BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

dokumen-dokumen yang mirip
JENIS-JENIS FITOPLANKTON PADA ZONA LITORAL (Studi Kasus di Telogo Warno dan Telogo Pengilon Dieng Plateu Wonosobo)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1 Trisno Hadisubroto, Ekologi Dasar, (Jakarta: Departemen

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang dialami ekosistem perairan saat ini adalah penurunan kualitas air akibat pembuangan limbah ke

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan selalu terbawa arus karena memiliki kemampuan renang yang terbatas

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Kehidupan bergantung kepada air dalam berbagai bentuk. Air merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Habitat air tawar dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu perairan

II. TELAAH PUSTAKA. Ketersediaan Karbohidrat. Chrysolaminarin (= leukosin)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Parameter fisik-kimia dalam penelitian ini digunakan sebagai data penunjang, yang

2. TINJAUAN PUSTAKA. berflagel. Selnya berbentuk bola berukuran kecil dengan diameter 4-6 µm.

BAB I PENDAHULUAN. diperkirakan sekitar 25% aneka spesies di dunia berada di Indonesia. Indonesia

ABSTRAK KEANEKARAGAMAN FITOPLANKTON DI SUNGAI PANYIURAN DAN SUNGAI ANTARAKU KECAMATAN PENGARON KABUPATEN BANJAR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam

TINJAUAN PUSTAKA. memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif seperti hewan. Inti

I. PENDAHULUAN. Ekosistem air tawar merupakan ekosistem dengan habitatnya yang sering digenangi

Alga (ganggang) Alga sering disebut ganggang.

TINJAUAN PUSTAKA. kesatuan. Di dalam ekosistem perairan danau terdapat faktor-faktor abiotik dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

IDENTIFIKASI JENIS PLANKTON DI PERAIRAN MUARA BADAK, KALIMANTAN TIMUR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebabkan karena lingkungan air tawar memiliki beberapa kondisi, antara lain:

Gambar 4. Peta Rata-Rata Suhu Setiap Stasiun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai. (Sosrodarsono et al., 1994 ; Dhahiyat, 2013).

BAB III METODE PENELITIAN. Telaga Bromo terletak di perbatasan antara desa Kepek kecamatan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PAKAN DAN PEMBERIAN PAKAN

BAB I PENDAHULUAN. sumber irigasi, sumber air minum, sarana rekreasi, dsb. Telaga Jongge ini

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Perairan Selat Bali

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

MANAJEMEN KUALITAS AIR

TINJAUAN PUSTAKA. tahapan dalam stadia hidupnya (larva, juwana, dewasa). Estuari merupakan

sedangkan sisanya berupa massa air daratan ( air payau dan air tawar ). sehingga sinar matahari dapat menembus kedalam air.

BAB I PENDAHULUAN. lebih besar dari luas daratan, oleh karena itu dikenal sebagai negara maritim. Total

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Danau Perintis merupakan danau air tawar yang mempunyai areal seluas 6

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang s

II. TINJAUAN PUSTAKA. : Volvocales. : Tetraselmis. Tetraselmis sp. merupakan alga bersel tunggal, berbentuk oval elips dan memiliki

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Kegiatan budidaya perikanan saat ini mengalami kendala dalam. perkembangannya, terutama dalam usaha pembenihan ikan.

BY: Ai Setiadi FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSSITAS SATYA NEGARA INDONESIA

HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN FITOPLANKTON DENGAN ZOOPLANKTON DI PERAIRAN SEKITAR JEMBATAN SURAMADU KECAMATAN LABANG KABUPATEN BANGKALAN

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Sumber oksigen terlarut dalam perairan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

KELIMPAHAN DAN KOMPOSISI FITOPLANKTON SECARA DIURNAL DI WADUK IR. H. JUANDA, JATILUHUR

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI PERAIRAN LAGUNA DESA TOLONGANO KECAMATAN BANAWA SELATAN ABSTRAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai. Secara ekologis sungai

BAB I PENDAHULUAN. Plankton merupakan organisme renik yang hidup melayang-layang di air dan

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Spirulina sp.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

STRUKTUR KOMUNITAS DAN POLA DISTRIBUSI VERTIKAL FITOPLANKTON DI RANU KLAKAH DESA TEGALRANDU KABUPATEN LUMAJANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PRODUKTIVITAS DAN KESUBURAN PERAIRAN

STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON PADA ZONA LITORAL DI RANU PAKIS KABUPATEN LUMAJANG SKRIPSI. Oleh Abdur Rasit NIM

Konsentrasi Logam Cd dan Pb Di Sungai Plumbon dan Kaitannya dengan Struktur Komunitas Fitoplankton

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Air merupakan unsur penting bagi kehidupan makhluk hidup baik manusia,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Maret 2016 di Telaga Bromo dapat dilihat di Tabel 1.

