Analisa Statistik Erupsi Gunung Merapi

dokumen-dokumen yang mirip
Analisis Statistik Temporal Erupsi Gunung Merapi

Analisis Statistik Temporal Erupsi Gunung Kelud, Semeru dan Merapi

Analisis Statistik Temporal Erupsi Gunungapi di Indonesia

ERUPSI GUNUNGAPI KELUD DAN NILAI-B GEMPABUMI DI SEKITARNYA (Eruption of The Kelud Volcano and b-value of Its Surrounding Earthquakes)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BADAN GEOLOGI - ESDM

7.5. G. IBU, Halmahera Maluku Utara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Fisika Gunung Api JENIS SKALA DAN FREKUENSI LETUSAN

Penentuan Daerah Potensi Rawan Bencana Letusan Gunung Kelud Menggunakan Citra Satelit

4.15. G. LEWOTOBI PEREMPUAN, Nusa Tenggara Timur

Bersama ini dengan hormat disampaikan tentang perkembangan kegiatan G. Kelud di Kabupaten Kediri, Blitar dan Malang, Provinsi Jawa Timur.

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI

Reka Geomatika Jurusan Teknik Geodesi Itenas No. 2 Vol. 1 ISSN X Desember 2013 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. bencana. Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan

LAPORAN HASIL PENELITIAN HIBAH KOMPETENSI

BAB I PENDAHULUAN. untuk dijadikan permukiman sehingga muncul larangan bermukim. Merapi terletak antara dua provinsi yakni Daerah Istimewa

KESIAPSIAGAAN SISWA SMA NEGERI 1 CANGKRINGAN TERHADAP BENCANA ERUPSI GUNUNG MERAPI DI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA

AKTIVITAS GUNUNGAPI SEMERU PADA NOVEMBER 2007

BAB I PENDAHULUAN. dibanding erupsi tahun 2006 dan Dari tiga episode tersebut, erupsi terbesar

BAB 1 PENDAHULUAN. lempeng yaitu Lempeng Eurasia, Hindia-australia dan Lempeng Filipina dan. akibat pertumbukan lempeng-lempeng tersebut (Gambar 2).

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Letusan Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober sampai 5 Nopember

BAB I PENDAHULUAN. menyertai kehidupan manusia. Dalam kaitannya dengan vulkanisme, Kashara

KARAKTERISTIK ERUPSI GUNUNG MERAPI PERIODE APRIL JULI 2006

II. PENGAMATAN 2.1. VISUAL

EVALUASI SEISMIK DAN VISUAL KEGIATAN VULKANIK G. EGON, APRIL 2008

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kondisi geografis Indonesia terletak pada busur vulkanik Circum Pacific and

6.6. G. TANGKOKO, Sulawesi Utara

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api aktif yang ada di

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1. Peta Ancaman Bencana Gunung Api Di Indonesia (Sumber : BNPB dalam Website, 2011)

IDENTIFIKASI LOKASI RAWAN BENCANA BANJIR LAHAR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI PABELAN, MAGELANG, JAWA TENGAH

BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian

6.1. G. COLO (P. Una-una), Sulawesi Tengah

Analisis Risiko Bencana-... (Akhmad Ganang H.)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

4.9. G. EBULOBO, Nusa Tenggara Timur

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang I.1.1 Lokasi Kompleks Gunung Guntur

2 Pengajar Program Studi Statistika, FMIPA UII Yogyakarta Abstrak

PREDIKSI KAPASITAS TAMPUNG SEDIMEN KALI GENDOL TERHADAP MATERIAL ERUPSI GUNUNG MERAPI 2006

BAB I PENDAHULUAN. samudra Hindia, dan Samudra Pasifik. Pada bagian selatan dan timur

Studi Pengaruh Lahar Dingin Pada Pemanfaatan Sumber Air Baku Di Kawasan Rawan Bencana Gunungapi (Studi Kasus: Gunung Semeru)

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan Indonesia termasuk dalam daerah rawan bencana gempabumi

Dekomposisi Wavelet Data Seismik Broadband dari Stasiun Wanagama Yogyakarta pada saat Letusan Gunung Merapi 2010

BAB I PENDAHULUAN. termasuk wilayah pacific ring of fire (deretan Gunung berapi Pasifik), juga

ANALISIS DISTRIBUSI FASIES GUNUNG MERAPI DI KECAMATAN SELO UNTUK IDENTIFIKASI JENIS BAHAYA ERUPSI

5.2. G. WETAR, Kepulauan Banda, Maluku

BAB I PENDAHULUAN. Istimewa Yogyakarta merupakan gunung paling aktif di dunia. Gunung Merapi

