BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN

VII. ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN PEDAGANG DI TAMAN MARGASATWA RAGUNAN. 7.1 Pengaruh TMR terhadap Terciptanya Lapangan Usaha

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Lokasi Tempat Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN PEDAGANG IKAN SEGAR AIR TAWAR DI PASAR KIARACONDONG

3 METODOLOGI PENELITIAN

POTRET TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PEMBUDIDAYAIKAN DI CIGANJUR JAKARTA SELATAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

14 KRITERIA MISKIN MENURUT STANDAR BPS ; 1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 per orang.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

6 KINERJA OPERASIONAL PPN PALABUHANRATU

PENGARUH KETIMPANGAN GENDER TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN PADA RUMAH TANGGA BURUH TANI

BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 28 TAHUN 2013 TENTANG INDIKATOR KELUARGA MISKIN DI KABUPATEN BANYUWANGI

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang

V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Teluk Pelabuhanratu Kabupaten Sukabumi, merupakan salah satu daerah

PADUAN WAWANCARA PENELITIAN. : Fenomena Kemiskinan Pada Masyarakat Petani Sawah. : Desa Karang Anyar Kecamatan Jati Agung

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang

PETA LOKASI PENELITIAN 105

Mangrove dan Pesisir Vol. III No. 3/

5 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

IV. KONDISI UMUM KABUPATEN SIMEULUE

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB VI KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN RUMAHTANGGA PETANI PESERTA PROGRAM PEMBERDAYAAN PETANI MELALUI TEKNOLOGI DAN INFORMASI PERTANIAN (P3TIP)

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

6 BESARAN KERUGIAN NELAYAN DALAM PEMASARAN TANPA LELANG

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Untuk memberikan arah jalannya penelitian ini akan disajikan beberapa pendapat

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB V STATUS GIZI BALITA DAN LINGKUNGAN RENTAN GIZI DI DESA PECUK. A. Gambaran Status Gizi Baik Balita di Desa Pecuk

IDENTIFIKASI TINGKAT KEKUMUHAN DAN POLA PENANGANAN YANG TEPAT DI KAWASAN KUMUH KELURAHAN TANJUNG KETAPANG TAHUN 2016

BAB I PENDAHULUAN. keterbukaan sosial dan ruang bagi debat publik yang jauh lebih besar. Untuk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. secara geografis terletak antara 101º20 6 BT dan 1º55 49 LU-2º1 34 LU, dengan

BAB I PENDAHULUAN. Masalah ini menjadi perhatian nasional dan penanganannya perlu dilakukan

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kecamatan Teluk Betung Selatan

4. GAMBARAN UMUM WILAYAH

Lampiran 1 Tata letak fasilitas di PPN Karangantu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perikanan Tangkap Definisi perikanan tangkap Permasalahan perikanan tangkap di Indonesia

4. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. kecamatan yang baru dimekarkan dari kecamatan induknya yaitu Kecamatan

PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS

Gambar 5. Peta Citra Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Kondisi Geografis Daerah Penelitian. Kecamatan Rumbai merupakan salah satu Kecamatan di ibukota

RINGKASAN EKSEKUTIF HASIL PENDATAAN SUSENAS Jumlah (1) (2) (3) (4) Penduduk yang Mengalami keluhan Sakit. Angka Kesakitan 23,93 21,38 22,67

BAB III METODE PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN. Kelurahan Penjaringan terletak di Kecamatan Penjaringan, Kotamadya

VI. KARAKTERISTIK PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP. Rumahtangga nelayan merupakan salah satu potensi sumberdaya yang

Republik Indonesia BADAN PUSAT STATISTIK SURVEI PENYUSUNAN DIAGRAM TIMBANG NILAI TUKAR PETANI 16 KABUPATEN TAHUN Subsektor Perikanan - Tangkap

KATALOG BPS BADANPUSATSTATISTIK KABUPATENACEHSELATAN

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. diperbaharui, karena memiliki proses pembentukan yang cukup lama serta

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5 HASIL TANGKAPAN DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PALABUHANRATU

6 USAHA PENANGKAPAN PAYANG DI DESA BANDENGAN

BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN RAJA AMPAT.

Gambar 4. Kerangka Habitat Equivalency Analysis V. GAMBARAN UMUM WILAYAH. Wilayah penelitian pada masyarakat Kecamatan Rumpin secara

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 29 TAHUN 2016 T E N T A N G INDIKATOR LOKAL KELUARGA MISKIN DI KABUPATEN CIAMIS

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Merak Belantung secara administratif termasuk ke dalam Kecamatan

KUESIONER PERAN IBU. Lampiran:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3 METODE PENELITIAN. 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2009 di PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat.

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Lampung. Secara geografis Kota Bandar Lampung terletak pada sampai

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB I LATAR BELAKANG KELUARGA DAMPINGAN

1. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sektor pertanian yang terus dituntut berperan dalam

Lampiran 1. Kuisioner Penelitian KUESIONER

5 KONDISI PERIKANAN TANGKAP KABUPATEN CIANJUR

METODE PENELITIAN. Jenis dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebagai

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Menurut pernyataan Menteri Kelautan dan Perikanan RI (nomor kep.

