BAB III PEMBAHASAN. biasanya manajemen perusahaan akan menyusun serta menyajikan laporan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN. dan dapat dipercaya untuk menilai kinerja perusahaan dan hasil dari suatu

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kinerja Keuangan 2.2. Laporan Keuangan

LAPORAN KEUANGNAN DAN ANALISIS LAPORAN KEUANGAN. Febriyanto, S.E., M.M.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. Manajemen keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan untuk

BAB II LANDASAN TEORI. Pada Umumnya Laporan Keuangan terdiri dari 4 laporan penting, yaitu: neraca,

BAB III PEMBAHASAN. A. Pengertian dan Fungsi Manajemen Keuangan 1. Pengertian Manajemen Keuangan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Laporan Keuangan Sebagai Obyek Penelitian

KERANGKA TEORI. Kerangka teori merupakan kumpulan teori-teori yang akan menjadi. memudahkan dalam memahami suatu fenomena atau kejadian ketika

II. TINJAUAN PUSTAKA Kinerja Keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penguji dari pekerjaan bagian pembukuan, tetapi untuk selanjutnya laporan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGGUNAAN ANALISIS RASIO KEUANGAN DENGAN METODE TIME SERIES UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Menurut Hery (2012:3) laporan keuangan

BAB II KERANGKA TEORI. 2.1 Piutang (Accounts Receivable) kredit atas barang-barang yang dihasilkan oleh perusahaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. serta kondisi keuangan perusahaan. Melalui laporan keuangan perusahaan dapat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Terdapat beberapa pengertian mengenai analisis, yaitu : 1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) :

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS

bentuk pertangungjawaban manajemen atas aktivitas-aktivitas yang dilakukan perusahaan selama suatu periode tertentu kepada pihak-pihak yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rasio keuangan merupakan alat analisis keuangan yang paling sering

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio akan

Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan BUMN Asuransi Yang Go Publik (Menggunakan Analisis Ratio Dan Risk Based Capital)

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Akuntansi merupakan suatu sistem informasi yang memberikan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

MODUL ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

Hasil akhir dari proses pencatatan keuangan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan cerminan dari prestasi manajemen pada satu periode

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. Menurut Djarwanto (2004:5) laporan keuangan merupakan hasil dari

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengertian Profitabilitas. bersih atau laba yang mampu diraih oleh perusahaan pada saat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Laporan Keuangan

Analisis Laporan Keuangan PT. UNILEVER Indonesia, Tbk Periode Tahun

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN. suatu perusahaan dalam periode tertentu. Salah satu cara dalam penilaian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. (Irham Fahmi, 2011 : 239)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab 9 Teori Rasio Keuangan

Dalam menganalisa laporan keuangan terdapat beberapa metode yang bisa dijadikan tolak ukur untuk menilai posisi keuangan perusahaan antara lain:

BAB II KAJIAN TEORI. A. Deskripsi Teori 1. Pengertian Posisi Keuangan Posisi keuangan merupakan salah satu informasi yang disediakan

BAB II LANDASAN TEORI. dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan penilaian terhadap kondisi. Pengertian laporan keuangan menurut beberapa ahli :

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. keuangan yang tercermin dalam laporan keuangan. Dalam mengadakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. tersebut melalui suatu analisis yang dapat dijadikan pedoman untuk menilai

METADATA INFORMASI DASAR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada laporan keuangan PT.

Analisis Kinerja Keuangan Pada PT. BS. Polymer Makassar

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Laporan Keuangan Pengertian Laporan Keuangan

BAB I PENDAHULUAN. Industry) dan produk yang dihasilkan pun bermacam-macam dengan semakin

BAB II URAIAN TEORITIS

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Laporan Keuangan Pengertian Laporan Keuangan

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. laporan, serta penginterpretasian atas hasilnya sehingga dapat digunakan oleh

BAB II LANDASAN TEORI

Analisa Laporan keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

23 Universitas Sumatera Utara BAB III PEMBAHASAN. A. Laporan keuangan. 1. Pengertian Laporan keuangan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. perusahaan serta proyeksi keuangan, dan harus mengevaluasi akuntansi. untuk meramalkan laba, deviden, dan harga saham.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. keuangan, jadi laporan keuangan merupakan suatu ringkasan transaksi yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

RASIO LAPORAN KEUANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Analisis rasio keuangan (financial statement analysis) adalah aplikasi dari

BAB 11 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

BAB II TELAAH PUSTAKA. Kinerja perusahaan merupakan kata yang umum untuk menggambarkan

ANALISIS PERKEMBANGAN PT ANEKA TAMBANG DITINJAU DARI ANALISIS LAPORAN KEUANGAN BAB I PENDAHULUAN

III. METODE PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

Menurut Rudianto (2010:9), tujuan koperasi adalah untuk memberikan kesejahteraan dan manfaat bagi para anggotanya

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II LANDASAN TEORI. pihak manajemen perusahaan yang bersangkutan. Laporan keuangan. pengertian laporan keuangan dari beberapa para ahli :

Modul Tujuh: ASPEK KEUANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. laporan keuangan yang dapat berfungsi sebagai alat ukur dalam menilai kinerja

