BAB 2 DATA & ANALISA

dokumen-dokumen yang mirip
1. PENDAHULUAN. tidur hingga kembali tidur. Menurut Harold Lasswell, lalu lintas dimana polisi lalu lintas bertindak sebagai komunikator

No Petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Penyidik Pegawai Negeri Sipil di bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan maupun secara berk

I. PENDAHULUAN. Negara Indonesia merupakan negara hukum yang hampir semua aspek di

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2012, No MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN DAN PENINDAKAN PELANGGARAN LALU

Masyarakat Transparansi Indonesia Kajian Page 1 of 6

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN DAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pifih Setiawati, 2013

TATA CARA PEMERIKSAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN DAN PENINDAKAN PELANGGARAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN DAN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PELAYANAN SIM NO. REVISI 00 TANGGAL TERBIT: 2016 DIPERIKSA OLEH KASAT LANTAS T T D

KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA JAKARTA

Nomor 187, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5346); 3. Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2015 tentang Kementerian Perhubungan (Lembara

PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan penggunaan sepeda motor di Negara Indonesia sebagai salah

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS WIJAYA PUTRA SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lalu lintas dan angkutan jalan mempunyai peran strategis dalam

1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penelitian 1.4 Metode Penelitian

MENYOROTI MARAKNYA PENGENDARA MOTOR DIBAWAH UMUR Oleh: Imas Sholihah * Naskah diterima: 13 Juni 2016; disetujui: 02 Agustus 2016

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan pengguna jalan raya berkeinginan untuk segera sampai. terlambat, saling serobot atau yang lain. 1

Untuk kewenangan kejaksaan di bidang pidana yang menyangkut tentang eksekutor adalah merupakan tindakan dari pihak kejaksaan sebagai eksekutor (pelaks

92 PERSEN SETORAN TARIF STNK DAN BPKB MASUK KE POLRI

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH KALIMANTAN TIMUR RESOR MALINAU TRANSPARANSI PELAYANAN SIM, STNK DAN BPKB

BUPATI TAPIN PERATURAN DERAH KABUPATEN TAPIN NOMOR 15 TAHUN TAHUN 2010 TENTANG PERIZINAN DIBIDANG ANGKUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG

I. PENDAHULUAN. Salah satu persoalan yang selalu dihadapi di kota-kota besar adalah masalah lalu lintas. Hal ini

I. PENDAHULUAN. penduduk kota Bandar Lampung yang semakin padat dan pertambahan jumlah

BAB I PENDAHULUAN. dan terwujudnya rasa aman, tentram, tertib dan damai sebagai suatu amanah dan

DALAM DAERAH KABUPATEN BERAU.

PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN

PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 19 TAHUN 2001 SERI B NOMOR 3 PERATURAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 6 TAHUN 2001 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT NOMOR 18 TAHUN 2007 T E N T A N G RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DI TEPI JALAN UMUM

Surat Ijin Mengemudi (SIM)

BAB III PENUTUP. permasalahan dalam penulisan hukum ini sebagai berikut: menggunakan telepon seluler pada saat berkendara adalah langsung

Oleh : BAYU PURNOMO SETYAWAN C

DAFTAR ISIAN PIRANTI LUNAK PADA SAT LANTAS POLRES LOMBOK TENGAH YANG BERSUMBER DARI MABES POLRI / POLDA NTB

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

BAB I PENDAHULUAN. Telepon genggam atau yang lebih dikenal dengan handphone (HP) merupakan

PENERAPAN PIDANA DENDA DALAM KASUS PELANGGARAN LALU LINTAS DI MEDAN (STUDI PELANGGARAN LALU LINTAS DI MEDAN) JURNAL ILMIAH OLEH:

I. PENDAHULUAN. Keadaan di dalam masyarakat yang harmonis akan terpelihara dengan baik jika tercipta

BAB I PENDAHULUAN. dalam 72 Persen Keluarga Indonesia Pengguna Sepeda

Mengenal Undang Undang Lalu Lintas

WALI KOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALI KOTA DEPOK NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG ANGKUTAN ORANG DENGAN SEPEDA MOTOR

I. PENDAHULUAN. dan mencerminkan kehendak rambu-rambu hukum yang berlaku bagi semua subyek

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

ANALISIS PENERAPAN E-TILANG TERHADAP MASYARAKAT Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Metodologi Penelitian

I. PENDAHULUAN. menjembatani kesenjangan dan mendorong pemerataan hasil-hasil pembangunan antar wilayah,

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa. bantuan orang lain dan terjadi ketergantungan juga

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor antara lain, keadaan geografis

BAB I PENDAHULUAN. untuk keperluan tertentu dengan mempergunakan alat tertentu pula.

