Fusarium sp. ENDOFIT NON PATOGENIK

dokumen-dokumen yang mirip
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di kebun PT NTF (Nusantara Tropical Farm) Way

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2011 sampai Maret 2012 di Rumah Kaca

PENGIMBASAN KETAHANAN PISANG TERHADAP PENYAKIT LAYU FUSARIUM DENGAN ASAM SALISILAT IN VITRO

III. METODE PENELITIAN. Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan. Pembuatan media PDA (Potato Dextrose Agar)

BAHAN DAN METODE. Kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat

Dwi Kiswanti, Suryanti*, dan Christanti Sumardiyono

III. BAHAN DAN METODE. Sampel tanah diambil dari daerah di sekitar risosfer tanaman nanas di PT. Great

BAHAN DAN METODE. Pengambilan sampel tanaman nanas dilakukan di lahan perkebunan PT. Great

bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas

BAB III METODE PENELITIAN. eksplorasi dengan cara menggunakan isolasi jamur endofit dari akar kentang

PERAN DAUN CENGKEH TERHADAP PENGENDALIAN LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN TOMAT

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Penyakit Tumbuhan, Bidang

III. BAHAN DAN METODE. Tanaman, serta Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Jurusan Agroteknologi, Universitas Lampung. Penelitian ini dilaksanakan mulai

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Botani, Fakultas Matematika dan Ilmu

BAHAN DAN METODE. Tabel 1 Kombinasi perlakuan yang dilakukan di lapangan

BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan Proteksi

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penyiapan Tanaman Uji Pemeliharaan dan Penyiapan Suspensi Bakteri Endofit dan PGPR

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. berpotensi sebagai komoditas agribisnis yang dibudidayakan hampir di seluruh

III. METODOLOGI Waktu dan Tempat Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian Penyiapan tanaman uji

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan di halaman

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat + 25

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan Kebun

II. MATERI DAN METODE

BAHAN DAN METODE. Pembiakan P. fluorescens dari Kultur Penyimpanan

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian

BAB IX PEMBAHASAN UMUM

PENGENDALIAN LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN PISANG (Musa paradisiaca L.) SECARA KULTUR TEKNIS DAN HAYATI MIFTAHUL HUDA

III. METODE PENELITIAN

PENGARUH AGENSIA HAYATI PSEUDOMONAD FLUORESEN TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT LAYU (Fusarium sp.) DAN PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI (Capsicum Annum L.

BAB III BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan dari 2 Juni dan 20 Juni 2014, di Balai Laboraturium

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian Penyediaan Isolat Fusarium sp. dan Bakteri Aktivator

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pisang adalah tanaman penghasil buah yang paling banyak dikonsumsi dan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tanaman dan Laboratorium

HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Penapisan

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian Laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Agroteknologi,

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2014.

METODE PENELITIAN. Kehutanan dan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman Program Studi

Pemanfaatan Teknik Kultur In Vitro Untuk Mendapatkan Tanaman Pisang Ambon Tahan Penyakit Fusarium

ISOLASI JAMUR ENDOFIT DAUN BELUNTAS (PLUCHEA INDICA (L.) LESS)

Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.15 No.4 Tahun ).

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Agrios (1996), penyakit layu Fusarium dapat diklasifikasikan

Gambar 1 Tanaman uji hasil meriklon (A) anggrek Phalaenopsis, (B) bunga Phalaenopsis yang berwarna putih

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Isolasi Cendawan Rizosfer

IDENTIFIKASI GENUS JAMUR FUSARIUM YANG MENGINFEKSI ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes) DI DANAU TONDANO

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN

Lampiran 1. Lokasi pengambilan sampel tanah diperakaran Cabai merah (Capsicum annum) di Desa Kebanggan, Sumbang, Banyumas

HASIL DAN PEMBAHASAN

Koloni bakteri endofit

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian

BAB III METODE PENELITIAN

III. MATERI DAN METODE

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian Pra-pengamatan atau survei

