Pengantar Edisi Kedua

dokumen-dokumen yang mirip
Ilmu Kimia Proses PETROKIMIA

HIDROKARBON AROMATIK

RESIDU DAN FRAKSI-FRAKSI PETROLEUM CAIR

PROSES PEMISAHAN FISIK

Butadiena, HCN Senyawa Ni/ P Adiponitril Nilon( Serat, plastik) α Olefin, senyawa Rh/ P Aldehid Plasticizer, peluas

BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang

Prarancangan Pabrik Hidrorengkah Aspal Buton dengan Katalisator Ni/Mo dengan Kapasitas 90,000 Ton/Tahun BAB I PENGANTAR

Prarancangan Pabrik 2-Etil Heksanol dari Propilen dan Gas Sintetis Kapasitas Ton/Tahun

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Penelitian

MINYAK BUMI DAN PETROKIMIA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

kimia MINYAK BUMI Tujuan Pembelajaran

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Prarancangan Pabrik Metanol dari Low Rank Coal Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

Prarancangan Pabrik Xylen dari Etil Benzen Kapasitas ton/tahun BAB I PENGANTAR

Prarancangan Pabrik Akrilonitril dari Asetilen dan Asam Sianida dengan Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENGANTAR

Ubah Plastik Jadi Bahan Bakar

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

GAS ALAM (Gas Alam Terasosiasi dan Tak-terasosiasi)

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan energi meningkat seiring dengan meningkatnya perkembangan

ARTIKEL ILMIAH. Oleh Lisa Purnama A1C112014

Gambar 4.1. Perbandingan Kuantitas Produk Bio-oil, Gas dan Arang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan Penulisan

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Prarancangan Pabrik Etilena dari Propana Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN

Gambar 1.1 Produksi plastik di dunia tahun 2012 dalam Million tones (PEMRG, 2013)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan

BAB II TEORI DASAR 2.1 Batubara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Tugas Perancangan Pabrik Kimia Prarancangan Pabrik Amil Asetat dari Amil Alkohol dan Asam Asetat Kapasitas ton/tahun BAB I PENGANTAR

KIMIA FISIKA HIDROKARBON NOMOR KODE/SKS : / 2 SKS MKA Terkait: PRAKTIKUM ANALISA FLUIDA RESERVOIR (1 SKS)

Sintesis Biogasoline dari CPO Melalui Reaksi Perengkahan Katalitik pada Fasa Gas

Prarancangan Pabrik Asam Stearat dari Minyak Kelapa Sawit Kapasitas ton/tahun BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

Materi Penunjang Media Pembelajaran Kimia Organik SMA ALKENA

BAB I PENDAHULUAN UKDW. teknologi sekarang ini. Menurut catatan World Economic Review (2007), sektor

APAKAH LUMPUR DI SIDOARJO MENGANDUNG SENYAWA HIDROKARBON?

KIMIA DASAR JOKO SEDYONO TEKNIK MESIN UMS 2015

Minyak Bumi. Proses pembentukan minyak bumi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berubah; dan harganya yang sangat murah (InSWA). Keunggulan yang dimiliki

BAB I PENDAHULUAN NERACA MASSA DAN ENERGI

Kinetika Kimia dan Mekanisme Reaksi

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan akan pemenuhan energi semakin meningkat seiring dengan

KARYA TULIS ILMIAH PEMBUATAN BAHAN BAKAR DARI LIMBAH PLASTIK DENGAN LEMPUNG NDAVE SEBAGAI KATALIS SERTA ANALISIS EKONOMI PRODUKNYA

Bab I Pendahuluan - 1 -

Pengolahan Minyak Bumi

BAB I PENDAHULUAN. Isu kelangkaan dan pencemaran lingkungan pada penggunakan bahan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

Perbandingan aktivitas katalis Ni dan katalis Cu pada reaksi hidrogenasi metil ester untuk pembuatan surfaktan

I. Pendahuluan II. Agen Penitrasi

Katalis 1. Pengertian Katalis 2. Jenis Katalis a. Katalis Homogen

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Instructor s Background

Gambar 1.Diagram Alir Fraksinasi Arus Kaya Heksana

BAB I PENDAHULUAN. 1 Prarancangan Pabrik Dietil Eter dari Etanol dengan Proses Dehidrasi Kapasitas Ton/Tahun Pendahuluan

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Katalis CaO Terhadap Kuantitas Bio Oil

BAB I PENDAHULUAN. salah satunya adalah pembangunan industri kimia di Indonesia.

