PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
PENDAHULUAN. yang cukup besar dan memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Seiring dengan

I PENDAHULUAN. dijadikan sebagai simbol status sosial pada kebudayaan tertentu. Seiring

I PENDAHULUAN. Kuda merupakan mamalia ungulata yang berukuran paling besar di

PENDAHULUAN. atau kuda Sandelwood Pony, hasil perkawinan silang kuda poni lokal (grading

PENDAHULUAN. untuk alat transportasi, yaitu delman. Delman merupakan alat transportasi yang

PENDAHULUAN. alat transportasi aktivitas sehari-hari, bahkan sejauh ini kuda dijadikan hewan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang terregistrasi

PENDAHULUAN. potensi besar dalam memenuhi kebutuhan protein hewani bagi manusia, dan

KAJIAN KEPUSTAKAAN. kuda Pony dengan tinggi pundak kurang dari 140 cm. dianggap sebagai keturunan kuda-kuda Mongol (Przewalski) dan kuda Arab.

II. TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum Kabupaten Kuantan Singingi. Pembentukan Kabupaten Kuantan Singingi didasari dengan Undang-undang

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kambing merupakan hewan-hewan pertama yang didomestikasi. oleh manusia. Diperkirakan pada mulanya pemburu-pemburu membawa

PEMBAHASAN UMUM. Keadaan Umum Lokasi Penelitian

PENDAHULUAN. prolifik (dapat beranak lebih dari satu ekor dalam satu siklus kelahiran) dan

TINJAUAN PUSTAKA Kuda

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing merupakan mamalia yang termasuk dalam ordo artiodactyla, sub ordo

I. PENDAHULUAN. Lampung (2009), potensi wilayah Provinsi Lampung mampu menampung 1,38

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Kuda (Equus caballus) yang saat ini terdapat di seluruh dunia berasal dari

KAJIAN KEPUSTAKAAN. berkuku genap dan termasuk sub-famili Caprinae dari famili Bovidae. Semua

BAB I PENDAHULUAN. kerbau. Terdapat dua jenis kerbau yaitu kerbau liar atau African Buffalo (Syncerus)

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. berumur 4 7 tahun sebanyak 33 ekor dari populasi yang mengikuti perlombaan

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 359/Kpts/PK.040/6/2015 TENTANG PENETAPAN RUMPUN KAMBING SABURAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1055/Kpts/SR.120/10/2014 TENTANG

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. berumur 4-7 tahun sebanyak 33 ekor yang mengikuti perlombaan pacuan kuda

HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian identifikasi sifat kualitatif dan kuantitatif pada kuda Sumba

TINJAUAN PUSTAKA. yang berasal dari pulau Bali. Asal usul sapi Bali ini adalah banteng ( Bos

PENDAHULUAN. Domba merupakan ternak ruminansia kecil dan termasuk komoditas. Kelompok Ternak Palasidin sebagai Villa Breeding Center yang

Sifat Kualitatif Dan Kuantitatif Kuda Sumba Jantan, Sumba Timur...Fajar R

I. TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum Kabupaten Kuantan Singingi. Pembentukan kabupaten Kuantan Singingi didasari dengan Undang-undang

II. TINJAUAN PUSTAKA. dibedakan dari bangsa lain meskipun masih dalam spesies. bangsa sapi memiliki keunggulan dan kekurangan yang kadang-kadang dapat

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kabupaten Sumba Timur terletak di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur

TINJAUAN PUSTAKA. menurut Pane (1991) meliputi bobot badan kg, panjang badan

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Menurut Blakely dan Bade (1992), bangsa sapi perah mempunyai

Evaluasi Konformasi Tubuh Menggunakan Rumus Thomas Pada Kuda Lokal Sumba. Evaluation Of Body Conformation Using Thomas Formula In Local Sumba Horse

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Ettawa (asal india) dengan Kambing Kacang yang telah terjadi beberapa

II. TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN. meningkat dari tahun ke tahun diperlihatkan dengan data Badan Pusat Statistik. menjadi ekor domba pada tahun 2010.

