TUBERKULOMA MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

dokumen-dokumen yang mirip
INFEKSI PARASITER (CACING)

MORBUS HANSEN MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

SPONDILITIS TUBERKULOSA

MODUL PERDARAHAN INTRAKRANIAL SPONTAN

MODUL ENTRAPMENT SYNDROME

MODUL NYERI 1. Definisi

INFEKSI KOMENSAL/ PENURUNAN IMUNITAS

1. Definisi Kanal stenosis adalah suatu kondisi medis di mana kanal tulang belakang menyempit dan menekan medulla spinalis.

DEGENERASI DISKUS INTERVERTEBRAL SERVIKAL

INFEKSI PARASITER (JAMUR)

MODUL FISTULA ARTERI-VENA (AV FISTULA)

MODUL ANEURISMA SEREBRI

MODUL MALFORMASI ARTERI VENA KRANIAL (SIMPEL)

MODUL SPONDILOLISTESIS

ABSES SEREBRI MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS.

MODUL KAROTIS-KAVERNOSUS FISTULA

MODUL MALFORMASI ARTERI VENA SPINAL

2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11. Supratentorial

MODUL DEFORMITAS ATLANTO-OKSIPITAL

MODUL SCHWANNOMA SARAF TEPI 1. DEFINISI

2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11. Supratentorial

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS.

MENINGOKEL POSTERIOR MODUL. 1. Definisi

MODUL OSTEOMA 1. DEFINISI

SPINAL DISRAFISME MODUL. 1. Definisi

GLIOMA SPINAL MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11

SINDROM ARNOLD CHIARI/ SIRINGOMIELIA

DANDY WALKER MALFORMATION

KISTA ARACHNOID MODUL. 1. Definisi

GRANULOMA EOSINOFILIK

MIKROSEFALI MODUL. 1. Definisi

MODUL TUMOR METASTATIK

MODUL PLASMASITOMA 1. DEFINISI 2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11

MODUL SPASTISITAS/RIGIDITAS 1. Definisi

MODUL KRANIOFARINGIOMA 1. DEFINISI

HIDROSEFALUS KOMPLEKS

MODUL SUBDURAL HEMATOMA AKUT

MODUL SUBDURAL HEMATOMA KRONIK

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM KEPROFESIAN ( Beban dihitung berdasarkan Kompetensi )

MODUL EPIDURAL HEMATOMA

MODUL INTRACEREBRAL HEMATOMA

MODUL TRAUMA TEMBUS. 1. Definisi Trauma tembus kranium adalah lesi di mana proyektil benda asing menembus tulang tengkorak dan tidak keluar lagi.

MODUL ADENOMA HIPOFISIS 1. Definisi

MODUL BOCORAN LIQUOR

Modul 34 EKSISI LUAS TUMOR DINDING ABDOMEN PADA TUMOR DESMOID & DINDING ABDOMEN YANG LAIN (No. ICOPIM: 5-542)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

MODUL MENINGIOMA SUPRATENTORIAL

TERAPI INHALASI MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI. : Prosedur Tidakan pada Kelainan Paru. I. Waktu. Mengembangkan kompetensi.

Meningitis: Diagnosis dan Penatalaksanaannya

Modul 20 RESEKSI/ EKSISI ANEURISMA PERIFER (No. ICOPIM: 5-382)

Modul 4 SIRKUMSISI PADA PHIMOSIS (No. ICOPIM: 5-640)

BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih

MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI BATUK DARAH. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. Spondylitis tuberculosis atau yang juga dikenal sebagai Pott s disease

Modul 26 DETORSI TESTIS DAN ORCHIDOPEXI (No. ICOPIM: 5-634)

Modul 11. (No. ICOPIM: 5-467)

Lama pendidikan Dokter Spesialis Bedah Saraf adalah 11 Semester. Dipandang dari sudut hukum, dikenal istilah Pengayaan, Magang dan Mandiri.