TINJAUAN PUSTAKA. Laut Belawan merupakan pelabuhan terbesar di bagian barat Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. memiliki jumlah pulau yang sangat banyak. Secara astronomis, Indonesia terletak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mikroorganisme banyak ditemukan di lingkungan perairan, di antaranya di

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Penentuan

TINJAUAN PUSTAKA. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu hutan mangrove yang berada di perairan pesisir Jawa Barat terletak

I. PENDAHULUAN. besar di perairan. Plankton merupakan organisme renik yang melayang-layang dalam

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Oseanografi. Suhu perairan selama penelitian di perairan Teluk Banten relatif sama di

BAB I PENDAHULUAN. tumbuh, makroalga tersebut memerlukan substrat untuk tempat menempel/hidup

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Aspek Biologi Klasifikasi Morfologi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif.

TINJAUAN PUSTAKA. Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. Air sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat vital bagi

Lampiran 1. Jenis-jenis Organisme Makanan Ikan Keperas

STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON DAN HUBUNGANNYA DENGAN PARAMETER FISIKA KIMIA AIR DI RANU KLAKAH SKRIPSI. Oleh Condro Wisnu NIM

BAB I PENDAHULUAN. Setiap daerah di Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang besar.

I. PENDAHULUAN. Perairan Lhokseumawe Selat Malaka merupakan daerah tangkapan ikan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hubunganya dengan ekosistem lain disekitarnya. Sungai alami dibentuk oleh

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan lentik. Jadi daerah aliran sungai adalah semakin ke hulu daerahnya pada

Total rata-rata kemelimpahan plankton pada media air sumur sebesar 3,557 x. tertinggi didapatkan pada media air rendaman kangkung.

Tengku Said Raza i Jurusan Budidaya Perairan, FIKP Universitas Maritim Raja Ali Haji

V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN

MAKALAH LIMNOLOGI. Identifikasi Protista pada Perairan Air Tawar. Disusun Oleh : 2. Tiara Septiliani Juhareza 0609

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. perairan sangat penting bagi semua makhluk hidup, sebab air merupakan media bagi

BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka. keseimbangan ekologi dan tata air. Dari sudut ekologi, waduk dan danau

2.2. Struktur Komunitas

BAB I PENDAHULUAN. akan mengakibatkan terjadinya perubahan faktor fisika, kimia, dan biologi di

BAB II LANDASAN TEORI

I. PENDAHULUAN. atau disebut juga perairan lotik dan perairan menggenang atau disebut juga perairan lentik.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Kultur Chaetoceros sp. dilakukan skala laboratorium dengan kondisi

Pengelompokkan zooplankton berdasarkan ukurannya dapat dibagi menjadi beberapa kelompok menurut Arinardi et al. (1997), yaitu :

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

TAMBAHAN PUSTAKA. Distribution between terestrial and epiphyte orchid.

Transkripsi:

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. Deskripsi Data Dalam penelitian fitoplankton yang berada di perairan maka perlu adanya perhitungan parameter fisika dan kimia untuk menunjang analisis serta mengetahui kondisi lingkungan yang diamati. Parameter tersebut sangat mempengaruhi keberadaan fitoplankton yang di hidup. Sebab pada dasarnya lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup. Pengamatan dilakukan pada tanggal 28 Desember 2013 sampai dengan 29 Desember 2013 dengan 3 kali pengulangan waktu yaitu pukul 09.00, pukul 12.00 dan pukul 15.00. 1 Maka didapatkan hasil perhitungan parameter lingkungan Telogo Warno dan Telogo Pengilon pada tabel 4.1 dan tabel 4.2 sebagai berikut : Tabel 4.1 Kondisi Perairan di Telogo Warno pada Bulan Desember 2013 2 No. Parameter Waktu Titik Lingkungan pengamatan A B C 1. ph 09.00 2,8 2,8 2,8 12.00 2,7 2,8 2,8 15.00 2,8 2,8 2,8 2. Suhu (ºC) 09.00 20 24 23 1 Madinawati, Kelimpahan dan Keanekaragaman Plankton di Perairan Laguna Desa Tolongano Kecamatan Banawa Selatan, Jurnal. (media Litbng Sulteng III (2) September 2010) Hlm. 120 2 Hasil Pengukuran Parameter Kimia dan Fisika Telogo Warno dan Telogo Pengilon tanggal 29 Desember 201 42

