TEORI EKONOMI POLITIK (2)

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

Kewirausahaan. Persaingan Dalam Pasar Bebas. Reddy Anggara, S.Ikom., M.Ikom. Modul ke: Fakultas Fakultas Teknik. Program Studi Arsitektur

TEORI MODAL SOSIAL (2)

KOMUNIKASI PEMASARAN POLITIK

BAB II KAJIAN PUSTAKA. semua warga menikmati kebebasan untuk berbicara, kebebasan berserikat,

BAB I PENDAHULUAN. Praktek rent seeking (mencari rente) merupakan tindakan setiap kelompok

TATA HUBUNGAN KERJA BIROKRASI DAN POLITIK DI INDONESIA PASCA REFORMASI

publik pada sektor beras karena tidak memiliki sumber-sumber kekuatan yang cukup memadai untuk melawan kekuatan oligarki politik lama.

BAB VI PENUTUP. manusia. Pada sisi lainnya, tembakau memberikan dampak besar baik bagi

Kekuasaan & Proses Pembuatan Kebijakan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB 8 PENUTUP. Manfaat Investasi terhadap Ekonomi

Smile Indonesia LOBI LO DAN NEGO DAN SIASI NEGO

Disarikan dari Ashur, dan Berbagai Sumber Yang Relevan

DEMOKRASI & POLITIK DESENTRALISASI

SISTEM DAN LINGKUNGAN BISNIS. Muniya Alteza

I. TINJAUAN PUSTAKA. dalam ukuran financial (Yuna Farhan, Menelaah Arah Politik Anggaran di. Indonesia, dalam Herzon, Tesis, UGM, 29).

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan, dan golongan tertentu saja. Yaitu kepentingan politik kekuasaan, bukan kepada publik.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2003 TENTANG BADAN PENGAWAS PASAR TENAGA LISTRIK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB 5 KESIMPULAN. kebutuhan untuk menghasilkan rekomendasi yang lebih spesifik bagi para aktor

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2003 TENTANG BADAN PENGAWAS PASAR TENAGA LISTRIK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

dipersyaratkan untuk terselenggaranya tata kelola pemerintahan secara efektif dan efisien serta mampu mendorong terciptanya daya saing daerah pada tin

Peran Pemerintah dalam Perekonomian

Pengantar Presiden RI pada Sidang Kabinet Paripurna, di Kantor Presiden, tanggal 1 April 2014 Selasa, 01 April 2014

PENGANTAR EKONOMI KELEMBAGAAN (ESL224)

TIPE INSTRUMEN EKONOMI, KELEBIHAN & KEKURANGAN

BAB I PENDAHULUAN. setiap anggaran tahunan jumlahnya semestinya relatif besar. publik. Beberapa proyek fisik menghasilkan output berupa bangunan yang

BAB I PENDAHULUAN. demokrasi, desentralisasi dan globalisasi. Jawaban yang tepat untuk menjawab

MODUL EKONOMI. Penulis MARLIA NOVIANA UNTUK KELAS

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR..TAHUN.. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

Menuju Pemilu Demokratis yang Partisipatif, Adil, dan Setara. Pusat Kajian Politik (Puskapol) FISIP Universitas Indonesia Jakarta, 16 Desember 2015

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG

Perempuan dan Pembangunan Berkelanjutan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2003 TENTANG BADAN PENGAWAS PASAR TENAGA LISTRIK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BADAN EKSEKUTIF OLEH: ADIYANA SLAMET. Disampaikan Pada Kuliah Pengantar Ilmu Politik Pertemuan Ke-6 (IK-1,3,4,5)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. fungsi-fungsi tersebut. Sebagaimana lembaga legislatif DPRD berfungsi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Frankfurt. Para tokoh Mazhab Frankfurt generasi pertama terjebak dalam

Pemangku Kepentingan, Manajer, dan Etika

BAB VI PENUTUP. dapat mendorong proses penganggaran khususnya APBD Kota Padang tahun

akibatnya fenomena seperti ini menjadi hal yang berdampak sistemik. Tawuran pelajar yang

PROPERTY RIGHT (HAK KEPEMILIKAN) DALAM EKONOMI KELEMBAGAAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEBIJAKAN PEMERINTAHAN

BAB I PENDAHULUAN. (DPRD) mempunyai tiga fungsi yaitu : 1) Fungsi legislatif (fungsi membuat

DAFTAR PERTANYAAN. Akuntabilitas Anggota Legislatif Terpilih Pada Pemilu 2009.

BAB 14 PERWUJUDAN LEMBAGA DEMOKRASI YANG MAKIN KUKUH

Standar Audit SA 220. Pengendalian Mutu untuk Audit atas Laporan Keuangan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB. Feni Fasta, SE, M.Si SISTEM PEREKONOMIAN INDONESIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manusia. Konflik oleh beberapa aktor dijadikan sebagai salah satu cara

=BAHAN TAYANG MODUL 14 RANI PURWANTI KEMALASARI SH.MH. Modul ke: Fakultas TEKNIK. Program Studi SIPIL.