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 2841/Kpts/LB.430/8/2012 TENTANG PENETAPAN RUMPUN SAPI PERANAKAN ONGOLE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1. Kegunaan, Jenis, Tinggi, Bobot Badan dan Habitat Asli Kuda Tarik

Tugas Mata Kuliah Agribisnis Ternak Potong (Peralatan Untuk Perawatan Ternak Potong, Pemotongan Kuku, Memilih Sapi Bibit Peranakan Ongole) Oleh

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Keragaman wilayah di muka bumi menyebabkan begitu banyak rumpun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. peternakan adalah ternak kambing. Kambing merupakan ternak serba guna yang

KAJIAN PUSTAKA. (Ovis amon) yang berasal dari Asia Tenggara, serta Urial (Ovis vignei) yang

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Sapi Perah berada di Kecamatan

LAPORAN SEMENTARA ILMU PRODUKSI TERNAK POTONG PENGENALAN BANGSA-BANGSA TERNAK

Study Characteristics and Body Size between Goats Males Boerawa G1 and G2 Body in Adulthoodin the Village Distric Campang Gisting Tanggamus

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 2389/Kpts/LB.430/8/2012 TENTANG PENETAPAN RUMPUN DOMBA SAPUDI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boerawa merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Boer

TINJAUAN PUSTAKA Kurban Ketentuan Hewan Kurban

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Domba Ekor Gemuk yang secara turun-temurun dikembangkan masyarakat di

TINJAUAN KEPUSTAKAAN. merupakan ruminansia yang berasal dari Asia dan pertama kali di domestikasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ketenangan dan akan menurunkan produksinya. Sapi Friesien Holstein pertama kali

I PENDAHULUAN. Salah satu sumber daya genetik asli Indonesia adalah domba Garut, domba

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Sapi Bali (Bos sondaicus) merupakan salah satu bangsa sapi lokal asli

PENDAHULUAN. Latar Belakang. beragam di dunia. Kuda (Equus caballus) adalah salah satu bentuk dari

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Bangsa domba secara umum diklasifikasikan berdasarkan hal-hal tertentu,

Bibit sapi potong Bagian 1: Brahman Indonesia

SNI 7325:2008. Standar Nasional Indonesia. Bibit kambing peranakan Ettawa (PE)

PENDAHULUAN. mendorong para peternak untuk menghasilkan ternak yang berkualitas. Ternak

PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Tabel.1 Data Populasi Kerbau Nasional dan Provinsi Jawa Barat Sumber : Direktorat Jendral Peternakan 2008

PERFORMANS DAN KARAKTERISTIK AYAM NUNUKAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. mengevaluasi performa dan produktivitas ternak. Ukuran-ukuran tubuh

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan untuk membajak sawah oleh petani ataupun digunakan sebagai

METODE. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Unit Pendidikan Penelitian Peternakan Jonggol (UP3J) mulai bulan Juli hingga November 2009.

BIRTH WEIGHT, WEANING WEIGHT AND LINEAR BODY MEASUREMENT OF ONGOLE CROSSED CATTLE AT TWO GROUP PARITIES ABSTRACT

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 07/Permentan/OT.140/1/2008 TANGGAL : 30 Januari 2008

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing merupakan mamalia yang termasuk Ordo Artiodactyla, Subordo

I. PENDAHULUAN. potensi alam didalamnya sejak dahulu kala. Beragam sumber daya genetik hewan

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. lokal adalah sapi potong yang asalnya dari luar Indonesia tetapi sudah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi termasuk dalam genus Bos yaitu dalam Bos taurus dan Bos indicus.

HASIL DAN PEMBAHASAN. olahraga polo. Tinggi kuda polo berkisar antara 142 sampai dengan 159 cm

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PRODUKSI DOMBA DAN KAMBING IDENTIFIKASI UMUR DAN PERFORMANS TUBUH (DOMBA)

HASIL DAN PEMBAHASAN. dan pengembangan perbibitan ternak domba di Jawa Barat. Eksistensi UPTD

BAB VIII PEMBIBITAN TERNAK RIMINANSIA

BAB III MATERI DAN METODE sampai 5 Januari Penelitian ini dilakukan dengan metode survei, meliputi

Karena hanya mempelajari gerak saja dan pergerakannya hanya dalam satu koordinat (sumbu x saja atau sumbu y saja), maka disebut sebagai gerak

Bibit sapi potong - Bagian 3 : Aceh

I PENDAHULUAN. sebagai alternatif sumber protein hewanidi masyarakat baik sebagai penghasil telur

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Kacang merupakan kambing asli Indonesia dengan populasi yang

KAJIAN KEPUSTAKAAN. terdiri atas dua sub spesies yaitu kerbau liar dan kerbau domestik. Kerbau

I. PENDAHULUAN. Provinsi Lampung merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi untuk

TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal Domba Ekor Tipis

KARAKTERISASI SIFAT-SIFAT KUANTITATIF KAMBING KOSTA JANTAN DI KABUPATEN PANDEGLANG PROVINSI BANTEN

PEMOTONGAN TERNAK (KAMBING)

PENDAHULUAN. terutama telurnya. Telur puyuh sangat disukai karena selain bentuknya yang

HASIL DAN PEMBAHASAN. koordinat 107º31-107º54 Bujur Timur dan 6º11-6º49 Lintang Selatan.

