BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV FAKTOR PENGHAMBAT DAN PENDUKUNG PELAKSANAAN BIMBINGAN KEAGAMAAN ORANG TUA DALAM PEMBENTUKAN AKHLAK ANAK USIA DINI DI TK PELITA BANGSA

mm] BERITA DAERAH KABUPATEN CIREBON T E N T A N G GERAKAN MASYARAKAT MAGHRIB MENGAJI Dl KABUPATEN CIREBON PERATURAN BUPATI CIREBON

BAB IV ANALISIS PERANAN ORANG TUA DALAM MEMOTIVASI ANAKNYA UNTUK BELAJAR AL QUR AN DI TAMAN PENDIDIKAN

BAB III PENANAMAN NILAI-NILAI KEAGAMAAN PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI LINGKUNGAN KELUARGA. 1. Letak Georgafis Desa Tahunan Baru, Tegalombo, Pacitan

BAB I PENDAHULUAN. beragama yaitu penghayatan kepada Tuhan, manusia menjadi memiliki

BAB III PERKEMBANGAN KEAGAMAAN ANAK BURUH PABRIK DI WONOLOPO

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG

BAB IV ANALISIS PERANAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM DALAM MENINGKATKAN MORAL KLIEN ANAK DI BALAI PEMASYARAKATAN KLAS I SEMARANG A.

A. Latar Belakang Masalah

HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN BERAGAMA REMAJA MUSLIM DENGAN MOTIVASI MENUNTUT ILMU DI PONDOK PESANTREN

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN PENDIDIKAN

PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG

BAB I PENDAHULUAN. keluargalah semua aktifitas dimulai, keluarga merupakan suatu kesatuan social

I PENDAHULUAN. dan pembangunan pada umumnya yaitu ingin menciptakan manusia seutuhnya. Konsep

BAB IV ANALISIS PERSEPSI REMAJA TERHADAP URGENSI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KELUARGA DI DESA PEGUNDAN KECAMATAN PETARUKAN KABUPATEN PEMALANG

BAB IV ANALISIS TENTANG UPAYA GURU PAI DALAM PEMBINAAN MENTAL KEAGAMAAN SISWA SMP N 2 WARUNGASEM BATANG

BUPATI KABUPATEN OGAN ILIR PROVINSI SUMATERA SELATAN

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG

BAB IV TEMUAN PENELITIAN

BAB IV DAMPAK KEBERADAAN PONDOK PESANTREN DALAM BIDANG SOSIAL, AGAMA DAN PENDIDIKAN BAGI MASYARAKAT TLOGOANYAR DAN SEKITARNYA

BAB IV HASIL ANALISIS POLA ASUH ORANG TUA BURUH TANI DALAM MEMBINA KEBERAGAMAAN ANAK DESA BUMIREJO ULUJAMI PEMALANG

BAB IV PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN

USIA MENJELANG REMAJA MERUPAKAN MASA TRANSISI YANG KRUSIAL

BAB 1 PENDAHULUAN. kepada kedewasaan dalam berbagai aspek kehidupan. Pendidikan adalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Terpuji Siswa Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah Syafi iyah Proto 01. metode deskriptif yaitu menggambarkan fenomena fenomena yang ada

BAB IV ANALISIS PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DALAM KELUARGA NELAYAN DI DESA PECAKARAN KEC.WONOKERTO KAB. PEKALONGAN

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah adalah lembaga formal tempat dimana seorang siswa menimba ilmu dalam

BAB I PENDAHULUAN. untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh,

BAB I PENDAHULUAN. dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dengan melaksanakan shalat,

BAB IV ANALISIS PROBLEMATIKA PENGAJIAN TAFSIR AL-QUR AN DAN UPAYA PEMECAHANNYA DI DESA JATIMULYA KEC. SURADADI KAB. TEGAL

BAB I PENDAHULUAN. mereka yang belum beragama. Dakwah yang dimaksud adalah ajakan kepada

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Soetjipto. Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, Jakarta: Rineka Cipta, 2009, hlm. 59 Ibid, hlm. 60

BAB I PENDAHULUAN. jangka waktu tertentu. Bila anak didik sudah mencapai pibadi dewasa susila,

BAB I PENDAHULUAN. penghasilan sebanyak-banyaknya dengan melakukan usaha sekecil-kecilnya. Para

BAB V PEMBAHASAN. yang ada dalam kenyataan sosial yang ada. Berkaitan dengan judul skripsi ini,

BAB IV ANALISIS PENDIDIKAN AKHLAK PADA KELUARGA BURUH BATIK DI DESA SEPACAR KECAMATAN TIRTO KABUPATEN PEKALONGAN

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan media strategis dalam meningkatkan kualitas sumber

BAB IV ANALISIS METODE DAKWAH FORUM KOMUNIKASI REMAJA ROMANSA. melakukan analisis terhadap metode dakwah yang dilakukan oleh ROMANSA di

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB IV ANALISA. masyarakat Jemur Wonosari yang beragama Islam meyakini bahwa al-qur an

BAB I PENDAHULUAN. maupun di akhirat. Dengan pendidikan seseorang akan memperoleh bekal

I. PENDAHULUAN. Allah Swt menurunkan kitab-kitab kepada para Rasul-Nya yang wajib diketahui dan

BAB I PENDAHULUAN. kepada anak didik untuk menjadikan putra-putrinya sebagai manusia yang

LAMPIRAN HASIL WAWANCARA. Hasil penelitian melalui wawancara dengan tiga keluarga di RT 14 Kelurahan Way Halim Bandar Lampung:

BAB I PENDAHULUAN. mengantar seseorang untuk meraih kesejahteraan yang didambakan baik di dunia. dan keterampilan yang berguna dalam menjalani hidup.