Modul 18 Bedah TKV EKSISI HEMANGIOMA (ICOPIM 5-884)

Modul 36. ( No. ICOPIM 5-545)

( No. ICOPIM : )

Penemuan PasienTB. EPPIT 11 Departemen Mikrobiologi FK USU

Modul 16 EKSISI TELEANGIEKTASIS (ICOPIM 5-387)

Modul 11 BEDAH TKV FIKSASI INTERNAL IGA ( KLIPING KOSTA ) (ICOPIM 5-790, 792)

Modul 1 EKSISI TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER (ICOPIM )

Modul 26 PENUTUPAN STOMA (TUTUP KOLOSTOMI / ILEOSTOMI) ( No. ICOPIM 5-465)

BAB 1 : PENDAHULUAN. membungkus jaringan otak (araknoid dan piameter) dan sumsum tulang belakang

Modul 3. (No. ICOPIM: 5-530)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper &

93 Meningitis Tuberkulosa

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 23 ORCHIDOPEXI/ORCHIDOTOMI PADA UNDESCENSUS TESTIS (UDT) (No. ICOPIM: 5-624, 5-620)

OMPHALOMESENTERIKUS REMNANT

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang

(No. ICOPIM: 5-491, 5-884)

Mengapa Kita Batuk? Mengapa Kita Batuk ~ 1

CLINICAL PATHWAY APENDISITIS AKUT

BAB II PELAYANAN BEDAH OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Sem 9 G M Q 79.3 K6 K6 K6 K6 P5.A3 P5.A3 P5.A3 P5.A5 P5.A5 P5.A Sem 3. Sem 5. Sem 4

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PRIMA HUSADA NOMOR : 224/RSPH/I-PER/DIR/VI/2017 TENTANG PEDOMAN REKAM MEDIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9

Karakteristik Tumor Infratentorial dan Tatalaksana Operasi di Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran UI/RSUPN Cipto Mangunkusumo Tahun

S A L I N A N DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PROBOLINGGO,

PANDUAN PENUNDAAN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT PUPUK KALTIM BONTANG

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PROGRAM STUDI KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Modul 29 Bedah Digestif DRAINASE ABSES APENDIK ( No. ICOPIM 5-471)

EKSTRAKSI CORPUS ALIENUM DI KEPALA DAN LEHER (ICOPIM 5-119)

REHABILITASI PADA NYERI PUNGGUNG BAWAH. Oleh: dr. Hamidah Fadhil SpKFR RSU Kab. Tangerang

Sesi dengan fasilitasi Pembimbing : 3 X 120 menit (coaching session) Sesi praktik dan pencapaian kompetensi: 4 minggu (facilitation and assessment)

BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan sindrom klinis dengan gejala gangguan fungsi otak

MANAJEMEN KEJANG PASCA TRAUMA

Modul 2 (ICOPIM 8-835)

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS

e) Faal hati f) Faal ginjal g) Biopsi endometrium/

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

MODUL TUBERKULOMA 1. Definisi Tuberkuloma adalah lesi pada jaringan otak berupa masa padat yang merupakan kumpulan jaringan nekrotik akibat infeksi kuman TB (Mycobacterium tuberkulosis) yang menyebar dari organ lain secara hematogen, terutama berasal dari paru. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS Program Magister Neurologi Tesis Program Profesi Bedah Saraf Pogram Bedah Dasar Program Bedah Saraf PROGRAM Dasar KEPROFESIAN (beban dihitung berdasarkan kompetensi) GOLONGAN PENYAKIT & LOKALISASI KONGENITAL ICD 10 - Bab XVII INFEKSI ICD 10 - Bab I Kranial Spinal Kranium NEOPLASMA ICD 10 - Bab II Supratentorial Infratentorial Spinal Saraf Tepi TRAUMA ICD 10 - Bab XIX DEGENERASI ICD 10 - Bab VI & XIII VASKULER ICD 10 - Bab IX FUNGSIONAL Kranial Spinal Saraf Tepi Spinal Saraf Tepi Intrakranial Spinal 1