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi Sapi. Sapi Bali

PENDAHULUAN. sapi Jebres, sapi pesisir, sapi peranakan ongole, dan sapi Pasundan.

PENDAHULUAN. terbang tinggi, ukuran relatif kecil dan berkaki pendek. Puyuh merupakan burung liar

IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK DAN UKURAN TUBUH SAPI PERAH FRIES HOLLAND LAKTASI DI KAWASAN USAHA PETERNAKAN BOGOR

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerbau lokal betina

HASIL DAN PEMBAHASAN. Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 360/Kpts/PK.040/6/2015 TENTANG PELEPASAN GALUR ITIK ALABIMASTER-1 AGRINAK

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Coturnix coturnix japonica yang mendapat perhatian dari para ahli. Menurut

Keadaan Faali Kuda Sumba... Yofa Yuandira Saefullah

Latihan 1: untuk menyiapkan kondisi secara fisiologis maupun psikologis agar dapat melaksanakan latihan gerakan senam dengan baik dan benar

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDUGAAN REPITABILITAS SIFAT KECEPATAN DAN KEMAMPUAN MEMPERTAHANKAN KECEPATAN PADA KUDA PACU SULAWESI UTARA

Transkripsi:

1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kuda Sumba atau lebih dikenal Sandal memiliki keistimewaan memiliki daya tahan tinggi terhadap iklim tropis dan juga memiliki kecepatan lari yang baik dengan warna bulu yang bervariasi yaitu hitam, putih, merah, jragem (cokelat-salak/bay), dan chesnut (cokelat-salak lebih muda). Sifat kuantitatif yang dimiliki kuda Sumba diantaranya Berat Badan, Panjang Badan, Tinggi Pundak, Lingkar Dada dan Lingkar Pinggang. Sifat kualitatif kuda Sumba diantaranya warna bulu, warna ekor, bentuk tubuh, temperamen, daya adaptasi. Salah satu penilaian untuk kuda pacu Sumba (Sandelwood) yang baik adalah dengan melihat kecepatan kuda pada jarak lari yang ditempuh. Kecepatan berlari seekor kuda dipengaruhi oleh penampilan fisik yang diturunkan secara genetik dan latihan yang dilakukan secara intensif. Penilaian terhadap seekor kuda relative sulit dibandingkan dengan penilaian hewan ternak selain kuda. Dari penilaian bentuk luar atau konformasi tubuh dapat menjadi dasar seleksi untuk mendapatkan kuda pacu yang sesuai dengan keinginan. Penilaian fisik merupakan penilaian seleksi yang mudah karena kita dapat menilai suatu hewan dan dipertimbangkan secara kasat mata. Penampilan fisik sangat berpengaruh lansung terhadap stamina kuda, kecepatan lari kuda dan harga jual kuda. Stamina kuda dapat di pengaruhi dari beberapa faktor seperti tinggi pundak, panjang badan, lingkar dada, dan latihan sedangkan untuk factor yang mempengaruhi kecepatan lari kuda yaitu kemampuan otot-otot badan yang di kombinasikan dengan langkah langkah kuda. Untuk mengetahui kecepatan lari kuda kita dapat mengukur dengan perhitungan dari tinggi pundak dan panjang badan karena dua factor ini sangat berpengaruh terhadap langkah kuda itu sendiri. Pada langkah kuda

2 trot dan canter tinggi pundak dan panjang badan sangat berpengaruh karena dua langkah ini mempunyai pergerakan 2 dan 3 ketukan yang akan berpenaruh terhadap kecepatan dikarenakan secara umum ketukan pada langkah dihasilkan dari tinggi pundak yang ideal dan panjang badan optimal. Semakin panjang badan dan semakin tinggi pundak kuda semakin cepat kuda itu berlari dikarenakan langkah yang dihasilkan akan panjang yang menyusuaikan dengan jarak langkah yang dihasilkan seusuai panjang badan dan tinggi kuda tersebut diakibatkan banyak nya ruang untuk belari antar kaki kuda sedangkan bila kuda tersebut tidak memiliki panjang badan yang panjang dan tinggi pundak yang tinggi lari kuda ini tidak akan secepat dengan kuda yang memiliki panjang badan yang panjang dan tinggi pundak yang ideal karena untuk ruang langkah antar kaki kuda terbatas dan jarak langkah pun akan pendek. Akan tetapi ada beberapa faktor selain dari panjang badan dan tinggi pundak yaitu keterampilan joki dan banyak nya latihan berlari untuk kuda. Terutama pada joki joki kuda Sumba (Sandelwood) yang memiliki keterampilan menunggang kuda dari kecil. Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan diatas maka penulis tertarik untuk mengangkat Hubungan Tinggi Pundak dan Panjang Bandan Dengan Kecepatan Lari Kuda Sumba sebagai judul untuk dijadikan usulan penelitian. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian tersebut maka dapat ditarik identifikasi masalah yaitu Bagaimana hubungan tinggi pundak dan panjang badan dengan kecepatan lari kuda Sumba di pacuan kuda tradisional Lapangan Rihi Eti, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 1.3 Maksud dan Tujuan