BAB I PENDAHULUAN. letusan dan leleran ( Eko Teguh Paripurno, 2008 ). Erupsi lelehan menghasilkan

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang I.2. Perumusan Masalah

ANALISIS PERUBAHAN NILAI TANAH DI AREA LERENG GUNUNG KELUD PASCA ERUPSI 2014 (Studi Kasus: Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri)

BAB I PENGANTAR. menjadi dua yaitu bahaya primer dan bahaya sekunder. Bahaya primer

6.2. G. AMBANG, SULAWESI UTARA

KORELASI PARAMETER SUHU AIR PANAS, KEGEMPAAN, DAN DEFORMASI LETUSAN G. SLAMET APRIL - MEI 2009

BAB III METODA PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dan melalui

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PENGARUH GEMPA TEKTONIK TERHADAP AKTIVITAS GUNUNGAPI : STUDI KASUS G. TALANG DAN GEMPABUMI PADANG 30 SEPTEMBER 2009

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terletak di antara tiga lempeng aktif dunia, yaitu Lempeng

Gunungapi (Volcano)* Pokok Bahasan. Pendahuluan

LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 15 TAHUN 2011 TANGGAL : 9 SEPTEMBER 2011 PEDOMAN MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI

Beda antara lava dan lahar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bersama ini dengan hormat disampaikan tentang perkembangan kegiatan G. Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.

24 November 2013 : 2780/45/BGL.V/2013

TEKANAN PADA ERUPSI GUNUNG BERAPI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

4.12. G. ROKATENDA, Nusa Tenggara Timur

ERUPSI G. KARANGETANG 2007 DAN PERKIRAAN KEDALAMAN SUMBER TEKANAN BERDASARKAN DATA ELECTRONIC DISTANCE MEASUREMENT (EDM)

ANALISIS SINYAL SEISMIK TREMOR HARMONIK DAN TREMOR SPASMODIK GUNUNGAPI SEMERU, JAWA TIMUR INDONESIA

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan tempat dimana tiga lempeng besar dunia

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1.1. G. PUET SAGOE, NANGGROE ACEH DARUSSALAM

BAB I PENDAHULUAN. bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan

Aplikasi Artificial Neural Network (ANN) untuk Memprediksi Perilaku Sumur Geotermal

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SEJARAH LETUSAN GUNUNG MERAPI BERDASARKAN FASIES GUNUNGAPI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BEDOG, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

4.14. G. LEWOTOBI LAKI-LAKI, Nusa Tenggara Timur

ERUPSI G. SOPUTAN 2007

Proses Titik Self-Exciting dan Penerapannya pada Data Gempa Bumi di Jawa

DEBIT AIR LIMPASAN SEBAGAI RISIKO BENCANA PERUBAHAN LUAS SUNGAI TUGURARA DI KOTA TERNATE, PROVINSI MALUKU UTARA

7.4. G. KIE BESI, Maluku Utara

Studi Komputasi Gerak Bouncing Ball pada Vibrasi Permukaan Pantul

5.6. G. LEGATALA, Kepulauan Banda, Maluku

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

MUSEUM GUNUNG KRAKATAU DI ANYER, BANTEN

4.20. G. BATUTARA, Nusa Tenggara Timur

Transkripsi:

Analisa Statistik Erupsi Gunung Merapi Dhika Rosari Purbaa), Acep Purqonb) Laboratorium Fisika Bumi, Kelompok Keilmuan Fisika Bumi dan Sistem Kompleks, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132 a) dhikarosarip@students.itb.ac.id (corresponding author) b) acep@fi.itb.ac.id Abstrak Pada penelitian kali ini akan dilakukan kajian statistik yang dilakukan terhadap runtun waktu dari waktu istirahat (repose period) Gunung Merapi dari tahun 1780 hingga tahun 2000. Dimana dari analisis ini kemudian didapat kebolehjadian Gunung Merapi erupsi yang dapat dipakai sebagai besaran fisis yang harus dipantau dalam mengantisipasi erupsi Gunung Merapi di masa yang akan datang. Kajian statistik runtun waktu erupsi gunungapi dilakukan dengan analisa distribusi statistik eksponensial Wickmann dan fungsi Probability Density Function Poissonian untuk mendapat angka kebolehjadian Gunung Merapi akan mengalami erupsi. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa runtun waktu erupsi Gunung Merapi pada tahun 1780 hingga tahun 2000 memiliki karakteristik stokastik acak dengan cacah erupsi sebagai fungsi waktu istirahat erupsi dengan distribusi statistik eksponensial dan fungsi Probability Density Function Poissonian. Dari hasil penelitian diketahui bahwa Gunung Merapi memiliki koefisien atenuasi cacah erupsi fungsi waktu istirahat sebesar sama 0,2316 per tahun dan nilai menengah waktu istirahat erupsi sebesar 4,3177 tahun. Selain itu, pada tahun 2016 Gunung Merapi memiliki kebolehjadian akan mengalami erupsi sebesar 63,8%. Kata-kata kunci: Eksponensial Wickmann, Erupsi, Probability Density Function, Statistik. PENDAHULUAN Gunung Merapi merupakan salah satu gunungapi aktif di wilayah Indonesia. Posisi geografis Merapi berada pada koordinat 7 32 31 LS 110 26 46 BT dan berada di wilayah administratif Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Merapi merupakan gunungapi bertipe Strato-volcano yang secara petrologi magma bersifat andesit-basaltik. Gunung Merapi memiliki ketinggian 2978 m di jantung pulau Jawa dengan diameter 28 km, luas 300-400 km2 dan volume 150 km3. Berdasarkan sejarah tercatat sejak tahun 1600-an Gunung Merapi meletus lebih dari 80 kali atau rata-rata sekali meletus dalam 4 tahun. Dimana secara rata-rata Merapi mengalami erupsi (puncak keaktifan) dalam siklus pendek yaitu setiap dua sampai lima tahun sekali. Pada abad ke-20 terjadi minimal 28 kali letusan, dimana letusan terbesar terjadi pada tahun 1931. Erupsi Merapi termasuk sering dalam 100 tahun terakhir ini, sehingga bahaya utama dapat mengancam sekitar 40.000 jiwa yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana akibat erupsi Merapi umumnya didahului pertumbuhan kubah lava diikuti guguran awanpanas, guguran lava pijar dan jatuhan piroklastik. Pada penelitian kali ini akan dilakukan kajian statistik yang dilakukan terhadap runtun waktu dari waktu istirahat (repose period) Gunung Merapi dari tahun 1780 hingga tahun 2000. Dimana dari analisis ini kemudian didapat Kebolehjadian Gunung Merapi erupsi yang dapat dipakai sebagai besaran fisis yang harus dipantau dalam mengantisipasi erupsi Gunung Merapi di masa yang akan datang. 452