ICD 10 - Bab VI & XXI Pendidikan spesialisasi bedah saraf terdiri dari 3 tahap, yaitu : 1. Tahap Pengayaan (tahap I): a. Lama pendidikan 5 semester, yaitu mulai dari semester pertama sampai dengan semester kelima, peserta didik diberi ilmu-ilmu dasar maupun bedah saraf dasar. Dalam tahap ini dapat dipergunakan untuk mengambil program magister. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen I, yaitu di ahir masa pendidikan tahap I residen baru mencapai Kompetensi tingkat I. Residen sudah harus mengenal 2. Tahap Magang (tahap II) : a. Lama pendidikan 4 semester, yaitu dari semester keenam sampai dengan semester kesembilan. Peserta didik mulai dilatih melakukan tindakan bedah saraf. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen II, yaitu di ahir masa pendidikan tahap II residen telah mencapai Kompetensi tingkat II. Residen sudah harus mampu menangani 3 (tiga) kasus operatif 3. Tahap Mandiri (tahap III) : a. Lama pendidikan 2 semester, yaitu dari semester kesepuluh dan semester kesebelas. Peserta didik menyelesaikan pendidikan sampai kompetensi bedah saraf dasar. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen III, yaitu di ahir masa pendidikan tahap III residen telah mencapai kompetensi tingkat III. Residen sudah harus mampu menangani 3 (tiga) kasus operatif tuberkuloma secara mandiri. Kompetensi bedah saraf dasar : 1. Semua jenis penyakit yang diajarkan dalam masa pendidikan sampai mencapai tingkat mandiri (residen boleh mengerjakan operasi sendiri, dengan tetap dalam pengawasan konsulen) 2. Tehnik operasi yang diajarkan sebagai target ahir pendidikan adalah terbatas pada tindakan operasi konvensional yang termasuk dalam Indeks Kesulitan 1 dan 2; tehnik operasi sulit yang membutuhkan kemampuan motoris lebih tinggi dan/ataupun membutuhkan alat-alat operasi canggih, termasuk dalam Indeks Kesulitan 3 dan 4, diajarkan hanya maksimal sampai tingkat magang. Tindakan operasi dalam kelompok ini merupakan kelanjutan pendidikan yang masuk dalam CPD. JENIS PENYAKIT ICD 10 TAHA P I Infeksi... TAHAP II TAHAP III 1 2 3 4 S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 G M G M G P Abses Serebri G 06.0 3 3 Tuberkuloma G 07 3 3 Inf Komensal / Penurunan Imunitas 2 1 2

JENIS PENYAKIT ICD 10 TAHA P I Kelainan Parasiter... TAHAP II TAHAP III 1 2 3 4 Cacing B 65-B 83 1 1 Jamur B 35- B 49 1 1 Spondilitis Tbc A 23 3 1 Morbus Hansen A 30.9 1 1 KETERANGAN Tingkat Pengayaan, dalam periode ini Tingkat Kognitif harus dapat mencapai 6 (K6) Tingkap Magang, dalam periode ini disamping K6, Psikhomotor harus mencapai 2 (P2) dan Afektif mencapai 3 (A3) Tingkat Mandiri semua Kategori Bloom harus mencapai maksimal, K6, P5, A5 S : Semester G : Magang M : Mandiri K : Kognitif : A : Afektif P : Psikhomotor 3. Tujuan Umum Setelah menyelesaikan sub-modul tuberkuloma, peserta didik diharapkan mampu mengenali, mengobati, serta mampu mengatasi kegawatan akut dari 4. Tujuan Khusus 1. Mampu menerangkan insidensi, patogenesis, dan mikrobiologi dari 2. Mengetahui neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. 3. Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi, patologi dan mikrobiologi) dalam menegakkan diagnosa 4. Mengetahui pengobatan pada berbagai jenis 5. Mampu menentukan perubahan neurofisiologi yang diakibatkan oleh 6. Mampu menentukan lokasi 7. Mampu melakukan pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosa 8. Mampu menegakkan diagnosa banding dari 9. Mampu melakukan pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan diagnosa 10. Mampu melakukan pengobatan medikamentosa pada 11. Mampu melakukan tindakan operasi pada 12. Mampu melakukan tindakan pertolongan pertama pada 13. Mengenali penyulit tindakan bedah pada 14. Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan 15. Mampu memberi informed consent 3