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Tanaman Industri dan Penyegar

INVENTARISASI JAMUR PENYEBAB PENYAKIT PADA TANAMAN KRISAN (Chrysanthenum morifolium) DI KECAMATAN BERASTAGI, KABUPATEN KARO, SUMATERA UTARA

III. BAHAN DAN METODE

LAMPIRAN. Lampiran 1. Alur Kerja Isolasi Bakteri Endofit dari Batang dan Akar Tanaman Dara metode Radu & Kqueen (2002) yang dimodifikasi

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan Jurusan

III. BAHAN DAN METODE

METODOLOGI. Kerapatan jenis (K)

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan Penelitian Metode Penelitian Isolasi dan Identifikasi Cendawan Patogen

I. PENDAHULUAN. penting di antara rempah-rempah lainnya (king of spices), baik ditinjau dari segi

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Metode Penelitian Perbanyakan Propagul Agens Antagonis Perbanyakan Massal Bahan Pembawa Biopestisida

Efektifitas Solarisasi Tanah Terhadap Penekanan Perkembangan Jamur Fusarium Pada Lahan Tanaman Pisang Yang Terinfeksi

BAB III METODE PENELITIAN

SKRIPSI. Oleh : IKA NURFITRIANA NPM :

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE. Bahan

III. METODE PENELITIAN. Penelitan ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan dan Penyakit

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 : Pengamatan mikroskopis S. rolfsii Sumber :

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan

III. METODE PENELITIAN. dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lampung dari bulan Januari sampai

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian

Diagnosa Penyakit Akibat Jamur pada Tanaman Padi (Oryza sativa) di Sawah Penduduk Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Penyakit Tanaman Fakultas

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan Peremajaan Aktinomiset dari Kultur Penyimpanan Perbanyakan Sclerotium rolfsii dari Kultur Penyimpanan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi pembiakan in vitro tanaman pisang yang terdiri

IbM Produksi Biopestisida Trichoderma harzianum di Pusat Pemberdayaan Agens Hayati ( PPAH) Ambulu Jember

I. PENDAHULUAN. Tanaman pisang menghasilkan salah satu komoditas unggulan di Indonesia yaitu

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Keterangan : Yijk = H + tti + Pj + (ap)ij + Sijk. Sijk

III. METODE PENELITIAN

UJI HAYATI MIKORIZA Glomus fasciculatum TERHADAP PATOGEN Sclerotium rolfsii PADA TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L. var.

disukai masyarakat luas karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi dalam kondisi aseptik secara in vitro (Yusnita, 2010). Pengembangan anggrek

BAB III METODE PENELITIAN

KARAKTERISTIK MORFOLOGI ISOLAT FUSARIUM PENYEBAB PENYAKIT BUSUK UMBI BAWANG MERAH. Hasanuddin 1 dan Rosmayati 1

III. BAHAN DAN METODE. Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari Febuari hingga April 2015.

Transkripsi:

INDUKSI KETAHANAN KULTUR JARINGAN PISANG TERHADAP LAYU FUSARIUM MENGGUNAKAN Fusarium sp. ENDOFIT NON PATOGENIK Arif Wibowo, Aisyah Irmiyatiningsih, Suryanti, dan J. Widada Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta E-mail: arif@faperta.ugm.ac.id ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan tanaman pisang kultivar Ambon Kuning terhadap penyakit layu fusarium dengan aplikasi Fusarium sp. endofit non patogenik isolat Bnt12 pada planlet pisang dan mengetahui penyebaran Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) dan Fusarium sp. endofit non patogenik isolat Bnt12 pada jaringan tanaman. Penelitian ini terdiri dari 8 perlakuan dan 9 ulangan, yaitu perendaman akar planlet pisang dengan suspensi konidia Bnt12 dan inokulasi Foc (S 1 P 1 ), perendaman akar planlet pisang dengan suspensi konidia Bnt12 tanpa inokulasi Foc (S 1 P 0 ), perendaman akar planlet pisang dengan air steril dan inokulasi Foc (S 0 P 1 ), perendaman akar planlet pisang dengan air steril tanpa inokulasi Foc (S 0 P 0 ), aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium planlet pisang dan inokulasi Foc (M 1 P 1 ), aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium planlet pisang tanpa inokulasi Foc (M 1 P 0 ), aplikasi air steril pada medium planlet pisang dan inokulasi Foc (M 0 P 1 ), aplikasi air steril pada medium planlet pisang tanpa inokulasi Foc (M 0 P 0 ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan S 1 P 1 tidak mampu menekan perkembangan penyakit layu fusarium, sedangkan pada perlakuan M 1 P 1 mampu menekan perkembangan penyakit layu fusarium pada tanaman pisang kultivar Ambon Kuning. Pada perlakuan M 1 P 1, Bnt12 ditemukan pada bagian akar, bonggol, dan batang semu, sedangkan Foc hanya ditemukan di bagian akar dan bonggol tanaman. Hal ini menunjukkan Bnt12 masih dapat berkembang pada jaringan tanaman dan Foc tidak mampu menyebar sampai batang semu. Pada perlakuan S 1 P 1, Foc diduga sudah menyebar sampai batang semu, sehingga menyebabkan tanaman mati. Kata kunci: planlet pisang, layu fusarium, Fusarium patogenik sp. endofit non PENDAHULUAN Salah satu penyakit penting pada tanaman pisang yang dapat menurunkan produksi dan mutu buah adalah penyakit layu fusarium 195

Wibowo et al. Semnasl Pestisida Nabati IV, Jakarta 15 Oktober 2012 (penyakit panama) yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc). Gejala penyakit ini adalah menguningnya daun yang kemudian menjadi layu, tangkainya menjadi terkulai dan patah. Kadangkadang lapisan luar batang semu terbelah dari bawah ke atas. Gejala paling khas adalah jika pangkal batang semu dibelah membujur, terlihat garis-garis nekrotik berwarna coklat atau hitam dari bonggol ke atas melalui jaringan pembuluh ke pangkal dan tangkai daun. Penularan penyakit ini dapat melalui bibit, tanah dan air (Anonim 2010a). Penyakit layu fusarium merupakan penyakit yang sulit dikendalikan karena patogennya merupakan patogen tular tanah. Pengendalian yang sering dilakukan khususnya dengan menggunakan agens kimia belum mampu mengendalikan penyakit, karena agens kimia yang digunakan tidak khas terhadap patogen dan belum mampu mengendalikan patogen yang dapat membentuk struktur tahan. Hal ini yang menyebabkan agens pengendali hayati diharapkan mampu mengendalikan patogen tular tanah. Mikroorganisme yang dapat digunakan sebagai agens pengendali hayati adalah dari kelompok jamur dan bakteri. Salah satu mekanisme pengendalian hayati adalah ketahanan terimbas dengan mengaktifkan ketahanan alami tanaman seperti produksi fitoaleksin dan penambahan sel lignin untuk pertahanan tanaman terhadap infeksi patogen (Soesanto 2008). Salah satu mikroorganisme yang dapat digunakan sebagai agens pengendali hayati adalah Fusarium non patogenik. Fusarium non patogenik merupakan jamur yang tidak menimbulkan penyakit pada tanaman. Fusarium non patogenik mempunyai sifat asosiasi dengan tanaman inang yang tinggi, kemampuan saprofitik sedang dan mudah diperbanyak. Penggunaan Fusarium non patogenik pada beberapa tanaman cukup efektif dalam menekan penyakit karena Fusarium sp. (Wiyono 2009). Preinokulasi tanaman inang dengan dengan menggunakan Fusarium non patogenik akan mengurangi tingkat keparahan penyakit ketika tanaman inang diinokulasi dengan patogen (Soesanto 2008). Pengendalian penyakit layu fusarium pisang dengan menggunakan mikroorganisme non patogenik telah berhasil dilakukan, penelitian sebelumnya yang dilakukan di rumah kaca menunjukkan bahwa tanaman pisang kultivar Ambon Kuning yang diperlakukan dengan Fusarium sp. non 196