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya mewariskan

Seorang wanita memiliki kesempatan dan potensi yang lebih. besar untuk berperan secara langsung dalam pendidikan anak, terlebih

MENANAMKAN NILAI MORAL DAN KEAGAMAAN PADA ANAK

BAB I PENDAHULUAN. yang juga memiliki kedudukan yang sangat penting. Akhlak merupakan buah

BAB I PENDAHULUAN. 2011), hlm. 9. (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2007), hlm Rois Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Erlangga,

BAB I PENDAHULUAN. hlm Ismail SM. Et. All. Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001),

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm Depdikbud, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta :

BAB IV ANALISIS UPAYA REMAJA DALAM MENINGKATKAN PERILAKU KEAGAMAAN MELALUI KEGIATAN SHALAWAT JAM IYYAH SIMTUDURAR DI DESA JREBENGKEMBANG KECAMATAN

BAB I PENDAHULUAN. maju mundurnya suatu bangsa terletak pada baik tidaknya karakter dan akhlak

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman Nabi saw dan sahabat dikenal istilah kuttab, yaitu suatu. al-qur'an bagi anak-anak. Anak-anak duduk membentuk lingkaran

BAB VI PENUTUP. Berdasarkan data dan analisis penelitian pada bab-bab sebelumnya dalam

LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan merupakan sarana agar peserta didik secara aktif mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm. 6. 2

BUPATI BENGKALIS SAMBUTAN BUPATI BENGKALIS PADA PEMBUKAAN MTQ KEC. SIAK KECIL KE-13 TAHUN 2017 LUBUK MUDA, 9 MEI 2017

KELUARGA ADALAH MINIATUR PERILAKU BUDAYA. Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin

BAB IV ANALISIS PEMBINAAN NARAPIDANA DAN PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH DINIYAH AT-TAUBAH LAPAS KLAS I KEDUNGPANE SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian

BAB IV ANALISIS TENTANG PERSEPSI ANAK JALANAN TAMAN MATARAM KOTA PEKALONGAN TERHADAP URGENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

diajarkan oleh pendidik yang seagama. Serta mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Pedoman Wawancara Guru

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

BAB I PENDAHULUAN. Amzah, 2007), hlm. 55. Pemikiran dan Kepribadian Muslim, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 150.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan fenomena manusia yang fundamental, yang juga

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu bangsa. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun Negara yang demokratis, serta bertanggung jawab.

Tabel II Jumlah Penduduk Menurut Usia 2 a. Tabel Kelompok Pendidikan No. Umur Jumlah Tahun Orang

BAB I PENDAHULUAN Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009, hlm. 1.

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BEKASI NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG PENINGKATAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL-QUR AN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Implementasi Kurukulum 2013 Pada Pembelajaran PAI Dan Budi Pekerti

BAB I PENDAHULUAN. Mempelajari pendidikan Islam sangat penting bagi kehidupan setiap. muslim karena pendidikan merupakan suatu usaha yang membentuk

PENERAPAN PANCASILA SILA 1 DALAM PELAKSANAAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID AL MUHTAR DEKSO OLEH GENERSI MUDA

BAB IV DAMPAK PENGGUNAAN HANDPHONE TERHADAP PERILAKU REMAJA DALAM PELAKSANAAN IBADAH SHOLAT 5 WAKTU

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana diterangkan dalam firman Allah Subhanahu wata`ala, di dalam. Al-Quran surat Luqman ayat: 14 sebagai berikut:

BAB IV ANALISIS POLA BIMBINGAN AGAMA ISLAM ANAK KARYAWAN PT. PISMATEX DI DESA SAPUGARUT

BAB 1 PENDAHULUAN. yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik individu, maupun sebagai anggota

BAB I PENDAHULUAN. al-qur an dalam kehidupan sehari-hari sudah menjadi komitmen yang sangan

BAB I PENDAHULUAN. 2000), hlm Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta : Aditya Media,

BAB I. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 2 pasal 3. 2

BAB I PENDAHULUAN. mengalir begitu cepat ini memberikan pengaruh terhadap perilaku peserta

BAB IV ANALISIS PERANAN GURU DALAM PENANGGULANGAN. PENYIMPANGAN PERILAKU PESERTA DIDIK MTs. MA ARIF NU BUARAN PEKALONGAN MELALUI SPIRITUAL TREATMENT

BAB I PENDAHULUAN. dikenang sepanjang masa, sejarah akan menulis dikemudian hari. Di sekolahsekolah. pelajaran umum maupun mata pelajaran khusus.

BAB I PENDAHULUAN. beberapa pihak yang terkait agar pendidikan dapat berlangsung. sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Pendidikan yang terjadi

BAB IV ANALISIS PEMAHAMAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ANAK JALANAN DI DESA ROWOSARI KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG

Bagaimana Memotivasi Anak Belajar?