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB II URAIAN TEORITIS

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia saat ini telah menjadi negara yang mengarah ke basis industri.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB IV RASIO KEUANGAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II KERANGKA TEORITIS. Djarwanto (2001) menjelaskan bahwa laporan keuangan pada dasarnya

BAB III METODE PENELITIAN

Transkripsi:

BAB III PEMBAHASAN A. Laporan Keuangan Perusahaan Laporan keuangan pada dasarnya merupakan hasil dari sekian banyak transaksi yang terjadi didalam sebuah perusahaan, dimana setiap akhir periode biasanya manajemen perusahaan akan menyusun serta menyajikan laporan keuangan tersebut. Laporan keuangan yang disusun akan menggambarkan posisi keuangan dan hasil usaha yang dicapai. Menurut Djarwanto (2001:5), Laporan keuangan merupakan proses akuntansi yang pada hakekatnya merupakan seni pencatatan,penggolongan,dan peringkasan transaksi-transaksi dan peristiwa yang setidak-tidaknya sebagian hasil-hasilnya. Harahap (2008:105) menyatakan bahwa Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dari hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan posisi keuangan. Syahyunan (2004:22) mengemukakan, Laporan keuangan adalah produk dari manajemen dalam rangka mempertanggung jawabkan (stewardship) penggunaan sumber daya dan sumber dana yang dipercayakan kepadanya. Secara umum laporan ini menyediakan informasi tentang posisi keuangan pada saat tertentu, kinerja dan arus kas dalam satu periode yang ditujukan bagi pengguna 18

19 laporan keuangan di luar perusahaan untuk menilai dan mengambil keputusan yang bersangkutan dengan perusahaan. Tujuan dari laporan keuangan itu sendiri adalah untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan. Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan maupun perkembangan perusahaan antara lain: 1. Pemilik Perusahaan (Pemegang Saham) a) Menilai posisi keuangan perusahaan dan pertumbuhannya; b) Menilai prestasi atau hasil yang diperoleh manajemen; c) Untuk mengetahui hasil dividen yang akan diterima; d) Sebagai dasar untuk memprediksi kondisi perusahaan dimasa datang dan mempertimbangkan menambah atau mengurangi investasi 2. Manajemen Perusahaan a) Sebagai alat untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan kepada pemilik atau pemegang saham; b) Mengukur tingkat efisiensi dan tingkat keuntungan perusahaan, divisi, bagian atau segmen; c) Menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan perlu tidaknya diambil kebijaksanaan baru;

20 d) Memenuhi ketentuan dalam UU, peraturan, anggaran dasar, pasar modal, dan lembaga regulator lainnya; 3. Investor a) Menilai kondisi keuangan dan hasil usaha perusahaan; b) Menilai kemungkinan menanamkan dan dalam perusahaan; c) Menilai kemungkinan menarik dana/investasi dari perusahaan; d) Menjadi dasar memprediksikan kondisi keuangan perusahaan dimasa yang akan datang; 4. Kreditur atau Banker a) Menilai kemampuan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas perusahaan sebagai dasar dalam pertimbangan keputusan kredit; b) Menilai sejauhmana perusahaan mengikuti perjanjian kredit yang disepakati; c) Menilai kelayakan perusahaan untuk menerima kredit yang diluncurkan; 5. Pemerintahan dan Regulator Badanbadan pemerintahan tertentu, seperti kantor pelayanan pajak atau badan pengembangan pasar modal (Bapepan) berkepentingan terhadap laporan keuangan untuk menentukan besarnya pajak penghasilan yang harus ditanggung perusahaan dan menilai apakan perusahaan memerlukan bantuan atau tindakan lain dan sebagai

21 dasar penetapan kebijaksanaa baru serta menilai kepatuhan perusahaan terhadap aturan yang ditetapkan. Dengan demikian laporan keuangan dapat dikatakan menjadi suatu titik tolak untuk menilai keadaan tubuh perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang, struktur modal perusahaan, distribusi daripada aktiva, keefektifan pengguna aktiva, hasil usaha yang telah dicapai,serta beban-beban tetap yang harus dibayar. B. Jenis-jenis Laporan Keuangan Laporan keuangan perusahaan sebenarnya banyak namun laporan keuangan utama menurut Standart Akuntansi Keuangan (SAK) terdiri dari komponen-komponen berikut ini: 1. Neraca (Balance Sheef) 2. Laporan Laba Rugi (Income Statetment) 3. Laporan Arus Kas Adapun penjelasan dari masing masing jenis laporan keuangan tersebut yaitu : Neraca Neraca (balance sheet) menurutkasmir (2008:28) adalah laporan yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu. Arti posisi keuangan dimaksudkan adalah posisi jumlah dan jenis aktiva (harta) dan passiva (kewajiban dan ekuitas) suatu perusahaan.