patogenik isolat Bnt12 mampu mengendalikan penyakit layu fusarium bila dibandingkan dengan isolat Fusarium sp. non patogenik lainnya. Fusarium sp. non patogenik pada pengamatan selama 8 minggu mampu menghambat perkembangan penyakit layu fusarium (Wibowo 2002). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui: (1) Ketahanan tanaman pisang kultivar Ambon Kuning terhadap penyakit layu fusarium dengan aplikasi Fusarium sp. endofit non patogenik isolat Bnt12 pada planlet pisang, dan (2) Penyebaran Foc dan Fusarium sp. endofit non patogenik isolat Bnt12 pada jaringan tanaman pisang. Diharapkan dengan melakukan perendaman akar dan inokulasi dengan Fusarium sp. endofit non patogenik isolat Bnt12 pada medium planlet pisang, akan diperoleh tanaman pisang yang sehat dan tahan terhadap penyakit layu fusarium. METODOLOGI PENELITIAN Rancangan percobaan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 8 perlakuan dan 9 ulangan, dengan perlakuan sebagai berikut: (1) S 1 P 1 : Perendaman akar planlet pisang dengan suspensi konidia Bnt12 dan inokulasi Foc; (2) S 1 P 0 : Perendaman akar planlet pisang dengan suspensi konidia Bnt12 tanpa inokulasi Foc; (3) S 0 P 1 : Perendaman akar planlet pisang dengan air steril dan inokulasi Foc; (4) S 0 P 0 : Perendaman akar planlet pisang dengan air steril tanpa inokulasi Foc; (5) M 1 P 1 : Aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium planlet pisang dan inokulasi Foc; (6) M 1 P 0 : Aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium planlet pisang tanpa inokulasi Foc; (7) M 0 P 1 : Aplikasi air steril pada medium planlet pisang dan inokulasi Foc; (8) M 0 P 0 : Aplikasi air steril pada medium planlet pisang tanpa inokulasi Foc Perbanyakan isolat. Fusarium sp. endofit non patogenik isolat Bnt12 dan Foc isolat Bnt2 diperoleh dari koleksi Laboratorium IPT Klinik Fakultas Pertanian UGM. Perbanyakan dilakukan pada medium PDA (Potato Dextrose Agar). Penyiapan suspensi konidia Fusarium sp. endofit non patogenik isolat Bnt12 dilakukan dengan cara menambahkan air steril ke dalam biakan murni yang ada dalam petridish kemudian miselium digosok dengan menggunakan L-glass. Setelah itu, kerapatan konidia diatur hingga 10 6 konidia /ml. Untuk 197