KAJIAN STATISTIK Dalam kajian statistik, distribusi runtun waktu erupsi gunungapi dapat dinyatakan sebagai fungsi distribusi eksponensial (Wickmann, 1965) yaitu dengan persamaan : (1) N ( λ, t ) = N 0 e λt Dimana : N = Cacah erupsi yang mempunyai waktu istirahat lebih lama dari pada t; No = Cacah erupsi yang mempunyai waktu istirahat lebih lama dari pada 0 tahun; t = Waktu istirahat; λ = Koefisien atenuasi eksponensial. Dari persamaan distribusi statistik eksponensial (persamaan 1) dapat diketahui waktu istirahat erupsi rerata yang merupakan mempunyai nilai menengah T ( mean value). Besar mean value dapat diperoleh dengan persamaan : T = 1/λ (2) Teori distribusi statistik eksponensial Poissonian seperti pada persamaan 1, pada dasarnya adalah gejala yang bersifat acak (random). Sehingga runtun waktu erupsi gunungapi mempunyai Fungsi Densitas Kebolehjadian (PDF,Probability Density Function, Wickmann, 1965). Maka dalam hal ini dapat ditentukan Fungsi Densitas Kebolehjadian Gunung Merapi tidak terjadinya rupsi (PDF Tidak Erupsi) dan Fungsi Densitas Kebolehjadian Gunung Merapi erupsi (PDF Erupsi). Dimana, Fungsi Densitas Kebolehjadian Gunung Merapi tidak terjadinya erupsi (PDF Tidak Erupsi) didapat sesuai dengan persamaan : PDF Tidak Erupsi (λ,t) = λ t (e-λt) (3) Dan Fungsi Densitas Kebolehjadian Gunung Merapi terjadinya erupsi (PDF Erupsi) didapat sesuai dengan persamaan : PDF Erupsi (λ,t) = 1 - λ t (e-λt) (4) METODE Pada penelitian ini akan dilakukan kajian statistik dari data erupsi Gunung Merapi sejak tahun 1780 hingga tahun 2000. Dimana kajian statistik dilakukan terhadap runtun waktu dari waktu istirahat (repose period) dari data erupsi Gunung Merapi dari tahun 1780 hingga tahun 2000. Dalam melakukan kajian statistik ini, kemudian dibuat kerangka kerja dalam penelitian yaitu sebagai berikut : Melakukan impor data erupsi Gunung Merapi dari tahun 1780 hingga tahun 2000 dari website Kementerian ESDM Badan Geologi yaitu http://www.vsi.esdm.go.id Melakukan analisis runtun waktu erupsi Gunung Merapi dari data waktu istirahat antar erupsi Gunung Merapi. Melakukan analisa Fungsi Densitas Kebolehjadian (PDF, Probability Density Function) dari Gunung Merapi. Mendapat angka Kebolehjadian Gunung Merapi erupsi. Analisis Runtun Waktu Erupsi Gunung Merapi Sejarah erupsi Gunung Merapi secara tertulis mulai tercatat sejak awal masa kolonial Belanda yaitu pada sekitar abad ke-17. Secara umum, letusan Gunung Merapi pada abad ke-18 dan abab ke-19 masa istirahatnya relatif lebih panjang, sedangkan indeks letusannya lebih besar. Gambar 1 memberikan deskripsi singkat letusan Gunung Merapi yang tercatat pada tahun 1780 hingga tahun 2000. Letusan Gunung Merapi umumnya relatif besar dibanding letusan pada abad ke-20, dengan masa istirahatnya lebih panjang. Gambar 2 merupakan histogram yang menunjukkan runtun waktu dari waktu istirahat (repose period) Gunung Kelud mulai tahun 1780 hingga 2000. Gambar 3 merupakan histogram yang mendeskripsikan cacah kejadian erupsi sebagai fungsi waktu istirahat yang dikelompokkan dalam kurun waktu 5 tahunan. Variasi waktu istirahat erupsi ini pada umumnya proporsional dengan tingkat energi pada erupsi yang mengikutinya. Jika waktu istirahat antar erupsi pendek, maka biasanya energi pada erupsi yang 453

mengikutinya juga kecil, sebaliknya apabila waktu istirahatnya panjang, maka energi dari erupsi yang mengikutinya juga besar. Gambar 1. Erupsi Gunung Merapi yang tercatat pada tahun 1780 hingga tahun 2000 beserta index letusan dan masa istirahat. Gambar 2.Histogram yang menunjukkan runtun waktu dari waktu istirahat (repose period) Gunung Kelud mulai tahun 1780 hingga 2000. 454

Gambar 3. Histogram yang menunjukkan cacah kejadian erupsi sebagai fungsi waktu istirahat yang dikelompokkan dalam kurun waktu 4 tahunan HASIL PERHITUNGAN DISTRIBUSI EKSPONENSIAL WICKMANN Gambar 4. Grafik Plot Data Distribusi eksponensial (Wickmann, 1965) erupsi Gunung Merapi dari tahun 1780 sampai dengan tahun 2000. Dari hasil plot data didapat No sebesar 91,89 dan λ sebesar 0,2316 dengan koefisien korelasi R2 = 0,9908. Sesuai dengan fungsi distribusi eksponensial Wickmann pada persamaan 1, dilakukan plot data Cacah Erupsi (N) terhadap Waktu Istirahat (t). Hasil plot data ditampilkan pada Gambar 4. Dari hasil plot data didapat No sebesar 91,89 dan λ sebesar 0,2316 dengan koefisien korelasi R2 = 0,9908 yang mengartikan data mempunyai confidence level mendekati 99% (Bevington, 1969). Dari hasil ini didapatkan pula nilai menengah T ( mean value) yang merupakan waktu istirahat erupsi rerata. Karena didapat λ sebesar 0,2316 maka sesuai dengan persamaan 2, T untuk Gunung Merapi adalah 4,3177 tahun. Dalam hal ini, tidak berarti pada setiap 4,3177 tahun selalu terjadi erupsi pada Gunung Merapi. Sehingga tidak dapat dikatakan bahwa T merupakan periode ulang. Sehingga, dapat disimpulkan gejala kejadian erupsi Gunung Merapi yang mempunyai distribusi statistik eksponensial ini bersifat random. Hal ini didukung dengan teori dimana distribusi statistik eksponensial Poissonian pada dasarnya adalah gejala yang bersifat acak (random). Sehingga runtun waktu erupsi gunungapi memiliki Fungsi Densitas Kebolehjadian. Dari persamaan 3 dan persamaan 4 dapat ditentukan Fungsi Densitas Kebolehjadian Gunung Merapi tidak terjadinya erupsi (PDF Tidak Erupsi) dan Fungsi Densitas Kebolehjadian Gunung Merapi Erupsi (PDF Erupsi). Dimana hasilnya digambarkan pada Gambar 5 dan Gambar 6. 455