BAB 1 PENDAHULUAN. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1995), hlm M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis,

BAB IV HASIL PENELITIAN

Transkripsi:

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Faktor Penyebab Penurunan Minat Mengaji Al-Qur an Bagi Anak Pasca Sekolah Dasar Setiap manusia mulai sejak dini sampai akhir hayatnya harus belajar al-qur an dan yang paling penting yaitu mengamalkannya. 1 Dasar masyarakat muslim menyuruh anaknya mengaji al-qur an adalah karena setiap orang tua mempunyai kewajiban untuk mendidik anak-anaknya supaya kelak menjadi orang yang berbudi mulia. Hal itu sangat sesuai karena pendidikan merupakan tanggung jawab orang tua. Pendidikan tidak hanya terbatas pada pendidikan di rumah (lingkungan keluarga) tetapi juga di dalam lingkungan sekolah serta masyarakat. Selain dasar untuk pendidikan sang anak, tujuan masyarakat sembungharjo mendidik al-qur an kepada anakanaknya yaitu supaya membentuk anak-anak yang berakhlak mulia. Manusia sebagai khalifah di bumi serta pewaris Nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW, manusia dituntut untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya artinya dengan memahami serta mengamalkan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu 1 Wawancara dengan Bapak Nurrozi, Pemuka Agama Desa Sembungharjo, di Rumah, tanggal 21 Februari 2014 60

umum untuk urusan duniawinya. Sehinga ilmu pengetahuan menjadi satu kesatuan yang utuh, serta dapat menambah keilmuan dan ketaqwaan. Untuk menghadapi realitas dewasa ini, setiap manusia di samping harus menguasai ilmu-ilmu agama, penting juga bagi manusia untuk menguasai ilmu umum dan teknologi. Mementingkan ilmu teknologi saja adalah sikap yang kurang sesuai karena seperti kita ketahui bahwa kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa selain sebagai tujuan pendidikan nasional, juga merupakan landasan moral pembangunan manusia seutuhnya. Walaupun memiliki teknologi yang canggih dan ilmu pengetahuan yang maju, akan tetapi bila tidak diiringi dengan keimanan, maka pengendalian dan penyaringan terhadap budaya asing yang masuk tidak dapat terkontrol, sehingga moral bangsa tidak sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional. Pendidikan akhlak dalam pengertian Islam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama. Sesuatu yang baik adalah yang dianggap baik oleh agama dan yang buru dianggap buruk oleh agama. Seorang muslim tidak sempurna agamanya sehingga akhlaknya menjadi baik. Akhlak yang baik tidak akan dapat diwujudkan tanpa adanya usaha menanamkan Pendidikan Agama Islam sebagai proses sekaligus niat untuk mencapai tertanamnya akhlak yang 61

baik kepada generasi muda yang akan menjadi pengganti di masa yang akan datang. Memang lembaga pendidikan Islam hampir dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan kelas dua. Sehingga apabila guru sekolah non formal dihadapkan dengan guru sekolah formal, maka keberadaan guru sekolah non formal akan terkalahkan. Setidaknya, asumsi ini dapat didasarkan pada beberapa kenyataan, antara lain subsidi yang menjadi bagian lembaga pendidikan Islam pasti jauh lebih kecil dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum seperti yang berada di bawah koordinasi Departemen Pendidikan Nasional. Sarana dan prasarananya juga jauh berbeda. Akibatnya, lembaga pendidikan Islam dalam pembaharuannya selalu terlambat. Pertimbangan masyarakat sekarang dalam memilih pendidikan bagi anak-anaknya, saat ini berbeda dengan kondisi tempo dulu yang masih serba terbentuk dari keterbelakangan. Pada masa lalu, pendidikan lebih merupakan model untuk pembentukan maupun pewarisan nilai-nilai keagamaan dan tradisi masyarakatnya. Artinya kalau anaknya sudah mempunyai sikap positif dalam beragama dan dalam memelihara tradisi masyarakatnya, maka pendidikan dinilai sudah menjalankan misinya. Tentang seberapa jauh persoalan keterkaitannya dengan kepentingan ekonomi, ketenagakerjaan dan sebagainya merupakan persoalan kedua. Akan tetapi bagi masyarakat yang sudah semakin terdidik dan terbuka, pada umumnya lebih 62

rasional, pragmatis, berpikir jangka panjang dan karena tiga aspek (nilai, status sosial dan cita-cita) yang menjadi pertimbangan secara bersama-sama. Bahkan dua pertimbangan terakhir (status sosial dan cita-cita) cenderung lebih dominan. Sehingga dalam prakteknya sekarang ada saja problematika yang menjadi penghambat tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebagaimana diatas. Beberapa faktor yang menjadi sebab penurunan minat anak dalam mengaji al-qur an pasca Sekolah Dasar di Kelurahan Sembungharjo adalah sebagai berikut: 1. Faktor Dari Anak Usia anak-anak adalah usia yang sangat rentan dengan adanya pengaruh yang masuk dari luar dirinya sendiri, begitu juga dari lingkungan sekitar. Di samping itu pengaruh negatif yang berasal dari dalam dirinya juga perlu adanya perhatian sebagai suatu bentuk tindak pencegahan, karena pada usia anak-anak ini, mereka cenderung mengalami perubahan sikap dari yang tadinya patuh terhadap semua nasehat orang tua hingga sedikit demi sedikit mulai berontak bahkan mulai menentang terhadap nasehat dan perintah orang tua. Hal ini merupakan suatu perkembangan psikologi kejiwaan anak yang memang dalam masa pencarian jati diri, sehingga dalam dirinya terjadi kegoncangan-kegoncangan emosional yang kurang stabil bila tidak diimbangi dengan pengarahan yang tepat. 63