Wibowo et al. Semnasl Pestisida Nabati IV, Jakarta 15 Oktober 2012 inokulasi planlet pisang dengan Foc isolat Bnt2 dilakukan dengan menggunakan medium beras. Beras dicuci, ditiriskan, dan sebanyak 200 gram dimasukkan ke dalam kantong plastik kemudian disterilkan dengan menggunakan autoklaf pada tekanan 1 atm dengan suhu 121 0 C selama 15 menit. Setelah dingin, medium beras diinokulasi dengan biakan murni Foc isolate Bnt2 yang telah dikulturkan pada medium PDA dalam petridish selama tujuh hari sebanyak 3-4 cakram biakan. Selanjutnya medium beras diinkubasi pada suhu kamar selama 7-14 hari. Persiapan media dan bahan tanam. Untuk persiapan media tanam digunakan tanah steril dan kompos (1:1), kemudian dimasukkan ke dalam pot dengan diameter 14 cm. Adapun untuk persiapan bahan tanam, ada dua perlakuan. Perlakuan yang pertama dengan cara merendam perakaran planlet pisang kultivar Ambon Kuning menggunakan suspensi konidia Fusarium sp. endofit non patogenik isolat Bnt12 dengan kerapatan 10 6 konidia /ml selama 48 jam. Perlakuan kedua dengan melakukan inokulasi pada planlet pisang kultivar Ambon Kuning yang masih berada dalam erlenmeyer berisi medium MS dengan menggunakan suspensi konidia Fusarium sp. endofit non patogenik isolat Bnt12 dengan kerapatan 10 6 konidia /ml dan diinkubasi selama 2 minggu pada suhu 23 0 C. Proses aklimatisasi dilakukan selama 2 minggu, yaitu dengan menyungkup planlet pisang kultivar Ambon Kuning dengan menggunakan plastik dan diletakkan pada tempat yang teduh di dalam rumah kaca. Inokulasi planlet dengan Foc isolat Bnt2. Planlet tanaman pisang kultivar Ambon Kuning yang sudah ditanam dalam pot yang berisi tanah steril dan kompos selama 2 bulan, diinokulasi dengan medium beras yang sudah diinokulasi dengan Foc isolat Bnt2 sebanyak 20 gram tiap pot, kemudian diinkubasi kembali dalam rumah kaca selama 2 bulan dan diamati perkembangan penyakitnya setiap 1 minggu sekali. Pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan teknik skoring. Leaf Symptom Index (LSI) atau pengamatan gejala layu pada daun setiap 1 minggu sekali selama 8 minggu dimana skor1=daun tidak berwarna kuning/layu; 2=Terdapat warna kuning/layu pada daun bagian bawah; 3=3 daun paling bawah berwarna kuning/layu; 4=Sebagian besar/seluruh daun berwarna kuning/layu dan 5=Tanaman mati. Rhizome Discoloration Index 198

(RDI) atau pengamatan gejala pembusukan pada bonggol diamati pada akhir pengamatan dengan cara pembelahan bonggol dimana skor 1=Tidak ada perubahan warna pada bonggol dan daerah perakaran atau di sekitar jaringan; 2=Tidak ada perubahan warna pada daerah perakaran, perubahan warna hanya dipersimpangan akar dan daerah perakaran; 3=Perubahan warna sampai 5 % pada bonggol; 4=6-20 % perubahan warna pada bonggol; 5=21-50 % perubahan warna pada bonggol; 6=Lebih dari 50 % terjadi perubahan warna pada bonggol; 7=Perubahan warna pada seluruh daerah perakaran dan 8=Tanaman mati (Mak et al., 2004). Indeks keparahan penyakitnya atau Disease Severity Index (DSI) dengan rumus berikut: Data hasil pengamatan dianalisis secara statistik dengan ANOVA, dilanjutkan dengan uji beda nyata dengan DMRT pada aras 5%. Pada akhir pengamatan, dilakukan isolasi Foc dan Bnt12 dari akar, bonggol, dan batang semu tanaman pisang pada PDA sebanyak tiga ulangan setiap tanaman. Pengamatan Bnt12 dan Foc yang dilakukan adalah dengan melihat warna koloni, tipe pelekatan konidia pada konidiofor dan ada tidaknya makro dan mikrokonidia. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Indeks keparahan peyakit Perlakuan perendaman akar planlet pisang dengan suspensi konidia Bnt12 (S 1 P 1 ) tidak dapat menekan perkembangan penyakit layu fusarium, sedangkan pada perlakuan aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium planlet pisang (M 1 P 1 ) mampu menekan perkembangan penyakit layu fusarium pada tanaman pisang kultivar Ambon Kuning. Tabel 1 menunjukkan bahwa pada minggu ke-8 setelah inokulasi Foc, perlakuan perendaman akar planlet pisang dengan air steril dan diinokulasi Foc (S 0 P 1 ) tidak menunjukkan adanya beda nyata dengan perlakuan perendaman akar planlet pisang dengan suspensi konidia Bnt12 dan diinokulasi Foc (S 1 P 1 ). Perlakuan aplikasi air steril pada medium planlet dan diinokulasi Foc (M 0 P 1 ) 199