3 Adapun maksud dan tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah Mengetahui hubungan tinggi pundak dan panjang badan dengan kecepatan lari kuda Sumba di pacuan kuda tradisional Lapangan Rihi Eti, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 1.4 Kegunaan penelitian Kegunaan dari penelitian Hubungan Tinggi Pundak dan Panjang Bandan Dengan Kecepatan Lari Kuda Sumba yaitu memberikan informasi terutama kepada peneliti sendiri dan para peneliti lain yang akan mengembangkan dan mengkaji aspek lain dari kuda Sumba (Sandelwood). Adapun kegunaan dari penelitian ini untuk menlestarikan budaya pacuan tradisional dan untuk pedoman program seleksi dalam memilih kuda Sumba (Sandelwood) yang memiliki kualitas dan kuantitas baik dalam rangka perbaikan mutu genetik kuda pacu Indonesia. 1.5 Kerangka pemikiran Kuda Sumba (Sandelwood) adalah mesomorphic, dengan tinggi 12-13 hands (1.23-1.33m) terdapat pada daerah beriklim tropis. Kuda ini memiliki kepala proporsional, berbentuk bukan persegi dengan profil lurus, memiliki jambul yang penuh pada di atas dahinya, dan memiliki telinga kecil dengan mata ekspresif. Pada bagian belakang kuda ini memiliki badan yang panjang dan lurus sedangkan pada kaki yang memiliki struktur yang keras (SimondanSchuster s, 1988). Kuda lokal yang paling banyak disilangkan dengan kuda Thouroughbred adalah kuda Sumba (Sandelwood) yang memiliki daya tahan terhadap iklim tropis, kaki yang cukup kuat, intelegensia yang tinggi, dan kecepatan lari yang baik. Warna rambut kuda Sumba (Sandelwood) sangatlah bervariasi yaitu hitam, putih, merah, dragem, hitam maid

4 (brownish black), bopong (krem), abu-abu (dawuk), atau juga belang (plongko) (Soehardjono, 1990). Saat ini populasi kuda Sumba (Sandelwood) setiap tahunnya semakin menurun, hal itu dibuktikan dengan evaluasi data populasi kuda Sumba setiap tahunnya yang dilakukan oleh dinas peternakan kabupaten Sumba Timur. Populasi ternak kuda ditahun 2012 sebesar 31.486 ekor menurun menjadi 27.831 ekor ditahun 2013 dari data populasi yang didapat kuda Sumba (Sandelwood) di NTT terjadi penurunan sebesar 11,6% selang waktu satu tahun. Kuda Sumba (Sandelwood) merupakan sebagai tanda kekayaan dari seorang bangsawan disumba. Oleh masyarakat setempat kuda ini sering dijadikan sebagai mahar, ternak kerja, Alat transportasi dan kuda pacu untuk pacuan kuda tradisional. Kuda ini memiliki kemiripan sangat dekat dengan kuda kuda yang ada di Cina dan Mongolia. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kemungkinan asal-usul yang sama (Simon dan Schuster s, 1988) (Soehardjono, 1990). Kecepatan berlari kuda dapat diukur dengan cara membagi jarak tempuh dengan waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak tersebut. Dengan jarak yang gunakan berupa lintasan pacuan kuda dengan berbagai kategori panjang lintasan mulai dari jarak 600 m sampai dengan 1800 m. Faktor pembatas dari performa berlari kuda tergantung dari panjang lintasan yang ditempuh kuda (Bowling dan Ruvinsky, 2000). Performa dapat digolongkan kedalam dua kategori yaitu sifat kualitatif dan sifat kuantitatif. Sifat kualitatif yaitu suatu sifat yang dapat dikelompokan dengan jelas, tidak dapat diukur, dikendalikan oleh satu pasang gena, dan tidak atau sedikit sekali dipengaruhi oleh lingkungan sedangkan untuk sifat kuantitatif adalah sifat yang dikendalikan oleh banyak pasang gen (polygen), dan dalam menifestasinya sifat ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang berperan besar. Faktor indivudu (performace) kuda pacu sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik diturunkan oleh tetua pada generasi selanjutnya dan bersifat kekal