22 Menurut Munawir (2007:13) Neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang, serta modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu. Jadi tujuan neraca adalah untuk menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasannya pada waktu dimana buku-buku ditutup dan ditentukan saldonya pada akhir tahun fiskal, sehingga neraca sering disebut balance sheef. Dengan demikian neraca terdiri dari tiga bagian utama yaitu aktiva,hutang dan modal. Adapun bagian-bagian dari neraca tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Aktiva Aktiva merupakan harta atau kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan, baik pada saat tertentu maupun periode tertentu. Pada dasarnya aktiva dapat diklarifikasikan menjadi 2 bagian utama yaitu aktiva lancar dan aktiva tetap. Aktiva lancar merupakan harta atau kekayaan yang segera dapat diuangkan (ditunaikan) pada saat dibutuhkan dan paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal. Aktiva lancar merupakan aktiva yang paling likuid dibandingkan dengan aktiva lainnya. Komponen yang ada di aktiva lancar terdiri dari : a. Kas atau uang tunai yang dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan. b. Investasi jangka pendek (surat-surat berharga atau marketable securities) adalah investasi yang sifatnya sementara/jangka pendek dengan maksud untuk memanfaatkan uang kas yang sementara belum dibutuhkan dalam operasi.

23 c. Piutang ialah tagihan perusahaan kepada pihak lain. d. Perdesiaan adalah semua barang-barang yang diperdagangkan yang sampai tanggal neraca masih digudang/belum laku dijual. e. Dan aktiva lancar lainnya. Aktiva tetap adalah aktiva yang mempunyai umur kegunaan yang relative permanent atau jangka panjang atau tidak habis selama satu kali perputaran operasi perusahaan. Yang termasuk aktiva tetap ialah tanah, bangunan, mesin, kendaraan, inventaris, kendaraan dan peralatan atau alat-alat lainnya, dan aktiva tetap lainnya. 2. Hutang Hutang merupakan kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum dipenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber dana atau model perusahaan yang berasal dari kreditur. Hutang atau kewajiban perusahaan dapat dibedakan kedalam hutang lancar (hutang jangka pendek) dan hutang jangka panjang. Hutang lancar adalah kewajiban yang dimiliki oleh perusahaan yang harus segera dibayar. Kata segera ini menunjukkan bahwa hutang tersebut harus dibayar dalam waktu kurang dari 1 tahun. Sebagai sumber pembelanjaan maka hutang lancar hanya dapat digunakan untuk membelanjai aktiva lancar, tidak dapat digunakan untuk membelanjai aktiva tetap. Yang termasuk hutang lancar yaitu : a. Hutang usaha (account payable) yaitu hutang yang timbul karena adanya transaksi pembelian secara kredit dimana pelunasannya dilakukan dalam jangka waktu pendek.

24 b. Hutang wesel yaitu hutang yang disertai janji tertulis (yang diatur dengan undang-undang) untuk melakukan pembayaran sejumlah tertentu pada waktu tertentu dimasa yang akan datang. c. Hutang pajak yaitu kewajiban perusahaan yang harus segera dilunasi kepada pemerintah atas pajak yang dikenakan. d. Hutang deviden yaitu bagian laba yang dibagikan kepada para pemegang saham. e. Pendapatan yang diterima dimuka yaitu penerimaan uang untuk penjualan barang/jasa yang belum direalisir. Hutang jangka panjang merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain yang harus dipenuhi dalam jangka waktu melebihi satu tahun. Timbulnya hutang ini dikarenakan perusahaan memerlukan dana dalam jumlah besar untuk perluasan usaha. Yang termasuk hutang jangka panjang adalah hutang hipotek, hutang obligasi dan wesel bayar jangka panjang. 3. Modal Sendiri (equity) Modal sendiri adalah modal yang menunjukkan jumlah dana yang diinvestasikan oleh pemilik perusahaan. Didalam neraca besarnya modal sendiri dihitung dengan mengurangkan keseluruhan aktiva perusahaan dengan total hutang. Laporan Laba rugi Laporan laba rugi merupakan laporan tentang perubahan posisi keuangan untuk satu periode yang berasal dari kegiatan operasi perusahaan selama periode tertentu. Dalam laporan ini dicatat semua penghasilan (revenue) yang

25 diperoleh serta beban dan pengeluaran (expenses) yang dikeluarkan oleh perusahaan. Daftar laba rugi pada dasarnya membandingkan antara pengkasilan dengan biaya-biaya dalam suatu periode tertentu. Penghasilan biasanya berasal dari hasil penjualan barang-barang kepada pelanggan, sedangkan biaya merupakan pengeluaran untuk menghasilkan laba. Didalam menyusun laporan laba rugi, perlu dilakukan pembedaan unsurunsur biaya yang tercantum dalam laporan laba rugi, menjadi: a. Biaya produksi, biaya ini berkaitan dengan biaya yang langsung terkait dengan aktivitas produksi barang-barang dan jasa yang akan dijual perusahaan. b. Biaya administrasi dan umum, biaya ini berkaitan dengan biaya gaji, pengiklanan, dan biaya lainnya yang tidak terkait langsung dengan biaya produksi barang jasa. c. Biaya bunga, biaya ini berkaitan dengan biuaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan sebagai konsekuensi penggunaan hutang. d. Biaya pajak penghasilan, biaya ini berkaitan dengan kewajiban perusahaan untuk membayar sejumlah pajak kepada pemerintah. Laporan Arus Kas Laporan arus kas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan kebutuhan peusahaan dalam memanfaatkan dana tersebut, yang diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, investasidan pendanaan.