Beberapa sebab penurunan minat mengaji al-qur an bagi anak pasca Sekolah Dasar, yaitu sebagai berikut: a. Malas Hasil dari penelitian di lapangan, minat mengaji al-qur an bagi anak setelah lulus Sekolah Dasar di Kelurahan Sembungharjo menurun. Biasanya di Kelurahan Sembungharjo anak setelah sholat magrib melakukan kegiatan mengaji al-qur an di masjid atau di lembaga-lembaga pendidikan al-qur an, tetapi dengan zaman yang semakin berkembang anak setelah sholat magrib tidak mau mengaji al-qur an di masjid atau lembaga-lembaga pendidikan al-qur an. Hal ini disebabkan karena anak setelah magrib lebih suka nongkrong, main hp, dan nonton tv, sehingga anak ketika ditanya tidak ikut ngaji dek? anak menjawab malas mas kata Syihab Ulil Absor selaku anak pasca Sekolah Dasar di Kelurahan Sembungharjo. 2 Anak-anak biasanya akan terpengaruh dengan lingkungan tempat tinggal. Dalam masalah ini peran orang tua sangatlah penting dan dominan, karena orang tua-lah yang berperan penting untuk memberi pengarahan, Februari 2014 2 Wawancara dengan Syihab Ulil Absor, di Rumah, tanggal 17 64

dorongan dan motivasi supaya anak dalam mengaji al- Qur an tidak menurun. 3 b. Gengsi Dengan Anak yang Lebih Kecil Hasil dari penelitian di lapangan, minat mengaji al-qur an bagi anak setelah lulus Sekolah Dasar di Kelurahan Sembungharjo menurun. Zaman dahulu di Kelurahan Sembungharjo anak ketika sudah lulus Sekolah Dasar minat untuk mengaji al-qur an tetap masih tinggi, setelah shalat magrib biasanya remaja-remaja di Kelurahan Sembungharjo mulai dari yang kecil sampai dewasa bersama-sama mengaji al-qur an di masjid atau lembaga-lembaga pendidikan al-qur an. Kegiatan mengaji al-qur an secara bersama-sama mulai dari setelah shalat magrib sampai datang waktu shalat isya di Kelurahan Sembungharjo sudah menjadi tradisi, tetapi zaman sekarang ini minat untuk mengaji al- Qur an bersama-sama di masjid atau lembaga pendidikan al-qur an sudah menurun khususnya bagi anak setelah lulus Sekolah Dasar. Sekarang ini anak setelah shalat magrib tidak mau mengaji al-qur an bersama-sama di masjid, salah satu alasannya dari anak pasca Sekolah Dasar gengsi dan malu dengan teman-teman, soalnya 3 Wawancara dengan Bapak Ahmad Mursyid, Guru TPQ Rohmatul Hasanah, di Rumah, tanggal 16 Februari 2014 65

yang ikut mengaji itu di bawah usiaku kata Intan Pratiwi disela-sela kegiatannya bermain. 4 c. Adanya Beban Tugas Sekolah Hasil dari penelitian di lapangan, minat mengaji al-qur an bagi anak setelah lulus Sekolah Dasar di Kelurahan Sembungharjo menurun. Kegiatan mengaji al- Qur an setelah shalat magrib sudah menjadi tradisi di Kelurahan Sembungharjo, dahulu anak setelah shalat magrib kegiatannya hanya mengaji al-qur an di masjid atau lembaga-lembaga pendidikan al-qur an sampai shalat isya. Berbeda dengan zaman dahulu, sekarang ini anak pasca Sekolah Dasar di Kelurahan Sembungharjo setelah shalat magrib tidak mengaji al-qur an, tetapi anak-anak mengerjakan kegiatan lainnya, seperti: kegiatan les privat ilmu umum dan mengerjakan tugas-tugas sekolah, hal ini menjadikan minat untuk mengaji al-qur an bagi anak menurun khususnya anak pasca Sekolah Dasar dengan alasan karena di sekolah ada tugas dan kegiatan ekstra banyak kata Nia Lailatul Fitri anak pasca Sekolah Dasar. 5 4 Wawancara dengan Intan Pratiwi, di Rumah, tanggal 17 Februari 2014 5 Wawancara dengan Nia Lailatul Fitri, di Rumah, tanggal 12 Februari 2014 66

d. Merasa Sudah Bisa Hasil dari penelitian di lapangan, minat mengaji al-qur an bagi anak setelah lulus Sekolah Dasar di Kelurahan Sembungharjo menurun. Peneliti melihat fenomena di Kelurahan Sembungharjo bahwa anak setelah khatam al-qur an di masjid atau lembaga-lembaga pendidikan al-qur an dan anak ketika sudah lulus, biasanya anak sudah tidak mengaji lagi karena sudah merasa bisa, sehingga minat untuk mengaji al-qur an menurun. Fenomena yang ada di Kelurahan Sembungharjo ini juga dipertegas oleh K. Nurrozi selaku tokoh agama di Kelurahan Sembungharjo mengatakan: Ada sebagian anak yang sudah merasa bisa, anakanak yang sudah merasa bisa cukup membaca al- Qur an, itu biasanya dari anak-anak sekolah SMP, karena kalau sudah SMP dan ngajinya sudah khatam al-qur an kayaknya dia itu sudah merasa bisa membaca al-qur an. Padahal dia baca itu paspasan, fasih juga belum, tartil juga belum, apalagi sampai tahu makna, artinya dan mengamalkannya sangat jauh sekali. Untuk itu anak jangan sampai merasa puas, seharusnya anak harus diberi arahan dukungan oleh guru, kalau di rumah harus mendapat arahan dari orang tua. 6 6 Wawancara dengan Bapak Nurrozi, Pemuka Agama Desa Sembungharjo, di Rumah, tanggal 21 Februari 2014 67

