk pengecoran, tulangan rakitan dan bekesting, berbeda dengan jarak tempuh vertical untuk pengangkatan material. Gambar 2.4 Jarak Tempuh Vertikal 2.7.2 Jarak Tempuh Rotasi Jarak tempuh rotasi berupa sudut rotasi. Sudut rotasi adalah sudut yang terbentuk antara Sumber-Tower Crane-Tujuan. Jarak tempuh rotasi meliputi jarak tempuh rotasi angkat ke tempatt tujuan material (Tra) dan jarak tempuh rotasi kembali ke tempat sumber material (Trk). Efisiensii Tata Letak Fasilitas dan Penggunaan Alat Berat Pada Proyek Gedung II 6

BAB II STUDI PUSTAKA P Gambarr 2.5 Jarak Tempuh T Rootasi 2.7.3 Jaarak Tempu uh Horizonttal Jaarak tempuhh horizontal Tower Cranne adalah jaarak total yaang ditempuuh trolley seecara horizoontal. Jarak ttempuh horiizontal melipputi jarak teempuh angkkat (Tha) dann jarak temppuh horizontaal kembali (T Thk). Gambar 2.6 2 Jarak Teempuh Horrizontal F dan Penggunaan P Alat Berat Paada Proyek Gedung Efisiensii Tata Letak Fasilitas Bertingkkat (Studi Kassus : Tower Crane) C II 7

2.8 Produktifitas Tower Crane pada Pekerjaan Pemindahan Material Material yang diangkut seperti, multiplex, besi beton. Data-data yang diperlukan untuk menentukan produktifitas Tower Crane pada pemindahan material : 1. Berat material yang dipindahkan 2. Waktu siklus untuk pemindahan material Pmat = Dimana : Pmat : Produktifitas pekerjaan pemindahan material (kg/m³) Q : Berat material yang dipindahkan (kg) 2.9 Produktifitas Tower Crane pada Pekerjaan Pengecoran Pekerjaan pengecoran meliputi pengecoran kolom, core wall, shear wall. Datadata yang diperlukan untuk menentukan produktifitas Tower Crane pada pengecoran adalah : Volume bucket beton Waktu siklus untuk pengecoran pada koordinat tertentu. Pcor = Dimana : Pcor N Q : Produktifitas pekerjaan pengecoran (m³/jam) : Jumlah siklus per jam pada koordinat tertentu : Volume bucket beton (m³) Efisiensi Tata Letak Fasilitas dan Penggunaan Alat Berat Pada Proyek Gedung II 8

2.10 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktifitas Tower Crane Produktifitas alat Tower Crane dipengaruhi oleh kondisi alat, kondisi lapangan, manajemen proyek, dan kemampuan operator (Peurifoy, 1997) 2.10.1 Kondisi Alat Umur ekonomis alat sangat mempengaruhi produktifitas dari Tower Crane Alat Tower Crane yang telah melebihi umur ekonomis pada umumnya produktifitasnya lebih rendah jika dibandingkan roduktifitas Tower Crane yang tidak melebihi umur ekonomisnya. Untuk menjaga agar alat Tower Crane tetap dalam kondisi yang baik maka perlu dilakukan pemeriksaan secara periodic yaitu sebulan sekali. 2.10.2 Kondisi Lapangan Kondisi lapangan suatu proyek konstruksi sangat mempengaruhi produktifitas alat Tower Crane. Kondisi lapangan yang penuh dengan hambatan akan menyebabkan produktifitas Tower Crane menurun. Faktor kondisi lapangan ini antara lain : 1. Kondisi lokasi sekitar proyek, misalnya dengan adanya sumber tegangan tinggi atau bangunan tinggi disekitar proyek dapat membatasi ruang gerak dari Tower Crane yang dapat menyebabkan produktifitas menurun. 2. Kondisi cuaca, seperti ketika hujan penglihatan operator akan terganggu sehingga operator cenderung untuk berhati-hati dalam pengoperasian Tower Crane, angin juga sangat berpengaruh pada aktifitas Tower Crane apabila kecepatan angin tinggi dan hujan deras maka Tower Crane harus berhenti beroperasi hal ini mencegah untuk terjadinya kecelakaan kerja akibet Tower Crane seperti Tower Crane terguling atau kejatuhan material. 3. Jenis material yang diangkat. Material yang memiliki ukuran yang panjang dan besar akan memperlambat kecepatan dari Tower Crane. Efisiensi Tata Letak Fasilitas dan Penggunaan Alat Berat Pada Proyek Gedung II 9