LD NO.14 PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PENANAMAN MODAL I. UMUM

BAB VII PENUTUP. sebelumnya, dapat ditarik beberapa kesimpulan mengenai penelitian dengan judul

BAB I PENDAHULUAN. merumuskan dan menyalurkan kepentingan masyarakat.partai politik juga

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: harga tanah. Lembaga pertanahan berkewajiban untuk melakukan

PASAR MONOPOLI PENDAHULUAN BAB I

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 117, T

Program Sasaran

Pemilu Serentak 2019 dan Penguatan Demokrasi Presidensial di Indonesia. Oleh Syamsuddin Haris

BAB V PENUTUP. LOD DIY sebagai invited space menggunakan formasi kuasa yang ada dalam

URGENSI UNDANG-UNDANG PEMILU DAN PEMANTAPAN STABILITAS POLITIK 2014

GOOD GOVERNANCE. Bahan Kuliah 10 Akuntabilitas Publik & Pengawasan 02 Mei 2007

PENDAHULUAN Latar belakang Penelitian

BAB V. Kesimpulan. lahir dalam amandemen ketiga. Secara de facto DPD RI baru ada pada tanggal 1

Dr. Mardiyono: Kualitas Otonomi Daerah dari Perspektif Autopoiesis

BAB I PENDAHULUAN UKDW. dan penerimaan devisa. Di Negara yang sedang berkembang usaha yang

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB VIII TIGA BUTIR SIMPULAN. Pada bagian penutup, saya sampaikan tiga simpulan terkait kebijakan

BAB I PENDAHULUAN. Seluruh kegiatan politik berlangsung dalam suatu sistem. Politik, salah

EKONOMI. Pelaku Ekonomi dalam Sistem Perekonomian

BAB V PENUTUP. kebijakan isolasi untuk menutup negara Myanmar dari dunia internasional. Semua. aspek kehidupan mulai dari politik, ekonomi, hukum

Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi dan Reformasi Hukum

DINAMIKA PERUBAHAN & RESOLUSI KONFLIK

TUGAS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MAKALAH DEMOKRASI PANCASILA INDONESIA

ETIKA BISNIS INTERNASIONAL. Week 5

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Konstitusionalisme SDA Migas. Zainal Arifin Mochtar Pengajar Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Dr. Ir. Teguh Kismantoroadji, M.Si. Ir. Daru Retnowati, M.Si.

BAB V PENUTUP. yang melibatkan birokrat masuk dalam arena pertarungan politik yang terjadi dalam

EKONOMI KELEMBAGAAN (8)

REGULASI PENYIARAN DI INDONESIA

SIARAN PERS LENGKAP Jadikan 2014 sebagai Pemilu Nasional [Untuk Memilih Presiden dan Wakil Presiden, DPR dan DPD Secara Serentak]

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. Sejak bergulirnya era reformasi di Indonesia yang dimulai pada tahun 1998,

APLIKASI TEORI PADA REGULASI AKUNTANSI. Ada tiga teori yang relevan pada akuntansi dan auditing yang dapat diaplikasikan

Transkripsi:

Dr. Ir. Teguh Kismantoroadji, M.Si. teguhfp.wordpress.com TEORI EKONOMI POLITIK (2) TEORI PILIHAN PUBLIK: Mengkaji tindakan rasional dari aktor-aktor politik (SEBAGAI PUSAT KAJIAN) di parlemen, lembaga pemerintahan, lembaga kepresidenan, masyarakat pemilih, pecinta lingkungan, dll.

MENDESKRIPSIKAN: 1. Politik sebagai wujud demokrasi, yang memberi ruang gerak pertukaran di antara masyarakat, partai politik, pemerintah, dan birokrat. 2. Masyarakat pemilih sebagai pembeli barang publik (kolektif) Pemerintah/partai politik sebagai alternatif penyedia kebijakan publik (barang dan jasa). 3. Jangka panjang, bisa meminta dukungan dari pemilih lewat Pemilu.

DITERJEMAHKAN: 1. Aplikasi metode ekonomi terhadap politik, yaitu mengaplikasikan perangkat analisis ekonomi ke dalam proses nonpasar atau politik di bawah formulasi dan implementasi kebijakan publik. 2. Sebagai kritik komprehensif terhadap intervensi negara dalam ekonomi pasar.

ASUMSI: 1. Maksimalisasi kegunaan. 2. Individu sebagai pelaku rasional mencapai keuntungannya sendiri. Di pasar, pengusaha memaksimalkan keuntungan. Politisi dan birokrat memperbesar kekuasaan. 3. Kebijakan yang melindungi industri tertentu, dianggap sebagai keseimbangan rasional, yang memuaskan pejabat pemerintah untuk terus berkuasa, dan memuaskan pengusaha mengejar peningkatan profit.

