Bibit sapi potong - Bagian 3 : Aceh

dokumen-dokumen yang mirip
Bibit sapi potong - Bagian 2: Madura

Bibit sapi potong Bagian 1: Brahman Indonesia

Bibit sapi potong Bagian 6: Pesisir

Bibit kerbau Bagian 3 : Sumbawa

Bibit sapi potong Bagian 7 : Sumba Ongole

Bibit sapi potong - Bagian 4 : Bali

Bibit sapi Bali SNI 7355:2008

Bibit sapi perah holstein indonesia

Bibit kerbau - Bagian 1: Lumpur

Bibit babi Bagian 4 : Hampshire

Bibit sapi peranakan Ongole (PO)

Tugas Mata Kuliah Agribisnis Ternak Potong (Peralatan Untuk Perawatan Ternak Potong, Pemotongan Kuku, Memilih Sapi Bibit Peranakan Ongole) Oleh

Bibit induk (parent stock) itik Alabio muda

Bibit domba Garut SNI 7532:2009

LAPORAN SEMENTARA ILMU PRODUKSI TERNAK POTONG PENGENALAN BANGSA-BANGSA TERNAK

Bibit induk (parent stock) umur sehari/kuri (day old chick) Bagian 1: Ayam ras tipe pedaging

Bibit niaga (final stock) umur sehari/kuri (day old chick) Bagian 2: Ayam ras tipe petelur

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 62 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENGELUARAN BIBIT SAPI BALI SENTRA TERNAK SOBANGAN

Bibit induk (parent stock) itik Mojosari muda

SNI 7325:2008. Standar Nasional Indonesia. Bibit kambing peranakan Ettawa (PE)

Bibit induk (parent stock) itik Alabio meri

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 07/Permentan/OT.140/1/2008 TANGGAL : 30 Januari 2008

Bibit induk (parent stock) itik Mojosari meri

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 359/Kpts/PK.040/6/2015 TENTANG PENETAPAN RUMPUN KAMBING SABURAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 2841/Kpts/LB.430/8/2012 TENTANG PENETAPAN RUMPUN SAPI PERANAKAN ONGOLE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Kulit masohi SNI 7941:2013

Ikan lele dumbo (Clarias sp.) Bagian 2 : Benih

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 2389/Kpts/LB.430/8/2012 TENTANG PENETAPAN RUMPUN DOMBA SAPUDI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN,

Bibit rumput laut kotoni (Eucheuma cottonii )

Semen beku Bagian 3 : Kambing dan domba

Embrio ternak - Bagian 1: Sapi

TINJAUAN PUSTAKA. yang berasal dari pulau Bali. Asal usul sapi Bali ini adalah banteng ( Bos

PERSYARATAN MUTU BENIH DAN/ATAU BIBIT TERNAK HASIL PRODUKSI DI DALAM NEGERI. No Nomor SNI Jenis Benih dan/atau Bibit Ternak

Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis, Valenciences) - Bagian 1: Induk

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerbau lokal betina

LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 07/Permentan/OT.140/1/2008 TANGGAL : 30 Januari 2008

Induk ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok

BAB VIII PEMBIBITAN TERNAK RIMINANSIA

Spesifikasi blok pemandu pada jalur pejalan kaki

Kayu bundar jenis jati Bagian 3: Pengukuran dan tabel isi

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1055/Kpts/SR.120/10/2014 TENTANG

Kayu gergajian Bagian 3: Pemeriksaan

Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis, Valenciences) - Bagian 2: Benih

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang terregistrasi

Kayu bundar Bagian 2: Pengukuran dan tabel isi

Semen cair babi SNI 8034: Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di dan tidak untuk di

Kayu lapis indah jenis jati Bagian 1: Klasifikasi, persyaratan dan penandaan

Ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch 1790) Bagian 1: Induk

Ikan bawal bintang (Trachinotus blochii, Lacepede) Bagian 3: Benih

Gaharu SNI 7631:2011. Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan

Cara uji daktilitas aspal

KERAGAMAN FENOTIPE SAPI ACEH BETINA PADA BPTU-HPT INDRAPURI. Phenotype Diversity of Female Aceh Cattle in BPTU- HPT Indrapuri

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Keragaman wilayah di muka bumi menyebabkan begitu banyak rumpun

Susu segar-bagian 1: Sapi

BUPATI TEMANGGUNG PERATURAN BUPATI TEMANGUNG NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. merupakan kambing tipe dwiguna yaitu sebagai penghasil daging dan susu (tipe

Bibit niaga (final stock) itik Alabio dara

Bibit niaga (final stock) itik Mojosari meri umur sehari

SNI 7827:2012. Standar Nasional Indonesia. Papan nama sungai. Badan Standardisasi Nasional

Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 1: Induk kelas induk pokok (Parent stock)

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

EKTERIOR, PENENTUAN UMUR, PENANDAAN, PENDUGAAN BOBOT BADAN DAN EVALUASI TERNAK POTONG. Oleh: Suhardi, S.Pt.,MP

Atmosfer standar untuk pengondisian dan/atau pengujian - Spesifikasi

PEMOTONGAN TERNAK (KAMBING)

Ikan bawal bintang (Trachinotus blochii, Lacepede) Bagian 1: Induk

Ikan lele dumbo (Clarias sp.) Bagian 3 : Produksi induk

TINJAUAN PUSTAKA. menurut Pane (1991) meliputi bobot badan kg, panjang badan

Semen portland komposit

Bambu lamina penggunaan umum

Benih ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar

Rambu evakuasi tsunami

Bibit niaga (final stock) itik Alabio meri umur sehari

II. TINJAUAN PUSTAKA. dibedakan dari bangsa lain meskipun masih dalam spesies. bangsa sapi memiliki keunggulan dan kekurangan yang kadang-kadang dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum Kabupaten Kuantan Singingi. Pembentukan Kabupaten Kuantan Singingi didasari dengan Undang-undang

BAB III MATERI DAN METODE sampai 5 Januari Penelitian ini dilakukan dengan metode survei, meliputi

Bibit niaga (final stock) itik Mojosari dara

Pengemasan benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada sarana angkutan darat

Pengemasan benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada sarana angkutan udara

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kambing merupakan hewan-hewan pertama yang didomestikasi. oleh manusia. Diperkirakan pada mulanya pemburu-pemburu membawa

Biji kakao AMANDEMEN 1

PEMILIHAN DAN PENILAIAN TERNAK SAPI POTONG CALON BIBIT Lambe Todingan*)

Kawat baja tanpa lapisan untuk konstruksi beton pratekan (PC wire / KBjP )

I PENDAHULUAN. Salah satu sumber daya genetik asli Indonesia adalah domba Garut, domba

Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 3: Benih kelas benih sebar

PENDAHULUAN. meningkat dari tahun ke tahun diperlihatkan dengan data Badan Pusat Statistik. menjadi ekor domba pada tahun 2010.

PENDAHULUAN. potensi besar dalam memenuhi kebutuhan protein hewani bagi manusia, dan

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu

Identifikasi Fenotipik Sapi Hitam- Peranakan Angus di Kabupaten Sragen

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi Sapi. Sapi Bali

TINJAUAN PUSTAKA. Populasi sapi bali di Kecamatan Benai sekitar ekor (Unit Pelaksana

PEDOMAN PELAKSANAAN OPTIMALISASI FUNGSI UNIT PEMBIBITAN DAERAH TAHUN 2015

ZULISTIA Air dan air limbah Bagian 80: Cara uji warna secara spektrofotometri SNI :2011

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Kacang, kambing Peranakan Etawa (PE) dan kambing Kejobong

Alat pemadam kebakaran hutan-pompa punggung (backpack pump)- Unjuk kerja

Tata cara penentuan kadar air batuan dan tanah di tempat dengan metode penduga neutron

I. TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum Kabupaten Kuantan Singingi. Pembentukan kabupaten Kuantan Singingi didasari dengan Undang-undang

Nomor : 11003/PL.200/F2.F/05/2015 Tanggal : 11 Mei 2014

Produksi bibit rumput laut kotoni (Eucheuma cottonii) Bagian 1: Metode lepas dasar

MATERI DAN METODE. Tabel 2. Jumlah Kambing Peranakan Etawah yang Diamati Kondisi Gigi. Jantan Betina Jantan Betina

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PRODUKSI DOMBA DAN KAMBING IDENTIFIKASI UMUR DAN PERFORMANS TUBUH (DOMBA)

Transkripsi:

Standar Nasional Indonesia Bibit sapi potong - Bagian 3 : Aceh ICS 65.020.30 Badan Standardisasi Nasional

BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini dengan cara dan dalam bentuk apapun serta dilarang mendistribusikan dokumen ini baik secara elektronik maupun tercetak tanpa izin tertulis dari BSN BSN Gd. Manggala Wanabakti Blok IV, Lt. 3,4,7,10. Telp. +6221-5747043 Fax. +6221-5747045 Email: dokinfo@bsn.go.id www.bsn.go.id Diterbitkan di Jakarta

Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iii Pendahuluan... iv 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan definisi... 1 3 Persyaratan mutu... 1 4 Cara pengukuran... 9 Bibliografi... 12 Gambar 1 - Contoh warna bibit sapi Aceh jantan... 2 Gambar 2 - Contoh warna kepala... 2 Gambar 3 - Contoh bentuk muka... 3 Gambar 4 - Contoh bentuk tanduk... 3 Gambar 5 - Contoh bentuk telinga... 3 Gambar 6 - Contoh bentuk punuk... 4 Gambar 7 - Contoh bentuk punggung... 4 Gambar 8 - Contoh bentuk pantat... 4 Gambar 9 - Contoh bentuk kaki... 4 Gambar 10 - Contoh bentuk ekor... 5 Gambar 11 - Contoh bentuk skrotum... 5 Gambar 12 - Contoh warna bibit sapi Aceh betina... 5 Gambar 13 - Contoh warna kepala... 6 Gambar 14 - Contoh bentuk muka... 6 Gambar 15 - Contoh bentuk tanduk... 6 Gambar 16 - Contoh bentuk telinga... 7 Gambar 17 - Contoh bentuk punuk... 7 Gambar 18 - Contoh bentuk punggung... 7 Gambar 19 - Contoh bentuk pantat... 7 Gambar 20 - Contoh bentuk kaki... 8 Gambar 21 - Contoh bentuk ambing... 8 Gambar 22 - Contoh bentuk ekor... 8 Gambar 23 - Contoh visualisasi cara pengukuran bibit sapi Aceh... 10 Gambar 24 - Contoh visualisasi cara pengukuran lebar pinggul bibit sapi Aceh... 11 Gambar 25 - Contoh visualisasi cara pengukuran lingkar skrotum sapi Aceh jantan... 11 BSN 2013 i

Tabel 1. Persyaratan kuantitatif bibit sapi Aceh jantan... 9 Tabel 2. Persyaratan kuantitatif bibit sapi Aceh betina... 9 Tabel 3. Penentuan umur berdasarkan gigi seri permanen... 9 BSN 2013 ii

Prakata Standar ini disusun oleh Subpanitia Teknis (SPT) 67-03-S1: Bibit ternak untuk mendukung: 1. Pelestarian sumber daya genetik sapi Aceh 2. Peningkatan mutu genetik sapi Aceh 3. Peningkatan produktivitas sapi Aceh di Indonesia; dan 4. Perlindungan konsumen. Standar ini telah dibahas dalam rapat teknis dan terakhir dalam rapat konsensus di Bogor tanggal 10 Mei 2012 yang dihadiri oleh wakil dari pemerintah, pakar, produsen, konsumen dan instansi terkait lainnya. Standar ini telah melalui proses jajak pendapat pada tanggal 29 Januari 2013 sampai 30 Maret 2013 dengan hasil akhir Rancangan Akhir Standar Nasional Indonesia (RASNI) BSN 2013 iii

Pendahuluan Bibit ternak merupakan salah satu aspek penting dalam proses produksi peternakan, oleh karena itu dibutuhkan ketersediaan bibit yang bermutu. Sapi Aceh telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2907/Kpts/OT.140/6/2011, sebagai salah satu rumpun sapi lokal Indonesia yang mempunyai sebaran asli geografis di provinsi Aceh dan telah dibudidayakan secara turun temurun. Sampai saat ini standar bibit sapi Aceh masih dalam bentuk persyaratan teknis minimal yakni Standar Pertanian Indonesia Peternakan (SPI-NAK/01/43/1988). Dalam rangka memenuhi kebutuhan bibit sapi Aceh, maka ditetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai pedoman penentuan bibit sapi Aceh. BSN 2013 iv

1 Ruang lingkup Bibit sapi potong - Bagian 3 : Aceh Standar ini menetapkan persyaratan mutu dan cara pengukuran permukaan tubuh bibit sapi Aceh. 2 Istilah dan definisi 2.1 sapi Aceh salah satu rumpun sapi potong lokal Indonesia, yang mempunyai bentuk fisik dan komposisi genetik yang relatif seragam serta mempunyai kemampuan adaptasi pada keterbatasan lingkungan 2.2 bibit sapi Aceh sapi Aceh yang mempunyai sifat unggul dan mewariskannya serta memenuhi persyaratan tertentu untuk dikembangbiakkan 2.3 rumpun segolongan ternak dari suatu jenis yang mempunyai ciri-ciri fenotipe yang khas dan ciri tersebut dapat diwariskan pada keturunannya 2.4 sumberdaya genetik (SDG) ternak ternak atau material genetiknya, yang mengandung unit-unit yang berfungsi sebagai pembawa sifat keturunan, baik yang bernilai aktual maupun potensial, yang dapat dipergunakan untuk menciptakan rumpun atau galur baru 3 Persyaratan mutu 3.1 Persyaratan umum 3.1.1 Sehat dan bebas dari penyakit hewan menular strategis yang dinyatakan dengan surat keterangan kesehatan hewan oleh dokter hewan yang ditunjuk oleh pejabat berwenang; 3.1.2 Bibit sapi jantan bebas dari cacat fisik dan cacat alat reproduksi, memiliki libido yang baik, kualitas dan kuantitas semen baik, dan tidak mempunyai silsilah cacat genetik; 3.1.3 Bibit sapi betina bebas dari cacat fisik dan cacat alat reproduksi, ambing normal dan tidak menunjukkan gejala kemajiran serta tidak mempunyai silsilah cacat genetik. BSN 2013 1 dari 12