26 a. Aktivitas Operasi Arus kas dari kegiatan operasi antara lain dapat berupa arus kas dari transaksi penjualan, pembayaran ke pemasok, karyawan, bunga beban operasional lainnya dan pajak penghasilan. b. Aktivitas Investasi Arus kas dari aktivitas investasi mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan arus kas masa depan. c. Aktivitas Pendanaan Arus kas pendanaan, dapat berupa penerimaan kas dari saham dan obligasi, pembayaran deviden, serta pelunasan pinjaman. C. Rasio Keuangan Perusahaan Pengertian rasio dalam analisa laporan keuangan adalah suatu angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti). Menurut Syahyunan (2004;81) rasio keuangan merupakan analisis yang paling populer untuk mengidentifikasi kondisi keuangan dan kinerja keuangan perusahaan. Pada dasarnya untuk menghitung rasio keuangan suatu perusahaan diperlukan angka-angka yang ada dalam neraca keuangan saja., dalam laporan laba rugi saja, atau kombinasi antara keduannya. Disebut rasio karena yang dilakukan pada dasarnya adalah membandingkan (membagi) antara satu item tertentu dalam laporan keuangan dengan item lainnya.

27 Menurut Rianto (2001;329) analisi rasio keuangan merupakan analisa yang menghubungkan perkiraan neraca dan laporan yang lain, yang memberikan gambaran tentang sebuah perusahaan serta penilaian terhadap keadaan suatu perusahaan. Analisis rasio adalah suatu alat analisis yang penting untuk dipakai menginterprestasikan posisi keuangan suatu perusahaan, apakah posisi keuangannya baik atau buruk. Rasio akan memberikan gambaran keasaan keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Analisis rasio memiliki beberapa kelemahan atau keterbatasan yang harus disadari sewaktu penggunaannya. Adapun kelemahan atau keterbatasan analisis rasio antara lain : 1) Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk kepentingan pemakainya. 2) Jika dua perusahaan dibandingkan bisa saja teknik dan standart akuntansi yang dipakai tidak sama. Oleh karenanya jika dilakukan perbandingan bisa menimbulkan kesalahan. 3) Sulit jika data yang tersedia tidak singkron. Dalam mengadakan analisis rasio keuangan dapat dilakukan dengan dua macam cara perbandingan yaitu : 1) Cross Sectional Approach Yaitu membandingkan rasio-rasio keuangan beberapa perusahaan pada suatu saat yang sama termasuk membandingkan rasio-rasio perusahaan dengan perusahaan lain dala industri yang sama atau dibandingkan dengan rasio rata-rata industri.

28 2) Time Series Analysis Adalah cara yang dilakukan dengan jalan membandingkan rasiorasio keuangan perusahaan dari suatu periode keperiode lainnya dengan bertujuan untuk melihat perkembangan posisi keuangannya. Dalam hubungan dengan laporan keuangan, dapat diketahui ada bermacam-macam rasio keuangan. Dalam bukunya, Riyanto (2001;330), menggolongkan rasio keuangan dilihat dari sumber dari mana rasio itu dibuat, yaitu : 1. Rasio-rasio neraca (Balance Sheet Ratio), ialah rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca. 2. Rasio-rasio Laporan Laba Rugi (income Statetment Ratios), ialah rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari laporan laba rugi. 3. Rasio-rasio antar Laporan (Inter-Statetment Ratios) ialah rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca dan data yang lainnya yang berasal dari Income Statetment. Sedangkan bila dilihat dari fungsinya, rasio keuangan dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu: 1. Rasio Likuiditas 2. Rasio Solvabilitas 3. Rasio Profitabilitas 4. Rasio Aktivitas Adapun laporan laba rugi dan neraca yang penulis sajikan adalah periode 1 januari 31 Desember 2012 dan periode 1 Januari 31 Desember yang dapat dilihat berikut ini :

29 Tabel 3.1 PT ANUGRAH CIPTA LAMGANDANA NERACA Per 31 Desember 2012 dan 2013 KETERANGAN TAHUN 2012 2013 AKTIVA Aktiva Lancar Kas Bank Piutang Usaha Piutang Lain-lain Persediaan Jumlah Aktiva Lancar Aktiva Tetap Kendaraan Inventaris Kantor Akumulasi Penyusutan Jumlah Aktiva Tetap TOTAL AKTIVA PASSIVA Hutang Lancar Hutang Dagang 21.749.700 585.125.415 719.188.000 218.145.000 95.765.000 1.639.973.115 57.919.450 121.058.300 (35.866.159) 143.111.591 1.783.084.706 1.021.062.680 28.081.900 617.329.194 935.353.300 128.441.000 82.427.000 1.791.632.394 49.136.950 145.791.300 (70.862.887) 124.065.363 1.915.697.757 888.826.864

30 Hutang Bank 38.214.411 43.998.683 Jumlah Hutang Lancar Modal Modal Sendiri Laba tahun Berjalan Jumlah Modal TOTAL PASSIVA Sumber : PT Anugrah Cipta Lamgandana, 2015 1.059.277.091 650.000.000 73.807.615 723.807.615 1.783.084.706 932.825.547 650.000.000 332.872.210 982.872.210 1.915.697.757