12.00 23 26 22 15.00 21 23 20 3. Salinitas ( º / ºº ) 09.00 0,02 12.00 0,02 15.00 0,02 4. Intensitas cahaya 09.00 401 423 322 12.00 484 507 476 15.00 421 401 413 5. TDS (ppm) 09.00 902 881 889 12.00 901 881 889 15.00 901 880 890 6. Warna 09.00 7 Ketinggian (mpdl) 12.00 15.00 Hijau kebiruan 2.100 Tabel 4.2 Kondisi Perairan Telogo Pengilon pada Bulan Desember 2013 No. Parameter Waktu Titik Lingkungan pengamatan A B C 1. ph 09.00 7,1 7,1 7,0 12.00 7,1 7,1 7,0 15.00 7,0 7,1 7,1 2. Suhu (ºC) 09.00 21 23 23 12.00 23 25 24 15.00 22 22 22 3. Salinitas ( º / ºº ) 09.00 0,00 12.00 0,01 4. Intensitas cahaya 15.00 0,00 09.00 375 489 386 12.00 499 515 489 15.00 368 474 379 5. TDS (ppm) 09.00 069 077 076 12.00 068 077 075 15.00 069 077 076 43

Chlorophyceae 6. Warna 09.00 12.00 15.00 7 Ketinggian (mpdl) Bening kecoklatan 2.100 Sementara hasil penelitian keanekaragaman fitoplankton yang dilakukan di Telogo Warno dan Telogo Pengilon Kab. Wonosobo dengan 3 kali pengulangan waktu ditemukan beberapa jenis fitoplankton yang digolongkan pada tingkatan kelas. Berikut pada tabel 4.3 adalah jenis fitoplankton yang ditemukan: Tabel 4.3 Jenis Fitoplankton yang ditemukan di Telogo Warno dan Telogo Pengilon 3 N o. 1. Nama Kelas Nama Spesies Waktu Tempat TW TP 09.00 2 - Calothrix sp. 12.00 1-15.00 - - 09.00-4 Spirogyra sp. 12.00 - - 15.00-1 09.00 2 - Kircheneriella 12.00 - - sp. 15.00 - - 09.00-1 Staurastum sp. 12.00-2 15.00 - - Closterium sp. 09.00 - - 12.00 1 1 3 Hasil Determinasi Fitoplankton pada tanggal 6-8 Januari 2014 di Laboratorium Pendidikan Biologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Walisongo Semarang 44

Dynophyceae Cyan ophy ceae Bacillarophyceae 2. 3. 4. Ulothrix sp. Synedra sp. Surirella sp. Nittzscha sp. Cocconous sp. Rhizosolenia sp. Bacillario sp. Navicula sp. Oscillatoria sp. Ceratium sp. Peridinium sp. Dynophysis sp. 15.00 - - 09.00-3 12.00 - - 15.00 - - 09.00-1 12.00 2 2 15.00-1 09.00-1 12.00 - - 15.00 - - 09.00 1 1 12.00 - - 15.00-1 09.00 - - 12.00 1-15.00-1 09.00-2 12.00-13 15.00-2 09.00-1 12.00-2 15.00 - - 09.00-2 12.00-4 15.00 - - 09.00 - - 12.00-1 15.00 - - 09.00-1 12.00 4 2 15.00-1 09.00 - - 12.00 1-15.00 - - 09.00-1 12.00-3 45