1. Tindakan manusia dalam pengertian ekonomi dan tidak terkait dengan nilai-nilai yang menuntun keputusan rasional. 2. Capaian-capaian sosial diproduksi melalui kumpulan tindakan individu 3. SUPPLY, (a) pusat kekuasaan yang dipilih/pkd, yaitu badan legislatif dan eksekutif (Pemerintah pusatb dan daerah), dan (b) pusat kekuasaan yang tidak dipilih/pktd (Lembaga independen, dan Organisasi internasional).

4. PKD merespons setiap permintaan dari pemilih dan sensitif terhadap informasi dari kelompok penekan 5. PKTD hanya sensitif terhadap permintaan dari kelompok kepentingan 6. DEMAND, (a) pemilih, akan mengontrol suara untuk mendapatkan kebijakan yang diinginkan, dan (b) kelompok penekan, akan mengelola sumberdaya yang dimiliki untuk memperoleh keuntungan.

TEORI RENT-SEEKING: Kegiatan mencari untung dimaknai netral, karena individu/kelompok memperoleh keuntungan dari aktivitas ekonomi legal (menyewakan tanah, modal, dll). Pendapatan individu yang diperoleh dari penyewaan setara dengan pendapatan karena menanamkan modal maupun menjual tenaga dan jasa.

ASUMSI: Setiap kelompok kepentingan berupaya mendapat keuntungan ekonomi yang sebesarbesarnya dengan upaya sekecil-kecilnya. Lobi ditempuh untuk menggapai tujuan. Jika lobi berupa kebijakan, implikasi yang muncul sangat besar.

DEFINISI: 1. Upaya individu/kelompok untuk meningkatkan pendapatan melalui pemanfaatan regulasi pemerintah. 2. Kelompok bisnis dan perseorangan, mencari rente ekonomi ketika mereka menggunakan kekuasaan pemerintah untuk menghambat penawaran atau peningkatan permintaan sumberdaya yang dimiliki.

CONTOH: 1. ORBA: persekutuan bisnis besar (yang menikmati fasilitas monopoli maupun lisensi impor) dengan birokrasi pemerintah. 2. Perusahaan swasta sebagian besar dikuasai orang yang memiliki hubungan pribadi khusus dengan elite pemerintah. 3. Dengan fasilitas tersebut, pemilik rente ekonomi memperoleh dua keuntungan (a) mendapatkan laba yang berlebih dan (b) mencegah pesaing masuk dalam pasar.

TEORI REDISTRIBUTIVE COMBINES : 1. Sumber-sumber ekonomi, aset produktif, dan modal didistribusikan secara terbatas hanya di lingkungan segelintir orang. 2. Di dalam suatu negara korporatis kesejahteraan dan hasil-hasil pembangunan ekonomi hanya bergulir di lingkungan terbatas puncak kekuasaan dan segelintir pengusaha besar yang mendapat privelege khusus.

BERLAKU KARENA: 1. Sistem politik yang tertutup karena dilindungi sistem hukum yang kabur dan ketiadaan rule of law di bidang ekonomi. 2. Sistem ekonomi bersedia mengabdi pada sistem politik dengan pola redistributive combines. 3. Sistem hukum sengaja dibiarkan kabur dan prosedur penetapannya dikendalikan di tangan kekuasaan eksekutif sehingga produk hukum yang muncul tetap berpihak kepada penguasa. 4. Kebijakan yang muncul sebagai hasil interaksi antara kelompok kepentingan (ekonomi) dan pemerintah, kerapkali cuma menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak lain. Muncul isu ketidakadilan.

TEORI KEADILAN: 1. Setiap orang harus mempunyai hak yang sama terhadap skema kebebasan dasar yang sejajar 2. Ketimpangan sosial dan ekonomi harus ditangani, sehingga (a) diekspektasikan secara logis menguntungkan setiap orang, dan (b) dicantumkan posisi dan jabatan yang terbuka bagi setiap orang

KEYAKINAN: 1. Keadilan adalah kepatutan/kepantasan (fairness). 2. Keadilan berdiri di atas bangunan kepatutan shg akan menghasilkan kesepakatan dan negosiasi yang imparsial, yaitu situasi yang didesain untuk memperkuat ketiadaan kepentingan perwakilan yang dibebankan kepada pihak lain. 3. Kebijakan yang mengandaikan adanya relasi antara aktor dan struktur memunculkan ketidakadilan jika mengandung unsur ketidakpatutan (unfairness).

DAMPAK: 1. Pasar bebas justru menimbulkan ketidakadilan 2. Pasar bebas mengizinkan pembagian kekayaan dipengaruhi secara tidak tepat oleh kondisi (alam dan sosial), inilah kesewenang-wenangan. 3. Tiap orang masuk ke pasar dengan bakat dan kemampuan alamiah yang berlainan. 4. Peluang sama yang diberikan pasar tidak akan menguntungkan semua peserta. 5. Pasar justru merupakan pranata yang tidak adil.