31 Tabel 3.2 PT ANUGRAH CIPTA LAMGANDANA SUMATERA UTARA LAPORAN LABA RUGI Per 31 Desember 2012 dan 2013 URAIAN 2012 2013 Pendapatan Beban Proyek: Beban Langsung Overhead proyek 6.091.883.306 2.618.409.800 2.079`621.000 9.318.437.968 5.764.817.050 1.288.694.900 Total Beban Proyek LABA KOTOR Biaya Operasi: Biaya Pemasaran Biaya Umum & Administrasi Biaya Keuangan 4.698.030.800 1.393.842.506 129.933.000 959.985.359 230.036.532 7.053.511.950 2.264.926`018 202.410.900 1.427.404.198 302.238.710 TOTAL BIAYA LABA BERSIH 1.320.044.891 73.807.615 1.932.053.808 332.872.210 Sumber : PT Anugrah Cipta Lamgandana, 2015

32 Rasio-rasio keuangan pada PT Anugrah Cipta Lamgandana selama periode 2012-2013 adalah sebagai berikut : 1. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio) Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendek dengan menggunakan aktiva yang tersedia, Rasio Likuiditas yang digunakan antara lain : a) Rasio Lancar (current rasio) Current rasio yaitu kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar yang tersedia. Semakin besar current rasio berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya sehingga perusahaan semakin likuid (Munawir, 2007;72). Rasio lancar diperoleh dengan cara membagi jumlah aktiva lancar dengan jumlah kewajiban yang harus dibayar dalam kurun waktu satu tahun, tingkat current ratio 2,00 atau 200% sudah dianggap baik (Syamsuddin, 2004;44). Adapun rumus dari current rasio adalah sebagai berikut : CCCCCCCCCCCCCC rrrrrrrrrr = AAAAAAAAAAAA LLLLLLLLLLLL HHHHHHHHHHHH LLLLLLLLLLLL xxxxxxxx% Tahun 2012 = 1.639.973.115 x 100% = 155% 1.059.227.091 Tahun 2013 = 1.791.632.394 x100% = 192% 932.825.547 Dari hasil perhitungan diketahui bahwa pada tahun 2012 current ratio perusahaan sebesar 155% dan pada tahun 2013 sebesar 192%, ini berarti

33 perusahaan mengalami kenaikan sebesar 37%. Kenaikan ini disebabkan adanya peningkatan aktiva lancar dan menurunnya jumlah hutang lancar. Bila dikaitkan dengan standart current ratioyang sudah dianggap baik sebesar 200%, maka kondisi current ratioperusahaan kurang baik. b) Ratio Kas (cash ratio) Cash ratio menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk membayar kewajiban yang segera harus dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangankan. Rasio ini diperoleh dengan membagi jumlah kas dan bank dengan hutang lancar. Standart umum cash ratio ideal adalah diantara 50% dimana semakin tinggi rasio ini maka semakin baik kinerja keuangan yang dilakukan oleh perusahaan. Adapun rumus dari cash ratio adalah sebagai berikut: CCCCCCCC RRRRRRRRRR = KKKKKK + BBBBBBBB HHHHHHHHHHHH LLLLLLLLLLrr xx111111% Tahun 2012= 21.749.700+585.125.415 x100% = 57% 1.059.227 Tahun 2013= 28.081.900+617.329.194 x100% = 69% 932.825.547 Berdasarkan hasil perhitungan diatas dapat dilihat perusahaan mengalami kenaikan cash ratio sebesar 12%. Kenaikan ini disebabkan karena adanya penambahan kas dan bank. Dari perhitungan cash ratio tahun 2012 dan tahun 2013 dapat dilihat cash ratio berada diatas standart umum cash ratio, maka dapat

34 disimpulkan bahwa kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya semakin baik. c) Rasio Cepat (quick ratio/acid test ratio) Quick ratio menunjukkan kemampuan untuk memenuhi kewajiban dengan tidak memperhitungkan persediaan. Karena persediaan dianggap membutuhkan waktu yang relatif cukup lama untuk menukarkannya dalam bentuk uang tunai. Suatu perusahaan dikatakan likuid menurut ukuran quick ratio apabila total jumlah uang kas, bank, piutang adalah sama atau lebih besar dari hutang lancar. Qiuck ratio sebesar 1,00 atau 100% pada umumnya sudah dianggap baik, tetapi berapa besarnya quick ratio seharusnya, juga sangat tergantung pada jenis usaha perusahaan. Adapun rumus dari Quick Ratio adalah sebagai berikut: QQQQQQQQQQ rrrrrrrrrr = AAAAAAAAAAAA LLLLLLLLLLLL PPPPPPPPPPPPPPPPPPPP HHHHHHHHHHHH LLLLLLLLLLLL Tahun 2012= 1.544.208.115 x100% = 146% 1.059.277.091 Tahun 2013= 1.709.205.394 x100% = 183% 932.825.547 Pada perusahaan ini qiuck ratio pada tahun 2012 sebesar 146% dan pada tahun 2013 sebesar 183%. Perusahaan mengalami kenaikan sebesar 39% dari tahun sebelumnnya. Hal ini disebabkan karena kenaikan aktiva lancar dan penurunan hutang lancar. Penurunan hutang lancar ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu memenuhi atau membayar hutang lancar pada saat jatuh