TINGKAT KESEJAHTERAAN MASYARAKAT NELAYAN DESA BENUA BARU ILIR BERDASARKAN INDIKATOR BADAN PUSAT STATISTIK

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pringsewu, secara geografis Kabupaten

BAB 4 PENGARUH PEMBANGUNAN PASUPATI TERHADAP KARAKTERISTIK PERGERAKAN CIMAHI-BANDUNG

V. GAMBARAN UMUM. Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal,

5 KETERLIBATAN TENGKULAK DALAM PENYEDIAAN MODAL NELAYAN

PERAN PELABUHAN PERIKANAN TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN RAWAI TUNA DI PPN PALABUHANRATU, SUKABUMI NURUL UTAMI RAHARJO

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Geografi merupakan ungkapan atau kata dari bahasa Inggris Geography yang terdiri

5 KEADAAN PERIKANAN TANGKAP KECAMATAN MUNDU KABUPATEN CIREBON

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki potensi sumber daya alam

'8~ ~ 'P~ 'Pol. 11?1. 1P> TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN BAGAN MOTOR TELUK BANTEN, KABUPATEN SERANG, PROVINSI BANTEN

Dampak Kenaikan Harga BBM bagi Golongan Termiskin di Dua Desa

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

LAPORAN TAHUNAN TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI)

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.. Keadaan Umum Tempat Penelitian Palabuhanratu merupakan salah satu kecamatan di daerah pesisir Teluk Palabuhanratu yang juga merupakan ibu kota Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Palabuhanratu terkenal sebagai penghasil utama perikanan laut di Kabupaten Sukabumi. Daerah ini merupakan derah yang memiliki pantai karena berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Keadaan yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia membuat daerah tersebut merupakan daerah penangkapan yang luas. Sebagian besar daerah pantai di Kabupaten Sukabumi membentuk teluk yang menyebabkan daerah tersebut terlindungi dari gelombang laut Samudera Indonesia yang cukup besar sehingga keberadaan PPN palabuhanratu sebagai sentral kegiatan perikanan tangkap pada saat ini sudah sangat sesuai dengan kondisi geografi pantai berupa teluk... Keadaan Iklim dan Musim Terdapat dua musim utama di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu yaitu musim angin barat yang bertiup dari timur ke barat dan musim angin timur yang bertiup dari barat ke timur. Musim angin barat bertiup dari bulan Desember sampai bulan Februari, sedangkan musim angin timur berlangsung antara bulan Juli sampai Bulan September. Kedua musim tersebut terdapat musim peralihan dari musim barat ke timur dan juga sebaliknya. Musim peralihan ini terjadi antara bulan Maret sampai dengan bulan Juni dan bulan Oktober sampai dengan Bulan November. Perbedaan musim sangat mempengaruhi hasil dan operasi penangkapan ikan. Pada musim barat (DesemberFebruari) angin sangat kencang, ombak sangat besar dan juga naiknya volume air laut menyebabkan sebagian nelayan enggan melaut karena hasil tangkapannnya juga biasanya sedikit atau sering disebut musim paceklik namun, akan terjadi sebaliknya jika musim timur (JuliSeptember). 7

8. Keadaan Umum Perikanan Tangkap Usaha perikanan tangkap di Palabuhanratu menggunakan berbagai macam alat tangkap, yaitu pancing tonda, rampus, bagan perahu, perahu rumpon, dan payang. Produksi hasil perikanan tangkap di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu tahun 0 sebanyak 8.86.6 kg dengan nilai produksi sebesar Rp. 8.9.608.7,. Nelayan yang menggunakan perahu rumpon umumnya nelayan yang berdomisili di Palabuhanratu dan sekitarnya. Produksi ikan hasil tangkapan perahu rumpon di Palabuhanratu pada tahun 0 mencapai 87.07 kg dengan nilai sebesar Rp. 8.096..798, (PPNP 0).. Karakteristik Responden.. Umur Nelayan Nelayan merupakan mata pencaharian yang memerlukan kondisi fisik yang baik. Pada umumnya buruh nelayan rumpon didominasi oleh usia kisaran 6 sampai 6 tahun sehingga kemampuan fisik mereka masih dalam kondisi yang relatif baik. Usia produktif berada pada kisaran 6 tahun (Kusumowidho 000). Pada umumnya nelayan yang berusia relatif muda dan sehat memiliki kemampuan fisik dan daya ingat yang baik dibandingkan dengan nelayan yang lebih tua.komposisi responden berdasarkan kelompok umur disajikan pada Gambar. Kelompok Umur Nelayan 6 6 6 6,%,%,7%,6 66 6,9% Gambar.Kelompok Umur Buruh Nelayan Rumpon dipalabuhanratu.