TINJAUAN YURIDIS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN TERHADAP TINGKAT KESADARAN DAN KEPATUHAN MASYARAKAT SUMENEP

- 1 - BUPATI JENEPONTO. Jalan Lanto Dg. Pasewang No. 34 Jeneponto Telp. (0419) Kode Pos 92311

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 11 TAHUN 2002 TENTANG PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN,

KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA JAKARTA

Menimbang. 9. Ketetapan Majelis Wali Amanat Institut Pertanian Bogor Nomor

BAB I PENDAHULUAN. transportasi. Menurut Morlok (1991) transportasi adalah suatu proses pergerakan atau

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. terhadap Terminal Leuwi Panjang Bandung seperti yang telah diuraikan Time headway dan waktu tunggu rerata (Wtr).

PENYELESAIAN PERKARA PIDANA DI LUAR PENGADILAN TERHADAP DUGAAN KEJAHATAN PASAL 359 KUHP DALAM PERKARA LALU LINTAS

PENYELESAIAN PERKARA PIDANA DI LUAR PENGADILAN TERHADAP DUGAAN KEJAHATAN PASAL 359 KUHP DALAM PERKARA LALU LINTAS

UU No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan: Tidak Efisien dan Tidak Efektif Oleh: Imam Nasima

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keberhasilan pembangunan yang dilakukan pemerintah memberikan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTAMADYA KEPALA DAERAH TINGKAT II YOGYAKARTA

- 2 - BAB I KETENTUAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. hukum(rechtsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat). 1

DATA PIRANTI LUNAK SAT LANTAS POLRES SUMBAWA TAHUN 2016 NO JENIS NOMOR/TAHUN TENTANG JUMLAH KET

DATA PIRANTI LUNAK SAT LANTAS TAHUN 2016

PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 3 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DI JALAN DENGAN KENDARAAN UNTUK UMUM

2017, No kementerian/lembaga tanpa pernyataan dirampas, serta relevansi harga wajar benda sitaan Rp300,00 (tiga ratus rupiah) yang dapat dijual

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sistem transportasi adalah suatu hal yang penting bagi suatu kota,

LEMBARAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA. Nomor: 2 Tahun 2006 Seri: B PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI TERMINAL PENUMPANG

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN ANGKUTAN BARANG PADA JEMBATAN TIMBANG

BUPATI BANGKA TENGAH

LEMBARAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 12 TAHUN 2001 SERI B NOMOR 10 PERATURAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 12 TAHUN 2001 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.258, 2009 DEPARTEMEN KEUANGAN. Penghentian Penyidikan. Prosedur.

TENTANG RETRIBUSI IZIN TRAYEK. Tahun. retribusi kewenangan. Daerah

PEMERINTAH KOTA PADANG PANJANG

II. TINJAUAN PUSTAKA. sehingga mereka tidak tahu tentang batasan umur yang disebut dalam pengertian

LEMBARAN DAERAH KOTA JAMBI

Transkripsi:

BAB 2 DATA & ANALISA 2.1 Data & Literatur 2.1.1. Data Umum tentang Tilang 2.1.1.1. Prosedur Tilang Polisi yang memberhentikan pelanggar wajib menyapa dengan sopan serta menunjukan jati diri dengan jelas. Polisi harus menerangkan dengan jelas kepada pelanggar apa kesalahan yang terjadi, pasal berapa yang telah dilanggar dan tabel berisi jumlah denda yang harus dibayar oleh pelanggar. Gambar 2.1: Slip Biru & Merah Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1297653 3