5. Strategi Pembelajaran a Pengajaran dan kuliah pengantar Kuliah tatap muka 50 menit b b Tinjauan Pustaka Presentasi ilmu dasar Presentasi kasus Diskusi kelompok 1x telaah kepustakaan 1x d Bedside teaching 6x ronde e Bimbingan operasi Operasi magang Operasi mandiri Diskusi menyangkut diagnosis, operasi dan penyulit Minimal 3 kasus untuk selanjutnya instruksi/evaluasi post operasi Minimal 3 kasus sebelum dapat maju ke ujian kompetensi akhir tingkat nasional 6. Persiapan Sesi 1. Materi kuliah pengantar berupa kisi-kisi materi yang harus dipelajari dalam mencapai kompetensi, mencakup: a. Insidensi, patogenesis, dan mikrobiologi b. Neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. c. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi, patologi dan mikrobiologi) dalam menegakkan diagnosa d. Pengobatan berbagai jenis e. Perubahan neurofisiologi yang disebabkan oleh f. Lokasi g. Pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosa h. Diagnosa banding i. Pemeriksaan tambahan (neu roradiologi) dalam menegakkan diagnosa j. Pengobatan medikamentosa k. Tindakan operasi pada l. Tindakan pertolongan pertama pada m. Penyulit tindakan bedah pada kasus 4

n. Tindak lanjut yang diperlukan o. informed consent 2. Audio visual 3. Lampu baca x ray 7. Referensi 1. Osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed. 2004 2. Wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed. 1996 3. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby. 1994 4. Winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders. 1994 8. Kompetensi a. b. Jenis Kompetensi Mampu menerangkan patologi dan patogenesis tuberkuloma Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan diagnosa tuberkuloma c. Mengetahui pengobatan tuberkuloma 6 d. Mampu melakukan pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosa tuberkuloma Tingkat Kompetensi TAHAP K P A 6 6 6 2 3 e. Mampu mengetahui diagnosa banding tuberkuloma 6 2 3 f. g. Mampu melakukan pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan diagnosa tuberkuloma Mampu melakukan pengobatan medikamentosa tuberkuloma 6 2 3 6 2 3 h. Mampu melakukan tindakan operasi kasus tuberkuloma 6 5 5 i. Mengenali penyulit tindakan bedah pada kasus tuberkuloma 6 5 5 j. Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan 6 5 5 P E N G A Y A A N M A G A N G M A N D 5

k. Mampu memberi informed consent 6 5 5 I R I 9. Gambaran Umum Tuberkuloma intrakranial adalah lesi pada jaringan otak berupa masa padat yang merupakan kumpulan jaringan nekrotik akibat infeksi Mycobacterium tuberkulosis. Tuberkulosis memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi, dan masih merupakan masalah kesehatan di masyarakat, terutama di negara berkembang. Tuberkuloma intrakranial merupakan salah satu kompiikasi serius dari tuberkulosis, satu persen (1%) dari pasien tuberkulosis berkembang menjadi tuberkuloma dan 10% berkaitan dengan meningitis tuberkulosis. Kejadian tuberkuloma intrakranial merupakan 0.15-4% dari Iesi massa intrakranial. Upaya penegakan diagnosis tuberkuloma tidak mudah, karena banyak macam lesi massa intrakranial menyerupai gambaran tuberkuloma, seperti tumor intrakranial ataupun penyakit infeksi intrakranial. Semakin cepat ditegakkan diagnosis, semakin cepat dimulai terapi terhadap tuberkuloma intrakranial, yang akan memperbaiki prognosis penderita. 10. Contoh Kasus Contoh kasus dibuat sesuai dengan jenis penyakit pada submodul. 11. Tujuan Pembelajaran Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan mengobati 12. Metoda Metoda Pembelajaran 1. Tinjauan Pustaka 2. Diskusi Kelompok 3. Bed side teaching 4. Tindakan Operasi Mandiri a. Peserta didik harus terlebih dahulu melakukan asistensi operasi (magang) sampai mencapai jumlah yang ditentukan, dan kemudian melakukan instruksi pada spesialis pembimbing. Setelah dinyatakan lulus instruksi, baru diijinkan melakukan operasi mandiri. 6