tersebut. 7 Beberapa faktor lingkungan yang menyebabkan 2. Faktor Dari Lingkungan Disamping faktor yang berasal dari dalam diri sendiri, ada pula faktor yang berasal dari luar yakni faktor lingkungan, sebagaimana yang dijelaskan dalam pengaruh pembentuk kepribadian anak yaitu teori konvergensi, bahwa kepribadian anak itu dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari diri sendiri atau pembawaan dan faktor yang berasal dari luar yaitu lingkungan. Hal ini juga dialami oleh anak-anak Kelurahan Sembungharjo, yang mana minat mereka untuk mengaji juga tergantung dari banyaknya teman yang juga ikut mengaji, selain juga kurang adanya dorongan dari orang tua anak-anak penurunan minat mengaji al-qur an bagi anak pasca Sekolah Dasar, yaitu sebagai berikut: a. Pragmatisme Orang Tua Hasil dari penelitian di lapangan, bahwa pragmatisme orang tua di Kelurahan Sembungharjo mengenai pendidikan anak-anaknya lebih mengutamakan anaknya ke jenjang pendidikan formal, sehingga minat untuk mengaji al-qur an bagi anak khususnya pasca Sekolah Dasar menurun. 7 Observasi di Kelurahan Sembungharjo 68

Kebanyakan orang tua di Kelurahan Sembungharjo menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang dalam mengajarkan pendidikan Islam khususnya al- Qur an itu kurang, sehingga pengetahuan anak mengetahui al-qur an itu sangat kurang sekali. 8 Bapak Ahmad Mursyid selaku kepala TPQ Rohmatul Hasanah berkata: Zaman sekarang ini sangat disayangkan motivasi untuk anak dari orang tua sangatlah kurang, bahkan orang tua mempunyai anggapan, yaitu lebih bangga dalam mengutamakan anaknya di jenjang pendidikan formalnya, sebagai bekal karir di kehidupannya. 9 b. Daerah Trans Desa ke Kota Hasil dari penelitian di lapangan, bahwa letak Kelurahan Sembungharjo berdekatan dengan jalan pantura dan pusat Kota Semarang, sehingga budaya luar banyak yang masuk baik dari segi penampilan maupun tingkah laku. Biasanya anak-anak di Kelurahan Sembungharjo setelah shalat magrib melakukan kegiatan mengaji al- Qur an di masjid atau lembaga-lembaga pendidikan al- Qur an, tetapi setelah masuknya budaya luar minat anak khususnya anak pasca Sekolah Dasar untuk mengaji al- Qur an menurun, anak-anak di Kelurahan Sembungharjo 8 Observasi di Kelurahan Sembungharjo 9 Wawancara dengan Bapak Ahmad Mursyid, Guru TPQ Rohmatul Hasanah, di Rumah, tanggal 16 Februari 2014 69

setelah shalat magrib lebih suka main HP, internetan, dan nongkrong di pinggir jalan dari pada mengaji al-qur an di masjid atau lembaga-lembaga pendidikan al-qur an. 10 Perhatian orang tua terhadap anak dalam hal pendidikan al-qur an kurang di Kelurahan Sembungharjo, banyak orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya. Peneliti dalam masalah ini pernah bertanya kepada Muhammad Irfa selaku orang tua si anak, Apakah anda membiarkan anak anda dan tidak memperdulikannya dalam hal pendidikan al-qur an? Bapak Muhammad Irfa menjawab ya, terkadang mas. 11 Kurangnya perhatian orang tua terhadap anak menjadikan budaya luar mudah masuk dalam diri anak dan minat anak untuk mengaji al-qur an menjadi menurun. Dengan demikian, peran orang tua sangatlah penting dan dominan, karena orang tua-lah yang berperan penting untuk memberi pengarahan, dorongan dan motivasi supaya anak dalam mengaji al-qur an tidak menurun. c. Kurangnya Motivasi Dari Orang Tua atau Kerabat Hasil dari penelitian di lapangan, bahwa kebanyakan anak-anak dan remaja Islam saat ini di 10 Observasi di Kelurahan Sembungharjo 11 Wawancara dengan Bapak Muhammad Irfa, Orang tua anak paska Sekolah Dasar, di Rumah, tanggal 17 Februari 2014 70

Kelurahan Sembungharjo minat untuk mengaji menurun, dahulu anak-anak dan remaja di Kelurahan Sembungharjo selalu dibiasakan untuk mengaji setelah shalat magrib oleh para orang tua, baik di masjid ataupun di lembagalembaga pendidikan al-qur an. Bahkan mengajinya sampai masuk shalat isya, kemudian shalat isya berjamaah dan pulang kerumah masing-masing, tetapi saat ini kebiasaan tersebut memudar dikarenakan kurangnya motivasi dari orang tua. 12 Perhatian orang tua sangatlah penting bagi anak khususnya zaman sekarang ini, K. Nurrozi selaku tokoh agama di Kelurahan Sembungharjo mengatakan: Tidak adanya perhatian dari orang tua, tidak ada arahan dan dorongan dari orang tua untuk masuk pada sekolah agama baik formal maupun non formal, terus itu juga terjadi karena lingkungan, kalau anak itu sudah keluar dari sekolah dan tidak ada perhatian dari orang tua, kemudian diajak temannya bermain entah itu yang namanya play station, hp, internetan dan sebagainya, itu pun kalau tidak ada arahan dari orang tua, maka anak itu akan sangat sulit untuk mau mengaji, sekolah madrasah, itu sudah tidak mau lagi, karena tidak ada keseriusan dari orang tua, tidak ada arahan dan dorongan dari orang tua. 13 12 Observasi di Kelurahan Sembungharjo 13 Wawancara dengan Bapak Nurrozi, Pemuka Agama Kelurahan Sembungharjo, di Rumah, tanggal 21 Februari 2014 71