9 Gambar memperlihatkan bahwa responden didominasi oleh usia produktif. Responden berusia 6 tahun merupakan kelompok umur terbanyak dari keseluruhan dengan jumlah 6,9% dan kelompok umur yang paling sedikit berusia 6 dan 66 tahun yang masingmasing memiliki presentasi sebanyak,%. Hal ini sebabkan nelayan dengan usia diatas tahun sudah kurang mampu melaut karena faktor fisik, diantaranya kesehatan yang sudah mulai menurun, tidak kuatnya melaut, mudah sakit kepala apabila terkena angin malam... Tingkat Pendidikan Berdasarkan Tabel menunjukan bahwa nelayan pengguna alat tangkap rumpon mayoritas berpendidikan SD sebanyak 69 orang (7%) sedangkan yang paling sedikit adalah SMA (Lampiran ). Hal ini disebabkan pada masa usia sekolah, nelayan lebih memilih untuk berlayar dari pada melanjutkan pendidikan karena pada masa itu di Teluk Palabuhanratu sangat besar potensi ikannya.tingkat pendidikan nelayan sangat berpengaruh terhadap pola hidup, daya pikir, kecerdasan dan pengambilan keputusan seseorang. Berdasarkan Tabel, dapat diketahui bahwa responden nelayan rumpon mayoritas berpendidikan terakhir SD 7%, sedangkan minoritas berpendidikan terakhir SMP %. Hal ini disebabkan pada usia produktif sekolah, responden lebih memilih berlayar karena memiliki prospek menjanjikan. Tabel. Tingkat Pendidikan Buruh Nelayan Rumpon, 0.. No Tingkat Pendidikan Tidak Sekolah SD SLTP SMA Nelayan 69 Persentase 7 00 Analisis Bagi Hasil Nelayan Rumpon Kegiatan analisis bagi hasil nelayan rumpon di PPN Palabuhanratu menggunakan sistem bagi hasil yaitu dengan cara menghitung nilai produksi

0 dikurangi biaya operasi, perbekalan, ongkos lelang, dan lainlain. Sistem bagi hasil yang dibagi rata setelah dikurangi biaya operasional dari nilai penangkapan dalam satu kali trip antara nelayan buruh dengan pemilik merupakan hubungan kerja sama yang paling tepat yang dilakukan oleh nelayan buruh rumpon di Palabuhanratu. Menurut data hasil penjualan ikan (Lampiran ) ratarata pendapatan nelayan rumpon per trip Rp...69, sedangkan biaya operasional yang mencakup BBM, makanan, umpan, dan es dalam satu kali trip sebesar Rp..88.660. Sehingga nilai tangkapan bersih per trip sebesar Rp...69 Rp..88.660 = Rp. 0.9.9,. nelayan buruh dalam satu perahu tersebut ada orang, maka nilai hasil tangkapan bersih dibagi 6 (Ditambah pemilik orang), sehingga Rp. 0.9.9 : 6 = Rp..8.66,. Dalam satu bulan nelayan biasa melaut sebanyak kali, jadi masingmasing nelayan buruh akan mendapatkan hasil sebesar Rp. 6.76.6 dalam satu bulan.. Nilai Tukar Nelayan Nilai Tukar Nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu bernilai 0,, nilai ini didapat dari hasil bagi ratarata pendapatan dan pengeluaran rumah tangga buruh nelayan rumpon (Lampiran 6). Konsep nilai tukar nelayan yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep Nilai Tukar Nelayan (NTN), yang pada dasarnya merupakan indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan. Berdasarkan standar Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang dikeluarkan oleh KKP pada tahun 0, nelayan dikatakan sejahtera apabila nilai tukar nelayan mencapai 0. Berdasarkan data yang telah dihitung nelayan buruh rumpon di Palabuhanratu memiliki nilai sebesar 0,, hal ini menandakan bahwa nelayan buruh rumpon di Palabuhanratu bisa dikatakan sejahtera karena nilai tukar nelayan nya sesuai dengan standar KKP..6 Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Buruh Nelayan Rumpon di Palabuhanratu Tingkat kesejahteraan bersifat subyektif dan luas sehingga data yang mampu mengukur semua segi kesejahteraan tidak dapat disajikan. Tingkat kesejahteraan dalam penelitian ini diamati dengan menggunakan aspekaspek

yang dapat diukur saja, yaitu kesejahteraan fisik. Konsep yang digunakan dalam pengukuran adalah kriteria BPS dalam SUSENAS tahun 00 yang dimodifikasi, yaitu dengan memasukkan kriteria kemiskinan Sajogyo pada indikator pertama mengenai pendapatan rumah tangga buruh nelayan, sedangkan indikator lainnya tetap sesuai dengan kriteria kesejahteraan menurut BPS dalam SUSENAS tahun 00..6. Analisis Pendapatan Keluarga Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa hampir seluruh Rumah Tangga Buruh Nelayan Rumpon memperoleh pendapatan dari hasil kegiatan penangkapan ikan, namun ada beberapa pendapatan nelayan yang diperoleh dari kegiatan yang dibantu oleh istri dan anak, khususnya pada kegiatan berdagang. Hanya saja hal ini termasuk minoritas, dari responden hanya 8 responden yang menyatakan bahwa istri dan anak membantu dalam usaha tersebut (Lampiran 7). Tingkat pendapatan rumah tangga diukur menggunakan konsep kemiskinan menurut Sajogyo (9), yang menggunakan beras sebagai dasar penggolongan tingkat kemiskinan. Pengukuran tingkat kemiskinan yang digunakan adalah dengan menyertakan nilai sejumlah beras per tahun dengan pendapatan perkapita pertahun dari rumah tangga nelayan. ) Tidak miskin, yaitu apabila pendapatan perkapita pertahun lebih tinggi dari nilai tukar 0 kg beras ( > Rp.60.000) ) Miskin, yaitu apabila pendapatan perkapita per tahun antara nilai tukar 0 kg 0 kg beras (Rp.60.000 Rp.90.000) ) Miskin sekali, yaitu apabila pendapatan perkapita per tahun antara nilai tukar 0 kg 80 kg (Rp.90.000 Rp.90.000) ) Paling miskin, yaitu apabila pendapatan perkapita per tahun lebih kecil dari nilai tukar 80 kg beras (Rp.0.000) Berdasarkan Tabel, responden dari rumah tangga nelayan rumpon di Palabuhanratu tergolong kelompok tidak miskin yaitu sebesar 00% artinya pendapatan rumah tangga nelayan rumpon melebihi kriteria kemiskinan Sajogyo (9).