35 tempo, maka dalam hal ini poerusahaan mempunyai likuiditas yang baik dan berada diatas standar umum quick ratio. 2. Rasio Solvabilitas Rasio solvabilitas adalah rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang atau pihak luar dengan kekampuan perusahaan yang digambarkan pada modal (equity). Rasio solvabilitas yang digunakan antara lain: a. Rasio Hutang atas Modal (Debt To Equity Ratio) Debt to equity ratio menunjukkan berapa persentase dari total hutang yang dimiliki perusahaan dengan total modal sendiri yang tujuannya untuk mengetahui berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutang. Semakin tinggi rasio ini akan menunjukkan kinerja yang buruk bagi perusahaan. Maka perusahaan harus berusaha agar debt to equity ratio bernilai rendah atau berada dibawah standart rasio debt to equity ratio 80% (Kasmir, 2008;164). Adapun rumus dari total debt to equity ratio adalah sebagai berikut : DDDDDDDD tttt EEEEEEEEEEEE RRRRRRRRRR = TTTTTTTTTT HHHHHHHHHHHH xx 111111% TTTTTTTTTT EEEEEEEEEEEEEE Tahun 2012= 1.059.277.091 x100% = 163% 650.000.000 Tahun 2013= 932.825.547 x100% = 144% 650.000.000

36 Berdasarkan perhitungan diatas, pada tahun 2012 perusahaan dibiayai oleh hutang mencapai 163% dan kemudian menurun menjadi 144% pada tahun 2012 atau turun sebesar 19%. Standart debt to equity ratio yaitu 80%, maka debt equity ratio perusahaan ini dikategorikan tidak baik karena berada diatas standart debt to equity ratio. b. Rasio Hutang atas Harta (debt to assets ratio/debt ratio) Debt ratio merupakan perbandingan total hutang dengan total aktiva. Rasio ini menunjukkan berapa total aktiva yang disediakan untuk menjamin hutang perusahaan. Hutang tersebut mencakup baik hutang lancar maupun hutang jangka panjang. Semakin rendah rasio ini menunjukkan bahwa semakin sedikit jumlah modal pinjaman yang digunakan didalam menghasilkan keuntungan perusahaan yang menunjukkan semakin baik keadaan keuangan perusahaan (Syamsuddin, 2004;54), standart untuk debt to asset ratio adalah sebesar 35% (Kasmir,2008;164). Adapun rumus dari debt to assets ratio adalah sebagai berikut: DDDDDDDD tttt EEEEEEEEEEEE RRRRRRRRRR = TTTTTTTTTT HHHHHHHHHHHH xx 100% TTTTTTTTTT AAAAAAAAAAAA Tahun 2012= 1.059.277.091 x100% = 59% 1.783.084.706 Tahun 2013= 932.825.547 x100% = 49% 1.915.697.757 Dari data diatas dapat diketahui perusahaan mengalami penurunan sebesar 10%. Dari sini dapat dilihat bahwa total debt to total asset ratio dalam kondisi kurang baik karena nilainya berbeda diatas standart untuk debt ratio.

37 3. Rasio Profabilitas Rasio ini menggambarkan kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dalam hubungannya dengan volume penjualan, jumlah aktiba dan investasi tertentu dari pemilik perusahaan (Syamsuddin, 2004:59). Rasio ini menunjukkan hasil akhir dari seluruh kebijakan keuangan dan keputusan operasional dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Rasio profitabilitas yang digunakan antara lain : a. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin) Margin laba bersih (net profit margin) adalah angka yang menunjukkan berapa laba bersih yang diperoleh untuk setiap rupiah yang dihasilkan dari aktivitas penjualan. Rasio ini dihitung dengan cara yaitu penjualan setelah dikurangi dengan seluruh biaya termasuk pajak dibandingkan dengan penjualan. Semakin besar rasio ini menunjukkan senmakin baik perusahaan dalam menghasilkan laba bersih (Syamsuddin, 2004:61). Standart untuk net profit margin adalah 20% (Kasmir, 2007:201). Adapun rumus dari net profit margin adalah sebagai berikut: NNNNNN = LLLLLLLL ssssssssssssss pppppppppp xx 111111% PPPPPPPPPPPPPPPPPP Tahun 2012= 73.807.615 x100% = 1,2% 6.091.883.306 Tahun 2013= 332.872.210 x100% = 3.6% 9.318.437.968