Jadi peran orang tua dalam mendidik anak khususnya pendidikan agama sangat-lah penting. d. Munculnya Paradigma Baru Bahwa Mengaji Hanyalah Tradisi Hasil dari penelitian di lapangan, bahwa di Kelurahan Sembungharjo mengaji al-qur an itu cuma hanya-lah tradisi bukan merupakan suatu kewajiban. Anak-anak di Kelurahan Sembungharjo pasca Sekolah Dasar minat untuk mengaji al-qur an menurun, anak lebih suka nonton tv, main hp, internetan, dan nongkrong di pinggir jalan. Bahkan motivasi orang tua kepada anak untuk mengaji al-qur an kurang, karena mengaji al- Qur an dianggap cuma hanya tradisi bukan merupakan suatu kewajiban seorang muslim. 14 Ustadz Ahmad Mursyid selaku guru TPQ Rohmatul Hasanah mengatakan, paradigma yang terbangun di masyarakat perkotaan saat ini adalah bahwa dalam kota besar mengaji hanya sebagai budaya. 15 e. Acara Televisi atau Adanya Media Elektronik Lainnya Hasil dari penelitian di lapangan, bahwa setelah sholat magrib anak-anak pasca Sekolah Dasar di Kelurahan Sembungharjo lebih suka menonton tv, 14 Observasi di Kelurahan Sembungharjo 15 Wawancara dengan Bapak Ahmad Mursyid, Guru TPQ Rohmatul Hasanah, di Rumah, tanggal 16 Februari 2014 72

bermain hp dan sebagainya, sehingga minat anak untuk mengaji al-qur an menurun. Dahulu anak-anak setelah sholat magrib sampai shalat isya bersama-sama mengaji al-qur an di masjid atau di lembaga-lembaga pendidikan ak-qur an, setelah mengaji dilanjutkan dengan melakukan berjama ah shalat isya, tetapi dengan perkembangan media elektronik anak-anak di Kelurahan Sembungharjo lebih suka bermain media elektronik dari pada mengaji al- Qur an di masjid atau lembaga-lembaga pendidikan al- Qur an. 16 3. Faktor Dari Pembelajaran Keberhasilan suatu pendidikan juga tergantung oleh ketepatan sistem pembelajaran yang digunakan, disamping harus terpenuhinya unsur-unsur pendidikan yang lainnya. Begitu pula halnya dalam mengaji al-qur an yang dilaksanakan di Kelurahan Sembungharjo yang perlu adanya sistem pembelajaran yang tepat agar mampu menghasilkan peserta didik yang unggul dan berakhlak mulia. Beberapa penyebab penurunan minat mengaji al- Qur an bagi anak pasca Sekolah Dasar dalam bidang pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Tidak Adanya Pembagian Kelas Berdasarkan Kemampuan 16 Observasi di Kelurahan Sembungharjo 73

Hasil dari penelitian di lapangan, bahwa di Kelurahan Sembungharjo lembaga-lembaga pendidikan al-qur an atau masjid sebagai tempat mengaji al-qur an bagi anak-anak tidak ada pembagian kelas, semuanya dijadikan satu dalam satu ruangan, sehingga kondisi dalam proses pembelajaran menjadi kurang baik. 17 Ustadz Ahmad Mursyid selaku guru TPQ Rohmatul Hasanah mengatakan, faktor pembelajaran yang mempengaruhi menurunnya minat mengaji al-qur an bagi anak adalah tidak adanya pembagian kelas. 18 b. Tidak Adanya Target yang Dijadikan Standarisasi Kesuksesan Dalam Belajar (Kurikulum yang Jelas) Hasil dari penelitian di lapangan, bahwa di Kelurahan Sembungharjo lembaga-lembaga pendidikan al-qur an atau masjid sebagai tempat mengaji al-qur an bagi anak-anak tidak ada kurikulum yang jelas, anak datang mengaji langsung diajari oleh ustadz membaca al- Qur an tanpa adanya target yang dijadikan standarisasi kesuksesan dalam belajar. 19 Sehingga minat anak untuk mengaji al-qur an menurun. 17 Observasi di Kelurahan Sembungharjo 18 Wawancara dengan Bapak Ahmad Mursyid, Guru TPQ Rohmatul Hasanah, di Rumah, tanggal 16 Februari 2014 19 Observasi di Kelurahan Sembungharjo 74