Eugle noph yceae 5. Euglena sp. 15.00 1-09.00 - - 12.00 1 3 15.00-1 Total individu 17 60 Jumlah spesies 10 15 Keterangan : TW : Telogo Warno TP : Telogo Pengilon B. Analisis Data 1. Identifikasi Jenis Fitoplankton di Telogo Warno dan Telogo Pengilon Berdasarkan identifikasi yang dilakukan, ditemukan 19 spesies pada Telaga Warna dan Telaga Pengilon yang masuk ke dalam 5 kelas yaitu Clorophyceae, Cyanophyceae, Bacillarophyceae, Euglenophyceae dan Dinophyceae. Akan tetapi tidak semua jenis fitoplankton yang ditemukan, tersebar rata pada kedua tempat pengamtan. Pada di Telaga Warna terdapat 5 kelas yaitu Chorophyceae, Bacillarophyceae, Dynophyceae dan Euglenaphyceae dengan seperti pada tabel 4.4 di bawah : jenis tertentu 4.4 Hasil identifikasi fitoplankton pada Telogo Warno Kelas Nama Spesies Kelimpaha kelimpahan n Ind/l n perkelas Chlorophyceae Kircheneriella sp. 13.333 10.000 Closterium sp. 6.666 46

Ind / Liter Bacillarophyceae Synedra sp. 13.333 8.888 Nittzscha sp. 6.666 Cocconous sp. 6.666 Dynophyceae Ceratium sp. 26.666 16.666 Peridinium sp. 6.666 Cyanophyceae Calothrix sp. 20.000 20.000 Euglenophyceae Euglena sp. 6.666 6.666 Berdasarkan tabel 4.4 diatas maka dapat diketahui total kelimpahan fitoplankton pada Telogo Warno pada grafik 4.1 dibawah ini : 25000 20000 15000 10000 5000 0 Grafik 4.1 Hasil fitoplankton pada Telogo Warno perkelas 47

Chlorophyceae Bacillarophyceae Cyanophyceae Dynophyceae Euglenophyceae Ind / Liter Kelas yang mendominasi pada Telogo Warno adalah adalah Cynophyceae dengan total kelimpahan 20.000 ind/l, kemudian, Dynophyceae 16.666 ind/l, Chlorophyceae 10.000 ind/l, Bacillarophyceae dengan kelimpahan 8.888 ind/l dan Euglenaphyceae 6.666 ind/l. Dari keempat kelas tersebut hanya terdapat 10 jenis fitoplankton yang ditemukan. Sementara secara lebih rinci kelimpahan fitoplankton tiap kelas pada perbedaan pengambilan sampel di Telogo Warno dapat dilihat pada grafik 4.3 sebagai berikut : 120.000 100.000 80.000 60.000 40.000 20.000 0 09.00 12.00 15.00 stasiun II Grafik 4.2 Fitoplankton pada Telogo Warno perkelas dengan pengulangan waktu Berdasarkan tabel tersebut terlihat perbedaan kelimpahan fitoplankton yang ditemukan. Sebagian besar fitoplankton 48

ditemukan berlimpah pada siang hari. Sebab fitoplankton membutuhkan cahaya matahari yang cukup untuk fotosintesis. Sehingga lebih banyak fitoplankton yang temukan pada siang hari pukul 12.00 WIB dari pada pukul 09.00 WIB dan 15.00 WIB yang dapat terlihat dari hasil perhitungan tingkat intensitas cahaya yang lebih tinggi di siang hari. Sementara di Telogo Pengilon terdapat 5 kelas fitoplankton. yang ditemukan lebih banyak dan berlimpah. Berikut tabel 4.5 yang memaparkan jenis fitoplankton yang ditemukan : Tabel 4.5 Hasil identifikasi fitoplankton pada Telogo Pengilon Kelas Nama Spesies Kelimpaha n Ind/Liter Kelimpaha n per kelas Chlorophyta Spirogyra sp. 33.333 20.000 Ulothrix sp. 20.000 Staurastum sp. 20.000 Closterium sp. 6.666 Bacillarophyceae Synedra sp. 26.666 32.380 Surirella sp. 6.666 Nitzscha sp. 13.333 Cocconus sp. 6.666 Rhizosolenia sp 113.333 Leptocylindrus sp. 20.000 Navicula sp 40.000 49

Ind / Liter Cyanophyta Dynophyceae Euglenaphyceae Oscillatoria sp Ceratium sp. Dinophysis sp. Euglena sp. 20.000 26.666 26.666 26.666 20.000 26.666 26.666 Pada Telogo Pengilon kelas fitoplankton yang mendominasi adalah Bacillarophyceae dengan kelimpahan 32.380 ind/l. Hal tersebut dikarenakan penghuni fitoplankton diperairan normal didominasi oleh kelas Bacillarophyceae 4. Kemudian Euglenaphyceae dan Dynophyceae 26.666 ind/l, serta Cyanophyta dan Chlorophyta yang memiliki kelimpahan sama yaitu 20.000 ind/l. 35000 30000 25000 20000 15000 10000 5000 0 Grafik 4.3 Hasil fitoplankton pada Telogo Pengilon perkelas 50