Tabel. Indikator Pendapatan Rumah Tangga Buruh Nelayan Rumpon Menurut Kriteria Sajogyo, 9. Kriteria Tidak Miskin: >0 kg Miskin: 0 kg 0 kg Miskin Sekali : 0 kg 80 kg Paling Miskin: <80kg Nelayan 00 Persentase 00%.6. Analisis Pengeluaran Keluarga Pengeluaran Rumah Tangga Buruh Nelayan Rumpon di Palabuhanratu secara umum dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu pengeluaran pangan (Sembako) dan pengeluaran non pangan (Pakaian, Rekreasi, Pendidikan, dan Kesehatan). Berdasarkan hasil analisis, ratarata pengeluaran yang digunakan untuk kebutuhan pangan adalah Rp. 8.66.89 per tahun dan pengeluaran non pangan sebesar Rp..7.6 per tahun. Tabel. Pengeluaran Rumah Tangga Buruh Nelayan Rumpon Jenis Pengeluaran Pangan Non Pangan Ratarata Pengeluaran (Rp) Per Bulan..00 8.79.86.99 Pertahun 8.66.89.7.6.0.8 Persentase 8% 6% 00% Berdasarkan Tabel dapat dilihat bahwa pengeluaran untuk pangan sebesar 8% dari total pengeluaran rumah tangga, sedangkan untuk pengeluaran non pangan yaitu sebesar 6%. Ratarata pengeluaran rumah tangga nelayan rumpon untuk pangan menghabiskan Rp..00 per bulan. tersebut dibagi kedalam beberapa kebutuhan pokok pangan seperti beras, minyak, gula, lauk pauk, sayuran, dan lainlain. Sedangkan pengeluaran rumah tangga nelayan rumpon untuk non pangan menghabiskan Rp 8.79 per bulan. tersebut dibagi ke dalam beberapa kebutuhan non pangan seperti pakaian, rekreasi,

pendidikan, dan kesehatan. Hal ini disebabkan karena terus meningkatnya harga barangbarang pokok, sehingga pendapatan yang ada sebagian besar dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, sedangkan kebutuhan non pangan menjadi kurang terpenuhi. Ratarata selisih pendapatan dan pengeluaran rumah tangga buruh nelayan rumpon dalam setahun sebesar Rp.77.6 (Lampiran 8)..6. Keadaan Tempat Tinggal Tempat tinggal biasanya berwujud bangunan rumah, tempat berteduh atau struktur lainnya yang digunakan sebagai tempat manusia tinggal. Mengukur kemiskinan berdasarkan kriteria keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera berdasarkan keadaan tempat tinggal secara garis besar yaitu. Keluarga pra sejahtera memiliki lantai rumah bersemen lebih dari 80 % dan keluarga sejahtera memiliki ratarata luas lantai rumah 8 meter persegi per anggota keluarga (BKKBN 009). Keadaan tempat tinggal responden merupakan salah satu indikator untuk menunjukan keadaan sosial rumah tangga dalam masyarakat. Semakin baik kondisi dan fasilitas tempat tinggal, maka semakin baik keadaan sosial rumah tangga. Penilaian tempat tinggal dilihat dan kondisi atap rumah, bilik, satu kepemilikan, lantai dan luas lantai. Indikator keadaan tempat tinggal dapat dilihat pada Tabel. Berdasarkan Tabel 7, kriteria tempat tinggal yang dimiliki nelayan sudah tergolong tempat tinggal permanen sebesar 87,6%, sedangkan yang tergolong semi permanen sebesar,7%. Hal ini digambarkan oleh seluruh tempat tinggal nelayan buruh rumpon di Palabuhanratu memenuhi kriteria sejahtera berdasarkan BPS tahun 00.

Tabel 6. Indikator Keadaan Tempat Tinggal Rumah Tangga Buruh Nelayan Rumpon di Palabuhanratu, 0. No Keadaan Tempat Tinggal Atap a. Genting b. Asbes c. Seng d. Sirap e. Daun Bilik a. Tembok b. Setengah Tembok c. Kayu d. Bambu Kayu e. Bambu Status a. Milik Sendiri b. Sewa c. Menumpang a. Porselin b. Ubin c. Plester d. Papan e. Tanah Luas lantai a. 00m b. 0 00 m c. <0m Nelayan Persentase 78 9 80, 9,8 00 60 8 8 9 6,86,68,6 00 6,6 6,80 8,6 00 0, 6,08,0 00 8 9 9,8 0, 00 Tabel 7. Kriteria Tempat Tinggal Rumah Tangga Buruh Nelayan Rumpon di Palabuhanratu No Kriteria Nelayan (orang) Permanen (skor ) 8 Semi Permanen (skor 0 ) Non Permanen (skor 9) Persentase 87,6,7 00