Ketika peneliti bertanya kepada anak, Bagaimana kesan menurut adik dalam proses mengaji al- Qur an? anak menjawab, kadang senang kadang bosan kata Intan Pratiwi selaku anak pasca Sekolah Dasar di Kelurahan Sembungharjo. 20 Ustadz Ahmad Mursyid selaku guru TPQ Rohmatul Hasanah mengatakan, faktor pembelajaran yang mempengaruhi menurunnya minat mengaji al-qur an bagi anak adalah tidak adanya kurikulum yang jelas. 21 c. Kurangnya Sarana dan Prasarana Hasil dari penelitian di lapangan, lembagalembaga pendidikan al-qur an dan masjid sebagai tempat mengaji al-qur an bagi anak-anak di Kelurahan Sembungharjo untuk sarana dan prasaranya kurang, seperti: papan tulis cuma hanya satu, terkadang kekurangan kapur tulis, ruangannya terbatas. 22 Kurangnya sarana dan prasarana menjadikan minat anak untuk mengaji al-qur an menurun. Ustadz Ahmad Mursyid selaku guru TPQ Rohmatul Hasanah mengatakan, faktor pembelajaran yang mempengaruhi menurunnya minat 2014 20 Wawancara dengan Intan Pratiwi, di Rumah, tanggal 17 Februari 21 Wawancara dengan Bapak Ahmad Mursyid, Guru TPQ Rohmatul Hasanah, di Rumah, tanggal 16 Februari 2014 22 Observasi di Kelurahan Sembungharjo 75

mengaji al-qur an bagi anak salah satunya adalah kurangnya sarana dan prasarana. 23 Pengadaan sarana dan prasarana belajar yang memadai sangatlah berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di lembaga pendidikan. Sarana dan prasarana yang lengkap di lembaga pendidikan membuat guru dan siswa menjadi gairah dalam proses pembelajaran, sebab segala pasilitas yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar terpenuhi sehingga guru dan siswa mampu melaksanakan proses pembelajaran dengan optimal. Dengan demikian, pengadaan sarana prasarana belajar di lembaga pendidikan menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan pendidikan. Kenyataan di lapangan, pengadaan sarana prasarana belajar masih menjadi kendala yang hampir terjadi di masing-masing lembaga pendidikan. Sarana prasarana belajar yang kurang memadai atau belum memenuhi standar sebagaimana yang telah ditetapkan pemerintah, menjadi salah satu faktor penghambat dalam melaksanakan proses pembelajaran di lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan Islam. 23 Wawancara dengan Bapak Ahmad Mursyid, Guru TPQ Rohmatul Hasanah, di Rumah, tanggal 16 Februari 2014 76

d. Alokasi Waktu yang Relatif Singkat Hasil dari penelitian di lapangan, bahwa di Kelurahan Sembungharjo untuk mengaji al-qur an di masjid atau lembaga-lembaga pendidikan al-qur an alokasi waktunya relatif singkat, waktu mengaji mulai setelah shalat magrib sampai isya. Jumlah pengajar di masjid kurang sedangkan muridnya banyak, sehingga waktu untuk mengajar menjadi singkat. 24 Hal ini menjadikan minat anak untuk mengaji menurun. Ustadz Ahmad Mursyid selaku guru TPQ Rohmatul Hasanah mengatakan, faktor pembelajaran yang mempengaruhi menurunnya minat mengaji al- Qur an bagi anak adalah salah satunya alokasi waktu yang relatif singkat. 25 e. Kurangnya Tenaga Pendidikan Hasil dari penelitian di lapangan, bahwa kurangnya tenaga pendidik menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya minat mengaji al-qur an bagi anak pasca Sekolah Dasar. Jumlah guru mengaji di Kelurahan Sembungharjo menjadi tidak sebanding dengan jumlah generasi muda Islam di Kelurahan Sembungharjo yang 24 Observasi di Kelurahan Sembungharjo 25 Wawancara dengan Bapak Ahmad Mursyid, Guru TPQ Rohmatul Hasanah, di Rumah, tanggal 16 Februari 2014 77

semakin banyak. 26 Sehingga sebagian remaja Islam di Kelurahan Sembungharjo sangat kurang mendapatkan pengajaran membaca Alquran dan minat untuk mengaji al-qur an menurun. Ustadz Ahmad Mursyid selaku guru TPQ Rohmatul Hasanah mengatakan, faktor pembelajaran yang mempengaruhi menurunnya minat mengaji al-qur an bagi anak adalah salah satunya alokasi waktu yang relatif singkat. 27 B. Solusi Untuk Mengatasi Penurunan Minat Mengaji Al-Qur an Bagi Anak Pasca Sekolah Dasar Melihat banyaknya faktor-faktor penyebab penurunan minat mengaji al-qur an bagi anak pasca Sekolah Dasar yang telah diuraikan dalam di atas, perlu adanya langkah-langkah yang harus ditempuh sebagai solusi atas beberapa faktor tersebut, diantaranya adalah: 1. Faktor Dari Anak Perlu adanya kesadaran yang harus ditumbuhkan sejak dini bahwa mengaji al-qur an merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat muslim. Selain al-qur an sebagai kitab suci umat Islam, sudah seyogyanya sebagai umat yang taat beragama untuk dapat membaca dengan baik 26 Observasi di Kelurahan Sembungharjo 27 Wawancara dengan Bapak Ahmad Mursyid, Guru TPQ Rohmatul Hasanah, di Rumah, tanggal 16 Februari 2014 78