b. Operasi mandiri oleh asisten harus selalu ada spesialis supervisor yang akan menilai keseluruhan aspek yang harus dilakukan oleh asisten terhadap pasien secara mandiri. c. Residen yang memiliki level tertinggi dalam suatu operasi harus membuat laporan operasi dengan berpedoman pada daftar tilik, selanjutnya konsulen/supervisor operasi ini akan memeriksa laporan operasi sesuai daftar tilik dan memberi nilai berdasarkan kelengkapan yang ditetapkan daam daftar tilik. Metoda Diagnostik 1. Pemeriksaan klinis neurologik 2. Alat bantu diagnostik a. Pemeriksaan X ray, b. EMG / EEG c. Alat neuroradiologi lain. 3. Metoda diagnostik yang diajarkan mencakup metode diagnostik konvensional sesuai ketersediaannya di daerah perifer, tidak sematamata berorientasi pada alat-alat dianostik canggih. 13. Rangkuman Tuberkuloma adalah lesi jaringan otak berupa masa padat yang merupakan kumpulan jaringan nekrotik akibat infeksi kuman TB yang menyebar secara hematogen atau perkontinuitatum. Tuberkuloma intrakranial merupakan salah satu kompiikasi serius dari tuberkulosis dan 10% berkaitan dengan meningitis tuberkulosis. Kejadian tuberkuloma intrakranial merupakan 0.15-4% dari Iesi massa intrakranial. Upaya penegakan diagnosis tuberkuloma tidak mudah, karena banyak macam lesi massa intrakranial menyerupai gambaran Semakin cepat ditegakkan diagnosis, semakin cepat dimulai terapi terhadap tuberkuloma intrakranial, yang akan memperbaiki prognosis penderita. 14. Evaluasi Organisasi Evaluasi 1. Evaluasi dilaksanakan di IPDS Bedah Saraf 2. Evaluasi dilakukan minimal oleh Pembimbing di IPDS Bedah Saraf 3. Evaluasi untuk peserta PPDS Bedah Saraf dilakukan sbb a. Untuk penguasaan ilmu dasar (pengayaan) dilakukan pada a khir setiap semester b. Kemampuan menegakkan diagnosa c. Untuk penguasaan kasus dan teknis operasi dilakukan pada setiap akan dilakukan tindakan / operasi. 4. Untuk dokter spesialis bedah lain yang akan mengambil modul-modul bedah saraf tertentu untuk kepentingan penigkatan kompetensi dalam 7

program CPD, waktu disesuaikan pada kodisi yang ada dari modul ini, dengan evaluasi dan tahap penguasaan materi yang dievaluasi sama ketentuan yang berlaku. Tahap Evaluasi 1 Evaluasi tahap pengayaan dilakukan setelah peseta didik menyelesaikan aspek kognitif di tahap pengayaan. 2 Evaluasi tahap magang dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi Sebagai Asisten I sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul 3 Evaluasi tahap mandiri dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi mandiri sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul Metode dan Materi Evaluasi 1. Ujian Tulis dan Lisan 2. Kemampuan menegakkan diagnosa di poliklinik, IGD, dan ruang rawat 3. Penilaian kemampuan melakukan tindakan 4. Penilaian kemampuan penanganan penderita secara menyeluruh Hasil Penilaian IPDS 1. Penyelesaian modul harus dapat dicapai dalam kurun waktu yang telah ditetapkan 2. Kegagalan dalam 1 aspek harus diulang dalam masa selama stase di Bagian/Departemen Badah Saraf. 15. Instrumen Penilaian Instrumen penilaian dari setiap kegiatan berupa evaluasi yang dilakukan pada setiap tahap pendidikan, intrumen yang dipakai adalah : 1 Kemampuan Inform Concent Instruksi & Bimbingan 2 Penilaian Ilmiah a. Teori & Penyakit Diskusi dan Ujian b. Instrument & Penyakit Diskusi dan Ujian 3 Penilaian Kecakapan Poliklinik, Bedside teaching & kamar Operasi 4 Penilaian Rehabilitasi Instruksi & Bimbingan 16. Penuntun Belajar 1. Kisi-kisi materi dan buku referensi 8