4 Pelanggar dapat memilih untuk menerima kesalahan dan memilih untuk menerima slip biru, kemudian membayar denda di BRI tempat kejadian dan mengambil dokumen yang ditahan di Polsek tempat kejadian, atau menolak kesalahan yang didakwakan dan meminta sidang pengadilan serta menerima slip merah. Pengadilan kemudian yang akan memutuskan apakah pelanggar bersalah atau tidak, dengan mendengarkan keterangan dari polisi bersangkutan dan pelanggar dalam persidangan di kehakiman setempat, pada waktu yang telah ditentukan (biasanya 5 sampai 10 hari kerja dari tanggal pelanggaran). Langkah Pengurusan Tilang dengan Slip Biru: (1) Pastikan di surat tilang berwarna biru tertera nominal dan bank yang ditunjuk untuk membayar denda. (2) Pergi lah ke bank yang dituju untuk membayar denda dan pastikan anda menerima bukti tanda setoran. (3) Untuk mengambil barang sitaan kembalilah ke lokasi anda ditilang bila aparat yang menindak anda sudah membuat perjanjian. Jika tidak maka pergilah ke polsek lokasi anda ditilang, tunjukkan bukti tanda setoran.

5 Langkah pengurusan Tilang dengan Slip Merah: Gambar 2.2: Papan pengumuman nomor sidang Sumber: http://akusenangkamusenang.blogspot.com/2008/07/cara-mengikuti-sidang-tilang-di.html (1) Pergilah ke pengadilan negeri yang ditunjuk dan cari papan yang memuat nomor sidang anda dan catatlah. (nomor sidang sangat penting, biasanya pada papan pengumuman, anda dapat menemukannya di bagian mana anda tertilang). (2) Cari ruang sidang yang sama dengan nomor yang anda dapat. Sebagai contoh, pada pintu sidang tertera tulisan Ruang Sidang Nomor 834 1211, jika nomor sidang anda 900, maka anda akan disidang di ruang tersebut.

6 Gambar 2.3: Ruang sidang Pengadilan Negeri Sumber: http://akusenangkamusenang.blogspot.com/2008/07/cara-mengikuti-sidang-tilang-di.html (3) Ketika sidang di mulai, hakim ketua akan membacakan tata tertib sidang. Setelah itu akan dibacakan nomor urut sidang. Setelah dibacakan, anda akan duduk di kursi depan hakim sebagai terdakwa, disana anda akan diberi pilihan, memilih hukuman kurungan atau denda. (4) Pergilah ke loket untuk membayar sekaligus mengambil SIM atau STNK yang disita.

7 Gambar 2.4: Loket pembayaran denda Sumber: http://akusenangkamusenang.blogspot.com/2008/07/cara-mengikuti-sidang-tilang-di.html 2.1.1.2. Keabsahan Slip Biru Surat Tilang Slip Biru Masih Berlaku Gambar 2.5: Artikel Kompas Sumber: Koran Kompas

8 KOMPAS, Sabtu, 28 Juni 2008 Jakarta, Kompas - Kepala Direktorat Lalu Lintas Polri Brigadir Jenderal (Pol) Yudi Susharyanto menegaskan, surat tilang dari polisi berwarna biru atau biasa disebut slip biru masih berlaku. Slip biru itu memungkinkan pelanggar lalu lintas yang ditilang polisi dapat langsung membayar denda ke BRI melalui ATM atau kantor pos, tanpa perlu mengikuti persidangan tilang. Masih berlaku, siapa bilang sudah tidak berlaku. Polri tetap menyediakan tiga opsi bagi pelanggar lalu lintas, kata Yudi seusai pembukaan pameran nasional Inovasi Pelayanan Aparatur Negara Tahun 2008 dalam rangka Hari Bhayangkara Ke-62 Polri di Parkir Timur Senayan, Jumat (27/6) pagi. Ketiga opsi bagi pelanggar lalu lintas yang masih berlaku tersebut adalah mengikuti persidangan tilang di pengadilan di wilayah pelanggaran terjadi, menitipkan denda kepada polisi, dan langsung membayar denda ke rekening negara di BRI. Yudi menambahkan, pelanggar yang langsung mengakui perbuatannya akan diberi slip biru oleh polisi lalu lintas dan dapat menyetor denda ke BRI. Bukti setoran lalu dibawa ke kantor polisi untuk mengambil SIM. Prosedur persidangan harus ditempuh ketika polisi memberi slip merah. Pelanggaran dengan prosedur titip denda kepada polisi dan prosedur langsung setor denda ke BRI pada akhirnya tetap akan disidang oleh hakim secara verstek atau tanpa kehadiran pelanggar.