.6. Fasilitas Tempat Tinggal Fasilitas tempat tinggal menjadi salah satu indikator keadaan sosial rumah tangga buruh nelayan rumpon di masyarakat. Kriteria penilaian fasilitas tempat tinggal antara lain luas pekarangan, sarana hiburan dan alat pendingin, penerangan, bahan bakar, sumber air, dan ketersediaan MCK. Berdasarkan Tabel 8, menunjukan fasilitas tempat tinggal nelayan yang memiliki pekarangan dengan luas > 00 meter persegi sebanyak,06% dan 7,8% memiliki luas pekarangan 0 00 meter persegi sedangkan yang memiliki luas pekarangan < 0 meter persegi sebanyak 70,0%. Fasilitas hiburan merupakan salah satu kriteria yang mendukung dalam penilaian kesejahteraan. Hiburan sangat diperlukan oleh anggota keluarga dengan tujuan dapat menghilangkan kejenuhan setelah beraktifitas seharian atau dapat mempererat hubungan keluarga. Fasilitas hiburan yang ratarata dimiliki nelayan buruh rumpon adalah televisi(tv) sebanyak 7,6%, tape recorder,%, radio,0%, dan fasilitas hiburan berupa Video,68%. Pendingin merupakan fasilitas pendukung pada suatu keluarga. Namun, dalam kondisi sekarang pendingin menjadi salah satu fasilitas yang sangat dibutuhkan. Adapun pendingin yang mayoritas dimiliki nelayan adalah lemari es sebanyak,96%, kipas angin sebanyak,67%, dan yang alami sebanyak,7%. Sumber penerangan merupakan salah satu kebutuhan yang penting bagi keluarga. Pada zaman sekarang segala kegiatan yang dilakukan masyarakat hampir menggunakan tenaga listrik sehingga sebanyak 00% rumah tangga buruh nelayan rumpon menggunakan listrik sebagai penerangan. Bahan bakar merupakan fasilitas penunjang dalam kegiatan memasak, dll. Rumah tangga buruh nelayan rumpon sebanyak 86,60% menggunakan gas sebagai bahan bakar dan sisanya menggunakan minyak tanah sebanyak,0%. Gas merupakan salah satu fasilitas yang diberikan pemerintah bagi masyarakat. Selain itu, sumber air juga merupakan kriteria yang penting dalam kegiatan rumah tangga dan dapat menunjukan keadaan sosial suatu keluarga. Sumber air yang

6 berasal dari PAM merupakan yang paling banyak dimiliki oleh nelayan 6,9% sedangkan yang menggunakan sumur 9,9% dan sumur bor sebanyak,0%. MCK merupakan kriteria yang termasuk dalam salah satu indikator fasilitas tempat tinggal. Seluruh responden memiliki fasilitas MCK sendiri seperti tampilan pada Tabel 7. Berdasarkan Tabel 9, kriteria fasilitas tempat tinggal yang dimiliki responden sebanyak 60 orang atau 6,86% telah tergolong lengkap sedangkan sebanyak 7 orang atau 8,% tergolong memiliki fasilitas cukup lengkap.

7 Tabel 8. Indikator Fasilitas Tempat Tinggal, 0. No. Fasilitas Tempat Tinggal Pekarangan a. Luas (> 00m ) b. Cukup ( 000 m ) c. Sempit (< 0 m) Hiburan a. Video b. Tv c. Tape Recorder d. Radio Pendingin a. AC b. Lemari Es c. Kipas Angin d. Alami Sumber Penerangan a. Listrik b. Petromak c. Lampu Tempel Bahan Bakar a. Gas b. Minyak Tanah c. Kayu (Arang) Sumber Air a. PAM b. Sumur Bor c. Sumur d. Mata Air e. Air Hujan f. Sungai MCK a. Kamar Mandi Sendiri b. Kamar Mandi Umum c. Sungai d. Kebun 6 7 Nelayan Persentase 7 68,06 7,8 70,0 70,68 7,6,,0,96,67,7 00 8 86,60,0 6 9 6,9 9,9,0 6 6,9,0

8 Tabel 9. Kriteria Fasilitas Tempat Tinggal, 0. No Kriteria Lengkap (skor 7) Cukup (skor 0) Kurang (skor 7) Nelayan 60 7 Persentase 6,86 8, 00.6. Kesehatan Rumah Tangga Kesehatan rumah tangga adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Menurut BPS (00), kriteria kesehatan rumah tangga yaitu banyaknya anggota keluarga yang sering mengalami sakit dalam satu bulan. Kesehatan anggota keluarga nelayan buruh rumpon dilihat dari berbagai kriteria seperti, baik jika seluruh anggota rumah tangga dalam satu bulan kurang dari % sering sakit (skor ), cukup baik apabila anggota rumah tangga dalam satu bukan antara 0% sering mengalami sakit (skor ), dan kurang baik jika seluruh anggota keluarga dalam satu bulan lebih dari 0% sering mengalami sakit (skor ). Indikator kesehatan rumah tangga buruh nelayan rumpon di Palabuhanratu dapat dilihat pada Tabel 0. Tabel 0. Indikator Kesehatan Rumah Tangga, 0. Kesehatan Anggota Rumah Tangga Baik (<% sering sakit) Cukup (0% sering sakit) Kurang (>0% sering sakit) Nelayan 66 7 Persentase 68,0 7,8, 00 Pada Tabel 0 dapat dilihat bahwa sebagian besar anggota rumah tangga nelayan buruh rumpon tergolong baik (<% sering sakit) yaitu sebesar 68,0%. Penyakit yang dialami hanya penyakit ringan seperti batuk, flu,pusing dan sakit perut. 7,8% anggota rumah tangga pedagang tergolong cukup (0% sering sakit) biasanya sakit yang dialami yang harus dilakukan perawatan internsif.,% anggota rumah tangga buruh nelayan rumpon tergolong kurang (>0%