38 Perbandingan net profit margin pada perusahaan tahun 2012 sebesar 1,2% dan tahun 2013 sebesar 3,6%. Dari hasil ini dapat dilihat terjadi kenaikan sebesar 2,4%. Semakin besar nilai rasio ini pada suatu perusahaan maka akan semakin baik karena dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi. Jika standart net profit margin adalah 20%, maka margin laba bersih perusahaan tidak baik karena masih jauh dibawah standart net profit margin. Ini juga dapar berarti bahwa harga penjualan perusahaan ini relatif rendah atau biayabiayanya relatif tinggi atau keduannya. b. Return On Investment / ROI Return on investment yaitu rasio yang mengukur kemampuan perusahaan didalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan seluruh aktiva yang dimiliki perusahaan. Rasio ini dihitung dengan cara membagi laba bersih setelah dikurangi pajak dengan total aset yang dimiliki oleh perusahaan. Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik total aset yang dimiliki perusahaan dalam menghasilkan laba bersih bagi perusahaan (Syamsuddin, 2004;63). Standart untuk return on investment adalah 30% (Kasmir, 2007;208). Adapun rumus dari return on investment adalah sebagai berikut: RRRRRR = LLLLLLLL BBBBBBBBBBBB TTTTTTTTTT AAAAAAAAAAAA xx 111111% Tahun 2012= 73.807.615 1.783.084.706 x100% = 4,1% Tahun 2013= 332.872.210 1.915.697.757 x100%=17,4%

39 Dari perhitungan diatas menunjukkan hasil ROI pada tahun 2012 sebesar 4,1% sedangkan pada tahun 2013 naik 17,4%. Maka kenaikan sebesar 13,3%, namun standar untuk return on investment adalah 30% berarti kondisinya kurang baik karena masih dibawah standart untuk return on investment. c. Return On Equity / ROE Rasio ini mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham perusahaan. Rasio ini diperoleh dengan cara membagi laba bersih setelah dikurangi biaya pajak dengan modal sendiri perusahaan. Semakin tinggi rasio ini maka semakin besar laba bersih yang diperoleh bagi pemilik perusahaan ini berarti menunjukkan semakin baik keadaan perusahaan (Syamsuddin, 2004;65). Standart untuk return on equity adalah 40% (Kasmir, 2007;208). Adapun rumus dari return on equity adalah sebagai berikut: RRRRRR = LLLLLLLL BBBBBBBBBBBB xx 111111% MMMMMMMMMM SSSSSSSSSSSSSS Tahun 2012= 73.807.615 x100% = 11,4% 650.000.000 Tahun 2013= 332.872.210 x100% = 51,2% 650.000.000 Dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa perusahaan mengalami kenaikan 39,8%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perusahaan telah mampu menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri, sehingga dapat dikatakan ketergantungan perusahaan terhadap penggunaan modal asing semakin menurun.

40 Standart untuk return on equity adalah 40% maka kondisi perusahaan semakin baik. 4. Rasio Aktivitas Rasio aktivitas digunakan untuk mengetahui seberapa besar efektifitas perusahaan dalam menggunakan sumber-sumber dananya. Semakin efektif dalam memanfaatkan dana, maka semakin cepat perputaran dana tersebut. Rasio aktivitas yang digunakan antara lain: a. Tingkat Perputaran Total Aktiva (total asset turn-over) Rasio ini menunjukkan perputaran total aktiva diukur dari volume penjualan dengan kata lain seberapa jauh kemampuan semua aktiva menciptakan penjualan. Rasio ini dihitung dengan cara membagi penjualan bersih dengan keseluruhan aktiva yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi nilai rasio ini semakin baik (Syamsuddin, 2004;73). Standart untuk total asset turn-over adalah 2 kali (Kasmir, 2007;187). Adapun rumus dari total assets turn over adalah sebagai berikut: TTTTTTTTTT AAAAAAAAAA TTTTTTTT oooooooo = PPPPPPPPPPPPPPPPPP xx 1 kkkkkkkk TTTTTTTTTT AAAAAAAAAAAA Tahun 2012= 6.091.883.306 x 1 kali = 3 kali 1.783.084.706 Tahun 2013= 9.318.437.968 x 1 kali% = 5 kali 1.915.697.757

41 Dilihat dari perhitungannya diatas maka perusahaan mengalami kenaikan yang mempengaruhi tingkat laba yang dapat dihasilkan dalam setiap kali perputaran. Perputaran aktiva meningkatkan menunjukkan pemakaian aktiva lebih efisien dan baik karena diatas standart untuk total asset turn-over. b. Perputaran Persediaan (investory turn-over) Investory Turn-over merupakan rasio yang mengukur kemampuan dana yang tertanam dalam inventory (persediaan) berputar dalam suatu periode tertentu. Semakin besar rasio ini maka akan semakin baik karena dianggap bahwa kegiatan penjualan berjalan cepat. Standart untuk inventory turn-over adalah 20 kali (Kasmir, 2007;187). Adapun rumus dari inventory turn-over adalah sebagai berikut: IIIIIIIIIIIIIIIIII TTTTTTTT oooooooo = BBBBBBBBBB PPPPPPPPPPPP xx 11 kkkkkkkk PPPPPPPPPPPPPPPPPPPP Tahun 2012= 4.689.030.800 95.765.000 x 1 kali = 49 kali Tahun 2013= 7.053.511.950 82.427.000 x 1 kali = 86 kali Rasio perputaran persediaan tahun 2012 sebesar 49 kali dan pada tahun 2013 mengalami peningkatan yang sangat besar yakni 86 kali. Hal ini karena besarnya peningkatan beban proyek yang diterima oleh perusahaan sementara persediaannya semakin menurun. Standart untuk inventory turn-over adalah 20