Gambar 5. Distribusi PDF terjadinya erupsi Gunung Merapi yang mengikuti distribusi statistik Poissonian (Wickmann, 1965) Gambar 6. Distribusi PDF tidak terjadinya erupsi Gunung Merapi yang mengikuti distribusi statistik Poissonian (Wickmann, 1965) Gambar 5 melukiskan PDF terjadinya erupsi Gunung Merapi dengan λ = 0,2316/tahun. Tercatat erupsi terakhir Gunung Merapi terjadi pada November 2011. Sehingga, pada saat ini Gunung Merapi memiliki t = 2016-2011 = 5 tahun sehingga Kebolehjadian Gunung Merapi erupsi sebesar : 1-0.2316*5*exp(-0.2316*5) = 1-0.395976664= 0.6385886= 63,8% Sehingga dari angka kebolehjadian terjadinya erupsi Gunung Merapi yang saat ini sebesar 63,8%, maka saat ini ada risiko yang harus ditanggung dan tidak boleh diabaikan. Sehingga sebaiknya ada tindakan mitigasi yang dapat meminimumkan dampak buruk yang dapat terjadi akibat erupsi dari Gunung Merapi ini. KESIMPULAN Metoda analisa statistik erupsi Gunung Merapi merupakan salah satu metoda yang dapat dipakai untuk menentukan kebolehjadian Gunung Merapi erupsi di masa yang akan datang. Runtun waktu erupsi Gunung Merapi pada tahun 1780 hingga tahun 2000 memiliki karakteristik stokastik acak dengan cacah erupsi sebagai fungsi waktu istirahat erupsi dengan distribusi statistik eksponensial dan fungsi Probability Density Function Poissonian. Dari hasil perhitungan didapat koefisien atenuasi cacah erupsi fungsi waktu istirahat Gunung Merapi sebesar sama 0,2316 per tahun dan nilai menengah waktu istirahat erupsi sebesar 4,3177 tahun. Selain itu, pada tahun 2016 Gunung Merapi memiliki kebolehjadian akan mengalami erupsi sebesar 63,8%. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Makalah ini didanai oleh Riset Inovasi Institut Teknologi Bandung 2015. REFERENSI 1. 2. 3. 4. Bevington, P.R, Data reduction and error analysis for the physical sciences. McGraw-Hill Book Company, New York (1969) Kirbani Sri Brotopuspito dan Wahyudi, Eruption of The Kelud Volcano and b-value of Its Surrounding Earthquakes, Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta (2007) Badan Geologi, 2015, Badan Geologi Kementrian ESDM, G.Merapi, http://www.vsi.esdm.go.id. Connor, Charles B, Sparks, R. S. J, Mason, R. M, Bonadonna, Costanza and Young, S.R, 2003, Exploring links between physical and probabilistic models of volcanic eruptions: The Soufrie`re Hills Volcano, Montserrat, GEOPHYSICAL RESEARCH LETTERS, VOL. 30, NO. 13: 1701. 456

5. 6. 7. 8. 9. Bebbington,M. S and Lai, C. D, 1996b, On Nonhomogenous Models for Volcanic Eruptions, Math. Geol. 28/5, p.585-600. Ho, C. H, 1991, Time Trend Analysis of Basaltic Volcanism for The Yukka Mountain Site, Journal of Volcanology and Geothermal Research Vol. 46, p. 61-72. Watt, S. F. L, Mather, T. A., Pyle, D. M, 2007, Vulcanian Explosion Cycles: Patterns and Predictability, Geology 35/9, p. 839-842, doi: 10.1130/G23562A.1. Wickman, F. E, 1966, Repose Period Patterns of Volcanoes,I: Volcanic Eruption Regarded as Random Phenomena, Arkiv For Mineralogi och Geologi 4, p. 291-301. Wickman, F. E, 1966, Repose Period Patterns of Volcanoes,II:Eruption Histories of Some East Indian Volcanoes, Ibid 4, p. 303-317. 457