Wibowo et al. Semnasl Pestisida Nabati IV, Jakarta 15 Oktober 2012 menunjukkan adanya beda nyata dengan perlakuan aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium dan diinokulasi Foc (M 1 P 1 ). Aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium planlet pisang (M 1 P 1 ) lebih efektif untuk menekan perkembangan penyakit layu fusarium dibandingkan dengan perendaman akar planlet pisang dengan suspensi konidia Bnt12 (S 1 P 1 ). Hal ini mungkin dikarenakan waktu inokulasi Bnt12 pada medium planlet (M 1 P 1 ) lebih lama dibandingkan perlakuan perendaman akar planlet dengan Bnt12 (S 1 P 1 ), sehingga Bnt12 dapat menyebar ke seluruh jaringan tanaman. Tabel 1. Tingkat keparahan penyakit layu fusarium pada minggu ke-8 setelah inokulasi Perlakuan Skoring untuk LSI Skoring untuk RDI Nilai DSI untuk LSI S 0 P 1 5 a 8 a 5 8 S 1 P 1 5 a 8 a 5 8 Nilai DSI untuk RDI M 0 P 1 4 b 5,6 b 4 5,66 M 1 P 1 3 c 3,4 c 3 3,44 M 0 P 0 1 d 1 d 1 1 M 1 P 0 1 d 1 d 1 1 S 0 P 0 1 d 1 d 1 1 S 1 P 0 1 d 1 d 1 1 Keterangan: angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak menunjukkan beda nyata pada uji DMRT dengan alpha 5%. Perlakuan perendaman akar planlet pisang dengan air steril dan diinokulasi Foc (S 0 P 1 ) dan perlakuan perendaman akar planlet pisang dengan suspensi konidia Bnt12 dan diinokulasi Foc (S 1 P 1 ) gejalanya mulai muncul pada minggu pertama setelah inokulasi dengan nilai DSI tertinggi yaitu sebesar 5 (Gambar 1). Pada pengamatan selama 4 minggu, laju perkembangan penyakit layu fusarium pada perlakuan S 0 P 1 dan S 1 P 1 meningkat dari minggu pertama sampai minggu ke-4 dan akhirnya tanaman mengalami kematian pada minggu ke-4. 200

Gambar 1. Perkembangan penyakit layu fusarium pada tanaman pisang kultivar Ambon Kuning selama 8 minggu. Tidak ada perbedaan perkembangan penyakit layu fusarium antara perlakuan perendaman akar planlet dengan suspensi konidia Bnt12 dan diinokulasi Foc (S 1 P 1 ) dengan perlakuan perendaman akar planlet dengan air steril dan diinokulasi Foc (S 0 P 1 ) (Gambar 1). Laju perkembangan penyakit pada kedua perlakuan mengalami peningkatan sampai minggu keempat dan tanaman mati. Pada perlakuan aplikasi air steril pada medium planlet dan diinokulasi Foc (M 0 P 1 ) gejala mulai muncul pada minggu pertama setelah inokulasi, sedangkan pada perlakuan aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium planlet dan diinokulasi Foc (M 1 P 1 ) gejala layu fusarium mulai muncul pada minggu ke-2 setelah inokulasi. Pada pengamatan selama 8 minggu, laju perkembangan penyakit layu fusarium pada perlakuan M 1 P 1 lebih lambat dibandingkan dengan perlakuan M 0 P 1. Pada perlakuan perendaman akar planlet dengan air steril (S 0 P 0 ), perendaman akar planlet dengan suspensi konidia Bnt12 (S 1 P 0 ), aplikasi air steril pada medium planlet (M 0 P 0 ) dan aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium planlet (M 1 P 0 ) tidak menunjukkan adanya gejala penyakit layu fusarium. Nilai Disease Severity Index (DSI) untuk Rhizome Discoloration Index (RDI) tanaman pisang kultivar Ambon Kuning. Perlakuan perendaman akar planlet pisang dengan air steril dan diinokulasi Foc (S 0 P 1 ) memiliki nilai DSI paling tinggi yaitu sebesar 8 sama dengan perlakuan perendaman akar planlet pisang dengan suspensi konidia Bnt12 dan diinokulasi dengan Foc (S 1 P 1 ) (Gambar 2). Hal ini menunjukkan perlakuan S 1 P 1 tidak mampu 201