Atom unsur karbon dengan nomor atom Z = 6 terletak pada golongan IVA dan periode-2 konfigurasi elektronnya 1s 2 2s 2 2p 2.

Addres: Fb: Khayasar ALKANA. Rumus umum alkana: C n H 2n + 2. R (alkil) = C n H 2n + 1

BAB I PENDAHULUAN. Minyak bumi merupakan senyawa kimia yang sangat kompleks, sebagai

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Struktur atom, dan Tabel periodik unsur,

berupa ikatan tunggal, rangkap dua atau rangkap tiga. o Atom karbon mempunyai kemampuan membentuk rantai (ikatan yang panjang).

PRODUKSI OLEFIN PERENGKAHAN KUKUS HIDROKARBON. (Produksi Olefin)

Laju reaksi meningkat menjadi 2 kali laju reaksi semula pada setiap kenaikan suhu 15 o C. jika pada suhu 30 o C reaksi berlangsung 64 menit, maka

II. DESKRIPSI PROSES. Proses produksi Metil Akrilat dapat dibuat melalui beberapa cara, antara

(in CATALYST TECHNOLOGY Lecture ) Instructor: Dr. Istadi.

BAB I PENDAHULUAN I.1

Laju reaksi meningkat menjadi 2 kali laju reaksi semula pada setiap kenaikan suhu 15 o C. jika pada suhu 30 o C reaksi berlangsung 64 menit, maka

Prarancangan Pabrik Dodekilbenzena dari Dodeken dan Benzena Dengan Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN. yang ada dibumi ini, hanya ada beberapa energi saja yang dapat digunakan. seperti energi surya dan energi angin.

MODIFIKASI PROSES IN SITU ESTERIFIKASI UNTUK PRODUKSI BIODIESEL DARI DEDAK PADI

Sulfur dan Asam Sulfat

BAB II DASAR TEORI. FeO. CO Fe CO 2. Fe 3 O 4. Fe 2 O 3. Gambar 2.1. Skema arah pergerakan gas CO dan reduksi

Prarancangan Pabrik Biodiesel dari Biji Tembakau dengan Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN

LEMBARAN SOAL 6. Mata Pelajaran : KIMIA Sat. Pendidikan : SMA Kelas / Program : X ( SEPULUH )

Prarancangan Pabrik Metilen Klorida dari Metil Klorida dan Klorin Kapasitas Ton/Tahun

BAB I PENDAHULUAN. faktor utama penyebab meningkatnya kebutuhan energi dunia. Berbagai jenis

Pemanfaatan Bentonit Dan Karbon Sebagai Support Katalis NiO-MgO Pada Hidrogenasi Gliserol

BAB 2 TI NJAUAN PUSTAKA. Gas alam sering juga disebut sebagai gas bumi atau gas rawa yaitu bahan bakar fosil

BAB II LANDASAN TEORI

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Karakteristik Limbah Padat

BAB II GAMBARAN UMUM TEKNOLOGI SEL BAHAN BAKAR

BAB 7 HIDROKARBON DAN MINYAK BUMI

MKA PROSES KIMIA. Sri Wahyu Murni Prodi Teknik Kimia FTI UPN Veteran Yogyakarta

PERENGKAHAN TERMAL (Thermal Cracking) SERBUK GERGAJI KAYU BULIAN (Eusideroxylon Zwagery T.Et B) UNTUK MENGHASILKAN BAHAN BAKAR MINYAK ARTIKEL ILMIAH

kimia KTSP & K-13 KESETIMBANGAN KIMIA 1 K e l a s A. Reaksi Kimia Reversible dan Irreversible Tujuan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan energi untuk beberapa abad ke depan, semakin meningkat

Proses Pengolahan Gas Alam Gas alam mentah mengandung sejumlah karbon dioksida, hidrogen sulfida, dan uap air yang bervariasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Sistem tiga komponen

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan pada senyawa berukuran atau berstruktur nano khususnya dalam

INDUSTRI MINYAK BUMI

BAB I PENDAHULUAN. pemikiran untuk mencari alternatif sumber energi yang dapat membantu

Transkripsi:

Pengantar Edisi Kedua Edisi pertama Chemistry of Petrochemical Processes (Ilmu Kimia Proses Petrokimia) ditulis dengan tujuan untuk mengenalkan kepada pembaca melalui pendekatan sederhana mengenai beragam pokok bahasan yang berkaitan dengan ilmu kimia dan teknologi dari beragam proses petrokimia dan petroleum. Buku ini menelaah mekanisme dari banyak reaksi dan juga parameter operasinya (temperatur, tekanan, waktu tinggal, dsb.) yang secara langsung mempengaruhi hasil produk dan komposisinya. Agar pembaca dapat mengikuti aliran reaktan hingga produk, maka proses tersebut diilustrasikan dengan diagram alir yang disederhanakan. Meskipun konsep dasar dan susunan bab dalam edisi kedua ini sama dengan yang pertama, namun edisi baru ini mencakup beberapa tambahan kecil dan perbaikan yang berkaitan dengan perkembangan pemrosesan dan katalis. Industri petrokimia adalah bidang sangat besar yang mencakup banyak polimer dan bahan kimia komersial. Sebagai gambaran akan besarnya pasar petrokimia, di dunia saat ini produksi poliolefin sendiri saja adalah lebih dari 36 milyar ton per tahun dan diperkirakan akan tumbuh dengan laju 4-5% per tahun. Pertumbuhan seperti ini memerlukan banyak usaha untuk memperbaiki teknik dan rancangan katalis serta menjamin mutu produk yang bagus. Ini terutama dicapai melalui penelitian katalis baru yang aktif dan selektif. Berikut ini adalah beberapa tambahan penting mengenai hal ini: Karena etilena dan propilena merupakan batubata utama bagi industri petrokimia, maka perlu terus dicari cara lain untuk memroduksinya. Rute utama untuk produksi etilena dan propilena adalah perengkahan kukus, yang merupakan proses padat-energi. Perengkahan katalitik terfluidakan (FCC = fluid catalytic cracking) juga dipakai untuk menambah produksi olefin ini. Suatu proses baru yang memroduksi olefin ringan dalam persentase yang lebih tinggi daripada FCC adalah perengkahan katalitik dalam (DCC = deep catalytic cracking), dan ini dibahas di Bab 3. Pencarian jalur lain untuk memroduksi monomer dan bahan kimia dari sumber selain minyak bumi, seperti batubara, telah menghidupkan kembali pemakaian teknologi Fisher Tropsch, yang bisa memroduksi tambahan bahan bakar, olefin ringan, sulfur, fenol, dsb. Ini bisa dipakai sebagai bahan baku bagi petrokimia seperti diperlihatkan di Bab 4. Katalis bagi banyak proses petroleum dan petrokimia merupakan bagian cukup besar dari keseluruhan biaya operasional dan modal. Katalis heterogen lebih umum dipakai karena mudahnya pemisahan dari produknya. Di sisi lain, katalis homogen normalnya lebih selektif dan beroperasi pada kondisi ringan daripada jenis heterogen, namun kehilangan kesederhanaannya dan kemudahan pemisahan produknya. Problem ini dengan gemilang diselesaikan untuk reaksi okso yang memakai rhodium yang dimodifikasi dengan ligand trifenilfosfina yang terlarut dalam air. Jadi, produk liofiliknya dapat gampang dipisahkan dari katalis

fasa aqueousnya. Klaster kobalt yang larut dalam air dapat secara efektif menghidroformilasi olefin lebih tinggi dalam sistem dua-fasa dengan memakai polietilena glikol sebagai media polar. Pendekatan ini dijabarkan di Bab 5. Dalam bidang polimer, metallosena generasi-baru, yang saat ini dipergunakan dalam banyak proses polietilena dan polipropilena, dapat memolimerisasi propilena dalam dua mode berbeda: blok isotaktik kaku berselang-seling dan ataktik lentur. Perkembanan baru ini dan perubahan-perubahan lain serta pendekatan yang berkaitan dengan polimer didiskusikan di Bab 11 dan 12. Saya harap tambahan baru yang saya rasa perlu dimasukkan dalam buku ini dapat memuaskan para pembaca. Sami Matar, Ph.D.