2.10.3 Faktor Manajemen Menurut Peurifoy (1997), kondisi manajemen yang baik dan teratur akan semakin meningkatkan produktifitas Tower Crane, sebaliknya kondisi manajemen yang buruk akan menurunkan produktifitas Tower Crane. Faktor manajemen meliputi : 1. Pemeliharaan Alat (maintenance) Untuk mengontrol dan menjaga kondisi alat Tower Crane perlu dilakukan pemeriksaan secara periodik oleh teknisi. Hal-hal yang harus diperiksa pada alat Tower Crane adalah minyak pelumas pada mesin Tower Crane, jika kurang harus ditambahkan, debu-debu yang menempel pada mekanisme pengereman harus dibersihkan, kabel-kabel elektrik, jika rusak segera diganti. 2. Tata Letak Tower Crane Secara umum tujuan utama dari penentuan tata letak Tower Crane adalah untuk mendapatkan susunan yang paling efektif. Penyusunan tata letak Tower Crane yang baik akan memperlihatkan suatu penyusunan daerah kerja dan peralatan (site lay out) yang paling ekonomis untuk dilakukan. Disamping itu juga harus menjamin keamanan dan kenyamanan kerja bagi para pekerja sehingga prestasi kerja dapat meningkat. Dalam penentuan tata letak Tower Crane ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain (Gary dan Little, 1985) : a b c Tower Crane harus mampu menjangkau seluruh areal bangunan yang dikerjakan. Pada lokasi penempatan Tower Crane minimal harus ada lahan bebas selebar 10 meter (clearance area) untuk kepentingan pemasangan dan pembongkaran dengan menggunakan kendaraan seperti mobile crane. Tower Crane tidak boleh diletakkan diatas fasilitas lain seperti septi tank, poer dan tendon. Efisiensi Tata Letak Fasilitas dan Penggunaan Alat Berat Pada Proyek Gedung II 10

3. Penempatan Material Akses menuju material diusahakan mudah terjangkau oleh Tower Crane. 4. Rencana Kerja Seperti perencanaan layout, pengawasan dan pemeliharaan Tower Crane, adanya komunikasi yang jelas antara operator dan perencana schedule proyek kerja di lapangan yang membantu pemasangan dan pembongkaran material. kondisi kondisi tata laksana pekerjaan baik sekali baik sedang buruk baik sekali 0.84 0.81 0.75 0.70 baik sekali 0.78 0.75 0.71 0.65 sedang 0.72 0.69 0.65 0.60 buruk 0.63 0.61 0.57 0.52 Tabel 2.1 Koefisien faktor kondisi di lapangan 2.10.4 Kemampuan Operator Operator Tower Crane merupakan orang yang paling penting kontribusinya terhadap penggunaan Tower Crane yang aman dan ekonomis. Operator Tower Crane harus memiliki keahlian dalam mengoperasikan dan mengenal mekanisme kerja Tower Crane. Pemilihan operator Tower Crane, harus dipilih operator yang memiliki SIO (Surat Ijin Operasional). Operator yang memiliki SIO kemampuannya lebih teruji. Dalam pengoperasian Tower Crane operator sebaiknya tidak boleh merokok, makan dan membaca, operator Tower Crane dituntut bekerja dengan penuh konsentrasi. Sebelum pengoperasian Tower Crane harus diperiksa oleh operator, untuk itu diperlukan operator yang kemampuan untuk menangani Tower Crane agar dapat dioperasikan dengan baik. Letak Tower Crane harus direncanakan engineer dengan baik dengan mempertimbangkan kenyamanan dan keselamatan para pekerja. Efisiensi Tata Letak Fasilitas dan Penggunaan Alat Berat Pada Proyek Gedung II 11

Proses pemindahan material dengan menggunakan tower crane membutuhkan perhatian yang besar. Selain alat tersebut besar jangkauan penglihatan operator juga kadangkala terbatas, maka dari itu seorang operator saja tidak cukup, butuh bantuan orang lain (Varma,1979) Efisiensi Tata Letak Fasilitas dan Penggunaan Alat Berat Pada Proyek Gedung II 12