9 sering sakit) biasanya sakit yang dialami sudah akut hingga menyebabkan kematian..6.6 Kemudahan Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Kriteriakriteria yang mendukung dalam indikator kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan meliputi jarak kerumah sakit terdekat, jarak ke poliklinik/ puskesmas/ posyandu, biaya berobat, penanganan berobat, alat kontrasepsi, konsultasi KB, dan harga obatobatan. Tabel menjelaskan indikator kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan pada rumah tangga buruh nelayan rumpon di Palabuhanratu Sukabumi. Berdasarkan Tabel terdapat,% rumah tangga buruh nelayan rumpon yang memiliki jarak terdekat antara 0,0 km dengan rumah sakit, sedangkan 8,76% rumah tangga buruh nelayan rumpon memiliki jarak terdekat dengan rumah sakit. Buruh nelayan rumpon yang memiliki jarak terdekat antara tempat tinggal dengan poloklinik/ puskesmas/ posyandu yaitu 0,0 km sebanyak,7%, dan yang memiliki jarak terdekat sebanyak 7,6%. Hal ini ditunjang dengan fasilitas yang diberikan pemerintah dalam melayani kesehatan bagi masyarakat. Selain itu, biaya berobat yang ditetapkan oleh suatu lembaga bagi % responden terjangkau, 8,% responden yang merasa cukup terjangkau dan kurang terjangkau 0,6%. Sebanyak 6,9% responden mengatakan bahwa penanganan tenaga medis sudah baik, namun,6% responden lainnya mengatakan cukup baik. Mengenai alat kontrasepsi responden yang menyatakan mudah didapat terdapat sebanyak 6,8% responden dan 0,% responden lainnya menyatakan cukup mudah didapat. Hal ini tidak jauh berbeda dengan respon nelayan tentang konsultasi KB sebanyak,7% responden menyatakan mudah, 8,% responden cukup mudah dan,6% responden menyatakan sulit dalam melakukan konsultasi KB kepada tim medis. Harga obatobatan yang harus dikeluarkan oleh responden apabila mengalami sakit terbilang terjangkau bagi 9,8% responden dan 60,8% responden menyatakan cukup terjangkau.

0 Tabel. Indikator Kemudahan Mendapatkan Pelayanan Kesehatan, 0. Kemudahan Pelayanan No. Kesehatan Jarak Rumah Sakit Terdekat a. 0 Km b. 0,0 Km c. > Km d. Tidak Terdapat Jarak Poliklinik a. 0 Km b. 0,0 Km c. > Km d. Tidak Terdapat Biaya Berobat a. Terjangkau b. Cukup Terjangkau c. Kurang Penanganan Berobat a. Baik b. Cukup c. Jelek Alat Kontrasepsi a. Mudah Didapat b. Cukup Mudah c. Sulit Didapat Konsultasi KB a. Mudah 6 b. Cukup c. Sulit Harga Obatobatan a. Terjangkau 7 b. Cukup Terjangkau c. Sulit Terjangkau Berdasarkan penilaian akan Nelayan Persentase 7 0 8,76, 7 7,6,7 0 7 0 8, 0,6 6,9,6 6 9 6,8 0, 6 7,7 8,,6 8 9 9,8 60,8 kemudahan mendapatkan kemudahan pelayanan kesehatan seperti yang ditujukan pada Tabel, 77,% responden menyatakan mudah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan sedangkan,68% responden lain mengatakan cukup mudah mendapatkan pelayanan kesehatan.

Tabel. Kriteria Kemudahan Mendapatkan Pelayanan Kesehatan pada Rumah Tangga Buruh Nelayan Rumpon di Palabuhanratu 0. No Kriteria Mudah (skor 89) Cukup (skor 67) Sulit (skor ) Nelayan 7 Persentase 77,,68 00.6.7 Kemudahan Memasukan Anak Ke Jenjang Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu perhatian pemerintah dengan adanya kebijakan wajib sekolah 9 tahun. Selain itu pemerintah memberikan keringanan dengan sekolah gratis dan buku gratis yang dipinjamkan untuk mendukung kegiatan pendidikan, mengingat kualitas sumber daya manusia juga ditentukan oleh tingkat pendidikannya. Pada Tabel terdapat respon dari buruh nelayan rumpon sebagai orang tua dalam kemudahan memasukan anak ke jenjang pendidikan yang dilihat dari tiga segi yaitu, biaya sekolah, jarak ke sekolah dari masingmasing tempat tinggal, dan prosedur penerimaan. Tabel.Indikator Kemudahan Memasukan Anak Ke Jenjang Pendidikan, 0. No. Kemudahan Pendidikan Biaya Sekolah a. Terjangkau b. Cukup Terjangkau c. Sulit Terjangkau Jarak Kesekolah a. 0 Km b. 0,0 Km c. > Km Prosedur Penerimaan a. Mudah b. Cukup Mudah c. Sulit Nelayan Persentase 9 9, 8,,78 79, 0,9 8 8 6, 6,7 6,87