42 kali dan nilai perhitungan menunjukkan inventory turn-over berada diatas standart, maka dalam hal ini perusahaan sangat baik. c. Total fixed asset turn over Total fixed asset turn over digunakan untuk mengukur penggunaan seluruh aktiva perusahaan, sekaligus mengukur jumlah penjualan yang diraih dari setiap aktiva tetap. Rasio ini diperoleh dengan cara membandingkan penjualan bersih dengan aktiva tetap perusahaan. Semakin tinggi rasio ini semakin baik. Standart untuk total fixed asset turn over adalah sebesar 5 kali (Kasmir, 2007;187). Adapun rumus dari total fixed asset turn over adalah sebagai berikut: TTTTTTTTTT ffffffffff aaaaaaaaaa tttttttt oooooooo = PPPPPPPPPPPPPPPPPP xx 11 kkkkkkkk TTTTTTTTTT AAAAAAAAAAAA tttttttt Tahun 2012= 6.091.883.306 143.111.591 xx 1 kkkkkkkk = 42kkkkkkkk Tahun 2013= 9.318.437.968 124.065.636 xx 1 kkkkkkkk = 75kkkkkkkk Hasil perhitungan rasio pada tahun 2012 sebesar 42 kali yang artinya setiap Rp.1 total penggunaan aktiva perusahaan dibiayai oleh 42 kali perputaran penjualan dan pada tahun 2013 naik menjadi 75 kali. Berarti rasio ini meningkat sebanyak 33 kali. Hal ini disebabkan oleh peningkatan penjualan yang lebih besar dari total aktiva tetap perusahaan. Dalam hal ini perusahaan sangat baik karena berada diatas standart untuk total fixed asset turn over.

43 TABEL 3.3 Hasil Perhitungan Rasio pada PT Anugrah Cipta Lamgandana Tahun 2012 dan 2013 Jenis Rasio Tahun Standart 2012 (%) 2013 (%) Rasio (%) 1. Rasio Likuiditas a. Current Ratio b. Cash Ratio c. Quick Ratio 155 57 146 192 69 183 200 50 100 2. Rasio Solvabilitas a. Debt to Equity Ratio 163 144 80 b. Debt Ratio 59 49 35 3. Rasio Profitabilitas a. Net Profit Margin b. Return on Investmen c. Return on Equity 1,2 4,1 11,4 3,6 17,4 51,2 20 30 40 4. Rasio Aktivitas a. Total asset turn-over 3 kali 5 kali 2 kali b. Inventory turn-over 49 kali 86 kali 20 kali c. Total fixed asset turn 42 kali 75 kali 5 kali over Sumber : PT Anugrah Cipta Lamgandana (data diolah), Kasmir (Analisis Laporan Keuangan, 2007)

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil analisis dan evaluasi atas rasio-rasio keuangan pada PT Anugrah Cipta Lamgandana, maka dapat diambil kesimpulan mengenai kondisi keuangan perusahaan yaitu: 1. Kondisi likuiditas perusahaan sudah cukup baik. Hal ini dapat dilihat melalui hasil perhitungan cash ratio, dan quick ratio berada diatas standart rasio tersebut, tetapi current ratio perusahaan masih dibawah standart namun hamper mendekati angka standart rasio tersebut. Juga dapat dilihat dari hasil perhitungan menunjukkan adanya peningkatan dari masing masing rasio. Peningkatan ini dikarenakan terdapat kenaikan jumlah aktiva tetap dan penurunan hutang lancar. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mampu memenuhi atau membayar hutang lancarnya pada saat jatuh tempo. 2. Kondisi solvabilitas perusahaan kurang baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan debt to equity ratio dan debt ratio lebih tinggi dari standart rasio debt to equity ratio dan debt ratio yang menunjukkan ketergantungan perusahaan terhadap hutang lebih tinggi. Hal tersebut kurang baik ditinjau dari sisi solvabilitas perusahaan. 3. Kondisi profitabilitas perusahaan kurang baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil net profit margin dan return on investment masih berada dibawah 44

45 standart rasionya. Namun untuk rentabilitas modal sendiri (return on equity) sudah berada diatas standart rasionya. 4. Kondisi aktivitas perusahaan semakin baik dan layak dipertahankan. Kemampuan aset-aset perusahaan dalam menyumbangkan laba rugi perusahaan presentasinya sudah besar dan setiap tahun mengalami peningkatan dan berada diatas standart rasionya. B. Saran 1. Untuk meningkatkan tingkat likuiditas perusahaan untuk memenuhi kewajiban financial yang harus segera dipenuhi, maka sebaiknya perusahaan lebih meningkatkan aktiva lancarnya tetapi tanpa meningkatkan hutang lancarnya serta mengurangi hutang lancar perusahaan tersebut. 2. Untuk meningkatkan rasio solvabilitas perusahaan, maka perusahaan dapat menempuhnya dengan jalan menambah aktiva perusahaan relative besar dan mengurangi hutang perusahaan tanpa mengurangi aktiva perusahaan. 3. Untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan, sebaiknya pimpinan perusahaan melalui bagian keuangan berusaha lebih memperketat dan lebih mengefesienkan biaya operasional atau menekan biaya operasi seminimal mungkin dengan tidak mempengaruhi kelancaran operasi perusahaan sehingga laba yang diperoleh menjadi lebih besar.