Wibowo et al. Semnasl Pestisida Nabati IV, Jakarta 15 Oktober 2012 menekan perkembangan penyakit layu fusarium. Pada perlakuan aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium planlet dan diinokulasi Foc (M 1 P 1 ) memiliki nilai DSI yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan aplikasi air steril pada medium planlet dan diinokulasi dengan Foc (M 0 P 1 ). Hal ini menunjukkan perlakuan M 1 P 1 mampu menekan perkembangan penyakit layu fusarium. Gambar 2. Disease Severity Index (DSI) untuk Rhizome Discoloration Index (RDI) pada minggu ke-8. B. Penyebaran Foc dan Bnt12 pada Jaringan Tanaman Pisang Hasil pengamatan warna koloni menunjukkan bahwa Foc isolat Bnt 2 memiliki warna koloni ungu sedangkan Fusarium sp endofit non patogenik isolat Bnt12 memiliki warna koloni putih. Gambar 3 adalah morfologi mikroskopis jamur Fusarium sp. hasil reisolasi dari jaringan tanaman pisang. Gambar 3A adalah kenampakan morfologi Fusarium sp. endofit non patogenik isolat Bnt12. Pengamatan di bawah mikroskop menunjukkan bahwa Fusarium sp. endofit non patogenik isolat Bnt12 lebih banyak membentuk makrokonidia daripada mikrokonidia. Makrokonidia berbentuk seperti bulan sabit, hialin, dan bersekat. Tipe pelekatan konidia Fusarium sp. endofit non patogenik isolat Bnt12 dapat dilihat pada gambar 3C dimana konidia melekat pada konidiofor yang panjang. Gambar 3B adalah 202

kenampakan morfologi Foc isolat Bnt2 yang memiliki mikrokonidia lebih banyak daripada mikrokonidia. Mikrokonidia berbentuk lebih pendek, bulat, atau lonjong dan hialin. Tipe pelekatan konidianya dapat dilihat pada gambar 3D dimana konidia melekat pada konidiofor yang lebih pendek. Gambar 3. Morfologi jamur Fusarium sp. (A). Fusarium sp. non patogenik (Bnt12), (B). Foc (Bnt2), (C). Pelekatan konidia Bnt12 pada konidiofor, (D). Pelekatan konidia Bnt2 pada konidiofor. Dari hasil reisolasi Foc dan Bnt12 pada jaringan tanaman pisang dapat diamati penyebaran Foc dan Bnt12 pada jaringan tanaman. Pada perlakuan perendaman akar planlet dengan air steril dan diinokulasi Foc (S 0 P 1 ) dan perlakuan perendaman akar planlet dengan suspensi konidia Bnt12 dan diinokulasi Foc (S 1 P 1 ), tidak dilakukan pengamatan penyebaran Foc dan Bnt12 pada jaringan tanaman dikarenakan tanaman pisang sudah mengalami kematian sebelum dilakukan isolasi (Tabel 2). Foc dimungkinkan sudah menyebar sampai pada batang semu tanaman, sehingga menyebabkan kematian tanaman pisang. Pada perlakuan perendaman akar planlet dengan air steril tanpa diinokulasi Foc S 0 P 0 ) dan perlakuan aplikasi air steril pada medium planlet tanpa diinokulasi Foc (M 0 P 0 ) tidak ditemukan adanya Foc dan Bnt12 pada jaringan tanaman. Pada perlakuan perendaman akar planlet dengan suspense koniidium Bnt12 tanpa diinokulasi Foc (S 1 P 0 ) dan perlakuan 203