Chlorophyceae Bacillarophyceae Cyanophyceae Dynophyceae Euglenophyceae IInd / Liter Secara lebih spesifik perbedaan waktu pengambilan sampel dapat mempengaruhi jumlah fitoplankton yang ditemukan. Berikut hasil pengambilan sampel dengan pengulangan waktu pada grafik 4.4 di bawah ini : 120.000 100.000 80.000 60.000 40.000 20.000 0 09.00 12.00 15.00 stasiun II Grafik 4.4 Hasil fitoplankton di Telogo Pengilon dengan pengulangan waktu Sama halnya dengan kelimpahan fitoplankton yang ditemukan di pada Telogo Warno, pada Telogo Pengilon fitoplankton pada pukul 09.00 WIB dan 15.00 WIB lebih sedikit ditemukan dari pada pukul 12.00 WIB yang dipengaruhi oleh cahaya pada saat pengambilan sampel. 51

hlm. 32 1993) hlm. 377. Dari semua jenis fitoplankton yang ditemukan pada Telogo Warno dan Pengilon hanya ditemukan 5 kelas dari 13 kelas fitoplankton yang ada pada perairan tawar. Fitoplankton tersebut masuk dalam kategori Limnoplankton yaitu plankton yang hidup di perairan dengan salinitas kurang dari 0,5. Beberapa jenis fitoplankton merupakan indikator kualitas air. Seperti jenis Ulothrix sp., Calothrix sp., Staurastum sp dan Surirella sp. yang merupakan mikro algae yang umum ditemukan dalam air bersih. 5 Sedangkan Oscillatoria sp, Spirogyra sp, Nitzscha sp merupakan mikro algae penyebab pencemaran dalam perairan. 6 Akan tetapi dari hasil penelitian jumlah mikro algae penyebab pencemaran tersebut sedikit ditemukan pada kedua stasiun. Dari fitoplankton yang ditemukan pada kedua stasiun seperti Spirogyra sp., Closterium sp., Navicula sp,. dan Nitzscha sp. merupakan produsen dari komunitas lentik (perairan tergenang) pada zona litoral. 7 Jenis-jenis fitoplanton yang ditemukan : a. Chlorophyceae Chlorophyceae juga disebut ganggang atau alga hijau biru yang memiliki ukuran besar dan jumlah spesies mencapai 6.500 spesies. Secara morfologi Chlorophyceae 5 Unus Suriawiria, Mikrobiologi Air, (Bandung: Alumni, 1993) 6 Unus Suriawiria, Mikrobiologi Air, hlm. 36-37 7 Eugene P. Odum, Dasar-Dasar Ekologi, (Yogyakarta: UGM press, 52

mudah dibedakan dengan alga lain. Seperti kelas Euglenaphyceae yang juga memiliki warna hijau dan memiliki flagel yang sama dengan Chlorophyceae, perbedaannya adalah pada dinding sel kaku yang dimiliki oleh Chlorophyceae. Chlorophyceae berbentuk sel tunggal seperti benang yang terapung dan membentuk koloni. Ganggang kelas ini, klorofil tidak tertutup oleh pigmen lain sehingga jenis ini kelihatan hijau Kelas alga ini mempunyai bentuk yang beragam dengan ciri umum berbentuk filamen (seperti benang) dengan septa (sekat) atau tanpa sekat dan berbentuk lembaran. 8 Chlorophyceae melakukan reproduksi secara aseksual dengan cara pembelahan vegetatif dan generatif. Pembelahan vegetatif hampir dilakukan oleh seluruh anggota kecuali Chlorococales dan Siphonales. 9 Ganggang ini memiliki ciri, tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 20ºC- 35 ºC. 10 Alga ini tersebar pada mintakat litoral bagian atas. Maka sesuai dengan kondisi kedua telaga kelas Bacillarophyceae dapat ditemukan dalam jumlah cukup banyak. Pada pengambilan sampel terjadi perbedaan fitoplankton yang ditemukan pada jeda pengulangan 2 kali. 8 Eugene P. Odum, Dasar-Dasar Ekolog, hlm. 380 9 Asriyana, Yuliana. Produktivitas Perairan. (Jakarta : Bumi Aksara, 2012 ) hlm. 217 10 Efeendi, Telaah Kualitas Air, (Yogyakarta : Kenisius, 2003) hlm 57 53