5 terkecuali terjadi mutasi gen penyusunnya contoh dari faktor ini adalah darah persilangan grading-up kuda lokal dengan kuda impor. Faktor lingkungan tidak diturunkan kepada keturunannya dan bersifat temporer (tidak tetap), bergantung kepada lingkungan individu tersebut berada contoh dari faktor ini adalah latihan, panjang lintasan (Hardjosubroto, 1994) (Warwick, dkk, 1995). Kecepatan berlari seekor kuda dipengaruhi oleh penampilan fisik kuda itu sendiri dan latihan. Penampilan fisik kuda yang meliputi bobot badan, panjang badan, tinggi pundak, lingkar dada serta lebar dada. Penampilan tersebut berhubungan dengan panjang melangkah dan frekuensi melangkah serta didukung oleh fungsi kerja otot yang terlatih akan menghasilkan ketangguhan kuda dalam berlari (Hickman, 1987). Kecepatan belari seekor kuda di adapun pengaruhi dari kinematika kuda yang menggambarkan pergerakan tungkai dan sendi termasuk dengan latihan kuda itu sendiri ( Johnston et al. 1995). Kecepatan lari kuda rata rata 4 m/s untuk kuda normal sedangkan untuk kecepatan lari kuda trot dan center kuda dapat berlari dengan kecepatan (6-9 m/s) dikarenakan pergerakan tungkai dan sendi sendi berkerja optimal pada langkah ini ruang gerak kuda sangat berpengaruhi kinerja kuda (Back et al. 1995c) ( Van Weeren et al. 1993). Kecepatan suatu kuda banyak parameter yang mempengaruhi salah satu parameter adalah kinematik yang berubah lurus dengan kecepatan, tetapi tidak termasuk analisis statistik rinci dari parameter dikarenkan yang berubah secara tidak signifikan. Seperti hal nya kaki manusia semakin panjang semaikin mempengaruhi kecepatan (Nilsson et al. 1985). Hal ini dikarenakan panjang langkah ( jarak yang ditempuh oleh tubuh saat kaki di tanah ) akan memanjang yang akan meningkatkan fungsi dari kecepatan perpindahan suatu benda (Hoyt et al. 2000). Salah satu penampilan fisik yang diyakini berpengaruh terhadap kecepatan berlari seekor kuda adalah tinggi pundak dan panjang badan. Tinggi pundak dan

6 panjang badan akan berpengatuh langsung kepada langkah langkah kuda seperti langkah trot, pace dan canter. Pada langkah trot merupakan pergerakan 2 ketukan, langkah trot secara umum dipahami sebagai langkah setengah berlari. Satu fase trot dimulai dari kaki belakang kuda. Pergerakannya adalah kaki kanan belakang, kaki kiri depan kaki kiri belakang, kaki kanan depan. Pernyataan di atas di perkuat oleh Simon and Schuster s, 1988 pada trot merupakan pergantian langkah 2 ketukan dengan kuda bergerak secara sinkron dengan sepasang kaki yang bergerak secara diagonal yang diawalin dengan kaki kanan depan, kaki kiri belakang, kaki kiri depan dan kaki kanan belakang secara bergantian. Langkah canter adalah pergerakan cepat dengan 3 ketukan yaitu pergerakan yang di awali oleh salah satu kaki belakang lalu kaki belakang lain nya secara bersamaan melakukan hentakan yang di ikuti oleh kaki depan diagonal yang berlawanan dan terakhir kaki depan lainnya untuk langkah canter tidak seperti langkah lain nya karena langka ini masih kaku (Simon dan Schuster s, 1988). Pada langkah pace hampir sama dengan langkah trot yaitu dua ketukan akan tetapi langkah ini di awali dari sisi tubuh yaitu kaki kuda di sisi kanan akan berlangkah secara bersamaan lalu bergantian dengan sisi sebelah kiri (Simon dan Schuster s, 1988). 1.6 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada saat acara pacuan kuda di lapangan Rihi Eti, Kota Waingapu, Kecamatan Prailu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Lama penelitian adalah dua minggu, yaitu terhitung dari 20 Oktober sampai dengan 7 November 2015.