3.2 Persyaratan khusus 3.2.1 Persyaratan kualitatif 3.2.1.1 Persyaratan kualitatif bibit sapi Aceh jantan 3.2.1.1.1 Warna a) Tubuh : didominasi warna merah bata, dengan bulu merah bata sampai coklat, dan lebih gelap di bagian depan seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 1 b) Kepala : sekeliling mata, telinga bagian dalam dan bibir atas berwarna keputih-putihan seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 2 c) Leher : lebih gelap dari warna tubuh lainnya d) Paha belakang : merah bata e) Pantat : coklat muda f) Kaki : merah bata, bagian dalam lebih terang dari bagian luar g) Ekor : bagian ujung berwarna hitam 3.2.1.1.2 Bentuk Gambar 1 - Contoh warna bibit sapi Aceh jantan Gambar 2 - Contoh warna kepala a) Muka : cenderung cekung seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 3 b) Tanduk : mengarah kesamping dan melengkung ke atas seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 4 c) Telinga : kecil mengarah kesamping tidak terkulai seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 5 d) Punuk : besar mengarah kebelakang seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 6 e) Pantat : penuh, padat dan berisi seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 7 BSN 2013 2 dari 12

f) Kaki : tegak seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 8 g) Ekor : panjang dan rambut pada ujung ekor berwarna hitam seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 9 h) Skrotum : testis simetris seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 10 Gambar 3 - Contoh bentuk muka Gambar 4 - Contoh bentuk tanduk Gambar 5 - Contoh bentuk telinga BSN 2013 3 dari 12

Gambar 6 - Contoh bentuk punuk Gambar 7 - Contoh bentuk punggung Gambar 8 - Contoh bentuk pantat Gambar 9 - Contoh bentuk kaki BSN 2013 4 dari 12

Gambar 10 - Contoh bentuk ekor Gambar 11 - Contoh bentuk skrotum 3.2.1.2 Persyaratan kualitatif bibit sapi Aceh betina 3.2.1.2.1 Warna a) Tubuh : kuning langsat sampai merah bata dan bulu merah bata sampai coklat seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 12 b) Kepala : sekeliling mata, telinga bagian dalam dan bibir atas berwarna keputih-putihan seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 13 c) Leher : merah bata d) Paha belakang : merah bata e) Pantat : coklat muda f) Kaki : coklat, bagian dalam lebih terang dari bagian luar g) Ekor : bagian ujung berwarna hitam Gambar 12 - Contoh warna bibit sapi Aceh betina BSN 2013 5 dari 12

3.2.1.2.2 Bentuk Gambar 13 - Contoh warna kepala a) Muka : cenderung cekung seperti ditunjukkan pada Gambar 14 b) Tanduk : mengarah kesamping dan melengkung ke atas seperti ditunjukkan pada Gambar 15 c) Telinga : kecil mengarah ke samping tidak terkulai seperti ditunjukkan pada Gambar 16 d) Punuk : kecil seperti setengah tempurung kelapa seperti ditunjukkan pada Gambar 17 e) Punggung : cenderung cekung seperti ditunjukkan pada Gambar 18 f) Pantat : penuh, padat dan berisi seperti ditunjukkan pada Gambar 19 g) Kaki : tegak seperti ditunjukkan pada Gambar 20 h) Ambing : normal seperti tempurung kelapa, dengan keempat puting susunya simetris seperti ditunjukkan pada Gambar 21 i) Ekor : panjang dan rambut pada ujung ekor berwarna hitam seperti ditunjukkan pada Gambar 22 Gambar 14 - Contoh bentuk muka Gambar 15 - Contoh bentuk tanduk BSN 2013 6 dari 12