9 Namun, di lapangan, polisi kerap kali menolak memberikan slip biru sekalipun pelanggar telah mengakui kesalahannya. Polisi kerap mendesak pelanggar untuk menerima slip merah, menitip uang denda, atau bahkan damai. Polisi enggak mau kasih slip biru, katanya sudah tidak berlaku. Bahkan polisinya malah milih membebaskan saya daripada kasih slip biru, ujar Febrianto (30), warga Kebayoran Lama. Yudi membantah soal fenomena polisi lalu lintas yang enggan memberi slip biru. Tidak mungkin. Slip biru itu masih berlaku. Kan, itu untuk memudahkan orang, ujar Yudi. (SF) Tilang Slip Biru Masih Berlaku KOMPAS, Sabtu, 13 Desember 2008 JAKARTA, SABTU - Beredarnya informasi bahwa polisi menolak memberikan slip biru terhadap pelanggar lalu lintas yang terkena tilang diklarifikasi Polda Metro Jaya. Kepala Direktorat Lalu lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Drs.Condro Kirono menegaskan surat tilang dari polisi berwarna biru atau biasa disebut slip biru masih berlaku. Penegasan kepala Direktorat Lalu lintas ini dituangkan dalam bentuk Surat telegram No Pol: ST/86/X/2008 dan ditujukan kepada seluruh Para Kapolres dan Para Kasat Lantas Jajaran Polda Metro Jaya. Dengan demikian, pelanggar lalu lintas yang ditilang polisi masih dapat meminta kepada petugas di lapangan

10 untuk ditilang dengan menggunakan blanko warna biru atau bisa juga blanko warna merah. Polisi akan memberikan tilang warna biru kepada pelanggar yang langsung mengakui perbuatannya. Selanjutnya, pelanggar harus menyetor denda sesuai aturan yang berlaku melalui loket BRI dan bukti setorannya dipakai untuk mengambil SIM di kantor polisi. Sementara slip merah dikeluarkan jika pelanggar menyangkal dan akan membela diri secara hukum di pengadilan. Jika pelanggar menerima slip merah berarti siap mengikuti sidang dan jika terbukti bersalah harus membayar denda. Bukti pembayaran untuk mengambil SIM yang ditahan di pengadilan setempat. Dikeluarkannya Surat Telegram (ST) ini bertujuan agar komplain dari masyarakat khususnya pelanggar lalu lintas yang ditilang bisa berkurang atau bahkan bisa tidak ada. Selain itu dalam ST ini juga diperintahkan agar para petugas di lapangan menghindari pungli karena dapat merugikan dan merusak citra intitusi Polri. 2.1.1.3. Lampiran Buku Petunjuk Teknis Penggunaan Blanko Tilang Lampiran Buku Petunjuk Teknis Tentang Penggunaan Blanko Tilang Halaman 18, Buku Petunjuk Teknis Tentang Penggunaan Blanko Tilang [Lampiran SKEP KAPOLRI Skep/443/IV/1998] e. Terdakwa: 1) Menandatangani Surat Tilang [Lembar Merah dan Biru] pada kolom yang

11 telah disediakan apabila menunjuk wakil di sidang dan sanggup menyetor uang titipan di Bank yang ditunjuk. 2) Menyetor uang titipan ke petugas khusus bila kantor Bank [BRI] yang ditunjuk untuk menerima penyetoran uang titipan terdakwa [pelanggarred] tutup, karena hari raya/libur, dan sebagainya. 3) Menyerahkan lembar tilang warna biru yang telah ditandatangani/dicap petugas kepada penyidik yang mengelola barang titipan tersebut. 4) Menerima tanda bukti setor dari petugas khusus [Polri] apabila peneyetor uang tititpan terpaksa dilakukan diluar jam kerja Bank [BRI]. 5) Menerima penyerahan kembali barang titipannya dari penyidik/petugas barang bukti/pengirim berkas perkara berdasarkan bukti setor dari petugas khusus atau lembaran tilang warna biru yang telah disahkan oleh petugas Bank [BRI]. 6) Menerima penyerahan barang sitaannya dari petugas barang bukti setelah selesai melaksanakan vonis hakim [dengan bukti eksekusi dari Eksekutor/Jaksa dan melengkapi kekurangan-kekurangan lainnya [SIM, STNK/kelengkapan kendaraan]? [bila memilih sidang-red] 2.1.1.4. Survei Terhadap Pengguna Kendaraan Bermotor 1) Usia anda: 19 35 tahun 2) Berapa tahun memiliki SIM: 1-13 tahun