Pengantar Edisi Pertama Secara umum bahan petrokimia adalah senyawa dan polimer yang diturunkan secara langsung atau tidak langsung dari minyak bumi dan dipergunakan di pasar bahan kimia. Di antara produk petrokimia utama adalah plastik, serat buatan, karet buatan, deterjen, dan pupuk nitrogen. Banyak industri bahan kimia lain yang penting seperti cat, perekat, aerosol, insektisida, dan obat-obatan yang mungkin memakai satu atau beberapa produk petrokimia dalam tahap pembuatannya. Bahan mentah primer untuk produksi petrokimia adalah gas alam dan minyak bumi. Namun, bahan-bahan karbon lain seperti batubara, shale minyak, dan tar dapat juga diproses (meskipun mahal) untuk memroduksi bahan kimia tersebut. Industri petrokimia terutama berbasiskan pada tiga jenis bahan-antara, yang diturunkan dari bahan mentah primer tersebut. Ini adalah olefin C 2 -C 4, hidrokarbon aromatik C 6 -C 8, dan gas sintesa (suatu campuran H 2 /CO). Pada umumnya, minyak bumi dan gas alam mengandung campuran hidrokarbon yang relatif tidak reaktif bersama-sama dengan sejumlah beragam senyawa bukan hidrokarbon. Campuran ini pada prinsipnya tidak mengandung olefin. Namun, hidrokarbon C 2 dan yang lebih berat dari kedua sumber ini (gas alam dan minyak bumi) dapat diubah menjadi olefin ringan yang merupakan bahan asal bagi produksi petrokimia. Hidrokarbon aromatik C 6 -C 8, meskipun ada dalam minyak bumi, tetapi umumnya berkonsentrasi sangat rendah sehingga tidak layak secara teknik dan ekonomi untuk diambil. Tetapi, suatu campuran kaya-aromatik dapat diperoleh dari proses reforming katalitik dan proses-proses perengkahan, yang bisa diekstraksi lebih lanjut untuk mendapatkan aromatik yang dibutuhkan bagi pemakaian petrokimia. Gas-gas petroleum yang dicairkan (C 3- C 4 ) dari gas alam dan aliran gas pengilangan dapat juga diubah secara katalitik menjadi campuran hidrokarbon cair yang kaya aromatik C 6 -C 8. Gas sintesa, bahan-antara petrokimia terpenting ketiga, diperoleh melalui reforming kukus dari gas alam atau fraksi-fraksi minyak bumi. Gas sintesa adalah pemicu bagi dua bahan kimia bervolume-besar, amonia dan metanol. Dari bahan-antara sederhana ini, banyak bahan kimia dan polimer penting diturunkan melalui reaksi konversi berbeda. Tujuan buku ini bukan hanya untuk menyajikan reaksi yang terlibat dalam konversi tersebut, tapi juga untuk mengaitkannya dengan variabel proses dan dengan jenis katalis yang dipakai untuk mendapatkan produk yang diinginkan. Jika diperlukan, diskusi mengenai mekanisme reaksi yang penting juga akan dimasukkan. Namun bagaimanapun, buku ini berusaha memberikan penjelasan yang disederhanakan mengenai

beragam bahasan berkaitan dengan ilmu kimia, teknologi proses, polimer, dan katalis. Sebagai titik pangkal, buku ini menelaah sifat-sifat umum bahan mentah ini. Lalu diikuti dengan berbagai teknik yang dipakai untuk merubah bahan mentah ini menjadi bahan-antara, yang kemudian direaksikan lebih lanjut untuk menghasilkan bahan petrokimia. Bab pertama berkaitan dengan komposisi dan teknik pengolahan gas alam. Bab ini juga menelaah sifat-sifat, komposisi, dan pengelompokan berbagai ragam minyak bumi. Sifat-sifat dari beberapa bahan karbon yang terbentuk secara alami seperti batubara dan pasir tar akan dibahas singkat pada akhir bab ini. Bahan ini diperkirakan akan menjadi sumber energi dan sumber bahan kimia masa depan ketika minyak bumi dan gas alam habis. Bab 2 menyimpulkan sifat-sifat penting hidrokarbon-antara dan fraksi-fraksi petroleum yang diperoleh dari gas alam dan minyak bumi. Pemrosesan minyak bumi terutama bertujuan untuk memroduksi bahan bakar, sehingga hanya sebagian kecil produknya yang dipakai untuk sintesa olefin dan aromatik. Di Bab 3, berbagai proses pemrosesan minyak bumi ditelaah dengan menitikberatkan pada teknik konversi yang dipakai untuk fungsi ganda yaitu untuk memperoleh bahan bakar dan juga bahan dasar olefinik dan aromatik. Termasuk juga dalam bab ini, proses perengkahan kukus yang berperan khusus dalam memroduksi olefin dan diolefin. Selain merupakan sumber utama bagi bahan petrokimia yang berbasiskanhidrokarbon, minyak bumi dan gas alam adalah juga pemicu bagi kelompok khusus senyawa atau campuran yang dikelompokkan sebagai bahan-antara bukan hidrokarbon. Di antaranya adalah campuran gas sintesa, hidrogen, sulfur, dan karbon hitam. Bahan-bahan ini memiliki arti penting secara ekonomi dan didiskusikan di Bab 4. Bab 5 mendiskusikan bahan kimia yang diturunkan secara langsung maupun tidak langsung dari metana. Karena gas sintesa adalah bahan-antara utama yang diturunkan dari metana, maka campuran gas ini didiskusikan lebih jauh lagi di bab ini dalam hubungannya dengan bahan kimia utama yang berbasiskan campuran ini. Hidrokarbon parafinik lebih tinggi daripada metana secara umum tidak dipergunakan untuk produksi bahan-kimia melalui reaksi langsung dengan reagen kimia karena reaktifitasnya yang relatif lebih rendah dari pada olefin dan aromatik. Namun, ada juga sedikit turunan yang dapat diperoleh dari hidrokarbon ini melalui reaksi oksidasi, nitrasi, dan klorinasi. Ini dibahas di Bab 6. Jantung industri petrokimia terletak pada olefin C 2 -C 4, butadiena, dan aromatik C 6 -C 8. Bahan kimia dan monomer yang diturunkan dari bahan-antara ini secara berurutan didiskusikan di Bab 7-10. Penggunaan monomer-monomer yang berbasiskan olefin ringan, diolefin, dan aromatik untuk produksi polimer komersial dibahas dalam dua bab terakhir. Bab 11 menelaah ilmu kimia yang terlibat dalam sintesa polimer, pengelompokannya, dan sifat-sifat umumnya. Buku ini tidak mendiskusikan kinetika dari reaksi polimer. Buku-buku ilmu kimia polimer yang lebih khusus bisa dirujuk untuk pembahasan ini. Bab 12 mendiskusikan penggunaan beragam monomer yang diperoleh dari sumber petroleum untuk memroduksi polimer komersial. Bukan hanya membahas reaksi kimia yang terlibat dalam sintesa polimer-polimer ini, tetapi juga membahas sifat-sifat kimia, fisik, dan mekanikalnya. Sifat-sifat ini berhubungan dengan