Wibowo et al. Semnasl Pestisida Nabati IV, Jakarta 15 Oktober 2012 aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium planlet tanpa diinokulasi Foc (M 1 P 0 ) hanya ditemukan Bnt12 pada jaringan tanaman. Hal ini menunjukkan Bnt12 merupakan mikroorganisme yang hidup di dalam jaringan tanaman (endofit). Pada perlakuan aplikasi air steril pada medium planlet dan diinokulasi Foc (M 0 P 1 ) hanya ditemukan Foc pada jaringan tanaman. Pada perlakuan aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium planlet dan diinokulasi Foc (M 1 P 1 ), Bnt12 ditemukan di bagian akar, batang semu dan bonggol sedangkan Foc hanya ditemukan di bagian akar dan bonggol. Hal ini menunjukkan Bnt12 masih dapat berkembang pada jaringan tanaman dan Foc tidak mampu menyebar sampai batang semu tanaman pisang. Tabel 2. Penyebaran Fusarium sp. endofit non patogenik isolat Bnt12 dan Foc isolat Bnt2 pada jaringan tanaman pisang Perlakuan Penyebaran Foc Bnt12 S 0 P 1 Akar * * Bonggol * * Batang semu * * S 0 P 0 Akar - - Bonggol - - Batang semu - - S 1 P 1 Akar * * Bonggol * * Batang semu * * S 1 P 0 Akar - + Bonggol - + Batang semu - + M 0 P 1 Akar + - Bonggol + - Batang semu + - M 0 P 0 Akar - - Bonggol - - Batang semu - - M 1 P 1 Akar + + Bonggol + + Batang semu - + M 1 P 0 Akar - + Bonggol - + Batang semu - + : tidak diamati karena tanaman sudah mati - : tidak ditemukan Fusarium sp. + : ditemukan Fusarium sp. 204

KESIMPULAN Fusarium sp. non patogenik endofit mampu meningkatkan ketahanan tanaman pisang. Aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium planlet pisang mampu menekan perkembangan penyakit layu fusarium, sedangkan perendaman akar planlet pisang dengan suspensi konidia Bnt12 tidak mampu menekan per-kembangan penyakit layu fusarium. Pada perlakuan aplikasi suspensi konidia Bnt12 pada medium planlet, Foc hanya mampu menyebar hingga bagian akar dan bonggol tanaman, sedangkan pada perlakuan perendaman akar planlet dengan suspensi konidia Bnt12, Foc mampu menyebar hingga batang semu dan menyebabkan kematian tanaman. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. Pengendalian Penyakit Layu pada Tanaman Pisang. <http://www.deptan.go.id/teknologi/horti/tpisang2.htm>. Diakses tanggal 2 April 2010. Mak, C., A. A. Mohamed, K. W. Liew dan Y. W. Ho. 2004. Early screening technique for Fusarium wilt resistance in banana micro-propagated plants. http://www. Fao.org/docrep/007/ae216e/ae216eOK.htm. Banana Improvement. Diakses tanggal 8 Maret 2010. Soesanto, L. 2008. Pengantar Pengendalian Hayati Penyakit Tanaman. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Wibowo, A. 2002. Pengendalian penyakit layu fusarium pada pisang dengan menggunakan isolat non patogenik Fusarium sp. Jurnal Fitopatologi Indonesia 6 : 65-70. Wiyono. 2009. Pengendalian Hayati Penyakit Tumbuhan dalam Praktek. Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu. Dept. Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB dan Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Ditjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian. Bogor. <http://www.scribd.com/doc/19519440/phpt-kkpptn 22009#>. Diakses tanggal 8 Maret 2010. 205

Wibowo et al. Semnasl Pestisida Nabati IV, Jakarta 15 Oktober 2012 Pertanyaan/komentar: Alfi (Balitkabi) T: Aplikasi endofit terbaik dilakukan saat tanaman sebagai planlet atau setelah di pembibitan? J: Saat aplikasi terbaik masih dalam tahap evaluasi. 206