12 3) Jenis kendaraan yang digunakan sehari-hari: Sepeda Motor: 54% Mobil: 12% Sepeda Motor & Mobil: 34% 4) Berapa kali anda pernah ditilang dalam satu tahun terakhir? a. kurang dari 3 kali 100% b. lebih dari 3 kali 0% c. jumlah tepat... diinput kedalam opsi a dan b 5) Bagaimana anda menghadapi tilang? a. mengajak berdamai 65% b. mengikuti prosedur 28% 6) Apakah anda tahu prosedur tilang dan cara pengurusannya? a. iya 68% b. tidak 32% 7) Berapa kali aparat yang menindak anda menolak memberikan slip biru? a. tidak pernah 21% b. selalu 7% c. jumlah tepat... diinput kedalam opsi a dan b

13 2.1.2. Data Umum tentang E-Learning Metode Experiential Learning adalah suatu metode proses belajar mengajar yang mengaktifkan pembelajar untuk membangun pengetahuan dan keterampilan melalui pengalamannya secara langsung. Dalam hal ini, Experiential Learning menggunakan pengalaman sebagai pemicu untuk menolong pembelajar mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dalam proses pembelajaran. Experiential Learning memfokuskan pada proses belajar secara individual. Proses belajar dapat berupa observasi dan interaksi dengan objek yang dipelajari, sehingga seseorang mendapatkan temuan dan pengalaman sebagai pengetahuan langsung dari sumbernya bukan lewat perantara. Experiential Learning tidak membutuhkan pengajar dan secara mandiri membuat proses belajar lewat pengalaman langsung seorang individu. Dan untuk sebuah pengetahuan dapat diperoleh lewat pengalaman langsung, ada kemampuan tertentu yang harus dimiliki oleh pembelajar: a) Pembelajar harus secara aktif terlibat didalam pengalaman belajar b) Pembelajar harus dapat merefleksi pengalaman tersebut c) Pembelajar harus memiliki dan menggunakan kemampuan untuk menganalisa konsep didalam sebuah pengalaman

14 d) Pembelajar harus memiliki kemampuan menentukan keputusan dan menyelesaikan masalah sehingga dapat menggunakan ide baru yang didapat lewat pengalaman tersebut. 2.1.3. Data Umum tentang Kendaraan Bermotor Definisi Kendaraan berdasarkan PP Nomor 44 Tahun 1993 a) Kendaraan Bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu. b) Sepeda Motor adalah kendaraan bermotor beroda dua, atau tiga tanpa rumah-rumah baik dengan atau tanpa kereta samping. c) Mobil Penumpang adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi sebanyak-banyaknya 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi. d) Mobil Bus adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi lebih dari 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi. e) Mobil Barang adalah setiap kendaraan bermotor selain dari yang termasuk dalam sepeda motor, mobil penumpang dan mobil bus.

15 f) Kendaraan Khusus adalah kendaraan bermotor selain daripada kendaraan bermotor untuk penumpang dan kendaraan bermotor untuk barang, yang penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang-barang khusus. 2.2 Target Target Audience primer untuk E-Learning Tilang adalah para pengguna kendaraan bermotor yang memiliki SIM dengan usia aktif berkendaraan rata-rata 18 tahun sampai dengan 35 tahun. Dan target sekunder yaitu para pengguna kendaraan bermotor dibawah usia minimum pemegang SIM sebagai bentuk pengenalan dini. 2.3 Faktor Pendukung & Penghambat Faktor Pendukung: a) Belum adanya Animasi E-Learning dengan tema Tilang yang disosialisasikan ke masyarakat. b) Masih maraknya praktek menyuap oknum aparat dalam tindak pelanggaran lalu lintas. Masyarakat ingin adanya perubahan dalam tatanan hukum lalu lintas. Faktor Penghambat: a) Masyarakat lebih cenderung untuk mengambil langkah yang cepat, yaitu menyuap oknum aparat ketimbang mengikuti aturan yang berlaku.

16 b) Adanya oknum-oknum yang tidak peduli akan usaha perbaikan tatanan hukum, sehingga tetap menjalankan praktik melanggar aturan tersebut, yang pada akhirnya mempengaruhi masyarakat untuk semakin pesimis.