Berdasarkan Tabel sebanyak 9,% dari 67 responden menyatakan bahwa biaya sekolah terjangkau karena sebagian sekolah dibebaskan dari biaya administrasi, 8,% menyatakan cukup terjangkau dan,78% menyatakan sulit terjangkau karena menurut responden biaya buku yang harus ditanggung cukup mahal. Pada indikator ini tidak seluruh responden sudah memiliki anak yang berusia sekolah, oleh sebab itu hanya 67 responden yang memberikan respon sudah sekolah, sedangkan 0 responden lainnya tidak memberikan respon. Kebanyakan responden buruh nelayan rumpon sebesar 79,% mengatakan jarak sekolah dari tempat tinggal antara 0,0 Km dan 0,9% mengatakan jarak sekolah dengan tempat tinggal lebih dari Km. Berkaitan dengan prosedur penerimaan sekolah, sebanyak 6,% responden mengatakan mudah, 6,7% mengatakan cukup mudah, dan 6,87 responden mengatakan sulit. Tabel. Kriteria Kemudahan Memasukan Anak Kejenjang Pendidikan, 0. No Kriteria Mudah (skor 89) Nelayan Cukup (skor 67) 9 8, Sulit (skor ) 9,0 67 00 Persentase 0,90 Berdasarkan Tabel, terlihat bahwa sebanyak 0,90% responden menyatakan bahwa memasukan anak kejenjang pendidikan mudah, 8,% menyatakan cukup, dan 9,0% menyatakan sulit..6.8 Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi Fasilitas transportasi adalah sarana dan prasarana angkutan baik darat, laut maupun udara untuk mempermudah suatu kegiatan manusia. Kriteria kemiskinan yang dipergunakan yaitu ongkos dan biaya, fasilitas kendaraan, dan kepemilikan (BPS 00).

Ketersedian sarana transportasi sangatlah penting dalam menunjang kehidupan seharihari buruh nelayan rumpon di Palabuhanratu. Oleh karena itu, kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi menjadi salah satu indikator dalam menganalisis tingkat kesejahteraan para buruh nelayan rumpon. Adapun indikator kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi pada buruh nelayan rumpon di Palabuhanratu terdiri dari ongkos dan biaya, fasilitas kendaraan, serta status kepemilikan (Tabel ). Jenis alat transportasi yang sering digunakan di Palabuhanratu adalah angkot dan motor. Tabel. Indikator kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi, 0. Kemudahan Fasilitas Transportasi Ongkos dan Biaya a. Terjangkau b. Cukup Terjangkau c. Sulit Terjangkau Fasilitas Kendaraan a. Tersedia b. Cukup Tersedia c. Sulit Tersedia Kepemilikan a. Milik Sendiri b. Sewa c. Ongkos No. Nelayan Persentase 8 7 9,8, 7, 6,9,6 0 7, 8,76 Tabel 6. Kriteria Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi, 0. No Kriteria Mudah (skor 79) Cukup (skor 6) Sulit (skor ) Nelayan 0 Persentase,6,, 00 Berdasarkan Tabel 6 mayoritas buruh nelayan rumpon menyatakan ongkos dan biaya terjangkau sebanyak,6%, menyatakan cukup terjangkau,%, dan yang menyatakan sulit sebanyak,%. Biaya ongkos yang biasa dikeluarkan nelayan setiap harinya sebesar Rp.000 sampai dengan Rp 0.000, dan jenis angkutan umum yang biasa digunakan adalah jenis angkot dan ojek.

.6.9 Kehidupan Beragama Indikator kehidupan beragamadapat dilihat dari sudut toleransi antar umat beragama, toleransi tinggi (skor ), toleransi sedang (skor ) dan toleransi rendah (skor ). Seluruh responden menyatakan bahwa toleransi kehidupan beragama sangat tinggi dan tidak pernah terjadi bentrokan antar umat beragama, walaupun mereka memeluk agama yang berbeda (Tabel 7). Tabel 7. Indikator Kehidupan Beragama, 0. No Kehidupan Beragama Toleransi Tinggi Toleransi Cukup Toleransi Rendah Nelayan Persentase 00 00.6.0 Rasa Aman dari Gangguan Kejahatan Ketentraman dan ketertiban adalah hal yang sangat perlu diperhatikan, karena dengan terciptanya keamanan dan ketertiban. Indikator rasa aman dari kejahatan dilihat dari sering tidaknya lingkungan tempat tinggal responden mengalami tindak kejahatan selama satu bulan. Penilaian indikator rasa aman dari gangguan kejahatan yang di alami di wilayah tempat tinggal buruh nelayan rumpon meliputi tiga kriteria yaitu aman (tidak pernah mengalami tindak kejahatan), cukup aman (pernah mengalami tindak kejahatan), dan kurang aman (sering mengalami tindak kejahatan). Tabel 8. Indikator Rasa Aman dari Gangguan Kejahatan, 0. No Rasa Aman dari Gangguan Kejahatan Aman Cukup Aman Tidak Aman Nelayan Persentase 00 00