Gambar 16 - Contoh bentuk telinga Gambar 17 - Contoh bentuk punuk Gambar 18 - Contoh bentuk punggung Gambar 19 - Contoh bentuk pantat BSN 2013 7 dari 12

Gambar 20 - Contoh bentuk kaki Gambar 21 - Contoh bentuk ambing Gambar 22 - Contoh bentuk ekor 3.2.2 Persyaratan kuantitatif Persyaratan kuantitatif sapi jantan dapat dilihat pada Tabel 1. BSN 2013 8 dari 12

Tabel 1 - Persyaratan kuantitatif bibit sapi Aceh jantan Persyaratan kuantitatif sapi betina dapat dilihat pada Tabel 2. Umur (bulan) 15 18 4 Cara pengukuran Tabel 2 - Persyaratan kuantitatif bibit sapi Aceh betina Parameter Satuan Kelas I II III Tinggi pundak (min.) cm 90 88 86 Lingkar dada (min.) cm 99 97 94 Panjang badan (min.) cm 87 84 82 Lebar pinggul (min.) cm 32 30 29 Dilakukan pada posisi sapi berdiri sempurna (keempat kaki berbentuk empat persegi panjang) diatas permukaan yang rata. 4.1 Umur Umur (bulan) 24 36 Menentukan umur dapat dilakukan melalui dua cara yaitu berdasarkan catatan kelahiran dan pergantian gigi seri permanen. Cara penentuan umur berdasarkan gigi seri permanen seperti terlihat pada Tabel 3. Tabel 3 - Penentuan umur berdasarkan gigi seri permanen No Istilah Gigi seri permanen Taksiran umur (bulan) 1 Poel 0 0 pasang < 18 2 Poel 1 1 pasang 18 24 3 Poel 2 2 pasang > 24 36 4.2 Lingkar dada Parameter Kelas Satuan I II III Tinggi pundak (min.) cm 112 109 105 Lingkar dada (min.) cm 143 140 135 Panjang badan (min.) cm 116 113 107 Lingkar skrotum (min.) cm 24 Cara mengukur lingkar dada dengan melingkarkan pita ukur pada bagian dada dibelakang punuk seperti ditunjukkan pada Gambar 23. BSN 2013 9 dari 12

4.3 Tinggi pundak Cara mengukur tinggi pundak dengan mengukur jarak tegak lurus dari permukaan yang rata sampai di belakang punuk sejajar dengan kaki depan, menggunakan tongkat ukur seperti ditunjukkan pada Gambar 23. 4.4 Panjang badan Cara mengukur panjang badan dengan mengukur jarak dari bongkol bahu/scapula sampai ujung panggul (processus spinosus) seperti ditunjukkan pada Gambar 23. 4.5 Lebar pinggul Cara mengukur lebar pinggul dengan mengukur jarak antara ujung panggul (processus spinosus) kanan (dexter) dan kiri (sinister), dua jari dari pangkal ekor seperti ditunjukkan pada Gambar 24. 4.6 Lingkar skrotum Cara mengukur lingkar skrotum dengan melingkarkan pita ukur pada bagian terlebar seperti ditunjukkan pada Gambar 25. Keterangan : a. Lingkar dada b. Tinggi pundak c. Panjang badan d. Lingkar skrotum Gambar 23 - Contoh visualisasi cara pengukuran bibit sapi Aceh BSN 2013 10 dari 12

Gambar 24 - Contoh visualisasi cara pengukuran lebar pinggul bibit sapi Aceh Gambar 25 - Contoh visualisasi cara pengukuran lingkar skrotum sapi Aceh jantan BSN 2013 11 dari 12

Bibliografi Abdullah, M.A.N, R.R, Noor, H. Martojo dan DD. Solikin 2008. Karakteristik Genetik sapi Aceh dengan menggunakan Mikrosatelit. J. Indon. Tropic. Animal Agriculture. Baktiar, 2010. Ukuran Tubuh Pedet, Jantan, Betina sapi Aceh, BPTU sapi Aceh, Indrapuri. Bijma, P. dan M. J. M. Rutten. 2002. SELACTION: Software for Optimisation of Breeding Programs. Procceeding of 7 th World Congress on Genetics Applied to Livestock Production. Montpellier, 19-23 Agustus 2002. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2907/Kpts/OT.040/11/2011 tentang penetapan Rumpun Sapi Aceh. Manan, D dan M.A Sulaiman, 2007. Pengamatan pubertas sapi Aceh Dara di UPTD. Inkubator Peternakan Saree Aceh. Peraturan Pemerintah nomor 48 Tahun 2011 tentang Sumber Daya Genetik Hewan dan Perbibitan Ternak. BSN 2013 12 dari 12