bagaimana pemakaian dari suatu polimer sebagai plastik, sebagai elastomer, atau sebagai serat. Sebagai alat bantu tambahan bagi para pembaca yang mencari informasi lebih lanjut tentang bahasan tertentu, maka daftar rujukan ditempatkan pada akhir setiap bab. Dalam keseluruhan isi buku, satuan-satuan berbeda dipergunakan secara bergantian seperti yang dipakai dalam industri. Namun pada kebanyakan kasus, temperatur dinyatakan dalam derajat celcius, tekanan dalam atmosfer, dan energi dalam kilo joule. Bab-bab buku ini disusun hampir sama dengan From Hydrocarbon to Petrochemicals, buku yang saya tulis bersama dengan almarhum Professor Hatch dan dipublikasikan oleh Gulf Publishing Company pada tahun 1981. Meskipun buku itu lebih ditujukan untuk kalangan teknik dan peneliti di bidang petroleum, namun ia dipakai juga oleh banyak rekan sejawat dan universitas sebagai rujukan atau sebagai teks untuk kursus-kursus khusus. Buku ini juga dimaksudkan untuk melayani kedua fungsi ini yaitu sebagai rujukan dan juga sebagai teks bagi jurusan ilmu kimia dan teknik kimia. Di tahun terakhir ini, banyak lembaga pendidikan merasakan keuntungan dari satu atau beberapa kursus-kursus berkaitan-teknik seperti petrokimia untuk dimasukkan dalam kurikulum ilmu kimia dan teknik kimia mereka. Lebih dari empat puluh tahun lalu, Lewis Hatch memelopori usaha seperti ini dengan menawarkan kursus Bahan Kimia dari Petroleum di Universitas Texas. Tak lama setelah itu, kata petrokimia muncul untuk mengistilahkan bahan kimia yang diperoleh dari minyak bumi dan gas alam. Saya berharap bahwa penerbitan buku ini bisa memenuhi sebagian tujuan untuk meneruskan usaha almarhum Professor Hatch dalam menampilkan keindahan ilmu kimia melalui pendekatan secara sederhana. Pada kesempatan ini, saya ingin mengungkapkan penghargaan saya kepada staf Gulf Publishing Co. atas komentar mereka yang berharga. Saya juga menghargai kerjasama dan bantuan yang saya terima dari rekan sejawat, administrasi KFUPM, dan terutama kepada Dr. A. Al-Arfaj, ketua departemen ilmu kimia; Dr. M. Z. El-Faer, ketua ilmu murni; dan Dr. A. Al-Zakary, wakil rektor untuk penelitian dan program sarjana, atas bantuannya dalam menyelesaikan buku ini. Sami Matar, Ph.D.