Tabel 8, menunjukan bahwa seluruh responden buruh nelayan rumpon menyatakan bahwa mereka telah merasa aman dari gangguan kejahatan. Hal ini disebabkan adanya kegiatan ronda yang rutin dilakukan oleh masyarakat yang tinggal diwilayah masingmasing responden..6. Kemudahan dalam Melakukan Olah Raga Menurut BPS (00), kriteria kemiskinan yang dipergunakan yaitu mudah, cukup mudah, dan sulit dalam melakukan olahraga dalam satu minggu. Kemudahan melakukan olahraga dilihat dari segi sering atau tidaknya responden melakukanya dalam satu minggu, yaitu mudah (apabila sering melakukan olahraga), cukup (apabila cukup sering melakukan olahraga), dan sulit (apabila tidak pernah melakukan olahraga) (Tabel 9). Tabel 9. Indikator kemudahan dalam melakukan olahraga, 0. No Kemudahan Berolahraga Nelayan Persentase Mudah Cukup Mudah Sulit 6 67 00 Berdasarkan Tabel 9, % responden tergolong cukup mudah dalam melakukan olahraga, dan 67% responden tergolong sulit melakukan olahraga, disebabkan faktor umur yang sudah tidak kuat apabila mengalami kelelahan dan tempat untuk melakukan olah raga sulit. Berdasarkan hasil wawancara adapun olahraga yang sering dilakukan adalah jenis olahraga lari, sepakbola, dan renang..7 Rekapitulasi Indikator Kesejahteraan Tabel 0 menunjukan bahwa seluruh buruh nelayan rumpon di Palabuhanratu termasuk dalam golongan kesejahteraan tinggi. Hasil ini didapat berdasarkan jumlah hasil hitungan dari indikator tingkat kesejateraan menurut BPS (Lampiran 0), dapat dilihat bahwa pendapatan keluarga merupakan nilai

6 yang tertinggi dengan bobot %, karena merupakan salah satu faktor penting dalam suatu rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga. Pengeluaran keluarga memiliki nilai tertinggi kedua dengan bobot 6%. Hal ini dikarenakan pengeluaran merupakan salah satu penunjang yang dianggap cukup besar dalam suatu rumah tangga. Keadaan tempat tinggal memiliki bobot % karena dianggap salah satu sarana yang penting, dengan adanya tempat tinggal yang memadai dapat memberikan kenyamanan bagi anggota rumah tangga. Kemudahan memasukan anak ke jenjang pendidikan salah satu indikator yang cukup penting dengan bobot %, karena pendidikan anggota rumah tangga khususnya anak sangat penting, sehingga kemudahan memasukan anak ke jenjang pendidikan dapat perhatian lebih. Kesehatan rumah tangga sangat diperhatikan, karena apabila anggota rumah tangga sering mengalami sakit maka dapat memperbesar biaya pengeluaran serta jika kepala keluarga yang mengalami sakit maka tidak akan adanya pendapatan keluarga. Pada fasilitas tempat tinggal, kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi, kehidupan beragana, rasa aman dari gangguan kejahatan dan kemudahan melakukan olahraga dianggap sebagai pelengkap dalam rumah tangga, karena sifatnya tidak terlalu penting dipenuhi secara keseluruhan namun tetap menjadi perhatian oleh anggota rumah tangga dengan bobot % (Tabel 0).

7 Tabel 0. Rekapitulasi Indikator, 0 No Indikator 6 7 8 9 0 Pendapatan Keluarga Pengeluaran Keluarga Keadaan Tempat Tinggal Fasilitas Tempat Tinggal Kesehatan Rumah Tangga Kemudahan Mendapatkan Pelayanan Kesehatan dari Tenaga Medis Kemudahan Memasukan Anak Kejenjang Pendidikan Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi Kehidupan Beragama Rasa Aman Dari Gangguan Kejahatan Kemudahan Melakukan Olahraga 6 6 0 6 Bobot 6 0 6 0 96 00 Tabel. Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Buruh Nelayan Rumpon di Palabuhanratu Sukabumi. No 6 7 8 9 0 Indikator Pendapatan Keluarga Pengeluaran Keluarga 0,6 Keadaan Tempat Tinggal 0,9 Fasilitas Tempat Tinggal 0,08 Kesehatan Rumah Tangga 0,0 Kemudahan Mendapatkan Pelayanan Kesehatan dari Tenaga Medis 0,08 Kemudahan Memasukan Anak Kejenjang Pendidikan 0, Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi 0,08 Kehidupan Beragama 0, Rasa Aman Dari Gangguan Kejahatan 0, Kemudahan Melakukan Olahraga 0,,87 Tingkat Kesejahteraan,87 x = Berdasarkan Tabel, menunjukan bahwa nelayan buruh rumpon di Palabuhanratu Sukabumi memiliki skor tingkat kesejahteraan tinggi () pada seluruh kriteria BPS dikarenakan pada kriteria kemudahan memasukan anak kejenjang pendidikan para nelayan lebih memilih memasukan anak dengan jarak

8 jauh namun memiliki kualitas yang baik, serta pada kriteria kemudahan melakukan olahraga dianggap sulit karena tidak memiliki waktu luang untuk berolahraga dan fasilitas tempat olahraga yang sangat terbatas.