Hal ini disebabkan karena adanya perubahan kondisi air seperti suhu dan intensitas cahaya. Berikut gambar jenis ftoplankton kelas Chlorophyceae yang ditemukan pada Telogo Warno dan Telogo Pengilon Gambar 4.1 Closterium sp. Gambar 4.2 Ulothrix sp. Gambar 4.3 Staurastum sp. b. Bacillarophyceae Seperti diatomae yang memiliki kadar protein dan lemak sekitar 2.9 dan 0.9 yang dijadikan makanan ikan bagi petani ikan. Karakteristik utama kelas Bacillarophyceae dinding sel bersilika yang mempunyai kotak dengan pigmen kuning atau coklat di dalam 54

kromatofora yang menutupi klorofil. Kelas ini merupakan indikator yang baik untuk kualitas air. 11 Kelompok ini terbagi menjadi centric diatom yang memiliki tubuh simetri radial atau konsentrik dengan satu titik pusat. Selnya bisa berbentuk bulta, lonjong, silindris dengan penampang bulat, segitiga atau segiempat. Sebaliknya pinnate diatom mempunyai tubuh simetri bilateral yang bentuknya umumnya memanjang atau berbentuk sigmoid seperti huruf S. Sepanjang median sel pinnate diatom ada jalur tengah yang disebut rafe. 12 Reproduksi secara vegetatif dengan pembelahan sel, sementara reproduksi sesual hanya akan terjadi secara periodik ketika sel mencapai ukuran kritis 30-40% ukuran maksimal. 13 Gambar 4.4 Synedra sp. Gambar 4.5 Rhizosolenia sp. 11 Eugene P. Odum, Dasar-Dasar Ekologi, (Yogyakarta: UGM press, 1993) hlm.. 380 12 Anugrah Notji, Planton Laut, ( Jakarta: LIPI Press, 2008), hlm. 86 13 Asriyana, Yuliana. Produktivitas Perairan. (Jakarta : Bumi Aksara, 2012 ) hlm. 219 55

Gambar 4.6 Nitzscha sp. c. Cyanophyceae (Blue green algae) Cyanophyceae merupakan ganggang hijau biru yang bersel tunggal, sederhana, membentuk koloni dengan klorofil yang tersebar (tidak terpusat pada kromatoplas) dan tertutup oleh pigmen lain. Kelompok ini secara ekologis penting untuk diperhatikan karena jika dalam jumlah yang besar membuat perairan lentik tercemar. 14 Lebih dapat bertoleransi terhadap kisaran suhu dibanding dengan Chlorophyceae. 15 Gambar 4.7 Oscillatoria sp. 14 Eugene P.Odum, Dasar-Dasar Ekologi, (Yogyakarta: UGM press, 1993) hlm. 380 15 Effendi Telaah Kualitas Air, (Yogyakarta : Kenisius, 2003) 57 56

d. Dynophyceae Hampir seluruh Dynophyceae sekitar sembilan ratus jenis merupakan alga uniselluler dan bersifat motil. 16 Sebagian besar memiliki dinding sel yang jelas terlihat seperti Ceratium sp. yang ditemukan pada kedua stasiun dan Peridium sp. yang ditemukan padatelogo Warno. Reproduksi yang dominan adalah secara aseksual sengan pembentukan aplanospores, tetapi terjadi reproduksi seksual. Distribusi Dynophyceae terbatas dalam daerah tertentu yang sesuai dengan habitatnya. Namun jenis Ceratium sp. dan Peridinium sp. dapat bertoleransi tinggi pada lingkungan yang tidak sesuai. 17 Gambar 4.8 Dinophysis sp. e. Euglenophyceae Merupakan fitoplankton dengan jumlah yang cukup besar diperairan dengan jumlah spesies mencapai empat ratus spesies. Hampir semua berbentuk uniselluler, tidak 16 John W. Kimball, Biologi,jilid 3, (Jakarta: Erlangga, 1983). Hlm.866 17 Asriyana, Yuliana. Produktivitas Perairan. (Jakarta : Bumi Aksara, 2012 ) hlm. 220 57