dan benar serta mampu memahami kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pemberian motivasi tersebut harus dilakukan oleh setiap orang tua yang menginginkan anaknya menjadi anak yang berakhlak baik kelak, jadi tidak sebatas do a yang mereka panjatkan namun usaha untuk mendidik anak tentang ilmu agama pun perlu ditekankan. 28 Sebagai langkah lanjutan apabila anak tersebut telah merasa bisa dalam mengaji al-qur an adalah dengan mendidiknya pada pondok pesantren agar pengetahuan keagamaannya semakin mendalam. 2. Faktor Dari Lingkungan Dukungan atau motivasi dari orang-orang terdekat sangat bermakna dalam perkembangan kepribadian sang anak. Terlebih para orang tua yang juga tidak boleh hanya menitik beratkan pendidikan anaknya dalam bidang ilmu-ilmu umum saja, tapi orang tua dalam mendidik anak harus adanya keseimbangan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum sebagai bekal untuk anak dalam menjalani kehidupan ini. Dukungan yang diberikan oleh orang tua kepada anak bisa berupa arahan, dorongan dan perintah kepada anakanaknya untuk mengaji al-qur an minimal sampai mengkhatamkan al-qur an, atau memberikan momentum 28 Wawancara dengan Bapak Nurrozi, Pemuka Agama Desa Sembungharjo, di Rumah, tanggal 21 Februari 2014 79

kepada anak sebagaimana yang dilakukan orang tua zaman dahulu yaitu dengan mengatakan kepada anak laki-lakinya bahwa mereka diperbolehkan sunat manakala telah khatam mengaji al-qur an. Bila orang tua tidak memberikan arahan dan dorongan kepadan anak, maka anak akan menjadi liar, imannya tipis dan mudah sekali goyah yang dapat membahayakan anak itu sendiri. 29 Selain itu, untuk mengatasi masuknya budaya barat yang sangat cepat, maka perlu adanya perhatian lebih terhadap anak-anak seperti pembagian waktu menonton televisi, mengarahkan atau memberikan pengertian kepada anak terhadap acara televisi yang mereka tonton. Bahkan realita yang terjadi sekarang adalah acaraacara televisi untuk anak-anak yang semula kebanyakan ditayangkan pada hari libur sekolah atau hari minggu, sekarang jam penayangannya pun mengalami pergeseran yaitu pada waktu antara sholat maghrib dan sholat isya. Hal ini perlu menjadi pemikiran bersama karena pada waktu itu adalah waktu yang sangat baik digunakan untuk belajar yaitu belajar mengaji al-qur an. Sehingga orang tua perlu mengambil tindakan atas hal ini supaya perhatian anak untuk belajar tidak teralihkan dengan acara-acara televisi tersebut. 29 Wawancara dengan Bapak Nurrozi, Pemuka Agama Desa Sembungharjo, di Rumah, tanggal 21 Februari 2014 80

3. Faktor Dari Pembelajaran Media, alat serta lingkungan menjadi sangat penting karena mempengaruhi terhadap tersampaikan atau tidaknya suatu materi pembelajaran kepada peserta didik. Untuk itu perlu adanya rumusan kurikulum yang jelas, pembagian kelas berdasarkan kemampuan atau umur, pemenuhan fasilitas pendukung proses belajar mengajar serta penambahan tenaga pendidik dalam proses belajar selain untuk mengefesienkan waktu juga agar anak-anak tidak merasa bosan karena harus berhadapan dengan seorang pengajar secara terus-menerus. 30 Disamping pemenuhan unsur-unsur pembelajaran tersebut, perlu juga adanya sinkronisasi materi keagamaan lintas jenjang pendidikan dalam memberikan muatan pendidikan Islam sesuai porsinya, karena untuk merubah term yang sudah melekat disuatu wilayah perlu adanya kerjasama dari semua pihak agar tujuan dari pembelajaran itu pun bisa tersampaikan secara maksimal. Pendidikan agama merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi pada masa perkembangan kepribadian anak guna menjadi filter terhadap arus globalisasi yang begitu cepat. Banyak kajian yang bisa diberikan dalam ilmu-ilmu agama kepada anak sebagai bekal menjalankan amanah Tuhan sebagai khalifah di bumi ini. 30 Wawancara dengan Bapak Ahmad Mursyid, Guru TPQ Rohmatul Hasanah, di Rumah, tanggal 16 Februari 2014 81

Selama melakukan penelitian, peneliti menemukan beberapa hal baru yang juga perlu adanya pembenahan sebagai evaluasi dalam pelaksanaan pendidikan khususnya pendidikan agama yang terjadi di Kelurahan Sembungharjo Genuk Semarang. Beberapa temuan tersebut antara lain sebagai berikut: a. Disamping terjadi penurunan minat mengaji pasca Sekolah Dasar, namun ada peningkatan jumlah anak yang belajar baca tulis di TPQ. b. Adanya perubahan pola fikir orang tua bahwa untuk pendidikan mengaji al-qur an sudah cukup dengan menyekolahkan anaknya pada TPQ yang sudah ada. c. Keberadaan TPQ tidak diminati oleh anak-anak SMP ke atas. d. Perlu adanya pembaharuan dalam bidang metode belajar al-qur an yang bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, karena metode Iqra dan Qiro ati sudah mulai kurang diminati anak-anak. e. Mengaji al-qur an sekarang hanya dipandang sebagai ritual kebudayaan yang akan dilalui oleh semua umat muslim saat masih kecil saja tanpa adanya motivasi untuk mendalaminya. Adanya beberapa temuan baru di atas akan menjadi PR kita semua karena perlu adanya ikhtiar bersama disemua kalangan untuk bersama-sama mengatasinya. Disadari atau 82

tidak, sekarang jumlah generasi muslim yang mampu membaca al-qur an dengan baik kuantitasnya semakin berkurang. Bahkan yang lebih memprihatinkan adalah adanya umat muslim yang hingga masa remaja tidak pernah bersentuhan dengan al-qur an sama sekali. Itulah realita yang terjadi di sekitar kita, untuk itu penulis mengajak kepada semua pembaca untuk turut serta dalam mengatasi problematika tersebut. 83