2. Kisi-kisi materi tuberkuloma: a. Insidensi, patogenesis, dan mikrobiologi b. Neuroanatomi, dan neurofisiologisusunan saraf dan pembungkusnya. c. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi, patologi dan mikrobiologi dalam menegakkan diagnosa d. Perubahan neurofisiologi karena e. Lokasi f. Pengobatan berbagai jenis g. Pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosa tuberkuloma h. Diagnosa banding i. Pemeriksaan tambahan (neuroradiolog i) dalam menegakkan diagnosa j. Pengobatan medikamentosa pada k. Tindakan operasi pada l. Tindakan pertolongan pertama pada kegawatan m. Penyulit tindakan bedah pada n. Tindak lanjut yang diperlukan o. Informed consent 17. Daftar Tilik RINCIAN DAFTAR TIL Menentukan Indikasi Bedah Saraf(Poliklinik) 1 Uraian tentang keluhan / gejala utama 2 Cara datang (sendiri / rujukan) 3 Kelengkapan riwayat penyakit Alasan pertama kali (bila pernah berobat) dan sekarang membawa ke dokter Pengobatan dan tindakan yang pernah diberikan(tempat, waktu, oleh, siapa), serta hasilnya 4 Deskripsi keadaan kulit Daerah yang akan dioperasi Bekas luka operasi (bila pernah operasi)dan lokalisasi 5 Deskripsi kelainan saraf yang dijumpai 6 Pemeriksaan penunjang X-Ray, CT scan, MRI ADA TA TL L 9

Laboratorium darah Hasil pemeriksaan likuor 7 Hasil konsultasi persiapan operasi 8 Catatan status gizi 9 Obat-obatan yang masih diberikan 10 Inform consent Kelainan yang dijumpai Apa yang dilakukan, lama perawatan, biaya yang dibutuhkan Peraturan rumah sakit untuk pasien maupun keluarga / penunggu Prognose penyakit dan apa yang perlu dilakukan setelah pulang 11 Surat pengantar rawat inap Admission Lampiran daftar tilik Instruksi untuk perawat Nama konsulen dan asisten 1 Kelengkapan administrasi 2 Kelengkapan dokumen sesuai daftar tilik poliklinik Status poliklinik Hasil pemeriksaan neuroradiology Hasil pemeriksaan laboratorium Hasil konsultasi persiapan operasi 3 Buat status Medical Record 4 Cek ulang hasil pemeriksaan di poliklinik Riwayat penyakit Deskripsi keadaan kulit Hasil pemeriksaan klinis neurologis Status gizi 5 Buat rencana perawatan Persiapan Operasi Instruksi perawatan dan pengobatan 1 Assesment rencana tindakan, operator dan asisten 2 Persiapan pompa 10

3 Konsul toleransi operasi 4 Buat daftar operasi Pra Bedah 1 Konsul anestesi 2 Asisten lapor pada operator 3 Persiapan menjelang operasi Pasang infuse Cukur rambut kepala Cuci daerah yang akan dioperasi dengan sabun Puasa Klisma menjelang ke kamar operasi Cek kelengkapan status Cek dokumen pendukung Sediakan alat Kamar operasi 1 Dokumen yang disertakan bersama pasien Keadaan pasien Cukur gundul Terpasang infus 2 Persiapan pasien 3 Dilakukan narkose umum 4 Dipasang kateter 5 Posisi pasien diatur sesuai standar 6 Dipasang blanket pemanas 7 Persiapan daerah operasi Cuci ulang dengan sabun Dibuat marking Tindakan a/antiseptik Dilakukan infiltrasi kulit kepala dengan NaCi steril Dilakukan penyuntikan anestesi lokal Tindakan operasi Pasca Bedah 1 Dokumentasi Status dan hasil pemeriksaan penunjang dari OK di- 11