berdinding sel dan memiliki satu, dua atau tiga flagel yang muncul dari membran sel. Karena tidak memiliki dinding sel maka kelas ini mudah berubah bentuk tubuh dan juga bergerak bebas dengan flagelnya yang terletak di ujung anteriornya. 18 Reproduksi secara aseksual melalui pembelahan longitudinal pada sel yang motil (bergerak) sedangkan reproduksi seksual belum diketahui. 19 Gambar 4.9 Euglena sp. Berdasarkan seluruh data dapat diketahui bahwa kelimpahan fitoplankton lebih tinggi pada lokasi Telogo Pengilon dengan total 19.875 ind/l. Sementara pada lokasi Telogo Warno dengan kelimpahan 15.000 ind/l. Dengan analisis pada Telogo Pengilon memiliki kondisi air yang sesuai dengan sebagian besar habitat fitoplankton perairan tawar seperti ph, TDS. Sedangkan nilai salinitas, suhu dan intensitas cahaya pada kedua stasiun hampir sama. 18 John W. Kimball, Biologi,jilid 3, (Jakarta: Erlangga, 1983). Hlm.866 19 Asriyana, Yuliana. Produktivitas Perairan. (Jakarta : Bumi Aksara, 2012 ) hlm 220 58

Sehingga terdapat selisih kelimpahan fitoplankton yang cukup banyak. Berdasarkan perhitungan fitoplankton yang ditemukan pada Telogo Warno dan Telogo Pengilon maka dapat diketahui nilai perbandingan kelimpahan fitoplankton pada tabel 4.6 di bawah ini : Tabel 4.6 Hasil kelimpahan fitoplankton di Telogo Warno dan Telogo Pengilon tiga kali pengulangan 20 Tempat penelitian Indeks TW TP Waktu 09.00 12.00 15.00 09.00 12.00 15.00 Total kelimpahan ind/l Rata-rata ind/l 20.000 44.000 4.000 76.000 140.000 32.000 22.666 82.666 Berdasarkan tabel 4.6 diatas, maka total kelimpahan dapat dilihat berdasarkan grafik 4.5 berikut : 20 Hasil perhitungan nilai kelimpahan fitoplankton pada tanggal 10 Januari 2014 di Laboratorium Pendidikan Biologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Walisongo Semarang 59

160000 140000 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 09.00 12.00 15.00 Telogo Warno Stasiun 1 Stasiun 2 Telogo Pengilon Grafik 4.5 Kelimpahan fitoplankton berdasarkan satuan waktu Berdasarkan grafik terakhir dapat dilihat bahwa Telogo Pengilon memiliki rata-rata kelimpahan fitoplankton yang jauh lebih tinggi yaitu sebanyak 82.666 ind/l dari pada Telogo Warna dengan jumlah kelimpahan 22.666 ind/l. 2. Kondisi Lingkungan Telogo Warno dan Telogo Pengilon Telogo Warno dan Telogo Pengilon merupakan beberapa Telaga yang berada di kawasan wisata pegunungan Dieng. Kedua Telaga tersebut terletak saling berdekatan, dan pada musim penghujan kedua telaga bercampur airnya. Telogo Warno dan Pengilon dikelola oleh BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Jawa Tengah. Meski letaknya saling berdekatan akan tetapi kedua Telaga tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. 60

a. Telogo Warno Telogo Warno pada dasarnya terbentuk akibat dari letusan Gunung Purba Dieng yang pada dasar Telaga terdapat sumber panas bumi. Sehingga perairan pada Telogo Warno memiliki endapan belerang yang berasal dari sumber panas tersebut. Pada tepi perairan tidak terdapat tanaman yang berkontak langsung dengan air serta juga tidak terdapat hewan seperti pisces yang hidup karena pada umumnya tanaman dan hewan hidup pada lingkungan berph netral. Berdasarkan hasil pengamatan pada bulan Desember akhir kondisi perairan di Telogo Warno lebih bersih karena musim penghujan dengan suhu berkisar 20-24 ºC pada siang hari. Pada bulan tersebut, air Telaga berwarna Hijau kebiruan dan bersifat basa dengan ph 2,8. Dengan air yang bersifat asam atau ph <6 tersebut organisme akuatik tidak mampu hidup. 21 Sementara pada fitoplankton hanya beberapa alga yang mampu hidup. Selain itu Telogo Warno memiliki kadar salinitas sebesar 0,02 º / ºº (infra haline) sehingga masuk dalam jenis perairan tawar 22. Pada hari pengamatan cuaca cerah dan sedikit berawan dengan intensitas cahaya antara 401-520. Pada kehidupan sehari-hari menurut hasil wawancara dengan saudara Agus sebagai salah satu pengelola BKSDA 21 Asriyana, Yuliana. Produktivitas Perairan. (Jakarta : Bumi Aksara, 2012 ) hlm. 23 22 Soedirjan Resosoedarmo, dkk. Pengantar Ekologi cet 8, (Bandung :Remaja Rosydakarya Offset, 1992) hlm. 17 61