terima lengkap Laporan operasi Laporan anestesi 2 Catatan perawatan Pemantauan luka operasi Pemantauan efek samping Pemantauan KU rutin Catatan pengobatan Pemulangan 1 Catatan keadaan pasien 2 Inform consent pada yang merawat 3 Jadwal kontrol dan konsultasi 4 Kelengkapan status dan diagnosa 5 Catatan administrasi & keuangan 18. Materi Baku Materi baku tuberkuloma disusun berdasarkan tujuan pendidikan. Secara rinci disusun pada tujuan khusus. Materi dirinci menjadi berbagai jenis penyakit pada submodul yang disesuaikan dengan kompetensi mandri yang harus dicapai ( matriks hijau ) Sebagai gambaran umum berbagai penyakit yang harus dikuasai adalah sebagai berikut : Tuberkuloma Definisi Tuberkuloma adalah lesi pada jaringan otak berupa masa padat yang merupakan kumpulan jaringan nekrotik akibat infeksi kuman TB (Mycobacterium tuberkulosis) yang menyebar dari organ lain secara hematogen, terutama berasal dari organ paru. Epidemiologi Tuberkuloma intrakranial adalah salah satu kompiikasi yang serius dari tuberkulosis dan 10% dari tuberkuloma intrakranial berkaitan dengan meningitis tuberkulosis. Kejadian tuberkuloma intrakranial merupakan 0.15-4% dari seluruh Iesi massa intrakranial. Sebelum kemajuan kemoterapi antituberkulosis, kejadian tuberkuloma intrakranial adalah sekitar 30-50% dari seluruh Iesi massa intrakranial yang ada. 12

Etiologi Infeksi secara spesifik disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa. Spesies Mycobacterium lainnya dapat juga sebagai penyebab infeksi, seperti misalnya Mycobacterium africanum, Bovine tubercle baccilus, ataupun non-tuberculous mycobacteria. Manifestasi Klinis Gambaran klinis penderita dibagi menjadi 3 fase. Pada fase permulaan gejalanya tidak khas, berupa malaise, apatis, anoreksia, demam, dan nyeri kepala. Setelah minggu ke dua, fase meningitis dengan nyeri kepala, mual, muntah dan mengantuk ( drowsiness). Kelumpuhan saraf knanial dan hidrosefalus terjadi karena eksudat yang mengalami organisasi dan vaskulitis yang menyebabkan hemiparesis atau kejang-kejang yang juga dapat disebabkan oleh proses tuberkuloma intrakranial. Pada fase ke tiga ditandai dengan mengantuk yang progresif sampai koma dan kerusakan fokal yang semakin berat. Pemeriksaan Penunjang Upaya penegakan diagnosis tuberkuloma tidak mudah, karena banyak macam lesi massa intrakranial menyerupai gambaran tuberkuloma, seperti tumor intrakranial ataupun penyakit infeksi intrakranial. Diagnosis pasti tuberkuloma ditegakkan dengan operasi. Beberapa ahli berpendapat bahwa tuberkuloma dapat dipastikan bila pada serial CT Scan atau serial Magnetic Resonance Imaging (MRI) lesi menghilang sesudah mendapat terapi obat anti tuberculosis (OAT). Tatalaksana Tuberkuloma yang kecil (<2 cm) dapat sembuh dengan terapi medisinal dalam 10 minggu, lesi dengan ukuran yang lebih besar memerlukan eksisi. Dengan CT Scan dapat terdeteksi lesi kecil (2-3 mm) dan dapat diterapi medisinal sehingga mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat operasi. 13

19. Algoritme 20. Kepustakan 1. Osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed. 2004 2. Wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed. 1996 3. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby. 1994 4. Winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders. 1994 21. Presentasi Materi presentasi menggunakan materi dalam bentuk power point sesuai dengan materi modul 14

22. Model Model pembelajaran dapat menggunakan diseksi kadaver. 15