Jawa Tengah yang berada di kawasan Telogo bahwa air Telogo Warno tidak digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Selain karena air yang mengandung belerang dan bersifat basa, juga memiliki nilai TDS (Total Dissolved Solid) 880-902 ppm yang mengandung mineral sangat tinggi. Sehingga tidak layak untuk di konsumsi karena dapat mengganggu sistem pencernaan terutama ginjal. b. Telogo Pengilon Letusan Gunung purba Dieng berampak tidak hanya membentuk Telogo Warno akan tetapi juga Telogo Pengilon yang berada persis di sebelahnya. Namun meskipun terbentuk dari peristiwa alam dan sumber alam yang sama, Telogo Pengilon memiliki karakteristik air yang berbeda. Hal ini dikarenakan Telogo Pengilon pada bagian dasar airnya tidak terdapat sumber panas bumi layaknya Telogo Warno. Telogo Pengilon berasal dari cekungan tanah akibat letusan yang terisi oleh hujan dan air rembesan tanah sehingga memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan Telogo Warno. Berdasarkan hasil pengamatan, kondisi perairan Telogo Pengilon sangat kaya dengan ekosistem tanaman serta hewan yang hidup di dalam serta di sekelilingnya. Tanaman yang hidup merupakan bangsa graminae dan hewan berupa pisces serta insecta. Sebab pada perairan tersebut menunjukkan habitat yang sesuai untuk ekosistem makhluk hidup dan 62

pertumbuhan fitoplankton dengan ph netral yaitu 7-7,1. 23 Dengan ph tersebut kondisi perairan dikatakan produktif. Serta dengan kadar salinitas 0,00 º / ºº (infra haline) yang merupakan perairan tawar 24. Selain itu Telogo Pengilon memiliki intensitas cahaya yang cukup antara 375-517, dan kadar TDS 69-77 ppm yang layak untuk di konsumsi. Saat pengamatana warna perairan coklat keruh dengan suhu 21-25 ºC pada siang hari. C. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan penelitian fitoplankton ini adalah letak tempat pengamatan yang jauh serta dengan medan yang cukup berat karena terletak di dataran tinggi Dieng Wonosobo, sehingga penelitian hanya dapat di lakukan selama 2 hari dari pukul 08.00 16.00 dan observasi 1 hari pada minggu sebelumnya. Keterbatasan selanjutnya adalah musim yang kurang mendukung karena bertepatan dengan musim penghujan pada bulan Desember dan waktu perijinan dari BKSDA (Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam) Jawa Tengah yang hanya 1 bulan sehingga peneliti hanya dapat mengambil sampel 2 hari. Namun untuk mengurangi nilai kesalahan maka peneliti menggunakan pengulangan waktu sebanyak 3 kali dalam 1 hari berturut-turut. 23 Effendi, Telaah Kualitas Air, (Yogyakarta : Kenisius, 2003), hlm. 51 24 Soedirjan Resosoedarmo, dkk. Pengantar Ekologi cet 8, (Bandung :Remaja Rosydakarya Offset, 1992) hlm. 17 63

Selain kendala tersebut, pada saat pengamatan di Laboratorium Biologi IAIN Walisongo Semarang peneliti mengalami sedikit kesulitan dalam mengidentifikasi fitoplankton dari sampel yang diambil sebab ukuran fitoplankton yang sangat kecil antara 2 µm 0,2 mm yang dilihat menggunakan mikroskop cahaya binokuler. Sehingga peneliti mengidentifikasi fitoplankton pada ukuran yang relatif besar dengan mempertimbangkan kejelasan ciri dan struktur fitoplankton untuk mengurangi angka kesalahan. Serta mengklasifikasikannya pada tingkatan genus dan kelas. 64